Anda di halaman 1dari 34

ASUHAN KEBIDANAN

PADA NY “ W “ P202 POST PARTUM HARI KE-2 DENGAN PERITONITIS


DI BPM NY DIAH DESA TLOGOSARI KECAMATAN SEMPU

Di susun Oleh :
EVA DWI JAYANTI
13613417

PROGRAM STUDI BIDAN PENDIDIK (D-IV)


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KADIRI
2014

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa berkat Rahmat-Nya
sehingga saya dapat menyelesaikan Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny.”W” P202 post
partum hari ke-2 dengan peritonitis tepat pada waktunya.

Asuhan kebidanan ini saya susun untuk memenuhi tugas mata kuliah kegawatdaruratan
kebidanan, dan dengan terselesaikannya laporan ini, saya mengucapkan banyak terimakasih
kepada :

1. Ibu Endang Wartini, S.ST,S.Pd., M.M.Kes selaku Dosen mata kuliah Kegawatdaruratan
Kebidanan di FIK UNIK.

2. Teman-teman kelas 7.1 yang telah membantu untuk menyelesaikan asuhan kebidanan
komprehensif ini.

3. Pihak lain yang terkait secara tidak langsung dalam tercapainya penyusunan asuhan
kebidanan komprehensif ini.

Saya menyadari bahwa penyusunan laporan asuhan kebidanan ini masih terdapat banyak
kekurangan. Hal ini karena terbatasnya informasi dan kemampuan saya dalam penyusunan.
Maka dari itu saya mengharapkan saran kritik yang bersifat membangun dari semua pihak
demi kesempurnaan penyusunan laporan asuhan kebidanan selanjutnya. Semoga laporan ini
dapat bermanfaat bagi mahasiswa Bidan Pendidik D-IV FIK UNIK khususnya dan
masyarakat pada umumnya.

Kediri, 14Juni 2014

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DEPAN ...............................................................................................i


KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI...................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Tujuan ..................................................................................................... 1
1.3 Metode pengumpulan data ...................................................................... 2
1.4 Sistematika penulisan ............................................................................. 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Masa nifas ............................................................................................... 3
2.1.1 Pengertian ........................................................................................ 3
2.1.2 Klasifikasi ....................................................................................... 3
2.1.3 Tujuan asuhan masa nifas ............................................................... 3
2.1.4 Adaptasi psikologi masa nifas ......................................................... 5
2.1.5 Aspek-aspek klinik masa nifas ........................................................ 5
2.1.6 Perawatan masa nifas ...................................................................... 6
2.2 Infeksi masa nifas ................................................................................... 8
2.2.1 Pengertian ........................................................................................ 8
2.2.2 Etiologi ............................................................................................ 8
2.2.3 Cara terjadi infeksi .......................................................................... 8
2.2.4 Faktor predisposisi .......................................................................... 9
2.2.5 Golongan infeksi nifas .................................................................... 9
2.3 Peritonitis ................................................................................................ 9
2.3.1 Pengertian ........................................................................................ 9
2.3.2 Etiologi ........................................................................................... 10
2.3.3 Patofisiologi ................................................................................... 11
2.3.4 Klasifikasi ...................................................................................... 13
2.3.5 Tanda dan gejala ............................................................................ 14
2.3.6 Komplikasi ..................................................................................... 14
2.3.7 Pemeriksaan penunjang .................................................................. 14

iii
2.4 Konsep Manajemen asuhan kebidanan pada post partum dengan
peritonitis ............................................................................................ ....15
BAB 3 TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian .............................................................................................. 20
3.2 Interpretasi data dasar ............................................................................ 24
3.3 Identifikasi masalah/diagnose potensial ................................................ 25
3.4 Identifikasi Kebutuhan segera ............................................................... 25
3.5 Intervensi ............................................................................................... 25
3.6 Implementasi .......................................................................................... 26
3.7 Evaluasi .................................................................................................. 26
BAB 4 PEMBAHASAN .................................................................................... 28
BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 29
5.2 Saran ...................................................................................................... 29
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 30

iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masa nifas merupakan salah satu fase dalam kehidupan wanita pada masa reproduksi.
Wanita akan mengalami sekali,dua kali, bahkan berkali-kali hamil dan bersalin dan nifas
dalam kehidupannya. Dan setiap proses persalinan mempunyai pengalaman yang
berbeda-beda pada 2-6 jam post partum.
Pada beberapa ibu nifas keadaan tersebut berlangsung secara normal. Namun, ada
beberapa ibu yang mengalami hambatan dan gangguan dalam menghadapi proses masa
nifas tersebut. Oleh karena itu asuhan Post Natal Care harus diberikan dengan baik untuk
mengetahui komplikasi lebih dini. Infeksi masa nifas (post partum) merupakan penyebab
kematian pada ibu yang kedua (terpenting) , kematian dalam pasca persalinan karena
infeksi uterus. Bila pengobatan terlambat atau kurang adekuat dapat menjadi abses
pelvik, infertilitas, syok septik, thrombosis vena dalam embon pulmonal, infeksi pervik
menahun, dispereunia, penyumbatan pada tuba dan peritonitis.
Peradangan peritoneum merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat
penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya apendisitis, salpingitis, perforasi
ulkus gastroduodenal), ruptura saluran cerna, komplikasi post operasi, iritasi kimiawi,
atau dari luka tembus abdomen.
Pada keadaan normal, peritoneum resisten terhadap infeksi bakteri (secara inokulasi
kecil-kecilan), kontaminasi yang terus menerus, bakteri yang virulen, resistensi yang
menurun, dan adanya benda asing atau enzim pencerna aktif, merupakan faktor-faktor
yang memudahkan terjadinya peritonitis. Keputusan untuk melakukan tindakan bedah
harus segera diambil karena setiap keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang
berakibat meningkatkan morbiditas dan mortalitas.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa peradangan termasuk masalah yang
masih perlu dibahas. Banyak contoh-contoh yang termasuk peradangan sehingga
mengakibatkan infeksi salah satunya peritonitis. Untuk itu masih perlu dikaji apa yang di
maksud dengan peritonitis, gambaran klinis, diagnosis dan tinjauan kasus yang
berhubungan dengan peritonitis.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memberikan asuhan Post Natal Care dengan Peritonitis.

