Anda di halaman 1dari 9

61

JURNAL PRODUKSI TANAMAN VOLUME 1 No.1 MARET-2013

IDENTIFIKASI KERAGAMAN MORFOLOGI DAUN MANGGA (Mangifera indica


L.) PADA TANAMAN HASIL PERSILANGAN ANTARA VARIETAS ARUMANIS
143 DENGAN PODANG URANG UMUR 2 TAHUN

IDENTIFICATION MORPHOLOGY DIVERSITY OF MANGO LEAF (Mangifera


indica L.) IN CROSS PLANTS BETWEEN ARUMANIS 143 VARIETIES AND
PODANG URANG 2 YEARS
1*)
Agustin N. Nilasari , JB. Suwasono Heddy, Tatik Wardiyati
*)
Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya
Jln. Veteran, Malang 65145, Jawa Timur, Indonesia

ABSTRAK kekerabatan yang dekat dengan kedua


tetuanya, 32 klon. Sedangakan cluster 2
Buah mangga (Mangifera indica L.) merupakan klon harapan dari hasil
merupakan tanaman buah yang potensial persilangan Arumanis 143 dan Podang
dikembangkan karena mempunyai tingkat Urang, 12 klon.
keragaman genetik yang tinggi. Variasi yang
cukup tinggi pada bentuk, ukuran dan warna Kata kunci : Mangifera indica L., hasil
daun mangga menunjukkan adanya persilangan, hierarkhi cluster, daun mangga
keragaman genetik yang cukup luas. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ABSTRACT
keragaman morfologi daun mangga
sehingga dapat digunakan sebagai salah Mango fruit is a fruit plant that has potential
satu cara mendeteksi dini keragaman to be developed because that have a high
morfologi daun hasil persilangan antara level of genetic diversity. The variation is
mangga varietas Arumanis 143 dengan quite high on the shape, size and color of
Podang Urang. Pengamatan dilakukan pada mango leaves showed a wide genetic
bagian daun, mulai flush daun sampai daun diversity. The purpose is to find out the
menjadi sempurna dan berwarna hijau tua. morphology diversity of mango leaf can be
Pengamatan tanaman sampel dilakukan used as a means of early detection of
dengan 2 metode, metode non-destruktif diversity leaf morphology from crosses of
yang terdiri dari pengamatan warna daun, mango varieties Arumanis 143 with Podang
warna tulang daun, panjang daun, lebar Urang. Observations were made on the
daun, rasio P/L daun dan lama leaves, from the flush leaf to be perfect leaf
perkembangan daun, sedangkan untuk and the colour is dark green. The
metode destruktif terdiri dari pengamatan observation of plants sample performed by
jumlah daun per flush, posisi duduk daun 2 methods, non-destructive method : Color
pada batang, bangun atau bentuk daun dan of the leaf, leaf bone color, leaf length, leaf
luas daun maksimum. Data akan dianalisis width, leaf length ratio, and long leaf
dengan menggunakan Hierarkhi Cluster development, while the destructive methods
metode Average Linkage (Between Groups) the observed is The leaf total, leaf area, leaf
program SPSS 13 dan hasilnya disajikan attitude in relation to branch and leaf shape.
dalam bentuk Dendrogram. Hasil penelitian The data will be analyzed using methods
menunjukkan bahwa dari hasil pengamatan Cluster Hierarchy, Average Linkage
metode kualitatif maupun kuantitatif yang (Between Groups) program SPSS 13 and
dilanjutkan dengan metode cluster pada the results are presented in the form of a
daun mangga diperoleh 2 cluster. Cluster 1 dendrogram. From the observation of
yaitu klon yang memiliki hubungan qualitative and quantitative methods,
62

Nilasari : Identifikasi Keragaman Morfologi.....................................................................................

