Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

Oleh :
Kelompok 6

1. WELA SANJAYA
2. RIKI MALIK
3. MILA ARISTIANI
4. YUNIEK FITRI ARYANI
5. DIKY REZA
6. EKO SUSANTO
7. HENNY ROHMAWATI

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN KONVERSI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) MUHAMMADIYAH
PRINGSEWU LAMPUNG
TAHUN 2018

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmatnya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat
menyelesaikan tugas makalah yang berjudul ”KEHAMILAN EKTOPIK
TERGANGGU” Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak baik secara
langsung maupun tidak langsung yang telah membantu menyelesaikan makalah
kami tepat pada waktunya.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan serta masih banyak kekurangan didalamnya. Akan besar
manfaatnya apabila pembaca berkenan memberi saran dan kritik yang bersifat
membangun yang dapat kami pergunakan sebagai perbaikan dimasa mendatang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat serta dapat memberikan
pengetahuan dan wawasan bagi para pembaca.

Pringsewu, Februari 2018

Penyusun

DAFTAR ISI

ii
Halaman Judul.................................................................................................i
Kata Pengantar................................................................................................ii
Daftar Isi ...............................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang........................................................................1
b. Tujuan .....................................................................................3
c. Manfaat...................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................4
a. Definisi ..................................................................................4
b. Etiologi ...................................................................................4
c. Manifestasi klinis ...................................................................6
d. Patofisiologi............................................................................7
e. Pathway ................................................................................10
f. Pemeriksaan diagnostik ........................................................11
g. Penatalaksanaan medis .........................................................11
h. Askep kehamilan ektopik terganggu.....................................15
BAB III PENUTUP..................................................................................18
A. Kesimpulan...........................................................................18
B. Saran......................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................20

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kehamilan ektopik adalah suatu kehamilan dimana sel telur yang
dibuahi berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium kavum uteri.
Kehamilan ektopik dapat mengalami abortus atau ruptur pada dinding tuba
dan peristiwa ini disebut sebagai Kehamilan Ektopik Terganggu.
Sebagian besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba (90%)
terutama di ampula dan isthmus. Sangat jarang terjadi di ovarium, rongga
abdomen, maupun uterus. Keadaan-keadaan yang memungkinkan terjadinya
kehamilan ektopik adalah penyakit radang panggul, pemakaian antibiotika
pada penyakit radang panggul, pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim IUD
(Intra Uterine Device), riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, infertilitas,
kontrasepsi yang memakai progestin dan tindakan aborsi.
Gejala yang muncul pada kehamilan ektopik terganggu tergantung
lokasi dari implantasi. Dengan adanya implantasi dapat meningkatkan
vaskularisasi di tempat tersebut dan berpotensial menimbulkan ruptur organ,
terjadi perdarahan masif, infertilitas, dan kematian. Hal ini dapat
mengakibatkan meningkatnya angka mortalitas dan morbiditas Ibu jika
tidak mendapatkan penanganan secara tepat dan cepat.
Insiden kehamilan ektopik terganggu semakin meningkat pada semua
wanita terutama pada mereka yang berumur lebih dari 30 tahun. Selain itu,
adanya kecenderungan pada kalangan wanita untuk menunda kehamilan
sampai usia yang cukup lanjut menyebabkan angka kejadiannya semakin
berlipat ganda.
Kehamilan ektopik terganggu menyebabkan keadaan gawat pada
reproduksi yang sangat berbahaya. Berdasarkan data dari The Centers for
Disease Control and Prevention menunjukkan bahwa kehamilan ektopik di

