Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY.

D P1A0
DENGAN BENDUNGAN SALURAN AIR SUSU IBU (ASI)
DI BPS SAYANG BUNDA KOTA KEDIRI
TAHUN 2014

DISUSUN OLEH :

IKE KURNIAWATI
NIM 13613621

PRODI D-IV KEBIDANAN FAKULTAS ILMU


KESEHATANUNIVERSITAS KADIRI
TAHUN 2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kepada Tuhan YME yang dengan segala
rahmat, petunjuk, dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada
waktunya.

Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat Ibu Endang
Wartini SST.,S.Pd.,M.Mkes selaku dosen pengajar mata kuliah Kegawatdaruratan kebidanan.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan baik
dari segi tata penulisan, isi, maupun bahasa yang digunakan. Untuk itu, kritik dan saran yang
bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.

Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi banyak pihak dan dapat dijadikan
sebagai bahan bacaan yang menambah wacana dan khasanah keilmuan.

Kediri,20 Juni 2014

EVA DWI JAYANTI

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………. 1
1.2 Tujuan…………………………………………………………………………... 2
1.3 Metode Pengumpulan Data…………………………………………………….. 3
1.4 Teknik Penulisan……………………………………………………………….. 4
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Dasar Nifas……………………………………………………….......... 5
2.2 Konsep Dasar Bendungan Saluran ASI………………………………………... 5
2.3 Konsep Manajemen Kebidanan Bendungan Saluran ASI...................…………. 14
BAB III TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian Data………………………………………………………………… 21
3.2 Intepetasi DataDasar…………………………………………………………… 24
3.3 Identifikasi Diagnosadan Masalah Potensial…………………………………… 26
3.4 Identifikasi Terhadap KebutuhanTindakanSegera…………………………….. 26
3.5 Rencana Asuhan Menyeluruh…………………………………………………… 26
3.6 Pelaksanaan Asuhan Menyeluruh……………………………………………….. 27
3.7 Evaluasi………………………………………………………………………….. 28
BAB IV PEMBAHASAN………………………………………………………………. 33
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………………………….. 34
B. Saran………………………………………………………………………………. 34
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Data SDKI mencatat angka kematian ibu di indonesia pada tahun 2001 terdapat
228/100.000 kelahiran hidup dan sekitar 60% kematian terjadi pada masa nifas. Prosentase
terbesar kedua adalah infeksi . infeksi pada ibu terjadi pada saat kehamilan seperti infeksi
saluran kemih, saat persalinan seperti infeksi intrauterin, dan saat nifas seperti mastitis dan
abses payudara yang diawali dengan adanya bendungan saluran ASI (Laksono, 2010).
Pada Pemulaan masa nifas apabila bayi belum menyusu dengan baik, atau apabila
kelenjar-kelenjar tidak di kosongkan dengan sempurna maka akan terjadi bendungan saluran
ASI. Payudara panas dan keras perabaan dan nyeri namun suhu badan tidak naik. Biasanya
terjadi antara 3-5 hari setelah peralinan (Retna, 2008).
Bendungan ASI merupakan permulaan kemungkinan infeksi payudara atau mastitis.
Bendungan ASI yang tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan demam, nyeri lokal
pada payudara, terjadi pemadatan pada payudara hingga abses pada payudara . Upaya untuk
mencegah terjadinya komplikasi akibat bendungan saluran ASI dibutuhkan peran bidan
antara lain mempersiapkan ibu pada masa antenatal dengan melakukan pemeriksaan
payudara dan menjaga kebersihan payudara, memberikan informasi tentang perawatan
payudara pada masa nifas dan memberikan motivasi ibu untuk menyusui masa nifas.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melaksanakan Asuhan Kebidanan ibu nifas dengan
bendungan ASI melalui pendekatan perawatan yang komperehensif:
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Mampu melaksanakan dengan pengkajian pada ibu nifas Ny. D P1A0 dengan
bendungan saluran ASI.
b. Mampu menginterpretasi data pada ibu nifas Ny. D P1A0 dengan bendungan
saluran ASI.
c. Mampu menentukan diagnosa potensial yang timbul pada ibu nifas Ny. D P1A0
dengan bendungan saluran ASI.
d. Mampu melakukan tindakan segera pada ibu nifas Ny. D P1A0 dengan bendungan
saluran ASI.
e. Mampu merencanakan asuhan yang menyeluruh pada ibu nifas Ny. D P1A0
dengan bendungan saluran ASI.
f. Melaksanakan perencanaan pada ibu nifas Ny. D P1A0 dengan bendungan
saluran ASI.
g. Melakukan evaluasi terhadap asuhan kebidanan pada ibu nifas Ny. D P1A0 dengan
bendungan saluran ASI.
h. Mampu memberikan alternatif pemecahan masalah pada ibu nifas Ny. D P1A0
dengan bendungan saluran ASI.

