Anda di halaman 1dari 77

Hery Sonawan

Rochim Suratman

Pengantar Untuk Memahami proses

Ig11golasan LoUA11

Penerbit ALFAB ETA Bandung


Kata Pengantar

Buku "Pengantar Untuk Memahami Pengelasan Logam" ini


berisi materi yang umum dijumpai dalam kasus pengelasan.
Hanya saja isi dari buku ini memperbanyak penjelasan atau
pemaparan suatu masalah pengelasan. Tujuannya tidak lain agar
para pembaca lebih cepat dan mudah memahami suatu
permasalahan dalam pengelasan. Dalam menjelaskan suatu
permasalahan pengelasan itu, penulis juga sengaja
memperbanyak gambar atau ilustrasi untuk mencapai tujuan tadi.
Materi yang ada dibuku ini sebenarnya merupakan
pen gembangan materi yang ada pada modul pelatihan pengelasan
baik pelatihan terakreditasi maupun yang tidak terakreditasi. Oleh
karenanya buku ini dapat dipakai sebagai bahan rujukan untuk
mengikuti pelatihan-pelatihan dalam bidang pengelasan ataupun
bentuk apapun, sebagai bahan kuliah pengelasan logam. Tidak lupa pula,
Dilarang memproduksi seluruh atau sebagian buku ini dalam
tanpa izin tertulis dari penerbit. informasi-informasi terbaru sekitar dunia pengelasan dari
ggar berbagai website di Internet juga memberikan sumbangan yang
F.iln gg"tut' terhadap ketentuan te-rs.ebut dapat dian g gap m elan
UnOai{-undang Hak Cipta Republik lndonesia' cukup besar bagi isi buku ini.
@ All Rl}ht Reserued .
Akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih kepada
diiindur,gi lJndang'iindang penerbit CV Alfabeta yang sudah memberikan kesempatan untuk
llakEipta @
untuk menerbitkan buku ini. Semoga buku ini banyak
Tek-06 memberikan manfaat, terlepas dari segala kekurangan yang ada.
"iudul Buku PenEantar Untuk lvtemahami Proses Pengelasan Lcgam Terima kasih.
Penulis Hery Sonawan dan Rcchim Suratman
Desain Kulit Qumqum
Cetakan ko-2 Februad 2006
Penerbit A.lhbeta, o, Bandung, Desember 2oo3
email: alfabeta-ba@yahoo.com
97$843&99.4 Penulis,

Anggota lkatan Penerbit lndonesia


IKAPI Hery Sonawan

Kata Pengantar
Daftar Isi 7.5. Prcdiksi Stnrktur Mikro Logam Las
Melalui Diagram Schaeffler /De lnng/WRC 93.
Hal
8. Pengelasan Besi Cor to7.
I
8.r. Dasar-dasar Pengelasan Besi Cor ro7.
Kata Pengantar 8.2. Metalurgi Pengelasan Besi Cor
Daftar Isi ii ttz.
8.3. Pengelasan Besi Cor Kelabu t2r.
1. Definisi Pengelasan, Tinjauan Ulang Proses
9. PengelasanAluminium 127.
Pengelasan dan Mampu [,as
r.r. Definisi Pengelasan 9.r. Dasar-dasar Pengelasan Aluminium r27.
9.2. Permasalahan [.ain Dalam pengelasan
r.z. Tinjauan Ulang Berbagai Proses pengelasan Paduan Aluminium 131.
r.3. Mampu I.as (weld-ability)
9.3. Retak [ogam [,as r34.
9.4. Operasi Pengelasan Paduan Aluminium
2. Terminologi Hasil Pengelasan Dengan GTAW 135.

3. Jenis-jenis dan Pemilihan Sambungan Daftar Pustaka 139.


[,ampiran r40.
4. Pengaruh Parameter Pengelasan dalam
Pengelasan Busur Listrik

5. Pengelasan Baja Karbon dan Baja Paduan


5.r. Dasar-dasar Pengelasan Baja Karbon
5.2. Retak Dingin (cold cracking)

6. Metalurgi Pengelasan Baja Karbon


6.r. Siklus Termal
6.2. Diagram Fasa Kesetimbangan
6.3. Pendinginan Baja Hipo-eutektoid
6.4. Struktur Mikro Hasil Pengelasan Baia Karbon
6.5. Tegangan Sisa"
6.6. Perlakuan Panas

Z. Pengelasan Baja Tahan Karat 8e.


7.r. Dasar-dasar Pengelasan Baja Tahan Karat 82.
7.2. Pengelasan Baja Tahan Karat Martensitik 8+.
7.3. Pengelasan Baja Tahan Karat Feritik 8s.
7.4. Pengelasan Baja Tahan Karat Austenitik 88.

lll
1l Definisi Pengelasan, Tinjauan Ulang
Proses Pengelasan, dan Mampu Las.

t.l. Definisi Pengelasan


Pengelasan merupakan salah satu bagian yang tak
terpisahkan dari proses manufakrur. Proses manufaktur lainnya
yang telah dikenal antara iain proses-proses pengecoran (metal
casting), pembentukan (metal forming), pemesinan (machining),
dan metalurgi serbuk (powder metallur&v). produk dengan
bentuk-bentuk yang mmit dan berukuran besar dapat dibuat
dengan teknik pengecoran. Produk-produk seperti pipa, pelat dan
lembaran, baja-baja konstruksi dibuat dengan proses
pembentukan. Produk-produk dengan dimensi yang ketat clan
teliti dapat dibuat dengan pemesinan. Bagaimana dengan proses
pengeiasan ? Proses pengelasan yang pada prinsipnya adalah
menyambungkan dua atau lebih komponen, lebih tepat ditrrjukan
untuk merakit (assembly) beberapa komponen menjadi suatu
bentuk mesin. Komponen yang dirakit mungkin saia berasal dari
produk hasil pengecoran, pembentukan atau pemesinan, baik dari
logam yang sama maupun berbeda-beda.
Pengelasan (WELDING) adalah salah satu teknik
penyambungan logam dengan cara mencairkan sebagian logam
induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan
atau tanpa logarn tambahan dan menghasilkan sambungan yang
kontinu. Dari definisi tersebut terdapat 4 kata kunci untul
menjeiaskan de{inisi pengelasan yaitu meucairkan sebagian
logarn, logam Lensisi. tgkanan dan sambungan kontinu. fiari
definisi diatas, proses pengelasan dapat dibtrat skernanya sebagai
berikut:
Sebagian logam induk
yang mencair

logam Induk
Gambar l-1. Skema Definisi Proses Pengelasan

Definisi Pengelasan
Proses penyambungan lain yang telah dikenal lama selain
pengelasan adalah penyambungan dengan cara BRAZING dan
t. Prrr.sc.s SMAW (Shielded Metal Arc flelding) atau
SOlogruNG. Perbedaannya dengan pengelasan adalah pada
peng e lasan busur lrsrrik elektroda terbung hs
brazing dan soldering tidak sampai mencairkan logam induk
hanya logam pengisinya saja. Sedangkan perbedaan antara Proses SMAW, saat ini juga dikenal dengan istilah proses
brazing dan soldering terletak pada titik cair logam pengisinya. MMAW (Manual Metal Arc lYelding). Dalam pengelasan ini,
Titik *ir logu* pengisi proses brazing berkisar 45ooc - goooc. logam induk mengalami pencairan akibat pemanasan dari busur
Sbdangkan untuk soldering, titik cair logam pengisinya kurang listrik yang timbul antara ujung elektroda dan permukaan benda
dari 45ooC. kerja. Busur listrik yang ada dibangkitkan dari suatu mesin las.
Elektroda yang dipakai berupa kawat yang dibungkus oleh
pelindung berupa fluks dan karena itu elektroda las kadang-
1.2. Tinjauan tllang Berbagai Proses Pengelasan kadang disebut kauat las. Elektroda ini selama pengelasan akan
mengalami pencairan bersama-sama dengan logam induk yang
menjadi bagian kampuh las. Dengan adanya pencairan ini maka
kampuhlas akan terisi oleh logam cairyangberasal dari elektroda
Pengeloson dan logam induk. Untuk lebih jelasnya, proses SMAW ini dapat
(welding) dibaca pada buku "Las Listrik SMA.W dan Pemeriksaan
Hasil Pengelasan' yang ditulis oleh Ir. Hery Sonawan, MT. dan
diterbitkan oleh Penerbit CV. Alfabeta.
Untuk dapat mengelas dengan proses SMAW diperlukan
Pengeloson mencoil Pengeloson tok mencoir beberapa peralatan, seperti mesin las, kabel elektroda dan
(fusion welding) (solid stote welding) pemegang elektroda, kabel logam induk dan penjepit logam
induk dan elektrodo. Peralatan lain yang juga perlu disediakan
Gambar l-2. Bagan Klasifikasi Proses Pengelasan
adalah topeng las (welding mask), sarung tangan dan jas
pelindung.

Dari bagan diatas, dapat dilihat bahwa proses pengelasan Berikut ini adalah skema dari proses SMAW lengkap dengan
bagian-bagiannya.
dapat dibagi menjadi 3 bagian utama, yaitu peng_elasan mencair
(fuiion welding), pengelasan tidak mencair (solid state weiding)
ET#roda
dan soldering/-brazing. Dengan demikian, dalam melaksanakan
pengelasan diperlukan alat untuk mencairkan I ogam dan atau alat Fluks
untuk memanaskan dan menekankan kedua bagian logam yang las
akan disambungkan. Peralatan pencair dan atau pemanas logam
Gas pelindung
dapat didasarkan pada penggunaan energi listrik, ene-rgi gas atau Logam cair
busur
energi mekanik. Berikut ini adalah beberapa prinsip dasar proses Kubangan las Terak
pengelasan seperti yang dimaksud diatas- (w4d
Daerah
pengaruh panas
Gambar l-3. Skema Proses SMAW / MMAW

Definisi Pengelasan
3 Definisi Pengelasan
Kawat [,as
Selain mencairkari kawat las yang nantinya _membeku KonduktorArus
Selang Gas
rnerr-..li loganr hs, busur lisillk jug3 ikut mencairkan fluks. Pelindung
It..];;.. **L ;-.^i;nya yang lcbih kecil dari logam las- rnaka flul<s
Arah Pengelasan
ii^^ L-i.^da .l.i-ta; logarl; las pada saat cair. Kemudian setelah (-
nieii^l;eko, fluks ;air ini rnci:,jadi terak yang menutupi logam las'
DeiiSan demikian, flulis cair akqn rnelindungi kubangal lu. Tabung Kontak
selarrra mencair dan terak melindungi logam las selama Gas Pelindungf-a Busur Listrik
pembekuan. Tcrak lni aa:rtini'a harus dihilang\an - dari Logam Las
Kawat l,as/
iernrukaan logarrt las tiengan nrenggunakan palu atau digerinda. Elelitroda

2. Proses GMAW (@s Metal Arc flelding) t ogamlas


Gambar l-4. Skema Proses GMAW / MIG
Proses pengelasan ini juga disebut dengan MIG (Metal Inert
Gas). proseilain yang serupa dengan MIG adalah MAG (Metal
Active Gas). perbedainnya adalah terletak pada gas pelindung Untuk dapat mengelas dengan proses GMAW diperlukan
yang digunakan. Pada MIG digunakan gas pelindung berupa gas beberapa peralatan. Peralatan yang dipakai dalam pengelasan
GMAW ini ditunjukan dalam gambar dibawah ini.
irr".t seperti Argon (Ar) dan Helium (He), sedangkan pada MAg
digunakan gas-gas seperti Ar + CO,, 4* * 9" atau COr. grinsln
daiar dari proses GMAW ini tidak jauh berbeda dengan sMAW
yaitu penyambungan diperoleh dari proses pencairan sambungan Peogafr Kec. Kau6tLas Gulunsan
Kawat'I-as
iogr* induk dan elel.trodayang nantinya membeku membentuk Pengafur Sisterr
logam las. Selang Gas Keluar

Perbedaan lain yang cukup terlihat antara GMAW dan Pe,ngaor Gun
WeldingGun
SMAW adalah pada pemakaian jenis peiindung logam las. Pada
SMAW pelindung logam las benrpa fluks, sedangkan pada GMAW
pelindung ini berupa gas. Gas yang dimaleud bisa_fnerf atau Motry Pcoarik
Actiue.Oengan demikian karena tidak menggunakan fluks, maka
hasil peng"i*.urrrryu tidak terdapat terak. Proses GMAW ini selain
dipakai untuk mengelas baia karbon juga sangat baik dipakai kngair
Kotraktor Mesin las
untuk mengelas bc.7c tahon karat atau stafnless steel dan
mengelas logam-logam lain yang afinitasnya terhadap Oksigen Gambar l-5. Peralatan dalam proses GMAW
sangat besarseperti Aluminium (AI) dan Titanium (Ti).

n^C-:.i Dannolacan 5 Definisi Pengelasan


3. Proses GTAW (@s lungsten Arc flelding) 1. Proses SAW (submerged arc utelding )

Proses ini termasuk pengelasan mencair dimana sebagian


Tabung kontak/
Iogam induk mencair akibat pemannsan busur listrik. Seperti pada pengarah kawat las
proses SMAW dan GMAW, pada proses GTAW ini, busur listrik Elektroda/
kawat las
timbul. diantara ujung elektroda dan permukaan benda kerja.
Pena
Prinsip dasar dari proses GTAW ini tidak jauh berbeda dengan serbuk fluks
GMAW. Pada proses ini juga digunakan gas pelindung seperti Serbuk Fluks
Argon dan Helium sebagai pelindung kubangan logam las.

KonduktorArus
Selang Gas
+_
Arah Pengelasan
Pelindung

Kawat Las [-.Gas Pelindung


Gambar l-7. Skema Proses SAW
)'-1 Busur Listrik
Logam [,as
logam Induk Proses las busur listrik lainnya yaitu las busur rendam
(SAW). Dalam proses ini, busur listrik dan proses suplai logam las
Elektroda
Tungsten dari kawat las berlangsung dalam keadaan terEutupi oleh serbuk
logam Ias fluks. Selama proses pengelasan, busur listrik selain mencairkan
Gambar l-6. Skema Proses GTAW / TIG ujung kawat las juga ikut mencair sebagian logam induk dan
."bu[i^, serbukfluks. Oleh karena itu selama pembekuan, logam
Adapun perbedaan yang cukup nyata adalah pada las terlindungi oleh terak dan serbuk fluks yang tersisa.
penggunaan material elektroda. Pada GMAW, elektroda juga Perbedaannya dengan proses SMAW yaitu :
berperan sebagai penyuplai logam las dan oleh karenanva maka
eiektroda ini terbuat dari logam yang mirip dengan logam induk
a. Pada proses ini kawat las disuplai terus menerus dari sebuah
gulungan kawat las, sehingga proses pengelasa-nn,va dapat
dan ikut mencair. Pada GTAW, elektroda terbuat dafiTungsten
(Wolfrarn) yang tidak ikut mencair. Untuk menyuplai logam las berlangsung secara kontinu tanpa ada penundaan waktu
untuk mengganti kawat las'
diperlukan kawatlas (logam pengisi / filler metal) yang diberikan
secara manual. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada b" penggunaan arus las lebih tinggi sehingga meningkatkan laju
proses GTAW ini, logam pengisi atau kawat las dapat diberikan deposisi logam ias" Dengan kelebihannya ini, pengisian
pada sambungan ataupun tidak sama sekali. kampuh las dapat dilakukan dengan waktu yang lebih
singkat.
Proses GTAW kebanyakan dipakai untuk mengelas logam-
logam seperti Baja tahan karat (stainless steel), Aluminium dan c. Akibat penggunaan arus las tinggi maka mempertinggi
Titanium. t ogam-logam tersebut memerlukan perhatian khusus kecepatan Pengelasan.
selama proses pengelasannya. d. Asap hampir tidak ada selama proses pengelasan.
Definisi Pengelasan
e' Kubangan
fogam las dan busur ristrik tidak terrihat karena
tertutupi oleh serbuk fluks. N-vala apiyang dihasilkan di ujung torkh (nosel) merupakan
f' Proses sAw hasil pclband.ingan gas oksigen (O") Can ges asetilen (C"tr{"). Jika
.ini umumnya tidak d,akukan dengan cara
manuar akan tetapi pcrbanJirtai gas cluigcn Can a::tilen era:abcsar atau I : t rnaka
dengan mekanism" r".i-trmatis
otomatis. atau Cihasilllen jenis nyala netrc.l. lli ala i:r dip:l::i;ila akan n:engelas
selain mem,iki beberapa keunggulan baja, bcsi ccl, baja tahan karat Cen tcnbage. Jenis n3'ala kedua
proses las busur ristrik luin.ryu, dibandingkan dengan adalah ni'ela larburesi drmana tekgns,n gas asetilen lebih besar
kelemahan, seperti ,
u -' frio.". sAw
' i;ij;;,
memiliki dari gas oksigen atau rasio C, : C,ll" < r. ll1'ala ini Cipakai untuk
l<eperluan pclapisan (harCfaeing), bradng dan pengelasan
a' Karena tinsqinya arus pexgelasan
maka menghasilkan dilusi alu ni iniuni dan logam non-ferro lainnya, dan pengelasan besi cor.
v'ang cu ku p besa.r (u ntuk -pemlahas; i;;'#;
pembahasan tentang Terminologi d, usi, r i hat
Hasil p;"Su?uru.rl.
Keruclrt dalam (silau dan pendek)
b. Efek lain dari tingginya arus pengelasan adalah
distorsi hasil pengeluru.r. tingginya
c' Hanya dapa! d,akukan pada posisi pengerasan Nyala Oksidasi -
atau horisontal. mendatar
Pelindung Luar (kuning,
contoh aplikasi las sAWadalah pengelasan Kerucut dalam bersirip dan panjang)
pipa (baik daram arah (silau dan lebih panjang)
longitudinal ataupun.kerilinl Pelindung Luar
oir.i
induJri;"il'u,ru,un
tangki besar 8al Jf".u'i p"ru!iJ*'i..I.r""irgkapar
(kecil dan sempit)

l?safilillasan i* Nyala Netral


:.----
----.-.
S. los oftsf-osetilen (oxy_acetylene welding)
Pelindung Luar
.:rT.?""\ Kerucut dalam (nyala biru)
liy.
l:T,:t-,uli pengelasan men ca i r adat ah
i5'#:ili"::.T^:Fj_.:ttrFi;t-i;?ffi ;ffi ;i,ffi ;"Tllt,,tr
I as (kabur)

y::::!:T1li:.c"s.Dari,"*;;;,;;;;ffii;H'#l#ffi : N1-ala Karburasi


gas Asltirln
f: :^k",9:1
fT::'"" panas
panas. yang9"" "*turo'*i*nslrurilkan Nyala kuning
dihasilkan sebenarnva (daerah karburasi)
berasal dari nyala api yang Regulator Gas Garnbar t-9. Perbedaan Jenis Nyala Api Pada Pengelasan Oksi-Asetilcn
keluar dari nosel lai
(t-orgh). Nyala api ini
dipakai untuk mencairkan Nyala ketiga adalah nyala oksidasi dimana rasio O, : C,H, > r.
logam induk dan logam Jenis nyala ini banyak dipakai untuk keperluan memotong pelat
pengisi selama Torch baja, mengelas Kuningan dan keperluan brazing.
pengelasan. Tahmg Oksigen

Gambart-g.p"otm

I Definisi Peneelasan
intltrk tnt'ncair'
las d:rn logalrr Kawat Las
6. Las Gesek (friction welding) Proses ini diPakai untuk Tabung Pengarah
menyambung Pelat dengan
tebal lebih dari 40 mm. Logamlnduk.
Untuk menjamin agar Proses
berlangsung dengan aman,
tegangin yang dibangkitkan Kubangan Terak
urrtutu kawat las dan benda
kerja dibuat rendah (kurang
daii 1oo volt). Untuk
menjamin terjadi Logam las
Gambar l-10. Skema Las gesek peningkatan Panas Yang
(friction welding) tinggi pada terak maka arus
yang mengalir melalui kawat
ias diperbesar (hingga 6oo C".U"" l-l l. Skema Operasi Las Terak
Prinsip kerja las gesekan ini adalah menggesekan dua buah ampere). Listrik
komponen,logam dimana satu komponen itu berputar dan yang
lainnya didorong maju pada komponen pertama sehingga terjadi
gesekan satu sama lain. Akibat terjadinya gesekan, pada 8. Las titik (resistonce spot welding)
permukaan yang saling kontak mengalami peningliatan
temperatur hingga mencapai suatu kondisi yang disebut "red hot"
(kira-kira 1oo - lsooc dibawah temperatur cair logam yang dilas).
Padaproseslastitik,duabuahpelat/lembaranlogam
diantara
aipo.irit un saling tumpang (lap joint) kemudian dijepit
dua elelitroda tembaga. se-lanirriryu dialiri arus listrik
Karena tidak mengalami pencairan pada bagian yang disambung sehingga
maka tidak terdapat logam las, akan tetapi pada hasil terjadi konsentrasi
terdapat HAZ. Selain dipakai untuk menyambung arus dititik kontak Tekanan
-pengelasannya
logam-logam sejenis, cara ini juga dipakai untuk menyambun[
logam dan ii
logam-logam tak sejenis misalnya antara baja dan aluminium atai
menyebabkan \,,,
baja dan tembaga. Dalam praktek, pengelasan seperti ini seorah-
naiknya temPeratur.
olah tidak mernerlukan sumber panas dari luar. oleh karena itu,
prgsgs pengelasan ini kadang-kadang disebut l,as Dingin (cold
Kedua elektroda
welding).
kemudian saling trmbaran
memberikantekanan Ke Transformer

untuk menYakinkan Weld Nugget


7. PengelasanTerak Listrik (Electro Slag Welding, ESW) daerah pemanasan
tadi mengalami
penyambungan.
Dalam pengelasan ini, terak terpanaskan oleh aliran arus
listrik yang mengalir dari kawat las ke benda kerja yang dilas.
A$but pengaruh tahanan listrik, temperatur terak naik hingga
f>
Tekanan
Proses Las Titik
sekitar z.ooooc dan dengan temperatur ini memungkinkan kawit C".U". f-t2. Skema
Definisi Pengelasan
11
10 Definisi Pengelasan
9. l,as Gesek Puntir (friction stir welding)
lC.. Therntit wel<lirtg
Pada las gesek puntir, sumber panas untuk menyambung Thermitweldingadalahsuatuprosespengelasandimana
pelat berasal dari gesekan yang timbul antara perkakas las yang p".ryutoui y1"g dilas dengan cara memanaskannya
berputar dan permukaan pelat. Karena tidak sampai mencairkan "ni."Guil *iti" loglm yanq sxperpanas' Cairan
dengan *"oggroJa;
logam induk maka proses penyambungannya berlangsung dalam logam rrrp"rpurruJ i"i ait *iikan"dari- r"uksi
kimia eksotermik
kondisi padat (solid state) dan akibat adanya penekanan. antara oksida fogutn (biasanya besi oksida)
dan serbuk
aluminium. p""Vi-f"rriu, lola1n dapat-dilakukan
dengan
Keuntungan menggunakan proses penyambungan dengan
las gesek puntir antara lain : *"-["tif."n tekanan ataipun tidak sama sekali'
Temperatur yang dihagilkan dari hasil reaksi
itu sekitar
a. Distorsi kecil di.tampung dulury :eluh krusibel
2soooc. Cairan
b. Karakteristik fatik yang baik ""i*p?","
vane tepat diletakfr ai^ut* sambunga., Iog"*. Selanjutnya-untuk
c. Tidak memerlukan logam pengisi iffi.iffi;ffiil;^", *
[i.u" loglin t,rputpat dituangkan ke
;;il;;gsul"ui;fiv""it"rU"nirk antara dua logam yang akan
d. Tidak memerlukan banyak pengontrolan seperti pada logam m-1ka
pengelasan busur listrik. disambung. Xarena"tin[ginya temperatur.cairan
;;;;;il;tk"; uufiuo-rosam vans akan $slmbung ikut
Contoh bidang pemakaian proses pengelasan ini seperti pada s-ecaia metalurgi. Salah satu
industri pembuatan kapal laut, industri jalan kereta, industri ;J"dd"" terjadi pencampuranadalah pada penyambungan rel
otomotif, konstruksi, listrik dan peralatan makanan. pemakaiao pror*J!";il;; ini
kereta aPi.

