Anda di halaman 1dari 12

KORUPSI

KORUPSI DI KELAS DENGAN CARA MENCONTEK


DI DALAM KELAS

Disusun Oleh:
ERSA MAHENDRA
1614401089

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG


JURUSAN DIII KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2017-201

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah
ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengethuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun
isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca
untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.

Bandar Lampung, Desember 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i


DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalh .................................................................................... 2

BAB II PEMBAHSAN
A. Pengertian Korupsi ..................................................................................3
B. Jenis-Jenis Korupsi ..................................................................................4
C. Persepsi Mayarakat tentang Korupsi .......................................................4
D. Ciri dan Jenis Korupsi .............................................................................5
E. Korupsi Di Kelas Dengan Cara Mencontek Di Dalam Kelas .................6

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN ..........................................................................................8

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Tindak perilaku korupsi akhir-akhir ramai di perbincangkan, baik di media
massa maupun maupun media cetak. Tindak korupsi ini mayoritas dilakukan
oleh para pejabat tinggi negara yang sesungguhnya dipercaya oleh masyarakat
luas untuk memajukan kesejahteraan rakyat sekarang malah merugikan
negara. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan bagi kelangsungan hidup
rakyat yang dipimpin oleh para pejabat yang terbukti melekukan tindak
korupsi. Maka dari itu, di sini kami akan membahas tentang korupsi di
Indonesia dan upaya untuk memberantasnya.
Korupsi merupakan fenomena sosial yang hingga kini masih belum dapat
diberantas oleh manusia secara maksimal. Korupsi tumbuh seiring dengan
berkembangnya peradaban manusia. Tidak hanya di negeri kita tercinta,
korupsi juga tumbuh subur di belahan dunia yang lain, bahkan di Negara yang
dikatakan paling maju sekalipun
Di mata Internasional, bangsa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat
dunia, citra buruk akibat korupsi menimbulkan kerugian. Kesan buruk ini
menyebabkan rasa rendah diri saat berhadapan dengan negara lain dan
kehilangan kepercayaan pihak lain. Ketidakpercayaan pelaku bisnis dunia
pada birokrasi mengakibatkan investor luar negeri berpihak ke negara-negara
tetangga yang dianggap memiliki iklim yang lebih baik. Kondisi seperti ini
merugikan perekonomian dengan segala aspeknya di negara ini. Pemerintah
Indonesia telah berusaha keras untuk memerangi korupsi dengan berbagai
cara.

1
B. Rumusan Masalah
Adapun beberapa rumusan masalah yang kami angkat adalah sebagai berikut :
a. Apa yang dimaksud dengan korupsi ?
b. Gambaran umum tentang korupsi di Indonesia Dan Jenis – Jenis Korupsi ?
c. Korupsi Di Kelas Dengan Cara Mencontek?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Korupsi
Kata “korupsi” berasal dari bahasa Latin “corruptio” atau “corruptus”.
Selanjutnya dikatakan bahwa “corruptio” berasal dari kata “corrumpere”. Dari
bahasa Latin tersebut kemudian dikenal istilah “corruption, corrupt” (Inggris),
“corruption” (Perancis) dan “corruptie/korruptie” (Belanda). Dari asal-usul
bahasanya korupsi bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik,
menyogok, memfitnah, menyimpang dari kesucian atau perkataan menghina).
Sedangkan pengertian korupsi dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia
(W.J.S. Poerwadarminta) adalah sebagai perbuatan curang, dapat disuap, dan
tidak bermoral. Adapun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi
adalah penyelewengan atau penggelapan uang negara atau perusahaan dan
sebagainya untuk kepentingan pribadi maupun orang lain. Sedangkan di dunia
Internasional pengertian korupsi menurut Black’s Law Dictionary korupsi
adalah perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan suatu
keuntungan yang tidak resmi dengan hak-hak dari pihak lain secara salah
menggunakan jabatannya atau karakternya untuk mendapatkan suatu
keuntungan untuk dirinya sendiri atau orang lain, berlawanan dengan
kewajibannya dan hak-hak dari pihak lain.
Arti harifiah adalah Kebusukan, keburukan, kebejatan, ke tidak jujuran,
dapat di suap, Tidak bermoral, penyimpangan dari ke sucian.Menurut
perspektif hukum, definisi korupsi di jelaskan dalam 13 pasal ( UU No.31
Tahun 1999 jo. UU No 20 Tahun 2001 ) Merumuskan 30 bentuk / Jenis tindak
pidana korupsi, yang di kelompokan SBB :
1. Kerugian keuangan negara
2. Suap menyuap
3. Penggelapan dalam jabatan
4. Pemerasan
5. Perbuatan curang
6. Benturan kepentingan dalam pengadaan

