Anda di halaman 1dari 79

1

Keterampilan Manual Laboratorium

BLOK 3

PEMERIKSAAN TANDA-TANDA VITAL


& PERBAN DAN SPLINTS

Keterampilan Laboratorium
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
2010
2

KATA PENGANTAR
Buku pedoman mendukung blok 3: Ilmu Biomedis. Buku ini berisi dua topic
praktek keterampilan laboratorium : pemeriksaan tanda vital sebagai keterampilan
diagnostic fisik dan perban-belat sebagai keterampilan terapeutik.

Keterampilan latihan pemeriksaan fisik ini untuk mahir dalam pengukuran


tekanan darah, denyut nadi, laju pernapasan, dan suhu tubuh. Terapi ini berlatih
keterampilan menjadi guru diperban luka, dan untuk menstabilkan tulang patah itu
menerapkan belat.

Untuk praktek, data dapat digunakan sebagai pedoman, dan skor akan
menunjukkan kemampuan siswa.

Pemeriksaan tandavital telah ditulis Wasilah Rochmah, internis; Angela


Nurini Agni, Ophtalmologist; dan Santosa Budiharjo,MD. Dan perban dan splint
telah ditulis oleh E. Suryadi, MD., Anatomi; Santosa Budiharjo, MD.; Cristantie.E.,
sarjana dikeperawatan Khoirul, sarjana dikeperawatan.

Tim keterampilan laboratorium


3

DAFTAR ISI

Kata pengantar…...………………………………………………………………v

Isi……..…………………………………………………………………………vi

Ilustrasi…..……………………………………………………………………….1

Pemeriksaan tanda-tanda vital...………………………………………………….3

Pengenalan..………………...……………………………………………..3

Tujuan atas pelatihan pemeriksaan tanda vital...….. ……………………..4

Pedoman umum…………………………………………………………...5

Pemeriksaan suhu tubuh………………………………………………………....7

Pemeriksaan nadi.………………………………………………………………11

Pemeriksaan pernapasan ...……………………………………………………..19

Pemeriksaan tekanan darah..……………………………………………………21

Prosedur dasar untuk mengambil tekanan darah……..………………………...22

Membaca Manometer & mendengarkan suara Korotkoff …….………………30

Beberapa masalah dalam menilai tekanan darah...……………………………..33

Scenario : pemeriksaan tanda-tanda vital…...………………………………...35

Pemeriksaan suhu tubuh………………………………………………………..35

Pemeriksaan denyut……..……………………………………………………...36

Pemeriksaan pernapasan….…………………………………………………….37

Pemeriksaan tekanan darah ..…………………………………………………...38

Referensi………………………………………………………………………...40

Ilustrasi…...……………………………………………………………………...41

Perban & Splints…...…………………………………………………………43


4

Pengenalan.……………………………………………………………………43

Tujuan…..……………………………………………………………………..43

Pokok perban…….……………………………………………………………45

Tujuan perban………….….…………………………………………………..47

Tipe perban……. ……….…………………………………………………….48

1. Kain segitiga….……………………………………………………..48
2. Bentuk dasi….……………………………………………………....48
3. Perban rol diregang……….………………………………………...49
4. Plaster……………………………………………………………….53
5. Perban khusus…...…………………………………………………..53

Prinsip-prinsip perban.………………………………………………………..54

Proses pembalutan…..………………………………………………………...55

Contoh penggunaan…………………………………………………………...58

Referensi..……………………………………………………………………..77

Latihan standar keterampilan laboratorium……...……………………………78

Daftar …..……………………………………………………………………..79
5

Ilustrasi:
1. Nyonya Nina adalah wanita berusia 60 tahun yang mengidap hipertensi dan
tinggal di dekat Anda. Hari ini dia tidak enak badan ia merasa detak jantungnya
meningkat. Dia ingin Anda untuk memeriksa denyut jantung dan tekanan darah.
Dapatkah Anda melakukannya?
2. Andy tetangga Anda dan teman Anda. Selama 2 hari terakhir ia telah menderita
demam. Dia membutuhkan bantuan Anda untuk mengukur suhu tubuhnya.
Dapatkah Anda membantunya?
3. Bobby adalah keponakan Anda. Hari ini ia mendapat serangan asma dan terlihat
sangat sakit. Napasnya sangat cepat. Bagaimana Anda menghitung kecepatan
pernapasannyanya?

Ilustrasi ini adalah contoh dari apa yang harus Anda lakukan ketika Anda menjadi
dokter. Sekarang Anda memiliki kesempatan untuk praktek tugas-tugas di Lab
Keterampilan. Baca dulu cara-caranya untuk membantu Anda berlatih keterampilan
ini selama pelatihan.
6

PEMERIKSAAN TANDA VITAL

Pengenalan

Tanda-tanda vital pengukuran adalah suhu, nadi, respirasi rate dan tekanan
darah. Tanda-tanda vital fungsi tubuh yang vital. Tanda-tanda vital memberikan
wawasan tentang fungsi organ tertentu, terutama jantung dan paru-paru, serta sistem
seluruh tubuh. Dokter mendapatkan tanda-tanda vital untuk membangun dasar
pengukuran, amati tren, mengidentifikasi masalah fisiologi dan memonitor respon
pasien terhadap terapi.

Selama pemeriksaan fisik lengkap, dokter akan mengambil semua tanda-tanda


vital sekaligus, atau akan mengintegrasikan tanda-tanda vital dalam langkah-langkah
yang berbeda. Karena temuan yang abnormal dapat memberitahu dokter untuk
masalah yang mungkin untuk menyelidiki lebih lanjut, dokter mungkin memilih
untuk mengam bil semua tanda-tanda vital pada awal pemeriksaan.

Sebuah tanda vital pasien sakit itu harus sering diukur, dengan frekuensi
tergantung pada sifat dan tingkat keparahan gangguan. Mengharapkan untuk menilai
tanda-tanda vital setiap 4 sampai 6 jam pada pasien dirawat di rumah sakit. Dalam
situasi akut, bagaimanapun, dokter dapat menetapkan tanda-tanda vital setiap 1
sampai 2 jam. Setelah beberapa jenis operasi dan prosedur lainnya, pasien mungkin
perlu sangat sering pemantauan-mungkin setiap 15 menit. Dengan pasien apapun,
jangan ragu untuk mendapatkan tanda-tanda vital sesering yang Anda pikir tepat.

Ketika pemeriksaan tanda vital, perlu diingat bahwa pengukuran tunggal


biasanya membuktikan jauh lebih sedikit klinis berharga daripada serangkaian
pengukuran, yang dapat menyokong tren. Dalam kebanyakan kasus, mencari
perubahan dari pengukuran sebelumnya. Karena tanda-tanda vital mencerminkan
fungsi dasar tubuh, perubahan penyelidikan waran signifikan lebih lanjut.

Tujuan Pelatihan Pemeriksaan tanda vital

Tujuan instruksional umum dari pelatihan dalam pemeriksaan tanda vital


adalah bahwa siswa diharapkan untuk menguasai pengambilan suhu tubuh (melalui
rute aksiler), denyut nadi, laju pernafasan dan tekanan darah, membaca posisi (a)
Mengetahui dokter dan pasien dalam situasi pemeriksaan; (b ) Membangun hubungan
emosional dan komunikatif, (c) Benar menginstruksikan pasien.

Tujuan instruksional khusus :


7

1. Mengambil suhu tubuh


 Tempatkan termometer ditempat dan cara yang tepat
 Mampu membaca skala termometer
2. Mengambil denyut nadi
 Kemahiran dalam lokasi meraba arteri, misalnya radial, dan cerotic
arteri brachialis
 Evaluasi denyut : tingkat sisi kanan dan kiri denyut
3. Mengambil tingkat pernapasan
 Kemahiran dalam prosedur pemeriksaan mengambil pernapasan
dengan cara inspeksi dan palpasi
 Mengevaluasi gerakan pernapasan: tingkat pernapasan
4. Mengambil tekanan darah
 Mempersiapkan dan mengoperasikan sphygmomanometer dan
stetoskop
 Instruksi kepada pasien dalam posisi tubuh dan lengan
 Temukan/raba arteri brachialis atau menemukan arteri radial
 Melakukan palpasi untuk tekanan sistolik
 Pompa manset 30 mmHg diatas tekanan sistolik meraba
 Melakukan tekanan sistolik dan diastolik oleh auskultasi bunyi
brakialis (suara Korotkoff)

PEDOMAN UMUM

Untuk mendapatkan pengukuran yang akurat tanda-tanda vital, dokter harus


menjaga panduan berikut ini:

1. Karena stres fisik dan emosional dapat mengubah tanda vital, memiliki pasien
rileks sebelum Anda mulai penilaian. Pendekatan pasien dengan cara yang
tenang tidak terburu-buru dan menjelaskan setiap langkah yang Anda
lanjutkan.
2. Mengembangkan dan menggunakan sistem yang konsisten untuk
mendapatkan tanda-tanda vital, misalnya: memeriksa tekanan darah, denyut
nadi, dan respirasi saat mengambil pasien axillar suhu. Juga menggunakan
metode yang konsisten untuk menilai tanda-tanda vital setiap pasien.
Misalnya, jika Anda atau dokter lain yang sebelumnya diperiksa suhu aksiler
pasien, pastikan untuk menggunakan rute yang sama untuk pengukuran
berikutnya, sesuai kebutuhan. (Pastikan untuk dokumen yang diambil suhu
aksila).
8

3. Jika Anda mendapatkan pengukuran yang tidak biasa atau jika Anda ragu
mencari, ulangi pengukuran atau, jika memungkinkan, dokter lain
mengulanginya. Jika Anda masih merasa tidak pasti, periksa peralatan anda
dan, jika perlu, menggantinya dan pengukuran lain.
4. Jika Anda mendapatkan menemukan tanda vital normal, mempertahankan
sikap, tenang profesional; sebuah ekspresi cemas atau tanda seru bisa
mengganggu pasien. Jika pasien mengungkapkan keprihatinan atas
pengukuran berulang, tenang menjelaskan bahwa Anda memperoleh
pengukuran yang agak tinggi atau rendah dan hanya ingin mengecek lagi.
5. Pertimbangkan bagaimana temuan-temuan penting tanda berhubungan satu
sama lain dan untuk lainnya temuan penilaian fisik. Beberapa hubungan akan
signifikan. Misalnya, nadi cepat biasanya menyertai bersuhu tinggi;
pembilasan biasanya terjadi dengan kenaikan suhu (dari vasodilatasi, karena
tubuh berusaha untuk menghilangkan panas); tingkat penurunan kesadaran
sering menyertai penurunan tekanan darah (dari peredaran otak tidak
memadai).
6. Ketika menilai tanda vital pada pasien yang sakit, membiasakan diri dengan
diagnosa medis pasien, pengobatan, dan rejimen pengobatan, dan
mempertimbangkan bagaimana faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi
tanda-tanda vital. Dalam propranolol pasien penerima, misalnya,
mengharapkan pulsa lambat.

Table 1. The effect of age on vital signs

Suhu Pernapas TekananDarah


an
Umur Nadi
Fahrenheit Celcius Kecepata Sistolik Diastoli
n k

Bayi 98,6-99,8 37-37,7 70-190 30 - 80 50 - 52 25 - 30

3 tahun 98,5-99,5 36,9-37,5 80-125 20 - 30 78 - 46 - 78


114

10 97,5 - 98,6 36,3 - 37 70 - 16 - 22 90 - 56 - 86


tahun 110 132
9

16 97,6 - 98,8 36,4 - 37,1 55 - 15 - 20 104 - 60 - 92


tahun 100 108

Dewas 96,8 - 99,5 36 – 37,5 60 - 12 - 20 95 - 60 - 90


a 100 140

Tua 96,5 - 97,5 35,9 – 60 - 15 - 25 140 - 70 - 90


dewas 36,3 100 160
a

Gambar 1. Tanda penting, instrument pemeriksaan

1. PEMERIKSAAN SUHU TUBUH

suhu tubuh merupakan selisih antara jumlah panas tubuh memproduksi dan
jumlah kehilangan. Biasanya, sebuah sistem umpan balik negatif dikontrol oleh pusat
hipotalamus thermoregulatory otak mempertahankan suhu tubuh dalam batas yang
cukup konstan. Sistem ini menghasilkan saldo panas tubuh mekanisme-metabolisme,
menggigil, kontraksi otot, penyakit, olahraga dan peningkatan aktivitas tiroid dengan
panas-kehilangan-mekanisme radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi.

