Anda di halaman 1dari 10

Mk.

Budidaya makanan alami

Dosen : Muhammad Haritza Laitte, S.Pi., M.Si

Skeletonema costatum

Kelompok 1 : Adam Subandi


Arianti Mandasary
Aswar

BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS FAPETKAN
UNIVERSITAS SULAWESI BARAT
TAHUN AJARAN 2016/2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejalan dengan meningkatnya usaha pembenihan ikan maupun udang indonesia,
maka perlu tersedia makanan alami yang berkualitas dan jumlah mencukupi.
Sebagian besar unit pembenihan telah mampu menyediakan fasilitas budidaya
makanan alami. Namun demikian, seringkali penanganan yang kurang teliti dapat
mengakibatkan ketidakmurnian phytoplankton yang dibudidayakan atau bahkan
menjadi media budidaya tersebut sebagai media penyakit
(Cholik, et.al 1989 dan wilujeng, 1999). Makanan alami adalah suatu organisme
dasar yang hidup didalam perairan yang keberadaannya dapat dimanfaatkan sebagai
sumber energi untuk organisme yang di pelihara.
Pakan Alami baik phytoplankton maupun zooplankton sangat menentukan
kualitas, kuantitas, dan kesinambungan benih yang dihasilkan. Keberadaan unit
kultur pakan alami mutlak dibutuhkan sebagai salah satu unit dalan sebuah
kesatuan sebuah usaha pembenihan (Isnansetyo dan Kurniastuti,1995).
Penyedian pakan alami merupakan faktor yang penting dalam menentukan
keberhasilan usaha pembenihan ikan dan udang karena berpengaruh besar pada
pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan dan udang disamping penyediaan induk.
Hal ini terkait dengan pakan alami yang merupakan sumber nutrisi dalam
memenuhi kebutuhan setiap fase pertumbuhan ikan dan udang terutama pada fase
larva/benih.
Bagi jenis ikan kebutuhan akan pakan tercukupi, karena ikan mempunyai daya
jelajah pada spektrum yang relatif luas. Permasalahan akan kebutuhan pakan
biasanya baru muncul pada saat organisme berada dalam lingkungan budidaya.
Ketersediaan pakan sangat bergantung pada manusia yang memelihara baik dari
jumlah, jenis maupun waktu pemberian.
2.1 Tujuan
 Tujuan dari pembuatan makalah ini untuk mengetahui sifat biologis
skeletonema costatum dan tata cara mengkultur skeletonema costatum.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Klasifikasi dan Morfologi


Menurut Sachlan (1982), Skeletonema costatum adalah salah satu jenis diatom
yang termasuk pada :
Kingdom : Plantae
Divisi : Chrysophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Centrales
Sub ordo : Coscinodiscineae
Famili : Coscinodiscaceae
Genus : Skeletonema
Spesies : Skeletonema costatum

Gambar 1 : skeletonema costatum

Skeletonema costatum merupakan fitoplankton dari jenis diatom yang


bersel tunggal dan ukuran sel berkisar antara 4-15 µm. Sel diatom memiliki ciri
khas yaitu dinding selnya terdiri dari dua bagian seperti cawan petri. Dinding sel
atas yang disebut epitekal saling menutupi dinding sel bagian bawah yang
disebut hipoteka pada masing-masing tepinya. Pada setiap sel dipenuhi oleh
sitoplasma. Dinding sel Skeletonema costatum memiliki frustula yang dapat
menghasilkan skeletal eksternal yang berbentuk silindris (cembung) dan
mempunyai duri-duri yang berfungsi sebagai penghubung pada frustula yang
satu dengan yang lain sehingga membentuk filamen (BBPBAL Lampung, 2002).
Widiyani (1985) menyatakan bahwa dinding sel Skeletonema
costatum mengandung pigmen yang terdiri dari klorofil-a, ß-karoten dan
fukosantin. Pigmen yang dominan adalah karotenoid dan diatomin. Adanya
pigmen karoten menyebabkan dinding sel berwarna coklat keemasan.

Gambar 2 : morfologi skeletonema costatum

2. Habitat dan Penyebarannya


Angka (1976) menyatakan Skeletonema costatum banyak terdapat di
daerah tropis dan subtropis, terdapat mulai dari pantai sampai lautan
sebagai meroplankton dan benthos. Skeletonema costatum yang berada di pantai
memiliki panjang rata-rata 9,7 µm dengan diameter rata-rata 5,8 µm.
Skeletonema costatum merupakan diatom yang bersifat eurythermal yaitu
mampu tumbuh pada kisaran suhu 3-30oC dan suhu optimal adalah 25-27 oC
serta bersifat euryhalin yaitu mampu tumbuh pada kisaran salinitas yang luas
yaitu 15-34 ppt dan salinitas yang paling baik untuk pertumbuhan adalah 20-30
ppt (Haryati, 1980).
3. Reproduksi dan Perkembangan
Isnansetyo dan Kurnaistuti (1995) menyatakan perkembangbiakan Skeletonema
costatum terjadi secara aseksual dilakukan dengan cara pembelahan sel secara
berulang-ulang, sehingga ukuran sel menjadi lebih kecil. Apabila ukuran selnya
sudah di bawah 7 µm, maka reproduksinya tidak lagi secara aseksual, tetapi
dengan cara seksual. Reproduksi secara seksual ditandai dengan pembentukan
aukspora, sehingga aukspora membentuk epiteka dan hipoteka baru, kemudian
tumbuh menjadi sel yang ukuranya lebih besar.