Cairan Terak
Cairan Baja
I(rusibel

Cawan
Terak Cawan Tuang,
Logam
uran Turun
Saluran
Gambar l-13. Las Gesek Puntir Penambah

Benda Kerja

rilelding
Esmbtr t-t4 *oses Thermit

t2 Definisi Pengelasan Definisi Pengelasan


13
r-$. Marnpu tas (weld-ability)
Paduan Tembaga .sempa dengan pacluan AJuminium
Weld-ability atau mampu Paduan Magnesium mampu dilas dengan penggunaan gas pelindung
.las _ 3tau keterlasan adalah
kemampuuo r',tu-r.aililftombinasi dan fluks
menjadi suatu konstruti ,"i"i., rog; yang d,as Paduan Nikel serupa dengan baja tahan karat
yan*
dan sifat terteny dil;;gg6'*"*unuhi mem,iki karakteristik
persv Paduan Titanium mampu dilas dengan penggunaan gas pelindung

ilHilH,r:TiHi:,#5:LiTl,rur*fr iffi *nij* Selain dipengaruhi oleh perlu tidaknya preheat dan PWHT,
fr:,T''":lilHSHi:;"P^i;'''mu,init;;Bd'i*ur.",,J sifat mampu las juga dapat dikatakan tinggi apabila selama dan
a' setelah pengelasan tidak menghasilkan retak/cacat di daerah
*tt:f} r:i'J5,$'l"i' pemanasan mura (preheat) hasil pengelasan. Seperti telah diketahui bahwa proses pengelasan
dikatakan berhasil apabila ditinjau dari berbagai sisi tidak
b. Apakah harus diberi pemanasan terdapat kekurangan yang berarti. Salah satu kekurangan yang
(PWHT, post weld tluti.""tment) pasca pengelasan dimaksud adalah banyak sedikitnya cacat atau retak di daerah
?
c. Apakah prosedur hasil pengelasan.
pengelasan khusus,
misalnya purrggu.ru"ri
^m1131tukan ulukdo,;^."j"ilun fluks
berhidrogu., ."nd-"h ? --
Jika suatu Iogam dilas tidak
banyak, memerlukan
ontas maka da oat di katakan,ffi usaha_usaha
contoh baja karbon.rendah url-;;;jilil nlgi. s"uug"i
*"riiriu ;il;iloir
,u. tinggi
ffffiffiiffiH:n buSu ku.ilr"'"""iun ua"i. -".ffian
preheat

las beberapa jenis rogam


&:5"tHHfiiJf::T#Jl baik
baja karbon *rra"h- : tinggi
baja karbon medium : cukup

serupa dengan bajr lo.Uon


_ffi
umlnnya baik dibawah t*ailt"G"Gi
sifatmampulur-fr
erganfung
pengelasan Pada Proses
PaduanAluminium
y"lT#f&.&m
memitiki sifat ma ilp, t^trii,-r*iliil
14
Definisi pengelasan
15 Definisi Pengelasan
Elektroda
2l Terminologi Hasil Lasan o kutub listrik, terbagi dua yaitu anoda yang berrnuatan ini
poritir au"- nui"au yi"s bermuatan negatif. Istilah
listrik'
e;1"*"peigelasan yln-g. aelilalkan juga
biasanya
"d"
;;"ily; autu* sMAW.-Dalam-sMAW, elektroda
las'
Lebihan Logam Las belpera:r ..U"!*i kal"'at las yang menltpii3logam
face reinforcement)
HAZ
3 merupakan kepanjangan dari Heat Affecterl Zone yang
mengalami
menniliki urti a""tufi terrpengaruh panas dan
induk
p.*Uufru., ilo'.,;;ikro; di" terletak pada logam
ili.iti - kanan iogam las'
Kampuhlas
Gambar 2-1. Pengelasan tunggal atau pengelasan satu lintasan I i"-d"t yalg
bag:aa dari lcgam akan diisi oleh
(single pass weld/overlay) "u"I"{l
a.polit f*"i"" f?e"*le (*"la *etal)' Ikmpuh las' yang
awal
tu*"pu \ubangg las (weld pool)
Beberapa istilah dalam pengelasan yang sering dijumpai, yaitu: "v'" "aA"t,
klmudian diisi dengan logam las'
Dilusi
Lebihan Logom Las atas Pelat (Face reinfotcement)
c merupakan perbandingan antara logam induk y.ang okelebihandarilogamlasdibagianataspelatyangdiukur
mencair dan logam las. Dilusi ini dapat diperoleh dengan dari Permukaan atas Pelat'
membandingkan luas penampang logam induk yang
mencair dan luas penampang logam las. I;;gominduk
o logam Yangdilas
Logamlas
o campuran dari logam induk dan logam tambahan yang
mencair dan nantinYa membeku' '

LogsrrtPmgisi
a logarn yang ditambahkan dari luar unhrk mengisi
pengiliYgS
f."*pufl b"fl* Pr-oses- SMAW' logamproses
uetri"gsi;brg; ui.qoa. Namun pida Iogam GTAW pgngrsi'
uC, tia"t berfungsi.t"Iig1l
I
Luas B
"I"f.uoa"" mengisi kampuh las diperlukan logam
sehingga
""trt
penglsi dari luar.
Gembar 2-2. Definisi Dilusi

Dilusi, D =
m* Luas A
100%

Terminologi Hasil Pengelasan


Terminologi Hasil Pengelasan 17
Manik las Cover pass
c bagian dari logam las yang dilihat dari atas pelat.
Filler pass

Manik Las Root pass

(root reinforcement)
G"-b* 2-4 P.rg.t"san Banyak Lapis (multipass welds)

Gambar 2-3. Manik Las


Dalam kasus pengelasan banyak lapis (multipass welds) dikenal
istilah-istilah:
Penetrasi
Lebihqn Logam b;suah Pelat (Root reinforeement)
Las
"c kedalaman penembusan logam las daram logam
induk. c kelebihan dari logam las di bagian bawah Pglat (basian
Polaritas Balik akar sambungan) ying diukur dari permukaan bawah pelat
* Isitilah pengkutuban listrik pada pengelasan busur ke ujungbawah logam las.
listrikdimana kutub positif dihublngkan kellektroda dan Rootpcss
kutub negatif dihubungkan ke logam induk.
c lintasan las di bagian akar sambungan las'
Polaritas Lurus
Darigambarz-4diataspadabagianakarsambungan
. Isitilah pengkutuban listrik pada pengelasan busur mengindung r lapisan las dan r lintasan las
listrik {ang merupakan kebalilian daii p"olaritas balik
-
dimana kutub negatif dihubungkan ke elektroda dan kutub
Fillerpcss
positif dihubungkan ke logam induk. c lintasan las dibagian tengah sambuirganlas atau disebut
juga isian los.
Sambungan las
Dari gambar 2-4 diatas pada bagran tengSh sambungan
Bagian dari logam i1d3k yang akan disambung. pada
-c mengandung 4lapisan las dan ro lintasan las
bagian ini nantinya tedadi p"n.ui.un logam induk.
Couer pass
c lintasan las di atas sambungan las atau disebut juga
tutuP las.
Dari gambar 2-4 diatas pada atas sambungan mengandung
r lapisan las dan z lintasan las

Terminologi Hasil pengelasan 19 Terminologi Hasil Pengelasan


3l Jenis-jenis dan pemilihan Sambungan 3. Sanrbungan Sudut (Cornerjoint)
4. Sambungan Saling Tumpang (lap Joint)
Penyambungan daram pengelasan diperlukan S. Sambungan Sisi (Edge Joint)
meneruska n beban atau teg ang oniiantara
untuk
u"ii""-u"gian yang
juga akan menerima beban. oleh
b"il;;dff;;;
d isa mbung. I." rena *u ou *.ka"r,
lu_ b, n g*r, Pemilihan jenis sambungan terutama didasarkan pada
karenanya, bagian sambungan ketebalan pelat yang dilas. Dalam pengelasan, ada yang disebut
paling tidak memiliki keranatanyang sama pelat tipis dan pelat tebal. Menurut AWS Code (American Welding
au"[u" u"gian yang
disambung. Society) disebut tipis apabila ketebalannya kurang dari r in (=
25,4 mm) dan disebut pelat tebal jika ketebalannyalebih dari r in.
Seperti telah disebutkan diatas, pemilihan jenis sambungan
terutama didasarkan pada ketebalan pelat yang akan dilas.
Mungkin saja dalam pem ilihan sambun gan ini terdapat lebih dari
dua sambungan yang memenuhi persyaratan ketebalan pelat. Jika
Sambungan Temu
(butt joint)
Sambungan T hal itu terjadi maka harus dipilih kembali salah satu dari jenis
(T-jdint) sambungan yang ada.
Howard B. Caqfot dahm bukunya 'Modern Welding
Technolory" menjelaskan hal-hal berikut :
Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam
Sambungan Sudut mer enconakan sebuah sambung an los, diontarany a faktor
(corner joint) ekonomik dqri rancangan sambungan lcs, kehrutan
sambungan dan kemampuan juru los untuJ< mengerjakan
sambung on t er sebut. Si per encana hanrus mempertimbang
kan persyaratan kelanatan yang teloh disebutkan dan
persyqratan penetrasi menurut pembebanan dan seruis.
Sambungair Sambungan Sisi Desain sambungan harus mompu mengokomodcsi
Salins
,", Oapfupqang
joint) (ease j;;t)--' perryaratan-persyaratan dengan cera Aang palfutg
:
ekonomik. Ini hanya dapt dilahtkqn denganmenganolisa
", faktor-faktor berilant :
*:nyambung dua komponen logam t. Sambungon las hants dirancang sedemikianrapo,
DerDagaljenis samtungan. pada ,sarnbungu, i"riluhdiperlukan
^^-.^YlIIPi. ,nantinya sehing g a luas penannpang sannbung ant s eminimum
Iogam tambahan diberif,an, sehingga terdalJ mungkin. Hal ini dilatarbelakangi oleh alasan harga,
[*urou., antara
komponen-komponen y-ang dis"ambuni.- g"rb;s"i
jenis karena deposit logam las jauh lebih mqhal daripafu
sambungan yang dimaksud adalah : logam ivduk. Luas Wnamryng sambungan las
1. Sambungan Temu (Butt Joint) merupakan sebuah uk:.lran dari jumlah logam las yang
diburuhkan unfitk mernbuat sambungan las.
2. Sambungan T (Tee joint)

Jenis-jenis dan pemiliha, Srrbun$; 21 Jenis-jenis dan Pemilihan Sambungan


z. P_ersiapo;n ko;rnpuh atau pernbuortorn kannpuh. 2. Kemudoh(rn pn ses pengebsan
Rancangan sqmbungan las dan ketebaran peratzkan
menentukanj enis-perkakas dan peralatan y rng dibutuh
kan. Terkadang harus dibuat iompromt Ada bebempa faktor yang dapat mempermudah pekerjqan
lyn pady keter sediqan perkakasf perara"t{ang
did.qsqr dalam pengelasalt. Dua diantaranya adalah benhrk sambungan las
ani erha.itip yang s"dethan* dan posisi pengelasan. Bentrrk sambuugan daptt
jumlah logam ras yaig diperrikan unfi.ttk i-"gi;i
sambungan. *"ip*t garuhi kemudahan juru las dalam mgngsi kampth
dengin logam las. Ilustrasi berikut ini menunjukan_pgrbedaan
s. Rancangan sannbungan harus terkait dengonpnoses
-udah tidaknya proses pengelasan dilihat dari bentuk kampuh.
pengelc.seln. yaTg akgn dipakai din
pengelasorn juga harus ilc.rt dipirtimbafikanl)osisi
Sisi 1 Sisi I

Berdasarkan,penjelasan diatas, ada tiga faktor yang menentukan


dalam pemilihan.lunr- sambungan. Ketiga -faklor itu dapat
dirangkum sebagai berikut :
1. Luas penampang sambungan Ias
2. Persiapan kampuh atau pembuatan karnpuh Sisi 2
(B)
3. Kemudahanproses pengelasan dikaitkan d.engan proses
pengelasan dan posisi pengelasan Gambar 3-3. Pengelasan Satu Sisi Tertihat Lcbih Mudah daripada
Dua Sisi
sebelum dijelaskan bagaimana cara memilih sambungan yang
benar, maka akan dijelaskan terlebih a"n"r" futiiu iulto.
diatas.
Jika dibandingkan keduanya (gambar A dan B) maka pengelasan
satu sisi lebih ekonomik dan praktis daripada pengelasan dua sisi
t. Luas penampang sambungan las. dan juga lebih disukai oleh juru las.
rurg dimaksud dengan ruas penampang rogam las adarah
-lyas d.al kampuh yang terisi oleh logam tus. u"nt"[ membedakan
logam las dari bukan logamI* *ut u-p"J*au"r"rr roga; S. Persiapan Kampuh atau Pembuatan kampuh
-du"Ilh
las diberi garis arsiran. Luas lolam las y";ti;il
berarti uu[iu"
yang te19i logam.lar liarya
-"-"In*un ,LaiHt Menurut AWS Code, kampuh akan diperlukan jika ketebalan
|<am-nqh
tambahan. Demikian jugadengan Iuas q9n3rynans rogu* d;; pelat yang dilas lebih dari 6 mm. Oleh karena itupengelasan pldt
t* y;.,1
burqr yang berarti bagian kampuh teriii oreh iebif,
uinyun bg"* pelat yang tebalnya kurang dari 6 mm lebilr prykti. karena tldak
tambahan. perlu membuat' kampuh.' Bagaimana untuk pelat y-ang tebalnya
iebih dari 6 mm ? Tentu saja ini lebih merepotkan karena harus
membuat kampuh terlebih dahulu sebelum dilas. Mengapa harus
dibuat kampuh ? Tujuannya adatah agar logam tambahan dapat
Gam bar 3-2. Perbeda", l,urffi mengisi seluruh bagian kampuh. Perhatikan gambar berikut :

22 Jerris-jenis dan Pemilihan Sambungan 23 Jenis-ienis dan Pemilihan Sambungan


Santbungnn dalnnr pngelasan terdiri dari lima (S) jenis
seperti yant telah dijeleskan diatas. Pada bagian kampuh'
nantinya akan diisi oleh logam las yang berasal dari kawat las atau
logam pengisi yant mencair. Logamlos atau lasanyang mengisi
kahpuh simbungan berdasarkan banyaknya logam las yang
Gambar 3-4. Pembuatan Kampuh V lebih merepotkan Tetepi mengisi kampuh, dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu lasan
Logam Les daprt Mengisi Secere Penuh penetrasi penuh dan lasan penetrasi tidak pen"l, ulu" penetrasi
sebagian. Apabila logam las mengisi selumh blSr1n kampuh atau
Dengan ketebalan yang sama (! sama), kedua kondisi diatas dengan katl hin lasan penetrasi penuh maka hal ini disebut
memperlihatkan hasil pengelasan yang berbeda. Jika tidak dibuat denlan GROOVE WELD disingkat dengan huruf G.' sedangkan
kampuh (gambar A) penetrasi logam las tidak mampu mengisi jikalogam las tidak mengisi seluruh bagran klmp}h atau lasan
seluruh bagian kampuh/sambungan. Sedangkan dengan adanya penetrisi sebagian maka jenis lasan ini dikenal sebagai FILLET
kampuh pada gambar B, logam las dengan mudah mengisi WELD disingkat dengan huruf F.
seluruh bagian kampuh.
Untuk setiap jenis sambungan, mungkin terdiri dari banyak
jenis kampuh/alur yang biasanya tergantung pada ketebalan
logam induk yang dilas. Sebagai contoh untuk jenis sambungan Sisa Kampuhyg
Logam Las Tidak Terisi [ogam [as
temu, jenis-jenis kampuh yang mungkin ada adalah :
a. V-butt joint (sambungan temu kampuh V)
b. DoubleV-buttjoint (sambungan temu kampuh V-ganda)
c. U-butt joint (sambungan temu kampuh U)
d. Double U-buttjoint (sambungantemu kampuh U-ganda)

[\D BD
Groove Weld FilletWeld
Gambar 3-6. Perbedaan Groove Weld dan Fillet Weld

Sambungan Temu - Kampuh V Sambungan Temu - Ihmpuh U

DC DC
Ditinjau dari kekuatan sambungan, sambungan dengan
lasan penetrasi penuh memiliki kekuatan lebih tinggi. Kemudian,
jenis lisan ini juga tidak hanya mampu menerima-beban statik
ietapi juga mampu meneruskan beban dinamik. Tidak demikian
SambunganTemu glpfuntanTemu den[an lasan penetrasi sebagian. lasan ini hanya mampu
IhmpuhVganda Ihmpuh Ugnda menerima beban-beban statik.

Sambungan Temu - Ihmpuh J


Gembar}'S. Jcnb Krmpuh pedr Srmbungrn Tcmr
Jenis-jenis dan Pemilihan Sambungan
4 Jenis-jenis dan Pemilihan Sambungan
25
tidak penuh mukn tcrdapat bagian sambungan yang tidak terisi
F+- -+F oleh logam las.

L,
F<- t +F
t"
Gambar 3-7. Lasan *Groove, p"*trasErr,
Menerima Beban Tarik

Gambar 3-7 diatas F


-memperlihatkan sebuah pelat hasir
dengan lasan.berpenetrasi
fl-g:?.r.n penuh. Jtk; p*t"t diberi Gambar 18. Lesan *Grooye'Penetrasi Tidak Penuh
DeDan tank sebesal F tegak rurus dengan
arah peng"i*ur, maka Menerima Beban Tarik
tegangan norrnal rol vuiitlu"ai Ji sambungan
dapat
- r - dihitung
dengan menggunakan persa.L"n berikut :
Pelat dilas dua kali, atas dan bawah. Dimisalkan kedua lasan
F menghasilkan tebal lasan yang sams (tu,, = t",r). Jika keduanya
G_ digabungkan maka tinggi efektif ini masih lebih kecii dari tebal
A pelat (t). Sekali lagi dimisalkan tinggr efektif untuk kasus ini6oYo
dari tebal pelat atau o,6t, maka tegangan yang terjadi pada
,
Karena pengelasan menghasiikan penetrasi penuh
maka ruas sambungan adalah:
ya.n€ mamplr meneruskan beban
TTb.y'q3n tu[u*ajrubut luas
etektrt) diperolehdarih_asirperkarian telgr logam
ras efektif (t"j
dan lebar pelat (L). Tebar r-ogu* ras efektif Iri
sering disebut F F F T,7F
dengan panjang efektif (effJctive length). D;";;;
demikian
o- A" t"(L) O,6t(L) t. L
tegangan yang terjadi disambungan las idaiah.oUE.u.

F F F Dari dua contoh diatas, dibuat perbandingan besarnya tegangan


O= =--
A" t"(L) t.L yangterjadi dilasan.

Bandingkan hasil perhitungan diatas dengan hasil


pengerasan
yang mengandung lasan berpenetrasi sebagLn.
rarenl penetrasi

Jenis-jenis dan Pemilihan Sar"Urnga, ,n Ienis-jenis dan Pemilihan Sambungan


PerbandiqgBn Kekuatan Sarrbrrngan Las I*rtlbu,r
Kasus Pembebanan Tegangan
Contoh:
F
F+- t t -+F (F=
T.L
Sebuah konstruksi la.s akan elibuat dengarr bahan balim pelat, tebal
rB mm. I^osan diinginkan berpenetrasi penuh. Tentukan :
I -
a. Jenis-jenis karnpuh yang rnernenuhi syarat ketebalan.
b" penampaug sanrbungan las
tr-,uas
t",
T 1,,7 F c" Preparasi/Pernbuatan kamPuh
F+- t
I ->F 1)-
T.L d. Kemudahan Proses Pengelasan
II L Jawab:
a" Jenis-jenis kampuh yang memenuhi syarat ketebalan'
Dari data-data sambungan yang ada di Lampiran,
- -Tegangan
yang lurj?di pada lasan berpenetrasi sebagian berdasarkau ketebalan pelat maka ada 6 jenis kampuh yang
terlihat lebih besar. L€bih besar L7 kali. Ini tidak berarti kekuitan memenuhi persyaratan, antara lain :
sambungannya jugalebih besar. Dengan besar pembebanan yang
sama, kekuatan sambungan lasan berpenetrasi penuh lebih b".ui
t. Single V (untuktebal 4- 20 mm)
kar.ena-detgan kondisi lasan itu rnampu menahan tegangan yang z. $insle Bevetr
(untuk tebal 4' 20 mm)
lebih kecil. untuk lasan berpenetrasi sebagian-, ['ekuatai 3. Double V (untuktebal > rS mm)
samlungan lebih kecil karena harus menerimJtegangan yang
lebih besar. Dapat dijelaskan dengan lebih sederhani : + Doublebevel (untuktebal > rSmm)
S. Singte-U (untuktebol > r5 mm)
"Kekuatan" -+ milik Sarnbungan (Logam las) 6. $ingle-J (untuktebal > r5mm)
"Tegangan" + beban yang timbul dalam Jarrraban pertanyaan b, e dan d disabury dan disusun dalam
bentrktabel berihrt :
sambungan sebagai akibat gaya
Kmpuh Penrbuatan Prcses Dim.ensi Luas
dari luar Kampuh Pengelasan (mm)
RFIR RO A

Tegangan yang terjadi mernang berasal dari gaya luar yang bekerj a $irda-V a pelet t Stal 2 2 6o r83,8
pada konstruksi lasan, sedangkan kekuatan sambungan ini Single bevel rpelof r slsd 2 2 4J 6q
kepun_yagn dari sambunganflogarn las. Jadi apabila tegangan yang
Doutile-Y zpeld E slltr g 2 60 110
timbul dalam sambungan yang besarnya seperti rumu" diata^i
lebih besr,.r dari kekuatan logam yang bersangkutan, maka DouHebeld rprch z sisi 2 2 45 @16
sambungan tersebut akan puhrs.
tugle-U z pelat r rfd 216 2 2() 248,9

Single-I rpelat r cIc{ z/ro 2 20 18t,l

ffi* 29 Jenis."jenis dan Pemilihan Sambungan


Pemilihan salah satu jenis.. sambungan dari
bcrxrmpa
sambnngan yang ada pada taber aiaturi".iuntoig'prau I

falrtor yang sudah ketiga 4l Pengaruh Parameter Pengelasan dalarm


aiut Misalnya jika
-x,#[-ffi#]il*],ffi
$jerastan
". diinginkan Pengelasan Busur Listrik
;ffifi1:"11"r1f,
ketiga jenis sambungan itu disereksi kembali
u"t"i;;*ilih
HI*ffi
satunya. Kriteria kedua daram oemilihan o*b";;rn sarah Dalam pengelasan, untuk mencairkan logam induk dan
adalah
kernudahan melakukan peperasan taiuu"f aitu.i"r*" daram logam pengisi diperlukan energi yang cukup. Energi yang
koiom proses pengelasan). Uitrt dihasilkan dalam operasi pengelasan berasal dari bermacam-
\ampuh aorUf"
pengelasannya dilakukan pada d.ru'riri.-ffi-ilt il*I, proses
mactrm sumber yang tergantung pada proses pengelasannya. Pada
tentuny,a
memer}ukan wa\rg p-engerasin rebih rama
v"rs.rii"ginkan teniu pengelasan busur listrik, sumber energi berasal dari listrik yang
sajl pengelasan dilakukan hanya pacia satu sisi. diubah menjadi energi panas. Energi panas ini sebenarnya hasil
Jika demikian
maka tersisa dua kamp"1,
ryiq "tiitit d";;a-J. untuk kolaborasi dari parameter orus los, tegangan las dan kecepatan
memilih salah satu dari dua kam"puh "iil
tersisa, aipli."i kriteria pengelasan. Parameter ketiga yaitu kecepatan pengelasan ikut
ketiga yaitu luas.penampalrg loga; ias. Luas yang mempengaruhi energi pengelasan karena proses pemanasannya
rebih keeii
jumlah kawit tai le6ilr.s"ail.ii sr"it"ig"n tidak diam ditempat akan tetapi bergerak dengan kecepatan
fl:::l*:n
xarn puh sing Ie bevel ternyata memil
dengan
iki luas penam parig logam"las tertenfu.
lebih kecil darioada kampuh-single.J yaitu ,e+ir-*,. Kualitas hasil pengelasan dipengaruhi oleh energi panas
Dengan
demikian dari ke-enam 5enis tamlurr
bevel memberikan hasil paling opii*,r*.
i*s "du]r.r-prrt,
singre yang berarti dipengaruhi juga oleh arus las, tegangan dan
kecepatan pengelasan. Hubungan antara ketiga parameter itu
menghasilkan energi pengelasan yang dikenal dengan HEAT
INPW (masukan panas). Persamaan masukan panas hasil
penggabungan ketiga parameter dituliskan sebagai berikut :

: Teg. Las x Arus Las


HI (Heat Input) ...(1 )
Kec. Pengelasan

Dari persamaan itu, dapat dijelaskan beberapa pentertian sebagai


berikut: "

1. .' Jika menginginkan masukan panas _yan-g tinggi maka


parameter yang dapat diatur yaitu arus las diperbesar atau
' kecepatan las diperlambat. Besar kecilnya arus las dapat
diatur langsung pada mesin las.
2. Tegangan las umumnya tidak dapat diatur secara langsung
pada mesin las, tetapi pengaruhnya terhadap masukan panas
tetap ada.

3o Jenis-jenis dan pemilihan Su.rUrngrn


31 Pengaruh Parameter Pengelasan
Untuk memperoleh masukan panas yang sebenarnya dari Arus las juga mempengaruhi dilusi atau pencampuran.
suatu pnoses pengelasan, persamaan masukan panas <liatas Semakin besar arus las maka semakin besar juga dilusi
dikalikan dengan efisiensi proses (il sehingga persamaan tersebut yang artinya makin banyah lmgian logarn inrJuk yang
menjadi q xV x I / v. Efisiensi masing-masing proses pengelasan mencair.
adalah: b. Besarnya arus las ditentukan oleh diameter elektroda,
jenis logam induk dan ketehalanrrya.
Froses Pengelasan Efisiensi (%) Diameter eleltrod.a mempengaruhi pengahrran besar
SAW (Submerged Arc Welding) keciln5a anrs pengelasan. Makin besar diarneter elektrocla
90-y)
yang dipakai maka semakin tinggi arus las .vang
GMAW (Gas MetalArc Welding) 6s-8s
diperlukan. Secara logika, untuk mencairkan kawat ias
FCAW (Flux Cored Arc Weldrng) 6s-8s berdiameter lebih besar akan membutuhkan panas lebih
SMAW (Shielded Metal Arc Welding) 50-85 tinggi. Energi pones atau masukan panas seperti yang
GTAW (Gas Tungsten Arc Welding) 20-5() ada di persamaan t, sebanding d.engan ams las. Oleh
karena itu benarlah bahwa pemakaian knwat ias
berdiameter besar membutuhkan arus las yang juga
Seperti telah dijelaskan diatas bahwa kualitas hasil pengelasan besar.

(3ry
dipengaruhi oleh variabel/paremeter pengelasan. Pengaruh dari

i
masing-masing parameter pengelasan itu adalah :

t. Attrs Pengelasan :
a. Berpengaruh langsung pada penetrasi logam las, bentuk

i
Amperemeter

(lry
rnanik las, Iebar FIAZ dan dilusi. Arus las makin besar
dapat memperdalam penetrasi logarn las dan juga
memperleb ar YLAZ demikian sebaliknya. Pemakaian anrs
las makin tinggi juga dapat memperlebar manik la^s.