1.3 Metode Pengumpulan Data


Laporan penilaian pada ibu nifas dengan Bendungan Saluran ASI di susun dengn cara:
1.3.1 Observasi
Melakukan pengamatan langsung pada ibu nifas dengan bendungan saluran ASI.
1.3.2 Wawancara
Mengadakan tanya jawab langsung pada ibu guna mengetahui masalah yang terjadi
pada ibu sehingga dapat memberikan intervensi yang tepat sesuai dengan masalah
perkembangannya
1.3.3 Praktek
Melakukan penilaian langsung pada ibu nifas
1.3.4 Studi Pustaka
Membaca sumber buku yang dapat mendukung terlaksananya asuhan dan dapat
membandingkan teori dan praktek.

1.4 Teknik Penulisan


BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan
C. Metode Pengumpulan Data
D. Teknik penulisan
BAB II LANDASAN TEORI
A. Konsep Dasar Nifas
B. Konsep Dasar Bendungan Saluran ASI
C. Konsep Manajemen Kebidanan Pada ibu nifas dengan Bendungan Saluran ASI
BAB III TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian Data
B. Intepetasi Data Dasar
C. Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
D. Identifikasi Terhadap Kebutuhan Tindakan Segera
E. Rencana Asuhan Menyeluruh
F. Pelaksanaan Asuhan Menyeluruh
G. Evaluasi
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Nifas


Nifas adalah masa dimulai setelah kelahiran placenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil . masa nifas berlangsung kira-kira selama
enam minggu (Wulandari, 2009).
Pada masa nifas sering terjadi komplikasi seperti perdarahan perdarahan pervaginam
atau post partum hemorargi adalah kehilangan darah sebanyak 500 cc atau lebh dari trak tus
genetalia setelah melahirkan. Komplikasi lain atau sepsis puerperalis adalah infesi pada
trakrus genetalia yang rejadi pada setiap saat antara awitan pecahan ketuban atau persalinan
dan 42 hari setelah persalinan atau abortus. Selanjutnya komplikasi pada payudara seperti
bendungan ASI , mastitis, abses payudara (Farrer, 2005).

