Anda di halaman 1dari 14

SEBUAH KAJIAN APLIKASI AKAD WADI>’AH DALAM

KEHIDUPAN PERBANKAN SHARI>’AH

Muhammad Fahmi Asy’ari*


Muhammad Ghozali, Ph.D

*Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Ekonomi Syariah


Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo
askvoe2010@gmail.com
ghozali.unida@gmail.com

Abstrak
Dewasa ini perkembangan ekonomi shari>’ah akan berdampak pada
peningkatan pengsa pasar keuangan syariah, khususnya perbankan syariah.
Dimana-mana sekarang sudah banyak kita temui bank-bank shari>’ah yang baru
bermunculan. Perbankan syariah tersebut mempunyai beberapa produk dalam
kegiatanya, salah satu daintaranya adalah produk giro dan tabungan shari>’ah,
yang menggunakan akad wadi>’ah. Dalam aplikasinya, bank shari>’ah menerima
titipan amanah dalam menyimpan dan menyalurkan dana umat agar dapat
bermanfaat secara optimal. Tetapi pada dasarnya aplikasi wadi>’ah dalam
beberapa literatur fiqih klasik sesungguhnya adalah akad yang bertujuan menjaga
suatu harta dan hanyalah berupa titpan saja dan tidak boleh memanfaatkan suatu
titipan tersebut dalam bentuk apapun, karena hal itu sangat dilarang. Hal ini
sangat bertentangan sekali dengan aplikasi akad wadi’ah pada perbankan
shari>’ah, sebagaimana kita ketahui pada perbankan syariah menggunakan sistem
akad wadi’ah yad dhamanah dimana pemegang amanah bisa menerima
keuntungan dari penitipan tersebut. Wadi>’ah pada perbankan shari>’ah tidak
ubahnya seperti seperti akad qard (hutang-piutang) dan ini juga diterapkan pada
perbankan konvensional, dimana akad tersebut berorientasi lebih kepada mencari
keuntungan dari pada amanah itu sendiri. Seharusnya aplikasi akad wadi>’ah
diperbankan shari>’ah memakai sistem amanah, dengan kata lain pihak pemegang
amanah tidak boleh meminta imbalan dia hanya bersifat sukarela. Adanya
kewenangan untuk memanfaatkan barang, memiliki hasilnya dan menanggung
kerusakan atau kerugian adalah perbedaan utama antara wadi>’ah dan hutang
piutang. Dengan demikian, bila dilihat secara teliti maka secara faktanya hukum
akad wadi>’ah disini telah berubah menjadi akad hutang piutang. Adapun cara
bank untuk merealisasikan akad ini adalah dengan cara sistem save deposit box,
karena sistem itu merupakan fasilitas bank yang aman tanpa indikasi ribawi
ataupun bunga, karena hanya murni untuk tempat titipan.
Kata Kunci: Aplikasi, Wadi>’ah, Perbankan Shari>’ah.