Amperemeter
Gambar 4-2. Pengaruh Ukuran Elektroda
terhadep Pengeluran Anrs Las

Pengahrran arus las ditenhrkan juga oleh jenis logam


induk Yang dimaksud jenis logam induk disini adalah
Arus pengel u"un I Aruspenget"san / logam induk dengan sifat konduktivitas panas berbeda-
Kecefata"n Pengelasan / € Kecepatai Pengelasan/ beda. Konduktivitas panas material memiliki arti besar
Gembar 4-1. Pengaruh Arus Pengelasrn Terhadap Penctrasi dan kecilnya pan&s yang rnengalir melalui rnaterial itu.
l,aberHAZ Konduktivitas panas tirrsgi berarti panas yang mengalir

32 Pengaruh Parameter Pengelasan 33 Pengaruh Parameter Pengelasan


besar atau panas dengan cepat terbuang ke lingkungan anta.r :rrrrsrl;* tcgangan, tr:tapi tegangan las ini tidak
eekitar, dan sebaliknfra. logarn dengan konduktivitas berlrcngaruh secara lrngsurrg pad; penetfrsi
mg"* eau.
panas tinggi memerlukan panas pengelasan yang juga
tinggi unhrk mencairkannya. Sesuai dengan persamaan 1, ?
panas yang tinggr diperoleh dengan mengatur arus las I Xurrra lGrakte:ristik Mesin t:rs
(constant current)
yanttinggr.
Pelat Iogam dengan ketebalan yang tipis jika
,i
{ lNkonsran Kurva Karalceristik
n II \ \. Busur Listrik
menerima panas maka panas tersebut akan terbuang 9J
bD
d
dengan waktu yang lama. Berbeda dengan pelat tebal, tpt-
panas akan lebih cepat mengalir sehingga pelat lebih F+_
t lav
cepat "dingin". Dengan kondisi demikian, pelat logam i Tinggi Busur
yang tebal memerlukan panas pengelasan atau masukan btakin R.erdah
panas lebih tinggi dibandingkan pelat tipis.
c. Makin tinggt arus, ketebalan pelat yang dapat dilas lebih j.Et
-:-%- € t{ruSlrs,
besar. Arus pengelasan tinggi memungkinkan penetrasi Gambar r-r. *
1

logam las terhadap logam induk semakin dalam. Dapat


dibayangkan, pengelasan dengan arus tinggi dipakai pada
kasus pengela^san pelattipis. Bukan penyambungan yang g- KecEntanoengelasan :
diperoleh melainkan pelat yang dilas menjadi berlubang
atau menjadi kasus pemotongan logam. Jadi pemakaian
arus tinggi dapat memperbesar penetrasi logam las dan Ylkiltingg kecepatan pengelasan biasanya dipengaruhi
". oleh tinggi5,v" u1O pengela;n.
dapat mengelas pelat yang lebih tebal. Untuk.unoiri.";
elektroda/\awa! tas aiperlukan energi panas yang
.,jil;
cukup.
Dengan kebutuhan.""..s, yang
g"k"pl"i'iengelasan
L Tegangan Pmgelasan : dapat berlangsung-denga-n
no.ila. Ap"bik &"* yang
Berbanding lurus dengan tingg, busur. Yang dimaksud diberikan lebih aari -cutup misalnya ;qr"
dengan
dengan tinggi busur disini adalah jarak antara ujung memberikan arus las rebih tinggi, *"t""p*.J'puncai.an
elelctroda dengan permukaan logam induk yang dilas. ujung elektroda (istilahnya rT";di"g r;;;;b"h;g;;;
Hubungan antara tegangan las dan tinggi busur dapat ISli\ cepat. Kecepatan pendir"; ;i"kdi;iur,, tidak
diimbangi.dengan kecepatan pengelasa"
dipelajari melalui kurva karakteristik busur listrik dibawah
menyebabkan penumpukan' *I'd lo;;;
*,ingkin saja
ini. Dari kurva itu, tinggi busur yang normal di tunjukan las di
permukaan logam indu[. untuk
oleh garis |curva yang berada ditengah. Garis kurva diatasnya murrgh"rilfian manik las
berarti tingts busur Iebih ting$ dari tinggi busur normal. yang normar dalam arti "face .iirfor""*"nt"
terlampau tinggi, paka tentu sa3a keeepata, p"n*i*, tidak
Jikasaja pada saat pengelasan terjadi kenaikantinggi busur
rnaka pada saat itu juga tegangan las merangkak naik dan
ujuns etektroda hanrs aiirypairgr- affi;'i*.*p"*
anrs las tunrn. Kenaikan tegangan akan tenrs berlanjut jika
pengelasan. Dengan demikiari U"*i-t:,
tingginya arus- pengelasan sangat mempenganrhi bahwa
tinggi busur makin besar dan pada akhirnya mungkin saja
kecepatan pengelasan.-
busur listrik tidak lagi ada alias mati. Walapun ada korelasi

34 Pengaruh Parameter Pengelasan 35 Peqganfr Panmeter pelrgetasar


( reuer* y ilurity ). I'crlx:cl keduanya terlihat
.y?, .y({i rW
aa n hasil Jx :n gc lasa n
pada gambar lrcrikut :

aruspengelasan/ r ri------------.L Aruspengel*uo l'


r-Cri"E@;e"l:.ggl . l-+ iC[fu3Ei'*s-ir*"
Gambar4*L Pengernh Arus Penplrcan Terhadap Penetrasi dan lebar
;
HAT"

b. Bentuk manik las dan peuetrasi logam lasjuga Polaritas tsaIft Pdaritas lrrrus
dipenganrhi oleh keoepatan pengelasan. mRP /N+ msP / DC-
Dari penjelasan diatas, anrs las mempengaruhi kecepatan Gambar 4-6. Peffisn kmaksian Po*rrlas
poda Haeil Pcnep}rsoo
las. Jika demikiar maka keepatan las dan arus las ini
ikut rnempengamhi bentuk manik las dan penetrasi
logam las.
Peugelasan dengan *1"**
balik menghasilkan penetrasi
yang dangkal dan manik las yang lebar, sedangkan pengelasan
dengan polaritas lurus menghasilkan penetrasi lebih dalam dan
manik las lebih sempit. Jika polaritas lunr,s sangat baik digunakan
pada kasus pengelasan pelat tebal rnaka polaritas balik ini cocok
diterapkan pada pengelasan pelat-pelat tipis.
Parameter pengelasan lain kedua adalah jenis pelindung
kubangan Iogam las. Dalam pengelasan busur listrik terdapat z
jenis pelindung, yaitupelindung gas dan pelindung pdaf berupa
fluks baik fluks yang melekat pada kawat las maupun fluks jenis
serbuk. Kedua jenis pelindung ini juga dapat mempengaruhi
penetrasi logam las dan bentuk manik las.

Cilpftar &t Pohritng Belik dtk Peugesil Burur Llstr&, Sllf;AW

S€kft! tiga parameter diaw, ada bebercp parameter lain


yang jugn ikut berpengaruh seperti pkritax lbrdf dau"lenis
pelin&$gkuhnganlogamlas. polaritasdahm dibagi
dua yaitu Bolsntqs lurus (srrra{ghrpolonry)-dan poloritgs balilt

36 Pengaruh Prameter Pengelasan 37 Penganrh Parameter Pengelasan


Sllol Mompu Los llr{Jgr

5l Pengelasan Bqia Karbon dan Bqia Paduan

5.1. flasar-dasar Pengelasan Bqia lGrbon


Baja karbon merupakan material yalS masih baoyak
digunalian di-industri konstruksi, perkap4"l, otomotif, dlI. Prose$ rengelos(]n
Ki.ena penggunaannya yang luas rnaka berbpai perlakuan
mungkin akan dialami oleh baja tersebut. Baja-baj1 yang-pada Sito, Mornpu Los l?endoh
p"*"'k"iut nya mengalami perlakuan sePerti_-pengelasan harus
diu*t dengin "ramuan' khusus agar dihasilkan produk lasan T*t
yang mernenuhi persyaratan keamanan- {_}
Pada umumnya baja karbon dapat dilas dengan seluruh
proses peugelasan baik pengelasan busur listrik, las -gas, -las
|p"-",',o."" "*l
tt ** ti.tolk atau jenis pengelasan lainnya" Akan tetapi kualitas t__
I I pr** Fenoe,toson
L+i +
I

yang dihasilkan dari masing-masing Proses pengelasan tidak I Pei'nbuqton Sombungon


ncseour rtrwus
l-> Pernonoson posco Los

I
r"*". Karena kualitas berbeda maka setiap proses pengelasan I

hanya cocok diterapkan untuk hrjuan-tuiuan tertentu. Mrsqklfa Garnbar 5-1. Bagan Mampu Las yang Tinggi dan R.endah
untuk rnengelas pel"t yang relatif tebal, proses SMAW lebih
efisien dibandingkan proses las gas. Dari jenis baja karbon tersebut, yang memiliki sifat weld-
ability yang baik adalah baja karbon rendah. Dari dua faltor yaitu
Baja karbon merupakan paduan besi dan karbon seba-gai harden-abiiiE dan kepekaan terhadap retak, baja karbon rendah
paduan utama dengan kandungan karbon kurang dan t,7o/o dan yang dilas dengan elektroda yang terbuat dari baja karbon rendah
sangat sedikit mengandung unsur-unsur lainnya. Baja karbon juga, maka harga kekerasan yang dihasilkan relatif rendah
ter&ri dari 3 jenis yaitu baia katbn rendah (C<o,zYo), baia sehingga kepekaan terhadap retak relatif rendah juga.
ksrbon medium (o,296<C<o,5%o) dan boia karbon tinggi
(o,S%<C< r,f/o).sedangkan baja paduan adalah paduanbesitidak
dengan unsur karbon saja tetapi ada unsur lainnya yang kadaryyS 8," -*^ ,*"*.-l
tidal kecil. Baja paduan dibedakan atas baia paduan rendah
$unnlah unsrmpadnrun < 5%) dan bqlc paduan tinggi fiumlah
l---* f"..-"fg"r*,,]
rinsur paduan > l%). Di beberapa literatur ad^ yu"e qenyebutkan l*.'"*;l
perbedaan baja paduan rendah dan baja paqryl tilsgt *qluh
ipakah jumlah unsur paduannya kurang atau lebih dari ro%. I'",.-.ffi;;l
{
t-
,"-,"*,;l
I FBmonoson

t-
t
Mub I

l-''"r***."*"l
ffi
Emonoson posco los

Gambar $2. Bagan Pengelasan Baja Karbon Rendah Untuk Ketebalan


Berbeda

Pengelasan Baja Karbon dan Baja Paduan


39 Pengelasan Baja Karbon dan Baja Paduan
Baja seperti "mild steel' dapat dilas dengan baik tanpa ketebalan pelat yang dilas cukup tebal untuk mengurangi
menggunal<an preheat, PWI{T atau pun prosedur pengelasan pengaruh tegangan sisa.
/<huszs jika ketebalan kurang dari r in. BiIa pada baja tersebut
Proses pengelasan pada baja karbon tinggi lebih rumit jika
mengandung Karbon sekitar as%odan Mangan kurang atau lebih
dibandingkan dengan pengelasan pada jenis baja karbon lainnya.
dari 8X kandungan Sulfur, maka sifat weldability-nya tetap baik
Kandungan karbon yang semakin tinggi lebih memungkinkan
tetapi cukup peka terhadap retak dingin (underbead crack) karena
terbenhrknla martensit di logam las dan HAZ. Prosedur
meningkatnya sifat hardenabilrty dan kekuatan material. Unhrk
pengelasan dengan elektrroda berhidrogen rendah sangat
itu mungkin perlu diterapkan preheat dan penggunaan elektroda
disarankan unttrk hasil yang lebih baik. Preheat dan temperatur
berkadar hidrogen rendah (dari jenis E)O(r5, EXXr6, E)O08,
interpa^ss sekitar 4oooC atau lebih tinggr dapat mencegah
EXXz8 dan DOQ8). penggetasan di daerah logam las dan IIAZ. PWHT juga
disarankan unhrk pelat-pelat yang tebal.
B4r Kclbon tvledh-rn
Karakteristik dan Contoh Aplikasi Bqfa Karbon
Prces FerE|dosan
+ Ernonoson pGco tos Material %c Kekerasan Penggunaan Weldabifity
Pr6edu khJsrJs
Baja karbon 1o.r2 60 HRB pelat, lembaran, sangat baik
rendah strip, elektnoda las

Bcio Kdbon nnggi Mild Steel or2 - or3 9o HRB baja stnrktur, pelat, baik

PrG€s Per€eloson ka$on


Pernonoson posco Los
Baja o,2 - o,5 z5 HRC komponen mesin, cukup (perlu preheat
+
medium perkakas dan PIYHT, serta
PrGedLtr khlEus
penggunaan elehroda
ber-H rendah)
Gembar S3. Bagan Prosedur Las Untuk Baja Karbon Medium dan Baja
Karbon Tinggi Baja Lorbon O,5 - 1'7 co HRC baja pegas, die, rel ren&h (perlu elektroda
tinggi H rcndah, preheat &n
Dengan meningkatnya kandungan karbon pada baja PWHT)

misalnya padabaja karbon medium maka diperlukan usahayang


lebih untuk mengelas j enis material tersebut tanpa menghasilkan
retakan. Meningkatnya kandungan karbon dapat lebih
memungkinkan untukterbentuknya fasa martensit pada logam las
atau F{AZ. Untuk itu pemilihan jenis elektroda dan prosedur
pengelasan akan mempengaruhi sifat mekanikyang terjadi pada
logam las atau HAZ. Jika kita menerapkan prosedur pengelasan
seperti pada mild steel, maka pada HAZ akan terbentuk struktur
yang keras, ketangguhan rendah dan sangat peka terhadap retak.
Perlakuan seperti preheat dengan tujuan melambatkan laju
pendinginan dapat mengurangi resiko terhadap terbentuknya
martensit pada HAZ. Besarnya temperatur preheat tergantung
pada kandungan karbon atau karbon ekivalen, ketebalan pelat dan
prosedur pengelasan. Selain itu mungkin diperlukan PWHT jika Grnbrr$4. Rctrk DiaE! di Drcreh Logem Lrs Blje
I(rilon
Pengelasan Baja Karbon dan Baja Paduan
4t Pengelasan Baja Karbon dan Baja Paduan
Dari keterangan-keterangan diaus dapat ditarik beberapa Dari kurva diatas, relakan pada daerah hasil lasan khususnya
kesimpulan penting yang hanrs diperhatilen ddam pengelasan yetak dingin dlnensqruhi oleh komposisi kimia logam induk,
baja karbon adalah, seperti : pengisi (yang bercampur di lbgam las) dan i<andungan
Pgp
l. Kompmisi Hmin logam in&k (dakm hal ini %C) Hidrogen yang terlarut. Jika kandungan Hidrogen dalam iog-am
2.. Ibmposisi kimia logam pengici las r cc/ro-o gr, kecenderungan timbtrlnyi retakan p;d"
penampang lasan mencapai 3o% unfuk selang karbon ekivalen
Bila yang dilas adalah fujo ltarbn rnaka paramebr yang hanrs
o:1ST hil88a o,640,6" Contoh lain adalah untrrk selang karbon
diperhatikan adalah: ekivalen dari o,5% hingg-a o,6496 dan kandungan fridrog"r,
1. Persentase ldarbon logan in&* &r logam pengisi (%C) zcc/roogr maka- kecenderungan timbulnya ietakan p;da
z. Parameter retak (PJ penampang lasan berkisar 8o% lebih
Bila yang dilas dalah ba.pa paduan maka prameter )xang harus selain ada daerah berbahaya r€tak, juga terdapat daerah
diperhatikan adalah : bebas retak. Daerah yqng beb; aari te;i'ai"n r"iut dingin
berdasarkan kurva itu adalah daerah dengan c ekivalen kuring
r. Ihrbon Ekivalen (CE atau CJ
dario,z5o/o.
2. Parameter Retak (P")
Catatan : Persamaan Karbon Ekivalen (nrenurtrt standar JIS):
Parameter lain
{lrg juga ikut berpengaruh pada peristiwa
retakan didaerah hasil lasan baja karbon aun baja paduan adalah
parameter retak (Pc). Hubungan antara komposiii kimia logam
cE: c*ry*g*$***+
6245444t4
** rv,t las dan pararneter retak adalah :

si
P":C +-+ Mn + Cu +Cr Ni
+-+ MoV +58
Xrder tidrcfra o os o
30 20 60 15 " lo
cO
a lcc/lfil;
r 2cctlm:
8a c ,lcc/l{tr! q"!
a
I
e N
a
t I
I
a
1 t
I
a
L
I6 t
aa
tt

!li' llo Ni CI llo Y


cr -c+-+ t**d* T* . , fl.)
Gembar 5-5. Pengenrh Krrbon Ekivalen drn Hidnogen Terlrmt
-llif.ONiGxoyrH
h -L+_+_+_+_+_ +_+_- lEr_r _
I a u o ,,'t5 to'--'60'o
terhadap Kepekarn Retak Pada Pengelasen Baje Kerbon/Baie Gambar 5.6. Pengaruh Parameter neAk ec) Oaa HIOG
Paduani)
ferlarut terhedep Kepekren Retak pede pengehsen Baia
Karbon/Baja Paduen (r)

42. Pengelasan Baja Karbon dan Baja Paduan


43 Pengelasan Baja Karbon dan Baja paduan
5.2. Retak lXn6ln (Cold Clacking)
Dari kurva diatas, kecenderungan munculnya retak di
Hidrogen
p"";pu"i fuo" {ipicrl olelr peningkatan kaSd,ynqanpenampans
di Dikatakan retak dingin karena jenis retak ini terjadi pada
ei i;i"ir ti". n"t"t io aipe*iia\an akan terjadi
temperatur rendah yaitu dibawah temperatur r5ooc. Retak dingin
L;;ik, xarbon ekivalen berkisar o3 hingga o,45 dim-ana memiliki beberapa nama dengan penyebab dan fenomena yang
kecen&rungannya rnulai dari ro% hingga 1oo%' ng$|<vang akan berbeda, seperti Hidrogen Induced Cracking (HIC), martensitic
t..i"ai ini aiabila di roo gr logam las terkandung Hidrogen z cc. craeking, dan delay cracking. Hydrogen induced cracking
Kurvadiatasjugamemperlihatkanadanyadaer.ahvan.s.belas disebabkan oleh kehadiran gas Hidrogen dalam jumlah besar
dari kejadiut .uLi'dingn. Daerah dgngan Kapgn ekivalen dalam logam las. HIC juga dapat terjadi di HAZ akibat difusi gas
G;"t"d.n o,r7; meru[akan daerah bebas retak retak dingin. Jadi Hidrogen dari logam las ke HAZ.
menginginkan produk las yang terbebas dari. dingin,
il;ii; Martensitic craeking terjadi akibat adanya fasa Martensit
;;[;k"; u!"ur iogu* ina* yang-akan dilas memiliki komposisi yang keras dan getas baik di logam las maupun di HAZ. Fasa
kimiayangmemenuhiKarbonekivalenkurangdano,z796. martensit dapat timbul di daerah hasil lasan akibat tingginya
Kedua paramater yaitu Karbon ekivalen dan parameter
retak kandungan Karbon dan/atau laju pendinginan cepat. Fasa
aupuiJipuf.ui sebagai u9ou, a4-'ry menentukan terjadinya retak martensit yang getas memudahkan retak menjalar hingga
ouiu ,rodrk las. .l'ika harga CE dan P" rendah maka kepekaan mencapai permukaan produk las. Disamping itu, pada kandungan
gambar/kurva
il;k i"g;; induk setelah dilas menurun. Dari duarendah Karbon yang tinggi, fasa Martensit yang terbentuk senantiasa
(dengan
ai;t*E"pat disimpulkan bahwa baja karbon diikuti dengan terbentuknya Retak Rambut (fissure).
C<o,z{o)herupakan baja yang dapat dilas tanpa menghasilkan
Apabila retak terjadi tidak pada saat setelah pengelasan
k"g;gdu"iretat pada p""iqp.llg lasan' Atau dengan kata lain' berakhir, akan tetapi setelah dibiarkan selama maksimum Tzjam
il;i;il.b;" r""aun ini memiiiki iifat weld-obility paling baik maka retak demikian dikenal dengan nama delay cracking.
;iil;eilgkan baja karbon medium atau baja karbon tinggt. Beberapa hasil penelitian menyebutkan mengapa retak baru
selain dapat menentukan kepekaan retak logam induk, juga
terjadi setelah dibiarkan beberapa lama. Retak ini disebabkan oleh
variabel Ikrbon ekivalen merupakan satu variabel yang masih berdifusinya gas-gas Hidrogen dan berkumpul disatu
pemanasan
digunakan untuk menentukan besarnya temperatur preh3lt tempat dimana retak itu terjadi. Oleh karena itu, berkaitan dengan
]fJ iG;* induk (preheat temperature). ini akan peristiwa delay cracking ini, apabila akan dilakukan pengujian
aioert,rkln iika jenis 6aja yang aka; dilas termasukbaja karbon mekanik terhadap produk las itu, maka sebaiknya pengujian
;;dt;;;d;'baja karbon ti"sgi. Tabel berikut menunjukan dilakukan setelah 7z jam.
temperatur p"*"or"un awal yang disarankan pada pengelasan Keterangan-keterangan diatas memberikan gambaran bahwa
baja paduan. retak pada produk las terjadi akibat beberapa faktor. Faktor-faktor
itu mungkin saja berasal dari kesalahan pemilihan logam induk,
CE Temperatur Preheat Yang logam pengisi atau kesalahan pemilihan parameter pengelasan.
(%) disararrkan ("C) Penyebab retak berdasarkan penjelasan diatas terjadi akibat
s.d. o,4S < 100 tingginya kandungan Hidrogen yang terlarut dalam logam las,
1OO - 25O adanyalzsa Martettsit yang keros dan getas, dan satu thinnya
o,45 - 0160 adalah adanya teg angan sr'sa berupa tegangan tarik yang melebihi
> 0.60 2so - sso (atauleblh) kekuatan tariklogam las atau logam induk.

Pengelasan []a.ja Karbon dair Baia Paduan


Pengelasan Baja Karbon dan Baja Paduan
44
Retak tidak diinginkan dalam setiap operasi pengelasan, oleh
Retakan juga dapat terjadi akibat tingginya tegangan sisir
karenanya perlu diketahui bagaimana cara agar retak tidak terjadi.
pada produk las. Tegangan sisa yang sangat berbahaya yaitu
Solusinya mudah saja. Apa penyebab retak ? Dari situlah keluar
solusi yang sebenarnya. Penyebab retak pertama adalah tingginya
iegangan tarik. Adanya tegangan sisa ini akibat gradien
kandungan Hidrogen. Solusinya tidaklain adalah mencegah agar
temperattr yang besar dan logam induk yang dilas memiliki
koefisien ekspansi panas yang cukup tinggi. Disamping itu, pada
Hidrogen tidak larut secara berlebih ke dalam'kubangan logam
las. Tugas yang menghalangi agar Hidrogen tidak larut secara saat membeku, logam las yang cair akan mengkerut dan
mengakibatkan efek tarikan dikiri kanan HAZ. Tegangan sisa yang
berlebih ini dipikul oleh gaspelindung atau/ulcs selama operasi
pengelasan. Tetapi sebenarnya dari awal sebelum memulai cukup besar juga dipengaruhi oleh .1'enis sambungan yang
pengelasan pun, gas Hidrogen dapat dicegah agar tidak terlarut.
digunakan dan telaik merryelas yang tidak benar Qihat
pembahasan metalurgi pengelasan baja karbon).
Misalnya dengan mengetahui darimana sumber datangnya gas
Hidrogen. Seperti kita ketahui, gas Hidrogen ihr bisa saja datang Ada beberapa cara untuk menurunkan tingkat tegzngan sisa,
dari air, oli dan gemuk yang menempel dan menyerap di salah sahrnya dengan memberikan PWHT (post weld heat
permukaan kawat las dan logam induk Apabila tidak dihilangkan treatment). PWHT ini memiliki multi-fungsi selain menurunkan
maka air atau oli mengalami pemanasan dan akhirnya terurai tegangan sisa, antara lain meningkatkan keuletan di FIAZ dan
salah satunya menjadi Hidrogen. Gas Hidrogen inilah yang memperbaiki sifat mampu las daerah logam las dan HAZ.
nantinya akan terbawa dan terlarut ke dalam logarn las. Sahr hal
yang sangat penting yaitu sebelum p,engelasan biasakan untuk
membersihkan permukaan logam induk atau kawat las dari air
atau oli atau kotoran lainnya untuk mencegah timbulnya retak
(lihat buku "fas Listrik SMAW dan Pemeriksaan Hasil
Pengelasan" untuk proses pemanggangan elektroda las).
Penyebab retak kedua adalah adanya fasa Martensit di logam
las danlatau HAZ. Penyebab munculnya Martensit ini karena
tingginya kandungan karbon dan tingginya laju pendinginan.
Tingginya kandungan karbon dapat dihindari dengan memilih
logam induk baja karbon rendah. Apabila logam induk dari baja
karbon medium atau baja karbon tinggr maka hal itu dapat
diminimalisir dengan memberikan preheat + PVWT serta
penggunaan elektroda berhidrogen rendah.
Tingginya laju pendinginan selama pengelasan juga menjadi
penyebab timbulnya Martensit. Dalam pengelasan baja dengan
karbon lebih besar dan o,296, laju pendinginan pendinginan
diusahakan selambat mungkin. Pemberian preheat sebelum
pengelasan dapat mengurangi laju pendinginan daerah logam las
dan HAZ Qihat pembahasan metalurgi pengelasan baja karbon).

