Anda di halaman 1dari 17

PENOLOGI1

Oleh :

I Wayan Puspa, SH.,MH.

1. PENDAHULUAN
• Francis Lieber, dalam Enciclopedia Americana, orang yang pertama
menggunakan istilah Penology.
• Penology berasal dari kata poena yang berarti pain (kesakitan) atau
suffering (penderitaan), sedang logy berasal dari logos = ilmu
pengetahuan.
• Menurut Francis Lieber, PENOLOGY adalah bagian dari ilmu
pengetahuan Kriminologi yang mempelajari dasar-dasar
pelaksanaan pemberian hukuman (dengan perkembangan sistem
dan tujuannya) dan pengelolaan urusan kepenjaraan dengan unit-
unit lembaganya.
Dasar-dasar cara melaksanakan pemberian hukuman dalam hal ini
hukuman itu berwujud hukuman penjara atau hukuman hilang
kemerdekaan, dengan segala bentuk, sifat, sistem dan tujuannya
serta pengelolaan urusan kepenjaraan dengan unit-unit lembaganya.
Catatan :
• Bagian-bagian Kriminologi :
1. Antropologi kriminil.
2. Sosiologi kriminil.
3. Psikologi kriminil.
4. Psiko dan neuropathologi
5. Penologi.
6. Statistik kriminil.
• Beberapa istilah :
1. Narapidana : sama dengan orang hukuman, yaitu sekalian
orang-orang yang sedang menjalani hukuman penjara/

1
Materi Kuliah Disampaikan di Semester VIII Fakultas Hukum Universitas 45 Mataram
kurungan atas dasar suatu keputusan hakim yang sudah
menjadi tetap
2. Terpidana : belum tentu menjalani hukumannya di penjara.
3. Orang-orang terpenjara : sekalian orang-orang yang
dimasukkan dalam penjara atas dasar suatu surat perintah
yang sah dari yang berwajib.
4. Orang-orang tahanan : orang yang ditahan oleh
Jaksa/Hakim karena tuduhan/disangka menjalankan
sesuatu yang melanggar hukum, sementara menungu
keputusan hakim.
2. Perbuatan jahat /Kejahatan (crime).
1. Menurut kitab suci, pelanggaran, dapat digolongkan sebagai
perbuatan jahat, yaitu perbuatan yang melanggar perintah Tuhan.
2. Kejahatan adalah tingkah laku manusia yang digolongkan sebagai
perbuatan yang tidak disenangi, sedangkan penilaian diberikan
oleh kelompok masyarakat yang terbatas maupun masyarakat
yang lebih luas.
3. Menurut Paul Tapan : crime as a legal concept
4. Dalam Enciclopedia Americana : crime are acts that are legaly
forbidden by society.
5. Menurut Soehardjo Sastrosoehardjo, penjelasan tentang kejahatan
dapat ditinjau dari segi :
a. Yuridisch positief starfrechtelijke
Hanyalah perbuatan yang dinyatakan dalam ketentuan hukum
pidana sebagai perbuatan yang dilarang dengan memberikan
ancaman berupa pidana yang dapat dikenakan terhadap diri
(kebebasan) maupun terhadap harta benda orang yang
melakukan perbuatan itu.
b. Ilmu pengetahuan hukum pidana
Perbuatan yang mengandung 2 (dua) unsur :
1) Kesalahandalam arti sengaja atau lalai
2) Sifat melawan hukum. Pengertian crime yang kedua ini
mengandung 2 (dua) dimensi yaitu individu padanya harus