Ketika mekanisme panas memproduksi menghasilkan panas yang berlebihan, demam


(hipertermia) hasil. Sebaliknya, lebih-kegiatan mekanisme kehilangan panas dapat
10

mengakibatkan suhu tubuh normal rendah (hipotermia). Dokter dapat mengukur dan
mencatat suhu dalam derajat Celcius Fahrenheit (oF) atau derajat, atau celcius (oC).

Penempatan termometer

Ketika mekanisme panas memproduksi menghasilkan panas yang berlebihan,


demam (hipertermia) hasil. Sebaliknya, lebih-kegiatan mekanisme kehilangan panas
dapat mengakibatkan suhu tubuh normal rendah (hipotermia). Dokter dapat
mengukur dan mencatat suhu dalam derajat Celcius Fahrenheit (oF) atau derajat, atau
celcius (oC).

1. Orraly
Rute oral menawarkan kenyamanan maksimum bagi anda dan pasien.
Menggunakan rute untuk dewasa waspada, tetapi pastikan pasien tidak bernapas
melalui mulut dan tidak minum minuman panas atau dingin atau mengisap rokok
dalm 15 menit terakhir, faktor-faktor ini bisa menyebabkan membaca tidak akurat.
Untuk mendapatkan suhu oral dengan thermometer kaca merkuri, tempat
thermometer, menempatkan ujung termometer dibawah bagian depan lidah. Untuk
membaca yang paling akurat, meninggalkannya ditempat untuk sekitar 7 menit.
Hindari mengambil suhu oral pada pasien yang memiliki kelainan bentuk
lisan atau yang telah mengalami bedah mulut baru-baru ini. Karena bisa pecah,
termometer kaca merkuri merupakan kontraindikasi untuk pengukuran suhu oral pada
anak muda, pasien bingung, dan pasien dengan batuk sering, gangguan kejang, atau
kedinginan yang menyebabkan gemetar.

Kocok termometer sampai kolom merkuri di bawah 35.5oC. tempat termometer di


bawah lidah, dan meminta pasien untuk menutup mulut. Tunggu 3 - menit. Kemudian
membaca hasilnya. Ganti termometer di bawah lidah untuk menit tambahan, dan
membaca hasilnya. Jika suhu masih akan naik, ulangi prosedur sampai suhu adalah
tetap.
Jika pasien baru saja memiliki minuman dingin atau hangat, pemeriksaan ini harus
ditunda oleh 10-15 menit.

2. Dubur

Anda dapat mengambil suhu dubur ketika rute oral tidak tepat-misalnya, pada
bayi atau anak muda atau pada pasien lemah, bingung, atau koma. Untuk menilai
suhu rektal, menempatkan pasien dalam posisi terlentang atau rawan. Lumasi bola
11

termometer dengan pelumas yang larut dalam air dan dengan lembut masukkan ke
dalam cm-anus sekitar 2,5 sampai 3 dalam orang dewasa dan 1 cm pada anak atau
bayi. Pegang termometer di tempat selama sekitar 3 menit, dan tinggal dengan pasien
selama ini. Sadarilah bahwa kadang-kadang pasien dewasa waspada dapat memilih
untuk memasukkan termometer daripada memiliki tempat perawat pada posisi.
Hindari rute dubur pada pasien dengan lesi dubur, wasir berdarah, atau
riwayat pembedahan dubur baru-baru ini. Rute ini juga dapat kontraindikasi pada
pasien dengan gangguan jantung karena dapat merangsang syaraf vagus, mungkin
menyebabkan vasodilatasi dan detak jantung yang menurun.

Pemeriksaan temperatur rektal biasanya dilakukan pada bayi. Pilih


termometer dengan ujung bulat, melumasi, dan kemudian memasukkannya dalam
anus ke kedalaman 3-4 cm, dalam arah paralel ke umbilikus. Baca setelah 3 menit.

3. Axillary
Anda dapat mengukur suhu dengan rute aksilaris dalam tanda pasien yang
telah bedah mulut, yang tidak dapat menutup bibir sekitar termometer karena cacat,
atau yang memakai masker oksigen. Banyak dokter profesional lebih memilih rute
aksilaris untuk bayi atau anak kecil karena menghilangkan risiko kerusakan
termometer dan perforasi rektum.
Untuk mengambil membaca aksiler, tempat bola termometer di ketiak pasien
(ketiak). Apakah pasien memegang lengan di dada agar termometer di tempat. (Anda
mungkin perlu terus termometer di tempat jika pasien tidak dapat). suhu aksilaris
mengambil terpanjang untuk mendapatkan: sekitar 11 menit.
Ketika digunakan oleh rute, sebuah termometer elektronik menyediakan
pengukuran temperatur tercepat, menghasilkan pembacaan sangat akurat dalam 30
detik. Tempat ini seperti yang akan Anda termometer yang lain, tapi ingat untuk
mengubah penutup pada probe sekali pakai untuk setiap pasien.
Anda dapat menggunakan perangkat lain untuk mengukur suhu tubuh-
misalnya, penyelidikan dubur elektronik yang menyediakan readouts berkelanjutan
atau sesaat, untuk memungkinkan penelusuran dekat salib demam. Merawat pasien
dalam kondisi terisolasi mungkin mengharuskan penggunaan titik klinis termometer
pakai.

Suhu tubuh normal dan abnormal

Suhu tubuh normal berkisar dari sekitar 36oC ke 37.5oC. ketika mengevaluasi
temperatur, perlu diingat bahwa beberapa orang memiliki dasar suhu tinggi atau
rendah. Pada pasien dengan dasar dari 96.8oF (36oC), suhu 98.6oF (37oC) dapat
12

menunjukkan demam. Selain itu, suhu tubuh cenderung bervariasi sepanjang hari,
menjatuhkan terendah di pagi hari dan memuncak pada sore hari.
Faktor-faktor lain, seperti usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, dan kondisi lingkungan,
dapat mempengaruhi rentang suhu normal. Bayi dan hildren cenderung memiliki
suhu yang lebih tinggi daripada orang dewasa, rata-rata lebih dari 99oF (37.2oC)
untilage 3. Metabolisme yang relatif cepat membuat anak rentan terhadap demam
tinggi secara dramatis ketika sakit, anak juga lebih mungkin untuk mengalami kejang
suhu-terkait. Orang dewasa yang lebih tua biasanya memiliki suhu tubuh lebih
rendah, rata-rata sekitar 97oF (36.1oC) dan kadang-kadang jatuh ke 95oF (35oC).
Perempuan biasanya memiliki suhu yang lebih tinggi dibanding pria. Selama tahun-
tahun subur, wanita mengalami kenaikan suhu sedikit selama beberapa hari setelah
ovulasi, selama beberapa bulan pertama kehamilan, suhu tetap tinggi.
Pada setiap orang, suhu mungkin bervariasi dari tingkat normal selama stres,
seperti dari latihan, kerja keras, atau terpapar dingin atau panas yang ekstrim.
Temperatur juga tergantung pada proses tubuh organik. Penyakit metabolik, seperti
hipertiroidisme, dan gangguan neurologis, seperti pendarahan otak (yang melibatkan
penurunan regulasi pusat hipotalamus). Dapat menyebabkan perubahan suhu tubuh.
Demam bisa berkembang sebagai respon peradangan terhadap kerusakan jaringan,
seperti setelah operasi yang luas, selama pemulihan dari infark miokard, atau ketika
tubuh melawan infeksi.

Setelah mendapatkan suhu pasien, menginterpretasikan temuan Anda.


Pertimbangkan hipertermia atau menyebabkan hipotermia untuk perhatian, jika terus-
menerus, suhu yang sangat tinggi (di atas 105oF [40.6oC]) atau suhu sangat rendah
(di bawah 93oF [33.9oC]) dapat menyebabkan kematian / fatal.

2. PEMERIKSAN NADI

Nadi dan detak jantung

Ketika menilai denyut nadi pasien, dokter merasakan atau mendengar


gelombang tekanan darah keluar dari jantung karena lonjakan melalui arteri. Setiap
denyut sesuai dengan detak jantung. Dengan menilai karakteristik detak jantung,
Anda dapat menentukan seberapa baik jantung menangani volume darah dan, secara
13

tidak langsung, seberapa baik perfuses organ dengan darah oksigen. Pulse penilaian
teknik berikut ini:

Untuk menilai denyut nadi pasien, Anda dapat auscultate pada puncak jantung
dengan stetoskop atau palpasi denyut nadi perifer dengan jari-jari Anda. Meskipun
metode baik dapat menentukan denyut jantung (denyut per menit), auskultasi
membuktikan superior untuk menilai rhytim jantung.

Teknik meraba nadi

Anda dapat meraba denyut nadi di berbagai lokasi. Biasanya, Anda menilai
nadi radial karena aksesibilitas mudah untuk melakukan hal ini, meraba arteri radial
dengan bantalan telunjuk dan jari tengah selama 60 detik saat mengompresi sangat
lembut terhadap tulang radial. Jangan gunakan ibu jari Anda karena memiliki pulsa
sendiri yang Anda menghitung bisa bingung dengan denyut nadi pasien. Meskipun
beberapa praktisi menghitung denyut nadi selama 15 detik dan kalikan dengan 4,
praktik ini tidak diinginkan, terutama jika pasien tidak memiliki detak jantung normal
dan irama. Jika Anda memiliki kesulitan membedakan pulsa perifer samar dari pulsa
Anda sendiri, cek situs lain.

Jika pasien memiliki uang tunai atau belat, memiliki kondisi perifer (seperti
diabetes atau penyakit pembuluh darah), atau telah mengalami prosedur vaskuler
baru-baru ini invasif (seperti angiografi atau sugery), Anda mungkin perlu memeriksa
semua pulsa perifer untuk menjamin sirkulasi yang memadai untuk ekstremitas. Jika
Anda mengalami kesulitan menemukan nadi perifer, menandai situs pulsa dengan
penanda lilin untuk referensi di masa mendatang. (Ketika menandai situs pulsa cara
ini, pastikan untuk dokumen itu).

Dalam keadaan darurat Anda dapat meraba pulsa karotis pada pasien dengan
kompromi kardiovaskular berat. Namun, berhati-hati untuk tidak mengerahkan terlalu
banyak tekanan terhadap arteri karotid karena ini dapat mensimulasikan saraf vagus
dan menyebabkan bradikardi refleks. Juga, jangan menekan kedua karotis pulsa
sekaligus; ini dapat mengganggu sirkulasi otak.

Jika pasien memiliki dysrhythmia jantung atau menerima obat jantung, seperti
dioxin, Anda mungkin perlu auscultate denyut nadi apikal selama 60 detik. Sebelum
pemberian dosis obat masing-masing dijadwalkan, auscultate tingkat apikal dengan
menempatkan diafragma pada stetoskop di atas puncak jantung pada batas bawah
jantung, di ruang interkostalis kelima (7 sampai 9 cm dari garis midsternal).
Dengarkan erat dan menghitung denyut selama 60 detik.
14

Untuk menilai bayi atau denyut jantung anak batita, auscultate denyut nadi apikal
atau meraba yang karotid pulsa femoralis. Atau, Anda dapat mengamati dan
menghitung pulsations dari ubun anterior.

Untuk menilai bayi atau denyut jantung anak batita, auscultate denyut nadi
apikal atau meraba yang karotid pulsa femoralis. Atau, Anda dapat mengamati dan
menghitung pulsations dari ubun anterior.

