Anda di halaman 1dari 18

Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seperti yang telah diketahui bahwa urin adalah cairan sisa yang
diekskresikan oleh ginjal yang dikeluarkan dari dalam tubuh melalui
proses urinari. Ekskresi urin diperlukan oleh tubuh untuk membuang
molekul-molekul sisa yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga
hemostasis cairan tubuh.
Dalam dunia kesehatan, kita sering mendengar urinalisis. Urinalisis
adalah pemeriksaan urine atau air seni yang bertujuan untuk
mengetahui adanya kelainan atau gangguan pada tubuh yang
terdeteksi melalui urin. Tes urin telah lama dikerjakan dan sering
dilakukan karena sampel mudah didapatkan dan teknik tes tidak begitu
sulit.
Pemeriksaan urin rutin dilakukan saat medical chekup, saat masuk
rumah sakit, sebelum tindakan pembedahan atau saat hamil. Urinalisis
juga dipakai sebagai sarana untuk memonitor penyakit tertentu dan
pengobatan yang dilakukan.
Adapun pemeriksaan urin dapat mencakup pemeriksaan warna,
pemeriksaan penampakan urine, pemeriksaan bau, pemeriksaan kadar
pH (keasaman), pemeriksaan adanya zat yang tidak normal pada urine
misalnya darah, protein, glukosa, pemeriksaan adanya sel.
1.2 Maksud Praktikum
Adapun maksud dari praktikum ini adalah untuk menentukan atau
menganalisis data klinis dari spesimen urin dengan melakukan
pemeriksaan fisika urin dan melakukan pemeriksaan zat organik dalam
urin.
1.3 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk menganalisis dan
menginterpretasikan data klinis spesimen urin relawan puasa dan tidak
puasa.

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Umum


Urinalisis amat penting dalam penapisan penyakit yang dianggap
sebagai bagian tak terpisahkan dari pemeriksaan fisik menyeluruh bagi
setiap pasien, bukan hanya untuk investigasi ginjal. Urinalisis
mencakup sejumlah analisis yang biasanya dikerjakan di tempat, bukan
di laboratorium sentral. Pemeriksaan urine pasien sebaiknya tidak
terbatas pada uji biokimia saja (Allan, 2012 h 33).
Urinalisis merupakan salah satu tes yang sering diminta oleh para
klinis. Tes ini lebih populer karena dapat membantu menegakkan
diagnosis, mendapatkan informasi mengenai fungsi organ dan
metabolisme tubuh, juga dapat mendeteksi kelainan asimptomatik,
mengikuti perjalanan penyakit dan pengobatan. Permintaan urinalisis
diindikasikan pada pasien dengan evalusi kesehatan secara umum,
gangguan endokrin, gangguan pada ginjal atau traktus urinarius,
monitoring pasien dengan diabetes, kehamilan, kasus toksikologi atau
over dosis obat (Tadjuddin, 2014 h 213).
Urinalisis dapat menunjang penelusuran akibat suatu penyakit atau
penyimpangan yang terjadi pada hewan melalui urine, yang bersifat
patologis. Dengan demikian diagnosis maupun prognosis dapat tercapai
secara akurat (Emilaza, 2016 h 1).
Indikasi tes urin adalah untuk tes saring pada tes kesehatan,
keadaan patologik maupun sebelum operasi, menentukan infeksi
saluran kemih terutama yang berbau busuk karena nitrit, leukosit atau
bakteri, menentukan kemungkinan gangguan metabolisme misalnya
diabetes melitus atau komplikasi kehamilan, menentukan berbagai
jenis penyakit ginjal seperti glomerulonephritis, sindroma nefrotik dan
pyelonephritis (Tadjuddin, 2014 h 212).

