Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan
banyak nikmat, taufik dan hidayah. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Karakteristik Limbah Dan Dampak Limbah Rumah Sakit Terhadap Manusia Dan
Lingkungannya” tepat pada waktunya. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan
tugas mata kuliah Manjamen Kesling dan Limbah Rumah Sakit, isi dari makalah ini adalah
pemaparan pengetahuan tentang kemampuan memberikan pelayanan yang berkualitas kepada
pasien ditentukan oleh prilaku petugas yang terwujud dalam budaya organisasi.
Diluar itu, penulis sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan
dalam penulisan makalah ini, Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati , saya selaku penyusun
menerima segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga makalah ini dapat menambah khazanah ilmu
pengetahuan dan memberikan manfaat nyata untuk masyarakat luas.

Tm Penyusun

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................................... i
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................ 1
A. Latar Belakang ..................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................................. 3
A. Tinjauan Umum Tentang Limbah di Rumah Sakit .............................................................. 3
B. Karakteristik Limbah Rumah Sakit ..................................................................................... 3
C. Dampak Limbah Rumah Sakit Terhadap Lingkungan dan Kesehatan ................................ 6
D. Potensi Pencemaran Limbah Rumah Sakit ........................................................................ 10
E. Pengelolaan Dan Pembuangan Limbah Medis .................................................................. 11
BAB III PENUTUP ................................................................................................................... 14
A. Kesimpulan ........................................................................................................................ 14
REFENSI ..................................................................................................................................... 15

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rumah Sakit merupakan tempat-tempat umum dimana didalamnya berinteraksi antara
pengelola, klien / orang sakit dan masyarakat ataupun pengunjung dalam rangka pemberian
pelayanan kesehatan. Dalam menjalankan fungsinya sebagai sebuah sarana layanan kesehatan,
rumah sakit juga menghasilkan limbah sebagai dampak dari kegiatan operasionalisasinya. Jenis
limbah rumah sakit bermacam-macam , yaitu limbah padat non medis, limbah padat medis, limbah
cair dan limbah gas . Limbah-limbah tersebut terdiri dari limbah non infeksius, limbah infeksius,
bahan kimia beracun dan berbahaya, dan sebagian bersifat radioaktif sehingga membutuhkan
pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan. Sampah atau limbah rumah sakit dapat mengandung
bahaya karena bersifat racun, karena kegiatan atau sifat pelayanan yang diberikan, maka rumah
sakit menjadi depot segala macam penyakit yang ada di masyarakat,bahkan dapat pula sebgai
sumber distribusi penyakit karena selalu dihuni,dipergunakan, dan dikunjungi oleh orang-orang
yang rentang dan lemah terhadap penyakit. Di tempat ini dapat terjadi penularan baik secara
langsung (cross infection), melalui kontaminasi benda-benda ataupun melalui serangga (vector
borne infection) sehingga dapat mengecam keseahtan masyarakat umum.
Limbah rumah sakit harus dikelola mulai dari pengumpulan sampai pemusnahan, sesuai
dengan tatalaksana pengelolaan limbah rumah sakit yang diatur oleh Kementerian Kesehatan.
Limbah non infeksius dan infeksius harus dikelola sesuai baku mutu Kementerian Kesehatan,
sedangkan limbah radioaktif pengelolaannya menjadi kewenangan Badan Tenaga Atom Nasional
(BATAN), namun pedoman penyimpanan sementara mengacu pada pedoman Kementerian
Kesehatan (Depkes, 2006). Pengelolaan limbah medis bukanlah hal yang mudah dilakukan. Secara
umum, di Indonesia sendiri pengolahan limbah medis belum tertangani dengan baik. Pengelolaan
limbah yang sembarangan dapat menyebabkan masalah kesehatan dan pencemaran lingkungan.
Dari keseluruhan limbah rumah sakit, sekitar 10 % sampai 15 % diantaranya merupakan
limbah infeksius yang mengandung logam berat, antara lain merkuri (Hg). Sekitar 40 % lainnya
adalah limbah organik yang berasal dari sisa makanan, baik dari pasien dan keluarga pasien
maupun dapur gizi. Sisanya merupakan limbah anorganik dalam bentuk botol bekas infus dan
plastik. Dalam profil kesehatan Indonesia, diungkapkan seluruh rumah sakit di Indonesia
berjumlah 1090 dengan 121.996 tempat tidur. Hasil kajian terhadap 100 rumah sakit di Jawa dan