Gambar : reproduksi S. costatum


Menurut Martossudarmo dan Wulani (1990), pertumbuhan Skeletonema
costatum secara umum ditandai dengan lima tahap terpisah yaitu :
1) Tahap Induksi
Tahap adaptasi dengan lingkungan yang baru, populasi tidak berubah untuk
sementara waktu.
2) Tahap Eksponensial
Ditandai dengan pembiakan sel yang cepat dan konstan.
3) Tahap Perlambatan Pertumbuhan
Kecepatan tumbuh mulai melambat, faktor yang berpengaruh adalah
kekurangan nutrien, laju suplai CO2 atau O2, dan perubahan nilai pH.
4) Tahap Stasioner
Terjadinya penurunan kecepatan perkembangan secara bertahap. Jumlah
populasi konstan dalam waktu tertentu sebagai akibat dari penghentian
pembiakan sel-sel secara total atau adanya keseimbangan antara tingkat
kematian dan tingkat pertumbuhan.
5) Tahap Kematian
Tingkat kematian lebih tinggi dari tingkat perkembangan.

Gambar 3 : tahapan perkembangan Skeletonema costatum


4. Faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan Skeletonema costatum
Faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan Skeletonema costatum
diantaranya :
a. Cahaya
Cahaya yang diterima banyak maka suhu cenderung meningkat. Kisaran
cahaya yang baik untuk pertumbuhan Skeletonema costatum adalah 500-
12000 lux. Apabila lebih dari 12000 lux maka pertumbuhannya akan
menurun ( Sriyani, 1995 ).
b. Salinitas
Kisaran nilai salinitas yang bisa ditoleransi oleh Skeletonema costatum
antara 15-34 ppt dan optimalnya adalah 25-29 ppt. Karena jenis ini
kebanyakan hidup di sekitar permukaan pantai dengan perairan bersifat
payau dimana salinitasnya tidak terlalu tinggi. Salinitas yang terlalu tinggi
atau rendah akan menganggu proses metabolisme sel sehingga pertumbuhan
Skeletonema costatum kurang bagus (Sriyani, 1995)
c. Suhu
Suhu yang bisa ditoleransi oleh Skeletonema costatum berkisar 3-34 0C,
sedangkan suhu optimalnya 25-27 0C. Apabila suhu terlalu rendah maka
pertumbuhannya akan lambat dan selnya akan kecil-kecil. Bila suhu terlalu
tinggi maka selnya akan hancur. Alternative apabila suhu terlalu rendah
maka peningkatan suhu dengan cara pemasangan lampu TL di atas
permukaan media serta menutup ruangan agar suhu media meningkat.
Sedangkan kalau suhu media terlalu tinggi bisa diusahakan dengan cara
menambah sirkulasi ruangan dengan membuka jendela ( Sriyani, 1995 ).
d. Nutrien
Nutrien Skeletonema costatum untuk kehidupannya memerlukan bahan-
bahan organik dan anorganik yang diambil dari lingkungannya. Bahan-
bahan tersebut dinamakan nutrien, sedangkan penyerapannya disebut
nutrisi. Fungsi utama bahan makanan (nutrien) adalah sebagai sumber
energi dan pembangun sel. Pada budidaya ekeletonema costatum sangat
dibutuhkan berbagai macam senyawa organic baik senyawa unsur hara
makro (Nitrogen, Fosfor, Besi, Sulfat, magnesium, Kalsium dan kalium)
dan unsur hara mikro (Tembaga, Mangan, Seng, Boron, Molibdenum dan
cobelt) (Ruth dan Charles, 1966).

