Anda di halaman 1dari 70

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Harga diri rendah adalah keadaan dimana seseorang sering mengalami
kegagalan, tidak dicintai atau tidak diterima lingkungan (Stuart & Sundeen, 1998).
Harga diri rendah merupakan gangguan mental yang sering terjadi di tengah
masyarakat. Berawal dari stres yang tidak diatasi, maka seseorang bisa jatuh ke
fase harga diri rendah. Penyakit ini kerap diabaikan karena dianggap bisa hilang
sendiri tanpa pengobatan. Harga diri rendah yang tidak diterapi dengan baik bisa
berakhir dengan bunuh diri. Secara global lima puluh persen dari penderita harga
diri rendah berpikiran untuk bunuh diri, tetapi yang akhirnya mengakhiri hidupnya
ada lima belas persen. Selain itu, harga diri rendah yang berat juga menimbulkan
munculnya berbagai penyakit fisik, seperti gangguan pencernaan (gastritis), asma,
gangguan pada pembuluh darah (kardiovaskular), serta menurunkan produktivitas
(Gsianturi, 2006). Harga diri rendah ditandai dengan adanya perasaaan sedih,
murung, dan iritabilitas. Pasien mengalami distorsi kognitif seperti mengeritik diri
sendiri, timbul rasa bersalah, perasaan tidak berharga, kepercayaan diri turun,
pesimis dan atau putus asa. Terdapat rasa malas, tidak bertenaga, retardasi
psikomotor, dan menarik diri dari hubungan sosial. Pasien mengalami gangguan
tidur seperti sulit tidur atau terbangun dini hari. Nafsu makan berkurang, begitu
pula dengan gairah seksual (Nurmiati, 2005).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat harga diri rendah adalah
gangguan mental yang umum terjadi di antara populasi. Diperkirakan 121 juta
manusia di muka bumi ini menderita harga diri rendah. Dari jumlah itu 5,8 persen
laki-laki dan 9,5 persen perempuan, dan hanya sekitar 30 persen penderita harga
diri rendah yang benar-benar mendapatkan pengobatan yang cukup, sekalipun telah
tersedia teknologi pengobatan harga diri rendah yang efektif. Ironisnya, mereka
yang menderita harga diri rendah berada dalam usia produktif, yakni cenderung
terjadi pada usia kurang dari 45 tahun. Tidaklah mengherankan, bila diperkirakan
60 persen dari seluruh kejadian bunuh diri terkait dengan harga diri rendah
(termasuk skizofrenia).

1
Beberapa faktor penyebab harga diri rendah, yaitu mulai dari faktor genetik
sampai degan faktor nongenetik. Faktor genetik, ketidakseimbangan biogenik
amin, gangguan neuroendokrin, dan perubahan neurofidiologi, serta faktor
psikologik seperti kehingan objek yang dicintai, hilangnya harga diri, distorsi
kognitif, ketidakberdayaan yang dipelajari dan faktor-faktor lain, diduga berperan
dalam terjadinya harga diri rendah (Nurmiati, 205).
Tidak semua harga diri rendah harus diobati karena ada harga diri rendah
yang sembuh tanpa diterapi. Artinya, harga diri rendah hilang seiring dengan
perjalanan waktu. Ini terjadi bila harga diri rendah masih dalam batas wajar. Tetapi
ada juga harga diri rendah yang tidak bisa sembuh sendiri. Bahkan, memerlukan
waktu bertahun-tahun untuk proses penyembuhan. Terapi harga diri rendah terdiri
dari konseling, psikoterapi dan terapi farmakologi (dengan pemakain obat
antidepresan), dukungan kelompok, serta terapi kognitif. Terkadang, para penderita
harga diri rendah memerlukan rawat inap di rumah sakit. Selain itu, kepatuhan
menggunakan obat antidepresan juga menjadi pertimbangan seorang penderita
harga diri rendah menjalani rawat inap di rumah sakit. Agar tidak mengalami harga
diri rendah, setiap orang memperkuat daya tahan mental, melatih diri agar bisa
fleksibel, memiliki fisik yang sehat, serta mendalami ajaran agama yang berperan
menimbulkan rasa damai.(Gsianturi, 2006)

B. Tujuan
 Tujuan umum
Setelah mengikuti membaca dan memahami makalah tentang Asuhan
keperawatan pada pasien dengan harga diri rendah ini mahasiswa diharapkan dapat
menerapkan proses keperawatan yang tepat sesuai dengan standart yang telah ada
pada pasien dengan harga diri rendah

 Tujuan khusus

2
Setelah mengikuti membaca dan memahami makalah ini mahasiswa
diharapkan mampu :
1. Menjelaskan konsep harga diri rendah (definisi, etiologi,
patofisiologi, klasifikasi, manifestasi klinis, penatalaksanaan, komplikasi dan
prognosis)
2. Mengidentifikasi pengkajian pada pasien dengan harga diri rendah
3. Merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan harga diri
rendah
4. Merencanakan tindakan keperawatan pada paisen dengan harga diri
rendah
5. Melakukan tindakan perawatan pada pasien dengan harga diri
rendah

C. Manfaat
 Teoritis
Pemahaman tentang harga diri rendah dapat dijadikan sebagai salah satu
dasar dalam pengembangan IPTEK dalam bidang keperawatan khususnya dalam
pengembangan perawatan pasien dengan harga diri rendah. Hal ini sangat
diperlukan untuk menekan angka kejadian harga diri rendah ditengan kekacauan-
kekacauan yang terjadi di muka bumi ini yang tentunya menjadi salah satu faktor
yang memicu terjadinya harga diri rendah.

 Praktis
Asuhan keperawatan pada pasien harga diri rendah tidak hanya digunakan
untuk pasien-pasien dengan gangguan jiwa saja, tetapi dapat juga digunakan dalam
upaya penjegahan terjadinya harga diri rendah atau terjadinya kekambuhan pada
penderita pasca harga diri rendah.

3
METODE PENULISAN

Metode yang digunakan dalam penulisan ini yaitu :


1. Metode kepustakaan : metode penulisan dengan mengguanakan bebebrapa literature
sebagai sumber

2. Metode wawancara : diperoleh dengan wawancara langsung pada klien, keluarga dan
perawat ruangan

3. Metode observasi : dengan mengobservasi langsung dengan klien dengan maslah


utama menarik diri

 Sistimatika penulisan
Sistematika penulisan dalam laporan pengelolaan ini terdiri dari 5 BAB.
BAB I : Pendahuluan, meliputi latar belakang masalah, tujuan penulisan
dan sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan pustaka, meliputi konsep dasar medis dan konsep dasar
keperawatan.
BAB III : Tinjauan kasus, meliputi pengkajian, analisa data, pohon
masalah, diagnose, perencanaan, pelaksanaan, evalusai.
BAB IV : Pembahasan, pembahasan berisi pengkajian, diagnose
keperawatan yang muncul, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan hambatan.
BAB V : Penutup, meliputi kesimpulan dan saran.

4
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

KONSEP MEDIK
2.1 Konsep Harga Diri Rendah
2.1.1 Definisi
Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri, pencapaian ideal diri
atau cita-cita atau harapan langsung menghasilkan perasaan berharga. Harga diri
rendah adalah keadaan dimana individu sering mengalami kegagalan dalam
pencapaian tujuan (Keliat, 1992).
Harga diri rendah adalah keadaan dimana seseorang sering mengalami
kegagalan, tidak dicintai atau tidak diterima lingkungan (Stuart & Sundeen,
1998). Harga diri rendah adalah keadaan dimana individu mengalami evaluasi diri
negatif yang mengenai diri atau kemampuan (Lynda Juall Carpenito, 2000).

2.1.2 Tanda dan Gejala


Menurut Sudeen & Stuart (1998) tanda dan gejala harga diri rendah adalah
sebagai berikut:
1. Mengkritik diri / orang lain
2. Produktivitas menurun
3. Gangguan berhubungan
4. Merasa diri paling penting
5. Destruktif pada orang lain
6. Merasa tidak mampu dan bersalah
7. Mudah tersinggung / marah
8. Perasaan negatif terhadap tubuh
9. Ketegangan peran
10. Pesimis menghadapi hidup
11. Keluhan fisik
12. Penolakan kemampuan diri
13. Pandangan hidup bertentangan

5
14. Destruktif terhadap diri
15. Menarik diri secara sosial dan dari realita
16. Khawatir

2.1.3 Penyebab terjadinya Harga Diri Rendah


1. Penolakan
2. Kurang penghargaan
3. Pola asuh over protektif, otoriter, terlalu dituruti, terlalu dituntut.
4. Persaingan
5. Kesalahan dan kegagalan berulang
6. Tidak mampu mencapai standart
7. Mekanisme koping in efektif

2.1.4 Efek dari Harga Diri Rendah


1. Resiko perilaku kekerasan
2. Kerusakan interaksi sosial (menarik diri)

2.1.5 Jenis Ganguan Harga Diri


1. Situasional yaitu terjadi secara tiba-tiba. Misalnya harus operasi,
kecelakaan, di cerai suami atau istri, putus hubungan kerja, dan
sebagainya. Pada lklien yang dirawat dapat terjadi karena privacy yang
kurang diperhatikan, pemeriksaan fisik yang sembarangan dan
pemasangan alat yang tidak sopan.
2. Kronis yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, klien
mempunyai cara berfikir yang negatif.

2.1.6 Faktor Predisposisi


Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua,
harapan orang tua yang tidak realistik, kegagalan yang berulang-ulang, kurang
mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal
diri yang tidak realistik.

6
2.1.7 Rentang Respon Emosi

Adaptif Mal adaptif

Reaksi reaksi sedih menahan emosi kesedihan depresi/mania


Emosi memanjang
Wajar

2..8 Pohon Masalah

XV POHON MASALAH

Resiko Kerusakan Resiko


Effect Interaksi sosial Perilaku
(menarik diri) Kekerasan Defisit Perawatan
DIri diri

Gangguan konsep diri Penurunan Aktivitas


Core Problem (harga diri rendah) Motorik

Causa Ketidakefektifan koping individu

Respon pasca Kehilangan, riwayat


aniaya fisik
trauma

7
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian

1. Resiko tinggi isolasi sosial: menarik diri b/d harga


diri rendah.

DS :
a. Pasien mengatakan tidak berani bicara dengan orang lain.
b. Pasien mengatakan malas bicara dengan orang lain dan klien malu
bicara dengan orang lain.
c. Pasien mengatakan dirinya tidak mampu mengerjakan sesuatu dan
merasa tidak berguna.

DO :
a. Pasien menyendiri.
b. Berjalan mondar-mandir
c. Bicara pelan-pelan.
d. Klien menundukkan kepala.
e. Klien tidak mampu mempertahankan kontak mata.

