Anda di halaman 1dari 18

ENERGI LAUT TERBARUKAN

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU


(WIND ENERGY)

Disusun oleh:
Nama : Alan Fhajoeng Ramadhan
NIM : D33115301
Departement : Teknik Sistem Perkapalan

Fakultas Teknik
Universitas Hasanuddin
2017/2018
1. PENJELASAN TENTANG ANGIN
A. PENGERTIAN ANGIN
Angin adalah udara yang bergerak akibat rotasi bumi dan perbedaan tekanan udara di
sekitarnya. Angin bergerak dari tempat bertekanan udara tinggi ke bertekanan udara rendah.

B. PROSES DAN FAKTOR TERJADINYA ANGIN


Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi lebih ringan
sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, tekanan udara turun karena udaranya berkurang. Udara
dingin di sekitarnya mengalir ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara menyusut menjadi
lebih berat dan turun ke tanah. Di atas tanah udara menjadi panas lagi dan naik kembali. Aliran
naiknya udara panas dan turunnya udara dingin ini dinamakan konveksi.

Faktor-faktor yang menyebabkan angin terjadi antara lain adalah:


▪ Gradien Barometris, yaitu bilangan yang menunjukkan perbedaan tekanan udara dari dua
isobar yang jaraknya 111 km. Makin besar gradien barometrisnya, makin cepat tiupan
anginnya.
▪ Lokasi, kecepatan angin di dekat khatulistiwa lebih cepat daripada angin yang jauh dari
garis khatulistiwa.
▪ Tinggi Lokasi, semakin tinggi lokasinya semakin kencang pula angin yang bertiup. Hal ini
disebabkan oleh pengaruh gaya gesekan yang menhambat laju udara. Di permukaan bumi,
gunung, pohon, dan topografi yang tidak rata lainnya memberikan gaya gesekan yang
besar. Semakin tinggi suatu tempa, gaya gesekan ini semakin kecil.
▪ Waktu, Angin bergerak lebih cepat pada siang hari, dan sebaliknya terjadi pada malam hari.
▪ Sebenarnya yang kita lihat saa angin berhembus adalah partikel-partikel ringan seperti debu
yang terbawa bersama angin. Angin bisa kita rasakan hembusannya karena kita mempunyai
indra perasa, yaitu kulit, sehingga kita bisa merasakannya.

C.SIFAT-SIFAT ANGIN
Beberapa sifat angin antara lain:
▪ Angin menyebabkan tekanan terhadap permukaan yang menentang arah angin tersebut.
▪ Angin mempercepat pendinginan dari benda yang panas.
▪ Kecepatan angin sangat beragam dari tempat ke tampat lain, dan dari waktu ke waktu.

D.JENIS-JENIS ANGIN
1.Angin laut dan Angin Darat

Angin Darat dan Angin Laut


a. Angin Laut
Angin laut adalah angin yang bertiup dari arah laut ke arah darat yang umumnya terjadi
pada siang hari dari pukul 09.00 sampai dengan pukul 16.00. Angin ini bisa dimanfaatkan para
nelayan untuk pulang dari menangkap ikan di laut.

b. Angin Darat
Angin darat adalah angin yang bertiup dari arah darat ke arah laut, yang pada umumnya
terjadi saat malam hari, dari jam 20.00 sampai dengan 06.00. Angin jenis ini bermanfaat bagi
para nelayan untuk berangkat mencari ikan dengan perahi bertenaga angin sederhana.

2.Angin Lembah dan Angin Gunung

Angin Lembah dan Angin Gunung

a.Angin Lembah
Angin Lembah adalah angin yang bertiup dari arah lembah ke puncak gunung dan biasa
terjadi pada siang hari.
b.Angin Gunung
Angin Gunung adalah angin yang bertiup dari puncak gunung ke lembah gunung dan
terjadi pada malam hari.

3.Angin Fohn

Angin Fohn
Angin Fohn (Angin Jatuh) adalah angin yang terjadi seusai hujan Orografis. Angin yang
bertiup pada suaatu wilayah dengan temperatur dan kelengasan yang berbeda.
Angin Fohn terjadi karena ada gerakan massa udara yang naik pegunungan yang
tingginya lebih dari 200 meter , naik di satu sisi lalu turun di sisi lain. Angin Fohn yang jatuh
dari puncak gunung bersifat panas dan kering , karena uap air sudah di buang pada saat hujan
orografis.
Biasanya angin ini bersifat panas merusak dan dapat menimbulkan korban. Tanaman
yang terkena angin ini bisa mati dan manusia yang terkena angin ini bisa turun daya tahan
tubunya terhadap serangan penyakit.

