Anda di halaman 1dari 20

POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUTAN DI KOTA SABANG, PROPINSI

NANGGROE ACEH DARUSSALAM

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kota Sabang adalah salah satu kota di Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Kota ini
berupa kepulauan di seberang utara pulau Sumatera, dengan Pulau Weh sebagai pulau
terbesar. Kota Sabang merupakan zona ekonomi bebas Indonesia, ia sering disebut sebagai
titik paling barat Indonesia, tepatnya di Pulau Benggala. Kota Sabang telah dikenal luas
sebagai pelabuhan alam bernama Kolen Station oleh pemerintah kolonial Belanda sejak
tahun 1881. Pada tahun 1887, Firma Delange dibantu Sabang Haven memperoleh
kewenangan menambah, membangun fasilitas dan sarana penunjang pelabuhan (Gambar
1). Era pelabuhan bebas di Sabang dimulai pada tahun 1895, dikenal dengan istilah vrij
haven dan dikelola Maatschaappij Zeehaven en Kolen Station yang selanjutnya dikenal
dengan nama Sabang Maatschaappij. Perang Dunia II ikut mempengaruhi kondisi Sabang
dimana pada tahun 1942 Sabang diduduki pasukan Jepang, kemudian dibombardir pesawat
Sekutu dan mengalami kerusakan fisik hingga kemudian terpaksa ditutup.
Mengembangkan kembali Sabang. Disusul kemudian pada tahun 1998 Kota Sabang dan
Kecamatan Pulo Aceh dijadikan sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu
(KAPET) yang bersama-sama KAPET lainnya.diresmikan oleh Presiden BJ Habibie
dengan Keppes No. 171 tanggal 28 September 1998.

Era baru untuk Sabang, ketika pada tahun 2000 terjadi Pencanangan Sabang sebagai
Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas oleh Presiden KH. Abdurrahman Wahid di
Sabang dengan diterbitkannya Inpres No. 2 tahun 2000 pada tanggal 22 Januari 2000. Dan
kemudian diterbitkannya Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang No. 2 tahun 2000
tanggal 1 September 2000 selanjutnya disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang. Aktifitas Pelabuhan
Bebas dan Perdagangan Bebas Sabang pada tahun 2002 mulai berdenyut dengan masuknya
barang-barang dari luar negeri ke Kawasan Sabang. Tetapi pada tahun 2004 aktifitas ini
terhenti karena Aceh ditetapkan sebagai Daerah Darurat Militer.
Sabang juga mengalami Gempa dan Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, namun
karena palung-palung di Teluk Sabang yang sangat dalam mengakibatkan Sabang selamat dari
tsunami. Sehingga kemudian Sabang dijadikan sebagai tempat transit Udara dan Laut yang
membawa bantuan untuk korban tsunami di daratan Aceh. Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi
(BRR) Aceh-Nias menetapkan Sabang sebagai tempat transit untuk pengiriman material
kontruksi dan lainnya yang akan dipergunakan di daratan Aceh. Makalah ini dimaksudkan
untuk membahas potensi sumberdaya pesisir dan lautan Kota Sabang serta memberikan
rekomendasi pemanfaatannya.

Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Sabang menjadi pusat Pertahanan Angkatan
Laut Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan wewenang penuh dari pemerintah melalui
Keputusan Menteri Pertahanan RIS Nomor 9/MP/50. Semua aset Pelabuhan Sabang
Maatschaappij dibeli Pemerintah Indonesia. Kemudian pada tahun 1965 dibentuk
pemerintahan Kotapraja Sabang berdasarkan UU No 10/1965 dan dirintisnya gagasan awal
untuk membuka kembali sebagai Pelabuhan Bebas dan Kawasan Perdagangan Bebas. Gagasan
itu kemudian diwujudkan dan diperkuat dengan terbitnya UU No 3/1970 tentang Perdagangan
Bebas Sabang dan UU No 4/1970 tentang ditetapkannya Sabang sebagai Daerah Perdagangan
Bebas dan Pelabuhan Bebas.
Dan atas alasan pembukaan Pulau Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan
Pelabuhan Bebas Batam, Sabang terpaksa dimatikan berdasarkan UU No 10/1985. Kemudian
pada tahun 1993 dibentuk Kerja Sama Ekonomi Regional Indonesia-Malaysia-Thailand
Growth Triangle (IMT-GT) yang membuat Sabang sangat strategis dalam pengembangan
ekonomi di kawasan Asia Selatan. Pada tahun 1997 di Pantai Gapang, Sabang, berlangsung
Jambore Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang diprakarsai BPPT dengan fokus kajian
ingin
1.1.1 Geografi
Wilayah administrasi Kota Sabang, secara geografis, terletak di antara 95° 13' 02" dan
95° 22' 36" Bujur Timur, dan antara 05° 46' 28" dan 05° 54' 28" Lintang Utara (Gambar 3).
Dari segi geografis Indonesia, wilayah Kota Sabang merupakan wilayah administratif paling
barat, dan berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Malaysia, Thailand dan India.
Batas-batas wilayah Kota Sabang sebagai berikut :

Sebelah barat : Samudera Hindia


Sebelah timur : Selat Malaka
Sebelah utara : Selat Malaka
Sebelah selatan : Samudera Hindia.
Kota Sabang terdiri atas 5 (lima) buah pulau yaitu Pulau Weh (121 km2), Pulau Rubiah
(0,357 km2), Pulau Seulako (0,055 km2), Pulau Klah (0,186 km2), dan Pulau Rondo (0,650
km2). Di Pulau Weh terdapat sebuah danau air tawar bernama Aneuk Laot.
Wilayah Kota Sabang terbagi menjadi dua buah kecamatan yaitu Sukakarya dan
Sukajaya. Kecamatan Sukajaya terdiri dari 10 kelurahan, yaitu Kelurahan Paya, Keuneukai,
Beurawang, Jaboi, Balan, Cot Abeuk, Cot Ba'u, Anoi Itam, Ujong Kareung, dan Ie Meulee.
Sedangkan di Kecamatan Sukakarya terdapat 8 kelurahan, yaitu Kelurahan Iboih, Batee Shok,
Paya Seunara, Krueng Raya, Aneuk Laot, Kota Bawah Timur, Kota Bawah Barat, dan Kota
Atas.
Di antara bagian Barat dan Timur terdapat aliran dua buah sungai, yaitu Sungai Pria
Laot dan Sungai Raya.. Pulau Weh mengalami dua musim, yaitu musim hujan dan musim
kemarau. Musim hujan lazimnya jatuh pada bulan September sampai Pebruari. Musim kemarau
pada bulan Maret hingga bulan Agustus.

1.1.2 Demografi
Kota Sabang mempunyai jumlah penduduk 26.505 jiwa, yang terdiri dari 13.579 Laki-
laki dan 12.926 Perempuan. Pada kecamatan Sukajaya terdapat 12.348 jiwa, yang terdiri dari
6.385 Laki-laki dan 5.963 Perempuan. Sedangkan pada kecamatan Sukakarya terdapat 7.194
Laki-laki dan 6.963 Perempuan, sehingga total penduduk pada kecamatan ini 14.157 jiwa.
(BPS, 2003). Di wilayah Kota Sabang, terdapat beberapa kelompok etnis dimana antara satu
dan yang lainnya tidak jauh berbeda baik dalam kehidupan maupun dalam berbahasa. Pola
hidup pada umumnya memiliki kesamaan dengan pola hidup masyarakat Aceh di daratan.
Penduduk di wilayah ini pada umumnya bermata pencaharian dalam bidang Pertanian dan
Perikanan. Kemudian diikuti dengan Buruh, Perdagangan, Jasa, Angkutan, Pegawai, dan
lainnya.