1
Bali menunjukkan bahwa rata-rata produksi limbah sebesar 3,2 kg pertempat tidur perhari.
Analisis lebih jauh menunjukkan produksi limbah (limbah padat) berupa limbah domestik sebesar
76,8 % dan berupa limbah infeksius sebesar 23,2 %. Diperkirakan secara nasional produksi limbah
(limbah padat) rumah sakit sebesar 376.089 ton per hari dan produksi air limbah sebesar 48.985,70
ton per hari. Dari gambaran tersebut dapat dibayangkan betapa besar potensi rumah sakit untuk
mencemari lingkungan dan kemungkinan menimbulkan kecelakaan serta penularan penyakit
(Profil Kesehatan Indonesia, Depkes RI 2002)
Pengelolaan limbah medis bukanlah hal yang mudah dilakukan. Secara umum, di Indonesia
sendiri pengolahan limbah medis belum tertangani dengan baik. Pengelolaan limbah yang
sembarangan dapat menyebabkan masalah kesehatan dan pencemaran lingkungan. Penelitian di
Yogyakarta menunjukkan bahwa tata laksana pengelolaan limbah yang tidak baik akan
menimbulkan resiko pekerja akibat paparan bahan beracun limbah di rumah sakit sebesar 2,3 x
10-5 atau 23 kemungkinan dalam satu juta (Sutomo, 1997). Limbah padat terutama limbah padat
medis, metode pemusnahan yang masih banyak digunakan adalah dibakar dengan insinerator
karena metode ini bisa mengurangi volume limbah sampai 85% ( Rodan, 2002). Insenerasi limbah
medis bukanlah tanpa dampak. Gas yang dihasilkan pembakaran insinerator dengan suhu rendah
bisa berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Penelitian di Taiwan pada tahun 2005
menyimpulkan bahwa kandungan arsen pada urin dan darah pekerja rumah sakit yang menjalankan
insinerator lebih tinggi dibanding pekerja di kantin, pegawai administrasi maupun sopir (Chao,
2005)

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tinjauan Umum Tentang Limbah di Rumah Sakit
Menurut defenisi (WHO) yang dikutip oleh Chandra mengemukakan pengertian limbah
adalah segala sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang
dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. limbah rumah
sakit adalah semua limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang
lainnya (Chandra, 2006)
Secara umum limbah dapat dibedakan menjadi limbah cair, limbah padat dan limbah gas.
Limbah padat biasa disebut juga limbah, limbah rumah sakit merupaka produk kegiatan yang dapat
mempengaruhi berbagai aspek pelayanan yang dilakukannya, antara lain infeksi nosokomial.
Disamping itu, limbah merupakan sumber kurangnya estetika dan kenyamanan suasana rumah
sakit serta berbagai aspek yang merupakan dampak negatif dari keberadaan limbah di rumah sakit
termasuk perusakan ekosistem. Oleh sebab itu, pengelolaan limbah rumah sakit perlu mendapat
perhatian yang lebih agar kemungkinan negatif yag diakibatkannya dapat dihindari. Disamping itu
fungsi dan tujuan rumah sakit tidak menjadi terganggu akibat buruknya pengelolaan fisiknya,
karena seperti yang kita ketahui bahwa rumah sakit merupakan tempat pengobatan dan
penyembuhan penderita penyakit. Petugas yang menangani limbah ada kemungkinan terinfeksi,
terutama disebabkan karena luka benda tajam yang terkontaminasi (Fattah.dkk, 2007).
Oleh karena itu, pengelolaan limbah rumah sakit yang baik harus dilakukan agar tidak
merusak lingkungan dan tidak menjadi sumber penyakit bagi masyarakat yang beraktivitas di
rumah sakit dan masyarakat yang tinggal di sekitar rumah sakit.