8
B. Diagnosa Keperawatan :
1. Kerusakan interaksi sosial
berhubungan dengan Harga Diri Rendah.
2. Harga Diri Rendah berhubungan
dengan mekanisme koping individu inefektif.

C. Rencana Tindakan Keperawatan


Tujuan umum : Klien merasa dirinya tinggi dan interaksi soaial klien baik
(klien dapat berhubungan dengan orang lain).
Tujuan khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
2. Klien dapat mengidentifikasi penyebab Harga Diri Rendah.
3. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
4. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
5. Harga Diri klien dapat meningkat secara bertahap.
6. Klien dapat mengguanakan obat dengan benar sesuai program pengobatan.

TUK I : Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip


komunikasi verbal.
- Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
- Perkenalkan diri dengan sopan
- Tanyakan nama klien dengan nama panggilan.
- Jujur dan menepati janji
- Selalu kontak mata selama interaksi
- Membuat kontrak waktu
- Tunjukkkan sikap empati dan perhatian pada klien
- Terima klien apa adanya

9
TUK II : Klien dapat mengidentifikasi penyebab HDR.
- Kaji pengetahuan klien tentang perilaku HDR dan tanda-
tandanya.
- Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaan harga
diri rendah.
- Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan
perasaan.

TUK III : Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang di
miliki
- Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
- Hindarkan memberi nilai negatif tiap bertemu klien.
- Utamakan memberi pujian pada klien.

TUK IV : Klien mendapat menilai kemampuan yang dapat digunakan


- Diskusikan dengan klien kemampuan yang dapat digunakan
selama sakit.
- Diskusikan kemampuan klien yang dapat digunakan
selanjutnya.

TUK V : Harga diri klien dapat meningkat secara bertahap


- Beri motivasi pada klien tentang peningkatan harga diri.
- Beri kesempatan pada klien untuk mengikuti terapi aktivitas
kelompok.

TUK VI : Klien dapat menggunakan obat secara benar sesuai program


pengobatan
- Anjurkan klien minta obat dan minum obat tepat waktu.
- Anjurkan klien melaporkan pada perawat / dokter jika
merasakan efek yang tidak menyenangkan.

10
- Beri kesempatan pada klien untuk mengikuti terapi
aktivitas kelompok.

 Konsep Dasar Skizofrenia


 Pengertian
Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab
(banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau
deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan
pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya (Rusdi Maslim, 1997; 46).

 Penyebab
1. Keturunan
Telah dibuktikan dengan penelitian bahwa angka kesakitan bagi saudara tiri
0,9-1,8 %, bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu
orang tua yang menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan
kembar satu telur 61-86 % (Maramis, 1998; 215 ).
2. Endokrin
Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya Skizofrenia
pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu
klimakterium., tetapi teori ini tidak dapat dibuktikan.
3. Metabolisme
Teori ini didasarkan karena penderita Skizofrenia tampak pucat, tidak sehat,
ujung extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan
menurun serta pada penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat asam
menurun. Hipotesa ini masih dalam pembuktian dengan pemberian obat
halusinogenik.
4. Susunan saraf pusat
Penyebab Skizofrenia diarahkan pada kelainan SSP yaitu pada diensefalon
atau kortek otak, tetapi kelainan patologis yang ditemukan mungkin
disebabkan oleh perubahan postmortem atau merupakan artefakt pada
waktu membuat sediaan.
5. Teori Adolf Meyer :

11
Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang
tidak dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas
pada SSP tetapi Meyer mengakui bahwa suatu suatu konstitusi yang inferior
atau penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya Skizofrenia.
Menurut Meyer Skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu
maladaptasi, sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan
orang tersebut menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).
6. Teori Sigmund Freud
Skizofrenia terdapat (1) kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab
psikogenik ataupun somatik (2) superego dikesampingkan sehingga tidak
bertenaga lagi dan Id yamg berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase
narsisisme dan (3) kehilangaan kapasitas untuk pemindahan (transference)
sehingga terapi psikoanalitik tidak mungkin.
7. Eugen Bleuler
Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu
jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses
berfikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia
menjadi 2 kelompok yaitu gejala primer (gaangguan proses pikiran,
gangguan emosi, gangguan kemauan dan otisme) gejala sekunder (waham,
halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain).
8. Teori lain
Skizofrenia sebagai suatu sindroma yang dapat disebabkan oleh bermacam-
macaam sebab antara lain keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi,
tekanan jiwa, penyakit badaniah seperti lues otak, arterosklerosis otak dan
penyakit lain yang belum diketahui.
9. Ringkasan
Sampai sekarang belum diketahui dasar penyebab Skizofrenia. Dapat
dikatakan bahwa faktor keturunan mempunyai pengaruh. Faktor yang
mempercepat, yang menjadikan manifest atau faktor pencetus (presipitating
factors) seperti penyakit badaniah atau stress psikologis, biasanya tidak
menyebabkan Skizofrenia, walaupun pengaruhnyaa terhadap suatu penyakit
Skizofrenia yang sudah ada tidak dapat disangkal. (Maramis, 1998).

12
13
 Pembagian Skizofrenia
Kraepelin membagi Skizofrenia dalam beberapa jenis berdasarkan gejala
utama antara lain :
1. Skizofrenia Simplek
Sering timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa
kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir sukar
ditemukan, waham dan halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya perlahan-
lahan.
2. Skizofrenia Hebefrenia
Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa
remaja atau antaraa 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan proses
berfikir, gangguan kemauaan dan adaanya depersenalisasi atau double
personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau
perilaku kekanak-kanakan sering terdapat, waham dan halusinaasi banyak
sekali.
3. Skizofrenia Katatonia
Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering
didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau
stupor katatonik.
4. Skizofrenia Paranoid
Gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai dengan waham-waham
sekunder dan halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti ternyata adanya
gangguan proses berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan.
5. Episode Skizofrenia akut
Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan
mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan
seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah, semuanya seakan-
akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya.
6. Skizofrenia Residual
Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas
adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali
serangan Skizofrenia.

14
7. Skizofrenia Skizo Afektif
Disamping gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan juga
gejala-gejal depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psiko-manik). Jenis ini
cenderung untuk menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga timbul
serangan lagi.

 Konsep Dasar Skizofrenia Hebefrenik


1. Batasan : Salah satu tipe skizofrenia yang mempunyai ciri-ciri ;
1. Inkoherensi yang jelas dan bentuk pikiran yang kacau (disorganized).
2. Tidak terdapat waham yang sistemik
3. Efek yang datar dan tak serasi / ketolol – tololan.

2. Gejala Klinik
Gambaran utama skizofrenia tipe hebefrenik berupa :
a. Inkoherensi yang jelas
b. Afek datar tak serasi atau ketolol – tololan.
c. Sering disertai tertawa kecil (gigling) atau senyum tak wajar.
d. Waham / halusinasi yang terpecah – pecah isi temanya tidak terorganisasi
sebagai suatu kesadaran, tidak ada waham sistemik yang jelas gambaran
penyerta yang sering di jumpai.
e. Menyertai pelangaran (mennerism) berkelakar.
f. Kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrem dari hubungan sosial.
g. Berbagai perilaku tanpa tujuan.
Gambaran klinik ini di mulai dalam usia muda (15-25 th) berlangsung pelan –
pelan menahan tanpa remisi yang berarti peterroasi kepribadian dan sosial terjadi
paling hebat di banding tipe yang lain.

15
BAB 3
TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian Keperawatan Jiwa


Ruang rawat : RUANG MAHONI RSUD DADI MAKASSAR
Tanggal MRS : 7 mei 2012

I. IDENTITAS KLIEN
Initial : Tn .J
Umur : 20 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Pendidikan : d3 keperawatan
Pekerjaan : Mahasiswa
Status pernikahan : Belum Menikah
Tanggal pengkajian : 8 mei 2012
RM no. : 025031
Alamat : jl. G.bulusaraung no 10.b

II. ALASAN MASUK


- Sejak beberapa bulan sebelum masuk rumah sakit, klien sering bicara
ngelantur, mondar-mandir, sukar tidur, dan sering marah-marah.
- Keluhan utama : Pasien sulit memulai interaksi dengan orang lain.
- Saat pengkajian : pasien sering mengatakan dirinya malu misalnya disuruh
cerita pasien malu-malu tetapi mau menjawab dengan singkat dan sambil
malu-malu.

16
III. FAKTOR PREDISPOSISI
1. Pernah megalami gangguan jiwa dimasa lalu?
Ya Tidak

2. Pengobatan sebelumnya : Berhasil


Kurang Berhasil

Tidak Berhasil

3.
Pelaku/usia Korban/Usia Saksi/Usia
Aniaya fisik 37 24

Aniaya Seksual

Penolakan 18

Kekerasan dalam
Keluarga
Tindakan criminal

Jelaskan No. 1,2,3 :


- Kakak Px mengatakan px pernah mengalami gangguan jiwa
sebelumnya, pertama kali px dirawat tahun 1998 (SMP kelas 3)
dirawat diruang jiwa RS. Pelamonia Makassar dan kemudian dirawat
di RSUD DADI. tahun 2009 dan sampai sekarang rajin kontrol ke
Poli RSUD DADI.
- Px dan kakak Px mengatakan tahun 2009 px pernah marah-marah,
membanting-banting barang, dan memukuli satpam RSUD.DADI ,
kakak Px mengaku dahulu sering memukuli Px, sehingga Px sering
mengalami kekerasan fisik dan mental. Px sering dipukuli oleh kakak
Px dengan menggunakan sepatu karena hal yang sepele.
- Menurut kakak ipar Px mengatakan tahun 1998 (SMA kelas 3) Px
pernah berpacaran dengan seumurannya, namun tanpa sebab yang
jelas tiba-tiba Px putus dengan pacarnya, mulai hari itu Px tidak
pernah punya pacar.
Masalah Keperawatan : Resiko Perilaku Kekerasan

17
4. Adakah anggota keluarga yang mengalami
gangguan jiwa: Ya

Tidak

Hubungan Keluarga Gejala Riwayat


pengobatan/perawatan
………….................. ………………….. ……………………………

Jelaskan :
Px dan kakak Px mengatakan bahwa tidak ada anggota keluarga yang
mengalami gangguan jiwa.
Masalah Keperawatan : Tidak ditemukan masalah

5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan:


- Menurut kakak ipar Px mengatakan bahwa Px pernah berpacaran
dengan seorang wanita yang seumuran , namun tanpa sebab yang jelas
tiba-tiba Px putus dengan pacarnya, mulai hari itu Px tidak pernah
punya pacar dan pasien merasa malu karena sampai sekarang belum
dapat pacar yang sama seperti yang sebelumnya.
- Px pernah mengalami kekerasan oleh kakak Px sering dipukuli dengan
menggunakan sepatu dan pasien merasa bahwa dirinya tidak berguna
karena sering dimarahi oleh kakaknya dan masih belum bekerja
.
Masalah Keperawatan : Harga Diri Rendah
Respon pasca trauma

IV. PEMERIKSAAN FISIK


Tanda vital : TD : 120/80 mmHg N: 84x/menit S: 364oC RR: 18x/menit
Ukur : TB : 158 cm BB: 45 kg
Keluhan fisik : Ya Tidak

Jelaskan :
Px tidak pernah mengeluh dan selalu mengatakan baik-baik saja
Masalah Keperawatan : Tidak ditemukan masalah

18
V. PSIKOSOSIAL
1. Genogram :
Px mengatakan anak ke-3 dari 3 bersaudara dan px adalah anak laki-laki
satu-satunya. Px tinggal bersama ayah, ibu, kakak. Px mengatakan
ayahnya sudah meninggal dan Px mengatakan belum menikah. Interaksi/
komunikasi klien dengan keluarga tidak adekuat. Penentu kebijakan dalam
keluarga px saat ini adalah kakak klien.

