Anda di halaman 1dari 10

Farmaka

Volume 14 Nomor 1 93

UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL BAYAM DURI (Amaranthus spinosus L.)


TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus DAN Pseudomonas aeruginosa
DENGAN METODE DIFUSI AGAR

Rr. Sulistyaningsih, Firmansyah, Ami Tjitraresmi


Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang

ABSTRAK

Tumbuhan Bayam duri (Amarhantus spinosus L.) secara empiris digunakan untuk mengobati
berbagai penyakit diantaranya eksim, disentri dan diare. Aktivitas antibakteri dari daun bayam
duri ini masih belum banyak diteliti. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
aktivitas antibakteri serta menentukan nilai Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM)
dari ekstrak etanol bayam duri (Amarhantus spinosus L.) terhadap bakteri Staphylococcus
aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Penelitian ini meliputi ekstraksi daun bayam duri,
penapisan fitokimia, kromatografi lapis tipis terhadap ekstrak bayam duri, uji aktivitas
antibakteri, penentuan Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) dengan metode
difusi agar dan uji banding dengan ekstrak daun sukun (Artocarpus communis Forst.). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun Bayam Duri (Amaranthus spinosus)
memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus , sedangkan pada
Pseudomonas aeruginosa tidak memiliki aktivitas. Kosentrasi Hambat Tumbuh Minimum
(KHTM) ekstrak etanol daun Bayam Duri (Amaranthus spinosus L.)terhadap Staphylococcus
aureus berada pada rentang 6000 – 7000 ppm. Hasil uji banding daun bayam duri
(Amarhantus spinosus L.) dengan ekstrak daun sukun (Artocarpus communis Forst.) terhadap
Staphylococcus aureus sebesar 1 : 54,075
.
Kata kunci: Amarhantus spinosus L., Aktivitas antibakteri, Pseudomonas aeruginosa,
Staphylococcus aureus
ABSTRACT

Spinach spine plant (Amarhantus spinosus L.) had been empirically used to treat various
diseases including eczema, dysentria and diarrhea. Antibacterial activity of Spinach spine
plant is still not much studied. The purpose of this research is conducted to determine the
antibacterial activity and determine the value of the Minimum Inhibitory Concentration (MIC)
of ethanol extract of spinach spine plant (Amarhantus spinosus L.) against Staphylococcus
aureus and Pseudomonas aeruginosa. This research involves the extraction of spinach spine
plant, phytochemical screening test, thin layer chromatography of spinach spine plant extract ,
antibacterial test against Staphylococcus aureus and Pseudomonas aeruginosa, determination
of Minimum Inhibitory Concentration (MIC) using diffusion method, and comparison with
extract of breadfruit leaves (Artrocarpus communis Forst.). The results showed that spinach
spine plant extract had antibacterial activity against Staphylococcus aureus but did not has
antibacterial activity against Pseudomonas aeruginosa. The Minimum Inhibitory
Concentration of ethanol extract of spinach spine plant(Amaranthus spinosus L..) extract
against Staphylococcus aureus was on concentration range 6000 – 7000 ppm. The ratio of
antibacterial activity between spinach spine plant(Amaranthus spinosus L.) extract and
breadfruit leaves (Artrocarpus communis Forst.) extract against Staphylococcus aureus was
at 1 : 54.075.
Keywords : Amarhantus spinosus L., antibacterial activity, Pseudomonas aeruginosa,
Staphylococcus aureus
Farmaka
Volume 14 Nomor 1 94

PENDAHULUAN menyebabkan mayoritas ruam dan infeksi

Tumbuhan Bayam duri (Amarhantus kulit. Pada tahun 1995-1996 menurut Pusat

spinosus L.) secara empiris digunakan Pengendalian Penyakit dan Pencegahan

sebagai obat yang memiliki aktivitas Amerika Serikat (CDC), dilaporkan wabah

antibakteri. Bayam duri dapat penyakit yang ditularkan melalui air, 25%-

menyembuhkan berbagai penyakit, nya merupakan dermatitis (gatal, sakit

diantaranya eksim, disentri, menurunkan kulit). CDC melaporkan bahwa 7 dari 9

panas (anti piretik), peluruh kemih wabah dermatitis disebabkan oleh

(diuretik), menghilangkan racun (anti- Pseudomonas aeruginosa (Levy , 1998).

