Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN FIELD TRIP KE PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA (AMNT)

Analisa dampak lingkungan Mengenai Pengelolaan dan Pemantauan Tailing

LAPORAN FIELD TRIP KE PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA (AMNT) Analisa dampak lingkungan Mengenai Pengelolaan dan

Oleh:

Bara Yudistira Baklaes NIM: 03042681721008

Dosen Pengajar:

Dr. Ir. Restu Juniah, MT

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2017

ABSTRAK

Industri pertambangan khususnya bahan galian tembaga semakin berkembang di Indonesia. Berkembangnya sektor industri pertambangan tersebut salah satunya menimbulkan dampak positif dan dampak negatif pada lingkungan sekitar salah satu dampak negative yang muncul adalah pencemaran air laut di sekitar lokasi pertambangan. Untuk menanggulangi dampak tersebut, kegiatan pemantauan dan pengelolaan kualitas tailing dan kualitas air laut menjadi hal penting untuk dilakukan agar kualitas tailing hasil flotasi bijih tembaga memenuhi kualitas air limbah dan tidak memberi dampak yang signifikan terhadap air laut. Dalam kegiatan penelitian ini, dilakukan analisis baku mutu limbah tailing hasil flotasi dan baku mutu air laut di PT Amman Mineral Nusa Tenggara. Baku mutu tailing yang dianalisa mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 92 Tahun 2011. Sedangkan untuk baku mutu air laut mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 382 Tahun 2016. Adapun parameter kualitas tailing meliputi pH, Fraksi Padatan, Density dan Konsentrasi Logam Terlarut. Berdasarkan hasil analisis pengelolaan dan pemantauan tersebut, tailing dari hasil flotasi yang dialirkan ke Teluk Senunu telah memenuhi standar baku mutu tailing sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 92 Tahun 2011. Hasil analisa dari kualitas air laut di Teluk Senunu juga telah memenuhi standar baku mutu air laut sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 382 Tahun 2016.

Kata Kunci : Tailing, Kualitas Air.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala curahan rahmat dan karunia-Nya sehingga tulisan ini berhasil diselesaikan. Tulisan ini merupakan laporan field trip ke PT. Amman Mineral Nusa Tenggara.

Laporan ini sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas laporan pada Program Studi Magister Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah memberikan bantuan dalam dan dukungannya sehingga kegiatan field trip ke PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA dapat dilaksanakan:

  • 1. Prof. Ir. H. Machmud Hasjim, MME

  • 2. Prof. Dr. Ir. H.M. Taufik Toha, DEA

  • 3. Dr. Ir. Restu Juniah, MT

  • 4. Ir. H. Marwan Sastradinata, MM

Semoga

tulisan

ini

dapat

dipahami

dan

memberikan

inspirasi

bagi

pembacanya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat.

Palembang,

Desember 2017

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul i .......................................................................................................... Kata Pengantar…………………………………………………………………….ii Abstrak iii ....................................................................................................................

Daftar Isi………………………………………………………………………

iv

...... Daftar Gambar …………………………………………………………………

v Daftar Tabel vi ............................................................................................................ BAB I Pendahuluan ………………………………………………………… ….1 ...

....

1.1 Sejarah PT. Amman Mineral Nusa Tenggara……………............................…1

  • 1.2 Latar Belakang Masalah………………………….………………… ..…....1

BAB II Tinjauan pustaka …………………………………………………….......4

2.1 Kegiatan Proses Penambangan

...........................................................................

4

  • 2.2 Analisis Dampak Lingkungan ( analisa dampak lingkungan)…………....5

  • 2.3 Minamata………………………………………………………………….5

2.4Tailing……………………………………………………………...……....5

  • 2.5 Konstruksi dan Monitoring Infrastruktur Tailing PT. AMNT....................8

    • 2.6 Corporate Social Responbility ( CSR ) ………………..………………..10

BAB III Kajian masalah pt. Amman mineral nusa tenggara (AMNT) ..…….11

  • 3.1 Janji janji PT. Amman Mineral Nusa Tenggara……………………….11

  • 3.2 Contoh Kasus .......................……………………………………...…..…13

BAB IV Kesimpulan dan saran………..…………………………………..……18 Daftar pustaka……………………………………………………………….…...vii

iv

DAFTAR GAMBAR

  • 1. Lambang PT. Amman Mineral Nusa Tenggara ( AMNT )…………….… .....1

  • 2. Proyek Batu Hijau terletak di Kabupaten Sumbawa Barat, NTB……….......1

  • 3. Konstribusi PT. Amman Mineral Nusa Tenggara bagi Indonesia……….….2

  • 4. Tailing ............................................................................................................... 6

  • 5. Proses Pembuangan Limbah.............................................................................7

  • 6. Lokasi penempatan tailing di Teluk Senunu

....................................................

7

  • 7. Skema penempatan tailing di Teluk Senunu....................................................8

  • 8. Kedalaman serta jarak penempatan tailing di dasar laut.................................8

  • 9. Pipa untuk mengalirkan tailing

9

  • 10. Pipa lajur tailing

10

  • 11. ROV (remotely operated vehicle)...................................................................10

  • 12. Penelitian Yang Dilakukan Karyawan Lab PT.AMNT………………......…12

  • 13. Melakukan Reklamasi………………………………………………….… 12 ...

  • 14. Peningkatan Kesehatan Masyarakat……………………………………..…13

  • 15. Infrastruktur……………………………………………………….…….… 13 ..