3
B. Jenis-Jenis Korupsi
Menurut UU. No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi, ada tiga puluh jenis tindakan yang bisa dikategorikan sebagai
tindak korupsi. Namun secara ringkas tindakan-tindakan itu bisa
dikelompokkan menjadi:
1. Kerugian keuntungan Negara
2. Suap-menyuap (istilah lain : sogokan atau pelicin)
3. Penggelapan dalam jabatan
4. Pemerasan
5. Perbuatan curang
6. Benturan kepentingan dalam pengadaan
7. Gratifikasi (istilah lain : pemberian hadiah).

C. Persepsi Mayarakat tentang Korupsi


Rakyat kecil yang tidak memiliki alat pemukul guna melakukan
koreksi dan memberikan sanksi pada umumnya bersikap acuh tak acuh.
Namun yang paling menyedihkan adalah sikap rakyat menjadi apatis dengan
semakin meluasnya praktik-praktik korupsi oleh be-berapa oknum pejabat
lokal, maupun nasional.
Kelompok mahasiswa sering menanggapi permasalahan korupsi
dengan emosi dan de-monstrasi. Tema yang sering diangkat adalah
“penguasa yang korup” dan “derita rakyat”. Mereka memberikan saran
kepada pemerintah untuk bertindak tegas kepada para korup-tor. Hal ini
cukup berhasil terutama saat gerakan reformasi tahun 1998. Mereka tidak
puas terhadap perbuatan manipulatif dan koruptif para pejabat. Oleh karena
itu, mereka ingin berpartisipasi dalam usaha rekonstruksi terhadap
masyarakat dan sistem pemerin-tahan secara menyeluruh, mencita-citakan
keadilan, persamaan dan kesejahteraan yang merata.

4
D. Ciri dan Jenis Korupsi
Ciri-ciri dari Korupsi antara lain :
a. Selalu melibatkan lebih dari satu orang. Inilah yang membedakan antara
korupsi dengan pencurian atau penggelapan.
b. Pada umumnya bersifat rahasia, tertutup terutama motif yang
melatarbelakangi perbuatan korupsi tersebut.
c. Melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal balik. Kewajiban
dan keuntungan tersebut tidaklah selalu berbentuk uang.
d. Berusaha untuk berlindung dibalik pembenaran hukum.
e. Mereka yang terlibat korupsi ialah mereka yang memiliki kekuasaan atau
wewenang serta mempengaruhi keputusan-keputusan itu.
f. Pada setiap tindakan mengandung penipuan, biasanya pada badan publik
atau pada masyarakat umum.
g. Setiap bentuknya melibatkan fungsi ganda yang kontradiktif dari mereka
yang melakukan tindakan tersebut.
h. Dilandaskan dengan niat kesengajaan untuk menempatkan kepentingan
umum dibawah kepentingan pribadi.
i. Setiap bentuk korupsi adalah suatu pengkhianatan kepercayaan.
j. Perbuatan korupsi melanggar norma-norma tugas dan
pertanggungjawaban dalam masyarakat.
Jenis-jenis dari Korupsi antara lain :
a. Korupsi yang terkait dengan merugikan keuangan Negara.
b. Korupsi yang terkait dengan suap-menyuap.
c. Korupsi yang terkait dengan penggelapan dalam jabatan.
d. Korupsi yang terkait dengan pemerasan.
e. Korupsi yang terkait dengan perbuatan curang.
f. Korupsi yang terkait dengan benturan kepentingan dalam pengadaan.
g. Korupsi yang terkait dengan gratifikasi.

