Anda di halaman 1dari 18

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

YUYU PELO (Pelet Organik) UNTUK MASA DEPAN IKAN TAMBAK


LEBIH BAIK

BIDANG KEGIATAN
PKM Karsa Cipta

Disusun Oleh :

Ketua Kelompok :

Abdillah Ramadhan (0217030012)


Anggota Kelompok :

Tubuh Pierehanto (0217030022)

M. Faisal Bisri (0217030017)

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA


KOTA SURABAYA
2017
PENGESAHAN USUL PKM - KARSA CIPTA

1. Judul Kegiatan : Yuyu Pelo (Pellet Organik) Untuk Masa Depan


Ikan Tambak Yang Lebih Baik
2. Bidang Kegiatan : PKM-KC
3. Ketua Pelaksana Kegiatan :
a. Nama Lengkap : Abdillah Ramadhan
b. NIM : 0217030012
c. Jurusan : Teknik Bangunan Kapal
d. Universitas/Politeknik : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
e. Alamat Rumah/HP :Jl. Bogowonto EM-17, Wistrop, Waru, Sidoarjo
f. Alamat email : ramaabdillah98@gmail.com
4. Anggota Penulis : 3 orang
5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar : Devina Puspita Sari, M.T
b. NIP : 198809152014041984
c. Alamat Rumah/HP : Jalan Jelidro no. 47A Sambikerep
Surabaya/08993407000
6. Biaya Kegiatan Total :
a. Dikti : Rp. 3.784.500,00
b. Sumber lain : Rp.
7. Jangka Waktu Pelaksanaan : 4 bulan

Menyetujui,
Dosen Pendamping, Ketua Pelaksana Kegiatan,

(Devina Puspita Sari, M.T) (Abdillah Ramadhan)

NIDN. 15098801 NIM. 02170300112

Wakil Direktur, Ketua Program Studi Teknik


Bidang kemahasiswaan Bangunan kapal,

(Projek Priyonggo SL,.ST,.MT) (Ir. Hariyanto Soeroso, M. T)


NIP. 196106161988031002 NIP. 195709201987011000
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………3

1.1 Latar Belakang………………………………………………………...3


1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………..3
1.3 Tujuan Penelitian……………………………………………………...4
1.4 Manfaat Penelitian…………………………………………………….4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA………….……………………………………….5


2.1 Pellet…………………………………………………………………...5
2.1.1 Kandungan Pellet……………………………………………5
2.2 Kepiting Sawah………………………………………………………..6
2.2.1 Kandungan Gizi Kepiting Sawah……………………………6
2.3 Daun Pepaya…………………………………………………………...7
2.3.1 Kandungan Guizi Daun Pepaya……………………………..7
2.3.2 Manfaat Daun Pepaya……………………………………….7
2.4 Kunyit………………………………………………………………….8
2.4.1 Kandungan Kunyit…………………………………………..8
2.4.2 Manfaat Kunyit Bagi Kesehatan…………………………….9
2.5 Kangkung……………………………………………………………...9
2.5.1 Kandungan Gizi Kangkung……………………………….....9
2.6 Bekatul………………………………………………………...……..10
2.6.1 Manfaat Bekatul……………………………………………10
2.6.2 kandungan Gizi Bekatul……………………………………11
2.7 Pellet Organik………………………………………………………...11
BAB III METODE PELAKSANAAN…………………………………………..12
3.1 Metode Pelaksanaan………………………………………………….12
3.2 Metode Pelaksanaan………………………………………………….12
3.3 Persiapan Alat………………………………………………………..12
3.4 Rencana Produk……………………………………………………...12
3.5 Sampel………………………………………………………………..13
3.6 Waktu Penelitian……………………………………………………..13
3.7 Tempat Penelitian…………………………………………………….13
3.8 Analisa dan Evaluasi…………………………………………………13
BAB IV BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN…………………………………15