4
Amerika Serikat meningkat drastis pada 15 tahun terakhir. Menurut data
statistik pada tahun 1989, terdapat 16 kasus kehamilan ektopik terganggu
dalam 1000 persalinan. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Cuningham
pada tahun 1992 dilaporkan kehamilan ektopik terganggu ditemukan 19,7
dalam 100 persalinan.
Dari penelitian yang dilakukan Budiono Wibowo di RSUP Cipto
Mangunkusumo (RSUPCM) Jakarta pada tahun 1987 dilaporkan 153
kehamilan ektopik terganggu dalam 4007 persalinan, atau 1 dalam 26
persalinan. Ibu yang mengalami kehamilan ektopik terganggu tertinggi pada
kelompok umur 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Frekuensi
kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0% sampai
14.6% (1). Kasus kehamilan ektopik terganggu di RSUP dr. M. Djamil
padang selama 3 tahun (tahun 1992-1994) ditemukan 62 kasus dari 10.612
kehamilan.
Menurut data yang diperoleh dari di Ruang Camar III bagian Rawat
Inap Obstetri dan Ginekologi RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, kasus
kehamilan ektopik menduduki peringkat ke-8 dari 10 kasus Ginekologi
terbanyak pada tahun 2004. Menurut data yang diperoleh dari di Ruang
Camar III bagian Rawat Inap Obstetri dan Ginekologi RSUD Arifin
Achmad Pekanbaru, kasus kehamilan ektopik menduduki peringkat ke-8
dari 10 kasus Ginekologi terbanyak pada tahun 2004.
Jika ditemukan kehamilan ektopik terganggu, maka penanganan
satu-satunya adalah dengan pembedahan, yaitu laparotomi. Pada laparotomi,
eksplorasi kedua indung telur (ovarium) dan tuba fallopii. Jika terjadi
kerusakan berat pada tuba, lakukan salpingektomi (tuba yang pecah dan
hasil pembuahan dieksisi bersama-sama). Namun jika kerusakan pada tuba
hanya kecil, lakukan salpingostomi (hasil konsepsi / pembuahan
dikeluarkan, dan tuba dipertahankan.

5
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas Keperawatan Maternitas II
2. Tujuan Khusus
a. Mendefinisikan dan menjelaskan terjadinya kehamilan ektopik
terganggu.
b. Mengidentifikasi penyebab terjadinya kehamilan ektopik
terganggu.
c. Mengidentifikasi dan menjelaskan tanda dan gejala pada kehamilan
ektopik terganggu.
d. Mengidentifikasi dan menjelaskan pemeriksaan diagnostik
kehamilan ektopik terganggu.
e. Mendiskusikan penatalaksanaan medis dan keperawatan pada
kehamilan ektopik terganggu.

C. MANFAAT
1. Mahasiswa dapat memahami definisi kehamilan ektopik terganggu.
2. Mahasiswa dapat mengetahui penyebab dari kehamilan ektopik terganggu.
3. Mahasiswa dapat mengetahui tanda dan gejala pada kehamilan ektopik
terganggu.
4. Mahasiswa dapat mengetahui penatalaksanaan medis pada kehamilan
ektopik terganggu.
5. Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan diagnostic kehamilan ektopik
terganggu.

6
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan ovum yang dibuahi
berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri, kehamilan
ektopik dapat terjadi di luar rahim misalnya dalam tuba, ovarium atau
rongga perut. Tetapi dapat juga terjadi di dalam rahim di tempat yang luar
biasa misalnya dengan servik atau dalam tanduk rudimeter rahim.
Kehamilan ektopik adalah suatu keadaan dimana sel telur yang telah
dibuahi tidak melekat pada dinding rahim namun melekat di tempat lain
yang bukan semestinya, yaitu pada rongga perut, leher rahim, indung telur
atau pada saluran telur (tuba falopi).
Kehamilan Ektopik adalah kehamilan yang terjadi bila telur yang
dibuahi berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium kavum uteri.
Kehamilan ektopik terganggu (KET) adalah sebuah keadaan gawat
darurat yang terjadi dimana dapat mengancam dan membahayakan nyawa
ibu dan perkembangan kehidupan janin.
Kehamilan ektopik terganggu (KET) adalah kehamilan ektopik yang
terganggu, dapat terjadi abortus atau pecah, dan hal ini dapat berbahaya bagi
wanita tersebut. (Sarwono Prawirohardjo,1989)

B. ETIOLOGI
Penyebab kehamilan ektopik banyak diselidiki, tetapi sebagian besar
penyebabnya tidak di ketahui, tiap kehamilan dimulai dengan pembuahan
telur di bagian ampula tuba dan di dalam perjalanan ke uterus terus
mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masih di tuba.