46 Pengelasan Baja Karbon dan Baja Paduan


47 Pengelasan Baja Karbon dan Baja Paduan
Seperti ynrrg tcrlihat pada gambar diatas, pada pelat logam
6l Metalurgi Pengelasan Baja Karbon dibuat satu lubanB yang berfungsi sebagai tempat pembacaan
temperatur oleh termokopel. Pada saat pengelasan pertama Qasan
no. r), titik A akan membaca ternperatur yang berasal dari
6.r. Siklus termal pemanasan lasan r. IGrena titik A memiliki jarak terdekat dengan
Setiap tidk dari daerah hasil lasan mengalami tingkat lasan r maka temperatur maksimum yang terbaca juga relatif
pemanasan berbeda. Akibatnya selama proses pendinginan laju tinggi.
pendinginan masing-masing titik juga berbeda. Stmktur mikro di Iangkah selanjutnya adalah pengelasan tahap z Qasan no.
masing-masing daerah memiliki karakteristik berbeda tergantung z). Jarak antar titik A dan lasan z lebih jauh dibandingkan jarak
pada laju pendinginan yant dialaminya. titik A dan lasan nomor r. Akibatnya temperatur yang terbaca
Laju pendinttnan di suatu titik diperoleh dari proses dititik A lebih rendah. Demikian seterusnya, daerah lasan terjauh
pendinginan dari temperahrr misalnya SoooC ke temperahrr dari titik A akan mengalami pemanasan yang semakin rendah
Soooc selama waktu tertentu. Waktu pendinginan tersebut yang dirasakan oleh titik Atersebut
dituliskan sebagai t rr. Sehingga laju pendinginan didefiniskan : 14OO
13OO Lintasan las ke-r
1200
AT 800 - 500 1100
= 1000
ters trrs P
, 900 Lintasan las ke-z
8oo
Dari persamaan diatas, untuk waktu pendinginan yang lama c6
,4 7o0
(bernilai besar) akan menghasilkan laju pendinginan lambat (AT/t o
o 6oo
bernilai kecil). Berikut ini adalah suatu cara untuk mendapatkan OJ 500
kurva siklus termal yang dihasilkan dari proses pengelasan pelat E- 400
logam. 300
200
10()

o 10203o4o5o6o7o8o
Waktu (detik)
Gamber G2. Contoh Kurve Siklus Termel Hesil
Pengelrsrn

Hubungan antara temperatur dan waktu untuk masing-


masing daerah lasan digambarkan pada kurva siklus termal.
Kurva tersebut dihasilkan dari suatu proses pengelasan seperti
yang telah dijelaskan diatas.
Setelah mendapatkan kurva siklus termal seperti diatas,
GemberGl. Pcngukurrn Tempcrrtur Untuk
Mendepothn Kuru Siklus Termal selanjutnya kurva tersebut dimanfaatkan untuk mendapatkan
waktu pendinginan (t*rr). Bagaimana membaca waktu
Metalurgi Pengelasan Baja Karbon 49 Metllurgi Pengelasan flaja Karbon
4E
pendinginan t67. dari suatu kuna siklus termal '/ I'crhatikan bahan latihnn, tr.nttrkan berapa waktu pendinginan trr* pada titik
penjelasan berikut. Sebagai contoh, perhatikan kurua hasil A untuk lintasan las ke-z dan juga tentukan berapa laju
pengelasan lintasan ke-r. pendinginannya.
14OO ekibat pengelasan lintasan las ke-3 dan seterusnya,
13OO temperatur puncak yang terbaca di titik A tidak mencapai
1200 Lintasan las ke-r temperatur 8oooC. Mungkin saja hal ini diakibatkan karena
1100 semakin jauhnya jarak dari titik A ke lintasan las ke-3. Apalagi
6
r-
looo untuk lintasan las ke-4 dan ke-5. Dengan demikian untuk kasus
ooo seperti itu, waktu pendingrnan tars tidakbisa diperoleh.
E Boo
E 7oo 140O
t" 6oo r3oo
.E 500
F 1200
4OO 1100
300 1000
20() P Temperatur puncak
-rr r+- t*O k 900
100 a 8oo
Cd
o30405o6o 7o 8o L
o 700
O" 6oo
waktu (detik)
o) 500
E{ 400 Lintasan las ke-4
Gember 6-3. Pembecean Waktu Pendinginan tr. 300 Lintasan las ke-5
200
Dari titik Temperatur SoooC ditarik garis mendatar hingga 100
berpotongan dengan kurva kemudian tarik garis vertikal keban'ah
hingga memotong sumbu waktu (didapat waktu detik ke 6).
o 102030405o6o 7o Bo
Dengan cara yang sama lakukan pada temperatur 5oooC dan wakru (detik)
didapat detik ke ro. Selisih antara kedua waktu itu sebesar 10-6= Gambar G4. Pada Lintesan Las ke.3, ke4 den ke'S,
Temperatur Puncak Tidak Mencapei E0OC
4 detik, disebut dengan trrr. Artinya waktu pendinginan dari
temperatur 8oo"C ke temperatur 5oooC di suatu titik logam induk
adalah sebesar 4 detik. Dengan demikian laju pendinginan yang Prosedur seperti yang
terjadi pada titik ini adalah : dijelaskan diatas memiliki Busur Listrik
kesamaan dengan cara berikut
AT 800- 500 3000c ini. Jika pada cara diatas hanya
= 75oCls terdapat sebuah lubang untuk
-=
t 4s 4s
t,s membaca temperatur maka
-=akibat pengelasan li ntasan I as dengan cara kedua ini terdapat s
Laju pendin ginan yang terj adi
ke-r ini sebesar TSoC/s yang artinya pada titik itu terjadi
buah lubang atau titik untuk logam Induk
memOaCa tempefaRrr. t rUK YanB Gamber G5. Lime Titik pembaca
penurunan temperatur 75oC untuk setiap detik-nya. Sebagai
terdekat dengan logam las (titik Temperatur Logam Induk
Metalurgi Pengelasan Baja Karbon Metaiurgi Pengelasan Ba"ja Karbon
51
r) akan mengalami pemanasan lebih tinggi dari titik yang terjauh 6.2. Diagram lrasa Kesetimbangan
dari logam las (titik S)
Siklus termal pengelasan melibatkan pemanasan yang Cara terbaik untuk mempelajari metalurgi baja karbon
berasal dari panas busur lisEik. Untuk pengelasan busur listrik, adalah melalui diagram fasa besi-karbon. Diagram yang
panas )4ang diserap oleh benda kerja sebenarnya merupalan hasil diperlihatkan dibawah, didasarkan pada transformasi yang terjadi
perkalian tegangan dan arus las dan disebut dengan istilah sebagai hasil dari pemanasan dan pendingnan yang lambat.
masukan panas (heat input, HI). Karena pemanasan tidak hanya
terjadi pada satu titik melainkan berlangsung disepanjang pelat,
Coir + Austenit
maka melibatkan Satu parameter lagi yaitu kecepatan pengelasan.
Dengan demikian masukan panas tersebut dapat disebut dengan I l4ooc
Iaju masukan panas yang didefinisikan dengan pensamaan
berikut:
9t0t
HI =V'I
Vl

Untuk pengelasan pada pelat tebal (T > z5 Dm), panas yang


berasal dari busur listrik dialirkan ke sulunrh bagian pelat melalui
pelat itu sendiri dan udara disekitar pelat. Dengan kondisi seperti
itu, dapat dikatakan bahwa laju pendinginan berupa laju
pendingian 3 dimensi (g D)s. Masukan panas yang mempengaruhi
laju pendinginan pada logam las, dapat dihubungkan dengan
persamaan berikut 5 :
dT zlrkL\'z 0,0257" o,8"/"
dt= HI .* o/oC

Selain masukan panas, parameter lain yang ikut berpen garuh Gambar G6. Diagram Fasa Kcsetimbangan Bcsi - Kerbon
pada laju pendinginan hasil pengelasan adalah konduktivitas
logam yang dilas (k) dan selisih antara temperatur cair Iogam las Pendinginan lambat akan menurunkan temperatur
dan temperatur awal logam yang dilas(ATJ. Persaman itu transformasi, sebagai contoh titikA., akan furun dari temperatur
menunjukan bahwa laju pendinginan (dT/dt) akan semakin besar TzgoC menjadi 69ooC. Besar kecil4ya penurunan temperatur Ar
(atau bisa dikatakan laju pendinginan cepat) jika masukan panas sangat dipengaruhi oleh cepat atau lambatnya laju pendinginan.
rendah. Hal lainnya yang dapat memperbesar laju pendinginan Proses pemanasan dan pendinginan yang terjadi pada pengelasan
adalah logam yang dilas memiliki konduktivitas panas tinggi dan memiliki pengamh yang cukup berarti pada temperatur
selisih temperatur yang makin besar. Pernyataan-pernyataan transformasi ini, sehingga prediksi metalurgi las yang
diatas, akan sangat berpengaruh jika pengelasan dilakukan pada menggunakan diagram ini menjadi sulit.
baja-baja feritik dimana laju pendingian cepat dapat
Fasa-fasa yang ada di dia$am fasa dapat dijelaskan sebagai
meningkatkan kekerasan dan resiko terbentuknya retak hidrogen
(retak dingin). berikut:

52 Metalurgi Pengelasan Baja Karbon 53 Mutalur"gi i)engelasan Ba.lr,t Karbon


Austenit (disimbolkan dengan $. Fasa ini hanya kartxrn, lt:rrrtama bila kadarnya melebihi o,zg"/u Karbon
mungkin ada pada baja di temperatur tinggi. Austenit dapat mem bentuk senyawa fto" n{rtdc bila berikatan dengan
memiliki sel satuan FCC yang mengandung unsur karbon unsur logam, misalnya besi-karbida dan krom-karbida.
maksimum hingga L,fr6.

Sernentit (FerC}.fidakseperti ferit dan austenit, sementit


r I
merupakan senyarm bersifat sangat keras yang mengandung
6,6796c.Sementit sangat keras, tetapi bila bercampur dengan
ferit yang lunak maka ,kekerasan keduanya menurun.
a

I Campuran Ferit dengan Sementit ini disebut Perlft. [,aju


pendinginan lambat menghasilkan perlit kasar, sehingga
baja-nya mudah dimesin tetapi memiliki ketangguhan
rendah. Laju pendinginan cepat menghasilkan perlit halus,
bersifat keras dan lebih tengguh.
Ganbrr 67. Sol Sttuen FCC

Ferit (disimbolkan dengan


Perlit. Campuran ferit dan sementit berlapis dalam suatu
cr). Fasa ini memiliki bentuk
struktur butir disebut dengan perlit. Jarak antara pelat-pelat
sel satuan BCC yang hanya dapat umenampung'unsur
sementit dalam perlit tergantung pada laju pendinginan
karbon maksimum 0,o1210.6 pada temperatut ZIS,C.
baja. Iaju pendinginan lebih cepat menghasilkan jarakyang
cukup rapat, sedangkan laju pendinginan lambat
menghasilkan jarak yang semakin jauh/kasar.

Ia

-t-

Gambar G7. Scl Satuan BCC

Karbon. Unsur ini merupakan atom interstisi yang Gambar 6-8 Struktur Mikro Perlit
berukuran sangat kecil yang cenderung menyisip diantara
atom-atom besi. Karbon dapat memperkuat baja dan
meningkatkan kemampuan untuk dikeraskan melalui
perlakuan panas (heat treatment). Unsur ini juga merupakan
salah satu penyebab terjadinya retak pada pengelasan baja

il Metalurgi Pengelasan Baja Karbon


55 Metalurgi Pengelasan Baja Karbon
6.3. Fendinginan Bqja Hipo-eute}*oid Pada temperatur sekitar 723"C, fa-sa austenit menS',andung
o,SYokarbon dan berubah menjadi glerlit. Dengan demikian pada
temperahxr dibawah garis Al, sudah ddak ada lagi fasa austenit
Yang dimaksud dengan baja hrpo-eutektoid adalah baja yang
karena zudah bertransfornnasi meujadi perlit. Fada kondisi ini
mengandung karbon kurang dari o,8%. Pada proses pembekuan
baj a rnerniliki stmktu r ferit (tidah bertlansformasi) dnn perdf r.
baja dari temperatur cair maka baja akan mengalanni penrbahan
struktur rnikro mulai dari temperatur cair itu. Ambit contoh baja
karbon dengan ka&r C=a,496. Ketika temperatur baja naencapai T<&
sekitar rooooC, stmkhrr mikro Mja adalah austenit. Ketika T>& T>Ar T<A,
temperatur turun dibawah garis Ag, butir ferit mulai terbentuk di
batas butir austenit.
"Iika
tennpreratur terus tuflrn, butir ferit terus io**l-*
# Gll. Au$enit + Ferit
hrmbuh membesar dan fasa austenit yang tersisa menjadi kaya
akan karbon. Gambar Ferubahan Struktur Mikro Baja Hipo-eutektoid

Austenit

gl0"c
Martensit. ,lika baja didinginkan secara cepat dari fasa
ar.rstenit, nnaka sel satuan FCC akan bertransformasi secara
Ferii rnukri
teIbenlukdlsini cepat rnenjadi BCC. Karena demikian cepatnya, unsur
Austenit yorq odo, Austenit + Semenlil karbon yang larut dalam tsCC tidak sernpat keluar
kqpo okon korbon (terper'angkap) dan tetap berada dalam sel sahran i2. tni
7230C menyebabkan terjadinya distorsi sel sahran sehingga sel
Austenit befionstonno$
satuan BCC bembah menjadi BCT. Perubahan sel satuan ini
i rnenlodipedit
diikuti dengan penrbatran stmktur mikroAustenif menjadi
Morrternsis yang terlihat seperti bentuk jarum-jarum halus.
Gamber G9" Perubahen Struktur Mikro Baje 0l?6C Kekerasan rnartensit tenrtarna tergantung pada kandungan
karbon yang ada pada baja- Umumnya harga kekerasan
martensit sangat tinggr uralaupun kadar karbonrrya rendah.

JAusterft I toiu Fendlnginon lorrbot


,fr_J
.$
l
Perlit + Fedt

J-l tolu hrrctinglrnn songot cepot -

s#
H nustenlt l

GambarGl2. Perbedran Produk Laju Pendinginan


I\,ARTENISIT

Gambar 610. Pembcntukan inti Ferit di


batas butir Austenit (atau proses pcnginthn)

56 Metalurgi Pengelasan Baja Karbon 57 Metalurgi Pengelasan Baja Karbon


Anneallng. lstilah ini seringkali dipakai untuk mendefi nisi
kan suatu proses perlakuan panas yang menghasilkan
struktur yang lunak. Proses anil, itu yang sering disebut,
melibatkan proses pemanasan baja hingga ncencapai
temperatur austenisEpi dan menahannya di temperahu ihr
untuk beberapa lama unhrk menyeragamkan struktur dan
temperatur. Selanjutnya baja itu didinginkan dengan
sangat lambot hingga mencapai temperatur kamar. Dengan
cara ini, akan diperoleh struktur yang sangat lunak tetapi
juga menghasilkan struktur brfiir kasar yang cenderung
Gembur 613. Stmkhr Martencit memiliki ketangguhan yant rendah.

Tempering. I(arbon yang terperangkap pada Nomalising. Dengan proees ini, sifat dan struktur mikro
saat
transformasi menjadi martensi! dapat "dikeluarkan" dengan baja dapat dikembalikan ke keadaan norural. Baja dipanas
cara memhrikan pemanasan pada baja dibawah temperatur
kan hingga temperatur austenisasi, ditahan dan kemudian
Itansformasi Ar. Pelepasan karbon ini membuat Jtruktur didinginkan di udara. Proses ini dapatjuga dikatakan prcses
terdeformasi ",plastik dan terjadi juga pelepasan tegangan dengan laju pendinginan moderat (ada diantara laju
pendingian lambat dan cepat) dimana menghasilkan
sisa. Hal ini membuat kekerasan turun dan ketangguhan
naik, sertacenderung menaikkan kekuatan material. Dalarn stmktur butir yang lebih halus.
pengelasan, perlakuan,,yang ditujukan unhrk mengurangi
pengaruh tegangan sisa disebut dengan FWHT (post weld
heat treatment).

t-
,q)
,o)
F

Waktu
Gambar 6-15. Perbedaan Lqir Pendirginrn Annealing Normalising
dan Quenching.
Gambar 6'14. Temperetur Tempering

59 Metalurgi Pangelasan Baja Karbon


Seperti telah dijelaskan diatas, metalurgi husil lx,rrgclirsan
atau struktur mikro hasil pengelasan tidak bisa dianalisis melalui
I
I 3000
It I lill I lll I tlt
l2mo Moterlol Boio Korbon Medlum o,3oac)
:
diagram fasa. Diagram fasa hanya bisa diterapkan untuk kondisi
IT
'T -l 1-Tr- -1- -rr1 -' -t -T Il' i

dimana laju pendinginan sangat lambat dan proses difirsi atom 'I
I OO0
I
berlangsung.
I

g eooo
0000
\ sA\ l
a
\
S*
\ s
Hasil
+ Laju Pendinginan
Diegram Fr E
c
sooo
Pengelasan Lambat \) \
B
tr
Tooo
Ms
o
6oo0
\ t\ \)
Hasil
Pengelasan + Laju Pendinginan
Tidak Lembat Diegram 5000
M $l\
N
4r3r
w2a 5l 2t l!
4000
Gambar 6-16. Perbedean Pemektien Diagrnrm Fasa dan CCT
30d
0.1 o.2 0.4 I 2 4 6810 20 /O60 lm2m rm0
Proses pendinginan hasil pengelasan lazimnya berlangsung Woklu pendinginon {dellk)
secara relatif cepat. Karena alasan itulah mengapa diagram fasa GambarGlT. Diagrem CCT Baja Karbon Medium (03%C)
tidak dapat dipergunakan untuk menganalisis struktur mikro
hasil pengelasan. Untuk itu maka diperlukan cara lain agar dapat Diagram CCT merupakan diagram Temperatur (T) vs Waktu
(t) yang bermanfaat untuk memprediksi struktur mikro dan harga
menganalisa struktur mikro pada produk hasil pengelasan. Cara
yang dimaksud adalah dengan menggunakan diagram CCT kekerasan dibawah laju pendinginan tertentu. Selain
memperlihatkan hubungan temperatur dan waktu, pada diagram
Gontinuous cooling [ransformation). Contoh diagram CCT untuk
baja dengan komposisi uns.gr tertentu diperlihatkan pada gambar itu juga terdapat fasa-fasa yang mungkin terjadi pada kasus
6-17 dibawah ini.
pendinginan tertentu. Huruf A dalam diagram menyatakan fasa
AUSTENIT, huruf F = Ferit, P = Perlit, B = Bainit, M = Martensit
dan Ms (atau martensit start) = garis transformasi mulai
terbentuknya fasa martensit. Sedangkan angka-angka ditiap garis
pendinginan menyatakan angka kekerasan.
Garis-garis yang ada pada diagram CCT merupakan batas
antara satu fasa dengan fasa lain. Sebagai contoh daerah F
merupakan daerah yang dibatasi oleh garis Fs dan Ff. Fs dan Ff
berturut-turut berarti,fent start danferitfinish. Garis Fs memiliki
arti apabila suatu garis pendinginan mulai memotong garis ini
maka pada saat ini terjadi transformasi fasa, sedangkan bila garis
pendinginan memotong garis Ff maka proses transformasi ferit
telah selesai. Hal ini berlaku juga untuk transformasi lain seperti
transformasi perlit, bainit dan martensit. Seperti terlihat pada

60 Metalurgi Pengelasan Baja Karbon 6r Metalurgi Pengelasan Baja Karbon


gambar, garis ferit finish sama dengan garis perlit sttrt. l)r'lrrikian r 300'
lll I lilt I rltr I til
juga garis martensit start sama dengan bainit finish. I 200n Moterlol :Bolo Kobon lvledtm (0,3o/oc) :

I looo
tT-T I rnr--r-t-TTI I T-m
l
E

'!000'

E g0oo I
A P

€ sooo \
E
tr
Tooo
Ms
V B
I
I

l
o
60oo
\
M \
5000

4000

3000
Gambar Gt8. Garb-garis tranformesi prda Diagrrm CCT 0,1 o,2 0,4 l 2 4 68t0 20 40@ 100200 tu)o
Woktr pendinginon (delil{

Bagaimana cara membaca diagram CCT ini ? Diagram CCT Gambar 6-t9. Grrir Pendinginan yeng Menghrsilhn 139 VHN
merupakan diagram temperatur - waktu yang tentu saja fasa-fasa Sampai detik ke rzo, baja berfasa austenit + ferit (ingat
yang ada pada baja tergantung pada temperatur dan waktu pada
bahwa sebagian austenit sudah berubah menjadi ferit). Pada detik
saat itu. Sebagai contoh perhatikan garis pendinginan paling ke rzo ini, terjadi z peristiwa. Yang pertama, transformasi
kanan yang menghasilkan nilai kekerasan r3g rfHN flihat gambar austenit menjadi ferit sudah selesai (karena garis pendinginan
6-rq). Proses pendinginan yang dapat diamati pada diagram ini memotong garis ferit finish), dan.kedua mulai terjadi transformasi
dimulai dari o detik dan temperatur 1l(xloK Karena pendinginan austenit tersisa menjadi perlit. Austenit yang tersisa
berlangsung seca.ra kontinu maka ternperatur turun secara bertransformasi menjadi perlit karena garis pendinginan mulai
kontinu juga. memotong garis transformasi perlit start. Transformasi austenit
Pada saat mencapar temperatur ltoooc, baja memiliki fasa menjadi perlit terus berlangsung sampai pada detik ke zoo.
austenit. Pada waktu t = 1 detik, baja masih berfasa austenit Setelah detik ke zoo garis pendinginan tidak lagi memotong garis
sampai pada detik ke 7o. Mulai dari detik ke 7o ini, garis transformasi. Pada saat itu, baja sudah memiliki fasa ferit dan
pendinginan memotong garis transformasiferit starf. Pada saat perlit dan ini berlangsung hingga mencapai temperatur kamar.
itu sebagian fasa austenit beruansfornlasi menjadi ferit. Hal ini Harga kekerasan untuk kedua strukhrr mikro yang diperoleh
terus berlangsung sampai detikke rzo. adalah $9 VHN. Dengan demikian, diagram CCIT dapat
memberikan infonnasi tentang jenis struktur mikro dan harga
kekerasan yang diperoleh jika suatu baja mengalami pendinginan
dengan laju pendinginan tertentu.
Contoh kedua, tenhrkan garis pendinginan yang menghasil
kan strnkfnr mikrro MARTENSIT ! Pada gambar diagram CCT,

6z Metalurgi Pengelasan Baja Karbon 63 Metalurgi Pengelasan Baja Karbon


terdapat dua garis pendinginan yang menghasilknn slntktur I

r3m
I

mikro martensit, yaitu garis pendinginan dengan harga kckerasan i

rzod Mot€rlol: Bolo l(olbon tvledum (0,3%C)


S92 dan S8r VHN flihat gambar 6-zo). Keduanya menghasilkan
strukturyang sama tetapi kekerasan berbeda. rrd
(rozs)-
\-/ rood
F
i 30cF
lLt r rlil r___LttI r r,tI 5I eod
I2mo Moteriol : B@ Kobon Medium (0,3"/"C) a 80cr
I to0o |+{
rTr---T---Tl-TrT--T- t rr -r-T It E
p,4d-,,
==: B
/--<
I 0000
\ \ >
= -!-
n @) 6od
\ \\
I

900"

sod
A x\ 50d
40d

B
t Tooo
Ms
\) s 3od
,o
6000
\ N \
5000
M $T\ I
N
dar lr
Grmber 6,21. Wektu pendinginrn dari tfi)oC ke 50OC
5E2 a t5 2( l( I
4oo0

3000
o,l 0,20,4 t 2 4 68 IO 20 40 60 r00 290 a00 lmo Waktu pendinginan t.r, yang menghasilkan kekerasan r59 VHN
woktu perdfE[non (clefik)
yaitu:
Gambar G20. Garis-garis Pendinginan padr Dhgram CCT tsTt=1$o-2=r48detik
maka laju pendinginan yang terjadi adalah :

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membaca laju LT 800- 500 ,

pendinginan (yang ada di hal +8) pada diagram CCT ? Persamaan terc l48s =2,o3oCldetik'
-=
laju pendinginan dapat dituliskan kembali sebagai berikut :

AT 800 - 500 Waktu pendinginan trru yang menghasilkan kekerasan r39 VHN
yaitu:
tsls tsls

pada pemamaan diatas terdapat simbol trr, yang berarti waktu


pendinginan dari temperatur 8oo"C ke Soooc atau dari maka laju pendinginan adalah :
temperatur 1o7BoK ke 73oK Gambar dibawah ini menunjukan
bagaimana mendapatkan waktu pendinginan trr, untuk satu garis
LT 800- 500 o,ToCtdetik
pendinginan. tsrs 430s =
6q Metalurgi Pengelasan Baja Karbon 6S Metalurgi Pengelasan Baja Karbon
dengan melihat dua contoh diatas, garis pendinginan rnakin
kekanan akan menghasilkan laju pendinginan yant semakin
lambat. Kemudian laju pendinginan yang semakin lambat akan
menghasilkan struktur yang semakin lunak.

rsod
._1__LL1 I t tLLl_t il_l I tLI
I 2ooo -i.-l- Moteriol:Boio Ko6on Medium (0.3%C)
T
-rT-*-r---T*rTT--r- T-T_TI---T-I-]-r
ltooo B Iogam Induk
--:s

g
I 0000

eooo
\s N
SF
N
f.\
F
Gembrr 623. TemPeratur Pementsan
Berbede antara Titik I sampai Titik 6

;
A. l ft \
g
sooo
I Daerah atau titikyangbersebelahan dengan daerah cair tadi
E
o
Tooo

6oo0
Vs
M
*ffil%
)
N t\ t \
Loiu hndlnginon
menghasilkan temperatur lebih rendah dan tidak mengalami
pencairan. Semakin jauh jarak dari daerah cair, temperatur Yqng
hialami juga semakin rendah. Pada titik tertentu, logam tidak
500' d3'
Lornbot
mendapatkan pengaruh apapun dari pemanasan busur listrik.
K€*o.oson lingEi 3y) a t5 26 t( K€k€roson Ronclch
4ooo Berdasarkan penjelasan diatas, daerah hasil pengelasan dapat
diHasifikasikan menjaditiga daerah utama, yaihr :
30d
0,r 0.2 0,4 | 2 4 68 r0 20 40 60 lm 2(I) 1m rdx) t. Daerah mencair atau disebut dengan DAERAH
Wbldu pendinglnon (clelikl LOGAI'I I.AS.
Grmber G22. Pengeruh Leju Pcudiaginrl drn Kelcnsen z. Daerah bersebelahan dengan logam las yang
terpengaruh langsung oleh panas pengelasan yang
disebutdenganDAERAIITERPE IGARUH PA IAS
6.4. Stnrktur m-ilrro Hasil PengeLasan Bqia Karbon (Heat affected Znne, HAZ). Pada daerah ini terjadi
perubahan/transformasi struktur mikro logam baik
transfomtrrsirnenyehm,rhataupuntrvrn$onrusi
Pemanasan lokal pada permukaan logam induk selama sebagioin.
prioses pengelasan menghasilkan daerah pemanasan yang unik,
artinya disetiap titik yang mengalami pemanasan itu memiliki 3. Daerah yang tidak terpengaruh panas
karakteristik berbeda-beda Qihat titik r s.d. 6 pada gambar GzS).
Pada pengelasan busur listrik, permukaan logam yant
"berhubungan lan8-sung" dengan bqsur listrik akan mengalami
pemanasan )ang paling titgs )xang memungkinkan daerah
tersebut mencapai titik cairnya

Mehlurgi Pengelasan Bqia Kattort


66 Metalurgi Pengelasan Baja Karbon
Stnrktrrr llulrr ('olumnar

o3%oc o,8%

lngam Induk:
Baja karbon o,Jo/oC
l.ogam Las

Gambar G24. Distribusi Temperatur Pada Logam Hasil Pengelasan


Logam Las Lqgrm trnduk
Pada gambar diatas memperlihatkan pelat baja karbon Gambar 626. Strr*tur Bm&rCohrm*rrdi Lognrn tas
o,JYoC yang dilas dengan suatu proses pengelasan tertentu. Struktur mikro di logarn las dicirtken der.ryan adanya struktur
Struktur mikro baj a karbon o,3%C pada temperatur kamar adalah berbutir panjang (columnar,6fnins). ,$truk'.tur ini berawal dari
FERIT + PERLIT (dengan asumsi baja tersebut hasil anil atau batas trsi(ataulogarn induk) &n tumbuh ke anah tengah daerah
normal). Berdasarkan pemanasan yang terjadi, dapat dibedakan logam las (lihat garshcr atm).
daerah-daerah dan struktur mikro sebagai berikut :

1. Daerah logam las (weld


metal). Pada daerah ini
struktur mikro yang terjadi
adalah STRUICUR COR
(serupa dengan struktur
yang dihasilkan proses
pendinginan produk hasil
pengecoran).