4.1 Anggaran Biaya……………………………………………………....15


4.2 Jadwal Kegiatan……………………………………………………...15
BAB V KESIMPULAN……………………………………………………….....16

2
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan Negara Maritim, yang dimana wilayahnya
sebagian besar adalah perairan. Padaumumya masyarakat Indonesia bermata
pencaharian sebagai petani tambak, yang lebih memilih ikan ikan air tawar.
Dikarenakan ikan air tawar mudah didapat dan harganya terjangkau, sehingga
dapat dijadikan sebagai makanan lauk bagi sebagian besar masyarakat
Indonesia.
Petani tambak ikan air tawar membutuhkan pakan ikan dalam
pemeliharaannya, salah satunya adalah pelet ikan. Akan tetapi, perlu diketahui
di era globalisasi saat ini, maraknya penggunaan bahan kimia berbahaya yang
diaplikasikan dalam bahan pakan ikan air tawar. Hal ini perlu penangannan
yang cukup serius. Dikarenakan dapat membahayai para konsumen ikan air
tawar.
Dalam Peraturan Pemerintah RI No.74 Th.2001 pasal 1 ayat 2
dijelaskan bahwa kegiatan yang menghasilkan, mengangkut, mengedarkan,
menyimpan, menggunakan dan atau membuang bahan berbahaya dan beracun
dapat di kenai sanksi.
Pelet merupakan makanan ternak yang dicetak dalam bentuk butiran
sebesar pil dengan campuran bahan seperti, dedak dan tepung daun yang
haluskan. Kandungan pada pelet sebagian besar adalah protein, yang baik
untuk tumbuh kembang ikan. Banyak makhluk hidup yang mengandung
protein, yang salah satunya adalah kepiting sawah (Paratelphusa hydrodromus
) karena, dalam 100 gram kepiting mengandung 89 mg kalsium dan 18,06 g
protein, selain itu juga mengandung zat besi dan kolesterol yang baik untuk
pertumbuhan ikan.

3
Berdasarkan pada uraian diatas, memunculkan suatu inovasi baru
dengan mengaplikasikan kepiting sawah sebagai alternative bahan dasar pakan
ikan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah tersebut dapat dirumuskan suatu masalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana mengurangi penggunaan bahan kimia dalam pakan ikan?
2. Mengapa harus yuyu (kepiting sawah) yang menjadi bahan utama
pembuatan pelet?
3. Bagaimana perbedaan pertumbuhan ikan antara pelet organik dan pelet
pabrik?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Untuk mengurangi penggunaan bahan kimia dalam pakan ikan.
2. Untuk meminimalkan biaya yang harus dikeluarkan oleh petani tambak, dan
juga sebagai alternatif pangan ikan tambak.
3. Mengetahui perbedaan oertumbuhan ikan tambak antara pakan organic dan
pakan pabrik.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Dapat menjadikan ikan tambak lebih sehat, selain itu lingkungan akan lebih
bersih dan sehat.
2. Dapat meminimalisir pengeluaran biaya pada pakan ikan.
3. Dapat mengetahui perbedaan pada pemberian pakan ikan pabrik dan pakan
ikan alami.
4. Bisa menjadikan tanah sekitar tambak menjadi lebih subur.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pellet

Pellet adalah bahan baku pakan yang telah dicampur, dikompakkan dan
dicetak dengan mengeluarkan dari lubang die melalui proses mekanik. Pellet
memiliki ukuran partikel yang besar atau kasar, sehingga lebih mudah untuk
menanganinya dan pada umumnya termasuk dalam salah satu tipe, yaitu pellet kasar
atau pellet halus. Tipe pellet kasar adalah pellet yang diproduksi dengan
mengkombinasikan roller dan die dalam proses pencetakannya, sedangkan tipe pellet
halus adalah pellet yang mengandung molasses lebih dari 30% dan diproduksi
dengan menggunakan auger dan die dalam proses pencetakannya. Proses pembuatan
pellet terdiri dari beberapa komponen, sementara ada pilihan spesifikasi berdasarkan
jenis komponennya. Jenis komponen tersebut adalah supply bin, pellet mill, cooler,
elevating system, sifting device, crumbler, dan steam system (Pfost, 1976).

2.1.1 Kandungan Pellet

a. Protein adalah senyawa organik kompleks yang tersusun atas banyak asam amino. Protein
dapat berasal dari tumbuhan maupun hewan. Kandungan asam amino pada protein nabati
kurang lengkap sehingga perlu ditambah dengan protein hewani.
b. Lemak berfungsi sebagai sumber energi. Dalam formulasi pakan, lemak bisa membantu
daya apung ikan di permukaan air. kandungan lemak pada pakan yang baik adalah 4-16
%. Lemak yang berlebih pada pakan tidak baik bagi kesehatan ikan karena pakan menjadi
mudah teroksidasi sehingga baunya menjadi tidak enak.
c. Karbohidrat menjadi sumber energi bagi ikan, bisa dimanfaatkan secara langsung
menjadi energi. Bahan yang mengadung karbohidrat antara lain jagung, dedak, tapioka,
dan sagu. Kebutuhan ikan akan karbohidrat dipengaruhi oleh jenis ikan. Ikan herbivora
seperti Gurami, Tawes, Nilem membutuhkan karbohidrat lebih besar dibanding jenis

