Anda di halaman 1dari 86

Mengenal Suhu Tubuh

Mengenal Suhu Tubuh

dr Lusia

I. Pendahuluan

Hampir semua orang pernah mengalami demam, ada yang demam ringan
adakalanya sampai demam panas sekali atau hampir semua orang pernah merasa
kedinginan. Semua itu berhubungan dengan suhu tubuh, dapat merupakan keadaan
yang masih normal dan abnormal. Keadaan demikian merupakan keadaan yang
lazim ditemui dalam kehidupan. Sehingga kita harus membekali pengetahuan untuk
menghadapinya. Untuk mengatasi ketidaknyamanan yang diakibatkannya dilakukan
berbagai cara mulai cara sederhana sampai harus ke dokter.
Mengenali suhu tubuh sangat perlu karena merupakan salah satu tanda fungsi
vital tubuh kita yang dapat mendeteksi fungsi sistem tubuh kita apakah bekerja
normal atau dalam keadaan sedang sakit. Kita perlu mengetahui suhu tubuh normal,
suhu tubuh abnormal , pengaturan suhu agar tetap konstan, dan hal-hal lain yang
menyangkut suhu sehingga kita dapat mengatasi bila terjadi keadaan yang tidak
normal dan mempertahankan suhu yang normal agar tetap sehat.
II. Panas Tubuh, Pembentukan dan pengeluaran Panas
Setiap sel di dalam tubuh memerlukan energi untuk memelihara struktur dan
fungsinya. Seluruh energi yang diperlukan oleh sel-sel tersebut berasal dari
makanan yang dikonsumsi setiap harinya (sumber energi). Misalnya dari berasal
dari karbohidrat, protein dan lemak. Energi tubuh yang dihasilkan yang berasal dari
pembakaran 1 gram lemak adalah 9 Kalori dan karbohidrat 4 Kalori serta protein 4
Kalori. Energi dalam makanan ini terdapat sebagai energi kimia yang dapat diubah
menjadi energi bentuk lain. Bentuk energi yang berkaitan dengan proses-proses
biologi adalah energi kimia, energi mekanis, energi panas dan energi listrik.Dalam
kegiatan tubuh sehari-hari, pemakaian energi dapat melalui kegiatan kerja eksternal
dan internal. Kerja eksternal berhubungan dengan pemakaian energi akibat
kontraksi otot rangka sewaktu tubuh menggerakkan badan atau anggota badan
seperti mengangkat atau memindahkan suatu benda, menghindar, memukul,
mengelak, dan sebagainya. Kerja internal berhubungan dengan pemakaian energi
oleh seluruh proses biologis di dalam tubuh yang tidak termasuk dalam kegiatan
kerja eksternal.
Tidak semua energi yang didapat dari nutrien dapat dipergunakan untuk kegiatan
kerja. Energi yang tidak dapat dipakai ini akan diubah menjadi energi panas. Selama
proses biokimiawi di dalam tubuh, hanya 50% energi dari nutrien yang diubah
menjadi ATP selebihnya akan hilang dalam bentuk panas. Selama pemakaian ATP
oleh sel-sel tubuh, 25% lainnya energi yang berasal dari makanan inipun akan
diubah menjadi panas. Selanjutnya panas yang terbentuk inilah (produksi panas
internal) dan ditambah dengan perolehan panas yang didapat dari lingkungan
eksternal tubuh (keduanya disebut Sumber panas) yang membentuk kandungan
seluruh panas tubuh.
Panas tubuh diperlukan untuk kelancaran aliran darah dan menjaga agar reaksi
kimia tubuh dapat berjalan baik (enzim hanya bekerja pada suhu tertentu yang relatif
tetap (pada suhu normal)..Sumber utama panas badan adalah pembakaran
makanan terutama di dalam hati,otak, jantung dan otot-otot bergaris.
Kemudian panas ini dihantarkan dari organ dan jaringan yang lebih dalam ke kulit,
dimana panas tubuh hilang ke udara dan sekitarnya. Oleh karena itu, laju hilangnya
panas tubuh ditentukan oleh seberapa cepat panas tubuh dapat dikonduksikan dari
tempat panas tubuh dihasilkan dalam inti tubuh ke kulit dan seberapa cepat panas
tubuh kemudian dapat dihantarkan dari kulit ke sekitarnya.
Bila kandungan seluruh panas tubuh ini sudah melebihi batas toleransi, maka tubuh
akan berupaya untuk mengeluarkan panas (panas tubuh hilang) melalui kulit
(permukaan tubuh) dengan cara (mekanisme) konveksi, konduksi, radiasi,
evaporasi.
Panas panas badan yang diperoleh dari lingkungan dipengaruhi oleh :
a) Pengaruh temperatur udara
Bilamana suhu tubuh lebih rendah dari suhu lingkungan maka tubuh akan mendapat
panas dengan cara konveksi. Sebaliknya bila suhu tubuh lebih tinggi daripada suhu
lingkungan maka panas tubuh akan mengalir ke udara sekitar. Kemudian bila suhu
permukaan benda lebih tinggi dari suhu tubuh maka tubuh akan mendapatkan
tambahan panas dari benda tersebut dengan cara radiasi atau pancaran.
b) Kelembaban
Mempunyai pengaruh terhadap penguapan keringat , apabila udara lingkungan
mempunyai kelembaban yang tinggi, maka penguapan keringat akan terganggu
yang berakibat suhu badan menjadi naik.
c) Kecepatan angin
Mempunyai pengaruh terhadap pembuangan atau penambahan panas tubuh melalui
penguapan dan konveksi.

Cara perpindahan panas


Proses radiasi
Kehilangan /perolehan panas melalui radiasi adalah kehilangan/perolehan dalam
bentuk gelombang panas.
Proses radiasi tergantung dari perbedaan suhu antara kulit dan obyek sekitarnya.
Tubuh manusia menyebarkan gelombang panas ke segala penjuru. Gelombang
panas juga dipancarkan dari benda-benda di sekitar ke tubuh . Tetapi bila suhu
tubuh lebih besar dari suhu lingkungan, panas tubuh ini akan dipancarkan keluar
dari tubuh lebih besar daripada yang dipancarkan ke tubuh.
Kehilangan panas karena radiasi ini dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Makin
rendah suhu lingkungan makin besar panas tubuh yang hilang dan bila suhu tubuh
makin mendekati suhu lingkungan, kehilangan panas yang terjadi makin kecil. Selain
dipengaruhi oleh hal tersebut, radiasi juga dipengaruhi oleh kelembaban udara,
makin tinggi kelembaban, kehilangan panas makin berkurang.
Contohnya:
* Lampu inframerah dan untuk bayi hipotermi.
* Bayi diletakkan dekat tembok yang dingin dapat menyebabkan hipotermi.

*Radiasi merupakan penyebab kehilangan panas terbesar pada penderita yang


menjalani operasi.
Konduksi. Kehilangan/perolehan panas melalui permukaan tubuh ke benda-benda
lain yang bersinggungan dengan tubuh, di mana terjadi pemindahan panas secara
langsung antara tubuh dengan objek pada suhu yang berbeda(dengan jalan kontak
langsung). Dibandingkan dengan posisi berdiri, orang dengan posisi tidur dengan
permukaan kontak akan melepas panas lebih banyak melalui konduksi.
Proses ini pun tergantung dari perbedaan suhu badan dan sekitarnya. Kecepatan
pelepasan panas melalui proses konduksi berlangsung amat cepat, yang terjadi
melalui mekanisme suplai darah yang alamiah. Bila arteriole membuka lebar maka
suhu kulit kurang lebih sama dengan suhu tubuh, sebaliknya pengurangan aliran
darah sampai jumlah yang minimal, yang masih dibutuhkan untuk suplai kebutuhan
nutritif, akan menghasilkan suhu kulit yang mendekati suhu sekitar tubuh. Ini adalah
kenyataan daripada variasi suplai darah alamiah dalam pengaturan suhu tubuh. Bila
dibutuhkan pelepasan panas yang lebih banyak maka darah akan dialirkan ke kulit.
Dan sebaliknya bila pelepasan panas ingin ditekan maka aliran darah ke kulit akan
dikurangi.
Perolehan panas melalui metoda konduksi dapat berupa :
* Kantong air panas/botol berisi air panas
* Handuk panas
*Electric pads (Caranya melingkari kawat elemen panas yang dibungkus asbes
atau plastik. Untuk amannya dilengkapi dengan termostat.)
Konveksi
*perpindahan kalor/panas melalui suatu zat yang disertai perpindahan partikel-
partikel zat itu*
Pemindahan panas melalui pergerakan udara atau cairan yang meliputi permukaan
kulit.
Sejumlah kecil konveksi hampir selalu terjadi sekitar tubuh karena kecenderungan
udara yang dekat kulit bergerak ke atas waktu udara tersebut dipanaskan. Oleh
karena itu, orang telanjang dada yang duduk dalam ruangan yang sejuk tanpa
pergerakan udara yang nyata tetp kehilangan 12% panasnya dengan konduksi ke
udara dan kemudian dibawa menjauhi tubuh oleh arus konveksi.
Evaporasi
Evaporasi adalah kehilangan panas tubuh sebagai akibat penguapan air melalui kulit
dan paru-paru, dalam bentuk berubahnya cairan menjadi gas. Bila air menguap dari
permukaan tubuh , 0,58 Kalori panas hilang untuk setiap gram(cc) air yang
menguap. Sejumlah kecil air berdifusi melalui kulit sepanjang waktu dan kemudian
diuapkan dari permukaan. Evorasi juga secara terus menerus berlangsung melalui
sistem respirasi karena udara respirasi dijenuhkan dengan uap air. Oleh karena itu
dapat dimengerti bahwa pelepasan dengan cara ini juga tetap berlangsung pada
cuaca dingin. Kehilangan panas yang hebat sekali juga dapat terjadi hanya dengan
pengeluaran keringat. Evaporasi yang terjadi melalui kulit , cairan yang hilang sekitar
800 ml (30-50 ml/jam). Sedangkan evaporasi melalui sistem pernapasan terjadi
melalui udara yang diekspirasikan, cairan yang hilang sekitar 400 ml/hari.
Penguapan sebagai mekanisme pendingin yang penting pada suhu Tinggi.
Selama suhu tubuh lebih besar daripada suhu lingkungan, panas hilang dengan cara
radiasi dan konduksi, tetapi bila suhu lingkungan lebih besar daripada suhu kulit,
sebagai ganti dari kehilangan panas, tubuh memperoleh panas dengan cara dan
radiasi dan konduksi dari lingkungan. Dalam keadaan ini, cara satu-satunya dimana
tubuh dapat membuang panas dengan cara penguapan (evaporasi). Oleh karena itu,
setiap faktor yang mencegah penguapan dengan adekuat bila suhu lingkungan lebih
tinggi daripada suhu tubuh mengakibatkan suhu tubuh meningkat.
Berkeringat
Bila tubuh mendapat pemanasan berlebihan, sejumlah besar keringat disekresi ke
permukaan kulit oleh kelenjar keringat ekrin untuk memberikan pendinginan
evaporatif yang cepat pada tubuh.
Pengeluaran keringat sendiri menyebabkan hilangnya panas dari tubuh. Mekanisme
itu hanya efektif untuk menurunkan suhu tubuh bila keringat yang terbentuk
diuapkan oleh tubuh, tidak jatuh atau meleleh dari tubuh. Setiap ml keringat yang
diuapkan membutuhkan 580 kal yang akan diserap dari tubuh.
III. Suhu Tubuh

* Suhu:
Dalam keadaan sehari-hari kita mengenal panas dan dingin. Misalnya api panas, es
dingin, air untuk mandi mungkin sejuk atau hangat. Nah, benda yang terasa panas
itu kita katakan mempunyai suhu tinggi dan benda yang dingin mempunyai suhu
yang rendah. Dalam hal ini taraf panas-dingin suatu benda kita sebut temperatur
atau suhu. Jadi suhu adalah istilah yang dipakai untuk membedakan panas-
dinginnya suatu benda dalam suatu ukuran tingkat derajat panas yang dinyatakan
dalam satuan derajat suhu. Panas-dingin dapat dirasakan lewat indera peraba,
tetapi indera peraba tidak dapat mengukur derajat panas-dingin suatu benda.
Untuk mengetahui derajat panas-dingin suatu benda , maka benda dapat diukur
dengan alat yang disebut termometer.
Suhu tubuh merupakan ukuran yang menggambarkan keseimbangan antara
panas yang diproduksi oleh tubuh dengan panas yang dikeluarkan.
Suhu tubuh diatur dengan mengimbangi produksi panas terhadap kehilangan panas
yang terjadi. Bila laju pembentukan panas dalam tubuh lebih besar daripada laju
hilangnya panas, timbul panas dalam tubuh dan suhu tubuh meningkat. Sebaliknya,
bila kehilangan panas lebih besar, panas tubuh dan suhu tubuh menurun.

* Suhu Inti Versus Suhu Permukaan


Bila membicarakan suhu tubuh, biasanya yang dimaksud adalah suhu di bagian
dalam, yang dinamakan suhu inti (core temperature) dan bukan suhu kulit atau
jaringan tepat di bawah kulit. Suhu permukaan dapat meningkat dan turun sesuai
dengan suhu sekitarnya.

Suhu tubuh manusia secara kasar dibagi menjadi 2 yaitu : suhu inti (core
temperature) dan suhu perifer/suhu kulit.
• Suhu inti adalah suhu pada jaringan / organ vital yang baik perfusinya (otak dan
organ bagian dalam tubuh). Suhu ini relatif sama. Dengan kata lain, distribusi panas
pada bagian-bagian tubuh ini cepat, sehingga suhu pada beberapa tempat yang
berbeda hampir sama. .
• Bagian tubuh di mana suhunya tidak homogen dan bervariasi sepanjang waktu
merupakan bagian dari suhu perifer. Suhu kulit/ perifer berbeda dengan suhu inti,
naik dan turun sesuai dengan suhu lingkungan.Pada gambar di bawah terlihat
topografi temperatur kulit pada manusia. daerah tubuh maupun kepala mempunyai
temperatur kulit lebih tinggi daripada anggota badan. Untuk mengetahui rata-rata
temperatur kulit banyak metoda yang digunakan untuk menghitungnya. Tetapi
metoda yang lazim dipakai untuk menghitung temperatur kulit rata-rata ialah :
0,07 T kepala + 0,14 T lengan+ 0,05 T tangan+ 0,07 T kaki + 0,13 T betis + 0,09 T paha + 0,35 T
batang tubuh

Dengan mengetahui temperatur kulit rata-rata tersebut temperatur tubuh rata-rata


dapat dihitung.

Zona suhu kulit rata-rata yang nyaman adalah 33°C to 34°C. Jika temperatur kulit
turun sampai 32°C, orang akan merasa dingin. Seseorang kehilangan seluruh
sensasi pada kulitnya bila suhu kulitnya pada suhu 15°C atau kurang. Ketika suhu
kulit mencapai batas 35°C sampai 39°C, seseorang akan merasa hangat atau
panas. Pada suhu 39°C sampai 41°C, seseorang akan merasa nyeri. Ketika suhu
kulit lebih besar dari 41° C,mulai terasa nyeri terbakar. Kematian jaringan kulit
segera terjadi apabila suhu kulit 45°C atau lebih.
Temperatur kulit yang rendah dengan bagian dalam tubuh yang normal
menunjukkkan banyak panas yang hilang. Pada keadaan demikian diperlukan
pemasangan alat pemanas/selimut.
Penderita dengan suhu kulit dan bagian dalam yang rendah menunjukkan
terganggunya mekanisme pengaturan suhu badan.
Penderita dengan temperatur kulit dan bagian dalam yang tinggi menunjukkan tubuh
tidak sanggup melepaskan panas ke sekelilingnya atau adanya produksi panas
yang terlampau tinggi, misalnya bila terdapat infeksi.

Suhu Tubuh Rata-rata


Bila kita ingin menghitung jumlah total panas yang disimpan dalam tubuh, kita
menggunakan suhu tubuh rata- rata. Suhu tubuh rata-rata dapat diperkirakan
dengan rumus sbb :
Suhu rata-rata = 0,7 suhu internal(T core/temp rektal) + 0,3 suhu
permukaan( average T skin).

Pada sebagian besar individu, tanpa peduli iklim ataupun rasnya, semua umur,
suhu tubuh normal secara umum bervariasi sekitar 36 sampai 37 derajat Celsius,
yang bertambah sekitar 0,5-1 derajat Celsius pada malam hari dan sesudah
melakukan kegiatan. Selama tidur suhu turun 1 derajat C.
Namun untuk anak dikatakan demam jika suhu tubuh lebih besar dari 38 derajat C
melalui rektum,. Batasannya demam berbeda-beda tergantung usia dan cara
pengukuran suhu.Pengambilan suhu sebaiknya dengan termometer di ketiak, mulut
atau di dubur (di dahi juga dapat, intravagina: untuk keperluan khusus, di lipat
paha : jarang )
Suhu tubuh bervariasi tergantung dari bagian tubuh yang diukur, waktu pengukuran,
aktivitas dan umur dan variasi diurnal.
Batasan
* Gradasi termal(Gradasi dingin dan panas) :dingin yang membekukan - dingin-
sejuk-biasa-hangat-panas-panas yang membakar
* Suhu Tubuh Normal
Kita mengatakan bahwa suhu badan itu normal kalau panas tubuhnya dengan
pengukuran aksila berkisar antara 36˚ C /36,5˚ C – "37,2˚/37,5 C."

Beberapa referensi lain menyebutkan" 36˚ C , 36,1˚ C " - " -37˚ C -37,1˚ C , 37,3˚ C
-37,6 ˚ C - 37,7˚ C -37,8˚ C " ( Pemeriksaan dengan cara aksila dipengaruhi oleh
jenis termometer, lama pengukuran dan suhu lingkungan)

Pada beberapa individu mungkin mempunyai termostat di hipotalamus yang sedikit


lebih tinggi (sampai 0,5 derajat di atas-atas rata-rata orang biasa masih merupakan
suatu fenomena yang normal)

Pengukuran yang sistematis pertama suhu tubuh manusia dilakukan oleh dokter
Jerman Carl Wunderlich. Pada tahun 1861 ia mengukur suhu satu juta orang yang
sehat (ukuran sampel yang tampaknya terlalu besar untuk bisa dipercaya). Nilai
rata-rata dilaporkan sebagai 37 derajat celsius. Ketika dikonversi nilai ini menjadi
98,6 derajat fahrenheit. Jadi apa masalahnya? Nilai Wunderlich memiliki hanya dua
angka penting sedangkan nilai dikonversi memiliki tiga. Digit terakhir ("titik enam" di
akhir) harus dipandang sebagai nilai yang berarti.
Pada tahun 1992 Mackowiak, Wasserman, dan Levine mengukur suhu tubuh 65 pria
dan 65 wanita dan diperoleh nilai 36,8 ° C (98,2 ° F). Anda dapat melakukan analisis
statistik dari data diri. Angka-angka yang tersedia dari beberapa referensi :
Contoh-contoh Klasifikasi suhu normal menurut umur:
Suhu Tubuh (dalam derajat celsius)
3 bulan 37,5
6 bulan 37,5
1 tahun 37,7
3 tahun 37,2
5 tahun 37,0
7 tahun 36,8
9 tahun 36,7
11 tahun 36,7
13 tahun 36,6
Dewasa 36,4
> 70 tahun 36,0

Vital Signs. ( Applied Medical Informatics, 1996.)


Age Temperature (°F) ° C
0–3 month 99.4 37,4
3–6 month 99.5 37,5
6 month–1 year 99.7 37,6
1–3 year 99.0 37,2
3–5 year 98.6 37
5–9 year 98.3 36,8
9–13 year 98.0 36,7
> 13 year 97.8–99.1 36,6-37,3
Hasil standar : 36.6–37.3 °C
Nilai suhu normal menurut jenis kelamin :
[Shoemaker supplies text files consisting of body temperature and heart rate data
for 65 men and 65 women. This appears to be Mackowiak's data from the 1992
paper in JAMA. The values reported to the right are the mean values ± the standard
deviation.]
98.4±0.7 °F/(36.9±0.4 °C)=36,5-37,3°C
women

98.1±0.7 °F/(36.7±0.4 °C)=36,3-37,1°C


men
The findings of Sund-Levander, et al. are summarized in the table below.

men women overall


oral 35.7–37.7 °C 33.2–38.1 °C 33.2–38.2 °C
rectal 36.7–37.5 °C 36.8–37.1 °C 34.4–37.8 °C
typanic (ear canal) 35.5–37.5 °C 35.7–37.5 °C 35.4–37.8 °C
axillary (armpit) 35.5–37.0 °C
Menurut Saskatchewan Ministry of Health June 2012 :
A child has the same body temperature range as an adult:

35°C – 37.5°C (95°F ‐ 99.5°F) when taken orally (by mouth).

34.7°C – 37.3°C (94.5°F ‐ 99°F) when taken under an armpit.

Normal temperature range:Batas Suhu Normal Anak menurut Canadian Paediatric


Society

Rectum 36.6°C to 38°C (97.9°F to 100.4°F)


Mouth 35.5°C to 37.5°C (95.9°F to 99.5°F)
Ear 35.8°C to 38°C (96.4°F to 100.4°F)
Armpit 34.7°C to 37.3°C (94.5°F to 99.1°F)

Ambang batas tertinggi masih dapat ditolerir sepanjang suhu tersebut tidak memiliki
kecenderungan untuk meningkat. Ketika suhu badan mencapai ambang batas,
sudah selayaknya hal tersebut mendapat perhatian sehingga kemungkinan
melampaui ambang batas dapat dihindarkan.
Penetapan nilai normal berdasarkan ,beberapa studi dari suatu populasi , orang
yang diukur dalam keadaan sehat, tidak berpuasa, berpakaian yang nyaman, di
dalam ruangan dengan suhu ruangan normal (22,7-24,4 ˚derajat C), saat pagi hari
tapi bukan baru saja bangun tidur. Untuk temperatur mulut, tidak boleh sehabis
makan, minum, tidak boleh 15-30 menit sehabis merokok .

* Demam/Febris /Fever/Pyrexia ( set point hipotalamus meningkat)


Range suhu demam dari beberapa referensi :
# Fever   is   generally   agreed   to   be   present   if   the   elevated   temperature   is   :
Temperature   in   the   anus   (rectum/rectal)   is   at   or   over   37.5–38.3   °C   (99.5–100.9   °F)
Temperature   in   the   mouth   (oral)   is   at   or   over   37.7   °C   (99.9   °F)
Temperature under the arm (axillary) or in the ear (otic) is at or over 37.2  °C (99.0 °F)
 
# Harrison’s textbook of internal medicine defines a fever as a morning oral temperature of
>37.2°C (>98.9°F) or an evening temperature of >37.7°C (>99.9°F) while the normal daily
temperature   variation   is   typically   0.5°C   (0.9°F).
 
# Suhu tubuh seseorang yang sama atau lebih dari 38˚ C menunjukkan bahwa orang
bersangkutan mengalami demam.(per rektal)
Bagian Pediatri di Indonesia :
Pada Neonatus : Teraba demam, suhu aksila >37,5 oC merupakan salah satu tanda
bahaya yang harus diperhatikan.

# A child has a fever when the temperature is at or above one of these levels:
100.4 °F (38 °C) measured in the bottom (rectally)
99.5 °F (37.5 °C) measured in the mouth (orally)
99 °F (37.2 °C) measured under the arm (axillary)

Salah satu contoh tabel demam :

BAGIAN TUBUH JENIS DEMAM


TERMOMETER
Dubur Termometer air raksa 38,1oC )
atau digital
Mulut Termometer air raksa 37,6oC
atau digital
Ketiak Termometer air raksa 37,4oC
atau digital
Telinga Sinar inframerah 37,6oC
Jika suhu dasar anak anda berbeda dari rentang normal, maka disebut demam juga
berbeda. Bicarakan ini dengan dokter anak.
Kriteria demam bervariasi menurut umur, metoda pengukuran dan waktu
pengukuran dilakukan/perhatikan pula variasi diurnal )

Demam kadang -kadang digambarkan sebagai demam ringan dan demam tinggi,
atau sangat tinggi.