toksin) menghilangkan bengkak, Staphylococcus aureus adalah bakteri

menghentikan diare dan membersihkan gram positif yang merupakan salah satu

darah (Dalimartha, 1999). dari tiga jenis dari genus Staphylococcus

Kulit dan membran mukosa selalu dan bersifat patogen bagi manusia (Jawetz,

mengandung berbagai kelompok 2007). Pseudomonas aeruginosa adalah

mikroorganisme, diantaranya bakteri gram negatif dan berbentuk

mikroorganisme flora normal yang tunggal, Pseudomonas aeruginosa

berperan mencegah timbulnya penumpuk menghasilkan beberapa eksotoksin yang

dan mikroorganisme penyebab penyakit berperan penting dalam patogenisitas.

karena pengaruh bakteri dari luar. Jika Bakteri ini menyebabkan infeksi pada luka

flora normal terganggu, maka dan luka bakar, berupa nanah hijau

mikroorganisme dari luar dapat bertumpuk kebiruan yang dikarenakan adanya pigmen

dan berproliferasi hingga menyebabkan piosianin (Tortora, 1997).

penyakit (Jawetz, 2007). Bakteri yang Zat antibakteri adalah zat yang dapat

menyebabkan infeksi pada kulit umumnya membunuh atau menghambat pertumbuhan

adalah bakteri Staphylococcus dan bakteri sehingga dapat digunakan untuk

Streptococcus (Abdallah et al., 2007). mencegah atau mengatasi infeksi bakteri.

Pseudomonas aeruginosa juga Zat ini merupakan hasil metabolit


Farmaka
Volume 14 Nomor 1 95

sekunder dari mikroba tertentu gelas yang umum digunakan di

(antibiotika), diisolasi dari tumbuhan atau Laboratorium Mikrobiologi dan

hewan dan hasil sintesis kimia Laboratorium Farmakognosi.

(kemoterapeutika, antibiotika sintesis).


Bahan
Penggunaan zat antibakteri sintesis (obat-
Bahan tumbuhan : Simplisia
obat modern) yang terlalu sering dapat
daun bayam duri (Amaranthus spinosus)
menyebabkan menurunnya resistensi inang
yang diperoleh dari Perkebunan Manoko,
sehingga inang menjadi lebih rentan
Lembang, Jawa Barat. Bahan kimia :
terhadap infeksi (Pelczar, 1988).
etanol 70% (Bratachem), aquadest, NaCl
Berdasarkan latar belakang di atas maka
fisiologis, amonia (Merck), kloroform
perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
(Bratachem), asam klorida 2 N (Merck),
mengenai aktivitas ekstrak etanol bayam
kalium hidroksida 5%, pereaksi Mayer,
duri terhadap bakteri Staphylococcus
pereaksi Dragendorff, serbuk magnesium,
aureus dan Pseudomonas aeruginosa.
amil alkohol (Merck), pereaksi besi (III)
METODE
klorida, larutan gelatin 1%, pereaksi
Alat
vanilin-asam sulfat, eter (Merck), pereaksi
Alat yang digunakan pada
Liebermann-Buchard. Bakteri uji :
penelitian ini adalah maserator, rotary
Staphylococcus aureus dan Pseudomonas
evaporator (Buchi Rotavapor R-300),
aeruginosa yang diperoleh dari
otoklaf (Hirayama), inkubator (Sakura IF-
Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit
4), cawan petri berdiameter 5 cm, 10 cm,
Hasan Sadikin Bandung.
dan 15 cm (Pyrex), jangka sorong,
Medium pertumbuhan bakteri : Nutrient
mikropipet volume 20-200 µL
Agar (Oxoid) dan Mannitol Salt Phenol-
(Eppendorf), perforator berdiameter 7 mm,
Red Agar (Merck).
oven (Memmert), penangas air, timbangan

digital (Mettler Toledo), tip mikropipet,

pelat silika gel, bejana KLT, dan alat-alat


Farmaka
Volume 14 Nomor 1 96

Metode tipis dengan fase diam silika gel 60 F254,

Pengumpulan dan Determinasi Bahan : pengembang kloroform : metanol

Bahan tumbuhan yang digunakan adalah (9:1),penampak bercak diukur pada sinar

daun bayam duri (Amaranthus spinosus) tampak UV 254 nm dan UV 366 nm.