4.Angin Muson

Angin Muson
Angin muson atau biasanya disebut sengan angin musim adalah angin yang berhembus
secara periodik (minimal 3 bulan) dan antara periode yang satu dengan periode yang lain
polanya akan berlawan yang berganti arah secara berlawanan setiao setengah tahun.
Angin Muson terbagi atas dua macam,yaitu :

a.Angin Muson Barat


Angin Musim/Muson Barat adalah angin yang mengalir dari benua Asia (musim
dingin) ke Benua Australia (musim panas) dan mengandung curah hujan yang banyak di
Indonesia bagian barat, hal ini disebabkan karena angin melewati tempat yang luas, seperti
perairan dan samudra. Contoh perairan dan samudra yang dilewati adalah Laut China Selatan
dan Samudra Hindia. Angin Musim Barat menyebabkan Indonesia mengalami musim hujan.
Angin ini terjadi pada bulan Desember, Januari dan Februari, dan maksimal pada bulan januari
dengan Kecepatan Minimum 3 m/s.
b. Angin Muson Timur
Angin Musim/Muson Timur adalah angin yang mengalir dari Benua Australia( musim
dingin) ke Benua Asia (Musim panas) sedikit curah hujan ( kemarau) di Indonesia bagian timur
karena angin melewati celah-celah sempit dan berbagai gurun (Gibson, Australia Besar, dan
Victoria). Ini yang menyebabkan indonesia mengalami musim kemarau. Terjadi pada bulan
juni, juli dan Agustus, dan maksimal pada bulan juli.

2. PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU (PLTB)


A. Pengertian Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB)
Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin (PLTB) merupakan pembangkit listrik yang
dapat mengkonversi (mengubah energi angina menjadi energi listrik. Energi angin memutar
turbin angin/kincir angin. Turbin angin yang berputar menyebabkan berputarnya rotor
generator, karena satu poros sehingga dapat menghasilkan energi listrik.

B. Komponen Utama Turbin Angin


a. Kincir Angin
Secara umum kincir angin dapat di bagi menjadi 2, yaitu kincir angin yang berputar
dengan sumbu horizontal, dan yang berputar dengan sumbu vertikal. Gambar 7 menunjukan
jenis-jenis kincir angin berdasarkan bentuknya. Sedangkan gambar 8 menunjunkan
karakteristik setiap kincir angin sebagai fungsi dari kemampuannya untuk mengubah energi
kinetik angin menjadi energi putar turbin untuk setiap kondisi kecepatan angin. Dari gambar 8
dapat disimpulkan bahwa kincir angin jenis multi-blade dan Savonius cocok digunakan untuk
aplikasi PLTB kecepatan rendah. Sedangkan kincir angin tipe Propeller, paling umum
digunakan karena dapat bekerja dengan lingkup kecepatan angin yang luas.

Gambar Jenis-jenis kincir angin


Gambar Karakterisrik kincir angin
b. Gearbox
Alat ini berfungsi untuk mengubah putaran rendah pada kincir menjadi putaran tinggi.
Biasanya Gearboxyang digunakan sekitar 1:60.

c. Brake System
Alat ini diperlukan saat angin berhembus terlalu kencang yang dapat menimbulkan
putaran berlebih pada generator. Dampak dari kerusakan akibat putaran berlebih
diantaranya : overheat, rotor breakdown, terjadi arus lebih pada generator.

d. Generator
Ada berbagai jenis generator yang dapat digunakan dalam sistem turbin angin, antara
lain generator serempak (synchronous generator), generator tak-serempak (unsynchronous
generator), rotor sangkar maupun rotor belitan ataupun generator magnet permanen.
Penggunaan generator serempak memudahkan kita untuk mengatur tegangan dan
frekuensi keluaran generator dengan cara mengatur-atur arus medan dari generator. Sayangnya
penggunaan generator serempak jarang diaplikasikan karena biayanya yang mahal,
membutuhkan arus penguat dan membutuhkan sistem kontrol yang rumit.
Generator tak-serempak sering digunakan untuk sistem turbin angin dan sistem
mikrohidro, baik untuk sistem fixed-speed maupun sistem variable speed.