  • 16. Perbandingan Padatan Tersuspensi Teluk Senunu Zona A...........................16

  • 17. Perbandingan Suhu Teluk Senunu Zona A.....................................................16

  • 18. Perbandingan Konsentrasi Logam Terlarut Arsen Zona A............................16

DAFTAR TABEL

  • 1. Nilai Baku Suhu Tailing Flotasi ......................................................................6

  • 2. Hasil Pemantauan Tailing Bulanan ...............................................................17

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Sejarah PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA

PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) merupakan perusahaan patungan Indonesia yang dimiliki oleh Nusa Tenggara Partnership dan PT Pukuafu Indah (Indonesia). AMNT menandatangani Kontrak Karya pada 1986 dengan Pemerintah RI untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi di dalam wilayah Kontrak Karya di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Sejarah PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT)

Gambar 1 Lambang PT. Amman Mineral Nusa Tenggara ( AMNT )

Batu Hijau adalah tambang terbuka yang dilengkapi dengan sarana pengolahan dan pendukung. Produk berupa konsentrat tembaga yang mengandung sejumlah kecil emas, yang dikirimkan ke berbagai pabrik peleburan di Indonesia maupun di luar negeri untuk pengolahan selanjutnya. Proyek Batu Hijau terletak di Kabupaten Sumbawa Barat, NTB.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Sejarah PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT)

Gambar 2 Proyek Batu Hijau terletak di Kabupaten Sumbawa Barat, NTB.

Batu Hijau merupakan cebakan tembaga porfiri ditemukan pada 1990 setelah melalui sepuluh tahun masa eksplorasi. Setelah memperoleh persetujuan studi kelayakan dan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), konstruksi proyek pun dimulai awal 1997 dengan biaya investasi sebesar US$1,8 miliar dan selesai pada 1999. Produksi komersial dimulai pada 1 Maret 2000.

Berdasarkan studi kelayakan, cadangan bijih tambang Batu Hijau sebesar 1,1 miliar ton dengan kandungan 0.525% tembaga dan 0.37 gram emas per ton batuan. Mengacu tingkat produksi saat ini, usia tambang Batu Hijau diperkirakan berlanjut hingga 2023. AMNT saat ini tengah melakukan kegiatan eksplorasi di wilayah lain di dalam wilayah Kontrak Karya seprti di Prospek Elang.

Sebagai kontraktor Pemerintah Indonesia, PT. AMNT memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian bangsa melalui penciptaan lapangan kerja, pembayaran royalti dan pajak. Saat ini AMNT menyediakan lapangan kerja langsung bagi lebih dari 7.000 orang. Dari jumlah itu, lebih dari 60% berasal dari Provinsi NTB.

Berdasarkan studi kelayakan, cadangan bijih tambang Batu Hijau sebesar 1,1 miliar ton dengan kandungan 0.525% tembaga

Gambar 3 Kontibusi PT. Amman Mineral Nusa Tenggara bagi Indonesia

Pada 2007 PT. AMNT memberikan kontribusi lebih dari $248 juta berupa pajak, non-pajak dan royalti kepada Pemerintah Indonesia. Selain itu, setiap tahun AMNT membeli barang dan jasa dari dalam negeri sebesar lebih dari US$154 juta, membayar sebesar US$58 juta bagi upah karyawan nasional dan mengeluarkan dana sebesar US$4 juta per tahun bagi kegiatan pengembangan masyarakat. Latar Belakang Bidang Kajian

1.2 Latar Belakang Masalah

Dampak positif adalah adanya perkembangan masyarakat dan ekonomi di sekitar lokasi penambangan yang meningkat dari waktu ke waktu. Dampak negatif antara lain diduga adanya pencemaran lingkungan sebagai akibat dari pengoperasian tambang mesel.

Sehubungan dengan adanya dugaan pencemaran lingkungan tersebut dipandang perlu dilakukan langkah-langkah penelitian,pemantauan dan analisa secara ilmiah lebih lanjut guna memperoleh kesimpulan-kesimpulan yang bersifat final. Menyadari akan hal ini, pihak pemerintah yang diwakili Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat maupun PT. Amman Mineral Nusa Tenggara sepakat mengadakan perjanjian yang dituangkan dalam Perjanjian Niat Baik (Goodwill Agreement) pada tanggal 16 Februari 2006. Mempertimbangkan manfaat dari upaya pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang telah dilaksanakan sewaktu beroperasinya PT. Amman Mineral Nusa Tenggara, perjanjian Niat Baik antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT. Amman Mineral Nusa

Tenggara tetap diarahkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat menyangkut bidang kesehatan, bidang pendidikan, bidang infrastruktur maupun bidang ekonomi di sekitar penambangan. Selanjutnya guna memberikan kelancaran upaya yang dilakukan, maka Pemerintah Republik Indonesia dan PT. Amman Mineral Nusa Tenggara bersepakat membentuk yayasan sebagaimana termaktub dalam Pasal 4.2 perjanjian Niat Baik, bahwa 90 hari setelah penandatanganan perjanjian harus segera dibentuk yayasan untuk pengelolaan program pemberdayaan dan program pemantauan lingkungan.

Tanggal 24 April 2007 digelar sidang putusan pengadilan terhadap PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (PT. AMNT) dan Presiden Direktur Richards Ness di Pengadilan Negeri Manado. Sidang tersebut telah memakan waktu hampir setahun lebih. Warga Buyat sebagai korban kesengsaraan atas kegiatan pertambangan emas tersebut, menunggu keputusan hakim dengan berharap- harap cemas memperoleh keadilan dari bencana yang telah mereka terima selama ini dari kegiatan penambangan PT. NNT.

Kilas Balik. Kasus yang lebih dikenal dengan nama “Kasus Buyat” ini, dimulai dengan adanya laporan dari seorang warga dusun Buyat Pante sekitar minggu keempat Juli 2004, dengan diberitakan munculnya penyakit aneh yang menyerang masyarakat dusun Buyat Pante dengan gejala-gejala, seperti tumor, neurologi, infeksi saluran pernafasan, pencemaran, dan pendarahan. Hingga kini, penduduk yang masih tinggal dusun Buyat Kampung yang terjangkit penyakit aneh mencapai 477 pasien tanpa mengalami perbaikan kondisi, serta banyaknya jenis ikan yang mati secara mendadak di kawasan Teluk Buyat. Tujuh puluh tiga kepala keluarga warga dusun Buyat Pante secara mandiri pindah ke desa Duminanga, Kabupaten Bolaang Mongondow.