5
omnivora dan karnivora. Ikan jenis herbivora mempunyai daya cerna karbohidrat yang
lebih tinggi. Kebutuhan karbohidrat pada ikan herbivora adalah antara 30-40 %,
Omnivora 25-35 %, dan karnivora 15-20 %.
d. Vitamin merupakan senyawa esensial yang hanya bisa dipenuhi dari luar tubuh ikan, dan
diperlukan dalam jumlah sedikit. Vitamin bisa ditambahkan pada pakan karena tubuh
ikan tidak bisa memproduksi. Ikan yang makan pakan alami akan dapat memperoleh
semua unsur nutrisi, termasuk vitamin yang berasal dari makanan alami.
e. Mineral dibutuhkan ikan dalam jumlah sedikit namun sangat penting. Mineral berfungsi
dalam proses metabolisme dan pembentukan jaringan. Mineral dibagi menjadi du, yaitu
makromineral seperti Kalsium (Ca), Belerang (S), Phospor (P), Klorida (Cl), Natrium
(Na), Kalium (K), dan Magnesium (Mg). Sedangkan mikromineral adalah Seng (Zn),
Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Molibdenum (Mo), Krom (Cr), Fluor (F), dan Lodium (I).
Mineral Fe, Cu dan Cr berperan dalam fungsi pernafasan, sedangkan mineral Ca, P, F dan
Mg berperan dalam fungsi pembentukan struktur tulang, gigi, dan sisik.

2.2 Kepiting Sawah (yuyu)

Kepiting sawah dari Kingdom Animalia (kerajaan hewan). Filum Artropoda


(binatang beruas-ruas). Kelas Crustacea (udang). Bangsa Decapoda (kepiting).
Suku Parathelphusidae (yuyu-yuyuan). Marga Parathelphusa (yuyu)Jenis yuyu
sawah (Parathelphusa convexa, de Man 1879). Nama lokalnya yaitu sawah, kuyu,
keyeub, ketam sungai, Kepiting sungai, kepiting sawah (paddyflied’s crab,
freshwater crab).

2.2.1 Kandungan Gizi


Adapun kandungan gizi dari kepiting sawah adalah sebagai berikut:
Komposisi gizi kepiting sawah (per 100 g)
Energi Air Protein Lemak Kolesterol Kalsium Besi Riboflavin Niacin
Spesies
(kcal) (g) (g) (g) (mg) (mg) (mg) (mg) (mg)
Kepiting
90 79.02 18.06 1.08 78 89 0.74 – –
Sawah

6
Sumber: U.S. Department of Agriculture, Composition of Foods, Agriculture
Handbook no. 8-11.

2.3 Daun pepaya

Daun papaya merupakan salah satu jenis sayuran yang diolah pada saat masih
muda menjadi makanan yang lezat dan bergizi tinggi. Disamping dapat diolah
menjadi makanan yang lezat, daun pepaya dapat pula dijadikan obat untuk beberapa
jenis penyakit. Helaian daun pepaya berbentuk menyerupai tangan manusia. Apabila
daun pepaya dilipat tepat di tengah, maka akan nampak bahwa daun pepaya
berbentuk simetris (Thomas A.N.S, 1989).

2.3.1 Kandungan Gizi Daun Pepaya

Daun pepaya memiliki kandungan gizi yang cukup beragam diantaranya


vitamin A 18250 SI, vitamin B1 0,15 miligram per 100 gram, vitamin C 140 miligram
per 100 gram daun pepaya, kalori 79 kal per 100 gram, protein 8,0 gram per 100
gram, lemak 2,0 gram per 100 gram, hidrat arang/karbohidrat 11,9 gram per 100
gram, kalsium 353 miligram per 100 gram, dan air 75,4 gram per 100 gram. Daun
pepaya juga mengandung carposide yang dapat berfungsi sebagai obat cacing. Daun
pepaya mengandung zat papain yang tinggi sehingga menjadikan rasanya pahit,
namun zat ini justru bersifat stomakik yaitu dapat meningkatkan nafsu makan
(Warisno, 2003).