Gamber G25. Struktur Hasil


Pengecoren (Struktu r Cor)
Gambar 627. Struktur Butir Columner di Logrm Las
68 Metalurgi Pengelasan Baja Karbon
.:rjrr;
i,lr* I z. H/./,. Adn :| litik berbeda di tlAZ. Titik r
dan z
menu nj ukan te mperatur pemanasan mencapai daerah
berfasa austenit. Ini yang disebut dengan daerah
franslfirrrnosi tnenyehtruh yang artinya struktur
mikro beia mula-mula ferit +
perlit kemudian
bertransformasi menjadi AUSTENIT roo%. Titik 3
meuunjukan temperatur pemanasan daerah itu
mencapai daerah berfasa ferit dan austenit. Ini yang
disebut dengan daerah transfonnasi sebagianyang
artinya struktur rnikro baja mula-mula ferit + perlit
berubah menjadi FERIT + AUSTENIT.

GrmbrrG2& Struhtrr Mikru Logrm Las Baje Kerbon Rendrh


(A)316C malr) : Aclcubr Fer?ie (AF) drn Gnin Bouldrry
Ferrite (GF)

IrO S 10
Masuken Panas (hllmm)
Gambar630. Haburyrn Arlrra ffss*r Brtb&o
Masrkrt Pruas

Butir stmktur austenit di HAZ terutama dipengaruhi


oleh masukan panas. Pengaruh masukan panas
terhadap ukuran butir austenit di HAZ diperlihatkan
pada gambar diatas. Pada masukan panas yang sangat
Grmblr629. Sltrktnr Mikro Loger Lrs Bljr Krrtm Rcrdrh
ritb Aligd Crrbilc tinggr (seperti proses pengelasan ESW), HAZ sangat
(0i157.C mrtr): Ferrile (AC) du Gnir
Boudary fariJc(Gf) lebar dan butir dapat tumbuh hingga menjadi sangat
kasar (coarse $ain). Daerah yang dekat dengan logam
las (VS mengalami transformasi rnenyeluruh ke
austenit) rengalami pertumbuhan butir paling hebat
dibadins daerah )rary mengalami transformasi
sebagian. Dengan brutir yang l@sar maka kekuatan dan
ketanggplnn HAZ menjadi rendah.

7a Metalurgi Porgelasan Baja Karbon 71 Metalurgi Pengelasan Baja Karbon


1
Contoh gumllur stnrktur mikro <li LIAZ :

Ferit (ct)

Gambar G33. Struktur Mikro HAZ (Baja AISI lOf 5)

Gambar 6-31. Transformasi Fesa Pada Logem Hesil Pengelasan

Daerah yang dekat dengan logam las karena berbutir


kasar maka ketangguhannya turun. Jika pada produk
hasil pengelasan terdapat konsentrasi tegangan seperti
yang terjadi disisi manik las maka hal ini menjadi lebih
riskan apalagr ketangguhan didaerah ini rendah.
Ketangguhan rendah ditambah dengan hadirnya
tegangan tarik yang besar membuat titik dengan
konsentrasi tegangan ini menjadi awal terbentuknya
retak. Selanjutnya rnungkin saja retak akan menjalar Gambar 634. Struktur Mikro Baje 0,25%C meks
dengan mudah ke arah FIAZ berbutir kasar karena Temperatur Pemanasen antere Bt* A, dan A,
ketangguhan rendah tadi. ^r; fe;.i +:$:,.I*i
*)
1 *;{,' "<,r'g-'g )ij&e{
Konsentrasi Tega ngan

GsmborG35. StrukturMikro Baia 0,25%C maks


Gembar G32. Konscntresi Tegengen di sisi l[snik Tempcretur Pemenrsen > gerb A,
Lrs
73 Metalurgi Pengelasan Baja Karbon
72 Metalurgi Pengelasan Baja lfurbon
3. Daerah tidak terpengaruh panas. f itik 4 wirlitttpun Ile rikut irti utl;rl;rlt t'onk rh gatrtltarstrukttrr rtrakro ltasil pengelasart
mengalami pemanasan yang cukup tinggi tctapi tidak baja karbon.
termasuk HAZ. Ingat bahwa di HAZ struktur mikro Batas antara HAZ
Batas
mengalami transformasi dari struktur mikro awal, Fusi dan logam Induk
sedangkan di titik 4 ini tidak mengalami transformasi
struktur mikro. Jadi pada titik + tetap memiliki struktur
mikro FERIT + PERLIT.

Ferit (o)
Perlit

Gembar G36. Struktur Mikro Baja 0,257oC maks


Logam HAZ Logam HAZ Logam
Induk Las Induli
Temperatur Pemanasen < 723oC ' Gambar 6-39. Struktur makro Hasil Pengelasan

d6*
i'i.,: 6.5. Tegangan Sisa
Dalam proses pengelasan, penyarnbungan dapat dijamin
rH,- baik bila terjadi pencampuran secara metalurgis antara masing-
masing logam induk dan logam tarnbahan. Selama pengelasan,
*!frfr daerah dibawah iogam las akan mengalami pemuaian, sedangkan
daerah dibawahnya mencoba menahannya. Bagian yang memuai
itu akan mengalami tegangan tekan sedangkan daerah
dibawahnya melawan dengan tegangan tarik.
Garnbar 6-37. S$ruktur mikro Logam
Induk Baja karbon 0,ISYoC
,ffi,*^.
Ket" : fasaFerit = warfia putili '.-t-__-f, Teg. Tarik

fasa Ferlit = Hr&rilo httam


Gamber 638" Struktun miIiro l-ogam Gambar 6-40. Kondisi Tegangan Selama
Induk Baja karhon 0,409'oC Pemanasan

Mel;alurgi Fengelasan Baja Karbon 75 Metalurgi Pengelasan Baja Karbon


74
'f

Sebaliknya, selama proses pendinginan, daerah dibawalt logittrt las Pada penampong tttsrtn diata;, kelebihan loS?T las dihilangkan
mengalami tegangan tarik dan daerah dibawahnya melawannya sehingga rata dengan permukaan logam induk, demikian juga
dengan tekanan (gambar 6-+t). dengin kelebihan logam las dibagian ba\mh.
Sepertiyangtdah diidaskae togary celderung akan memuai
bila dipanasi<an-aan akan menyusut bila didinginkan. Besarnya
pemuaian dan penytsutan logam hasil perkalian
1',_Y/2L7.,,i koefisien pemuaian material (a) dan beda temperatur (AT) dan
'.."-+l:; #.TLs.rank dirumuskan s*agai berikut :
'--fJ.feg.Tekan
e= a.LT
Gambar G4I. Kondisi Tegengan Selema
Fendinginan
besarnl'a pemuaian dan penyusutan akan sebanding dengan
Tegangan-tegangan yang terjadi pada pelat yang dilas ini rcgantan yang terjadi (e). Dalam kasus- pemuaian dan
terus ada hingga temperatur kamar. Tegangan yang demikian p"-"y,rort"u h5artr0/a AT dibedakan dari tanda positif (+) dan
disetrut dengan tegangan sisa (residual stress). Jika tegangan negatif(-). S€bagai contoh :
yang "tersisa" itu berupa tegangan tarik maka hal ini dapat
membahayakan konstruksi las, karena tegangan tarik ini jika
rneleLrihi kekuatan tarik (S,) daerah itu rnaka dapat LT = Tr- T,
mengakibatkan retak (crack). Tegangan tarik pada gambar diatas
rnungkin saja sampai ke permukaaan logam las dan sekali lagi ini dimana:
sangat rnembahayakan konstruksi las. Tt = T*,rt
.Iika distribusi tegangan dari permukaan atas pelat hingga
Ti = \un
bagian trawah sudah diperoleh berdasarkan penjelasan diatas,
bagairnana distribusi tegangan pada penampang hasil pengeiasan
ini dalam arah lainnya ? Ferhatikan analogi brikut : untukkasus pemuaian (dalam hal ini pemanasan) misalnya T",",
- T, = 3ooC; T.ni, = f = goooC, maka ATyaihr :
Kelebihan l.ogam Las
(weld.reinfnrcement)

LT= rr- rr= 500- 30= 4700C

untuk kasus penyuzutan (dalam hal ini pendinginan) misalnya


T"*"1= T, = 5oooCi T"ni, = T" = 3o"C, maka ATyaitu :

LT = fr- f, = 30- 500 = *47AoC


Gambar G42. Hasit Lasen dibagi menjedi 3 segmen, Pl
dan dua P2

77 Metalurgi Pengelasan Baja Karbon


76 Metalurgi Pengelasan Baja Karbon
'f

.ladi, memang ada perbedaan antara AT pemuaiarr <lan AT


penyusutan. ,/
It)

F JT:F
? l.!l I

d
[--j rl?l i
EIFI i
,

J*J L L__l
Pz Gambar 6-44. Tegangan pada Hasil Pengelasarr

I
I Luas daerah Pr dan Pz dianggap sama, sehingga Ar - As" Untuk
I I kondisi kesetirnbangan, gaya-gaya yang terjadi pada logam induk
E
-J (F,) harus sama dengan gaya-gaya yang terjadi pada logarn las {F,)
Gamber G43. Perbedaan Penyusutan Logam Las'dan
Logam Induk tetapi beriawanan arah. 1

Gambar diatas memperlihatkan dua buah bagian hasil Fr=-Fz


pengelasan, masing-masing diambil dari logam las dan logam 'or.A= -02.A
induk. yang diambit dari logam ias-disebut dengan pr
-Baglan
sedangkan bagian dari logam induk disebut dengan pz. Luas
keduanya dlanggap sama atau Ar = Az. Bagian pl mengalami
penyrsutan lebih kecil dari bagian Pr. Penlrrsutan pada bagian pz Gayavangterjadi akibat penyusutan di logam indukada rlua
buah karena daerah iogam indukyang dianalisa trerada dikiri dan
dinyatakan dengan e, dan pada bagian pr dinyitakan lengan
kanan logam las. Maka :
q.AT. Penyusutan yang terjadi pada daerah hasil pengelasan itu '']
dapat dinyatakan secara matematik sebagai berikut : - o,tl " A, = -/.o-. A.
.,!

Itarena f1- Ar:


€z = d'LT'+ e,
Gr = -2.6t
€z- €r = A.LT ot+2.02 = 0 ..(2)

dari persamaan hukum Hooke dimana o = E.e maka persamaan


diatas dapat dimodifikasi menjadi : Dengan adanya dua persamaan diatas maka t'bgangan-
tegangan yang te4adi'di daerah tidsit pengelasan- dlpat
€z-€r= A.LT diperkirakan. Sebagai contbh dalam kasus pengeiasan baja
o. o, karbon, baja mengalargi pendinginqn dari temperatur SooiC ke
;-;= a'Lr Soooc. .Iika koefrsien pennuaian baja tersebut sebesar rr x to-6 "C'
dan modulus elastisitas buju, E = 2lo GPa, maka :
oz - ot = E.a.LI ...f rl

79 Metalurgi Pengelasan Baja Karbciri


;l

oz- or= E.a.(Tr- 7i) 6.6. Perlakuan ltanas


Proses perlakuan panas didefinisikan sebagai proses
oz- ot = 2l0xl03 N / mm'11lxl0-6 /0 Q(500 - 800) perubahan sifat mekanik material/ logam dengan cara mengubah
oz- or = -693N / mm2 struktur mikro melalui pengaturan pemanasan dan laju
pendinginan. Pemanasan dan pendinginan produk hasil
pengelasan terjadi pada kondisi tertentu. Adanya pemanasan dan
jika hasil diatas disubstitusikan ke persamaan z maka akan pendinginan produk lasan merupakan indikasi bahwa pada
diperoleh: proses pengelasan sebenarnya terjadi proses perlakuan panas.
oz = -Z3ltPa
di HAZ adalah satu eontoh produk
Perubahan struktur mikro
perlakuan panas pengelasan. Untuk memprediksi dan
ot= -2oz= -(2X-Z3lMPa) menganalisis perubahan struktur mikro yang terjadi di HAZ dapat
digunakan diagram CCT.
o' = 4EZl'lPa
Dengan hasil yang diperoleh dari perhitungan diatas, dapat
disimpulkan bahwa tegangan sisa yang terjadi pada daerah iogam
las (o,) berupa tegangan tarik (karena bernilai positifl, sedangkan
tegangan yang terjadi disebelah logam las dalam hal ini logam
induk (o") adalah tegangan tekan. Daerah yart semakin jauh dari
logam las akan mengalami tegangan sernakin kecil karena
pengaruh beda temperatur yant makin kecil.

Gembar Gtl5. Dbtribusi Tcgrugen dbcpenjang Pemmpeug Peht Hesil


Pengehsrn

8o Metalurgi Pengelasan Baja Karbon 8r Metalurgi Pengelasan Baja Karbon


1
I

7l Pengelasan Baja Tahan Karat jenis fluksjugrr 1lt'rlu mendapat perhatian. Paduan-paduan seperti
Cr, Ni, Mo dan Cb (Nb) dapat ditambahkan ke logam las rnelalui
pemilihan jenis fluks yang tepat.
7.L. Dasar-dasar Pengelasan Baja Tahan Karat I as tahanan listrikdarijenis spot, seam, projection, flash dan
Baja tahan karat merupakan baja paduanyang mengandung high frequency juga sangat baik untuk menyambung baja tahan
unsur Cr minimtm tz%o. Sifat tahan korosinya terjadi karena karat. Tingginya tahanan listrik dan kekuatan dari baja tahan
adanya lapisan oksida Qapisan pasifl pada permukaannya. karat berakibat rendahnya kebutuhan arus listrik dan tingginva
Klasifikasi baja t4han karat menurut standar AISI(Amer'can iion gaya penekanan jika dibandingkan dengan material baja kiibon.
and Steel Institute) didasarkan pada komposisi kimianya, yaitu : Ia.s oksi-asetilen tidak disarankan untuk digunakan untuk
1" Seri aXX untuk baja tahan karat austenitik (mengandung mengelas baja tahan karat kecuali untuk maksud-maksud
unsur paduan Cr, Ni dan Mn) perbaikan dimana proses las busur listrik tidak tersedia. Jika
disambung dengan las tersebut maka sebaiknya digunakan nyala
z. Seri 3XX untuk baja tahan karat austenitik (mengandung
unsur paduan Cr dan Ni) netral atau nyala karburasi. Selain itu juga disarankan untuk
menggunakan jenis fluks yang sesuai.
3. Seri 4XX untuk baja tahan karat feritik dan martensitik
(mengandung unsur paduan Cr) _ AgaI diperoleh hasil lasan yang baik pada baja tahan karat,
maka pada proses pengelasan yang dipakai harus dapat rn enj amin
Baja tahan karat dapat dilas dengan menggunakan adanya perlindungan khusus terhadap,logam cair dari pengaruh
pengelasan busur listrik. EBW (Electron Beam WeJding). LBW lingkungan atmosfir. Dengan proses pengelasan tertentu,-fluks
(laser Seam Welding). ERW (Electric Resistance Welding) dan dibutuhkan untuk menghilangkan lapisan pasif (oksida krom,
Friction Weiding. Pengeiasan busur listrik yang dipakai GTAW. Cr,Or) pada permukaan material yang, dilas. Oksida krorn
SMAW. GMAW dan FCAW. Selain proses-proses itu, SAW dan merupakan rnaterial refraktori yang titik cairnya diatas titik cair
PAW juga sering dipakai. baja tahan karat. Jika dilas dengan las busur gas, .fiaka
Dengan SAW dapat dihasilkan permukaan lasan yang lebih pelindungnya bukan lagi fluks melainkan gas-gas pelindung
halus, tetapi terdapat beberapa keterbatasan. Biasanya, komposisi seperti gas Argon (Ar), gas Helium (He), gas Carbo" aiorciai
kimia Iogam las lebih sulit dikontrol oleh karena pengaruh (COr) atau campuran gas-gas tersebut
langsung dari variasi tegangan busur listrik" Sebagai contoh
kandungan Si mungkin akan tinggi dan menyebabkan retak panas
Perbedaan sifat risik Bqia tahan karat dan Baja Lunak (mild steel)
(hot cracking) pada logam las. Heat input juga lebih tinggi
sehingga laju pendinginan (solidifikasi) akan lebih lambit Sifat Fisik Baja Tahan Karat Baja Lunak
dibandingkan proses lain. Hal ini dapat lebih memperburuk
karakteristik logam las I HAzyaitu dengan terbentuknya butir- Titik Cair lebih rendah tinggi
butir yang lebih besar yang berakibat rendahnya harga Koef. Konduktivitas Panas lebih rendah tinggi
ketangguhan.
Koef. Ekspansi Panas Iebih tinggi rendah
Proses SAW tidak direkomendasikan bila deposit las baja
tahan karat austenitik berstruktur austenit (fully austenitic) atau Tahanan Listrik lebih tinggi rendah
kandungan delta ferit rendah. Akan sangat baik jika kandungan
delta-ferit pada deposit las lebih dan +%. Selain itu pemilihan

Pengelasan Baja Tahan Karar


Pengelasan Baja Tahan Karat
7.2. Pengelasan Bqia Tahan Karat Martensitik i. l'cng,grurir:ln l)r'()r,(.s lx'ngclasan berhidrogcn renclah scperti
TIG atau Ml(;.
., Pemanggangan elelrtroda sebelum pengelasan pada pemakaian
Baja tahan karat martensitik merupakan jenis baja tahan
karat yang paling sulit dilas. Bukan berarti sulit dicapai proses SMAW dan SAW.
penyambungan, akan tetapi dari hasil pengelasannya dapat 3. Menerapkan pemanasan awal (preheat) dan pemanasan antar
menghasilkan kekerasan tinggi baik di logam las maupun HAZ lapisan las (interpass temperature) sekitar 2oo - 3oooc.
yang pada akhirnya dapat menyebabkan retak dingin. 4. Memberikan pemanasan paska pengelasan sebesar 650 - 75o"C
Kecenderungan timbulnya retak dapat diperparah dengan dan diikuti dengan pendinginan lambat.
hadirnya gas hidrogen berlebih di logam las. Gas hidrogen ini bisa
saja berasal dari fluks yang lembab ataupun kotoran-kotoran
seperti oli dan gemukyang menempel pada kawat las atau logam Pelat baja tahan karat martensitik dengan ketebalan kurang
induk. dari g mm dan kadar karbon yang-reulah dapat dilas tanpa
Baja tahan karat martensitik adalah jenis baja tahan karat
memerlukan preheat dan menggunakan proses pengelasan
yang ferromagnetik dan dapat dikeraskan dengan perlakuan berhidrogen rendah. Untuk pelat tebal dan kandungan karbon
lebih dari o,t%, sebelum pengelasan harus di-preheat dan setelah
panas walaupun pendinginan dilakukan di udara (normalising).
pengelasan perlu di-PWHT (atau pemanasan paska pengelasan).
Artinya pendinginan akibat pengelsan dapat menyebabkan
Tujuan dari pemanasan paska pengelasan ini selain untukhrjuan
transformasi fasa menjadi stnrkhrryang sangat keras tetapi getas.
ternper fvaitu untuk rnenurunkan kekerasan dan meningkatkan
Kandungan unsut Krorn yang ada dalam baja tahan karat ketangguhan) juga dapat memberikan r,raktu kepada gas hidrogen
martensitik biasanya berada dalam selang t2'r8%o, sedangkan untuk keluar dari iogam las dan HAZ. f)engan demikian tingkat
unsur Karbon bisa mencapai r,2%o. Keseimbangan kedua unsur keamanan daerah hasil lasan lebih terjamin.
itu bisa menjamin terbentuknya struktur martensit setelah Jika dengan pemberian preheat atau PWHT tidak
perlakuan panas ataupun pengelasan. Dengan keistimewaan yang
rnernungkinkan rnaka dapat dilakukan dengan pengelasan yang
dimiliki oleh baja tahan karat martensitik seperti kekuatan, fatik
rn enggunakan kawat las dari baja tahan karat austenitik. Wal apun
dan creep tinggi kemudian ketahanan korosi dan panas cukup
terrnasuk jenis 5ang sulit dilas tapi tidak semua jenis baja tahan
baik, maka jenis baja ini banyak dipilih dalam berbagai aplikasi..
karat martensitik dapat dilas. Misalnya saja jenis AISI 4r6Se
Baja tahan karat martensitik yang sangat populer seperti yang mengandung Sulfur yang cukup tinggi. Dikhawatirkan
AISI 4ro memiliki kandungan Krom antara t2 - L$o/o dan unsur setelah pengelasan terjadi retak panas di daerah logam las karena
Ikrbon relatif tinggi. Perbedaannya dengan baja tahan karat tingginya kandungan sulfur itu.
austenitik, pengelasan pada baja tahan karat martensitik dapat
menghasilkan struktur martensit di HAZ dan resiko timbulnya
retak makin tinggr. 7.3. Pengelasan Baja Tahan Karat Feritik
Tingginya kekerasan yang terjadi di HAZ membuat logam ini
sangat rentan terhadap pembentukan retak dingin atau retak Baja tahan karat feritik mengandung rr hingga 3o% unsur Cr
hidrogen. Resiko timbulnya retak umumnya meningkat sebanding dan rnungkin juga mengandung unsur paduan lainnya terutama
dengan meningkatnya kandungan Karbon. Cara pencegahan Molibdenum (Mo). Baja tahan karat feritik memiliki ketahanan
harus diperhatikan untuk meminimalkan resiko tadi, misalnya : yang baik terhadap retak korosi tegangan (stress corrosion
cracking, SCC), korosi sumuran (pitting corrosion) dan korosi

8+ Pengelasan Baja Tahan Karat 8S Pengelasan Baja Tahan Karat


celah (crevice corrosion). Satu kekurangan dari logarrr irri rrrlirlah Walarrprrl ;x,lrlrr.r'ian preheat atau pemanasan mUla tidak
menghasilkan ketangguhan rendah setelah ntt'ttgitlitmi akan menipt'rlialus ukuran butir tetapi itu dapat memperlarnbat
pengelasan. Turunnya ketangguhan ini diakibatkan terjadinya laju pendiiginan HAZ dan mempertahankan agar loga* Iry
pengkasaran butir tepat disebelah logam las. Kekurangan lain berada padidaerah ulet atau diatas daerah ternperatur transisi
yang ada pada baja tahan karat feritik adalah terjadinya logam itu flihat gambar dibawah ini). Selain itu juga bermanfaat
penggetasan akibat pengendapan senyawa sigma (o, senyawa untuk mengurangi tegangan sisa yang mungkin terjadi selama
FeCr) dengan makin meningkatnya kadar Krom. pendinginan. Temperatur preheat sebesar 50 - 25ooC dapat
Baja tahan karat feritik bersifat ferromagnetik yang terkena diberikan tergantung pada komposisi kimia baja yang dilas.
pengaruh magnet tetapi tidak dapat dikeraskan dengan perlakuan Semua jenis baja tahan karat feritik dapat dilas dengan
panas. Dengan sifat itu, struktur mikro HAZyangdekat dengan semua proses pengelasan keeuali tipe AISI 43oF yang
logam las dijamin tidak akan menghasilkan struktur yang keras mengandung unsur belerang/ Sulfur tinggi. Tingginya sulfur dapat
setelah pengelasan. Struktur yang dihasilkan memang tidak keras mernicu terbentuknya retak panas selama proses pembekuan
tetapi ketangguhan tetap rendah. logam las. Semua proses pengelasan dapat dipakai untuk
Seperti dijelaskan diatas, permasalahan utama yang mengelas baja tahan karat feritik, akan tetapi proses-proses yang
mungkin terjadi ketika baja tahan karat feritik adalah dapat menyuplai unsur Karbon (C) ke logam las seperti las oksi-
menghasilkan ketangguhan rendah di HAZ. Pengkasaran atau asetilen, las busur karbon dan MAG (yang menggunakan gas
pertumbuhan butir yang berlebihan dapat memicu terbentuk nya pelindung CO,) tidak disarankan.
retak terutama jika mengelas pelat tebal (> z5 mm) dan terdapat
tahanan tegangan termal yang tinggi. Ini perlu mendapat
perhatian khusus. Pada pengelasan pelat tebal, diperlukan dua
hal, yaitu :
1. masukan panas rendah untuk meminimalkan lebar daerah
HAZberbutir kasar.
z. Kawatlas daribajatahan karat austenitik untukureng hasilkan
logam las yang lebih tangguh. @
L
bo
q)

,I]
Dibuat sesempit
mungkin

Tenlperatur

Garnbar 7*2. Kurva Enengi Irnp*k vs Temperatur


Gamber 7-l.HAZ Berbutir Kesar dibuat
yang memperlihatkan Daerah Transisi Dari Sifat
sesempit mungkin
Ulet kc Gesrs.