Maka dari itu, jika PT NNT mengklaim bahwa dirinya tidak melakukan pencemaran di Teluk Buyat dengan melakukan kampanye lingkungan di berbagai media cetak dan elektonik, baik di dalam maupun luar negeri, yang menyebutkan bahwa tidak terjadi pencemaran akibat kegiatannya sepanjang tahun 2004 sampai sekarang adalah suatu kebohongan besar dan melukai hati warga dusun Buyat Pante.

Iklan yang disampaikan dalam bentuk foto-foto Buyat Pante dengan kondisi terumbu karang yang sehat dan menjadikan kawasan Teluk Buyat sebagai kawasan wisata bahari serta para nelayan dapat menangkap 8 keranjang ikan setiap hari disanggah keras oleh warga Dusun Buyat Pante di

depan media nasional. “Jika kami dapat menangkap ikan tiap hari, tentu tak sengsara kemarin kehidupan kami waktu di Buyat Pante” ungkap salah satu

warga pindahan Buyat (Kompas, 7 Januari 2007).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Kegiatan proses penambangan

  • 2.1.1 Penambangan

Penambangan di Batu Hijau diawali dengan kegiatan pengeboran dan peledakan. Akibat dari ledakan ini batuan akan terlepas dari tanah dengan rata-rata diameter 25 cm. Kemudian batuan yang terlepad tadi akan dimuat kedalam truk dengan kapasitas 240 ton dan diangkut menuju crusher (mesin penghancur). Di crusher, ukuran bijih batuan diperkecil hingga berdiameter rata-rata kurang dari 15 cm.

Untuk saat ini PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA melakuakan Penambangan fase tujuh direncanakan akan berlangsung hingga 2022. AMNT menyebut fase ini sebagai titik kunci bagi keberlanjutan bisnis tambang mereka di NTB. Jika fase tujuh ini bisa berjalan mulus, maka operasi tambang PTNNT akan bisa berlanjut terus hingga akhir tambang di atas 2030. Di awal penambangan fase tujuh akan dimulai dengan situasi kandungan yang kembali menurun, lantaran awalnya hanya tahapan pengupasan lapisan permukaan. Sehingga bijih yang diolah belum akan sampai pada kandungan yang terbaik.

  • 2.1.2 Pengolahan

Dari crusher, biji batuan diangkut menuju konsentrator.Di konsentrator, mineral berharga dipisahkan dari batuan tak bernilai melaui proses penggerusan dan flotasi. Biji batuan , setelah dicampur dengan air laut. Kemudian digerus dengan menggunakan 2 penggerus yang disebut Semi Autogenous (SAG) mill dan 4 ball mill. Setelah keluar dari ball mill partikel halus yang terkandung dalam bubur bijih kemudian dipompa ke separangkat tangki siklon untuk pemisahan akhir partikel bijih. Bubur bijih halus dari tangki siklon dialirkan ke sejumlah tangki untuk diambil kandungan mineral berharganya. Tangki ini disebut sel flotasi.

Dari sel flotasi, konsentrat dikirim ke tangki penghilangan kadar garam. Di dalam tangki ini air laut ibuang dan konsentrat dikentakan dengan cara mengalirkan air tawar secara berlawanan arah. Konsentrat kemudian mengalir melalui pipa sepanjang 17,6 km menuju fasilitas filtrasi atau penyaringan di benete. Konsentrat kemudian disaring guna membuang kandungan air dalam konsentrat sampai dengan 91 % dengan menggunakan udara bertekanan.

Setelah proses penyaringan , konsentrat akan berupa bubuk atau pasir dan disimpan dalam gudang untuk menunggu pengapalan. Konsentrat akhirnya dikapalkan ke sejumlah pabrik peleburan di gresik, jawa timur dan berbagai

penjuru dunia untuk menjalani pemisahan dan pengambilan logam berharga, yaitu tembaga, emas, dan perak.

  • 2. 2 Analisis Dampak Lingkungan ( AMDAL )

Telahaan secara cermat dan mendalam tentang dampak penting dari suatu

kegiatan yang direncanakan. Analisa dampak lingkungan dulu adalah ADL (PPLH/KLH). Dikembangkan di negara maju sejak tahun 1970 ; Environmental Impact Analysis atau Environmental Impact Assessment. Analisa dampak lingkungan bukan suatu proses yang berdiri sendiri, analisa dampak lingkungan berperan / bagian dari :

Pengelolaan lingkungan

Pemantauan lingkungan

Pengelolaan proyek

Pengambilan keputusan

Dokumen yang penting

  • 2. 3 Minamata Minamata adalah sebuah penyakit yang disebabkan adanya unsur logam berat atau Merkuri (Hg) dan Arsen (As) berlebih dalam tubuh manusia. Penyakit itu muncul pertama kali di Teluk Minamata, Jepang, sejak tahun 1950 an. Saat itu, ratusan warga Teluk Minamata diyakini tercemar oleh limbah merkuri, hasil buangan perusahaan Nippon Nitrogen Fertilizer.