2.3.2 Manfaat Daun Pepaya

1. Sebagai obat jerawat daun pepaya dibuat masker.


2. Manfaat memperlancar pencernaan Daun dari tumbuhan pepaya memiliki kandungan
kimia senyawa karpain. Zat itu dapat membunuh mikroorganisme yang sering
mengganggu fungsi pencernaan.
3. Menambah nafsu makan Manfaat ini terutama untuk anak-anak yang sulit untuk
makan.
7
4. Nyeri haid Wanita Jawa zaman dulu sering memanfaatkan daun pepaya untuk
mengobati nyeri haid.

2.4 Kunyit

Kunyit atau kunir, (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val.),
adalah termasuk salah satu tanaman rempah-rempah dan obat asli dari wilayah Asia
Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami penyebaran ke daerah Malaysia,
Indonesia, Australia bahkan Afrika. Hampir setiap orang Indonesia dan India serta
bangsa Asia umumnya pernah mengonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai
pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan.

Kunyit tergolong dalam kelompok jahe-jahean, Zingiberaceae. Kunyit


dikenal di berbagai daerah dengan beberapa nama lokal, seperti turmeric (Inggris),
kurkuma (Belanda), kunyit (Indonesia dan Malaysia), janar (Banjar), kunir (Jawa),
koneng (Sunda), konyet (Madura).

2.4.1 Kandungan Kunyit

Kunyit indonesia mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut


kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin , desmetoksikumin sebanyak 10% dan
bisdesmetoksikurkumin sebanyak 1-5% dan zat- zat bermanfaat lainnya seperti
minyak atsiri yang terdiri dari Keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%,
Zingiberen 25%, felandren , sabinen , borneol dan sineil. Kunyit juga mengandung
Lemak sebanyak 1 -3%, Karbohidrat sebanyak 3%, Protein 30%, Pati 8%, Vitamin
C 45-55%, dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan kalsium (Lee K,
2008).

8
2.4.2 Manfaat Kunyit Bagi Kesehatan

Kunyit memiliki kandungan bioaktif dengan manfaat kesehatan yang yang


sangat baik. Akhir-akhir ini, sains mulai mengumpulkan fakta mengenai informasi
yang dimiliki oleh orang India selama bertahun-tahun bahwa kunyit memang
memiliki kandungan yang bermanfaat untuk pengobatan. Kandungan ini dikenal
dengan nama kurkuminoid, dan kandungan paling penting dari kurkuminoid adalah
kurkumin. Kurkumin adalah bahan aktif utama dalam kunyit. Kurkumin 9 memiliki
kandungan anti-inflamasi yang sangat kuat dan antioksidan yang sangat tinggi.
Namun, kandungan kurkumin dalam kunyit tidaklah tinggi hanya sekitar 3% dari
beratnya (Karyadi, 1997).

2.5 Kangkung

Kangkung merupakan salah satu anggota famili Convolvulaceae. Tanaman


kangkung dapat digolongkan sebagai tanaman sayur. Kangkung terdiri dari
beberapa jenis, diantaranya kangkung air (Ipomoea aquatica Forsk), kangkung darat
(Ipomoea reptans Poir), dan kangkung hutan (Ipomoea crassiculatus Rob.)
(Suratman et al., 2000). Kangkung darat (Ipomoea reptans Poir) merupakan sayuran
yang bernilai ekonomi dan persebarannya meluas cukup pesat di daerah Asia
Tenggara. Beberapa negara yang merintis pembudidayaan tanaman kangkung
secara intensif dan komersial adalah Taiwan, Thailand, Filipina, dan Indonesia.
Kangkung darat umumnya dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan dapat
menjadi salah satu menu di rumah-rumah makan (Rukmana, 1994).

2.5.1 Kandungan Gizi Kangkung

Tabel 2.1. Kandungan Zat Gizi Daun Kangkung Per 100 Gram

Zat Gizi Jumlah


Energi 29(kal)
Protein 3(g)
Lemak 0,3(g)
Karbohidrat 5,4(g)
9
Serat 1,0(g)
Kalsium 73(mg)
Fosfor 50(mg)
Zat Besi 2,5(mg)
Vit A 6300(SI)
Vit B1 0,07(mg)
Vit C 32(mg)
Klorofil 25(mg/l)
Air 89,7(g)

2.6 Bekatul

Bekatul (rice bran) adalah lapisan terluar dari beras yang terlepas saat proses
penggilingan gabah (padi) atau hasil samping penggilingan padi yang terdiri dari
lapisan aleuron, endosperm dan germ (www.wikipedia.org/wiki/bran/20 April 2009).
Bekatul memiliki warna krem kecoklatan dengan aroma sama seperti aroma
berasnya.