Tingkat nadi

Denyut nadi normal bervariasi dengan usia, kondisi fisik, dan faktor lainnya.
Saat lahir, itu rata-rata sekitar 125 denyut per menit (BPM). Terus menurun sampai
100 BPM pada usia 4, denyut nadi normal harus jatuh ke kisaran dewasa dari 60
sampai 100 BPM oleh remaja.

Biasanya, denyut nadi di bawah 60 BPM (bradikardi) atau di atas 100 BPM
(takikardi) tidak normal. Namun, bahkan pada orang yang sehat, berbagai faktor
dapat menyebabkan denyut nadi untuk meningkatkan atau menurunkan.
meningkatkan Sebuah mungkin hasil dari stimulasi sistem saraf simpatik, seperti dari
rasa takut, marah, atau sakit, penurunan mungkin berasal dari tidur, relaksasi, atau
stimulasi saraf vagus, seperti dari muntah atau suction.

Seorang atlet dengan baik-AC mungkin memiliki denyut nadi yang normal
istirahat di bawah 60 BPM. Selama latihan berkelanjutan, jantung harus memompa
lebih keras dan lebih cepat untuk memasok oksigen ke otot lain. Kondisi ini bekerja
ekstra hati seperti itu kondisi otot lain. Akhirnya, jantung tidak memerlukan tarif
yang cepat tersebut, menyebabkan denyut nadi rendah.

Ketika Anda mendapatkan denyut nadi, juga menilai amplitudo nadi dan
irama. Dokumen pulsa amplitudo (yang mencerminkan kekuatan kontraksi ventrikel
kiri) dengan menggunakan skala numerik atau istilah deskriptif.

Irama nadi

Ketika menilai irama denyut nadi, Anda mengevaluasi keteraturan konduksi listrik
jantung dari waktu ke waktu. Periksa irama saat Anda menghitung denyut nadi lebih
dari 60 detik. Biasanya, irama harus biasa, dengan kira-kira interval yang sama antara
pulsations. Jika Anda mendeteksi ritme yang luar biasa kadang-kadang terjadi dengan
pernapasan, ini menandakan reraly gangguan patologis. Sebuah ritme benar-benar
tidak teratur (dysrhytmia) menunjukkan masalah kardiovaskular. Dengan latihan,
Anda mungkin bisa mengidentifikasi dysrhythmia tertentu melalui palpasi. Namun,
15

Anda dapat mengidentifikasi disritmia terbaik oleh auscultating hati atau dengan
mendapatkan sebuah elektrokardiogram (EKG).

Mendokumentasikan amplitudo nadi

Untuk dokumen amplitudo pulsa perawat dapat menggunakan skala numerik


menandakan istilah deskriptif. 0 = tidak ada-tidak dapat dilihat; +1 = lemah-sulit
untuk merasakan dan mudah dihapuskan hanya dengan tekanan jari sedikit; +2 =
normal teraba dengan mudah dan dihapuskan hanya dengan tekanan jari yang kuat;
+3 = berlari-mudah teraba, kuat, tidak mudah dihapus oleh tekanan jari.

Prosedur untuk palpasi nadi

Untuk membantu palpasi pulsa, pastikan bahwa pasien diposisikan nyaman,


terbungkus tepat, dan terus warm.also, pastikan untuk menghangatkan tangan Anda
dan gunakan lembut untuk tekanan sedang untuk palpasi.

Sementara menilai tanda-tanda vital pasien, meraba denyut nadi radial untuk
menilai detak jantung cepat. Sekarang meraba titik-titik nadi utama lainnya untuk
menilai aliran darah ke jaringan. Arteri sentral yang lebih besar (yang carotids)
terletak lebih dekat ke jantung dan memiliki tekanan sedikit lebih tinggi daripada
arteri perifer yang lebih kecil. Karena itu, arteri pusat menunjukkan pulsations
sebelum arteri perifer dan lebih mudah meraba.

Palpasi pada karotis, brachial, radial, femoral, popliteal, dorsalis pedis, dan
kacang-kacangan tibialis posterior. Arteri ini dekat dengan permukaan tubuh dan
berbaring di atas tulang, membuat palpasi lebih mudah.

Pastikan untuk menekan lembut atas situs nadi, tekanan berlebih dapat
melenyapkan denyut, membuat pulsa absen muncul jika tidak. Juga, meraba hanya
satu arteri karotis pada satu waktu; palpasi simultan dapat memperlambat denyut nadi
atau penurunan tekanan darah, menyebabkan pasien pingsan.

Selama palpasi, mengidentifikasi denyut nadi, irama, simetri, kontur, dan


kekuatan di setiap situs. Denyut nadi normal bervariasi dengan usia dan faktor lain,
tetapi biasanya berkisar antara 60 sampai 100 denyut / menit pada orang dewasa,
pulsa harus merasa biasa dalam irama dan setara dalam kekuatan bilateral, kontur
mereka harus menyertakan halus Facebook stroke dan turun mencadangkan. Pulsa
dengan amplitudo normal adalah mudah teraba dan dihapuskan hanya dengan tekanan
jari yang kuat.
16

Grade amplitudo pulsa bilateral di setiap situs, dengan menggunakan skala


rating pulsa dibutuhkan oleh fasilitas pelayanan kesehatan juga jangan lupa untuk
mendokumentasikan setiap variasi tingkat, irama, kontur, simetri, atau kekuatan.

Meraba nadi artery

Arteri yang dekat ke permukaan dan di atas tulang yang paling mudah untuk
meraba. Untuk meraba pulsa arteri, menerapkan tekanan dengan indeks dan jari
tengah. Palpasi lembut, atau Anda dapat melenyapkan pulsa, terutama di kaki, yang
terjauh dari hati dan oleh karena itu memiliki tekanan terendah. Saat Anda meraba,
lanjutkan sistematis dari kepala sampai kaki, tidak ada denyut nadi, irama, simetri,
kontur, dan kekuatan di setiap lokasi, (untuk menentukan simetri, membandingkan
pulsa pada satu sisi tubuh untuk yang di sisi lain dari tubuh).

Denyut nadi femoralis

Relatif keras pada interior menunjuk ke ligamentum inguinalis Press. Untuk


pasien yang obesitas, meraba dalam lipatan dari tengah selangkangan antara tulang
dan tulang pinggul itu.

Denyut nadi carotis

Ringan tempat jari-jari Anda pada tulang rawan tiroid dan slip mereka lateral
antara trakea dan otot sternocleidomastoid.

Denyut nadi popliteal

Tekan dengan kuat terhadap fosa popliteal di belakang lutut.

Denyut nadi Brachialis

Posisi jari-jari anda medial tendon biseps.

Dorsalls pedis pulse

Letakkan jari Anda pada medial dorsum kaki sementara pasien poin jari-jari
kaki ke bawah. Dalam situs tersebut, pulsa sulit untuk meraba dan mungkin tampak
tidak hadir pada beberapa pasien sehat.
17

Denyut nadi radial

Terapkan lembut tekanan ke sisi medial dan ventral pergelangan tangan tepat
di bawah jempol.

Nadi tibialis posterior

Terapkan tekanan belakang dan sedikit di bawah malleolus dari pergelangan


kaki.
18

Mengidentifikasi denyut nadi normal

Seperti ditunjukkan dalam pembersihan ini pulsa normal memiliki dua


komponen sistol dan diastol ditunjukkan oleh awal up-stroke, sistol berarti tekanan
arteri selama kontraksi ventrikel, systole stroke bawah menunjukkan tekanan arteri
pada saat jantung relaksasi ventrikel mengisi.

Gambar 7. Nadi Normal

Sebuah pulsa lemah menunjukkan baik curah jantung rendah atau peningkatan
resistensi pembuluh darah perifer, seperti pada penyakit aterosklerosis arteri. Lemah
pedal pulsa yang umum pada pasien usia lanjut, namun tidak adanya pulsa di kaki
hangat dengan warna yang normal membawa signicance sedikit. Sebuah pulsa berlari
kuat terjadi pada pasien dengan hipertensi dan di negara-negara yang tinggi cardiac
output seperti olahraga, kehamilan, anemia, dan tirotoksikosis.

3. PEMERIKSAAN PERNAPASAN

Proses pernapasan

Pernapasan adalah kegiatan bawah sadar, yang dikelola oleh medula


oblongata dan dilakukan oleh otot-otot pernafasan. Ketika inspirasi, diafragma dan
otot interkostalis berada dalam kontraksi, untuk memberikan lebih banyak ruang
untuk wilayah dada dan memperluas paru-paru. Dinding dada bergerak naik, di
depan, dan belakang, sedangkan diafragma pasif akan kembali ke posisi semula.
Selama respirasi, paru-paru mengambil oksigen dengan inspirasi masing-
masing dan mengeluarkan karbon dioksida dengan jatuh tempo masing-masing.
Respirasi tergantung pada metabolisme, kondisi otot-otot pernafasan (terutama otot-
otot diafragma dan interkostalis), dan patensi saluran napas. Karena pusat kendali
pernafasan terletak pada batang otak, pernafasan bergantung pada fungsi saraf
normal.

Pemeriksaan pernapasan

Ketika menilai respirasi, fokus pada tingkat, kedalaman, dan irama napas
masing-masing. Tetap waspada untuk bukti lain masalah pernapasan mungkin, seperti
sianosis (kulit kebiruan), nyeri dada, gelisah, gelisah, dan kebingungan. Sebuah
19

keluhan asupan udara tidak mencukupi atau kesulitan bernafas selalu waran evaluasi
lebih lanjut.

Untuk menentukan tingkat pernapasan, menghitung jumlah respirations untuk


60seconds. (Satu respirasi terdiri dari inspirasi dan kedaluwarsa). Lakukan ini sebagai
diam-diam mungkin pasien-seorang yang tahu bahwa respirations Anda menghitung
secara tidak sengaja dapat mengubah tingkat. Dalam satu metode tidak mengganggu,
Anda memegang pergelangan tangan pasien terhadap dada atau perut seolah-olah
memeriksa denyut nadi. If respirations terlalu dangkal untuk melihat naik dan turun
dari dinding dada, pegang punggung tangan Anda di samping hidung dan mulut
pasien merasa penutupan.

Tingkat pernapasan

Seperti tanda-tanda vital lain, tingkat pernapasan bervariasi dengan usia. Pada
orang dewasa, biasanya berkisar dari sekitar 12 sampai 20 napas per menit. Pada
anak-anak, ia cenderung menjadi lebih cepat.

Tingkat pernapasan dapat meningkat dengan stres emosional, seperti rasa


takut atau kegelisahan, gangguan metabolisme, seperti diabetes melitus, paru-paru
kelainan jaringan, seperti emfisema, dan gangguan yang menghambat ekspansi
dinding dada, seperti myasthenia gravis. Tingkat pernapasan dapat menurunkan
dengan depresi sistem saraf, seperti dari sedasi berlebihan atau anestesi. Biasanya,
pasien dewasa dengan tingkat pernapasan atas 30 atau di bawah 12 napas per menit
membutuhkan pengamatan dekat dan evaluasi lebih lanjut.

Kedalaman pernapasan

Kedalaman Pernapasan sekitar mencerminkan volume tidal, jumlah udara


yang diambil dengan napas masing-masing. Orang dewasa yang sehat, volume tidal
berkisar 300-500 ml. (Volume aktual terinspirasi udara dapat diukur hanya dengan
peralatan spirometri khusus).

Untuk memperkirakan kedalaman pernapasan, amati dada karena naik dan


turun dan menilai usaha yang dibutuhkan untuk bernapas. Respirations harus cukup
dan mudah. Perhatikan setiap suara pernapasan abnormal, seperti tersengal-sengal.
Jelaskan respirations sebagai dangkal, sedang, atau dalam. pernapasan dangkal
mungkin menandakan adanya cedera dada, seperti tulang rusuk patah; pernapasan
dalam dapat menunjukkan kelainan neurologis, seperti kecelakaan serebrovaskular.

Perhatikan simetri ekspansi dinding dada pada inspirasi. deformitas rangka,


rusuk patah, atau jaringan paru-paru runtuh dapat menyebabkan asimetris (tidak
20

sama) ekspansi. Amati menggunakan otot dada dan perut. Wanita biasanya
menggunakan otot dada untuk bernapas, laki-laki, dan anak-anak, otot perut.