  • 2. 4 Tailing

Pada 2003, AMNT melakukan penelitian laut dalam bersama P2)-LIPI dalam upaya mendapatkan informasi oseanografi dan lingkungan laut. Informasi ini digunakan untuk mevalidasi model konseptual Sistem Penempatan Tailing di Dasar Laut, dan juga untuk mengidentifikasi dampak yang mungkin timbul dan tidak pernah diprediksi sebelumnya. Dalam penelitian gabungan ini juga, pemahaman yang lebih baik tentang potensi dampak tailing terhadap kondisi lingkungan laut dalam dapat diketahui. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tailing mengalir dari mulut pipa tailing ke dalam Ngarai Senunu dan terus turun ke kedalaman 3.000 sampai 4.000 meter di bawah permukaan laut. Tidak terdapat indikasi dampak yang melebihi apa yang telah diprediksi sebelumnya tau dampak yang belum teridentifikasi sebelumnya sebagaimana yang tercantum di dalam dokumen amdal. AMNT harus memenuhi atau melebihi semua persyaratan yang telah ditetapkan di dalam rencana pengelolaan lingkungan yang terdapat di dalam amdal, sesuai dengan peraturan perundangan yang ada di Indonesia.

Keputusan penempatan tailing di dasar laut didasarkan pada banyak faktor. Beberapa faktor utama yang dipertimbangkan atas keputusan ini antara lain :

  • a. Penempatan tailing di darat akan menimbulkan dampak terhadap lebih dari 2.310 hektar hutan dan tanah pertanian produktif.

  • b. Tingkat curah hujan tahunan yang melebihi 2.500 milimeter akan menyebabkan air di dalam dam penampung tailing di darat sangat sulit dikelola.

  • c. Tantangan pengelolaan air di dalam dam penampung tailing yang dibangun di daerah yang rawan gempa bumi dapat mengancam keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

  • d. Tailing yang ditempatkan di bawah zona photic laut yang produktif akan meminimalkan dampak terhadap lingkungan.

a. Penempatan tailing di darat akan menimbulkan dampak terhadap lebih dari 2.310 hektar hutan dan tanah

Gambar 4. Tailing

Tabel 1. Nilai Baku Mutu Tailing Flotasi
Tabel 1. Nilai Baku Mutu Tailing Flotasi

Faktor-faktor tersebut diklaim menjadikan sistem Penempatan Tailing di Dasar Laut lebih aman dan merupakan sistem pengelolaan tailing yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

PT. AMNT menerapkan sistem Penempatan Tailing Laut Dalam / Deep- Sea Tailing Placement (DSTP) untuk menempatkan tailing di dasar laut dalam, di bawah zona laut yang produktif secara biologis. Penanganan tailing dimulai setelah pemisahan mineral di sel flotasi ketika slurry (bubur bijih) masuk ke dalam tangki de-aerasi. Tangki ini berfungsi untuk menghilangkan kandungan udara dalam tailing, sehingga saat dikeluarkan ke dalam laut, tailing tidak bergerak ke atas akibat udara yang naik. Setelah melalui tangki de-aerasi, tailing mengalir melalui jaringan pipa darat sepanjang 6 km dan pipa laut sepanjang 3,4km menuju tepi palung laut di Teluk Senunu dan tailing dilepaskan pada kedalaman 120 meter di bawah permukaan laut. Karena kepadatan dan massa jenisnya, tailing mengalir secara alami menuruni palung terjal dan mengendap di dasar palung laut dalam, di sebelah selatan pulau Sumbawa yang memiliki kedalaman antara 3000 hingga 4000 meter di bawah permukaan Samudra Hindia. Pemantauan sistem penempatan tailing bawah laut dilakukan secara ekstensif untuk memastikan bahwa sistem ini berfungsi sesuai dengan rancangannya, yaitu untuk meminimalkan dampak potensial bagi lingkungan. Hasil pemantauan terumbu karang, sedimen laut, ikan, ekologi muara, dan mutu air dievaluasi dengan cermat secara berkala oleh para ilmuwan dan ahli profesional.

PT. AMNT menerapkan sistem Penempatan Tailing Laut Dalam / Deep- Sea Tailing Placement (DSTP) untuk menempatkan

Gambar 5. Proses Pembuangan Limbah

PT. AMNT menerapkan sistem Penempatan Tailing Laut Dalam / Deep- Sea Tailing Placement (DSTP) untuk menempatkan

Gambar 6. Lokasi Penempatan tailing di Teluk Senunu

Gambar 7. Skema Penempatan tailing di Teluk Senunu Menurut Amdal, pembuangan tailing seharusnya di bawah 100

Gambar 7. Skema Penempatan tailing di Teluk Senunu

Menurut Amdal, pembuangan tailing seharusnya di bawah 100 sampai 300 meter di permukaan laut atau di bawah lapisan termoklin atau batas kehidupan di laut. Pipa yang digunakan juga harus mencapai 1.700 meter. Pembuangan tailing yang tidak sesuai prosedur ini menyebabkan berkurangnya jumlah jumlah bentos atau spesies di dasar laut.

Secara teknis penempatan tailing di dasar laut oleh AMNT sudah sesuai amdal yaitu pada kedalaman 125 meter dan panjang pipa offshore 3400 meter.

Gambar 7. Skema Penempatan tailing di Teluk Senunu Menurut Amdal, pembuangan tailing seharusnya di bawah 100

Gambar 8. Kedalaman serta jarak penempatan tailing di dasar laut

2. 5 Konstruksi dan Monitoring Infrastruktur Tailing PT. AMNT

Penempatan Tailing di Dasar Laut Proyek tambang Batu Hijau PT. AMNT menerapkan Sistem Penempatan Tailing di Dasar Laut yang telah dirancang bangun dan dikelola serta dipantau secara berkesinambungan. Pada 2006 terjadi kebocoran pipa tailing sehingga operasinal STD dialihkan melaui pipa cadangan. Perbaikan pada pipa utama dimulai sejak

2007. Konstruksi tailing AMNT mulai dikerjakan pada 1997 dan mulai beroperasi tahun 2000. Pada 2002 AMNT membangun pipa cadangan.