1.1.3 Sosial Ekonomi


Di wilayah Kota Sabang, terdapat beberapa kelompok etnis dimana antara satu dan
yang lainnya tidak jauh berbeda baik dalam kehidupan maupun dalam berbahasa. Pola hidup
pada umumnya memiliki kesamaan dengan pola hidup masyarakat Aceh di daratan. Penduduk
di wilayah ini pada umumnya bermata pencaharian dalam bidang Pertanian dan Perikanan.
Kemudian diikuti dengan Buruh, Perdagangan, Jasa, Angkutan, Pegawai, dan lainnya.
Infrastruktur utama yang ada di Kota Sabang saat ini adalah infrastruktur perhubungan darat
yang berupa jalan. Jaringan jalan darat pada umumnya telah dapat menjangkau semua wilayah
pemukiman di Kota Sabang dan daerah-daerah obyek wisata baik dengan kendaraan roda dua
maupun roda empat. Saat ini Kota Sabang memiliki dua buah pelabuhan yaitu Pelabuhan
Samudra (alam) di teluk Sabang dan Pelabuhan Ferry di teluk Balohan. Pelabuhan Samudra
saat ini digunakan sebagai sarana Pelabuhan Bebas Sabang yang dapat dirapati oleh kapal-
kapal besar dari berbagai negara (Gambar 7).

Pelabuhan Ferry Balohan menghubungkan Pulau Weh dengan Aceh daratan dimana ada dua
macam moda angkutan yaitu Kapal Ferry dan Kapal Cepat yang melakukan penyeberangan
dua kali sehari ke Pelabuhan Uleleu (Gambar 8).
Di Kota Sabang juga terdapat bandar udara Maimun Saleh, yang mempunyai jalur penerbangan
utama ke bandara Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh.

1.2 Rumusan Masalah


1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Manfaat
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sumber Daya Pesisir
a) Kondisi Perairan
Deburan ombak laut jernih, semilir angin sejuk dan kesegarannya warna hijau
pepohonan tampak selalu menghiasi Kota. Lingkungannya yang masih sepi menghadirkan
suasana keheningan alam yang menjadikan tempat ini paling tepat untuk mencari ketenangan
serta menyegarkan kembali pikiran dan tubuh kita.
Pulau Weh yang terletak di ujung barat Pulau Sumatera ini berhadapan langsung
dengan Laut Andaman dan dikelilingi oleh 4 pulau kecil lainnya yaitu Rondo, Seulako, Rubiah
dan Klah. Di pulau yang luasnya 154 km2 ini hanya sedikit dijumpai dataran; sebagian besar
adalah lahan berbukit-bukit dengan puncak tertinggi 617 meter dari permukaan laut.

Nama Weh yang berarti pindah, berasal dari peristiwa terpisahnya pulau tersebut dari
daratan Sumatera akibat letusan gunung api yang terjadi puluhan ribu tahun lalu. Kini jejak-
jejak keberadaan gunung api itu masih dapat kita lihat dari adanya batu-batu besar yang
berserakan di seluruh pulau dan aktivitas vulkanik seperti semburan sulfur atau kolam lumpur
panas di beberapa tempat tertentu. Pulau Weh sudah dikenal sejak tahun 1881. Lokasinya yang
strategis di selat Malaka dengan kondisi perairan yang dalam dan terlindung, membuat Sabang
sangat sempurna sebagai pelabuhan alam. Kemudian pada tahun 1895, Sabang resmi menjadi
pelabuhan bebas yang melayani kapal-kapal dagang dan dikelola oleh pihak swasta bernama
Sabang Maatschaappij.
Kapal cepat ini beroperasi dua kali sehari yaitu pagi dan sore. Lalu lintas yang lengang,
jajaran pohon asam besar dan rindang di kiri kanan jalan serta didukung pula oleh lingkungan
yang bersih dan rapi, membuat kota Sabang semakin asri. suasana asri kota Sabang. Di kota
ini, pemandangan indah pulau Weh dapat kita lihat dari atas bukit bernama Sabang Hill. Di
tempat terdapat sebuah rumah tua peninggalan zaman Belanda yang sekarang telah berubah
fungsi menjadi hotel yang juga bernama Sabang Hill. Kita juga dapat menikmati pantai-pantai
indah di sekitar Sabang seperti pantai Kasih, Tapak Gajah, Sumur Tiga semuanya berpasir
putih dan pantai berpasir hitam bernama Anoi Itam di bagian selatan. Di sepanjang pantai-
pantai tersebut dapat dijumpai sisa-sisa perang dunia kedua seperti benteng atau bungker yaitu
lubang perlindungan di bawah tanah. Daerah tujuan wisata utama di Weh berlokasi pada bagian
barat pulau, yaitu di kawasan Iboih yang dapat dicapai dalam waktu sekitar 1 1/2 jam dengan
menggunakan kendaraan bermotor dari Sabang. Di sini terdapat pantai pasir putih Gapang dan
pantai Teupin Layeu sedangkan pulau Rubiah berada di hadapannya. Alam nan tenang dan
damai dengan laut jernih, indah dan kaya akan berbagai jenis ikan merupakan pemandangan
yang sangat mengasyikkan dilihat dari kedua tempat ini. Perairan Pulau Rubiah yang terkenal
akan keindahan terumbu karangnya dari kekayaan jenis ikan, sangat ideal bagi kegiatan
menyelam dan snorkeling.
Hewan laut besar seperti lumba-lumba, pari manta dan hiu paus pada musim-musim
tertentu juga dapat ditemukan di perairan ini. Fasilitas wisata di kawasan Iboih tersedia cukup
lengkap diantaranya pondok sederhana untuk menginap, rumah makan dengan menu barat,
penyewaan alat snorkeling, dive shop, jalan setapak, penyewaan perahu dan glass bottom-boat.
Dahulu ratusan turis backpacker dan penyelam dari Eropa sering mengunjungi tempat ini.
Namun sejak diberlakukannya kondisi darurat militer di propinsi Aceh, tempat wisata ini
menjadi sepi. Keadaan ini makin diperparah dengan hantaman tsunami di Aceh pada tahun
2004. Sekarang aktivitas wisata mulai pulih dan para turis mulai berdatangan kembali
sekalipun belum seramai dulu. Tidak jauh dari Teupin Layeu terdapat kawasan lindung berupa
hutan lebat dalam kondisi cukup baik, yang menjadi tempat tinggal bagi monyet ekor panjang,
babi hutan, kalong dan beranekaragam jenis burung dan reptil..
b) Mangrove
Hutan bakau (mangrove) merupakan salah satu ekosistem pesisir yang khas di daerah
tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan
berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Seperti halnya di wilayah pesisir
Iainnya di Indonesia, penyebaran mangrove di Kotas Sabang mengikuti pola penyebaran yang
sama. Mangrove umumnya tumbuh pada daerah intertidal yang jenis tanahnya berlumpur,
berlempung atau berpasir; menerima pasokan air tawar yang cukup dari daratan; terlindung
dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat; serta salinitas di sekitarnya adalah
payau (2-22 permil) hingga asin (mencapai 38 permit). Penyebaran mangrove di pesisir Kota
Sabang terdapat pada daerah-daerah di Kelurahan Paya, Keuneukai, Beurawang, Jaboi,
Balohan, Cot Abeuk, Cot Ba'u, serta di beberapa desa pesisir di Anoi Itam, Ujong Kareung,
dan Ie Meulee serta dan di Kecamatan Sukakarya yaitu Kelurahan Iboih, Batee Shok, Paya
Seunara, Krueng Raya, Aneuk Laot, Kota Bawah Timur, Kota Bawah Barat, dan Kota Atas.
Mangrove yang tumbuh di daerah tersebut didominasi oleh api-api (Avicennia alba) dan nipah
(Nypa fruticans). Api-api umumnya hidup pada zona yang dekat dengan pantai, dimana air laut
lebih dominan; sedangkan nipah umumnya hidup pada muara-muara sungai besar yang
salinitasnya lebih dominan ke tawar. Nipah merupakan satu-satunya jenis palmae yang
ditemukan di hutan mangrove. Nipah yang banyak tumbuh di sekitar muara Sungai Way
Semaka hingga saat ini belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Pemanfaatan nipah baru
sebatas menggunakan daun nipah untuk bahan atap rumah.
Keberadaan mangrove yang terdapat di zona pantai memiliki peran yang strategis
berdasarkan fungsi dan manfaatnya. Secara fisik, mangrove berfungsi sebagai peredam
gelombang dan angin badai, melindungi pantai dari abrasi dan intrusi air laut, penahan lumpur
dan perangkap sedimen. Fungsi ekologis adalah sebagai tempat pemijahan, mencari makan,
dan pembesaran beberapa jenis ikan, udang, kepiting, dan biota laut lainnya. Diduga
sebelumnya lahan tambak tersebut merupakan areal mangrove yang cukup luas, namun saat ini
hanya tinggal beberapa pohon mangrove yang masih tersisa. Aktivitas penduduk lainnya yang
merusak ekosistem mangrove, antara lain kegiatan penebangan mangrove untuk diambil
kayunya, baik sebagai kayu bakar, pagar, ataupun untuk bahan bangunan (rumah).