(Menurut pasien)

GENOGRAM 3 GENERASI

G1

4 4 3 3 5 5
5 7
G2
5 5
0

3 2 2 G3
0 8

19
Keterangan :

: Laki-laki hidup
: Perempuan hidup
: Laki-laki meninggal
: Perempuan meninggal
: Hubungan keluarga
: Tinggal serumah
: Hubungan terdekat
: Pasien
2 : Umur
0

Masalah Keperawatan : Tidak ditemukan masalah

2. Konsep diri
a. Gambaran diri : Px mengatakan menyukai seluruh bagian
tubuhnya karena merupakan pemberian dari
Tuhan dan semuanya anggota tubuhnya
lengkap.
b. Identitas : Px mengatakan dirinya seorang laki laki berusia
20 tahun
c. Peran : Px mengatakan dirinya adalah seorang laki laki
dan belum berkeluarga serta dalam keluarga dia
sebagai seorang anak yang hanya menyusahkan
orang tua karena belum bekerja.
d. Ideal diri : Px mengatakan ingin punya pacar seperti wanita
yang dulu pernah menjadi pacarnya
e. Harga diri : Px mengatakan malu sama saudara-saudaranya
karena hanya dia yang tidak sukses sedangkan

20
semua saudaranya sukses, sudah bekerja dan
berkeluarga.
Masalah Keperawatan : Gangguan Konsep diri : Harga diri rendah

3. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti :
Px mengatakan orang yang berarti adalah ibunya karena hanya ibunya
yang mampu mengerti dirinya.
b. Peran serta dalam kegiatan
kelompok/masyarakat :
Kakak Px mengatakan bahwa Px sering mengikuti kegiatan pengajian
dimesjid namun beberapa bulan terakhir Px tidak lagi mengikuti
kegiatan tersebut dan Px lebih suka menyendiri karena malu sama
tetangga sebab sampai sekarang belum nikah, namun selama dirawat
Px selalu mengikuti kegiatan di RSUD DADI. walaupun harus
dibujuk terlebih dahulu.

c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang


lain :
Px mengatakan lebih suka berdiam diri karena malu memulai interaksi
dengan teman-temannya sebab sampai sekarang Px belum menikah
dan belum bekerja, namun Px mau berkumpul dan berinteraksi dengan
pasien lain jika diajak.
Masalah Keperawatan : Resiko Kerusakan interaksi sosial : menarik
diri

4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan :
Px mengatakan hanya Tuhan yang tahu agamanya.
b. Kegiatan ibadah :
Menurut kakak Px sebelum sakit Px selalu rajin beribadah dan tidak
pernah telat waktu, namun selama Px sakit di RSUD . DADI Px selalu
sholat semaunya, kalau ingin sholat ya sholat. Px juga mengatakan
bahwa Tuhan tidak adil pada setiap umatnya. Klien merasa tidak ada
masalah meskipun tidak beribadah.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah.

21
VI. STATUS MENTAL
1. Penampilan
Tidak rapi Penggunaan pakaian Cara berpakaian
Tidak sesuai tidak sesuai
Jelaskan :
Px mengenakan pakaian bersih tapi tidak rapi dan rambut Px tidak disisir,
dengan rapi serta kuku Px panjang, namun Px menggunakan pakaian
sesuai dengan fungsinya, Px juga mengenakan alas kaki dan mandi 2 kali
sehari.
Masalah keperawatan : Defisit perawatan diri

2. Pembicaraan
Cepat Keras Gagap Inkoheren

Apatis Lambat Membisu Tidak mampu


Memulai
pembicaraan
Jelaskan :
Px bicaranya lambat dan pelan dan saat ditanya pertanyaan terbuka klien
menjawab pertanyaan dengan singkat.
Masalah keperawatan : Harga Diri Rendah

3. Aktifitas motorik
Lesu Tegang Gelisah Agitasi
Tik Grimasing Tremor Kompulsif

Jelaskan :
Px selalu tampak tidak bersemangat dalam menjalankan semua aktivitas
namun Px masih mau mengikuti kegiatan jika disuruh.
Masalah keperawatan : Penurunan aktivitas motorik

4. Alam perasaan
Sedih Ketakutan Putus asa Khawatir
Gembira berlebihan

Jelaskan :
Px mengatakan sedih karena merasa dirinya tidak berguna, belum menikah dan
tidak memiliki pekerjaan sampai sekarang.
Masalah keperawatan : Harga Diri Rendah

22
5. Afek
Datar Tumpul Labil Tidak sesuai
Jelaskan :
Afek Px sesuai dengan cerita yang dibicarakan, saat bercerita hal yang
sedih Px ikut merasa sedih dan saat bercerita sesuatu yang menyenangkan
Px tertawa.
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah

6. Interaksi selama wawancara


Bermusuhan Tidak kooperatif mudah tersingging

Kontak mata Defensif Curiga


Kurang

Jelaskan :
Saat diajak bicara Px sesekali memalingkan wajah dan menunduk
Masalah keperawatan : Resiko kerusakan interaksi sosial : menarik diri
Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah

7. Persepsi
Halusinasi

Pendengaran Penglihatan Perabaan


Pengecapan

Jelaskan :
- Saat pengkajian Px mengatakan tidak mendengar ataupun melihat
sesuatu saat sendirian dikamar.
- Menurut kakak Px : Px dirumah tidak pernah berbicara sendiri hanya
kalau diajak bicara sering ngelantur, mondar-mandir, dan sukar tidur
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah

8. Proses pikir
Sirkumtansial Tangensial Kehilangan asosiasi
Flight of ideas Blocking Pengulangan pembicaraan
/ perseverasi
Jelaskan:
Saat ditanya tentang perasaan dan keluarga Px menjawab dengan singkat
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah

9. Isi pikir

23
Obsesi Fobia Hipokondria
Depersonalisasi ide yang terkait Pikiran magis
Waham
Agama Somatik Kebesaran
Curiga Nihilistik Sisip pikir
Siar pikir Kontrol pikir
Jelaskan:
Pada saat wawancara Px mampu menjawab pertanyaan walaupun
jawabannya singkat namun sesuai dengan yang dialami
Masalah Keperawatan : Tidak ditemukan masalah

10. Tingkat kesadaran


Obsesi Fobia Hipokondria

Disorientasi
Waktu Tempat Orang

Jelaskan:
Pada saat pengkajian Px mampu menyebutkan nama, tempat, dan orang
secara tepat dan benar.
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah

11. Memori
Gangguan daya Gangguan daya ingat
ingat jangka panjang jangka pendek

Gangguan daya ingat Konfabulasi

Jelaskan :
Saat pengakajian Px mampu mengingat dan menceritakan semua kejadian
dimasa lalu klien juga bisa menjawab kapan masuk ke rumah sakit yaitu
tanggal 10 mei 2012. Px juga mampu menerangkan semua kegiatannya
dirumah sakit.
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah

12. Tingkat konsentrasi dan berhitung


Mudah beralih Tidak mampu tidak mampu
berkonsentrasi berhitung sederhana
Jelaskan :
Ketika berbicara dengan perawat kemudian ada suara pesawat pasien
langsung melihat pesawat keluar dan ketika ada temannya berbicara keras

24
maka pasien langsung melihat dan mengalihkan perhatiannya ke temannya
yang teriak itu.
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah

13. Kemampuan penilaian


Gangguan ringan Gangguan bermakna

Jelaskan :
Px saat ditanya mau makan atau mandi, Px menjawab mau mandi dahulu
karena tidak enak mulutnya bau.
Masalah Keperawatan : Tidak ditemukan masalah

25
14. Daya tilik diri
Mengingkari penyakit Menyalahkan hal-hal diluar dirinya
yang diderita
Jelaskan :
Px selalu mengatakan bahwa dia tidak sakit, yang sakit adalah teman-
temannya yang lain.
Masalah Keperawatan : Mekanisme Koping individu inefektif

VII. KEBUTUHAN PULANG


1. Kemampuan klien memenuhi/menyediakan kebutuhan:
Ya Tida Ya Tida Ya Tidak
k k
Makanan pakaian Uang

Keamanan transportasi

Perawatan Tempat
kesehatan tinggal

Jelaskan:
Px mampu memenuhi atau menyediakan kebutuhannya sendiri, seperti
kebutuhan makan, keamanan, perawatan kesehatan, dan pakaian.
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah

2. Kegiatan hidup sehari-hari:


a. Perawatan diri :

Bantuan Bantua Bantuan Bantua


minimal minimal
n n
Total Total
Mandi BAK/BAB

Kebersihan Ganti
pakaian

Makan

Jelaskan:
Px mampu melakukan semua kegiatan personal higiens secara mandiri
walaupun harus disuruh dan dibujuk terlebih dahulu
Masalah keperawatan: Defisit perawatan diri

26
b. Nutrisi
Ya Tidak
- Apakah anda puas dengan pola makan anda?
- Apakah anda makan memisahkan diri?

Jika Ya, Jelaskan alasannya?