Secara umum pipa tailing terbagi menjadi dua jenis berdasarkan lokasinya yaitu onshore (di darat) dan offshore (di laut). Untuk pipa onshore terletak antara Concentrator 106 hingga SWIS di Teluk Senunu yang panjangnya sekitar 6 km. Pipa ini memilki diameter 90 cm yang terbuat dari logam. Perletakan pipa onshore adalah beton pada setiap jarak 2 meter serta sambungan pipa setiap 6 meter. Monitoring pipa onshore melalui pengamatan external setiap dua jam dan setiap minggu dilakukan maintenance. Sedangkan pengamatan internal dilakukan setiap shut down process dua kali setiap tahun. Pipa offshore terletak di pantai Teluk Senunu. Pipa tersebut berbahan HDPE (high density poly ethylene) yang semula memiliki ketebalan 90 milimeter. Untuk konstruksi baru pada 2007 digunakan pipa dengan ketebalan 100 milimeter. Monitoring pipa offshore dilakukan untuk mengukur ketebalan pipa menggunakan metode smart PIG (pipeline integrity gauging tool) yang dilakukan setiap shut down process utnuk seluruh pipa dan pada sambungan dilakukan setiap minggu karena pipa tersebut selalu mengalami pengikisan. Selain itu juga dilakukan pengamatan menggunakan ROV (remotely operated vehicle) setiap tiga bulan.

Secara umum pipa tailing terbagi menjadi dua jenis berdasarkan lokasinya yaitu onshore (di darat) dan offshore

Gambar 9. Pipa untuk mengalirkan tailing

Secara umum pipa tailing terbagi menjadi dua jenis berdasarkan lokasinya yaitu onshore (di darat) dan offshore

Gambar 10. Pipa lajur tailing

Gambar 11. ROV (remotely operated vehicle) 2. 6 Corporate Social Responsibility (CSR) Perusahaan tidak hanya mempunyai
Gambar 11. ROV (remotely operated vehicle) 2. 6 Corporate Social Responsibility (CSR) Perusahaan tidak hanya mempunyai

Gambar 11. ROV (remotely operated vehicle)

2. 6 Corporate Social Responsibility (CSR)

Perusahaan tidak hanya mempunyai kewajiban-kewajiban ekonomis dan legal (artinya kepada pemegang saham atau shareholder) tapi juga kewajibankewajiban terhadap pihak-pihak lain yang berkepentingan (stakeholders) yang jangkauannya melebihi kewajiban-kewajiban di atas.

Tanggung jawab sosial dan keterlibatan perusahaan dalam berbagai kegiatan sosial merupakan suatu nilai yang sangat positif bagi perkembangan dan kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang. Keterlibatan sosial perusahaan di masyarakat akan menciptakan suatu citra yang sangat positif. Biaya sosial yang dikeluarkan dianggap sebagai investasi jangka panjang. Kelestarian lingkungan, perbaikan prasarana umum, penyuluhan, pelatihan, dan perbaikan kesehatan lingkungan walaupun memerlukan biaya yang signifikan, namun secara jangka panjang sangat menguntungkan perusahaan, karena kegiatan tersebut menciptakan iklim sosial politik yang kondusif bagi kelangsungan bisnis perusahaan tersebut.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Janji-janji PT. Amman Mineral Nusa Tenggara

Penambangan, pengolahan mineral dan kegiatan penunjang proyek harus dikelola dengan benar untuk memastikan agar dampak yang mungkin timbul dapat dikurangi seminimal mungkin. Hal yang sama pentingnya adalah memastikan agar setiap keputusan yang diambil setiap hari selama kegiatan pembangunan berlangsung, dilakukan dengan mempertimbangkan realitas penutupan tambang dalam jangka panjang. Merencanakan masa depan untuk memastikan bahwa penggunaan lahan pasca operasi tambang tercakup dalam rencana pengembangan dan kegiatan operasi, adalah suatu usaha yang lazim dan merupakan persyaratan pembangunan yang berkelanjutan. PT. AMNT secara sungguh-sungguh melaksanakan program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang sesuai dengan keadaan di lokasi tambang, untuk meminimalkan risiko atau bahaya yang berpotensi merusak lingkungan yang mungkin diakibatkan oleh operasi tambang. Beberapa prioritas utama pengelolaan yang diidentifikasi selama kegiatan ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN proyek adalah penempatan batuan limbah atau tailing, mempertahankan mutu air dan memastikan bahwa perubahan permukaan lahan menyertakan visi mengenai penggunaan lahan yang sesuai dengan pasca operasi tambang.

  • 1. Mutu Air PT. AMNT menerapkan sarana pengelolaan air terpadu untuk memastikan dampak minimum terhadap mutu air pada sistem air di daerah setempat. Selain itu, selama tambang beroperasi, tanaman asli setempat ditanam kembali sesegera mungkin pada lahan-lahan yang dibuka, untuk meminimalkan daerah lahan yang terbuka dan mencegah erosi yang dapat memengaruhi mutu air. Fasilitas pengendalian sedimen, seperti kolam dan saluran pengalih, telah dibangun untuk mengendapkan sedimen, sehingga hanya air bersih dan tidak terkena dampak yang mengalir ke luar lokasi proyek. Sarana Pengelolaan Air Tambang yang besar yang dibangun di Batu Hijau memiliki dua fungsi. Pertama, sarana ini mengalihkan aliran air-larian dari hutan alami di sekitar tambang ke sungai-sungai di sekitarnya. Dengan demikian, saat ini air di sungai-sungai setempat sama bersihnya seperti sungai lain yang tidak terkena dampak. Kedua, sarana ini berfungsi untuk mengalirkan air yang terkena dampak penambangan, termasuk resapan air asam tambang dan air di permukaan pit, ke kolam-kolam penampungan sehingga tidak mengalir ke sungai dan keluar kawasan proyek. Air yang terkena dampak ini kemudian digunakan dan dikelola di pabrik pengolahan.

PT.