continued by cluster method on mango leaf yang cukup luas. Identifikasi morfologi daun
is obtained 2 clusters. Cluster 1 is a clone hasil persilangan – persilangan antar jenis
that has a kinship relationship with the both (intraspesifik) maupun antar sifat – sifat
parental, 32 clones. While cluster 2 that be baru dan unik yang berbeda dari kedua
a expectations clone from the result crosses tetuanya sehingga akan lebih memperkaya
Arumanis 143 with Podang Urang is 12 keragaman genetik tanaman tersebut
clones. (Soetarso, Nandariyah dan Hariati, 1985).
Penelitian ini bertujuan untuk
Keywords : Mangifera indica L, Result mengetahui keragaman morfologi daun
Crosses, Hierarchi Cluster, mango leaf mangga sehingga dapat digunakan sebagai
salah satu cara mendeteksi dini keragaman
PENDAHULUAN morfologi daun hasil persilangan antara
mangga varietas Arumanis 143 dengan
Buah mangga merupakan tanaman Podang Urang.
buah yang potensial dikembangkan karena
mempunyai tingkat keragaman genetik yang BAHAN DAN METODE PENELITIAN
tinggi. Dalam bidang pemuliaan tanaman,
buah mangga belum banyak dikembangkan. Penelitian dilakukan di kebun milik
Kesulitan yang dihadapi dalam pemuliaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Dinas
buah mangga adalah sedikitnya jumlah Pertanian “UPT Pengembangan Benih
plasma nutfah yang diperoleh, sifat panikula Hortikultura”, Jl. Urip Sumoharjo No.33,
dan bunga yang kompleks, tingkat Pohjentrek – Pasuruan. Penelitian
kesuksesan yang rendah dalam dilaksanakan pada bulan Maret sampai
penyerbukan. bulan Juni 2010. Alat yang digunakan dalam
Tanaman Mangga Arumanis 143 dan penelitian ini antara lain alat tulis,
Podang Urang merupakan kultivar yang mistar/penggaris, RHS colour chart dan
cukup potensial untuk dikembangkan kamera digital. Bahan yang digunakan
sebagai mangga unggulan karena memiliki dalam penelitian ini daun mangga klon hasil
cita rasa yang disukai konsumen. Tanaman persilangan yang telah berumur 2 tahun
Mangga Arumanis 143 memiliki daging terdiri atas 44 tanaman hasil persilangan
buah yang halus, pulen dan sangat manis mangga varietas Arumanis 143 x Podang
(Ihsan dan Sukarmin, 2007) selain itu Urang, dan 2 pohon induk dari masing-
Arumanis 143 juga mempunyai serat halus, masing varietas yang disilangkan.
kadar air sedang, aroma harum, dan warna Pengamatan dilakukan pada bagian daun
daging buah kuning-jingga. Standar mutu mulai flush daun sampai daun menjadi
yang dimiliki oleh mangga Arumanis dapat sempurna dan berwarna hijau tua.
memenuhi standar mutu konsumen Pengamatan tanaman sampel dilakukan
internasional (Fitmawati, Hartana dan dengan 2 metode, metode non-destruktif
Purwoko, 2009). Sedangkan mangga yang terdiri dari pengamatan warna daun,
Podang Urang memiliki penampilan warna warna tulang daun, panjang daun, lebar
kulit buah merah jingga menarik, daging daun, rasio P/L daun dan lama
buah berwarna jingga, bentuk buah cantik, perkembangan daun, sedangkan untuk
rasa buah manis, aroma buah tajam, serat metode destruktif terdiri dari pengamatan
halus dan cukup banyak mengandung air jumlah daun per flush, posisi duduk daun
(Baswarsiati dan Yuniarti, 2007). Namun, pada batang, bangun atau bentuk daun dan
sejalan dengan perubahan strategis yang luas daun maksimum. Data akan dianalisis
mengikuti pasar bebas saat ini preferensi dengan menggunakan Hierarchi Cluster
pasar khususnya pasar internasional metode Average Linkage (Between Groups)
menghendaki warna merah pada buah program SPSS 13 dan hasilnya disajikan
mangga (Ishartati dan Husein, 2007). dalam bentuk Dendrogram.
Variasi yang cukup tinggi pada bentuk,
ukuran dan warna daun mangga
menunjukkan adanya keragaman genetik
63

Nilasari : Identifikasi Keragaman Morfologi.....................................................................................