- Frekuensi makan sehari 3 kali
- Frekuensi kudapan sehari 1 kali

meningkat menurun berlebi Sedikit sedikit


h
Nafsu makan

meningkat Menurun BB tertinggi BB terendah


Berat badan 45 kg 42 kg

- Diet khusus : tidak ada


- IMT : 18,02% (normal)

Jelaskan:
Nafsu makan klien baik, Px mengatakan suka dengan makanan yang
disediakan oleh rumah sakit, Px tidak memisahkan diri saat makan,
hanya saja Px tidak berinteraksi dengan teman disebelahnya. Klien
makan dengan frekuensi 3x sehari, kudapan 1 kali sehari, porsi
makan habis, BB 45 kg, TB 167cm, IMT 18,02%.
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah.

c. Tidur
Ya Tidak
- Apakah Px ada masalah tidur?
- Apakah Px merasa segar setelah bangun
tidur?
- Apakah Px punya kebiasaan tidur siang?
- Lamanya : 8 jam
- Apa yang menolong Px untuk tidur? Tidak ada
- Waktu tidur malam : jam 19.00 wib waktu bangun jam 05.00 wib
(beri tanda √ sesuai dengan keadaan klien)

27
Sulit untuk tidur Terbangun saat tidur
Bangun terlalu pagi Gelisah saat tidur
Semnabolisme Berbicara dalam tidur

Jelaskan:
Px tidak memiliki gangguan tidur, merasa segar setelah bangun tidur,
Px memiliki kebiasaan tidur siang (+ 2jam). Px lebih senang tidur
ditempat tidurnya, Px tampak tidur pulas, setiap kegiatan Px lebih
banyak digunakan untuk tidur, Px malas dan malu bersosialisasi
dengan Px lain. Waktu tidur malan pukul 19.00 WIB-05.00 WIB.
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah

3. Kemampuan klien dalam


Ya Tidak
Mengantisipasi kebutuhan sendiri
Membuat keputusan berdasarkan keinginan sendiri
Mengatur penggunaan obat
Melakukan pemeriksaan kesehatan

Jelaskan :
Px mampu mengatasi/mengantisipasi kebutuhan sendiri, membuat
keputusan berdasarkan keinginan sendiri.
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah

4. Klien memiliki system pendukung


Ya Tidak Ya Tidak
Keluarga Teman sejawat
Profesional/terapis Kelompok sosial

Jelaskan:
Px mengatakan selalu didukung oleh keluarganya (kakak dan ibunya)
dalam melakukan pengobatan di RSUD DADI, keluarga sering menjenguk
setiap seminggu sekali dihari minggu. Namun Px sulit untuk memulai
interaksi dengan orang lain karena malu.
Masalah keperawatan : Resiko kerusakan interaksi sosial : Menarik diri

28
5. apakah klien menikmati saat bekerja Ya Tidak
kegiatan yang menghasilkan atau hobi?

Jelaskan :
Px selalu mengatakan biasa-biasa saja
Masalah keperawatan : Tidak ditemukan masalah

VIII. MEKANISME KOPING


Adaptif Maladaptif
Bicara dengan orang lain Minum alkohol
Mampu menyelesaikan masalah Reaksi lambat/berlebih
Teknik reloksasi Bekerja berlebihan
Aktifitas konstruktif Menghindar
Olahraga Mencederai diri
Lainnya Sering menyendiri
Masalah keperawatan : Koping individu inefektif

IX. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


- Masalah dengan dukungan kelompok, spesifik :
Px selalu tampak diam, pasif dan menyendiri jika tidak ada yang mengajak
bicara
- Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifik :
Px mengatakan lebih suka berdiam diri dan malu untuk memulai interaksi
dengan teman-temannya karena malu sampai sekarang Px belum menikah
dan belum bekerja, namun jika diajak untuk berkomunikasi oleh pasien
lain Px mau menjawab.
- Masalah dengan pendidikan, spesifik :
Menurut Px, Px lulusan SMA namun sampai sekarang Px belum bekerja.
- Masalah dengan pekerjaan, spesifik :

29
Px mengatakan sampai sekarang Px belum bekerja dan Px sering
mengeluh bahwa mencari kerja itu susah. Px ingin sekali bekerja karena
dengan begitu Px merasa berguna bagi ibunya.
- Masalah dengan perumahan, spesifik :
klien mengatakan tinggal dirumahnya dengan Ibu, dan Kakak kandung.
- Masalah ekonomi, spesifik :
Px tidak bekerja jadi segala kebutuhan Px ditanggung oleh kakak Px. Px
merasa sebagai beban keluarga.
- Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifik :
Px sering keluar masuk dadi karena malas kontrol ke dadi sebab Px merasa
dirinya tidak sakit dan saat ini pasien kambuh dan dirawat lagi di dadi.
Waktu kunjungan rumah ditemukan obat pasien yang tidak diminum dan
sudah kadaluarsa karena kurangnya pengawasan dari keluarga
- Masalah lainnya, spesifik :
Px mengatakan malu belum menikah dan bekerja, Px ingin segera pulang
ke rumah karena merasa tidak sakit dan ingin segera bekerja.

Masalah keperawatan : Mekanisme Koping individu inefektif


Resiko Kerusakan interaksi sosial: menarik diri
Harga diri rendah
Ketidak efektifan pelaksanaan regimen
terapeutik Kurang pengetahuan Keluarga

X. PENGETAHUAN KURANG TENTANG


Penyakit jiwa System pendukung
Faktor presipitasi Penyakit fisik
Koping Obat-obatan
Masalah keperawatan : Kurang pengetahuan keluarga
Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif

XI. DATA LAIN-LAIN


Lab : Tanggal 15 Desember 2010
Nama Nilai Nilai normal
WBC 7,4. 103 /Ul 4,6-10,2. 103 /uL
HCT 41,3 % 37-54,0 %
HGB 13,49 11,5-18,0 g/dl
PLT 187. 103 /uL 150-400. 103 /uL

XII. ASPEK MEDIK

30
Diangnosa medik : F. 20. 1 (Skizofrenia Hebefrenik)
Terapi medik : TFP 3x5 mg
Clozapin 2x50 mg

XIII. ANALISA DATA


No Data – data Masalah Keperawatan
1. DS : Gangguan Konsep diri: Harga
- Px mengatakan malu sama saudara- diri rendah
saudaranya karena hanya dia yang tidak
sukses sedangkan semua saudaranya sukses,
sudah bekerja dan berkeluarga.
- Kakak ipar Px mengatakan bahwa Px pernah
berpacaran dengan seorang wanita yang
seumuran , namun tanpa sebab yang jelas tiba-
tiba Px putus dengan pacarnya, mulai hari itu
Px tidak pernah punya pacar dan pasien merasa
malu karena sampai sekarang karena belum
dapat pacar yang sama seperti yang
sebelumnya

DO:
- Kontak mata kurang
- Pasien mau mengikuti kegiatan
- Pasien mau berkomunikasi dengan teman dan
orang lain jika diajak komunikasi terlebih
dahulu
2. DS Resiko kerusakan interaksi
Px mengatakan lebih suka berdiam diri karena
sosial: Menarik diri
sulit/malu memulai interaksi dengan teman-
temannya, namun Px mau berkumpul dan
berinteraksi dengan pasien lain jika diajak.
DO
- Px selalu tampak diam, pasif dan menyendiri
jika tidak ada yang mengajak bicara
- Saat diajak bicara Px sesekali memalingkan
wajah dan menunduk.
3. DS Resiko Perilaku kekerasan

31
Px mengatakan tahun 2009 px pernah marah-
marah, membanting-banting barang, dan memukuli
satpam RSUD DADI
Px mengaku dahulu sering dipukuli kakaknya,
sehingga Px sering mengalami kekerasan fisik dan
mental. Px sering dipukuli oleh kakak Px dengan
menggunakan sepatu karena hal yang sepele.
DO
Kadang pasien terlihat agresif ketika menjadi
instruktur olahraga di ruangan
4. DS Defisit perawatan diri
-
DO
Waktu pengkajian Px mengenakan pakaian bersih
tapi tidak rapi dan rambut Px tidak disisir, dengan
rapi serta kuku Px panjang, namun Px
menggunakan pakaian sesuai dengan fungsinya,
Px juga mengenakan alas kaki dan mandi 2 kali
sehari

5. DS Mekanisme koping individu


Px mengatakan jarang menceritakan masalahnya
tak efektif
sama orang lain ataupun keluarganya dan lebih
senang menyendiri kalau tidak ada yang mengajak
berkomunikasi di rumah.
Pasien mengatakan dirinya adalah seorang yang
pendiam.
DO
Klien jarang bicara dengan orang lain jika tidak
dipaksa bercerita
Klien sering diam saja

6. DS Distress spiritual
Pasien mengatakan pasien sholat di rumah sakit
jika pasien mau saja, kalau mau sholat langsung
sholat tapi kalau malas tidak sholat (semau pasien)
Kakak Px mengatakan sebelum sakit Px selalu
rajin beribadah dan tidak pernah telat waktu,

32
namun selama Px sakit di RSUD. DADI Px selalu
sholat semaunya, kalau ingin sholat ya sholat.
DO
Pasien di RS sholat semaunya sendiri tidak rutin

7. DS Penurunan aktivitas motorik


-
DO
Px selalu tampak tidak bersemangat dalam
menjalankan semua aktivitas namun Px masih mau
mengikuti kegiatan jika disuruh

8. DS Respon pasca trauma


Menurut kakak ipar Px mengatakan bahwa Px
pernah berpacaran dengan seorang wanita yang
seumuran, namun tanpa sebab yang jelas tiba-tiba
Px putus dengan pacarnya, mulai hari itu Px tidak
pernah punya pacar dan pasien merasa malu
karena sampai sekarang belum dapat pacar yang
sama seperti yang sebelumnya
Px pernah mengalami kekerasan oleh kakak Px
sering dipukuli dengan menggunakan sepatu dan
pasien merasa bahwa dirinya tidak berguna karena
sering dimarahi oleh kakaknya dan masih belum
bekerja
DO
Pasien sering diam dan mengalami harga diri
rendah

9. DS Kurang pengetahuan keluarga


Keluarga mengatakan bahwa keluarga tidak
mengetahui bahwa obat belum tidak teratur
diminum pasien, dan keluarga mengatakan keluarga
tidak tahu bagaimana cara merawat pasien supaya
sembuh
DO
Waktu kunjungan rumah ditemukan obat pasien

33
yang tidak diminum dan sudah kadaluarsa karena
kurangnya pengawasan dari keluarga

10. DS Penatalaksanaan Regimen


Keluarga mengatakan pasien kadang malas kontrol
terapeutik takefektif
dan kadang masih dipaksa untuk minum obat
DO
Px sering keluar masuk RSUD karena malas
kontrol ke dadi sebab Px merasa dirinya tidak sakit
dan saat ini pasien kambuh dan dirawat lagi di dadi.

