Anda di halaman 1dari 14

Critical Book Report

Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan

Pengarang buku:
Winarno,S.Pd.,M.Si

Disusun Oleh:

Nama : Romauli Hutabarat

Nim : 7142141040

PENDIDIKAN EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2017
KATA PENGANTAR

Segala puji kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat dan karunia-NYA
sehingga saya dapat menyelesaikan tugas critical book report yang berjudul Paradigma Baru
Pendidikan Kewarganegaraan. Adapun makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Prodi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Medan.
Tidak lupa pula saya mengucapkan terimakasih banyak kepada seluruh pihak yang telah
membantu menyelesaikan makalah ini, terutama kepada bapak Drs. Payerli Pasaribu selaku
dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan yang telah banyak membimbing dan
membantu kami dalam penyelesaian makalah critical book report ini ini.
Saya menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini, untuk itu diharapkan
kritik dan saran yang konstruktif untuk perbaikan kedepannya. Besar harapan saya, semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.

Medan, Maret 2017

BAB I
PENDAHULUAN

A. Informasi Bibliografi :

Judul buku : Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan


Nama pengarang : Winarno,S.Pd.,M.Si
No ISBN : 978-979-010-178-4
Penerbit : PT Bumi Aksara
Tahun Terbit : 2013
Urutan Cetakan : Kesembilan
Tebal buku : 223
B. Alasan Melakukan Critical Book Report

Alasan melakukan Critical Book Repot ini adalah selain karena sebagai tuntutan tugas untuk
mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Saya ingin mengetahui lebih mengenai pembahasan
buku tersebut. Karena dalam buku ini terdapat pembahasan yang memang menarik untuk di kaji
dan di kembangkan untuk memiliki wawasan yang lebih banyak lagi mengenai
kewarganegaraan Indonesia. Khusus nya bagi para kaum pemuda yang sekarang ini, yang tidak
acuh dengan hal kewarganegaraan, dimana kurangnya kesadaran para kaum pemuda untuk
menumbuhkan jiwa nasionalis nya dalam membentuk karakter yang positif dalam bertingkah
laku sebagai warga negara Indonesia.

Kita ketahui bahwa sekarang ini kemajuan teknologi yang semakin pesat, yang membuat
para masyarakat Indonesia sedikit kurang peduli dengan kewarganegaraannya. Tetapi sebagai
kaum pemuda kita di tuntut untuk lebih memahami kewarganegaraan kita. Baik kita tunjukkan
dalam bertingkah laku, dan rasa tanggung jawab, dan kepedulian kita sebagai warga negara
Indonesia. Pada pembahasan buku ini kita akan diberi pencerahan harus seperti apa kita bersifat
sesuai dengan Undang Undang Dasar 1945 dan Pancasila. Untuk memajukan, memakmurkan,
dan mensejahterakan rakyat Bangsa Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

Secara Ringkas Mengenai Isi Dari Buku

Bab 1

Pancasila Sebagai Dasar Negara Dan Ideologi Nasional.

Bagi masyarakat Indonesia, Pancasila bukanlah sesuatu yang asing lagi. Namun, sebagai
Ideologi dan dasar filsafat negara, Pancasila layak untuk dikaji kembali relevansinya dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Kajian Pancasila pada awal bab ini berpijak dari kedudukan
Pancasila sebagai dasar dan Ideologi negara Republik Indonesia. Akan tetapi mengakaji
Pancasila secara mendalam. Dikatakan Pancasila dalam pendekatan Filsafat, karena untuk lebih
mengetahui tentang Pancasila itu perlu pendekatan filosofis. Untuk mendapat pengertian yang
mendalam dan mendasar, kita harus mengetahui sila- sila yang membentuk pancasila itu. Setelah
kita paham mengenai filosofis dari Pancasila melalui pendekatan filsafat, kita harus mewujudkan
nilai Pancasila sebagai norma bernegara. Di era sekarang ini, tampaknya kebutuhan akan norma
etik untuk kehidupan bernegara masih perlu bahkan amat penting untuk ditetapkan. Etika
kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat ini bertujuan untuk :

 Memberikan landasan etik moral bagi seluruh komponen bangsa dalam menjalankan
kehidupan kebangsaan dalam berbagai aspek.

 Menetukan pokok - pokok etika kehidupan berbangsa dan bernegara, dan bermasyarakat.