Dengan cara pengukuran melalui rektal peningkatan suhu/demam berdasarkan


derajat peningkatan temperatur dibedakan :
1. #Sub Febril
Suhu tubuh seseorang antara 37,5˚ C - 38˚ C dikatakan mengalami kenaikan suhu
tubuh subfebril. Dapat disebabkan oleh proses-proses metabolisme sebagai kerja
otot. Didapatkan pada hipertiroidi, radang kronis. Juga biasanya menyertai suatu
infeksi-infeksi fokal seperti tonsilitis kronik, sinusitis. infeksi saluran kencing dan
peradangan adneksa.
2.# Mild 38-39 "°C
3.# Moderate fever 39°-40°C
4. #High Fever 40-41,1 °C
5. # Very High fever=Hiperpireksia(demam yang sangat tinggi misalnya oleh
karena infeksi, perdarahan di dalam otak)
Suatu keadaan kenaikan suhu tubuh sampai setinggi 41,2˚ C atau lebih (≥ 41,2˚ C )
(peningkatan set point)

Suhu Ketiak
1. Demam rendah 37,2o-38,3o
2. Demam sedang 38,3o-39,5o
3. Demam tinggi >39,5o

Suhu Oral
1. Demam rendah 37,7o-38,8o
2. Demam sedang 38,8o-40o
3. Demam tinggi >40o

Bandingkan dengan Hipertemia :


Hipertermia :
* Peningkatan suhu tubuh yang tidak disertai peningkatan set-point (hipertermia)
disebabkan oleh gangguan hormon, gangguan metabolisme, penggunaan obat-
obatan atau peningkatan suhu lingkungan sekitar/sehubungan dengan pemaparan
panas dari luar.
* Istilah umum untuk beberapa keadaan sakit yang berhubungan dengan panas
dimana peningkatan suhu tubuh inti > 38˚ C {(>37,5˚ per aksila)/38,3˚/38,8˚/38,9˚/40˚
C } tergantung referensi tanpa disertai peningkatan pengaturan suhu (Set-Point) di
otak hipotalamus. Di golongankan dalam 3 kategori : heat cramps(N,>38˚C), heat
exhaustion (39˚-41,1˚)dan heat stroke(>41,1˚C) .Pada Bayi baru Lahir peningkatan
suhu di atas 37,5 ˚ Celsius biasanya oleh karena suhu ruangan yang terlalu panas
atau pemakaian pakaian yang berlapis-lapis.Hipertermia maligna dapat merupakan
suatu komplikasi yang jarang dari anestesi umum. Hipertermi dapat disebabkan oleh
obat dan alat medis. Hipertermi untuk terapi misalnya untuk terapi kanker, biasanya
di kombinasi dengan radioterapi.
* Suhu Subnormal
Suhu tubuh di bawah 36˚ C ( < 36˚ C )/per aksila/misalnya pada bayi yang
mengalami stres dingin
* Hipotermi
- Pada bayi baru lahir : didefinisikan ketika suhu tubuh bayi turun di bawah 36,5 ˚
C/per aksila
- Keadaan suhu tubuh di bawah 35˚ C ( < 35˚ C )/per rektal /pada dewasa

* Suhu Badan Basal


Suhu badan basal maksudnya ialah suhu badan sesudah istirahat penuh, setelah
bangun pagi dan sebelum melakukan aktivitas apapun.
IV. Pengaturan Suhu Tubuh (Termoregulasi)

Regulasi suhu tubuh adalah salah satu proses dari usaha menjaga keseimbangan
di dalam tubuh.

Konsep "Set Point"


Konsep "Set-Point" dalam pengaturan temperatur yaitu semua mekanisme
pengaturan temperatur yang terus-menerus berupaya untuk mengembalikan
temperatur kembali ke tingkat "Set-Point". Set-point disebut juga tingkat temperatur
krisis, yang apabila suhu tubuh seseorang melampaui set point ini, maka kecepatan
kehilangan panas lebih cepat dibandingkan dengan produksi panas, begitu
sebaliknya. Sehingga suhu tubuh kembali ke tingkat set-point. Jadi suhu tubuh
dikendalikan untuk medekati nilai set point.
Termostat dalam hipotalamus di atur pada set point sekitar suhu 37 ˚ C dengan
rentang sekitar 1 ˚ C ( Nilai ambang=interthreshold range) , dan suhu dipertahankan
dengan menjaga keseimbangan pembentukan atau pelepasan panas.

Berdasarkan kemampuan mengatur suhu tubuh maka makhluk hidup dikelompokkan


dalam 2 golongan. Yakni makhluk berdarah panas (homoetermik) yaitu dapat
mempertahankan suatu suhu tubuh yang konstan dan makhluk hidup yang berdarah
dingin (heterotermik) yaitu makhluk yang suhu tubuhnya berubah-ubah sesuai suhu
sekelilingnya.
Sebagai makhluk yang homotermik manusia selalu berusaha mengatur suhu
tubuhnya relatif konstan terhadap perubahan suhu di sekitarnya. Suhu tubuh diatur
oleh suatu mekanisme yang menyangkut susunan saraf, biokimia dan hormon.
Fungsi pengaturan suhu tubuh atau termoregulasi dibedakan menjadi 3 fase, yaitu :
termal aferen, regulasi sentral dan respon eferen.
Termal aferen : deteksi sensasi termal oleh reseptor suhu. Reseptor-reseptor suhu
ini terletak di kulit dan membrana mukosa. Reseptor suhu tubuh bagian dalam juga
ditemukan pada bagian tertentu dari tubuh, terutama di medulla spinalis, organ
dalam abdomen dan torak, hipotalamus dan bagian lain dari otak serta sekitar vena-
vena besar. Reseptor dalam ini berbeda fungsinya dengan reseptor kulit karena
reseptor tersebut lebih banyak terpapar dengan suhu inti daripada suhu permukaan
tubuh.
Perasaan Thermoreseptif :Diskriminasi termal (pengenalan gradasi panas)
dideteksi oleh 3 jenis reseptor yaitu reseptor dingin, reseptor panas dan reseptor
nyeri. Reseptor nyeri hanya dirangsang oleh panas/dingin yang sangat hebat,
sehingga tidak dimasukkan dalam reseptor termal. Reseptor ini dapat mengadakan
proses adaptasi, artinya mula-mula ia terangsang dengan kuat tetapi kemudian
menjadi lemah (sensitivitas menurun).
Sinyal termal dihantarkan melalui serabut bermielin yang kecil dari golongan delta
(diameter 2-5 mikron) dan juga melalui serabut tipe C. Dalam memasuki Susunan
Saraf Pusat serabut-serabut termal berjalan dalam traktus Spinothalamikus lateralis.
Pada talamus ia mengadakan sinaps pada ventrobasal kompleks. Kemudia neuron
akan berjalan ke korteks Somestetik.
Regulasi Sentral
Meskipun bagian otak lain juga berperan, pusat integrasi pengendali suhu tubuh
(termostat) terdapat di hipotalamus. Hipotalamus menerima informasi (sinyal) suhu
tubuh bagian dalam dari suhu darah yang masuk ke otak dan informasi suhu luar
tubuh dari reseptor suhu (termoreseptor) di kulit.

Bagian otak yang berpengaruh terhadap pengaturan suhu tubuh adalah


hipotalamus anterior dan hipotalamus posterior.

Hipotalamus posterior merupakan pusat pengatur yang bertugas meningkatkan


produksi panas dan mengurangi pengeluaran panas. Bila suhu luar lebih rendah
pembentukan panas akan dilakukan dengan meningkatkan metabolisme, dengan
mekanisme kontraksi otot/menggigil, pengeluaran panas akan dikurangi dengan
vasokonstriksi (memperkecil) pembuluh darah kulit dan perangsangan produksi
keringat.
Hipotalamus anterior merupakan pusat pengatur pengeluaran panas. Bila suhu di
luar tubuh lebih tinggi maka pengeluaran panas ditingkatkan dengan cara
vasodilatasi (melebarkan), evaporasi(berkeringat), radiasi (dipancarkan), kontak
(bersinggungan/kompres), aliran (dari daerah panas ke dingin), dan konveksi.
Pengaturan suhu tubuh terjadi secara terpadu di hipotalamus berdasarkan sinyal
yang diterima dari kulit dan suhu inti tubuh.

Respon Eferen
Respon Terhadap Dingin

Bila termoreseptor di kulit menerima rangsang dingin , maka oleh neuron yang
sensitif terhadap dingin (cold-sensitive neuron) sinyal ini akan diteruskan ke
hipotalamus. Bila akumulasi suhu yang terjadi di hipotalamus sudah melebihi. Batas
minimal yang dapat ditoleransi, maka tubuh akan mengadakan adaptasi perilaku
seperti memakai selimut, baju hangat, atau sarung tangan. Mekanisme tubuh
lainnya untuk mengatasi Batas minimal yang sudah tidak dapat ditoleransi ini juga
dapat terjadi melalui aktivasi saraf motorik yang mengakibatkan terjadinya kontraksi
otot rangka seperti menggigil dengan akibat produksi panas akan bertambah dan
atau aktivasi sistem saraf simpatis yang mengakibatkan terjadinya vasokonstriksi
pembuluh darah kulit. Vasokonstriksi pembuluh darah kulit ini akan mengurangi
darah dan panas tubuh yang mengalir ke permukaan tubuh sehingga proses
penguapan melalui kulit dan pengeluaran panas melalui radiasi dan konduksi
berkurang (konservasi panas).
Respon terhadap panas
Hal ini akan mempertahankan panas di dalam tubuh tetap terjaga sehingga tubuh
kembali hangat. Bila termoreseptor di kulit menerima rangsang panas, maka oleh
neuron yang sensitif terhadap panas (warm-sensitive neuron) akan diteruskan ke
hipotalamus. Bila suhu yang terjadi di hipotalamus sudah melebihi Batas maksimal
yang dapat ditoleransi maka tubuh akan melakukan adaptasi perilaku seperti
membuka kancing baju, memakai kaus tipis atau membuka baju. Mekanisme lainnya
untuk mengatasi Batas maksimal yang sudah tidak dapat ditoleransi ini adalah
dengan mengaktivasi sistem saraf simpatik yang selanjutnya akan terjadi
vasodilatasi pembuluh darah kulit sehingga banyak darah dan panas tubuh mengalir
ke permukaan tubuh, dan hal ini akan menyebabkan pengeluaran panas tubuh
melalui penguapan, radiasi, dan konduksi melalui kulit meningkat sehingga suhu
tubuh kembali turun (aktivasi sistem saraf simpatis ini juga dapat merangsang
kelenjar keringat, sehingga produksi keringat bertambah)
V. Perubahan-perubahan Harian Suhu Tubuh Normal.

Suhu tubuh normal setiap orang berbeda-beda di samping itu pada seseorang
yang sehat pun dalam satu hari suhu tubuhnya dapat berubah-ubah, tetapi orang
yang sehat dapat menyesuaikan suhu badannya dengan aktivitas fisik dan
perubahaan suhu di sekitarnya, sehingga tidak ada perubahan suhu badan yang
berarti. Variasi temperatur normal ini dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin,
faktor lingkungan, faktor panjang waktu siang dan malam, faktor makanan yang
dikonsumsi dan faktor jenuh pencernaan air.
Pada semua orang , maka suhu badannya akan menunjukkan fluktuasi selama 24
jam . Suhu badan yang tertinggi terdapat pada jam 5-6 sampai jam 7-10
malam(meningkat pada sore hari menjelang malam/meningkat pada sore hari ).
Suhu badan yang terendah terdapat pada jam 2 sampai jam 4-6 pagi(turun setelah
tengah malam menuju subuh/rendah pada pagi hari). Dan pada waktu penderita
demam maka suhu badannya lebih tinggi dari suhu malam hari. seseorang
dikatakan demam bila suhu tubuh di antara pukul 00.00-12.00 lebih dari 37,2 derajat
C dan diantara pukul 12.00-24.00 lebih dari 37,5-37,7 derajat C.Pada anak usia
kurang dari 12 tahun, suhu tubuh waktu malam hari sering lebih tinggi, rata-rata
37,4oC.
Variasi suhu tubuh normal pada anak :
* Bayi umur kurang dari 6 bulan , variasi suhu tubuhnya sangat kecil setiap hari.
* Bayi 6 bulan sampai 2 tahun variasi perhari sekitar 1 derajat.
* Variasi suhu tubuh per hari berangsur-angsur meningkat sekitar 2 derajat sampai
umur 6 tahun.
Kenaikan suhu ½ derajat atau sedikit meningkat dapat terjadi setelah aktifitas ,
setelah mandi air panas , anak menangis, setelah makan atau cemas.

Pada wanita menjelang ovulasi suhu badan akan turun ( hari ke-12 dan 13 siklus
haid ), dan kurang dalam 24 jam sesudah ovulasi suhu badan basal naik lagi
sampai tingkat lebih tinggi sampai akan terjadi haid . Suhu basal yang sesudah
ovulasi tetap tinggi terus antara 37,2˚ C - 37˚,8 ˚ C adalah salah satu tanda adanya
kehamilan.

Melacak Masa Subur dengan Mengukur Suhu

Cara untuk menentukan adanya ovulasi (keluarnya sel telur) dengan cara
pengukuran suhu basal badan.
Syarat menentukan masa subur dengan pengukuran suhu tubuh adalah :
.
- Suhu badan diukur mulai berhentinya haid, segera setelah bangun pagi (awaking
temperature) sebelum bergerak dari tempat tidur, makan atau minum tiap
hari(sebelum melakukan aktivitas).
- suhu tubuh tidak dalam keadaan demam
- tidak tidur di dekat lampu yang sangat panas atau dengan AC yang sangat dingin
- Dikerjakan setiap hari pada jam yang sama selama tiga bulan.

Kalau suhu badan kacau, susah mengukurnya dan pemeriksaan pun gagal

Alat dan cara pengukuran :

Gunakan thermometer yang dimasukkan ke dalam mulut (dimasukkan di bawah


lidah) atau dubur (rektum) bukan yang dijepit di ketiak.
Dapat digunakan termometer khusus untuk mengukur suhu badan basal.
Letakkan termometer di bawah lidah selama 5-6 menit.
Tutup mulut selama pengukuran berlangsung.
Catatlah perubahan suhu yang terjadi setiap hari.
Hasil pencatatan dicatat pada kurve.
Jangan lupa untuk menghubungkan catatan hari ini dengan hari-hari berikutnya ,
sehingga membentuk kurva.

Hasil pencatatan :

Siklus Ovalatoar

Suhu badan bersifat bifasis


, yakni pada fase proliferasi suhu pada tingkat rendah dan pada fase sekresi pada
tingkat yang lebih tinggi.
Suhu yang paling rendah ialah pada saat LH surge untuk naik sesudah ovulasi.
Selisih suhu sebelum ovulasi dengan sesudahnya paling sedikit 0,4 derajat Celcius.

Siklus Anovalatoar
Tidak terjadi kenaikan suhu tubuh.
Terjadi pada siklus anovulatoar suhu basal, yaitu bersifat monofasis.
Yaitu tidak terjadi kenaikan suhu tubuh, bisa berarti tidak terjadi masa subur karena
tidak adanya korpus luteum yang akan memproduksi progesterone.

Kenaikan suhu tubuh terus berlangsung setelah masa subur (kenaikan suhu
lebih dari 19 hari), pertanda/menunjukkan kemungkinan dimulainya kehamilan/telah
terjadi konsepsi. Karena jika sel telur berhasil dibuahi, berarti korpus luteum akan
terus memproduksi hormone progesteon. Dengan demikian , suhu tubuh tetap tinggi.

VI. Peningkatan Suhu Tubuh


A. Demam/ panas
Secara umum peningkatan derajat suhu tubuh kita sebut demam, misalnya orang
yang terkena kuman yang suhu badannya dapat meningkat dan pada orang yang
terkena paparan panas atau anak yang setelah banyak bermain, secara umum
peningkatan suhu tubuhnya dikatakan tubuhnya panas atau demam . Namun
secara patogenesis/mekanisme peningkatan suhu tubuh/ penyebab, istilah ini
dibedakan dengan hipertermi . Istilah demam atau fever ditujukan untuk peningkatan
suhu tubuh dimana set point di hipotalamus meningkat sedangkan hipertermi
peningkatan suhu tubuh tidak meningkatkan set point di hipotalamus dan tidak
melibatkan pirogen. Membedakan demam dan hipertermi sangat penting karena
terdapat perbedaan dalam penanganannya. Hipertermi dapat dengan cepat menjadi
fatal dan tidak respon terhadap obat penurun panas (antipiretik)
Demam dapat terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran panas.
Demam dianggap terjadi kalau ada kenaikan suhu tubuh yang bersifat episiodik atau
persisten di atas nilai normal dan ada referensi yang mengatakan peningkatan suhu
minimal 24 jam . Demam biasanya lebih dikenal dalam masyarakat umum adalah
demam yang dihubungkan dengan peningkatan suhu akibat penyakit akibat kuman
atau karena tumbuh gigi pada anak. Jadi dalam pembahasan mengenai demam,
dikatakan peningkatan suhu tubuh secara abnormal dapat terjadi dalam bentuk
hipertermi dan demam.
Pada penampakan pertama (stadium pertama), tanda demam termasuk :
- suhu tubuh meningkat
- peningkatan denyut nadi
- meningkatnya pernafasan
-menggigil
- kulit dingin dan tampak pucat
- merasa dingin
Selama perjalanan dari demam (stadium kedua), tanda klinis termasuk :
- kulit terasa panas disentuh
- peningkatan denyut nadi dan pernafasan bertambah
- merasa haus
- dehidrasi
- hilang nafsu makan
- penderita merasa benar-benar sakit
- merasa cemas
- mengantuk, gelisah, dapat apatis dan dalam kasus berat delirium (mengigau)
Ketka demam mulai mereda (stadium ketiga), pasien masih merasa hangat (suhu
tubuh mulai menurun) dan kulit kemerahan, berkeringat, masih dehidrasi tapi tidak
merasa kedinginan lagi dan merasa sangat letih.
Panas atau demam sebenarnya bukan suatu penyakit , melainkan gejala dan
tanda berbagai dari penyakit terutama infeksi , jadi bukan diagnosis. Secara teknis,
kata gejala mengacu pada apa yang dirasakan atau dialami sesorang, misalnya
demam atau nyeri. Kata tanda (sign) tidak merujuk pada pengalaman subyektif
sesorang, tetapi pada sesuatu yang dapat diamati dan dapat diukur oleh petugas
kesehatan. Contoh tanda ini adalah demam (peningkatan suhu tubuh) atau denyut
jantung. Bayi dan anak kecil seringkali tidak mampu mengemukakan gejala khusus
secara verbal sehingga seperti halnya dalam literatur kesehatan anak maka kedua
istilah tersebut dianggap sama. Demam biasa disertai dengan gejala yang tidak
spesifik seperti rasa lemah, nyeri kepala, sakit pada otot dan perasaan panas dingin,
di samping itu keluhan dan gejala yang lebih khas dari penyakit penyebabnya bisa
ditemukan. Demam merupakan gambaran berbagai macam kelainan seperti infark
miokard, penyakit jaringan ikat dan sebagian keganasan , tetapi paling sering
disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus.
Mengetahui penyebab demam sangat perlu untuk menentukan pengobatan
bagi penderita. Agar mengetahui penyebab demam ini, Anda memerlukan bantuan
dokter untuk melakukan pemeriksaan fisik / gejala klinis penyakit dan mendiagnosis
penyebab demam.Karena penyakit tertentu sulit didiagnosis dengan melihat
keadaan fisik dan gejala klinis, maka pemeriksaan laboratorium ( dari darah, air seni,
cairan tubuh lain ) sering pula diperlukan untuk memastikan diagnosis sehingga
pengobatan pun lebih tepat. Beberapa sarana diagnostik lain seperti EKG, USG , X-
Ray, scanning dsb, kadang-kadang juga diperlukan.

Penyebab peningkatan suhu tubuh (demam dan hipertermi)

Penyebab umum suatu demam / peningkatan suhu tubuh adalah infeksi,


namun terdapat daftar penyebab peningkatan suhu tubuh yang lain yang
cukup banyak. Secara patogenesis jika peningkatan suhu tubuh tidak
meningkatkan set point di hipotalamus maka disebut hipertermi.

1.SET POINT HIPOTALAMUS MENINGKAT


a. pirogen
* Infeksi a.l : (oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus,parasit dan jamur)
- demam tifoid
- demam berdarah
- pes
- chikungunya
- penyakit tangan,kaki mulut
- kawasaki
- malaria
- influenza
- pilek
- sinusitis
- pnemonia
- bronkitis
- pertusis
- tbc
- tetanus
- meningitis
- mumps
- morbili ( campak )
- campak Jerman
- tonsilitis
- difteri
- otitis media(infeksi telinga tengah)
- cacar air
- infeksi saluran kencing
- radang hati
- abses
- penyakit kecacingan
- gastroenteritis
- radang usus buntu

- poliomielitis
- sepsis
Non Infeksi

* Keganasan
limfoma
karsinoma ginjal
* Penyakit kolagen
demam rematik
rematik atritis
periatritis nodosa
lupus eritematosus
* Penyakit iatrogenik
- vaksinasi
- demam obat (panas karena steroid)
* Penyakit hematologik/vaskuler
- Leukemia
- Anemia hemolitik
-Tromboflebitis
- Neutropenia Siklik
* alergi
b. Penyakit atau Zat
- Kerusakan susunan saraf pusat
- keracunan DDT
- kalajengking
- penyinaran
- keracunan epinefrin

2. SET HIPOTALAMUS NORMAL


a. Pembentukan panas melebihi pengeluaran panas
- hipertermia malignan
- hipertiroidisme
- hipernatremia
- keracunan aspirin
b. Lingkungan lebih panas daripada pengeluaran panas
- mandi sauna berlebihan
- panas di pabrik
- pakaian berlebihan
c. Pengeluaran panas tidak baik (rusak)
- displasia ektoderm
- luka bakar
- keracunan phenothiazine

- heat Stroke
3. RUSAKNYA PUSAT PENGATUR SUHU
Penyakit yang langsung menyerang set point hipotalamus
- ensefalitis/meningitis
- trauma kapitis
- perdarahan di kepala yang hebat
- penyinaran

Patofisiologi Demam

Pirogen (zat asing) adalah suatu zat (substansi) yang dapat menyebabkan demam.
Pirogen terbagi dua yaitu pirogen yang berasal dari luar tubuh (eksogen) dan pirogen berasal
dari dalam tubuh (endogen). Contoh pirogen eksogen antara lain bakteri, jamur, virus dan
produk-produk yang dihasilkan oleh agen-agen tersebut (misalnya, endotoksin). Pirogen
eksogen sendiri mempunyai kemampuan untuk merangsang pelepasan pirogen endogen.
Pirogen endogen dapat juga dilepaskan pada penyakit non infeksi seperti kerusakan jaringan
oleh sebab apapun (misalnya cedera tergencet), reaksi peradangan akibat luka besar atau
operasi, penyakit vaskular- kolagen, keadaan hipersensitivitas (misalnya reaksi obat atau
transfusi darah), penyakit Hodgkin, dan kanker sel ginjal.
Beberapa ahli fisiologi yakin bahwa zat pirogen eksogen mempunyai kerja langsung
pada termostat dengan meningkatkan setting. Akan tetapi, terdapat alasan yang dapat
dipercaya bahwa sebagian besar pirogen memengaruhi termostat hipotalamus secara tidak
langsung dengan cara sebagai berikut: Pirogen eksogen, dapat berupa infeksi atau noninfeksi,
akan merangsang sel-sel makrofag, monosit, limfosit, pan endotel (komponen sistem
kekebalan tubuh) (sel-sel ini secara autokatalisis dihancurkan waktu mereka melakukan
fagositosis jaringan) untuk melepaskan interleukin (IL)-1, interleukin (IL)-6, Tumor
''necrosis Factor (TNF)-a dan interferon (IFN)-α (selanjutnya disebut Pirogen Endogen
(PE) atau pirogen sitokin). Pirogen endogen ini, setelah berikatan dengan reseptornya di
daerah preoptik hipotalamus, akan merangsang hipotalamus untuk mengaktivasi fosfolipase-
A2 yang selanjutnya akan melepas asam arakhidonat dari membran fosfolipid, dan kemudian
oleh enzim siklooksigenase-2 (COX-2) akan diubah menjadi prostaglandin E2 (PGE2).
Rangsangan prostaglandin inilah, baik secara langsung maupun melalui pelepasan siklik
AMP, mengatur termostat pada suhu tubuh yang lebih tinggi. Hal ini merupakan awal dari
berlangsungnya reaksi terpadu sistem saraf autonom, sistem endokrin, dan perubahan
perilaku dalam terjadinya demam (peningkatan suhu). Pusat panas di hipotalamus dan batang
otak kemudian akan mengirimkan sinyal agar terjadi peningkatan produksi dan konservasi
panas sehingga suhu tubuh naik sampai tingkat suhu baru yang ditetapkan. Hal demikian
dapat dicapai dengan vasokontriksi (penyempitan) pembuluh darah kulit, sehingga darah
yang menuju permukaan tubuh berkurang, dan panas tubuh yang terjadi di bagian inti tubuh
tetap memelihara suhu inti tubuh. Epinefrin yang dilepas akibat rangsangan saraf simpatis
akan meningkatkan metabolisme tubuh dan tonus otot. Mungkin terjadi proses menggigil dan
atau individu berusaha mengenakan pakaian tebal serta berusaha melipat bagian-bagian tubuh
tertentu untuk mengurangi penguapan.
Selama demam, arginine vasopresin (AVP), alphamelanocyte-stimulating hormone,
dan corticotropin releasing factor akan dilepas oleh tubuh. Zat ini dapat bekerja sebagai
antipiretik endogen (antipiretik intrinsik) untuk menurunkan reaksi demam, sehingga suhu
tubuh tidak meningkat berlebihan. Efek antipiretik ini akan membuat rangkaian umpan balik
terhadap hipotalamus. Arginine vasopresin (AVP) atau vasopresin, atau juga dikenal sebagai
hormon antidiuresis yang diproduksi selama demam, akan menimbulkan retensi air oleh
ginjal dan hal inilah mungkin yang berperan dalam pengaturan suhu tubuh pada saat demam.
Namun, bagaimana persisnya mekanisme kerja antipiretik endogen ini sampai saai ini belum
jelas.
Pada mulanya yang dianggap sebagai pemicu reaksi demam adalah infeksi dan
produk infeksi. Dalam perkembangan selanjutnya ternyata beberapa molekul endogen seperti
kompleks antigen-antibodi, komplemen, produk limfosit dan inflammation bile acids juga
dapat merangsang pelepasan pirogen sitokin. Konsep bahwa sitokin dapat menginduksi
sitokin lain juga penting untuk dipahami untuk menerangkan mekanisme demam akibat
penyakit noninfeksi. Pada tumor, penyakit darah, keganasan, penyakit kolagen, penyakit
metabolik, sumber pelepasan PE bukan dari PMN tapi dari tempat lain.
Secara teoretis kenaikan suhu pada infeksi dinilai menguntungkan, karena aliran
darah makin cepat sehingga makanan dan oksigenasi makin lancar. Namun, kalau suhu makin
tinggi (di atas 38,5oC) pasien mulai merasa tidak nyaman, aliran darah cepat, jumlah darah
untuk mengaliri organ vital (otak, jantung, paru) bertambah, sehingga volume darah ke
ekstremitas (tangan dan kaki) dikurangi, akibatnya ujung kaki/tangan teraba dingin. Demam
yang tinggi memacu metabolisme yang sangat cepat, jantung dipompa lebih kuat dan cepat,
frekuensi napas lebih cepat. Dehidrasi terjadi akibat penguapan kulit dan paru dan disertai
dengan ketidakseimbangan elektrolit, yang mendorong suhu makin tinggi. Kerusakan
jaringan akan terjadi bila suhu tubuh lebih tinggi dari 41 oC, terutama pada jaringan otak dan
otot yang bersifat permanen. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan kerusakan batang otak,
terjadinya kejang, koma sampai kelumpuhan.