2
nyata-nyata ada kesalahan atau bahwa perbuatan itu dapat
dipertanggung jawabkan.; masyarakat yang menentukan
perbuatan-perbuatan manakah yang dianggap melawan
hukum
c. Ilmu kejahatan (Criminology).
Crime bukan sebagai abstraksi yuridis, tetapi sebagai suatu
perbuatan manusia, suatu kenyataan alam dan masyarakat.
6. Kejahatan menurut hukum pidana : suatu perbuatan yang
dilarang dan ada ancaman terhadap diri dan harta benda orang
yang melakukan perbuatan terlarang tersebut.
7. Syarat-syarat terjadinya perbuatan terlarang :
a. Si pelaku, menurut hukum cukup dewasa, sehingga perbuatan
itu dapat dipertanggung jawabkan.
b. Tindakan /perbuatan melanggar hukum tersebut harus bersifat
dari kehendak hati nurani si pembuat tanpa paksaan (ada
unsur sengaja atau kelalaian)
c. Perbuatan si pelaku tersebut harus dinilai tidak hanya terbatas
pada kerugian individu melainkan juga kerugian negara serta
pertimbangan keadilan lainnya.
8. Van Bemmelen : perkosaan terhadap perasaan kegelisahaan yang
sangat dalam masyarakat.
9. Barner and Teerters : kejahatan akan selalu ada seperti penyakit
dan kematian yang selalu berulang seperti halnya dengan musim
yang akan berganti-ganti dari tahun ke tahun.
10. Paul Moedikdo Moeliono : Kejahatan adalah perbuatan
pelanggaran hukum yang ditafsirkan atau patut ditafsirkan
masyarakat sebagai perbuatan yang merugikan, menjengkelkan
sehingga tidak boleh dibiarkan (negara bertindak).
11. Soedjono D : pengertian kejahatan dipandang dari sudut sosiologis
bersifat subjektif.

3
3. Kadar perbuatan jahat :
Dalam bidang Penologi segala tafsiran mengenai arti kejahatan,
perbuatan jahat dan penjahat harus ditafsirkan dengan landasan
ilmu-ilmu pembantu lainnya sehingga penafsiran itu mendekati
kenyataan yang sebenarnya.
Orang yang bergerak dalam bidang Penologi sudah seharusnya tidak
lagi menggunakan atau menyebutkan penjahat, criminal, melainkan
menyebut terpidana atau narapidana dengan hukuman yang
diberikan, cocok atau tidak, tepat atau tidak,tetapi arti yang umum
orang yang terkena pidana.. Ringan atau berat hukuman yang
diberikan, cocok atau tidak, tepat atau tidak pidana yang dikenakan
itu tidak dapat dipersoalkan, tetapi yang penting kadar kesalahan
harus mendapat perhatian.
Kadar kejahatan merupakan suatu hal yang abstrak, tidak
dapat diraba, tetapi dapat dirasakan atau diduga.
Mengabstraksi kadar kesalahan/perbuatan itu perlu untuk
mengadakan pendekatan (approach) dalam pembinaan bimbingan.

4. Kejahatan dan Pelanggaran

• Di Indonesia, dalam arti yuridis, maka istilah kejahatan, dapat


dibaca seperti yang tercantum dalam KUHP, meskipun perbedaan
yang jelas antara kejahatan dan pelanggaran. Kejahatan adalah
delik hukum, sedang pelanggaran adalah delik undang-undang.
• Delik hukum, peristiwa-peristiwa yang bertentangan dengan asas-
asas hukum yang hidup dalam keyakinan rakyat, terlepas dari
undang-undang. Kejahatan-kejahatan itu pantas dijatuhi hukuman,
walaupun sekiranya menurut undang-undang tak dapat dihukum.
• Pelanggaran, adalah delik undang-undang, peristiwa yang dilarang
oleh undang-undang demi kesejahteraan umum, tetapi tidak
bertentangan dengan keadaran hukum dan rakyat.