B. Karakteristik Limbah Rumah Sakit


Sampah dan limbah rumah sakit adalah semua sampah dan limbah yang dihasilkan oleh
kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya. Apabila dibandingkan dengan kegiatan
instansi lain, maka dapat dikatakan bahwa jenis sampah dan limbah rumah sakit dapat
dikategorikan kompleks. Secara umum sampah dan limbah rumah sakit dibagi dalam dua
kelompok besar, yaitu sampah atau limbah klinis dan non klinis baik padat maupun cair.
Limbah klinis adalah yang berasal dari pelayanan medis, perawatan gigi, veterinari, farmasi
atau sejenis, pengobatan, peraatan, enelitian atau pendidikan yang menggunakan bahan-bahan

3
beracun,infeksius berbahaya atau bisa membahayakan kecuali jika dilakukan terkandung di
dalamnya dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Limbah Benda Tajam
Limbah benda tajam merupakan objek atau alat yang memiliki sudut tajam, sisi ujung,
atau bagian penonjol yang dapat memotong atau menusuk kulit. Misalnya, jarum
hipodermik, perlengkapan intravena, pipet pasteur, pecahan gelas dan pisau bedah. Semua
benda tajam ini memiliki potensi bahaya dan dapat menyebabkan cidera melalui sobekan
atau tusukan. Benda-benda tajam yang terbuang mungkin terkontaminasi oleh darah, cairan
tubuh, bahan mikrobiologi dan beracun, bahan sitotoksik atau radioaktif. Limbah benda
tajam mempunyai bahaya tambahan yang dapat menyebabkan infeksi atau cidera karena
mengandung bahan kimia beracun atau radioaktif. Potensi untuk menyebabkan penyakit
akan sangat besar bila benda tajam tersebut digunakan untuk pengobatan pasien infeksi.
Benda tajam harus diolah degan insinerator bila memungkinkan, dan dapat diolah bersama
dengan limbah infeksius lainnya, kapsulisasi yang tepat untuk benda tajam.
2. Limbah Infeksius
Limbah infeksius mencakup pengertian limbah yang berkaitan dengan pasien yang
memerlukan isolasi penyakit menular (perawatan intensif) dan limbah laboratorium yang
berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik dan ruang perawatan/isolasi
penyakit menular. Namun beberapa institusi memasukkan juga bangkai hewan percobaan
yang terkontaminasi atau yang di duga terkontaminasi oleh organisme pathogen kedalam
kelompok limbah infeksius. Limbah ini harus di sterilisasi dengan pegelohan panas dan
basah seperti dalam autoclave sedini mungkin, sedangkan yang lain cukup dengan cara
disinfeksi.
Kategori limbah infeksius meliputi :
a) Kultur dan stok agen infeksius dari aktivitas di laboratorium;
b) Limbah buangan hasil operasi dan otopsi pasien yang menderita penyakit menular
(misalnya jaringan, dan materi atau peralatan yang terkena darah atau cairan tubuh
yang lain)
c) Limbah pasien yang menderita penyakit menular dari bangsal isolasi (misalnya
ekskreta, pembalut luka bedah, atau luka yang terinfeksi, pakaian yang terkena darah
pasien atau cairan tubuh yang lain).

4
d) Limbah yang sudah tersentuh pasien yang menjalani haemodialisis (misalnya
peralatan dialisis seperti selang dan filter, handuk, baju RS, apron, sarung tangan sekali
pakai dan baju laboratorium).
e) Instrumen atau materi lain yang tersentuh orang sakit.
3. Limbah Jaringan Tubuh
Limbah jaringan tubuh meliputi organ, anggota badan, plasenta, darah dan cairan tubuh
yang biasanya dihasilkan pada saat pembedahan atau autopsi. Limbah ini dikategorikan
berbahaya dan mengakibatkan resiko tinggi infeksi kuman terhadap pasien lain, staf rumah
sakit dan populasi umum (pengunjung rumah sakit dan penduduk sekitar rumah sakit)
sehingga dalam penanganannya membutuhkan labelisasi yang jelas.
4. Limbah Sitotoksik
Limbah sitotoksik adalah bahan yang terkontaminasi atu mungkin terkontaminasi
dengan obat sitotoksik selama peracikan, pengangkutan atau tindakan terapi sitotoksik.
Penanganan limbah ini memerlukan absorben yang tepat dan bahan pembersihnya harus
selalu tersedia dalam ruang peracikan. Bahan-bahan tersebut antara lain swadust, granula
absorpsi, atau perlengkapan pembersih lainnya. Semua pembersih tersebut harus
diperlakukan seperti limbah sitotoksik yang pemusnahannya harus menggunakan
insinerator karena sifat racunnya yang tinggi. Limbah dengan kandungan obat sitotoksik
rendah, seperti urin, tinja dan muntahan dapat dibuangan ke dalam saluran air kotor.
Limbah sitotoksik harus dimasukkan kedalam kantong plastik yang berwarna ungu yang
akan dibuang setiap hari atau setelah kantong plastik penuh.
Metode umum yang dilakukan dalam penanganan minimalisasi limbah sitotoksik adalah
mengurangi jumlah penggunaannya, mengoptimalkan kontainer obat ketika membeli,
mengembalikan obat yang kadaluarsa ke pemasok, memusatkan tempat penampungan
bahan kemotherapi, meminimalkan limbah yang dihasilkan dan memberikan tempat
pengumpulan, menyediakan alat pembersih tumpahan obat dan melakukan pemisahan
limbah.
5. Limbah Farmasi
Limbah farmasi dapat berasal dari obat-obatan yang kadaluarsa, obat-obatan yang
terbuang karena batch yang tidak memenuhi spesifikasi atau kemasan yang terkontaminasi,
obat-obatan yang dikembalikan oleh pasien atau dibuang oleh masyarakat, obat-obatan

5
yang tidak lagi diperlukan oleh institusi yang bersangkutan, dan limbah yang dihasilkan
selama produkdi obat-obatan.
6. Limbah Kimia
Limbah kimia dihasilkan dari penggunaan bahan kimia dalam tindakan medis,
veterinary, proses laboratorium, proses sterilisasi dan riset. Limbah berbahaya yang
komposisinya berbeda harus dipisahkan untuk menghindari reaksi kimia yang tidak
diinginkan. Cara pembuangan limbah kimia harus dikonsultasikan terlebih dahulu kepada
instansi yang berwenang untuk menghindari pencemaran.
7. Limbah Radioaktif
Limbah radioktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radioisotop yang berasal
dari penggunaan medis atau riset radionucleida. Limbah ini berasal dari kedokteran nuklir,
radioimunoassay dan bakteriologis yang berbentuk padat, cair atau gas. Pengelolaan
limbah radioaktif yang aman harus diatur dalam kebijakan dan strategi yang menyangkut
peraturan, infrastruktur, organisasi pelaksana, dan tenaga yang terlatih khusus dibidang
radiasi.
8. Limbah Plastik
Limbah plastik adalah bahan plastik yang dibuang oleh klinik, rumah sakit dan sarana
pelayanan kesehatan lain seperti barang-barang dissposable yang terbuat dari plastik dan
juga pelapis peralatan dan perlengkapan medis.

Melihat karekteristik yang ditimbulkan oleh buangan/limbah rumah sakit seperti tersebut
diatas, maka konsep pengelolaan lingkungan sebgai sebuah sistem dengan berbagai proses
manajemen didalamnya yang dikenal sebagai Sistem Manajemen Lingkungan (Environmental
Managemen System) dan diadopsi Internasional Orgbanixation for Standar (ISO) sebagai salah
satu sertifikasi internasional dibidang pengelolaan lingkungan dengan nomor sei ISO 14001 perlu
diterapkan di dalam Sistem Manajemen Lingkungan Rumah Sakit.

C. Dampak Limbah Rumah Sakit Terhadap Lingkungan dan Kesehatan


Limbah rumah sakit dapat menimbulkan dampak negatif terahadap lingkungan dan kesehatan.
Dampak yang ditimbulkan menurut Wisaksono, yaitu:

6
1. Gangguaan kenyamanan dan estetika
Ini berupa warna yang berasal dari sedimen, larutan, bau phenol, eutrofikasi dan rasa dari
bahan kimia organik.
2. Kerusakan harta benda
Dapat disebabkan oleh garam-garam yang terlarut (korosif, karat) air yang berlumpur dan
sebagainya yang dapat menurunkan kualitas bangunan di sekitar rumah sakit
3. Gangguan kerusakan tanaman dan binatang
Ini dapat disebabkan oleh virus, senyawa nitrat, bahan kimia, pestisida, logam nutrient
tertentu, dan fosfor.
4. Gangguan terhadap kesehatan manusia
Ini dapat disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, virus, senyawasenyawa kimia, pestisida,
serta logam seperti Hg, Pb, dan Cd yang berasal dari bagian kedokteran gigi.
5. Gangguan genetik dan reproduksi
Meskipun mekanisme gangguan belum sepenuhnya diketahui secara pasti, beberapa
senyawa dapat menyebabkan gangguan atau kerusakan genetik dan sistem reproduksi
manusia misalnya bahan radioaktif.

Menurut Kepmenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 petugas pengelola sampah harus


menggunakan alat pelindung diri yang terdiri dari topi/ helm, masker, pelindung mata, pakaian
panjang, apron untuk industry, sepatu boot, serta sarung tangan khusus.
Pengaruh limbah rumah sakit terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan dapat
menimbulkan berbagai masalah seperti:
1. Gangguan kenyamanan dan estetika, berupa warna yang berasal dari sedimen, larutan, bau
phenol, eutrofikasi dan rasa dari bahan kimia organic, yang menyebabkan estetika
lingkungan menjadi kurang sedap dipandang.
2. Kerusakan harta benda, dapat disebabkan oleh garam-garam yang terlarut (korosif dan
karat) air yang berlumpur dan sebagainya yang dapat menurunkan kualitas bangunan
disekitar rumah sakit.
3. Gangguan/ kerusakan tanaman dan binatang, dapat disebabkan oleh virus, senyawa nitrat,
bahan kimia, pestisida, logam nutrient tertentu dan fosfor.

7
4. Gangguan terhadap kesehatan manusia, dapat disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, virus,
senyawa-senyawa kimia, pestisida, serta logam berat seperti Hg, Pb dan Cd yang bersal
dari bagian kedokteran gigi.
5. Gangguan genetic dan reproduksi.
6. Pengelolaan sampah rumah sakit yang kurang baik akan menjadi tempat yang baik bagi
vector penyakit seperti lalat dan tikus.
7. Kecelakaan kerja pada pekerja atau masyarakat akibat tercecernya jarum suntik atau benda
tajam lainnya.
8. Insiden penyakit demam berdarah dengue meningkat karena vector penyakit hidup dan
berkembangbiak dalam sampah kaleng bekas atau genangan air.
9. Proses pembusukan sampah oleh mikroorganisme akan menghasilkan gas-gas tertentu
yang menimbulkan bau busuk.
10. Adanya partikel debu yang berterbangan akan mengganggu pernafasan, menimbulkan
pencemaran udara yang akan menyebabkan kuman penyakit mengkontaminasi peralatan
medis dan makanan rumah sakit.
11. Apabila terjadi pembakaran sampah rumah sakit yang tidak saniter asapnya akan
mengganggu pernafasan, penglihatan dan penurunan kualitas udara

Limbah medis rumah sakit juga dapat menyebabkan infeksi silang. Limbah medis dapat
menjadi wahana penyebaran mikroorganisme pembawa penyakit melalui proses infeksi silang baik
dari pasien ke pasien, dari pasien ke petugas atau dari petugas ke pasien. Pada lingkungan, adanya
kemungkinan terlepasnya limbah ke lapisan air tanah, air permukaan dan adanya pencemaran
udara, menyebabkan pencemaran lingkungan karena limbah rumah sakit.
Secara ekonomis, dari beberapa kerugian di atas pada akhirnya menuju kerugian ekonomis,
baik terhadap pembiayaan operasional dan pemeliharaan, adanya penurunan cakupan pasien dan
juga kebutuhan biaya kompensasi pencemaran lingkungan. Orang yang kesehatannya terganggu
karena pencemaran l ingkungan apalagi sampai cacat atau meninggal, memerlukan biaya
pengobatan dan petugas kesehatan yang berarti beban sosial ekonomi penderitanya, keluarganya
dan masyarakat.

8
Selain dampak kesehatan di atas, rumah sakit juga diktahui sebagai tempat penularan infeksi
nosokomial. Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan dan
kematian di dunia. Salah satu jenis infeksi adalah infeksi nosokomial. Infeksi ini menyebabkan 1,4
juta kematian setiap hari di seluruh dunia. Infeksi nosokomial itu sendiri dapat diartikan sebagai
infeksi yang diperoleh seseorang selama di rumah sakit. Infeksi adalah proses dimana seseorang
rentan (susceptible) terkena invasi agen patogen atau infeksius yang tumbuh, berkembang biak
dan menyebabkan sakit. Yang dimaksud agen bisa berupa bakteri, virus, ricketsia, jamur, dan
parasit. Penyakit menular atau infeksius adalah penyakit tertentu yang dapat berpindah dari satu
orang ke orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Sumber infeksi nosokomial
dapat berasal dari penderita sendiri, personil rumah sakit (dokter/perawat), pengunjung maupun
lingkungan.
Cara Penularan Infeksi Nosokomial
1. Penularan secara kontak
Penularan ini dapat terjadi secara kontak langsung, kontak tidak langsung dan Droplet.
Kontak langsung terjadi bila sumber infeksi berhubungan langsung dengan penjamu,
misalnya person to person pada penularan infeksi virus hepatitis A secara fecal oral.
Kontak tidak langsung terjadi apabila penularan membutuhkan objek perantara (biasanya
benda mati). Hal ini terjadi karena benda mati tersebut telah terkontaminasi oleh infeksi,
misalnya kontaminasi peralatan medis oleh mikroorganisme.
2. Penularan melalui Common Vehicle
Penularan ini melalui benda mati yang telah terkontaminasi oleh kuman dan dapat
menyebabkan penyakit pada lebih dari satu penjamu. Adapun jenis-jenis common vehicle
adalah darah/produk darah, cairan intra vena, obat-obatan dan sebagainya.
3. Penularan melalui udara dan inhalasi
Penularan ini terjadi bila mikroorganisme mempunyai ukuran yang sangat kecil sehingga
dapat mengenai penjamu dalam jarak yang cukup jauh dan melalui saluran pernafasan.
Misalnya mikroorganisme yang terdapat dalam sel-sel kulit yang terlepas (staphylococcus)
dan tuberculosis.
4. Penularan dengan perantara vector
Penularan ini dapat terjadi secara eksternal maupun internal. Disebut penularan secara
eksternal bila hanya terjadi pemindahan secara mekanis dari mikroorganisme yang

9
menempel pada tubuh vektor, misalnya shigella dan salmonella oleh lalat. Penularan secara
internal bila mikroorganisme masuk ke dalam tubuh vektor dan dapat terjadi perubahan
secara biologis, misalnya parasit malaria dalam nyamuk atau tidak mengalami perubahan
biologis, misalnya yersenia pestis pada ginjal (flea).