HASIL DAN PEMBAHASAN diketahui, bahwa rata-rata jumlah daun


sebanyak 7,96 helai, dari 46 tanaman yang
Hasil pengamatan pada karakter diamati 36,96% memiliki jumlah daun
morfologi daun tanaman mangga secara dibawah nilai rata-rata dan 63,04% memiliki
kualitatif yang terdiri dari variabel jumlah daun diatas nilai rata-rata.
pengamatan warna helai daun (minggu ke – Berdasarkan data variabel pengamatan
2), warna tulang daun, bentuk daun dan (Tabel 2) nilai rata-rata panjang daun 16,14
posisi duduk daun terdapat perbedaan antar cm, dari 46 tanaman yang diamati 47,83%
klon tanaman. Perbedaan hasil paling memiliki panjang daun dibawah nilai rata-
mencolok terdapat pada variabel rata dan 52,17% memiliki nilai diatas rata-
pengamatan warna helai daun (minggu ke – rata.
2), sedangkan pada variabel pengamatan Pada variabel pengamatan lebar
bentuk daun dan posisi duduk daun hanya daun diketahui sebanyak 52,17% memiliki
terdapat sedikit perbedaan. Data pada nilai rata-rata lebih besar dibandingkan rata-
Tabel 1 menunjukkan bahwa karakter helai rata total dari 46 tanaaman yaitu 4,54 cm
daun pada pengamatan minggu ke-2 sedangkan sisanya 47,83 % memiliki lebar
diperoleh hasil yang sangat bervariasi. daun dibawah nilai rata-rata.
Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui Data pengamatan luas daun menunjukkan
bahwa terdapat 29 klon (63,04%) yang bahwa 41,30% dari total 46 tanaman
memiliki warna helai daun pada kisaran memiliki nilai luas daun diatas rata-rata total
2
kode color chart dari RHS antara 172 A – yaitu 59,66 cm , sedangkan sisanya 58,70%
177 D termasuk tetua Arumanis 143 dan memiliki luas daun dibawah rata-rata.
Podang Urang, sisanya 17 klon (36,96%) Rasio panjang lebar daun diketahui 54,35%
memiliki warna helai daun yang bervariasi memiliki nilai lebih besar dari nilai rata-rata
mulai dari 151 A – 182 D, seperti yang 46 tanaman yaitu 3,59, sedangkan 45,65%
disajikan pada Tabel 1. Pada variabel memiliki nilai lebih kecil dibanding dengan
pengamatan warna tulang daun terdapat 3 nilai rata-rata total.
keragaman warna dari total 46 tanaman Lama perkembangan daun sampai
yang terdiri dari 24 tanaman (52,17%) hijau daun berwarna hijau tua diketahui 50%
muda, 15 tanaman (32,61%) hijau memiliki nilai lebih besar dari nilai rata-rata
kekuningan dan sisanya 7 tanaman total 46 tanaman sebesar 47,43 hari,
(15,22%) hijau tua. Pada variabel sedangkan sisanya sama yaitu 50%
pengamatan bentuk daun dibagi menjadi 3 memiliki nilai lebih kecil dari nilai rata-rata
sub pengamatan yaitu helai, ujung dan total. Pada hubungan kekerabatan hasil
pangkal daun, dari ke-3 sub pengamatan yang diperoleh dari dendrogram analisis
tersebut diperoleh hasil bahwa bentuk daun hierarchical cluster menunjukkan bahwa
46 tanaman berbentuk sama. Helai daun terdapat 2 cluster besar (Gambar 1). Cluster
dari keseluruhan tanaman berbentuk jorong 1 terdiri dari 34 tanaman yang terdiri dari
dengan ujung daun meruncing dan pangkal tetua dari Arumanis 143 dan Podang Urang
daun berbentuk tumpul. Posisi duduk daun serta 32 klon AP. Sedangkan cluster 2
yang dapat diamati dari 46 tanaman terdiri dari 12 klon Dari hasil cluster dapat
diperoleh 3 variasi yaitu posisi duduk daun diketahui bahwa cluster 1 memiliki rentang
tegak 2,17% yang dimiliki oleh varieatas nilai yang sangat bervariatif pada semua
Podang Urang, posisi duduk daun terkulai variabel pengamatan kualitatif dan
19,57% (sebanyak 9 klon) sedangkan kuantitatif, sedang cluster 2 memiliki nilai
sisanya memiliki posisi duduk daun yang lebih tinggi dari rata-rata pada semua
mendatar 78,26%. variabel pengamatan kuantitatif sedangkan
Pada karakteristik morfologi daun pada variabel pengamatan kualitatif juga
tanaman mangga secara kuantitatif dari memiliki nilai rata-rata yang hampir sama.
data pengamatan pada Tabel 2 dapat
64

Nilasari : Identifikasi Keragaman Morfologi.....................................................................................