1
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa memahami dan mengerti tentang pengertian asuhan Peritonitis.
2. Mahasiswa dapat mengenal tanda – tanda dan Gejala Peritonitis.
3. Mahasiswa mengetahui komplikasi yang dapat ditimbulkan pada pasien dengan
Peritonitis.
4. Mahasiswa mengetahui cara mengatasi pertolongan pertama pada pasien peritonitis.
1.3 Metode Pengumpulan Data
1.3.1 Wawancara
Mengadakan tanya jawab langsung kepada klien atau keluarga untuk mengetahui
keluhan dan mengumpulkan data sehingga dapat memberikan intervensi yang sesuai
dengan keadaan.
1.3.2 Observasi
Melakukan pengamatan langsung pada klien dan pemeriksaan sebagai data objektif.
1.3.3 Studi Dokumentasi
Membaca dan mempelajari sumber buku, status pasien catatan medis dan catatan
perkembangan yang dapat mendukung terlaksananya asuhan dan dapat membandingkan
teori dan praktek.
1.3.4 Studi pustaka
Membaca sumber buku sebagai pedoman dalam melakukan asuhan kebidanan.
1.4 Sistematika Penulisan
BAB 1 PENDAHULUAN
Terdiri dari Latar belakang, Tujuan, Tehnik Pengumpulan Data, dan Sistematika
Penulisan.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
Terdiri dari konsep teori masa nifas, infeksi nifas, konsep teori peritonitis dan konsep
manajemen asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan peritonitis.
BAB 3 TINJAUAN KASUS
BAB 4 PEMBAHASAN
BAB 5PENUTUP
Berisi kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Masa Nifas
2.1.1 Pengertian
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungankembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu.
(AbdulBari,2000:122).
Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran
yangmeliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali
kekeadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281).
2.1.2 Klasifikasi nifas
Nifas dapat dibagi kedalam 3 periode :
1. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-
jalan.
2. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat – alat genetalia yang
lamanya 6 – 8 minggu.
3. Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih kembali dan sehat
sempurnah baik selama hamil atau sempurna berminggu – minggu, berbulan – bulan
atau tahunan (Mochtar R, 1998).
2.1.3 Tujuan Asuhan Nifas
Asuhan nifas bertujuan untuk :
1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya.
2. Melaksanakan skrining yang komprehensip, mendeteksi masalah, mengobati atau
merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga
berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi yang
sehat.
4. Memberikan pelayanan KB.
5. Mempercepat involusi alat kandung.
6. Melancarkan pengeluaran lochea, mengurangi infeksi puerperium.
7. Melancarkan fungsi alat gastro intestinal atau perkamihan.
8. Meningkatkan kelancaran peredarahan darah sehingga mempercepat fungsi ASI dan
pengeluaran sisa metabolisme. (Mochtar, 1998).

3
Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa nifas involusi traktus genetalis. Pada
masa nifas, alat genetalia external dan internal akan berangsur– angsur pulih seperti
keadaan sebelum hamil.
Corpus uterus
Setelah plasenta lahir, uterus berangsur – angsur menjadi kecil sampai akhirnya
kembali seperti sebelum hamil. Tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa
involusi.
 Bayi lahir: Setinggi pusat – 1.000gr
 Uri lahir: 2 jari di bawah pusat – 750 gr
 I minggu: Pertengahan pusat sympisis – 500 gr
 2 minggu: Tak teraba diatas sympisis – 350 gr
 6 minggu: Bertambah kecil – 50 gr
 8 minggu: Sebesar normal – 30 gr
Endometrium
Perubahan–perubahan endometrium ialah timbulnya trombosis degenerasi dan
nekrosis di tempat inplantasi plasenta.
 Hari I : Endometrium setebal 2 – 5 mm dengan permukaan yang kasar akibat
pelepasan desidua dan selaput janin.
 Hari II : Permukaan mulai rata akibat lepasnya sel – sel dibagian yang mengalami
degenerasi.
Involusi tempat plasenta
Uterus pada bekas inplantasi plasenta merupakan luka yang kasar dan menonjol ke
dalam cavum uteri. Segera setelah plasenta lahir, penonjolan tersebut dengan diameter
7,5 cm, sesudah 2 minggu diameternya menjadi 3,5 cm dan 6 minggu telah mencapai 24
mm.
Perubahan pada pembuluh darah uterus
Pada saat hamil arteri dan vena yang mengantar darah dari dan ke uterus khususnya
ditempat implantasi plasenta menjadi besar setelah post partum otot – otot berkontraksi,
pembuluh – pembuluh darah pada uterus akan terjepit, proses ini akan menghentikan
darah setelah plasenta lahir.
Perubahan servix
Segera setelah post partum, servix agak menganga seperti corong, karena corpus uteri
yang mengadakan kontraksi. Sedangkan servix tidak berkontraksi, sehingga perbatasan

4
antara corpus dan servix uteri berbentuk seperti cincin. Warna servix merah kehitam –
hitaman karena pembuluh darah.
Segera setelah bayi dilahirkan, tangan pemeriksa masih dapat dimasukan 2 – 3 jari
saja dan setelah 1 minggu hanya dapat dimasukan 1 jari ke dalam cavum uteri.
Vagina dan pintu keluar panggul
Vagina dan pintu keluar panggul membentuk lorong berdinding lunak dan luas yang
ukurannya secara perlahan mengecil. Pada minggu ke – 3 post partum, hymen muncul
beberapa jaringan kecil dan menjadi corunculac mirtiformis.
Perubahan di peritoneum dan dinding abdomen
Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan
dan partus, setelah janin lahir berangsur-angsur ciut kembali. Ligamentum latum dan
rotundum lebih kendor dari pada kondisi sebelum hamil. (Mochtar, 1998).
2.1.4 Adaptasi Psikologi Masa Nifas
Masa Taking In
 Dimulai sejak dilahirkan sampai 2 – 3 hari.
 Ibu bersifat pasif dan berorientasi pada diri sendiri.
 Tingkat ketergantungan tinggi.
 Kebutuhan nutrisi dan istirahat tinggi.
Masa Taking Hold
 Berlangsung sampai 2 minggu.
 Klien mulai tertarik pada bayi.
 Ibu berupaya melakukan perawatan mandiri.
Masa taking Go
 Berlangsung pada minggu ke III – IV.
 Perhatian pada bayi sebagai individu terpisah. (Mochtar, 1998).
2.1.5 Aspek-Aspek Klinik Masa Nifas
 Suhu badan dapat mengalami peningkatan setelah persalinan, tetapi tidak lebih dari
380C. Bila terjadi peningkatan melebihi 380C selama 2 hari berturut-turut, maka
kemungkinan terjadi infeksi. kontraksi uterus yang diikuti HIS pengiring
menimbulkan rasa nyeri-nyeri ikutan (after pain) terutama pada multipara, masa
puerperium diikuti pengeluaran cairan sisa lapisan endomentrium serta sisa dari
implantasi plasenta yang disebut lochea.