Kerusakan otot yang terjadi berupa rabdomiolisis dengan akibat terjadinya


mioglobinemia.

Tipe Demam
Beberapa tipe demam yang mungkin kita jumpai, antara lain :
1. Demam kontinyu (continous fever)
Pada tipe demam kontinyu variasi/fluktuasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih
dari satu derajat(fluktuasiminimal) tetapi tetap di atas suhu normal dan agak
konstan. Pada tingkat demam yang yang terus menerus tinggi sekali disebut
hiperpireksi.
Dapat ditemukan pada:
* meningitis
* demam tifoid/paratifoid
* pneumonia pneumokokus
* erisipelas
2. Demam intermittent
Pada tipe demam intermittent, suhu badan naik turun/berfluktuasi turun ke tingkat
yang normal/di bawah normal dan kemudian meningkat lagi dengan fluktuasi> 1
derajat C. Pada tipe demam intermiten suhu badan turun ke tingkat normal selama
beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi setiap dua hari sekali
disebut tertiana dan bila terjadi dua hari bebas demam di antara dua serangan
demam disebut kuartana.
Dapat ditemukan pada:
* malaria
* sepsis
* bakterial endokarditis
* gram negatif bakteriemia
* abses
* miliar tbc

3. Demam remiten (remittent)


Pada tipe demam remiten, suhu badan naik turun/berfluktuasi > 1-2 derajat ( tapi
tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat pada demam septik) setiap hari tetapi
tidak pernah mencapai suhu badan normal.
Dapat ditemukan pada :
* influenza
* malaria tropica
* tbc
* demam tifoid
4. Demam septik
Pada tipe demam septik, suhu badan berangsur naik ke tingkat yang tinggi sekali
pada malam hari dan turun sedikit kembali ke tingkat di atas normal (tidak sampai
normal) pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila
demam yang tinggi tersebut turun ke tingkat yang normal dinamakan juga demam
hektik.
5. Demam hektik

Dapat ditemukan pada :


* abses
* infeksi piogenik seperti pielonefritis dan kolangitis asendes
* tbc
* hipernefroma
* limfoma
* reaksi obat
6. Demam periodik/siklik/relaps
Demam periodik ditandai oleh episode demam berulang dengan interval regular atau
irregular. Tiap episode diikuti satu sampai beberapa hari, beberapa minggu atau
beberapa bulan suhu normal.
Berdasarkan sifat periodiknya :
Dapat ditemukan pada malaria :
Pada infeksi malaria, demam secara periodik berhubungan dengan waktu pecahnya
sejumlah skizon matang dan keluarnya merozoit yang masuk dalam aliran darah
(sporulasi).
- Demam quotidian
Demam dengan periodisitas siklus setiap 24 jam, khas pada malaria
falciparum {Demam quotidian ganda memiliki dua puncak dalam 12 jam (siklus 12
jam)}
- Demam tersiana
Skizon setiap kelompok menjadi matang setiap 48 jam sehingga periodisitas
demamnya bersifat tersiana, khas pada malaria vivax dan ovale.
- Demam kuartana
Demam dengan periodisitas siklus setiap 72 jam, khas pada malaria kuartana
(Plasmodium malariae)

* malaria : demam biasanya bersifat intermiten, dapat juga remiten atau kontinyu
(terus menerus).
* kolangitis
* hodgkin's diseases dan keganasan lain
# Relapsing fever adalah demam yang terjadi beberapa hari kemudian suhu tubuh
turun sampai normal beberapa hari, kemudian akan timbul demam lagi. Contoh :
malaria dan dengue
Pada malaria :
Dapat terjadi relaps yaitu gejala infeksi yang timbul kembali setelah serangan
pertama, dimana relaps dapat bersifat :
a. rekrudensi (atau relaps jangka pendek) yang timbul karena parasit dalam darah
menjadi banyak. Demam timbul lagi dalam waktu 8 minggu sesudah serangan
pertama hilang.
b. rekurens (atau relaps jangka panjang) yang timbul karena parasit daur
eksoeritrosit dari hati masuk dalam darah dan menjadi banyak, sehingga demam
timbul lagi dalam waktu 24 minggu atau lebih setelah serangan pertama hilang.

# Demam bifasik termasuk relapsing fever :


Terjadi beberapa hari (periode demam pendek) kemudian suhu tubuh turun sampai
normal beberapa hari (1-2 hari), kemudian akan timbul demam lagi.
- poliomielitis
- dengue

7. Undulan (Undulant fever)


Suatu tipe demam intermiten dan menetap, demam kira-kira 1 minggu-1 bulan diikuti
masa tanpa demam lalu demam lagi dst berulang seperti gelombang dan berakhir 6-
9 bulan.
Dapat ditemukan pada:
* Malta fever
* demam karena minum susu kambing yang mengandung brucella melitensis
(brucellosis)
* limfoma abdominalis
8. Demam efemera
Demam 1 hari disebabkan infeksi ringan saluran pernafasan, transfusi darah atau
pemakaian obat tertentu melalui IV.

Tindakan pada anak dengan demam diawali dengan pertimbangan apakah ada
kegawatan, apa penyebabnya dan apakah demam perlu segera diturunkan. Agar
tindakan tersebut tepat dan terarah,diperlukan suatu pengelompokan / klasifikasi
pasien agar dapat digunakan suatu algoritma umum. Pada tiap kelompok tetap ada
kriteria kegawatan, kriteria jenis infeksi yang mengarah kepada tindakan yang
diambil, terutama perawatan dan pemberian antibiotik secara empirik. Tindakan
yang dilaksanakan sebaiknya bukan tindakan yang sifatnya sesaat, tetapi
merupakan tindakan yang berkesinambungan, sampai pasien lepas dari
masalahnya. Keputusan untuk dirawat harus dilanjutkan dengan pemeriksaan
laboratorium dan pemberian antibiotik empirik. Tindakan lanjutan akan disesuaikan
dengan hasil pemeriksaan penunjang, respons pasien terhadap pengobatan sampai
masalahnya selesai dengan tuntas.

Klasifikasi Demam untuk Menentukan Tindakan


Demam dapat merupakan satu-satunya gejala yang ada pada pasien infeksi. Panas
dapat dibentuk secara berlebihan pada hipertiroid, intoksikasi aspirin ataua danya
gangguan pengeluaran panas, misalnya heatstroke.
Klasifikasi dilakukan berdasar pada tingkat kegawatan pasien, etiologi demam dan
umur
Klasifikasi berdasarkan umur pasien dibagi menjadi kelompok umur kurang
darri 2 bulan, 3-36bulan dan lebih dari 36 bulan. Pasien berumur kurang dari 2
bulan, dengan atau tanpa tanda SBI (serious bacterial infection)
. Infeksi seringkali terjadi tanpa disertai demam. Pasien demam harus dinilai apakah
juga menunjukkan gejala yang berat.
Menurut Yale Acute Illness Observation Scale atau Rochester Criteria,yang
menilai adakah infeksi yang menyebabkan kegawatan. Pemeriksaan darah (leukosit
dan hitung jenis) dapat merupakan petunjuk untuk perlunya perawatan dan
pemberian antibiotik empirik.
Klasifikasi berdasarkan lama demam pada anak, dibagi menjadi:
1.Demam kurang 7 hari (demam pendek) dengan tanda lokal yang jelas, diagnosis
etiologik dapat ditegakkan secara anamnestik(berdasarkan wawancara perjalanan
penyakit), pemeriksaan fisis,dengan atau tanpa bantuan laboratorium,misalnya
tonsilitis akut.
2.Demam lebih dari 7 hari, tanpa tanda lokal, diagnosis etiologik tidak dapat
ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisis, namun dapat ditelusuri dengan
tes laboratorium, misalnya demam tifoid.
3.Demam yang tidak diketahui penyebabnya,sebagian terbesar adalah sindrom
virus.
Di samping klasifikasi tersebut di atas, masih ada klasifikasi lain yaitu klasifikasi
kombinasi yang menggunakan tanda kegawatan dan umur sebagai
entry ,dilanjutkan dengan tanda klinis, lama demam dan daerah paparan sebagai
kriteria penyebab.
Pendekatan Tatalaksana

Pada tahap tertentu demam dapat menguntungkan pasien dalam arti dapat
meningkatkan fagositas (respon imun) dan menurunkan viabilitas kuman, meskipun
penelitian yang ada belum mendukung manfaat klinisnya. Namun kecemasan orang
tua dan keraguan dokter mendorong tindakan menurunkan demam, meskipun
tindakan itu dapat mengaburkan gejala dan obat yang dipakai belum tentu aman dari
risiko sindrom Reye ,intoksikasi salisilat, dan gangguan hati. Penurunan demam
harus sesuai dengan klasifikasi penyebabnya, apakah perlu menurunkan set-point
atau dengan cara lain.Tata laksana anak dengan demam terdiri dari tatalaksana fisis,
dan pengobatan baik simtomatik(gejala) maupun etiologik (penyebab).

Apa yang harus dilakukan jika demam (terutama untuk anak )?


- * Pertolongan pertama /pertolongan di rumah :

Tindakan Umum Penurunan Demam secara Simtomatik


(berdasarkan gejala)

Sebetulnya demam merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap serangan


penyakit misalnya oleh bakteri dan virus(penyebab utama demam pada anak). Para
ahli yakin, tubuh dapat lebih efektif melawan infeksi jika suhunya naik. Nah jika
perilaku si sakit tidak banyak berubah, tetap aktif, mau makan dan minum, biarkan
tubuhnya bekerja secara alami. Namun jika demam tinggi, misalnya mencapai 39
derajat C, biasanya justru menyebabkan penderita gelisah, tidak bisa tidur dan
kehilangan nafsu makan-minum, bila kondisi ini berlanjut, daya tahan tubuh justru
menurun dan makin sulit mengatasi serangan kuman.Jadi kita harus tetap waspada
dan demam tetap harus dipantau kalau-kalau demam tersebut mengarah ke
penyakit yang serius. Ingat untuk melakukan tindakan diatas sesuai klasifikasi di
atas: yaitu mempertimbangkan kegawatan penderita ,penyebab,usia, dan
kondisinya.

Hal-hal yang dapat dilakukan untuk merawat penderita demam a.l :


Penanganan fisiologis
1. Jangan panik.
Pada tahap awal ”serangan” penyakit, tubuh secara alami mempertahankan diri dan
melawan penyebab penyakit. Namun sering kali, jika terjadi pada anak, pada tahap awal
indikasi penyakit saja, Anda sudah panik, khawatir berlebihan, dan tanpa observasi dulu,
langsung membawanya ke dokter atau memberinya obat-obatan. Padahal tindakan ini bisa
menjadi berbahaya karena obat-obatan yang tidak perlu.
Menghadapi situasi tersebut yang perlu dilakukan orangtua adalah mencari tahu
penyebab tingginya suhu tubuh tersebut, apakah karena flu , radang tenggorokan, setelah
imunisasi, kekurangan cairan , suhu udara kelewat panas, terlalu lama bermain di terik
matahari atau penyebab lain.
Kemudian mencari informasi dan meminta penjelasan dokter tentang apa yang sedang
dialami anak adalah tindakan paling bijak yang bisa Anda lakukan sebelum memberikan
obat-obatan

2. Monitor kondisi anak
Ukur suhunya. Dan jika anak demam , seharusnya diukur lagi suhu anak setelah 20­30 menit,
untuk meniadakan kasus peningkatan suhu yang sementara. Yakinkan pakaian tidak terlalu
tebal atau terbungkus oleh selimut. Menangis dapat meningkatkan suhu. Anak yang demam
perlu dipantau terus suhu tubuhnya setiap 4­6 jam sekali dan catat apakah turun, stabil atau
malah   meningkat  .
Kita perlu tahu kondisi anak, lihat gejala yang muncul. seperti batuk, pilek, demam dengan
gejala   khas   misalnya   muncul   lesi   pada   penyakit   cacar.   Monitor   kondisi   anak,   apakah
gejalanya membaik atau tidak.   
3. Buka pakaian dan mantel/selimut yang berlebihan.  Kenakan pakaian yang tipis dan
nyaman yang dapat menyerap keringat. Kain linen dan katun memungkinkan pelepasan panas
yang baik.
4. Perhatikan Suhu kamar dan aliran udara di dalam ruangan .
Aturlah sirkulasi udara dalam kamar agar suhunya terasa nyaman. Dapat dengan kipas angin.
Jika   menggunakan   alat   pendingin   ruangan,   aturlah   suhunya   di   angka   22­24­26   derajat
C( suhu kamar sejuk) dengan kelembaban antara 65 % sampai 95 % karena suhu ruangan
yang nyaman akan merangsang tubuh untuk lebih gencar mengeluarkan panas dengan tujuan
menyesuaikan   diri.
4.   Peluk   Si   Kecil   agar   panas   badannya   berpindah   ke   tubuh   Anda. 
Bayi baru lahir yang sedang demam, paling baik digendong dengan metoda kanguru untuk
mengurangi panas tubuhnya. Caranya gendonglah bayi di dada dalam keadaan telanjang di
balik   pakaian   ibu   yang   longgar   agar   terjadi   sentuhan   kulit.   Kontak   kulit   membantu
menurunkan demam bayi. Gendong kanguru hanya cocok untuk demam akibat sakit ringan.
5.. Banyak Minum , makanan bergizi dan beristirahat. Beri asupan cairan lebih banyak,
lebih baik manis atau beri tambahan gula ( dapat air mineral, jus, minuman isotonik )( panas
terbuang lewat air kencing) . Teh dan minuman berkafein sebaiknya dihindari selama demam
karena kafein dapat menginduksi diuresis (sering berkemih). Makanan dingin seperti es krim,
buah­buahan dingin untuk memberikan rasa nyaman (melihat juga keadaan seperti apa ada
sakit menelan dan batuk sebaiknya jangan diberi makanan dingin). 
 Hanya   untuk   penderita   yang   demam   karena   radang   tenggorokan   akan   susah   menelan
sehingga biasanya tidak mau makan atau menyusu, coba tawarkan cairan sedikit demi sedikit,
misalnya 3­4 sendok, namun sering. Jangan langsung diberikan dalam jumlah banyak..
 Jika si kecil masih minum ASI sering­seringlah disusui. 
Biarkan anak memakan apa yang diinginkan. Jangan dipaksa. Hindarkan makanan berlemak,
karena sulit dicerna oleh tubuh. 

Minta anak beristirahat atau mengurangi aktivitas fisiknya. Tidur cukup agar metabolisme
berkurang. Dengan beristirahat cukup, tubuh akan cepat kembali bugar.
6. Jika si sakit merasa tidak nyaman atau suhunya melampaui 37,5;>39 derajat Celsius
berikan   kompres   air   hangat   atau   kompres   basah(   bukan   air   es). 
Cara kompres 
­  Makin tinggi suhu demamnya, makin hangat air kompres yang diberikan. Yang dimaksud
"hangat" adalah tak lebih dari suhu tubuh anak. Suhu air yang paling baik untuk kompres
adalah   27o-34oC.Kompres suhu >39oC: air hangat; suhu >38oC: air biasa-hangat­hangat
kuku.
Derajat   suhu   air   untuk   pengompresan   diklasifikasikan   sebagai   berikut   :
1.   Dingin   sekali   :   Di   bawah   15ºC  
2. Dingin : 15­18ºC
3. Sejuk/biasa : 18 – 26ºC (65 – 80ºF)
4. Hangat kuku : 26 – 34ºC (80 – 93ºF)
5.Hangat : 34 – 37ºC (93 – 98ºF)
6.Panas : 37 – 41ºC (98 – 105ºF)
7.Sangat panas : 41 – 46ºC (105 – 115ºF)

­   Kompres   dengan   handuk   kecil   pada   daerah   leher,   ketiak   atau   selangkangan(tempat
berlalunya pembuluh darah besar) , dan jika perlu dahinya.
­   Mengusap   air   hangat   disekujur   tubuh   dengan   handuk   basah   lalu   keringkan.Diulangi
beberapa kali hingga suhu tubuhnya turun.(
­ Kalau perlu/Mandi air hangat (30­32 º Celcius).
­ Berendam/mandi celup  dalam air hangat, cukup 5­10 menit.
­ Cek suhu setelah 30 menit kemudian.
Yang perlu diperhatikan waktu mengompres.

     Waktu   mengompres  tidak   dianjurkan   alkohol  karena   selain   beresiko   mengiritasi
mata,mengiritasi kulit dan uapnya bisa terhirup . 
     Kompres   dengan   menggunakan   air   dingin   dan   alkohol   untuk   menurunkan   suhu   tubuh
sudah dikenal sejak zaman dulu kini, yang lazim digunakan untuk membantu menurunkan
suhu tubuh anak adalah kompres air hangat , karena jika suhu di luar tubuh terasa hangat,
maka tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu di luar cukup panas.  Dengan demikian,
tubuh   akan   menurunkan   kontrol   pengatur   suhu   tubuh   lagi.   Semakin   tinggi   demamnya,
sebaiknya   semakin   berambah   kehangatan   airnya.   Hal   ini   agar   perbedaan   antara   suhu   air
dengan suhu tubuh anak tidak terlalu besar. Jika kompres diberikan dengan air yang terlalu
dingin, maka pembuluh darahnya akan mengecil, sehingga panas tubuh tidak keluar. Anak
pun bisa semakin menggigil untuk mempertahankan keseimbangan suhu tubuhnya.
      Kompres sekali pakai boleh dipakai tapi tidak direkomendasikan anak di bawah 2 tahun,
karena   kulit   bayi   masih   sensitive   dan   daerah   yang   dikompres   pun   hanya   sebagian   kecil
permuakaan tubuh, padahal prinsip mengompres membasahi seluruh permukaan tubuh.
       Meletakkan kompres pada tempat yang tepat.
Panas tubuh akan keluar melalui pembuluh­pembuluh darah besar yang dekat dengan kulit
yang   berada   di   leher,   ketiak   dan   selangkangan.   Oleh   karena   itu,   sebaiknya   pemberian
kompres dilakukan di sekitar pembuluh­pembuluh darah besar, seperti di ketiak dan lipatan
paha   sekitar   15­20   menitt.   Perut   atau   bagian   tubuh   yang   luas   dan   terbuka   dapat   pula
dikompres.
          Mengompres dengan Menyeka 
          Caranya : celupkan 2/3 handuk kecil ke dalam air hangat, lalu usapkan pada kening,
muka, telinga, leher, lengan lipat paha, dan kaki. Lakukan selama 15­20 menit sampai suhu
tubuh turun di bawah 38 derajat Celsius.  
Memandikan anak
Bila perlu, mandikan anak dengan air hangat karena selain berfungsi untuk mengompresnya,
mandi   juga   membersihkan   tubuh   anak   dari   kuman   yang   ada   di   kulitnya.   Jadi   bila   anak
demam sebaiknya mandikan dengan air hangat. Setelah mandi segera keringkan tubuh anak
dengan   handuk   dan   cepatlah   berganti   pakaian   agar   tidak   kedinginan.  

Mandi   berendam    

untuk demam suhu 40oC, rendamlah anak Anda dalam air hangat selama 15 menit. Jika anak
menggigil atau memprotes bahwa airnya mulai dingin , cepat angkat.  
   Menyeka dengan air suam­suam kuku atau air dingin sebaiknya tidak dilakukan  pada anak
yang menderita pneumonia karena hal tersebut akan meningkatkan pemakaian oksigen dan
meningkatkan produksi karbondioksida yang dapat menyebabkan kegagalan pernapasan pada
anak.

Peranan   kompres   :
Tindakan   mengompres   akan   melancarkan   sirkulasi   darah   dan   membuka   pori­pori   kulit
sehingga memberikan kesempatan panas keluar dari tubuh ke lingkungan sekitarnya. 

   Bila suhu demam anak sampai di atas 39o C maka sebaiknya lakukan pengompresan untuk
membantu menurunkan suhunya .Kompres dilakukan juga jika anak gelisah dan tak nyaman,
anak muntah­muntah dan tak bisa minum obat penurun panas. Juga merupakan pertolongan
pertama  bila  di malam  hari  di mana  kebetulan  persediaan obat penurun panas  tidak ada.
Kompres   bermanfaat   menurunkan   demam   dalam   waktu   30­45   menit.
7.   Usahakan   si   sakit   tidak   stres   atau   bertambah   stres  

JIka   dengan   penanganan   fisiologis   ternyata   suhu   tubuhnya   tak   kunjung   reda   atau
sembuh. Penanganan yang harus dilakukan : 
1. Tetap melakukan penanganan secara fisiologis
2. Berikan obat penurun panas
*     Sebaiknya hanya diberikan jika suhu diatas  38,5  ºC (per aksila) karena di suhu   ini fungsi­
fungsi tubuh sudah bisa terganggu.(kecuali pada bayi muda indikasi segera)
Demam yang tinggi (≥39ºC /per anus) dapat menimbulkan efek yang mengganggu seperti :
­ berkurangnya nafsu makan
­ membuat anak gelisah
­ menyebabkan kejang pada beberapa anak yang berumur antara 6 bulan­5 tahun
­ meningkatkan konsumsi oksigen (misalnya pada pneumonia sangat berat, gagal jantung atau
meningitis)
Indikasi lain pemberian obat penurun panas. 
­ Penyebab penyakit telah diketahui dan pengobatan yang sesuai telah dimulai, namun demam
masih menetap dan menimbulkan ketidaknyamanan.
­ Demam pada penderita kanker.  

*  Menurut pedoman NICE (National Institute for Health and Clinical Excellence­UK), obat anti
demam tak bisa digunakan secara rutin pada anak dengan demam. Kecuali, si anak kemudian
menunjukkan gejala ketidaknyamanan, seperti menangis berkepanjangan, iritabilitas, aktifitas
yang berkurang, selera makan menurun dan gangguan tidur, boleh saja diberikan obat anti
demam. Dan segera dihentikan jika ketidaknyamanannya reda dan suhunya sudah menurun.
* Sementara menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan, indikasi pemberian obat
anti demam perlu memerhatikan beberapa hal. Antara lain : jika demam lebih dan sama dari
39(≥ 39) derajat C (diukur melalui rektal), anak merasa tidak nyamam dan muncul gejala
nyeri,   tidak   bisa   tidur,   tidak   mau   makan   dan   lainnya.   Kemudian   demam   lebih   dari   40,5
derajat C, demam yang berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme, keadaan
undernutrition  atau anak dengan gizi buruk, anak berpenyakit jantung, terjadi luka bakar,
pasca operasi yang memerlukan anti demam, dan anak dengan riwayat kejang atau delirium
yang disebabkan oleh demam . 

