Anda di halaman 1dari 3

Kompilasi pertanyaan:

1. Mengapa bisa dikatakan pH netral subur?


Karena pada rentang pH netral semua ion mayor (yang dibutuhkan dalam
jumlah banyak) tersedia, yaitu Ca, Mg, K, & K. Namun kesuburan disini tetap
tergantung pada penggunaan lahan yang dimaksud. Hal itu karena setiap
tanaman memerlukan jumlah hara dalam komposisi berbeda sehingga
memerlukan kisaran pH ideal yang tertentu juga.

2. Apakah kesuburan ada kaitannya dengan lahan gambut?


Kesuburan pada lahan gambut hanya sesuai untuk tumbuhan insitu (kecuali
pada tanaman yang sangat adaptif seperti sawit)

3. Apa hubungan pH dengan Bahan Organik?


Semakin tinggi kematangan bahan organik, ion hidrogen yang dapat dijerap
semakin tinggi, sehingga pH menjadi asam. (ingat bahwa daya adsorpsi
bahan organik paling tinggi dibanding lempung montmorillonit sekalipun)

4. Mengapa pH potensial jauh berbeda dengan pH aktual?


Karena tanah yang diberi pupuk KCl akan lebih mudah mengikat kation-kation
yang lain, tidak hanya kation hidrogen.

5. Mengapa salinitas tanah bisa tinggi?


Selain karena persentase pertukaran sodium dalam tanah tinggi, juga dapat
disebabkan oleh terbatasnya suplai oksigen pada zona perakaran, yang
menyebabkan tidak efektifnya penyerapan Na oleh tanaman. Sumber mineral
utama ion Na adalah halit (NaCl). Tanah dengan salinitas tinggi umumnya
terbentuk di daerah pesisir. Jika ditemukan salinitas tinggi pada daerah bukan
pesisir dapat menandakan bahwa sumber mineral halit berasal dari airtanah
dengan tipe connate water (kembali pada mata kuliah hidrogeologi).

6. Apa hubungannya dengan kebencanaan? (sori aku lupa daerah mana)


Menganalisis kebencanaan dari karakteristik tanah maka yang
dipertimbangkan adalah ketebalan tanah (tanah yang tebal memiliki beban
lebih berat sehingga berpotensi longsor) dan tekstur tanah (umumnya debu
berpotensi longsor pada lereng yang miring) (lempung biasanya didaerah
cekungan sehingga tidak menyebabkan longsor). Analisis kebencanaan
jangan hanya melihat karakteristik tanah kecuali kalian ingin melihat rekaman
suatu kejadian misal gempa, maka yang harus dilakukan adalah melihat
horison dan profil tanah. Pertimbangkan juga intensitas hujan dan morfologi
lahannya.

7. Apa hubungannya dengan infrastruktur di Purworejo? (sori aku lupa tekstur


tanah yang kalian teliti apa)
Purworejo daerah selatan (dataran) dominan lempung sehingga memiliki sifat
kembang kerut yang tinggi. Dapat dirasakan bahwa jalan raya yang kerap
dilewati rusak dan berlubang. Hal itu menandakan bahwa tanah berlempung
tidak cocok untuk infrastruktur. Struktur bangunan akan mudah rusak karena
stabilitas lempung rendah. Namun tidak semua tipe lempung berdampak
terlalu signifikan.

8. Jika fluvial apakah cenderung ke tanah alluvial yang berhubungan dengan


sungai?
Perlu diklarifikasi bahwa bentuklahan alluvial memiliki material yang berasal
dari transportasi fluvial (produk dari dataran alluvial adalah endapan proses
fluvial). Material alluvium memiliki sortasi yang baik karena ditransportasikan
oleh agen air (berbeda dengan kolluvium). Sedimen yang dibawa oleh sungai
mengendap secara lateral dengan ukuran butir yang seragam dan urut.
Penyebutan yang tepat adalah dataran alluvial, bukan dataran fluvial. Contoh
bentuklahan fluvial adalah dataran alluvial, delta, oxbow lake, gosong sungai,
cut off (tebing), teras sungai, & rawa belakang.

9. Apakah rawa-rawa terpengaruh dengan kondisi tanah?


Tentu terpengaruh. Rawa berada pada morfografi yang datar hingga cekung,
memiliki material dasar dengan tekstur berlempung sehingga jika kelebihan
kadar air akan mengalami penggenangan. Penggenangan pada rawa tentu
terjadi sepanjang tahun. Jika tidak sepanjang tahun maka tidak disebut rawa.
Rawa dapat menjadi media tempat tumbuh tanaman tertentu yang adaptif
terhadap kadar air yang tinggi.

10.Apa saja potensi bencana yang terjadi & faktor apa yang menyebabkan?
(lupa juga tanah apa yang kalian teliti, lihat aja no 6)
Beberapa pertanyaan dari kelas lain:

1. Apakah fosfat (PO4) juga mempengaruhi KTK?


Tidak mempengaruhi. Yang dibutuhkan oleh tanaman adalah unsur dalam
bentuk ion. Jika yang tersedia adalah P (anion) dalam bentuk ion maka dapat
mempengaruhi KTA (kapasitas tukar anion). Namun perlu diketahui bahwa P
umumnya tersedia sedikit di banyak wilayah. Sumber utama P adalah batuan
beku apatit (anorganik) dan hasil dekomposisi sisa-sisa tanaman dan hewan
(organik). Jika koloid tanah memiliki muatan positif, ion P akan terjerap
sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman. Ion P sangat mudah berikatan
terutama dengan Al dan Fe pada pH asam, serta Ca dan Mg pada pH netral-
basa. Oleh karena itu, semakin tinggi muatan positif yang dimiliki koloid
tanah, ion P yang tersedia semakin rendah.

2. Apakah porositas berbanding lurus dengan permeabilitas?


Tidak. Hubungan antarkeduanya berbanding terbalik. Permeabilitas (mm/jam)
menunjukkan kemampuan tanah untuk meloloskan air. Lempung merupakan
jenis tanah yang sulit meloloskan air sehingga permeabilitasnya rendah,
sedangkan pasir mudah meloloskan air sehingga permeabilitasnya tinggi.
Semakin luas permukaan sentuh suatu tanah, semakin tinggi daya pegang
terhadap air. Porositas menunjukkan ruang kosong dalam satuan volum
tanah. Lempung merupakan fraksi terkecil sehingga ruang kosong dalam
ukuran mikro sangat banyak. Hal itu menyebabkan porositas lempung sangat
tinggi, begitu pula sebaliknya dengan pasir, sedangkan debu berada
diantaranya. Secara urut, total luas permukaan sentuh suatu fraksi tanah dari
terkecil hingga terbesar dalam satu satuan volum yang sama adalah pasir,
debu, kemudian lempung.

3. Apakah tanah terrarosa berasal dari pelapukan batugamping?


Bukan. Batugamping merupakan batuan soluble sehingga tidak mengalami
pelapukan. Material seperti tanah yang berada di kawasan karst gunungsewu
merupakan inklusi (mineral pengotor seperti silikat). Lebih tepat disebut
material, karena merupakan mineral pengotor yang tidak ikut mengalami
pelarutan dengan batugamping. Terrarosa tidak ditemukan di kawasan karst
gunungsewu. Terrarosa memiliki karakteristik berwarna merah karena lempung
yang tertinggal mengandung oksida besi