4
PENANGGULANGAN KEJAHATAN

1. Pada aliran penologi klasik menitik beratkan pada punishment,


sedangkan pada aliran penologi modern bukan punishment melainkan
orang-orang jahat tidak boleh dihukum tetapi biasanya disebut
pembinaan atau perlakuan yang berarti suatu upaya positif untuk
memperbaiki si pelanggar hukum. Perlakuan yang bersifat positif
dalam Sistem Pemasyarakatan berarti membina dan mendidik.
2. Dalam Sistem Pemasyarakatan, terhadap para TAHANAN yang
menunggu proses peradilan diberlakukan pembinaan atas asas
praduga tak bersalah, yaitu disebut PERAWATAN, dan terhadap
NARAPIDANA disebut dengan istilah PEMBINAAN, sedangkan KLIEN
adalah golongan yang dibina di luar gedung Lembaga
Pemasyarakatan (LAPAS) karena telah mendapat kesempatan
Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, hukuman percobaan,
perlakuannya disebut BIMBINGAN.
3. Dalam upaya pembinaan si pelanggar hukum dikenal pola penekanan
sebagai berikut :
a. Pembinaan dengan pola hukum legal, yaitu menitik beratkan
pada pelanggaran hukum (legal models).
b. Pembinaan dengan pola medis, yaitu pola yang menitik
beratkan pada kelainan-kelainan, penyimpangan (dianggap
penyakit) terhadap individu pelanggar hukum (medical models).
c. Pola pembinaan dengan Sistem Pemasyarakatan, yaitu pola
yang mengkaitkan tidak hanya terbatas pada pola hukum atau
medis tetapi juga mengikut sertakan unsur-unsur yang lebih
luas menyeluruh mulai dari unsur-unsur yang bertugas dalam
penyelesaian urusan kriminil seperti jaksa, hakim, polisi,
korban perbuatan, si pembuat kejahatan maupun masyarakat
luas. Dengan kata lain pembinaan yang dilaksanakan secara
terpadu antara Pembina, yang dibina dan masyarakat untuk
meningkatkan kualitas Warga Binaan Pemasyarakatan.

5
Sistem Pemasyarakatan lebih ditekankan pada aspek
pembinaan narapidana, anak didik pemasyarakatan atau klien
pemasyarakatan yang mempunyai ciri-ciri preventif, kuratif,
rehabilitatif dan edukatif.
Sistem Pemasyarakatan di samping bertujuan untuk
mengembalikan Warga Binaan Pemasyarakatan sebagai warga
yang baik, juga bertujuan untuk melindungi masyarakat
terhadap kemungkinan diulanginya tindak pidana oleh Warga
Binaan Pemasyarakatan, serta merupakan penerapan dan
bagian yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai yang terkandung
dalam pancasila.
Warga Binaan Pemasyarakatan adalah Narapidana, Anak
didik Pemasyarakatan dan Klien Pemasyarakatan
Anak didik pemasyarakatan terdiri dari :
a. Anak Pidana adalah anak yang berdasarkan putusan
pengadilan menjalani pidana di Lembaga
Pemasyarakatan anak, paling lama sampai berumur
18 th.
b. Anak negara adalah anak yang berdasarkan putusan
pengadilan diserahkan kepada negara untuk dididik
dan di tempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Anak
paling lama sampai berumur 18 th.
c. Anak sipil adalah anak atas permintaan orang tua
atau walinya memperoleh penetapan pengadilan
untuk dididik di Lembaga Pemasyarakatan Anak
paling lama sampai berumur 18 th.
Klien Pemasyarakatan adalah seseorang yang berada
dalam bimbingan Balai Pemasyarakatan (BAPAS). Bapas
adalah pranata untuk melaksanakan bimbingan klien
pemasyarakatan, sedangkan LAPAS adalah tempat untuk
melaksanakan pembinaan narapidana dan anak didik
pemasyarakatan.

6
d. Kekurangan pola legal model ialah terlalu menekankan pada
segi perbuatan melanggar hukum saja sehingga akan
menempatkan posisi individu pelanggar disama ratakan. Hal ini
akan menimbulkan depersonalisasi.
e. Kekurangan pola medical models adalah terpusatnya pada
individu pelanggar hukum sehingga faktor perbuatannya
diabaikan dan memandang si pelanggar hukum seperti orang
sakit yang akan disembuhkan.
f. Pola legal model dan medical model semuanya terpusat pada
individu si pelanggar hukum yang tidak memperhatikan
lingkungan atau konteks sosial di mana si pelanggar hukum
berada. Individu si pelanggar hukum seakan-akan terpojok
sendiri sehingga pada akhirnya orang memberi suatu ciri atau
label, etiket, cap tertentu terhadap si pelanggar hukum. Akibat
dari ciri tersebut maka secara berkepanjangan si pelanggar
hukum dipandang negatif dan masyarakat selalu berprasangka
(prejudice).
4. Pola pembinaan yang mutakhir adalah dengan memanfaatkan
perkembangan ilmu jiwa, psikiatri, phisiologi, sosiologi, dan ilmu
sosial lainnya serta metode penyelidikan ilmiah.
5. Puncak aliran modern tersebutlah teori : ”defence social“, dari Filipo
Gramatica dan Marc Ancel. Marc Ancel sendiri menyebut teorinya
dengan “defence sociale nouvelle”.
6. Filipo Gramatica berpandangan lebih ektrim : menghendaki hukum
pidana harus diganti dengan sistem tindakan-tindakan perlindungan
masyarakat. Istilah penjahat (deliquent), tindak pidana harus dibuang
jauh-jauh. Tercelanya perbuatan tertentu harus diukur dengan
berbahayanya si pembuat terhadap masyarakat dengan melihat
perbuatannya, dan harus ditanggulangi dengan sistem tindakan,
yang semata-mata bersifat preventie special yang sesuai dengan
kepribadian si pembuat dan bertujuan untuk sedapat mungkin
mengintegrasikan orang yang telah mengabaikan masyarakat,
kembali ke dalam masyarakat.

