Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dengan dilarangnya riba>, islam berusaha membangun sebuah


masyarakat berdasarkan kejujuran dan keadilan (al-Baqarah : 239). Seorang
kreditor akan mendapatkan keuntungan dari debitur, tanpa memedulikan hasil
usaha sidebitur. Akan lebih adil jika kedua pihak, kreditor dan debitur, sama-
sama menanggung keuntungan maupun kerugia. Keadilan dalam konteks ini
memiliki dua dimensi : pemodal berhak mendapatkan imbalan, yang sepadan
dengan resiko dan usaha yang dibutuhkan dan dengan demikian, ditentukan
oleh keuntungan usaha yang dimodalinya.1

Dalam sistem keuangan tanpa bunga, yang berupaya dijalankan oleh


para penganut prinsip-prinsip islam, seseorang dapat memperoleh keuntungan
dari uang mereka, hanya dengan cara tunduk pada risiko yang termasuk dalam
skema bagi hasil. Menurut hukum perniagaan Islam, kemitraan dan semua
bentuk organisasi bisnis lainya didirikan terutama dengan satu tujuan yaitu
pembagian keuntungan melalui partisipasi bersama. Mudha>rabah dan
Musha>rakah adalah dua model bagi hasil yang lebih disukai dalam hukum
islam.2

Akad Musha>rakah secara sistem dan nilai telah ada dan menjadi
bagian tidak terpisahkan dalam usaha. Terutama yang mencakup lini distribusi
yang panjang, kumpulan modal dan juga sumber bahan baku. Hari ini
kerjasama bisnis adalah keniscayaan untuk dapat meningkatkan dan
mengembangkan usaha. Akad ini masih berada dalam wilayah ekonomi
kapitalistik dan sistem keuangan konvensional. Dimana sistem ini telah

1
Wiroso, Produk Perbankan Syariah, Jakarta, LPFE Usakti, 2009, 300.
2
Mervin K Lewis & Latifa M. Algaoud, Perbankan Syariah Prinsip, Praktitk, dan Prospek,
Jakarta, PT Serambi Ilmu Semesta, 2007, 80.

1
menjadi sebuah kesadaran umum dan tradisi yang sulit untuk dibongkar dan
diperbaharui.3

Dengan demikian perlu adanya pembahasan lebih lanjut mengenai bagi


hasil terutama dalam akad al-Musha>rakah dalam hal ini pembahasan al-
Musha>rakah dibatasi dengan beberapa rumusan masalah dibawah ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian al-Musha>rakah ?
2. Apa landasan syariah akad al-Musha>rakah ?
3. Apa saja macam-macam al-Musha>rakah ?
4. Bagaimanakah aplikasi al-Musha>rakah pada perbankan syariah ?
5. Apa perbedaan bagi hasil dangan bunga ?

3
http://www.kompasiana.com/sangpemenangpembelajar/akad-musyarakah-kontemporer-
untuk-dunia-bisnis (diakses pada tanggal 07 November 2017 pukul 10.30)

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian al-Musha>rakah

Musha>rakah menurut bahasa diambil dari bahasa arab yang berarti


mencampur. Kata shirkah dalam bahasa arab berasal dari kata sharika (fi’il
ma>dhi), yashruku (fi’il mudha>ri’) dan sharikan/shirkatan/sharikatan
(mas}dar) artinya menjadi sekutu atau sharikat.4

Shirkah secara etimologi mempunyai arti percampuran (ikhlitath), yakni


bercampurnya salah satu dari dua harta dengan harta lainnya, tanpa dapat
dibedakan antara keduanya. Sedangkan secara terminologi, menurut kompilasi
Hukum Ekonomi Syariah, shirkah (musha>rakah) berarti kerjasama antara
dua orang atau lebih dalam hal permodalan, ketrampilan, atau kepercayaan
dalam usaha tertentu dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah.5

Dalam perbankan syariah Musha>rakah dapat diartikan sebagai akad


kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu di mana
masing-masing pihak memberikan kontribusi dan (amal/expertise) dengan
kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai
dengan kesepakatan.6

B. Landasan syariah al-Musha>rakah

4
Wijanarko, Definisi al-Musha>rakah, https://id.scribd.com/doc/89029337/Definisi-Al-
Musyarakah (diakses pada tanggal 08 November 2017 pukul 09.09)
5
Marwardi, Fiqh Ekonomi Syariah : Fiqh Muamalah, Jakarta, Kencana Prenadamedia Group,
2013, 220.
6
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, Jakarta, Gema Insani Press,
2001, 90. Lihat juga Ismail, Perbankan Syariah, Jakarta, Kencana Prenadamedia Group, 2013, 176.