7
Di antara sebab-sebab yang menghambat perjalanan ovum ke uterus
sehingga mengadakan implantasi di tuba:
a. Migratio Externa adalah perjalanan telur panjang terbentuk
trofoblast sebelum telur ada cavum uteri.
b. Pada hipoplasia lumen tuba sempit dan berkelok-kelok dan hal ini
sering di sertai gangguan fungsi silia endosalping.
c. Operasi plastic tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat
menjadi sebab lumen tuba menyempit.
d. Bekas radang pada tuba: disini radang menyebabkan perubahan
pada endosalping sehingga walaupun fertilisasi masih dapat terjadi
gerakan ovum ke uterus lambat.
e. Kelainan bawaan pada tuba, antara lain difertikulum, tuba sangat
panjang dsb.
f. Gangguan fisilogis tuba karena pengaruh hormonal, perlekatan
perituba. Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan
lumen tubuh.
g. Abortus buatan.
Semua faktor yang menghambat migrasi embrio ke kavum uteri
menyebabkan seorang ibu semakin rentan untuk menderita
kehamilan ektopik, yaitu :
1) Faktor dalam lumen tuba :
 Endosalpingitis, menyebabkan terjadinya penyempitan
lumen tuba.
 Hipoplasia uteri, dengan lumen tuba dan berkelok – kelok.
 Operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tidak sempurna.
2) Faktor pada dinding tuba :
 Endometriosis, sehingga memudahkan terjadinya
implantasi tuba.
 Divertikel tuba kongenital, menyebabkan retensi ovum.
3) Faktor di luar dinding tuba :
 Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba.

8
 Tumor yang menekan dinding tuba.
 Pelvic Inflammatory Disease (PID)
d. Faktor lain :
 Hamil saat berusia lebih dari 35 tahun.
 Fertilisasi in vitro.
 Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR).
 Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya.
 Infertilitas.
 Mioma uteri.
 Hidrosalping. (Rachimhadhi, 2005 )

C. MANIFESTASI KLINIS
Gejala dan tanda kehamilan tuba terganggu sangat berbeda: Dari
perdarahan banyak yang tiba-tiba dalam ronga perut sampai terdapat nya
gejala yang tidak jelas, sehingga sukar membuat diagnosanya. Gejala dan
tanda tergantung pada lamanya kehamilan ektopik terganggu, abortus atau
ruptur tuba, tuanya kehamilan ektopik terganggu, derajat perdarahan yang
terjadi dan keadaan umum penderita sebelum hamil.
Kisah yang khas dari kehamilan ektopik terganggu ialah seorang
wanita yang sudah terlambat haidnya, nyeri perut kadang-kadang lebih
nyeri sebelah kiri atau sebelah kanan. Selanjutnya pasien pening dan
kadang-kadang pinsan sering keluar darah pervaginam.
1. Nyeri perut : nyeri perut ini paling sering dijumpai biasanya nyeri
datang setelah mengangkat benda yang berat. Buang air besar
namun kadang-kadang bisa juga pada waktu sedang istirahat.
2. Adanya amenorea : amenorea sering di temukan walaupun hanya
pendek saja sebelum di ikuti oleh perdarahan.
3. Perdarahan : perdarahan dapat berlangsung kontinu dan biasanya
berwarna hitam.
4. Shock karena hypovoluemia.
5. Nyeri Bahu dan Leher (iritasi diafragma).

9
6. Nyeri pada palpasi : perut penderita biasanya tegang dan agak
kembung.
7. Pembesaran uterus: pada kehamilan ektopik uterus membesar.
8. Gangguan kencing : kadang-kadang terdapat gejala besar kencing
karena perangsangan peritonium oleh darah di dalam rongga perut.
9. Perubahan darah : dapat di duga bahwa kadar haemoglobin turun
pada kehamilan tuba yang terganggu karena perdarahan yang
banyak dalam rongga perut.
Trias gejala dan tanda dari kehamilan ektopik adalah :
(Saifiddin, 2002; Cunningham et al, 2005).
1. Riwayat keterlambatan haid atau amenorrhea yang diikuti
perdarahan abnormal (60-80%).
2. Nyeri abdominal atau pelvik (95%). Biasanya kehamilan ektopik
baru dapat ditegakkan pada usia kehamilan 6 – 8 minggu saat
timbulnya gejala tersebut di atas. Gejala lain yang muncul biasanya
sama seperti gejala pada kehamilan muda, seperti mual, rasa penuh
pada payudara, lemah, nyeri bahu, dan dispareunia.
3. Selain itu pada pemeriksaan fisik didapatkan pelvic tenderness,
pembesaran uterus dan massa adneksa.