2.6.1 Manfaat Bekatul

Berbagai hasil penelitian telah menunjukkan bahwa bekatul mempunyai nilai


gizi tinggi, mengandung senyawa bioaktif antioksidan, dan mengandung serat rice
bran sacharida. Hasil penelitian tenang manfaat bekatul adalah:

- Adom K dan Liu R, 2002: antioksidan bekatul berupa oryzanol, tokoferol dan
asam ferulat, antioksidan tersebut mampu menghambat kejadian kencing manis,
penyakit Alzheimer, mencegah kejadian penyakit jantung dan kanker.

- Godber J, Xu Z, Hegsted M, Walker T, 2002; Rohrer C, Siebenmorgen T, 2004:


menunjukkan bahwa antioksidan bekatul terutama vitamin E dan oryzanol, serta
lemak tidak jenuhnya mampu sebagai penurun kolesterol.

- Gescher, A (2007) konsumsi bekatul menurunkan 51% resiko kanker adenoma


disaluran usus. - L, Cara, dkk (1992),

10
2.6.2 Kandungan Gizi Bekatul

Bekatul mempunyai kandungan gizi yang beragam diantaranya


mengandung antioksidan tokoferol (vitamin E), oryzanol dan vitamin B15.
Senyawa tersebut berperan untuk menurunkan kadar kolesterol darah, mencegah
terjadinya kanker dan memperlancar sekresi hormonal (David, 2008). Bekatul
mempunyai kandungan multivitamin dan serat tinggi sebagai penangkal penyakit
degeneratif serta berperan dalam proses pencernaan. Bekatul juga kaya akan pati,
protein, lemak, vitamin dan mineral. Selain itu Bekatul mengandung asam amino
lisin yang lebih tinggi dibandingkan beras (Damayanthi, 2007).

2.7 Pelet Organik

Pelet organik adalah pelet yang terbuat dari bahan organik, dan biasa
sebagai alternatif untuk pakan ikan tambak. Pelet ini terbuat dari campuran daging
kepiting sungai, daun papaya, dan sari kunir sebagai pewarna organik. Pelet ini bisa
jadi alternatif untuk para petani tambak supaya bisa menjadikan ikan tambak
mereka menjadi sehat, dan bebas bahan kimia, yang mana akan mempengaruhi nilai
gizi ikan tambak. Pelet ini juga dapat menghemat biaya pangan tambak mereka,
karena bahan yang relatif mudah di dapat dan dapat mempermudah para petani
menjamin ikan ternak mereka bebas bahan kimia, dan juga dapat menjadikan ikan
mereka menjadi ikan organik yang bisa menjadi prospek bisnis yang menjanjikan.
Selain itu ini juga akan berdampak pada para petani tambak yang akan menuai hasil
tambak dan maksimal.

11
BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1 Studi Literatur
Dilakukan untuk mencari sumber data kualitatif maupun kuantitatif. Dengan
metode studi pustaka menacari data dari berbagai sumber yang ada. Seperti buku
dan jurnal ilmiah.

3.2 Persiapan bahan


Bahan bahan yang akan digunakan adalah sebagai berikut :

1. Kepititing Sawah : 1 kilogram


2. Daun Pepaya : 500 gram
3. Kunyit / kunir : 250 gram
4. Kangkung : 500 gram
5. Bekatul : 2 kilogram
6. Air : 1,5 liter

3.3 Persiapan Alat


Alat alat yang akan diperlukan antara lain adalah :

1. Mesin pembuat pellet


2. Pisau
3. Baskom
4. Nampan

3.4 Rencana Produk


Berikut adalah cara membuat “pellet organik”

1. Siapkan semua alat dan bahan yang diperlukan.


2. Cuci bersih yuyu, kunyit, dan kangkung dengan air bersih yang mengalir.
3. Lepas cangkang pada yuyu, kemudian ambil dagingnya.
4. Cincang kasar kangkung dan kunyit.
5. Tuang semua bahan pada baskom, kemudian campur dan aduk semua bahan
hingga merata dan tambahkan air secukupnya.

12
6. Giling dan cetak adonan pellet menggunakan mesin.
7. Tamping hasil adonan yang telah digiling pada napan.
8. Jemur pellet hingga kering pada sinar terik matahari.