86 Pengelasan Baja Tahan Karat 87 -- P*ngelasan Ba.ia Tahan Karat


Peningkatan kadar Krom pada logam lasdapat nrcnycblbkan
Permasalahan utama ketika mengelas baja tahan karat
penggetasan akibat terbentuknya senyawa o. Sebaliknya dengan
austenitik yaitu kerentanannya pada pembentukan retak panas
menurunkan Krom juga menyebabkan efek lain yang juga negatif. (solidification cracking dan liquation cracking). Retak ini
Efek yang dimaksud adalah kecenderungan kearah pembentukan
umumnya terjadi pada baja yang berfasa austenitik roo%s. Retak
struktur keras setelah pengelasan yaitu dengan menghasilkan ini dapat terjadi di berbagai tempat pada logam las dengan arah
struktur martensit. Dengan demikian, keuletan, ketangguhan dan berbeda misalnya retak ditengah logam las dalam arah
ketahanan korosi menjadi turun.
longitudinal, retak melintang dan retak rambut. Retak ini
Untuk mengembalikan ketahanan korosi ke keadaan semula terutama disebabkan oleh adanya fasa bertitik cair rendah yang
dan juga memperbaiki keuletan setelah dilas, maka dapat berada di batas butir dan 'memisahkan" butir dibawah tegangan
dilakukan pemanasan hingga T60 - BzooC dan diikuti dengan tarik selama pembekuan logam ias.
mencelup cepat ke air. Sifat ketangguhan mungkin saja masih
Walaupun terdapat masalah yang serius pada saat
rendah dan hanya dapat ditingkatkan dengan proses pengerjaan
pengelasan, baja ini termasuk yang paling tinggi mampu las-nya
dingin pada produk las. dibanding baja tahan karat lainnya. Karena perbedaan sifat fisik,
Jika perlakuan panas paska pengelasan tidak mungkin perilaku dalam mengeias baja tahan karat austenitik berbeda
dilakukan dan sifat ketangguhan diinginkan maka penggunaan dengan baja tahan karat lain. Sebagai contoh, konduktivitas panas
kawat las dari baja tahan karat austenitik sangat disarankan. baja tahan karat austenitik lebih rendah setengahnya dari jenis
Pemilihan kawat las dapat dilakukan dengan bantuan diagram baja karbon. Oleh karena itu, masukan panas pengelasan yang
Schaeffler. diperlukan untuk menghasilkan penetrasi yang sama menjadi
lebih rendah. Sebaliknya, koefisien ekspansi panas baja tahan
karat austenitik 4o% lebih tinggi bahkan 5o% yang menyebabkan
T.4.Pengelasan Baja Tahan Karat Austenitik distorsi dan tegangan sisa lebih besar.
Idealnya, baja tahan karat austenitik berfasa tunggal yaitu
austenit (y) dan memiliki sel satuan FCC dan ini bertahan pada Karena sifat-sifat itu maka pengelasan baja tahan karat
selang temperatur tertentu. Fasa austenit yang ada pada baja
austenitik disarankan dengan menurunkan rnasukan panas,
tahan karat austenitik karena penambahan unsur Nikel misalnya dengan memperkecil arus pengelasan atau mengelas
(Ni). Unsur Nikel ini merupakan salah satu unsur penyetabil fasa dengan kecepatan pengelasan lebih tinggi. Tujuan membatasi
austenit dari temperatur tinggi hingga ternperatur rendah masukan panas adalah antara lain :
(cryogenic). Karena berfasa tunggal, baja tahan karat austenitik 1. Mempercepat laju pendinginan agar tidak terjadi pengendapan
hanya dapat "dikeraskan" dengan cara pemaduan (solid solution) senyawa karbida (atau dikenal dengan istilah sensitisasi, yang
atau dengan pengerjaan dingin (deforrnasi plastik). Karenanya akan dijelaskan lebih mendetail kemudian).
proses pendinginan akibat pengelasan tidak akan mengeraskan z. Meminimalkan distorsi.
logam las dan HAZ.
3. Karena alasan titik cair rendah.
Mild Steel
Pemanasan + Celup Cepat 4. Konduktivitas panas rendah.
Kekerasan Maksimrm
Hampir semua jenis baja tahan karat austenitik dapat dilas
dengan kebanyakan proses pengelasan kecuali jenis AISI gog
(yang mengandung unsur Sulfur tiogg,) dan AISI Bogse (yang
Gambar 7-3. Efek Quenching pada Baja karbon dan Baja Tahan Karat
mengandunt unsur Selenium). Seperti yang sudah dijelaskan,

88 Pengelasan Baja Tahan Karat


8g Perrgelasan Baja Tahan Karat
llutir Austenil
kandungan sulfur tinggi dapat menyebabkan terjadinya retalr
Presipitat
panas dilogam las akibat pembentukan senyawa/fasa bertitik cair Krom-karbida
rendah di batas butir. (Cr,C,) Detail A

Retak panasyang mungkin terjadi di daerah logamlas dapat


dicegah dengan tidak membiarkan fasa yang ada di logam-las
austenitik ioo"/o. Struktur mikro logam las diusahakan
mengandung 4 - tzoA deltaferit (6-ferit). Fasa 6-ferit ini memiliki
kemimpuan untuk melarutkan unsur-unsur pengotor yang-tilak ?n""r"h
lain adalah senyawa/fasa bertitik cair rendah. Kehadiran 6-ferit kekurangan
unsur Krom (Cr)
dalam logam las sangat menguntungkan. Salah satu cara agar di
Gambar 7-4. Ilustrasi Batas Butir yang Mengandung Presipitat Krom-
logam lai terdapat 6-ferit adalah dengan memilih kawat las yang karbidr (Cr,C,)
benar. Misalnya AI$I go+ dilas dengan kawat las dari jenis AISI
3o8. Sebagai bahan penjelasan dari cara pemilihan kawat las,
pada halaman berikutnya akan dijelaskan bagaimana
menggunakan diagram Schaeffler sebagai alat bantu mencariienis Di HAZ, temperatur akan mencapai tahapan sensitisasi dan
lamanya uaktu pada temperatur tersebut mungkin akan lama
kawat las yang sesuai.
sehingga menyebabkan terjadi endapan karbida. Pada HAZ
Beberapa jenis baja tahan karat mungkin sangat mudah tersebut mungkin akan kehilangan ketahanan korosinya. Tingkat
untuk terkena masalah sensitisasi dilnana dapat merusak sifat sensitisasi terutama tergantung pada kandungan karbon,
tahan korosinya. Ketahanan terhadap korosi pada baja tahan temperatur dan r+aku pemanasan. Baja-baja tahan karat
karat tergantung pada unsur Cr dan pembentukan lapisan oksida berkarbon rendah seperti AISI 3o4L, 3r6L dan 3r7L memiliki
krom pada permukaan baja tahan karat yang melindungi bagian kandungan karbon maksimum a,oJo/o dan dapat dilas dengan
dalarn material. Bila material ini dipanaskan hingga temperatur hasil yang baik tanpa menyebabkan terjadinya sensitisasi. Untuk
5oo - 85ooC, karbon (C) dan krom (Cr) akan terlarut kedalam besi aplikasi lainnya seperti untuk penggunaan material pada
(F") mu*bentuk krom-karbida dan rnengendap berupa Frtikel temperatur tinggi, kandungan karbon yang rendah tidaklah cukup
kecil. Karbida ini terbentuk di batas butir dan menyebabkan untuk dapat terhindar dari sensitisasi. Untuk aplikasiaplikasi
unsur krom didrerah sekitar batas butir akan berkurang. pada temperatur tinggi dapat digunakan material yang telah
Kandungan krom yang rendah akan menumnkan ketahanan distabilkan seperti AISI 3zr dan AISI 347. Material tersebut sudah
korosi material dan material tersebut dikatakan tersensitisasi. mengandung unsur-unsur pembentuk karbida seperti Titanium
(Ti) dan Niobium (Nb) dimana unsur-unsur tersebut dapat
mencegah pembentukan karbida krom. Untuk lebih menjamin
tidak terbentuknya karbida krom, maka kandungan unsur Ti
hams lebih dari SX kandungan karbon atau unsur Nb + Ta harus
lebih dari toX kandungan karbon.

9o Pengelasan Baja Tahan Karat 9r Pengelasan Baja Tahan Karat


7.5. Predlksi Struktur Mikro Logam las
Disanti densan
-:+> Melalui Diagram Schaeffler/De Long/WRC
AISI eo+L,
AISI loC

f 40
g3s o%-6
..'.€
Disamidensm 5%-6
EBo ro%-5
d
AISI 3tr.{
AISI 3zr AISI347 32s zo%-6

t
}R
AISI3zr 520 4o%-6
C)
8o%-6
Baja Tahan Kamt )€
sudah distabilkan 2r5
x lo
Gairbar 7-5. Cara Pencegahan Sensitisasi Pada Pengelasan Baja Tahan
Ka{"m
rr roo%-6
lr1

hrrcegahan terhadap sensitisasi selain dengan dua cara


iis
diatas yaitu rnemil ih logam induk berkadar karbo n sangat rendah 1(, 2() 3(, 40
dan memilih logam induk yang sudah distabilkan" dapat dijuga
Cr-E = %Cr+%Mo+ r,5x%Si+o,5x%Nb
dilaksanakan dengan cara berikut :
1. Memilih elektroda atau kawat las yang mengandung unsur Ti
Gembrr 7-6. Dbgnm Scbrcfller
dan Nb, rnisalnya eilektrsda SMAW tipe AWS E3zr dan dan
AluS El+r.
e. Menerapkan proses solution treatment yaitu penxanasan Diagram Schaeffler adalah suatu diagram yang menghubung
hingga ternperatur dimana s€nyawa karbida iarut kembali ke kan lGom-Ekivalen, Nikel-Ekivalen dan struktur mikro yang
atrstenit laiu ciiianjutkan iengan penciinginan cepat. terjadi pada pengelasan baja tahan karat. Diagram Schaeffler
femperatttr dirnarm terja"di pelanltan kembali senlav/a kar"bida dibuat untuk membantu ahli las dalam hal :
berkisar r.00o - t.o5o''C. r. Memperkirakan struktur mikro logam las pada pengelasan
baja tahan karat.
z. Memperkirakan cacat yang terjadi di logam las sesuai dengan
struktur mikro yang terbentuk.
3. Memperkirakan apakah logam las mengalami retak dingin
(martensitic cracking), retak panas (hot cracking) atau
penggetasan.
4. Menentukan material elektroda atau logam tambahan yang
sesuai, agar dihasilkan logam las yang bebas retak.

92 Pengelasan Baja Tahan Karat


93 Pengelasan Baja Tahan Karat
Menentukan titik virng meiwakili daerah logam laspada
Untuk dapat menggunakan diagram Schaeffler maka dapat diagram Schaefflt:r'. Untuk dapat menentukan titik ini
mengikuti prosedur berikut :
diperlukan satu parameter tambahan yang disebut dengan
1. Menentukan komposisi kimia logam induk dan logam DILU9 atau pencampuran (DILUTION). Pengertian dilusi
tarnbahan. yaitu:
z. Menghitung ltuom-Ekivalen dan Nikel-Ekivalen untuk setiap
logam induk dan logam tambahan.
3. Menggambarkan titik-titik pada diagram sesuai dengan Krom-
Ekivalen dan Nikel-Ekivalen yang didapat.
4. Ivlembuat garis antar titik dengan ketentuan :
a. Jika kasus' pengelasan overlay atau pelapisan
(surfacing/hardfacing) seperti gambar dibawah- ini : -

Luas B Luas A
Cambar 7-9. Definisi Dilusi

i Luas A
' Gambar 7-7. Surfacing Dilusi, D = xl00%a
Luas A+ Luas B
i
maka garis dibuat dengan menghubungkan titik logam
induk dan titik logam tambahan. Dari gambar dan persamaan diatas, dilusi dapat didefinisikan
sebagai perbandingan antara daerah logam induk yang mencair
u""
b. Jika kasus penyarnbungan pelat seperti gambar dibawah
lnl: t:f#i1T"'ftlusi ini, sirat logam tas tidak akan sama
baikdengan logam tambahan ataupun denganlogam induk. Jika
logam las memiliki sifat yang
hampir mirip dengan logam
tambahan, itu
berarti rililusi
sebesar o% flihat gambar 7-ro
disamping ini).
Gambar 7-8. Pcngelasan

maka garis I
dibuat dengan menghubungkan dua titik
logam induk, sedangkan garis II dibuat dengan
menghubungkan titik logam tambahan dengan titik pada
garis I.
Gambar 7-10. Dilusi = 07o

95 Pengelasan Baja Tahan Karat


94 Pengelasan Baja Tahan Karat
Untuk lebih memahami penggunaan diagram St:ltttcffler, z. Menghitung Kronr-l,lkivalen dan Nikel-Ekivalen untuk setiap
logam induk dan logam tambahan.
berikut ini beberapa contoh pengelasan baja tahan karat yang
diaplikasikan untuk penyambungan pada konstruksi pembangkit
tenaga listrik, industri petrokimia, dan industri fabrikasi" Pada
Logam Cr-E = Ni-E =
contoh ini baja konstruksi (baja karbon dj6) akan dilas (overlay
atau icasus pelapisan dengan cladding atau hardfacing) dengan %Cr+%Mo+r,5x%Si+ %Ni+3oxYoC+o,5xYoM:n
dua j enis elektroda ERg o B dan E(3 oglsi. Pa rameter pengelasan o,5x%Nb
untuk kedua kasus itu diasumsikan sama dan menghasilkan A36 o, I +o,oS+ 1,S(o,3)+o,S(o) o,2+3o(o,18)+o,5(r,z)
dilusi 3oo/o.
= 016%0 = 6rz%

EgoS r9,8+o+r,5(o,8) +o,S(o) 9,8+3o(o,o5) +o,5(o,8)


= 2l%o = lLrfr
Egog zz+o+r,5(o,7)+o,5(o) r r+3o(o,r)+o,5(r,o)
= 29,$5% = L4t5%

3. Menggambarkan titik-titik pada diagram sesuai dengan Krom-


Ekivalen dan Nikel-Ekivalen yang didapat.
Ihsus I Iksus II
Gember 7-ll. Contoh Kesus Pengelesen Overhy

14,5'o
A+M
Jawab: LlrT-1()
1. Menentukan komposisi kimia logam induk dan logam
tambahan. 6rzT
-A
Komposisi Kimia (dalam % berat) 201
Logam C si Mn Cr Mo Ni V Cu o;6 21 23,05
Gembar 7-12. Titik Koordinat Ehktroda E308 & 8309
A36 o,t8 or3 112 or1 O,Os o12 O,O6 orl
dan Logam Induk AS6 pede Diagrrm Schaefller
E3o8 OroS or8 or8 19,8 9,8
4. Membuat garis antar titik. I(arena contoh diatas berupa kasus
Egog o,1o o17 1rO 22,O 11,o
pengelasan overlay maka garis yang dibuat adalah
menghubungkan titik logam induk dan titik logam tambahan.

97 Pengelasan Baja Tahan Karat


96 Pengelasan Baja Tahan Karat
t4,5'o menggunakan clt.ktrrxl:r/ logam tambahan E3o8 dan E3o9 pada
logam induk A36 arlalah memiliki struktur mikro Austenit dan
A+M
Martensit.
LLr/- Struktur mikro logam las dapat diprediksi dengan baik melalui
10
diagram Schaeffler. Akan lebih baik lagi jika dengan struktur
6r2T mikro itu diketahui apakah struktur mikro itu berbahaya atau
tidak. Yang dimaksud dengan berbahaya disini adalah apakah
dengan struktur itu mungkin menimbulkan retakan. Berikut ini
10 .o1 adalah contoh diagrarn Schaeffler yang clilengkapi dengan daerah-
daerah yang mungkin mengandung jenis kegagalan seperti retak
olo 2L 23,05 dingin, retak panas dan penggetasan.
Gambar 7-13. Garis Yang Menghubungkan Titik Elektroda dan
Titik Logam Induk
4a
5. Menentukan titik yang mewakili daerah logam las pada garis IJ3 o%-6
yang dibuat. Titikyang dibuat ini didasarkan pada dilusi iurrg a
\o 5%-6
terjadi pada hasil pengelasan. Dari contoh soal ini dilusi ?30
ro ro%-6
ditentukan sebesar So%. d
125
zo%.6
}R
D=oo/o 520 4o%-6
L

L4,5'o Els 8o%-6


A+M x
I rr 1o roo%-5
rdl_
LLrf---+.
10 25
6,2T* 10 20 30
Cr-E = %Cr+%Mo+ r,5x%Si+o,Sx%Nb

tt> 10 ,otr % Retak Dingrn (T < 4oo"C


orb 2l 23,O5 m Penggetasan pada Temperatur Tinggi
Gambar 7-I4. Titik Logam Las ditsndai dengan X pada Garis
Yang Menghubungkan Elektroda dan Logam Induk
N Penggetasan pada T = Soo - 9oo'C
Retakpana^s (I > rz5O'C
-l
Jadi dari gambar diatas, titik yang mer,rakili logam las berada Gembar 7-15. Diagrem Sheoftler Yeng Dilengkapi Dcngen llrerah-
didaerah A+M (eampuran fasa austenit.dan martensit). Dengan drerah Berblheyr den Tidek Berbrhrya
demikian logam las yang hasilkan dari pengelasan overlay yang

98 Pengelasan Baja Tahan Karat 99 Pengelasan Baja Tahan Karat


Selain terdapat daerah-daerah berbahaya juga terclapat satu Dengan kondi.si sclrcrti itu struktur mikro apa yang mtrngkin
Caerah aman. Daerah itu terletak di daerah fasa Austenit + Ferit terbentuk di logarn las ? Perhatikan langkahJangkah benkut.
danAustenit + Martensit + Ferit. Dengan adanya daerah aman ini
rnaka diusahakan struktur mikro logam las berada di daerah ini.
Untu}< eontoh diatas dimana baja A36 dilapis dengan E3o8 dan
EBog, struktur rnikro yang terbentrek di logam las adalah Austenit
+ Martensit. Dengan menggunakan diagram Schaeffler yang lebih
lengkap, daerah itu berada dalam daerah tidak aman.
fsE3r6-r6
o%-6
s35 5%-6
EBo ro%-5 Gambar 7-l?. Penyambungee Dua Logam
25 , Bcrbcda
.5 zo%{
;q 1. Menentukan komposisi kimia iogam induk dan logam
520 4o%-5
tambahan
i15
be
8o%-6
Kornposisi Kimia (dalam % berat)
rt 1o roo%-6 L,oSam C si Mn Cr Mo Ni Nb Ti
I{
'25 o,24 o,68 oroT
Cso, o,49 o,81 O,O2

10 20 AISIgo+ O,05 o,64 1,63 17,73 O,l2 7,22


30
Cr-E = 96Cr +%Mo+ r,5x%Si+o,5x%M E316-16 orOg or24 or8 r8,5 rr;5
Gamber 7-16. Titik Logam Las Berada Dalam Daereh Tak Aman

Dari diagram (gambar T-16),jika baja AS6 dilapis dengan


E3og dengan dilusi 3o% maka logam las kemungkinan akan
z. Menghitung Krom-Ekivalen dan Nikel-Ekivalen untuk setiap
logam induk dan logam tambahan.
mengalami retak panas (daerah logam las masuk dalam daerah
bahaya retak panas). Kemudian untuk kasus baja A36 yang dilapis Logann Cn-E = Ni-E =
dengan E3o8, di logam las akan mengalami retak panas dan retak 96Cr+%Mo+r,5x%Si+ %Ni+3ox%C+o,5x%Mn
dingin karena titik X yang mewakili logam las masuk dalam
daerah bahaya retak panas dan retak dingin.
o,5x%Nb
Contoh kedua dari pemakaian diagram Schaeffler misalnya c5o o,68+o,02+ L,S(o,24)+o,5(o) o,o7+3o(o,49)+o,S(o,8r)
pada kasus penyambungan baja karbon C5o dengan baja tahan = tr,o6lf = 15118*;
karat AISI 3o4 yang menggunakan'elektroda E3r6-r6. Dengan
proses pengelasan SMAW, dilusi yang terjadi dimisalkan z5Yo.

Pengelasan Baja Tahan Karat 101 Pengelasan Baja Tahan Karat


AISI3oq rZ,7 S+ o J2+r,5(<1, 64) + o,5(o) 7,zz+71t>(<>,<l5) r o,S( r,63)
15,18{ - Garis I
= t8r8t96 = 9154'|{o A+M
15
E316-r6 18,5+ 2,7+ 1,5(o,24)+o,5(o) r15+ 3o(o,03)+o,5(o,8)
L2,B---- M
= 2t,t56% = a2r8% 10
g,54<
3. Menggambarkan titik-titik pada diagram sesuai dengan Krom-
Ekivalen dan Nikel-Ekivalen yang didapat. 10
,rto
Ganrhsr 7-19. Garis l, yaag Menghubungkan Dua Logam Induk
$,18{
Garis I sudah dibuat dengan cara menghubungkan titik C5o
1218--- dan titik AISI3o4. Untuk membuat taris tI, terlebih dahulu
10,
ditentukan perbandingan dilusi antara logam induk I dan
g,54< logam induk II. Apa yang dimaksud dengan perbandingan
dilusi logam induk I dan logam induk II ? Lihat penjelasan
dibawah ini.

,rto 2i,56 Dihsi tI, (Dz) Dihsi I,(Dr) Dilusi II, (Dz)
Gambcr 7-t& Titik Koordi*at E3l6 AISI I)4 dan C50 pada
D{igrrrll Sei*ftrer

4. Membuat garis antar titik. Karena kasus ini adalah Perbandingan Dt:Dl = r:r krbadingan Dr:De < r
penyambungan dua buah pelat maka prosedur membuat
garisnya adalah : Gfintor ?-S. F*rfuftrn Ferbardi4r* Dftrii pdr lhr Lagrm lldol

Jika perbandingan diltrs! r : r maka daerah mencair logam


Garis I dibuat dengan menghubungkan dua titik logam induk,
induk I dan logarn induk II sama hesar, sedanglan jika
sedangkan garis II dibuat dengan menghubungkan titik logarr
perbandingannya kurang dari r maka daerah mencair logam
tambahan dengan titik pada garis I.
induk I lebih kecil dari logam induk II.

102 Pengelasan Baja Tahan Karat 103 Pengelasan Baja Tahan Karat
Rasio Dilusi r:t Dengan dilusi scbesar z5o/o,logam las diperkirakan memiliki
20
x5,18 struktur mikro Austenit. Dengan struktur seperti ini,logam las
Garis II
cukup rentan terhadap terjadinya retak panas.
15
12rB 40
--+
10
s35 o%-6
a
\o 5%-6
9,54 5 |i 30 ro%-6
i+25
t\ O
\o zo%-D
o\
520 +o%-6
,TO rB,8r 2L ,56 CD
+
8o%-6
Gambar 7-21. Garis II, yang Menghubungken Elektroda dan 215
\o
c\
Titik Dilusi l:l rr 10 roo%-5

Karena perbandingan dilusi t : t maka dapat digambarkan


l_

zrr
dengan sebuah titik tepat ditengah-tengah garis I. Jika
perbandingan dilusi C5o : AISISo4 > t maka titik ini akan 10 20 30 4o
lebih dekat ke titik CSo, demikian sebaliknya.
Cr-E = 96Cr+YoMo+r,Sx%Si+o,5x%Nb
Gambar 7-23. Struktur Mikro Logam Las Mengandung Austenit yang
S. Menentukan titik yang mewakili daerah logam las pada garis Rentan terhadap Retak Panas
II yang dibuat. Titik yang dibuat ini didasarkan pada dilusi
'yang terjadi pada hasil'pengelasan. Dari,contoh soal ini dilusi
ditentukan sebesar 2S%.
Logam Las,
D=2SYc
20
15,18
--r
1tr

12rB --'
10
-2
9,54 5

10 ,/ro
,rto rB,8r 2L156 Retak Panas
Gambar 1-22.Titik Logam lnduk Fada Garis II Gambar 7-24. Contoh Struktur Mikro yang Mengandung Retak Panas

ro4 Pengelasan Baja Tahan Karat 105 Pengelasan Baja Tahan Karat
8l Pengelasan Besi Cor

8.r. Dasardasar Pengelasan B,esi Cor


Besi cor adalah jenis logarn yang merupakan paduan unsur
besi dan karbon dengan kadar karbon lebih dan 4f/o hingga
6,67Vo. Umumnya kadar karbon yang ada pada besi cor berkisar
z - 4Yo. Selain unsur karbon, dalam besi cor juga mengandung
Silikon | - S%.Penambahan unsur Silikon dimaksudkan agar
dalam struktur mikro'besi cor terbentuk grafr't. Unsur Silikon
se@ra kimiawi dapat mengurangi kelarutan Karbon baik dalam
Larutan cair maupun larutan padat, sehingga Karbon dapat berdiri
bebas membentukgrafit.
Rcfiak Feaas
Besi Cor
Gambar 7-25. Contoh Struktur ltflikroyery lftryrndung Rettk Panas (Ca$ Ircns)

I
I
I
I

Dapat di Las Siapdi las Siapdi Las Tidak dlsarankan


di Las
Garbar &I. Khdfllrri Bcsi Cor dan Si&r llrnpu Lm-rya

Besi eor umumnya mengandung grafit, tetapi tidak semua


besi cor terdapat grafit. Besi cor putih, demikian nama besi cor
yang tidak mengandung grafit. Besi cor lainnya dikategorikan
sebagai besi cor yang mengandung grafit, seperti besi cor kelabu,
besi cor ulet (atau besi cor nodular) dan besi cor malleable (atau
besi cor tempa). Yang membedakan satu dengan }ainnya pada besi
cor yang mengandung grafit adalah bentuk grafit-nya. Besi cor
kelabu memiliki bentuk grafit serpih (flakes), besi cor nodular
memiliki grafit berbentuk nodul atau bulat dan besi cor malleable
memiliki grafit bulat tak beraturan (kerumunan grafit serpih,
roset).