yang diperoleh dari Perkebunan Manoko, Pengujian Aktivitas Antibakteri

Lembang, Jawa Barat. Determinasi Ekstrak : Pengujian aktivitas antibakteri

tumbuhan dilakukan di Laboratorium dilakukan dengan metode difusi agar

Taksonomi Jurusan Biologi Fakultas dengan teknik perforasi. Sebanyak 20 µL

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam suspensi bakteri dimasukkan ke dalam

Universitas Padjadjaran. cawan petri, kemudian ditambahkan media

Ekstraksi : Simplisia daun bayam duri MSA sebanyak 20 ml yang sudah hangat.

(Amaranthus spinosus L.), dirajang, Campuran tersebut kemudian

diekstraksi dengan cara maserasi selama dihomogenkan, lalu dibiarkan memadat.

3x24 jam menggunakan pelarut etanol Setelah itu, dibuat lubang-lubang dengan

70%, kemudian diuapkan dengan perforator (d=7,00 mm). Pada tiap lubang

menggunakan rotary evaporator hingga kemudian diisikan suspensi ekstrak daun

diperoleh ekstrak kental, lalu diuapkan lagi bayam duri dalam pelarut aquadest dengan

di atas penangas air pada suhu 40oC konsentrasi 20%, 10%, 5%, dan 1%

sampai berat ekstrak konstan. sebanyak 50 µL menggunakan mikropipet.

Penapisan Fitokimia Ekstrak : Cawan petri tersebut kemudian

Pemeriksaan golongan alkaloid, flavonoid, diinkubasikan selama 18 – 24 jam di dalam

tanin, polifenolat, monoterpenoid dan inkubator pada suhu 370C. Diameter

seskuiterpenoid, steroid dan triterpenoid, hambat ditandai dengan adanya zona

kuinon, dan saponin. bening di sekitar lubang, kemudian

Kromatografi Lapis Tipis diameter hambatnya diukur dengan

Ekstrak : Ekstrak dianalisis komponen- menggunakan jangka sorong. Perlakuan

komponennya dengan kromatografi lapis yang sama dilakukan pada bakteri


Farmaka
Volume 14 Nomor 1 97

Peudomonas aeruginosa dimana media Uji Banding Aktivitas Antibakteri

yang digunakan diganti dengan NA. Ekstrak Daun Bayam Duri dengan

Penentuan Konsentrasi Hambat Ekstrak Daun sukun : Uji banding ini

Minimum (KHM) Ekstrak : Penentuan dilakukan dengan metode difusi agar

KHM dilakukan dengan metode menggunakan teknik perforasi. Sebanyak

pengenceran agar. Sampel ekstrak dengan 40 µL suspensi bakteri dimasukkan ke

berbagai konsentrasi, dimasukkan dalam cawan petri lalu ditambahkan 40 mL

sebanyak 0,5 ml ke dalam cawan petri MSA yang masih cair bersuhu 40 oC lalu

berdiameter 5 cm lalu dicampurkan dengan dihomogenkan dan dibiarkan memadat.

4,5 ml media MSA yang masih cair hingga Setelah memadat, dibuat lubang-lubang

diperoleh medium uji dengan berbagai dengan perforator. Ke dalam lubang-

konsentrasi. Campuran tersebut lubang tersebut dimasukkan ekstrak daun

dihomogenkan, lalu dibiarkan memadat. sukun dengan konsentrasi 90000 ppm,

Pada permukaan masing-masing agar 70000 ppm, 50000 ppm, 30000 ppm, dan

digoreskan suspensi bakteri uji 10000 ppm masing-masing sebanyak 50

menggunakan kawat ose. Selanjutnya µl. Cawan-cawan tersebut diinkubasikan

cawan-cawan tersebut diinkubasikan dalam inkubator pada suhu 37 oC selama

dalam inkubator pada suhu 37 oC selama 18-24 jam. Diameter zona hambat yang

18-24 jam. KHM ditentukan pada cawan dihasilkan ekstrak daun sukun dan ekstrak

dengan konsentrasi ekstrak terkecil yang daun bayam duri diukur. Diameter hambat

masih mampu menghambat pertumbuhan (mm) ekstrak daun sukun dipetakan pada

bakteri uji, yang ditunjukkan dengan tidak sumbu y dan log konsentrasi (ppm) ekstrak