2.2 Konsep Dasar Bendungan Saluran ASI


2.2.1 Pengertian Bendungan ASI
Bendungan ASI dikarenakan penyempitan duktus laktiferus atau oleh kelenjar –
kelenjar yang tidak di kosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada puting susu
(Wulandari, 2009). Peningkatan aliran vena dan limfe pada payudara dalam rangka
mempersiapkan diri untuk laktasi (Purwanti, 2008).
2.2.2 Etiologi Bendungan ASI
Menurut Hubertin (2005), bendungan saluran ASI disebabkan oleh :
a) Elastisitas payudara kurang
b) Bayi belum menyusu dengan baik.
c) Kelenjar mammae tidak di kosongkan dengan sempurna.
d) BH trlalu ketat.
e) Puting susu yang kurang bersih sehingga menyebabkan penyumbatan duktus.
2.2.3 Patofisiologi Bendungan Saluran ASI
Bendungan saluran ASI ditandai dengan payudara bengkak, keras, terasa
panas sampai suhu badan sedikit naik sehingga menyebabkan air susu tidak lancar atau
keluar sedikit. Bendungan ASI merupakan permulaan kemungkinan infeksi payudara atau
mastitis. Apabila masih terjadi akan menimbulkan demam, nyeri lokal pada payudara,
terjadi pemadatan pada payudara dan terjadi pemadatan perubahan warna pada payudara
(laksono, 2010).
2.2.4 Penatalaksanaan Bendungan Saluran ASI
1. Cara menyusui yang baik dan benar
Menurut Alimul (2006), cara menyusui bayi yang baik dan benar sebagai berikut:
1) Sebelum menyusui, keluarkan sedikit ASI untuk mengolesi puting ibu agar
bayi mencium aromanya dan lebih berselera menyusui.
2) Susui bayi setiap kali ia menginginkannya dan selama yang ia mau.
3) Saat menyusui, letakkan bayi dalam pangkuan sedemikian rupa hingga wajah
dan tubuhnya mengahadap ke payudara ibu. Posisinya harus lurus searah, dari
telinga , hidung, dan badannya, dagunya menempel di payudara ibu
4) Duduklah dalam posisi yang nyaman dan tegak, jangan membungkuk, kalau
perlu sangah tubuh bayi dengan bantal . ibu yang menjalani persalinan dengan
operasi sesar tak perlu khawatir karena posisi bayi berada diatas perut ibu.
5) Jika bayi enyusu pada payudara kiri, letakkan kepalanya di siku lengan kiri
ibu. Lengan kiri bayi bebas ke arah payudara beitu pula sebaliknya.
6) Topanglah payudara dengan meletakkan ibu jari tangan ibu di atas puting dan
keempat jari menyangga payudara.
7) Usai menyusui, bayi akan melepaskan isapannya. Kalau tidak, lepaskan puting
dengan memasukan jari kelingking ibu ke mulut bayi melalui sudut mulut atau
tekan dagu bayi agar bibir bawahnya tebuka. Jangan langsung menarik puting
terlalu kuat selagi masih berada di dalam mulut bayi karena akan membuatnya
lecet.
8) Bila puting lecet, lakukan kompres dingin di payudara dan tetaplah meyusui
bayi. Usai menyusui, usapkan tetesan ASI untuk pelumasan dan perlindungan.
Jika menggunakan obat dokter, seka puting dengan air atau waslap basah yang
lembut setiap kali akan menyusui.

2. Terapi berupa analgetik dan antibiotik bila puting susu lecet


3. Perawatan payudara
Menurut wulandari (2009), perawatan payudara pasca persalinan merupakan
kelanjutan perawatan payudara semasa hamil, yang mempunyai tujuan sebagai
berikut:
1) Untuk menjaga kebersihan payudara sehingga terhindar dari infeksi.
2) Untuk mengenyalkan puting susu, supaya tidak mudah lecat
3) Untuk menonjolkan puting susu
4) Untuk mencegah terjadinya penyumbatan.
5) Untuk memperbanyak produksi ASI
6) Untuk mengetahui adanya kelainan.
Perawatan payudara dengan masalah menurut Purwanti (2008) meliputi:
1) Puting lecet

Untuk mencegah rasa sakit, bersihkan puting susu dengan air hangat ketika
sedang mandi dan jangan menggunakan sabun bisa membuat puting susu kering
dan iritasi.
2) Penyumbatan kelenjar payudara
Sebelum menyusui, pijat payudara dengan lembut, mulailah dari luar
kemudian perlahan-lahan bergerak kearah puting susu dan lebih berhati-hatilah
pada area yang mengeras. Menyusui sesering mungkin dalam jangka waktu
selama mungkin,susui bayi dengan payudara yang skit jika ibu kuat menahannya,
karena bayi akan menyusui dengan semangat pada awal sesi menyusui, sehingga
bisa mengeringkannya dengan efektif. Lanjutkan dengan mengeluarkan air susu
dari payudara itu setiap kali selesai menyusui jika bayi belum benar-benar
menghabiskan isi payudara yang sakit tersebut. Tempelkan handuk halus yang
sudah dibasahi dengan air hangat pada payudara yang sakit beerapa kali dalam
sehari (atau mandi dengan air hangat beberapa kali, lakukan pemijatan dengan
lembut di sekitar areayang mengalami penyumbatan kelenjar susu dan secara
perlahan-lahan turun kearah puting susu.