Tabel 1 Warna helai daun minggu ke-2, warna tulang daun, bentuk daun dan posisi duduk daun

Tabel 2 jumlah daun, panjang daun, lebar daun, luas daun, rasio panjang lebar daun dan lama
perkembangan daun
65

Nilasari : Identifikasi Keragaman Morfologi.....................................................................................

Gambar 1 Dendrogram analisis Hiterarchi cluster Identifikasi morfologi daun mangga


(Manggifera indica L.) pada tanaman hasil persilangan varietas arumanis 143 dengan podang
urang umur 2 tahun.

Karakter Morfologi Daun Mangga Sedangkan 17 klon sisanya (36,96%)


Kualitatif memiliki warna helai daun yang berbeda
dengan tetuanya. Warna daun yang
Warna helai Daun berbeda ini dapat dikatakan bahwa hasil
Tabel 1 menunjukkan karakter warna persilangan antara Arumanis 143 dan
tulang daun pada pengamatan ke – 2 Podang Urang menghasilkan warna helai
memiliki warna daun yang bervariasi. daun yang yang berbeda dengan tetuanya,
Berdasarkan pengamatan tabel tersebut hal ini sesuai dengan Mangoendidjojo
diketahui terdapat 29 klon (63,04%) yang (2003) yang menyatakan bahwa hasil
memiliki warna helai daun pada kisaran persilangan yang berbeda sifat akan
kode color chart dari RHS antara 172 A – menghasilkan tanaman yang heterozigot.
177 D termasuk tetua Arumanis 143 dan
Podang Urang, sehingga dapat dikatakan Warna Tulang Daun
bahwa klon tersebut memiliki kesamaan Pada karakter warna tulang daun
dengan tetuanya yaitu Arumanis 143 dan terdapat 3 keragaman (Tabel 1) yaitu hijau
Podang Urang yang memiliki warna helai muda, hijau kekuningan dan hijau tua, hal
daun dengan kode 177 A dan 175 A. ini menggambarkan bahwa kondisi
66

Nilasari : Identifikasi Keragaman Morfologi.....................................................................................