e. Penyimpan energi
Pada sistem stand alone, dibutuhkan baterei untuk menyimpan energi listrik berlebih
yang dihasilkan turbin angin. Contoh sederhana yang dapat dijadikan referensi sebagai alat
penyimpan energi listrik adalah aki mobil. Aki 12 volt, 65 Ah dapat dipakai untuk mencatu
rumah tangga selama 0.5 jam pada daya 780 watt.

f. Tower
Tower PLTB dapat dibedakan menjadi 3 jenis seperti gambar dibawah ini. Setiap jenis tower
memiliki karakteristik masing-masing dalam hal biaya, perawatan, efisiensinya, ataupun dari
segi kesusahan dalam pembuatannya.
Gambar Tower PLTB (kiri) Guyed (Tengah) Lattice (kanan) Mono-structure

C. Syarat Angin Untuk PLTB


Tidak semua jenis angina dapat digunakan untuk memutar tubin pembangkit listrik
tenaga bayu/angin. Untuk itu berikut akan dijelaskan klasifikasi dan kondisi angina yang dapat
digunakan untuk menghasilkan energi listrik.
Dari beberapa tipe kelas angin diatas, angin kelas 3 adalah batas minimum dan angina
kelas 8 adalah batas maksimum energi angina yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan
energi listrik.

D. Potensi Energi Angin Dunia


Berdasarkan data dari Global Wind Energy Council (GWEC), potensi sumber angin
dunia diperkirakan sebesar 50,000 TWh/tahun. Total potensial ini dihitung pada daratan
dengan kecepatan angin rata-rata diatas 5,1 m/s dan pada ketinggian 10 m. Data ini setelah
direduksi sebesar 10% sebagai toleransi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kepadatan
penduduk, dan lain-lain.

Tabel Sebaran potensi energi angin. (TWh/tahun)

E. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU

Kelebihan dari pembangkit listrik tenaga bayu adalah:


1. Sumber energi terbarukan. Yang pertama adalah angin merupakan salah satu sumber
energi terbarukan. Dikatakan menjadi sumber energi terbarukan karena sumber energi
angin tidak akan pernah habis, tidak seperti minyak bumi.
2. Tidak menimbulkan emisi. Yang kedua adalah tidak menimbulkan emisi. Listrik yang
dihasilkan oleh angin tidak menimbulkan emisi yang bisa menyebabkan hujan asam
ataupun gas rumah kaca. Seperti yang Anda ketahui penggunaan bahan bakar fosil
dapat menyebabkan hujan asam. Hujan asam yang terjadi pun dapat mempengaruhi
kehidupan di bumi, seperti ikan dan tumbuhan mati, besi berkarat dan lainnya.
3. Ramah lingkungan. Kelebihan menggunakan pembangkit listrik tenaga angin
selanjutnya adalah ramah lingkungan. Selain terbarukan, energi angin merupakan salah
satu sumber energi alternatif yang jika digunakan tanpa mencemari lingkungan.
4. Menggunakan space yang lebih kecil. Jika dibandingkan dengan pembangkit listrik
lainnya, energi angin hanya membutuhkan beberapa meter untuk membentuk pondasi
turbin angin.
Kekurangan dari pembangkit listrik tenaga bayu adalah:
1. Karakteristik kecepatan angin di Indonesia yang cenderung fluktuatif : hal ini
menyebabkan sistem turbin angin yang didesain harus mampu menghasilkan listrik
pada kecepatan angin berapapun.
2. Mahal : Penggunaan teknologi turbin angin direct-drive permanet magnet
generator (agar dapat menghasilkan listrik secara optimal pada rentang kecepatan
angin yang luas) membuat sistem turbin angin dengan skala besar menjadi mahal.
3. Jaringan Indonesia belum ter-interkoneksi : Penggunaan teknologi fixed-speed
induction generatordapat menekan biaya instalasi PLTB, namun agar dapat
menghasilkan daya aktif sistem ini harus terkoneksi grid. Kesimpulannya desain ini
baru akan berhasil menghasilkan listrik secara ekonomis dan efisien apabila
dikoneksikan dengan jaringan grid yang besar seperti sistem Jawa – Madura – Bali.
4. Lokasi pusat beban yang jauh dengan sumber energi : Biasanya pada PLTB yang
sudah ada masih terhubung langsung dengan pusat beban, sedangkan umumnya jarak
antara lokasi PLTB dan pusat beban cukup jauh, karena belum tentu lokasi pada pusat
beban memiliki potensi angin yang cukup memadai.
5. Tegangan keluaran PLTB yang rendah : Dibutuhkan saluran distribusi tegangan
tinggi untuk membagikan daya listrik yang biasanya dapat dicapai dengan
menggunakan trafo. Sayangnya penggunaan trafo membuat sistem pembangkit menjadi
lebih besar, lebih mahal dan menghasilkan rugi-rugi tambahan yang cukup signifikan.