5
 Pengeluaran lochea terdiri dari : 1). Lochea rubra : hari ke 1 – 2. Terdiri dari darah
segar bercampur sisa-sisa ketuban, sel-sel desidua, sisa-sisa vernix kaseosa, lanugo,
dan mekonium; 2). Lochea sanguinolenta : hari ke 3 – 7 Terdiri dari : darah
bercampur lendir, warna kecoklatan.; 3). Lochea serosa : hari ke 7 – 14. Berwarna
kekuningan.; 4). Lochea alba : hari ke 14 – selesai nifas Hanya merupakan cairan
putih lochea yang berbau busuk dan terinfeksi disebut lochea purulent.
 Pada payudara terjadi perubahan atropik yang terjadi pada organ pelvix, payudara
mencapai maturitas yang penuh selama masa nifas kecuali jika laktasi supresi
payudara akan lebih menjadi besar, kencang dan lebih nyeri tekan sebagai reaksi
terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi. Hari kedua post partum
sejumlah colostrums cairan yang disekresi oleh payudara selama lima hari pertama
setelah kelahiran bayi dapat diperas dari puting susu. Colostrums banyak mengandung
protein, yang sebagian besar globulin dan lebih banyak mineral tapi gula dan lemak
sedikit.
 Traktus Urinarius. Buang air sering sulit selama 24 jam pertama, karena mengalami
kompresi antara kepala dan tulang pubis selama persalinan. Urine dalam jumlah besar
akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta
dilahirkan, kadar hormone esktrogen yang bersifat menahan air akan mengalani
penurunan yang mencolok, keadaan ini menyebabkan diuresis.
System Kardiovarkuler
Normalnya selama beberapa hari pertama setelah kelahiran, Hb, Hematokrit dan
hitungan eritrosit berfruktuasi sedang. Akan tetapi umumnya, jika kadar ini turun jauh di
bawah tingkat yang ada tepat sebelum atau selama persalinan awal wanita tersebut
kehilangan darah yang cukup banyak. Pada minggu pertama setelah kelahiran , volume
darah kembali mendekati seperti jumlah darah waktu tidak hamil yang biasa. Setelah 2
minggu perubahan ini kembali normal seperti keadaan tidak hamil.
2.1.6 Perawatan Masa Nifas
Perawatan puerperium dilakukan dalam bentuk pengawasan sebagai berikut :
 Rawat gabung
Perawatan ibu dan bayi dalam satu ruangan bersama-sama, sehingga ibu lebih banyak
memperhatikan bayinya, memberikan ASI sehingga kelancaran pengeluaran ASI
terjamin.
 Pemeriksaan umum; kesadaran penderita, keluhan yang terjadi setelah persalinan.

6
 Pemeriksaan khusus; fisik, tekanan darah, nadi, suhu, respirasi, tinggi fundus uteri,
kontraksi uterus.
 Payudara; puting susu atau stuwing ASI, pengeluaran ASI. Perawatan payudara sudah
dimulai sejak hamil sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Bila bayi mulai
disusui, isapan pada puting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris
mengakibatkan oxitosin dikeluarkan oleh hipofisis. Produksi akan lebih banyak dan
involusi uteri akan lebih sempurna.
 Lochea; lochea rubra, lochea sanguinolenta.
 Luka jahitan; apakah baik atau terbuka, apakah ada tanda-tanda infeksi (kotor,
dolor/fungsi laesa dan pus ).
 Mobilisasi; karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8
jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring ke kiri dan kekanan serta diperbolehkan
untuk duduk, atau pada hari ke – 4 dan ke- 5 diperbolehkan pulang.
 Diet; makan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan
yang mengandung protein, banyak cairan, sayuran dan buah-buahan.
 Miksi; hendaknya buang air kecil dapat dilakukan sendiri secepatnya, paling tidak 4
jam setelah kelahiran. Bila sakit, kencing dikaterisasi.
 Defekasi; buang air besar dapat dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila sulit bab dan
terjadi obstipasi apabila bab keras dapat diberikan laksans per oral atau perektal. Jika
belum biasa dilakukan klisma.
 Kebersihan diri; anjurkan kebersihan seluruh tubuh, membersihkan daerah kelamin
dengan air dan sabun. Dari vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang kemudian
anus. Mengganti pembalut setidaknya dua kali sehari, mencuci tangan sebelum dan
sesudah membersihkan kelamin.
 Menganjurkan pada ibu agar mengikuti KB sendini mungkin setelah 40 hari (16
minggu post partum).
 Nasehat untuk ibu post partum; sebaiknya bayi disusui. Psikoterapi post natal sangat
baik bila diberikan. Kerjakan gimnastik sehabis bersalin. Sebaiknya ikut KB.
 Imunisasi; bawalah bayi ke RS, PKM, posyandu atau dokter praktek untuk
memperoleh imunisasi

7
2.2 Infeksi Masa Nifas
2.2.1 Pengertian
Infeksi masa nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman-
kuman ke dalam alat-alat genital pada waktu persalinan dan nifas. Demam nifas atau
morbiditas puerperalis meliputi demam dalam masa nifas oleh sebab apapun. Menurut
Joint Committee on Maternal Welfare, morbiditas puerperalis ialah kenaikan suhu
sampai 380 C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama postpartum, dengan
mengecualikan hari pertama.
2.2.2 Etiologi
Infeksi nifas umumnya disebabkan oleh bakteri yang dalam keadaan normal berada
dalam usus dan jalan lahir. Gorback mendapatkan dari 70 % biakan serviks normal dapat
pula ditemukan bakteri anaerob dan aerob patogen. Kuman anerob adalah kokus gram
positif (Peptostreptokokus, Peptokokus, Bakteroides dan Clostridium). Kuman aerob
adalah bermacam gram positif dan E. coli. Selain itu, infeksi nifas dapat pula disebabkan
oleh :
a. Streptococus haemolyticus aerobicus, ini merupakan penyebab infeksi yang berat,
khususnya golongan A. Infeksi ini biasanya eksogen (dari penderita lain, alat atau
kain yang tidak steril, infeksi tenggorokan orang lain).
b. Staphylococus aureus, kuman ini biasanya menyebabkan infeksi terbatas, walaupun
kadang – kadang menjadi sebab infeksi umum. Banyak ditemukan di rumah sakit.
c. Escherichia coli, Kuman ini umumnya berasal dari kandung kencing atau rektum dan
dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva, dan endometrium. Kuman
ini merupakan sebab dari infeksi traktus urinarius.
d. Clostridium welchii, infeksi kuman yang bersifat anerobik jarang ditemukan tetapi
sangat berbahaya. Infeksi lebih sering terjadi pada abortus kriminalis.
2.2.3 Cara terjadinya infeksi :
1. Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan
dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina dalam uterus.
Kemungkinan lain ialah bahwa sarung tangan atau alat – alat yang dimasukkan ke
dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman – kuman.
2. Droplet infection
3. Sarung tangan atau alat – alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung
atau tenggorokan penolong.