7
7. Marc Ancel, menghendaki individualisasi dari pidana dan
resosisialisasi atau pemasyarakatan itu sendiri merupakan bentuk
umum untuk perlindungan kembali.
8. Gagasan Pemasyarakatan tidak dapat dilepaskan dari pemikiran
penologis dan criminologis yang terus berkembang itu.
9. Sesuai dengan perkembangan kegiatan lembaga kepenjaraan dapat
digolongkan dalam :
a. Kegiatan berlangsung di dalam tembok lembaga kepenjaraan
(Institutional treatment) atau pembinaan di dalam lembaga.
b. Kegiatan di luar tembok lembaga kepenjaraan (Non Institutional
treatment) atau pembinaan di luar lembaga.
c. Gabungan antara a dan b.
10. Dalam penologi sesuai dengan perkembangan zaman,
berkembanglah bermacam sistem dan istilah atau nama yang
maksudnya suatu lembaga atau badan yang mengurus orang-orang
terpenjara atau orang-orang yang dipidana.
a. Di Amerika, dikenal dengan Correctional Institution, Penitentiary,
Reformatory Camp.
b. Di Australia, selain nama Prison, terdapat juga nama Gaol,
Training Center, Half Way Home, Guidance house, hostel,
setlement, colony, Training School, farm, camp, guidance clinic.
c. Lembaga Kepenjaraan di Malaysia bernaung di bawah
Departemen Dalam Negeri, di Australia berada di bawah
Departemenn of Social Welfare, di Iran berada di bawah
Departemen Kepolisian, di Indonesia berada di bawah
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
d. Di Amerika, sebutan Corection, lebih populer daripada Penologi.
Corection pada pokoknya berarti memperbaiki (mengkoreksi)
tingkah laku anti sosial dan tidak menghukumnya.
11. Pelaksanaan perlakuan dalam sistem Penologi yang baru yang
sesuai dengan kemajuan sistem serta pandangan filsafatnya yang
terakhir dikehendaki :

8
a. perlakuan selalu didasarkan atas pandangan bahwa si pelaku
berbuat sebagai akibat dari sesuatu keadaan (anticedant
conditions)
b. Seseorang akan dibedakan dalam dua cara memperbaikinya
apabila tersebut tergolong berbahaya dan menjadikan masalah
sehingga diperlukan metode yang tepat demi untuk melindungi
masyarakat.
c. Perlakuan disesuaikan dengan kasus-kasus individu.
Perlakuan ditetapkan sebanyak mungkin melalui pendekatan
kelompok (group approach)
d. Perlakuan mempertimbangkan juga kejahatan berasal dari
alam sekitar, dalam kebudayaan pada umumnya di mana si
penjahat dan bukan penjahat dipisahkan.
e. Perlakuan hendaknya menerapkan ilmu pengetahuan yang
cocok dalam pelaksanaannya, karena kejahatan kelihatannya
seperti produksi tiruan dan asli.
12. Fungsi pokok lembaga Kepenjaraan di Indonesia dimulai sejak
kemerdekaan menurut Konfrensi Kepenjaraan di Sarangan Tahun
1956, pada pokoknya adalah : “terhadap orang hukuman hilang
kemerdekaan (bukan seumur hidup) tugas terakhir dari jawatan
kepenjaraan ialah mengembalikan orang hukuman itu ke
masyarakat sebagai anggotanya yang berguna dan menurut
hukum akal tidak akan melakukan lagi pelanggaran terhadap tata
hukum masyarakat ini”.