dilapangan menunjukkan bahwa karakter muncul dari hasil persilangan tersebut. Tipe
tulang daun beragagam. Pada tetua posisi duduk daun mendatar lebih banyak
mangga Arumanis 143 memiliki tulang daun dijumpai pada hasil persilangan, hal ini
hijau muda dan tetua Podang Urang disebabkan sifat posisi duduk daun
memiliki warna tulang daun hijau mendatar yang dimiliki tetua Arumanis 143
kekuningan, warna tulang daun hijau tua lebih dominan dibanding posisi duduk daun
muncul akibat persilangan yang berbeda tegak yang dimiliki tetua Podang Urang.
sifat (Mangoendidjojo, 2003). Pada posisi duduk daun terkulai muncul
karena hasil persilangan 2 varietas tanaman
Bentuk Daun yang berbeda sifat akan menghasilkan
Pada pengamatan bentuk daun yang tanaman yang beragam (Mangoendidjojo,
dibagi menjadi 3 sub pengamatan yaitu 2003).
bentuk helai daun, bentuk ujung daun dan
bentuk pangkal daun pada pengamatan Karakteristik Morfologi daun Mangga
tanaman mangga Arumanis 143, Podang Kuantitatif
Urang dan klon AP dapat diketahui bahwa
memiliki bentuk daun yang sama yaitu Jumlah Daun
berbentuk jorong dengan ujung meruncing Dari pengamatan Tabel 2
dan pangkal tumpul, sehingga dapat menunjukkan hasil yang beragam, pada
dikatakan bahwa klon hasil persilangan variabel pengamatan jumlah daun
tetua tersebut keseluruhannya memiliki menunjukkan sebanyak 29 tanaman
karakter bentuk daun yang sama dengan (63,04%) termasuk tetua Arumanis 143 dan
tetuanya. Hal tersebut sesuai dengan Podang Urang memiliki jumlah daun diatas
deskripsi tanaman mangga Arumanis 143 rata-rata dengan range point 8 - 10 helai,
dan Podang Urang (Keputusan Menteri sedangkan sisanya sebanyak 17 tanaman
Pertanian, 2003; Direktorat Jendral (36,96%) memiliki jumlah daun dengan
Hortikultura, 2008; IPGRI, 2006). range point 5 – 7 helai. Hasil yang didapat
pada Tabel 2 khususnya pengamatan
Posisi Duduk Daun jumlah daun selanjutnya dilakukan
Berdasarkan pengamatan posisi perhitungan koefisien keragaman jumlah
duduk daun dapat dijumpai 3 karekter daun dari hasil silangan tersebut. Dari hasil
bentuk daun yang berbeda yaitu tipe daun data jumlah daun yang terdapat pada Tabel
tegak, mendatar dan terkulai, hal ini sesuai 2 dapat dinyatakan bahwa koefisien
dengan yang dikemukakan IPGRI (2006), keragaman panjang daun sebesar 21,48%
yang menyatakan bahwa posisi duduk daun termasuk koefisien keragaman yang
mangga memiliki 3 kemungkinan yaitu rendah, pernyataan ini sesuai dengan yang
tegak, mendatar dan terkulai. Dari ketiga dikemukakan Suratman, Priyanto dan
karakter tersebut tetua Arumanis 143 Setyawan (2000), bahwa nilai koefisien
memiliki posisi duduk daun yang mendatar, keragaman 0,1% - 25% tergolong rendah.
sedangankan tetua Podang Urang memiliki
posisi duduk daun tegak, hal ini sesuai Panjang Daun
Keputusan Menteri Pertanian (2003) yang Pada pengamatan jumlah daun yang
menyebutkan bahwa tanaman mangga terdapat pada Tabel 2 diketahui range point
varietas Arumanis 143 memiliki posisi duduk panjang daun keseluruhan antara 8,47 –
daun yang mendatar, sedangkan tanaman 23,82 cm. Pada pengamatan panjang daun
mangga Podang Urang memiliki posisi yang nilainya diatas rata-rata total (16,14
duduk daun tegak. cm) terdapat ada 24 klon AP (52,17%) 24
Hasil persilangan kedua tetua klon tersebut memiliki range point antara
Arumanis 143 dan Podang Urang tersebut 16,62 – 23,82 cm, sedangkan sisanya
menghasilkan anakan yang posisi duduk sebanyak 47,83% memiliki panjang daun
daunnya mendatar sebanyak 35 klon, 9 klon dengan range point 8,47 - 16,13 cm. Dari
memiliki posisi duduk daun yang terkulai hasil data panjang daun yang terdapat pada
sedangkan untuk tipe tegak tidak ada yang Tabel 2 dapat dinyatakan bahwa koefisien
67

Nilasari : Identifikasi Keragaman Morfologi.....................................................................................