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

Tes urin rutin (urinalisis) bertujuan untuk menunjukkan adanya zat-


zat yang dalam keadaan normal tidak terdapat dalam urin, atau
menunjukkan perubahan kadar zat yang dalam keadaan normal
terdapat dalam urin. Tes urin tidak hanya dapat memberikan fakta-fakta
tentang ginjal dan saluran urin, tetapi juga mengenai faal berbagai
organ dalam tubuh seperti hati, saluran empedu, pankreas, cortex
adrenal, dll (Tadjuddin, 2014 h 212-213).
Volume urin normal 24 jam pada orang dewasa antara 750-2000 ml
yang bergantung pada asupan cairan dan kehilangan cairan melalui
jalan lain (keringat). Pengeluaran urin minimal dalam 24 jam adalah 500
ml. Pengeluaran urin 12 jam siang dan 12 jam malam harus diukur
secara terpisah (Fajar, 2015 h 5).
Tes urin terdiri dari pemeriksaan makroskopik, mikroskopik atau
sedimen dan pemeriksaan kimia urin. Tes mikroskopik untuk melihat
eritrosit, leukosit, sel epitel, torak, bakteri, kristal, jamur dan parasit.
Pemeriksaan makroskopik adalah untuk menilai warna, kejernihan dan
bau. Analisis makroskopik secara fisik meliputi tes warna, kejernihan,
bau, berat jenis dan pH. Analisis kimiawi meliputi tes protein, glukosa,
keton, darah, bilirubin, urobilinogen, nitrit,dan lekosit esterase
(Tadjuddin, 2014 h 213).
Sedimen urin adalah unsur tidak larut dalam urin yang berasal dari
darah, ginjal, dan saluran kemih. Tes mikroskopis yang dilakukan
adalah pemeriksaan sedimen urin dengan menggunakan mikroskop.
Perlakukan sampel dengan cara sentrifugasi dengan kecepatan 1500
RPM selama 5 menit terlebih dahulu. Unsur-unsur sedimen urin dibagi
atas dua golongan yaitu unsur organik dan unsur anorganik (Fajar,
2015 h 34).
Adanya glukosa dalam urin menandakan beban filtrasi glukosa
telah melampaui kemampuan tubulus ginjal untuk mereansorpsi
seluruh ekses glukosa. Hal ini biasanya mencerminkan hiperglikemia

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

dan, karena itu perlu dipertimbangkan uji formula lain yang cocok untuk
menilai diabetes melitus, seperti uji glukosa darah sewaktu (Allan, 2012
h 32).
Berat jenis merupakan ukuran semi kuantitatif mengenai densitas
urin, dengan demikian, berat jenis yang semakin tinggi menandakan
urin semakin pekat. Penilaian berat jenis urin biasanya hanya
berdasarkan kesan hasil pengamatan warna urin secara kasatmata.
Bila konsentrasi urin perlu diukur, kebanyakan orang akan meminta
pemeriksaan osmolitas urin yang cakupan penilaian lebih (Allan, 2012
h 33).
Urin biasanya asam (pH urin pada dasarnya kurang dari 7,4
menandakan tingginya konsentrasi ion hidrogen dalam urin,
Pengukuran pH urin berguna dalam kasus-kasus kecurigaan
kontaminasi (Allan, 2015 h 33).
Klinisi sering mengalami kesulitan untuk tepat mengirim sampel urin
sehingga hasil yang diharapkan banyak tidak sesuai dengan kondisi
klinis pasien. Padahal tes urin dapat banyak memberikan informasi
tentang disfungsi ginjal. Bahan tes yang terbaik adalah urin segar
kurang dari 1 jam setelah dikeluarkan. Penundaan antara berkemih dan
urinalisis akan mengurangi validitas hasil, analisis harus dilakukan tidak
lebih dari 43 jam setelah pengambilan sampel. Apabila dilakukan
penundaan tes dalam 4 jam maka disimpan dalam lemari es pada suhu
2-4oC. Urin yang dibiarkan dalam waktu lama pada suhu kamar akan
menyebabkan perubahan pada urin. Unsur-unsur berbentuk di urin
(sedimen) mulai mengalami kerusakan dalam 2 jam (Tadjuddin, 2012 h
213).
Penelitian terhadap diuresis 24 jam atau 12 jam menemukan
adanya kelainan seperti poliuria atau oliguria yang dapat dipertalikan
dengan keadaan klinik tertentu. Urin sewaktu tidak perlu diukur dengan
teliti (Gandasoebrata, 2010 h 75).