 Menjadi kerangka acuan dalam mengevaluasi pelaksanaan nilai - nilai etika dan moral
dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Dengan berpedoman pada etika kehidupan berbangsa tersebut, penyelenggara negara dan
warga negara dapat bersikap dan berperilaku secara baik bersumber pada nilai - nilai Pancasila
dalam kehidupannya. Setelah itu kita akan memaknai, makna Pancasila sebagai dasar Negara.
Hal ini telah dinyatakan berdasarkan Undang- Undang Dasar 1945. Pancasila sebagai dasar
negara berarti nilai - nilai Pancasila menjadi pedoman normatif bagi penyelenggaraan bernegara.
Di era sekarang, mengembalikan atau menegaskan kembali kedudukan Pancasila sebagai dasar
(filsafat) negara Indonesia merupakan suatu tuntutan penting oleh karena telah banyak terjadi
kesalahan penafsiran atas pancasila di masa lalu. Terdapat tiga faktor yang membuat pancasila
semakin sulit dan marginal dalam semua perkembangan yang terjadi. Pertama, pancasila
terlanjur tercemar karena kebijakan resmi orientasi Baru yang menjadikan Pancasila sebagai alat
politik untuk mempertahankan status quo kekuasaannya. Kedua, liberialisasi politik dengan
penghapusan ketentuan oleh Presiden B.J Habibie tentang pancasila sebagai satu satunya asas
setiap organisasi. Ketiga, desentralisasi dan otonomisasi daerah yang sedikit banyak mendorong
penguatan sentimen kedaerahan, yang jika tidak diantisipasi, bukan tidak bisa menumbuhkan
sentimen local - nationalism yang dapat tumpang - tindih dengan ethno- nationalism.

Pancasila, meskipun menghadapi ketiga masalah tadi, tetap merupakan kekuatan pemersatu
(integrating force) yang relatif masih utuh sebagai common platform bagi negara - negara
Indonesia. Setelah kita memahami makna Pancasila tersebut, maka kita akan
mengimplementasikan Pancasila sebagai dasar negara. Setelah itu makna Pancasila sebagai
Ideologi Nasional dan kita implementasikan Pancasila sebagai Ideologi Nasional. Nah,
disamping mengamalkan secara objektif, warga negara dan penyelenggara negara wajib
mengamalkan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dalam
rangka pengalaman secara subjektif ini, Pancasila menjadi sumber etika dalam bersikap dan
betingkah laku setiap warga negara dan penyelenggara negara.

Bab 2

Identitas Nasional

Kita ketahui bahwa manusia itu tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Manusia
harus saling ketergantungan dan membutuhkan orang lain untuk mendapatkan kebutuhannya.
Dengan begitu agar lebih mudah mendapatkannya, manusia akan membentuk kelompok
-kelompok untuk mencapai tujuan hidupnya. Demikian jugalah orang -orang yang telah
bernegara yang pada mulanya berasal dari banyak bangsa. Dapat menyatakan dirinya sebagai
satu bangsa. Dalam arti sosiologis Antropologis bangsa merupakan persekutuan hidup
masyarakat yang berdiri sendiri dimana masing - masing anggota merasa satu kesatuan ras,
bahasa, agama, dan adat istiadat. Bangsa dalam arti politis merupakan suatu masyarakat dalam
suatu daerah yang sama dan mereka tunduk pada kedaulatan negaranya sebagai suatu kekuasaan
tertinggi keluar dan kedalam.
Dikatakan Identitas Nasional yakni tanda atau jati diri yang melekat pada seseorang,
kelompok, masyarakat bahkan suatu bangsa. Sehingga dengan identitas itu bisa membedakannya
dengan yang lain. Proses pembentukan bangsa - negara membutuhkan identitas - identitas untuk
menyatukan masyarakat bangsa yang bersangkutan. Kira- kira yang menjadi faktor identitas
bersama suatu bangsa meliputi : Primordial, Sakral, Tokoh, Bhinneka Tunggal Ika, Sejarah,
Perkembangan Ekonomi, dan kelembagaan. Bangsa Indonesia terdiri dari banyak suku , agama,
ras, adat dan kebudayaan, semua itu termasuk kedalam identitas kesukubangsaan. Sedangkan
identitas kebangsaan terbentuk berasal dari satu bangsa dengan identitas Primordial yang sama.
Identitas- identitas kebangsaan itu merupakan kesepakatan dari banyak bangsa di dalamnya.
Identitas nasional itu dapat berasal dari identitas sebuah bangsa di dalamnya yang selanjutnya
disepakati sebagai identitas nasionalnya.

Identitas Nasional Indonesia menunjuk pada identitas- identitas yang sifatnya nasional,
bersifat buatan oleh karena identitas itu dibuat, dibentuk dan disepakati oleh warga bangsa
sebagai Identitasnya setelah mereka bernegara. Setelah bangsa Indonesia bernegara, mulai di
bentuk dan disepakati apa- apa yang dapat menjadi identitas nasional Indonesia. Bisa dikatakan
bangsa Indonesia relatif berhasil dalam membentuk identitas nasionalnya kecuali pada saat
proses pembentukan Ideologi Pancasila sebagai identitas nasional yang membutuhkan
perjuangan dan pengorbanan di antara warga bangsa. Tumbuh dan disepakatinya identitas
nasional Indonesia itu sesungguhnya telah di awali dengan adanya kesadaran politik bangsa
Indonesia sebelum bernegara. Dengan demikian nasionalisme yang tumbuh kuat dalam diri
bangsa Indonesia turut mempermudah terbentuknya identitas nasional Indonesia.