keragaman panjang daun sebesar 24,03% tetua Arumanis 143) memiliki nilai diatas
yang termasuk koefisien keragaman yang nilai rata-rata total dengan range point
rendah (Suratman dkk., 2000). antara antara 4,56 - 6,04 cm, sedangkan
sisanya 22 tanaman (47,83%) termasuk
Lebar Daun tetua Podang Urang memiliki lebar daun
Pada pengamatan Tabel 3 tentang dibawah nilai rata-rata total dengan range
lebar daun diketahui range point lebar daun point antara 3,22 – 4,53 cm. Dari hasil data
antara 3,22 – 6,04 cm, dengan nilai rata- lebar daun yang terdapat pada Tabel 2
rata lebar daun sebesar 4,54 cm. Dari 46 dapat dinyatakan bahwa koefisien
tanaman yang diamati terdapat 52,17% (24 keragaman panjang daun sebesar 23,11%
tanaman termasuk tetua Arumanis 143) yang termasuk koefisien keragaman yang
memiliki nilai diatas nilai rata-rata total rendah (Suratman dkk., 2000).
dengan range point antara antara 4,56 -
6,04 cm, sedangkan sisanya 22 tanaman Lama Perkembangan Daun
(47,83%) termasuk tetua Podang Urang Pada pengamatan lama
memiliki lebar daun dibawah nilai rata-rata perkembangan daun dalam Tabel 2
total dengan range point antara 3,22 – 4,53 diketahui range point antara 42 – 51,33 hari,
cm. Dari hasil data lebar daun yang terdapat dengan nilai lama perkembangan daun rata-
pada Tabel 2 dapat dinyatakan bahwa rata total sebesar 47,43 hari. Waktu
koefisien keragaman panjang daun sebesar perkembangan daun tersebut sesuai
14,31% yang termasuk koefisien dengan pernyataan Hidayat (2005), yang
keragaman yang rendah (Suratman dkk., menyatakan bahwa waktu yang diperlukan
2000). daun mangga dalam perkembangan
pembentukan flush ke flush ialah 6 – 8
Luas Daun minggu. Dari nilai rata-rata total tersebut
Pada pengamatan luas daun dalam terdapat ada 50% ( 23 tanaman termasuk
Tabel 2 diketahui range point luas daun tetua Arumanis 143 dan Podang Urang)
2
antara 30,20 – 101,10 cm , dengan nilai memiliki nilai diatas nilai rata-rata total
2
luas daun rata-rata total sebesar 59,66 cm . dengan range point antara 49 – 51,33 hari,
Dari nilai rata-rata total tersebut terdapat Sedangkan sisanya sebanyak 50% (23
ada 41,30% (19 klon) memiliki nilai diatas klon) memiliki nilai dibawah nilai rata-rata
nilai rata-rata total dengan range point total dengan range point antara 42 – 46,67
2
antara 59,96 - 101,10 cm , Sedangkan hari. Dari hasil data luas daun yang terdapat
sisanya sebanyak 58,70% (27 tanaman pada Tabel 2 dapat dinyatakan bahwa
termasuk tetua Arumanis 143 dan Podang koefisien keragaman lama perkembangan
Urang) memiliki nilai dibawah nilai rata-rata daun sebesar 6,05% yang termasuk
total dengan range point antara 30,20 – koefisien keragaman yang rendah
2
59,53 cm . Dari hasil data luas daun yang (Suratman dkk., 2000).
terdapat pada Tabel 2 dapat dinyatakan Pertumbuhan daun mangga mulai
bahwa koefisien keragaman panjang daun berbentuk kuncup sampai menjadi daun
sebesar 33,89% yang termasuk koefisien sempurna (berwarna hijau) dipengaruhi oleh
keragaman yang sedang, pernyataan ini faktor genetik, hal ini sesuai dengan
sesuai dengan yang dikemukakan Mangoendidjojo (2003), yang menyatakan
Suratman dkk. (2000) bahwa nilai koefisien bahwa hasil persilangan yang berbeda sifat
keragaman 25,1% - 50% tergolong sedang. akan menghasilkan tanaman yang
heterozigot dan juga dipengaruhi oleh faktor
Rasio Panjang Lebar Daun lingkungan, salah satu faktor lingkungan
Pada pengamatan Tabel 2 khususnya yang mempengaruhi ialah curah hujan.
rasio panjang lebar daun diketahui range Pada saat curah hujan dalam kondisi yang
pointnya antara 2,02 – 5,02, dengan nilai tinggi umumnya tanaman mangga
rata-rata rasio panjang lebar daun sebesar memasuki musim perkembangan vegetatif
3,59. Dari 46 tanaman yang diamati dan membutuhkan air yang cukup untuk
terdapat 54,35% (25 tanaman termasuk mendukung pertumbuhan vegetatifnya,
68

Nilasari : Identifikasi Keragaman Morfologi.....................................................................................