Pohon Masalah

Resiko Kerusakan interaksi sosial ( Efek )

Harga Diri Rendah ( Core Problem )

Mekanisme Koping Indifidu inefektif ( Causa )

XIV. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Resiko Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan harga diri rendah
2. Harga Diri Rendah berhubungan dengan mekanisme koping indifidu inefektif

34
3.3 STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

Nama Klien: An. J Dx. Medis : Skizofrenia Hebefrenik

NO DIAGOSA PERENCANAAN
DX KEPERAWATAN TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL
1 Isolasi social : TUM :
menarik diri
Klien dapat berinteraksi dengan
b/d gangguan
konsep diri : orang lain
harga diri
rendah

TUK :
1. Klien menunjukkan ekspresi 1.1. Bina hubugan salin 1.1. Hubungan saling percaya
1. Klien dapat membina
wajah bersahabat, percaya dengan merupakan dasar untuk
hubungan saling percaya
menunjukkan rasa senang, ada menggunakan prinsip hubungan interaksi
dengan perawat
kontak mata, mau berjabat komunikasi terapeutik: selanjutnya.
1.1.1. Sapa klien
tangan, mau menyebutkan
dengan ramah
nama, maumenjawab salam,
baik verbal
klien mau duduk
maupun non
berdampingan dengan
verbal
pearwat, mau mengutarakan
1.1.2. Perkenalkan diri
36

masalah yang dihadapi dengan sopan


1.1.3. Tanyakan nama
lengkap dan
nama panggilan
yang disukai
klien
1.1.4. Jelaskan tujuan
pertemuan
1.1.5. Jujur dan
menepati janji
1.1.6. Tunjukkan sikap
empati dan
menerima klien
apa adanya
1.1.7. Beri perhatian
dan perhatikan
kebutuhan dasar
klien

2. klien dapat mengidentifikasi


2.1. Diskusikan dengan klien
aspek positif dan kemampuan yang
tentang:
dimilki
37

2. Klien menyebutkan : 2.1.1. Aspek positif 2.1. Diskusikan tingkat


2.1. Aspek positif dan
yang dimiliki kemampuan klien seperti menilai
kemampuan yang dimilki
klien, keluarga,
klien
lingkungan realitas, kontrol diri atau
2.2. Aspek positif keluarga
2.1.2. Kemampuan
2.3. Aspek positif lingkungan integritas ego diperlukan sebagai
yang dimiliki
klien
klien
dasar asuhan keperawatannya.

2.2. Bersama klien buat


daftar tentang
2.2.1. Aspek positif
klien, keluarga,
lingkungan 2.2. mempermudah menyeleksi
2.2.2. Kemampuan kegiatan yang mudah untuk
yang dimilki klien dilakukan

2.3. Beri pujian yang


realitas, hindarkan
memberi penilaian
negatif
38

3. klien dapat menilai kemampuan 3. Klien mampu menyebutkan


yang dimilki untuk dilaksanakan kemampuan yang dapat 2.3. Pujian yang realistik tidak

dilaksankan 3.1. Diskusikan dengan klien menyebabkan klien melakukan


kemampuan yang dapat kegiatan hanya karena ingin
dilaksanakan mendapatkan pujian.

3.2. Diskusikan
kemampuan 3.1. Diskusikan pada klien
yang dapat dilanjutkan tentang kemampuan yang
pelaksanaannya dimiliki adalah prasyarat untuk
berubah

3.2. Pengertian tentang


4. klien dapat merencanakan kemampuan yang dimiliki diri
kegiatan sesuai dengan 4.1. Rencanakan bersama memotivasi untuk tetap
4. Klien mampu membuat
kemampuan yang dimilki klien aktivitas yang dapat mempertahankan
rencana kegiatan harian
dilakukan setiap
hari kemampuannya.
sesuai kemampuan klien :
4.1.1. Kegiatan mandiri
4.1.2. Kegiatan dengan
39

bantuan
4.1. Klien perlu bertindak secara
realistis dalam kehidupannya.
4.2. Tingkatkan kegiatan
sesuai kondisi klien

4.3. Beri contoh cara


pelaksanaankegiatan
yang dapat klien lakukan
5. klien dapat melakukan 5. Klien dapat melakukan 4.2. Sebagai motivasi tindakan
kegiatan sesuai rencana yang kegiatan sesuai jadwal yang 5.1. Anjurkan klien untuk yang akan dilakukan oleh klien
dibuat dibuat melaksanakan kegiatan selanjutnya
yang telah direncanakan

4.3. Contoh peran yang dilihat

5.2. Pantau kegiatan yang klien akan memotovasi klien


dilaksanakan klien untuk melaksanakan kegiatan.

5.3. Beri pujian atas usaha


5.1. Memberikan kesempatan
yang dilakukan klien
kepada klien untuk tetap
melakukan kegiatan yang biasa
5.4. Diskusikan kemungkinan
dilakukan
40

pelaksanaan kegiatan
5.2. menegtahui sejauh mana
setelah pulang
kemampuan klien
6. Klien mampu
memanfaatkan sistem
5.3. Reinforcement positif dapat
pendukung yang ada di
meningkatkan harga diri klien
keluarga 6.1. Beri pendidikan
6. Klien dapat memanfaatkan kesehatan pada keluarga
sistem pendukung yang ada tentang cara merawat 5.4. Dapat mengetahui
klien dengan harga diri perkembangan dan keaktifan
rendah klien dengan keluarga

6.1. Mendorong keluarga


6.2. Bantu keluarga
akan sangat berpengaruh
memberikan dukungan
dalam mempercepat proses
selama klien di rawat
penyembuhan klien

6.3. Bantu keluarga


1. Klien mampu memventilasi menyiapkan lingkungan
perasaannya secara bebas rumah
6.2. Mempercepat proses
41

penyembuhan

6.3. Membantu klien lebih cepat


pulih
TUM :
Klien memilki konsep diri yang
positif

TUK: 1.1. Ijinkan klien untuk


1. Klien dapat memventilasi menangis
perasaannya secara bebas

1.2. Sediakan kertas dan alat 1.1. Membantu melepaskan


2. Klien dapat mengidentifikasi
tulis jika klien belum beban yang dirasakan klien
koping dan perilaku yang
2. Harga diri mau bicara melalui menangis
rendah berkaitan dengan kejadian yang
situasional b.d dicapai 1.3. Nyatakan kepada klien
mekanisme 1.2. Membantu klien
koping tidak bahwa perawat dapat
mengutarakan
efektif mengerti apabila klien
perasaannya
belum siap
1.3. Membina hubungan saling
membicarakan
percaya
masalahnya

2.1. Tanyakan kepada klien


42

apakah mengalami hal


yang sama 2.1. Membantu mengutrakan
2.2. Tanyakan cara-cara yang
perasaan
dapat dilakukan dalam
3. Klien memodifikasi pola kognitif
mengatasi perasaan dan 2.2. Membantu menentukan
yang negative
2.Klien dapat mengidentifikasi masalah jalan keluar dari masalah
koping dan perilaku yang
berkaitan dengan kejadian yang yang dihadapi
2.3. Identifikasi koping yang
dihadapi
pernah dipakai
2.4. Diskusikan dengan klien
2.3. Mengidentifikasi jenis
alternative koping yang
koping yang digunakan
tepat bagi klien

1.1. Menentukan jenis

diskusikan tenang masalah pertahanan diri yang baik


yang dihadapi klien. bagi klien

3.1. membantu memecahkan


masalah yang dihadapi
3.2. identifikasi pemikiran
negative dan bantu untuk 3.2. Membantu klien
menurunkan melalui mengutarakan
interupsi/subtitusi pendapatnya
3. Klien dapat memodifikasi pola
43

kognitif yang negative


3.3. Membentuk fikiran positif

3.3 Bantu klien untuk klien.

meningkatkan pemikiran yang


positif 3.4. Membantu klien agar
berfikir rasional

4. Klien berpartisipasi dalam 3.4 Identifikasi ketetapan


3.5. Membentuk fikiran positif
pengambilan keputusan yang presepsi klien yang tepat,
klien mengenai dirinya
berkenaan dengan perawatan penyimpangan dan pendapat
dirinya yang tidak rasional.
3.6. Memberi klien
3.5 kurangi penilaian yang kesempatan untuk
negative terhadapdirinya. mengeluarkan
pendapatnya

3.6 evaluasi ketetapan


3.7. Membantu klien
persepsi, logika dan
menyadari kondisi dirinya
kesimpulan yang dibuat klien
saat ini.

3.7 bantu klien untuk 4.1. Melibatkan klien dalam


44

5. Klien termotifasi untuk aktif menyadari nilai yang proses penyembuhan dirinya
mencapai tujuan yang realistik dimilikinya\perilakunya dan 4.2. Memberi semangat untuk
perubahan yang terjadi pulih

4.3. Memberi privasi sesuai


dengan kebutuhan klien

4.4. Mengapresiasikan setiap


4.1 libatkan klien dalam
hal yang dilakukan secara
menetapkan tujuan
perawatannya yang ingin positif
dicapai.
4.5. Memberi semangat atas
4.2 motivasi klien untuk
kegiatan yang berhasil
membwad jadwal aktivitas
perawatan diri. dilakukan

4.3 beri klien privasi sesuai 4.6. Membantu klien agar tetap
4. Klien dapat berpartisipasi kebutuhan yang ditentukan
mampu beraktifitas
dalam pengambilan keputusan
yang berkenaan dengan
perawatan dirinya 4.4 beri renforcement positif
untuk keputusan yang dibuat

5.1. memfokuskan klien pada


kegiatannya saat ini dan yang
4.5 beri pujian jika klien
akan dating
berhasil melakukan
45

kegiatan/penampilan yang 5.2. membantu klien


bagus.
mengarahkan pada situasi yang
4.6 motivasi klien untuk cocok untuknya
mempertahankan kegiatan
tersebut 5.3. membantu klien mencapai
hal yang diinginkan

5.4.memberi support dan

5.1 bantu klien untuk kesempatan klien dalam


menetapkan tujuan yang berkomunikasi dengan orang lain
realistic. Fokuskan kegiatan
pada saat ini, bukan kegiatan
masa lalu 5.5. Mengikut sertakan keluarga

5.2 bantu klien dalam proses penymbuhan


mengidentifikasi area situasi klien
kehidupan yang dapat
dikontrolnya.
5. Klien dapat memotivasi untuk
aktif mencapai tujuan yang
realistik 5.3 identifikasi cita-cita yang
ingin dicapai oleh klien

5.4 dorong untuk


berpartisipasi dalam aktivitas
tersebut dan berikan
penguatan positif untuk
berpartisipasi dan
46

pencapaiannya.

5.5 motivasi keluarga untuk


berperan aktif dalam
membantu klien menurunkan
perasaan bersalah.

Ruang : Mahoni No. RM : 025031

1.4 IMLEMENTASI DAN EVALUASI

Tanggal Dx keperawatan Implementasi Evaluasi Paraf

10 Des’10 Resiko kerusakan TUK 1:


interaksi sosial Klien dapat membina hubungan saling percaya
(menarik diri)
berhubungan - Selamat pagi ade…
Kenalkan nama saya adi, saya mahasiswa
dengan harga diri S: Selamat pagi…nama saya
Fakultas Keperawatan. Boleh saya tahu nama ade
rendah Tn. J
siapa?ade senang dipanggil apa?
O: Bicara pelan, setelah menjawab
- Tujuan saya kesini adalah untuk merawat ade J. klien menjawab
47

Apabila ada hal-hal yang ingin dibicarakan, ade


bisa bercerita dengan saya. Mungkin saya bisa S: Iya…
membantu mencari jalan keluarnya. Saya akan O: Px tersenyum, Ekspresi wajah
disini selama 12 hari mulai hari Senin- Jum’at bersahabat dan sesekali menatap
jam 07.00-16.00. Sekarang saya ingin ngobrol perawat.
dengan ade J, apa ade J mau sekarang?