c) Padang Lamun
Padang lamun merupakan jenis tumbuhan berbunga (Bryophyta) yang sudah
sepenuhnya menyesuaikan diri untuk hidup terendam di dalam air laut. Tumbuhan ini hidup di
perairan dangkal agak berpasir, dan sering juga dijumpai di ekosistem terumbu karang. Sama
halnya dengan rerumputan di daratan, lamun juga membentuk padang yang luas dan lebat di
dasar laut yang masih terjangkau oleh sinar matahari dengan tingkat energi cahaya yang
memadai bagi pertumbuhannya. Lamun tumbuh tegak, berdaun tipis yang bentuknya seperti
pita dan berakar jalar. Tunas-tunas tumbuh dari rizhoma, yaitu bagian rumput yang tumbuh
menjalar di bawah permukaan dasar laut. Secara ekologis, padang lamun memiliki fungsi
sebagai tempat mencari makan, daerah pemijahan, dan daerah pembesaran jenis-jenis ikan,
udang, siput, dan biota taut Iainnya. Padang lamun segar merupakan makanan bagi duyung
(dugong), penyu taut, butu babi, dan beberapa jenis ikan. Padang lamun merupakan daerah
penggembataan (grazing ground) yang penting artinya bagi hewan-hewan taut tersebut.
Padang lamun juga merupakan habitat bagi bermacam-macam ikan (umumnya
berukuran kecil) dan udang. Ikan laut dan udang tidak makan daun segar, melainkan serasah
(detritus) dari lamun. Detritus ini dapat tersebar luas oteh arus ke perairan di sekitar padang
lamun. Daun lamun berperan sebagai tudung pelindung yang menutupi penghuninya dari
sengatan sinar matahari. Pada permukaan daun lamun hidup melimpah ganggang¬ganggang
renik, hewan renik dan mikroba, yang merupakan makanan bagi bermacam jenis ikan yang
hidup di padang lamun. Banyak jenis ikan dan udang yang hidup di perairan sekitar padang
lamun menghasilkan larva yang bermigrasi ke padang lamun untuk tumbuh besar. Bagi larva-
larva ini padang lamun memang menjanjikan kondisi lingkungan yang optimal bagi
pertumbuhannya. Secara fisik, padang lamun dapat berfungsi menstabilkan dasar yang lunak
dan mencegah intrusi air laut. Dengan sistem perakarannya yang padat dan sating menyilang,
maka lamun dapat menstabilkan dasar laut dan mengakibatkan kokoh tertanamnya lamun
dalam dasar laut. Selanjutnya padang lamun juga berfungsi sebagai perangkap sedimen yang
kemudian diendapkan dan distabilkan. Sebaran padang lamun tidak banyak terdapat di wilayah
pesisir Kota Sabang. Jenis tumbuhan lamun yang dominan adalah Enhalus acoroides dan
Thalassia hemprichii; sedangkan jenis lainnya adalah Cymodocea rotundata, Halodule pinifolia
dan Halophila ovalis. Pemanfaatan lamun tidak banyak dilakukan oleh masyarakat setempat.
Umumnya masyarakat hanya memanfaatkan areal padang lamun hanya untuk mencari
ikan ataupun biota laut lainnya. Jenis-jenis ikan konsumsi yang banyak tertangkap di sekitar
padang lamun adalah baronang (Siganus spp), belanak (Mugil sp), ikan Iidah (Cynoglosus sp)
dan lainnya. Padang lamun menyimpan potensi untuk dikembangkan, antara lain sebagai bahan
pangan ataupun pakan ternak karena mengandung protein yang tinggi. Namun hingga saat ini
belum ada anggota masyarakat yang memanfaatkannya sebagai pakan ternak. Biji yang
dihasilkan oleh Enhalus acoroides dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Selain itu,
tumbuhan lamun juga dapat dimanfaatkan untuk pupuk pertanian (pupuk hijau). Penggunaan
potas, jaring panambe serta baling-baling perahu merupakan salah satu faktor penyebab
rusaknya lamun. Aktivitas masyarakat dalam mencari kerang merupakan sebagian faktor yang
menyebabkan rusaknya padang lamun. Di Teluk Cempi yang perairannya lebih terbuka
menghadap Samudra Hindia, vegetasi lamun diperkirakan dapat tumbuh dengan baik di sana.
Bentangan pasir putih juga menandakan adanya terumbu karang yang biasanya berdekatan
dengan habitat lamun. Sayangnya, saat ini belum ada data tentang lamun di Teluk Cempi.
d) Terumbu Karang
Terumbu karang merupakan suatu ekosistem khas yang terdapat di wilayah pesisir
daerah tropis. Pada dasarnya terumbu terbentuk dari endapan-endapan masif kalsium karbonat
yang dihasilkan oleh organisme karang pembentuk terumbu. Perkembangan terumbu karang
dipengaruhi oleh beberapa faktor fisik lingkungan yang dapat menjadi pembatas bagi karang
untuk membentuk terumbu. Beberapa faktor lingkungan tersebut anatara lain: suhu air > 18°C,
tetapi optimal pada suhu 23-25°C; kedalaman perairan optimal pada 25 m atau kurang; salinitas
perairan antara 30-36 permil; serta perairan yang cerah, bergelombang dan bebas dari sedimen.
Beberapa bentuk hidup (life form) terumbu karang yang dijumpai di sekitar perairan pesisir
Tanggamus tidak berbeda jauh dengan yang terdapat di sekitar Sabang Bentuk hidup terumbu
karang yang penting antara lain branching, encrusting, tabulate, digitate, massive, submassive,
foliose, mushroom, dan laminar.
Manfaat yang terkandung dalam terumbu karang sangat besar dan beragam. Manfaat
Iangsung terumbu karang adalah habitat bagi sumberdaya ikan, batu karang, pariwisata,
wahana penelitian dan pemanfaatan biota perairan Iainnya. Terumbu karang mempunyai peran
utama sebagai habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan, tempat asuhan dan pembesaran,
serta tempat pemijahan bagi berbagai biota yang hidup di terumbu karang atau sekitarnya.
Manfaat tidak langsung terumbu karang terkait peranannya sebagai penahan abrasi pantai,
keanekaragaman hayati dan lain-lain. Terumbu karang, khususnya terumbu karang tepi dan
penghalang, berperan penting sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak dan arus kuat
yang berasal dari laut. Terumbu karang dapat menjadi sumber devisa yang diperoleh dari
wisata selam ataupun kegiatan wisata bahari lainnya. Bahkan devisa ini berbagai jenis biota
yang hidup di ekosistem terumbu karang atau moluska yang hidup di ekosistem ini ternyata
banyak mengandung berbagai senyawa bioaktif yang mempunyai potensi besar sebagai bahan
obat-obatan, makanan, dan kosmetika. Selain itu, terumbu karang yang merupakan salah satu
keanekaragaman yang unik menjadi daya tarik tersendiri dan menjadi perhatian besar bagi para
ahli, mahasiswa, perusahaan farmasi, dan pihak lainnya, untuk dijadikan obyek penelitian.
Ekosistem terumbu karang banyak menyumbangkan berbagai biota laut seperti ikan, karang,
moluska, crustacea dan biota Iainnya, bagi kelompok-kelompok masyarakat yang hidup di
wilayah pesisir. Bersama dengan ekosistem pantai lainnya menyediakan makanan dan tempat
berpijah bagi berbagai jenis biota laut yang bernilai ekonomi tinggi. Menurut Munro dan
Williams (1985), dari perairan yang terdapat ekosistem terumbu karangnya pada kedalaman
kurang dari 30 m, maka setiap 1 km2-nya terkandung ikan sebanyak 15 ton.
Pemerintah Indonesia telah menentukan daerah perairan ini, sekitar 2600 hektar sekitar pulau
Rubiah sebagai daerah special nature reserve. Terletak di teluk Sabang, dimana air disini relatif
tenang dan sangat jernih (25 m visibility) laut disini diisi oleh bermacam trumbu karang dan
ikan bermacam warna. Taman Laut Rubiah terletak sekitar 23,5 km sebelah barat kota Sabang,
dapat dicapai melalui darat, atau sekitar 7 km dengan menggunakan perahu boat, dan terletak
bersebelahan dengan desa Iboih. Dapat ditemukan gigantic clams, angel fish, school of parrot
fish, lion fish, sea fans, dan banyak lagi.