2.2.5 Konsep Manajemen Kebidanan Ibu Nifas dengan Bendungan ASI


I. PENGKAJIAN DATA
Adalah alat utama pengkajian awal pasien dan merupakan proses
berkelanjutan untuk memperoleh informasi yang di perlukan untuk memberi asuhan
dan menilai keadaan pasien secara keseluruhan , baik data subuektif maupun data
objektif (Winkjosastro, 2007).
A. Data subyektif
Adalah data yang di dapat dari klien sebagai suatu pendapat terhadap
suatu data kejadian (Winkjosastro, 2007).
1. Biodata : Nama, umur, pekerjaan, pendidikan, agama, alamat, penghasilan.
2. Keluhan utama : mengetahui alasan yang membuat pasien datang
berhubungan dengan masa nifas . pada kasus ini biasanya pasien datang
dengan keluhan payudara bengkak, kemerahan nyeri, puting susu lecet
(sujiyatini, 2009).
3. Riwayat kesehatan :
a. Penyakit yang lalu : pernah /tidak pernah menderita penyakit seperti
penyakit menurun (darah tinggi, kencing manis, asma, epilepsi),
penyakit menular (TB paru, hepatitis B, AIDS), peyakit menahun (darah
tinggi, kencing manis, asma).
b. Penyakit sekarang : sedang /tidak sedang menderita penyakit seperti
penyakit menurun (darah tinggi, kencing manis, asma, epilepsi),
penyakit menular (TB paru, hepatitis B, AIDS), peyakit menahun (darah
tinggi, kencing manis, asma).
c. Penyakit keluarga : keluarga dan suaminya tidak pernah/pernah
menderita penyakit seperti penyakit menurun (darah tinggi, kencing
manis, asma, epilepsi), penyakit menular (TB paru, hepatitis B, AIDS),
peyakit menahun (darah tinggi, kencing manis, asma).
4. Riwayat obstetri :
a. Riwayat menstruasi : untuk mengetahui tanggal haid normal terakhir,
uraian haid terakhir dan pengalaman haid sebelumnya .
b. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu : untuk mengetahui
berapa umur kehamilan ibu dan hasil pemeriksaan kehamilan, untuk
mengetahui persalinan spontan atau bayi lahir aterm atau prematur ada
perdarah atau tidak waktu persalinan ditolong oleh siapa, dimana tempat
melahirkannya, untuk mengetahui apakah terdapat komplikasi atau
intervensi pada masa nifas dan apakah ibu tersebut mengetahui
penyebabnya (Winkjoastro, 2007).
c. Riwayat Kehamilan sekarang, persalinan dan nifas sekarang : status TT ,
ANC, keluhan-keluhan, terapi yang pernah didapat, penyuluhan yang
pernah didapat hasil pemeriksaan.
5. Riwayat KB : untuk mengetahui jenis dan lama berlangsungnya tiap metode
kontrasepsi bersama dengan komplikasi yang menyertai selama
menggunakan alat kontrasepsi.
6. Riwayat perkawinan :untuk mengetahui perkawinan syah/tidak, lama
perkawinan,berapa kali menikah ,jumlah anak DLL.
7. Riwayat psikososial : untuk mengetahui hubungan ibu dengan
suami/keluarga baik/ tidak.
8. Riwayat budaya : untuk mengetahui ibu kebiasan yang biasa dilakukan ibu
berhubungan dengan adat.
9. Perilaku kesehatan : untuk mengetahui ibu minum jamu/tidak,
merokok/tidak, minum minuman keras/tidak.
10. Pola kebiasaan sehari-hari : pola nutrisi (unyk mengetahui asupan ntrisi
selama hamil dan nifas), eliminasi (untuk mengetahui berapakali BAK,BAB
dalam sehari ), personal hygine( untuk mengetahui berapa kali pasien
mandi,gosok gigi, keramas, ganti pakaiann), istirahat (untuk mengetahui
jamm istirahat pada waktu siang dan malam hari), aktifitas.
B. Data objektif
Adalah data yang dapat di observasi atau di ukur (Winkjosastro,2007):
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : KU ibu apakah baik,sedang, buruk.(dalm kasus ini baik).
Kesadaran :composmentis, apatis, samnolen, sopor, koma, (dlm kasus ini
composmentis).
TTV: terdiri dari TD (normal bila 100-<140/70-90 mmhg), Nadi (nomal 60-
100x/menit), suhu(normal 36,5-37,5 C), Respirasi (normal 16-24x/menit).
2. Pemeriksaan khusus
Terdiri dari inspeksi pada rambut, wajah, mata, hidung, telinga, mulut, leher,
dada, payudara.
Palpasi terdiri dari : payudara dada, TFU,UC.