5. Kandung gizi pada Skeletonema costatum


Analisis kandungan gizi Skeletonema costatum dalam persentase berat menurut
Ismi dkk ( 1993)
Protein : 33,30 %
Lemak : 8,10 %
Karbihidrat : 11,60 %
Total Ash (abu) : 36 %

6. Tehnik kultur pada Skeletonema costatum


 Isolasi
Tujuan isolasi untuk memperoleh fitoplankton monopesies (murni) dengan
cara mengambil sampel air laut di alam dengan menggunakan planktonet,
untuk selanjutnya diamati dibawah mikroskop. Ada beberapa cara isolasi
antara lain pengenceran berseri dan menggunakan pipet kapiler.
Pengenceran berseri digunakan bila jumlah organisme banyak dan ada
spesies dominan, memindahkan sampel kedalam beberapa tabung reaksi
yang dikondisikan untuk pertumbuhan yang akan diisolasi. Sedangkan
dengan menggunakan pipet kapiler, dimana sampel 10-15 tetes medium
(Isnansetyo dan kurniastuty, 1999).
 Kultur Skala Semi-Massal
Kegiatan kultur skala semi-massal ini, dilakukan diruang semi “out door”
tanpa dinding, beratap transparan untuk memanfaatkan cahaya matahari.
Kultur dengan wadah aquarium /fiber transparan pada volume sekitar 100
liter. Sebelum melakukan kultur, terlebih dahulu menyiapkan wadah dan
peralatan lainnya dengan kaporit 100 ppm. Sterilisasi air laut di bak dengan
kaporit 15-10 ppm dilakukan pengadukan selama 1-2 hari atau sampai netral
kemudian diendapkan dengan menghentikan pengadukan. Untuk volume
diperlukan bibit 5-10 % dari volume total. Diawal total kultur salinitas 25 -
29 ppt suhu air dibawah 30 0C dan pH 7,9-8,3 dan kekuatan cahaya pada
kisaran 500 - 12000 lux. Pupuk yang digunakan adalah pupuk teknis
(Cahyaningsi, 1990).
 Kultur Massal
Kultur massal/out door dimulai dari volume 1 ton sampai dengan 20 ton
atau lebih. Air laut dengan salinitas tertentu dimasukan kedalam bak kultur,
selanjutnya dilakukan pemupukan dan diberi aerasi. Pupuk yang digunakan
untuk kultur massal adalah pupuk teknis atau pupuk pertanian seperti : Urea,
TSP, dan vitamin mix (Djarijah, 1995).
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan
a) Skeletonema costatum merupakan fitoplankton dari jenis diatom yang
bersel tunggal dan ukuran sel berkisar antara 4-15 µm.
b) Pertumbuhan skeletonema costatum terdiri atas lima, fase induksi,
eksponensial, perlambatan pertumbuhan, stasioner, kematian.
c) Faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan skeletonema costatum
antara lain, salinitas, suhu, ph, nutrien.
DAFTAR PUSTAKA

Balai Budidaya Laut Lampung. 2005. Budidaya Fitoplankton dan Zooplankton. Balai Budidaya
Laut Lampung. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Deaprtemen Kelautan dan
Perikanan. Lampung
Chen, J dan Setty, H.P.C. 1991. Culture of Marine Feed Organisme. UNDP/FAO. National
Island Fisheries Institute. Kasertsart University Campus. Bangkhen Thailand. 15pp.
Erlina dan Hastuti. 1986. Kultur Plankton. INFIS Manual Seri No. 38. 26 Halaman
Haryati. 1980. Percobaan Penggunaan Beberapa Macam Komposisi Media Terhadap
Pertumbuhan Populasi Monokultur Skeletonema costatum Greville. Skripsi (tidak
dipublikasikan). Fakultas Peternakan dan Perikanan. UNDIP Semarang.
Isnansetyo, A. dan Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Fitoplankton dan Zooplankto Untuk
Pembenihan Organisme Laut. Kansius. Jakarta
Martosudarmo dan Wulani. 1990. Petunjuk Pemeliharaan Kultur Pemeliharaan Kultur Murni
dan Masal Mikroalga. FAO. 33 Halaman.
Sachlan. 1982. Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan. UNDIP Semarang.
Sylvester. B.D., Nelvy dan Sudjiharno. 2002. Persyaratan Budidaya Fitoplankton dalam
Budidaya Fitoplankton dan Zooplankton. Seri Budidaya Laut no. 9 Balai Budidaya Laut
Lampung. Direktorat Jenderal Kelautan dan Perikanan Lampung. Lampung.
Wilujeng,A.1999. Budidaya Makanan Alami untuk pembenihan. Karya ilmiah. Fakultas
perikanan Universitas Brawijaya Malang. Malang
Windiyani. 1985. Pengaruh Berbagai tingkat Intensitas Cahaya terhadap Pertumbuhan
Populasi Skeletonema costatum (Grev). Clev. Skripsi (tidak dipublikasikan). Fakultas
Peternakan. UNDIP.
Mustofa, T.D. 1982. Pengaruh Penambahan Vitamin B12 Pada Tingkat Salinitas Yang Berbeda
Terhadap Perkembangan Populasi Monokultur Tetraselmis sp, Skeletonema sp dan
Chaetocheros sp. Departemen Pertanian Derektorat Jendral Perikanan Bagian Proyek
Peningkatan Budidaya Udang. Banda Aceh
Djarijah, A,S,Ir. Pakan Alami, (Yokyakarta, kaniusus 1995). Hartati, Sri. Kultur Makan Alami,
(Jakrta, Direktorat Jendral Perikanan dan International Development
Research Center. 1986).