Berjemur sinar matahari di pantai dengan pasir yang halus dan putih dapat dilakukan pada
pantai yang berseberangan. Tempat ini merupakan surganya turis penggemar snorkel dan
selam.Terumbu karang hanya berjarak sekitar 5 meter dari tepi pantai berpasir. Satu-satunya
ancaman bagi keindahan terumbu karang itu datang dari kapal nelayan yang mengoperaskan
penangkap ikan jenis pukat harimau. Sistem kerja kapal ini, menebar jala berikut pemberat besi
yang akan menyapu hingga ke dasar laut.
Akibatnya terumbu karang yang butuh waktu puluhan tahun untuk tumbuh, hancur
sebentar saja. Dengan begitu muncul kesan nelayan tidak mempedulikan kondisi ekologis laut.
Sebetulnya ubur-ubur berduri juga memakan terumbu karang, tetapi ancaman terbesar adalah
dari pukat harimau ini. Jika pemerintah tidak segera ambil peduli, terumbu karang akan hancur.
Nilai potensi alam kota Sabang dari Taman Laut Nasional Pulau Weh dengan 2600 Ha
memiliki ekosistem terumbu karang serta habitat beberapa biota laut yang dilindungi seperti;
Trochus niloticus, Turbo marmoratus, Charonia tritonis, Cassis cornuta, Tridacna gigas,
Rhineodon typus Pada saat situasi konflik di Aceh mulai bergejolak antara R.I dan GAM,
Masa-masa transisi inilah cukup mempengaruhi perekonomian mereka semakin
melemah. Setelah pencabutan Darurat Sipil dan diberlakukan Tertib Sipil, situasi ini tidak
merubah perekonomian masayarakat. Pada tanggal 26 Desember 2004, gempa dan gelombang
tsunami melanda Aceh tanpa terkecuali termasuk Pulau Weh khusunya. Banyak nyawa
manusia meninggal, harta benda dan barang-barang berharga yang mereka miliki hilang, rusak
tanpa tersisa. Walaupun demikian semangat untuk hidup kembali mereka tidak pernah
menyerah demi menyongsong hidup kedepan. Khususnya di Pulau Weh hanya sekian persen
Banyak karang-karang yang patah dan tertutup sampah sehingga ekosistem larva
karang itu sendiri tidak mempunyai substrat yang baik untuk melanjutkan kehidupannya.
Begitu juga dengan ikan-ikan dan biota lain sejenisnya yang dulu memanfatkan terumbu
karang sebagai tempat mencari makan, berlindungan dan pemijahan sekarang mereka tidak
bisa lagi menghuni terumbu karang tersebut karena telah tertutup oleh sampah-sampah
Akhirnya bantuan dari NGO Asing Project AWARE (PADI) yang berkedudukan di Australia
telah mendanai pembersihan ini. Pulau Weh selama kurun waktu yang cukup lama tanpa ada
penanganan yang serius dari semua pihak. Dengan adanya kegiatan ini mereka juga sangat
antusias membantunya baik didalam laut maupun dipinggir pantai.

2.2 Sumberdaya Perikanan


a) Perikanan Tangkap
Berdasarkan data PDRB Kota Sabang, subsektor perikanan senantiasa mengalami
peningkatan yang cukup berarti dengan rata – rata 13,6 % per tahun dari tahun 1997 hingga
2000, dan kontribusinya terhadap sektor pertanian-pun juga mengalami peningkatan.
Sementara perkembangan jumlah petani nelayan di Kota Sabang tercatat tidak terlalu
berfluktuasi sejak tahun 1993 – 2000 dimana jumlahnya berkisar antara 950 – 1050 orang.
Produksi perikanan laut Kecamatan Pulo Aceh juga menunjukkan angka yang cukup
menggembirakan. Sekitar 4,7 % dari total produksi ikan Kabupaten Aceh Besar tahun 1999
merupakan hasil tangkapan dari kecamatan ini. Total produksi perikanan Kecamatan Pulo
Aceh pada tahun 1999 sebanyak 533,30 ton dengan bagian terbesar berasal dari perikanan laut.
Sementara jumlah nelayan yang termasuk dalam nelayan laut dan bersifat tetap tercatat untuk
tahun 2000 adalah 396 orang serta petani tambak 10 orang. Produksi ikan di Sabang terutama
berasal dari perikanan laut karena terbatasnya areal kolam dan tambak. Selama kurun 1998 –
2002 produksi perikanan laut cenderung mengalami peningkatan
Peningkatan ini tidak terlepas dari semakin bertambahnya armada dan alat
penangkapan ikan yang dimiliki nelayan.Berdasarkan data menunjukkan bahwa potensi lestari
sumberdaya ikan untuk Selat Malaka cukup besar, yaitu 215,664 ton/hari dengan dominansi
ikan Palagis Kecil sebesar 119,600 ton/hari dan ikan Demersal sebesar 82,400 ton/hari.
Lainnya berupa Udang, Penoid, Lobster dan cumi-cumire; taif kecil. Sedangkan untuk
Samudera Indonesia potensinya sebesar 923,341 ton/hari dengan dominasi ikan Palagis Kecil
429,711 ton/hari, Cakalang 112,921 ton/hari, Tuna 91,910 ton/hari, dan tongkol 90,516
ton/hari. Sedangkan potensi ikan lainnya seperti udang, cumi-cumi, dan ikan karang potensinya
kurang dari 30,000 ton/hari. Potensi sumberdaya ikan di atas belum sepenuhnya dieksploitasi
oleh nelayan di sekitar perairan tersebut, maka dengan meningkatkan peralatan penangkap
ikan, masih memungkinkan ditingkatkannya hasil tangkapan ikan laut tersebut. Seperti yang
ditunjukkan pada Tabel 4.12, bahwa masih cukup besar peluang usaha penangkapan ikan laut,
karena tingkat pemanfatannya masih relatif sedang. Pemanfaatan tangkapan ikan laut yang
masih cukup peluangnya adalah Pelagis Kecil (59 %), Pelagis Besar ( 42-77 %), Demersal 35
%, Cumi-cumi 46 %, dan Udang Penoid sebesar 84 %. Ikan yang tidak punya peluang
pemanfaatannya adalah ikan karang, seperti kerapu yang telah over eksploitasi.
b) Perikanan Budidaya
Sesuai dengan letak goegrafisnya, Kawasan Sabang berada di antara perairan barat laut
Sumatera dan laut Selat Malaka yang memang memiliki potensi sumberdaya ikan yang sangat
besar. Selain tangkapan ikan laut, pengembangan usaha budidaya ikan berbasis tambak atau
budidaya di laut (dengan sistim keramba jala apung) juga memiliki peluang untuk
dikembangkan di pantai sekitar Pulao Weh dan Pulo Aceh. Potensi tambak (darat) di Pulau
Weh seluas 62,5 Ha, yang terbagi untuk Sukajaya 20,5 Ha, dan Sukakarya 42,0 Ha. Usaha
budidaya ini dapat dilakukan terutama untuk udang dan ikan nila. Sementara di daerah sekitar
pantai dapat diusahakan untuk budidaya laut, seperti ikan kerapu, rumput laut, kerang mutiara,
ikan hias dan sebagainya. Ketersediaan ikan yang cukup besar di Sabang sebagaimana telah
dipaparkan di atas tentunya dapat menjadi dasar untuk mengembangkan industri perikanan
yang mampu menjadi andalan di kawasan ini. Hal ini juga didukung oleh adanya
pengembangan segitiga pertumbuhan ekonomi yang menjadikan Sabang sebagai alternatif titik
pengembangan industri perikanan yang strategis. Dengan adanya kebijakan Kawasan Sabang
sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, kesempatan ini akan lebih dapat
ditunjang karena diharapkan dapat mendorong masuknya investasi yang besar untuk
pengembangan industri perikanan terpadu.