adanya pertumbuhan koloni bakteri. Hasil daun sukun dipetakan pada sumbu x,

tersebut dibandingkan dengan kontrol kemudian dibuat kurva hubungan serta

negatif (agar) dan kontrol positif (agar persamaan regresi liniernya. Kemudian,

ditambah suspensi bakteri uji). diameter zona hambat dari ekstrak daun

bayam duri yang paling aktif dipetakan ke


Farmaka
Volume 14 Nomor 1 98

dalam persamaan regresi linier dari ekstrak Hasil Ekstraksi

daun sukun yang diperoleh, sehingga Dari hasil ekstraksi simplisia sebanyak

diperoleh konsentrasi ekstrak daun sukun 1089 gram diperoleh ekstrak kental

yang memiliki aktivitas yang setara dengan sebanyak 154,3 gram sehingga

ekstrak bayam duri. Nilai banding rendemennya adalah 13,34%.

diperoleh dengan persamaan sebagai Hasil Penapisan Fitokimia

berikut: Tabel 1. Hasil Penapisan Fitokimia


Simplisia Daun Bayam Duri
Konsentrasi sampel dari kurva baku Hasil
Nilai banding   100%
Konsentrasi sampel sebenarnya Golongan Senyawa
Uji
Alkaloid
+
Flavonoid
HASIL DAN PEMBAHASAN -
Polifenolat
-
Tanin
Hasil Pengumpulan Bahan dan -
Monoterpenoid &
-
Seskuiterpenoid
Determinasi -
Steroid /
-/-
Triterpenoid
Bahan tumbuhan daun bayam duri -
Kuinon
+
Saponin
yang telah dikumpulkan dari daerah
Keterangan: + = terdeteksi
Lembang dirajang hingga diperoleh - = tidak terdeteksi
simplisia daun bayam duri yang berwarna Hasil Kromatografi Lapis Tipis Ekstrak
hijau kecoklatan. Hasil determinasi dari Etanol Daun Bayam Duri
daun bayam duri yang dilakukan di Analisis kromatografi lapis tipis
Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan ekstrak dilakukan dengan kondisi sebagai
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas berikut:
Padjadjaran menunjukkan bahwa Fase diam : silika gel 60 F254
tumbuhan yang dimaksud adalah Pengembang : kloroform : metanol (9: 1)
Amaranthus spinosus L. suku Penampak bercak diukur pada sinar
Amaranthaceae. tampak : UV 254 nm dan UV 366 nm.

Hasil KLT ekstrak dapat dilihat pada Tabel

2.
Farmaka
Volume 14 Nomor 1 99

Tabel 2 : Hasil Kromatografi Lapis Tipis Tabel 3 Hasil Pengujian Aktivitas


Ekstrak Etanol Daun Bayam Duri Antibakteri Ekstrak Etanol Daun
Sinar Sinar UV Bayam Duri terhadap
Rf
Tampak 254 nm 366 nm Staphylococcus aureus dan
0,95 Kuning Biru - Pseudomonas aeruginosa
Merah Konsentrasi
Hijau Staphylococcus Pseudomonas
0,86 Hijau muda Ekstrak
kebiruan aureus aeruginosa
kehitaman (ppm)
Merah 200.000 + -
0,78 - -
muda 100.000 + -
Merah 50.000 + -
0,75 - -
muda 10.000 + -
Merah Keterangan: + = memberikan
0,68 - -
muda aktivitas antibakteri
Merah - = tidak memberikan aktivitas
0,62 - -
muda
Merah antibakteri
0,58 - -
muda
0,52 - - Ungu Data pada Tabel 3 menunjukkan bahwa
Ungu
0,50 - - Merah ekstrak daun bayam duri masih
0,48 - - muda
0,32 - - Merah menunjukkan aktivitas antibakteri hingga
muda
Keterangan : - = tidak terdeteksi konsentrasi 10.000 ppm terhadap bakteri