8
4. Dalam rumah sakit selalu banyak kuman-kuman pathogen, berasal dari penderita-
penderita dengan berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa dibawa aliran udara
kemana-mana.
5. Coitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting, kecuali apabila
mengakibatkan pecahnya ketuban.
6. Infeksi intrapartum sudah dapat memperlihatkan gejala-gejala pada waktu
berlangsungnya persalinan. Infeksi intrapartum biasanya terjadi pada partus lama,
apalagi jika ketuban sudah lama pecah dan beberapa kali dilakukan pemeriksaan
dalam. Gejala-gejala ialah kenaikan suhu, biasanya disertai dengan leukositosis dan
takikardia; denyut jantung janin dapat meningkat pula. Air ketuban biasa menjadi
keruh dan bau.
2.2.4 Faktor Predisposisi
Kurang gizi atau malnutrisi, Anemia, Higiene, Kelelahan,Korioamnionitis, Kurang
baiknya proses pencegahan infeksi, Manipulasi yang berlebihan, Dapat berlanjut ke
infeksi dalam masa nifas.
Faktor predisposisi yang terpenting pada infeksi nifas ialah :
1. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan penderita, seperti perdarahan
banyak, pre-eklamsia, juga infeksi lain, seperti pneumonia, penyakit jantung, dan
sebagainya.
2. Partus lama, terutama dengan ketuban pecah lama.
3. Tindakan bedah vaginal atau persalinan traumatik yang menyebabkan perlukaan pada
jalan lahir.
4. Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban, dan bekuan darah.
2.2.5 Golongan Infeksi Nifas
Dapat dibagi dalam 2 golongan :
a. Infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks, dan endometrium
b. penyebaran dari tempat-tempat tersebut melalui vena-vena, melalui jalan limfe, dan
melalui permukaan endometrium.
2.3 Peritonitis
2.3.1 Pengertian
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum- lapisan membrane serosa rongga abdomen
dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut

9
maupun kronis / kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada
palpasi, defans muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi.
Peritonitis merupakan sebuah proses peradangan pada membrane serosa yang
melingkupi kavitas abdomen dan organ yang terletak didalamnya. Peritonitis sering
disebabkan oleh infeksi peradangan lingkungan sekitarnyah melalui perforasi usus
seperti rupture appendiks atau divertikulum karena awalnya peritonitis
merupakan lingkungan yang steril. Selain itu juga dapat diakibatkan oleh materi kimia
yang irritan seperti asam lambung dari perforasi ulkus atau empedu dari perforasi
kantung empeduatau laserasi hepar. Padawanita sangat dimungkinkan peritonitis
terlokalisasi pada rongga pelvis dari infeksi tuba falopi atau rupturnya kista ovari. Kasus
peritonitis akut yang tidak tertangani dapat berakibat fatal.
2.3.2 Etiologi
Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous Bacterial Peritonitis (SBP)
dan peritonitis sekunder. SBP terjadi bukan karena ninfeksi intra abdomen,tetapi
biasanya terjadi pada pasien yangasites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal
sehingganmenjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe
mesenterium, kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat
penyakit hati yang kronik. Semakin rendah kadar protein cairan asites, semakin tinggi
risiko terjadinya peritonitis dan abses. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah
antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi adalah
bakteri gram negative E. Coli 40%, Klebsiella pneumoniae 7%, spesies Pseudomonas,
Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae
15%, jenis Streptococcus lain 15%,dan golongan Staphylococcus 3%, selain itu juga
terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. Peritonitis sekunder yang paling
sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ
dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritonealterutama disebabkan bakteri gram
positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. Peritonitis tersier terjadi karena
infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis
sekunder yang adekuat, bukan berasal dari kelainan organ, pada pasienperitonisis tersier
biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. Selain itu juga terdapat
peritonitis TB, peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia,
misalnya cairan empedu, barium, dan substansi kimia lain atau prses inflamasi
transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn).

10
2.3.3 Patofisiologi
Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat
fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang
menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi
infeksi.Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap
sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus.
Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran
mengalamikebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka
dapatmenimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya
interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa
ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba
untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk
buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini
segera gagal begitu terjadi hipovolemia.
Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami
oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ
tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen
usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk
jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah
dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah.Terjebaknya cairan
di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen,
membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi.
Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila
infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis
umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus
kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus,
mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat
terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu
pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus.
Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena
adanya gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai
usaha untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaituobstruksi
usus yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial,
pada ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi

11
iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi
usus dan karena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi
peritonitis.
Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan kuman S.
Typhi yang masuk tubuh manusia melalui mulut dari makan dan air yang tercemar.
Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung, sebagian lagi masuk keusus halus
dan mencapai jaringan limfoid plaque peyeri di ileum terminalis yang mengalami
hipertropi ditempat ini komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi,
perforasi ileum pada tifus biasanya terjadi pada penderita yang demam selama kurang
lebih 2 minggu yang disertai nyeri kepala, batuk dan malaise yang disusul oleh nyeri
perut, nyeri tekan, defansmuskuler, dan keadaan umum yang merosot karena toksemia.
Perforasi tukak peptik khas ditandai oleh perangsangan peritoneum yang mulai di
epigastrium dan meluas keseluruh peritonium akibat peritonitis generalisata. Perforasi
lambung dan duodenum bagian depan menyebabkan peritonitis akut. Penderita yang
mengalami perforasi ini tampak kesakitan hebat seperti ditikam di perut. Nyeri ini timbul
mendadak terutama dirasakan di daerah epigastrium karena rangsangan peritonium oleh
asam lambung, empedu dan atau enzim pankreas. Kemudian menyebar keseluruh
perutmenimbulkan nyeri seluruh perut pada awal perforasi, belum ada infeksi bakteria,
kadang fase ini disebut fase peritonitis kimia, adanya nyeri di bahu menunjukkan
rangsanganperitoneum berupa mengenceran zat asam garam yang merangsang, ini
akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bakteria.
Pada apendisitis biasanya biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks
oleh hiperplasi folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis dan
neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa
mengalamibendungan,makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas
dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan
intralumen dan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan oedem, diapedesis
bakteri, ulserasi mukosa, dan obstruksi vena sehingga udem bertambah kemudian aliran
arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan nekrosis atau
ganggren dinding apendiks sehingga menimbulkan perforasi dan
akhirnya mengakibatkan peritonitis baik lokal maupun general.
Pada trauma abdomen baik trauma tembus abdomen dan trauma tumpul abdomen
dapat mengakibatkan peritonitis sampai dengan sepsis bila mengenai organ yang
berongga intra peritonial. Rangsangan peritonial yang timbul sesuai dengan isi dari