3
Pada dasarnya landasan sumber hukum syariah mengenai akad
Musha>rakah dapat dibagi menjadi empat :

1. Al-Qur’an

ِ ُ‫ش َر َكا ٓ ُء فِي ٱلثُّل‬


…‫ث‬ ُ ‫…فَ ُه ۡم‬
“…maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu…”
َ َ‫اج ِهۦ َو ِإ َّن َكثِ ٗيرا ِمنَ ٱ ۡل ُخل‬
‫طا ٓ ِء لَيَ ۡب ِغي‬ ِ ‫س َؤا ِل نَعۡ َجتِ َك ِإلَ ٰى نِ َع‬
ُ ‫ظلَ َم َك ِب‬
َ ‫قَا َل لَقَ ۡد‬
‫يل َّما هُ ۡۗۡم‬ٞ ‫ت َوقَ ِل‬ َّ ٰ ‫ض إِ ََّّل ٱلَّذِينَ َءا َمنُواْ َو َع ِملُواْ ٱل‬
ِ ‫ص ِل ٰ َح‬ ٍ ۡ‫ض ُه ۡم َعلَ ٰى بَع‬ ُ ۡ‫بَع‬
َ ‫ظ َّن دَ ُاوۥدُ أَنَّ َما فَت َ ٰنَّهُ فَٱ ۡست َ ۡغفَ َر َربَّهۥُ َوخ َّۤ ََّر َرا ِك ٗع َّۤا َوأَن‬
٢٤ ۩‫َاب‬ َ ‫َو‬
"Sesungguhnya dia telah berbuat z}alim kepadamu dengan meminta
kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya
kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat
z}alim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini". Dan Daud
mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada
Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.7

Kedua ayat diatas menunjukkan perkenan dan pengakuan Allah SWT


akan adanya perserikatan dalam kepemilikan harta. Hanya saja dalam an-Nisa>
ayat 12 perserikatan terjadi secara otomatis (jabr) karena waris, sedangkan
dalam surat Sha>d ayat 24 terjadi atas dasar akad (ikhtiyari).8

2. Al-Hadits

7
Depag RI, Al-qur’an Terjemahan, Penerbit CV. Toha Putra, Semarang, Edisi Baru Revisi
Terjemahan 1989, 38.
8
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, 90-91.

4
‫ين َما لَم يَ ُحن‬ ُ ‫َّللاَ يَقُو ُل أ َنَّا َثَا ِل‬
َّ ‫ث ال‬
ِ ‫َّش ِر ي ََك‬ َ ‫َعن أ َ ِبي ُه َر‬
َّ ‫يرة َ َرفَ َعهُ قَا َل ِإ َّن‬
ُ‫احبَه‬
ِ ‫ص‬َ ‫أ َ َحدُ ُه َما‬
Dari Abu hurairah, Rasullah SAW bersabda, “ Sesungguhnya Allah Azza
wa Jalla berfirman, Aku pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama
salah satunya tidak mengkhianati lainnya.”9

Hadits qudsi tersebut menunjukkan kecintaan Allah kepada hamba-


hambaNya yang melakukan persekutuan selama saling menjunjung tinggi
amant kebersamaan.10

3. Taqrir Nabi11

Relevan dengan akad Musha>rakah, setelah Rasulullah SAW diutus


menjadi Nabi, masyarakat telah mempraktikkan kontrak Musha>rakah,
kemudian Rasulullah menetapkan akad Musha>rakah sah untuk digunakan
masyarakat. 12 Taqrir Nabi ini bisa digunakan sebagai landasan hukum atas
keabsahan penggunaan akad Musha>rakah.