Juga mencatat setiap penggunaan aksesori pernapasan-skalenus otot,


sternocleidomastoid, dan otot perut. menggunakan otot Aksesori kadang-kadang
terjadi sesak napas berhubungan dengan penyakit paru-paru kronis atau gangguan
pernapasan. sesak napas juga dapat menyebabkan otot interkostalis untuk tonjolan
atau retact abnormal dan bisa disertai dengan pembakaran mengerucutkan hidung dan
bibir pada berakhirnya.

Gambar 8. Irama Normal/ Pola Pernapasan

4. PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH

Tekanan darah

Sebagai jantung berkontraksi dan rileks, sirkulasi tekanan darah diberikan


pada dinding arteri bagian dalam. Tekanan darah pada dinding arteri bagian dalam.
pengukuran tekanan darah secara tidak langsung mencerminkan tekanan ini dan
memberikan informasi tentang ketahanan arteri dan resistensi, output jantung, status
peredaran darah, dan keseimbangan cairan, indeks penting status kesehatan secara
keseluruhan pasien.

Pengukuran tekanan darah mencerminkan dua tahap dalam siklus jantung.


tekanan sistolik mengacu pada tekanan maksimum diberikan pada dinding arteri di
puncak sistole (kontraksi ventrikel kiri). tekanan diastolik minimum mencerminkan
tekanan arteri sistemik, yang terjadi selama diastole (relaksasi ventrikel kiri).

Tekanan diastolik biasanya lebih membuktikan diagnosa yang signifikan dari


tekanan systoli, namun peningkatan tekanan sistolik sinyal peningkatan risiko
kecelakaan serebrovaskular. Perbedaan antara pembacaan sistolik dan diastolik, yang
dikenal sebagai tekanan nadi, memiliki nilai diagnostik yang penting pada pasien
dengan kondisi seperti tekanan intrakranial meningkat, hipertensi, kelainan jantung,
dan shock.
21

Banyak faktor yang mempengaruhi tekanan darah arteri. Aktivitas fisik, stres
emosional, dan posisi tubuh bisa menyebabkan fluktuasi lebar. Tekanan darah juga
berfluktuasi dalam pola (sirkadian) 24-jam. Menjatuhkan terendah di akhir jam tidur
dan memuncak pada sore dan malam hari.

Umur juga mempengaruhi tekanan darah. Dari bayi sepanjang masa kanak-
kanak dan remaja, tekanan darah meningkat secara bertahap kemudian stabil sebagai
dewasa dimulai. Pada orang lanjut usia, penurunan elastisitas pembuluh biasanya
menyebabkan peningkatan tekanan sistolik.

Tekanan darah sangat bervariasi karena siklus jantung, yang akan berada di
atas grafik pada sistole dan penurunan sedikit di diastol itu. Kisaran antara tekanan
sistolik dan tekanan diastolik dikenal sebagai tekanan Arteri atau tekanan Pulse.
Ketika ventrikel adalah kontraksi, darah akan dipompa melalui seluruh tubuh. Ini
disebut waktu sistol, dan tekanan darah pada saat ini disebut tekanan sistolik.

Ketika ventrikel adalah santai, darah mengalir dari atrium ke ventrikel,


tekanan darah saat ini disebut tekanan diastolik.

Tekanan darah dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kegiatan fisik, keadaan
emosional, nyeri, suhu lingkungan, atau stimulan seperti kopi dan tembakau.

Dasar prosedur untuk mengambil tekanan darah

Sphygmomanometer (merkuri dan aneroid)

Sejak instrumen aneroid sering menjadi tidak akurat dengan penggunaan


berulang, harus dikalibrasi secara berkala oleh jenis merkuri. Pilih manset dengan
kantong tiup dari ukuran yang sesuai. ukuran yang tepat tergantung pada lingkar
ekstremitas yang manset akan digunakan. Lebar kantong harus sekitar 40% dari 12
cm-lingkar sampai 14 cm rata-rata orang dewasa. Panjang kantong harus sekitar 80%
dari ini lingkar (kisaran 60% sampai 100%)-hampir cukup lama untuk mengelilingi
lengan.

Menyiapkan pasien

Sebelum memulai, pastikan pasien santai dan tidak makan atau dieksekusi
dalam 30 menit terakhir. Pasien bisa duduk, berdiri, atau berbaring selama
pengukuran tekanan darah.
22

Posisi pasien

Selama bertahun-tahun American Heart Association telah memberikan


rekomendasi untuk memenuhi kebutuhan dasar standardisasi. Secara singkat, pasien
nyaman duduk di ruangan yang tenang dengan lengan didukung, pada tingkat hati,
pada permukaan yang halus.

Pasien harus senyaman mungkin dan santai, lengan bebas dari pakaian. Pusat
kantong karet atas arteri brakialis di bagian dalam lengan. Batas bawah harus sekitar
2,5 cm di atas lipatan antecubital. Amankan manset pas. Posisi lengan pasien
sehingga sedikit menekuk di siku. Dukungan sendiri atau istirahat di meja, bantal,
atau permukaan stabil, memastikan bahwa manset terletak di tingkat jantung.
Temukan arteri brakialis-biasanya hanya medial tendon biseps.

Jauhkan manometer merkuri pada tingkat mata, jika menggunakan gauge


aneroid, menempatkannya sejajar dengan lengan pasien. Jaga otot lengan pasien
santai; ketegangan dari kontraksi otot dapat meningkatkan tekanan sistolik. Memiliki
istirahat pasien telentang lengan di samping.

Manset

Manset yang terlalu pendek atau sempit dapat memberikan pembacaan palsu
tinggi. Menggunakan rutin manset pada lengan obesitas dapat menyebabkan
diagnosis palsu hipertensi. Untuk lengan gemuk, pilih manset dengan lebih besar dari
tas standar.

Sebuah longgar manset atau tas yang balon luar manset menyebabkan
pembacaan palsu tinggi. Jika dukungan pasien lengan, kontraksi otot yang
berkelanjutan dapat meningkatkan tekanan diastolik sebanyak 10%.

Pakaian ketat lengan akan dihapus dan sphygmomanometer manset


diposisikan tepat di atas ruang antecubital sehingga pusat kandung kemih manset atas
arteri brakialis.

Menerapkan manset

Untuk mendapatkan pembacaan dari lengan (situs pengukuran yang paling


umum), bungkus sphygmomanometer manset lengan pas sekitar 1 "(2,5 cm) di atas
area antecubital (aspek dalam dari siku). Kebanyakan manset panah yang harus
ditempatkan di atas arteri brakialis. Pastikan untuk menggunakan ukuran yang benar-
23

spontan untuk pasien.


Kandung kemih hampir harus mengelilingi lengan pasien dan sekitar 20
persen lebih besar dari diameter lengan. Manset tekanan dinaikkan dengan cepat
sampai sekitar 30mmHg di atas titik di mana denyut nadi radial pasien hilang.

Arteri brachialis

Jika arteri brakialis jauh di bawah tingkat jantung tekanan darah tinggi palsu
akan muncul. Sebaliknya, jika arteri jauh di atas tingkat tekanan jantung darah palsu
akan muncul rendah. Sebuah 13,6 cm perbedaan antara tingkat arteri dan jantung
menghasilkan kesalahan tekanan darah 10 mmHg.

Kadang-kadang pasien memiliki kesenjangan auscultatory, cara bagian diam


interval antara tekanan sistolik dan diastolik. Jika hal ini tidak diakui, itu amy
menyebabkan meremehkan serius tekanan sistolik dari terlalu tinggi tekanan
diastolik.

Dengan jumlah atau jari-jari satu tangan beristirahat di arteri brakialis, cepat
mengembang manset untuk sekitar 30 mmHg di atas tingkat di mana denyutan
menghilang. Menggembosi manset lagi perlahan-lahan sampai Anda merasa denyut
nadi. Ini adalah tekanan sistolik palpatory dan membantu Anda menghindari
disesatkan oleh kesenjangan auscultatory. Menggembosi manset sepenuhnya.

Meraba denyut nadi brakialis tepat di bawah dan sedikit medial ke daerah antecubital.
Cepat mengembang manset untuk sekitar 30 mmHg di atas tingkat di mana pulsations
menghilang. Menggembosi manset perlahan-lahan sampai Anda merasa denyut nadi
lagi. Kemudian, menggembosi manset sepenuhnya.

Bel atau diafrakma dari stetoskop

Sekarang tempat bel stetoskop ringan atas arteri brakialis. Karena suara untuk
didengar (sering disebut suara Korotkoff) relatif rendah di lapangan, mereka dapat
didengar baik dengan bel. Diafragma, bagaimanapun, sering lebih mudah untuk terus
dalam tempat di lengan.
Tempatkan earphone dari stetoskop di telinga Anda dan posisi kepala
stetoskop atas arteri brakialis, hanya distal ke manset atau sedikit di bawahnya.
Umumnya Anda akan menggunakan mudah menangani, diafragma datar untuk
auscultate pulsa, namun, Anda mungkin perlu menggunakan bel jika pasien memiliki
berkurang atau sulit menemukan pulsa, karena bel mendeteksi suara bernada rendah
aliran darah arteri lebih efektif.
24

Mengembang dan menggembosi manset

Membusungkan manset lagi, menjadi sekitar 30 mmHg di atas tekanan


sistolik palpatory. Kemudian menggembosi manset perlahan, sehingga tekanan untuk
menjatuhkan pada laju sekitar 2 sampai 3 mmHg per detik. Perhatikan tingkat di
mana Anda mendengar suara dari setidaknya dua ketukan berturut-turut. Ini adalah
tekanan sistolik.
Lanjutkan untuk menurunkan tekanan suara perlahan-lahan sampai menjadi
teredam dan kemudian menghilang. Kemudian menggembosi manset cepat ke nol.
Titik hilangnya, yang Anda mendengar suara dari setidaknya dua ketukan berturut-
turut. Ini adalah tekanan sistolik.

Lanjutkan untuk menurunkan tekanan suara perlahan-lahan sampai menjadi


teredam dan kemudian menghilang. Kemudian menggembosi manset cepat ke nol.
Titik hilangnya, yang biasanya hanya beberapa mmHg di bawah titik meredam,
menandai tekanan diastolik yang berlaku umum.
Dengan stetoskop dan manset diterapkan dengan tegas tapi lembut di lengan
pasien, tekanan brakialis secara perlahan berkurang pada tingkat 2 sampai 3 mmHg
per detik sementara pengamat mencatat tekanan darah sistol dan diastol.

Manometer Vertikal

Ketika menggunakan sphygmomanometer, jaga manometer vertikal (kecuali jika


menggunakan model lantai miring) dan buat pandangan mata sama tinggi dengan
meniskus. Ketika menggunakan alat aneroid, pegang cakra angka sehingga
menghadap ke wajahmu secara langsung. Hindari pemompaan yang pelan atau
berulang-ulang pada cuff, karena hasil penyumbatan vena dapat menyebabkan
kesalahan pembacaan. Jika Anda ingin mengulang pengukuran, tunggu satu atau dua
menit setelah cuff mengempis sepenuhnya. Mata pengamat sebaiknya sama rata
dengan manometer sejak tekanan yang digunakan terbaca.

Kondisi Lain

Tekanan darah sebaiknya diambil pada kedua lengan, paling kurang sekali.
Anda juga sebaiknya melakukan ini ketika memeriksa pasien dengan gejala
insufisiensi cerebrovascular. Secara normal ada kemungkinan perbedaan tekanan 5
mmHg, dan kadang-kadang setinggi 10 mmHg. Pembacaan berikutnya sebaiknya
dilakukan pada lengan dengan tekanan terbesar.
25

Ketika pasien mengambil pengobatan hipertensi, ketika pingsan atau pusing,


atau ketika Anda diduga kekurangan darah, lakukan pengukuran tekanan darah
dalam tiga posisi, berbaring, duduk dan berdiri (kecuali jika, tentu saja, posisi ini
kontraindikasi) . Secara normal, sebagai pasien bangun dari posisi terlentang ke
posisi berdiri, tekanan sistolik sedikit menurun atau tetap tidak berubah sedangkan
tekanan diastolik sedikit naik.