D. Potensi Pencemaran Limbah Rumah Sakit


Dalam profil kesehatan Indonesia, Departemen Kesehatan 1997, diungkapkan seluruh rumah
sakit di Indonesia berjumlah1.090 dengan 121.996 tempat tidur. Hasil kajian terhadap 100 rumah
sakit di Jawa dan Bali menunjukkan bahwa rata-rata produksi sampah sebesar 3,2 kg per tempat
tidur per hari. Sedangkan produksi limbah cair sebesar 416,8 liter per tempat tidur per hari. Analisi
lebih jauh menunjukkan produksi sampah (limbah padat) berupa limbah domestic sebesar 76,8 %
dan berupa limbah infeksius sebesar 23,2 %. Diperkirakan secara nasional produksi sampah
(limbah padat) rumah sakit sebesar 376.089 ton per hari dan produksi air limbah sebesar 48.985,70
ton per hari.Dari gambaran tersebut dapat dibayangkan seberapa besar potensi rumah sakit untuk
mencemari lingkungan dan kemungkinannya kecelakaan dan penularan penyakit. (Sabayang dkk,
1996)
Data tersebut juga menyebutkan hanya 9 rumah sakit saja yang
memiliki incinerator.Alat tersebut digunakan untuk membakar limbah padat berupa limbah sisa-
sisa organ tubuh manusia yang tidak boleh dibuang begitu saja. Menurut Kepala BPLHD Jaktim,
Surya Darma, pihaknya sudah menyampaikan surat edaran yang mengharuskan pihak rumah sakit
melaporkan pengelolaan limbahnya setiap 3 bulan sekali. Sayangnya, sejak dilayangkan surat
edaran (September 2005), hanya 3 rumah sakit saja yang memberikan laporan. Menurut Surya,
limbah rumah sakit khususnya limbah medis yang infeksius belum dikelola dengan baik, sebagian
besar pengelolaan limbah infeksius disamakan dengan limbah medis non infeksius. Selain itu
kerap bercampur limbah medis dan non medis.Pencampuran tersebut justru memperbesar
permasalahan limbah medis. Padahal limbah medis memerlukan pengelolaan khusus yang berbeda
dengan limbah non medis.Yang termasuk limbah medis adalah limbah infeksius, limbah radiologi,
limbah sitotoksik, dan limbah laboratorium. Kebanyakan dari rumah sakit, limbah medis langsung
dibuang kedalam sebuah tangki pembuangan berukuran besar, pasalnya tangki pembuangan
seperti itu di Indonesia sebagian besar tidak memenuhi syarat sebagai tempat pembuangan limbah.
Ironisnya, malah sebagian besar limbah rumah sakit malah dibuang ke tangki pembuangan seperti

10
itu. Sementara itu buruknya pengelolaan limbah rumah sakit karena pengelolaan limbah belum
menjadi syarat akreditasi rumah sakit. Sedangkan peraturan proses pembungkusan limbah padat
yang diterbitkan Departemen Kesehatan pada tahun 1992 pun sebagian besar tidak dijalankan
dengan benar. Padahal setiap rumah sakit selain harus memiliki IPAL, juga harus memiliki Surat
Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL) dan surat izin pengolahan limbah cair. Sementara
limbah organ-organ manusia harus dibakar di incinerator.Persoalannya harga incinerator itu cukup
mahal sehingga tidak semua rumah sakit memilikinya. (Sabayang dkk, 1996).

E. Pengelolaan Dan Pembuangan Limbah Medis


1. Penimbulan (Pemisahan dan Pengurangan)
Proses pemilahan dan reduksi sampah hendaknya merupakan proses yang kontinyu yang
pelaksanaannya harus memperhatikan : kelancaran penanganan dan penampungan sampah,
pengurangan volume dengan perlakuan pemisahan limbah B3 dan non B3 serta
menghindari penggunaan bahan kimia B3, pengemasan dan pemberian label yang jelas dari
berbagai jenis sampah untuk efesiensi biaya, petugas dan pembuangan.
2. Penampungan
Penampungan sampah ini wadah yang memiliki sifat kuat, tidak mudah bocor atau
berlumut, terhindar dari sobek atau pecah, mempunyai tutup dan tidak overload.
Penampungan dalam pengelolaan sampah medis dilakukan perlakukan standarisasi
kantong dan kontainer seperti dengan menggunakan kantong yang bermacam warna seperti
telah ditetapkan dalam Permenkes RI no. 986/Men.Kes/Per/1992 dimana kantong
berwarna kuning dengan lambang biohazard untuk sampah infeksius, kantong berwarna
ungu dengan simbol citotoksik untuk limbah citotoksik, kantong berwarna merah dengan
simbol radioaktif untuk untuk limbah radioaktif dan kantong berwarna hitam dengan
tulisan “domestik”