9
SITUASI KEHIDUPAN PENGHUNI (INMATES) DALAM TEMBOK
PENJARA (INSTITUSIONAL)

Kehidupan penghuni dalam tembok Lembaga Kepenjaraan, di mana-mana


tidak selalu merupakan situasi kehidupan yang sama, meskipun demikian
karena kehidupan dibentuk oleh tembok yang memisahkan diri dengan
masyarakat yang lebih luas serta mempunyai peraturan serta tata
kehidupan yang agak lain mengakibatkan adanya pengaruh terhadap sikap-
sikap kehidupan penghuni yang berada di dalamnya
Situasi serta sikap tingkah laku yang terbentuk karena adanya suatu
peraturan, pembatasan, pemisahan kamar-kamar, ditempatkan bersama-
sama dalam satu kamar, kecurigaan, dan lain-lain pesakitan sehingga
mempunyai ciri-ciri khusus dan hal ini lalu dikatakan ada persamaan.

Manusia dalam hidup dibekali suatu sikap atau reaksi terhadap suatu
rangsangan, reaksi tersebut berwujud positif (menerima), negatif (tidak
menerima atau menolak ) dan amorph (tidak berbentuk ragu-ragu terhadap
suatu rangsangan sehingga sukar untuk disebut menerima atau menolak
maupun netral.

Seeorang pelanggar hukum (the offender) apabila untuk pertamakalinya


menginjakkan kaki ke dalam tembok penjara, pada umunya akan terjadi
suatu moment yang kritis dan akan menonjol sikap-sikap kegagalan, rasa
rendah diri dan perasaan menolak (failure and defeat).

Sikap tersebut terbentuk dari pribadi masing-masing, bertopang pada latar


belakang situasi kehidupan masa lalu dan proses-proses lainnya yang
menyebabkan si pelanggar tersebut masuk penjara

Sikap-sikap golongan residivist, pencopet, pembunuh, perampok,


pemerkosa, kejahatan politik dan lain-lain pelanggaran dan tindak pidana
pada umumnya mengangap dirinya (atau mungkin juga tidak) sebagai
korban dalam percaturan hidup di dunia (bad break in the gamble of life).

10
Proses penyesuaian dengan kehidupan dalam tembok akan diserap oleh
setiap penghuni, meskipun penyerapan tersebut tidak selalu sempurna dan
kaidah-kaidah yang diserap tidak selalu berarti suatu nilai yang baik,
karena situasi kehidupan dalam tembok penjara, meskipun sudah ada
upaya untuk membentuk situasi yang baik, tetapi tidak selalu berhasil dan
wajar

Dalam membicarakan situasi tersebut selalu kita teringat ucapan atau


kejadian yang sebenarnya bahwa : “penjara adalaah sekolah tinggi
kejahatan”

Seorang penghuni baru akan menyerap situasi kehidupan yang diatur oleh
suatu peraturan tertulis maupun tidak tertulis serta suasana kehidupan
khusus yang terbentuk dengan sendirinya oleh penghuni dalam situasi dan
kondisi naungan tembok penjara.

Penahanan yang berlarut-larut dapat mematikan ketahanan


rohanaiah dari yang berangkutan, dan ketahanan rohaniah
ini sangat penting artinya tidak saja dalam menghadapi
penyelesaian perkaranya akan tetapi sangat penting artinya
dalam mengatasi pains of inprisonment nantinya kalau
sampai terjadi yang bersangkutan harus menjalani pidana

Kepedihan dalam penjara tidak semata-mata berwujud hilangnya


kemerdekaan saaja melainkan juga suatu bentuk kesakitan yang
terwujud karena hilangnya kemerdekaan itu, ialah kesakitan atau
kepedihan yang disebut M.sykes :
Loos of heterosexual relationship
Loos of autonomy
Loos of good and service and
Loos of security

11
Di samping kesakitan-kesakitan lainnya akibat dari moral rejection of
the inmates by society (prasangka buruk dari masyarakat)

Dengan keadaan inilah penghuni penjara harus menyesuaikan diri


dengan lingkungannya atau lingkungannya terbentuk dengan situasi
yang khusus karena kesakitan tersebut.