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

2.2 Uraian Bahan


1. Reagen Benedict

CuSO4 (Ditjen POM, 1979 h 731)

Nama resmi : TEMBAGA II SULFAT

Nama lain : Kupri Sulfat

RM : CuSO4

Pemerian : Prisma tri klinik, serbuk hablur, biru

Kelarutan : Larut dalam 3 bagian air dan 3 bagian

gliserol, sangat sukar larut dalam etanol.

Kegunaan : Komposisi Benedict

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.

2.3 Prosedur Kerja (Anonim, 2018)


a) Pemeriksaan Bobot Jenis Urin
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, ditimbang
piknometer kosong. Dipipet urin ke dalam piknometer hingga
mencapai mulut piknometer. Diukur suhu dari urin, jika suhu sudah
mencapai 25̊C maka piknometer yang berisi urin langsung
ditimbang. Jika belum mencapai suhu 25̊C, didinginkan dalam
wadah yang berisi es batu dan dipantau suhu dengan menggunakan
termometer. Kemudian ditimbang piknometer yang berisi urin, dan
dicatat masing-masing bobotnya. Dihitung bobot jenis dari urin
tersebut.
b) Pemeriksaan Warna Urin
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Dipipet 5 mL urin
dan diamati warna dari urin dalam sikap serong pada cahaya
tembus. Dicatat hasil pengamatan, dapat dinyatakan tidak berwarna,
kuning, kuning muda, kuning tua, kuning bercampur merah, merah

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

bercampur kuning, merah, coklat, kuning bercampur hijau, putih


serupa susu, dan lain-lain.
c) Pemeriksaan Bau Urin
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Dipipet 5 mL urin
dan dicium bau yang ditimbulkan. Dicatat hasil pengamatan, dapat
dinyatakan dengan bau makanan, obat-obatan, bau amoniak, bau
ketonuria, atau bau busuk.
d) Pemeriksaan pH Urin
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Dipipet urin lebih
kurang setengah dari tabung reaksi. Dicelup kertas pH universal ke
dalam tabung yang berisi urin. Diamati perubahan warna dan dicatat
pHnya.
e) Pemeriksaan Sedimen Urin
Disiapkan alat dan bahan. Urin disentrifuge selama 10 menit dengan
kecepatan 3000 rpm. Supernatannya dibuang, diambil
endapannnya. Diteteskan di atas objek glass. Diamati di bawah
mikroskop dengan perbesaran 40x.
f) Pemeriksaan Glukosa Urin
Masukkan pereaksi benedict 5 mL pada tabung reaksi. Teteskan 8
tetes urin. Panaskan diatas api bunsen selama kurang lebih 2 menit.
Diangkat dan kocok perlahan-lahan, amati warnanya.

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

BAB 3 METODE KERJA

3.1 Alat praktikum


Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat
sentrifuge, bunsen, deg glass, gegep kayu, gelas ukur, kertas pH
universal, objek glass, mikroskop, piknometer 50 ml, plat tetes, pipet
tetes, rak tabung, tabung reaksi, tabung sentrifuge.
3.2 Bahan Praktikum
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu reagen
benedict, sampel urin puasa dan tidak puasa, dan tissue.
3.3 Cara Kerja
1. Pemeriksaan bobot jenis urin
Ditimbang piknometer kosong, dipipet urin ke dalam piknometer
hingga mencapai mulut piknometer, ditimbang berat piknometer +
urin, kemudian dicatat masing-masing bobotnya, dan ditentukan
bobot jenis urin.
2. Pemeriksaan warna urin
Dipipet 5 ml urin ke dalam tabung reaksi, kemudian diamati warna
urin pada cahaya tembus (matahari). Dimasukkan pengamatan
dalam tabel pengamatan.
3. Pemeriksaan bau urin
Dipipet urine ke dalam tabung reaksi, kemudian dicium bau yang
ditimbulkan oleh urin yang dapat dinyatakan seperti bau makanan,
obat-obatan, bau amoniak, atau bau busuk. Dan dicatat hasilnya.
4. Pemeriksaan pH urin
Dipipet urin ke dalam plat tetes, dicelupkan kertas lakmus,
diamati perubahan warna kertas lakmus dan dicatat.
5. Pemeriksaan glukosa urin
Dimasukkan 5 ml reagen benedict ke dalam tabung reaksi
kemudian teteskan 8 tetes urin, dipanaskan selama 2 menit, diamati
perubahan warnanya.