AMNT

melaksanakan

program

pemantauan

mutu

air

secara

menyeluruh

dan

teratur

sesuai

dengan

ANALISA

DAMPAK

LINGKUNGAN. Setiap triwulan hasil pemantauan dilaporkan kepada pemerintah Indonesia.

LINGKUNGAN. Setiap triwulan hasil pemantauan dilaporkan kepada pemerintah Indonesia. Gambar12. Penelitian Yang Dilakukan Karyawan Lab PT.AMNT

Gambar12. Penelitian Yang Dilakukan Karyawan Lab PT.AMNT

  • 2. Reklamasi PT. AMNT membuka lahan untuk penggalian tambang dan pembangunan sarana penunjang lainnya seperti pabrik, pelabuhan, pemukiman karyawan (townsite) dan jalan-jalan. Untuk meminimalisasi erosi dan sedimentasi PT. AMNT melakukan penanaman kembali (reklamasi) menggunakan tanaman dan tumbuhan asli yang tumbuh di tempat tersebut sesegera mungkin selama periode konstruksi berlangsung. Hingga saat ini, PT. AMNT telah melakukan reklamasi lahan di areal tambang seluas lebih dari 670 hektar, termasuk 100 hektar reklamasi di areal penumpukan batuan sisa (waste rock dump). Penggunaan tanaman dan tumbuhan asli dalam program reklamasi ini diharapkan akan menghasilkan hutan yang sama sebagaimana sebelum adanya kegiatan penambangan.

LINGKUNGAN. Setiap triwulan hasil pemantauan dilaporkan kepada pemerintah Indonesia. Gambar12. Penelitian Yang Dilakukan Karyawan Lab PT.AMNT

Gambar 13. Melakukan Reklamasi

  • 3. Peningkatan Kesehatan Masyarakat Kegiatan kesehatan yang bersifat preventif seperti pengendalian malaria, kesehatan ibu dan anak, penyediaan sarana air bersih dan sanitasi, pemberantasan tuberkulosis, dan pencegahan penyakit menular seksual (PMS), serta program pelatihan kesehatan.

Gambar 14. Peningkatan Kesehatan Masyarakat 4. Infrastruktur Kebutuhan yang mendasar dalam bidang infrastruktur adalah membangun bersama

Gambar 14. Peningkatan Kesehatan Masyarakat

4.

Infrastruktur

Kebutuhan yang mendasar dalam bidang infrastruktur adalah membangun bersama dengan pemerintah setempat untuk mendukung peningkatan kesehatan dan pendidikan, serta mendukung pengembangan usaha setempat. Peningkatan prasarana meliputi perbaikan jalan dan saluran air, pembangunan dan rehabilitasi gedung sekolah, gedung desa, gedung serbaguna, pembangunan puskesmas dan puskesmas pembantu, pengadaan air bersih, sarana irigasi, pembangunan tempat penimbunan sampah, sarana pariwisata dan pasar tradisional.

Gambar 14. Peningkatan Kesehatan Masyarakat 4. Infrastruktur Kebutuhan yang mendasar dalam bidang infrastruktur adalah membangun bersama

3.2 Contoh Kasus

Gambar 15. Infrastruktur

Pada tahun 1996, PT. Newmont Minahasa Raya (PT. NMR) mulai beroperasi dan membuang limbah tailingnya ke laut. Operasi tambang

berakhir pada tanggal 31 Agustus 2004, dengan meninggalkan limbah tailing 4 juta ton lebih di dasar Teluk Buyat, dengan sekitar 70 KK nelayan kehilangan mata pencaharian, 80% lebih warga mengalami gangguan kesehatan serius, anak putus sekolah serta konflik horisontal yang berkepanjangan. Setelah adanya kasus ini, pemerintah akhirnya turun tangan. Pada bulan Juni 2004, dari hasil rapat kerja kabinet bidang kesejahteraan rakyat, pemerintah memutuskan pembentukan Tim Terpadu yang terdiri dari berbagai instansi pemerintah, akademisi, PT. Amman Mineral Nusa Tenggara, organisasi profesi, dan Ornop yang ditugaskan mengetahui:

  • 1. Kebenaran dugaan pencemaran di Teluk Buyat?

  • 2. Identifikasi pihak-pihak yang diduga kuat melakukan pencemaran?

  • 3. Mengapa warga menderita sakit?

Akhirnya, pada tanggal 15 November 2004, pemerintah secara resmi mengumumkan Teluk Buyat tercemar oleh tailing PT Newmont Minahasa Raya yang dibuang ke dasar Teluk Buyat.

Fakta yang diperoleh dari penelitian tim di lapangan sangat mengejutkan. Disebutkan bahwa:

  • 1. Pada tahun 1996, PT. NNT melakukan perbuatan ilegal dalam melakukan kegiatan pengolahan dan pembuangan limbah B3 di Teluk Buyat, dikarenakan belum mengantongi ijin pengoperasian alat pengolahan dan penyimpanan limbah B3.

  • 2. Tidak ditemukan lapisan thermoklin di kedalaman kurang dari 82 meter (lokasi pipa tailing) sebagaimana diklaim oleh PT. Amman Mineral Nusa Tenggara dalam AMDAL (1994). Lapisan ini diasumsikan oleh PT. AMNT akan berfungsi sebagai pelindung tailing agar tidak menyebar ke permukaan.

  • 3. Pengambilan sampel berupa sedimen di lokasi mulut pipa tailing Teluk Buyat menyimpulkan, bahwa konsentrasi Arsen dan Merkuri pada total sedimen laut sekitar lokasi pipa pembuangan tailing pada kisaran 2,3-666 ppm, lebih tinggi dengan hasil analisis kondisi awal (AMDAL, November 1993). Hal ini juga didukung oleh Asean Marine Water Quality Criteria (2004), yang menyatakan bahwa sedimen tercemar itu pada kisaran antara 50-300 ppm.

