Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pembangunan kesehatan di Indonesia dilakukan secara bertahap dan berjenjang dari tingkat pusat
sampai ke tingkat yang paling bawah. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan pelaksana
pembangunan kesehatan yang jenjangnya berada di wilayah kecamatan sehingga kedudukannya sangat strategis
karena langsung berhadapan dengan masyarakat sebagai sasaran pembangunan dan pelayanan kesehatan.
Karena itu pula Puskesmas beserta jaringannya (Puskesmas Pembantu dan Polindes) disebut sebagai ujung
tombak pelaksana pembangunan dan pemberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Puskesmas Suela merupakan salah satu dari 32 Puskesmas yang berada di Kabupaten Lombok
Timur. Keberadaan Puskesmas Suela sebagai pemberi pelayanan kesehatan sangat dirasakan oleh masyarakat
hingga saat ini. Apalagi letak geografis yang cukup jauh dari ibukota Kabupaten Lombok Timur. Berbagai program
kegiatan yang dilaksanakan dari tahun ke tahun ada yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Pada tahun 2017 Puskesmas Suela telah melakukan berbagai program dan kegiatan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat. Untuk merangkum semua kegiatan tersebut dan sebagai bentuk pertanggung-
jawaban maka dipandang perlu untuk menyusun Laporan Kegiatan Puskesmas Suela. Dengan harapan semoga
Laporan ini dapat bermanfaat terutama sebagai bahan dalam menilai tingkat keberhasilan sekaligus sebagai acuan
untuk perencanaan pada tahun yang akan datang.

B. MAKSUD DAN TUJUAN


1. Tujuan Umum :
Secara umum tujuan penyusunan laporan Kegiatan Puskesmas Suela ini untuk merangkum seluruh
kegiatan yang dilaksanakan selama tahun 2017 sekaligus sebagai bentuk pertanggung-jawaban selaku Unit
Pelaksana Teknis Dinas ( UPTD ) dalam bidang kesehatan.
2. Tujuan Khusus :
a) Mengevaluasi tingkat keberhasilan Puskesmas dalam tahun berjalan (tahun 2017).
b) Sebagai dokumentasi kegiatan Puskesmas Suela
c) Sebagai pertanggung-jawaban kepada atasan/Dinas Kesehatan.
d) Sebagai bahan perencanaan yang lebih baik di masa yang akan datang.
e) Dokumentasi bagi semua pihak yang berkepentingan.
f) Meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

C. KONDISI GEOGRAFIS
1. Letak dan Luas Wlayah
Puskesmas Suela merupakan Puskesmas yang ada di wilayah Kecamatan Suela, tepatnya di desa
Suela. Adapun batas – batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

 Utara : Kecamatan Sambelia


 Selatan : Kecamatan Wanasaba
 Timur : Kecamatan Pringgabaya
 Barat : Kecamatan Sembalun

Laporan Profil PKM Suela 2017 (1 )


2. Topografi wilayah
Topografi wilayah kerja Puskesmas Suela rata-rata berupa daerah dataran dan ada juga daerah
perbukitan di beberapa wilayah desa. Dan wilayah semua desa pada umumnya terdiri dari : lahan pemukiman
penduduk, lahan pertanian dan perkebunan.

D. KEPENDUDUKAN
1. Jumlah Persebaran penduduk
Menurut data proyeksi penduduk Kabupaten Lombok Timur Tahun 2017 jumlah penduduk wilayah
kerja Puskesmas Suela yaitu 39.264 jiwa
Tabel 1 : Data jumlah Sebaran penduduk dan jenis kelamin per desa Puskesmas Suela Tahun 2017.

Proyeksi Penduduk Tahun 2017 Jumlah KK


No Desa
Laki Perempuan Jumlah Miskin

1 Sapit 1.776 2.161 3.937 3.970


2 Suela 2.904 3.443 6.347 6.400
3 Suntalangu 2.898 3.610 6.508 6.563
4 Ketangga 2.660 3.314 5.974 6.024
5 Selaparang 1.688 2.017 3.705 3.736
6 Mekar Sari 2.341 2.710 5.051 5.093
7 Perigi 3.064 3.451 6.515 6.570
8 Puncak Jeringo 612 615 1.227 1.237
Jumlah 17.943 21.321 39.264 39.593

2. Kelompok umur dan sex ratio


Dari data Demografi di atas kita bisa menghitung rasio jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin.
Pada umumnya salah satu cara untuk menghitung rasio jumlah berdasarkan jenis kelamin adalah
menggunakan perhitungan membagi jumlah penduduk laki – laki dengan jumlah penduduk perempuan
kemudian mengalikannya dengan 100 (seratus).
Berdasarkan data diatas bisa dihitung bahwa rasio penduduk di kecamatan suela yaitu 84,2, artinya
bahwa rasio jumlah penduduk laki – laki lebih sedikit, dimana dalam setiap 100 penduduk perempuan terdapat
84 penduduk laki – laki.
3. Sasaran program

Tabel 2 : Data jumlah Sasaran per desa Puskesmas Suela Tahun 2017.

JUMLAH SASARAN TAHUN 2017


BAYI BALITA
REMAJA

NO DESA
BUFAS
BUMIL

BULIN

USILA
PUS

L P JML L P JML

1. SAPIT 40 48 88 199 243 442 97 88 93 787 669 315


2. SUELA 65 78 143 326 387 713 157 143 150 1.269 1.079 508
3. SUNTALANGU 65 81 146 326 405 731 161 146 154 1.302 1.106 520
4. KETANGGA 60 74 134 299 372 671 148 134 141 1.195 1.016 478
5. SELAPARANG 38 45 83 190 226 416 92 83 87 741 630 296

Laporan Profil PKM Suela 2017 (2 )


6. MEKAR SARI 52 61 113 263 304 567 125 113 119 1.010 859 404
7. PERIGI 69 77 146 344 388 732 161 146 154 1.303 1.108 521
8. P. JERINGO 14 14 28 69 69 138 30 28 29 245 209 98
40 47 2.01 2.39 4.41 3.14
JUMLAH 3 8
881
6 4 0
971 881 927 7.852 6.676
0
(Sumber : Data Sasaran Program Dinas Kesehatan Kab. Lombok Timur Tahun 2017).