3.5 Sampel
Dalam penelitian ini kami menggunakan sampel :

1. Yuyu yang diperoleh dari sungai dan sawah daerah gresik.


2. Daun papaya yang diperoleh dari pasar tradisional.
3. Kangkung diperoleh dari pasar tradisional.
4. Kunyit yang diperoleh dari pasar tradisional.
5. Bekatul yang diperoleh dari pengepul.

3.6 Waktu penelitian


Kami membutuhkan waktu 4 bulan untuk menyelesaikan penelitian ini,
mulai awal bulan juli 2017 hingga akhir bulan oktober 2017.

3.7 Tempat penelitian


Adapun tempat dilaksanakannya penelitian ini adalah di :

1. Sungai dan sawah sebagai tempat pengambilan sampel yuyu.


2. Pasar tradisional sebagai tempat untuk mendapatkan kangkung dan kunyit.
3. Rumah pengepul bekatul sebagai tempat untuk mendapatkan bekatul.
4. Rumah peneliti sebagai tempat untuk melakukan penelitian.
5. Laboratorium penelitian Institut Teknologi Sepuluh Nopember sebagai
tempat untuk pengujian bahan.

3.8 Analisa dan Evaluasi


Pada tahap ini diperlukan untuk mengetahui perbandingan pellet organic
dengan pellet pada umumnya yang beredar dipasaran. Dengan perlakuan terhadap
obyek yang dituju. Peneliti melakukan analisa terhadap perubahan yang terjadi
guna mengetahui kelebihan dari produk pellet organik.adapun obyek yang
digukanakan dalam penelitian ini adalah ikan lele. Perbandingan antara pellet
organik dengan pellet biasa :

1. Pellet organik lebih ramah lingkungan dan dapat menyuburkan tanah sekitar
tambak.

13
2. Pellet organik bisa menjadi alternative jika pellet pasaran sedang tinggi
harga jualnya.
3. Pellet organik dapat mengembangkan nilai gizi ikan tambak.
4. Pellet organik dapat mengurangi bahkan menghilangkan penggunaan bahan
kimia pada pakan ikan.
5. Pellet organik bebas dari bau, bila dibandingkan dengan pellet buatan
pabrikan yg terkadang memiliki bau yang menyengat.

14
BAB IV

BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1 Anggaran Biaya

No. Jenis Pengeluaran Biaya


1. Peralatan yang dibutuhkan 3.320.000,00
2. Bahan yang diperlukan habis pakai 236.700,00
3. Akomodasi perjalanan peneliti 668.000,00
4. Lain-lain yang mendukung penelitian kami 2.228.000,00
Jumlah 6.452.700,00

4.2 Jadwal Kegiatan

No. Kegiatan Jadwal Pelaksanaan PKM


1 2 3 4
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Studi Literatur

2. Perancangan
Rencana Produk

3. Pengujian
4. Realisasi
5. Analisa
6. Laporan Akhir

15
BAB V

KESIMPULAN

1.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1 Bahwa yuyu merupakan pakan alternatif yang baik dan dapat di aplikasikan
pada bidang sektor pertambakan, karena bahanya mudah di dapat khususnya
daerah tambak.
2 Selain itu Pellet ini dapat meninimalisir biaya pakan tambak karena selain
untuk alternatif, pakan ini bisa menjadi pakan utama dalam tambak untuk
mengurangi biaya pakan yang saat ini tidak tentu dan cenderung tidak sehat
untuk lingkungan.
3 Dengan menggunakan Pellet ini para petani tambak dapat memberikan
inovasi baru dalam lingkungan pertambakan.

16
DAFTAR PUSTAKA

https://media.neliti.com/media/publications/169805-ID-analisis- fitokimia-daun-
pepaya-carica-pa.pdf

http://jurnal.unbar.ac.id/file.php?file=dosen&id=447&cd=0b2173ff6ad6a6fb09c95f
6d50001df6&name=5..ANALISIS%20KANDUNGAN%20GIZI%20DAN%20SIF
AT.pdf

http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/files/2012/11/KANGKUNG.pdf

http://digilib.polban.ac.id/files/disk1/70/jbptppolban-gdl-agusnugrah-3455-3-bab2--
8.pdf

http://staffnew.uny.ac.id/upload/132048525/pengabdian/manfaat-bekatul-dan-
kandungan- gizinya.pdf

http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod=download&sub=DownloadFile&act
=view&typ=html&id=83064&ftyp=potongan&potongan=S1-2015-273006-
introduction.pdf

http://digilib.unila.ac.id/6427/117/BAB%20II.pdf

17

Beri Nilai