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

6. Pemeriksaan Sedimen Urin


Disiapkan alat dan bahan. Urin disentrifuge selama 10 menit
dengan kecepatan 3000 rpm. Supernatannya dibuan dan diambil
endapannnya. Diteteskan di atas objek glass. Diamati di bawah
mikroskop dengan perbesaran 40x.

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
KLP Urin Berat Pikno Berat Pikno + BJ (g/ml) pH
Kosong (g) Urin (g)
1 Puasa 32,72587 6
Tidak Puasa 83,75980 0,8505655 6
2 Puasa 32,14800 82,6739 1,010518 6
Tidak Puasa 82,8609 1,014218 6
3 Puasa 29,74258 79,65656 0,9982796 7
Tidak Puasa 79,46661 0,9944806 6
4 Puasa 32,19051 87,7949 1,0120878 6
Tidak Puasa 81,91323 0,9944544 7

KLP Urin Warna Bau Sedimen Glukosa


1 Puasa Kuning muda Amoniak Negatif Biru Kehijauan (-)

Tidak Puasa Kuning tua Amoniak Negatif Biru Kehijauan (-)


2 Puasa Kuning muda Amoniak Asam Urat Biru Jernih (-)
Tidak Puasa Kuning tua Amoniak Negatif Biru Jernih (-)
3 Puasa Kuning muda Amoniak Leukosit Biru Jernih (-)
Tidak Puasa Bening Amoniak Negatif Biru Jernih (-)
kekuningan
4 Puasa Kuning muda Amoniak Leukosit Biru Kehijauan (-)
Tidak Puasa Bening Amoniak Negatif Biru Jernih (-)
kekuningan

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

4.2 Perhitungan
Kelompok 1
Urin tidak puasa

Dik : Berat piknometer kosong = 32,72587 g

Berat piknometer + urin = 83,75980 g/mL

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑑𝑎𝑛 𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒 –𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔


BJ urine =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒

83,75980−32,72587
= = 0,8505655 g/mL
50

Kelompok 2
Urin puasa

Dik : Berat piknometer kosong = 32,14800 g

Berat piknometer + urin = 82,6739 g/mL

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑑𝑎𝑛 𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒 –𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔


BJ urine = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒

82,6739−32,14800
= = 1,010518 g/mL
50

Urin tidak puasa

Dik : Berat piknometer kosong = 32,14800 g

Berat piknometer + urin = 82,8609 g/mL

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑑𝑎𝑛 𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒 –𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔


BJ urine = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒

82,8609−32,14800
= = 1,014218 g/mL
50

Kelompok 3
Urin puasa

Dik : Berat piknometer kosong = 29,74258 g

Berat piknometer + urin = 79,65656 g/mL

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑑𝑎𝑛 𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒 –𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔


BJ urine = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒

79,65656−29,74258
= = 0,9982796g/mL
50

Urin tidak puasa

Dik : Berat piknometer kosong = 29,74258 g

Berat piknometer + urin = 79,46661 g/mL

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑑𝑎𝑛 𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒 –𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔


BJ urine = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒

79,46661−29,74258
= = 0,9944806 g/mL
50

Kelompok 4
Urin puasa

Dik : Berat piknometer kosong = 32,19051 g

Berat piknometer + urin = 87,7949 g/mL

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑑𝑎𝑛 𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒 –𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔


BJ urine = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒

87,7949−32,19051
= = 1,0120878 g/mL
50

Urin tidak puasa

Dik : Berat piknometer kosong = 32,19051 g

Berat piknometer + urin = 81,91323 g/mL

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑑𝑎𝑛 𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒 –𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔


BJ urine = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒

81,91323−32,19051
= = 0,9944544 g/mL
50

4.2 Pembahasan
Urinalisis merupakan salah satu tes yang sering diminta oleh para
klinis. Tes ini lebih populer karena dapat membantu menegakkan
diagnosis, mendapatkan informasi mengenai fungsi organ dan
metabolisme tubuh, juga dapat mendeteksi kelainan asimptomatik,
DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm
15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

mengikuti perjalanan penyakit dan pengobatan. Tes urin rutin


(urinalisis) bertujuan untuk menunjukkan adanya zat-zat yang dalam
keadaan normal tidak terdapat dalam urin, atau menunjukkan
perubahan kadar zat yang dalam keadaan normal terdapat dalam urin.
Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk
mengetahui pemeriksaan bobot jenis, warna urin, bau yang timbul dari
urin, pH urin, sedimen urin serta untuk mengetahui adanya adanya
glukosa dalam urin.
Pengujian pertama yang dilakukan adalah uji warna urin. Adapun
prinsip pemeriksaan warna urin yaitu mengamati warna urin secara
langsung dengan indera penglihatan. Hasil yang didapat adalah warna
urin probandus puasa berwarna kuning muda, sedangkan probandus
tidak puasa berwarna kuning tua dan bening kekuningan. Hal ini
menunjukkan bahwa warna urin probandus puasa dan yang tidak
puasa dalam keadaan normal, sesuai dengan nilai rujukan yaitu
berwarna kuning.
Selanjutnya adalah dilakukan pemeriksaan bau urin dengan
mengamati bau urin secara langsung melalui indera penciuman. Hasil
yang didapatkan yaitu urin probandus yang puasa dan tidak puasa
berbau amoniak. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa semua
urin masih normal.
Lalu dilakukan pemeriksaan glukosa urin dengan menyiapkan 2
buah tabung reaksi dan diberi label untuk urin puasa dan urin tidak
puasa, kemudian dipipet 5 ml pereaksi benedict. Setelah itu,
ditambahkan ± 8 tetes urin ke dalam tabung reaksi tersebut.
Dipanaskan diatas nyala bunsen sekitar 2 menit dan diamati
perubahan warna yang terjadi. Pereaksi benedict digunakan dalam
pemeriksaan glukosa karena memanfaatkan sifat glukosa sebagai
pereduksi dan zat yang paling sering digunakan untuk menyatakan
adanya reduksi adalah yang mengandung garam cupri seperti yang

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

terkandung dalam pereaksi benedict. Selanjutnya, glukosa dalam urin


akan mereduksi kuprisulfat (dalam benedict) menjadi kuprosulfat
sehingga terjadi perubahan warna dari larutan benedict tersebut.
Namun, bila tidak terdapat glukosa, maka reaksi tidak akan terjadi
dan warna dari benedict tidak akan berubah. Dan hasil yang didapat
adalah untuk urin puasa dan urin tidak puasa hasil pemeriksaan
glukosa urinnya negative karena tidak terjadi perubahan warna.
Pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan untuk pH urin untuk
mengetahui derajat keasaman urin. Pada pemeriksaan ini digunakan
kertas pH Universal yang dicelupkan kedalam masing-masing urin
untuk mengetahui pH dari masing-masing urin tersebut. Dan hasil
yang didapatkan adalah urin tidak puasa pHnya 6 dan 7 sedangkan
urin puasa pHnya 6 dan 7 juga, hal ini menandakan bahwa pH urin
probandus puasa dan yang tidak puasa masih normal, karena
menurut literatur pH normal urin yaitu pH asam.
Pada kelompok tiga, diperoleh hasil berat jenis 0,9982796 g/mL
untuk puasa dan untuk urin tidak puasa 0,9944806 g/mL. Berdasarkan
nilai berat jenis yang didapatkan, dapat dikatakan bahwa spesimen
dalam keadaan tidak normal untuk puasa, karena masih kurang dari
range normalnya yaitu 1,003 - 1,030. Tetapi untuk kelompok dua berat
jenis 1,010518 g/mL untuk puasa dan untuk urin tidak puasa 1,014258
g/mL.
Adapun untuk pemeriksaan sedimen, untuk urin yang normal tidak
mengandung eritrosit dan leukosit ditemukan dalam jumlah kecil yaitu
0-5/LPK. Adanya eritrosit dalam urin menandakan hematuria, hal ini
ditandai dengan adanya darah dalam urin yang dapat disebabkan
karena terjadinya infeksi pada saluran kemih. Sedangkan pada hasil
percobaan diketahui bahwa terdapat urin yang mengandung kristal
asam urat dan leukosit tetapi tidak terdapat urin yang mengandung
eritrosit. Asam urat termasuk produk akhir metabolisme purin yang