11
3. Pengangkutan
Pengangkutan dibedakan menjadi dua yaitu pengangkutan internal dan eksternal.
Pengangkutan internal berawal dari titik penampungan awal ke tempat pembuangan atau
ke incinerator (pengelolahan on-site). Dalam pengangkutan internal biasanya digunakan
kereta dorong sebagai yang sudah diberi label, dan dibersihkan secara berkala serta petugas
pelaksana dilengkapi dengan alat proteksi dan pakaian kerja khusus. Sedangkan
pengangkutan eksternal yaitu pengangkutan sampah medis ketempat pembuangan di luar
(off-site). Pengangkutan eksternal memerlukan prosedure pelaksanaan yang tepat dan harus
dipatuhi petugas yang terlibat. Prosedure tersebut termasuk memenuhi peraturan angkut
lokal. Sampah medis diangkut dalam kontainer khusus, harus kuat dan tidak bocor.
4. Pengelolahan dan Pembuangan
Metoda yang digunakan untuk mengelola dan membuang sampah medis tergantung pada
faktor-faktor yang sesuai dengan institusi yang berkaitan dengan peraturan yang berlaku
dan aspek lingkungan yang berpengaruh terhadap masyarakat. Teknik pengelolahan
sampah medis (medical waste) yang mungkin diterapkan dalah:
a) Incinerasi
b) Sterilisasi dengan uap panas/autoclaving (pada kondisi uap jenuh bersuhu 121C0)

12
c) Sterilisasi dengan gas (gas yang digunakan berupa ethylene oxide atau
formaldehyde)
d) Desinfeksi zat kimia dengan proses grinding (menggunakan cairan kimia sebagai
desinfektan)
e) Inaktivasi suhu tinggi
f) Radiasi (dengan ultraviolet atau ionisasi radiasi seperti C060)
g) Microwave treatment
h) Grinding dan shredding (proses homogenisasi bentuk atau ukuran sampah)
i) Pemampatan/ pemadatan, dengan tujuan untuk mengurangi volume yang terbentuk.

13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
pengelolaan limbah telah berkembang pesat, system manajemen lingkungan adalah cara
mengelola limbah sebagai by product (output), yang juga meminimalisasi limbah. Pengelolaan
limbah ini mengacu pada Peraturan Menkes No. 986/Menkes/Per/XI/1992 dan Keputusan Dirjen
P2M PLP No HK.00.06.6.44, tentang petunjuk teknis Penyehatan Lingkungan Rumah
Sakit.Intinya penyehatan anak harus dinomorsatukan, kontaminasi agen harus di cegah, limbah
yang dibuang harus tidak berbahaya, tidak infeksius dan merupakan limbah yang tidak dapat
digunakan lagi.

14
REFENSI

Depkes. (2004) Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, Dirjen P2M & PL.
Permenkes RI nomor: 1204/MENKES/SK/X/2004 tentang persyaratan kesehatan lingkungan
rumah sakit.
Sabayang P, Muljadi, Budi P, 1996. Konstruksi dan evaluasi incinerator untuk limbah padat
rumah sakit. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pusat penelitian dan pengembangan
fisika terapan Bandung: Pusat penelitian dan pengembangan fisika terapan.
uwityangyoyo.wordpress.com/2014/01/04/dampak-limbah-medis-rumah-sakit-terhadap-
lingkungan
WHO. (2005) Pengelolaan Aman Limbah Layanan Kesehatan, EGC, Jakarta.
www.indonesian-publichealth.com/pengaruh-limbah-medis-terhadap-kesehatan
www.academia.edu/18269592/Makalah_k3_limbah_rumah_sakit

15