Tekanan sistolik dan diastolik

Sistolik

Tekanan darah dicatat sebagai tekanan dimana bunyi Korotkoff muncul (tahap 1).
Pada pasien yang tekanan darahnya sulit untuk diperiksa, bunyi Korotkoff dapat
diperbesar dengan mengangkat lengan pasien sebelum pemompaan cuff,
meningkatkan kecepatan pemompaan, dan menyuruh pasien untuk membuka dan
menutup kepalan tangan beberapa kali sebelum pengukuran.

Diastolik

Tekanan darah normalnya dicatat sebagai tekanan dimana bunyi Korotkoff


meredam (tahap 4) atau menghilang (tahap 5). Hampir semua epidemiologik dan
informasi pemeriksaan klinis berdasarkan pada pengukuran tahap 5. Disamping itu,
hilangnya bunyi Korotkoff adalah indikator yang lebih baik dari tekanan darah
diastolik intra-arterial daripada meredam. Berkaitan dengan hal tersebut, tahap 5 baik
tidak maupun terjadi pada level tekanan darah yang sangat rendah; pada beberapa
contoh, tahap 4 hanya memberikan perkiraan yang dapat dipercaya dari tekanan darah
diastolik. Ini utamanya adalah keadaan pada hiperdinamik seperti regurgitasi aorta,
kehamilan, dan thyricosis. Tahap 4 dan tahap 5 dari tekanan darah diastolik sebaiknya
selalu dicatat ketika disalin lebih dari 4 mmHg.

PEMBACAAN TEKANAN DARAH NORMAL DAN ABNORMAL

Tekanan darah normal sangat berbeda pada tiap individu. Pada orang dewasa,
tekanan sistolik normal antara 100 sampai 140 mmHg; tekanan diastolik normal
antara 60 sampai 90 mmHg. Serangkaian pembacaan tekanan darah cenderung lebih
penting daripada pembacaan individu. Perubahan lebih dari 20 mmHg diantara
pembacaan, tanpa alasan jelas untuk naik turun (seperti perubahan posisi atau baru
saja melakukan aktivitas fisik), memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
26

Beberapa pasien secara normal memiliki tekanan darah rendah secara


berkesinambungan. Sebagian besar, bagaimanapun, hasil pembacaan yang tetap di
bawah 95 mmHg sistolik atau 60 mmHg diastolik menunjukkan hipotensi (tekanan
darah rendah). Hipotensi dapat diakibatkan dari kondisi berkurangnyai volum total
darah, seperti pendarahan, luka bakar, atau diare, atau dari kondisi berkurangnya
produksi jantung, seperti serangan jantung atau gagal jantung kongestif.

Secara konsisten hasil pembacaan yang tinggi, di atas 140 mmHg sistolik dan
90 mmHg diastolik, menunjukkan hipertensi (tekanan darah tinggi). Hipertensi dapat
idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) atau yang kedua penyakit turunan, seperti
penyakit ginjal.

Anggap perbedaan tekanan nadi yang lebih besar dari 40 mmHg sebagai
abnormal. Perbedaan seperti ini dapat berasal dari naiknya tekanan sistolik
disebabkan karena kekakuan.

Klasifikasi Tekanan Darah

Selama lebih dari 3 dasawarsa, the National Heart, Lung, and Blood Institute
(NHLBI) telah mengatur koordinasi panitia the National High Blood Pressure
Education Program (NHBPEP). Salah satu fungsi pentingnya adalah untuk
mengeluarkan rancangan petunjuk dan saran untuk meningkatkan kesadaran,
pencegahan, pengobatan, dan pengawasan terhadap hipertensi (tekanan darah tinggi)).

Keputusan menunjuk kepanitiaan untuk JNC 7 didasarkan pada empat


faktor : publikasi dari banyak studi penelitian dan percobaan klinis terbaru mengenai
hipertensi sejak laporan terakhir dipublikasikan pada tahun 1997; kebutuhan untuk
suatu petunjuk yang baru, jelas, dan ringkas yang akan berguna untuk dokter;
kebutuhan untuk mempermudah pengklasifikasian tekanan darah; dan menghilangkan
anggapan bahwa laporan JNC tidak memberikan manfaat maksimal kepada
masyarakat.

Tujuan dari Seventh Report of Joint National Committee on Prevention,


Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7 ) adalah untuk
memberikan petunjuk dasar yang berhubungan dengan pencegahan dan penanganan
hipertensi.

Tabel 2 adalah sebuah klasifikasi tekanan darah untuk orang dewasa 18 tahun
ke atas (berdasarkan klasifikasi JNC 7). Klasifikasi didasarkan pada rata-rata dua atau
27

lebih pengukuran yang baik, duduk, Pembacaan tekanan darah pada tiap dua atau
lebih kunjungan kantor.

Prehipertensi tidak termasuk kategori penyakit. Cukup, itu adalah penanda


yang dipilih untuk mengidentifikasi individu yang beresiko tinggi berkembang
menjadi hipertensi, sehingga pasien dan dokter selalu waspada terhadap resiko ini
dan terdorong untuk menghalangi dan mencegah atau menunda penyakit
berkembang. Individu yang terkena prehipertensi tidak dianjurkan untuk melakukan
terapi obat didasarkan pada tingkat tekanan darah dan sebaiknya sangat dianjurkan
untuk melakukan perubahan gaya hidup untuk mengurangi resiko timbulnya
hipertensi seterusnya. Selain itu, individu yang prehipertensi, yang juga mempunyai
penyakit diabetes atau ginjal, sebaiknya memikirkan untuk melakukan terapi
pengobatan yang tepat jika percobaan perubahan gaya hidup gagal untuk mengurangi
tekanan darah mereka menjadi 130/80 mmHg atau lebih rendah.

Klasifikasi ini tidak terbagi atas tingkat hipertensi seseorang dengan ada atau
tidaknya faktor resiko atau organ rusak agar membuat perbedaan rekomendasi
pengobatan, sebaiknya kedua-duanya . JNC 7 menyarankan semua orang yang
hipertensi (tingkat 1 dan 2) diobati. Tujuan pengobatan adalah untuk seseorang yang
hipertensi dan kondisi lain < 140/90 mmHg tidak dipaksakan.

Tujuan individu yang prehipertensi dan bukan indikasi pendorong adalah


untuk menurunkan tekanan darah pada level normal dengan perubahan gaya hidup,
dan mencegah kenaikan tekanan darah menggunakan rekomendasi perubahan gaya
hidup.

Perubahan pola tekanan darah terjadi seiring bertambahnya usia. Kenaikan


pada tekana 100darah sistolik terus-menerus sepanjang hidup berbeda dengan tekanan
darah diastolik, yang kenaikannya sampai sekitar usia 50 tahun, cenderung berakhir
pada dasawarsa berikutnya, dan mungkin tetap sama atau kemudian turun dalam
hidup. Hipertensi diastolik terlihat pada usia 50 tahun, baik sendiri maupun
tergabung dengan tingginya tekanan darah sistolik. Lazimnya hipertensi sistolik naik
seiring dengan usia, dan di atas usia 50 tahun, hipertensi sistolik menunjukkan
sebagian besar kondisi umum hipertensi. Tekanan darah diastolik lebih berpotensi
menjadi faktor resiko penyebab penyakit jantung daripada tekanan darah sistolik
sampai usia 50 tahun, setelah itu, tekanan darah diastolik lebih penting.
28

Tabel 2. Klasifikasi tekanan darah untuk orang dewasa

Klasifikasi BP SBP mmHg DBP mmHg


Normal <120 Dan <80
Prehipertensi 120-139 Atau 80-89
Hipertensi tingkat 1 140-159 Atau 90-99
Hipertensi tingkat 2 ≥160 ≥100

MEMBACA MANOMETER & MENDENGARKAN BUNYI KOROTKOFF

Lihat manometer, pompa pentolan sampai kolom raksa atau ukuran aneroid
mencapai sekitar 30 mmHg di atas titik dimana denyut nadi mnenghilang.
Kemudian, pelan-pelan buka pentil udara dan lihat raksa menurun atau jarum
pengukur menurun. Keluarkan tekanan pada angka 3 mmHg per detik dan dengar
bunyi denyut nadi (bunyi Korotkoff).

Bunyi Korotkoff

Tahap 1

Tekanan darah sistolik dicatat sebagai tekanan dimana bunyi Korotkoff


muncul (tahap 1). Pada pasien yang tekanan darahnya sulit untuk diperiksa, bunyi
Korotkoff dapat diperbesar dengan mengangkat lengan pasien sebelum pemompaan
cuff, meningkatkan kecepatan pemompaan, dan menyuruh pasien untuk membuka
dan menutup kepalan tangan beberapa kali sebelum pengukuran.

Tahap 4 & 5

Tekanan darah normalnya dicatat sebagai tekanan dimana bunyi Korotkoff


meredam (tahap 4) atau menghilang (tahap 5). Hampir semua epidemiologik dan
informasi pemeriksaan klinis berdasarkan pada pengukuran tahap 5. Disamping itu,
hilangnya bunyi Korotkoff adalah indikator yang lebih baik dari tekanan darah
diastolik intra-arterial daripada meredam.

Berkaitan dengan hal tersebut, tahap 5 baik tidak maupun terjadi pada level
tekanan darah yang sangat rendah; pada beberapa contoh, tahap 4 hanya memberikan
perkiraan yang dapat dipercaya dari tekanan darah diastolik. Ini utamanya adalah
keadaan pada hiperdinamik seperti regurgitasi aorta, kehamilan, dan thyricosis.
29

Tahap 4 dan tahap 5 dari tekanan darah diastolik sebaiknya selalu dicatat ketika
disalin lebih dari 10 mmHg.

Gambar 9. Membaca baik sistolik dan diastolik pada tingkat terdekat 2 mmHg

Ringkasan

Bunyi ini, yang menentukan ukuran tekanan darah, diklasifikasikan sebagai berikut:

Tahap I : Mulai dari yang jelas, bunyi ketukan yang samar-samar, dengan
intentsitas yang naik menjadi bunyi gedebuk atau ketukan yang lebih
nyaring.

Tahap II : Ketukan yang berubah menjadi lembut, bunyi mendesing.

Tahap III : Kembali jelas, bunyi ketukan yang singkat

Tahap IV : (bunyi diastol pertama) : bunyi meredam dan menjadi bunyi tiupan.

Tahap V : (bunyi diastol kedua) : bunyi menghilang.


30

Segera setelah kau mendengar darah mulai berdenyut melalui brachial artery,
catat hasil pembacaan pada angka aneroid atau kolom raksa. Menggambarkan tahap I
(bunyi Korotkoff pertama). Catat pula hasil pembacaan saat bunyi menghilang, tahap
V (bunyi Korotkoff kelima). Untuk ank-anak dan orang dewasa yang aktif, banyak
pertimbangan tahap IV yang lebih akurat menggambarkan tekanan darah.

BEBERAPA MASALAH DALAM MENENTUKAN TEKANAN DARAH

Dokter menentukan tekanan darah arteri (diukur dalam milimeter raksa


[mmHg]) dengan menggunakan sebuah sphygmomanometer dan sebuah stetoskop.
Tekanan darah ditentukan pada lengan atau kaki dengan mendengarkan denyut arteri
brachial atau popliteal. Bagaimanapun, ingat bahwa ukuran yng diambil pada arteri
popliteal di kaki menghasilkan pembacaan sistolik yang lebih tinggi dan diastolik
yang lebih rendah daripada yang dihasilkan pada lengan.

Jika kau tidak dapat mendengar denyut nadi atau memiliki alasan meragukan
hasil pembacaan tekanan darahmu, lakukan kembali pengukuran tekanan. Untuk
menghindari halangan vena dari tekanan cuff, tunggu 30 detik diantara percobaan.