D. PATOFISIOLOGI
Tempat-tempat implantasi kehamilan ektopik antara lain ampulla
tuba (lokasi tersering), isthmus, fimbriae, pars interstitialis, kornu uteri,
ovarium, rongga abdomen, serviks dan ligamentum kardinal. Zigot dapat
berimplantasi tepat pada sel kolumnar tuba maupun secara interkolumnar.
Pada keadaan yang pertama, zigot melekat pada ujung atau sisi
jonjot endosalping yang relatif sedikit mendapat suplai darah, sehingga
zigot mati dan kemudian diresorbsi. Pada implantasi interkolumnar, zigot
menempel di antara dua jonjot. Zigot yang telah bernidasi kemudian
tertutup oleh jaringan endosalping yang menyerupai desidua, yang disebut
pseudokapsul. Villi korialis dengan mudah menembus endosalping dan

10
mencapai lapisan miosalping dengan merusak integritas pembuluh darah
di tempat tersebut. Selanjutnya, hasil konsepsi berkembang, dan
perkembangannya tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tempat
implantasi, ketebalan tempat implantasi dan banyaknya perdarahan akibat
invasi trofoblas.
Seperti kehamilan normal, uterus pada kehamilan ektopik pun
mengalami hipertrofi akibat pengaruh hormon estrogen dan progesteron,
sehingga tanda-tanda kehamilan seperti tanda Hegar dan Chadwick pun
ditemukan. Endometrium pun berubah menjadi desidua, meskipun tanpa
trofoblas. Sel-sel epitel endometrium menjadi hipertrofik, hiperkromatik,
intinya menjadi lobular dan sitoplasmanya bervakuol. Perubahan selular
demikian disebut sebagai reaksi Arias-Stella.
Karena tempat implantasi pada kehamilan ektopik tidak ideal untuk
berlangsungnya kehamilan, suatu saat kehamilan ektopik tersebut akan
terkompromi. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada
kehamilan ektopik adalah:
1. hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi,
2. abortus ke dalam lumen tuba, dan
3. ruptur dinding tuba.
Abortus ke dalam lumen tuba lebih sering terjadi pada kehamilan pars
ampullaris, sedangkan ruptur lebih sering terjadi pada kehamilan pars
isthmica. Pada abortus tuba, bila pelepasan hasil konsepsi tidak sempurna
atau tuntas, maka perdarahan akan terus berlangsung. Bila perdarahan
terjadi sedikit demi sedikit, terbentuklah mola kruenta. Tuba akan
membesar dan kebiruan (hematosalping), dan darah akan mengalir melalui
ostium tuba ke dalam rongga abdomen hingga berkumpul di kavum
Douglas dan membentuk hematokel retrouterina.
Pada kehamilan di pars isthmica, umumnya ruptur tuba terjadi lebih
awal, karena pars isthmica adalah bagian tuba yang paling sempit. Pada
kehamilan di pars interstitialis ruptur terjadi lebih lambat (8-16 minggu)
karena lokasi tersebut berada di dalam kavum uteri yang lebih akomodatif,

11
sehingga sering kali kehamilan pars interstitialis disangka sebagai
kehamilan intrauterin biasa.
Perdarahan yang terjadi pada kehamilan pars interstitialis cepat
berakibat fatal karena suplai darah berasal dari arteri uterina dan ovarika.
Oleh sebab itu kehamilan pars interstitialis adalah kehamilan ektopik
dengan angka mortalitas tertinggi. Kerusakan yang melibatkan kavum
uteri cukup besar sehingga histerektomi pun diindikasikan.
Ruptur, baik pada kehamilan fimbriae, ampulla, isthmus maupun pars
interstitialis, dapat terjadi secara spontan maupun akibat trauma ringan,
seperti koitus dan pemeriksaan vaginal. Bila setelah ruptur janin
terekspulsi ke luar lumen tuba, masih terbungkus selaput amnion dan
dengan plasenta yang masih utuh, maka kehamilan dapat berlanjut di
rongga abdomen. Untuk memenuhi kebutuhan janin, plasenta dari tuba
akan meluaskan implantasinya ke jaringan sekitarnya, seperti uterus, usus
dan ligamen (Rachimhadhi, 2005).