Proses penyerapan dan penyesuaian diri ini disebut PRISONIZATION


PROCCES (Proses penjaranisasi)
Sikap petugas untuk membantu proses penyerapan terhadap kaidah
yang baik

12
ISTILAH HUKUM PIDANA

Istilah hukum Pidana mengandung beberapa arti, yaitu pertama dari


sudut :
a. Hukum Pidana dalam arti objektif
Hukum Pidana dalam arti objektif yang disebut juga IUS POENALE,
yaitu sejumlah peraturan yang mengandung larangan atau keharusan-
keharusan dimana terhadap pelanggarannya diancam dengan hukuman.
IUS POENALE dapat dibagi dalam :
1. Hukum Pidana Materiil
Hukum Pidana materill berisikan peraturan tentang perbuatan yang
dapat diancam dengan hukuman (sytrafbare feiten); siapa-siapa yang
dapat dihukum (mengatur pertanggung jawaban terhadap hukum
pidana) dan hukuman apa yang dapat dijatuhkan terhadap orang
yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan undang-
undang. Hukum Pidana materiil disebut juga Hukum Pidana in
abstracto.
2. Hukum Pidana Formil
Hukum Pidana formil adalah sejumlah peraturan yang mengandung
cara-cara negara mempergunakan haknya untuk melaksanakan
hukuman. Hukum Pidana Formil disebut juga Hukum Pidana in
concreto
b. Hukum Pidana dalam arti subjektif.
Hukum Pidana dalam arti subjektif disebut IUS PUNIEDI, yaitu
sejumlah peraturan yang mengatur hak negara untuk menghukum
seseorang yang melakukan perbuatan yang dilarang.
Hak negara untuk menghukum :
1. Hak untuk mengancam perbuatan-perbuatan dengan hukuman yang
diselidiki oleh negara.
2. Hak untuk menjatuhkan hukuman.
3. Hak untuk melaksanakan hukuman.

13
Hubungan antara Hukum Pidana subjektif dan Hukum Pidana Objektif.
Hukum Pidana dalam arti subjektif yaitu hak negara untuk
menghukum, adalah bersandar pada Hukum pidana dalam arti objektif,
yaitu bahwa hak untuk menghukum itu harus timbul setelah di dalam
hukum pidana objektif ditentukan sejumlah perbuatan yang dapat diancam
dengan hukuman.
Negara tidak dapat menggunakan haknya dengan sewenang-wenang.
Jadi Hukum Pidana subjektif dibatasi oleh Hukum Pidana Objektif.

Hukum Pidana adalah Hukum Publik (Publiek Recht)


Yang dimaksud adalah hukum pidana mengatur hubungan antara
individu dengan masyarakat atau dengan negara.
Kebalikan dari Hukum Publik adalah Hukum Privat (Hukum
Perdata), yaitu mengatur hubungan antara individu.

Perbedaan antara Hukum Publik dan Hukum Perdata


1. Hukum Publik mengatur kepentingan umum, sedang Hukum Perdata
mengatur kepentingan perseorangan (kepentingan).
2. Hukum Publik mengatur hubungan-hubungan yang sub ordiner,
membawahi, di mana terdapat hierarki antara Negara dan penduduk
sedangkan Hukum Publik mengatur hubungan-hubungan yang
kedudukannya sejajar (kedudukan)
3. Hukum Publik harus dipertahankan oleh alat negara, sedang hukum
perdata bahwa yang ingin mempertahankannya diserahkan kepada
orang-orang yang berkepentingan sendiri.
4. Hukum Publik merupakan hukum khusus (IUS SPECIALE) yaitu
memberi kekuasan khusus kepada pemerintah untuk melakukan
suatu tindakan dan Hukum Perdata berlaku umum (IUS COMMUNE)
yaitu berlaku untuk pemerintah maupun untuk rakyat.

14
IUS COMMUNE DAN IUS SPECIALE
Menilik sifatnya Hukum Pidana juga merupakan hukum pidana
umum, dimana berlaku untuk setiap orang, dan hukum pidana khusus
yang berlaku untuk golongan orang-orang tertentu.

Hukum Pidana Yang dikodifikasikan adalah hukum pidana yang


dibukukan.
Hukum Pidana Yang tidak dikodifikasikan adalah hukum pidana yang
tidak dibukukan yaitu berupa undang-undang dan peraturan-peraturan
lainnya yang mengandung ketentuan hukum pidana.