4. Perilaku Penduduk

a) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)


Untuk menanggulangi rumah tangga yang rawan terhadap penyakit infeksi dan non infeksi,
maka setiap rumah tangga yang ada perlu diberdayakan untuk melaksanakan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS). Gambaran Perilaku Hidup Bersih
Grafik 1. Tren persentase Rumah Tangga ber PHBS

Data pada grafik 1. menunjukkan bahwa selama dua tahun terakhir jumlah rumah tangga yang
ber PHBS sudah cenderung mengalami peningkatan. Hal ini sudah cukup baik mengingat peran PHBS
yang begitu penting dalam membantu menumbuhkan budaya hidup yang baik dibidang kesehatan. Pada
Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur dicantumkan target rumah tangga ber PHBS untuk
tahun 2017 sebesar 80%. Walaupun persentase rumah tangga yang ber PHBS sudah mencapai target,
perlu terus digalakkan upaya untuk meningkatkan cakupan rumah tangga ber PHBS dengan
meningkatkan pembinaan PHBS di rumah tangga dengan menggerakkan dan memberdayakan keluarga
atau anggota rumah tangga untuk hidup bersih dan sehat melalui penyuluhan baik secara individu
maupun berkelompok agar setiap orang, kelompok atau keluarga tahu, mau dan mampu menolong diri
sendiri di bidang kesehatan.
b) Aktivitas Posyandu
Posyandu merupakan salah satu upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM).
Keberadaan posyandu sampai saat ini masih memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya pada golongan balita. Tingkat perkembangan
posyandu di Kecamatan Suela dalam lima tahun terakhir seperti pada grafik di bawah ini :

Laporan Profil PKM Suela 2017 (3 )


Grafik 2. Persentase Posyandu di Puskesmas Suela Tahun 2017

Sumber : Seksi Promkes Puskesmas Suela Tahun 2017


Data pada grafik 2. di atas memperlihatkan bahwa posyandu purnama dari tahun ketahun
menunjukan peningkatan dan ini sangat baik. Dari 71 posyandu yang ada di Puskesmas Suela
sebanyak 22.3% merupakan Posyandu aktif. Lambatnya perkembangan posyandu ke arah posyandu
mandiri tidak terlepas dari kurang berperan sertanya masyarakat dalam penyelenggaraan kegiatan
posyandu terutama dalam hal dukungan dana untuk operasional kegiatan posyandu. Saat ini dana
operasional posyandu sebagian besar berasal dari bantuan pemerintah.
c) Penyuluhan Kesehatan.
Penyuluhan kesehatan merupakan upaya untuk merubah perilaku masyarakat melalui penyebaran
informasi tentang masalah kesehatan sehingga masyarakat paham dan dapat mencari solusi pemecahan
masalah kesehatan dengan berperilaku atau mengubah perilaku ke arah yang dapat menunjang
kesehatannya. Cakupan penyuluhan di Puskesmas Suela tahun 2017 meliputi penyuluhan kelompok,
penyuluhan perorangan melalui ruang Lansia, ruang Remaja, ruang laktasi, ruang KB, klinik Sanitasi, ,
ruang ibu hamil, senam ibu hamil, poli gigi, klinik VCT/IMS, kelompok prolanis.
d) Keadaan Lingkungan
Kondisi lingkungan di Kecamatan Suela sangat dipengaruhi oleh perilaku hidup manusia dalam
menata rumah dan alam sekitarnya. Pada tahun 2017 melakukan pemeriksaan terhadap rumah (94%)
dari 5.398 total rumah yang ada di Kevamatan Suela. Jumlah Rumah yang termasuk dalam kategori
sehat sebanyak 5.074 rumah (94%). Kodisi ini menurun di bandingkan dengan data Tahun 2015.
Cakupan rumah sehat menurun disebabkan krn petugas memegang program rangkap, sehingga kurang
optimal. Cakupan rumah sehat seperti pada grafik di bawah ini :
Grafik 3. Cakupan Rumah Sehat tahun 2016 - 2017

Sumber : Seksi Kesling Puskesmas Suela Tahun 2017

Data pada grafik 3. Cakupan rumah sehat menuingkat tetapi belum memenuhi target Kabupaten
Laporan Profil PKM Suela 2017 (4 )
Lombok Timur sebesar 85%. Ada beberapa hal yang mempengaruhi keadaan lingkungan di Kabupaten
Lombok Timur, dan kegiatan yang telah dilakukan antara lain:

 Air Bersih
Cakupan keluarga yang memiliki akses air bersih di Kecamatan Suela pada tahun 2017 mencapai
100%. Dengan adanya seluruh masyarakat yang sudah bisa mengakses air bersih di Kevamatan Suela,
diharapkan penyakit-penyakit menular melalui air (water borne desease) dapat dicegah atau sedapat
mungkin diturunkan kasusnya.
Grafik 4. Cakupan SAB tahun 2016 - 2017

Sumber : Seksi Kesling Puskesmas Suela Tahun 2017

 Jamban
Kepemilikan jamban bagi keluarga merupakan sesuatu yang vital karena dengan adanya jamban
di masing-masing rumah tangga berbagai penyakit yang penularannya melalui kotoran manusia seperti
kecacingan, diare dan sebagainya dapat dicegah sedini mungkin. Pada dasarnya seluruh KK yang ada di
Kecamatan Suela sudah memiliki jamban, cakupan penduduk yang menggunakan jamban sehat telah
mencapai 100%.
Grafik 5. Cakupan JAGA tahun 2016 - 2017

Sumber : Seksi Kesling Puskesmas Suela Tahun 2017

 Tempat Sampah dan Pengelolaan Air Limbah


Tempat sampah dan pengeloaan air limbah di tingkat rumah tangga merupakan faktor yang ikut
berperan penting dalam menciptakan suatu lingkungan yang sehat di tingkatan yang paling bawah. Data
yang ada menunjukkan bahwa ada sekita 86.9% KK di Kecamatan Suela sudah memiliki tempat sampah
dan pengelolaan air limbah. Pengelolaan air limbah yang termasuk dalam kategori sehat sebesar 92%
dari target yang sudah ditetapkan.

