Anda di halaman 1dari 25

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap perusahaan atau produksi yang menghasilkan dan memproduksi


barang dan jasa akan mencari keuntungan (profit) sebagai tujuan utama. Terlebih
banyak sekali ayat al-Quran yang memerintahkan kepada kita untuk kaya seperti
dalam QS. al-Jumu’ah ayat 9-10 “ hai orang-orang yang beriman ,apabila diseru
untuk shalat pada hari jumat ,maka bersegeralah menuju dzikrullah ,dan
tinggalkanlah jual beli. Itulah yang baik buat kamu, jika kamu mengetahui. Lalu
apabila telah ditunaikan sholat ,maka bertebarlah di muka bumi dan
carilah sebagian dari karunia Allah ,dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya
kamu beruntung”. Hal ini sudah jelas bahwa tidak ada larangan tentang hal
memperbanyak kekayaan. Tetapi harus ada konsep tawazun dalam asas transaksi
syariah yang termakna seimbang urusan duniawi dan ukhrawi. Seimbang urusan
material dan spiritual. Ada juga motif mashlahah, ukhuwah. Ada pepatah arab juga
bilang: i’mal lidun ya>ka ka annaka ta’i>syu abadan,wa’mal li a>khirataka ka
annaka tamu>tu ghadan, jadi meskipun sudah jelas tentang perintah mencari
kekayaan tetapi dalam hal ini harus seimbang (tawazun) yaitu tidak boleh
berlebihan, harus barang yang halal,barangnya harus jelas, tidak barang yang
maysir dan juga seimbang dalam sisi charity (non profit oriented).1

Dengan melarang riba>, islam berusaha membangun sebuah masayarakat


berdasarkan kejujuran dan keadilan. Seorang kreditor akan mendapatkan
keuntungan dari debitur, tanpa memedulikan hasil usaha si debitur. Akan lebih adil
jika kedua pihak, kreditor dan debitur, sama-sama menanggung keuntungan
maupun kerugian. Keadilan dalam konteks ini memiliki dua dimensi yaitu pemodal
berhak mendapatkan imbalan, yang sepadan dengan resiko dan usaha yang
dibutuhkan dan dengan demikian ditentukan oleh keuntungan usaha yang
dimodalinya.

1
http://www.forshei.org/2015/11/mari-beralih-ke-konsep-falah-profit.html, diakses pada
tanggal 17 Maret 2018 pukul 20.00 wib.

1
Dalam sistem keuntungan tanpa bunga, yang berupaya dijalankan oleh para
penganut prinsip-prinsip Islam, seseorang dapat memperoleh keuntungan dari uang
mereka hanya dengan tunduk pada resiko yang termasuk dalam skema bagi hasil.
Menurut madzhab Hanafi, laba dapat diperoleh melalui tiga cara yaitu, Pertama,
menggunakan modal orang, Kedua, memanfaatkan kerja orang, Ketiga,
menggunakan pendapat orang, yang berarti menanggung resiko. Karena
penggunaan suku bunga dilarang dalam transaksi keuangan, bank-bank Islam harus
menjalankan operasi mereka hanya berdasarkan skema bagi hasil (profit and loss
sharing).2

Secara garis besar produk penyaluraan dana kepada masyarakat adalah


berupa pembiayaan didasarkan pada akad jual beli yang menghasilkan produk
murabahah, salam dan istishna. Kemudian berdasarkan pada akad sewa-menyewa
yang menghasilkan produk berupa ija>rah.3 Oleh karena itu makalah ini akan
membahas akad yang berlandaskan commercial based dengan prinsip bisnis profit
oriented baik dalam segi margin keuntungan ataupun dari segi bagi hasil serta
masalah sengketa yang kemungkinan muncul dalam salah satu akad tersebut dan
bagaimana cara menyelesaikannya.

B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan apa yang dimaksud akad jual beli?
2. Jelaskan apa yang dimaksud akad Mura>bahah?
3. Jelaskan apa yang dimaksud akad Salam?
4. Jelaskan apa yang dimaksud akad Istishna?
5. Jelaskan apa yang dimaksud akad Ija>rah?
6. Jelaskan apa yang dimaksud akad Sharf?
7. Kemungkinan sengketa dan penyelesaianya?

2
Mervin K Lewis & Latifa M. Algaoud, Perbankan Syariah Prinsip, Praktitk, dan Prospek,
Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2007, 80.
3
Abdul Ghofur Anshori, Perbankan Syariah di Indonesia, Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2010, 82.

2
C. Tujuan
1. Untuk memahami akad jual beli
2. Untuk memahami akad Mura>bahah
3. Untuk memahami akad Salam
4. Untuk memahami akad Istishna
5. Untuk memahami akad Ija>rah
6. Untuk memahami akad Sharf

3
PEMBAHASAN

A. Akad Jual Beli (al-Bai’)


1. Pengertian Jual Beli (al-Bai’)

Jual beli menurut pengertian lughawiyah adalah saling menukar


(pertukaran). Dan kata al-Bai’ dan asy-Syira> dipergunakan biasanya dalam
pengertian yang sama.4 Menjual menurut bahasa artinya memberikan sesuatu
karena ada pemberian (imbalan yang tertentu).

Perkataan jual beli sebenarnya terdiri dari dua suku kata yaitu “jual dan
beli”. Sebenarnya kata “jual” dan “beli” mempunyai arti yang satu sama lainnya
bertolak belakang. Kata jual menunjukkan bahwa adanya perbuatan menjual,
sedangkan beli adalah adanya perbuatan menjual, sedangkan beli adalah adanya
perbuatan membeli.5

Sedangkan menurut istilah jual beli adalah pertukaran harta atas dasar saling
rela atau memindahkan milik dengan ganti yang dapat dibenarkan (yaitu berupa alat
tukar yang sah).6

2. Dasar Hukum Jual Beli

Jual beli sebagai sarana tolong menolong antara sesama manusia


mempunyai landasan yang amat kuat dalam Islam.

4
Sayid Sabiq, al-Fiqh al-Sunah XII, Terj. Kamaludin A. Marzuki, Fiqh Sunnah, Bandung:
Al Ma’arif, 1998, 123-124.
5
Chairuman Pasaribu, Suhrawardi K. Lubis, Hukum Perjanjian dalam Islam, Jakarta: Sinar
Grafik, 1996, 33.
6
Ibid.,

4
a. Al-Qur’an: QS. al-Baqarah: 275.

َ‫س‬ َُ ‫ش ۡي ٰط‬
َ ِ ‫نَ َِمنَٱ ۡلم‬ َّ ‫طهَُٱل‬ ُ َّ‫ٱلَّذِينََي ۡأ ُكلُونَٱ ِلرب ٰواَََلَيقُو ُمونَ ِإ ََّلَكماَيقُو ُمَٱلَّذِيَيتخب‬
َُ‫ّللَُٱ ۡلب ۡيعََوح َّرمَٱ ِلرب ٰواََفمنَجآء َهۥ‬ ََّ ‫ٰذ ِلكَ ِبأنَّ ُه ۡمَقالُ ٓواَ ِإنَّماَٱ ۡلب ۡي َُعَ ِم ۡثلَُٱ ِلربَ ٰواََوأح َّلَٱ‬
ٓ
َ‫ّللِ َوم ۡن َعاد َفأُو َٰلئِك‬ َ‫ى َفل َهۥُ َما َسلف َوأمَۡ ُر ٓهَۥُ َإِلى َٱ َّه‬ َٰ ‫َربِ َِهۦ َفَٱنته‬ َّ ‫َمن‬ ِ ‫ة‬ٞ ‫م ۡو ِعظ‬
َ َ‫اَخ ِلدُون‬ ٰ ‫ارَ ُه ۡمَفِيه‬ َ‫بَٱلنَّ ِه‬ ُ ‫أصۡ ٰح‬

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan


seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.
Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata
(berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba>, padahal Allah telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba>. Orang-orang yang telah sampai
kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba>),
maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan
urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba>), maka
orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.7

b. Hadits Rasulullah SAW

َ‫سئلَالنبيَصلىَهللاَعليهَوسلمَأيَالكسبَأطيب؟َعملَالرجلَبيدهَوكل‬
َ )‫ََ(رواهَالبزارَوَالحاكم‬.‫بيعَمبرور‬

Nabi Muhammad SAW pernah ditanya: Apakah profesi yang paling baik?
Rasulullah SAW menjawab: “Usaha tangan manusia sendiri dan setiap jual beli
yang diberkati”. (HR. Al-Bazaar dan Al-Hakim)8

c. Ijma’

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara


7

Penterjemah Al-Qur’an, Semarang: Toha Putra, 1979, 65.


8
Ibnu Hajr Al-Asqolani, Bulugh al-Maram, Terj. Muh Rifa’i, A. Qusyairi Misbah,
Bulughul Maram, Semarang: Wicaksana, 1989, 208.

5
Kaum muslimin sepakat tentang diperbolehkan jual beli dan telah berlaku
(dibenarkan) sejak zaman Rasulullah SAW hingga hari ini.9

3. Rukun dan Syarat Jual Beli

Dalam akad jual beli harus memenuhi empat rukun yaitu:

a. Orang yang menjual


b. Orang yang membeli
c. Ikrar (serah terima)
d. Adanya barang

Orang yang menjual dan membeli haruslah sehat akalnya. Orang yang gila
atau belum tamyiz, tidak sah jual belinya.

Ada beberapa syarat jual beli yang perlu diperhatikan dalam jual beli yaitu:

a. Suci, najis tidak sah dijual dan tidak boleh dijadikan uang untuk dibelikan.
b. Ada manfaatnya, dilarang menjual sesuatu yang tidak ada manfaatnya,
mengambil tukaranya terlarang juga karena masuk dalam arti menyia-
nyiakan (memboroskan) harta yang dilarang dalam al-Qur’an.
c. Keadaan barang itu dapat diserah terimakan dan tidak sah jual beli yang
barangnya tidak dapat diserah terimakan itu semua mengandung tipu daya.
d. Keadaan barang kepunyaan yang menjual.
e. Barang itu diketahui oleh sipenjual dan si pembeli dengan terang zatnya,
bentuk, kadar dan sifat-sifatnya sehingga tidak terjadi tipu daya.10
B. Akad Al-Murabahah
1. Pengertian Al-Murabahah

Al-mura>bahah berasal dari kata arab al-Ribh (keuntungan). Ia dibentuk


dengan wazan (pola pembentukan kata) mufa’alat yang mengandung arti saling.

9
Sayid Sabiq, al-Fiqh al-Sunah XII, 48.
10
Nazar Bakry, Problematika Pelaksanaan Fiqh Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
1994, 59.

6
Oleh karena itu secara bahasa berarti saling memberi keuntungan.11 Sedangkan
menurut istilah, al-Mura>bahah adalah al-bai’ bira sil ma>l waribhun ma’lum
yang artinya jual beli dengan harga pokok ditambah keuntungan yang diketahui.12

Lebih jelasnya menurut Dewan Syariah Nasional (DSN), al-Mura>bahah


yaitu menjual barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan
pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba. Sedangkan menurut
Bank Indonesia, al-Mura>bahah adalah akad jual beli antara bank dengan nasabah.
Bank membeli barang yang diperlukan nasabah dan menjualnya kepada nasabah
yang bersangkutan sebesar harga pokok ditambah dengan keuntungan yang
disepakati.13

2. Landasan Shariah al-Mura>bahah

Dasar disyari’atkan al-Mura>bahah adalah dalil dari al-Qur’an dan


Sunnah.

a. Al-Qur’an: QS. al-Nisa>: 29.

َِ ‫ٰ ٓيأيُّها َٱلَّذِينَ َءامنُوا ََل َت ۡأ ُكلُ ٓوا َأمۡ ٰول َُكمَب ۡين ُكمََِبٱ ۡل ٰب ِط‬
ٓ َّ ‫ل َ ِإ‬
َ‫َل َأنَت ُكون َتَِ ٰجرة ً َعن‬
َ َ٢٩َ‫ّللَكانَبِ ُك ۡمَر ِح ٗيما‬ ََّ ‫َمن ُك ۡمَوَلَت ۡقتُلُ ٓواَأنفُس ُك ۡمَإِ َّنَٱ‬
ِ ‫اض‬ٖ ‫تر‬
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku

11
Atang Abd. Halim, Fiqih Perbankan Syariah, Transformasi Fiqih Muamalah ke dalam
Peraturan Perundang-undangan, Bandung: Rafika Aditama, 2011, 225.
12
Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga
Keuangan Syariah, Jakarta: Sinar Grafika, 2012, 108.
13
Ibid., 109.

7
dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu;
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.14

b. Sunnah

Landasan Sunnah yang digunakan dalam akad al-Mura>bahah adalah


hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Shuhaib al-Rumi bahwa Rasululla
SAW bersabda:

َ‫َثالثَفيهن‬:‫َأنَالنبيَصلىَهللاَعليهَوسلمَقال‬:‫عنَصهيتَرضيَهللاَعنه‬
َ.‫َوخلطَالبرَبالشعيرَللبيتََلَللبيع‬,‫َوالمقارضة‬,‫َالبيعَإلىَأجل‬:‫البركة‬
)‫(رواهَابنَماجة‬

Dari Shuhaib Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi SAW bersabda: "Tiga hal
yang di dalamnya ada berkah adalah jual-beli bertempo, ber-qiradl (memberikan
modal kepada seseorang hasil dibagi dua), dan mencampur gandum dengan sya'ir
untuk makanan di rumah, bukan untuk dijual." (HR. Riwayat Ibnu).15

3. Macam-macam al-Mura>bahah
a. Muraba>hah tanpa pesanan

Al-Mura>bahah tanpa pesanan adalah jenis jual beli mura>bahah yang


dilakukan dengan tidak melihat adanya nasabah yang memesan (mengajukan
pembiayaan) atau tidak, sehingga penyediaan barang dilakukan oleh bank dan
dilakukan tidak terkait dengan jual beli mura>bahah sendiri. Dengan kata lain,
dalam mura>bahah tanpa pesanan, Bank Shariah menyediakan barang atau
persediaan barang yang akan diperjualbelikan dilakukan tanpa memperhatikan ada

14
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 118.
15
Ibnu Hajr Al-Asqolani, Bulugh al-Maram, 118.

8
nasabah yang membeli atau tidak. Sehingga proses pengadaan barang dilakukan
sebelum transaksi atau akad jual beli mura>bahah dilakukan.16

b. Mura>bahah berdasarkan pesanan

Mura>bahah berdasarkan pesanan adalah jual beli mura>bahah yang dilakukan


setelah ada pesanan dari pemesan atau nasabah yang mengajukan pembiayaan
mura>bahah. Jadi dalam perbankan Shariah melakukan pengadaan barang dan
melakukan transaksi jual beli setelah ada nasabah yang memesan untuk dibelikan
barang atau asset sesuai dengan apa yang diinginkan oleh nasabah tersebut.

C. Akad Salam
1. Pengertian Salam

Secara bahasa salam atau salaf berarti pesanan. Secara istilah salam adalah
jual beli sesuatu dengan ciri-ciri tertentu yang akan diserahkan pada waktu tertentu.
Contohnya, orang muslim membeli komoditi tertentu dengan ciri-ciri tertentu,
misalnya: mobil, rumah makan, hewan, dan sebagainya, yang akan diterimanya
pada waktu tertentu. Ia bayar harganya dan menunggu waktu yang telah disepakati
untuk menerima komoditi tersebut. Jika waktunya telah tiba, penjual menyerahkan
komoditi tersebut kepadanya.17
Dalam literatur lain salam diartikan sebagai transaksi jual beli barang
pesanan antara pembeli dan penjual. spesifikasi dan dan harga pesanan harus sudah
disepakati diawal transaksi, sedangkan pembayarannya dilakukan dimuka secara
penuh. Selanjutnya menurut para ulama’ syafiiyah dan hanabilah, salam diartikan
sebagai transaksi atas pesanan dengan spesifikasi tertentu yang di tangguhkan
pembayarannya pada waktu tertentu yang pembayarannya dilakukan secara tunai
di majelis akad. Umala’ malikiyah mengemukakan salam adalah transaksi jual beli
yang pembayarannnya dilakukan secara tunai dan komoditas pesanan diserahkan
pada waktu tertentu.18

16
Wiroso, Jual Beli Murabahah, Yogyakarta: UII Press, 2005, 37-39.
17
Ismail Nawawi, fiqh Muamalah Klasik dan Kontemporer, (Bogor, halia Indonesia:2012)
hlm.125
18
Wabah zuhaily, Al-fiqh Islami Waadillatuhu, (Beirut. Darul fikri:1989 ) hlm. 598-599

9
Sedangkan dalam kodifikasi produk perbankan Shariah dijelaskan bahwa
pengertian salam adalah Jual beli barang dengan cara pemesanan berdasarkan
persyaratan dan kriteria tertentu sesuai kesepakatan serta pembayaran tunai terlebih
dahulu secara penuh.

2. Landasan Hukum Salam

a. Al-Qur’an: QS. al-Baqarah: 282.

...َُ‫ٰ ٓيأيُّهاَٱلَّذِينََءامنُ ٓواَإِذاَتداينتُمَ ِبد ۡينََ ِإل ٰ ٓىَأج ٖلَ ُّمس ٗمىَفَٱ ۡكتُبُوَه‬
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu´amalah tidak secara
tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.19
b. Sunnah

َ‫ َقدم َالنبي َصلى َهللا َعليه َوسلم‬:‫عن َابن َعباس َرضي َهللا َعنهما َقال‬
َ‫َمنَأسلَف َفي َِتمر‬:‫َفقال‬,‫َوهمَيسلفونَفيَالثمارَالسنةَوالسنتين‬:‫المدينة‬
َ )‫َ(رواهَمتفقَعليه‬.‫َ ِإلىَأجلَمَعلُوم‬,‫َووزنَمعلُوم‬,َ‫فليُس ِلفَ ِفيَكيلَمعلُوم‬
Ibnu Abbas berkata: Rasulullah SAW datang ke Madinah dan penduduknya
biasa meminjamkan buahnya untuk masa setahun dan dua tahun. Lalu beliau
bersabda: "Barangsiapa meminjamkan buah maka hendaknya ia meminjamkannya
dalam takaran, timbangan, dan masa tertentu. (HR. Muttafaq Alaihi.)20

3. Rukun dan syarat salam

Pelaksnaan jual beli salam atau inden memuat rukun sebagai berikut:
a. Pembeli (musalam)
Adalah pihak yang membutuhkan dan memesan barang. Harus memnuhi
kriteria cakap bertindak hukum (balig dan berakal sehat) serta mukhtar (tidak dalam
tekanan/paksaan).
b. Penjual (musala ilaih)

19
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 66.
20
Ibnu Hajr Al-Asqolani, Bulugh al-Maram, 218.

10
Adalah pihak yang memasok barang pesanan. Harus memenuhi kriteria
cakap bertindak hukum (balig dan berakal sehat) serta mukhtar (tidak dalam
tekanan/paksaan).
c. Ucapan (sighah)
Harus diungkapkan dengan jelas, sejalan dan tidak terpisah oleh hal-hal
yang dapat memalingkan keduanya dari maksud akad.
d. Barang yang dipesan (muslam fih)
Dalam hal ini harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1) Harus jelas jenisnya.
2) Harus jelas sifat-sifatnya.
3) Jelas ukuranya.
4) Jelas batas waktunya.
5) Tempat penyerahan dinyatakan secara jelas.
Sementara untuk syarat jual beli salam adalah sebagai berikut:
a. Pembayarannya dilakukan dengan kontan, dengan emas, atau perak, atau
logam-logam, agar hal-hal ribawi tidak diprjualbelikandengan sejenisnya
secara tunda.
b. Komodiinya harus dengan spesifikasi yang jelas, misalnya, dengan
menyebut jenisnya dan ukurannya, agar tidak trjadi konflik antara seorang
muslim dengan saudaranya yang menyebabkan dendam dan permusuhan
Siantar keduanya.
c. Waktu penyerahan komoditi harus ditentukan, misalnya setengah bulan
yang akan datang atau lebih.
d. Penyerahan uang dilakuakan di dalam satu majelis.21

D. Akad Istishna
1. Pengertian Istishna

Istishnâ’ adalah akad bersama produsen untuk satu pekerjaan tertentu dalam
tanggungan atau jual beli satu barang yang akan dibuat oleh produsen yang juga

21
Ismail Nawawi, fiqh muamalah klasik dan kontemporer, 127.

11
menyediakan barang bakunya, sedangkan jika barang bakunya dari pemesan maka
transaksi itu menjadi akad jarah (sewa), pemesan hanya menerima jasa produsen
untuk membuat barang.
Sedangkan dalam kodifikasi produk perbankan Syariah dijelaskan bahwa
istishnâ’ adalah sebagai Jual beli barang dalam bentuk pemesanan pembuatan
barang berdasarkan persyaratan tertentu, kriteria, dan pola pembayaran sesuai
dengan kesepakatan.
2. Landasan Shariah Isatishna

E. Akad Ija>rah

1. Pengertian al-Ija>rah
Al-ija>rah berasal dari kata al-Ajru yang berarti al-‘Iwadhu atau berati
ganti, dalam pengertian syara’ al-Ija>rah adalah suatu jenis akad untuk mengambil
manfaat dangan jalan penggantian.22 Dalam bentuk lain dikatakan bahwa kata
ija>rah juga biasa dikatakan sebagai nama bagi al-Ujrah yang berarti upah atau
sewa. Secara bahasa ija>rah didefinisikan sebagai hak untuk memperoleh manfaat.
Manfaat tersebut bisa berupa jasa atau tenaga orang lain, dan bisa pula menfaat
yang berasal dari suatu barang/benda. Semua manfaat jasa dan barang dibayar
dengan jumlah imbalan tertentu.23
Menurut fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN), ija>rah adlah akad
pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu
melalui pembayaran sewa atau upah, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan
barang itu sendiri. Sedangkan menurut Bank Indonesia, ija>rah adalah sewa
menyewa atas manfaat suatu barang/jasa antara pemilik objek sewa dengan
penyewa untuk mendapatkan imbalan berupa sewa atau upah bagi pemilik objek
sewa.24

22
Abdul Ghofur Anshori, Perbankan Syariah di Indonesia, 69.
23
Faturrahman Djamil, Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga
Keuangan Syariah, 150-151.
24
Faturrahman Djamil, Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga
Keuangan Syariah, 151.

12
2. Landasan syariah al-Ijarah
Dasar-dasar hukum atau rujukan ija>rah adalah al-Qur’an, al-Sunnah dan
Ijma’.
a. Al-Qur’an QS. Al-Thalaq: 6

ََّ ‫نَو ۡج ِد ُك ۡمَوَلَتُضَا ٓ ُّرو ُه َّنَ ِلتُضيِقُواَعل ۡي ِه‬


َ‫نَو ِإن‬ ُ ‫مَم‬ ُ ‫نَ ِم ۡنَح ۡي‬
ِ ُ ‫ثَسكنت‬ ََّ ‫أ ۡس ِكنُو ُه‬
‫َ ُأ و ٰ ل ِت َ ح ۡ م ٖل َ ف أ ن ِف ُق و ا َ ع ل ۡ ي ِه َّن َ ح َّت ٰى َ ي ض ۡ َع‬ ‫ُك َّن‬
َ‫ض َُعَل ٓهَۥَُأ ُ ۡخر ٰى‬ ٖ ‫جور ُه َّنَو ۡأت ِم ُرواَبَ ۡين ُكمَ ِبمعۡ ُر ه‬
ِ ‫وفَوإِنَتعاس ۡرت ُ ۡمَفست ُ ۡر‬ َُ ُ ‫فَاتُو ُه َّنَأ‬
َ َ٦
Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut
kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan
(hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil,
maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika
mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka
upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan
jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu)
untuknya.25
b. Al-Sunnah
Rasulullah SAW bersabda:
ُ ‫َأُع‬:‫قالَرسولَهللاَصلىَهللاَعليهَوسلم‬
َ‫طواَأل ِجير َأجرهُ َقبَل َانَي ِجف‬
َ )‫َ(رواهَابنَماجه‬.ُ‫ع ُرقُه‬
ُ
Berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering. (HR.
Ibnu Majah)26
c. Ijma’

25
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 936.
26
Ibnu Hajr Al-Asqolani, Bulugh al-Maram, 428.

13
Landasan ijma’nya adalah semua umat bersepakat, bahwa sewa-menyewa
dan upah adalah boleh, tidak ada seorang ulama pun yang membantah kesepakatan
ijma’ ini, sekalipun ada beberapa orang diantara mereka yang berbeda pendapat.27
3. Rukun dan Syarat Ijarah
Menurut mayoritas para ulama mengatakan bahwa rukun ija>rah adalah
sebagai berikut:
a. ‘Aqid mencakup al-mu’jir (orang yang menyewakan) dan al-musta’jir
(orang yang menyewa).
b. Ma’qud ‘Alaih (objek sewa), mencakup ujrah (upah) dan manfaat barang
yang disewakan.
c. Shighat ‘Ijab Qabul (ucapan serah terima).28
Sedangkan syarat-syarat ija>rah adalah sebagai berikut:
a. Kedua belah pihak yang berakad menyatakan kerelaanya untuk melakukan
akad ija>rah.
b. Manfaat yang menjadi objek ija>rah harus diketahui secra sempurna,
sehingga tidak muncul perselisihan di kemudian hari.
d. Penyewa barang berhak memanfaatkan barang sewaan tersebut, baik untuk
diri sendiri maupun untuk orang lain dengan menyewakan atau
meminjamkan.
e. Objek ija>rah dalam bentuk barang merupakan sesuatu yang dapat
disewakan.
f. Imbalan sewa atau upah harus jelas, tertentu dan bernilai.29
4. Macam-macam ijarah
Dilihat dari objeknya ija>rah terbagi menjadi dua macam yaitu:
1) Ija>rah yang berdifat manfaat. Misalnya, sewa-menyewa rumah, toko,
kendaraan, pakaian dll.

27
Sohari Sahrani dan Ru’fah Abdullah, Fiqh Muamalah, Bogor: Ghalia Indonesia, 2011,
167.
28
Dumairi Nor, dkk, Ekonomi Syariah Versi Salaf, Pasuruan: Pustaka Sidogiri, Cet. 2, 119-
120.
29
Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga
Keuangan Syariah, 154.

14
2) Ija>rah yang bersifat pekerjaan adalah dengan cara mempekerjakan
seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan.30 Ija>rah ini menurut para
ulama fiqh, hukumnya boleh apabila jenis pekerjaanya itu jelas, seperti
buruh bangunan, tukang jahit, buruh pabrik dan tukang sepatu.

F. Akad Sharf
1. Pengertian Al-Sharf

Al-Sharf secara bahasa berarti al-Ziya>dah (tambahan) dan al’adl


(seimbang).31 Al-Sharf kadang-kadang difahami berasal dari kata Sharafa yang
berarti membayar dengan penambahan.32

Dalam kamus istilah fiqh disebutkan bahwa Ba’I Sharf adalah menjual mata
uang dengan mata uang (emas dengan emas).33 Adapun menurut istilah adalah
sebagai berikut:

a. Menurut istilah fiqh, al-Sharf adalah jual beli antara barang sejenis atau
antara barang tidak sejenis secara tunai.
b. Menurut Heri Sudarsono, al-Sharf adalah perjanjian jual beli valuta
dangan valuta lainya. Transaksi jual beli mata uang asing dapat dilakukan
baik dengan sesama mata uang yang sejenis, misalnya rupiah dengan
rupiah maupun yang tidak sejenis, misalnya rupiah dengan dolar atau
sebaliknya.34
c. Menurut Tim Pengembangan Institut Bankir Indonesia, al-Sharf adalah
jasa yang diberikan oleh bank kepada nasabahnya untuk melakukan
transaksi valuta asing menurut prinsip-prinsip Sharf yang dibenarkan
secara syari’ah.

30
Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam (Fiqh Muamalat), Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2004, 236.
31
Ghufron A Mas’adi, Fiqh Muamalah Konstektual, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002,
149.
32
Murtadho Muthahari, Ar-Riba Wa At-Ta’min, Terjm. Irwan Kurniawan, Asuransi dan
Riba, Bandung: Pustaka Hidayah, 1995, 219.
33
M. Abdul Mujieb, Kamus Istilah Fiqh, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995, 34.
34
Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Lainya, Yogyakarta: Adipura, 2004, 78.

15
d. Menurut ulama fiqh, al-Sharf adalah sebagai memperjualbelikan uang
dengan uang yang sejenis maupun tidak sejenis.35
2. Dasar Hukum Al-Sharf

Fuqoha mengatakan bahwa kebolehan praktek al-Sharf didasarkan pada


sejumlah hadits antara lain pendapat jumhur yang diriwayatkan oleh Imam Malik
dari Nafi’, dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Rasulullah SAW bersabda:

َ‫ ََل َتبيعوا‬:‫ َأن َرسول َهللا َصلى َهللا َعليه َوسلم‬.‫عن َابي َسعيد َالخدري‬
َ‫َوَلتبيعَالفضة‬,‫َوَلتثفواَبغضهاَعلىَبعض‬,‫الذهبَبالذهبَإَلَمثالَبمثل‬
َ‫َوَلَتبيعواَمنهاَشيئا‬,‫َوَلَتثفواَبعضهاَعلىَبعض‬,‫بالفضةَإَلَمثالَبمثل‬
َ )‫َ(متفقَعليه‬.‫غائباَبناجز‬
Dari Abu Sa’id al Khudsriy ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

Janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali dengan seimbang dan
janganlah kamu memberikan sebagainya atas yang lain. Janganlah kamu menjual
perak dengan perak kecuali dengan seimbang dan janganlah kamu memberikan
sebagainya atas yang lain. Janganlah kamu menjual dari padanya sesuatu yang tidak
ada dengan sesuatu yang tunai (ada). HR. Muttafaq ‘Alaih.36

Hadits diatas menerangkan bahwa menjual emas dengan emas atau perak
dengan perak itu tidak boleh kecuali sama dengan sama, tidak ada salah satunya
melebihi yang lain.

Dalam hadits Rasulullah SAW, yaitu:

َ‫ َالذهب‬:‫ َرسول َهللا َصلى َهللا َعليه َوسلم‬:‫وعن َعبادة َبن َالصامث َقال‬
َ,‫ َوالتمر َبالتمر‬,‫ َوالثعير َبالثعير‬,‫ َوالبر َبالبر‬,‫ َوالفضة َبالفضة‬,‫بالذهب‬

35
Gemala Dewi, Hukum Perikatan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2005, 98.
36
Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Terj. Abdurrahman, Haris Abdullah, Bidayatul
Mujtahid, Semarang: Asy-Syifa, 1990, 145.

16
َ‫َفإذاَختلفتَهذهَاألصناف‬,‫َيداَبيد‬,‫َسواءَبسواء‬,‫َمثالَبمثال‬,‫والملحَبالملح‬
َ )‫َ(رواهَمسلم‬.‫فبيعواَكيفَسئتمَإذاَكانَيداَبيد‬
Dari Ubadah bin Shamith ia berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan biji gandum,
jagung centel dengan jagung centel, kurma dengan kurma, garam dengan garam,
sama dengan sama, tunai dengan tunai, jika berbeda dari macam-macam ini semua
maka jualah sekehendakmu apabila dengan tunai. HR. Muslim.37

Hadits diatas menjelaskan ada enam jenis yang tidak boleh dijual kecuali
dengan sama pertimbanganya dan tunai:

a. Emas dijual dengan emas


b. Perak dengan perak
c. Gandum dengan gandum
d. Jagung centel dengan jagung centel
e. Kurma dengan kurma
f. Garam dengan garam
3. Syarat-syarat al-Sharf

Persyaratan yang harus dipenuhi dalam akad al-Sharf adalah:

a. Masing-masing pihak saling menyerahkan terimakan barang sebelum


keduanya berpisah. Syarat ini untuk menhindari terjadinya riba nasi’ah.
Jika keduanya atau salah satunya tidak menyerahkan barang sampai
keduanya berpisah maka akad al-Sharf menjadi batal.
b. Jika akad al-Sharf dilakukan atas barang sejenis maka harus seimbang,
sekalipun keduanya berbeda kualitas atau model setakanya.

37
Ibnu Hajr Al-Asqolani, Bulugh al-Maram, 479.

17
c. Khiyar syarat tidak berlaku dalam akad al-Sharf, karena akad ini
sesungguhnya merupakan jual beli dua benda secara tunai. Sedang khiyar
syarat mengindikasikan jula beli secara tidak tunai.38
G. Sengketa Yang Terjadi Dalam Akad al-Mura>bahah

Keadaan sengketa akad al-Mura>bahah dapat kita lihat pada Kasus antara
PT. Bank Syariah Mandiri melawan PT. Atriumasta Sakti. Dimana kedua belah
pihak telah sepakat dalam membuat akad pembiayaan murabahah No 53 tanggal 23
Februari 2005 dihadapan Efran Yuniarto, SH., Notaris di Jakarta. Permasalahan
muncul disaat PT. Atriumasta Sakti merasa bahwa PT. Bank Syariah Mandiri telah
cidera janji dengan tidak mengeluarkan pencairan dana tahap kedua seperti yang
dijanjikan, selain itu ternyata pada akad mura>bahahnya, bentuk perjanjiannya
ternyata mengambil konstruksi kredit modal kerja yang biasa digunakan pada bank
kovensional,yang sudah pasti bertentangan dengan prinsip pembiayaan murabahah
yang merupakan akad jual beli. Selain itu margin yang ditetapkan dalam perjanjian
mura>bahah berupa ceiling price yang berubah-ubah secara tidak pasti (uncertain)
tidak ditentukan secara lump sum pertahun tetapi ditetapkan dalam prosentase
pertahun seperti halnya bunga pada perbankan konvensional yang menurut prinsip
syariah adalah riba yang haram hukumnya. Tak hanya itu saja, tentang pembebanan
bunga dalam surat sanggup/ promes yang sama artinya dengan riba, dan karenanya
juga melanggar prinsip syariah. Dan terakhir akad pembiayaan No. 53 tersebut
sekaligus merupakan akad transaksi jual beli antara pemasok dan bank, dan juga
jual beli antara bank dengan nasabah yang hanya dibuat dalam satu akad saja, hal
ini sudah tentu bertentangan dengan fatwa Dewan Syariah Nasional No.04/DSN-
MUI/IV/2000 tentang Murabahah.

Dari kasus diatas jelas terlihat adanya unsur penipuan dalam akad
murabahah yang jelas sekali dilarang oleh syariat Islam. Dimana pada akad
murabahah yang dipakai adalah menggunakan standar pada perjanjian diperbankan
konvensional, tetapi justru tidak berdasarkan prinsip perjanjian perbankan syariah
seharusmya. Tidak hanya itu saja, terdapat ketidak pastian terhadap ceiling price

38
Ghufron A. Mas’adi, Fiqh Muamalah Konstektual, 150.

18
yang diselalu berubah-ubah seperti halnya penerapan bunga pada bank
konvensional dan menurut prinsip syariah ini dinamakan riba yang haram
hukumnya. Selain itu dalam hal terdapatnya 2 (dua) akad dalam satu transaksi
bersamaan, dimana hal ini juga sudah bertentangan dengan syariah Islam.39

H. Penyelesaian Sengketa

Salah satu penyelesaian sengketa ekonomi yang menarik ialah pada Putusan
Mahkamah Agung di Tingkat PK Nomor 56/PK/AG/2011 Putusan ini membahas
perkara tentang Sengketa Ekonomi Syariah dalam yang diajukan oleh PT. BANK
SYARIAH MANDIRI sebagai Pemohon Peninjauan Kembali/ Termohon
Banding/Pemohon melawan PT. ATRIUMASTA SAKTI dan MAJELIS
ARBITER BASYARNAS, yang memeriksa dan memutus perkara Nomor
16/Tahun 2008/BASYARNAS/Ka.Jak sebagai Para Termohon Peninjauan
Kembali/Pemohon Banding/Termohon I dan II;

Latar belakang penyelesaian perkara tersebut sampai pada tahap Peninjauan


Kembali adalah dalam perkara arbitrase untuk mengajukan pembatalan putusan
arbitrase ke Pengadilan Agama dengan alasan-alasan bahwa Amar putusan
Basyarnas (Termohon Kasasi II) dinilai tidak logis dengan Menyatakan Pemohon
Kasasi melakukan cidera janji dan Menyatakan batal demi hukum Akad
Pembiayaan Murabahah Nomor 53 tanggal 23 Februari yang dibuat Efran Yuniarto,
S.H. (Notaris di Jakarta).

Dalam penyelesaiannya di Pengadilan tingkat pertama, Pengadilan Agama


Jakarta Pusat dalam Putusan Nomor 792/Pdt.G/2009/PA.JP tanggal 10 Desember
2009 M, mengabulkan permohonan Pemohon dan Membatalkan Putusan Basyarnas
Nomor 16/Tahun 2008/BASYARNAS/Ka.Jak yang diputuskan pada tanggal 16
September 2009 dan yang telah terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama
Jakarta Pusat sesuai akta Pendaftaran Nomor 01/Basyarnas/2009/PA.JP tanggal 12
Oktober 2009.

39
Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisi Fiqih dan Keuangan, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2006, 94.

19
Pada Tingkat Banding, Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 188
K/AG/2010 tanggal 09 Juni 2010 yang telah berkekuatan hukum tetap dan
Membatalkan putusan Pengadilan Agama Jakarta Pusat Nomor
792/Pdt.G/2009/PA.JP tanggal 10 Desember 2009, dan Menyatakan Pengadilan
Agama Jakarta Pusat tidak berwenang memeriksa dan mengadili perkara a quo
tersebut.

Terhadap Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 188 K/AG/2010 tersebut,


Termohon Banding/Pemohon PK mengajukan Upaya Peninjauan Kembali.
Alasannya adalah telah terjadi kekhilafan yang nyata pada salah satu amar Putusan
tersebut yang menyatakan bahwa ”Pengadilan Agama Jakarta Pusat tidak
berwenang memeriksa dan mengadili perkara a quo”. Hal tersebut tentunya
memberlakukan kembali putusan Basyarnas Nomor 16/Tahun
2008/BASYARNAS/Ka.Jak, yang isinya melebihi dari hal yang tidak dituntut oleh
Termohon Peninjauan Kembali I/Pemohon Arbitrase Syariah.

Alasan lainnya berdasarkan Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun


2006 Jo. Pasal 55 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan
Syariah yang didasarkan pada alasan bahwa sengketa a quo berkaitan dengan
sengketa Perbankan Syariah. Oleh karena itu Pengadilan Agama berwenang
mengadili sengketa a quo “Bahwa namun di dalam amar putusan tersebut, judex
factie justru menyatakan bahwa “Pengadilan Agama Jakarta Pusat tidak
berwenang“.

Berdasarkan alasan yang diajukan Pemohon PK tersebut, Mahkamah


Agung berpendapat bahwa alasan-alasan peninjauan kembali yang diajukan oleh
Pemohon Peninjauan Kembali tersebut tidak dapat dibenarkan. Mahkamah Agung
dalam Pertimbangan Putusan PK nya menerangkan bahwa “Tidak terdapat adanya
kekhilafan Hakim atau kekeliruan nyata” dalam putusan Mahkamah Agung Nomor
188 K/AG/2010 tanggal 9 Juni 2010 karena pertimbangannya telah tepat dan benar.

Para pihak yang bersengketa telah secara tegas telah menyatakan bahwa
penyelesaian sengketa ini dilakukan dengan cara arbitrase sehingga berlakulah

20
ketentuan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang tersebut,
sehingga Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Agama tidak berwenang untuk
mengadili sengketa dimaksud (Pasal 3 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999
tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa).

Mengenai pembatalan putusan Arbitrase Nomor 16 Tahun


2008/BASYARNAS/Ka.Jak tanggal 16 September 2009, maka sesuai ketentuan
Pasal 71 Undang-Undang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa harus
diajukan ke Pengadilan Negeri, bukan Pengadilan Agama. Adapun dasar hukum
yang dipergunakan Pemohon PK yakni SEMA Nomor 8 Tahun 2008 ternyata
bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman Pasal 59 ayat (3) dan SEMA Nomor 8 Tahun 2008 tersebut telah
dinyatakan tidak berlaku lagi oleh SEMA Nomor 8 Tahun 2010. Atas pertimbangan
tersebut, Mahkamah Agung menyatakan permohonan peninjauan kembali dari
Pemohon Peninjauan Kembali: PT. BANK SYARIAH MANDIRI, Perseroan
Terbatas (PT) tersebut “DITOLAK”.40

40
https://hukumekonomisyariahuinsgd.wordpress.com/2015/02/17/model-kontrak-dan-
penyelesaian-sengketa-di-perbankan-syariah/, diakses pada tanggal 17 Maret 2018 pada pukul
20.00 wib.

21
KESIMPULAN

1. Perkataan jual beli sebenarnya terdiri dari dua suku kata yaitu “jual dan beli”.
Sebenarnya kata “jual” dan “beli” mempunyai arti yang satu sama lainnya
bertolak belakang. Sedangkan menurut istilah jual beli adalah pertukaran harta
atas dasar saling rela atau memindahkan milik dengan ganti yang dapat
dibenarkan (yaitu berupa alat tukar yang sah).
2. Al-mura>bahah berasal dari kata arab al-Ribh (keuntungan). Ia dibentuk dengan
wazan (pola pembentukan kata) mufa’alat yang mengandung arti saling. Oleh
karena itu secara bahasa berarti saling memberi keuntungan. Sedangkan menurut
istilah, al-Mura>bahah adalah al-bai’ bira sil ma>l waribhun ma’lum yang
artinya jual beli dengan harga pokok ditambah keuntungan yang diketahui.
3. Secara bahasa salam atau salaf berarti pesanan. Secara istilah salam adalah jual
beli sesuatu dengan ciri-ciri tertentu yang akan diserahkan pada waktu tertentu.
Contohnya, orang muslim membeli komoditi tertentu dengan ciri-ciri tertentu,
misalnya: mobil, rumah makan, hewan, dan sebagainya, yang akan diterimanya
pada waktu tertentu. Ia bayar harganya dan menunggu waktu yang telah disepakati
untuk menerima komoditi tersebut. Jika waktunya telah tiba, penjual
menyerahkan komoditi tersebut kepadanya.
4. Istishnâ’ adalah akad bersama produsen untuk satu pekerjaan tertentu dalam
tanggungan atau jual beli satu barang yang akan dibuat oleh produsen yang juga
menyediakan barang bakunya, sedangkan jika barang bakunya dari pemesan maka
transaksi itu menjadi akad jarah (sewa), pemesan hanya menerima jasa produsen
untuk membuat barang.
5. Al-ija>rah berasal dari kata al-Ajru yang berarti al-‘Iwadhu atau berati ganti,
dalam pengertian syara’ al-Ija>rah adalah suatu jenis akad untuk mengambil
manfaat dangan jalan penggantian. Dalam bentuk lain dikatakan bahwa kata
ija>rah juga biasa dikatakan sebagai nama bagi al-Ujrah yang berarti upah atau
sewa. Secara bahasa ija>rah didefinisikan sebagai hak untuk memperoleh
manfaat. Manfaat tersebut bisa berupa jasa atau tenaga orang lain, dan bisa pula

22
menfaat yang berasal dari suatu barang/benda. Semua manfaat jasa dan barang
dibayar dengan jumlah imbalan tertentu.
6. Al-Sharf secara bahasa berarti al-Ziya>dah (tambahan) dan al’adl (seimbang).41
Al-Sharf kadang-kadang difahami berasal dari kata Sharafa yang berarti
membayar dengan penambahan. Dalam kamus istilah fiqh disebutkan bahwa Ba’I
Sharf adalah menjual mata uang dengan mata uang (emas dengan emas).

41
Ghufron A Mas’adi, Fiqh Muamalah Konstektual, 149.

23
DAFTAR PUSTAKA

Al-Asqolani, Ibnu Hajr, Bulugh al-Maram, Terj. Muh Rifa’i, A. Qusyairi Misbah,
Bulughul Maram, Semarang: Wicaksana, 1989
Al-Asqolani, Ibnu Hajr, Bulugh al-Maram, Terj. Muh Rifa’i, A. Qusyairi Misbah,
Bulughul Maram, Semarang: Wicaksana, 1989.
Anshori, Abdul Ghofur, Perbankan Syariah di Indonesia, Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press, 2010
Bakry, Nazar, Problematika Pelaksanaan Fiqh Islam, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 1994
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara
Penterjemah Al-Qur’an, Semarang: Toha Putra, 1979
Dewi, Gemala, Hukum Perikatan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2005.

Djamil, Fathurrahman, Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga


Keuangan Syariah, Jakarta: Sinar Grafika, 2012
Halim, Atang Abd., Fiqih Perbankan Syariah, Transformasi Fiqih Muamalah ke
dalam Peraturan Perundang-undangan, Bandung: Rafika Aditama, 2011
Hasan, Ali, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam (Fiqh Muamalat), Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2004
Karim, Adiwarman A., Bank Islam Analisi Fiqih dan Keuangan, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2006.
Lewis, Mervin K, & Latifa M. Algaoud, Perbankan Syariah Prinsip, Praktitk, dan
Prospek, Jakarta, PT Serambi Ilmu Semesta, 2007
Mujieb, M. Abdul, Kamus Istilah Fiqh, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995.

Muthahari, Murtadho, Ar-Riba Wa At-Ta’min, Terjm. Irwan Kurniawan, Asuransi


dan Riba, Bandung: Pustaka Hidayah, 1995.
Nawawi, Ismail, fiqh Muamalah Klasik dan Kontemporer, Bogor: Halia Indonesia,
2012.
Nor, Dumairi dkk, Ekonomi Syariah Versi Salaf, Pasuruan: Pustaka Sidogiri, Cet.
2.
Pasaribu, Chairuman, Suhrawardi K. Lubis, Hukum Perjanjian dalam Islam,
Jakarta: Sinar Grafik, 1996
Rusyd, Ibnu, Bidayatul Mujtahid, Terj. Abdurrahman, Haris Abdullah, Bidayatul
Mujtahid, Semarang: Asy-Syifa, 1990.

24
Sabiq, Sayid al-Fiqh al-Sunah XII, Terj. Kamaludin A. Marzuki, Fiqh Sunnah,
Bandung: Al Ma’arif, 1998
Sahrani , Sohari dan Ru’fah Abdullah, Fiqh Muamalah, Bogor: Ghalia Indonesia,
2011.
Sudarsono, Heri, Bank dan Lembaga Keuangan Lainya, Yogyakarta: Adipura,
2004.
Wiroso, Jual Beli Murabahah, Yogyakarta: UII Press, 2005

Zuhaily, Wabah, Al-fiqh Islami Waadillatuhu, Beirut: Darul fikri, 1989.

http://www.forshei.org/2015/11/mari-beralih-ke-konsep-falah-profit.html.
https://hukumekonomisyariahuinsgd.wordpress.com/2015/02/17/model-kontrak-
dan-penyelesaian-sengketa-di-perbankan-syariah/.

25