4. Ijma’

Ibnu Qudamah dalam kitabnya, al-Mughni, telah berkata, “kaum


muslimin telah berkonsensus terhadap legitimasi Musha>rakah secara global
walaupun terdapat perbedaan pendapat dalam beberapa element darinya.”13

C. Macam-macam al-Musha>rakah

9
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Terjemah Bulughul Maram, Pustaka At-Tibyan, 697.
10
Ibid., 91.
11
Taqrir Nabi adalah ketetapan Nabi atas sesuatu yang dilakukkan orang lain, dan merupakan
salah satu metodologi yang bisa digunakan untuk menetapkan sebuah hukum. Lihat Dimyauddin
Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah, 210.
12
Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2008, 210.
13
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, 91.

5
Pada dasarnya al-Musha>rakah terbagi menjadi dua yaitu
Musha>rakah pemilikan dan Musha>rakah akad (kontrak). 14 Musha>rakah
pemilikan tercipta karena warisan, wasiat, atau kondisi lainya yang
mengakibatkan pemilikian suatu aset oleh dua orang atau lebih. Dalam
Musha>rakah ini, kepemilikan dua orang atau lebih berbagi dalam sebuah aset
nyata, dan berbagi pula dari keuntungan yang dihasilkan aset tersebut.15

Musha>rakah akad tercipta dengan cara kesepakatan, dimana dua orang


atau lebih setuju bahwa tiap orang dari mereka memberikan kontribusi modal
Musha>rakah, mereka pun sepakat berbagi keuntungan dan kerugian.16Untuk
Musha>rakah akad dilihat dari beberapa literatur terbagi menjadi lima jenis :
shirkah al-‘Inan, shirkah al-Mufa>wadlah, shirkah al-a’ma>l, dan shirkah al-
Wuju>h, shirkah al-Mudha>rabah.17

1. Syirkah al-‘Inan (‫العنان‬ ‫)شركة‬


Shirkah al-‘Inan adalah kontrak antara dua orang atau lebih, setiap pihak
memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi dalam kerja.
Kedua belah pihak berbagi dalam keuntungan dan juga dalam kerugian
sebagaimana yang telah disepakati diantara mereka. Akan tetapi, porsi masing-
masing pihak, baik dalam dana maupun kerja atau bagi hasil, tidak harus sama
dan identik sesuai dengan kesepakatan mereka. Mayoritas ulama membolehkan
jenis al-Musha>rakah ini.18Misalnya, A dan B seorang insinyur teknik sipil. A
dan B sepakat menjalankan bisnis properti dengan membangun dan
menjualbelikan rumah. Masing-masing memberikan kontribusi modal sebesar
Rp 500 juta dan keduanya bekerja dalam shirkah tersebut.

14
Mawardi, Fiqh Ekonomi Syariah : Fiqh Muamalah, 225.
15
Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah, 211.
16
Ibid., 211.
17
Ismail, Perbankan Syariah, Jakarta, Kencana Prenadamedia Group, 2013, 177-178.
18
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, 92.

6
2. Shirkah Mufa>wadhah (‫المفاوضة‬ ‫)شركة‬
Shirkah Mufa>wadhah adalah kontrak kerja sama antara dua orang atau
lebih. Dimana setiap pihak memberikan kontribusi suatu porsi dari keseluruhan
dana dan berpartisipasi dalam kerja. Setiap pihak membagi keuntungan dan
juga membagi dalam kerugian secara porsi yang sama. Dengan demikian,
syarat utama dari jenis al-Musha>rakah ini adalah kesamaan dana yang
diberikan, kerja, tanggung jawab, dan beban utang dibagi oleh masing-masing
pihak.19Misalnya, A dan B sama-sama nelayan dan sepakat melaut bersama
untuk mencari ikan. Mereka juga sepakat apabila memperoleh ikan akan dijual
dan hasilnya akan dibagi dengan ketentuan A mendapatkan sebesar 60% dan
B sebesar 40%.