Laporan Profil PKM Suela 2017 (5 )


Grafik 6. Cakupan TPS tahun 2016 - 2017

 Tempat Pengelolaan Makanan (TPM)


Pemeriksaan terhadap tempat-tempat umum dan tempat pengelolaan makanan (TPM) secara
berkala meliputi hotel, restoran atau rumah makan, pasar serta TPM lainnya. Pemeriksaan bertujuan
untuk menjamin agar tetap terjaganya kesehatan lingkungan di tempat-tempat yang bersangkutan dan
lingkungan sekitarnya. Data pada tahun 2017 Kecamatan Suela menunjukkan bahwa jumlah pasar
Kecamatan Suela sebanyak 1 buah, restoran atau rumah makan sebanyak 4 buah dan TPM lainnya
sebanyak 8 buah.

Laporan Profil PKM Suela 2017 (6 )


BAB II
SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan,
seperti kondisi morbiditas, mortalitas dan status Gizi. Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh multi
faktor. Faktor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan
sangat menentukan derajat kesehatan masyarakat. Faktor lain diluar kesehatan yang tak kalah penting
berperan dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat adalah keadaan sosial ekonomi, pendidikan,
lingkungan social, keturunan dan faktor lainnya (Depkes, 2010). Pada bagian ini derajat kesehatan
masyarakat di kecamatan Suela digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita
(AKABA), Angka Kematian Ibu (AKI) dan angka morbiditas beberapa penyakit yang ada di Kecamatan Suela.
A. Mortalitas
Angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu dikenal dengan mortalitas
(Depkes, 2010). Mortalitas selain dapat menggambarkan keadaan dan derajat kesehatan masyarakat suatu
wilayah dapat juga digunakan sebagai dasar perencanaan di bidang kesehatan. Tingkat kematian secara
umum sangat berhubungan erat dengan tingkat kesakitan. Sebab-sebab kematian ada yang dapat diketahui
secara langsung dan tidak langsung. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat mortalitas dan morbiditas
adalah sosial ekonomi, pendapatan perkapita, pendidikan, perilaku hidup sehat, lingkungan, upaya kesehatan
dan fertilitas.
1. Angka Kematian Bayi (AKB)
Jumlah kematian penduduk yang berusia di bawah satu tahun per 1000 kelahiran hidup pada
tahun tertentu disuatu daerah disebut Angka Kematian Bayi (AKB). AKB merupakan indikator yang sangat
berguna untuk mengetahui status kesehatan anak khususnya bayi dan dapat mencerminkan tingkat
kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan secara umum, status kesehatan penduduk secara
keseluruhan serta tingkat perkembangan sosial ekonomi masyarakat.
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi AKB secara umum adalah tingkat kesakitan dan
status gizi, kesehatan ibu waktu hamil dan proses penanganan persalinan. Gangguan perinatal
merupakan salah satu dari sekian faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan ibu selama hamil yang
mempengaruhi perkembangan fungsi dan organ janin.
Berdasarkan data tahun 2017 dari seksi Program KIA menunjukkan bahwa Angka Kematian
Bayi (AKB) di Kecamatan Suela Puskesmas Suela dalam dua tahun terakhir sejak tahun 2016 s/d 2017
dapat dilihat dari grafik berikut:
Grafik 7. Data Kematian Bayi tahun 2016 - 2017

Masih tingginya AKB tidak terlepas dari belum terjadinya pemerataan pelayanan kesehatan
berikut fasilitasnya, masih jauhnya akses layanan kesehatan terhadap masyarakat, pendapatan

Laporan Profil PKM Suela 2017 (7 )


masyarakat yang masih rendah, serta status gizi yang masih kurang sehingga berakibat terhadap
menurunnya daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit.
2. Angka Kematian Balita (AKABA)
AKABA adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal sebelum
mencapai usia 5 tahun dan dinyatakan per 1000 kelahiran hidup. Angka kematian balita dihitung dengan
menjumlahkan kematian bayi dengan kematian balita. Berdasarkan pedoman MDGs disebutkan bahwa
nilai normatif >140 sangat tinggi, 71-140 tinggi, 20-40 sedang dan <20 rendah. AKABA menggambarkan
tingkat permasalahan kesehatan anak-anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan
anak balita seperti gizi, sanitasi, penyakit infeksi dan kecelakaan. Angka Kematian Balita (AKABA) di
Kecamatan Suela seperti pada grafik di bawah ini
Grafik 8. Data Kematian Balita tahun 2016 - 2017

,
Berdasarakan data grafik diatas bisa digambarkan terjadinya trend penurunan kematian dari
sebelumnya ada satu kematian pada tahun 2016. Secara Nasional ditetapkan AKABA sebesar 40/1000
KH. Pada tahun 2017 tidak terdapat kematian balita di Kecamatan Suela, maka ini sudah lebih rendah
dari target nasional. Rendahnya angka kematian balita (AKABA) di kecamatan Suela wilayah kerja
Puskesmas Suela disebabkan karena rendahnya faktor risiko yang mengakibatkan kematian bagi balita,
perilaku orang tua dalam pemberian gizi anak cukup baik serta peranan dari petugas kesehatan dalam
memberikan pelayanan kesehatan.
3. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI)
Angka kematian ibu (AKI) adalah banyaknya wanita yang meninggal pada tahun tertentu dengan
penyabab kematian yang terkait gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan
atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa
memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup. Indikator ini secara langsung digunakan
untuk memonitor kematian terkait kehamilan.
Angka Kematian Ibu Maternal berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup
sehat, status gizi, kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama
untuk ibu hamil, waktu melahirkan dan masa nifas.Keberhasilan pembangunan sektor kesehatan
senantiasa menggunakan indikator AKB dan AKI sebagai indikator utamanya. Angka kematian ibu
maternal di Kecamatan Suela dalam dua tahun terakhir sebagaimana terlihat pada grafik di bawah ini
:

Laporan Profil PKM Suela 2017 (8 )