pada saat melakukan penelitian yaitu antara AP 5, AP 72.2, AP 66.1, AP 39.2, AP 49.1,
bulan Maret – Juni 2010 kondisi curah hujan AP 22.2, AP 59.1, AP 13, AP 52.1, AP 66.3,
cukup tinggi, yaitu 336 mm pada bulan AP 22.1, AP 12.2, AP 67.1, AP 15.1, AP
Maret dan berakhir pada bulan Juni dengan 23.2, AP 52.3, AP 24.1, AP 45.3, AP 16, AP
curah hujan 110 mm. Hal ini sesuai dengan 27.2, AP 12.1, AP 47.2, AP 6 dan AP 52.2.
yang dikemukakan oleh Sugito (1999), Sehingga dapat diuraikan bahwa hasil
bahwa kebutuhan air semakin banyak persilangan antara varietas Arumanis 143
seiring dengan meningkatnya umur dan Podang Urang sebanyak 32 klon
tanaman dan kebutuhan maksimum terjadi tersebut memiliki kesamaan karakter
pada akhir fase vegetatif sampai masa morfologi daun dengan kedua tetuanya baik
pembungaan, pada saat penelitian tanaman pada pengamatan kuantitatif maupun
mangga yang diamati merupakan tanaman kualitatif. Sedangkan sisanya sebanyak 12
yang belum menghasilkan maka belum klon yang terdiri dari AP 39.1, AP 29.1, AP
terjadi masa pembungaan. 32.1, AP 54.2, AP 27.1, AP 29.2, AP 53.4,
Koefisien keragaman digunakan AP 53.3, AP 72.1 AP 47.1, AP 49.3 dan AP
untuk menduga tingkat perbedaan antar 49.2 memiliki perbedaan karakter morfologi
spesies atau populasi pada karakter- daun pada pengamatan kuantitatif dengan
karakter terpilih. Dari hubungan ini dapat kedua tetuanya sehingga masuk dalam
dianalisa, semakin jauh hubungan cluster 2. Dari uraian tersebut dapat
kekerabatan maka semakin tinggi tingkatan disimpulkan bahwa 12 klon tanaman
keragaman (nilai koefisien keragaman (cluster 2) tersebut merupakan klon harapan
tinggi, 50 – 75%) dan semakin rendah dari persilangan Arumanis 143 dan Podang
tingkat keseragamannya, demikian pula Urang dengan keunggulan karakter
sebaliknya (Suratman,dkk. 2000). morfologi daun pada pengamatan kuantitatif
memiliki nilai yang lebih besar diatas rata-
Analisis Hubungan Kekerabatan rata total. Klon harapan adalah klon hasil
Dalam penentuan identifikasi persilangan dari mangga varietas Arumanis
banyaknya cluster yang terbentuk 143 dengan Podang Urang yang diharapkan
didasarkan pada selisih koefisien akan memunculkan sifat – sifat baru dan
aglomerasi terbesar, hal ini sesuai yang unik morfologi daun yang berbeda dari
dikemukakan Fernandes (2008) yang kedua tetuanya sehingga akan memperkaya
menyatakan bahwa penentuan jarak antar keragaman genetik hasil persilangan kedua
cluster pada metode average lingkage varietas tanaman tersebut (Soetarso dkk.,
dihitung berdasarkan jarak rata-rata dari 1985).
seluruh objek yang berada didalam kedua
cluster tersebut dan identifikasi banyaknya KESIMPULAN
cluster yang terbentuk didasarkan pada
lompatan koefisien aglomerasi terjauh. Dari hasil pengamatan metode kualitatif
Berdasarkan analisis hierarchical maupun kuantitatif yang dilanjutkan dengan
cluster terhadap 46 tanaman didapatkan metode cluster pada daun mangga
nilai koefisien aglomerasi, pada diperoleh 2 cluster. Cluster 1 yaitu klon yang
pengamatan tersebut nilai koefisien memiliki hubungan kekerabatan yang dekat
aglomerasi menghasilkan selisih terbesar dengan kedua tetuanya yaitu klon AP 53.1,
dari stage 44 ke 45, yaitu 27,592 ke 42,516 AP 48, AP 35, AP 67.2, AP 32.2, AP 17, AP
atau sebesar 14,924. Dengan demikian 53.2, AP 45.5, AP 5, AP 72.2, AP 66.1, AP
dapat diketahui dari 46 sampel tanaman 39.2, AP 49.1, AP 22.2, AP 59.1, AP 13, AP
memiliki 2 cluster. Cluster 1 mempunyai 52.1, AP 66.3, AP 22.1, AP 12.2, AP 67.1,
anggota sebanyak 34 tanaman termasuk AP 15.1, AP 23.2, AP 52.3, AP 24.1, AP
tetua varietas Arumanis 143 dan Podang 45.3, AP 16, AP 27.2, AP 12.1, AP 47.2, AP
Urang, dan klon baru hasil silangan yang 6 dan AP 52.2. Sedangkan cluster 2
merupakan anggota cluster 1 sebanyak 32 merupakan klon harapan dari hasil
klon yang terdiri dari AP 53.1, AP 48, AP 35, persilangan Arumanis 143 dengan Podang
AP 67.2, AP 32.2, AP 17, AP 53.2, AP 45.5, Urang yaitu AP 39.1, AP 29.1, AP 32.1, AP
69