3. Shirkah A’ma>l (‫األعمال‬ ‫)شركة‬


Syirkah al-A’ma>l adlah kontrak kerjasama dua orang seprofesi untuk
menerima pekerjaan secara bersama dan berbagi keuntungan dari pekerjaan
itu.20 Misalnya, kerjasama antara dua orang yang mempunyai keahlian sebagai
arsitektur, mereka bekerjasama untuk menggarap sebuah proyek bangunan.

4. Shirkah Wuju>h (‫الوجوه‬ ‫)شركة‬


Merupakan akad kerja sama usaha antara dua orang atau lebih yang
dimana masing-masing mitra kerja memiliki reputasi dan prestise dalam bisnis.
Para mitra dapat mempromosikan bisnisnya sesuai dengan keahlian masing-
masing, dan keuntungan dibagi sesuai dengan kesepakatan yang tertuang
dalam kontrak. 21 Jenis Musha>rakah ini tidak memerlukan modal karena
pembelian secara kredit berdasar pada jaminan tersebut. Karena, kontraknya

19
Ibid.,
20
Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah, 212.
21
Ismail, Perbankan Syariah, 178.

7
ini pun lazim disebut dengan Musha>rakah piutang. 22 Misalnya, A dan B
adalah tokoh yang dipercaya pedagang. Lalu A dan B ber-syirkah wujuh,
dengan cara membeli barang dari seseorang pedagang misalny C secara kredit.
A dan B bersepakat, masing-masing memiliki 50% dari barang yang dibeli.
Lalu keduanya menjual barang tersebut dan keuntunganya dibagi dua,
sedangkan harga pokoknya dikembalikan kepada C.

5. Syirkah al-Mudha>rabah (‫المضاربة‬ ‫)شركة‬


Merupakan kerja sama usaha antara dua pihak atau lebih yang mana satu
pihak sebagai sha>hibul ma>l yang menyediakan dana 100% untuk keperluan
usaha, dan pihak lain tidak menyerahkan modal hanya sebagai pengelola atas
usaha yang dijalankan.23Misalnya, A sebagai pemodal memberikan modalnya
sebesar Rp 10 juta kepada B yang bertindak sebagai pengelola modal dalam
usaha umum seperti toko dan lain-lain.

D. Rukun dan syarat pembiayaan Musha>rakah.

Pembiayaan Musha>rakah memiliki beberapa rukun yang telah


digariskan oleh ulama guna menentukan sahnya akad tersebut, rukun yang
dimaksud adalah sighat (ijab dan qabul), pihak yang bertransaksi, dan objek
transaksi (modal dan kerja).24Ulama juga mengajukan beberapa syarat terhadap
rukun-rukun yang melekat dalam pembiayaan Musha>rakah :

1. Ijab dan Qabul

Ijab dan Qabul harus dinyatakan dengan jelas dalam akad dengan
memperhatikan hal-hal beriku :

a. Penawaran dan permintaan harus jelas dituangkan dalam tujuan


akad.
b. Penerimaan dan penawaran dilakukan pada saat kontrak.

22
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, 93.
23
Ismail, Perbankan Syariah, 179.
24
Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah, 213.

8
c. Akad dituangkan secara tertulis.

2. Pihak yang bertransaksi


a. Kompeten.
b. Menyediakan dana sesuai dengan kontrak dan pekerjaan/proyek
usaha.
c. Memiliki hak untuk ikut mengelola bisnis yang sedang dibiayai atau
memberi kuasa kepada mitra kerjanya untuk mengelolanya.
d. Tidak diizinkan menggunakan dana untuk kepentingan sendiri.
3. Objek akad
a. Modal :
 Modal dapat berupa uang tunai atau aset yang dapat dinilai. Bila
modal tetapi dalam bentuk aset, maka aset ini sebelum kontrak
harus dinilai dan disepakati oleh masing-masing mitra.
 Modal tidak boleh dipinjamkan atau dihadiahkan kepada pihak
lain.
 Pada prinsipnya Bank Syariah tidak meminta agunan, akan tetapi
untuk menghindari wanprestasi, maka Bank Syariah
diperkenankan meminta agunan dari nasabah/mitra kerja.
b. Kerja :
 Partisipasi kerja dapat dilakukan bersama-sama dengan porsi
kerja yang tidak harus sama, atau salah satu mitra memberi kuasa
kepada mitra kerja lainnya untuk mengelola usahanya.
 Kedudukan masing-masing mitra harus tertuang dalam kontrak.
c. Keuntungan dan kerugian
 Jumlah keuntungan harus dikuantifikasikan.
 Pembagian keuntungan harus jelas dan tertuang dalam kontrak.
Bila rugi, maka kerugian akan ditanggung oleh masing-masing
mitra berdasarkan porsi modal yang diserahkan.
E. Aplikasi dalam Perbankan Syariah
1. Pembiayaan Proyek