3. PERANCANGAN DESAIN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU (PLTB)


A. LOKASI PENEMPATAN PLTB
Indonesia adalah negara
kepulauan dengan jumlah penduduk
lebih dari 200 juta jiwa. Namun rasio
elektrifikasi Indonesia masih sangat
rendah dan infrastruktur kelistrikan
terpusat di Pulau Jawa. Sebagai contoh,
sampai saat ini Bali masih tergantung
dengan jaringan listrik Jawa-Bali untuk
pasokan energi listrik. Karenanya,
ketika terjadi gangguan koneksi Jawa-
Bali, dampaknya sangat besar bagi Bali
yang notabene berkembang dalam
industri kepariwisataannya.
Untuk mengatasi permasalahan
tersebut dapat dilakukan dengan
beberapa cara, diantaranya adalah
membangun pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil pada lokasi-lokasi domestik diluar
pulau Jawa. Akan tetapi hal ini kurang tepat untuk dilakukan mengingat harga minyak dunia
yang semakin melonjak dan tentunya bila ditinjau dari aspek lingkungan, pembangkit listrik
dengan bahan bakar fosil menimbukan polusi karbon yang cukup signifikan.
Sehingga berdasarkan permasalahan ini, maka kelompok 2 Bagian Timur memilih
pulau Bali sebagai lokasi perencanaan pembangkit listrik energi terbarukan dari potensi yang
terdapat di wilayah perairan Laut Bali.
B. POTENSI ENERGI ANGIN DI PERAIRAN LAUT BALI

Gambar Peta Kecepatan dan arah aliran angin pada perairan laut Bali

Berdasarkan gambar peta keluaran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika


tentang kecepatan dan arah aliran angina pada perairan laut Bali, menunjukkan bahwa rata-rata
kecepatan angin yang terdapat pada perairan Laut Bali berkisar antara 4 – 8 knot atau 2.05 –
4.12 m/s.
Meskipun kecepatan angin pada perairan Laut Bali tergolong rendah, tapi di wilayah
tertentu dari Laut Bali memiliki kecepatan yang memenuhi kriteria sebagai syarat kelas angin
yaitu tergolong kelas 4. Sehingga di lokasi tersebut berpotensi untuk membangun Pembangkit
Listrik Tenaga Bayu/Angin. Lokasi yang berpotensi tersebut adalah di daerah Nusa Dua dan
Singaraja yang memiliki kecepatan 4.12 m/s.

Gambar Letak Penempatan PLTB


C. DESAIN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU / ANGIN
Pada perancangan desain PLTB ini, saya mengajukan desain rancangan sendiri yang
memiliki tipe propeller jenis Darrieus dan Savonius. Pemilihan propeller jenis ini berdasarkan
pertimbangan bahwa propeller ini memiliki efisiensi yang baik terhadap kecepatan angin yang
rendah dan tidak konstan. Serta perancangan pembangkit ini dibuat dalam dua rancangan
masing-masing, yaitu untuk mobile (dapat berpindah) dan fixed (tetap). Berikut adalah
rancangan desain Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin (PLTB):

Gambar Tipe propeller Savonius (mobile)

Gambar Tipe propeller Darrieus; Tipe mobile (kiri); tipe fixed (kanan)
E. PRINSIP KERJA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU/ANGIN
Sistem turbin angin yang menggunakan sistem kecepatan berubah (variable speed),
artinya sistem didesain agar dapat mengekstrak daya maksimum pada berbagai macam
kecepatan. Sistem variable speed dapat menghilangkan pulsating torque yang umumnya
timbul pada sistem fixed speed. Secara umum sistem variable
speed mengaplikasikan elektronika daya untuk mengkondisikan daya, seperti penyearah
(rectifier), Konverter AC-AC, ataupun Inverter.

Pada sistem variable speed menggunakan generator induksi Rotor Sangkar.