Pada pasien dengan kongesti vena atau hipertensi, kau mungkin menemukan
periode diam antara bunyi sistolik dan diastolik, ketika kau tidak dapat mendengar
bunyi denyut nadi yang menghalangi. Diketahui sebagai auscoltotory gap, kejadian
ini mungkin disebabkan kau menaksir pembacaan sistolik terlalu rendah atau
diastolik terlalu tinggi. Untuk menghindari salah satu kesalahan, pastikan untuk
memompa cuff tekanan darah paling rendah 30 mmHg di atas titik pada
pemeriksaan denyut nadi pertama menghilang.

Ketika memeriksa tekanan darah pasien untuk pertama kali, ambil ukuran
pada kedua lengan. Anggap terdapat sedikit perbedaan tekanan (5 sampai 10 mmHg)
antara lengan normal; perbedaan 15 mmHg atau lebih dapat menunjukkan penyakit
jantung, khususnya aortic coarctation (narrowing) atau arterial obstruction.

Pada beberapa kasus, kau mungkin ingin memeriksa tekanan darah orthostatic
(postural) dengan melakukan pembacaan pada pasien dengan posisi berbaring, duduk,
dan berdiri, kemudian mengecek perbedaan setiap pergantian posisi. Normalnya,
tekanan darah sedikit naik atau turun pada setiap pergantian posisi. Menurun 20
mmHg atau lebih, bagaimanapun, hal ini menunjukkan hipotensi orthostatic.
31

Penurunan yang terlalu banyak, biasanya mengakibatkan kepusingan, dapat


diakibatkan oleh hipovolemia, efek pengobatan, atau menambah waktu tidur.

Jika kau kesulitan mendengar denyut nadi ketika memeriksa tekanan darah
bayi, gunakan metode flush. Pertama, pompa cuff disekitar pergelangan tangan atau
pergelangan kaki bayi untuk menutup jalan persediaan darah. Ketika kau melepaskan
tekanan, kaki akan flush seperti reperfuse. Pembacaan manometer bersamaan dengan
flush yang kira-kira menunjukkan tekanan darah (rata-rata tekanan darah sistolik dan
diastolik).

Jika tidak dapat mendengar denyut nadi karena tekanan tidak terdengar atau
karena kau tidak memiliki stetoskop atau Doppler probe, ukur tekanan darah dengan
melakukan pemeriksaan dengan tangan. Setelah mempergunakan cuff dan memeriksa
denyut nadi brachial, pompa cuff sampai pembacaan manometer 30 mmHg di atas
titik dimana Anda tidak bisa lagi merasakan denyut nadi. Sekarang, lepaskan tekanan
cuff perlahan-lahan, pada angka kira-kira 2 sampai 3 mmHg per denyut jantung.
Sementara melakukan ini, amati manometer. Nomor yang terlihat ketika kau merasa
denyutan pertama dengan jelas adalah pembacaan sistolik.

Karena denyutan terus berlanjut sampai pembacaan manometer mencapai nol,


kau mungkin lebih kesulitan menentukan pembacaan diastolik. Catat hasil
pemeriksaan tekanan darah, contohnya, “120/palpated”.

SKENARIO : PEMERIKSAAN TANDA-TANDA VITAL

Memperhatikan posisi dokter dan pasien.

Bekerja sesuai sistematika, gunakan daftar pemeriksaan. Gunakan waktu


secara efisien.
32

PEMERIKSAAN SUHU TUBUH

Lakukan beberapa langkah ini untuk mengetahui suhu tubuh

1. Penguji harus berada di bagian kanan pasien.


2. Jelaskan prosedur kepada pasien
3. Tempatkan pasien dengan posisi duduk atau berbaring.
4. Jentikkan termometer hingga suhu turun di bawah 35.50 C
5. Tempatkan thermometer di ketiak.
6. Tunggu 5-10 menit, catat hasilnya.

Gambar 10. Pengukuran suhu oleh ketiak yang sesuai dengan prosedur

PEMERIKSAAN DENYUT NADI

Lakukan beberapa langkah ini untuk mengetahui radial denyut nadi

1. Penguji harus berada di bagian kanan pasien.


2. Jelaskan prosedur kepada pasien
3. Tempatkan pasien dengan posisi duduk atau berbaring.
4. Periksa denyut nadi menggunakan jari kedua dan ketiga.
5. Hitung berapa banyak denyut dalam satu menit, dengan menghitung denyut
nadi selama 15 detik dan dikalikan dengan 4 atau dengan menghitung selama
60 detik penuh.
6. Laporkan frekuensi denyut dalam satu menit, amplitudo, regulasi.
7. Periksa kedua tangan.
33

Gambar 11. Posisi yang meraba arteri radial oleh pemeriksa

PEMERIKSAAN PERNAFASAN

Lakukan beberapa langkah ini untuk mengetahui pernafasan

1. Perintahkan pasien untuk melepaskan bajunya.


2. Periksa gerakan pernapasan daada pasien (Lakukan ini tanpa menyentuh
pasien).
3. Kadang-kadang pemeriksaan pada dada dibutuhkan untuk membandingkan
gerakan pada bagian kanan dan kiri.
4. Selama inspirasi, perhatikan : gerakan lateral dada, pembesaran pada sisi
epigastrium, dan perpanjangan anterior-posterior.
5. Selama ekspirasi, perhatikan : gerakan dada, sisi epigastrium, dan kembalinya
anterior-posterior ke bentuk semula.
6. Perhatikan otot pernafasan yang digunakan.
7. Buat cacatan irama pernafasan, frekuensi, dan pergerakan dada yang
abnormal.
34

Gambar 12. Pemeriksaan gerakan pernapasan Gambar 13. Palpasi dinding


dada selama gerakan pernapasan

PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH

Praktikkan urutan ini untuk mengetahui tekanan darah.

1. Siapkan Sphygmomanometer dan steteskop


2. Mintalah kepada pasien untuk duduk atau berbaring
3. Merilexkan tangan pasien, membuka lengan baju, perhiasan dan jam tangan
seandainya ada
4. Pakaikan Cuff atau kancing manset ( hubungkan klep ) disekitar lengan bagian
atas. Pastikan penempatan yang tepat dan rapat ( sekitar 2.5-5 cm diatas siku )
5. Siku dapat sedikit adducted ( dilenturkan )
6. Cari pembuluh nadi, ( biasanya ditemukan di antara otot dan urat )
7. Dengan satu jari pada pembuluh nadi, pompa cuff sampai mencapai diatas 30
mmHg sampai hilangnya denyut pembuluh nadi.
8. Kurangi tekanan cuff secara perlahan, sampai kau dapat merasakan pembuluh
nadi kembali, ini dinamakan palpated systolic pressure
9. Tempatkan bel dari steteskop pada pembuluh nadi.
10. Pompa cuff sampai mencapai 30 mmHg diatas palpated systolic pressure
11. Perlahan kurangi tekanan cuff dari 2-3 mmHg setiap detik. Dengar denyut
pembuluh nadi, ini dinamakan tekanan systolic
12. Lanjutkan kurangi tekanan pada cuff systolic, sampai kau tidak dapat mendengar
ketukan dari pembuluh nadi atau hilang, ini dinamakan tekanan diastolic
13. Seandainya kau menggunakan sphygmomanometer air raksa, coba untuk menjaga
agar manometer dalam keadaan vertikal. Ketika kau membaca tekanan, mata
harus dalam garis horizontal dengan permukaan air raksa
35

14. Tunggu beberapa menit sebelum mengulangi pemeriksaan tekanan darah untuk
memastikan hasil yang akurat

Gambar 14. Pemeriksaan tekanan darah sesuai dengan prosedur


36

REFERENSI

Bates, Barbara. 1987. Guide to Physical Examination and History Taking, 4th ed. JB.
Lippincot Company, Philadelphia.

Morton, Patricia Gonce. 1991. Health Assessment in Nursing, Springhouse


Corporation, Springhouse.

Whelton, PK. & Russel RP. 1990. Systemic Hypertension in Principles and Practice
Medicine, 20th ed.

www.nhlbi.nih.gov/guideline/hypertension. 2003. Seventh Report of the Joint


National Committe on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High
Blood Pressure (JNC 7)

Ilustrasi :
Ketika kau mengendarai dijalan raya, kau melihat kecelakaan antara 2
sepeda motor. Kedua pemgemudi terluka : satu berdarah pada tangan kananya
dan yang lain mengalami patah kaki pada kaki kirinya. Apa yang kau lakukan
untuk menolong mereka?

Seandainya kau tidak pernah mendapatkan pelatihan atau praktek tentang


mengurus pasien luka, khususnya dengan perban dan balut, kau akan cemas
seandainya berada dalam kondisi seperti itu. Kau dapat latihan kemampuan
tersebut di Skill Lab, setelah latihan dari intrukstur. Baca manual ini pertama
akan mempersiapkanmu.
37

SKILL LAB
BANDAGES AND SPLINTS

FACULTY OF MEDICINE
TADULAKO UNIVERSITY
PALU
2012
38

PERBAN & BALUT

PENGENALAN

Memperban adalah salah satu kemampuan yang harus baik


ditunjukkan oleh Petugas Kesehatan atau Pusat Kesehatan lainnya. Istilah Perban itu
sendiri digunakan untuk menunjukkan aplikasi yang diperpanjang atau tidak perban
untuk tujuan pengobatan. Kebanyakan perban adalah bahan kain kasa tetapi kain
segitiga yang paling sering dibuat kain kasa.

Apapun alasannya untuk memperban, harus diingat bahwa seandainya tidak


benar atau tepat, perban dapat dengan mudah dan cepat menyebabkan luka lebih
lanjut. Dengan mengerti dan melakukan latihan dasar, pengorbanan minimal untuk
pasien dan kemajuan dengan cepat sehat dan kesembuhan dapat dicapai.

Balut atau “ Spalk “ adalah bentuk dari peralatan yang terbuat dari kayu,
campuran logam, atau apa saja bahan yang kuat tapi ringan, untuk menghentikan
tulang patah, supaya dapat mengistirahatkan bagian tubuh dan melindungi dari rasa
sakit.

TUJUAN

Tujuan umum Pelajaran dari Topik Perban dan Balut :

1. Siswa diharapkan untuk menguasai aplikasi dari berbagai macam perban pada
luka dibeberapa bagian tubuh.
2. Siswa diharapkan untuk menguasai penempatan balut pada patah lengan dan
kaki.

Tujuan spesifik pelajaran dari Perban dan Balut untuk mengembangkan


kemampuan :

1.1 Persiapan Memperban

a. Bangun emosional dan hubungan komunikasi dengan pasien ketika mungkin.


b. Kenali luka dan bagian tubuh mana dan tunjukkan pemeriksaan dan palpation,
dan periksa jarak dari gerakannya.
c. Mengetahui semua bahan dan tersedia tipe perban dan dapat memilih perban
yang tepat.
39

d. Sterilkan ( Medis Pensterilan ) luka sebelum dipakaikan perban.

1.2 Untuk Perban yang Tepat

a. Perban digunakan tepat seperti tatacaranya.


b. Periksa hasil dari semua tatacara, keketatan perban ( longgar atau erat ).
c. Evaluasi respon fisik dan psikologi pasien : tanda dan gejala bagian distal (
warna, suhu dan perasaan ) disebabkan oleh kompromi ke sirkulasi, gangguan
pergerakan tulang sendi.

2.1 Persiapan Membalut

a. Periksa bagian tubuh untuk dibalut dengan menunjukkan pemeriksaan dan


palpation, dan periksa jarak gerakan.
b. Pilih Balut yang tepat.

2.2 Untuk Balutan Tepat

a. Balut menggunakan prosedur yang tepat menyambung 2 tulang.


b. Periksa hasil dari semua prosedur ( pastikan balut tidak terlalu longgar dan
tidak terlalu erat, pastikan tepat dalam jumlah lipatan ).
c. Evaluasi respon fisik dan psikologi pasien.