Pada grafik diatas terlihat ada 1 kematian ibu di wilayah Kecamatan Suela yaitu di Desa Ketangga yang
disebabkan kernan penyakit jantung. Bila terjadi kematian Ibu maka akan dilaksanakan A u d i t
M a t e r n a l P e r i n a t a l (AMP) untuk mengetahui akar permasalahan penyebab kematian, juga
akan dilaksanakan pembelajaran kasus yang mengakibatkan kematian ibu tersebut. Serta strategi
kedepannya yang akan diambil untuk mengatasi hal ini adalah selain melibatkan lintas sektor dan lintas
program agar ikut bersama - sama memantau ibu hamil, melahirkan dan masa setelah melahirkan
dengan gerakan sayang ibu di harapkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi di
Kecamatan Suela dapat di tekan.
Secara umum Angka Kematian Ibu di Kecamatan Suela pada tahun 2016 masih dibawah target
Nasional (125 per 100.000 KH) maupun target tingkat Propinsi NTB (120 per 100.000 KH), dan bila
dibandingkan dengan target Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur (84 per 100.000
KH), maka AKI per 100.000 Kelahiran Hidup di Kecamatan Suela berada di bawah target yang telah
ditetapkan. Ini menunjukkan bahwa kwalitas pelayanan kesehatan pada ibu hamil di Kecamatan Suela
cukup baik. Disamping itu pula akses terhadap sarana pelayanan sangat mudah karena penyebarannya
hampir merata di wilayah seluruh Kecamatan Suela dengan adanya pembangunan gedung poskesdes di
tiap-tiap Desa.
4. Umur Harapan Hidup (UHH)
Derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat juga dapat dilihat dari nilai Umur Harapan
Hidup (UHH). UHH juga merupakan indikator Indeks keberhasilan Pembangunan Manusia.
Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan dapat dilihat dari peningkatan UHH. Umur Harapan
Hidup penduduk Kabupaten Lombok Timur tahun 2010 berdasarkan data BPS sebesar 64 tahun. Angka
ini lebih tinggi dari UHH Propinsi NTB berdasarkan kajian NTB Sehat 2005 oleh BPS sebesar 68 tahun
untuk semua jenis kelamin dan lebih tinggi dari proyeksi UHH nasional tahun 2007 yang tertulis dalam
Profil Kesehatan Indonesia yaitu sebesar 68,7 tahun.
B. Morbiditas
Angka kesakitan baik insiden maupun prevalen dari suatu penyakit disebut morbiditas. Morbiditas
menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu dan berperan dalam
penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat.
1. Penyakit Menular
a) TB P a ru
Penyakit TB Paru merupakan penyakit re-emerging masih terus ditemukan di Provinsi NTB. Secara
nasional TB Paru merupakan penyakit tropis yang sangat erat kaitannya dengan kemiskinan. TB
Paru merupakan penyakit yang masih tinggi angka kejadiannya bahkan merupakan yang tertinggi ketiga
di dunia. MDGs menetapkan penyakit TB Paru sebagai salah satu target penyakit yang harus diturunkan
selain HIV AIDS dan Malaria. Hasil pengobatan penderita TB Paru dipakai indikator succses rate,
dimana indikator ini dapat dievaluasi setahun kemudian setelah penderita ditemukan dan diobati. Sukses
rate akan meningkat bila pasien TB Paru dapat menyelesaikan pengobatan dengan baik tanpa atau
Laporan Profil PKM Suela 2017 (9 )
dengan pemeriksaan dahak.

Data pada grafik di atas menunjukkan bahwa sucses rate kasus TB Paru di Kecamatan Suela
dalam kurun waktu dua tahun terakhir telah 83,3%. Prevalensi TB Paru pada tahun 2017 sebesar 82 per
100.000 penduduk, dengan jumlah kematian akibat TB Paru sebayak 7 kasus pada tahun 2016.
Sedangkan pada tahun 2017 tidak ada. Angka penemuan kasus TB Paru tahun 2016 sebesar 17.42%.
Sedangkan pada tahun 2017 sebanyak 41.81 TB Paru penemuan; Terjadinya peningkatan Penemuan
angka ini disebabkan karena semakin meningkatnya intensitas penjaringan oleh pelaksana program.

Meskipun sucses rate kasus TB Paru di Kecanatan Suela dalam kurun waktu dua tahun terakhir
ada peningkatan. Namun upaya untuk menurunkan Case Rate dan meningkatkan Success Rate terus
harus dilakukan dengan cara meningkatkan sosialisasi penanggulangan TB Paru sesuai manajemen
DOTS melalui jejaring internal maupun eksternal rumah sakit serta sektor terkait lainnya. Disamping
meningkatkan jangkauan pelayanan, upaya yang tidak kalah penting dan perlu dilakukan dalam rangka
penanggulangan penyakit TB Paru adalah meningkatkan kesehatan lingkungan serta perilaku hidup
bersih dan sehat di masyarakat. Kasus TB Paru sangat dipengaruhi oleh kepadatan penduduk dan
kemiskinan, karena penularan TB Paru adalah melalui kontak langsung dengan penderita. Status gizi
juga mempengaruhi kasus TB Paru terutama angka kesembuhannya, dengan status gizi yang baik
penderita TB Paru akan lebih cepat pulih.
b) Pneumonia
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang menyerang pernapasan
mulai dari hidung hingga alveoli. Penyakit ISPA yang menjadi masalah dan masuk dalam program
penanggulangan penyakit adalah pneumonia karena merupakan salah satu penyebab kematian anak.
Pneumonia adalah infeksi akut yang menyerang jaringan paru (alveoli). Infeksi ini bisa disebabkan oleh
bakteri, jamur, virus atau kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi rentan yang
terserang pneumonia adalah anak umur < 2 tahun. Penemuan dan tatalaksana kasus adalah salah satu
kegiatan program penanggulangan. Jumlah kasus pneumonia pada balita yang berobat di Puskesmas
Suela dalam dua tahun terakhir seperti terlihat pada grafik di bawah ini :

Penderita pneumonia yang ditemukan dan ditangani di Puskesmas Suela terlihat terjadi
penurunan kasus sebanyak 111 kasus di tahun 2016 dan 76 kasus pada tahun 2017. Namun tetap perlu