Karakteristik kerja generator induksi diatur dengan mengubah-ubah nilai resistansi rotor,
sehingga torsi maksimum selalu didapatkan pada kecepatan putar turbin berapa pun. Sistem ini
lebih aman terhadap perubahan beban mekanis secara tiba-tiba, terjadi reduksi pulsating power
menuju grid dan memungkinkan memperoleh daya maksimum pada beberapa kecepatan angin
yang berbeda.

Motor induksi cukup banyak digunakan, hal ini karena motor induksi mempunyai
keuntungan sebagai berikut :
• Bentuknya sederhana, konstruksinya cukup kuat.
• Harga murah dan dapat di andalkan.
• Efesiensi tinggi pada keadaan normal.
• Perawatan yang minimum.
• Pada waktu mulai beroperasi tidak memerlukan peralatan khusus.
Motor rotor sangkar mempunyai gulungan yang rotornya selalu dihubung singkat
maka motor ini dinamakan motor hubung singkat. Keuntungan menggunakan motor 3 fasa
jenis motor rotor sangkar adalah :
• Kecepatan putarannya konstan pada setiap variasi bebannya.
• Kapasitas Overloadnya tinggi.
• Pengoperasiannya sederhana.
• Efesiensi dan faktor kerjanya lebih tinggi dibanding motor induksi rotor lilit.

F. PERHITUNGAN DAYA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU/ANGIN

Angin adalah udara yang bergerak. Karena udara mempunyai massa maka energi yang
ditimbulkannya dapat dihitung berdasarkan energi kinetik yang dirumuskan sebagai berikut:

Energi Kinetik = Ek = 0.5 x m x V² ................................................ (3.1)

Dimana:
m = mass (kg)
V = kecepatan angin (m/detik)

Biasanya, kita lebih tertarik pada tenaga (perubahan dari waktu ke waktu) dari pada
energi. Karena energi = tenaga x waktu dan massa udara lebih mudah dinyatakan sebagai
density, maka persamaan energi kinetik diatas menjadi persamaan aliran :

Tenaga pada permukaan kincir adalah:

P = 0.5 x ρ x A x V³ ........................................................................ (3.2)

dimana:
P = tenaga dalam watts (746 watts = 1 hp) (1,000 watts = 1 kilowatt)
ρ = density udara (1.225 kg/m³ at permukaan laut)
A = permukaan kincir (m²)
V = kecepatan angin dalam meters/detik

Persamaan ini merupakan tenaga dari aliran udara secara bebas. Tidak semua tenaga ini
dapat diambil karena ada aliran udara yang lewat melalui kincir (hanya dinding tegak lurus
arah angin yang dapat mengambil 100% energi aliran angin). Sehingga kita harus menurunkan
persamaan baru yang lebih praktis untuk kincir angina.

Tenaga Kincir Angin:

P = 0.5 x ρ x A x Cp x V³ x Ng x Nb.............................................. (3.3)

dimana:
P =tenaga dalam watts (746 watts = 1 hp) (1,000 watts = 1 kilowatt)
ρ = density udara (1.225 kg/m³ at permukaan laut)
A = permukaan kincir (m²)
Cp = Koefisien kinerja (maksimum teoritis = 0,59 [Betz limit])
V = kecepatan angin dalam m/detik
Ng = efisiensi generator (50% altenator mobil, 80% atau lebih utk permanent magnet
generator)
Nb = efisiensi gearbox/bearing (jika bagus dapat mencapai 95%)

Menghitung ratio kecepatan kincir angin:

λ = kecepatan putaran kincir / kecepatan angin


𝐾𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑟𝑜𝑡𝑎𝑠𝑖 (𝑟𝑝𝑚)𝑥 𝜋 𝑥 𝐷
Kecepatan putaran kincir = 60

Adapun asumsi data yang digunakan adalah:

• Kecepatan putar turbin angin di Indonesia diantara 100-200 rpm dipilih 150 rpm .
Untuk mengatasi kecepatan turbin yang rendah, biasanya digunakan komponen roda
gigi untuk menyesuaikan dengan kecepatan putaran generator.
• Kecepatan angin yang berhembus sebesar 8 knots atau 4.12 m/s
• Efisiensi Generator yang digunakan sebesar 0.8
• Efisiensi Gearbox yang digunakan sebesar 0.95
Perhitungan perancangan desain

a. Desain Savonius

Ratio kecepatan kincir angin:

𝐾𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑟𝑜𝑡𝑎𝑠𝑖 (𝑟𝑝𝑚)𝑥 𝜋 𝑥 𝐷


Kecepatan putaran kincir = 60
150 𝑟𝑝𝑚 𝑥 𝜋 𝑥 0.5 𝑚
= 60
= 3.925 m/s

λ = kecepatan putaran kincir / kecepatan angin


= 3.925 m/s / 4.12 m/s
= 0.95

Tenaga pada permukaan kincir adalah:

P = 0.5 x ρ x A x V³
= 0.5 x 1.225 kg/m³ x 0.15 m² (8) x (4.12 m/s) ³
= 0.735 kg/m x 69.9 m³/s³
= 51.4 kg m2/s³
= 51.4 J/s
= 51.4 Watts

dimana:
P = tenaga dalam watts (746 watts = 1 hp) (1,000 watts = 1 kilowatt)
ρ = density udara (1.225 kg/m³ at permukaan laut)
A = permukaan kincir (60 cm x 25 cm = 1500 cm² = 0.15 m² )
V = kecepatan angin dalam meters/detik (4.12 m/s)

Tenaga Kincir Angin :

P = 0.5 x ρ x A x Cp x V³ x Ng x Nb
= 0.5 x 1.225 kg/m³ x 0.15 m² (8) x 0.17 x (4.12 m/s) ³ x 0.8 x 0.95
= 6.6 kg m2/s³
= 6.6 J/s
= 6.6 Watts

dimana:
P =tenaga dalam watts (746 watts = 1 hp) (1,000 watts = 1 kilowatt)
ρ = density udara (1.225 kg/m³ at permukaan laut)
A = permukaan kincir ( 60 cm x 25 cm = 1500 cm² = 0.15 m²)
Cp = Koefisien kinerja (maksimum teoritis = 0,59 [Betz limit], Desain = 0,17)
V = kecepatan angin dalam m/detik (4.12 m/s)
Ng = efisiensi generator (0.8)
Nb = efisiensi gearbox/bearing (0.95)
b. Desain Darrieus

𝐾𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑟𝑜𝑡𝑎𝑠𝑖 (𝑟𝑝𝑚)𝑥 𝜋 𝑥 𝐷


Kecepatan putaran kincir = 60
150 𝑟𝑝𝑚 𝑥 𝜋 𝑥 0.5 𝑚
= 60
= 3.925 m/s

λ = kecepatan putaran kincir / kecepatan angin


= 3.925 m/s / 4.12 m/s
= 0.95

Tenaga pada permukaan kincir adalah:

P = 0.5 x ρ x A x V³
= 0.5 x 1.225 kg/m³ x 0.12 m² (3) x (4.12 m/s) ³
= 0.735 kg/m x 69.9 m³/s³
= 15.42 kg m2/s³
= 15.42 J/s
= 15.42 Watts

dimana:
P = tenaga dalam watts (746 watts = 1 hp) (1,000 watts = 1 kilowatt)
ρ = density udara (1.225 kg/m³ at permukaan laut)
A = permukaan kincir (60 cm x 20 cm = 1200 cm² = 0.12 m² )
V = kecepatan angin dalam meters/detik (4.12 m/s)

Tenaga Kincir Angin :


P = 0.5 x ρ x A x Cp x V³ x Ng x Nb
= 0.5 x 1.225 kg/m³ x 0.12 m² (3) x 0.2 x (4.12 m/s) ³ x 0.8 x 0.95
= 2.34 kg m2/s³
= 2.34 J/s
= 2.34 Watts

dimana:
P =tenaga dalam watts (746 watts = 1 hp) (1,000 watts = 1 kilowatt)
ρ = density udara (1.225 kg/m³ at permukaan laut)
A = permukaan kincir ( 60 cm x 25 cm = 1500 cm² = 0.15 m²)
Cp = Koefisien kinerja (maksimum teoritis = 0,59 [Betz limit], Desain = 0,2)
V = kecepatan angin dalam m/detik (4.12 m/s)
Ng = efisiensi generator (0.8)
Nb = efisiensi gearbox/bearing (0.95)
G. Hasil pembahasan

Asumsi data yang digunakan adalah:

• Kecepatan putar turbin angin di Indonesia diantara 100-200 rpm dipilih 150 rpm .
Untuk mengatasi kecepatan turbin yang rendah, biasanya digunakan komponen roda
gigi untuk menyesuaikan dengan kecepatan putaran generator.
• Kecepatan angin yang berhembus sebesar 8 knots atau 4.12 m/s
• Efisiensi Generator yang digunakan sebesar 0.8
• Efisiensi Gearbox yang digunakan sebesar 0.95

Dari hasil perhitungan daya turbin angin maka dapat disimpulkan ke dalam table berikut:
Luas Daya yang
Jenis Tipe Diameter Efisiensi
Jumlah Daun Permukaan dihasilkan
Propeller Propeller (m) Propeller
Daun (m) (Watt)
Savonius 8 0.15 0.5 0.17 6.6
Darrieus 3 0.12 0.5 0.2 2.34

Berdasarkan data diatas maka disimpulkan bahwa nilai Daya yang dihasilkan oleh suatu turbin
dipengaruhi oleh:
1. Jumlah daun propelle (kincir angin)
2. Luas permukaan daun dan diameter propeller
3. Jenis Tipe propeller
4. Efisiensi desain jenis tipe propeller
5. Kecepatan putaran propeller
6. Kecepatan angin
7. Efisiensi generator dan gearbox
KESIMPULAN

Pembangkit Listrik Tenaga Angin atau sering juga disebut dengan Pembangkit Listrik
Tenaga Bayu (PLTB) adalah salah satu pembangkit listrik energi terbarukan yang ramah
lingkungan dan memiliki efisiensi kerja yang baik jika dibandingkan dengan pembangkit listrik
energi terbarukan lainnya. Prinsip kerja PLTB adalah dengan memanfaatkan energi kinetik
angin yang masuk ke dalam area efektif turbin untuk memutar baling-baling/kincir angin,
kemudian energi putar ini diteruskan ke generator untuk membangkitkan energi listrik.
Sampai saat ini Bali masih tergantung dengan jaringan listrik Jawa-Bali untuk pasokan
energi listrik. Karenanya, ketika terjadi gangguan koneksi Jawa-Bali, dampaknya sangat besar
bagi Bali yang notabene berkembang dalam industri kepariwisataannya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara,
diantaranya adalah membangun pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil pada lokasi-
lokasi domestik diluar pulau Jawa. Akan tetapi hal ini kurang tepat untuk dilakukan mengingat
harga minyak dunia yang semakin melonjak dan tentunya bila ditinjau dari aspek lingkungan,
pembangkit listrik dengan bahan bakar fosil menimbukan polusi karbon yang cukup signifikan.
Maka dari itu dibutuhkan pembangkit listrik terbarukan yang mampu memenuhi
kebutuhan listrik pada kepulauan Bali dengan memanfaatkan kondisi alam sekitar. Salah satu
nya merancang Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin yang dapat menghasilkan energi listrik
yang efisien dan ramah lingkungan. Namun pada wilayah perairan Bali, hanya memiliki
beberapa lokasi yang memiliki potensi angina yang baik untuk memutar turbin angin
disebabkan kecepatan angin di wilayah perairan Bali cukup rendah. Sehingga dibutuhkan
perancangan khusus dalam sistem Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin tersebut.
Sehingga pada makalah ini saya menawarkan desain PLTB dengan menggunakan tipe
propeller vertical jenis Darrieus dan Savonius disebabkan karena tipe ini dapat menghasilkan
energi listrik pada kecepatan angin rendah dan berubah-ubah (tidak konstan). Namun dari hasil
perhitungan didapatkan nilai hasil daya kedua jenis tipe propeller masih rendah dalam
pemenuhan listrik yang dibutuhkan.
DAFTAR PUSTAKA

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.2018. Peta Maritim BMKG. Badan Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika: Indonesia
Sutrisna, Kadek Fendy.2011.Prinsip Kerja Listrik Tenaga Angin.
Kadekadokura.wordpress.com
Sutrisna, Kadek Fendy.2012.Permasalahan dan Tantangan Wind Farm di Indonesia.
Kadekadokura.wordpress.com
http://www.artikelsiana.com/2015/04/angin-Pengertian-angin-jenis-macam-macam-
angin.html
http://jendeladenngabei.blogspot.co.id/2012/11/pembangkit-listrik-tenaga-bayu-angin.html
https://miskardi.wordpress.com/2010/08/28/menghitung-energi-dari-kincir-angin/