Hasil Pengujian Aktivitas Ekstrak uji Staphylococcus aureus sedangkan pada

Etanol Daun Bayam Duri bakteri Pseudomonas aeruginosa tidak

Uji aktivitas antibakteri ekstrak menunjukkan aktivitas antibakteri.

dilakukan dengan konsentrasi 200.000, Hasil Penentuan Konsentrasi Hambat

100.000, 50.000, dan 10.000 ekstrak daun Minimum (KHM) Ekstrak Etanol Daun

bayam duri dengan metode difusi agar. Bayam Duri

Hasil uji aktivitas antibakteri dapat dilihat Penetapan konsentrasi hambat

pada Tabel 3. minimum ekstrak dilakukan pada

konsentrasi ekstrak 10.000, 7000, 6000,

5000, dan 4000 ppm untuk bakteri

Staphylococcus aureus. Hasil uji KHTM

ekstrak dapat dilihat pada Tabel 4.


Farmaka
Volume 14 Nomor 1 100

Tabel 4 Hasil Penentuan KHTM Ekstrak Tabel 6 Hasil Penetapan Diameter Hambat
Etanol Daun Bayam Duri terhadap Ekstrak Daun Sukun terhadap
Staphylococcus aureus bakteri Staphylococcus aureus
Konsentrasi Ekstrak Hasil Konsentrasi
(ppm) uji Ekstrak daun Diameter Hambat
(mm) Diameter
10.000 - sukun
Rata-rata
7.000 - (ppm)
(mm)
6.000 + Log III
C I II
5.000 + C
4.000 + 10000 4 11,58 11,64 11,58 11,60
Keterangan : + = ada pertumbuhan 30000 4,477 11,88 11,90 11,92 11,90
bakteri 50000 4,698 12,26 12,36 12,28 12,30
- = tidak ada 70000 4,845 12,42 12,44 12,52 12,46
90000 4,954 12,62 12,58 12,66 12,62
pertumbuhan bakteri Keterangan: diameter lubang = 7,00

Data pada Tabel 4 menunjukkan bahwa mm

konsentrasi hambat minimum ekstrak Berdasarkan data pada Tabel 6 dapat

terhadap Staphylococcus aureus berada dibuat kurva hubungan log konsentrasi

pada konsentrasi antara 6000 - 7000 ppm. (ppm) ekstrak daun sukun dengan rata-rata

Hasil Uji Banding Ekstrak Daun Bayam zona hambat (mm) ekstrak daun sukun

Duri dengan Ekstrak Daun Sukun terhadap bakteri uji. Hasilnya dapat dilihat

Untuk mendapatkan nilai banding, pada Gambar 1.

diperlukan kurva baku ekstrak daun sukun,

yang merupakan plot antara log

konsentrasi ekstrak daun sukun terhadap

diameter zona hambat. Data konsentrasi

dan zona hambat ekstrak daun sukun dapat


Gambar 1 Kurva hubungan antara
dilihat pada Tabel 6, sedangkan data logaritma konsentrasi (ppm)
ekstrak daun sukun dengan rata-
konsentrasi dan zona hambat ekstrak daun rata diameter hambat (mm)
ekstrak daun sukun terhadap
bayam duri dapat dilihat pada tabel 7. Staphylococcus aureus
Dari kurva pada Gambar 4.1,

diperoleh persamaan regresi linier y =

1,489 x + 5,255.
Farmaka
Volume 14 Nomor 1 101

Tabel 7 Hasil Pengukuran Diameter sebesar 100.000 ppm dibandingkan dengan


Hambat Ekstrak Etanol Daun
Bayam Duri terhadap bakteri konsentrasi daun sukun sebesar
Staphylococcus aureus
Diameter Hambat 5.407.543,229 ppm, sehingga diperoleh
Konsentrasi
(mm)
Ekstrak
Staphylococcus nilai banding ekstrak daun bayam duri
(ppm)
aureus
100.000 15,20 dengan ekstrak daun sukun terhadap
15,24
15,40 Staphylococcus aureus sebesar 1 : 54,075.
Rata-rata 15,28
Keterangan: diameter lubang = 7,00 Nilai banding ini berarti bahwa untuk

mm menghasilkan diameter hambat yang sama

Dari data tabel 7 pada konsentrasi 1 bagian ekstrak daun bayam duri

100.000 ppm ekstrak daun bayam duri sebanding dengan 54,075 bagian ekstrak

memberikan diameter hambat rata-rata daun sukun.