1
PENDAHULUAN
Islam adalah agama yang sangat sempurna. sehingga bisa dikatakan adalah
agama yang bersifat universal dan komprehensif. Islam adalah Agama yang sesuai
pada setiap waktu dan tempat yang berarti mencakup seluruh aspek kehidupan baik
itu dalam bermuamalah maupun ibadah. Sedangkan yang di maksud dalam bidang
muamalah sendiri mempunyai arti yang cukup luas, salah satunya dalam bidang
ekonomi dan perbankan.1 Dengan mendasarkan pengertian bank menurut Undang-
Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 tahun
2008 tentang Perbankan Shari’>ah tampak bahwa bank adalah lembaga keuangan
yang berfungsi sebagai intermediasi keungan (financial intermediary institution).
Dengan demikian, dalam sebuah bank minimal terdapat dua macam kegiatan, yaitu
penghimpunan dana dari masyarakat dan penyaluran dana kepada masyarakat.2
Perbankan shari>’ah melalui produk-produknya telah mensosialisasikan
program mereka kepada publik, namun masih ada sebagian publik yang belum
sepenuhnya memahami produk dan program yang ada di perbankan shari>’ah.
Apabila publik bisa mengkaji hal tersebut, mereka akan mengetahui bahwa produk-
produk perbankan shari>’ah mempunyai fungsi dan peranya masing-masing dalam
kehidupan ekonomi umat.
Bank shari>’ah banyak yang terlahir dari anak perusahaan bank seperti
dalam bentuk unit usaha shari>’ah atau dengan mengkonversi dari perbankan
konvensional menjadi perbankan shari>’ah.3 Pada kenyataanya praktek bank
shari>’ah masih menempel kepada induknya yang merupakan bank konvensional.
Hal ini juga bisa dikatakan bahwa modal bank shari>’ah tersebut pada awalnya
modal berasal dari praktek bank konvensional dengan berbasis bunga.
Pada fase perkembangan saat ini, perbankan shari>’ah tidak hanya memiliki
peluang, melainkan juga berbagai permasalahan. Nasabah dan masyarakat secara
umum masih melihat bank shari>’ah sama dengan bank konvensional karena

1
Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syari’ah Dari Teori ke Praktek, Jakarta, Gema Insani,
2001, 1.
2
Abdul Ghofur Anshori, Perbankan Syariah Di Indonesia, Yogyakarta, Gadjah Mada
University Press, 2009, 82.
3
Antonio, Bank Syari’ah Dari Teori ke Praktek, 279.

2
margin yang harus dibayar oleh nasabah tak kalah tinggi dengan bunga. Sisi sumber
daya manusia (SDM) di perbankan shari>’ah turut menjadi bahasan sebagai salah
satu pesoalan yang harus segera dituntaskan.4
Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa perbankan shari>’ah
mempunyai produk-produk yang mereka tawarkan salah satunya adalah produk
wadi>’ah. Wadi>’ah merupakan salah satu akad yang digunakan oleh bank
shari>’ah untuk produk penghimpunan dana pihak ketiga. Dalam akad wadi>’ah,
bank shari>’ah dapat menawarkan dua produk perbankan yang telah dikenal oleh
masyarakat luas yaitu giro dan tabungan.5 Dari beberapa produk bank shari>’ah tak
terhindar dari permasalahan, termasuk dalam akad wadi>’ah. Permalasalahan itu
ada kiranya muncul ketika akad tidak sesuai dengan praktek yang ada dilapangan.
Apakah akad wadi>’ah disini dalam aplikasinya pada perbankan shari>’ah sudah
memenuhi standart shari>’ah atau masikah menggunakan sistem konvensional ?
Untuk menjawab pertanyaan diatas, penulis akan mencoba mengkaji kajian
literatur yang mendalam untuk memaparkan dan menjawab praktek wadi>’ah
secara muamalat dengan fenomena yang terjadi pada perbankan shari>’ah dan
lembaga-lembaga keuangan shari>’ah.

Wadi>’ah (titipan)
Pengertian Wadi>’ah
Menurut bahasa kata wadi>’ah berasal dari bahasa Arab yaitu ُ‫ الت َْرك‬yang
berarti meninggalkan.6 Maksud adalah meninggalkan atau meletakkan, yaitu
meletakkan sesuatu kepada orang lain untuk dipelihara atau dijaga. 7 Kemudian
menurut istilah wadi>’ah yaitu pemberian kuasa dari penitip kepada orang yang
dititipi hartanya tanpa kompensasi atau ganti rugi.8

4
Gemala Dewi, Aspek-Aspek Hukum Dalam Perbankan dan Perasuransian Syariah di
Indonesia, Jakarta, Kencana, 2007, 14.
5
Veithzal Rivai dkk, Islamic Transaction Law In Business dari Teori ke Praktik, jakarta,
Bumi Aksara, 2011, 90.
6
Wahbah Zuhaili, Terjemahan Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Jakarta, Gema Insani Press,
Jilid V, 2011, 37.
7
M. Yazid Afandi, Fiqh Muamalah, Yogyakarta, Logung Pustaka, 2009, 193.
8
Mardani, Fiqh Ekonomi Syari’ah, Jakarta, PRENADA MEDIA, 2013, 282.