- Apa ade J masih ingat kenapa dibawa kesini?

S: Iya…saya ingat mantri (klien


- Kenapa ade J kok waktu dirumah sering marah- menceritakan kejadiannya)
marah dan mondar-mandir ade J? O: Mengangguk

S: iya itu man saya marah (klien


menceritakan semua masalahnya)
O: Ekspresi wajah berubah sedih dan
sesekali menatap perawat.
A: Masalah teratasi sebagian (BHSP
berhasil)
P: Lanjutkan TUK 1 modifikasi TUK
2
13 Des ‘10 TUK 2
48

Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek


positif yang dimiliki

- Menurut ade J, kemampuan ade J yang S : saya nggak bisa apa-apa. Saya
bagaimana yang bisa membuat ade J bangga? Cuma , senang olahraga dan nonton.
O : menjawab dengan suara lirih dan
menunduk

S : saya Cuma bisa sedikit. Dulu saya


- Kemarin ade J kan bisa main catur, betul kan sering main bersama teman saya tapi
ade J? sekarang sudah tidak.
O : berbicara dengan kontak mata

S : saya senang olahraga saja,


- Selain itu kegiatan apa yang ade J sukai selama O: tetap mempertahankan kontak mata
di rumah sakit
S : iya….
- Tuh kan… ade J punya banyak kemampuan O : klien tersenyum dan mengangguk
yang dapat dibanggakan. Ibu bisa mein catur, A : masalah teratasi (TUK 2 berhasil)
49

pandai olahraga, dan juga suka nonton. ade J P : lanjutkan TUK 3


harus bangga ……karena tidak semua laki -laki
bisa seperti ade J .
14 Des 10 TUK 3
Klien dapat menilai kemampuannya yang diambil
- ade J kan punya kemampuan bermain catur, S : saya suka semuanya man…
pandai olahraga, dan juga suka nonton., lebih O : klien tersenyum
suka yang mana ade J?

- Kalau begitu ade J kan bisa menjalankan


S : iya sih…saya juga ingin seperti itu
semuanya. Di waktu luang ade J bisa bermain
O : klien menatap klien
catur, kalau hari minggu bisa mengajar senam
pagi dan sorenya ade J bisa menonton film
kesayangan ade J. Gimana menurut ade J?

- Iya…kan lumayan bisa nambah kegiatan ade J

- Nah… sekarang ade J sudah tahu kemampuan


S : iya…
ade J yang bermanfaat. Gimana perasaan ade J?
O : klien tersenyum

S: Senang ade J semoga bermanfaat


dan saya bisa punya pekerjaan
50

O : klien tersenyum
A : masalah teratasi (TUK 3 berhasil)
P : lanjutkan TUK 4
15 Des 10 TUK 4
Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki.
- ade J sekarang kita rencanakan kegiatan sesuai S : iya…saya setuju-setuju saja.
kemampuan ade J, setuju tidak…? O : klien tersenyum

- Yang ade J mau apa? Apakah hanya main catur, S : iya…itu saja, banyak-banyak
olahraga, dan menonton saja? malah tidak bisa dilakukan. Tapi
kayaknya main catur tidak man karena
saya tidak ahli.
O : klien tampak menjelaskan

- Baiklah…sekarang kita rencanakan S : mantri…sebentar ya…tiba-tiba


pelaksanaannya. kepala saya pusing.
- Ya sudah… ade J istirahat dulu saja
O : klien memegangi kepala dan klien
menuju kamar
A : masalah belum teratasi
P : lanjutkan TUK 4
51

16 Des 10 Melanjutkan TUK 4


- ade J kemarin kita kan sudah merencanakan
S : iya…saya mau menonton dan
kegiatan ade J …sekarang kita lanjutkan
mengajar olahraga saja
mengatur kegiatan ade J lagi… ade J mau
O : klien mengangguk
kegiatan apa?

- ade J maunya dilaksanakan kapan?


S : iya…saya maunya pas saya pulang
kerumah man….
O : klien tersenyum
- Kalau gitu saat waktu luang dirumah… ade J
bisa mengajar olahraga, dan menonton. Supaya
S : iya man Insya allah…biar saya
ade J nggak kepikiran sama masalah ade J terus-
nggak kepikiran masalah saya terus-
terusan.
terusan.
O : klien menjelaskan
A : masalah teratasi (TUK 4 berhasil)
P : lanjutkan TUK 5
17 Des 10 TUK 5
Klien dapat melakukan kegiatan disesuaikan
dengan kondisi dan kemampuan klien.
- ade J sebenarnya saya ingin supaya hari ini ade S : iya…saya sudah lama nggak
J mengajar olahraga. Tapi sayang kenapa kok olahraga jadi saya malu man
52

ade J nggak mau tadi? O : klien tampak kecewa

- Kenapa kok malu, padahal ade J kan dulu


S : diam
pernah ngajar olahraga dan ade J pintar olahraga
O : klien tersenyum dan memandang
khan?
perawat

- Ya sudah nggak apa-apa…tapi ade J harus tetap


S : iya man…terimakasih ya man…
semangat ya dan besok saya mau lihat ade J
O : klien tersenyum
yang mengajar olahraga bagaimana mau khan?
A : masalah belum teratasi (TUK 5
belum berhasil)
P : lanjutkan TUK 5
17 Des 10 Melanjutkan TUK 5
- Selamat pagi ade J
S: Pagi mbak
O: Klien tersenyum dan menatap
perawat
- Bagaimana ade J kabarnya hari ini? Tadi saya
lihat ade J sudah mau melatih olahraga wah
S: itu hanya senam SKJ tahun 2006
bagus sekali gerakan-gerakan yang ade J bikin.
kok man, gerakan biasa saja.
- Wah ade J hebat ya masih hapal gerakan senam
O: klien tersenyum dan menunduk
SKJ tahun 2006. Saya saja nggak hapal mbak,
bagaimana kalau besok ade J melatih olah raga
53

lagi mau kan ade J? S: -


O : klien mengangguk
A : masalah teratasi (TUK 5 berhasil)
P : lanjutkan TUK 6
20 Des 10 TUK 6
Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung
yang ada.
- Pagi ade J …bagaimana keadaan ade J hari ini? S : pagi mantri…saya ngerasa agak
lemas
O : klien menjelaskan dengan suara
- ade J harus makan yang banyak biar tenaga ade lirih
J ada… biar nggak lemas ade J
S : iya man….
- Kalau ingin keadaannya cepat pulih… ade J
O : klien menunduk
harus makan yang banyak Karena itu harus ada
semangat dari ade J sendiri tentunya.
S : iya man…
O : klien mengangguk
- Kalau ade J bosen sama makanan dari Rumah
sakit, nanti waktu keluarganya ade J menjenguk
lagi biar minta dibawakan makanan dari rumah,
biar ade J makannya enak, bagaimana ade J?
S : iya man…
54

- Ya sudah kalau begitu ade J istirahat dulu, O : klien menatap perawat


jangan lupa makannya nanti dihabiskan ya ade
J.

S : iya makasih man…


O : klien tersenyum
A : TUK 6 terlaksana
P : pertahankan TUK 6

21 Des 10 Melanjutkan TUK 6


- Selamat pagi ade J Bagaimana makannya? Apa S : pagi…sudah agak baik
ade J sudah bisa memotivasi diri sendiri? O : klien tersenyum

- Wah bagus…rupanya ade J sudah bisa


memotivasi diri sendiri ya… S : iya…makannya sudah habis mbak
O : klien menjelaskan
- Baiklah ade J …hari ini adalah hari terakhir kita
bertemu besok kita nggak bisa mengobrol- S : iya saya senang man…pak mantri
ngobrol lagi tapi insya allah saya akan sering- sudah banyak bantu saya. Sering-
sering main kesini lagi…bagaimana perasaan sering main kesini sama main
55

ade J setelah selama ini ngobrol dengan saya? kerumah saya ya pak mantri.
O : klien tersenyum
- Ngomong-ngomong masih ingat tidak minum
obatnya berapa kali?

S: iya ingat man, minumnya 3 kali


- Wah bagus ade J ,jangan malu-malu lagi ade J
sehari, warna abu-abu dan warna biru.
kan punya banyak kelebihan, terus kembangkan
O: klien menjelaskan.
diri ade J, jangan lupa mandi, sama tetep rajin
melatih olahraga disini ya ade J …
S: iya man…
- Nah kalau begitu kita akhiri pertemuan kita
O: Px tersenyum dan memandang
sampai disini, hati-hati disini ya ade J, maaf
perawat
kalau selama kita ngobrol-ngobrol saya punya
salah, jangan lupa kalau pulang harus rajin
kontrol dan tolong diingat pesan-pesan saya ya
S: iya man..
ade J …
O: Px tersenyum dan menjabat tangan
(Hasil Kunjungan Rumah) perawat
- Mengidentifikasi :
1. Kebiasaan klien selama dirumah
2. Kemampuan klien untuk bersosialisasi
dirumah.
3. Keteraturan minum obat.
4. Faktor pemicu kekambuhan klien.
56

5. Riwayat penyakit keluaraga dan pasien S: Keluarga mengatakan sudah


serta riwayat hidup penderita. mengerti tentang faktor pemicu
6. Faktor pendukung lingkungan
kekambuhan, stressor terjadinya
7. Hubungan internal keluarga dan pasien
8. Keadaan rumah dan lingkungan. gangguan jiwa, peran keluarga dalam
9. Sosial ekonomi.
pemenuhan support sistem,
10. Mengidentifikasi kesiapan keluarga
pengawasan minum obat dan cara
dalam menerima kembali pasien pulang
. penanggulangan dini pasien kambuh.
- Memberikan Health Edication tentang;
1. Faktor penyebab pemicu kekambuhan.
2. Stresor terjadinya gangguan jiwa. O:
3. Peran keluarga dalam pemenuhan
- Keluarga menerima perawat
support sistem, pengawasan minum
dengan baik.
obat, dan cara penanggulangan dini
- Keluarga mau dan mampu
pasien kambuh.
mencaritakan tentang semua yang
ditanyakan perawat.
(hasil Interview)
- Px kurang memiliki aktivitas
pengalih atau kesibukan selama
dirumah.
- Support sistem keluarga dan
lingkungan kurang.
57

- Keluarga kurang mengawasi


pasien dalam minum obat.
- Intensitas interaksi keluarga
dengan pasien kurang
- Kondisi ekonomi keluarga baik
(golongan berkecukupan)
- Indeks tekan ruang: 180