5
E. Korupsi Di Kelas Dengan Cara Mencontek Di Dalam Kelas
Secara sederhana pengertian korupsi adalah mengambil sesuatu apa
yang bukan kepunyaannya untuk kepentingannya pribadi. Pengertian korupsi
yang sederhana itu akan mudah kita jumpai di setiap kampus pada saat ujian
tiba. Tidak sedikit mahasiswa/i mencontek atau dengan membuat catatan
kecil (sering disebutjimek) untuk menjawab soal ujian.
Alasan kuat mengapa para kaum intelektual itu mencontek tidak lain
karena kurang atau malas belajar. Meskipun ia penuh kesibukan atau kerja
sambil kuliah. Jadilah ia tidak mampu menjawab soal ujian. Memang betul
ada beberapa soal yang sangat sulit dijawab, tetapi bukan berarti soal ujian
itu sulit semuanya.
Fakta lain mengapa mahasiswa mencontek tak peduli dengan catatan,
bahan bacaan pun tak dimiliki atau malas membiasakan diri membaca. Ia
berharap besar dari jawaban temannya. Perbuatan itu terjadi hampir di setiap
fakultas. Sialnya, ada pengawas yang kurang ketat dalam mengawas ujian,
seakan para mahasiswa diizinkan melakukan aksi lihat jimek.
Mahasiswa yang jujur pasti akan menjawab soal semampunya, ia tidak
mau mencontek meskipun nilainya lebih rendah dari temannya yang
lain.Lagi pula, nilai mahasiwa tidak mutlak ditentukan dari hasil ujian pad
saat itu. Ada penilaian lain seperi karakter, kehadiran, praktikum, tugas,
presentasi, dsb.
Memang kita harus akui bahwa kemampuan setiap orang berbeda-
beda. Tapi bukan berarti itu adalah alasan pembenaran dalam mencontek.
Melarang atau mengharamkan perbuatan mencontek bukanlah memandang
sebelah mata bagi mahasiswa yang kurang baik dalam mencerna pelajaran.
Hanya saja mahasiswa seperti itu butuh banyak belajar dan bertanya kepada
dosen yang ia rasa sangat penting.
Termasuk “Kejahatan”
Kesalahan besar—kalau tidak mau dikatakan kejahatan—yang
dilakukan oleh mahasiswa adalah mencontek. Yang mencontek dan pemberi
contek sama-salah. Jika sejak mahasiwa sudah mencontek, setelah alumni
(bekerja), ia akan "mencontek"—karena kebiaasaannya itu sejak mahasiswa.