Laporan Profil PKM Suela 2017 (10 )


diterus ditingkatkan upaya penemuan penderita penemonia terutama pada Balita sehingga segera dapat
ditangani. Pneumonia pada balita lebih banyak disebabkan karena faktor seperti kurang gizi, status
imunisasi yang tidak lengkap, terlalu sering membedong anak, kurang diberikan ASI, riwayat penyakit
kronis pada orang tua bayi atau balita, sanitasi lingkungan tempat tinggal yang kurang memenuhi syarat
kesehatan, orang tua perokok dan lain sebagainya. Upaya yang telah dilakukan untuk menanggulangi
kasus pneumonia pada bayi atau balita adalah menghilangkan faktor penyebab itu sendiri melalui
peningkatan status gizi bayi/balita, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), peningkatan
sanitasi lingkungan tempat tinggal serta peningkatan status imunisasi bayi atau balita.
c) Hu m an I m m un o d eficien c y V i r u s ( H I V ) d an A qu ired I m m un o D ef i cien c y Sy nd r o m e
( A I D S)
HIV/AIDs merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Human
Immunodeficiency Virus yang menyerang system kekebalan tubuh penderitanya sehingga penderita
mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah terinfeksi berbagai macam penyakit
yang lain.Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dahulu dinyatakan sebagai HIV positif. HIV
positif dapat diketahui dengan 2 cara yaitu VCT, dan zero survey. Sejak tahun 2017 telah dibuka klinik
konseling IMS di Puskesmas Suela dan tetapi sampai saat ini belum ditemukan kasus HIV positif melalui
pemeriksaan rapid test.
Upaya-upaya yang telah dilakukan untuk menanggulangi penyebaran kasus HIV-AIDS di
Kecamatan Suela adalah dengan melakukan penyuluhan kelompok di posyandu, pertemuan lintas
sektoral di Desan dan penyuluhan di dalam gedung (sekolah). Disamping itu juga bersama Dinas
Kesehatan Kabupaten Lombok Timur bekerja sama lintas sektoral melaksanakan penyuluhan atau KIE
ke tempat- tempat kerja atau perusahaan terutama yang termasuk dalam kategori resiko tinggi seperti
lokasi Tambang Batu dan ke sasaran yang beresiko terutama para TKI, bumil dan Gizi buruk. Tujuan
penyuluhan atau KIE tersebut adalah agar kelompok berisiko tersebut mau datang ke Klinik VCT yang
ada di Puskesmas rujukan yaitu puskesmas Aikmel untuk memeriksakan diri secara berkala dan
melakukan perlindungan diri.
d) Infeksi Menular Seksual (IMS)
IMS merupakan jenis penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan sexual dengan orang yang
mengidap IMS. Sejak Desember 2017, Puskesmas Suela menambah 1 layanan lagi yaitu klinik IMS
sehingga diagnose IMS ditegakkan berdasarkan hasil laboratorium dan jumlah kasus IMS pada tahun
2017 sebanyak 2 kasus yaitu Gonorhea. Penyakit IMS merupakan masalah kesehatan yang cukup
penting karena IMS merupakan salah satu pencetus timbulnya kasus HIV-AIDS di masyarakat. Upaya
yang dilakukan untuk mencegah dan mengurangi penularan penyakit menular seksual (PMS), termasuk
dampak sosialnya, maka Puskesmas Suela telah melakukan (1) Penyuluhan/KIE kepada
masyarakat umum, anak sekolah/remaja maupun kelompok resiko tinggi, (2) Penemuan dan
Pengobatan, dan (3) Melakukan konseling.
e) D ia r e
Diare dapat didefinisikan sebagai kejadian buang air besar berair lebih dari tiga kali namun tidak
berdarah dalam 24 jam, bila disertai dengan darah disebut disentri. CFR diare secara nasional adalah
2,48% sedangkan di Kabupaten Lombok Timur CFR nya 0. Penyakit diare masih merupakan masalah
kesehatan di Kabupaten Lombok Timur, karena IR nya cukup tinggi. Penyakit gastroenteritis lain seperti
diare berdarah dan tifus perut klinis juga termasuk ke dalam sepuluh besar penyakit baik di Puskesmas
maupun catatan rawat inap di rumah sakit. Meskipun jumlah kasus diare cukup tinggi, namun angka

Laporan Profil PKM Suela 2017 (11 )


kematiannya relative rendah. Serangan penyakit yang bersifat akut mendorong penderitanya untuk
segera mencari pengobatan ke pelayanan kesehatan. Dalam perjalanan alamiahnya sebagian besar
penderita sembuh sempurna.
Angka kesakitan akibat diare yang dilayani di Puskesmas Suela dalam dua tahun terakhir seperti
pada grafik di bawah ini :
Grafik Jumlah Kasus Diare di Kecamatan Suela

Telah terjadi penurunan kasus diare sebanyak 128 kasus diare dibandingkan tahun sebelumnya
2.305 kasus pada tahun 2016 dan ada 2.177 pada tahun 2017. Gejala diare yang terkesan ringan dan
dapat diobati sendiri oleh penderitanya menyebabkan penderita enggan mendatangi sarana pelayanan
kesehatan. Penanggulangan diare dititikberatkan pada penanganan penderita untuk mencegah kematian
dan promosi kesehatan tentang hiegyne sanitasi dan makanan untuk mencegah Kejadian Luar Biasa
(KLB). Upaya yang dilakukan oleh jajaran kesehatan baik oleh Puskesmas maupun dinas kesehatan
adalah meningkatkan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat, kaporitisasi air minum dan peningkatan
sanitasi lingkungan.
f) Malaria
Angka kesakitan malaria untuk Jawa dan Bali diukur dengan Annual Parasite Rate Incidence
(API). Pada tahun 2017 tidak terdapat kasus penyakit malaria positif dari hasil pemeriksan secara klinis
terhadap 1.483 sampel darah di Puskesmas Suela dan di posyandu yang terintegrasi dengan
pleayanan ANC. karena tidak ada keluhan pasien yang mengarah pada keluhan malaria. Penyakit
malaria bukan merupakan penyakit endemis tetapi merupakan kasus-kasus import dari penduduk yang
berasal dari daerah endemis malaria atau orang Kecamatan suela khususnya yang berasal dari
kecamatan suela yang pernah tinggal di daerah endemis malaria seperti NTT, Maluku dan Papua.
g) Kusta
Kusta adalah penyakit kulit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium leprae. Bila penyakit
kusta tidak ditangani maka dapat menjadi progresif menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf,
mata dan anggota gerak. Strategi global WHO menetapkan indicator eliminasi kusta adalah angka
penemuan penderita/new case detection rate (NCDR). Dengan NCDR 0,1 per 10.000 penduduk berarti
Kabupaten Lombok Timur sudah dapat dikatagorikan sebagai daerah rendah kusta dengan mengacu
pada indicator pusat bahwa daerah dengan NCDR 0,50 per 10.000 penduduk sudah dapat dikatakan
sebagai daerah rendah kusta. A n g k a p e n e m u a n k a s u s b a r u ( C D R = c a s e d e t e c t i o n
r a t e ) Adalah Jumlah kasus yang baru ditemukan pada periode satu tahun per
100.000 penduduk. Me r u p a k a n indikator yang paling bermanfaat dalam
m e n e t a p k a n b e s a r a n m asalah dan transmisi yang sedang berlangsung. Selain itu
Juga dipergunakan untuk menghitung jumlah kebutuhan obat serta menunjukkan aktivitas program.
Pada tahun 2017 jumlah kasus yang ditemukan sebnayak 1 kasus atau 2.51%.