3
Sementara itu menurut UU No 21 Tentang Perbankan Shari>’ah yang
dimakud dengan akad wadi>’ah adalah akad penitipan barang atau uang antara
pihak yang mempunyai barang atau uang kepada pihak yang diberi kepercayaan
dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, serta keutuhan barang atau uang.9

Landasan Akad Wadi>’ah


Akad disyariatkanya wadi>’ah terdiri dari dalil yang terdapat pada al-
Qur’a>n, al-Sunnah dan ijma>’.
1. Al-Qur’a>n
Sebagai mana terdapat pada QS. al-Nisa>’: 58 Allah berfirman sebagai berikut:

ُ ِ َّ‫اُوإِذَاُ َح َكمۡ تمُبَ ۡينَ ُٱلن‬


ُ‫اس‬ ُِ َ‫ّللَ ُيَ ۡأمرك ۡم ُأَنُت َؤدُّواْ ُٱ ۡۡل َ َٰ َم َٰن‬
َ ‫ت ُإُِلَ َٰ ٰٓى ُأ َ ۡه ِل َه‬ َُّ ‫۞إِ َّن ُٱ‬
ُ ُ٥٨ُ‫ص ٗيرا‬ ِ ‫س ِمي َۢ َعاَُُب‬ َُّ ‫ّللَُ ِن ِع َّماُ َي ِعظُكمُ ِب ِ ٰٓهُۦُ ِإ َّنُٱ‬
َ ُ َ‫ّللَُ َكان‬ ُِ ‫أَنُت َ ۡحكمواُُِْبٱ ۡل َع ۡد‬
َُّ ‫لُ ِإ َّنُٱ‬
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah
adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.10

2. Sunnah
Landasan sunnah yang terkait dengan wadi>’ah adalah hadith yang
diriwayatkan oleh Abu> Dawu>d dan Imam Turmidhi.
Rasulullah SAW bersabda:

9
Undang-undang mengenai wadi’ah,
www.bi.go.id/NR/rdonlyres/248300B4.../UU_21_08_Syariah.pdf, diakses pada tanggal 31
Desember pukul 20.00 wib.
10
Depag RI, Al-qur’an Terjemahan, Semarang, Toha Putra , Edisi Baru Revisi Terjemahan
1989, 124.

4
َُ‫ُوال‬, ْ ‫ُأ َ ِد‬:ُ ‫سلَّ َم‬
َ ‫ُاۡل َ َمانَةَ ُ ِإلَىُ َم ْن ُاِئْت َ َمن ََك‬ َ ‫صلَّىُهللا ُ َعلَي ِه‬
َ ‫ُو‬ َ ‫قَا َل‬
َ ُ ِ‫ُرس ْول ُهللا‬
ُ,‫ُوصححهُالحاكم‬,‫ُالترمذي ُوحسُنه‬,‫تَح ْن ُ َم ْن ُخَان ََك ُ(رواهُأبوُداود‬
ُ 11.‫واستنكرهُأبوُحاتمُالرازي‬
ٍ

“Rasulullah SAW bersabda: “Penuhilah amanat itu kepada yang berhak


menerimanya dan janganlah kamu khianat kepada orang yang
mengkhianatimu” (Hadi>th riwayat Abu Dawu>d dan Tirmidhi). Imam hakim
menyatakan “hasannya” dan “shahihnya” hadi>th ini yaitu tetap. Imam Abu
Hatim Ar Razi menyatakan “mungkar”.