12
organ berongga tersebut, mulai dari gaster yang bersifat kimia sampai dengan kolon yang
berisi feses. Rangsangan kimia onsetnya paling cepat dan feses paling lambat. Bila
perforasi terjadi dibagian atas, misalnya didaerah lambung maka akan terjadi
perangsangan segera sesudah trauma dan akan terjadi gejala peritonitis hebat sedangkan
bila bagian bawah seperti kolon, mula-mula tidak terjadi gejala karena mikroorganisme
membutuhkan waktu untukberkembang biak baru setelah 24 jam timbul gejala akut
abdomen karena perangsangan peritoneum.
2.3.4 Klasifikasi
Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Peritonitis Bakterial Primer Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial
secara hematogen pada cavumperitoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam
abdomen.Penyebabnya bersifat monomikrobial, biasanya E. Coli, Sreptococus atau
Pneumococus. Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Spesifik : misalnya Tuberculosis
2. Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis an Tonsilitis.
Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi,
keganasan intraabdomen, imunosupresi dan splenektomi. Kelompok resiko tinggi
adalah pasien dengan sindrom nefrotik, gagal ginjal kronik, lupus eritematosus
sistemik, dan sirosis hepatis dengan asites.
b. Peritonitis Bakterial Akut Sekunder (Supurativa)
Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal
atau tractus urinarius. Pada umumnya organism tunggal tidak akan menyebabkan
peritonitis yangfatal. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat
terjadinya infeksi ini. Bakteriianaerob,khususnya spesies Bacteroides,
dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi.
1. Luka/trauma penetrasi, yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum
peritoneal.
2. Perforasi organ-organ dalam perut, contohnya peritonitis yang disebabkan oleh
bahankimia, perforasi usus sehingga feces keluar dari usus.
3. Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra
abdominal, misalnya appendisitis.
c. Peritonitis tersier
 Peritonitis yang disebabkan oleh jamur

13
 Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan.Merupakan peritonitis
yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii misalnya empedu, getah lambung,
getah pankreas, dan urine.
d. Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis:
1. Aseptik/steril peritonitis
2. Granulomatous peritonitis
3. Hiperlipidemik peritonitis
4. Talkum peritonitis
2.3.5 Tanda dan Gejala
Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau
pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, tatikardi, dehidrasi hingga menjadi
hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat
tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme
antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan
atau tegang karenairitasi peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan
vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease.
Pemeriksaan-pemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan
imunosupresi (misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau
HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial, ensefalopati
toksik, syok sepsis, atau penggunaan analgesic), penderita dnegan paraplegia dan
penderita geriatric.
2.3.6 Komplikasi
1. Eviserasi Luka
2. Pembentukan abses
2.3.7 Pemeriksaan Penunjang
1. Test laboratorium
Leukositosis
Hematokrit meningkat
Asidosis metabolik
2. X. Ray
Foto polos abdomen 3 posisi (anterior, posterior, lateral), didapatkan :Illeus
merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis.Usus halus dan usus besar
dilatasi.Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi.

14
2.4 Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ibu Post Partum Dengan Peritonitis
Tanggal pengkajian : Jam :
No.Register :
I. PENGKAJIAN
A. Data Subjektif
1. Biodata
Nama :
Umur : Biasanya terjadi pada wanita usia reproduktif
Pekerjaan : Untuk mengetahui taraf hidup sosial ekonomi yang
berhubungan dengan nutrisi.
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan Post SC (dengan jahitan yang tidak jadi atau mengalami
kebocoran), post curret, operasi tumor kandungan atau kista.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan sekarang sedang menderita penyakit Hati, Post SC (dengan
jahitan yang tidak jadi atau mengalami kebocoran)
4. Riwayat Kesehatan Dahulu Ibu mengatakan pernah mengalami penyakit
kelamin(GO dan chlamidia) dan PID (salpingitis,endometritis, adeneksitis,
miometritis
5. Riwayat Perkawinan
Biasanya terjadi pada wanita yang menikah lebi dari satu kali/gonta-ganti
pasangan sehingga biasanya terjadi infeksi lebih besar.
6. Riwayat Kehamilan ,Persalinan Dan Nifas
 Biasanya terjadi pada perslinan dengan pertolongan dukun atau dengan
pertolongan nakes namun alat tidak steril
 Terjadi komplikasi pada saat persalinan (retensio plasenta, atonia uteri)
sehingga dilakukan tindakan dengan memasukkan alat2 di jalan lahir atau
alat yang digunakan tidak steril
 Biasanya setelah melakukan post curret atau post CS
7. Riwayat Kb
Ibu pernah menjadi aseptor KB IUD
8. Pola Kebiasaan Sehari-Hari
 Istirahat

15
Penderita peritonitis mengalami :letih, kurang tidur, nyeri perut dengan
aktivitas.
 Nutrisi
Tejadi perubahan pola nutrisi : nafsu makan menurun, hilang karena nausea/
muntah
 Eliminasi
Pasien mengalami penurunan berkemih, BAB tidak teratur(lebih lam dari
biasanya)
 Hygiene
Kelemahan selama aktivitas perawatan diri
 Seksual
Biasanya pada wanita yang terkena infeksi (PID) masih aktif berhubungan
seksual dan pada wanita yang bergonta-ganti pasangan
B. Data Obyektif
1) Pemeriksaan umum
KU : dijumpai keadaan Pasien tampak sangat kesakitan sampai syok
Kesadaran : kesadaran penderita bervariasi dari kesadaran baik hingga koma
misal: Composmentis (keadaan normal), apatis (acuh tak
acuh),absence(melamun,hilang ), tergantung tingkat kesakitan.
Tanda-Tanda Vital : Pada kasus peritonitis
TD = mengalami hipotensi,( 36,50 C)
BB : dijumpai adanya penurunan berat badan
2) Pemeriksaan fisik
 Muka : Hingga anemis atau syok, pucat, Dijumpai keadaan bervariasi
dari keadaan normal
 Mata : Konjungtiva pucat (kemungkinan anemis) : normal Sclera DBN
Mata terlihat cekung (kemungkinan dehidrasi)
 Bibir : Pucat (kemungkinan anemis), Warna merah kering (kemungkinan
dehidrasi), Lembab
 Dada : Sesak, C/P DBN
 Abdomen : Pemeriksaan abdomen