II. INTERPRESTASI DATA DASAR


Adalah data dasar yang sudah dikumpulkan di interperstasikan sehingga dapat
merumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik.
DX: Ny X P..A..umur...tahun, nifas hari ke..dengan bendungan saluran ASI
DS :ibu mengatakan payudara bengkak, terasa panas nyeri, dan puting susu lecet.
DO : hasil pemeriksaan berupa KU,keadaran keadaan emosional, TD,suhu, nadi,
respirasi, hasil palpasi dan inspeksi pada mamae.
Masalah : yaitu hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien yang ditemukan dari
hasil pengkajian yang menyertai diagnosa masalah.
III. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL
Langkah ini membutuhkan antisipasi pencegahan bila di mungkinkan sambl
mengamati klien. Bidan diharapkan dapat bersiap-siap mencegah bila diangnosa atau
masalah potensial ini benar-benar terjadi.
IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
Langkah ini mencerminkan kesinambnngan dari proses manajemen
kebidanan, data baru mungkin saja perlu di kumpulkan dan di evaluasi. Beberapa data
mungkinmengidentifikasi situasi yang gawat di mana harus bertindak segera untuk
kepentingan keselamatn ibu dan anak.
V. INTERNVENSI
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh berdasarkan langkah-
langkah sebelumnya . langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah
atau diagnosa yang telah di identifikasi atau antisipasi. Pada langkah ini data dasar
ataun informasi yang tidak lengkap dpat dilengkapi, setiap asuhan haruslah disetujui
kedua belah pihak yaitu bidan dan pasien agar dapat dilaksanakan dengan efektif.
Pada langkah ini bidan bertugas memutuskan rencana asuhan sesuai dngan hasil
pembahasan bersama sebelum melaksanaakannya.
VI. IMPLEMENTASI
Implementasi yang komprehensif merupakan pengeluaran dan perwujudan
dari rencana yang telah disusun pada tahap-tahap perencanaan dapat terealisasi
dengan baik apabila berdasarkan hakekat masalah, jenis tindakan atau pelaksanaan
bisa dikerjakan oleh bidan itu sendiri, kolaborasi sesama tim / kesehatan lain dan
rujukan dari profesi lain.
VII. EVALUASI
Evaluasi adalah tindakan yang berhubungan dengan pelaksanaan serta
didasarkan atas tujuan dan kriteria, guna mengevaluasi untuk menyusun langkah baru
asuhan kebidanan, menunjang tanggung jawab dan tanggung gugat dalam asuhan
kebidanan, dalam hal ini menggunakan SOAP yaitu :
S: Data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan pasien.
O: Data yang diperoleh dari observasi dan pemeriksaan kita.
A: Pemeriksaan yang terdiri dari data S + O.
P : Perencanaan yang ditentukan sesuai dengan masalah.
BAB III
TINJAUAN KASUS