PERBAN UTAMA
Tekanan dari sebuah perban harus tak melebihi tekanan hidrostatis
intravascular, seandainya memperban untuk mengurangi pembentukan edema tanpa
meningkatkan perlawanan Vascular untuk kerusakan aliran darah. Tabel dibawah
menunjukkan tekanan yang tepat untuk tujuan berbeda-beda.

Tekanan Rendah Tekanan Medium Tekanan Tinggi

5-20 mmHg 20-35 mmHg 35-50 mmHg


Balut Jari Bahu spica Luka pada tulang yang
menyertakan cedera otot
Balut Otot Keseleo dan tegangan atau ligamen
Ingatan kecil Keseleo mayor atau luka
lemah urat
Pengamanan punggung Kontrol edema
pada luka yang gawat Spesial pada balut, Patah tulang minor
membalut
Robert Jones memperban Amputasi puntung
Tenosynovitis
Memperban dengan benar
40

e.g.
Club foot

Dokter Pembedahan tulang seharusnya mengerti tujuan dari perban selama


berbeda jumlah dari tegangan yang diterima tergantung dari fungsi perban.

Contohnya, Chant ( 1972 ) menunjukkan bahwa tekanan pada otot bawah dari
pasien yang berbaring biasanya melebihi dari tekanan 15-22 mmHg berlaku external.
Namun, tekanan dibawah variasi dari perban puntung ditemukan untuk rata-rata 30-50
mmHg, walaupun beberapa tinggi sampai 170 mmHg ( Isherwood et al 1975 ),
hingga melebihi tekanan intravascular hidrostatis.

Menjelaskan bahwa tegangan pada perban selalu tetap, kemudian tekanan


pada permukaan tubuh akan naik seperti lengkungan jari-jari atau diameter otot
berkurang, menurut Hukum Laplace, yang mana keadaan bahwa :

Tekanan = Tegangan

Jari-jari

Ini dapat diartikan bahwa perban menunjukkan tegangan tetap untuk kaki
bagian bawah pada orang dewasa, tekanan akan tinggi pada pergelangan kaki dimana
kaki paling dangkal dan paling rendah dipuncak betis. Ini berguna, seperti manfaat
tekanan tinggi kenaikan arus darah kembali ke jantung adalah pecapaian natural dari
bentuk kaki. Thomas dan Rekannya ( 1980 ) memperingatkan bahwa tegangan, yang
mana diterima perban dipakai untuk orang dewasa, akan potensial berbahaya
seandainya menunjukkan pengurangan diameter dari tangan anak atau kaki dalam
kaitan penaikan tekanan menghalangi aliran darah.

Arus tekanan juga berhubungan pada jumlah lapis perban yang dipakai.
Derajat dari kelebihan bagian antara bagian sukses akan mempengaruhi tekanan
terakhir; setiap usaha seharusnya dibuat untuk memastikan setiap bagian saling
meliputi satu sebelum itu dengan jumlah sama untuk menghindari oedema lokal,
disebabkan oleh balutan erat.

Thomas and asistennya ( 1980 ) menunjukkan bahwa perawat belajar untuk


mendapat jumlah tegangan yang benar ketika memperban seolah-olah latihan. Untuk
mengembangkan kemampuan pada mengukur tekanan dan tegangan ketika
menerapkan perban itu sangat berguna bagi perawat untuk latihan kerekannya atau
dirinya sendiri.
41

Dia dapat melakukan ini dengan menggunakan sphygmomanometer; untuk tekanan


medium cuff diletakkan pada pergelangan kaki dan mengembung sampai 40 mmHg
dan pada betisnya mengembung sampai 20 mmHg. Itu seharusnya terasa kuat dan
mendukung tapi tidak erat. Dia dapat kemudian melatih menerapkan perban untuk
mencapai efek yang sama.

Perawat seharusnya selalu membaca petunjuk dari pabrik ketika mengukur


tegangan untuk mencari tahu bahwa berapa banyak perban seharusnya diregangkan
pada penggunannya. Dia dapat melatih meregangkan perban dengan membuka
gulungan sekitar 2 m dari perban baru dan menandai dengan membuka,
membentangkan secara lebar, interval 10 cm. Dia kemudian memakai perban dan
mengukur jarak antara tanda. Seandainya, contonhnya, jarak antara tanda sekarang
adalah 13 cm perban telah diregangkan sampai 30%. Keseragaman interval kenaikan
akan menunjukkan bahwa tegangan yang telah dipakai sama.

Elastisitas
Pengaturan Elastisitas perban Menentukan:

 Berapa banyak tegangan yang diperlukan untuk mencapai tekanan yang


dibutuhkan
 Bagaimana baiknya dalam mengatur tekanan
 Betapa menyenangkan itu untuk dipakai ( Dale 1985 )

Ada variasi sekali dalam pengaturan pada tipe perban yang berbeda-beda.
Contohnya, perban kapas regangkan memerlukan sedikit kekuatan untuk
menghasilkan perpanjangan tertentu daripada kain yang kerut atau kapas yang kerut.
Semua perban cenderung kehilangan tegangan pada penggunaan yang terlalu lama.
Pengenduran ini dari tipe perban yang berbeda-beda.
TUJUAN MEMPERBAN

a. Untuk mengompres atau membantu bagian dari yang luka supaya pergerakan
terbatas.
b. Untuk melindungi dalam melawan edema yang dapat terjadi pada luka.
c. Untuk melindungi dalam melawan kontaminasi apapun yang dapat
menyebabkan infeksi.
d. Untuk melindungi atau menahan balut lain.
e. Untuk menahan tepi kulit terluka bersamaan.
42

TIPE PERBAN

1. Kain Segitiga ( Fig. 15 )

a. Perban bentuk segitiga, terbuat dari kain, setiap lebarnya 50-100 cm


b. Digunakan untuk bagian tubuh, yang mana telah bulat dalam bentuk, atau
untuk membantu luka pada bagian tubuh.
c. Selalu digunakan untuk luka pada kepala, bahu, dada, tangan, pinggul, kaki,
atau untuk membantu lengan.

Fig. 15. Kain segitiga ( mitela )

2. Bentuk Tali ( Fig. 16 )

a. Kain segitiga melipat banyak kali.


b. Selalu digunakan untuk memperban mata, semua bagian kepala atau muka,
rahang, axilla, lengan, siku, kaki, lutut dan kaki.
43

Fig. 16. Membuat perban dari kain segitiga

3. Kain pembalut bentuk roll

a. Perban ini biasanya dibuat bentuk katun, kain kasa, flanel, atau bahan elastis.
Kebanyakan dibuat bentuk kain kasa karena dengan mudah menahan air dan
darah, dan tidak mudah longgar.
b. Macam perban:
 Lebar 2.5 cm : digunakan untuk jari
 Lebar 5 cm : digunakan untuk leher dan pergelangan tangan
 Lebar 7.5 cm : digunakan untuk kepala, lengan, daerah tulang
betis dan kaki.
 Lebar 10 cm : digunakan untuk daerah paha dan pinggul
 Lebar 10-15 cm : digunakan untuk dada, perut dan punggung
c. Putaran dasar untuk perban roll:
 Putaran bundar ( Fig. 17 )
Ketika menggunakan putaran bundar, perban membungkus sekitar
bagian tubuh dengan selesai meliputi dari putaran perban sebelumnya.
Itu digunakan terutama untuk penjangkaran sebuah perban.
44

Fig. 17. Tehnik dari putaran bundar dengan putaran awal

 Putaran Spiral ( Fig. 18 )


Ketika menggunakan putaran spiral, perban dinaikkan secara spiral
jadi setiap putaran meliputi yang terdahulu satu demi satu setengah
atau 2-3 lebar dari perban. Putaran spiral berguna ketika bagian tubuh
berbentuk silinder, seperti bagian disekitar pergelangan tangan, jari
dan tubuh.
45

Fig. 18. Tehnik putaran spiral dengan putaran awal

 Putaran spiral-terbalik
Sebuah putaran spiral-terbalik adalah putaran spiral yang mana
berkebalikan dibuat setengah jalan setiap putaran. Putaran spiral-
terbalik terutama sekali efektif untuk memperban bentuk kerucut pada
bagian tubuh, seperti paha, kaki, dan lengan bawah.
46

Fig. 19. Tehnik putaran spiral terbalik dengan putaran awal

 Putaran Spica
Putaran spica terdiri dari penaikan dan penurunan putaran meliputi dan
persilangan satu dengan yang lain untuk membentuk sebuah segi. Itu
terutama sekali berguna untuk memperban ibu jari, dada, bahu, kunci
paha dan pinggul.
47

Fig. 20. Tehnik putaran spica dengan putaran awal


4. Plester
a. Perban ini digunakan untuk menutup luka, untuk
melumpuhkan tulang dan untuk menghentikan kerusakan
tulang.
b. Ini biasanya digunakan antiseptik, terutama untuk menutup
luka.
48

Fig. 21. Alat Perban

5. Perban Khusus

a. SNEVERBAND : Perban bentuk pembalut dengan kain kasa steril, digunakan


ketika ada luka lebar yang membutuhkan untuk disembuhkan.
b. SOFRATULLE : Kain kasa steril dengan kream antibiotik. Biasanya
digunakan untuk luka yang kecil.

6. Kain Kasa Steril

a. Kain kasa dapat dipotong sampai bervariasi bentuk, untuk menutup


luka kecil, yang mana telah mendapat perawatan dengan antiseptik,
antiplagestik, atau antibiotik.
b. Setelah menutup luka dengan kain kasa, luka boleh diperban.

PRINSIP DALAM MEMPERBAN

1. Pilih tipe perban yang tepat, lebar dan panjang.


2. Dimana kemungkinan menggunakan perban baru; perban elastris, teliti,
kehilangan elastisitasnya setelah digunakan atau dicuci.
3. Memaastikan Kulit pasien bersih dan kering.
4. Menutup luka sebelum memperban bagian/ area yang luka.
5. Periksa denyut nadi, jika dibutuhkan.
6. Jika tepat, tambahkan lapisan untuk mengambil resiko tekanan.
7. Minta pertolongan seandainya bagian dari bagian tubuh yang terkena
membutuhkan bantuan selama proses memperban.
8. Perban bagian tubuh pada posisi yang kau inginkan itu dirawat.
49

9. Perban dari kecil ke besar secara melingkar untuk membentuk perban semakin
dekat pada bagian tubuh yang terkena.
10. Seandainya memungkinkan, perban pada posisi venous darah kembali untuk
menghindari darah menggenang.
11. Pelihara tegangan pada perban sama, ini membantu dengan memastikan
bahwa bagian tak diperban terjaga tetap dekat dengan permukaan tubuh.
12. Memastikan bahwa perban meliputi semua dan bahwa perban tidak memiliki
kusut dan kerut.
13. Yakin untuk memperban bagian tubuh baik atas dan bawah area yang terkena,
tapi tinggalkan jari atau jari kaki mengarahkan jadi neurovascular observasi
dapat dilakukan.
14. Potong perban seandainya terlalu panjang; jangan “ Menggunakan “ perban
dengan menambah putaran lebih ketika selesai.
15. Tutup rapat bagian akhir dari perban, pastikan pasien tak dapat menyakiti
dirinya sendiri.

PROSEDUR MEMPERBAN

1. Pertama jawab pertanyaan ini:


a. Bagian tubuh yang mana luka?
b. Apakah lukanya terbuka atau tertutup?
c. Berapa kira-kira lebar atau diameter dari luka?
d. Apa luka membatasi pergerakan dari beberapa tulang?
2. Pilihlah perban yang tepat, kau dapat mengkombinasikan lebih dari satu.
3. Seandainya ada luka, kau harus membersihkannya pertama dengan obat
pembasmi kuman. Seandainya ada tulang terlepas dari bahu, itu harus
dikembalikan pertama sebelum diperban.
4. Memilih posisi dari Perban, berdasarkan pada:
a. Batasi gerakan tulang yang butuh untuk dilumpuhkan.
b. Jangan membatasi tulang normal.
c. Coba untuk memperban sesuai cara agar pasien merasa nyaman.
d. Jangan membatasi pembuluh darah. Seandainya perban harus dibulatkan,
bulatan yang terdalam seharusnya dalam keadaan distal.
e. Memastikan perban tidak dapat dengan mudah longgar

1. Perban Kain segitiga

a. Lipat satu sisi dari kain segitiga, 3-4 cm, 1-3 kali.
50

b. Gunakan bagian tengah dari lipatan sebagai bagian luar dari perban, kemudian
eratkan kedua akhir dari mittella.
c. Gunakan akhir ketiga yang masih bebas untuk mengeratkan perban atau jaga
itu longgar tergantung pada fungsi dari perban.