Alasan : 
Pada dasarnya, semakin tinggi suhu tubuh anak maka semakin efektif membunuh kuman sebab
mereka tidak tahan panas sehingga cepat mati. Jika suhu baru 38 derajat Celcius langsung
diberi obat penurun panas maka yang diuntungkan adalah si kuman karena bisa lebih lama
hidup. Tujuan : supaya suhu tubuh anak bisa ikut membantu membunuh kuman . 
    * Dapat juga mulai 38oC atau jika akibat demam anak merasa tak nyaman, rewel, tampak
menderita, tak mau makan minum, pegal­pegal atau sakit badan, sakit kepala dan lainnya.
Dikemukakan   bahwa obat penurun panas biasanya hanya menurunkan panas satu derajat
saja. Kalau turunnya lebih dari itu, ada kemungkinan tubuhnya sendiri yang menurunkan
suhu tersebut.
    * Pada anak dengan riwayat kejang , orang tua harus berhati­hati, berikan penurun demam
walau hanya teraba hangat ( suhu baru mencapai sekitar 37,5  o C  demikian pula pada anak
bayi   dan   balita.   Jika   mereka   demam   maka   harus   segera   diberikan   obat   penurun   demam.
Jangan sampai melebihi 38,5 derajat Celcius. Sebab anak usia ini biasanya sulit beristirahat. 
Pada bayi tubuhnya terasa tidak nyaman sehingga ia tidak mau tidur. Sementara pada anak
balita biasanya kurang istirahat, lari ke sana kemari, membuat daya tahan tubuhnya menurun
sehingga penyakit bisa tambah parah. Dengan obat penurun panas biasanya anak akan lebih
nyaman sehingga bisa beristirahat. 
* Obat Penurun panas *
Parasetamol   :   Pemberian   parasetamol   oral   harus   dibatasi   pada   anak   umur   ≥    2   bulan   yang
menderita   demam   ≥   39   derajat   C  per   anus   dan   gelisah   atau   rewel   karena   demam   tinggi
tersebut. Walaupun demam tinggi jangan menggunakan obat antipiretik misalnya parasetamol
untuk mengontrol demam pada bayi muda. Atur suhu lingkungan. Jika perlu, buka baju bayi
tersebut.   Anak   yang   sadar   dan   aktif   kemungkinan   tidak   mendapatkan   manfaat   dengan
parasetamol. 
Karena khasiat dan keamanannya telah teruji klinis dan pemakaiannya yang luas selama lebih
dari 3 dekade, parasetamol diakui sebagai antipiretik(penurun panas) pada anak yang cukup
baik.   Selama   di   konsumsi   dengan   dosis   yang   tepat,   parasetamol   aman   dan   baik.   Tidak
menyebabkan gangguan lambung, namun dosis besar dan pemberian dalam jangka waktu
yang   lama   dapat   menyebabkan   kerusakan   hati.   Masa   kerjanya   pendek,   hingga   obat   ini
sebaiknya   diberikan   3   kali   perhari   dan   4   kali   sehari   dalam   keadaan   tertentu   (konsultasi
dengan dokter) . Dosisnya 10­15 mg untuk setiap kilogram berat badan per pemberian. 
Meski cukup aman, namun karena banyaknya produk obat yang menggunakannya sebagai bahan
campuran,   belakangan   ini   banyak   penelitian   yang   menyebutkan   terjadinya   overdosis
parasetamol akibat penggunaan jangka panjang.
Obat lainnya: 
Yang   tidak   dianjurkan   untuk   bayi   atau   anak­anak   di   bawah   16   tahun   adalah   asetosal   dan
metamisol karena dapat berakibat fatal. 
Asetosal(aspirin   tidak   direkomendasikan   sebagai   antipiretik   pilihan   pertama   karena   dikaitkan
dengan sindrom Reye, suatu keadaan yang jarang terjadi namun serius yang menyerang hati
dan otak.   Pemberian asetosal dihindari juga pada anak yang menderita cacar air, demam
dengue   dan   kelainan   hemoragik   lainnya.)   Obat   lain   tidak   direkomendasikan   karena   efek
toksiknya dan tidak efektif (dipiron/metamisol, fenilbutazon) atau mahal (ibuprofen). Penting
pula diperhatikan, jangan memberi bayi 2 golongan obat sekaligus atau obat penurun panas
yang kombinasi asetaminofen dan ibuprofen.

Kapan obat  penurun panas  diberikan  pada anak? Beberapa  contoh  kondisi anak demam  dan


penanganan   :
­ Bila demam tidak tinggi, jangan berikan obat demam dan tidak perlu kompres, minum
banyak   saja.
­ demam : mengompres, lebih baik mengusahakan dulu dengan menyeka seluruh permukaan
tubuh   dengan   handuk   kecil   yang   dibasahi   air   hangat.
­   <38.3’C   :   Tidak   perlu   obat   penurun   panas,   ekstra   cairan   (minum   banyak).

­   38.3   –   40’C,   anak   rewel   :   Beri   obat   penurun   panas,   kompres   hangat.

­ >40’C : Beri obat penurun panas, kompres hangat, hubungi dokter. 
     ­ Pasien dengan panas tinggi ternyata dengan obat penurun panas sudah cukup maka tak perlu
dikompres lagi. 

- Membawa anak  ke dokter

 Apapun jenis penyakitnya sebaiknya segera di bawa ke dokter, terlebih jika usianya belum
genap setahun, karena daya tahan tubuh anak relatif lebih lemah dibanding orang dewasa. 
******************************************************************************
**************************

*  Saat   Tepat   Ke   Dokter 

 
*   Yang   terbaik   secepat   mungkin.

*   Tak   perlu   menunggu   sampai   2­3   hari 


Sebelum   ke   dokter,   setidaknya   menunggu   sampai   24   jam,   sembari   memerhatikan   gejala­
gejala   tambahannya,   biasanya   kalau   gejalanya   ringan.*   Apabila   langkah   menurunkan
demam   tidak   membawa   hasil   permanen   dalam   waktu   enam   jam,   sebaiknya   balita
segera di bawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.  Balita yang tetap mengalami
demam   walaupun   telah   diberi   satu   sampai   dua   kali   obat   penurun   panas   memerlukan
penanganan   lebih   lanjut   oleh   dokter.
  
*   Anggapan   Tunggu   Hingga   3   hari  Ada   anggapan   yang   sejatinya   salah,   ketika   anak
demam, tunggu saja dulu 3 hari. Jika demam tak turun baru mereka membawa anaknya ke
dokter. Anggapan ini tidak bisa disamakan terhadap seluruh penyakit. Proses menunggu pun
harus dikonsultasikan ke dokter, tidak bisa dilakukan atas kemauan sendiri. Untuk kebaikan
anak, kebiasaan menunggu demam 3 hari perlu dihindari. Segera bawa anak ke dokter dan
biarkan dokter mendiagnosis penyakit anak. Sangat mungkin diperlukan diagnosis tambahan
mengingat   untuk   menjaga   kemungkinan   adanya   penyakit   yang   di   luar   kebiasaan.  

 Sikap   waspada   harus   selalu   dimiliki   karena   ada   penyakit   yang   memiliki   "ritme"   unik.
Misalnya demam berdarah ada fase yang dapat mengecoh orang tua yaitu setelah demam 2
hari (umumnya) masuk hari ketiga suhu menurun dapat dianggap sudah membaik, padahal
virus sementara giat­giatnya bekerja anak masuk ke dalam fase kritis di mana suatu keadaan
yang sangat menentukan . Apabila penanganan tepat dan cepat akan dapat melewati  fase
tersebut   dan   masuk   ke   fase   penyembuhan
*   Pengalaman   Ibu  
           Membawa   anak   ke   dokter   biasanya   tergantung   pada   sensitivitas   orangtua.   Ada
orangtua yang anaknya baru demam beberapa  jam saja langsung membawanya ke dokter. Ia
tidak mau ambil risiko terjadi sesuatu yang lebih parah pada anaknya. Kondisi ini umumnya
dilakukan para orangtua yang baru punya anak, punya anak satu­satunya, atau anak yang
sudah   lama   dinanti   kelahirannya.
    Adapula orangtua yang menunggu demam anak selama beberapa hari , misalnya sampai 3
hari. Ia hanya memberikan obat penurun panas atau memberi banyak minum. Bila dalam
waktu tersebut tak mengalami perubahan, barulah ia membawanya ke dokter. Biasanya ini
dilakukan   para   orangtua   yang   anaknya   sudah   lebih   dari   satu   atau   sudah   berpengalaman
menghadapi   anak   demam.
    
             Tindakan   kedua   orangtua   itu   adalah   wajar.  Bagi   orangtua   yang   menunggu
demam   hingga  beberapa   hari  pun boleh  saja.  Asalkan,  orangtua  memang   bisa  memantau
keadaan   anaknya   dan   sudah   mengerti   kondisi   anaknya   bila   sakit.   Jadi   bergantung   pula
pengetahuan  dan  pengalaman  orangtua  menghadapi  si  anak,  ia  sudah mengetahui   apakah
anaknya   sekedar   sakit   biasa   atau   bukan.   Seperti   demam   ringan,   pilek   dan   batuk   ringan
disertai   demam   ada   yang   sudah   membaik   di   hari   ketiga.   Memang   secara   ilmiah   justru
penyakit­penyakit ringan misalnya infeksi  virus yang menyebabkan ISPA dapat merupakan
latihan bagi anak untuk memperkuat sitem imun anak. ( Sebaiknya ibu yang mengambil sikap
ini   sudah   mengerti   penanganan   tentang   pertolongan   pertama   jika   anak   sakit   seperti
melakukan monitoring kondisi anak, memberikan banyak minum dan istirahat, memberikan
makanan bergizi, pilih­pilih makanan :; misal jangan beri minuman dingin jika pilek dan
dapat mengatasi hidung tersumbat   :: memberi obat jika perlu seperti parasetamol untuk
demam jika ia menduga suatu penyakit yang sembuh sendiri dengan antibodi (self limiting
disease)   .).   Lebih   baik   lagi   jika   mendapatkan   panduan   dari   dokter   keluarga/   dapat   per
telepon.   )
*  Segera   tak   menunda­nunda   lagi  /segera   ke   dokter  
         Meski begitu/masih dapat menunggu beberapa hari untuk penyakit yang di duga dapat
sembuh   sendiri,   orangtua   sebaiknya   tak   menunda­nunda   membawa   anak   ke   dokter   bila
menunjukkan   hal­hal   berikut   jika   :
 ­ bayi berusia kurang dari 3 bulan 
­   Demam   :  
*   dengan   suhu   dubur   sama   dengan   atau   lebih   dari   38   derajat   Celcius.
*   Suhu   mulut/oral   melebihi   37,5   derajat   Celsius   atau   99,5   derajat   Fahrenheit
*   Suhu   aksilari   (ketiak)   melebihi   37,2   derajat   Celsius   atau   99   derajat   Fahrenheit
*   Suhu   telinga   melebihi   37,   5   derajat   Celsius   atau   99,5   derajat   Fahrenheit
­ Lesu dan sulit bangun
­ Menangis tanpa henti selama beberapa jam.
 Tidak mau makan/menetek.
 Suhu tubuh rendah (kurang dari 36oC) meskipun sudah berpakaian semestinya.
 Kulit yang terasa dingin dan lembab.
 Bibir, lidah, dan kuku terlihat berwarna biru.
 Bibir kering dan pecah-pecah ( ditandai dengan adanya pengelupasan bibir dan berwarna
putih).
 Lemah dan mudah jatuh dibanding dengan aktivitas dan pola ototnya yang normal.
 Hidung bayi tersumbat ingus , hingga bayi tidak dapat bernafas.
 
alah satu atau kedua matanya berubah pink bulu matanya lengket, kotorannya berwarna putih
serta lengket.
 Diare pada bayi lebih dari 6 - 8 kali sehari (terutama bila tinjanya cair).
Bagian lunak di kepala yang tampak menggelembung atau menonjol ke luar dan tidak bergerak
naik turun sewaktu anak menangis.
 Pusar kemerah-merahan dan terasa empuk bila ditekan.
 Muntah-muntah.

Bayi berusia lebih dari 3 bulan sampai setahun : Tanda darurat/peringatan bila :
∙        Bayi berusia lebih dari 3­6 bulan dengan suhu dubur sama atau lebih dari 38/38,5 derajat
Celcius dan 39 atau 40 derajat Celsius untuk 6 bulan ke atas. 
­   Lesu   dan   sulit   bangun­   Lumpuh   dan   menolak   untuk   bergerak
­   Sangat   rewel  
­ Bintik­bintik merah/ungu mirip memar pada kulit (yang tidak ada di situ sebelum anak
sakit)
­   Tangis   yang   sulit   dihentikan   selama   berjam­jam
­   Leher   kaku
­   Sakit   kepala   parah
­   Sulit   bernafas   yang   tidak   membaik   dengan   membersihkan   hidung
­   Condong   ke   depan   dan   mengeluarkan   air   liur
­   Serangan   mendadak
­   Bibir,   lidah   dan   kuku   yang   terlihat   biru
­   Bagian   lunak   di   kepala   yang   tampak   menonjol   keluar
Hubungi   dokter   anak   Anda   : 
­   Rewel   meskipun   demam   sudah   turun
­   Tidak   tertarik   pada   mainan   atau   benda   kesukaan
­   Tidak   mau   minum   selama   beberapa   jam
­   Demam   yang   berlangsung   lebih   tiga   hari
­   Demam   yang   timbul   lagi   setelah   hilang   selama   satu   atau   dua   hari
­   Sering   demam   yang   tidak   terkait   dengan   gejala   pilek   atau   sebab   lain   yang   jelas. 

­  Anak   berusia   3   tahun   atau   lebih


∙     demam   tinggi   di   atas   40º   C
­   dengan   demam   lebih   dua   /tiga   hari   khususnya   tanpa   batuk   pilek  
­   walau   baru   1   hari   demam   tetapi   keadaanya   sangat   lemas  
*   Tidur   terus   menerus,   lemas   dan   sulit   dibangunkan..   .

­ Demam dengan :
∙     sesak,   Sulit   bernapas,   nafas   berat   atau   bernafas   terlalu   cepat   padahal   Anda   sudah
mengeluarkan   ingusnya   ,   nyeri   dada   (mungkin   asma   atau   pneumonia).
*   sakit   kepala   berat
*   pembengkakan   hebat   pada   tenggorokan,
*   telinga   sakit
* ruam kulit / ada bintik kemerahan yang tidak berubah warna jika dipencet atau bercak
berwarna   keunguan   pada   kulitnya
*   mata   menjadi   sensitive   terhadap   cahaya   terang.­  
*   kaku   kuduk   leher   ,   kejang   dan   kesadaran   menurun 
*   Demam   disertai   gelisah,   muntah   dan   diare.
*Tidak mau makan dan minum atau sudah mengalami dehidrasi. Tanda dehidrasi antara lain
kekeringan pada mulut, ludah sedikit, volume urin kurang atau sangat sedikit, serta berwarna
gelap   dan   sangat   jenuh,   mata   cekung,   kehilangan   elastisitas   kulit   dll.
*   Menangis   terus   menerus,   tidak   dapat   ditenangkan
*   Wajah   pucat   atau   kemerahan. 
*   Bila   demam   tinggi   dan   tidak   turun   dengan   pemberian   obat   lebih   dari   satu   hari   .
 */ pada anak dengan gizi buruk
*   /disertai   perdarahan..  
* anak yang memiliki kelainan bawaan , seperti kelainan jantung, paru atau ginjal. 
Segala Usia Sebaiknya segera di bawa ke dokter apabila keadaan berikut dengan ataupun tanpa
demam.
•     Demam   tinggi
•     Tubuh   menggigil
•     Pingsan
•     Tidur   berlebihan   atau   kelesuan   tanpa   sebab
•     Menangis   histeris
•   Salah   satu   anggota   tubuh   terasa   lemas   dan   lumpuh   secara   tiba­tiba
•     Kejang   atau   gerakan   yang   tidak   terkontrol   pada   tangan   atau   kaki
•     Pening   yang   tak   tertahankan.
•     Hidung,   mata   atau   dahi   terasa   sakit,   kaku   dan   berat
•     Keluar   cairan   dari   hidung   berwarna   pekat/kehitam­hitaman,   berbau   tak   enak   atau
berdarah.
•     Tiba­tiba   hilang   pendengaran.
•     Sakit   telinga
•     Keluar   kotoran   cair   dari   telinga
•     Tiba­tiba   mengalami   penurunan   penglihatan.
•     Mata   merah,   basah   dan   sembab   dengan   atau   tanpa   diikuti   penglihatan   yang   kabur.
•     Mata sensitif akan sinar, terutama jika si kecil tengah mengalami demam, sakit kepala
atau   leher   kaku.
•     Bagian   putih   mata   atau   kulit   berwarna   kuning.   Terutama   bila   dibarengi   sakit   perut
dan/atau   disertai   air   seni   berwarna   gelap   (seperti   teh).
•     Leher   terasa   kaku   dan   sakit.   Terutama   jika   disertai   sakit   kepala   dan   demam.
•     Nyeri   pada   tenggorokan,   terutama   jika   sampai   memiliki   masalah   saat   menelan   atau
berbicara.
•     Ngeces   yang   tidak   terkontrol   akibat   susah   menelan.
•     Susah   bernapas   biasanya   ditandai   dengan   ritme   papas   yang   cepat/memburu   dan   tak
beraturan.   Terutama   jika   disertai   bibir   atau   kuku   berwarna   pucat   atau   kebiru­biruan.
•     Batuk   kuat   yang   terus­menerus,   terutama   dahak   berwarna   pekat   atau   disertai   darah.
•     Muntah   lebih   dari   12   jam   atau   lebih.
•     Muntah   darah
•     Sakit   perut   yang   hebat  
•     Perut   kembung   dan   membesar.
•     Diare   yang   disertai   darah.
•    Rasa sakit di daerah punggung, terutama jika disertai demam dan rasa tak nyaman ketika
BAK.
•     BAK   terasa   nyeri   dengan   frekuensi   yang   tidak   biasanya
•  Air seni berwarna keruh, berdarah atau disertai ban tak sedap
    *   Vagina   mengeluarkan   kotoran   berwarna   putihlcokelat   kehitam­hitaman   dan/atau   berbau
•     Tulang   sendi   terasa   nyeri,   kemerahan,   bengkak   tanpa   dapat   dijelaskan   alasannya.
•     Luka tergores atau terpotong yang menimbulkan rasa papas, merah, bengkak dan perih
•     Rasa  gatal   di   hampir   seluruh   tubuh,   terutama   bila   sampai   tumbuh   bisul/jerawat   yang
melepuh
   .* anak yang memiliki kelainan bawaan , seperti kelainan jantung, paru atau ginjal.* 

Waspadai demam pada bayi
Tingginya suhu tidak selalu berhubungan dengan beratnya penyakit. Ada penyakit yang ringan tetapi, demam yang
terjadi  sangat  tinggi. Sebaliknya  ada keadaan  di  mana  demam  tidak tinggi, namun penyakitnya  berbahaya.
Karena itu , banyak ahli menganjurkan juga untuk mengamati perilaku dan aktivitas anak sebagai alat ukur
beratnya   penyakit,   karena   pada   anak­anak   pengendalian   temperatur   tubuhnya   masih   dalam   pertumbuhan,
dimana semakin muda usia bayi, semakin kecil kemampuan untuk merubah set­point dan memproduksi panas.
Misalnya pada bayi  kecil  sering terkena  infeksi berat  tanpa disertai  dengan gejala demam  atau suhu tubuh
mudah sekali naik pada anak­anak meskipun sakit yang ringan.  *Demam anak bisa mencapai 39,4­40,6 derajat
C tapi masih dapat bermain dan berlari­lari mungkin masih merupakan infeksi virus ringan daripada dibanding
demam   pada   suhu   38,3   tapi   diam   dan   pucat   merupakan   sakit   lebih   parah.   Jadi   kuncinya   bagaimana
penampilan.Tingkat aktivitas anak yang lebih besar sering menunjukkan apakah ia benar­benar sakit atau hanya
pilek saja.  
        * Pada bayi, membedakan kedua hal tersebut jauh lebih sulit. Dokter anak Anda mungkin harus melakukan
serangkaian tes agar yakin bahwa bukan infeksi serius yang menjadi penyebab demam si bayi. Tes tersebut bisa
berupa pemeriksaan darah, urin, dan cairan tulang belakang bayi. Kadang­kadang bayi dibawa ke rumah sakit
selama beberapa hari untuk diamati dari dekat diberi antibiotika sebagai pencegahan sampai tes menunjukkan

bahwa bayi tersebut tidak sakit serius .  Meskipun sebagian besar demam pada bayi yang masih sangat kecil
disebabkan oleh infeksi virus yang tidak berbahaya, para dokter tetap melakukan pendekatan "lebih baik selamat
daripada menyesal" dan mengobati bayi kecil dengan lebih agresif daripada yang dilakukan pada anak yang
lebih besar yang menderita demam.
* Pada orang dewasa, tingkat demam biasanya mencerminkan beratnya  penyakit yang menyebabkan, tapi dapat pula
memperlihatkan reaksi sedikit walaupun terhadap infeksi yang bisa membawa kematiannya : pada usia lanjut). 
* Observasi awal pada keadaan fisik umum anak seringkali menentukan apakah dokter perlu mendapat indeks yang
tinggi atau rendah mengenai penyakit dasar serius yang dicurigai. Dapat dengan menggunakan tabel dari Mc
Carthy dan rekan serta dengan nilai skala observasi penyakit akut (AIOS)

Tatalaksana dilanjutkan oleh dokter/Rumah Sakit berdasarkan:

Tatalaksana Demam yang Disebabkan Penyakit Infeksi

Pengobatan   dilakukan   sesuai   dengan   klasifikasi   etiologik(penyebab).   Kesukaran   yang


dihadapi adalah pola penyakit yang berbeda baik dari aspek geografik maupun umur pasien.
Aspek   geografik   misalnya   daerah   endemik   demam   malaria   dan   daerah   endemik   demam
berdarah. Sifat paparan, letak geografik sangat mempengaruhi etiologi demam pada anak.
Pemberian antibiotik pertama dan hospitalisasi sangat juga dipengaruhi oleh fasilitas sarana
perawatan dan pemeriksaan penunjang. Setiap rumah sakit seharusnya mempunyai pedoman
diagnosis dan terapi tersendiri, tergantung pada pola epidemiologik penyakit tersebut. Pada
penelitian MTBS tahun 1998, di Indonesia etiologi demam pada anak sebagian besar(lebih
dari 80%) adalah infeksi.

Tatalaksana Demam Menurut Umur

Tatalaksana demam pada bayi kecil telah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Pada
kelompok   bayi   dengan   usia   kurang   2   bulan,   pendekatan   yang   umum   dilakukan   ialah
hospitalisasi untuk mendapatkan pengobatan antimikrobial empirik. Pada tahun 1993, para
ahli   infeksi,   gawat   darurat   dan   kesehatan   anak   sepakat   melakukan   pendekatan   lebih
konservatif dengan cara rawat jalan untuk kasus­kasus ini, bila risiko terhadap SBI rendah.
Salah  satu pendekatan  yang  dapat  dilakukan  untuk mengurangi  perawatan  adalah  dengan
menggunakan   penyaring:
Yale Acute Illness Observation Scale atau kriteria Rochester. 
Pada   kelompok   ini   bila   hasil   laboratoriummenunjukkan   adanya   tanda   infeksi   (leukosit
darah<5.000 atau >15.000, hitung neutrofil darah>1500,leukosit urin di atas 10/lpb, leukosit
tinja   >5/lpb),anak   segera   masuk   RS   dan   langsung   mendapatkanpengobatan   antimikrobial
secara empirik. 
Pada kelompok yang tidak memenuhi kriteria ini, maka ada 2 pilihan yaitu: 
1. melakukan kultur urin,  kultur darah, kultur cairan serebro spinalis, diberikan ceftriaxon dan
diminta kontrol kembali setelah 24 jam. 
2. melakukan kultur urin dan observasi dulu.
Pada anak dengan usia kurang dari 28 hari,pendekatan sebaiknya lebih agresif dengan langsung
memasukan ke RS untuk mendapatkan terapi antimikrobial secara empirik. Pada kelompok
usia   3­36   bulan,   risiko   adanya   bakteriemia   pada   anak   dengandemam   sekitar   3­11%.
Bakteriemia tidak terjadipada kelompok ini bila: leukosit <15.000 dengansuhu >39 derajat C,
sedang   kemungkinan   bakteriemia   akan   5   kali   lipat   bila   lekosit   >15.000.   Pada   kelompok
belakangan ini langsung dilakukan kultur darah dan pemberian ceftriaxon.
Pada kelompok  anak di atas 36 bulan, pengobatan bisa dilakukan secara etiologik,dengan
memperhatikan   adanya   kegawatan.Pada   akhirnya   apapun   yang   dianjurkan   akan   tetap
menimbulkan   perdebatan.   Tidak   ada   satu   standar   yang   harus   ditaati   untuk   dijadikan
pegangan. Semua tindakan tetap harus dilakukan berdasarkan pada anamnesis yang tajam dan
terarah,   dan   pemeriksaan   fisis   yang   teliti.   Kecenderungan   dokter   untuk   bertindak,   sangat
dipengaruhi oleh pengalaman yang mereka dapat dan keluasan pengetahuan yang dimiliki.
Pilihan   antara   melakukan   tes   atau   tidak,melakukan   pemberian   antibiotik   atau   observasi,
sangat tergantung pada pendirian dan kepribadian dokter.• Anak yang tampak toksik harus
segera   mendapat   tindakan   yang   segera   •Semakin   muda,   semakin   tinggi   ketidak   tentuan
klinisnya •Anak yang tidak tampak toksik dapat menyulitkan, karenanya perlu pengamatan
yang sangat ketat•Tidak perlu selalu melakukan pemeriksaan penunjang dan bila dilakukan
pemeriksaan  penunjang, tindakan  harus sesuai dengan hasilnya  •Catat  dengan cermat  apa
yang dilakukan atau tidak dilakukan•∙ 

Penatalaksanaan Rawat Jalan

­   Terapi   spesifik   sebaiknya   dimulai   untuk   kondisi­kondisi   yang   didiagnosis   dan   taat   pada
pengobatan rawat jalan. Misalnya pengobatan batuk pada ISPA, diare pada gastroenteritis,
sakit berkemih pada ISK, Nyeri telinga pada otitis media, hidung tersumbat dan nyeri sinus
pada sinusitis, nyeri tenggorokan pada amandel atau faringitis.
­ Follow up penderita demam tanpa fokus yang nyata harus dilakukan dengan pemeriksaan ulang
atau melalui telpon dalam 24­48 jam. 
 
B. Heat­ Relation Condition/Heat  Illness/Hipertermi
Istilah   Hipertermi   :   adalah   peningkatan   suhu   tubuh   yang   disebabkan   ketidakseimbangan
pembentukan     dan   kehilangan   panas   dimana   set   point   hipotalamus   tetap   normal   . 
Penyakit karena panas timbul akibat pemaparan suhu lingkungan yang meningkat sedemikian
hingga tubuh tidak mampu mempertahankan homeostasis yang layak. Sindroma yang paling
ringan dapat timbul bila penderita melakukan aktivitas tubuh yang berat atau berolah raga,
bentuk yang berat bisa terjadi walaupun tanpa olah raga.  

Faktor predisposisi dan penyebab hipertermi
Klasifikasi Hipertermia :

hipertermia   maligna,   sindrom   maligna   neuroleptic,   sindrom   serotonin,   heat   cramps,   heat
exhaustion, heat stroke.

Diagnosis Hipertermia :

Umumnya diagnosa oleh kombinasi peningkatan suhu tubuh dan riwayat yang mendukung
hipertermi   untuk   menggantikan   istilah   fever.   Hipertermia   paling   sering   muncul   pada
lingkungan yang panas (misalnya heat stroke) atau seseorang yang menggunakan obat yang
memicu hipertermi sebagai efek samping (drug­induced hyperthermia).              
Istilah   cedera   panas   mewakili   kelompok   gangguan   heterogen   akibat   latihan   fisik   yang
berlebihan atau paparan yang lama terhadap lingkungan yang hangat.
Faktor   risiko  terbesar   adalah   temperatur   lingkungan   yang   tinggi,   terutama   jika   disertai
kelembaban yang relative tinggi, yang menghalangi pengeluaran keringat yang merupakan
mekanisme termoregulasi efektif. 
Faktor risiko  lain adalah tidak adanya aklimatisasi, latihan, usia yang ekstrim, dehidrasi , dan
obat yang mengganggu termoregulator  termoregulator melalui berbagai mekanisme.

Hipertermia malignant :
Etiologi :
 reaksi yang jarang terhadap zat anastesi inhalasi yang biasa sering digunakan seperti halotan
atau pelumpuh otot suksinilkolin. Yang menderita keadaan ini biasanya berpotensi fatal dan
mempunyai predisposisi genetic( heriditer)
Dapat juga akibat stress fisik atau emosi.
Manifestasi klinik :
Hipertermia, kekakuan otot, takikardia, asidosis, syok, koma, rabdomiolisis.
Pengobatan :
Antara lain dantrolen IV 1 sampai 10 mg/kg IV yang dititrasi untuk menimbulkan efeknya,
pengelolaan asidosis dan syok, pendinginan perifer.
Sindrom maligna neuroleptic
Etiologi : 
Obat neuroleptic (fenotiazin, dll)
Manifestasi klinik :
Gejala sama dengan hipertermia maligna, tetapi umumnya timbul dalam beberapa hari dan
bukan menit.
Pengobatan :
Sama seperti hipertermia maligna.

Sindrom serotonin
Etiologi :
Kelebihan serotonin. Umumnya akibat gabungan MAO dan SSRI
Manifestasi klinis :
Hipertermia,   hipertensi,   kekakuan   otot,   penurunan   status   mental   yang   timbul   cepat.
Kebanyakan awitannya lebih cepat disbanding sindrom maligna neuroleptic.
Pengobatan :
Obati seperti hipertermia maligna . Juga diazepam  5 mg IV untuk spasme otot, intubasi jika
perlu, selimut pendingin, asetaminofen. Obati hipertensi seperti hipertensi maligna.  

Cedera panas : heat syncope, heat cramps, heat exhaustion, heat stroke, dan luka bakar
Suhu panas terutama berakibat menurunnya prestasi kerja dan kemampuan berpikir. Suhu
panas   mengurangi   kelincahan,   memperpanjang   waktu   reaksi   dan   waktu   pengambilan
keputusan, mengganggu kecermatan kerja otak, mengganggu koordinasi syaraf perasa dan
motorik.
Suhu udara yang nyaman sekitar 24­26 derajat C bagi orang­orang Indonesia. Orang­orang
Indonesia pada umumnya beraklimatisasi dengan iklim tropis, yang suhunya sekitar 29­30
derajat C dengan kelembaban sekitar 85­95 %.  Penurunan sangat hebat sesudah 32 derajat C.
  
1. Heath Rash (Miliaria rubra=biang keringat)
Iritasi pada kulit yang muncul ketika saluran kelenjar keringat tersumbat yang menyebabkan
kelenjar   keringat   tidak   dapat   keluar  dari  kulit.  Keringat   yang  terperangkap  menyebabkan
peradangan (inflamasi) dan ruam yang gatal yang umumnya terlihat di daerah yang sering
berkeringat dan di bawah pakaian. 
Sering pada pekerja,  tentara dan anak kecil di daerah panas.
Nampak adanya bintik kecil,  papulovesikel  kemerahan pada kulit biasa terdapat pada leher,
bawah dada, sela paha, di bawah payudara dan lipatan siku, rasa nyeri kalau panas. Adanya
kelainan kulit menyebabkna proses berkeringat dan evaporasi terhambat, proses pendinginan
tubuh terganggu , yang memudahkan terjadinya sengatan panas.
Pengobatan :
- Menjaga kulit tetap kering
- Lingkungan kerja /tempat tinggal  yang sejuk , Istirahat di tempat yang sejuk/dingin.
- Bedak /losio biang keringat.
2. Edema Panas (Heath Edema)
Penyakit yang disebabkan oleh kondisi panas yang ditandai dengan pembengkakakan pada
tangan dan kaki atau pergelangan akibat latihan yang lama atau duduk atau berdiri yang lama
dalam lingkungan yang panas. 
Vasodilatasi kulit dan otot yang disertai stasis vena, menimbulkan akumulasi cairan pada
interstisial ekstremitas inferior.
Rasa penuh yang samar pada bagian yang terserang biasanya, merupakan satu­satunya gejala
pada pasien edema panas yang asimtomatik.
Pengobatan :
Edema   panas   dapat  sembuh  sendiri.  Pengobatan  berupa  pemakaian  bebat   penyokong dan
evaluasi ekstremitas inferior secara periodic. Diuretik tidak diindikasikan.
3.
Kejang panas ( heat cramps )
Etiologi :  kekurangan garam dan air akibat aktifitas fisik yang berlebihan.
Manifestasi klinik :
Pasien tetap sadar. Kejang otot   yang nyeri timbul secara mendadak, setempat/menyeluruh,
terutama kram otot rangka /otot –otot volunter(otot­otot ekstremitas dan abdomen) kadang­
kadang nyeri perut  yang kadang sangat hebat  akibat kekurangan elektrolit. Suhu tubuh bisa
normal/sedikit naik, denyut nadi cepat, tekanan darah normal.
Banyak berkeringat sehingga garam dan air keduanya hilang melalui keringat.
Hiponatremi akibat masukan air bebas: pasien dengan heat cramps biasanya mengganti air
yang hilang dengan minum, tetapi tidak mengganti garam yang hilang.
Laboratorium :
Darah lebih pekat, Na dan Cl turun, kadar P dan Kalsium meningkat.
Pengobatan :
Letakkan pasien pada tempat /lingkungan yang sejuk dan urutlah otot yang terkena.
Istirahat
Rehidrasi oral : 
a. Untuk gejala ringan hingga sedang, berikan cairan pengganti NaCl per oral dengan minuman
larutan oral kaya­garam ( mengandung kadar garam  tinggi) misalnya  minumam olah raga
atau 1 sendok the garam dalam 0,5 liter air atau sari buah (jus).
b. Untuk gejala yang berat, berikan garam faal normal intravena ( Dewasa : dengan laju 125
mL/jam) hingga gejala mereda.
Kejang panas dapat sebagai kelainan sendiri atau bersama dengan kelelahan panas. 
Pingsan karena panas ( Heat Syncope)
Biasanya   penderita   mula­mula   merasa   jantung   berdebar­debar,   keringat   bercucuran,mulut
kering,   sangat haus,   mual  , muntah,  sakit kepala, kepala terasa ringan,   kelelahan,  dan
akhirnya   pingsan   atau   menyebabkan   penderita   tiba­tiba   tidak   sadar   sesudah   berdiri   atau
beraktivitas  fisik yang hebat dan lama  dalam  lingkungan yang panas. Kulit  pucat, teraba
dingin   dan   lembab.   Panas   dapat   menyebabkan   pembuluh   darah   melebar   sehingga   cairan
tubuh bergerak ke kaki oleh gaya gravitasi yang menyebabkan tekanan darah rendah dan
dapat   menyebabkan   keadaan   hilang   kesadaran   yang   singkat.   Status   mental   pasien   akan
normal   setelah   pulihnya   kesadaran   demikian   pula   suhu   tubuh.   Dapat   timbul   pada   heat
exhaution dan heat stroke.
Pengobatan :
Mengatasi lemas/bila mulai merasakan gejala
­ Posisi duduk dengan kepala tertunduk di antara kedua lututnya sampai terasa enak atau
berbaring dengan kaki yang ditinggikan.
­ Bila pingsan , baringkan ditempat teduh dan datar. Buka atau longgarkan pakaian bagian
atas yang menekan leher serta pakaian lain yang ketat ( yang menekan pinggang dll) . Jaga
agar ia mendapat cukup udara. Bila penderita muntah, letakkan kepalanya dalam kedudukan
miring untuk mencegah muntahan terselak masuk ke paru­paru. Kalau ada hembuskan uap
amoniak di depan lubang hidung. Ketika ia mulai siuman tahan agar ia tidak segera bangun
selama beberapa menit lagi. Segera setelah siuman tawarkan minuman  dan makanan ringan.
Jangan   beri   makanan   atau   minuman   apapun   pada   anak   yang   sedang   pingsan.
­  Mandi   atau   kompres   hangat     dan   lingkungan   yang   sejuk
- Terapi rehidrasi oral untu anak dan dewasa : minum air minum, minuman olah raga (sport
drink) (terbaik) , jus buah atau the encer. Minum air garam 0,1 % ( 1 g untuk 1 l air ) di
minum setelah sadar
- Minum   dalam   jumlah   kecil   dan   sering,   misalnya   2   sendok   makan   setiap   5   menit

­   Puasa.   Diet   cair   jika   gejala   berlanjut


­   Cairan   intra   vena   berguna   untuk   dehidrasi   berat   dan   pasien   yang   muntah
­ Monitor jantung.

Kelelahan Panas (heat exhaustion)
Etiologi :
Kekurangan garam atau air yang banyak, dengan salah satu kehilangan  lebih dominan   .
Akibat   berkeringat,   deplesi   volume   sehingga   terjadi   kolaps   sirkulasi   darah   perifer   ,
hipoperfusi jaringan .   Produksi keringat bertambah untuk menurunkan panas dengan cara
aliran  darah  ke perifer  yang bertambah.    Keluhan sistemik  muncul  beberapa  jam  sampai
beberapa hari setelah latihan jasmani yang berlebihan atau terpapar pada cuaca panas yang
lembab.
Manifestasi klinik :
Haus sedang, kulit pucat/dingin/basah dan berkeringat. Rasa lelah, kelemahan otot , kepala
terasa ringan, pusing, nyeri kepala, mual, muntah, kelesuan progresif dan ketidak mampuan
untuk melakukan tugas fisik dan kram/kejang  otot dan sesak nafas. Selain itu, pasien dapat
memperlihatkan oligouria, takikardia, hipotensi, hiperventilasi dan gangguan fungsi susunan
saraf pusat (gangguan kesadaran dari ringan sampai berat) . Pasien banyak berkeringat. Suhu
dapat normal atau sedikit meningkat(demam sampai 102 derajat F). JIka tidak cepat diobati
dapat berkembang menjadi heat sroke.
Pengobatan :
Hentikan   semua   kegiatan   dan   istirahat.   Tempatkan   pasien   dalam   lingkungan   yang   sejuk
hingga gejala membaik.
a. Untuk gejala ringan hingga sedang, gunakan pendinginan biasa atau, kalau perlu, lakukan
rehidrasi  dengan   larutan   oral  kaya­garam   seperti   yang  digambarkan  di   atas  untuk  kejang
panas. Berbaring dan tinggikan kaki. Jika di lapangan, apabila tidak membaik dalam 1 jam
kontak dokter dan segera jika suhu mencapai 104 F (40 C) atau lebih tinggi. 
b. Untuk gejala yang berat,     termasuk hipotensi, mulailah jalur intravena dan berikan garam
faali   norma(/salin/NaCl).   Kalau   tanda   yang   menonjol   adalah   dehidrasi,   pasien   mungkin
membutuhkan sebanyak 1­ 2­3 liter selama masa 3 jam(cairan IV cepat). Tetapi, kita harus
berhati­hati karena hipotensi mungkin semata­mata disebabkan oleh vasodilatasi.
c. Pemberian Oksigen jika perlu.
d. Tanda­tanda vital dipantau.
e. Anjurkan   pasien   untuk   menerima   sejumlah   cairan   oral   yang   memadai   selama   24   jam
berikutnya.
Heat Stroke/ sun stroke/ sengatan panas/sengatan terik
Merupakan   hipertermia   yang   hebat   (di   atas   40­40,5­41O  C/106  O  F   )   dengan   kehilangan
kemampuan regulasi panas. Keadaan ini merupakan keadaan darurat medic dengan angka
kematian yang cukup tinggi.
Pada kelelahan panas mekanisme pengatur suhu bekerja berlebihan tetapi masih berfungsi
sedangkan pada sengatan panas mekanisme pengatur suhu tubuh tidak berfungsi lagi disertai
terhambatnya proses evaporasi secara total.
Etiologi :
Deplesi volume, berkeringat. Akibat latihan/kerja berat di lingkungan panas disertai intake
cairan yang tidak cukup.
Heat stroke dapat oleh :
Akibat   non   latihan/kerja   (klasik)
Heat stroke klasik terjadi dalam epidemic di antara orang muda,  orang lanjut usia atau orang
yang   lemah   selama   periode   suhu   lingkungan   terus   menerus   tinggi.   Yang   menurunkan
vasodilatasi,   berkeringat   dan   mekanisme   kehilangan   panas   yang   lain.   Pada   situasi   ini,
toleransi tubuh untuk temperature lingkungan yang tinggi mungkin berkurang bahkan tidak
ada   .
Faktor­faktor risiko meliputi penyakit      kronis, usia lanjut {khususnya pada orang tua, dapat
dipicu oleh obat­obatan seperti antikolinergik, antihistamin (anti alergi) dan diuretic (peluruh
kencing)}.   kelembaban   tinggi,   kegemukan,   penyakit   kardiovaskular   kronik,   kemiskinan,
tempat tinggal di lantai­lantai atas gedung bertingkat di kota­kota, tidak mempunyai pengatur
suhu AC, dehidrasi, penyalah gunaan alkohol, penggunaan sedativa, hipnotika, antikolinergik
atau anti psikotik. 
Akibat latihan (exertional)
Stroke kepananasan eksersional adalah suatu kelainan yang dapat terjadi dengan cepat pada
orang   dewasa   muda,   terutama   atlet   (terutama   pelari   jarak   jauh   dan   pemain   sepak   bola),
prajurit atau pekerja yang melakukan tugas berat dalam lingkungan yang lembab dan panas
yang tidak mempunyai persediaan air yang memadai dan belum beradatapsi dengan cuaca
setempat   yang   panas   dan   kelembaban   ambien   yang   tinggi.   Tubuh   bereaksi   dengan
mengeluarkan keringat banyak dalam waktu yang cukup banyak dalam waktu yang cukup
lama  sehingga   menyebabkan  kelenjar   keringat   kelelahan   dan  tidak   mampu   mengeluarkan
keringat lagi.
Manifestasi klik :
- Pada stadium awal menyerupai kelelahan panas, kemudian dapat terjadi : 
- Kesadaran menurun/kehilangan kesadaran/koma), kejang, perubahan status mental (bingung,
halusinasi, perilaku aneh, status epileptikus, gejala neurologic lainnya).
- Heat stroke eksersional : temperature tubuh meningkat dan separuh dari para pasien masih
berkeringat sewaktu diperiksa.
- Heat stroke klasik : khas : mempunyai suhu tubuh inti (bagian dalam tubuh) lebih dari 40
derajat   C,   dalam   keadaan   koma,   anhydrotic(pasien   tidak   berkeringat)=kemampuan
berkeringat   menghilang   :   kulit   panas   kemerahan   dan   kering   akibat   kelelahan   dari   fungsi
regulasi hipotalamik dan/atau kelenjar keringat yang menimbulkan kehilangan kemampuan
pengeluaran panas. Namun adanya keringat tidak menyingkirkan diagnosis. 
- Kehilangan cairan dan garam biasanya tidak berat.
- Pernafasan cepat dan dalam.
- Temperatur tubuh tinggi/hipertemia (Suhu inti/oral/membran timpani/rectal tinggi)   tanpa
variasi diurnal merupakan tanda utama, suhu tubuh dapat meningkat dalam 10­15 menit saat
terjadinya heat stroke,  nadi cepat dan penuh.
- Kadang terjadi sianosis.
- Edema paru dan gangguan tonus otot.
 Laboratorium :
Pemeriksaan laboratorium rutin harus mencakup pemeriksaan kreatinin fosfokinase (CPK),
karena   rabdomiolisis   dapat   menyertai   semua   bentuk   heat   illness.   Peninggian   CPK   yang
ekstrim yang memerlukan terapi adalah jarang, kecuali pada pasien heat stroke.
   
Pengobatan :
Keadaan ini benar­benar merupakan kedaruratan.
Pindahkan penderita dari pemajanan langsung sinar matahari dan langsung mulailah prosedur
pendinginan (penurunan suhu tubuh secepat mungkin).
Di   lapangan   :   Hubungi   segera   nomor   telepon   UGD     dan   dengan   seketika   cobalah
menurunkan suhu badan penderita : lepaskan pakaian , basahi tubuh dengan air , dengan
shower atau selang penyiram kebun,  selimuti dengan handuk lembab, evaporasi dipercepat
dengan   mengipasi   dengan  kipas,   kipas     angin   atau  AC.  Hindari   menyebabkan   timbulnya
menggigil dan vasokonstriksi perifer dengan es. Jika suhu sudah turun menjadi 39 o  C usap
badannya sampai kering dan tutupi dengan selimut kering. Jika suhu badan  mulai naik ulangi
upaya pendinginan. Penderita memerlukan perawatan rumah sakit.
Rumah sakit :
Pastikan bahwa saluran nafas, pernafasan dan sirkulasi memadai.
Berikan oksigen 100 %. Buatlah akses intravena.
Jika terdapat perubahan status jiwa, berikan 100 mg tiamin dan 50 ml glukosa 5 % secara
intravena.
Pantaulah suhui inti dengan termometer rectum.
Pendinginan untuk menurunkan suhu sampai sekitar 38,8 o C  yang cepat dan segera  dalam
satu jam pertama  (30­60 menit) adalah penting pada heat stroke dan tidak boleh ditunda
sambil menunggu pemeriksaan laboratorium.
Turunkan dengan cepat suhu inti dengan membasahi kulit dengan air hangat (gosok dengan
handuk basah) , selimut pendingin atau rendam dalam bak air sejuk (bukan air dingin namun
kurang praktis dan perlu penanganan dan pemantauan yang tepat) di ruangan yang biasa.
bila  suhu rektal  mencapai  38 derajat  C pindahkan pasien ke tempat  tidur.Memijat  (dapat
meningkatkan vasodilatasi dan pertukaran panas )   serta mengipasi kulit untuk membantu
sirkulasi dan penguapan pada kulit. Menggigil dapat mencegah kehilangan panas dan hal itu
dapat   dicegah     dengan   diazepam   IV   atau   klorpromazin   10­25­50   mg   mg   IV.   Walaupun
fenotiazin efektif dalam membatasi menggigil , obat ini dapat meninggikan risiko kejang dan
hipotensi   dan   harus   dibatasi   penggunaanya   pada   kasus     di   mana   menggigil   menghambat
pendinginan yang efektif.menyebabkan hipotensi dan menurunkan ambang kejang sehingga
tidak   boleh   digunakan   secara   rutin.
Enema  cairan  dingin, bilas  lambung dan dialisis  peritoneal,  tetapi  mungkin efektifitasnya
terbatas. 
Hentikan upaya pendinginan bila suhu rectum berada pada 38,5­39 C­101­102 F derajat C
untuk mencegah hipotermia iatrogenic..
Periksa gas­gas darah arteri, darah lengkap, hitung trombosit , waktu prothrombin, waktu
tromboplastin parsial , elektrolit serum, nitrogen ureum, kreatinin, glukosa, kalsium, fosfat,
CPK dan uji faal hati, laktat darah dan urinalisis. Pasien tertentu, mungkin membutuhkan
penentuan mioglobulin urin, penyaringan toksikologi, uji fungsi tiroid atau biakan darah dan
cairan   serebrospinal   .   Pemeriksaan   EKG   untuk   menyingkirkan   iskemia   miokardium   dan
radiologi toraks untuk menyingkirkan pneumonia aspirasi.     
Pemberian obat­obatan dan cairan (tetapi banyak yang tidak menderita deficit cairan yang
bermakna, hati­hati). Kebutuhan cairan pada heat stroke klasik biasanya kurang dari 1,5 liter .
Berikan perlahan­lahan 1­1,5 liter garam normal secara intravena   selama   2­4 jam untuk
mengoreksi kehi;langan cairan dan mempertahankan keluaran urin yang memadai.
Lakukan terapi untuk komplikasi
a. Hipotensi dapat membaik hanya dengan pendinginan. Kalau hipotensi refrakter, pasang
jalur pusat atau kateter Swan­Ganz dan berikan tantangan cairan garam faal normal 250­500
ml selama  15 menit,  sambil  memeriksa  tanda­tanda  vital,  pemeriksaan fisik, dan tekanan
intrakardiak untuk kelebihan  beban volume. Jika hipotensi terus berlanjut meskipun telah
dilakukan   penggantian   volume   yang   memadai,   berikan   dopamin   400   mg   dalam   500   ml
dekstrosa dalam air, yang dimulai pada laju 2­5 mikrogram/kg/menit dan dilakukan titrasi
bila perlu untuk mempertahankan tekanan darah sistolik agar lebih besar dari 90 mmHg. 
b. Rabdomiolisis  dan mioglobinuria dapat mengakibatkan gagal ginjal akut. Bila terdapat
mioglobinuria,   berikan  manitol,  0,25  g/kg secara   intravena,   dan gantilah  cairan   intravena
menjadi garam faali setengah normal dengan 44 meq/L natrium bikarbonat (1 ampul) 
c. Kejang dapat terjadi selama pendinginan cepat dan pada awalnya harus diterapi dengan
benzodiazepine : diazepam 5­10 mg secara Iv diikuti 5­10 mg setiap 15 menit sampai dosis
maksimum   sebesar   30   mg.   Ini   dapat   diulangi   secara   berhati­hati   dalam   2­4   jam.   Karena
kejang mungkin terbatas dan menghilang saat terjadi pendinginan, seringkali tidak diperlukan
terapi lanjut. Jika diperlukan anti kejang (anti konvulsan), barbiturate mungkin lebih efektif
dibandingkan fenitoin pada keadaan ini atau jika kejang berlanjut, fenitoin harus diberikan
perlahan­lahan sebagai dosis pembebanan sebesar 10­15 mg/kg secara intravena pada laju
yang tidak boleh melampaui 50 mg/menit. Ini harus diikuti dengan dosis pemeliharaan 100
mg secara oral atau secara intravena setiap 6­8 jam.
Karena kalsium dikeluarkan dari otot pada awal rabdomiolisis  infus kalsium adalah tidak
efektif dan akan menyebabkan hiperkalsemia nantinya. 
Pemberian   O2   bila   terlihat   ada   sianosis/kongesti   pulmonal   dengan   face   mask   atau   nasal
kateter.
Lakukan terapi untuk komplikasi.
Prognosis :
Pengobatan darurat sangat diperlukan. Dalam beberapa jam heatstroke tak tertangani dapat
menyebabkan kematian otak, jantung, ginjal dan otot. Trauma panas ini terus memburuk jika
pengobatan lebih lama lagi yang meningkatkan risiko komplikasi serius atau kematian. Tanpa
pengobatan pasien akan meninggal. Faktor­faktor yang berhubungan dengan kematian akibat
heat stroke Antara lain adalah usia tua, hipotensi pada saat datang, koagulopati , kebutuhan
akan intubasi , aspirasi paru dan hipoksia, uji fungsi hati yang meningkat, koma , suhu awal
yang lebih dari 42,2 o C dan kadar laktat vena yang melebihi 3,3 mmol/L.
Pasien yang telah mengalami heat sroke sering mengalami gangguan regulasi suhu selama
beberapa hari dan toleransi yang rendah terhadap panas selama bertahun­tahun atau selama­
lamanya.
 * Pendidikan kepada masyarakat/pasien penting, karena korban­korban yang dapat selamat
dari renjatan panas, menderita termolabilitas yang persisten dan memiliki risiko yang lebih
tinggi untuk mengalami cedera panas ulangan. 

Pencegahan terhadap penyakit karena panas :
*   Minum   air   dalam   jumlah   yang   cukup   sebelum   dan   selama   beraktifitas   di   cuaca   panas
bahkan walaupun tidak merasa haus.
* Memakai pakaian yang tidak menyerap panas. Pakaian yang berwarna terang seperti warna
putih karena memantulkan sinar matahari, sedangkan warna gelap akan menyerap panas.
* Beraktifitas berat sebelum siang atau setelah jam 6 PM atau hindari bekerja atau bermain
ketika   matahari   bersinar   terik.
* Jika harus berada di luar, batasi paparan sinar matahari langsung dan kenakan topi dengan
tepi lebar. 
* Masuk segera ke rumah jika merasa kepanasan atau cari suatu tempat yang dingin seperti
masuk ke bangunan ber AC, walau untuk beberapa jam saja, tempat yang dipertimbangkan
juga adalah perpustakaan dan mal perberbelanjaan. Paling tidak tempat yang teduh. Kipas
saja   tidak   cukup   untuk   tempat   yang   panas   dan   dengan   kelembaban   yang   tinggi.  
*   Pakai   baju   longgar   dan   tipis.
* Nyalakan AC di rumah atau buka jendela atau gunakan kipas angin untuk membuat udara
beredar.
* Makan dalam porsi kecil, batasi konsumsi alkohol ketika temperatur tinggi atau Anda tidak
terbiasa   dengan   cuaca   itu.  
* Jangan pernah meninggalkan anak atau siapa saja di dalam mobil yang di parkir di tempat
yang panas. Ketika memarkir mobil di tempat panas, suhu di dalam mobil akan meningkat 20
derajat F (lebih 6,7 derajat C) hanya di dalam 10 menit. Adalah tidak aman meninggalkan
seseorang di dalam mobil yang terparkir di tempat panas beberapa waktu, bahkan jika jendela
pecah/ada   celah/terbuka   atau   di   tempat   teduh.
Jika   mobil   di   parkir,   kunci   untuk   mencegah   anak­anak   masuk   ke   dalam   mobil.
*   Perhatian   khusus   terhadap   obat­obat   tertentu.   Waspada   terhadap   masalah   yang
berhubungan   dengan   panas   jika   lagi   menggunakan   obat   yang   dapat   memengaruhi
kemampuan   tubuh   untuk   tetap   terhidrasi   dan   menghilangkan   panas.
*   Aklimatisasi.   Aklimatisasi   terhadap   suhu   tinggi   merupakan   hasil   penyesuaian   diri
seseorang terhadap lingkungan yang ditandai dengan menurunnya frekuensi denyut nadi dan
suhu   mulut   atau   suhu   badan   akibat   pembentukan   keringat.   ­Aklimatisasi   dapat   diperoleh
dengan bekerja pada suatu lingkungan kerja dengan suhu tinggi untuk beberapa waktu yang
lama. Biasanya aklimatisasi terhadap panas  akan tercapai  sesudah dua minggu bekerja  di
tempat itu. Sedangkan meningkatnya pembentukan keringat tergantung pada kenaikan suhu.
Sehingga batasi jumlah waktu yang digunakan untuk bekerja atau latihan di tempat panas
sampai kamu dapat menyesuaikan diri. Orang yang tidak terbiasa dengan cuaca panas mudah
kena   penyakit   yang   berhubungan   dengan   panas.
­ Jika kamu bepergian ke suatu daerah yang panas atau temperatur yang tiba­tiba berubah
menjadi panas , tubuh akan membutuhkan beberapa minggu untuk membiasakan diri. Jika
kamu   sedang  berlibur   ,  kamu   mungkin  tidak  mempunyai   cukup  waktu  untuk  menunggu,
tetapi tetap merupakan ide yang baik untuk menunggu paling sedikit beberapa hari sebelum
mencoba kegiatan berat di cuaca panas.
­ Jika ibadah haji dilaksanakan pada musim panas(musim panas umumnya berlangsung mulai bulan Mei dan mencapai
puncak pada bulan Juli–Agustus), suhu udara berkisar antara 40 – 56  C dengan kelembaban antara 10 –
0

20 % (kelembaban  rendah),   terutama  pada siang hari pukul 11 .00  WAS s.d. pukul 16.00


WAS.   Cuaca   panas   dapat   menimbulkan   risiko   dan   ancaman   kesehatan   bagi   jemaah   haji
bahkan menyebabkan kematian. Untuk itu jemaah haji yang melaksanakan aktivitas pada saat
cuaca panas haruslah berhati­hati 
Berikut tips dalam menghadapi cuaca ekstrim di Arab Saudi :
1. Melakukan latihan penyesuaian 1-2 jam setiap hari selama 10 hari di bawah terik
matahari, pada 2 minggu terakhir menjelang keberangkatan.
2. Minum 1-3 gelas air sebelum ke luar pondokan, dan kemudian melanjutkan minum
air setiap 20 menit, bahkan jika Jamaah Haji merasa sedang tidak haus.
3. Hindari minuman berkafein, karena minuman ini dapat menarik air keluar dari tubuh.
4. Pakailah krim pelembab untuk melindungi kulit dari kekeringan sekaligus
mengurangi penguapan air dari tubuh melalui kulit.
5. Gunakan pakaian yang bahannya ringan, longgar dan berwarna terang untuk
memungkinkan terjadinya sirkulasi udara maksimum untuk mendinginkan tubuh
sehingga memberikan perlindungan dari sinar matahari.
6. Hindarkan tubuh dari terkena terik matahari  langsung (bepergian keluar pondokan
memakai penutup kepala/topi bertepi lebar, payung, dsb). Sinar matahari terik pada
siang hari pada pukul 12.00 WAS s/d. 15.00 WAS.
7. Untuk pekerja :­   

Pencegahan   :
Engineering   Controls   :
­   ventilasi   general   dan   lokal   untuk   area   dengan   suhu   tinggi
­   Isolasi   sumber   panas   seperti   mesin   dan  farnace 
­  Eliminasi   kebocoran   uap
­  Penggunaan kipas angin atau peralatan pendinginan personal seperti rompi
pendingin.
­  Penggunaan  power   tools  untuk   mengurangi   tenaga   kerja   manusia.
Work Practices

- Pakaian   warna   terang.   Longgar,   kain   berpori   seperti   katun.


- Jadwal kerja  :   Jika   memungkinkan,  pekerjaan   berat  harus  dijadwal
pada   saat   terdingin   dalam   suatu   hari.   Alternatif   lain   adalah   beban
pekerjaan diringankan atau pekerjaan dilakukan di area dengan temperatur
lebih dingin.
­ aklimatisasi.
- Minum yang cukup dan sering walau  tidak merasa haus. Kira­kira 1 gelas
setiap 15­20 menit. Hindari minuman yang bergula dan berkafein dalam
jumlah yang berlebihan.
- Mengambil waktu untuk istirahat terutama pada cuaca yang sangat panas
dan kelembaban yang tinggi di tempat yang sejuk. 
-  Memonitor pekerja yang rentan terhadap heat stress.
- Training   buat   pekerja   tentang   pencegahan,   gejala   dan   monitoring   diri
sendiri   selama   kerja,   pengobatan   dan   penggunaan   alat   pelindung   diri
(APD) selama kerja. 

   

Hipertermia Pada Bayi Baru Lahir

Kenaikan suhu 37,5 oC atau lebih kadang­kadang ditemukan pada umur hari ke 2 –ke
3,   sekalipun   pada   bayi   yang   perjalanan   klinisnya   memuaskan.   Gangguan   ini
khususnya bisa terjadi pada bayi minum­ASI yang masukan cairannya rendah, atau
pada   bayi   yang   terpajan   suhu   lingkungan   yang   tinggi,   juga   pada   bayi­bayi   yang
berada di dalam inkubator (buaian) yang dekat ke pemancar panas (radiator) atau di
bawah sinar matahari.

Bayi itu bisa gelisah dan dapat mengalami penurunan berat badan yang cepat. Namun,
mungkin   tidak   ada   hubungan   yang   konsisten   antara   peningkatan   suhu   dengan
besarnya penurunan berat badan atau tidak cukupnya masukan cairan. 

Curah   urin   dan   frekuensi   berkemih   (kencing)   menurun,   kulit   dapat   kehilangan
elastisitasnya,   dan   ubun­ubunnya   dapat   cekung.   Bayi   Nampak   tidak   gembira   dan
minum cairan dengan lahap.

Tampak kegiatan bayi sangat berbeda dengan penampakan ketika “sedang sakit” bila
ada infeksi. Mungkin jarang tampak adanya takipnea dan takikardi yang mencolok
karena bayi berupaya untuk mengurangi  panas melalui saluran poernafasan   untuk
mengkompensasi kenaikan suhu lingkungan yang mendadak. Kenaikan suhu dapat
disertai   dengan   kenaikan   protein   dan   natrium   dalam   serum,   serta   hematocrit.
Kemungkinan   infeksi   local   atau   sistemik   di   evalusi.   Pemberian   cairan   oral   atau
parenteral   atau   menurunkan   suhu   lingkungan   menyebabkan   penurunan   suhu   yang
segera dan pengurangan gejala.

Bentuk hipertermia neonates yang lebih berat terjadi pada bayi baru lahir maupun
bayi yang lebih tua yang diberi pakaian hangat untuk suhu rendah di luar rumah.
Poenurunan kapasitas berkeringat bayi baru lahir merupakan factor pendukung bayi
yang   diberi   pakaian   hangat   dan   diletakkan   dekat   perapian   atau   radiator,   yang
bepergian dalam mobil yang diberi penghangat atau diletakkan pada tempat dimana
matahari bersinar langsung padanya melalui jendela kamar yang tertutup atau mobil
bisa menjadi korban. Pakaian berlebih­lebihan pada cuaca yang panas, terutama bila
bayi   ditempatkan   pada   tempat   dengan   sinar   matahari,   kurang   lazim   merupakan
penyebab suhu tubuh sering sering setinggi 41­44 O C (106­111oC). Kulitnya panas
dan kering, dan pada mulanya bayi biasanya tampak kemerah­merahan dan apatis.
Stadium ini dapat diikuti oleh pingsan , pucat, keabu­abuan , koma dan konvulsi.
Hipernatremia dapat turut menyebabkan angka mortalitas dan morbilitas (cedera otak)
tinggi. 

Hipernatremia  telah  dihubungkan  dengan  kematian  mendadak  pada  bayi dan  syok


hemoragik serta sindrom enselopati. 

Penyebab :
Ruangan terlalu panas
Baju yang berlapis­lapis
Cara mencegah temperature yang tinggi
- Hindari bayi dari sumber panas seperti penghangat, pemanas, sinar matahari langsung  dan
lain­lain. 
 Mengenakan pakaian pada anak yang sesuai lingkungan sekitarnya. 
- Jika bayi terasa panas lepaskan bajunya.
- Jika bayi di bawah pemanas radiasi :
Ukur temperature badan bayi setiap jam sampai suhu dalam batas normal
Ukur temperature di bawah pemanas radiasi setiap jam .

VII. CEDERA DINGIN

Definisi:
Cedera dingin dipakai untuk menjelaskan suatu kelompok penyakit lokal atau sistemik yang
timbul akibat paparan yang lama terhadap lingkungan yang dingin, dan terkadang basah pula.
Cedera dingin yang terlokalisir pada daerah perifer seperti pada radang dingin (frostbite) dan
yang menyeluruh seperti pada hipotermi.
# Cedera dingin terlokalisir

A. Tanpa pembekuan jaringan


1. Chilblain.(pernio)
Cedera organ perifer akibat pajangan dingin yang lama pada suhu di atas beku tanpa
pembekuan jaringan yang menimbulkan reaksi hipersensitivitas pada kulit.
Lesi kulit yang gatal dan membakar . Bercak-bercak edematosa, hangat dan berwarna merah
biru atau ungu pada kulit wajah dan ektremitas. Kadang-kadang dapat timbul lepuh.
Pengobatan :
Kasus-kasus ringan hanya memerlukan pemanasan spontan secara bertahap dan perlindungan
dari lingkungan. Pada pasien-pasien yang memperlihatkan lebih banyak gejala, dilakukan
perendaman dalam air hangat (<41,1 derajat C). Analgesik dan anti pruritus(anti gatal) dapat
sebagai pelengkap. Daerah yang terkena jangan digosok atau dipijat. Karena lesi seperti ini
dapat berulang setiap tahun akibat terpapar pada keadangan dingin dan angin, maka penutup
pelindung perlu dianjurkan pada pasien.
2. Trench foot (kaki terendam) dan cedera terendam.
Kerusakan jaringan kaki non beku akibat paparan dingin dan basah yang lama di atas suhu
beku.
Klinis/gejala-gejala: Ekstremitas yang dingin, hampir anestetik, sedikit bengkak, berwarna
putih atau sianotik dengan denyut nadi sangat berkurang. Dingin dan anestesia diikuti nyeri
hebat, rasa terbakar dan kesemutan bila dihangatkan kembali. Beberapa hari pertama sesudah
dihangatkan kembali , ekstremitas tersebut menjadi hiperemik, panas dan edematosa dengan
kembalinya denyut. Dapat timbul lepuh, ekimosis, ulserasi dan ganggren pada kasus yang
berat. Beberapa minggu kemudian kulit akan mengalami depigmentasi, hyperhidrosis dan
kembalinya kepekaan terhadap dingin dan edema mereda.
Sekuele (gejala sisa) dapat berupa hipersensitivitas dingin kronik, nyeri dan kelemahan bila
menyangga berat badan dan hyperhidrosis.
Pengobatan : pengobatan awal adalah melepaskan kaus kaki atau sepatu yang menjepit dan
basah, serta melindungi kaki dari trauma dan paparan dingin. Pemanasan dan pengeringan
bertahap dapat dicapai dalam suhu ruangan tanpa perlu dipijat. Perawatan di rumah sakit
dianjurkan pada semua kasus kecuali yang sangat ringan.
B. Dengan pembekuan jaringan
Frosbite= sengatan beku
Frosbite muncul ketika suhu jaringan turun dibawah 0 derajat Celsius.
Area yang sering terkena : tangan, kaki , hidung dan telinga.
Penggolongan :
a. Frostnip=gigitan beku adalah stadium pertama dari frostbite /mild frostbite akibat
pendinginan kulit yang sangat superfisial menyebabkan iritasi kulit setempat dan bersifat
sementara tanpa disertai kerusakan jaringan yang menetap/permanen.
Kulit yang terkena menjadi pucat, merah dan terasa sangat dingin.
Klinis: sensasi kesemutan atau ditusuk-tusuk yang disertai disestesia yang nyeri atau dapat
pula sensasi gatal. Kesemutan bila dihangatkan kembali merupakan hal yang khas.
Pengobatan : tidak memerlukan pengobatan khusus selain pemanasan spontan secara
bertahap. Tidak ada sekuele. Dapat diterapi sebaga pasien rawat jalan.

b. Superfisial frostbite=stadium kedua


Klinis:Kulit kemerahan menjadi putih atau sangat pucat. Kulit mungkin tetap lembut, lunak
tetapi beberapa Kristal es mungkin sudah terbentuk di dalam jaringan.
Lepuh dapat berisi cairan hemoragik dalam 24 sampai 48 jam, cairan teresorpsi, timbul eskar
yang keras dan menghitam umumnya superfisial, tetap peka terhadap panas dan dingin.
c. Severe (berat) atau deep(dalam) frostbite=frostbite profunda
Mengenai seluruh lapisan kulit termasuk jaringan yang ada di bawahnya seperti otot dan
tendon.
Klinis : Ekstremitas dingin, berwarna ungu tua atau merah, dengan lepuh gelap dan
hemoragik(perdarahan), hilangnya fungsi bagian distal. Parestesia akan bertubah menjadi
kebas dan anesthesia, mungkin dengan kekakuan dan imobilitas persendian atau otot
sehingga tidak dapat berfungsi. Lepuh yang besar terbentuk 24 sampai 48 jam
setelah penghangatan. Setelah itu area yang terkena menjadi hitam dan keras sebagaimana
jaringan yang mati. Pada 40-80 % kasus, gejala-gejala lanjut termasuk deficit sensorik untuk
raba, nyeri dan suhu, demikian pula kaki dan tangan yang dingin , hyperhidrosis, kebas, nyeri
dan gangguan sendi. Gejala-gejala ini dapat menetap selama bertahun-tahun dan
menyebabkan kecacatan.
Frosbite 2-3 hari setelah mendaki gunung, 12 hari dan 3 minggu kemudian
Pengobatan/perawatan:
Pertolongan pertama : Menghubungi dokter segera atau bawa ke rumah sakit karena sering
perjalanan penyakit tidak dapat diramalkan dan jika harus menunggu ambulans lakukan
perawatan berikut :
Jika berada di tempat, pemanasan/penghangatan jangan dilakukan bila ada risiko untuk
kembali membeku karena dapat menyebabkan kerusakan permanen (penghangatan dilakukan
di tempat yang hangat) . Dan bagian tubuh yang terkena cedera dingin tidak boleh digosok
atau dipijat. Penderita perlu di rawat di rumah sakit kecuali kasus yang sangat superfisial.
1. Bawa penderita masuk ke dalam rumah sesegera mungkin, buka pakaian yang basah dan
lepaskan cincin yang terkena frosbit. Pastikan keseluruhan tubuh hangat bukan hanya yang
terkena frosbite. Bungkus dengan selimut sisa tubuh.
2. Sebagian kecil penderita (1-3 persen) trauma dingin akan menampilkan jaringan beku
atau dingin. Bila fasilitas perawatan definitif jauhnya lebih dari satu atau dua jam perjalanan
dan jaringan dapat dijaga tetap hangat, maka jaringan yang beku atau dingin segera
dihangatkan kembali. Penderita terbaik diletakkan di bak mandi air hangat. Bila
penghangatan kembali secara cepat tidak dapat dilakukan atau jika fasilitas perawatan
definitive kurang dari 1 jam perjalanan, maka jaringan yang cedera harus ditutupi kain atau
selimut kecil serta pasien di bawa secepat mungkin ke fasilitas perawatan definitive, dengan
penghangatan kembali akan tercapai saat tiba di sana.
3. Perendaman daerah yang terkena frosbite dalam air hangat (bukan air panas) atau
kompres telinga, hidung maupun pipi yang terkena dengan kain hangat selama 20-30 menit.
Tambahkan air bila perlu, untuk mempertahankan suhu air. Penderita mungkin merasakan
sakit yang hebat sewaktu pencairan terjadi. Setelah bagian yang beku mencair, tepuk-tepuk
bagian tersebut sampai kering. Berikan asetaminofen atau ibuprofen untu menghilangkan
nyeri.
Jangan menggunakan air panas atau sumber panas kering lainnya seperti pengering rambut
atau penghangat ruang , lampu pemanas atau oven.

• Jika sensasi rasa dan warna kembali normal, tidak diperlukan perawatan lebih lanjut.
• Jika sensasi rasa dan warna tidak kembali, hubungi dokter dan lanjutkan langkah 4 sampai
5.
Kebanyakan pasien trauma dingin tidak dapat menahan cedera yang cukup berat sehingga
mengakibatkan pembekuan jaringan, dan kebanyakan akan mencari pertolongan medis
setelah jaringan di hangatkan kembali.
4. Balut tangan atau kaki yang terkena frosbit dengan pembalut bersih dan longgar.
Tempatkan kain atau kasa di atara jari-jari tangan maupun kaki untuk memisahkan satu sama
lain sebelum tangan atau kaki tersebut di balut. Hati-hati, jangan sampai lepuh menjadi pecah
karena tergosok.
5. Angkat tangan atau kaki bersangkutan.
Mintalah penderita mencoba menggerakkan daerah yang terkena frostbite untuk
meningkatkan alairan darah. TIdak diperbolehkan berjalan bila kaki yang terkena frostbite.
6. Jika frostbite cukup luas, beri penderita minuman hangat non alkohol dan non kafein
untuk mencegah cairan yang hilang.
Di rumah sakit :
a. Seperti biasanya, masalah yang mengancam hidup seperti hipotermia sistemik harus
ditangani sebelum pemeriksaan dan terapi frostbite.
b. Penghangatan segera bagian tersebut karena penghangatan secara cepat namun terkendali
adalah unsur terpenting dalam terapi. Bagian yang terkena perlu di rendam dalam air hangat
yang bersirkulasi dalam suhu 38-41-42 derajat C selama 20-30 menit.
c. Gatal , kesemutan dan sensasi terbakar meningkat saat di hangatkan. Nyeri berdenyut dan
nyeri seperti disengat listrik selama proses penyembuhan akibat neuritis iskemik dan
degenerasi akson. Mungkin memerlukan analgesia kuat untuk cedera yang berat , narkotik
intravena sering diperlukan. Obat anti-inflamasi nonsteroid dan aloe topikal setiap 6 jam
dapat membantu menimalkan cedera jaringan. Jika nyeri menetap turunkan temperatur air 33-
37 derajat C.
d. Jika vesikel (lepuh) jernih utuh, cairan akan diserap dalam beberapa hari, jika pecah
debridemen dan beri antibiotik atau salep aloe steril. Keputusan melakukan debridemen harus
dilakukan dengan cara paling konservatif tanpa menyebabkan risiko infeksi tungkai. Biarkan
vesikel hemoragik yang utuh(intact) untuk mencegah infeksi.
e. Tes laboratorium dapat membantu mendeteksi semua komplikasi multisistem dan
hipotermia seperti bronkopneumonia, edema paru, gagal jantung kongestif, infark
miokardium, aritmia, gagal ginjal akut, koagulasi intravascular diseminata (DIC),
pankreatitis, mioglobinuria dan hipoglikemia.
1. Pemeriksaaan laboratorium rutin tidak diindikasikan pada kasus gigitan beku, chilblain
dan kaki terendam. Pemeriksaan darah lengkap merupakan satu-satunya pemeriksaan rutin
yang diperlukan pasien sengatan beku.
2. Biakan darah dan luka dianjurkan bila terjadi komplikasi cedera imersi( selulitis,
tromboflebitis, ganggren basah). Biakan seperti ini dapat diperlukan juga pada sebagian
sengatan beku.
3. Arteriografi, atau lebih disukai suatu pemeriksaan vascular non invasive (misalnya,
ultasonografi Doppler, plestimografi digital, atau sidik isotope radioaktif) perlu dilakukan
pada semua pasien dengan sengatan beku kecuali mereka dengan cedera derajat pertama.
4. Hematokrit perifer, pH dan PO2 arteri
f. Karena dehidrasi/hypovolemia, asidosis dan hipoksemia sering terjadi infus cairan IV
sering juga diberikan pada bila perawatan medis definitive lebih dari satu atau dua jam
perjalanan jauhnya . Pasien koma dengan trauma dingin harus diinfus dengan larutan garam
seimbang (Ringer Laktat) yang mengandung 100-300 mEq NaHCO3, yang diberikan dalam
kecepatan 250 ml per jam. Penyesuaian dapat dibuatkan setelah pH arteri dan hematocrit
perifer ditentukan dan pengeluaran urin telah diawasi selama 5 atau 6 jam.
Lebih baik memeriksa pH dan pO2 arteri, serta hematocrit sebelum terapi diberikan. Bila
hasil pemeriksaan ini tak dapat didapat sebelum pengobatan dan diperlukan penghangatan
kembali jaringan, maka kecepatan penggatian cairan harus dinaikkan sampai 500 ml per jam,
sebab penghangatan kembali mungkin meningkatkan derajat asidosis.
Untuk mengobati hipoksemia yang biasa timbul pada pasien koma dengan trauma dingin,
maka oksigen harus diberikan dengan masker atau kateter hidung selama 6-8 jam atau sampai
pO2 arteri kembali normal.
g. Setelah penghangatan, tindakan-tindakan penyokong termasuk perlindungan ekstremitas
tersebut dari infeksi dan trauma: perawatan luka setempat, dua kali sehari dilakukan
hidroterapi dalam air/larutan desinfektan hangat (32,5-36,8 derajat C) , air mengalir
(whirlpool) untuk deep frostbite , antibiotic topical , profilaksis tetanus, menghindari nikotin,
elevasi tungkai untuk meminimalkan edema, dan pemakaian balutan steril dll.
h. Jika sianosis menetap setelah penghangatan, tekanan kompartemen jaringan dimonitor
secara hati-hati.
i. Tunda intervensi bedah. Umumnya terlihat lebih buruk daripada sebenarnya.
j. Tindakan tindakan pencegahan perlu dilakukan , karena pasien memiliki kerentanan yang
lebih tinggi terhadap stress dingin selanjutnya.
k. Di rawat paling sedikit 1-2 hari untuk mengenali trauma yang lebih lanjut dan untuk
pengobatan yang lebih lanjut.
Pencegahan :
Tetap pantau ramalan cuaca. Jaga agar tetap hangat dan kering terhadap cuaca dingin.
Memakai pakaian hangat berlapis, sepatu boot tahan air dan bersekat baik , kaus kaki tebal/
berlapis , topi, syal, penutup telinga dan sarung tangan.

# Cedera dingin sistemik


SUHU RENDAH (HIPOTERMIA)

Suhu rendah(hipotermia), yaitu penurunan suhu inti tubuh (rektal, esofageal atau
timpanik) menjadi di bawah 35°C. Paling utama dari diagnosis adalah pengenalan
dini dengan menggunakan termometer. Untuk pengukuran suhu tubuh ini kita harus
mempergunakan termometer yang mempunyai pembagian skala rendah dari 26,5 º
C- 42 º C.
Suhu 35 º C dapat terdapat pada neonatus. Suhu tubuh < 35 ° C dapat berakibat
fatal, terutama pada bayi-bayi prematur, hipotermia dapat pula ditemukan pada
dehidrasi dan renjatan.
Epidemiologi

Usia Lanjut : orang berusia lanjut kurang sensitive terhadap persepsi suhu, kurang
bergerak, dan adanya penyakit sistemik menyebabkan terganggunya fisiologis tubuh
dalam menjaga suhu tubuh. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor sosioekonomik.
Neonatus : neonatus rentan terhadap hipotermi karena tingginya rasio permukaan
kulit dengan berat tubuh, dan kurangnya fungsi menggigil, serta rendahnya repson
adaptasi terhadap lingkungan.
Malnutrisi : kurangnya deposit lemak dibawah kulit menyebabkan lebih rentannya
kulit kehilangan panas, dan kurangnya sumber energi yang digunakan sebagai
sumber panas.

Klasifikasi

Hipotermi juga dapat diklasifikasikan berdasarkan sumber paparan yaitu :


Hipotermi Primer : terjadi akibat paparan langsung individu yang sehat terhadap
dingin. Pada usia lanjut seringkali terdapat gangguan regulasi temperatur yang
"fisiologik" dan tidak sebagai akibat penyakit tertentu.
Hipotermi sekunder :Akibat dari suatu penyakit. Mortalitas banyak terjadi pada fase
ini dimana terjadi kelainan secara sistemik.

Hipotermi pada bayi baru lahir


Definisi :
Suhu ketiak normal adalah 36,5-37,5 ° C.
Pada hipotermia suhu berada di bawah 36,5 derajat Celcius.
Stres dingin/hipotermia ringan 36,0 ° C sampai 36,4 ° C
Hipotermia sedang 32,0 ° C sampai 35,9 ° C
Hipotermia berat <32 ° C
Dikenal juga :
Hipotermia sepintas
Hipotermia akut
Hipotermia sekunder
Cold injury

Pengukuran suhu
Keadaan bayi Frekuensi Pengukuran
Bayi sakit Tiap jam
Bayi kecil Tiap 12 jam
Bayi keadaan membaik Sekali sehari

Tanda dan gejala :


(a) vasokonstriksi perifer
-Akrosianosis
-Ekstremitas dingin/kaki tangan dingin
-Penurunan perfusi perifer
(b) Depresi SSP
-Letargi
-Bradikardia
-Apnea
-Malas makan
(c) Metabolisme meningkat
-Hipoglikemia(kadar gula darah rendah)
-Hipoksia
-Metabolik asidosis
(d) Peningkatan tekanan arteri paru
-Distress
-Takipnu

Tanda-tanda kronik :
- berat badan yang turun
- penambahan berat badan yang kurang

Pengelolaan hipotermia
Di Puskesmas / Rumah Sakit : mengkonfirmasi diagnosis hipotermia dengan
merekam suhu tubuh sebenarnya. Seorang bayi hipotermia harus dihangatkan
secepat mungkin. Metode yang dipilih akan tergantung pada tingkat keparahan
hipotermia dan ketersediaan staf dan peralatan. Sesuai Protap masing-masing
fasilitas kesehatan.

Metode yang digunakan termasuk :


- Kontak kulit-ke-kulit
- Ruang yang hangat atau tempat tidur yang hangat
- Lampu penghangat
- Pemanas radiasi atau inkubator

Infeksi harus dicurigai jika hipotermia berlanjut meskipun langkah-langkah di atas.

Memonitor suhu aksila setiap ½ jam sampai mencapai 36,5 ° C, maka per jam
selama 4 jam berikutnya, 2 jam selama 12 jam setelahnya dan 3 jam sebagai
rutinitas.

Hipotermia sedang (> 32 sampai <36 ° C)


Kontak kulit-ke-kulit harus di ruangan yang hangat dan tempat tidur yang hangat.
Warmer / inkubator dapat digunakan, jika tersedia. Lanjutkan rewarming sampai
suhu mencapai kisaran normal. Pantau setiap 15-30 menit.
Hipotermia berat (<32 ° C)
Gunakan inkubator (suhu udara 35-36 ° C) atau pemanas radiasi (pemancar panas)
yang dioperasikan secara manual atau secara termostat mengontrol kasur hangat
pada suhu 37 -38 ° C. Setelah suhu bayi mencapai 34 ° C proses rewarming harus
melambat. Alternatif lain, kita bisa menggunakan ruang hangat dengan lampu pijar
200 watt (bayi diletakkkan di bawah sumber lampu / jarak 45 cm namun sering tidak
cukup membuat bayi hangat dan bola lampu berisiko mudah rusak) atau lampu
inframerah. Monitor BP, HR, suhu dan glukosa (jika fasilitas tersedia).
Perawatan Bayi tambahan
• mengambil tindakan untuk mengurangi kehilangan panas
• periksa kadar gula darah, bila < 45 mg/dL (2,6 mmol/L),{ ref lain : Pada BBLR ,
kadar gula darah < 25 mg/dl dalam 72 jam pertama. Pada bayi Cukup Bulan <30 mg
dl di dalam 72 jam pertama, dan <40 mg/dl pada hari berikutnya}: tangani
hipoglikemia : glukosa 10 % 2 ml/kg secara IV bolus pelan-pelan dalam lima menit
lalu infus Glukose 10% sesuai kebutuhan rumatan. Atau mulai IV 10% Dextrose @
60-80 ml / kg / hari.
• memberikan inj Vit K 1 mg untuk jangka panjang; 0,5 mg pada bayi
* memberikan Oksigen
pencatatan suhu
Sebaiknya termometer berskala rendah yang dapat merekam suhu serendah 30 ° C
harus digunakan pada bayi baru lahir.
(a) suhu aksila baik seperti dubur dan mungkin lebih aman (kurang risiko cedera
atau infeksi). Hal ini direkam dengan menempatkan bola termometer terhadap atap
ketiak kering, bebas dari kelembaban. Lengan bayi diadakan dekat dengan tubuh
untuk menjaga termometer di tempat. Suhu dibaca setelah tiga menit.
(b) Suhu rektal: Suhu rektal tidak tercatat sebagai prosedur standar pada neonatus.
Catat suhu rektal hanya untuk neonatus hipotermia sakit.Jangan gunakan metode ini
untuk pemantauan rutin. Namun, itu adalah panduan terbaik untuk suhu inti pada
hipotermi bayi baru lahir yang sakit. Hal ini direkam dengan memasukkan
ujung/leher termometer ke belakang dan ke bawah ke kedalaman 3 cm pada bayi
cukup bulan (2 cm pada bayi prematur). Pegang termometer di tempat setidaknya
selama 2 menit.
(c) Temperatur kulit: suhu kulit oleh suatu thermister . Probe dari thermister
dilekatkan di atas kulit perut bagian atas. Thermister mencatat suhu kulit dan
menampilkannya pada panel.
metoda kanguru

Apabila harus merujuk bayi :


o
Bayi dengan suhu badan <35,5 C, harus segera dihangatkan sebelum di rujuk.
Caranya sbb:
- Segera mengeringkan tubuh bayi yang basah dengan handuk/kain kering.
Mengganti pakaian, selimut/kain basah dengan yang kering.
- Menghangatkan tubuh bayi dengan METODA KANGURU atau menggunakan
cahaya lampu 60 watt dengan jarak minimal 60 cm sampai suhu normal dan
pertahankan suhu bayi.
- Membungkus bayi dengan kain kering dan hangat,memakaikan tutup kepala..
Menjaga bayi tetap hangat. Menghindari ruangan yang banyak angin dan jauh dari
jendela atau pintu
- Pada bayi dengan gejala HIPOTERMIA BERAT : Jika dalam 1 jam suhu badan <
o
35,5 C RUJUK SEGERA dengan METODA KANGURU.
- Pada bayi dengan HIPOTERMIA SEDANG : jika dalam 2 jam suhu badan 35,5-
36oC RUJUK SEGERA dengan METODA KANGURU.
Pencegahan hipotermi Pada Bayi :
Bayi baru lahir dapat dengan cepat mengalami stres dengan adanya perubahan suhu. Bayi
cukup bulan dengan berat badan normal tidak dapat menjaga temperatur tubuhnya secara
adekuat   hingga   setidaknya   berusia   2   hari.   Bayi­bayi   ini   dapat   menjadi   hipotermi   dalam
ruangan yang relatif hangat bila berada dalam keadaan basah atau tidak tertutup.
Bayi   baru   lahir   dapat   mengalami   kehilangan   panas   tubuhnya   melalui   proses   konveksi,
konduksi, evaporasi dan radiasi.
Menjaga bayi baru lahir tetap hangat 
Segera setelah bayi lahir, upayakan untuk mencegah hilangnya panas dari tubuh bayi. Hal ini
dapat dilakukan dengan cara. 
1. Mengeringkan bayi segera setelah lahir
Segera setelah bayi diletakkan pada perut ibu, keringkan kepala dan tubuh bayi dari cairan
ketuban atau cairan lain yang membasahi tubuh bayi baru lahir. Bila didapatkan cairan pada
permukaan tubuh bayi, cairan ini akan diuapkan oleh panas tubuhnya, sehingga bayi dapat
mengalami hipotermi. Keringkan tubuh bayi dengan  handuk atau kain yang hangat. Hal ini
memberikan dua keuntungan bagi bayi. Pertama, suhu tubuh bayi tetap terjaga dan kedua
memberikan   rangsangan   taktil   pada   tubuh   bayi   sehingga   dapat   menimbulkan   timbulnya
upaya nafas.
2. Selimuti bayi terutama bagian kepala dengan kain kering.Jangan membungkus bayi terlalu
ketat.
3. Ganti handuk atau selimut yang basah.
4. Jangan mandikan bayi sebelum suhu tubuhnya stabil
5. Lingkungan yang hangat. Meletakkan dan mendekap bayi di dada ibu.
6. Bayi tidur dengan ibu. Anjurkan ibu untuk tidur dengan bayinya (rooming in).Bayi tidur di
tempat tidur yang sama untuk memudahkan menyusui sesuai dengan keinginan bayi. Jangan
menidurkan bayi ditempat yang banyak angin seperti dekat jendela terbuka dan depan pintu.
Menyusui bayi. ASI perah dengan salah satu cara alternatif cara pemberian minum, bila ibu .
.tidak dapat menyusui bayi

Suhu kamar untuk bayi dengan pakaian :
Berat Badan                               Suhu Ruangan
1500­2000 g                               28­30 derajat Celsius
>2000 g                                      26­28 derajat Celsius
Catatan : jangan digunakan untuk bayi < 1500 g                                         

Beberapa bayi yang mempunyai risiko hipotermia :
* Bayi prematur. BBLR
* Bayi sakit berat
* Bayi dengan resusitasi lama
* Bayi dengan kelainan (bagian mukosa terbuka : gastroschisis(organ usus di luar rongga
perut), spina bifida(benjolan di tulang punggung), omfalokel(organ hati di luar rongga perut)
dll)

Pada   Usia   lanjut   :

Hipotermi juga dapat diklasifikasikan berdasarkan temperature tubuh, yaitu :
Gejala awal (32­35°C)Gejala berikutnya(28­30°C)  Gejala akhir(,28°)
Rasa capai/fatigue      Kulit dingin                          Kulit sangat dingin
Lemah                           Hipopneu                              Kaku/rigiditas
Langkah   melambat        Sianosis                                Nadi   tak   teraba/fibrilasi   ventrikel
Apatis                             Bradikardia    
Bicara   pelo                     Aritmia   atrial/ventrikel           Refleks   menghilang
Konfusio                         Hipotensi                              Tak   beri   tanggapan   terhadap   rangsang
Menggigil                       Semikoma­koma    
Kulit   yang   dingin            Kekakuan   otot                       Pupil   menetap/reaksi   (­)
Merasa   dingin                Edema   umum
                                      Refleks   melambat
                                      Reaksi   pupil   <
                                      Poliuria   atau   oliguria   
Dari Kane  et al (1991)

Penanganan
* Pasien dengan hipotermi ringan dapat diterapi langsung di lapangan, yaitu dengan melepas
atau menjauhkan benda atau zat yang mendinginkan, kemudian diberi penghangat seperti
handuk   atau   selimut.
* Membawa penderita ke dalam ruangan yang hangat, jika di hutan nyalakan api unggun dan
buat   tempat   bernaung   dari   angin,   buka   pakaian   yang   basah   dan   jaga   agar   tetap   sadar.
*   Jika   penderita   tetap   sadar,   beri   minuman   hangat

*   Memberi   selimut   hangat   atau   baju   hangat   dan   tutup   kepala   .

* Terutama pada usia lanjut penghangatan aktif dengan alat seringkali justru berbahaya. .Pada
penderita lansia, hipotermia harus diperlakukan sebagai penderita sepsis, kecuali bila terbukti
sebaliknya.  
*  Sementara pasien dengan hipotermia sedang atau berat memerlukan perawatan khusus di
rumah   sakit   (sebaiknya   ICU)berupa   rewarming   atau   peningkatan   kembali   suhu   tubuh.
Perawatan ini berupa rewarming aktif yang diikuti rewarming pasif, rewarming aktif yaitu
mendekatkan benda hangat atau panas dari luar tubuh yang ditempelkan pada tubuh pasien.
Contohnya yaitu air panas yang sudah dimasukan ke tempat khusus kemudian ditempelkan ke
tubuh.  
Bila pasien teraba dingin, tetapi sirkulasi masih terjaga dengan baik, maka tugas penolong
adalah untuk menjaga agar korban tidak kehilangan panas tubuh lebih banyak, dan berusaha
untung menghangatkan (rewarm).Penghangatan kembali yang terkontrol untuk bagian pusat
dari   badan.   Penghangatan   kembali   secara   aktif   dari   ekstremitas   harus   dihindari   untuk
mempertahankan vasokonstriksi sampai temperatur pusat ditingkatkan. Penghangatan secara
cepat   dapat   menyebabkan   pergeseran   mendadak   pada   keseimbangan   elektrolit   dan   harus
dihindari (berlawanan dengan radang dingin di mana penghangatan secara cepat merupakan
indikasi).   Suatu   alat   pengukur   rektal   perlu   digunakan   untuk   kasus­kasus   berat.Sesudah
temperatur rektal mencapai 30 derajat C penghangatan kembali harus diperlambat sampai
kecepatan   tidak   lebih   1   derajat   C   per   jam.
* Bila suhu pasien lebih dari 32 derajat C tetapi kurang dari 35 derajat C, lakukan teknik
pemanasan   eksternal   pasif:   a.   pasang   selimut   hangat
*   Bila   suhu   tubuh   pasien   kurang   dari   32   derajat   Celsius.
a.   Pasang   foley   kateter   dan   monitor   keluaran   urin
b.   Monitor   tanda­tanda   vital   lengkap
c.   Lakukan   dan/atau   bantu   teknik   penghangatan   eksternal   dan   internal   aktif.   Tekniknya
bervariasi   di   tiap   institusi.
Teknik   penghangatan   eksternal   aktif
1.   Botol   berisi   air   hangat   dipasang   pada   permukaan   tubuh.
2.   Masukkan   pasien   ke   dalam   bak   mandi   berisi   air   hangat   40   derajat   Celsius
3.   Pasang   matras   berisi   air   hangat
Teknik   penghangatan   internal   aktif
1.   Cairan   intravena   yang   dihangatkan
2.   Lavase   lambung   hangat
3.   Lavase   peritoneal   hangat
4.   Lavase   kolon   hangat
5.   Pemberian   oksigen   hangat
6.   Pemasangan   radiant   head   cradle   di   atas   torso
7.   Lavase   mediastinal   hangat
8.   Hemodialisa  
Bila pasien mengalami cardiac arrest atau henti jantung, maka dilakukan resusitasi jantung­
paru   dengan   modifikasi   sesuai   dengan   prosedur.  
Jangan menunda prosedur yang darurat seperti intubasi dan pemasangan kateter, tapi lakukan
secara   hati­hati   dan   terus   lakukan   monitor   terhadap   ritme   jantung,   karena   pasien   rentan
mengalami   fibrilasi   ventrikular.
Pada pasien hipotermia dengan henti jantung lakukan CPR   dan pemanasan aktif (femoral­
femoral by pass jika mungkin). Penting untuk diingat bahwa protokol resusitatif yang umum
tidak   mungkin   efektif     sampai   suhu   lebih   tinggi   dari   28­30   derajat   C.
Pasien   yang   mengalami   henti   jantung,   walaupun   dengan   hipotensi   yang   berat,   tidak
memerlukan   CPR.  Pasien   ini  harus  dihangatkan  secara  agresif  dan  mungkin  memerlukan
bretylium   profilaksis   untuk   fibrilasi   ventrikular.  
Pasien hipotermia berat dapat tampak mati, dengan curah jantung dan respirasi(pernafasan)
yang begitu minim sehingga tekanan darah, denyut nadi dan bahkan bunyi jantung mungkin
tidak terdeteksi. Namun karena supresi hipotermik pada metabolisme, banyak pasien seperti
ini benar­benar sembuh dengan sedikit defisit sisa. Terdapat suatu kebijakan   pada pepatah
tua yang mengatakan  bahwa pasien hipotermia  harus  dianggap belum meninggal,  sampai
mereka   hangat   atau   betul­betul   meninggal.  
Tidak ada pasien dengan hipotermia yang dinyatakan mati oleh dokter sampai suhu tubuh di
atas  30 ˚ C . Upaya penghangatan diteruskan sampai pasien stabil, atau temperatur  lebih
tinggi dari 30 ˚ C. Jika pasien tetap dalam keadaan henti jantung  walaupun temperatur di atas
30   ˚   C,   upaya   resusitatif   boleh   dihentikan.
Korban hipotermia yang jelas sudah meninggal mungkin tampak masih hidup. Jantung yang
dingin   sangat   rentan   terhadap   fibrilasi   akibat   iritasi   mekanis.   Oleh   karena   itu   sering
dianjurkan  tindakan  resusitasi  jantung  paru (CPR) tidak  dilakukan  pada  pasien­pasien  ini
kecuali pemantau jantung memperlihatkan fibrilasi ventrikel atau asistole sebenarnya. .
                        VIII.      PENGUKURAN SUHU

   Demam dapat ketahui melalui cara perabaan , menggunakan termometer dan pita indikator.

Pengukuran suhu dengan cara perabaan (secara subyektif).
Pengukuran suhu dengan cara meraba kulit, daerah yang diraba adalah daerah yang pembuluh
darahnya banyak seperti di daerah pipi, dahi dan tengkuk dengan menggunakan punggung
tangan. Bisa juga dengan meraba tangan dan kaki .Meskipun cara ini kurang akurat/kurang
sensitif/sering tidak sesuai dengan suhu tubuh yang sebenarnya (tergantung kondisi tangan
ibu:   seseorang   dengan   metabolisme   tubuh   rendah   atau   menderita   anemia   dimana   suhu
tangannya lebih dingin, akan lebih peka bila meraba seseorang yang suhu tubuhnya tinggi
dibandingkan dengan mereka yang metabolisme tubuhnya normal dan suhu tangannya lebih
hangat ), namun perabaaan ibu cukup bisa dipercaya untuk membedakan apakah  badan lebih
panas dari biasanya dan digunakan sebagai tanda demam pada program MTBS (Manajemen
Terpadu Balita Sakit). 
  
Untuk   memastikannya   ,   kita   perlu   termometer.   Alat   pengukur   suhu   tubuh   ini   memang
sebaiknya tersedia di rumah karena dengan alat ini suhu badan dapat diketahui secara pasti
dan kapan meminta bantuan dokter pun dapat segera diputuskan . Sayangnya belum semua
orangtua   paham  cara  menggunakan   alat  ini.   Nah, penjelasan   berikut  ini  barangkali  dapat
menjadi panduan  untuk lebih mengenali termometer.

Termometer Air raksa/merkuri.
termometer air raksa untuk anus, mulut dan t. biasa

   Termometer ini terdiri dari atas tabung gelas tertutup yang berisi cairan air raksa/merkuri.
Di tepi tabung terlihat garis­garis yang menunjukkan skala temperatur. Bila suhu meningkat,
air raksa  dalam tabung yang sempit itu akan naik. Titik di mana air raksa tersebut berhenti
naik menunjukkan berapa suhu pengguna saat itu.
   Termometer air raksa termasuk paling banyak digunakan. Mudah didapat, harganya murah
dan pengukurannya akurat. 
   Sesuai  dengan desain tabung kaca termometer ini, posisi ujung air raksa sebagai penunjuk
derajatnya akan berada di posisi yang tetap kecuali kita menggoyang­goyangkannya secara
kuat.
    Jagalah agar termometer air raksa tidak patah/pecah. Kalaupun pecah jangan sampai air
raksanya   terhirup/termakan   karena   bersifat   toksik   alias   racun   bagi   tubuh.Oleh   karena   itu
pengukuran   lewat   mulut   sama   sekali   tidak   dianjurkan   pada   bayi   maupun   balita   karena
dikhawatirkan pecah lantaran digigit. 

Termometer Digital

Umumnya bergagang plastik dengan sensor dan layar hasil pengukuran di salah satu sisinya.
Dibanding termometer air raksa, cara penggunaan termometer digital relatif jauh lebih mudah
dan praktis. Selain lebih aman penggunaanya,tingkat akurasinya pun bisa diandalkan. Bahkan
memperlihatkan   hasil   pengukuran   sampai   desimal.   Jadi   keunggulan   termometer   jenis   ini
adalah praktis, mudah dibaca dan hasil pengukuran sangat cepat.
    Akan tetapi, termometer ini juga memiliki kelemahan, yaitu sangat rentan terhadap udara
lembab dan air. Selain harganya mahal, hasil pengukurannya sering meleset bila baterainya
sudah lemah atau pernah terjatuh. Jadi untuk pengguna termometer jenis ini, periksalah dan
gantilah baterainya secara berkala.
    Seperti termometer air raksa, pengukuran suhu digital bisa dilakukan di beberapa tempat
yaitu mulut, ketiak dan anus. Cara pengukuran pada umumnya sama dengan cara pengukuran
dengan memakai termometer air raksa.

Termometer digital pacifier ( termometer empeng/dot)
  

Jika sang buah hati sering menggunakan pacifier  atau  empeng,  anda dapat menggunakan


termometer yang berbentuk seperti empeng ini. Si kecil hanya tinggal menghisap/menyedot
termometer tersebut sampai suhu tubuh terdeteksi oleh termometer. Hasil dari pengukuran
akan tampak pada layar kecil di bagian depan termometer. Walaupun tampak lebih mudah
digunakan,   ada   beberapa   kekurangan   dari   termometer   ini   yaitu   termometer   ini   tidak
dianjurkan untuk bayi usia dibawah 3 bulan & untuk penggunaan supaya hasilnya akurat
maka si kecil harus menghisap termometer tersebut dalam jangka waktu yang lebih lama,
sekitar 3 menit. Pada sebagian anak­anak maka hal ini dapat menyulitkan.

Termometer Inframerah

Tergolong yang tercanggih untuk saat ini. Namun masih terbatas untuk pemakaian di rumah
sakit, belum direkomendasikan untuk pemakaian di rumah.

Termometer Timpani

Di ujung alat terdapat sensor yang akan menerima radiasi/gelombang panas dari gendang
telinga. Hasil sensor akan terlihat dalam layar pantau. Termometer ini bisa dikatakan paling
akurat dan cepat, karena membran timpani merupakan tempat yang ideal untuk pengukuran
suhu   inti   karena   terdapat   arteri   yang   berhubungan   dengan   pusat   termoregulasi.   Namun
harganya relatif mahal. Selain itu, bila gendang telinga dalam keadaaan tidak bersih, maka
akan menghalangi penyaluran gelombang panas pada sensor. Tentu saja ini akan menggangu
keakuratan  .Perbedaan model termometer inframerah dapat menyebabkan hasil bervariasi,
lekukan liang telinga juga memberikan kesulitan untuk mencapai membran timpani, terutama
bayi baru lahir.  Termometer telinga ini juga ditenagai oleh batere kecil serta sesuai untuk
bayi diatas usia 3 bulan, anak­anak serta orang dewasa. Termometer telinga digital tidak di
anjurkan untuk digunakan pada bayi usia dibawah 3 bulan karena pada usia tersebut lubang
telinga bayi masih terlalu kecil. Ada yang tidak menganjurkan di bawah 2 tahun.