Tanggal pengkajian : 19 juni 2014-06-19 Jam : 10.30 WIB


No register : 008114

I. PENGKAJIAN
A. Data Subjektif
1. Biodata
Nama klien : Ny D Nama suami : Tn.A
Umur : 22 tahun Umur : 24 tahun
Agama : islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : Sarjana
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
Penghasilan: - Penghasilan : Rp.1.800.000
Alamat : Mojoroto Alamat : Mojoroto

2. Keluhan utama
Ibu mengeluh ASInya belum keluar sejak dua hari yang lalu dan payudara terasa
penuh, tegang, dan terasa nyeri, bayinya susah menyusui dan ibu merasa cemas
dengan keadaannya.

3. Riwayat Kesehatan
a. Penyakit yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit seperti penyakit menurun
(darah tinggi, kencing manis, asma, epilepsi), penyakit menular (TB paru,
hepatitis B, AIDS), peyakit menahun (darah tinggi, kencing manis, asma).
b. Penyakit sekarang
Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit seperti penyakit menurun
(darah tinggi, kencing manis, asma, epilepsi), penyakit menular (TB paru,
hepatitis B, AIDS), peyakit menahun (darah tinggi, kencing manis, asma).

c. Penyakit Keluarga
Ibu mengatakan keluarga dan suaminya tidak pernah menderita penyakit
seperti penyakit menurun (darah tinggi, kencing manis, asma, epilepsi),
penyakit menular (TB paru, hepatitis B, AIDS), peyakit menahun (darah
tinggi, kencing manis, asma).
4. Riwayat Obstetri
a. Riwayat menstruasi
Amenorhoe : tidak haid selama 9 bulan ketika hamil
Dismenorhoe : tidak merasa nyeri saat menstruasi.
Menarche : menstruasi pertama saat umur 13 tanun.
Fluor albus : tidak ada
Lama : lama menstruasi 4-5 hari.
Banyak : ganti pembalut 2-3 kali sehari.
Siklus : siklus 30 hari.
Teratur/tidak : menstruasi teratur.
b. Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
No Tgl/Bln/Th Usia Tempat Jenis Penolong Penyulit Anak Nifas Usia
JK BB PB
persalinan Kehamilan persalinan persalinan kehamilan anak
1 16 juni 9 bulan BPS Normal Bidan Tidak ada L 3200 42 3
2014 sayang hari
bunda

c. Riwayat Kehamilan sekarang, persalinan dan nifas sekarang:


Ibu mengatakan ini kehamilan, persalinan, dan nifas pertamanya.
Riwayat kehamilan:
Status TT : T3
ANC : 8 kali di bidan
Keluhan selama hamil : mual dan kadang muntah, pegel di pinggang
Penyuluhan yang di dapat : Penyuluhan gizi ibu hamil Dri bidan saat usia
kehamilan 2 bulan.
Riwayat persalinan :
Ibu mengatakan melahirkan tgl 16 juni 2014 Jam 10.55 WIB secara normal
ditolong oleh Bidan Di BPS Sayang Bunda.
Penyulit : Kala I : Tidak ada
Kala II : Tidak ada
Kala III : Tidak ada
Kala IV : Tidak ada
JK laki- laki BBL 3200 gram PBL 42 cm Langsung menangis, IMD.
Riwayat nifas :
Perdarahan 150 cc pemberian ASI
5. Riwayat KB
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun.
6. Riwayat Perkawinan
Menikah : 1 kali
Lama : 1 tahun
Usia pertama menikah : 21 tahun
7. Riwayat Psikososial
- Ibu merasa senang karena persalinanya Lancar dan anak sehat.
- Seluruh keluarga mendukung dan senang atas kelahiran bayinya.
8. Riwayat Budaya
Tidak ada pantangan makanan selama hamil dan nifas
9. Perilaku kesehatan
Jamu : Tidak minum jamu
Merokok : Tidak merokok
Minum minuman keras : tidak minum minuman keras