2. Perban Bentuk Tali

a. Lipat satu sisi dari kain segitiga banyak kali, sampai menjadi perban bentuk
tali.
b. Tempatkan perban pada luka dan eratkan kedua ujungnya.
c. Periksa perban tidak terlalu longgar dan tidak terlalu erat.

3. Perban Roll regang

a. Pilih berat yang benar dari perban bedasarkan diameter dari luka.
b. Tempatkan perban dari proximal ke distal ( b ) , kemudian mulai untuk
c. Eratkan perban.

4. Perban Plester

a. Buka Luka
 Pertama gunakan antiseotiktasi
 Tutup dengan kasa steril
 Menunjukkan memperban

b. Menetralkan ( otot keseleo atau tulang patah )


Tutup luka dengan lapisan untuk membuat “ pengikat “ dari distal sampai
bagian proximal. Kadang-kadang itu akan membutuhkan pembalut untuk
membatasi gerakan, kuatkan kedua ujungnya dengan plester.

5. Perban Kain Kasa steril

Kasa steril dapat selalu dibeli di took obat atau apotik, dan dapat digunakan langsung
dari bungkusan setelah diterima.
51

Contoh Penggunaan

1. Kain Segitiga
a. Luka calvarias cranium
52
53
54

b. Luka Dada
55

c. Luka Lengan bawah


56

d. Luka kaki
57

2. Perban bentuk Tali

a. Luka Mata
58

b. Luka Dagu
59

c. Luka Ketiak
60

d. Luka Siku
61

3. Perban rol elastic

a. Luka Kepala Prosedur 1


62
63
64

b. Luka Kepala prosedur 2


65
66

4. Perban bentuk pembalut untuk lengan

Luka lengan
67

5. Perban bentuk pembalut untuk tumit

Luka Tumit
68

6. Perban bentuk pembalut untuk tangan

Luka Tangan
69

Membalut

Kondisi untuk membalut

a. Persiapkan Bahan dengan lengkap.


b. Balut melewati 2 tulang. Sebelum itu, Kau seharusnya mengatur panjang dengan
tepat untuk membelat pada bagian tidak terluka ditubuh.
c. Memastikan belatan tidak terlalu erat dan tidak terlalu longgar.
d. Lilitkan belatan pada Kasa sebelum digunakan.
e. Ikat belatan pada pasien dengan menggunakan Kasa di bagian proximal dan distal
luka/patah tulang.
f. Setelah melakukan belatan, cobalah untuk mengangkat bagian terbalut pada
tubuh.
g. Lepaskan kaos kaki, Jam tangan, perhiasan, atau semua aksesoris lain sebelum
melakukan belatan.
70

Contoh Patah Tulang yang butuh dibelat:


Patah Tulang pada lengan
71

Prosedur dalam Pelatihan

Setiap Siswa memilih seorang patner/rekan untuk menunjukkan proses membalut:


1. Menggunakan Kain Segitiga
a. Membalut Luka pada kepala
b. Membalut Luka pada dada kiri atau kanan
c. Membalut luka lengan bawah
d. Membalut luka kaki

2. Menggunakan Kasa bentuk Tali


Membuat Kasa bentuk tali menggunakan mitella untuk membalut :
a. Luka mata kiri atau kanan
b. Luka dagu
c. Luka ketiak kiri atau kanan
d. Luka siku kiri atau kanan

3. Menggunakan Kasa bentuk gulung untuk luka kepala ( 2 macam tehnik )\

4. Menggunakan Kasa bentuk pita untuk luka lengan, tumit dan tangan.\

5. Menunjukkan cara membelat patah tulang pada kaki atau lengan.


72

NO Kriteria Score
0 1 2
1 Pemeriksa harus berada di sebelah kanan pasien,
kecuali yang kidal
2 Jelaskan prosedurnya kepada pasien
3 Sebaiknya posisi pasien duduk atau berbaring
4 Rileks, lepas baju, perhiasan, dan jam kalau diperlukan
5 Buka lubang raksanya dari sphygmomanometer, periksa
lubangnya dengan cara menempatkan
sphygmomanometer dalam posisi tegak lurus
6 Cek dan gunakan bel permukaan stetoskop
7 Tempatkan manset stetoskop disekeliling lengan atas
dengan baik. pastikan manset itu tidak terlalu ketat,
sekitar 2.5-5 cm di atas siku
8 Identify and palpate denyut pembuluh darah ditengah-
tengah “fossa cubiti” menggunakan ibu jari
9 Dengan ibu jari berada di pembuluh darah atau jari urat-
urat darah, pompa manset 30 mmHg diatas hilangnya
denyut pembuluh/urat-urat darah, catat hasilnya
10 Pelan-pelan kurangi tekanan manset, sampai kita bisa
merasakan denyut pembuluh/urat-urat darah, catat ini
sebagai Palpated Systolic Pressure
11 Tempatkan bel stetoskop di pembuluh darah tangan
12 Pompa manset menjadi 30 mmHg diatas Palpated
Systolic Pressure
13 Pelan-pelan kurangi tekanan manset menjadi sekitar 2-3
mmHg /detik, sampai denyut pertama pembuluh darah
terdengar, catat ini sebagai Tekanan Systolic
73

NO Kriteria Score
0 1 2
Lanjutkan pengurangan tekanan manset pelan-pelan,
14 sampai denyut pwmbulu darah tidak terdengar lagi,
catat ini sebagai Tekanan Diastolic
15 Laporkan hasil dari Systolic dan Diastolic Pressure
(Kepada pasien dan pengamat)
16 Kembalikan manset ke tempatnya setelah kau mencatat
definisi tekanan Systolic dan Diastolic. Jika kau tidak
yakin dengan hasil yang kau dapatkan, tunggu
beberapa menit dan ulangi pemeriksaan ( penting jika
kau menunggu beberapa menit lalu memeriksa ulang
jadi kau bisa menjamin ketepatan dari hasil
pengulangan)
Total Score

Penjelasan:

Hasil 0: Tidak Selesai

Hasil 1 : Selesai Tak Sempurna

Hasil 2 : Selesai Sempurna

% Penjelasan Kemampuan = Hasil Total/ 32 X 100% = %

Yogyakarta,

Koordinator/Instruktur Pengamat
74

Name: Name:

Daftar Untuk Pemeriksaan Denyut Radial

Criteria Score
No 0 1 2
1 Pemeriksa harus berada di sebelah kanan pasien,
kecuali yang kidal
2 Jelaskan prosedurnya kepada paien
3 Minta kepada pasien untuk duduk atau berbaring
4 Rilekskan tangan pasien, lepaskan perhiasan dan
jam jika dapat dipakai
5 Cek denyutnya dengan menggunakan dua atau tiga
jari, palpate the radial artery
6 Hitung jumlah denyut dalam 1 menit. Dengan cara
menghitung jumlah denyut dalam 15 detik lalu x4
atau menghitung jumlah denyut dalam 60 detik
7 Catat frekuensi denyut selama 1 menit, amplitude
and regularity
Total Score

Penjelasan:

Hasil 0: Tidak Selesai

Hasil 1 : Selesai Tak Sempurna

Hasil 2 : Selesai Sempurna

% Penjelasan Kemampuan = Hasil Total/ 14 X 100% = %

Yogyakarta,
75

Koordinator/Instruktur Pengamat

Name: Name:

Daftar Untuk Pemeriksaan Temperatur Tubuh Axillary

No Kriteria Score
0 1 2
1 Pemeriksa harus berada di sebelah kanan pasien,
kecuali yang kidal
2 Jelaskan prosedurnya kepada paien
3 Minta kepada pasien untuk duduk atau berbaring
4 Kibaskan termometer sampai air raksanya turun
menjadi 35.5oC
5 Masukkan termometer di ketiak
6 Tunggu 5-10 menit, catat hasilnya
Total Score

Penjelasan:

Hasil 0: Tidak Selesai

Hasil 1 : Selesai Tak Sempurna

Hasil 2 : Selesai Sempurna

% Penjelasan Kemampuan = Hasil Total/ 12 X 100% = %

Yogyakarta,

Koordinator/Instruktur Pengamat
76

Name: Name:

Daftar untuk Pemeriksaan Pernapasan

No Kriteria Score
0 1 2
1 Pemeriksa harus berada di sebelah kanan pasien,
kecuali yang kidal
2 Jelaskan prosedurnya kepada paien
3 Minta kepada pasien untuk duduk atau berbaring
dan melepaskan baju kalau diperlukan
4 Dari pemeriksaan or palpation dengan 2 tangan di
dada, hitung jalan pernapasan dalam 15 detik atau
60 detik
5 Catat jalan pernapasan selama 1 menit, luas, dan
tetap
Total Score

Penjelasan:

Hasil 0: Tidak Selesai

Hasil 1 : Selesai Tak Sempurna

Hasil 2 : Selesai Sempurna

% Penjelasan Kemampuan = Hasil Total/ 10 X 100% = %

Yogyakarta,

Koordinator/Instruktur Pengamat
77

Name: Name:

Daftar Untuk Perban

NO Kriteria Score
0 1 2
1 Buat perasaan dan hubungan komunikasi
2 Periksa dan palpitated bagian tubuh yang luka, periksa
jarak dari gerakan
3 Pilih perban yang tepat untuk luka tersebut
4 Lakukan pertolongan pertama (gunakan disinfektan,
aplikasi dari kasa, repositioning)
5 Prosedur benar
6 Hasil perban : terlalu kuat? Mudah terlepas? membatasi
gerakan normal tulang?
7 Pemeriksaan ulang distal and bagian
proximal/surroundings pertanyaan langsung dan
pemeriksaan of sensation, denyut, edema, temperatur
and gerakan
8 Berikan nasihat kepada pasien agar merawat lukanya
dengan baik, kemungkinan efek samping, seandainya
ada dan penyokong (Ketika perban harus diperiksa )
Total Score

Penjelasan:

Hasil 0: Tidak Selesai

Hasil 1 : Selesai Tak Sempurna

Hasil 2 : Selesai Sempurna


78

% Penjelasan Kemampuan = Hasil Total/ 16 X 100% = %

Yogyakarta,

Koordinator/Instruktur Pengamat

Name: Name:

Daftar Untuk Balutan

NO Kriteria Score
0 1 2
1 Bangun Perasaan dan hubungan komunikasi
2 Periksa dan palpitated bagian tubuh yang luka, periksa
jarak dari pergerakan
3 Pilih balutan yang tepat untuk dicurigai/patah tulang
tersebut
4 Lakukan pertolongan pertama (gunakan disinfectant,
aplikasi dari kasa, penempatan ulang,
pemakaian/perban)
5 Prosedor tepat, balut melewati 2 tulang sendi pada
proximal dan distal tulang patah
6 Hasil perban : terlalu kuat? Mudah terlepas? mambatasi
gerakan tulang normal? menghentikan luka ekxtrim?
7 Pemeriksaan ulang bagian distal dan proximal/
mengelilingi melewati pertanyaan dan pemeriksaan
sensasi, denyut, edema, temperature dan gerakan
8 Memberikan nasihat kepada pasien ( Transportasi
ambulatory)
Total Score

Penjelasan:

Hasil 0: Tidak Selesai

Hasil 1 : Selesai Tak Sempurna


79

Hasil 2 : Selesai Sempurna

% Penjelasan Kemampuan = Hasil Total/ 16 X 100% = %

Yogyakarta,

Koordinator/Instruktur Pengamat

Name: Name: