Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KOMUNIKASI DATA LANJUT

RESUME BAB 22
NETWORK LAYER: DELIVERY, FORWARDING, DAN ROUTING

Oleh:
Budi Kustamtomo (21060117420013)
Faizah (21060117420019)

MAGISTER TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG

2018
BAB 22
NETWORK LAYER: DELEVERY, FORWARDING DAN ROUTING

22.1 Delivery
Pengiriman mengacu pada cara sebuah paket ditangani oleh lapisan dasar
dibawah kontrol dari network layer. Kita mendifinisikan penanganan ini sebagai
pengiriman dari sebuah paket.

Pengiriman langsung.
Dalam pengiriman langsung, tujuan akhir dari paket adalah host yang
terhubung pada jaringan fisik yang sama sebagai pengirim. Pengiriman langsung
terjadi ketika sumber dan tujuan paket berada pada jaringan fisik yang sama atau
ketika pengiriman antara router akhir dan host tujuan.

Pengiriman tidak langsung


Jika host tujuan tidak sama dengan jaringan pengirim, paket dikirimkan secara
tidak langsung. Dalam pengiriman tidak langsung, paket menuju router ke raouter
sampai terhubung pada jaringan fisik yang sama sebagai tujuan akhir.

22.2 Forwarding
Penempatan paket kedalam rute ke tujuan. Solusi ini tidak mungkin untuk
internet saat ini karena nomor masukan membutuhkan routing table yang membuat
table lookups tidak efisien. Beberapa tenik forwarding diantaranya:
1. Next-Hop Method Versus Route Method
Dalam teknik ini routing table hanya menyimpan satu alamat dari hop
selanjutnya dan tidak meyimpan informasi mengenai rute yang lengkap.

2. Network-Specific Method Versus Host-Specific Method


Teknik kedua mengurangi routing table meyederhanakan proses pencarian
disebut network-specific method. Disini daripada mempunyai setiap masukan dari
tiap tujuan host yang terhubung pada jaringan fisik yang sama, routing table hanya
mempunyai satu masukan alamat yang terdefinisi sebagai tujuan dari jaringan itu
sendiri(host-specific method).

1
3. Host-specific versus network-specific method
Host-specific routing digunakan untuk tujuan seperti mengecek rute atau
peyedia keamanan.

4. Default Method
Peringkasan pendataan dalam jaringan internet dan hanya memanggil satu
alamat.

Proses Forwarding
Pada proses forwarding terdapat beberapa cara/langkah diantaranya:
 Address Aggregatioll
Pengumpulan beberapa blok alamat yang kecil menjadi satu blok alamat yang
besar.
 Longest Mask Matching
Prinsip ini menyatakan bahwa tabel routing diurutkan dari mask terpanjang ke
mask terpendek.
 Hierarchical Routing
Penyusunan routing table secara bertingkat untuk mengurangi ukuran dari
routing table sendiri sama halnya dengan susunan internet yang bertingkat pula.
 Geographical Routing
Penyusunan routing table Hierarchical Routing menjadi geographical untuk
mengecilkan ukuran dari routing table menjadi lebih kecil.

Routing Table
 Static Routing Table
Tabel routing statis berisi informasi yang dimasukkan secara manual.
Administrator memasukan rute untuk setiap tujuan ke dalam tabel secara
manual dan tidak bisa memperbarui secara otomatis bila terjadi perubahan pada
internet.
 Dynamic Routing Table
Tabel routing yang dapat memperbaruhi secara otomatis ketika terjadi
perubahan dalam internet dengan protokol RIP, OSPF, atau BGP.
 Format
Format dalam penulisan routing table tergantung dari merek pembuatnya.
Dibawah ini contoh routing table yang umum digunakan.

2
1. Penempatan mask sesuai dengan masukan
2. Alamat dari tujuan host
3. Alamat dari router hop berikutnya yang dengannya paket dikirim
4. Nama dari interface yang digunakan
5. Flag adalah switch on / off yang menandakan ada atau tidaknya pengguna.
Kelima bendera tersebut adalah U (atas), G (gateway), H (host-specific), D
(ditambahkan dengan redirection), dan M (dimodifikasi dengan redirection).
6. Menunjukan jumlah penggunaan rute saat ini
7. menunjukkan jumlah paket yang dikirimkan melalui router ini untuk tujuan
yang sesuai.

 Utilities
Digunakan untuk menemukan informasi routing dan isi dari routing table
contohnya netstat dan ifconfig. Netstat digunakan pada linux dan unix

22.3 Unicast Routing Protocols


Saat ini kita membutuhkan internet dengan routing dinamis yang dapat
memperbaruhi langsung ketika terjadi perubahan. Update dilakukan ketika ruter mati
atau rute terbaik ditemukan. Routing protol dibuat karena respon ketergantungan
terhadap routing dinamis. Protokol routing adalah kombinasi antara aturan dan
prosedur yang memungkinkan router dalam internet menginformasikan satu sama
lain tentang perubahan yang terjadi.

Optimization
Pelewatan paket yang akan diteruskan oleh router mengacu pada rute yang ada,
apakah rute yang tersedia optimal atau tidak.

 Intra- and Interdomain Routing


Saat ini satu routing protocol tidak mampu untuk melakukan update routing
table dari semua ruter. Untuk alasan ini dibuatlah sistem autonomus. Routing
dalam sistem autonomus inilah yang dinamakan intradomain routing sedangkan

3
routing antar sistem autonomus disebut interdomain routing. Didalam
intradomain ada protocol routing yang disebut distance vector and link state
sedangkan Didalam interdomain ada protocol routing yang disebut path vektor.

 Distance Vector Routing


Dalam Distance Vector Routing biaya rute antara dua node adalah rute dengan
jarak terpendek. Dalam protocol ini. Tiap node mempertahankan vektor(table)
dengan jarak minimum tiap node. Dapat diumpamakan node adalah sebuah
kota dan line adalah garis yang menghubungkan mereka.

 Initialization
Tiap node hanya dapat mengetahui jarak diantara dirinya dan node tetangga
yang dekat yang terhubung langsung dengannya.

 Sharing
Ide dari Distance Vector Routing membagi informasi diantara tetangganya.
Meskipun node A tidak mengetahui tentang node E, node C dapat mengetahui.
Jadi jika node C membagi routing table A, node A dapat mengetahui
bagaimana mencapai node E. Disisi yang lain node C tidak dapat mengetahui
bagaimana mencapai node D, tetapi node A dapat melakukanya. Jika node A
membagi routing table dengan node C. Node C dapat mengetahui menjangkau
node D. Dengan kata lain node C dan A adalah tetangga dekat. Sehingga dapat
memperbaiki routing table jika mereka saling membantu antar lainya.

 Updating
Ketika sebuah node menerima dua kolom table dari tetangganya, itu
membutuhkan update routing table. Berikut tiga langkah update:
1. Penerimaan node perlu penambahan biaya diantara dirinya dan node pengirim
pada tiap tiap nilai pada kolom kedua. Biayanya adalah jarak diantara node
pengirim dan tujuan.
2. Node penerima perlu penambahan nama dari node pengirim pada tiap baris
sebagai kolom ketiga jika menerima node menggunakan informasi dari baris
lainya.
3. Node penerima perlu pembanding pada tiap baris table yang lama dengan baris
yang sesuai dari modifikasi versi dari table yang diterima.

4
 Two-Node Loop Instability
Masalah Distance Vector Routing ada kurang stabil. Yang berarti jaringan yang
menggunakan protocol ini dapat menjadi tidak stabil.

Pada awalnya, kedua simpul A dan B tahu bagaimana untuk sampai pada
simpul X. Tapi tiba-tiba, hubungan antara A dan X gagal. Node A mengubahn table.
Jika node A dapat mengirim ke table B segera, maka semuanya baik-baik saja.
Namun, sistemnya menjadi tidak stabil jika B mengirimkan tabel routing ke A
sebelum menerima tabel routing A. Node A menerima update dan, dengan asumsi B
telah menemukan cara untuk mencapai X, segera update tabel routing-nya.
Berdasarkan cara update yang dipicu, A mengirimkan yang baru update ke B.
Sekarang B berpikir bahwa ada sesuatu yang telah berubah di sekitar A dan
memperbaruinya tabel routing Biaya mencapai X meningkat secara bertahap sampai
mencapai tak terhingga. Dalam hal ini, keduanya A dan B tahu bahwa X tidak bisa
dicapai. Namun, selama waktu ini sistem tidak stabil Node A berpikir bahwa rute ke
X adalah melalui B; node B berpikir bahwarute ke X adalah melalui A. Jika A
menerima sebuah paket yang ditujukan untuk X, ia pergi ke B dan kemudian datang
kembali ke A. Demikian pula, jika B menerima paket yang ditujukan untuk X, ia
akan menuju A dan kembali lagi ke B. Paket memantul antara A dan B, menciptakan
masalah loop dua node.

 Three-Node Instability
Ketidakstabilan dua simpul dapat dihindari dengan menggunakan split horizon
strategy combined dengan membalik pengruh buruk. Namun, jika
ketidakstabilan antara tiga titik, stabilitas tidak bisa dijamin.

5
Gambar menunjukkan skenario.

Misalkan, setelah menemukan bahwa X tidak dapat dicapai, node A


mengirimkan sebuah paket ke B dan C untuk menginformasikan mereka tentang
situasinya. Node B segera memperbarui tabelnya, tapi paket ke C hilang dalam
jaringan dan tidak pernah mencapai C. Node C tetap menunggu dan masih berpikir
bahwa ada rute ke X via A dengan jarak 5. Setelah beberapa saat, node C
mengirimkan ke B pada tabel routing, yang mencakup rute ke X. Node B benar-
benar salah di sini. Itu menerima informasi tentang rute ke X dari C, dan sesuai
dengan algoritma, ia memperbarui tabel, menunjukkan rute ke X via C dengan biaya
8.
Informasi ini datang dari C, bukan dari A, jadi setelah beberapa saat B mungkin
mengiklankan rute ini ke A. Sekarang A tertipu dan update tabel untuk menunjukkan
bahwa A dapat mencapai X melalui B dengan biaya 12. Tentu saja, loop terus;
sekarang A mengiklankan rute ke X ke C, dengan biaya meningkat, tapi tidak ke B.
Node C kemudian memberitahu rute ke B dengan biaya meningkat. Node B
melakukan hal yang sama pada A. Dan seterusnya. Lingkaran berhenti saat biaya di
setiap node mencapai tak terhingga. tabel, menunjukkan rute ke X via C dengan
biaya 8. Informasi ini datang dari C, bukan dari A, jadi setelah beberapa saat B
mungkin memberitahu rute ini ke A.
Sekarang A tertipu dan update tabel untuk menunjukkan bahwa A dapat
mencapai X melalui B dengan biaya 12. Tentu saja, loop terus; sekarang A
memberitahu rute ke X ke C, dengan biaya meningkat, tapi tidak ke B. Node C
kemudian memberitahu rute ke B dengan biaya meningkat. Node B melakukan hal
yang sama pada A. Dan seterusnya. Lingkaran berhenti saat biaya di setiap node
mencapai tak terhingga.

6
 RIP
Routing Information Protocol (RIP) adalah protokol routing intradomain yang
digunakan di dalam sistem otonom. Ini adalah protokol yang sangat sederhana
berdasarkan vektor jarak rute. RIP mengimplementasikan distance vector routing
secara langsung dengan beberapa pertimbangan:
1. Dalam sistem otonom, kita berhadapan dengan router dan jaringan (links).
router memiliki tabel routing; jaringan tidak.
2. Tujuan dalam routing table adalah jaringan, yang berarti kolom pertama
didefinisikan sebagai alamat
3. Metric yang digunakan oleh irp sangat sederhana. Jarak yang didefinisikan
sebagai nomor dari jaringan untuk mencapai tujuan.
4. Infinity didefinisikan sebagai 16, yang berarti bahwa setiap rute dalam sistem
otonom menggunakan RIP tidak bisa memiliki lebih dari 15 hop.
5. Node kolom selajutnya mendefinisikan alamat router yang menjadi paketnya
dikirim untuk mencapai tujuannya.

 Link State Routing


Link state routing memiliki filosofi yang berbeda dari routing distance vector.
Di link state routing, jika setiap node di domain memiliki keseluruhan topologi
domain tersebut daftar node dan link, bagaimana mereka terhubung termasuk
tipe, biaya (metrik), dan kondisi link (atas atau bawah) - node dapat
menggunakan algoritma Dijkstra untuk membangun sebuah tabel routing.

 Peyusunan Tabel Routing


Dalam routing state link, empat set tindakan diperlukan untuk memastikan
bahwa setiap node memiliki tabel routing menunjukkan node dengan biaya paling
rendah ke setiap node lainnya.
1. Pembuatan state dari link oleh masing-masing node, disebut link state packet
(LSP).
2. Penyebarluasan LSP ke setiap router lain, disebut flooding, secara efisien dan
cara yang andal
3. Pembentukan pohon jalur terpendek untuk setiap simpul.
4. Perhitungan tabel routing berdasarkan pohon jalan terpendek.

7
 Creation of Link State Packet (LSP)
Sebuah paket link bisa membawa informasi yang besar. Bagaimanapun untuk
saat ini, kami berasumsi paket link hanya membawa informasi yang minim data:
identitas simpul, daftar link, nomor urut, dan umur. Dua pertama, Identitas node dan
daftar link, diperlukan untuk membuat topologi. Urutan ketiga jumlah, memfasilitasi
banjir dan membedakan LSP baru dari yang lama. Keempat, usia, mencegah lama
LSPs dari yang tersisa dalam domain untuk waktu yang lama. LSP dihasilkan dua
kesempatan:
1. Bila ada perubahan pada topologi domain.
Memicu penyebaran LSP adalah cara utama untuk segera menginformasikan
setiap node dalam domain untuk memperbaruinya topologi.
2. Secara periodik.
Periode dalam hal ini jauh lebih lama dibanding jarak routing vektor
Sebenarnya, tidak ada kebutuhan aktual untuk penyebaran LSP jenis ini. Hal ini
dilakukan untuk memastikan bahwa informasi lama dihapus dari domain. Timer yang
disetel untuk diseminasi berkala biasanya berada dalam kisaran 60 menit atau 2 jam
berdasarkan implementasinya. Periode yang lebih lama memastikan bahwa banjir
tidak terbentuk terlalu banyak lalu lintas di jaringan.

8
 Algoritma Dijkstra
Menciptakan pohon jalur terpendek dari grafik. Algoritma membagi simpul
menjadi dua set yaitu tentatif dan permanen. Kemudian menemukan tetangga
dari simpul saat ini, membuat menjadi tentatif, memeriksa, dan jika memenuhi
kriteria, akan tetap dipertahankan.

 OSPF (Open Shortest Path First)


OSPF adalah adalah protokol routing intradomain berdasarkan routing link
state, dan domainnya adalah sistem otonom. Jenis link pada OSPF digambarkan
seperti berikut:

Pada terminologi OSPF, koneksi disebut dengan sebuah link. Empat jenis dari
link, antara lain:
1. Point to point
Point-to-point link menghubungkan dua router tanpa host lain atau router di
antaranya.

2. Transient
Transient link adalah sebuah jaringan dengan terdapat beberapa router. Data
dapat masuk melewati router manapun dan meninggalkan melewati router
manapun.

9
3. Stub
Stub link adalah jaringan yang menghubungkan ke hanya satu router. Paket
data masuk ke jaringan melalui satu router dan meninggalkan jaringan dengan
satu router.

4. Virtual
Ketika link antara dua router rusak, administrasi dapat membuat sebuah virtual
link antara dua router tersebut menggunakan jalur yang lebih panjang yang
mungkin melalui beberapa router.

 Path Vector Routing


Link state routing membutuhkan sumber daya yang besar untuk menghitung
tabel routing. Hal ini juga menimbulkan lalu lintas yang padat karena flooding.
Sehingga diperlukan Path Vector Routing. Prinsip Path Vector Routing mirip
dengan distance vector routing. Dalam Path Vector Routing, asumsikan bahwa
ada satu simpul (ada yang bisa lebih, tapi satu sudah cukup untuk diskusi
konseptual kita) di setiap sistem otonom yang bertindak atas nama keseluruhan
sistem otonom.
 Border Gateway Protocol (BGP)
BGP adalah salah satu routing protocol yang tugasnya menghubungkan antar
ISP (yang masing2 ISP punya nomor unique sendiri2 yang disebut AS /
Autonomous System)

10
22.4 Multicast Routing Protocols

Unicasting
Komunikasi unicast memiliki satu sumber dan satu tujuan dengan hubungan
one to one. Untuk alamat sumber dan tujuan pada IP datagram menggunakan alamat
unicast yang ditugaskan ke antarmuka host. Gambar di bawah menunjukkan proses
unicast dengan dimulai dari paket unicast dari sumber S1 melewati router untuk
sampai ke tujuan D1. Pada proses ini, router menerima sebuah paket dan hanya bisa
meneruskan paket tersebut melalui salah satu antarmukanya saja. Dengan proses
unicast, router meneruskan pakaet yang diterima hanya melalui satu antarmuka.

Multicasting
Komunikasi multicast memiliki satu sumber dan satu kelompok tujuan dengan
hubungan one to many. Untuk alamat sumber menggunakan alamat unicast, namun
untuk alamat tujuan menggunakan alamat grup yang mengidentifikasi anggota
kelompok. Gambar di bawah menunjukkan proses multicasting yang dimulai dari
paket multicast dari sumber S1 menuju ke semua tujuan termasuk kelompok G1.
Pada proses ini, router menerima sebuah paket dan dapat meneruskan paket tersebut
ke beberapa antarmukanya. Dengan proses multicast, router dapat meneruskan paket
yang diterima melalui beberapa antarmuka.

11
Broadcasting
Dalam komunikasi broadcast memiliki satu sumber dan semua host yang lain
merupakan tujuan dengan hubungan one to all.

Multicasting vs Multiple Unicasting


Dalam komunikasi broadcast memiliki satu sumber dan semua host yang lain
merupakan tujuan dengan hubungan one to all.

Proses multicast dimulai dengan satu paket tunggal dari sumber yang telah
diduplikasi oleh router dan memiliki alamat tujuan yang sama untuk setiap paket
yang telah diduplikat. Hanya ada satu salinan paket yang berjalan antara dua router.
Proses ini lebih efisien dibandingkan dengan multiple unicast karena membutuhkan
bandwidth yang lebih sedikit.

Proses multiple unicast dimulai dengan beberapa paket dari sumber dan
memiliki alamat tujuan unicast yang berbeda. Memiliki banyak salinan paket yang
berjalan antara dua router. Contoh: saat seseorang mengirim pesan email untuk
sekelompok orang.
Proses multicast lebih efisien dibandingkan dengan multiple unicast karena
membutuhkan bandwidth yang lebih sedikit. Pada proses multiple unicast, paket
dibuat oleh sumber dengan penundaan yang relatif antara paket, sedangkan pada
proses multicast tidak ada penundaan karena hanya satu paket yang dibuat oleh
sumber. Setiap baris dalam tabel routing sesuai dengan jalur dari sumber ke tujuan.

12
Multicast Routing
Dalam multicast routing, setiap router yang terlibat memerlukan untuk
membuat pohon jalur terpendek untuk masing-masing kelompok. Proses ini memiliki
masalah yang lebih komplek, sehingga untuk menyelesaikan masalah tersebut, proses
ini menggunakan dua pendekatan, yaitu:
1. Pohon berbasis sumber
Pada pendekatan ini, masing-masing router memerlukan satu pohon dengan
jalur terpendek untuk masing-masing kelompok.

Diasumsikan dalam domain memiliki lima kelompok yaitu G1 yang memiliki


anggota di empat jaringan, G2 yang memiliki anggota di tiga jaringan, serta G3, G4
dan G5 yang memiliki anggota di dua jaringan. Karena satu pohon jalur terpendek
memiliki lima kelompok, sehinggan ada lima pohon dengan jalan terpendek.
Router R1 menerima paket dengan alamat tujuan G1 dan perlu mengirimkan
salinan paket ke jaringan yang dilampirkan, ke router R2 dan ke router R4, sehingga
semua anggota G1 dapat menerima salinannya.
2. Pohon kelompok bersama

Dalam pendekatan pohon kelompok bersama, hanya satu router yang ditunjuk
untuk menjadi pusat (router pertemuan). Router pertemuan bertanggung jawab untuk
mendistribusikan lalu lintas multicast. Saat router menerima paket multicast, paket

13
tersebut akan mengenkapsulasi paket dalam paket unicast dan mengirimkannya ke
router pusat. Kemudian router pusat menghapus paket multicast dari kapsulnya dan
berkonsultasi dengan tabel routing untuk merutekan paketnya.

Protocol Routing
Protokol routing multicast merupakan perluasan dari protokol routing unicast.
Berikut taksonomi umum dari protokol multicast.

Reverse Path Forwarding (RPF)

Multicast link state routing menggunakan pendekatan pohon berbasis sumber.


Paket broadcast flooding menciptakan loop pada sistem. RPF menghilangkan loop
pada proses flooding.
Permasalahan dengan RPF

14
Net3 menerima dua salinan dari paket meskipun setiap router hanya
mengirimkan satu salinan dari setiap antarmuka. Terdapat duplikasi karena pohon
belum dibuat dan Net3 memiliki dua induk (router R2 dan R4).

Reverse Path Broadcasting (RPB)


Untuk menghilangkan duplikasi, harus mendefinisikan satu router induk pada
setiap jaringan dengan aturan jika jaringan dapat menerima paket multicast dari
sumber tertentu hanya melalui router induk yang ditunjuk. Setelah selesai, pada
setiap sumber, router mengirimkan paket hanya dari antarmuka yang merupakan
induk yang ditunjuk. Peristiwa tersebut disebut dengan Reverse Path Broadcasting
(RPB). RPB menjamin bahwa paket tersebut menjangkau setiap jaringan yang hanya
menerima satu salinan.
Perbedaan RPF dengan RPB
RPB menciptakan pohon jalur terpendek dari sumber ke setiap tujuan. Hal ini
menjamin bahwa setiap tujuan menerima satu dan hanya satu salinan dari paket.

Reverse Path Multicasting (RPM)


RPB tidak melakukan paket multicast, namun paket broadcast sehingga tidak
efisien. Untuk meningkatkan efisiensi, paket multicast harus menjangkau jaringan
yang memiliki anggota aktif untuk grup tertentu. Hal ini disebut Reverse Path
Multicasting (RPM). RPM digunakan untuk mengubah proses broadcast menjadi
proses multicast, protokol yang menggunakan dua prosedur, pruning (pemangkasan)
dan grafting. RPM menambahkan pruning dan grafting ke RPB untuk membuat
pohon jalur terpendek pada multicast yang mendukung perubahan keanggotaan
dinamis.

Core Based Tree (CBT)


CBT merupakan protokol group-shared yang menggunakan core sebagai root
dari pohon. Pada protokol CBT, sumber mengirimkan paket multicast (dienkapsulasi
dalam paket unicast) ke router inti. Router inti dekapsulasi paket dan meneruskan
paket ke semua antarmuka yang berkepentingan.
Proses Mengirim Paket Multicast ke Router Pertemuan
Menunjukkan bagaimana host dapat mengirim paket multicast ke semua anggota
grup. Host sumber dapat menjadai host di dalam pohon shared atau host di luar
pohon shared.

15
Protocol Independent Multicast (PIM)
PIM merupakan nama pada dua protokol routing multicast yang independen,
yaitu Protocol Independent Multicast Dense Mode (PIM-DM) dan Protocol
Independent Multicast Sparse Mode (PIM-SM) yang keduanya bergantung pada
protokol unicast.
Jenis-Jenis PIM
1. PIM-DM (Protocol Independent Multicast Dense Mode)
PIM-DM digunakan dalam lingkungan multicast yang padat (dense), seperti
LAN. Menggunakan strategi RPF, pruning dan grafting untuk menangani
proses multicast. Namun protokol unicast yang independent menjadi dasar dari
PIM-DM.
2. PIM-SM (Protocol Independent Multicast Sparse Mode)
PIM-SM digunakan di lingkungan multicast yang tersebar dimana-mana
(sparse) seperti WAN. Protokol ini mirip dengan CBT namun menggunakan
prosedur yang lebih sederhana.

Logical Tunneling
Logical tunnel dibuat dengan mengenkapsulasi paket multicast di dalam paket
unicast. Paket multicasr menjadi payload (data) paket unicast. Router intermediate
(nonmulticast) meneruskan paket sebagai router unicast dan mengirimkan paket dari
satu tempat ke tempat lain.

Multicast Backbone (MBONE)


Untuk proses multicast antara dua router multicast yang tidak bersebelahan,
dibuat multicast backbone (MBONE) untuk mengaktifkan tunneling.

16