10. Pola kebiasaan sehari-hari


Pola Selama Nifas
Kebiasaan
Nutrisi Makan : 3 kali sehari, komposisi (Nasi Sayur, Lauk), porsi
sedang
Minum : 8-9 gelas sehari jenis (air putih, susu, gelas).
Eliminasi BAB : 1x sehari warna kecoklatan, konsistensi lunak
BAK : 4-5x sehari warna kekuningan, jernih
Istirahat Tidar siang 1 jam, tidur malam 5 jam
Personal Mandi 2x sehari, gosok gigi tiap kali habis mandi keramas
Higiene 2x dalam seminggu, ganti baju 2x sehari, ganti
pembalut 2x sehari.
Aktivitas Ibu hanya melakukan aktifas dirumah
B. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Keadaan emosional : Stabil
TTV TD : 120 /80 mmHg
Nadi : 84 x/menit
RR :20 x/menit
Suhu : 37,5 C
2. Pemeriksaan Khusus
a. Inspeksi
Rambut : Bersih, tidak rontok, tidak berketombe.
Wajah : Tidak bengkak dan tidak ada cloasma.
Mata : Tidak oedema, conjungtiva merah muda, sklera putih.
Hidung : Bersih, tidak ada polip.
Telinga: Bersih, simetris, tidak ada secret.
Mulut : Bersih, tidak ada stomatitis, gigi tidak berluang, dan gusi tidak
berdarah
Leher : Tidak ada Pembesaran kelenjar gondok dan tidak ada tumor.
Dada : bentuk payudara tidak simetris, ada pembengkakan di sebelah
kiri payudara, aerola hiperpigmentasi, puting susu mendatar, kolostrom keluar
sedikit.payudara sedikit kemerahan.
Genitalia : tidak varises,tidak kemerahan, tidak nyeri lochea :rubra.
Ekstremitas : simetris, tidak ada oedema.

b. Palpasi
Dada : simetris
Payudara : tidak simetris, nyeri tekan
TFU : pertengahan pusat simfisis
UC : kosong

II. INTERPRETASI DATA DASAR


Tanggal pengkajian : 19 juni 2014-06-19 Jam : 11.00 WIB
A. Diagnosa: P1A0 umur 22 tahun hari ketiga post partum dengan bendungan ASI
DS : ibu mengatakan payudaranya bengkak, nyeridan badan terasa panas sejak
tadi pagi.
DO : TTV TD: 120/80 mmHg, N: 84 x/m, S: 37,5 C, RR: 20x/m.
Mamae : pembengkakan di sebelah kiri payudara, Tidak simetris, aerola
hiperpigmentasi, puting susu mendatar, kolostrum keluar sedikit, Nyeri
Tekan, sedikit kemerahan.
B. Masalah
ibu merasa cemas dan takut sehubungan dengan keadaannya.

III.ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL


Mx Potensial : Mastits
IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
Memberi kompres hangat, Terapi analgetikAntalgin 500mg 3x1

V. INTERVENSI

Tanggal pengkajian : 19 juni 2014-06-19 Jam : 11.10 WIB


DX : P1A0 umur 22 tahun hari ketiga post partum dengan bendungan ASI
Tujuan : untuk mengatasi masalah ibu yang cemas dengan keadaannya
Kriteria hasil : TTV TD: 120/80 mmHg, N: 84 x/m, S: 37,5 C, RR: 20x/m.
Mamae : pembengkakan di sebelah kiri payudara, Tidak simetris, aerola
hiperpigmentasi, puting susu mendatar, kolostrum keluar sedikit, Nyeri Tekan,
sedikit kemerahan.
1. Beritahu hasil pemeriksaan pada ibu
R/ dengan memberitahu ibu dapat menetahui keadaannaya saat ini
2. Beri dukungan moril pada ibu
R/ dukungan moril dapat memberi semangat kepada ibu agar tidak cemas dengan
keadaannya
3. Anjurkan ibu mrnyusui sesering mungkin
R/ kebutuhan nutrisi bayi tetap terpenuhi
4. Anjurkan ibu menyusui kedua payudaranya
R/ seimbang payudara kiri dan kanan..tidak penuh pada satu payudara.
5. Anjurkan ibu mengonpres hangat payudara sebelum disusukan
R/ mengurangi rasa nyeri
6. Anjurkan ibu memakai BH yang menopang payudara dan tidak terlalu ketat.
R/ memberikan kenyamanan pada ibu
7. Berikan antalgin 500 mg per ora 3 x 1
R/ mengurangi rasa nyeri