A : TUK 6 terlaksana
P : lanjutkan TUK selanjutnya
BAB 4
PEMBAHASAN

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini membahas tentang hasil pendokumentasian asuhan keperawatan jiwa yang
telah dilakukan selama satu hari pada Tn . J dengan masalah utama harga diri rendah di RSUD
DADI Makassar. Pembahasan ini mencakup seluruh proses asuhan keperawatan yang telah
dilaksanakan. Pengkajian diperoleh melalui wawancara dengan klien, laporan teman sejawat,
catatan keperawatan atau tenaga kesehatan lainnya dan melalui pengkajian fisik.Pembahasan
yang diuraikan dimulai dari tahap pengkajian sampai dengan evaluasi serta ditinjau dari teori
keperawatan jiwa. Kesenjangan antara teori dan kondisi nyata dilahan praktek diuraikan juga
pada bab ini.
A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 12 Maret 2012 pukul 08.30 WITA, di ruang
Mahoni RSUD DADI Makassar. Dari hasil pengkajian yang dilakukan, dengan cara
autoanamnesa maupun alloanamnesa. Autoanamnesa yaitu interaksi antara perawat-klien
secara langsung dimana interaksi tersebut merupakan suatu kegiatan untuk menjalin
hubungan komunikasi yang baik antara perawat-klien.Tujuannya adalah untuk memenuhi
kebutuhan klien, membantunya dalam pengalaman kehidupan sehari-hari agar dapat
melakukan kegiatan sebagaimana mestinya dan mencari tahu latar belakangnya dirawat
di rumah sakit jiwa. Pengkajian dengan cara alloanamnesa dengan melihat catatan medik
klien.
Menurut Nurjannah (2005) bahwa pengkajian merupakan tahap awal dan dasar
utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan
perumusan kebutuhan masalah klien.Data yang dikumpulkan meliputi data biologis,
psikologis, sosial, dan spiritual.Hal-hal yang perlu dikaji pada klien menarik diri adalah
biodata klien, alasan masuk, keluhan utama, faktor predisposisi, status mental, faktor-
faktor psikososial, kebutuhan persiapan pulang serta mekanisme koping yang sering
digunakan. Sedangkan menurut Stuart dan Sundeen (1998) pengkajian pada pasien
dengan gangguan harga diri rendah meliputi faktor predisposisi, faktor presipitasi,
perilaku, fisik, status emosi, intelektual, status sosial dan spiritual.
59

Berdasarkan data pengkajian pada Tn. J dan data dokumentasi keperawatan


yang ada didapatkan faktor predisposisi yang mendukung munculnya masalah pada
klien yaitu klien telah mengalami gangguan jiwa sejak duduk dibangku SMP, klien
diantar oleh keluarga tanggal 10 Mei 2012 ke RSUD DADI Makassar dengan alasan klien
sering mondar-mandir dan marah-marah tak jelas. Faktor presipitasinya klien sering
dipukul oleh kakaknya menggunakan rim. Klien dikucilkan hingga klien mulai
mengalami perubahan perilaku.
Dari hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan dari pengkajian pasien adalah tidak ada
kelainan pada pemeriksaan tanda-tanda vital.Dari hasil pemeriksan antropometri didapat
tinggi badan klien 167 cm dan berat badan klien 45 kg. Pada genogram dalam pengkajian
psikososial, didapatkan bahwa .Dalam keluarganya tidak ada yang menderita gangguan
jiwa.
Pengkajian konsep diri menurut Stuart dan Sundeen (1998:227), Dari hasil wawancara
dengan klien gambaran diri, identitas diri, peran diri dan ideal diri klien tidak terkaji
karena klien tidak kooperatif selama komunikasi.Klien mengalami autistik dan
mutisme.Sedangkan harga diri klien, Tn. J menganggukan kepala bahwa dirinya serba
tidak mampu, dan sering menyesali keadaan dirinya.
Menurut Sunaryo (2004 : 34) Harga diri rendah timbul jika individu merasakan
kehilangan kasih sayang, cinta kasih dan penghargaan dari orang lain dan tidak memiliki
kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan cita-cita ideal yang ada dalam dirinya,
sehingga individu akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dalam hubungan
interpersonalnya dengan orang lain di lingkungan sosial.
Pengkajian persepsi sensori klien bahwa dirinya tidak pernah mendengar suara-suara
apapun.Kebutuhan persiapan pulang klien masih membutuhkan sedikit bantuan perawat
dalam kegiatan harian di ruangan.
Pada mekanisme koping ditemukan bahwa mekanisme koping klien tidak efektif karena
klien lebih suka menyendiri, klien mengatakan jika ada masalah yang menimpanya, klien
lebih suka memendamnya sendiri, enggan bercerita, klien selalu menyalahkan dirinya
sendiri jika ada masalah yang menimpanya. Menurut Stuart and Sunden (1998: 230)
Mengkritik diri sendiri atau orang lain, gangguan dalam berhubungan, perasaan tidak
mampu, rasa bersalah, perasaan negatif tentang tubuhnya sendiri, ketegangan peran yang
dirasakan, pandangan hidup yang pesimis, menarik diri secara sosial, khawatir,
merupakan manifestasi dari harga diri rendah.
Pengkajian tanda dan gejala pada klien harga diri rendah adalah malas
berinteraksi, menganggap orang lain tidak mau menerima dirinya,curiga dengan orang
60

lain,mendengar suara-suara/melihat bayangan, merasa malu untuk berbicara dengan


orang lain, menyendiri dalam ruangan, tidak bias memulai pembicaraan, tidak mau
berkomunikasi dengan orang lain (autistik/mutisme), tidak melakukan kontak mata,
sikap mematung, mondar-mandir tanpa arah, tidak berinisiatif berhubungan dengan
orang lain, banyak menunduk saat diajak bicara, afek dapat tumpul atau datar, posisi
tidur tampak meringkuk di tempat tidur dengan punggung menghadap ke pintu.
(Workshop Standar Asuhan & Bimbingan Keperawatan Jiwa RSJ Prof. Dr. Soeroyo
Magelang, 2007). Pada perilaku klien dengan gangguan isolasi sosial: menarik diri yaitu
kurang sopan, apatis, sedih, afek tumpul, kurang perawatan diri, komunikasi verbal
turun, menyendiri, kurang peka terhadap lingkungan, kurang energy, harga diri rendah
dan posisi tidur seperti janin (Sujono & Teguh, 2009).
Setelah dilakukan pengkajian pada Tn. J didapatkan data subyektif klien yaitu
klien merasa sedang sedih.Dan data obyektifnya adalah klien tampak menyendiri, klien
tampak diam, klien tampak menundukan kepala, tidak ada kontak mata, klien tampak
sedih, wajah klien tampak murung, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain
(autistik/mutisme), afek datar, kurang perawatan diri.
Berdasarkan data pengkajian yang muncul tidaklah berbeda jauh antara teori
dengan keadaan yang dialami oleh klien. Beberapa data yang berbeda terletak pada
ungkapan subjektif klien yang menandakan setiap individu berbeda-beda dalam
menyikapi masalah yang dihadapinya. Adapun data yang ditemukan sama dengan teori
yaitu klien mampu memelihara kebersihan dirinya yang berantakan meskipun
mengenakan pakaian dan alas kaki. Kesamaan ini terjadi karena klien baru saja masuk
rumah sakit dan baru diadakan pengkajian sehingga klien belum dapat beradaptasi
terhadap permasalahan yang ada.
Hambatan pada awalnya timbul kesulitan untuk mengambil data karena klien
sulit mengungkapkan masalahnya. Namun setelah diadakan pendekatan dan membina
hubungan saling percaya, klien mau mengungkapkan masalahnya. Ditambah lagi dengan
dukungan dari keluarrga sehingga dapat diperoleh data yang lebih jelas.

B. Diagnosa Keperawatan
61

Berdasarkan hasil pengkajian dan analisa data yang didapatkan dari klien,
penulis merumuskan diagnosa keperawatan untuk membantu proses keperawatan klien
selama dirawat di ruang Mahoni RSUD DADI, Makassar.
Adapun diagnosa keperawatan yang ditemukan penulis yaitu resiko kerusakan
interkasi social: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah dan harga diri
rendah berhubungan dengan mekanisme koping individu inefektif
1. Resiko kerusakan interaksi social:menarik diri berhubungan dengan harga diri
rendah
Penulis menetapkan diagnosa keperawatan harga diri rndah sebagai prioritas
masalah keperawatan. Harga diri rendah adalah Harga diri rendah adalah keadaan
dimana individu sering mengalami kegagalan dalam pencapaian tujuan .
Data yang mendasari pengangkatan diagnosa keperawatan gangguan isolasi
sosial : menarik diri berupa data obyektifnya adalah klien tampak menyendiri, klien
tampak diam, klien tampak menundukan kepala, tidak ada kontak mata, klien
tampak sedih, wajah klien tampak murung, tidak mau berkomunikasi dengan orang
lain (autistik/mutisme), afek datar, kurang perawatan diri.
Alasan kenapa diagnosa harga diri rendah menjadi prioritas pertama
karena apabila masalah harga diri rendah tidak ditangani / tidak dilakukan
intervensi lebih lanjut, maka akan menyebabkan resiko kerusakan interaksi social
Perilaku yang tertutup dengan orang lain juga bisa menyebabkan intoleransi
aktifitas yang akhirnya bisa berpengaruh terhadap ketidakmampuan untuk
melakukan perawatan secara mandiri (Sujono dan Teguh, 2009).
2. Harga diri rendah berhubungan dengan mekanisme koping individu inefektif
Data yang ditemukan saat pengkajian yaitu data subjektif : klien
mengatakan sering bersedih. Data objektif : klien tampak sering duduk menyendiri,
tidak ada kontak mata saat berkomunikasi.
Menurut Keliat ( 1998 : 23 ) harga diri rendah merupakan suatu keadaan
dimana evaluasi diri atau dapat di gambarkan sebagai perasaan yang negatif
terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri, harga diri, merasa gagal
mencapai keinginan, tidak berdaya, tidak ada harapan dan putus asa.Ada sepuluh
cara individu mengekspresikan secara langsung harga diri rendah yaitu mengejek
dan mengkritik diri sendiri, merendahkan atau mengurangi martabat diri sendiri,
rasa bersalah atau khawatir, manisfestasi fisik : tekanan darah tinggi, psikosomatik,
62

dan penyalahgunaan zat, menunda dan ragu dalam mengambil keputusan,


gangguan berhubungan, menarik diri dari kehidupan sosial, menarik diri dari
realitas, merusak diri, merusak atau melukai orang lain (Stuart and Sundeen,
1998:230).
Menurut Sunaryo (2004:34) Harga diri rendah timbul jika individu
merasakan kehilangan kasih sayang, cinta kasih dan penghargaan dari orang lain
dan tidak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan cita-cita ideal yang
ada dalam dirinya, sehingga individu akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi
dalam hubungan interpersonalnya dengan orang lain di lingkungan sosial.
Diagnosa ini dijadikan diagnosa kedua karena muncul Berdasarkan stressor
di atas penulis menegakkan diagnosa kedua dengan adanya gangguan konsep diri
karena klien merasa gagal mencapai keinginanya menikah dengan wanita yang di
cintainya. Jika tidak ditegakan klien akan tetap pendiam dan lebih suka menyendiri
dan jarang berinteraksi dengan orang lain.