  • 4. Indeks menunjukkan dampak kontaminasi logam berat secara terusmenerus yang dialami organisme laut. Dari indeks diversitas untuk plankton (indeks Simpson) di Teluk Buyat yang rendah diketahui terdapat gangguan (perturbasi). Indeks diversitas pada benthos (hewan dasar laut di antaranya jenis kepiting dan udang) di Teluk Buyat sangat rendah dan dikategorikan mengalami pencemaran berat menurut indeks.

  • 5. Hasil analisis air sumur dusun Buyat menunjukkan tingginya kadar Arsen dengan kisaran 0,0263 mg/L baku mutu 0.01 mg/L, 2,1267 mg/L, dua puluh kali lebih tinggi dari baku mutu 0,1 mg/L. Sedangkan berdasarkan data AMDAL November, 1993 (sebagai Rona Awal Lingkungan) menunjukkan sumur-sumur penduduk di desa Buyat tidak ditemukan adanya Arsen (tidak terdeteksi).

  • 6. Air pasokan di Dusun Buyat Pante sejak Januari 2004 dinyatakan mengandung Mangan melampaui baku mutu PERMENKES.

  • 7. Organisasi kesehatan MER-C didampingi yayasan Suara Nurani dan kelompok kesehatan masyarakat, pada bulan Feburari 2005 melakukan pemeriksaan kesehatan warga dusun Buyat dan menemukan berbagai jenis penyakit, di antaranya: tumor (58 kasus), kelainan kulit (72 kasus), kelainan neurologi (96 kasus), infeksi saluran pernafasan (44 kasus), pencernaan (13 kasus), infeksi saluran kencing (8 kasus), pendarahan (4 kasus). Total Pasien 139 orang dengan jumlah total kasus 295 kasus, di mana setiap pasien, bisa memiliki lebih dari satu kasus, misalkan tumor dan masalah pencernaan dan pendarahan secara bersamaan. ini bertambah kali lipat jumlah pasien dan kasus pada bulan Juli 2005, dimana penyakit yang tertinggi adalah kelainan neurologi (135 kasus) dan kelainan kulit (115 kasus). Selain masalah kesehatan yang terjadi, masalah ekosistem yang berada di

Teluk Buyat juga jelas-jelas mengalami gangguan mulai beroperasinya penambangan emas PT. NMR. Ini dibuktikan dengan matinya puluhan sampai

ratusan ekor ikan berbagai jenis sepanjang tahun 1996-1997 terjadi 13 kasus, diantaranya (5 kasus besar):

  • 1. 29 Juli 1996, puluhan ekor jenis ikan; kerapu, tato, kuli paser dan nener mati

  • 2. 16 Agustus 1996, puluhan ekor jenis burung; kakatua dan kuli paser mati

  • 3. 3 Juli 1997, jutaan ekor hewan laut dengan jenis berbeda; uhi, bobara, wora, talahuro, tikus-tikus, bete, bekokong

  • 4. 9 Agustus 1997, tercium bau yang menusuk hidung dari laut. Jenis ikan mati: uhi, bobara, wora, talahuro, tikus-tikus, bete bukokong dan nener. Hal di ataslah yang membuat PT. Amman Mineral Nusa Tenggara

melakukan studi AMDAL dengan baik dan benar agar kejadian yang terjadi

di PT. Newmont Minahasa Raya tidak terulang kembali di area penambangan PT. Amman Mineral Nusa Tenggara, hal ini tidak lepas dari peran management untuk berkomitment dalam penanggulangan limbah tailing tersebut, untuk menanggulangi hal tersebut pihak PT. Amman Mineral Nusa Tenggara telah melakukan langkah langkah preventif seperti Pemantauan kualitas air laut dilakukan secara berkala, baik secara harian, mingguan maupun bulanan. Kualitas air laut yang harus dipantau meliputi faktor-faktor fisika air laut (Suhu, Kekeruhan, Padatan Tersuspensi) dan faktor-faktor kimia (pH, Salinitas, Oksigen Terlarut, dan Logam Terlarut). Pemantauan dilakukan di daerah-daerah yang kemungkinan terkena dampak dan lokasi kontrol dengan menggunakan metode baku dan peralatan yang tepat. Pemantauan kualitas air laut, terbagi atas tiga zona :

  • 1. Zona A atau zona dampak dengan kedalaman > 120 meter sampai dasar. Untuk baku mutu Air Laut Kepmen Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2014 tidak diterapkan.

  • 2. Zona B merupakan area penempatan tailing dengan kedalaman pemantauan

di 0 120 meter diatur dalam Kepmen Lingkungan Hidup No. 51 Tahun

2004.

  • 3. Zona C merupakan area yang bebas dari tailing dari permukaan hingga

dasar laut. Pada zona ini harus memenuhi Baku Mutu Air Laut, Kepmen Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004. Kepmen Lingkungan Hidup No. 92 Tahun 2011 menetapkan zona B dipantau pada kedalaman 50 m dan 120 m. Di zona C kualitas air laut harus dipantau pada permukaan, 50 m, 120 m dan dekat dasar. Pada tabel data setiap nama stasiun pemantauan ditambah akhiran huruf S, M, C, B yang

merupakan tanda untuk permukaan (surface), titik tengah (middle) pada kedalaman 50m, kedalaman 120 m dan dasar (bottom) Berdasarkan data yang diperoleh tahun 2016, Stasiun 15 memiliki nilai Padatan Tersuspensi sebesar 50 mg/L. Dibandingkan dengan data tahun 2006 pada Stasiun 28 memiliki nilai 24.2 mg/L.