Banyak rumah sakit dan klinik sekarang memakai termometer ini. Umumnya, temperatur
gendang telinga seakurat suhu anus. Dokter maupun suster umumnya memakai termometer
ke telinga karena ini merupakan cara tercepat untuk mengukur suhu anak. Jika dilakukan
secara benar, maka suhu yang didapat biasanya akurat. Tapi jenis termometer ini agak sulit
digunakan jika Anda bukan profesional. Ujung termometer harus masuk cukup dalam ke
telinga dan sensor panas harus sejajar dengan gendang telinga.Jika tidak terbiasa memakai
termometer ini, suhu yang didapat menjadi tidak akurat. Termometer ini sangat sensitif maka
sebaiknya hanya digunakan oleh para profesional. Orang tua lebih baik memakai termometer
digital melalui anal, oral , ketiak untuk mengukur suhu tubuh anak.

Ada juga termometer inframerah dahi.

- Termometer Arteri Temporal (TA Thermometer)

Mengukur suhu permukaan kulit yang dilewati arteri temporal. Termometer mempunyai
probe yang mengandung sensor. Ketika termometer ini melewati dahi (garis tengah dahi),
panas infra merah dari arteri diambil oleh sensor. Pembacaannya lebih akurat dari termometer
telinga. Keuntungan utama ialah temperatur dapat diketahui dalam beberapa detik tanpa
membangunkan anak. Termometer ini lebih mahal dari termometer yang lain.

Dapat juga digunakan di belakang lobus telinga jika dahi berkeringat, aksila dan femoral.
Jangan tempatkan termometer pada kulit yang terpapar sinar matahari langsung, panas
perapian, hembusan AC, terapi kompres dingin/hangat.
Harus digunakan pada temperatur ruang yang sama ketika digunakan. Apabila alat
termometer telah disimpan di tempat yang dingin sebelum digunakan biarkan hangat kembali
secara alami sampai ke suhu ruangan dan sebaliknya.
If it is taken from a cold room into a hot room, or vice versa,allow it to acclimate for at least 30 minutes before
using it.
Suhu pengoperasian alat yang optimal adalah tergantung masing-masing alat yang dapat dilihat
pada buku petunjuk, ada yang 15-32oC, ada 16-40 oC  (operating environment is 60.8° F to 104° F with 15­95% humidity).
)
Termometer arteri temporal dipakai sebagai skrining di unit gawat darurat terutama yang
sibuk pada anak risiko rendah tetapi belum direkomendasikan untuk pemakaian di rumah dan
rumah sakit bila pengukuran definitif (pasti/yang menentukan ) diperlukan.

Termometer Infra Merah nonkontak
Termometer ini digunakan tanpa kontak dengan pasien. 
Dapat   digunakan   di   klinik,   rumah   sakit,   pelayanan   kedaruratan   medik,   sekolah   dan
dipasarkan pula untuk penggunaan di rumah. 

Termometer inframerah non contact

Pita Indikator/termometer dahi
Pita indikator yaitu berupa strip atau lempengan/lembaran plastik tipis yang dilekatkan ke
dahi   si   kecil.   Panelnya   yang   peka   suhu   akan   berubah     warna   sesuai   temperatur   tubuh.
Meskipun penggunaaanya mudah, tapi tingkat keakuratannya agak rendah khususnya pada
bayi dan anak kecil. Anda perlu perlu menambahkan kira­kira 0,5 derajat C terhadap angka
yang terbaca. 

Berikut langkah­langkah menggunakan termometer :

    Mengukur Suhu Ketiak

Cara   ini   mudah   dilakukan   dan   nyaman   bagi   anak,   hanya   saja   memiliki   sensitivitas   yang
bervariasi.
Pengukuran   suhu   melalui   ketiak   (axilar)   hanya   dapat   dilakukan   pada   anak   besar   yang
mempunyai   daerah   aksila   yang   cukup   lebar,   pada   anak   kecil   ketiaknya   sempit   sehingga
terpengaruh   suhu   luar.   Namun   meskipun   sensitivitasnya   rendah   pengukuran   suhu   ketiak
direkomendasikan oleh  American Academy of Pediactric  sebagai tes skrining demam pada
bayi baru lahir karena risiko perforasi/ dapat melubangi anus oleh termometer anus meskipun
komplikasi   ini   muncul   1   dari   2   juta   pengukuran. 

 ika suhu ketiak tidak menunjukkan demam tetapi anak terasa hangat dan kelihatan sakit ,
lakukan   pengukuran   suhu   rektal.
Pengukuran dapat dilakukan jika anak sedang tidur sehingga tidak mengganggu tidurnya.  
Pengukuran dengan cara ini tidak dapat untuk penderita­penderita  yang sangat kurus dan
setelah menjalani pembedahan tertentu atau pada mereka yang mengalami gangguan pada
tangan   mereka.
J  
 JProsedur :
§        Termometer harus menyentuh kulit (tengah ketiak/lipatan ketiak)   sehingga baju   si kecil
sebaiknya dilepas/membuka pakaian pada lengan. Daerah ketiak harus dikeringkan dengan
baik, termometer yang akan digunakan harus dikeringkan pula.  
    § Pangku si buah hati / baringkan penderita pada posisi telentang. Untuk ibu di rumah : pada
anak   kecil   atau   bayi   ,   lebih   mudah   mengukur   suhu   dengan   medekap/tidur   menyamping/
cradle hold . Untuk anak yang lebih tua anak bisa duduk dipangkuan, dengan satu tangan di
punggung.   Dapat   pula   dipangku   searah   dengan   posisi   orang   yang   memangkunya.Suatu
kegiatan   ringan   seperti   menyusui,   menyanyi   atau   bercerita   untuk   anak   mungkin   dapat
membantu anak tetap tenang. 
§       Kepitkan termometer di ketiaknya. Rapatkan lengan penderita ke tubuhnya agar termometer
terjepit kuat dan silangkan lengan bawah penderita ke dada atau perut , jepit selama 3­5 menit
untuk mendapat hasil paling akurat.

Temperatur  ketiak  biasanya  1/2 derajat  lebih  rendah dari  suhu oral,  lebih  rendah 0,5­0,8­1,0


derajat C dibandingkan hasil melalui dubur.

Mengukur suhu melalui mulut ( oral ) :


Pengukuran suhu melalui mulut dilakukan dengan mengambil suhu pada mulut (mengulum
termometer) dilakukan pada anak yang sudah kooperatif. 

Tip: 
*   Pastikan   si   kecil   tidak   mengonsumsi   minuman   panas   atau   dingin   sekitar   15   menit
sebelumnya.  Bila   anak   baru   saja   makan   atau   minum,sehabis   melakukan   kegiatan   yang
melelahkan tunggu sekitar 20­30 menit. Pada pasien dewasa tunggu juga sekitar 15­20­30
menit setelah merokok. Jangan kalau baru saja bangun dan terlalu sakit sehingga tidak dapat
menahan kantuk dan menggigil.
*    Pastikan tidak ada makanan di mulutnya.
* Tidak untuk anak di bawah 5 tahun yang tidak koperatif, menderita batuk atau flu sampai
bernafas melalui mulut karena hidung tersumbat. penderita yang mengalami sesak nafas ,
pasien tidak sadar, gelisah , dan penderita yang mengalami gangguan jiwa. 

Prosedur :
- Meletakkan ujung termometer oral di samping kiri atau kanan frenulum (tali
lidah)/kantung dasar lidah di bawah lidah (sublingual) selama 3 menit.
- Minta anak untuk mengatupkan bibirnya di sekeliling termometer.
- Selalu ingatkan anak untuk tidak menggigit atau berbicara ketika ada termometer di
dalam mulut.
- Minta pula si anak untuk relaks dan bernapas biasa melalui hidung.
- Kemudian ambil termometer dan bacalah posisi air raksanya atau digitnya.
- Dapat pula digunakan termometer 1 x pakai.

Mengukur suhu melalui dubur (rektal):

Pemeriksaan  suhu rektal  secara  tradisional  dianggap  sebagai  standar emas  untuk pengukuran


suhu.  Pada anak suhu dari dubur merupakan standard dan lebih dipercaya karena wilayah
inilah yang paling mendekati suhu tubuh sebenarnya (core temperature)  yang lebih tinggi
daripada   suhu   yang   diukur   di   tempat   lain.   Ada   perbedaan   kurang   lebih   0,5—1   derajat
dibanding suhu mulut atau ketiak. Tapi kalau orang tua tidak berpengalaman mengukur lewat
dubur, sebaiknya dilakukan cara lain. Masalahnya dubur anak bisa menjadi lecet atau kena
iritasi,  terutama   bayi.   Oleh   karena   itu   disarankan   mengukur   suhu   tubuh   melalui
anus sebaiknya hanya   dilakukan   oleh   dokter/petugas   kesehatan   (orang   tua   boleh   saja   tapi
harus lebih berhati­hati).
Dapat dilakukan pada :
∙          Pengukuran   di   anus   lebih   akurat   dari   pengukuran   di   mulut   dan   ketiak.   Metoda   ini
dipercaya cara untuk memastikan demam. Merupakan prosedur normal pada bayi dan anak
(pada anak di bawah umur 2—4 tahun).
∙         Pasien tidak sadar.
∙          Dilakukan pada beberapa keadaan yang diperlukan pengukuran suhu yang lebih akurat
seperti pada penderita yang banyak berkeringat atau frekuensi pernafasan yang tinggi. Pada
keadaan tersebut, lebih baik melalui anus karena perbedaan yang mungkin di dapatkan pada
pengukuran suhu di berbagai tempat dapat mencapai 2—3 derajat.
∙         Pasien yang diduga terkena pengaruh suhu lingkungan seperti hipertermia dan hipotermia
(<36,5oC).
Jangan pada :
∙          Bila diare, terdapat peradangan pada anus atau sekitarnya, pengukuran suhu sebaiknya
dilakukan di tempat lain saja.
∙          Menderita  kelainan   jantung.   Termometer   dapat   menstimulasi   saraf   vagus   di   anus   dan
menyebabkan aritmia jantung (gangguan irama jantung).
∙         Menderita wasir.
∙         Baru saja operasi di anus.

 Dewasa :
* Minta penderita berbaring pada sisi kirinya, kalau ini tidak dapat dilakukan, maka mintalah ia
agar dapat  berbaring pada sisi kanan atau  punggungnya. Pada kedudukan penderita  yang
terakhir ini, termometer tsb harus kita masukkan ke dalam rektum penderita dengan tuntunan
jari kita. Beri tahu pasien jika kita akan memasukkan termometernya. Pada tindakan ini kita
harus   memakai   sarung   tangan   plastik. 
 ­ Masukkan ujung termometer yang telah dilumasi dengan pelumas secara perlahan ke dalam
dubur sejauh 2,5­3,5 cm pada orang dewasa atau sampai ujung termometer yang dilapisi
logam masuk semua ke dalam lubang dubur . Termometer dimasukkan ke dalam anus dengan
arah sejajar dengan tulang belakang (kolumna vertebralis) Namun bila terasa ada sesuatu
yang   menahan,   jangan   masukkan   lebih   jauh   dari   1   cm.   Lalu   rapatkan   lipatan   bokong.  
*   Posisi   Sims   atau   miring   dan   kaki   sebelah   atas   ditekuk   ke   arah   perut.  

Anak :­ Pada anak di bawah umur 2 tahun suhu dapat diukur di rektum
Prosedur:
∙         Cuci tangan dan gunakan sarung tangan.
∙         Buka pakaian yang menutupi bokong anak.
∙         Pakai termometer digital dengan ujung flexible (ujungnya lentur).
∙         Pastikan posisi termometer dalam keadaan normal.
*  Atur posisi anak : 
  *    Letakkan kain di bawah anak, karena pengambilan suhu dengan cara ini dapat menyebabkan
pergerakan usus.
  *    Membaringkan si kecil di pangkuan dengan posisi tengkurap, perut di bawah dan pantat di
atas, biarkan kaki kakinya menjuntai di paha Anda. Jangan lupa mendukung kepala bayi.
Dapat pula membaringkan bayi di permukaan yang datar atau permukaan yang empuk seperti
tempat tidur, meja ganti atau selimut di atas lantai untuk anak yang lebih besar atau bayi yang
aktif.
                              Letakkan salah satu tangan pada punggung bawah bayi agar tetap diam. 

    *    Membaringkan si kecil  di atas tempat rata  dengan memegang kakinya di udara, seperti


ketika mengganti popok . Posisi ini dikenal si kecil, dan kontak wajah dengan wajah akan
memberinya   rasa   nyaman
Jika menggunakan termometer air raksa : janganlah mengukur suhu anus dengan bayi dalam
posisi terlentang, karena dapat menyebabkan termometer pecah atau menembus dinding anus.

  
  
*       Memiringkan  tubuh  balita,  dan  menekuk/membengkokkan  lututnya  sedikit  agar  ia tidak
tegang dan merasa lebih rileks.
∙         Lumasi ujung/leher termometer dengan jelly yang larut  air, baby oil atau vaselin /pelumas
larut air 1,2—2,5 cm untuk bayi/anak­anak,agar alat ini menjadi licin dan mudah dimasukkan
ke dalam dubur tanpa rasa sakit.
∙          Lebarkan anus bayi dengan satu tangan, lalu dengan tangan yang satu lagi memegang
termometer.
∙         Menyuruh menarik nafas (anak besar).
∙          Masukkan ujung termometer secara perlahan ke dalam dubur sejauh 1,2—2,5 cm pada
bayi/anak­anak atau sampai ujung termometer yang dilapisi logam masuk semua ke dalam
lubang dubur. Termometer dimasukkan ke dalam anus dengan arah sejajar dengan tulang
belakang   (kolumna   vertebralis).   Namun   bila   terasa   ada   sesuatu   yang   menahan,   jangan
masukkan lebih jauh dari 1 cm. Lalu rapatkan lipatan bokong.
∙         Usahakan  agar gerakan si kecil tidak mengganggu pengukuran. Tenangkan si anak dengan
mengajaknya bicara sambil Anda memegang termometer tersebut.
∙         Pegang termometer selama 3—5 menit untuk anak­anak atau sampai terdengar bunyi beep
(tit, tit,tit...) pada termometer digital, cabut termometer dengan hati­hati.
∙         Bersihkan termometer menggunakan tisu dengan gerakan memutar dari atas ke arah bawah
kemudian buang tisunya.
∙         Baca digitnya.
∙         Lap area anus untuk membersihkan pelumas atau feses dan rapikan anak.
∙         Bersihkan termometer.
∙         Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan.
∙         Dokumentasikan pembacaan suhu.

Mengukur Temperatur Telinga


1. Cek probe bersih dan bebas dari kotoran . Jika Kotor usap dengan kain bersih. Jangan
mencelupkannya ke dalam air.
2.   Untuk   menjaga   agar   probe   tetap   bersih,   penutup   probe   sekali   pakai   dapat   digunakan.
Gunakan penutup baru setiap akan mengukur suhu telinga. Lekatkan pada probe penutup
tersebut.
3. Hidupkan termometer.
4. Untuk bayi lebih muda dari 12 bulan, tarik daun telinga ke bawah dan belakang untuk
meluruskan saluran telinga. Ujung probe dimasukkan ke tengah telinga dan dorong dengan
hati­hati menuju gendang telinga. 
5. Untuk yang lebih dari 12 bulan dan dewasa, tarik daun telinga ke atas dan belakang.
6. Tekan tombol on untuk menampilkan pembacaan suhu.
7. Keluarkan termometer telinga dan buang penutup probe yang sudah digunakan. 

Mengukur suhu arteri temporal
Bersihkan   dahi   dari   keringat,   singkirkan   rambut   yang   menjuntai,   keluarkan   topi   yang
menutupi dahi.
1. Buka penutup termometer.
2. Nyalakan termometer.
3. Tempatkan cup pada kulit di tengah dahi. Pastikan tidak ada sesuatu di antara kulit dan cup
termometer.
4. Dorong termometer ke sisi dahi yang lain (pelipis)( sesuai garis rambut/tidak ke atas atau
ke bawah ).

5. Dengar bunyi alat. Kebanyakan termometer arteri temporal mempunyai sinyal


seperti beep atau bunyi lain yang menunjukan termometer siap dibaca.
6. Angkat termometer dan baca suhu.
N.B :

1. Pada umumnya yang diukur adalah suhu ketiak (axilla) .

Pemeriksaan suhu rektal secara tradisional dianggap sebagai standar


emas untuk pengukuran suhu.

Pada anak suhu dari dubur merupakan standard dan lebih dipercaya karena
wilayah inilah yang paling mendekati suhu tubuh sebenarnya (core temperature)
yang lebih tinggi daripada suhu yang diukur di tempat lain.Namun ketika suhu
sentral meningkat atau menurun secara tiba-tiba, maka temperatur rektal berubah
lebih lama dan dapat berbeda dari temperatur sentral .
Ada perbedaan kurang lebih 0,5 – 1 derajat dibanding suhu ketiak atau mulut .
Tapi kalau orang tua tidak berpengalaman mengukur lewat dubur , sebaiknya
dilakukan cara lain. Masalahnya dubur anak bisa menjadi lecet atau kena iritasi
,terutama bayi. Oleh karena itu disarankan mengukur suhu tubuh melaui anus
sebaiknya hanya dilakukan oleh dokter/petugas kesehatan(orang tua boleh
saja tapi harus lebih berhati-hati ).
2.Hati-hati dengan termometer dari kaca. Selain mudah pecah, cairan merkuri di dalamnya
adalah racun. Untuk ibu disarankan menggunakan bukan termometer air raksa untuk
pengukuran suhu di rumah. Termometer air raksa seharusnya digunakan pada anak besar dan
hanya untuk pengukuran di ketiak. Prosedur pengukuran suhu di ketiak dapat dilakukan pada
anak balita yang sudah cukup mengerti tindakan pengukuran suhu badan. Meskipun
demikian, tetap saja harus dilakukan dengan hati-hati karena kemungkinan anak balita
berontak atau mengempit termometer terlalu kuat dapat terjadi sehingga termometer pecah
dan melukai serta membahayakan keselamatan anak.Termometer digital dapat menjadi
pilihan apalagi sekarang sudah ada yang harganya relatif murah. Namun tidak masalah
termometer mana yang Anda pilih, pastikan Anda tahu cara menggunakannya dengan benar
sehingga tidak membahayakan kesehatan dan keselamatannya dan tahu cara membaca suhu
badan,
Hati-hati dengan termometer dari kaca. Selain mudah pecah, cairan merkuri di
dalamnya adalah racun. Untuk ibu disarankan menggunakan bukan termometer air
raksa untuk pengukuran suhu di rumah. Termometer air raksa seharusnya
digunakan pada anak besar dan hanya untuk pengukuran di ketiak.

3. Mengukur suhu tidak dilakukan sehabis makan atau melakukan aktivitas , jangan
sekali-kali mengukur suhu tubuh penderita pada waktu duduk atau segera setelah ia
bangun , setelah waktu kunjungan , pemeriksaan atau pengobatan dan perawatan
yang melelahkan , jadi harus dalam keadaan istirahat, karena pembentukan panas
oleh tubuh merupakan hasil metabolisme tubuh . Sumber utama dari panas badan
adalah pembakaran makanan terutama di dalam hati dan otot-otot bergaris.
Jangan pula melakukan pengukuran suhu sehabis mandi karena suhu yang
terukur akan lebih rendah daripada kondisi yang sebenarnya.
4. Sebelum termometer dipakai , permukaan air raksa harus diturunkan sampai di
bawah 35 ° C dengan jalan mengibaskan termometer dan teliti apakah ujung
termometer utuh dan rata.
5. Hendaknya ada yang tetap memegang termometer tersebut pada :
v Penderita yang tidak sadarkan diri.
v Penderita yang megalami sakit parah .
v Bayi dan anak-anak yang berusia di bawah 10 tahun.
v Orang usia lanjut usia yang memperlihatkan gejala disorientasi.
v Penderita baru.

6.Untuk termometer digital, jangan lupa juga untuk mengaktifkannya sebelum


digunakan. Walau demikian , biasakan membaca dahulu petunjuk yang disertakan
oleh pabrik pembuat termometer tersebut, karena mungkin saja termometer
tersebut memerlukan cara berbeda untuk pemakaiannya.
7. Lama Pengukuran

k ( Axilla) selama ±3-5-10-15 menit ( sekarang ini di praktek 3 menit ): 5 menit pada anak dan 9
menit pada orang dewasa atau sesuai petunjuk dari pabrik termometer yang
digunakan.
( Oral ) selama ±2-3- 5-7-10 menit : (paling sedikit 3 menit)
r ( Rectal ) selama ( orang dewasa 2-3 menit dan 5 menit untuk anak-anak).
ometer digital : sampai sinyal terdengar dan petunjuk digit dapat terbaca.
7.Pembacaan skala termometer harus sejajar dengan mata, putar termometer sehingga
kolum air raksa jelas terlihat, hal ini untuk meghindari hasil pembacaan yang salah.
8. Segera setelah anda baca , catat suhu tubuh penderita tersebut.

Pemeliharaan termometer
­ Untuk membersihkan termometer, bersihkan dengan kapas atau tisu atau lap berbahan katun
yang telah dibasahi dengan alkohol.
­ Atau bisa juga dibersihkan dalam air sabun hangat lalu bilas dengan air dingin. Jangan
pernah menggunakan air panas untuk mencuci termometer. Jangan menyimpan termometer
tanpa mencucinya terlebih dahulu. Termometer yang kotor dapat menginfeksi anak lagi.
­ Simpan kembali ke kotaknya. 
­ Sebelum digunakan ujung termometer dibersihkan lagi dengan air bersabun atau alkohol. 

Pilihan termometer sesuai usia anak

Termometer tepat sesuai usia anak


Metode yang dipilih dalam mengukur suhu tubuh si kecil sangat ditentukan oleh usia
dan seberapa kooperatif anak. Bagi bayi bahkan sampai usia prasekolah, misalnya,
lebih akurat bila diukur menggunakan termometer telinga dan termometer arteri
temporal. Namun untuk screening pengukuran lewat ketiak masih direkomendasikan
untuk anak.

Untuk Bayi Yang Baru Lahir sampai 3 bulan.

Ukur suhu di ketiak atau melalui arteri temporal . Melalui arteri temporal lebih bagus untuk
skrining di banding suhu ketiak (menurut penelitian terbaru). Jika hasil pengukuran
menunjukkan suhu tubuh di atas 37,2/37,5 derajat C, ukur kembali suhu tubuhnya melalui
anus. Jenis ini paling akurat dan direkomendasikan untuk bayi, khususnya bayi yang baru
lahir/bayi sakit. Infeksi berbahaya bagi bayi, sehingga dokter memerlukan pemeriksaan yang
bisa dipercaya.
Kekurangannya: Anda mungkin khawatir si kecil merasa tidak nyaman, tapi termometer
digital terbaru bisa memberi hasil dalam hitungan detik
3 bulan sampai 4 atau 5 tahun

Pilih termometer yang digunakan lewat anus, arteri temporalis atau lewat mulut dapat yang
berbentuk dot/empeng. Pemeriksaan melalui anus paling oke. Tapi, jika anak suka
menggeliat-geliat, Anda bisa memilih cara lain. Anak usia 3 tahun sudah bisa
mempertahankan termometer mulut di bawah lidahnya tanpa menggigit. Termometer telinga
dapat juga digunakan, bagus setelah 6 bulan jika pemakai mengerti dan menguasai tekniknya.
Temperatur ketiak bagus untuk cek secara cepat jika dilakukan dengan benar.
Kekurangannya: Batita dan anak prasekolah sering tak bisa duduk diam saat diperiksa lewat
anus. Tapi mereka juga seringkali belum siap untuk termometer mulut. Jadi, gunakan
termometer yang bisa diletakkan di bawah ketiak, meski hasilnya kurang akurat. Tip: Ketika
menggunakan termometer di bawah ketiak, tahan lengan si kecil agar menempel pada bagian
dada untuk mendapat hasil paling akurat.

4 tahun ke atas/SD

Pilih termometer yang dimasukkan ke dalam mulut. Termometer digital menjadi pilihan
untuk mengukur suhu di dalam rongga mulut. Seharusnya anak sudah bisa menggunakan
termometer mulut. Anak umumya sudah bisa memegang sendiri termometer digital yang
digunakan di mulut.Apalagi, alat ini bisa memberikan hasil yang sangat terpercaya. Hal ini
hanya dapat dilakukan bila anak mengerti tujuan pemeriksaan dengan terlebih dahulu
menjelaskan kepadanya.
Dapat pula digunakan arteri temporal atau termometer telinga.

Kekurangannya: Kebanyakan termometer mulut bisa pula digunakan sebagai termometer


anus (atau di bawah ketiak). Tapi, jangan gunakan termometer dari anus ke mulut (walau
sudah dibersihkan). Sebaiknya, beli dua termometer yang berbeda.

Use this chart to help you decidewhich method to use.


Age Recommended technique
Birth to 2 years 1st choice: Rectum (for an accurate reading/definitive)
2nd choice: Armpit(screening low risk children/TA)
Between 2 and 5 years 1st choice: Rectum (for an accurate reading)
2nd choice: Armpit, Ear (or Temporal Artery if in hospital)
(Screening)
Older than 5 years 1st choice: Mouth (for an accurate reading/definitive)
2nd choice: armpit, ear (or TA if in hospital) (screening)
Bagi petugas kesehatan selidiki atau tanyakan bagaimana pengukuran suhu tubuh yang
dilakukan di tempat kerja.
Diposting oleh dr Lusia di 07.51
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Label: Artikel Demam