16
Perut terlihat lebih besar dari normal. Adanya bekas jahitan yang tidak
jadi/mengalami kebocoran. Nyeri tekan lepas. Dinding perut tegang dan
kaku seperti papan. Bising usus hilang/tidak terdengar
 Genetalia
Dilakukan Pemeriksaan Tuocher Teraba tahanan yang kenyal yang
berfluktuasi dalam kavum douglasi dan nyeri tekan
 Ektremitas
Teraba hangat samapi panas karena biasanya pasien demam. Teraba kulit
kering dan lecet
 Pemeriksaan Auskultasi abdomen bising usus hilang/ tidak terdengar
3) Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
 Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis, hematokrit
yang meningkat dan asidosis metabolic, LED dengan dilakukan tes darah
lengkap
 Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein
(lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit; basil tuberkel
diidentifikasi dengan kultur.
 Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan
granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar diagnosa
sebelum hasil pembiakan didapat
b. Pemeriksaan X-Ray
Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis; usus halus dan
usus besar berdilatasi. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi
II. INTERPRETASI DATA DASAR
Dx : Pada ibu P…..post SC dengan nyeri abdomen akut
Ds : Ibu mengatakan telah melahirkan anaknya yang ke….. pada hari ke…..dengan
opersi, mengeluh nyeri perut,perut terasa kembung, mual-muntah, nafsu makan
menurun, demam, sesak nafas
Do : KU : lemah, apatis
Kesadaran : composmentis

17
TTV
TD = mengalami hipotensi,( 36,50 C)
BB : dijumpai adanya penurunan berat badan
Abdomen
Pemeriksaan abdomen :
 Perut terlihat lebih besar dari normal
 Adanya bekas jahitan yang tidak jadi/mengalami kebocoran\
 Nyeri tekan lepas
 Dinding perut tegang dan kaku seperti papan
 Bising usus hilang/tidak terdengar
III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
Syok (hipovolemik, septic, neuroghenik)
IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
1. pasang infus RL
2. berikan O2 + 2 atm atau sesuai kebutuhan dan sesuai advis dokter
3. kolaborasi dengan spesialis Obgyn
4. Rujuk
V. RENCANA INTERVENSI
1. Jelaskan ibu tentang keadaanya
R/ ibu dapat mengetahui keadaanya sehingga ibu lebih kooperatif
2. Pasang infus dan berikan cairan RL
R/ memperbaiki kondisi umum menjadi lebih baik dan rehidrasi
3. Observasi tekanan darah , suhu , nadi dan pernafasan
R/ sebagai deteksi dini terjadinya komplikasi
4. Infomed consent untuk dilakukan rujukan
R/ bukti otentik persetujuan dilakukan rujukan
5. Lakukan persiapan rujukan
R/ memudahkan melakukan tindakan saat merujuk
VI. IMPLEMENTASI
Melaksanakan kegiatan dari Intervensi yang telah dilakukan sesuai dengan
kebutuhan Ibu

18
VII. EVALUASI
Jam : Tanggal :
S : Ibu mengatakan masih terasa nyeri perut ibu, badan lemas
O : kondisi ibu lemah
TTV :
TD: 85/65 mmhg N: 80 X/mnt rr: 24 kali/mnt S:37,8 0C
Pemeriksaan abdomen
 Perut terlihat lebih besar dari normal
 Adanya bekas jahitan yang tidak jadi/mengalami kebocoran
 Nyeri tekan lepas
 Dinding perut tegang dan kaku seperti papan
 Bising usus hilang/tidak terdengar
A : Pada ibu P…….. post SC dengan nyeri abdomen akut
P:
- lakukan pemeriksaan darah lengkap
- lakukan pemeriksaan X- Ray
- teruskan pemberian cairan infus
- observasi TTV

19
BAB III
TINJAUAN KASUS
Tanggal pengkajian : 14 Juni 2014 Jam : 13.00 WIB
No register : 001689
I. PENGKAJIAN
A. Data Subjektif
1. Biodata
Nama : Ny. “W” Nama suami : Tn. “K”
Umur : 26 tahun Umur : 29 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan :- Pekerjaan : Petani
Penghasilan :- Penghasilan : Rp.800.000,00
Alamat : Tlogosari Alamat : Tlogosari
2. Keluhan utama
Ibu mengatakan telah melahirkan anak keduanya satu hari yang lalu, merasakan nyeri
perut bagian bawah kanan sampai mengganggu aktivitas, badan terasa panas dan
menggigil.
3. Riwayat Kesehatan
a. Penyakit yang lalu
Ibu tidak pernah menderita penyakit menahun seperti jantung, penyakit menurun
seperti darah tinggi, asma, dan penyakit menular seperti penyakit kuning, HIV.
b. Penyakit sekarang
Ibu tidak pernah menderita penyakit menahun seperti jantung, penyakit menurun
seperti darah tinggi, asma, dan penyakit menular seperti penyakit kuning, HIV.
c. Penyakit Keluarga
Ibu tidak pernah menderita penyakit menahun seperti jantung, penyakit menurun
seperti darah tinggi, asma, dan penyakit menular seperti penyakit kuning, HIV.
4. Riwayat Obstetri
a. Riwayat menstruasi
Amenorhoe : - Dismenorhoe : Ya, sebelum menstruasi
Menarche : 13 tahun Fluor albus :-
Lama : 7 hari Banyak : 2-3x ganti pembalut/hari
Siklus : 28 hari Teratur/tidak : Teratur

20
b. Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Tgl/Bln/Th Usia Tempat Jenis Penyulit Anak Usia
No Penolong Nifas
persalinan Kehamilan persalinan persalinan kehamilan JK BB PB anak
1. 29/12/2008 39 Bulan BPM Spt B Bidan - L 3100 48 Normal 5 th

2. 13/6/2014 38 Bulan BPM Spt B Bidan - L 2900 48 Normal 2 hari

c. Riwayat Kehamilan sekarang, persalinan dan nifas sekarang


Ibu mengatakan ini kehamilan ke 3 Dengan usia kehamilan 9 bulan
ANC TM I : 1 kali di bidan
Terapi : vitamin B6 dan kalsium
Hasil pemeriksaan : normal
ANC TM II : 2 kali
Terapi : kalsium dan Fe
Hasil pemeriksaan : normal
ANC TM III : 3 kali
Terapi : kalsium dan Fe
Hasil pemeriksaan : normal
Keluhan selama hamil : Mual muntah, nyeri punggung, sering kencing,
konstipasi, gatal-gatal, pusing.
Penyuluhan yang di dapat : Nutrisi, Istirahat, eliminasi, personal hygiene, tanda
bahaya, ketidak nyamanan selama kehamilan, tanda-
tanda persalinan, USG.
Riwayat persalinan :
Melahirkan tgl 13/6/2014 Jam 07.00 wib secara spontan ditolong oleh bidan di
BPM Ny Diah. JK laki-laki BBL 2900 kg PBL 48 cm Menangis kuat, warna kulit
merah muda, pernafasan normal, IMD, plasenta tidak lahir setelah 30 menit bayi
lahir, kontraksi uterus lemah, dilakukan KBI dan KBE. Perdarahan 400 cc.