Gambar 16. Perbandingan Padatan Tersuspensi Teluk Senunu Zona A Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat bahwa pada

Gambar 16. Perbandingan Padatan Tersuspensi Teluk Senunu Zona A

Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat bahwa pada Stasiun 15 nilai padatan tersuspensi melebihi nilai baku mutu air laut. Hal ini disebabkan karena pipa pembuangan tailing yang sangat dekat dengan Stasiun 15. Nilai padatan tersuspensi berhubungan dengan tingkat kekeruhan. Jadi apabila nilai padatan tersuspensi tinggi, maka tingkat kekeruhan di stasiun tersebut mengalami kenaikan.

Gambar 16. Perbandingan Padatan Tersuspensi Teluk Senunu Zona A Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat bahwa pada

Gambar 17. Perbandingan Suhu Teluk Senunu Zona A

Berdasarkan Gambar 2 suhu air laut di Teluk Senunu mengalami penurunan di beberapa stasiun dari tahun 1997 ke tahun 2016. Hal ini membuktikan bahwa pembuangan tailing ke bawah laut tidak berdampak langsung terhadap suhu air laut karena perbandingan volume yang sangat besar antara tailing dan air laut

Gambar 16. Perbandingan Padatan Tersuspensi Teluk Senunu Zona A Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat bahwa pada

Gambar 18. Perbandingan Konsentrasi Logam Terlarut Arsen Zona A

Berdasarkan Gambar 3 konsentrasi logam terlarut arsen di Zona A tidak melewati standar baku mutu air laut yang ditetapkan Kepmen Lingkungan Hidup No. 382 Tahun 2016. Dampak dari naiknya nilai logam terlarut arsen membuat nilai toksisitas pada ekosistem air laut akan semakin meningkat

Hasil Penelitian berupa data parameter fisika dan parameter kimia tailing, yang mana pengolahan data dilakukan dengan perbandingan Kepmen mengenai standar yang digunakan dalam pemantauan. Dalam kajian tentang tailing, parameter yang dinilai adalah parameter fisika tailing yang terdiri dari berat jenis, pH dan fraksi padatan tailing. Sedangkan parameter kimia tailing yang dinilai adalah konsentrasi logam terlarut dalam fraksi cair tailing, logam-logam yang dimaksud adalah Tembaga (Cu), Sulfida (H2S), Merkuri (Hg), Arsen (As), Kadmium (Cd), Kromium (Cr), Seng (Zn), Timbal (Pb), Nikel (Ni).

Berdasarkan Gambar 3 konsentrasi logam terlarut arsen di Zona A tidak melewati standar baku mutu air
Tabel 2. Hasil Pemantauan Tailing Bulanan
Tabel 2. Hasil Pemantauan Tailing Bulanan

Dalam jangka panjang PT. Amman Mineral Nusa Tenggara sedang berupaya dalam pembangunan Smelter yang akan di bangun di benete, pembanguna smelter ini pun berupaya untuk meningkatkan jumlah produksi dan dapat memberkan profit yang banyak karena bahan yang akan di jual tidak dalam bentuk konsentral lagi. Kemudian PT. Amman Mineral Nusa Tenggara mempunyai rencana untuk memulai proses ekslporasi cadangan emas dan tembaga di cebakan Elang Dodo diKabupaten Sumbawa. Eksplorasi itu juga bagian dari investasi perusahaan. Cadangan emas, tembaga dan mineral ikutannnya di Blok Elang diyakini jauh lebih besar dari cadangan tambang Batu Hijau. Saat ini, potensi cadangan Batu Hijau adalah 19 juta troy ounce emas dan 18 miliar pound tembaga. Satu troy ounce emas setara 31,103 gram, dan satu pound setara 0,5 kilogram

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

  • 4.1 Kesimpulan Mengapa diperlukan analisa dampak lingkungan :

    • 1. Analisa dampak lingkungan harus dilakukan untuk proyek yang akan dibangun karena undang-undang dan peraturan pemerintah menghendaki demikina

    • 2. Analisa dampak lingkungan harus dilakukan agar kualitas lingkungan tidak rusak karena adanya proyek pembangunan.

    • 3. Tailing yang dihasilkan dari proses flotasi di PT Amman Mineral Nusa Tenggara selama periode Juli 2016 September 2016 telah sesuai dengan standar baku mutu tailing yang telah ditetapkan, baik dari parameter fisik dan parameter kimia. Nilai rata-rata pH tailing yang dialirkan ke laut adalah 8.62, nilai fraksi padatan dari tailing adalah 29.35% dan density tailing sebesar 1.258. Kadar logam terlarut pada tailing berada di bawah nilai maksimum yang telah ditetapkan standar baku mutu.

    • 4. Kualitas air laut Teluk Senunu mengalami pencemaran di Zona A, parameter-parameter yang tercemar antara lain adalah tingkat kekeruhan, padatan tersuspensi dan kandungan logam terlarut Arsen. Kualitas air laut yang paling tercemar adalah di Stasiun 01 dan 15 pada 2006. Pada tahun 2016 Stasiun 01 adalah daerah yang sangat tercemar

  • 4.2 Saran Dari pandangan kasus diatas harus diperlukan sikap yang berani dan tegas bagi pemerintah Indonesia, pakar bidang terkait, serta rakyat untuk : 1. Menghargai Sumber Daya Alam yang ada di bumi Indonesia 2. Meningkatkan kualitas pendidikan rakyat Indonesia demi menunjang pengolahan sumber daya alam bumi ini tampa ada campur tangan asing. 3. Mau mengerti dan sadar bahwa betapa kayanya bumi Indonesia, maka sebagai generasi penerus kekayaan tersebut kita harus mau terus untuk belajar dan bekerja keras tentang kekayaan yang ada di indonesia.

  • DAFTAR PUSTAKA

    Etika Bisnis.Prof.Dr. Sondang P.Siagian, MPA. Jakarta; PT Pustaka Binaman Pressindo, 1996

    Etika Bisnis; tuntutan dan relevansinya. DR.A. Sonny Keraf. Jakarta; Penerbit Kanisius,1998

    Undang-undang No.32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan

    Lingkungan Hidup