106 Pengelasan Baja Tahan Karat to7 Pengelasan Besi Cor


Gambar &2. Struktur Mikro Besi
Gambar &3. Struktur Mikro Bcsi
Cor Kelebu Cor Kelabn Gambrr &t Stru*tur Miluo Bcsi
Sumber: Website TWI Sumber: Websitc TWI Cor Putih

Gambar &9. Struhtur Mikro Bcsi Cor Futih


Sumber : Metallography.com
Gambar &4. Struktur Mikro Bcsi Cor
Noduler
Cor Nodular
Sumber: Website Univ. of Cembridgc
Sumbcr: Websitc TryVI

SIFAT FISIK GRAFIT


. Wama hitam ke-perak-an.
o Sel satuan hexagonal (hcp); 6lm2lm2lm
o Kekerasanl-2
o Massa jenis 2.200 kg/*'
."b
* nt^-
Gnmber &7. Struktur Mikrc Bcsi Sifat mampu las besi cor tergantung pada struktur mikro dan
Gamb,rr &6. Struktur Mikro Bcsi Cor Mrlleebh sifat mekaniknya. Sebagai contoh besi cor kelabu bersifat getas
Cor Malbebh Sumbcr: WiUrilc Univ.of Cembridge dan kurang mampu menahan tegangan akibat siklus termal
pengeiasan. Sifat getas atau rendahnya keuletan besi cor kelabu
diakibatkan oleh hadirnya grafit serpih apalagi grafit serpih yang

108 Pengelasan Besi Cor 109 Pengelasan Besi Cor


kasar. Sifat mampu las besi cor juga dipenganrhi olch lrcntuk Pertedaen lhraklerlsdk Proses Pengelaran
grafit. Grafit dengan Lerbandingan luas permukaan dzrn vo_lume GMAWFCAW
Olsi-asetilen SMAW
yang rendah memiliki mampu las lebih tinggi. Bentuk grafit bulat
yang ada pada besi eor nodular memiliki perbandingan yang Temperatur rendah tinggi tinggi
rendah yang artinya mampu las logam induklebih tinggi. Alasan sumber panas
lainnya yang membuat besi cor nodular memiliki sifat mampu las Temperatur Tinggr rendah rendah
lebih tinggi adalah karena besi cor ini lebih ulet dibandingkan preheat
jenis besi cor lainnya.
Penetrasi rendah tinggi tinggr
Sifat mampu las mungkin turun dengan terbentuknya
Dilusi rendah tinggt tinggi
struktur mikro yang keras dan getas di HAZ. Struktur yang getas
itu mun gkin saja mengandung besi-kcr rbids atau mcrtensir. Iaju deposisi rendah sedang tinggi
Besi cor nodular dan malleable relatif lebih sulit untuk
HAZ lebar lebih sempit lebih sempit
membentuk struktur martensit. Keduanya dapat dikatakan lebih
mudah untuk dilas dibandingkan besi cor kelabu, apalagi jika Pemakaian Pelapisan Pengelasan, pengelasan,
matriksnya adalah feritik. Besi cor putih bersifat sangat keras dan (buttering), perbaikan perbaikan
tidak mengandung grafit melainkan besi-karbida. Umumnyajenis pengelasan,
perbaikan
besi cor ini tidak disarankan untuk dilas.
Sumber: Website TWI
Untuk menyambung besi cor, proses brazing dengan oksi
asetilen seringkali digunakan untuk mencegah terjadinya retakan. Salah satu permasalahan yang ada dalam pengelasan besi cor
Oksida dan unsur-unsur pengotor yang ada dipermukaan besi cor adalah tingginya kandungan karbon di logam las. Hai ini tentunya
cenderung mengotori grafit di sepanjang permukaan. Oleh karena sangat berbahaya karena logam las menjadi getas dan rentan
itu permukaannya harus dibersihkan misalnya dengan terhadap tertentuknya retak. Penggunaan logam tarnliahan dari
menggunakan tungku garam (salt bath). Nikel atau paduan Nikel dapat mencegah terbentuknya struktur
Dalam proses pengelasan mencair (fusion welding), proses- yang keras di logam las. Selain itu juga dapat menghasilkan grafit
proses seperti oksi-asetilen, SMAW, GMAW dan FCAW dapat halus disekitar batas fusi, tingkat porositas rendah dan mudah
digunakan. Secara umum, penggunaan masukan panas rendah, :

kemudian pemanasan mula yang tinggi dan pendinginan lambat Pembentukan struktur yang keras dan getas di HAZ
merupakan persyaratan awal yang ditujukan untuk mencegah membuat besi cor sangat rentan terhadap pembentukan retak
retakan di |IAZ. Proses pengelasan dengan masukan panas lebih selama dan setelah pendinginan akibat pengelasan. Retakan di
rendah biasanya memerlukan temperatur pemanasan mula HAZ ini dapat dihindari dengan memberikan pemanasan mula
(preheat) lebih tinggr untuk menjamin pendinginan yang lambat. dan rnemperlambat laju pendinginan. Dengan pemanasan mula
Berikut ini adalah rangkuman dari perbedaan proses pengelasan maka laju pendinginan menjadi lambat sehingga pembentukan
busur listrik dan las oksi-asetilen. martensit di LIAZ dapat dihindari dan kekerasan FIAZ menurun.
Pemanasan mula juga bertujuan untuk mengurangi pengaruh
tegangan sisa akibat penyrrsutan dan menurunkan distorsi"
Besarnya temperatur pemanasan mula tergantung pada ketebalan
pelat yang dilas, jenis besi cor, kekuatan besi cor, bentuk produk

110 Pengelasan Besi Cor 111 Pengelasan Besi Cor


dan parameter karbon ekivalen (CE). Maki n tinggi (l I,l, t t' nt Ix' ratu r Dalam besi cor selain besi cor putih, karbon berada dalam
preheat juga semakin tinggi. Berikut ini adalah satu formulasi kondisi bebas (tidak berikatan dengan unsur manapun) dan
karbon ekivalen untuk logam induk besi cor. membentuk grafi t. Jika pada diagram kesetimbangan Fe".C untuk
baja, unsur Karbon selain membentuk larutan padat ferit (cr),
%Si+YoP austenit (y) dan delta (6), juga membentuk senyawa sernentit
CE=YoC+ (FeuC) akibat ikatan nya delgan unsur Be.si (Fe). Dalam diagram
kes6timbangan Fe-C untukbesi cor, unsur karbon tidakberikatan
dengan Besi akan tetapi berdiri sendiri alias bebas mernbentuk
grafit.
8.2. Metaluqgi Pengelasan Besi Cor
Struktur mikro besi cor putih dapat diamati dan dipelajari
melalui diagram fasa kesetimbangan Fe-C. Perubahan struktur
Diagram fasa kesetimbangan untuk besi cor serupa dengan mikro yang terjadi dapat dijelaskan sebagai berikut :
diagram kesetimbangan baja. Yang membedakan adalah

/>l
komposisi karbon. Untuk baja, kadar karbon maksimum r,7%
sedangkan kadar karbon lebih dant,f/otermasuk daerah besi cor.

,\ Cair

{'n.*"1 trto C

Austr Titik'Eutektik
grdc gltt'C
/fEi.nil +Scmeilir i

+ Ferit
723"c

Garis Komposisi

Ferit + Sementit

t,z%

0,8% 1,7% Gambar 8-11. Fasa Padat Pertama (l) Terbentuk Selama Pembekuan
.----------%C

Baja +-l-* uu.i co, Pada saat pengelasan busurlistrik, busur listrik meneairkan
Gambar &10. Diagram Fasa Kesetimbangan Fe-C yeng sebagian logam induk dan kawat las. Pengelasan terus
Mengandung Grafit berlangsung. Di satu tempat pada kubangan logam las yang
ditinggalkan busur listrik mengalami penurunan temperatur.
Pada saat kubangan logarn las mencapai temperatur tertentu,

LL2 Pengelasan Besi Cor


113 Pengelasan Besi Cor
pada fasa cair mulai terjadi pembekuan yang dirnrrlai rlt'ttgrtn
Tanda panah miring ke kanan menandakan transformasi fasa cair
pengintian fasa padat Austenit (y). Fasa yang ada saat ittr adalah yang tersisa menjadi Austenit (tanda panah ke kiri) dan Sementit
larutan padat y dan fasa cair. Fasa cair yang tersisa menjadi kaya (tanda panah ke kanan).
akan unsur Karbon (perhatikan tanda panah miring ke kanan).
Pendinginan terus berlanjut, fasa Austenit mengalami Pendinginan terus berlanjut, struktur eutektik mengalami
pertumbuhan, sedangkan fasa cair semakin berkurang. pertumbuhan. Fasa padat Austenit selama pendinginan ini terus
mengalami pengurangan unsur Karbon atau dengan kata lain
Sesaat setelah pendinginan mencapai temperatur t.t4onC,
unsur Karbon dipaksa keluar dari Austenit hingga mencapai
fasa cair yqng tersisa bertransformasi menjadi struktur temperatur 723oC atau garis eutektoid. Unsur karbon yang
eutektik yaitu mengandung campuran dari Austenit dan dikeluarkan dari Austenit kemudian berikatan dengan unsur Besi
Sementit. Bagaimana dengan fasa Austenit yang sebelumnl'a membentuk Sementit (FerC). Pembentukan Sementit ini terjadi
sudah ada ? Tentu saja Austenit ini tetap ada dan tidak trerubah
disekeliling butir Austenit. Semakin banyak unsur Karbon yang
menjadi apapun. Dengan demikian jika diperhatikan lebih dikeluarkan maka semakin banyak pula fasa Sementit yang
seksama, ada dua jenis Austenit pada saat temperatur mencapai
terbentuk.
1.14ooc ini. Austenit pertama disebut dengan Austenit Pro-
Eutektik yang terbentuk dari pembekuan fasa cair. Austenit
kedua adalah Austenit Eutektik yang dimiliki oleh struktur
eutektik. Austenit kedua ini muncul sebagai produk transformasi
dari fasa cair yang tersisa. Fasa yang ada pada temperatur ini
mengandung Austenit' .pro-eutektik, Austenit eutektik dan
Sementit.

glo C

o,o25% o.8% r,z%

Gambar 8-13. Karbon dikeluarkan dari Fasa Austenit dan Membentuk


Sementit (tanda panah ke kanan grris putus-putus)

o,ozs* o,8%
%c Pada proses pendinginan mencapai temperatur eutektoid
Gambar &12. Frsr Crir yang Tersisa Bertransformasi Menjadi 729"C, fasa Austenit yang tersisa sekarang hanya mengandung
Struktur Eutektik o,9yo Karbon. Dengan kandunga fi o,8o/o Karbon ini, Austenit ber

it4 Pengelasan Besi Cor


115 Pengelasan Besi Cor
transformasi menjadi struktur Eutektoid yang mengandung dari daerah I hingga daerah III. Pada saat mencapai daerah I, fasa
cirmpuran fasa Ferit dan sementit atau disebut dengan perlii. yang terbenhrk adalah Austenit + fasa cair. Pendinginan berlanjut
Dengan demikian, struktur mikro akhir dari proses pembekuan diikuti dengan penurunan temperatur. Pada saat meneapai
ini berupa struktur mikro Besi cor putih yang mengandung perlit daerah II, besi cor memiliki fasa Austenit + Sementit (Fe.Q).
dan Sementit (lihat gambar dibawah ini). Hingga akhirnya mencapai daerah@ ini
menghasilkan struktur mikro Perlit + Sementit.

Cair

Austenit + Cair

'Iitik Eutektik
9ro'c
Austenit + Sementit
/l
(
I

L) Ferh + Sementit
Garis tbmposisi
zs"c

0,02596 o,8% r,li;


%c
Gambar &14. Pada saat Mencapai rempcratur Eutektoio,.tustenit
bertransformasi Menjadi Struktur Eutektoid atru perlit.

_
Proses pemanasan besi cor yang diikuti dengan proses
pendinginan akan menghasilkan strukirr mikro )ran; berbeda.
Jika suatu besi cor dihasilkan dari suatu proses p"ng""oran, jenis
besi cor yang dihasilkan tergantung padi laju pendinginan y'ung
dialaminya. sehagai contoh dalam gambardibawah ini, suatubes-i
erotr i:r'rrr,ersial dtrngan komposisi karbon antara z -
4yodihasilkan
cl;,ri,"il;rl'il prr..'r*,s pengecoran. Jika produk coran itu mengalami
liendinginan yanfi, cepat selama berada dalam cetakan maki akan
dihasilknn besi r:or putih. Jika dilihat dari diagram fasa, selama
proses iv:nrlinginan besi cor putih ini mengalami perubahan fasa

ii6* Pengelasan Besi Cor t17 Pengelasan Besi Cor


Jika dalarn proses pendinginan cepat dihasilkan besi cor
putih, maka dengan laju pendinginan yang lebih lambat
(moderat) akan dihasilkan struktur mikro Perlit + Grafit. Bentuk
grafit yang terjadi adalah serpih (flakes). Besi cor dengan bentuk
grafit serpih ini seringkali dikenal dengan nalna Besi cor kelabu
(grey cast iron). Struktur Perlit yang ada merupakan struktur
matriks. Karena dominan mengandung matriks perlit maka
logamnya disebut dengan besi cor kelabu perlitik.
Apabila laju pendinginan lebih lambat lagi maka dihasilkan
stmktur mikro yang lain lagi. Dalam struktur mikro yang baru ini
terdapat matriks ferirrk dan grafit serpih. Dengan grafit serpih
o,o25% o,8% r,7%
maka logam ini dikenal dengan besi cor kelabu. Karena matriks

i.-.-- Baja +t lr ,-' Besi Cor Komersial.-.


nya adalahferit makalebih lengkap logam ini dikenal sebagai Besi
cor kelabuferitik. Besi cor dengan matriks ferit bersifat lebih ulet
Ditambahkan Magn6ium {Mg)
dibandingkan matriks perlit.
Dalam suatu penuangan besi cor cair ke dalam cetakan,
*-T apabila ditambahkan unsur Magnesium (MS) atau Cerium (Ce)
1:::1:!b',___ ,1:1:,,:S: dalam kadar yang kecil maka dihasilkan besi cor dengan bentuk
l-A,rlr PINDIN(iINAfi
III
15isjlr!!:.!t grafit bulat. Besi cor ini dikenal dengan nama Besi cor nodular.
ldn + C66r eD*,

Ausl,nn + (i861*r
Besi cor nodular memiliki matriks berbeda apabila didinginkan
19f:" 1'r11!P]
dengan laju berbeda. Jika laju pendinginan sedang atau moderat

ffi
I

4E\
\
@@@ maka dapat dihasilkan besi cor nodular dengan matriks Perlit atau
disebut besi cor nodular perlitik. l,aju pendinginan lebih lambat
lagi dapat menghasilkan besi cor nodular dengan matriks ferit
W
llesi Cor Nodular
q-r/
[ ---ai-"rj
Besi Cor Nodular
Feritik
Bsi Cor

I
tutih

I upanasxan Lnar,*
Besi Cor Kelabu
Peditik

Daemh It. min 30 jam


Bsi Cor Kelatru
Feritik atau disebut Besi cor nadularferitik.
Besi cor nodular merniliki keuletan lebih tinggi
Jdi dibandingkan dengan besi cor kelabu. Bentuk grafit bulat
A.'U PENDINGINAN
membuat jenis besi cor ini bersifat lebih ulet. Bayangkan bentuk
Al,'6(. Gnfi d &nit'(iEtud grafit serpih. Pada bentuk grafit ini terdapat bagian yang lancin
yang memiliki konsentrasi tegangan tinggi. Oleh karenanya jika
terkena beban maka retakan mulai merambat dari uj,ung grafit ini.

@@
Besi CorrlM.lloble B6i Cq Mallerbie
Selanjutnya terdapat jenis besi cor ke-empat yaitu Besi cor
malleable. Besi cor ini dapat dihasilkan dari besi cor putih. Jika
pada besi cor putih dipanaskan hingga mencapai daerah fasa
Austenit + Sernentit untuk jangka waktu yang sangat lama (lebih
Gambar &15. Perbedaan Struktur Mikro Bcsi Cor Berdasarken dari 3o jam) maka fasa sementit yang ada terurai menjadi Besi
Perbedaan Komposisi Kimia dan Leju pendinginan

119 Pengelasan Besi Cor


-I

(austenit) dan lkrbon bebas (atau grafit). Grafit y:rrrg terjadi


8.3. Pengelasan Besi Cor Kelabu
rnembentuk kumpulan/koloni yang disebut roset.
Berdasarkan keterangan dari bagan diatas (halaman r), besi
cor kelabu termasuk kategori logam yang dapat dilas. Berbeda
FerC -> Frrr) * C s,oJit dengan besi cor malleable dan besi cor nodular yang memang
memiliki sifat mampu las lebih baik. Besi cor kelabu dapat dilas
dengan baik apabila sebelum pengelasan diberi pemanasan mula
Perbandingan Besi cor berdasarkan sifat-sifatrya
(preheat) dan setelah pengelasan diberikan PWHT. Pemilihan
Besi Cor Besi Cor Besi Cor Besi Cor
logam pengisi atau kawat las yang sesuai juga dapat menjamin
Kelabu Nodular Malleable Putih keberhasilan pengelasan besi cor kelabu.
Relatif 1'O O'3 or6 Preheat dalam pengelasan ditujukan untuk menurunkan laju
Damping pendinginan daerah hasil lasan. Artinya jika sebuah logam dilas
capacity tanpa diberi preheat terlebih dahulu, maka laju pendinginan yang
Mampu Las Dapat di las Siap di las Siap di las Tidak dapat
terjadi relatif cepat. Apa yang terjadi jika besi cor kelabu dilas
di las tanpa diberi preheat ? Jika melihat diagram fasakesetimbangan,
Keuletan
untuk laju pendinginan cepat mungkin saja dihasilkan besi cor
2 1 1
3 putih di logam las. Iogam las menjadi keras dan sulit untuk
Kekuatan o I 1 d.imesin.
Keterangan r: Tinggi z:Serdang 3:Rendah Dalam berbagai kasus pengelasan besi cor, diinginkan
ketangguhan logam las melebihi ketangguhan logam induk.
Pemilihan kawat las yang memiliki ketangguhan lebih tinggi
Dengan bantuan diagram fasa kesetimbangan Fe-c diatas,
- sangat disarankan dalam mengelas beci cor. Logam-logam sepefi
\a9us pengelasan besi cor dapat dikaji dan dipelajari. Misalnya bajalunak (miid steel) dan paduan Nikel seringkali dipilih sebalai
dalam suatu kasus pengelasan besi .or, diketahui laju
pendinginannya. Jika- pendinginan berlangsung dengan cepat material kawat las. Pada beberapa aplikasi seringkali digunakan
maka kemungkinan logam las menjadi Sesi -cor putih aiau kawat las dari material besi eor. Ada beberapa faktor yang harus
terdapat strulitur martensit baik di logam las maupun HAZ. dipertimbangkan ketika memilih material kawat las untuk
mengelas besi cor, yaitu :
untuk mendapatkan hasil lasan yang runik maka struktur mikro
losqn las harus bermatriks feritik. Dengan pendinginan yang 1. Jenis besi cor.
lambat, struktur bermatriks feritik itu dijamin bisa"dipu.ot.nl 2. Sifat mekanik sambungan las.
untuk mendapatkan laju pendinginan rambat, dapat diberikan 3. Tingkat Dilusi.
preheat yang cukup tinggi sebelum pengelasan dilaksanakan.
4. Kemampuan logam las untuk meredam tegangan termal.
5. Kemudahan untuk dimesin.
6. Prosespengelasanyangcocok.
7. Harga.

L20 Pengelasan Besi Cor tzI. Pengelasan Besi Cor


Permasalahan Jrcngelasan besi cor bukan tidak memiliki solusi.
Secara umum, permasalahan dalam pengelasan lresi cor Ada beberapa solusi yang sudah dikembangkan, antara lain :
kelabu adalah dijelaskan sebagai berikut :
t. Permasalahan terbentuknya Sernentit selamapengelasan
1. Grafit yang tersebar di berbagai tempat akibat segregasi terjadi akibat &rrunnya kandungan Karbon dan Silikon'
mungkin saja sebagran dari grafit itu berubah menjadi Seierd sudah dijelaskan pada halarnan 9e, unsur Silikon
Sementit sehingga sebagian logam las berubah menjadi besi yans tinggi dapat rneulprornosikan terbentuknya $af*.
-Sebaliknya,
cor putih yang sangat keras. Perubahan ini dikenal dengan lurangaya unsur Silikon akan rnempersulit
istilah 'Efek CiI'dan mungkin saja dapat terjadi di HAZ pembentukan grafit, rnalahan nreningkatkan pernhnt'ukan
selain di logam las. Adanya efek cil terjadi akibat "hilangnya" SemeatitSW)"
unsur Karbon dan Silikon sehingga kandungan kedua unsur
Hilangnya xlnsur l(arbon dan Silikon baik di daerah logam
itu menurun. Kemudian kondisinya diperburuk dengan I*s maupun di HAZ disebabkan sleh tingginya temperatur
pendinginan yang cepat di kedua daeiah itu sehingga
pernflCIasan. Froses-proses pengelasan yang memiliki
rnenghasilkan besi cor putih dengan ciri adanya struktur
mikro Sementit.
karakteristik tingkat pemanasan tinggi tidak disarankan
untuk clipakai. Proses-proses pengelasan busur listrik
z. Ketika terjadi pembekuan, akibat gradien temperatur yang seperti GMAW, FCAW dan GTAW yang rnenghasilkan
besar menghasilkan regangan dan tegangan termal padi temperatur busur listrik yang sangat tinggi sangat iq_ang
daerah tertentu. Regangan dan tegangan termal ini pada digunakan. Untuk tetap dapat menggunakannya, pemitrihan
akhirnya dapat memicu pembentukan retak baik di logam parameter pengelasan yang sesuai seperti nrasukan panas
las maupun di HAZ. rendah sangat disarankan untuk diterapkan. Jadi solusi
S. Besi cor memiliki temperatur cair relatif rendah dan pertama ini yaitu pengelasan besi cor dapat dilakukan
perubahan dari fasa padat ke cair dan sebaliknya dapat dengan menerapkan prCIsqs pengelasan dengan rnasukan
berlangsung dengan sangat cepat. Akibatnya, gs-gffi yang panas rendah untuk rnenghindari hilaugnya unsur Karbon
ikut terlarut dalam kubangan logam las tidak memiliki dan Silikon.
cukup wakru untuk keluar dari daerah itu dan akhirnya krrnasalahan pembenhrkan Sernenfit tidak hanya
terjebak. Dengan demikian kadang-kadang setelah disebabkan oteh hilangnya unsur I(arbon dan silikon secara
pengelasan, logam las banyak mengandung porositas. signifikan tetapi juga diperbtmrk oleh tingginya lajl
4. Cairan logam besi cor sangat *encer, sehingga mampu alir pendinginan. Jika demikian solusi kedua de,nSan mudah
nya sangat baik. Dengan karakter seperti itu, pengelasan besi iuAan diperoteh yaitu dengan memperlambat laju
cor akan menghasilkan sambungan yang optimal apabila pendinginan. Dalam bab te$dahulu &ab IlD disebutkan
dilakukan dalam posisi mendatar. Lahwa masNrlun panas tinggr dapat dipakai untuk tujuan
memperlambat l4itr pndinginan' T*apt tentu saja hal ini
S. AdalVa lapisan oksida (yaitu Silikon-oksida dan Mangan-
bertentangan dengan soltlsi pertama tadi. Adakah cara lain
oksida) dipermukaan logam yang memiliki titik cair teu*r
tinggi dari logam induknya. Karenanya, selam pengelasan unmk mendapatkan laju pendinginan larnbat selain
menerapkan masukan panas tinggr ? tenfir saja ada. Pada
pulgkin saja terjadi fusi yang tidak sempurna antara logam
las dan logam induk. halarnan-halaman sebelumnya sudah disebutkan bahwa
pernberian pemanasan awal atau preheat pada logam induk
dapat rnenurunkan traju pendinginan produk lasan. Besarnya
temperatur preheat ini ditentukan berdasarkan komposisi

123 Pengelasan Besi Cor


t22 Pengelasan Besi Cor
kimia logam ind,k yang dilas, kctt'lrirl.. rlir, lx.rrtrrk prrxrrrk
dan parameter karbon ekivalen. Dengan demiki:rri s.lrrsi
kqdy? dari permasalahan pertama pengelasan besi r:or ini
adalah dengal memberikan preheat [ada logam induk
sebelum pengelasan.

