Anda di halaman 1dari 2

ni Potensi Kekayaan Aceh yang Melimpah

Jumat, 28 November 2014 14:30

ALLAH Swt memberi karunia sumber daya alam (SDA) yang sangat banyak kepada daerah Aceh.
Namun karena salah satu faktornya, yaitu ketidaksiapan sumber daya manusia (SDM) dalam
mengelolanya dengan baik sehingga dikuatirkan SDA yang ada justru menjadi petaka. Kondisi ini
dapat menyeret daerah Aceh menjadi lemah, tidak mandiri dan tergantung (dependent) pada
daerah lain, akhirnya justru muncul image yang kurang menguntungkan untuk Aceh.

“SDM yang lemah merupakan hasil dari rendahnya semangat masyarakatnya untuk mengkaji sains-
teknologi (ilmu kauniyah), serta rendahnya dukungan yang terstruktur dari pemegang otoritas.
Akibatnya tidak ada manajemen dalam perencanaan dan pengembangan yang utuh-menyeluruh
terhadap SDM di Aceh,” kata Dr Mustanir Yahya MSc, yang tampil di sesi ketiga (terakhir) dengan
makalah berjudul “Aceh dan Kebutuhan SDM Bidang Sains-Teknologi”.

Dosen Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) itu memaparkan bahwa Aceh sejak lama dikenal dengan
Serambi Mekkah dan sangat identik dengan Islam. Apalagi kemudian pemerintah pusat menetapkan
Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, sebagai pengganti dari Undang-
undang Nomor 18 Tahun 2001 yang mengamanahkan pelaksanaan syariat Islam secara kaffah.

“Adanya predikat keislaman, sesuatu yang sangat mulai ini, tentu diharapkan menjadi motivasi lebih
bagi Aceh untuk memantaskan diri lebih baik lagi agar dekat dan sesuai dengan sebutan ini. Apalagi
terkait dengan sesuatu hal yang sangat strategis yaitu SDM yang merupakan kunci keberhasilan
pembangunan suatu daerah,” kata Mustanir.

Aceh berpenduduk 4.597.308 jiwa dengan luas wilayah 57.365,57 km2 (2,88% luas Indonesia)
membentang dalam 6.770,81 Km2 memiliki 119 Pulau, 35 gunung, 73 sungai penting dan
mempunyai kekayaan alam yang berlimpah yang tersebar di 6.450 gampong. Potensi ini merupakan
suatu modal yang sangat penting bagi mendukung pelaksanaan pembangunan di Aceh menuju
masyarakat sejahtera. Namun faktanya rakyat Aceh belum mendapatkan kehidupan yang sepadan
dengan kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya.

Sejak dulu kala Aceh dikenal sebagai penghasil rempah dan ini pulalah yang menjadi salah satu
motivasi Portugis dan beberapa bangsa Eropa lain datang ke Aceh. Pada era setelah kemerdekaan
Republik Indonesia Aceh juga tampil dan dikenal sebagai daerah produksi pertanian, kawasan
kehutanan, penghasil mineral dan bahan bakar. Sebagai kawasan kepulauan yang beriklim tropis,
Aceh juga berpotensi dalam pengembangan bidang tanaman pangan, perkebunan, peternakan,
perikanan, dan pariwisata.

Bahkan Aceh sejak 1900 telah memulai usaha pertambangan umum. Daerah operasi minyak dan gas
di bagian utara dan timur meliputi daratan seluas 8.225,19 km² dan dilepas pantai Selat Malaka
38.122,68 km². Beberapa perusahaan migas yang mengeksploitasi tambang Aceh berdasarkan
kontrak bagi hasil (production sharing). Sementara endapan batubara terkonsentrasi pada Cekungan
Meulaboh di Kecamatan Kaway XVI Kabupaten Aceh Barat. Terdapat 15 lapisan batubara hingga
kedalaman 100 meter dengan ketebalan lapisan bekisar antara 0,5-9,5 m. Jumlah cadangan terunjuk
hingga kedalam 80 meter mencapai 500 juta ton, sedangkan cadangan hipotesis sekitar 1,7 miliar
ton .

Menariknya lagi hasil kajian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama lembaga
riset geologi dan kelautan Jerman (BGR) terhadap potensi minyak bumi dan gas (Migas) di timur laut
Pulau Simeulue yang diprediksi bisa menjadi penganti cadangan minyak Arun Aceh Utara. Cadangan
migas dalam jumlah raksasa di cekungan busur muka Simeulue yang terletak di lepas pantai sebelah
barat Aceh diperkirakan mencapai 320 milyar barrel. Jumlah ini sangat spektakuler untuk ukuran
cadangan pada cekungan di Indonesia, karena dibandingkan Saudi Arabia saja yang mempunyai
cekungan-cekungan raksasa dan cadangan terbesar di dunia, hanya mempunyai cadangan terbukti
sebesar 264,21 milyar barrel.

Provinsi Aceh ternyata juga memiliki beraneka ragam potensi sumber energi untuk pembangkit
tenaga listrik terdiri dari potensi air, panas bumi, batubara. Diperkirakan potensi sumber tenaga air
mencapai 2.626 MW yang tersebar di 15 lokasi di wilayah Aceh. Salah satu dari potensi tersebut
adalah PLTA Peusangan dengan daya sebesar 89 MW, di daerah Jambo Aye yang diperkirakan
mencapai 471 MW, Lawe Alas sebesar 268 MW, dan Tampur sebesar 126 MW. Disamping itu juga
terdapat potensi batubara yang dapat dikembangkan sebesar 1.300 juta ton. Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan bahwa Aceh memiliki 17 titik panas bumi yang dapat
dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga listrik.

Di samping berbagai kekayaan alam non logam di atas, Aceh juga memiliki macam-macam bahan
galian logam. Hasil inventarisasi Dinas Pertambangan Aceh bahwa daerah Menurut laporan Badan
Pertambangan dan Energi Aceh, daerah Aceh mempunyai 21 jenis bahan galian industri yang cukup
potensial dan sangat prospektif untuk dikembangkan dengan lokasi menyebar pada hampir semua
kabupaten/kota di Aceh.

Banyaknya sumber mineral atau hasil tambang bukan jaminan untuk mendapatkan pendapatan
guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Indikasi bahwa ekspor bahan mentah dan minimnya
upaya pengolahan atau kurangnya sentuhan teknologi guna meningkatkan nilai jual (value added)
terjadi pada berbagai komoditas bahan alam.(ask)

http://aceh.tribunnews.com/2014/11/28/ini-potensi-kekayaan-aceh-yang-melimpah