21
5. Riwayat KB
Menjadi peserta KB :
1) Thn 2008 s/d 2013 Jenis Kontrasepsi IUD Alasan berhenti ingin mempunyai anak.
6. Riwayat Perkawinan
Menikah : 1 kali
Lama : 6 th
Usia pertama menikah : 20 th
7. Riwayat Psikososial
Ibu dan keluarga mengatakan senang atas kelahiran bayinya. Ibu mengatakan sedikit
cemas dengan keadaannya.
8. Riwayat Budaya
Ibu mengatakan tidak pantang makanan, tidak minum- minuman dari kepercayaan
orang tua (seperti minum minyak kelapa, rumput fatimah, dll)
9. Perilaku kesehatan
Jamu : ibu mengatakan tidak minum jamu
Merokok : ibu mengatakan tidak pernah merokok
Minum minuman keras : ibu mengatakan tidak pernah minum minuman keras
10. Pola kebiasaan sehari-hari
Pola
No Selama Nifas
Kebiasaan
Makan : 2x sehari (Kurang nafsu makan dan sering muntah)
1 Nutrisi
Minum : 6 gelas sehari
BAB : 1x
2 Eliminasi
BAK : 3x
3 Istirahat Kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas, merasa letih.
Personal Mandi 2x, ganti baju 2x, ganti celana dalam 2x, gosok gigi
4
Higiene 2x
5 Aktivitas Berjalan hanya kekamar mandi

B. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Lemah
Kesadaran : Composmentis

22
Keadaan emosional : Stabil
TTV : TD : 90/60 mmHg
Nadi : 88x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 38,80C
2. Pemeriksaan Khusus
a. Inspeksi
Rambut : bersih, tidak ada benjolan dan nyeri tekan
Wajah : tidak oedem, pucat
Mata : konjungtiva pucat, sclera DBN, cekung
Hidung : tidak ada polip, tidak ada pernapasan cuping hidung
Telinga : simetris, tidak ada serumen
Mulut : bibir pucat, kering
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
Dada : simetris, puting susu menonjol, hiperpigmentasi aerola
Abdomen : lebih besar dari normal
Genitalia : tidak ada varises, tidak ada oedema, kondiloma tidak
tampak, tampak keluar darah merah segar dari jalan lahir
± 150cc
Ekstremitas : Atas : simetris, tidak varises, tidak ada oedema
Bawah : simetris, tidak varises, tidak ada oedema
b. Palpasi
Dada : tidak ada massa, tidak ada nyeri tekan
Abdomen : nyeri tekan lepas, tegang kaku seperti papan
TFU : 2 jari dibawah pusat
UC : baik
Ekstremitas : hangat, kulit kering dan lecet
c. Perkusi
Reflek patella : + / +
d. Auskultasi
Perut : Bising usus tidak ada

23
II. INTERPRETASI DATA DASAR
A. Diagnosa : P202 Post partum hari ke-2 dengan peritonitis
DS : Ibu mengatakan telah melahirkan anak keduanya satu hari yang lalu,
merasakan nyeri perut bagian bawah kanan sampai mengganggu
aktivitas, badan terasa panas dan menggigil.
DO :
Keadaan umum : Lemah
Kesadaran : Composmentis
Keadaan emosional : Stabil
TTV : TD : 90/60 mmHg
Nadi : 88x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 38,80C
a. Inspeksi
Rambut : bersih, tidak ada benjolan dan nyeri tekan
Wajah : tidak oedem, pucat
Mata : konjungtiva pucat, sclera DBN, cekung
Hidung : tidak ada polip, tidak ada pernapasan cuping hidung
Telinga : simetris, tidak ada serumen
Mulut : bibir pucat, kering
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
Dada : simetris, puting susu menonjol, hiperpigmentasi aerola
Abdomen : lebih besar dari normal
Genitalia : tidak ada varises, tidak ada oedema, kondiloma tidak
tampak, tampak keluar darah merah segar dari jalan lahir
± 150cc
Ekstremitas : Atas : simetris, tidak varises, tidak ada oedema
Bawah : simetris, tidak varises, tidak ada oedema
b. Palpasi
Dada : tidak ada massa, tidak ada nyeri tekan
Abdomen : nyeri tekan lepas, tegang kaku seperti papan
TFU : 2 jari dibawah pusat
UC : baik
Ekstremitas : hangat, kulit kering dan lecet

24
III. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL
Dx Potensial : Syok (hipovolemik, septic, neuroghenik)
Antisipasi : Rujuk
IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
1. pasang infus RL
2. kompres hangat pada dahi dan axila
3. berikan O2 + 2 atm atau sesuai kebutuhan dan sesuai advis dokter
4. kolaborasi dengan spesialis Obgyn
5. rujuk
V. INTERVENSI
Dx : P202 post partum hari ke-2 dengan peritonitis
Tujuan :
1. Setelah dilakukan asuhan kebidanan infeksi segera teratasi.
2. Keadaan ibu normal
Kriteria Hasil :
1) Keadaan umum baik
2) Demam turun
Intervensi :
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan
R/ ibu dapat mengetahui keadaanya sehingga ibu lebih kooperatif
2. Memberikan support mental kepada ibu
R/ agar ibu tidak cemas dengan keadaannya saat ini
3. Kompres hangat pada dahi dan axila
R/ untuk menurunkan demam
4. Pasang infus dan berikan cairan RL
R/ memperbaiki kondisi umum menjadi lebih baik dan rehidrasi
5. Menganjurkan ibu untuk makan-makanan bergizi dan memperbanyak sayuran
hijau serta menganjurkan ibu untuk istirahat cukup serta memperbanyak
minum.
R/ agar keadaan ibu segera normal kembali
6. Menganjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dan melakukan
pemeriksaan radiologi ke RS
R/ untuk menegakkan diagnosa

25
7. Infomed consent untuk dilakukan rujukan
R/ bukti otentik persetujuan dilakukan rujukan
8. Lakukan persiapan rujukan dan antar ibu ketempat rujukan
R/ memudahkan melakukan tindakan saat merujuk
VI. IMPLEMENTASI
Tanggal : 14 Juni 2014 Jam : 13.15 WIB
Dx : P202 post partum hari ke-2 dengan peritonitis
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu mengalami tanda gejala infeksi
pada bagian perut yang di tandai dengan nyeri tekan perut bagian bawah,
mual, dan demam.
Ev. Ibu mengerti penjelasan bidan dan merasa cemas
2. Memberikan support mental pada ibu dengan cara memotivasi ibu untuk tetap
tenang dan tidak merasa cemas.
Ev. Ibu merasa sedikit tenang
3. Memberikan kompres hangat pada dahi dan axila
Ev. Panas ibu turun
4. Pasang infus dan beri cairan RL
Ev. Ditangan kiri ibu sudah terpasang infus dengan cairan RL
5. Menganjurkan ibu untuk makan-makanan bergizi dan memperbanyak sayuran
hijau serta menganjurkan ibu untuk istirahat cukup.
Ev. Ibu mengerti dan bersedia mengikuti anjuran bidan
6. Menganjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dan melakukan
pemeriksaan radiologi ke RS
Ev. Ibu bersedia mengikuti anjuran bidan
7. Memberikan infom consent kepada ibu tentang persetujuan rujukan
Ev. Ibu bersedia menandatangani surat persetujuan dirujuk
8. Melakukan persiapan rujukan dan mengantar ibu ke tempat rujukan
Ev. Persiapan rujukan sudah siap dan pasien telah dirujuk.
VII EVALUASI
Tanggal : 14 Juni 2014 Jam : 13.20 WIB
Dx : P202 post partum hari ke-2 dengan peritonitis
S : Ibu mengatakan perutnya masih terasa nyeri, badan panas, dan menggigil
O : Keadaan umum : Lemah
Kesadaran : Composmentis

26
Keadaan emosional : Stabil
TTV : TD : 90/60 mmHg
Nadi : 88x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 38,80C
Abdomen : lebih besar dari normal, nyeri tekan lepas,
tegang kaku seperti papan
Ekstremitas : hangat, kulit kering dan lecet
A : P202 post partum hari ke-2 dengan peritonitis
P :
1) Melakukan rujukan segera.
2) Mendampingi ibu ke tempat rujukan.
3) Memberikan support mental kepada ibu.
4) Memberikan infus cairan hingga tiba ditempat rujukan.
5) Mengobservasi TTV.

27
BAB IV
PEMBAHASAN
Pembahasan merupakan analisis penulis mengenai kesenjangan-kesenjangan yang terjadi
dalam melaksanakan asuhan kebidanan yang kompetensif. Masalah yg terdapat dalam kasus
adalah peritonitis, dengan langkah sebagai berikut:
1. Pengkajian di dapatkan data ibu post partum hari ke-2, dengan keluhan utama merasakan
nyeri perut bagian bawah kanan sampai mengganggu aktivitas, badan terasa panas dan
menggigil. Pada pemeriksaan Abdomen nyeri tekan lepas, tegang kaku seperti papan.
TFU 2 jari dibawah pusat. UC baik, bising usus tidak ada. Ekstremitas hangat, kulit
kering dan lecet.
2. Interpretasi data dasar didapatkan diagnosa P202 post partum hari ke-2 dengan peritonitis.
3. Antisipasi diagnosa/ masalah potensial dari peritonitis adalah syok (hipovolemi, septic,
neuroghonik).
4. Identifikasi kebutuhan segera adalah pasang infus RL, berikan O2 + 2 atm atau sesuai
kebutuhan dan sesuai advis dokter, kolaborasi dengan spesialis Obgyn, rujuk.
5. Intervensi dilakukan di BPM untuk menurunkan demam, infeksi dan memperbaiki
keadaan umum ibu sesuai dengan standar pelayanan kebidanan.
6. Implementasi dilakukan sesuai intervensi yang dibutuhkan seperti memberitahu ibu hasil
pemeriksaan, memberikan support mental, pasang infus dan berikan cairan RL,
menganjurkan ibu untuk makan-makanan bergizi dan memperbanyak sayuran hijau,
menganjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dan radiologi ke RS,
melakukan inform consent untuk dilakukan rujukan, rujuk ketempat pelayanan yang
lebih memadai.
7. Evaluasi merupakan penilaian akhir dari asuhan yg diberikan apakah tujuan sudah
tercapai atau belum. Dalam kasus ini diagosanya P202 post partum hari ke-2 dengan
peritonitis.
Dalam kasus ini antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan
dikarenakan kerjasama yang kooperatif antara pasien dan petugas kesehatan.

28
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Peritonitis merupakan sebuah proses peradangan pada membrane serosa yang
melingkupi kavitas abdomen dan organ yang terletak didalamnya. Peritonitis sering
disebabkan oleh infeksi peradangan lingkungan sekitarnya melalui perforasi usus
seperti ruptur appendiks atau divertikulum karena awalnya peritonitis
merupakan lingkungan yang steril. Selain itu juga dapat diakibatkan oleh materi kimia
yang irritan seperti asam lambung dari perforasi ulkus atau empedu dari perforasi
kantung empedu atau laserasi hepar. Pada wanita sangat dimungkinkan peritonitis
terlokalisasi pada rongga pelvis dari infeksi tuba falopi atau rupturnya kista
ovari. Kasus peritonitis akut yang tidak tertangani dapat berakibat fatal.
Setelah melakukan asuhan kebidanan pada Ny “W” P202 post partum hari ke-2
dengan peritonitis, penulis dapat menarik kesimpulan dari pengkajian, interpretasi data
dasar, identifikasi diagnosa atau masalah potensial, menetapkan kebutuhan segera,
intervensi, implementasi dan evaluasi, tidak terdapat kesenjangan antara teori dan
kasus, serta tidak terdapat kesulitan karena adannya kerjasama yang baik.
5.2 SARAN
1. Pelayanan Kesehatan
Perlu meningkatkan mutu pelayanan pada masyarakat.
2. Tenaga Kesehatan
Diharapkan petugas kesehatan memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif
dan meningkatkan mutu pelayanan pada masyarakat serta selalu menerapkan
pencegahan infeksi yang benar.
3. Institusi Pendidikan
Peningkatan mutu materi kuliah dan menyediakan referensi yang lebih lengkap,
sehingga membantu dalam pembuatan asuhan kebidana ini sebagai bekal praktek di
lapangan.
4. Mahasiswa
Kesadaran dan tanggung jawab akan tugas serta kewajibannya yang harus dipenuhi
sebagai seorang mahasiswa demi terciptanya tenaga kesehatan yang profesional dan
mampu menerapkannya di masyarakat.

29
DAFTAR PUSTAKA
Saifuddin, Abdul Bari. 2008. Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.\

Saifuddin, Abdul Bari. 2010. Ilmu Kebidanan. Edisi IV. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.

Silvia A. Price. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. ECG ; Jakarta
Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006 Prima Medika : Jakarta

Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kandungan. Edisi II. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo

30