2.3 Sumberdaya Pariwisata


Sumber daya hayati pesisir dan lautan seperti populasi ikan hias, terumbu karang
,padang lamun, hutan mangrove dan berbagai bentang alam pesisir (coastal landscape) unik
lainnya, membentuk suatu pemandangan alamiah yang begitu menakjubkan. Kondisi tersebut
menjadi daya tarik yang sangat besar bagi wisatawan, sehingga pantas bila dijadikan objeck
wisata bahari. Potensi utama untuk menunjang kegiatan pariwisata di wilayah pesisir dan laut
adalah kawasan terumbu karang; pantai berpasir putih atau bersih; dan lokasi-lokasi perairan
pantai yang baik untuk berselancar (surfing), ski air, serta kegiatan rekreasi air lainnya. Luas
kawasan terumbu karang yang terdapat di Indonesia mencapai 85.000 km2.
Umumnya perairan kawasan timur Indonesia memiliki terumbu karang yang lebih
beraneka ragam. Diperkirakan bahwa ekosisitem terumbu karang memiliki keragaman spesies
sebanyak 335-362 spesies karang scleractinian dan 263 spesies ikan hias laut. Hal ini
menciptakan keindahan panorama alam bawah laut yang luar biasa bagi para penyelam, para
wisatawan yang melakukan snorkeling, atau melihatnya dari atas kapal yang dasarnya berkaca
(glass bottom boat). Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan bila terumbu karang dapat dijadikan
modal utama dalam pengembangan wisata bahari di Indonesia.

Perjalanan dari Balohan ke kota Sabang melalui jalan yang agak berliku dan penuh dengan
tanjakan dan turunan. Di daerah Mata Ie, tanjakan sudah lebar dan di Cot Ba’u ada turunan
tajam yang sudah dialihkan jadi sudah agak landai. Dibeberapa tempat masih cukup curam.
Kanan kiri jalan relatif sepi dari rumah penduduk, karena kiri jalan relatif curam sedangkan
kanan jalan sebagian adalah tebing. Jalan ini rupanya ada tepat di daerah fault/patahan .
Memasuki kota Sabang, yang berada di bagian Utara Pulau Weh, keramaian langsung terasa.

Kunjungan ke pantai bisa dimulai dari kota Sabang ke arah Timur kemudian sisir ke Selatan.
Ada Pantai Kasih (sayang sekali terkena dampak yang cukup parah dari Tsunami Desember
2004), ada Pantai Tapak Gajah dan Pantai Sumur Tiga dengan pasir putih nya. 3 kilometer ke
Selatan ada Pantai Ujung Kareung, tempat mancing yang ideal, ikan buanyak dalam jarak 25
meter dari pantai dan dengan kejernihan airnya jauh ke Selatan lagi, ada pantai Anoi Itam, pasir
disini telihat berwarna hitam. Sebelum sampai Anoi Itam, ada benteng Buvark di Ujong
Meutigo. Benteng ini di pinggir pantai dan cukup tinggi dari permukaan laut, menghadap ke
Timur. Masih ada meriam yang tertinggal. Pemandangan dari ketinggian ini sangat indah. Air
laut yang jernih menyibak keindahan bebatuan didasarnya.