6
Mencontek bisa diartikan: mengambil atau ingin memiliki apa yang bukan
hasil kerja kerasnya. Bukankah itu sama dengan korupsi.
Makanya tak heran kalau Prof. J.E. Sahetapy, pakar hukum itu bilang
kalau mau tahu siapa yg berpotensi melakukan korupsi, tanya para dosen di
perguruan tinggi, apakah ia pernah mencontek ketika mahasiswa. Dengan
kata lain, Sahetapy mengatakan bahwa bibit korupsi adalah mencontek.
Stop Mencontek
Lantas, hal tersebut mesti dihilangan dari budaya kampus. Mahasiswa
harus menyadari dan segera berubah dari contek-mencontek. Belajar dengan
sungguh-sungguh, banyak membaca, diskusi sesama mahasiswa atau dosen
adalah cara baik untuk menghadapi ujian. Saya kadang heran melihat
seorang rekan yang dengan lantang berdiri paling depan dan berteriak
menyuarkan aspirasi di gedung dewan perwakilan rakyat, tapi nyali lembek
dan duduk paling belakang pada saat ujia tiba.
Tak perlu khawatir kalau kita dengan tegas tidak mau memberikan
contekan kepada teman yang meminta jawaban. Tetapi kita harus biijak
menghadapi risiko yang terjadi kalau kita tidak memberikan contekan.
Barangkali akan dicemooh, dijauhi, dsb. Tapi bisa ditegaskan kepada mereka
bahwa kita bisa diajak belajar bersama dengan waktu dan tempat “silahkan
pilih.”
Karena itu pandangan membabi buta “sebetulnya mencotek itu tidak
sepenuhnya salah” harus segera disadarkan. Jika digugat ke Mahkamah
Konstitusi sekalipun itu pasti tidak bisa dimenangkan. Karena kalau
dimenagkan hancurlah proses pendidikan bangsa ini.
Para koruptor telah terbukti membuat negara hancur (bangrut),
pemerintah limbung, dan rakyat sengsara! Korupsi makin merajalela di
tengah-tengah kehidupan bangsa. Meminjam kalimat Prof. Syafii Maarif
“kerusakan bangsa ini nyaris sempurna.” Lantas, jika mencontek adalah bibit
korupsi yang menjamur di perguruan tinggi, mari buka mata, hati, dan
pikiran. Stop mencontek!

7
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari berbagai penjelasan diatas kami menarik kesimpulan bahwa korupsi
adalah kejahatan yang sangat merugikan publik. Korupsi adalah penghianatan,
dalam hal ini adalah penghianatan terhadap rakyat yang telah memberikan
amanah dalam mengemban tugas tertentu.
Allah membenci orang-orang yang berhianat, apalagi korupsi merupakan
penghianatan terhadap suatu amanah. Di jaman sekarang ini sudah banyak
sekali kebobrokan nilai-nilai kemanusiaan seeperti maraknya korupsi, oleh
karena itu perlu sekali adanya nilai-nilai agama dalam setiap sendi kehidupan
termasuk dalam bidang pendidikan. Pendidikan agama harus memegang peran
yang cukup besar dalam upaya menekan angka korupsi yang terjadi saat ini,
dan melalui pendididkan agama diharapkan dapat mencegah meluasnya
korupsi.
Korupsi merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kaidah-kaidah
umum yang berlaku di masyarakat. Korupsi di Indonesia telah dianggap
sebagai kejahatan luar biasa. Melihat realita tersebut timbul publik judgement
bahwa korupsi adalah manisfestasi budaya bangsa. Telah banyak usaha yang
dilakukan untuk memberantas korupsi. Namun walaupun begitu dengan upaya
apapun memang harus terus dilakukan untuk memberantas korupsi.
Seperti yang sekarang ini kita lakukan di lingkungan mahasiswa ,
memasukan Pendidikan Anti korupsi guna mengoptimalkan intelektual, sifat
kritis dan etika integritas mahasiswa agar kedepannya bisa menghasilkan
sosok-sosok pembangun bangsa yang berjiwa anti korupsi tentunya.

8
DAFTAR PUSTAKA

http://definisipengertian.com/2012/pengertian-definisi-korupsi-menurut-para-ahli/
http://soloraya.net/korupsi-dan-pengertiannya.html
http://www.pengertianahli.com/2014/07/pengertian-nepotisme-apa-itu-
nepotisme.html
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl3369/perbedaan-antara-suap-dengan-
gratifikasi
https://id.wikipedia.org/wiki/Gratifikasi (diambil pada 02 maret 2016)
https://www.slideshare.net/satrioarismunandar/berbagai-jenis-korupsi-des-2013
http://ajigoahead.blogspot.co.id/2013/01/korupsi-dalam-perspektif-islam-
dan.html (diambil pada 02 maret 2013)