9
Al-musha>rakah biasanya diaplikasikan untuk pembiayaan proyek
dimana nasabah dan bank sama-sama menyediakan dana untuk membiayai
proyek tersebut. Stelah proyek itu selesai, nasabah mengembalikan dana
tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati untuk bank.25

2. Modal Ventura

Pada lembaga keuangan khusus yang diperbolehkan melakukan investasi


dalam kepemilikan perusahaan, al-Musha>rakah diterapkan dalam skema
modal ventura. Penanaman modal dilakukan untuk jangka waktu tertentu dan
setelah itu bank melakukan divestasi atau menjual bagian sahamnya, baik
secara singkat maupun bertahap.26

F. Perbedaan antara Bagi hasil dan Bunga

Pada dasarnya pengertian bunga adalah imbalan atas jasa uang yang
besarnya merupakan persentase pokok utang dalam suatu periode tertentu.
Sementara bagi hasil adalah suatu skema pembiayaan alternatif yang
karakteristiknya sangat berbeda dibanding sistem bunga. Sesuai namanya, bagi
hasil merupakan skema pembagian berdasarkan rasio tertentu atas keuntungan
(hasil) usaha yang dibiayai oleh kredit atau pembiayaan. Secara sederhana,
perbedaan bunga dan bagi hasil seperti pada tabel berikut :27

Perbedaan Bagi Hasil Bunga


Berdasarkan rasio atau Berdasarkan persentase
Penentuan perbandingan yang disepakati yang diseoakati saat
saat akad. akad.

25
Ismail, Perbankan Syariah, 181.
26
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, 93.
27
http://danperbedaan.blogspot.co.id/2016/05/perbedaan-bunga-dan-bagi-hasil.html (diakses
pada tanggal 07 November 2017 pukul 08.54)

10
Berdasarkan jumlah Berdasarkan jumlah
Besarnya keuntungan yang diperoleh uang (modal) yang
persentase dari usaha yang dibiayai. dipinjamkan untuk
usaha.
Menggunakan pertimbangan Tanpa pertimbangan
besarnya keuntungan usaha untung atau rugi apakah
pembayaran
yang dijalankan. usaha yang dijalankan
pihak nasabah.
Jumlah pembayaran bagi hasil Jumlah pembayaran
Jumlah meningkat sesuai dengan bunga tidak meningkat
pembayaran peningkatan pendapatan meski keuntungan usaha
usaha. berlipat.
Diakui semua kalangan. Diragukan dan dikecam
Eksistensi
beberapa kalangan.

Pada keterangan tabel diatas dapat kita ambil kesimpulan dari perbedaan
bagi hasil dan bunga :

1. Perbedaan Penentuan Besaran

Perbedaan bunga dan bagi hasil yang paling mudah dilihat pada proses
penentuan besaran keduanya. Bunga ditentkan dalam bentuk persentase
terhadap besaran kredit atau utang, sementara bagi hasil ditentukan dalam
bentuk rasio (perbandingan) terhadap keuntungan dari usaha yang dibiayai dari
kredit atau utang tersebut.

2. Perbedaan Acuan Pembagian

Acuan yang menjadi dasar perhitungan bunga dan bagi hasil juga
berbeda. Besarnya bunga dipengaruhi acuan seberapa besar pokok hutang atau
kredit yang dikeluarkan, sementara besarnya rasio bagi hasil dipengaruhi oleh

11
acuan seberapa besar keuntungan dari hasil usaha yang dibiayai oleh hutang
atau kredit tersebut.