Ko
Sabang menjadi sebuah tujuan wisata dengan beragam keindahan.. Sabang memiliki
sejumlah objek wisata mengagumkan dan layak dinyatakan: Sabang, the new terminology of
paradise. Objek wisata itu berjejer rata mulai dari Tugu Kilometer Nol (KM-0) Indonesia
hingga ke kawasan Pantai Iboih, Pantai Gapang, Pantai Kasih, Pantai Pasir Putih, Pantai Sumur
Tiga, Pantai Anontam, Pantai Tapak Gajah atau Pantai Lhung Angen. Bisa juga mendatangi
Pulau Rubiah, Pulau Klah, Pulau Rondo dan Pulau Seulako. Menyaksikan alam bawah laut
menjadi kenangan tersendiri. Nuansa sedikit berbeda terdapat di gua, Air Terjun Pria Laot dan
Benteng Jepang. pertama-tama akan menyempatkan diri mendatangi Tugu Kilometer Nol
(KM-0) Indonesia. Pulau Weh, merupakan pulau paling barat daratan Indonesia. Tugu ini
menjadi batas penghitungan setiap jengkal wilayah Indonesia hingga ke Merauke di Papua.
Dengan nilai penting semacam ini, pengunjung merasa perlu datang.
Sabang memberikan sertifikat bagi pengunjung. Tugu KM-0 itu sendiri berada dalam areal
Hutan Wisata Sabang di Ujong Ba'u, Kecamatan Sukakarya. Bentuknya berupa sebuah
bangunan bundar warna putih berlantai dua. Tinggi sekitar 15 meter dengan beberapa undakan.
Di lantai pertama, terdapat sebuah pilar bulat yang sayangnya sudah rusak dijahili orang-orang
tidak bertanggung jawab, sehingga sulit diketahui bentuk awalnya. Di dinding bangunan
menempel prasasti peresmian tugu yang ditandatangani Wakil Presiden Try Sutrisno di Banda
Aceh, ibukota NAD, pada 9 September 1997. Sementara di lantai dua atas yang terbuka,
terdapat dua prasasti. Prasasti pertama ditandatangani Menteri Riset dan Teknologi/Ketua BPP
Teknologi BJ. Habibie, pada 24 September 1997.
Bedanya di situ tertulis angka nol. Hal yang tak lazim dijumpai pada batu penanda jarak
lainnya. Sebagai sebuah objek wisata, tugu KM-0 sudah memadai. Pepohonan tertata rapi,
pelindung dari sengat matahari saat duduk di halte sambil memandang ke arah Lautan Hindia.
Karena Weh merupakan daratan paling ujung, maka tidak akan ada pulau penghalang
pandangan hingga ke Kepulauan Nicobar di India. Tentu saja mata telanjang tidak akan bisa
melihat Kepulauan Nicobar. sebenarnya keindahan pantai merupakan pemandangan dominan
di Sabang, tetapi Iboih yang berada di areal sekitar 1.300 hektar di Desa Iboih, Kec. Sukakarya
ini punya pesona unik. Iboih merupakan pantai pertama dijumpai setelah mengunjungi tugu.
Di Iboih yang teduh dan sejuk, air laut menghijau hingga ke tepian pantai.. Jika mampu, tidak
masalah berenang sekitar 150 meter dari Iboih ke Pulau Rubiah. Pulau itu persis di depan Iboih
sehingga bisa dilihat keindahannya dari tepian pantai. Pulau Rubiah sendiri sebenarnya
merupakan kawasan taman bawah air seluas 2.600 hektar.
Pengunjung dapat menyeberang dan menginap di pulau ini. Selalu ada boat dengan biaya antar-
jeput Rp 100 ribu. Kalau mau mengelilingi pulau, sewa kapal Rp 200 ribu. Di tengah
pengelilingan, boat akan berhenti sejenak. Pemilik boat kemudian menurunkan kotak kaca,
sehingga dari kotak kaca itu penumpang dapat melihat ikan warna-warni berseliweran di antara
terumbu karang di kedalaman antara 5 hingga 10 meter. Terumbu karang merupakan
primadona wisata Sabang. Sejumlah turis biasa melakukan aktifitas selam (diving). Saat ini
ada tiga operator diving di Sabang, yakni Pulau Weh Diving Centre dan Rubiah Tirta Divers
di Iboih, serta Lumba-lumba Diving Centre di Pantai Gapang, sekitar 10 kilometer dari Iboih.
Mereka bisa memandu ke lokasi penyelaman paling menarik dengan bayaran US$ 20 atau
sekitar Rp 200 ribu jika dikalikan kurs Rp 10 ribu. Namun Jika memang belum memiliki
lisensi, terpaksa membayar US$ 225 untuk biaya kursus singkat pemula atau oven water diver.
“Kursus hingga lima hari dengan instruktur yang berlisensi dari Profesional Association of
Diving Instructor (PADI). Jika dibutuhkan, kita juga bisa memberi pelatihan untuk kelas
adventure diver seharga US$ 125 dan dive master dengan tarif antara 550 hingga 750 dolar
Amerika Serikat yang bisa dibayar dengan rupiah dengan kurs harian,” kata Udi M Djamil
(30), Manager Operasional Lumba-lumba Diving Centre yang berdiri sejak tahun 1998. Setiap
empat penyelam biasanya didampingi seorang instruktur.
Lantas dengan boat bersama-sama menuju lokasi penyelaman. Sedikitnya anggota tim memang
sengaja dibatasi untuk memaksimalkan penyelaman dan pengawasan keselamatan turis.
Apalagi di beberapa daerah penyelaman, arus air cukup deras. Udi yang juga instruktur
berlisensi PADI pertama di Sabang menyatakan, ada 20 lokasi penyelaman. Antara lain Arus
Balele, Seulako’s Drift, Pantee Kleu, Rubiah Sea Garden, Batee Tokong dan Pantee Aneuk
Seuke Canyon dan Pantee Panneuteung. Sejumlah penyelam mengklaim, taman-taman bawah
air itu setara dengan yang terdapat di Long Island, Maldives (Maladewa) di selatan India, Nusa
Penida di Bali maupun di perairan Maluku. Namun Pulau Rubiah lebih unggul sebab memiliki
banyak biota laut yang di negara-negara lain telah langka atau telah punah. Di antaranya ketam
kelapa (Bigus latro), kima raksasa (Tridacna gigas), ikan bulu ayam (Lion fish).
Selain itu juga kaya dengan tumbuhan ganggang serta terumbu karang warna-warni. Keindahan
plus keunikan itu membuat para penyelam merasa perlu datang secara khusus. Misalnya Maret
lalu, 15 turis asal Jerman khusus datang ke Sabang untuk melakukan diving dan berada di
Sabang sekitar dua minggu di sekitar kantor Lumba-lumba Diving Centre di Pantai Gapang.
Jika diambil rata-rata, bisa dikatakan terdapat lima turis yang datang setiap hari khusus untuk
menyelam. Turis-turis asing itu tidak berpengaruh terhadap situasi Aceh yang memanas sejak
status Daerah Operasi Militer (DOM) diberlakukan di Aceh dan belakangan suhunya
meningkat lagi karena pemerintah berencana memberlakukan operasi militer. Satu-satunya
ancaman bagi keindahan terumbu karang itu datang dari kapal nelayan yang mengoperaskan
penangkap ikan jenis pukat harimau. Sistem kerja kapal ini, menebar jala berikut pemberat besi
yang akan menyapu hingga ke dasar laut.
Akibatnya terumbu karang yang butuh waktu puluhan tahun untuk tumbuh, hancur sebentar
saja. Dengan begitu muncul kesan nelayan tidak mempedulikan kondisi ekologis laut.
Sebetulnya ubur-ubur berduri juga memakan terumbu karang, tetapi ancaman terbesar adalah
dari pukat harimau ini. Jika pemerintah tidak segera ambil peduli, aset pariwisata Sabang akan
hancur.

Ada anekdot yang mengatakan “Ke-botak-an seseorang sangat tergantung dari cara dia berfikir,
apabila botak di belakang dia berfikir tentang masa lalu (sejarah) dan apabila botak di depan
dia berfikir tentang masa depan (future)”, tapi kita tidak membahas anekdot tersebut namun
yang menarik adalah sejarah-sejarah atau kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu yang
terkait dengan perkembangan dan keberadaan Sabang. Pada era tahun 1800-an negara-negara
Eropa memulai melakukan ekspansi ke daerah-daerah yang masih terbelakang seperti kawasan
Asia dan Afrika, negara Eropa yang sangat dominan melakukan ekspansi pada masa zaman itu
adalah Inggris, Belanda, Jerman, Portugis, dan beberapa negara lain. Berdasarkan peta terbaru
pada masa itu (akhir tahun 1870-an) Sabang adalah sebuah pulau yang terletak di posisi silang
penghubung antar negara bahkan benua yang merupakan salah satu target negara-negara
ekspansi untuk menguasai rute dan perdagangan dunia. Belanda adalah negara yang berhasil
menguasai Sabang dengan mendirikan Kolen Station pada tahun 1881, selanjutnya melalui
Firma De Lange pada tahun 1887 membangun sarana penunjang fasilitas pelabuhan, dan pada
tahun 1895 Pemerintah Belanda membuka Sabang sebagai Pelabuhan Bebas untuk
internasional yang dikelola oleh Sabang Mactscapij, dan sejak saat itu aktifitas lalu lintas di
teluk Sabang sangat crowded dari hari ke hari.
Memasuki tahun 1940 mulai pecah perang dunia kedua memperebutkan daerah kekuasaan
sekaligus menunjukkan kekuatan militer masing-masing negara ke dunia internasional. Banyak
harta benda negara yang kalah diambil alih oleh negara yang menang, kejadian ini juga terjadi
di Sabang pada tahun 1940 ketika Sabang masih dikuasai oleh Belanda, kapal-kapal milik
lawan perang Belanda yang masuk ke Sabang dirampas menjadi hak milik Pemerintah Belanda.
Salah satu yang menjadi catatan sejarah kita pada hari ini adalah Kapal Sophie Rickmers milik
kebangsaan Jerman dengan spesifikasi : panjang total 134 m, lebar 17,5 m, tinggi 8 m, satu
steam engine dengan kekuatan 2,900 HP, kecepatan 12 knot dan mempunyai crew sebanyak
42 orang.

Drampas penguasa Belanda ketika memasuki perairan teluk Sabang namun Kapten kapal
bersama crewnya tidak membiarkan Sophie Rickmers dirampas sehingga pada hari itu juga
tanggal 10 Mai 1940 kapten bersama crew membuka palka Sophie Rickmer dan kapal besar
tersebut dibiarkan tenggelam perlahan-lahan di Teluk Pria Laot bersama dua torpedo besarnya
tanpa bisa diselamatkan penguasa Belanda. Berdasarkan data-data dari PT. Lumba-lumba –
Gapang serta searching internet, ada beberapa informasi yang diperoleh mengenai Sophie
Rickmer yaitu kapal ini dibuat dari tahun 1917 s/d 1920 oleh perusahaan The Rickmers-Werft
di Bremerhaven sebuah Kota Bagian Barat Hamburg dengan material yang sangat baik, dan
pertama dipakai pada tanggal 16 Juli 1920 di bawah lisensi perusahaan The Rickmers-
Reederei. Adapun perusahaan The Rickmers-Reederei kabarnya sampai saat ini masih eksis di
Jerman. Sampai sekarang kondisi kapal Sophie Rickmer yang ditenggelamkan di Teluk Pria
Laot belum banyak diketahui secara umum.
Hal ini sangat perlu bagi kita untuk mempublikasikan ke wisatawan nusantara dan wisatawan
luar negeri tentang posisi kapal Sophie Rickmer. Menurut beberapa diver yang telah menyelam
diseputar Teluk Pria Laot eksistensi kapal dapat dijumpai pada kedalaman sekitar 30 – 40 meter
di bawah laut dan kondisi kapal masih utuh namun sudah terkorosi serta menjadi tempat sarang
ikan-ikan dan binatang laut. Untuk meningkatkan pariwisata di Sabang, selain wisata bawah
laut yang terkenal dengan sea garden under water yang berlokasi di sekitar Gapang dan Iboih,
juga sangat penting untuk menjdi prioritas adalah wisata sejarah seperti keberadaan kapal
Sophie Rickmer untuk dijadikan objek wisata sejarah dan wisata selam yang harus dikunjungi
bila berada di Sabang, sehingga upaya memperpanjang dan memperlama (long stay) masa
kunjungan wisatawan yang berada di Sabang dapat terpenuhi, Pulau Weh mempunyai keunikan
dan keindahan akan kecantikan alami dan tempat-tempat sejarah.

Selain daripada meriam-meriam dan benteng-benteng kuno, masih banyak lagi obyek masa
lalu yang menarik. Beberapa tempat menarik adalah sebagai berikut. Taman Laut Rubiah
terletak sekitar 23,5 km sebelah barat kota Sabang, dapat dicapai melalui darat, atau sekitar 7
km dengan menggunakan perahu boat, dan terletak bersebelahan dengan desa Iboih.
Pemerintah Indonesia telah menentukan daerah perairan ini, sekitar 2600 hektar sekitar pulau
Rubiah sebagai daerah special nature reserve. Terletak di teluk Sabang, dimana air disini relatif
tenang dan sangat jernih (25 m visibility) laut disini diisi oleh bermacam trumbu karang dan
ikan bermacam warna. Dapat ditemukan gigantic clams, angel fish, school of parrot fish, lion
fish, sea fans, dan banyak lagi. Bagi penggemar snorkel berpengalaman, Octopus dan Stingrays
dapat dilihat disini. Berjemur sinar matahari di pantai dengan pasir yang halus dan putih dapat
dilakukan pada pantai yang berseberangan. Tempat ini merupakan surganya turis penggemar
snorkel dan selam.Terumbu karang hanya berjarak sekitar 5 meter dari tepi pantai berpasir.
Akomodasi berupa makanan dan penginapan tersedia di desa Iboih. Iboih adalah desa kecil
dimana kondisi dan layanan penduduk sangat menunjang kenyamanan dalam menikmati
atraksi alam sekitar. Hutan Wisata Iboih terletak bersebelahan dengan Taman Laut Rubiah,
dengan luas sekitar 1300 hektar dan juga merupakan daerah terlindung. Hutan ini merupakan
hutan hujan tropis yang masih tinggi kerapatannya tetapi selalu mengundang pengunjung untuk
menikmati keindahan keasliannya. Hutan ini tempat bagi beragam binatang, banyak terdapat
monyet, reptil kecil dan besar, dan burung beraneka warna termasuk burung dara Nicobar yang
tidak terdapat di bagian lain Indonesia.
Pantai di pulau Weh sangat beragam dan sangat menarik untuk dikunjungi. Pantai Kasih adalah
pantai yang paling dekat dengan kota Sabang. Sekitar dua km ke arah Barat Daya terdapat
pantai berbatu dengan banyak pepohonan kelapa sepanjang semenanjung. Di sepanjang
semenanjung ini juga dapat ditemui beberapa peninggalan Perang Dunia II berupa benteng-
benteng tempat senjata berat seperti meriam.

http://2.bp.blogspot.com/-tKZBp8R-
qhk/T5bzaYks2hI/AAAAAAAAANg/czFuiusHwQQ/s1600/17.jpg

Mengikuti sepanjang pantai sekitar dua kilometer kita akan sampai di Pantai Tapak Gajah. Jika
kita teruskan maka akan sampai di Pantai Sumur Tiga. Pasir putih yang halus dan air yang
jernih sangat ideal untuk berenang dan snorkel. Sekitar dua kilometer dari Pantai Sumur Tiga
terdapat Pantai Ujung Kareung. Disini banyak terdapat terumbu karang, ikan-ikan karang, dan
juga bintang laut di dekat pantai. Pantai yang indah lainnya dapat ditemui di Gapang, yaitu
pantai berpasir putih yang luas dan indah di dekat desa Iboih, arah Barat kota Sabang. Terdapat
beberapa gua alami di pantai barat Pulau Weh yang terletak berseberangan dengan Hutan
Wisata Iboih. Gua-gua ini menghadap ke samudra dan dihuni bermacam burung, kelelawar,
dan ular. Menjelajahi tempat ini dengan menggunakan perahu harus didampingi oleh penduduk
lokal karena lokasi yang cukup sulit dijangkau, dan berbahaya, terutama antara bulan Mei dan
September saat musim angin Barat.

Kondisi ini sangat menantang bagi pencinta gua. Menuju Sabang Sabang memang jauh, tetapi
begitu mudah untuk mencapainya. Satu-satunya cara untuk menuju ke Pulau weh adalah lewat
Banda Aceh, ibukota provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, mempunyai penerbangan langsung
dari Penang dan Kuala Lumpur di Malaysia dan dari Medan, juga beberapa kota besar di
Indonesia. Melalui jalan darat, banyak bus modern non stop dari kota Medan, akan melalui
banyak tempat, seperti lewat jalur barat dan pantai utara atau dataran tinggi Aceh dan Taman
Gunung Leuser Dari Banda Aceh pilih minibus/labi-labi yang menuju Pelabuhan Krueng Raya
di mana ada ferry yang akan menyeberang ke pelabuhan Balohan di Pulau Weh dua kali sehari.
Atau menggunakan kapal cepat Km Pulo Rondo/ Km Baruna Duta dari pelabuhan ulee lheu ke
pelabuhan Balohan Dari Balohan pilih minibus atau taxi untuk menuju kota Sabang, kemudian
naik mini bus ke wisata yang terkenal di sana. Bisa juga dengan jalur ini Banda Aceh menuju
Pelabuhan Malahayati (30 Km) dapat ditempuh dengan jalan darat selama ± 30 menit.
Selanjutnya menggunakan kapal Ferry (2 kali sehari) menuju Pelabuhan Balohan-Sabang
selama ± 2 Jam.