HUKUM PIDANA YANG BERLAKU DI INDONESIA


IUS POENALE yang telah dijelaskan di atas berarti hukum pidana
dalam arti objektif yaitu hukum pidana yang berlaku di suatu tempat pada
suatu waktu. Undang-undang Hukum Pidana Hindia Belanda yang berlaku
di Indonesia pada saat pemulihan kedaulatan tetap berlaku. KUHP yang
berlaku sekarang merupakan hukum pidana pokok yang berlaku. Kita
masih menggunakan KUHP yang berasal dari pemerintah Hindia Belanda,
ini disebabkan karena sejak Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945
hingga sekarang kita belum sempat menyusun KUHP kita sendiri yang
bersifat nasional. Sekedar untuk menghindarkan diri dari kefakuman
hukum. Untuk menyusun KUHP yang bersifat nasional diperlukan waktu,
yang tidak mungkin diselenggarakan dalam beberapa bulan/beberapa
tahun yang membutuhkan keahlian, penelitian, dan ketentuan khusus.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA

Kita masih menggunakan Het Wetboek van Strafrecht voor Indonesie.


Berlaku asas : CONCORDANTIE BEGISEL (Asas Konkordansi), yang termuat
dalam Pasal 131 IS. Apa yang berlaku di Negeri Belanda, berlaku pula di
Hindia Belanda.

15
ASAS LEGALITAS
Syarat pertama untuk menindaklanjuti terhadap suatu perbuatan yang
tercela, yaitu adanya ketentuan dalam undang-undang pidana yang
merumuskan perbuatan yang tercela itu dan memberikan suatu sanksi
terhadapnya.

UNDANG-UNDANG DALAM ARTI MATERIIL DAN FORMIL


1. Undang-undang dalam arti materiil adalah peraturan yang dibuat oleh
badan pemerintah yang berwenang yang berlaku umum dan yang
mengikat penduduk.
2. Undang-undang dalam arti formal adalah undang-undang yang dibuat
berdasarkan cara yang telah ditentukan dalam UUD oleh pemerintah
dan DPR.

ARTI PASAL 1 KUHP


Suatu perbuatan dapat dipidana kalau termasuk ketentuan pidana
menurut undang-undang. Oleh karena itu pemidanaan berdasarkan
hukum tidak tertulis tidak dimungkinkan.
Ketentuan pidana harus lebih dahulu ada, daripada perbuatan
pidana itu. Oleh karena itu ketentuan pidana tidak berlaku surut, baik
ketetapan dapat dipidana maupun sanksinya.

BERBAGAI ASPEK ASAS LEGALITAS


1. Tidak dapat dipidana kecuali berdasarkan ketentuan pidana menurut
undang-undang.
2. Tidak ada penerapan undang-undang pidana berdasarkan analogi.
3. Tidak dapat dipidana hanya berdasarkan kebiasaan.
4. Tidak boleh ada perumusan delik yang kurang jelas.
5. Tidak ada kekuatan surut dari ketentuan pidana.
6. Tidak ada pidana lain kecuali yang ditentukan undang-undang.
7. Penuntutan pidana hanya menurut cara yang ditentukan undang-
undang.

16
PENJAHAT DAN JENIS PERBUATAN KEJAHATAN

1. Mereka yang telah diserahkan hakim untuk menjalankan hukuman


di lembaga kepenjaraan adalah mereka yang telah mendapat
keputusan pasti sebagai seorang terpidana, barulah patut
digolongkan sebagai penjahat.
2. Tipologi kejahatan atau jenis perbuatan juga memberikan nama
kepada penjahat itu.
Penjahat politik : melakukan kejahatan di bidang politik, penganiaya
atau pembunuh adalah kejahatan terhadap nyawa. Kejahatan
terhadap harta benda disebut pencuri, perampok, dsb.
3. Dalam KUHP tidak ada disebut penjahat tetapi kejahatan. Istilah-
istilah yang ada dalam KUHP : tersangka, terdakwa, terhukum,
terpidana, narapidana, orang hukuman.
4. Penjahat yang belum tertangkap : buronan, residivis : penjahat
kambuhan.

17