3. Perbedaan pendapatan dan jumlah pembayaran

Perbedaan bunga dan bagi hasil juga terletak pada besarnya pendapatan
yang diperoleh dari keduanya. Pada sistem bunga, pendapatan yang diperoleh
akan bersifat statis, artinya meski usaha yang dibiayai merugi, hutang tetap
memiliki bunga yang tetap. Sementara pada sistem bagi hasil, pendapatan yang
diperoleh akan bersifat dinamis atau berubah-ubah, artinya jika usaha yang
dibiayainya memperoleh keuntungan yang lebih besar, maka besarnya
pendapatan bagi hasil pun akan semakin besar.

4. Perbedaan Eksistensi

Berdasarkan eksistensinya, perbedaan bunga dan bagi hasil juga sangat


tampak. Eksistensi bunga sangat diragukan, bahkan hingga dikecam oleh
beberapa kalangan, terutama oleh kalangan islam, sementara pada sistem bagi
hasil tidak ada yang meragukan eksistensi keabsahanya.28

28
Ibid.

12
BAB III

KESIMPULAN

Al-musha>rakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih
untuk usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi
dana (atau amal) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan kerugian akan
ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

Adapun landasan syariah al-Musha>rakah terdapat pada surat as-Sha>d


ayat 24, kemudian terdapat juga pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu
Dawud no. 2936, taqrir Nabi Muhammad SAW dan ijma’ para ulama.

Al-musyarakah pada dasarnya terbagi menjadi dua: Musha>rakah


pemilikan dan Musha>rakah akad. Sedangkan Musyarakah akad terbagi
menjadi lima : Shirkah al-‘Inan, Shirkah Muwa>fadhah, Shirkah A’ma>l,
Shirkah Wuju>h dan Shirkah al-Mudha>rabah.

Pada perbankan syariah akad al-Musha>rakah dapat diterapkan kedalam


dua aplikasi yaitu : aplikasi dalam pembiayaan proyek dan aplikasi pada modal
ventura.

Pada dasarnya pengertian bunga adalah imbalan atas jasa uang yang
besarnya merupakan persentase pokok utang dalam suatu periode tertentu.
Sementara bagi hasil adalah suatu skema pembiayaan alternatif yang
karakteristiknya sangat berbeda dibanding sistem bunga. Sedangkan perbedaan
yang paling utama dapat terlihat dari empat aspek yaitu : perbedaan penentuan
besaran, perbedaan acuan pembagian, perbedaan pembayaran dan jumlah
pembayaran dan perbedaan pada eksistensinya.

13
DAFTAR PUSTAKA

Al-Asqalani , Al-Hafizh Ibnu Hajar. Terjemah Bulughul Maram, Pustaka At-


Tibyan, 697.
Antonio, Muhammad Syafi’i, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, Jakarta, Gema
Insani Press, 2001.
Depag RI. Al-qur’an Terjemahan, Penerbit CV. Toha Putra, Semarang, Edisi Baru
Revisi Terjemahan 1989, 38.
Djuwaini , Dimyauddin. Pengantar Fiqh Muamalah, Yogyakarta, 2008.

Ismail. Perbankan Syariah, Jakarta, Kencana Prenadamedia Group, 2013.

Lewis , Mervin K & Latifa M. Algaoud. Perbankan Syariah Prinsip, Praktitk, dan
Prospek, Jakarta, PT Serambi Ilmu Semesta, 2007.
Mawardi. Fiqh Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah, Jakarta, Kencana Prenadamedia
Group, 2013.
Wiroso. Produk Perbankan Syariah, Jakarta, LPFE Usakti, 2009.

http://www.kompasiana.com/sangpemenangpembelajar/akad-musyarakah-
kontemporer-untuk-dunia-bisnis.
http://danperbedaan.blogspot.co.id/2016/05/perbedaan-bunga-dan-bagi-hasil.html
http://www.kompasiana.com/sangpemenangpembelajar/akad-musyarakah-
kontemporer-untuk-dunia-bisnis.
Wijanarko, Definisi al-Musha>rakah,
https://id.scribd.com/doc/89029337/Definisi-Al-Musyarakah.

14