Anda di halaman 1dari 1

CIRI DETEKSI TEPI

Banyaknya tepi-tepi dalam titik-titik tetangga dapat diukur sebagai ciri tekstur. Untuk
mengukur ciri tekstur ini, suatu citra harus mengalami proses deteksi tepi. Citra
deteksi tepi dapat diperoleh dengan menggunakan berbagai metode pendeteksi tepi,
seperti: Roberts, Kirsch, Prewitt, Sobel, Laplacian, Canny dan metode yang lainnya.
Ciri tekstur pada suatu daerah citra yang berukuran W x W, didefinisikan sebagai
berikut[11].
w w
1
T j ,k 
W2
 E
m w n w
j  m,k  n

Ej,k merupakan citra hasil proses deteksi tepi.


Cara lain untuk menghitung ciri tekstur deteksi tepi adalah dengan metode frekuensi
tepi (edge frequency). Metode ini didasarkan pada perhitungan nilai gradien yang
dihubungkan dengan suatu jarak tertentu. Nilai gradien tersebut dapat didefinisikan
sebagai berikut[12].
g  d   f i , j  f i d , j  f i , j  f i d , j  f i , j  f i , j  d  f i , j  f i , j d

dengan d adalah jarak (nilainya dapat ditentukan sendiri), sedangkan fi,j merupakan
nilai titik pada koordinat (i,j). Ciri berdasarkan metode frekuensi tepi dapat dihitung
dengan menjumlahkan semua nilai gradien untuk semua titik pada daerah suatu citra,
yang didefinisikan sebagai berikut.
T   g (d )
i, j

Gambar 7 menunjukkan contoh penerapan metode frekuensi tepi.

a. Citra Tepi b. Ciri frekuensi Tepi


Gambar 7. Ciri berdasarkan frekuensi tepi

Features Based Image Processing


1

Anda mungkin juga menyukai