12
13
PATHWAY KEHAMILAN EKTOPIK

Tuba Abnormalitas Zigot Hormonal Ovarium Pemakaian IUD

Peradangan / Infeksi
Zigot terlalu besar/tumbuh Konsumsi Pil KB Ovum ditangkap oleh Peradangan pada
pada Tuba
terlalu cepat tuba kontraleteral endometrium dan
endosalping
Lumen tuba menyempit Zigot susah melalui tuba Produksi progesteron

Gerakan tuba melambat

Zigot tidak menempel di


endometrium

Pasien tidak paham


mengenai penyakitnya Hasil pemeriksaan
Kehamilan ektopik
endovaginal scan

Penembusan vili korialis ke dalam lapisan muskularis Tidak terdapat gestasi


Pasien bertanya mengenai
Presepsi Sampai ke korteks
menujuMerangsang
Dibawa melalui
peritoneum Pelepasan mediator nyeri intrauterine
penyakitnya (histamin, bradikinin,
nyeri somatosensorik medula spinalis nosiseptor prostaglandin, serotonin)
Kehilangan bagian dan
Ruptur tuba
proses tubuh (kehamilan)
NYERI AKUT Pelepasan
Defisiensi Pengetahuan
sitokin

Merangsang set Terjadi pembentukan Sinyal mencapaui Pelepasan interleukin-1


poin suhu di otak prostaglandin di otak sistem saraf pusat dan interleukin-6
14
Meningkatkan
HIPERTERMI
suhu basal
Merangsang nosiseptor
Keadaan umum Akumulasi darah pada
Perdarahan per vaginam Terjadi reaksi
Perdarahan
menurun kavum douglas Duka Cita
inflamasi
Dibawa melalui medula
spinalis
Rencana salpingektomi Port de entry
Perdarahan pada rongga Port de entry Pelepasan mediator nyeri (histamin,
PK: Perdarahan
abdomen bradikinin, prostaglandin, serotonin)
Sampai ke korteks somatosensorik

Resiko Infeksi
Presepsi nyeri

Nyeri Akut

15
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan Fisik :
Didapatkan rahim yang juga membesar, adanya tumor di daerah
adneksa.
Adanya tanda-tanda syok hipovolemik, yaitu hipotensi, pucat dan
ekstremitas dingin, adanya tanda-tanda abdomen akut, yaitu perut
tegang bagian bawah, nyeri tekan dan nyeri lepas dinding abdomen.
2. Pemeriksaan Ginekologis :
Pemeriksaan dalam : seviks teraba lunak, nyeri tekan, nyeri pada
uteris kanan dan kiri.
3. Pemeriksaan Penunjang :
Laboratorium : Hb, Leukosit, urine B-hCG (+).
Hemoglobin menurun setelah 24 jam dan jumlah sel darah merah dapat
meningkat.
USG : Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri, adanya
kantung kehamilan di luar kavum uteri, adanya massa komplek di
rongga panggul.
Kuldosentesis : suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah
dalam kavum Douglas ada darah.
Diagnosis pasti hanya ditegakkan dengan laparotomi.
Ultrasonografi berguna pada 5 – 10% kasus bila ditemukan kantong
gestasi di luar uterus.
(Mansjoer, dkk, 2001).

F. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Setelah diagnosis ditegakan, segera lakukan persiapan untuk
tindakan operatif gawat darurat.
2. Ketersediaan darah pengganti bukan menjadi syarat untuk
melakukan tindakan operatif karena sumber perdarahan harus
dihentikan.