Nilasari : Identifikasi Keragaman Morfologi.....................................................................................

54.2, AP 27.1, AP 29.2, AP 53.4, AP 53.3, indica) untuk Perakitan Varietas


AP 72.1 AP 47.1, AP 49.3 dan AP 49.2. Unggul Baru.
Nilai koefisiensi keragaman tanaman http://www.pustakadeptan.go.id/publik
mangga hasil silangan Arumanis 143 dan asi/bt13108j .pdf. Diakses tanggal 5
Podang Urang tergolong rendah (0 – 25%) Nopember 2009
pada pengamatan jumlah daun (21,48%), IPGRI. 2006. Descriptors For Mango
panjang daun (24,03%), lebar daun (Mangifera indica L.). International
(14,31%), rasio panjang lebar daun Plant Genetic Resources Institute.
(23,11%) dan lama perkembangan daun Rome, Italy. (http://www.pn.iocri.net/
(6,05%), sedangkan pada pengamatan luas referensi/mangga.pdf). Diakses
daun nilai koefisiensi keragaman tergolong tanggal 2 September 2011
sedang (25,01 – 50%), yaitu dengan nilai Ishartati, E dan S. Husen. 2007. Induksi
33,89%. Pembungaan, Kompatibilitas dan
Karakterisasi Semai Hibrida
DAFTAR PUSTAKA Persilangan Antar-Kultivar Mangga
(Mangifera indica L.).
Baswarsiati dan Yuniarti. 2007. Karakter http://bdpunib.org/akta/artikelakta/Edi
Morfologi dan Beberapa Keunggulan siKhusus2007/77AktaEdKhus2007.pd
Mangga Podang Urang (Mangifera f. Diakses tanggal 2 Januari 2010
indica L.). http://indoplasma.or.id/ Keputusan Menteri Pertanian Nomor :
publikasi/buletin_pn/pdf/buletin_pn_13 336/Kpts/TP.240/2/2003 Tentang
_2_2007_62-69_baswarsiati.pdf. Pelepasan Mangga Podang Urang
Diakses tanggal 2 Jan 2010 Sebagai Varietas Unggul.
Direktorat Jenderal Hortikultura. 2008. (http://www.deptan.go.id/bdd/admin/fil
Sertifikasi Benih Mangga. Deskripsi e/SK 336-03.pdf). Diakses tanggal 5
Mangga Varietas Arumanis 143. Nopember 2009
Keputusan Direktorat Perbenihan Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar – Dasar
san Sarana Produksi Direktorat Pemuliaan Tanaman. Kanisius.
Jenderal Hortikultura No. Yogyakarta
892/Kpts/TP.240/II/1984 Soetarso, Nandariyah dan S. Hariati.
Fernandes, A.A.R. 2008. Modul Kuliah 1985. Metode Pemuliaan Tanaman.
Eksplorasi Data peubah Ganda. UNS. Surakarta
Program Studi Statistika. Universitas Sugito, Y. 1999. Ekologi Tanaman.
Brawijaya. Malang Fakultas Pertanian Universitas
Fitmawati., A. H. dan B.S. Purwoko. 2009. Brawijaya. Malang
Taksonomi Mangga Budidaya Suratman., D. Priyanto dan A. D.
Indonesia dalam Praktik. J. Agron Setyawan. 2000. Analisis Keragaman
Indonesia 37(2):130–137 Genus Ipomoea Berdasarkan
Ihsan, F dan Sukarmin. 2008. Teknik Karakter Morfologi. Biodiversitas
Persilangan Mangga (Mangifera 1(2):72–79