T.ut+ - yang Jerjadi baik di logam las maupun HAZ


disebabkan oleh regangan dan tegangan termai. untuk
mencegah terjadinya rgtak, .egaogan dan tegangan termal
dibuat serendah yy"gkin. seperriyang sudih dlsebutkan,
tegangan termal ini munctrr sebagai akibat gradien
temperatur yang sangat besar. Jadi sebeirarnya Gambar &16. Teknik Mengcles Tcrputus-putus
permasalahan ulan-ra timbulnya retak karena gradien Untuk Mengureagi Tegangen Termal
temperatur. oleh karena itu, bagairnana memierkecil
qladign temperatur yang terjadi pJda pelat/proJrlk yang Kegagalan berupa retakan yang terjadi di logam las
dilas ? didasar kan pada perbandingan antara kekuatan logam las
Pemberian prehqt gelain bertujuan memperiambat laju dan tegangan yang terjadi di logam las. Jika tegangan yang
pendinginan juga bermanfaat untuk *nyurrsumkan terjadi melebihi kekuatan tarik logam las maka dapat
temperatur sepanjang daerah lasan. Jadi solusinia yaitu diprediksi retak akdn timbul di logam las. Tidak cukup
dengan memberikan preheat pada pelat/produrr s"butr* hanya mengandalkan kekuatan logam las saja, tingkat
pengelasan. keuletan di logam las juga harus diperhitungkan dan harus
cukup tinggi untuk meredarn perilaku retak. Oleh karena itu
Pemamlan paska,pengelasan seperti *stress relieving,, atau pemilihan logam pengrsi yant memiliki keuletan tinggr
PWHT (post r*'eld heat treatmeni) juga dapat dimanfiatkan
seperti paduan Nikel patutdipertimbangkan. Logam las dari
yltok mengurangi pengaruh tegangan teimar. pemanasan paduan Nikel ini memiliki kemampuan untuk menyerap
h in-gg.a temperatu.- g
:ru9 r9R".fr yaig biasa igu a-il ukukan
pada baja seringkali dilakukin.
tegangan akibat penyusutan yang terjadi selama pembekuan
sehingga diharapkan logam las terbebas dari retak.
Solusi lainnya yang juga sering dilakukan adalah melalui
teknik-mengelas. Dalam p*rrg"ra""r, rogam dikenai leknik 3. Permasalahan ikutlarutnyagas-gas dalam kubangan logam
las sebenarnya sudah dapat teratasi dengan penggunaan
m en gelas- terputus-putus (interrn ittenti
Logam t* p""aut preheat dan PWHT. Iaju pendinginan lambat sebagai akibat
didepositkan pugl kqryryrh sambunga"" a""gui cara diberikannya preheat secara langsung dapat memberikan
ygnS.9las berpindah-pi$u}: Dengan cara ini pur,* yang waktu kepada logam las untuk "membebaskan" gas-gas yang
diberikan pada Iogam induk meijadi terbati-sehingga ikut terlarut tadi. Semakin lambat laju pendinginan maka
dapat mengurangi tegangan termal.
semakin mudah dan semakin banyak g€rs-gas yang berusaha
keluar dari logam las. Akibatnya dapat meminimalkan
porositas yang ada di logam las.
Kemudian, selain dengan preheat, PWHT juga cukup efektif
untuk dapat membebaskan gas-gas yang ikut terlarut dalam
logam las. Sama pengaruhnya seperti preheat, dengan
t24 L25
Pergelasan B€$i Ctr Pengelasan Besi Cor
memberikan I)w[I'f salna saja dcngan menrlrt,r.ili:rrr urrlitrr I
kepada logam la.s untuk mengeluarkan sebagi,, lx.s:r'g.s-
gas yang ikut terlarut.
9l PengelasanAluminium

4. Tingginya kandungan Silikon dapat memperbaiki sifat


mampu alir besi cor sehingga dikatakan cairan besi cor 9.1. Dasar-dasar Pengelasan Aluminium
terlihat "encer". Dengan perilaku seperti ini tidak mungkin Aluminium, logam yang memiliki rumus kimia Al dikenal
lagi karakteristiknya diubah, misalnya saja supaya teUitr sebagai logam yang ringan dan memiliki ketahanan korosi tinggi
kental maka kandungan Silikon dikurangi- Tujuan dibuat terhadap udara, aiE oli dan beberapa cairan kimia. Massa jenis
lebih kental ini tidak lain agar pengelasin beii cor dapat nya sekitar % dari baja atau tembaga (Cu). Massa jenisnya sekitar
dilakukan dalam posisi pengelasan lain selain po.iri 2,7 gtf cm3. trGrena keistimewaan sifatnya itu, paduan Aluminium
m_endatar. Harap diingat bahwa pengurangan kandungan banyak digunakan sebagai struktur suatu konstruksi untuk
lili-t<on _mempunyai efek negatif. Turunnya kandungan mengurangi beban atau beratnya.
silikon dapat mempermudah terbentuknya sementit bulan
grafit. Oleh karena itu, karakter ini tidak mungkin lagi Paduan Aluminium secara umum dapat diklasifikasikan
diubah. Hanya saja perlu diperhatikan kemungkinan menjadi dua kategori yaitu p aduan A ang dapat diperlalanpanas
turunnya cairan logam besi cor i ni akibat pengaruh grar,'itasi. kan (heat treatable alloys) dan paduan yang tidak dapat diper
lalotpanaskcn (non-heat treatable alloys). Yang dimaksud dengan
5. Lapisan oksida yang ada dipermukaan logam dapat paduan jenis pertama adalah jenis paduan itu dapat ditingkatkan
menghalangi penyatuan logam las pada logim indik. kekuatannya dengan cara perlakuan panas misalnya saja dengan
Kendala ini bisa saja diminimalisir dengan memberikan cara pengerasan presipitasi (precipitation hardening). Jenis
fluks pada permukaan logam induk apabila menggunakan paduan kedua akan mengalami peningkatan kekuatan apabila
proses las oksi-asetilen atau brazing. Fluks 1,ang-berikan paduan itu dikenai deformasi plastik atau pengerjaan dingin.
berperan sebagai "pengelupas" lapisan oksida selama proses Kedua paduan itu memiliki karakteristik berbeda.
pemanasan. setelah itu barulah logam pengisi atau kawat las
diumpankan pada kubangan logam las. Paduan Aluminium juga diHasifikasikan menurut cara
pengolahan produk yang dihasilkan. Ada dua kategori yaitu
produk hasrl pengerjaan logam atau dikenal dengan urought
alloys dan produkhasilpengecoran atau disebut dengan casting
allogs. Dilapangan paduan Aluminium ini memiliki nama yang
ditandai dengan empat (+) digit angka yang menyatakan jenis
paduannya. Penamaan dari paduan Aluminium yang dimaksud
diperlihatkan dalam dua tabel dibawah ini. Paduan Aluminium
tempa demikian menyebut wrought alloys terdiri dari 8 jenis
penamaan dan paduanAluminium cor (casting alloys) juga terdiri
dari I jenis penamaan dengan cara penamaan sedikit berbeda.
Perbedaan cara penulisan ini ditujukan untuk membedakan yang
mana jenis paduan Aluminium tempa dan paduan Aluminium
cor. Perbedaan itu terletak pada adanya titik pemisah untuk
paduan Aluminium cor, sedangkan pada paduan Aluminium
tempa tidak terdapat tanda pemisah.

L27 Pengelasan Aluminium


Klasifikasi Paduan Aluminium Tempa (wrought alloys) Paduan I karena dapat dikeraskan dengan perlakuan panas
maka muntkin saja paduan itujuga dapat mengalami pelunakan.
Paduan Seri Penamaan Dalam perlakuan panas selalu saja melibatkan adanya pemanasan
Aluminium, dengan kemurnian min. 99% fixx dan pendinginan. Jika temperatur pemanisan dan laju
Aluminium - Tembaga (Al - Cu) pendinginan tidak sesuai m&ka sangat memungkinkan paduan
zXXX
Aluminium - Mangan (AI - Mn) Aluminium menjadi bersifat lunak. Dalam pengelasan juga
3XXX melibatkan pemanasan, peningkatan temperatur dan
Aluminium - Silikon (a]- Si) pendiRginau. Dengan demi&ian pengelasan terhadap paduan
4XXX
Alurninium - Magnesium (Al - n4gy
sXXX Alurniniumjenb t dapat mengubah sifatnya menjadi lebihburuk.
Alumiirium - Magnesium - Silikon 6XXX Oleh karena ihr paduan I ini lebih sulit untuk dilas dibandingkan
Aluminium - Seng (AI - Zn) paduan II.
TXXX
Paduan lainnya Sifat lain dari paduan Aluminium yang harus mendapat
BXXX
perhatian sebelum memulai pengelasan adalah konduktiuitas
Klasifikasi Paduan Aluminium Cor (Casting alloys)
lrstrfk, konduktiuitas panas dan sifat ekspansi panas.
Konduktivitas listrik paduan Aluminium lebih tinggi dari baja.
Paduan Tingginya konduktivitas listrik berarti arus listrik yang mengalir
Seri Penamaan
melalui logam ini akan lebih mudah. Proses pengelasan busur
Aluminium, dengan kemurnian min. g9%o rXX.X listrik yang memanfaatkan listrik sebagai sumber energi utama
Aluminium - Tembaga (A1- Cu) zXX.X dapat memanfaatkan kelebihan logam ini.
Aluminium - Silikon - Tembaga otau gxX.x
Aluminium - Silikon - Magnesium Karatteristik Berbagai Iogam
Aluminium - Silikon (Al - Si)
4XX.x Jenislogam SelSatuan fitik Koef. Ekspansl
Aluminium - Magnesium (AI - MS)
sxx.X Cair ("C) panall (x ro6/"C)
Aluminium - Seng (N - Zn)
7XX.X Timahhitam, Pb fcc 327
Aluminium - Timah (A1- pb) Seng,Zn
8XX.X hep 4L9 39,7
Sistem Paduan lainnya
9XX.X Magnesium, Mg hcp 6So 27,t
Aluminium, Al fcc 6fu 25,6
Tembaga, Cu fcc r.o83 16,s
Dalam paduan Aluminium tempa, yang termasuk daram Nikel, Ni fcc 1.453 13,3
- Titanium, Ti hcp <9oooC r.668
{_{11n ryng dapat diperlakupanaskan adarah}aauan seri zXXX,
4XXX, 6XXX dan seri 7XN,, sedangkan pudru, seri bcc >goooC
gxxx, +XXX dan seri_5XXX adarah jenG paduan yang tidak'XXX,dapai Besi, Fe bce <grooC 11'8
diperlakupanaskan. Jika paduan yurg dapat aii"riuilpunu.liu, fcc, grocTc<r.g5o
disebut dengan paduan I dan paduan yarrg tiau[ dapat iiperraku bce>r.35o"C
panaskan disebut paduan II maka daLm pengelasin,
akan lebih
"mudah" mengelas paduan II daripada *".rg"i* paduan
l.

t29 Pengelasan Aluminium


sifat lain kedtra -vaitu kmduktiuitus l)on(r.s. sil;rr ini berartisetlitlttitlx'nlanasanakanlellilrbesarnrtrtrgirlullrri,t'rr!irillirrr
menyatakan banyak sedikitnya panas yang dapai dia rkl r rncla| ui
Ii r dan selama pendinginan mengalarni pen.yrrsutan k'liii. i.i1. ,:r.,
logam itu. Aluminium tergolong logam yurg
-"*iliki sifat
kondulctivitas palas lebih ti-nggi aaripada bi;a. panas yang
demikian sebaliknya. l,ogam-logam dengan koefisien ct.".
panas tinggr perlu rnendapat perhatian lebih l(ar.{,i;,,,".rrrsi ada
diberikan pada Aluminium dengan cepat akan dialirkan- dai kecenderungan lebih tinggi terhadap tirnb,ulnya dist,:.,$i dan
riseharkan. berbeda dengan upu
1,urrg terjadi pada baja. penyusutan pada produk las. Pemkrerian rnasukan i-)aila-c tinggi
'er('t&l1y&, operasi pengelasan pada . paduan aluminium berarti mernpertiirggi terruperatur puncak pad.a logeri, :,ang diiil.
,n*neiukan energi panas-atau masukan,panas iebih tinggi untuk Tinggin3za temperatur l",ang dialami oleh suafr: It;gerr yang
q;qngantisipasi eepatnya kehilangan panas: Masukan pails tinggi memil i ki koefisien ekspansi panas tinggi menyel:aT;ka r: y,emuaian
dalam pengelasan busur listrik dicapai <iengan ,trerbagai #a dan penvusutan -vang juga besar. Kondisi sepeffii ini rnur:gkin saja
misalnya <lengan rmemperb"sar" orus lo.s, iemperkect,fiiggi terjadi pada pengelasan paduan aluminium. .Iilia p*ngelasan
busur atau memperlgntbat kecepatcn p,eng.e/.asqn. salah qatuiia paduan Aluminiurn dilakukan dengan'masukaxi p&na-s tinggi
glpskin dapat diterapkan tergantung p4a kondisi yang te_rjadi bukan tidak rnungkin distorsi.juga seinakin besan. satu iindakan
riiiapangaS. n1si1i lain menerupku, m"uiukan prrr* tirr&;i bulan yang dapat meminimalkan distorsi yaitu denga.n anengurangi
tanpa resiko. Pada pengeiasan pelat tebal, masukan pu*i* tinggi rnasukan panas dan rnemberikan preheat u.ntr-lk mengairomodaii
j,ga memqelbesal s.radien temperatur. Apalagi bilaiogam yang kekurangan panas.
dilas memiliki koefisien ekspansi panas tinggi, g-radien temperatur
ini dapat -rnenyebabkan distorJi sudut 5"rLuin, balrkan bisa
menyebabkan retak. oleh karena itupembatasan masukan pun* g.z. Fermasalahan Lain Dalarn
iebih diharapkan untuk meminimolkan kegagalan produk las" Pengelasan Paduan Alurniniurn
Agar kebutuhan energi panas tetap terpenuhi ,Jalam pengelasan
paduan Aluminium maka pemberlan preheat diharapkail dapat
membantu kekurangan itu. Ada tiga (3) permasalahan dasar dalam pengelasan paduan
Aluminir:m. {etiga permasaiahan ini menjadi perryebab kegagalan
akibat pengelasan. Permasalahan-perrlrasalahan itu antara lain :
Karakteristik Beberapa paduan L,ogarn
1. Adanya lapisan pasifatau ]apisan oksida Al,O" dipermukaan
Faduan Moclulus Massa Rasio l(ekuathn ilya. Aluminiurn dikenal sebagai logarn )ang memiliki
Elastisitns thd Berert, atinita-s terhadap Oksigen culcup ti*g13i. Oich karenan),a
(GPa) "Ienis
(gr/crn3) nelatif thd Baja Ahuniniuni ini sangat murlah berikaran dengan oksigen.
tsaja Strukhrr, FiSl"r\ 2{)() aAn
L
Apa yang membuat rnasaiah dengan adan5,p }ilpisan r:}<sida
Paduan Mg ini ? Ada dua masalah, yaitu :
Paduan Al 45 L,78 3
A. Iapisan oksidaAl,O, memiliki titikcair sekitar z.o5ooC
Paduan Ti 6q 2,77 yang lebih tinggr dari logam induknya, Aluminium,
3
to2 yang hanya sekitar 66ooC. Apabila paduan Aluminium
4,Bs 5,5
ini menerima panas selama operasi pengelasan maka
mungkin saja terjadi logam induk telah mencair
sifat ketiga,yang tidak.karah penting yaitu ekspansi
.logam. [,gam dengan angka t<oefrsien-ekspansi wnas sernentara lapisan oksidanya beium atau tidak mencair
besarbu"* sarna sekatri. Masalah ini dapat mengakibatkan sulitnya

130 Pengelasan Aluminium 131 Pengelasan Aluminitrm


terjadi pencampuran apabila dalam pengelu.unnya
melibatkan logam pen$si. Pengelasan yang sempurna I'olaritas balik menawarkan "aksi katodik" (eathodic
adalah apabila logam pengisi "bercampur" secara action) getama gperasi pengelqsan atau dikenal juga
sempurna dengan logam induk. Gagalnya proses dengan istilah "aksi pembersihhn" (cleaning action).-
pencampuran ini dimotori oleh kehadiran lapisan B. l,apisan oksidaAl.O, ini bersifat isolarordimana dapat
oksida yang berperan sebagai pembatas/penghalang. mengharnbat mengalirnya anrs listrik. Jika lapisan
9kslda cukr.rp tebal maka hal ini dapat menghambat
inisiasi busur listrik atau dengan tcata lain surit untuk
rnembangkitkan busur listrik
Cara a,gar arus listrik dapat mengalir dengan hambatan
gekgcil m-ungkin dilakukan dengan menghilangkan
lapisan oksida yang tebal itu. Cara melanik dan
(belum
-mencair), Tc=2.oSo'C kimiawi mungkin dapat diterapkan sebelum operasi
pengelasan. Pengurangan tebal lapisan oksida initidak
\1nyq dilakukan pada daerah sambungan yang akan
dilalui oleh busur listrik, tetapi jrgu puiu daerah
dimana akan ditempatkan "klem grornd'l
Logam Induk
(sudah mencair), Tc=66ooc Daerah pengurangan
Lapisan Oksida
Gambar 9-1. Perbedaan Titik Ceir Lepban Oksida dan
Logam Induk

Gagalnya pencampuran antara logam pengisi dan logam


induk akibat adanya penghalang itu mengenalkan pada
KIem
satu istilah cacat yaitu pencampuren tak sempurna
atau pencairan tak sempurr.a (incomplete fusion). Gambar 9-2. Daereh yang Harus.dibersihkan"
Terkadang dikenal juga dengan nama lain yaitu dari Lapisan Oksida
penetrasi tak smtpuran (incomplete penetration).
Adanya cacat seperti ini bukan tanpa solusi. pemikiran 2- Tingginya kelarutan Hidrogen dalam Aluminium cair di
yang paling sederhana adalah 'hilangkan lapisan daerah logam las selama p-engelasan. Gas-gas Hidrogen yang
oksida" selama operasi pengelasan. Menghilangkan terlarut dalam kubangan
lapisan oksida ini dapat dilakukan dengan berbagai cara logam las dan tidak r"*pit t etuui
dari kulaggan itu pada akhirnya menyebabkan gis-gas itu
migaln1a saja menggunakan proses pengelasan yang terjebak dan menimbulkan porositas. Iarutnya gas-gas
melibatkan fluks atau proses pengelasan yang memakai Hidrogen itu mungkin saja berasal dari kotoran-kotoian
gas inert seperti pada GTAryGMAW. Cara lain yang yang menempel pada kawat las atau permukaan logam induk
juga dapat dilakukan adalah dengan menerapkan r-?:.ti oli, gemuk, dan air. Kotoran-kotoran itu-sebaiknya
polaritas balik untuk kasus pengelasan busur listrik. dihilangkan terlebih dahulu seberum pengelasan untuk
mengurangi kontaminasi Hidrogen dalam logam las.
132 Pengelasan Aluminium
133 Pengelasan Aluminium
Banyak diantara paduan Aluminium itu nremiliki.sclang Retirk tli logarn las juga dapat tlicegah dengatl 1, i{t'l;t:;;ttt
3.
temperatur pembekuan yang lebar. Kondisi ini mernrrngkin yang rnenggunakan sebuahlogam pengisi yang nl'':Par,dullg
kan paduan Aluminium itu terkena retak pembekuan (hot unsur paduan lebih tioggr daripada logam indur'. 1: ,;rlil)'a
short cracking) di daerah logam las. Retak ini dapat timbul saja logam induk yang mengandung unsur Siii.;on (Si)
akibat dipicu oleh tegangan termal dan senyawabertitik cair rendah dilas dengan iogam pengisi yang mi':rrSandung
rendah yang "terlambat" membeku. Silikon lebih tinggr.
.)
J. lngarn induk dengan selang temperatur pembei;-uan yang
iebih lelar lebih sensitif terhadap terbentuknva retak.
4. I-ogam induk yang mengandung unsur Magne.slum (MS)
tinggi disarankan tidak dilas dengan logam pengisi yang
mengandung unsur Silikon (Si) tinggi. Hal ini dap;rt memicu'
terbenilrknya senyawa eutektik Magnesium- Sil icide (M g,Si)
di logam ias yang akan menurunkan keuletan.
Paduan dengan komposisi ini Paduan dengan komposisi ini
memiliki'selang temperatuf memiliki'selang temperatur 5. Kombinasi unsur Magnesiurn dan Tembaga (Cu) di logam
pembekuan SEMPm"
las pada pengelasan paduan Aluminium tidak diharapkan
terjadi. Misalnya paduan Aluminium seri 5XXX jangan dilas
dengan logam pengisi seri ERzXXX dan paduan Aluminium
(A) (B)
seri zXXX tidak dilas dengan logam pengisi seri ER5)O(X.
Gambar 9-3. Perbedaan Selang Temperatur Pembekuan pada Diagram
Fasa

9.3. Retak [,ogam Las 9.4. Operasi Pengelasan Paduan Aluminiurn dengan
GTAW
Pemilihan logam pengisi untuk pengelasan paduan
Aluminium merupakan faktor penting dalam rnencegah terjadinya
retak di logam las. Retak ini biasanya terjadi akibat kekuatan dan Proses GTAW telah digunakan untuk mengelas pelat dengan
keuletan yang rendah baik di logam las maupun di HAZ tenrtama ketebalan o,2S - tso mm dan dapat dipakai pada semua posisi
pada temperatur tinggi. Perilaku seperti ini dikenal sebagai <hot pengelasan. Pengelasan dengan GTAW menghasilkan manik las
shortness". Ada beberapa panduan yang mungkin bisa diper yang mulus dan penetrasi yang dapat diatur. Proses GTAW dapat
timbangkan dalam memilih logam pengisi untuk pengelasan dilalsanakan dengan dua pengaturan, yaitu :
paduan Aluminium agar terhindar dari retak, yaitu : 1. Proses GTAW Arus AC
1. Sebuah logam pengisi dengan titik cair mirip atau lebih 2. Proses GTAW Arus DC
rendah dari logam induk dapat mengurangi kecenderungan
terhadap retak antar butir (intergranular cracking) di HAZ.
l,ogam pengisi dengan karakteristik seperti ini dapat Proses GTAW arus AC dilaksanakan dengan menggunakan mesin
meminimalkan tegangan akibat penyusutan logam las, las AC. Proses ini memiliki dua keunggulan dibandingkan dengan
sampai senyawa bertitik cair rendah yang ada di HAZ proses GTAW arus DC, yaitu :
membeku dan memiliki kekuatan yang cukup untuk
menahan tegangan yang terjadi.

134 135 Fengelasan Aluminiurr


Pengelasan Aluminium
A Aksi Pembersihan (cleaning action) itu terkelupas akibai "desakan" elektr.on" nraka
lapisan oksitlir
Pembersihan yang dimalaud disini adalah menghilangkan elektron tadi dengan mudah bergerak kearah eiei,trcda.
atau mengelupas lapisan oksida yant ada dipermukaan logam Terkelupasnya atau hilangnya lapisan oksida diperrnukaac logarn
induk Aksi ini berlangsung pada saat elektroda bermuatan positif induk inilah yang dikenal dengan aksi pemkrsihan.
(+) danlogam induk bermuatannegatif (-). Untuklebih jelasnya
perhatikan ilustrasi dibawah ini.

(+) (-)

tapisan Olaida
! 4, f yg terkelupas

,"
J
,/
(+ Muatan l-istnt
negatif (-)

Ch
Gambor 9-5. A**i Aerntrersihan Lapisan Okskla
c(,
J
d
bo
g B. Aksi penernbusan (penetrating action)
mt
C€
bo
o Jika elefomod* barm,uatan psitif (+) terjadi aksi
Ft pembersihan meka saat sebaliknya yaitu elektroda berrnuatan
legatif (-) akan terjadi aksi pnembusan. Elektron sekarang
(-) bergerak dari elektroda kearah permukaan logam induk tanpa
adanya hambatan karena lapisan oksida telah terkelupas. Tingliat
Gambar 9-4. Karakteristik Arus AC
peqerybusan yang dihasilkan dengan aksi ini cukup dalam
berbeda dengan aksi sebelumnya (aksi pembersihan). Kedalaman
penembusan logam las dalam logam induk menjadi ciri dari aksi
Arus listrik AC memiliki pola kurva sinusoidal. Pada saat penembusan ini.
tertentu, elektroda bermuatan positif dan disaat lain bermuatan
negatif. Kemudian pada saat elektroda bermuatan positif (gambar
d, di sisi lain logam indukbermuatan negatif. Elektron-elektron
yang ada dilogam induk ini berakselerasi menuju elektroda.
Pada awalnya, pergerakan elektron berlangsung kurang
multrs akibat adanya lapisan oksida yang bersifat isolator.setelah

136 Pengelasan Aluminium L3V *msdasm A&rmhium


Arus DC+ AruB DC- Pcnctrasi
dalanr Fustaka

1. Wiryosumarto H", Okumura T", Teknologi Fengelasan


[.ogam, Cetakan ketujuh, PT Pradnya Paramita, Jakarta,
1996.
ArusAC
, ANSI/AWS dj.o-89, Standard Welding Term and
Defi nitions, American Welding Society

tngam las
kb**r, diantara 3. ASM HandbookVolume 6, Welding, Brazing and Soldering,
1993.
DC+ dan DC-
Gannbar 9u6. PerMaan Karokteri*lik Arur AC dan OC 4" Weldin g Handbook, M ETALS AND THEI R WELDAB I LITY,
Volume 4, Seventh edition, American Welding Society, 1982.
l.ancaster John, handbook of Strucural Welding, McGraw
Proses GTAW anxi DC sebeaarnya dapat dijelaskan dari Hill Inc., First Published, 1992.
pros6 GTAW arus AC. Fenomena yeng terjadi juga dapat 6. Floward B. Cary, "Modern Welding Technolory", Prentiee-
dijelaskan dari garnbardiatas. Ada dua kernungkinan pemakaian Hall Inc., london, tg7g.
ams DC ini, yaitu arus DC+ (poleritas balik) dan arus DC-
(polaritas lurus). Arus DC+ menghasilkan lcarak*eristik aksi
pernbersihan dengan penetrasi dangkal dan arus DC-
menghasilkan aksi penembusan. Anrs DC+ umumnya dipakai
pada pngelasan pelat-pelat tipis, sedangkan arus DC- banyak
dipaltai pada kasus pengelasan pelattebal karena mernanfaatkan
dalarnnp penetrasi/pen€Erbusan logam las.

138 Pengelasan Altminiusr


139 Pustaka
Lampiran
Bentuk Kampuh Ketebalan Dimensi Sambungan Posisi Luas
Pelat (mm) Pengelasan
RF (mm) RO (mm) Sudut A
,RO s.d. 3 s.d. 2 F, V (bawah)

I
-rl
l-l

t_J ll, s.d.4

4-7
s.d. 3 V (atas) ROxT

Tt2 F, V (atas)
Square groove

rro>
(T-RF),.
4 -2A s.d.2 s.d. 3 50-70 F,V,O tan(N2) +
RO.T
l-Bq
Single V

r40

Bentuk Kampuh Ketebalan Dimensi Sambungan Posisi Luas


Pelat (mm) Pengelasan
RF (mm) RO (mm) Sudut A

l'--^>
4-20 s.d. 2 s.d. 3 45-60 F,H.V,O 0,5(T-RF)2.
tan A + RO.T

Single bevel

ro->

EI
Double V
J' >15 s.d. 2 s.d. 3 50-60 r,v.o
0,5(T-RF)2
tan(N}1
RO.T
+

r4r
Bentuk Kampuh Ketebalan Dimensi Sambungan Posisi I-uas
Pelat (mm) Pengelasan
RF (mm) RO (mm) SudutA
Doubte O*u.tf
o

>15 s.d. 2 s.d. 3 :+-5 - 60 F,l{, v, o 0,25(T-RF)'.


tan(A) + RO.T

\'--o)

Single-U
rp J, >15 -2
R:4-8
s.d. 3 l0-2a F,V,O
(T-R-RF)r.
tan(N2) +
2R(T-R-RF) .-
0,5nR2 + RO.T

r42

Bentuk Kampuh Ketebalan Dimensi Sambungan Posisi I-uas


Pelat (mm) Pengelasan
RF (mm) RO (mm) Sudut A

qFr'
Single-J
l'o."/
>15 a

R:8-15
s.d. 3 12-25 F,H.V,O
0,5(T-R-RF):
tan(A) + R(T-
R-RF) +
0,252tR2 +
RO.T

DF}
Double-U
>30 a

R:4-8
s.d. 3 l0 - 20 F.V.O
0,5(T-2R.-RFrl
tan(A121+
2R(T-R-RF)
rcR2 + Ro.]'
-

143
Bentuk Kampuh Ketebalan Dimensi Sambungan Posisi Luas
Pelat (mm) Pengelasan
Rr (mm) RO (mm) Sudut A

0,25(T-2R-
>30 -2 s.d. 3 t2-25 F,H,V,O RF)2 tan(A) +
R(T-2R-RF) +
0,5nR2 + RO.T
R=8-15

144