3. Ijma’
Seluruh ulama muslim hingga saat ini bersepakat bahwa akad
wadi>’ah disyariatkan dalam islam dan hukumnya adalah boleh. Oleh karena
itu Ibnu Qudamah menyatakan bahwa sejak zaman Rasulullah SAW sampai
generasi berikutnya, wadi>’ah telah menjadi ijma’ ‘amali>, yaitu konsensus
dalam praktik bagi umat Islam dan tidak ada orang yang mengingkarinya.12
Rukun Akad Wadi>’ah
Menurut jumhur ulama rukun wadi>’ah ada empat:
1. Orang yang mempunya barang (muwa>di’).
2. Orang yang menyimpan barang (mustawda’).
3. Barang yang dititipkan (wadi>’ah bih).
4. Shighat: Ijab dan Qabul.13

Syarat-syarat Akad Wadi>’ah


a. Syarat wadi>’ah menurut hanafi adalah pihak pelaku akad disyaratkan harus
orang yang berakal, sehingga sekalipun anak kecil namun sudah dianggap telah
berakal dan mendapat izin dari walinya, akad wadi>’ahnya dianggap sah.

11
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalany, Bulughul Maram Min Ahadithil Ahkam, Beirut,
Darul Fikr, t.th, 189.
12
M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada,
2003, 247.
13
Riva’i dkk, Islamic Transaction Law In Business dari Teori ke Praktik, 88.

5
b. Jumhur mensyaratkan dalam akad wadi>’ah agar pihak pelaku akad telah
balig, berakal dan cerdas, karena akad wadi>’ah mengandung banyak resiko,
sehingga sekalipun berakal dan telah balig namun tidak cerdas menurut jumhur
akad wadi>’ahnya dianggap tidak sah.14
Macam-macam Akad Wadi>’ah
Secara umum akad wadi>’ah terbagi menjadi dua jenis akad yaitu wadi>’ah
al-Ama>nah dan wadi>’ah yad al-Dama>nah.
1. Wadi>’ah yad al-Ama>nah, dengan karakteristik yaitu: merupakan titipan
murni, barang/dana yang dititipkan tidak boleh digunakan (diambil
manfaatnya) oleh penitip, sewaktu titipan dikembalikan harus dalam keadaan
utuh baik nilai maupun fisik barangnya, jika selama dalam penitipan terjadi
kerusakan maka pihak yang menerima titipan tidak dibebani tanggung jawab,
sebagai kompensasi atas tanggung jawab pemeliharaan dapat dikenakan biaya
titipan.15 Adapun skema akad ini adalah sebagai berikut:

Titip Barang/Uang

Penyimpan
Penitip (Muwadi’)
(Mustawda’)

Biaya Titipan

2. Wadi>’ah yad al-Dama>nah dengan karakteristik yaitu: merupakan


pengembangan dari wadi’ah yad al amanah yang disesuaikan dengan aktivitas
perekonomian. penerima titipan diberi izin untuk menggunakan dan
mengambil manfaat dari titipan tersebut. Penyimpan mempunyai kewajiban
untuk bertanggung jawab terhadap kehilangan/kerusakan barang tersebut.
Semua keuntungan yang diperoleh dari titipan tersebut menjadi hak penerima
titipan. Sebagai imbalan kepada pemilik barang/dana bank dapat diberikan

14
Riva’i dkk, Islamic Transaction Law In Business dari Teori ke Praktik, 88.
15
Afandi, Fiqh Muamalah, 195.

6
semacam insentif berupa bonus yang tidak disyaratkan sebelumnya.16 Adapun
skema akad ini adalah sebagai berikut:17

’ah
Akad Wadi>
Penyimpan
Penitip (Muwadi’)
(Mustawda’)

Bonus dari Mustawda’


Pemanfaatan Barang

Tinjauan Akad Wadi>’ah Dalam Fiqh


Pengambilan Muamalah
Barang
Penitip (Muwadi’)
Tujuan semula dari akad wadi>’ah adalah semata-mata hanya untuk tolong-
menolong dalam kebaikan dan bukan untuk mencari ganti atau keuntungan. Hal ini
bisa diamati dalam berbagai rumusan definisi yang kita bisa temukan diberbagai
literatur. Menurut Wahbah Zuhaily arti wadi>’ah adalah meninggalkan atau
meletakkan sesuatu pada orang lain untuk dipelihara dan dijaga. 18 Jadi dapat
dipahami bahwa wadi>’ah adalah memberikan kuasa kepada seseorang yang
dipercayai untuk memelihara harta tertentu dengan cara tertentu. Maka secara
umum dapat disimpulkan definisi wadi>’ah dapat diartikan sebagai titipan murni
dari satu pihak ke pihak yang lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus
dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendakinya. Dari rumusan
definisi wadi>’ah ini jelas, bahwa akad wadi>’ah bukanlah akad komersial untuk
mencari profit.
Oleh sebab itu Ibn Qudamah (ahli fiqih mazhab Hambali) menyatakan
bahwa sejak zaman Rasulullah saw sampai generasi berikutnya, wadi‟ah telah
menjadi ijma ‘amali> (konsesus dalam praktek) bagi umat Islam dan tidak ada

16
Nasrun Harun, Fiqh Muamalah, Jakarta, Gaya Media Pratama, 2007, 251.
17
Antonio, Bank Syari’ah Dari Teori ke Praktek, 148.
18
Zuhaili, Terjemahan Fiqih Islam Wa Adillatuhu, 297.

7
seorang ulama pun yang mengingkarinya. Ini artinya, praktek wadi>’ah memang
merupakan tabi’at manusia yang akan selalu ada dalam kehidupan masyarakat
sebagai wujud manusia sebagai makhluk social. Wadiah pada prinsipnya adalah
membantu pihak penitip, dan pihak yang dititipi posisisnya sebagai pihak penolong.
Karena itulah, sifat dari wadi>’ah adalah amanah. Dalam kitab I’anatut Thalibin
karya Ad Dimyathy dijelaskan bahwa wadi>’ah adalah: “Suatu akad yang betujuan
menjaga suatu harta.19
Aplikasi Akad Wadi>’ah Pada Perbankan Shari>’ah
Al-wadi’ah adalah amanah bagi orang yang menerima titipan dan ia wajib
mengembalikannya pada waktu pemilik meminta kembali. Akan tetapi pada
perbankan shari>’ah produk wadi>’ah diaplikasikan kedalam dua produk yaitu:
1. Giro Wadi>’ah
Giro wadi>’ah adalah produk pendanaan bank shari>’ah berupa
simpanan dari nasabah dalam bentuk rekening giro (current account) untuk
keamanan dan kemudahan pemakainya. Karakteristik giro wadi>’ah ini mirip
dengan giro pada bank konvensional, dimana nasabah penyimpan diberi garansi
untuk dapat menarik dananya sewaktu-waktu dengan menggunakan berbagai
fasilitas yang disediakan bank, seperti cek, bilyet giro, kartu ATM, atau dengan
menggunakan sarana perintah pembayaran lainya.20
Kemudian berdasarkan fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN) No:
01/DSN-MUI/IV/2000, menetapkan bahwa Giro yang dibenarkan secara
shari>’ah, yaitu giro yang berdasarkan prinsip mudharabah dan wadi>’ah.
Demikian juga tabungan dengan produk wadi>’ah, dapat dibenarkan
berdasarkan Fatwa DSN No: 02//DSN-MUI/IV/2000, menyatakan bahwa
tabungan yang dibenarkan, yaitu tabungan yang berdasarkan prinsip
mudharabah dan wadi>’ah.21 Dalam surat edaran diatas dapat diketahui bahwa
dalam penghimpunan dana giro dalam akad wadi>’ah ada persyaratan yang
harus dipenuhi antara lain:

19
Abdullah Saeed, Bank Islam dan Bunga, Studi Kritis dan Interprestasi Kontemporer
tentang Riba dan Bunga, Yogyakarta, Pustaka Pelajar , 2003, 72.
20
Askarya, Akad dan Produk Bank Syari’ah, Jakarta, Rajawali Pers, 2012, 113-114.
21
Anshori, Perbankan Syariah Di Indonesia,89.

8
a. Bank bertindak sebagai penerima dana titipan dan nasabah sebagai penitip.
b. Bank wajib untuk menjelaskan diawal kepada nasabah mengenai
karakteristik produk yang ditawarkan beserta kewajiban dan hak nasabah.
c. Pihak bank dan pihak nasabah wajib bersepakat atas pembukaan dan
penggunaan produk giro atau tabungan dalam akad wadi>’ah dan
kesepakatan itu harus tertulis.
d. Pihak bank sebagai penerima tidak diperbolehkan menjanjikan pemberian
imbalan ataupun berupa bonus kepada nasabah.
e. Pihak bank dapat memberikan biaya administrasi kepada nasabah yang
terkait langsung dengan biaya pengelolaan.
f. Pihak bank dapat menjamin pengembalian dana jika sewaktu-waktu dana
titipan nasabah diambil.
g. Dana nasabah yang dititipkan dapat diambil sewaktu-waktu.22
2. Tabungan Wadi>’ah
Tabungan wadi>’ah merupakan tabungan yang dijalankan berdasarkan
akad wadi>’ah, yakni titipan murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap
saat sesuai dengan kehendak pemiliknya. Berkaitan dengan produk tabungan
wadi>’ah, Bank Shari>’ah menggunakan akad wadi>’ah yad al-d}ama>nah.
Dalam hal ini, nasabah bertindak sebagai penitip yang memberikan hak kepada
Bank Shari>’ah untuk menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang
titipannya. Sedangkan Bank Shari>’ah bertindak sebagai pihak yang dititipi
dana atau barang yang disertai hak untuk menggunakan atau memanfaatkan dana
atau barang tersebut.23 Sebagai konsekuensinya, bank bertanggung jawab
terhadap keutuhan harta titipan tersebut serta mengembalikanya kapan saja
sesuai dengan yang dikehendaki pemilik barang. Disisi lain, bank juga berhak
sepenuhnya atas keuntungan dari hasil penggunaan atau pemanfaatan dana atau
barang tersebut. Selain itu bank diperkenankan memberikan bonus kepada
pemilik harta titipan selama tidak disyaratkan di awal. Dengan kata lain,

22
Ibid.,
23
Adiwarman Karim, Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan, Jakarta, Raja Grafindo
Persada, 2004, 297.

9
pemberian bonus merupakan kebijakan Bank Shari>’ah semata yang bersifat
sukarela.24 Pada bonus tabungan ini kita bisa bandingkan dengan jasa giro
konvesional pada tabel dibawah ini:25

No Jasa Giro Bonus ‘Athoya


1 Diperjanjikan Tidak diperjanjikan
2 Disebutkan dalam akad Benar-benar budi baik
3 Ditentukan dalam presentase tetap Ditentukan sesuai keuntungan

Secara teknis implementasi akad wadi>’ah dalam produk perbankan


berupa tabungan ketentuanya sama seperti produk giro yang dapat dibaca dalam
Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) No. 10/14/DPbS tertanggal 17 Maret 2008,
yang merupakan ketentuan pelaksanaan dari PBI No. 9/19/PBI/2007 tentang
Pelaksanaan Prinsip shari>’ah Dalam Kegiatan Penghimpunan Dan Penyaluran
Dana Serta Pelayanan Jasa Bank Shari>’ah, sebagaimana yang telah diubah
dengan PBI No. 10/16/PBI/2008.26
Perbedaan Wadi>’ah Shari>’ah dan Wadi>’ah Perbankan
Dapat dikaji lebih dalam tentang wadi>’ah yang diterapkan dalam
shari>’ah dengan yang diterapkan pada perbankan syariah agar kita memahami
berbagai hal yang membedakan wadi>'ah shari>’ah (WS) dengan wadi>’ah
perbankan (WB).
WS: Penerima titipan (wadi>’ah), tidak dibenarkan untuk menggunakan
uang yang disimpankan kepadanya, kecuali atas seizin pemilik uang. Bila ia
menggunakannya maka ia telah berkhianat, dan bila terjadi kehilangan ia
berkewajiban menanggungnya.

24
Karim, Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan, 298.
25
Antonio, Bank Syari’ah Dari Teori ke Praktek, 149-150.
26
Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No. 02/DSN-MUI/IV/2000 tentang Tabungan.

10
WB: Penerima wadi>’ah (pihak bank shari>’ah) sepenuhnya dibenarkan
untuk menggunakan uang titipannya, baik dengan dibelanjakan atau diutangkan
kembali kepada orang lain.
WS: Kerusakan yang tidak disengaja, atau tanpa ada kelalaian dari
penerima titipan, tidak menjadi bertanggung jawab penerima titipan untuk
menggantinya .
WB: Bila uang atau barang rusak atau hilang, setelah akad wadi>’ah,
maka sepenuhnya menjadi tanggung jawab (bank), walau semuanya terjadi tanpa
kesengajaan.
WS: Pemilik uang tidak mendapatkan imbalan atau bonus apapun.
WB: Pemilik uang (nasabah) mendapatkan bonus, yang diistilahkan 'bagi
hasil'
WS: Bila penerima wadi>’ah memungut upah dari pemilik uang atau
barang, otomatis akadnya berubah menjadi akad sewa-menyewa atau jual-beli
jasa penitipan.27
Kita bisa cermati perbedaan diatas, dapat dijelaskan bahwa wadi>’ah
yang ada diperbankan shari>’ah bukanlah wadi>’ah yang dijelaskan dalam kitab
fiqih klasik. Wadi>’ah perbankan shari>’ah yang saat ini dipratekkan, lebih
relevan dengan hukum piutang, karena pihak bank memanfaatkan uang nasabah
dalam berbagai proyeknya. Sebagaimana nasabah terbebas dari resiko yang
terjadi pada dananya. Kesimpulanya ialah bahwa praktek sesungguhnya pada
perbankan shari>’ah adalah akad hutang piutang yang kemudian disamarkan
menjadi akad wadi>’ah. Bila demikian adanya maka tidak bisa dipungkiri
bahwa bank shari>’ah juga menerapkan sistem bunga pada salah satu produk
mereka, di sini bank telah menyalagunakan konsep wadi>’ah yang sebenarnya,
karena wadi>’ah hakekatnya harus terhindar dari ribawi atau atas dasar sukarela
semata tanpa meminta imbalan.28

27
Siti Aisyah. 2016. Penghimpunan Dana Masyarakat Dengan Akad Wadiah dan
Penerapanya Pada Perbankan Syariah. Jurnal Ekonomi, 118.
28
Aisyah, 120.