Dari Pelabuhan Balohan menuju Kota Sabang dapat ditempuh dengan kendaraan
umum/pribadi selama 1 jam dan dilanjutkan menuju Desa Iboih selama 1 jam. Jalan raya
menuju lokasi dalam keadaan baik sampai dengan Ujung Ba’u (Kilometer Nol Indonesia).
Akomodasi Iboih memiliki lebih dari 50 bungalow dan 6 restoran yang dapat dipilih.
Kebanyakan bungalow yang ada adalah yang sederhana tetapi nyaman. Ada yang mempunyai
kamar mandi ada juga yang tidak. Para pengunjung tidak akan mengalami kesulitan dalam
mencari makanan, baik makanan lokal maupun eropa, semua bisa didapat dari restoran maupun
warung nasi. Gapang memiliki lebih dari 30 bungalow dan 4 restoran. Beberapa ada yang
begitu mewah dan mahal, tetapi ada juga yang sederhana tetapi nyaman. Ada yang memiliki
kamar mandi, AC dan TV, tapi ada juga yang tidak memiliki kamar mandi sama sekali. Banyak
pilihan makanan yang dapat dipilih dari restoran dan kedai nasi yang ada. Pantai Lhueng Angen
mempunyai 10 bungalow dan 1 restoran, sederhana tetapi nyaman. Makanan eropa bisa didapat
dari restoran yang dekat dengan bungalow.
8. REKOMENDASI
1). Ketersediaan ikan yang cukup besar di Sabang sebagaimana telah dipaparkan di atas
tentunya dapat menjadi dasar untuk mengembangkan industri perikanan yang mampu menjadi
andalan di kawasan ini. Hal ini juga didukung oleh adanya pengembangan segitiga
pertumbuhan ekonomi yang menjadikan Sabang sebagai alternatif titik pengembangan industri
perikanan yang strategis di harapkan pemerintah Kota Sabang lebih berpihak pada industri
perikanan berbasis ekologi.
2). Potensi pengembangan budidaya alternatif yang dapat dibuat dalam skala rumah tangga,
misalnya kerang hijau, atau abalone, perlu mendapat kajian biologi dan ekonomi.
3). Pulau Weh mempunyai keunikan dan keindahan akan kecantikan alami dan tempat-tempat
sejarah. Selain daripada meriam-meriam dan benteng-benteng kuno, masih banyak lagi obyek
masa lalu yang menarik paling unik di dunia.
4). Satu-satunya ancaman bagi keindahan terumbu karang itu datang dari kapal nelayan yang
mengoperaskan penangkap ikan jenis pukat harimau. Sistem kerja kapal ini, menebar jala
berikut pemberat besi yang akan menyapu hingga ke dasar laut. Akibatnya terumbu karang
yang butuh waktu puluhan tahun untuk tumbuh, hancur sebentar saja. Dengan begitu muncul
kesan nelayan tidak mempedulikan kondisi ekologis laut. Sebetulnya ubur-ubur berduri juga
memakan terumbu karang, tetapi ancaman terbesar adalah dari pukat harimau ini. Jika
pemerintah tidak segera ambil peduli, aset pariwisata Sabang akan hancur.
9. PENUTUP
Sabang sejak didirikannya oleh Maatschappij pada tahun 1895 Pelabuhan Sabang mempunyai
arti penting pada zaman Belanda, karena dari pelabuhan itulah kapal-kapal Besar belanda
mengangkut rempah-rempah dari Bumi Nusantara untuk dijual ke Eropa. Kota sabang
memiliki banyak potensi pesisir dan lautan yang perlu dikembang untuk di masa sekarang dan
masa depan. Kota Sabang sebagai ODTW Bahari memiliki tempat-tempat wisata bawah laut
dengan beragam jenis binatang dan tumbuhan laut yang ada di dalamnya, antara lain: Pulau
Weh dan Pantai Iboih di lokasi Pulau Rubiah (dikenal juga dengan taman lautnya), Batee Dua
Gapang, Batee Meuroron, Arus Balee, Seulako’s Drift, Batee Tokong, Shark Plateau, Pantee
Ideu, Batee Gla, Pantee Aneuk Seuke, Pantee Peunateung, Lhong Angen, Pantee Gua, Limbo
Gapang, Batee Meuduro.

Berikut ini potensi obyek wisata alam (nature tourist attraction) di Kawasan Sabang yaitu
Taman Laut Pulau Rubiah, Pantai Iboih, Pantai Gapang, Pantai Paradiso, Pantai Tapak Gajah,
Pantai Nipah, Pulo Aceh, Atraksi Alam Lumba-lumba, Atraksi Alam Ikan Pari, Pantai, Pasir
Putih Lhung Angen, Danau Aneuk Laot, Air Terjun Pria Laot, Air Panas Gunung Merapi Jaboi,
Air Panas Keuneukai dan Tugu KM “0. Pengembangan Pelabuhan Bebas dan Perdagangan
Bebas Sabang, Perikanan serta pariwisata akan mampu meningkatkan kualitas hidup dan
mengurangi kemiskinan masyarakat di Kota Sabang.

BAHAN ACUAN
http://karangaceh.blog.com/?page=2 di kunjungi tanggal 10 April 2009. 10:59 PM
http://pugar.wordpress.com/2007/03/13/hello-world/ di kunjungi tanggal 10 April 2009. 10:30
PM
http://students.ukdw.ac.id/~22022799/weh.htm di kunjungi tanggal 9 April 2009. 09:10 PM
http://www.bpks.go.id/index2.php?module=profil_sabang&act=view&id=18 di kunjungi
tanggal 9 April 2009. 10:00 PM
http://sabangfreeport.blogspot.com/2007/11/sumber-daya-alam-potensi-perikanan.html di
kunjungi tanggal 11 April 2009 11:30 AM
http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Sabang di kunjungi tanggal 9 April 2009 11:00 AM
http://dgk.or.id/ di kunjungi tanggal 12 April 2009 1:00 PM
http://www.wisataparlemen.com/front/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=317
di kunjungi tanggal 12 April 2009 1: 30 AM
http://4.bp.blogspot.com/-
6jY8LvvR1o8/T5buzJMTXTI/AAAAAAAAAKI/UCjCEeF71l4/s1600/1%
http://4.bp.blogspot.com/-bpYU90UHwqI/T5bu_qWpeCI/AAAAAAAAAKU/WsjfE_-
Yh_g/s1600/2.jpg

http://2.bp.blogspot.com/-
4sQf2I99EOw/T5bvXjIjwWI/AAAAAAAAAKs/khjqQtyvjUg/s1600/4.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-
N8nRpw9IzIs/T5bwASCCLiI/AAAAAAAAALQ/FRKTQQv8DX0/s1600/7.jpg
http://3.bp.blogspot.com/-
7tOvwK76BV4/T5bwJMH2H9I/AAAAAAAAALc/XOtIsJMW7wg/s1600/8.jpg
http://2.bp.blogspot.com/-
Cx2548BJsOE/T5bwZdfU7zI/AAAAAAAAALo/o4Fd79e38pQ/s1600/10.jpg
http://4.bp.blogspot.com/--
NDJBOtA9Wk/T5bwjR1qjTI/AAAAAAAAAL0/uUHhflwoGaY/s1600/10a.jpg
http://3.bp.blogspot.com/-
yyOjKD8_kAM/T5bw7JC28_I/AAAAAAAAAMA/ZoUTYp9A3Xc/s1600/11.jpg
http://1.bp.blogspot.com/-
lOlVcM6WxRE/T5bxYNvM_HI/AAAAAAAAAMM/vzXGhSXnmEQ/s1600/12.jpg
http://1.bp.blogspot.com/-
jHylZCMvlQY/T5bxiczfboI/AAAAAAAAAMY/3xP3CQL44zk/s1600/13.jpg

http://www.yarjohan.com/2009/05/potensi-sumberdaya-pesisir-dan-laut.html