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

sukar larut dalam air. Terjadinya peningkatan asam urat tergantung


pada fungsi ginjal, frekuensi metabolisme purin, dan masukan
makanan yang banyak mengandung purin. Lalu jumlah asam urat
yang berlebihan inilah yang dikeluarkan melalui urin.
Adapun faktor kesalahan dalam praktikum kali ini adalah kurang
telitinya praktikan dalam melakukan percobaan pemeriksaan glukosa
urin karena praktikan terlalu cepat membuang sampel urin tanpa
mendiamkannya dalam waktu tertentu sehingga tidak diketahui bahwa
urin mengandung endapan atau tidak.

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa hanya kelompok dua
yang memiliki bobot jenis urin yang memenuhi range normal yaitu
1,005-1,026. Untuk warna urin puasa, semua kelompok dinyatakan
normal karena berwarna kuning muda sedangkan untuk urin tidak
puasa, semua kelompok juga dinyatakan normal karena berwarna
bening kekuningan dan kuning tua. Untuk bau urin, baik urin puasa dan
urin tidak puasa, semua kelompok masih normal karena semuanya
berbau amoniak. Untuk pH urin, yang menunjukkan nilai pH 6 maka urin
tersebut masih normal karena urin yang normal memiliki pH asam,
tetapi terdapat pH urin puasa dan tidak puasa yang memiliki nilai pH 7.
Untuk pemeriksaan sedimen terdapat urin puasa yang mengandung
kristal asam urat dan leukosit sedangkan urin tidak puasa dalam
pemeriksaan sedimen hasilnya negatif. Dan untuk pemeriksaan
glukosa untuk semua urin baik puasa dan tidak puasa menunjukkan
negatif yang artinya semua urin tidak mengandung glukosa.
5.2 Saran
Adapun saran untuk praktikum ini adalah sebaiknya laboratorium
lebih menambah alat yang akan di praktikumkan seperti alat pengukur
piknometer sehingga praktikan tidak antri pada saat ingin melakukan
pengukuran dan lebih mengefesienkan waktu praktikum.

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2018. Penuntun analisis Farmasi. Tim dosen kimia farmasi UMI :
Makassar.

Ditjen POM., 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen kesehatan


RI, Jakarta.

Bakti Kurniawan, Fajar. 2015. Kimia Klinik : Praktikum Analisis Kesehatan.


EGC : Jakarta.

Gandasoebrata., 2010. Penuntun Labratorium Klinik, PT. Dian Rakyat.


Jakarta.

Gaw, Allan, dkk. 2012. Biokimia Klinik. EGC Medical Publisher : Jakarta.

Naid, Tadjuddin. 2014. Pengaruh Penundaan Waktu Terhadap Hasil


Urinalisis Sedimen Urin. Vol 6 (2). Unhas : Makassar.

Pratama, Emilaza. 2016. Pemeriksaan Urinalisis Untuk Menetukan Status


Present Kambing Kacang Di UPT Hewan Coba Fakultas Kedokteran
Universitas Syiah Kuala. Vol 10 (1). Universitas Syiah Kuala : Aceh.

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

LAMPIRAN GAMBAR

1. Pemeriksaan bobot jenis urin

Puasa Tidak Puasa


2. Pemeriksaan warna urin

Puasa Tidak Puasa


3. Pemeriksaan bau urin

4. Pemeriksaan pH urin

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250
Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik Dalam Urin

5. Pemeriksaan sedimen urin

Leukosit Urin Puasa


6. Pemeriksaan glukosa urin

DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN TENRI AYU ADRI, S.Farm


15020150250