11
KESIMPULAN
Menurut bahasa kata wadi>’ah berasal dari bahasa Arab yaitu ُ‫ الت َْرك‬yang
berarti meninggalkan. Maksud adalah meninggalkan atau meletakkan, yaitu
meletakkan sesuatu kepada orang lain untuk dipelihara atau dijaga. Kemudian
menurut istilah wadi>’ah yaitu pemberian kuasa dari penitip kepada orang yang
dititipi hartanya tanpa kompensasi atau ganti rugi. Sementara itu menurut UU No
21 Tentang Perbankan Shari>’ah yang dimakud dengan akad wadi>’ah adalah akad
penitipan barang atau uang antara pihak yang mempunyai barang atau uang kepada
pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, serta
keutuhan barang atau uang. Secara umum akad wadi>’ah terbagi menjadi dua jenis
akad yaitu wadi>’ah al-Ama>nah dan wadi>’ah yad al-Dama>nah.
Wadi>’ah pada prinsipnya adalah membantu pihak penitip, dan pihak yang
dititipi posisisnya sebagai pihak penolong. Karena itulah, sifat dari wadi>’ah
adalah amanah. Dalam kitab I’anatut Thalibin karya Ad Dimyathy dijelaskan
bahwa wadi>’ah adalah: “Suatu akad yang betujuan menjaga suatu harta.
Model aplikasi akad wadi>’ah pada perbankan shari>’ah dapat dilakukan
kedalam dua produk yaitu Giro wadi>’ah dan Tabungan wadi>’ah. Pada Giro
wadi>’ah menurut keputusan Dewan Syari’ah Nasional (DSN) No: 01/DSN-
MUI/IV/2000, menetapkan bahwa Giro yang dibenarkan secara shari>’ah, yaitu
giro yang berdasarkan prinsip mudharabah dan wadi>’ah. Kemudian pada
tabungan wadi>’ah merupakan tabungan yang dijalankan berdasarkan akad
wadi>’ah, yakni titipan murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat
sesuai dengan kehendak pemiliknya. Berkaitan dengan produk tabungan wadi>’ah,
Bank Shari>’ah menggunakan akad wadi>’ah yad al-d}ama>nah. Dalam hal ini,
nasabah bertindak sebagai penitip yang memberikan hak kepada Bank Shari>’ah
untuk menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang titipannya.
Praktek sesungguhnya pada perbankan shari>’ah adalah akad hutang
piutang yang kemudian disamarkan menjadi akad wadi>’ah. Bila demikian adanya
maka tidak bisa dipungkiri bahwa bank shari>’ah juga menerapkan sistem bunga
pada salah satu produk mereka, di sini bank telah menyalagunakan konsep

12
wadi>’ah yang sebenarnya, karena wadi>’ah hakekatnya harus terhindar dari
ribawi atau atas dasar sukarela semata tanpa meminta imbalan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Afandi, M. Yazid. Fiqh Muamalah. Yogyakarta, Logung Pustaka, 2009.


Al-Asqalany, Al-Hafidz Ibnu Hajar. Bulughul Maram Min Ahadithil Ahkam.
Beirut, Darul Fikr.tth.
Anshori, Abdul Ghofur. Perbankan Syariah Di Indonesia. Yogyakarta, Gadjah
Mada University Press, 2009.
Antonio, Muhammad Syafi’I. Bank Syari’ah Dari Teori ke Praktek. Jakarta, Gema
Insani, 2001.
Askarya. Akad dan Produk Bank Syari’ah. Jakarta, Rajawali Pers, 2012.

Depag RI. Al-qur’an Terjemahan. Semarang, Toha Putra , Edisi Baru Revisi
Terjemahan 1989.
Dewi, Gemala. Aspek-Aspek Hukum Dalam Perbankan dan Perasuransian
Syariah di Indonesia. Jakarta, Kencana, 2007.
Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No. 02/DSN-MUI/IV/2000 tentang Tabungan.
Harun, Nasrun. Fiqh Muamalah, Jakarta, Gaya Media Pratama, 2007.
Hasan, M. Ali. Berbagai Macam Transaksi dalam Islam. Jakarta, Raja Grafindo
Persada, 2003.
Karim, Adiwarman. Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan, Jakarta, Raja
Grafindo Persada, 2004.
Mardani. Fiqh Ekonomi Syari’ah. Jakarta, PRENADA MEDIA, 2013.
Rivai, Veithzal dkk. Islamic Transaction Law In Business dari Teori ke Praktik.
Jakarta, Bumi Aksara, 2011.
Saeed, Abdullah. Bank Islam dan Bunga, Studi Kritis dan Interprestasi
Kontemporer tentang Riba dan Bunga. Yogyakarta, Pustaka Pelajar , 2003.
Zuhaili, Wahbah. Terjemahan Fiqih Islam Wa Adillatuhu. Jakarta, Gema Insani
Press, Jilid V, 2011.
Jurnal
Aisyah. Siti. 2016. Penghimpunan Dana Masyarakat Dengan Akad Wadiah dan
Penerapanya Pada Perbankan Syariah. Jurnal Ekonomi.
Undang-undang mengenai wadi’ah,
www.bi.go.id/NR/rdonlyres/248300B4.../UU_21_08_Syariah.pdf.

14