Laporan Profil PKM Suela 2017 (12 )


2. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)
Untuk mencegah supaya tidak terjadi kasus penyakit ada beberapa langkah yang dapat
dilakukan. Salah satunya adalah dengan imunisasi. Beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi antara lain:
a) T e tan u s N e o n a t o r u m
Tetanus neonatorum (TN) disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang masuk ke tubuh melalui
luka. Penyakit ini dapat menginfeksi bayi baru lahir apabila pemotongan tali pusat tidak dilakukan dengan
steril. Pada tahun 2017 di Kecamatan Suela tidak ditemukan kejadian tetanus neonatorum.
b) Po l i o m y elitis dan Ac u t e F l a ccid P ara l y sis (A F P ) / L u m p u h L ayuh Ak u t
Penyakit poliomyelitis merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Penyebab penyakit tersebut adalah virus polio yang menyerang system syaraf hingga penderita
mengalami kelumpuhan. Kelompok umur 0-3 tahun merupakan kelompok umur yang paling sering
diserang penyakit ini, dengan gejala demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher dan sakit di tungkai
dan lengan.
AFP merupakan kondisi abnormal ketika seseorang mengalami penurunan kekuatan otot tanpa
penyebab yang jelas dan kemudian berakhir dengan kelumpuhan. Ditjen PP&PL Kementrian Kesehatan
RI menetapkan indikator surveilans AFP yaitu ditemukannya Non Polio AFP Rate minimal sebesar
2/100.000 anak usia < 15 tahun. Hasil surveilens aktif pada tahun 2016 sd/ 2017 di Kecamatan Suela
kasus penemuan AFP tidak ada. Selama dua tahun terakhir kejadian AFP tetap dapat dipertahankan yaitu
nol anak < 15 tahun. Non Polio AFP Rate di kecamatan suela tahun 2017 adalah sebesar nol anak < 15
tahun. Hal ini menunjukkan kinerja surveilans AFP di Puskesmas Suela sudah baik.
c) Ca m p ak
Penyakit campak adalah penyakit akut yang mudah menular baik pada balita, anak-anak maupun
orang dewasa yang disebabkan oleh virus campak. Penularan campak dapat terjadi melalui udara yang
terkontaminasi dan secret orang yang terinfeksi. Prevalensi penyakit campak di masyarakat dalam dua
tahun terakhir sudah bisa ditekan. Pada tahun 2016 sampai dengan tahun 2017 di Kevcamatan Suela
ditemukan kejadian campak. Keberhasilan menekan kasus campak tidak terlepas dari pelaksanaan
imunisasi campak secara rutin baik di tingkat Puskesmas dan sarana kesehatan lainnya, penyediaan
sarana vaksin yang sudah memadai, tenaga yang mencukupi serta kesadaran masyarakat untuk
mendapatkan imunisasi campak bagi bayi/balitanya.\
3. Penyakit berpotensi KLB/Wabah
a) Demam B erd a rah D en gu e ( D B D )
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan
ditularkan oleh vector nyamuk aedes aegypty. Indonesia merupakan negara tropis yang secara umum
mempunyai risiko terjangkit penyakit DBD, karena vektor penyebabnya yaitu nyamuk Aedes aegypti
tersebar luas di kawasan pemukiman maupun tempat-tempat umum, kecuali wilayah yang terletak pada
ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Serangan penyakit DBD berimplikasi luas
terhadap kerugian material dan moral berupa biaya rumah sakit dan pengobatan pasien, kehilangan
produktivitas kerja dan yang paling fatal adalah kehilangan nyawa. Perjalanan Penyakit Demam Berdarah
Dengue (DBD) cepat dan dapat mengakibatkan kematian dalam waktu singkat. Penyakit ini merupakan
penyakit menular yang sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia.
Kecamatan Suela merupakan daerah non endemis DBD baik tingkat desanya maupun kecamatan,
karena selama dua tahun berturut – turut tida ada laporan adanya kasus DBD. Untuk daerah endemis

Laporan Profil PKM Suela 2017 (13 )


kriteria kejadian luar biasa (KLB) DBD adalah terjadinya satu kematian akibat DBD dan terjadinya
peningkatan kasus secara bermakna 2 kali lipat dari periode sebelumnya. Jumlah kasus DBD pada tahun
2017 adalah 0 kasus.
C. Status Gizi
Jumlah kasus gizi buruk yang ditemukan dan ditangani pada tahun 2017 adalah sebanyak
8 kasus, dimana dari semua kasus tersebut semua dengan komplikasi, antara lain pneumonia,
jantung bawaan, diare dan lain-lain.

Laporan Profil PKM Suela 2017 (14 )


BAB III
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

A. SARANA
Fasilitas kesehatan dan pendidikan yang ada di wilayah Puskesmas Suela adalah :
Tabel 3. Fasilitas kesehatan dan pendidikan wilayah Kecamatan Suela
N
Nama Sarana Jumlah Keterangan
o
1 Puskesmas Pembantu 6
2 Poskesdes 11
3 Posyandu 71
4 Klinik Bersalin 0
7 SD/MI 43 Suela 5 SD/MI, Sapit 3
SD/MI, Suntalangu 9
SD/MI, Ketangga 7
SD/MI, Selaparang 5
SD/MI, Perigi 6 SD/MI,
Jeringo 3 SD/MI,
Mekarsari 5 SD/MI
8 SMP/MTs 18 Sapit 1 SMP/MTs, Suela
3 SMP/MTs, Suntalangu 3
SMP/MTs, Ketangga 2
MTs/SMPI, Perigi 5
SMP/MTs, Selaparang 1
SMPsatap, Mekarsari 3
SMP/MTs,
9 SMA 8 Suela 3 SMA/MA,
Suntalangu 1 MA, Perigi
3 SMA/MA, Mekarsari 1
MA, Jeringo 1 SMA,
Ketangga 1 MA
10 TK 12
11 PAUD 10