16
3. Upaya stabilisasi dilakukan dengan segera merestorasi cairan tubuh
dengan larutan kristaloid NS atau RL (500 ml dalam lima menit
pertama) atau 2l dalam dua jam pertama (termasuk selama tindakan
berlangsung).
4. Bila darah pengganti belum tersedia, berikan autotransfusion
berikut ini:
Pastikan darah yang dihisap dari rongga abdomen telah melalui alat
pengisap dan wadah penampung yang steril.
Saring darah yang tertampung dengan kain steril dan masukan kedalam
kantung darah (blood bag) apabila kantung darah tidak tersedia
masukan dalam botol bekas cairan infus (yang baru terpakai dan bersih)
dengan diberikan larutan sodium sitrat 10ml untuk setiap 90ml darah.
Transfusikan darah melalui selang transfusi yang mempunyai saringan
pada bagian tabung tetesan.
5. Tindakan dapat berupa :
Parsial salpingektomi yaitu melakukan eksisi bagian tuba yang
mengandung hasil konsepsi.
Salpingostomi (hanya dilakukan sebagai upaya konservasi dimana tuba
tersebut merupakan salah satu yang masih ada) yaitu mengeluarkan
hasil konsepsi pada satu segmen tuba kemudian diikuti dengan reparasi
bagian tersebut. Resiko tindakan ini adalah kontrol perdarahan yang
kurang sempurna atau rekurensi (hasil ektopik ulangan).
6. Mengingat kehamilan ektopik berkaitan dengan gangguan fungsi
transportasi tuba yang di sebabkan oleh proses infeksi maka sebaiknya
pasien di beri anti biotik kombinasi atau tunggal dengan spektrum yang
luas.
7. Untuk kendali nyeri pasca tindakan dapat diberikan:
Ketoprofen 100 mg supositoria.
Tramadol 200 mg IV.
Pethidin 50 mg IV (siapkan anti dotum terhadap reaksi
hipersensitivitas).

17
8. Atasi anemia dengan tablet besi (SF) 600 mg per hari.
9. Konseling pasca tindakan : kelanjutan fungsi reproduksi.
Seorang pasien yang terdiagnosis dengan kehamilan tuba dan
masih dalam kondisi baik dan tenang, memiliki 2 pilihan, yaitu
penatalaksanaan medis dan penatalaksanaan bedah. (Sarwono
Prawirohardjo,2002)
a. Penatalaksanaan Medis
Pada penatalaksanaan medis digunakan zat-zat yang dapat
merusak integritas jaringan dan sel hasil konsepsi. Tindakan
konservativ medik dilakukan dengan pemberian methotrexate.
Methotrexate adalah obat sitotoksik yang sering digunakan untuk
terapi keganasan, termasuk penyakit trofoblastik ganas. Pada penyakit
trofoblastik, methotrexate akan merusak sel-sel trofoblas, dan bila
diberikan pada pasien dengan kehamilan ektopik, methotrexate
diharapkan dapat merusak sel-sel trofoblas sehingga menyebabkan
terminasi kehamilan tersebut.
Methotrexate dapat diberikan dalam dosis tunggal maupun
dosis multipel. Dosis tunggal yang diberikan adalah 50 mg/m2
(intramuskular), sedangkan dosis multipel yang diberikan adalah
sebesar 1 mg/kg (intramuskular) pada hari pertama, ke-3, 5, dan hari
ke-7. Pada terapi dengan dosis multipel leukovorin ditambahkan ke
dalam regimen pengobatan dengan dosis 0.1 mg/kg (intramuskular),
dan diberikan pada hari ke-2, 4, 6 dan 8. Terapi methotrexate dosis
multipel tampaknya memberikan efek negatif pada patensi tuba
dibandingkan dengan terapi methotrexate dosis tunggal 9.
Methotrexate dapat pula diberikan melalui injeksi per laparoskopi
tepat ke dalam massa hasil konsepsi. Terapi methotrexate dosis
tunggal adalah modalitas terapeutik paling ekonomis untuk kehamilan
ektopik yang belum terganggu.
Kandidat - kandidat penerima tatalaksana medis harus
memiliki syarat - syarat berikut ini:

18
1. Keadaan hemodinamik yang stabil dan tidak ada tanda robekan
dari tuba.
2. Tidak ada aktivitas jantung janin.
3. Diagnosis ditegakkan tanpa memerlukan laparaskopi.
4. Diameter massa ektopik < 3,5 cm,.
5. Kadar tertinggi β-hCG < 15.000mIU/ ml.
6. Harus ada informed consent dan mampu mengikuti follow up, serta
7. Tidak memiliki kontraindikasi terhadap pemberian methotrexate.

b. Penatalaksanaan Bedah
Penatalaksanaan bedah dapat dikerjakan pada pasien-pasien
dengan kehamilan tuba yang belum terganggu maupun yang sudah
terganggu. Tentu saja pada kehamilan ektopik terganggu, pembedahan
harus dilakukan secepat mungkin.
 Salpingostomi
Salpingostomi adalah suatu prosedur untuk mengangkat hasil
konsepsi yang berdiameter kurang dari 2 cm dan berlokasi di
sepertiga distal tuba fallopii. Pada prosedur ini dibuat insisi
linear sepanjang 10-15 mm pada tuba tepat di atas hasil
konsepsi, di perbatasan antimesenterik. Insisi kemudian
dibiarkan terbuka (tidak dijahit kembali).
 Salpingotomi
Pada dasarnya prosedur ini sama dengan salpingostomi, kecuali
bahwa pada salpingotomi insisi dijahit kembali.
 Salpingektomi
Salpingektomi diindikasikan pada keadaan-keadaan berikut ini:
- Kehamilan ektopik mengalami ruptur (terganggu),
- Pasien tidak menginginkan fertilitas pascaoperatif,
- Terjadi kegagalan sterilisasi,
- Telah dilakukan rekonstruksi atau manipulasi tuba
sebelumnya,

19
- Pasien meminta dilakukan sterilisasi,
- Perdarahan berlanjut pascasalpingotomi,
- Kehamilan tuba berulang,
- Kehamilan heterotopik, dan
- Massa gestasi berdiameter lebih dari 5 cm.
Pada salpingektomi, bagian tuba antara uterus dan massa hasil
konsepsi diklem, digunting, dan kemudian sisanya (stump)
diikat dengan jahitan ligasi. Arteria tuba ovarika diligasi,
sedangkan arteria uteroovarika dipertahankan. Tuba yang
direseksi dipisahkan dari mesosalping.
 Evakuasi Fimbrae dan Fimbraektomi
Bila terjadi kehamilan di fimbrae, massa hasil konsepsi dapat
dievakuasi dari fimbrae tanpa melakukan fimbraektomi.
Dengan menyemburkan cairan di bawah tekanan dengan alat
aquadisektor atau spuit, massa hasil konsepsi dapat terdorong
dan lepas dari implantasinya. Fimbraektomi dikerjakan bila
massa hasil konsepsi berdiameter cukup besar sehingga tidak
dapat diekspulsi dengan cairan bertekanan.
(Chalik, 2004).

G. ASUHAN KEPERAWATAN KEHAMILAN EKTOPIK


TERGANGGU
1. Pengkajian
Pada pengkajian masalah pertama yang dikaji adalah masalah
identitas karena didalam identitas yang terkait dengan kasus KET
adalah umur karena kasus KET banyak terjadi pada wanita dengan
usia kurang lebih 30 tahun.
Pada kasus KET keluhan utama yang biasa dirasakan klien
adalah seperti halnya kehamilan normal biasanya yaitu amenore, ibu
juga merasakan nyeri pada perut, bahkan klien dapat terjadi syok,klien