terhadap bakteri Staphylococcus aureus KESIMPULAN DAN SARAN

sebesar 15,28 mm. Nilai ini kemudian Kesimpulan

disubstitusikan dengan menggunakan Dari hasil penelitian ini, dapat

persamaan regresi linier aktivitas daun disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun

sukun terhadap Staphylococcus aureus bayam duri (Amaranthus spinosus)

yaitu y = 1,489 x + 5,255 sehingga memiliki aktivitas antibakteri terhadap

didapatkan nilai x = 6,733 dan antilog = Staphylococcus aureus sedangkan pada

5.407.543,229 ppm. Nilai antilog ini bakteri Pseudomonas aeruginosa tidak

menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak memiliki aktivitas antibakteri. Konsentrasi

daun sukun yang memberikan diameter Hambat Tumbuh Minimum(KHTM)

hambat 15,28 mm adalah sebesar ekstrak etanol daun bayam duri terhadap

5.407.543,229 ppm. Nilai banding bakteri Staphylococcus aureus terletak

diperoleh dengan membandingkan pada rentang konsentrasi 6000 – 7000

konsentrasi ekstrak daun bayam duri ppm. Nilai banding aktivitas antibakteri

dengan konsentrasi ekstrak daun sukun. ekstrak etanol daun bayam duri dengan

Konsentrasi ekstrak daun bayam duri


Farmaka
Volume 14 Nomor 1 102

ekstrak daun sukun terhadap bakteri DAFTAR PUSTAKA

Staphylococcus aureus adalah 1 : 54,075. Abdallah M., Zaki S.M., El-Sayed A. and
Erfan D. 2007. Evaluation of
Hasil penapisan fitokimia secondary bacterial infection of skin
diseases in Egyptian inpatients and
menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun outpatients and their sensitivity to
antimicrobial. Egyptian Dermatology
bayam duri mengandung senyawa alkaloid Online Journal. 3(2): 3.
Dalimartha, Setiawan. 1999. Atlas
dan saponin. Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid 1.
Trubus Agriwidya. Jakarta.
Saran
Jawetz, E., Mulnich, J.L. and Adelberg, E,
Penelitian mengenai uji aktivitas A. 2007. Mikrobiologi Kedokteran.
Alih bahasa Huriawati hartanto.
antibakteri ekstrak etanol daun bayam duri Edisi ke-23. CV. EGC Penerbit Buku
Kedokteran Jakarta. hlm. 225-227,
(Amaranthus spinosus) terhadap 266-268.
Levy, D., M. Bens, G. Craun, R. Calderon,
Staphylococcus aureus dan Pseudomonas and B. Herwaldt. December 11,
1998. Surveillance for Waterborne-
aeruginosa merupakan penelitian tahap Disease Outbreaks – United States,
1995-1996. MMWR 47:1-34.
awal, sehingga pengujian aktivitas
Pelczar, M. and Chan,S. 1986. Dasar –
antibakteri ekstrak terhadap bakteri lain Dasar Mikrobiologi 1 & 2. Jakarta:
UI-Press. hlm. 175-176.
perlu dilakukan agar dapat melengkapi Tortora, et. al. 1997. Microbiology an
Introduction. 6 th edition. Addison
data penelitian aktivitas antibakteri dari Wesley Longman, Inc. California. p.
531-536 , 549.
tumbuhan ini. Dengan adanya aktivitas

antibakteri yang terkandung dalam daun

bayam duri, perlu dilakukan pengujian -

aktivitas antibakteri dari fraksi-fraksi

ekstrak serta analisis lebih lanjut untuk

mengetahui dan mengisolasi senyawa aktif

antibakteri yang terkandung dalam

tumbuhan ini.