Tabel 4. Data UKBM (Upaya Kesehatan Bersumberdaya Manusia) di UPTD Puskesmas Suela Tahun 2017
No Nama Desa Posyandu Posbindu PTM Pos Lansia
1 Sapit 6 0 1
2 Suela 11 2 1
3 Suntalangu 11 2 1
4 Ketangga 9 0 1
5 Selaparang 7 0 1
6 Perigi 14 0 1
7 Mekarsari 9 0 1
8 Jeringo 4 0 1
Total 71 4 8

Laporan Profil PKM Suela 2017 (15 )


Tabel 5. Data Posyandu di UPTD Puskesmas Suela Tahun 2017
Tingkatan Posyandu
Jumlah
No Nama Gampong Mady Purnam Mandir
Posyandu Pratama
a a i
1 Sapit 6 1 3 1 1
2 Suela 11 1 8 1 1
3 Suntalangu 11 1 5 4 1
4 Ketangga 9 1 6 2 0
5 Selaparang 7 2 4 1 0
6 Perigi 14 2 10 2 0
7 Mekarsari 9 2 5 2 0
8 Jeringo 4 2 2 0 0
Total 16 12 43 13 3

Tabel 6: Kondisi Fasilitas Sarana dan Prasarana Pada Puskesmas Suela Tahun 2017
KONDISI
JUMLA RUSAK
NO SARANA/PRASARANA RUSAK RUSAK
H BAIK SEDAN
RINGAN BERAT
G
I Sarana Kesehatan
a. Puskesmas Pembantu 6 0 2 3 1
b. Polindes 11 11 0 0 0
c. Rumah Dinas Dokter 1 0 0 1 0
d. Rumah Dinas Perawat 1 0 1 0 0
e. Rumah Dinas Bidan 1 1 0 0 0
f. Puskel Roda 4 0 0 0 0 0
g. Ambulance 1 1 0 0 0
h. Sepeda Motor 13 0 1 1 1
i. Genset 2 1 0 1 0
j. Ruang Nifas 1 1 0 0 0
k. Ruang IGD 1 1 0 0 0
l. Ruang Rawat Inap 1 1 0 0 0
j. Tempat Tidur Pasien 20 20 0 0 0
II Sarana Penunjang
a. Komputer 12 10 0 0 2
b. Mesin Ketik 0 0 0 0 0
c. Laptop 3 3 0 0 0

B. TENAGA KESEHATAN
Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam kesehatan serta memiliki
pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Situasi ketenagaan di Puskesmas Suela setiap tahun selalu
berubah karena adanya pegawai yang masuk dan yang pindah. Keadan ketenagaan pada bulan Desember 2017
dapat dilihat pada Tabel dibawah ini :

Laporan Profil PKM Suela 2017 (16 )


Tabel 7: Data Jumlah Tenaga berdasarkan Pendidikan Pada Puskesmas Suela Tahun 2017
Kebutuhan
Kesesuaian Kesesuaian
N (berdasarkan
Jenis Tenaga Persyaratan terhadap terhadap
o analisis beban
Kebutuhan Persyaratan
kerja)
1 Dokter Umum 2 S1 Kedokteran Sesuai Sesuai
2 Dokter gigi 0 S1 kedokteran Tidak Sesuai Tidak Sesuai
Gigi
3 Perawat 28 S1 Keperawatan Tdk sesuai ( 2 TDK Sesuai
D3 Keperawatan org SPK)
4 Bidan 22 D3 Kebidanan sesuai Sesuai
5 Kesehatan masyarakat 1 Sarjana Sesuai Sesuai
Kesehatan
Masyarakat
6 Perawat gigi 1 D3 gigi Sesuai Sesuai
7 Analis 1 D3 analis Sesuai Sesuai
8 Apoteker 0 S1 Farmasi Tdk Sesuai Tdk Sesuai
9 Asisten apoteker 1 Minimal SMF Sesuai Sesuai
10 Nutrisionis S1 Sains
3 D3 Gizi Sesuai Sesuai
11 Sanitarian 3 D3 Kesling Sesuai Sesuai
12 Tenaga administrasi 4 Minimal SMA sesuai Sesuai
13 Sopir 1 SMA Sesuai Sesuai
14 Penjaga malam 1 SMP Tdk Sesuai Sesuai
15 Cleaning service 1 SMP Tdk Sesuai Sesuai
16 Satpam 0 SMA Tdk Sesuai Tdk Sesuai
17 Rekam Medik 0 DIII Manajemen Tidak sesuai Tidak Sesuai
RS ( Tidak ada)

Kepegawaian (Personalia) Kegiatan ini penting untuk meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan
pegawai yang pada akhirnya akan berdampak pada meningkatnya kualitas pelayanan kepada masyarakat. Melalui
kegiatan ini diharapkan urusan kepegawaian berupa kenaikan pangkat, kenaikan gaji berkala, usulan CPNS
menjadi PNS, penilaian DP3, angka kredit, pendataan pegawai dan sebagainya akan terkelola secara baik.
Sebagai bahan acuan urusan kepegawaian disusun Daftar Urutan Kepangkatan Puskesmas Suela tahun 2017

C. PEMBIAYAAN KESEHATAN
Pengelolaan Keuangan bertujuan sebagai manajemen keuangan Puskesmas Suela secara baik, efektif
dan efisien sehingga pelaksanaan program benar-benar dapat dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan.
Kegiatan tersebut meliputi : inventaris sumber-sumber dana, penggunaan dana (pengeluaran dan pemasukan) dan
pertanggung jawaban (SPJ) keuangan baik secara administratif dan atau operasionalnya. Jadi semuanya harus
dibukukan secara lengkap dan diarsipkan. Adapun sumber dana yang dimiliki oleh puskesmas antara lain :
• Dana BOK Puskesmas Suela Tahun 2017 (APBN)
• Dana Kapitasi Tahun 2017 (APBN )
• Dana Operasional Puskesmas 2017 (APBD II)
• Kleman Dana Non Kapitasi Tahun 2017 (APBN).
• Kleman Dana Banpersal (Bantuan Persalinan) untuk ibu hamil yg tidak tercantum dalam Program
Jamkesmas (APBD II ).