20
juga mengalami perdarahan yang berulang dengan warna darah hitam,
selain itu pasien juga merasakan nyeri bahu dan leher karena iritasi
diagframa. ( Buku Obstetri Patologi Universitas Padjajaran 1984 ).
Pada riwayat hidup dan riwayat lainnya kasus KET sama
dengan yang lainnya, sedangkan pada riwayat kehamilan sekarang
uterus membesar karena pengaruh hormon estrogen dan progesteron,
sehingga tanda-tanda kehamilan seperti tanda Hegar dan Chadwick
pun ditemukan. Endometrium pun berubah menjadi desidua,
meskipun tanpa trofoblas. (Wibowo B,2007)
2. Diagnosa yang Muncul
a. Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh b/d perdarahan.
b. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d pembesaran buah kehamilan
extrauterin.
c. Resiko shock b/d perdarahan hebat.
d. Gangguan psikologis (cemas) b/d krg pengetahuan tentang
kesuburan yang mengancam.
3. Intervensi
a. Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh b/d
perdarahan.
o Kaji perdarahan (juml, warna, gumpalan).
o Cek. Hb.
o Anjurkan banyak minum.
o Anjurkan Bed rest.
o Kolaborasi dengan tim medis : transfusi darah.
b. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d pembesaran buah
kehamilan extrauterin.
o Kaji tingkat nyeri klien.
o Durasi, lokasi, frekwensi, jenis nyeri (akut, kronik,
mendadak, terus2).
o Ciptakan lingkungan yg nyaman.

21
o Ajarkan tehnik relaxasi dan distraksi.
o Kompres dingin.
o Posisi yang nyaman
o Kolaborasi dengan tim medis : analgetik.
c. Resiko shock b/d perdarahan hebat.
o Monitor vital sign.
o Kaji perdarahan.
o Cek Hb.
o Pasang infus.
o Check golongan darah.
o Kolaborasi dengan tim medis : transfusi darah.
o Observasi tanda shock.
d. Gangguan psikologis (cemas) b/d krg pengetahuan
tentang kesuburan yang mengancam.
o Kaji takut kecemasan.
o Kaji takut pengetahuan.
o Ajari pasien untuk lebih terbuka.
o Beri penjelasan tentang proses penyakit.

22
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kehamilan merupakan fase yang cukup penting dalam kehidupan

manusia. Beberapa wanita pasti mendambakan kehamilan dan kehadiran buah

hati yang akan menciptakan keharmonisan keluarga. Tetapi kehamilan juga

merupakan tahap yang mencemaskan, karena mereka merasakan khawatir

jika terjadi gangguan pada proses kehamilan. Salah satu gangguan dalam

kehamilan tersebut diantaranya adalah Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)

atau hamil di luar kandungan (Sulistyani, 2009).

Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) merupakan masalah bagi kaum

wanita, di mana ovum yang telah dibuahi sperma berimplantasi dan tumbuh

di luar kandungan. Dalam 20 tahun ini ada kecenderungan peningkatan angka

kejadian kehamilan ektopik di dunia, tetapi angka kejadian Kehamilan

Ektopik Terganggu (KET) masih sulit untuk diperkirakan secara tepat.

B. Saran
1. Bagi seorang perawat perlu memperhatikan kondisi klien secara
komprehensif, tidak hanya fisik tetapi semua aspek manusia sebagai satu
kesatuan yang utuh yang meliputi biopsikososialkultural.

23
2. Bagi mahasiswa diharapkan dapat makin memperbanyak pengetahuan dari
berbagai referensi tentang Asuhan keperawatan Pada pasien dengan
kehamilan ektopik terganggu
3. Bagi dunia keperawatan diharapkan berperan serta dalam peningkatan
kualitas perawat dengan cara menyediakan akses yang mudah bagi
perawat untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang sesuai dengan
perkembangan untuk mengatasi masalah Pada pasien dengan kehamilan
ektopik terganggu.

24
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R. Kehamilan Ektopik. Dalam : Kapita Selekta


Kedokteran Jilid I. Jakarta : Media Aesculapius. 200; 267-270

Manuaba,dkk. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran


EGC. 2007

Wibowo B. 2007. Kehamilan Ektopik. Dalam : Ilmu Kebidanan. Edisi III. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo

Moechtar R. 1998. Kelainan Letak Kehamilan (Kehamilan Ektopik). Dalam:


Sinopsis Obstetri, Obstetri Fisiologis dan Obstetri Patologis. Edisi II.
Jakarta: Penerbit Buku kedokteran EGC.

http://mantrinews.blogspot.com/2012/01/asuhankeperawatankebidanan-pada.html,
di akses pada tanggal 25, maret 2012, pukul 13.00 WIB

http://kti-akbid.blogspot.com/2012/01/kehamilan-ektopik-terganggu.html, di akses
pada tanggal 25 maret 2012, pukul 13.20 WIB

25