VI. IMPLEMENTASI

Tanggal pengkajian : 19 juni 2014-06-19 Jam : 11.20 WIB


DX : P1A0 umur 22 tahun hari ketiga post partum dengan bendungan ASI
MX :bendungan ASI
1. memberitahu hasil pemeriksaan pada ibu
2. memberi dukungan moril pada ibu
3. menganjurkan ibu mrnyusui sesering mungkin
4. menganjurkan ibu menyusui kedua payudaranya
5. menganjurkan ibu mengonpres hangat payudara sebelum disusukan
6. menganjurkan ibu memakai BH yang menopang payudara dan tidk terlalu ketat.
7. memberikan analgin 500 mg per ora 3 x 1

VII. EVALUASI

Tanggal pengkajian : 19 juni 2014-06-19 Jam : 11.30 WIB


DX : P1A0 umur 22 tahun hari ketiga post partum dengan bendungan ASI
S : ibu mengatakan payudaranya bengkak, nyeridan badan terasa panas sejak tadi pagi.
O : TTV TD: 120/80 mmHg, N: 84 x/m, S: 37,5 C, RR: 20x/m.
Mamae : pembengkakan di sebelah kiri payudara, Tidak simetris, aerola hiperpigmentasi,
puting susu mendatar, kolostrum keluar sedikit, Nyeri Tekan, sedikit kemerahan.
A : Ny D P1A0 dengan bendungan ASI
P : ibu bersedia untuk melakukan semua intervensi yang dianjurkan bidan di rumah.
1. Beritahu hasil pemeriksaan pada ibu
2. Beri dukungan moril pada ibu
3. Anjurkan ibu mrnyusui sesering mungkin
4. Anjurkan ibu menyusui kedua payudaranya
5. Anjurkan ibu mengonpres hangat payudara sebelum disusukan
6. Anjurkan ibu memakai BH yang menopang payudara dan tidk terlalu ketat.
7. Berikan analgin 500 mg per ora 3 x 1
BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan bendungan ASI di
RB Sayang Bunda mahasiswa mampu :
a. Melakukan pengkajian data pada ibu nifas dengan bendungan ASI meliputi data
subjektif dan data objektif
b. Menginterpretasi data dasar pada ibu nifas dengan bendungan ASI mencakup
diagnosa dan masalah
c. Mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial pada ibu nifas dengan bendungan
ASI yaitu potensial mastitis.
d. Mengidentifikasi kebutuhan terhadap tindakan segera pada ibu nifas dengan
bendungan ASI yaitu memberi tahu ibu untuk
e. Membuat rencana asuhan menyeluruh sesuai masalah/diagnosa pada ibu nifas
dengan bendungan ASI
f. Melaksanakan asuhan menyeluruh sesuai rencana yang telah dibuat pada ibu
nifas dengan bendungan ASI
g. Mengevaluasi hasil asuhan yang telah dilakukan pada ibu nifas dengan bendungan
ASI.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dengan melakukan asuhan kebidananan pada ibu nifas dengan bendungan asi
mahasiswa mampu meberikan intervensi yang sesuai dengan masalah yang di hadapi
ibu.

B. Saran
Diharapkan pada ibu dengan bendungan ASI untuk terus memberikan ASI
eksklusif pada bayinya sampai usia 6 bulan dan melakukan perwatan payudara.
Bagi mahasisawa diharapan dapat mendapatkan atau teori yang lebih lengkap
tentang asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan bendungan ASI.