C. Intervensi

Intervensi dan implementasi yang digunakan oleh penulis adalah

menggunakan TUM dan TUK dari setiap diagnose yang ada.

D. Implementasi

Pada 13 Maret 2012 penulis melakukan implementasi yaitu mengidentifikasi


penyebab isolasi sosial pasien, berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan
berhubungan dengan orang lain, berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain, mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang,
menganjurkan pasien memasukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain
dalam kegiatan harian. Implementasi tersebut dapat dilakukan cukup mudah, karena
penulis menggunakan komunikasi terapeutik.
Menurut As Hornby (1974) dikutip oleh Teguh Purwanto (2009) komunikasi
terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan.
Sedangkan menurut Wahyu Purwaningsih (2009:11) dapat diartikan pula komunikasi
yang direncanakan secara sadar, berlangsung secara verbal dan non verbal, tujuan dan
63

kegiatannya difokuskan untuk menyembuhkan klien. Faktor yang perlu diperhatikan


dalam melakukan komunikasi terapeutik secara efektif adalah pengenalan kesadaran diri
sendiri dan mengenal orang lain yang akan diajak untuk berhubungan, sehingga individu
dapat menggunakan dirinya secara efektif dan tujuan komunikasi dapat tercapai
(Nurjannah, 2005:92).
Menurut Stuart dan Sundeen (1998:22), Teknik komunikasi yang diterapkan
adalah Silence atau (diam) yang bertujuan untuk memberi kesempatan berpikir dan
memotivasi klien untuk bicara dengan cara memberikan waktu kepada klien untuk
berpikir dan menghayati, memperlambat tempo interaksi dan dorong klien untuk
mengawali percakapan sementara itu perawat menyampaikan dukungan, pengertian dan
penerimaannya. Hal ini akan memberikan kesan bahwa perawat / komunikator mau
mendengarkan, mau menerima dan mengerti.
Dengan tekhnik komunikasi terapeutik yang dilakukan maka diharapkan
hubungan saling percaya dapat tercapai.Hubungan saling percaya adalah dasar yang
diperlukan dalam pengelolaan klien dan kemampuan klien dalam mengikuti anjuran dan
saran perawat didasarkan atas kualitas hubungan ini (Stuart & Sundeen, 1998).
Dilakukannya identifikasi penyebab isolasi sosial : menarik diri agar dapat mengurangi
beban dan tekanan yang dirasakan oleh klien. Tekhnik komunikasi yang dilakukan oleh
penulis ketika melakukan implementasi mengidentifikasi penyebab isolasi sosial adalah
mendengar dengan empati. Menurut Smith (1992) dalam Intansari (2005) empati adalah
kemampuan menempatkan diri kita pada diri orang lain dan bahwa kita telah memahami
bagaimana perasaan orang lain tersebut dan apa yang menyebabkan reaksi mereka tanpa
emosi kita terlarut dalam emosi orang lain, karena dengan empati dapat meningkatkan
perasaan berhubungan dengan orang lain, perasaan ini akan menurunkan perasaan
negative, kesendirian dan isolasi. Dengan adanya tekhnik komunikasi tersebut
mempermudah penulis dalam membina hubungan saling percaya dan mengidentifikasi
penyebab isolasi sosial : menarik diri.
Terapi psikofarmaka yang diperoleh klien yaitu Trifluoperazine 2 x 5 mg,
Amitriptilin 2 x 25 mg, Triheksipenidil 2 x 2 mg, Chlorpromazine 1 x 50 mg. Menurut
Depkes (2000) Psikofarmaka adalah terapi menggunakan obat dengan tujuan untuk
mengurangi atau menghilangkan gejala gangguan jiwa.

E. Evaluasi
64

Implementasi yang telah dilakukan pada hari pertama pada diagnosa 1 TUK 1 hingga
TUK 2 dapat berjalan dengan baik. Begitupun dengan diagnosa 2 pada TUK 1 hingga
TUK 2. Pada hari ke dua dan ketiga dilakukan implementasi pada TUK berikutnya pada
setiap diagnosa dan hasilnya dapat teratasi.
65

BAB 5
SPENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Harga diri rendah merupakan suatu gangguan alam perasaan yang ditandai
dengan perasaan sedih berduka yang berlebihan dan berkepanjangan. Penyebab
harga diri rendah sangat bervariasi, diantaranya faktor genetik , psikologik dll.
Gejala harga diri rendah dapat dikelompokkan menjadi gejala fisik, psikis dan
sosial. Penatalaksanaan dari harga diri rendah harus menggabungkan antara terapi
psikologik dan biologis.
2. Dari hasil pengkajian pada An. J dengan diagnosa Harga diri rendah sedang
didapatkan data salah satunya adalah klien merasa minder karena masalah
keluarga, pernikahan dan pekerjaan.
3. Diagnosis keperawatan utama pada An. J adalah isolasi sosial (menarik diri)
berhubungan dengan gangguan konsep diri (harga diri rendah).
4. Perencanaan tindakan keperawatan didasarkan pada standar asuhan keperawatan
jiwa pada masalah keperawatan utama harga diri rendah
5. Intervensi yang sudah dilaksanakan sesuai dengan TUK yang ingin dicapai yaitu
sampai TUK 6.

5.2 Saran
1. Petugas kesehatan atau perawat harus memahami proses perawatan pasien harga
diri rendah mulai dari pengkajian sampai evaluasi. Singga proses keperawatan
dapat berjalan dengan efektif dan tepat guna.
2. Peran keluarga dalam mendukung terapi pasien harga diri rendah sangatlah
diperlukan mengingat keluarga adalah orang terdekat dari pasien
3. Pemberian penyuluhan kepada keluarga tentang perawatan pasien dirumah
sangatlah penting untuk mencegah terjadinya kekambuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Keliat, (2005). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.


66

Maramis, W.F, (2005). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University
Press.
Maslim, R. (2001). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta: FK Unika Atma Jaya.
Nurmiati, A., ((2005). Harga diri rendah. Aspek Neurobiologi Diagnosis dan
Tatalaksana. Jakarta: FKUI.
Prijosaksono, A., (2008). Mengendalikan Diri Sewaktu Harga diri rendah. www//http:
sinarharapan.co.id. diakses pada tanggal 15 Desember 2010. Pukul 05.40 WIB.
Rawlin, R.P.(1993). Clinical Manual of Psychiatric Nursing. St. Louis: Mosby Year
Book
Stuart G.W Sundeen, S.J., (1995). Buku Saku Keperawatan Jiwa. (ed. Indonesia).
Jakarta: EGC
Towsend, M, C.1995. Buku Saku: Diagnosa Keperawatan Psikiatri: Pedoman untuk
Pembuatan Rencana Keperawatan. (ed.Indonesia). Jakarta: EGC
67

Lampiran
LAPORAN
KUNJUNGAN RUMAH

I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Nn. D
Umur : 43 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Tidak bekerja
Status perkawinan : Belum kawin
Alamat : Surabaya
Nomer Reg. : 025031
Diagnosa : F.20.1 (Skizoprenia hebeprenik)

II. SUSUNAN KELUARGA

No Sex Umur Pendidikan Status Pekerjaan Keterangan


Perkawinan
1 Laki-laki 67 th SD Menikah - Ayah pasien
meninggal
2 Perempuan 65 th SD Menikah Ibu rumah Ibu pasien
tangga
3 Laki-laki 46 th D3 Menikah Wiraswasta Kakak pasien
4 Perempuan 37 th SMA Menikah Ibu rumah Kakak ipar
tangga pasien
5 Perempuan 43 th SMA Belum Tidak Pasien
menikah bekerja
6 Laki-laki 38 th S1 Menikah Wiraswasta Adik pasien
7 Laki-laki 36 th S1 Menikah Wiraswasta Adik pasien
8 Laki-laki 12 th SD Belum Sekolah Keponakan
menikah pasien
9 Perempuan 7 th SD Belum Sekolah Keponakan
menikah pasien
68

III. KESAN PENERIMAAN


Keluarga pasien menerima kunjungan perawat dari RSJ. Menur dengan
sambutan yang baik dan menciptakan suasana rumah yang kondusif dan nyaman.
Keluarga juga kooperatif dengan perawat yang datang dengan menjawab semua
pertanyaan.

IV. RIWAYAT HIDUP PENDERITA


a. Prenatal
Ibu pasien selama mengandung pasien rutin periksa kandungan ke dokter
dan tidak ada keluhan selama kehamilan.
b. Natal
Ibu pasien melahirkan secara normal tanpa kesulitan pada saat kandungan
berusia 9 bulan.
c. Postnatal
Saat lahir pasien memiliki berat badan 3,5 kg dan panjang badan 52 cm.

V. FAKTOR HEREDITER
Tidak ada di keluarga pasien yang menderita sakit seperti pasien sebelumnya.

VI. PREMORBID
Pasien pendiam dan suka menyendiri.

VII. HUBUNGAN INTER DAN ANTAR KELUARGA


Orang yang dekat dengan pasien adalah ibu pasien. Hubungan pasien dengan
anggota keluarga yang lain baik, namun intensitas komunikasi antara keluarga
dan pasien kurang intens.

VIII. KEADAAN RUMAH DAN LINGKUNGAN


Rumah pasien memiliki pagar dari tembok yang tinggi. Rumah bersih,
rapi dan tata ruang bagus. Semua barang tertata pada tempatnya dengan rapi.
Rumah pasien juga mempunyai taman di depan rumah.
IX. SOSIAL EKONOMI
Penanggung biaya hidup dalam keluarga pasien adalah kakak pasien yang
bekerja sebagai wiraswata dengan penghasilan sebesar 2,5 juta setiap bulan.
X. INDEX TEKANAN RUANG
Rumus :
Pasangan Interaksi (PI) : N2 – N = 62 _ 6 = 15
2 2
Luas Bangunan (LB) : P x L x 9 feet = 25 x 12 x 9 = 2700 feet
ITR : LB = 2700 = 180
PI 15
69

Catatan : N = penghuni rumah

XI. DENAH RUMAH


U
Kamar

kolam

Kamar S

Gudang dapur

kamar

kamar pasien

25 meter
Kamar

Mandi

Ruang Tamu Kamar


12 mete

Taman