Laporan Profil PKM Suela 2017 (17 )


Tabel 8: Sumber, Jumlah, Pemakaian dan Sisa Dana Puskesmas Suela Tahun 2017
JUMLAH DANA
NO SUMBER DANA PEMAKAIAN (Rp) SISA (Rp)
(Rp)
1. KAPITASI 2.442.722.512 2.108.636.733 334.085.779
NON KAPITASI (Klaim
2. 381.477.000 381.477.000
Jamkesmas dan Jampersal) -
Bantuan Oprasional Kesehatan
4. 569.220.000 569.220.000
(BOK ) -
5. Dana Operasional (DOP) - -
-
BANPERSAL (Bantuan
6 16.950.000 16.950.000
Persalinan) -
7 Penegembalian Retribusi 126.000.000 126.000.000
-
JUMLAH 3.536.369.512 3.202.283.733 334.085.779
(Sumber : Data Keuangan Puskesmas Suela 2017).

Laporan Profil PKM Suela 2017 (18 )


BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Berdasarkan pada uraian-uraian sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan:
1. Kegiatan pelayanan dan program Puskesmas Suela beserta hasil dan pembahasannya telah
dipaparkan secara singkat. Cakupan program yang sudah baik agar dipertahankan dan bisa lebih
ditingkatkan lagi.
2. Beberapa jenis program cakupannya masih di bawah standar disebabkan karena keaktifan
programer yang kurang serta kondisi geografis dan faktor sosial masyarakat serta dukungan lintas
sektoral yang perlu terus ditingkatkan.
3. Faktor kompetensi tenaga pelaksana program sangat dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan
pelayanan, kegiatan program serta administrasi dalam pencatatan dan pelaporan hasil
kegiatan/pelayanan.

B. SARAN - SARAN
1. Penyusunan Laporan Profil Puskesmas Suela ini masih sederhana dan belum sempurna, karena
itu segala saran, kritik dan sumbangan pemikiran untuk penyempurnaan sangat kami harapkan.
2. Mengingat gedung Puskesmas Suela khususnya ruang program, rumah dinas dokter serta
paramedis dan beberapa Pustu dan Poskesdes kondisi bangunan fisiknya sudah cukup tua/belum
ada perbaikan, maka kiranya perlu ditingkatkan fasilitas sarana dan prasarana termasuk sumber
daya manusia atau ketenagaannya.
3. Perlu dilakukan pelatihan tambahan terutama bagi petugas (setiap programer) agar memahami
tanggung jawabnya perlu dilakukan pelatihan
4. Pendanaan baik yang bersumber dari Kapitasi, BOK dan JKN serta APBD I maupun APBD II
untuk tetap ditingkatkan sehingga bisa menunjang keberhasilan program yang ada.

Suela. Januari 2018


Kepala Puskesmas Suela

(MUHAMMAD AZWARDI, S.Kep)


NIP. 19720501 199603 1 002

Laporan Profil PKM Suela 2017 (19 )


KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh


Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa, penyusunan “Profil Kesehatan
Puskesmas Suela tahun 2017” dapat diselesaikan dengan baik. Profil Kesehatan Puskesmas adalah salah satu
sarana yang dapat digunakan untuk melaporkan pemantauan dan evaluasi terhadap pencapaian hasil
pembangunan kesehatan, termasuk kinerja dari penyelenggaraan pelayanan minimal di bidang kesehatan di
Puskesmas Suela. Profil Kesehatan Puskesmas ini pada intinya berisi berbagai data / informasi yang
menggambarkan situasi dan kondisi kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Suela, yang dapat menjadi
bahan masukan dalam penyusunan perencanaan di masa yang akan datang.
Landasan dalam penyusunan Profil Kesehatan ini adalah semua kegiatan pada jenis-jenis pelayanan
kesehatan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM), serta hasil cakupan / pencapaian dari program
kesehatan yang ada di Puskesmas Suela, Poskesdes dan Puskesmas Pembantu yang ada di wilayah Puskesmas
Suela
Kami menyadari bahwa profil kesehatan ini masih banyak kekurangan terutama masih sulitnya
memperoleh data yang valid dan akurat dari berbagai sumber. Namun kami yakin, masalah ini akan dapat diatasi
dengan upaya melakukan optimalisasi tugas dan fungsi masing-masing pengelola program di Puskesmas, Bidan
Desa dan Penanggung Jawab Pustu.
Dengan tersusunnya Profil Kesehatan Puskesmas Suela ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua
pihak dan untuk penyempurnaan di masa yang akan datang, saran dan pendapat sangat kami harapkan sehingga
profil ini dapat menjadi lebih baik khususnya dalam upaya mendapatkan data, informasi yang akurat, tepat waktu
dan sesuai dengan kebutuhan.
Akhir kata, atas perhatian dan kerjasama yang baik dari semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan Profil Kesehatan Puskesmas Suela Tahun 2017 terutama dari seluruh staf Puskesmas Suela, kami
ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Suela. Januari 2018


Kepala Puskesmas Suela

(MUHAMMAD AZWARDI, S.Kep)


NIP. 19720501 199603 1 002

Laporan Profil PKM Suela 2017 (20 )


DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii

BAB I : PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang ….…………………………………………… 1
B. Tujuan Pelaporan .…………………………………………… 1
C. Kondisi Geografis.…………………………………………… 1
D. Kependudukan .…………………………………………… 1

BAB II : SITUASI DERAJAT KESEHATAN 2


A. Mortalitas ……………………………………………. 7
B. Morbiditas ……………………………………........... 9

BAB III : KEGIATAN ADMINISTRATIF


A. Ketatausahaan (TU) ……………………………………………. 6
B. Kegiatan Pencatatan dan Pelaporan …………………………. 7
C. Perencanaan …………………………………………………….. 7

BAB IV : UPAYA KEGIATAN PROGRAM


A. Pelayanan Medis dan Non Medis …………………………….. 8
B. Upaya Kegiatan Program ……………………………………… 8

BAB V : HASIL KEGIATAN PROGRAM & PEMBAHASAN 13


A. Kesehatan Ibu & Anak (KIA) dan KB ………………………… 13
B. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat …………………………... 14
C. Pengendalian Penyakit ………………………………………… 15
D. Upaya Pengobatan …………………………………………...... 16
E. Upaya Promosi Kesehatan ………………………………….... 16
F. Kesehatan Lingkungan ………………………………….......... 17
G. Upaya Kesehatan Pengembangan …………………………... 18
BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN 21
A. Kesimpulan ………………………………………………………. 21
B. Saran …………………………………………………………….. 21

Laporan Profil PKM Suela 2017 (21 )