Bab 3

Hak dan kewajiban warga negara

Warga negara adalah warga atau anggota dari suatu negara. Status sebagai warga negara
dimana orang memiliki hubungan dengan negara. Hubungan itu akan tercermin dalam hak dan
kewajiban. Sedangkan kewarganegaraan merupakan keanggotaan yang menunjukkan hubungan
atau ikatan antara negara dengan warga negara. Kedudukan warga negara dalam negara, warga
negara lah yang merupakan pendukung dan arti penting bagi negara. Warga negara memiliki hak
dan Kewajiban terhadap negara. Sebaliknya, negara memiliki hak dan kewajiban terhadap
warganya. Negara Indonesia telah menetukan siapa - siapa yang menjadi warga negara yakni
orang orang bangsa Indonesia asli dan orang dari bangsa lain yang disahkan dengan Undang
-undang sebagai warga negara. Setiap hak dan kewajiban warga negara Indonesia tercantum
dalam pasal 27 sampai dengan pasal 34 UUD 1945. Selain adanya hak dan kewajiban warga
negara di dalam UUD 1946, tercantum pula adanya hak asasi manusia. Dimana hak asasi
manusia itu berbeda dengan hak warga negara. Hak warga negara merupakan hak yang
ditentukan dalam suatu konstitusi negara. Munculnya hak ini adalah karena adanya ketentuan
Undang -undang dan berlaku bagi orang-orang yang berstatus sebagai warga negara.

Bab 4

Negara dan konstitusi

Negara yang berlandaskan pada suatu konstitusi dinamakan negara konstitusional maka
konstitusi negara tersebut harus memenuhi sifat atau ciri -ciri dari konstitusionalisme. Di negara
demokrasi, pemerintah yang baik adalah pemerintah yang menjamin sepenuhnya kepentingan
rakyat serta hak- hak dasar rakyat. Konstitusi atau Undang -undang dasar dianggap sebagai
perwujudan dari hukum tertinggi yang harus di taati oleh negara dan pejabat- pejabat negara
sekalipun. Negara konstitusional bukan sekedar konsep formal, tetapi juga memiliki makna
normatif. Didalam gagasan konstitusionalisme, konstitusi tidak hanya merupakan suatu dokumen
yang menggambarkan pembagian dan tugas-tugas kekuasaan tetapi juga menetukan dan
membatasi kekuasaan agar tidak disalahgunakan.

Konstitusi merupakan untuk pembentukan suatu negara atau menyusun dan menyatakan
suatu negara. Konstitusi mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan
ketatanegaran suatu negara karena Konstitusi menjadi barometer kehidupan bernegara dan
berbangsa yang sarat dengan bukti sejarah perjuangan para pendahulu.

Bab 5

Demokrasi dan pendidikan demokrasi


Demokrasi merupakan pemerintahan atau kekuasaan . Dalam prinsipnya rakyat tetap
merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, dengan begitu muncul lah adanya demokrasi
langsung atau demokrasi perwakilan. Dimana demokrasi adalah paham yang mengikutsertakan
setiap warga negara nya dalam permusyawaratan untuk menetukan kebijaksanaan umum dan
Undang -undang. Demokrasi tidak langsung merupakan paham yang dilaksanakan melalui
sistem perwakilan, yang dilaksanakan melalui pemilihan umum. Abraham Linclon mengatakan
demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (goverment of the
poeple, Hy The poeple, and for the poeple) .

Dengan demikian pemerintahan dari rakyat itu merupakan bahwa rakyat lah pemegang
kedaulatan atau kekuasaan tertinggi dalam negara demokrasi. Sedangkan pemerintahan oleh
rakyat, bahwa rakyat lah yang menjalankan penyelenggaraan pemerintahan itu, melalui para
wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat tersebut. Dan pemerintahan untuk rakyat adalah pemerintah
yang menjalankan kebijakan - kebijakan yang mengarah terhadap kepentingan dan kesejahteraan
rakyat. Demokrasi berasumsi bahwa semua orang sama derajat dan hak haknya sehingga harus
diperlakukan sama pula dam pemerintahan. Pada masa sebelumnya demokrasi dikatakan sebagai
bentuk pemerintahan. Tetapi sekarang ini sudah lebih luas lagi yaitu sistem pemerintahan atau
politik. Demokrasi membutuhkan usaha nyata dari setiap warga maupun penyelenggara negara
untuk berperilaku sedemikian rupa sehingga mendukung pemerintahan atau sistem politik
demokrasi. Perilaku yang mendukung tersebut tentu saja merupakan perilaku yang demokratis.
Ada istilah demokratisasi yang dimana merupakan kaidah -kaidah atau prinsip -prinsip
demokrasi pada setiap politik kenegaraan.

Bab 6

Negara Hukum Dan Hak Asasi Manusia

Kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara hukum. Dimana hal ini terdapat pada
pasal 1 ayat 3 UUD 1945 perubahan ketiga yang berbunyi "negara adalah negara hukum "
artinya Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum, tidak
berdasar atas kekuasaan, dan pemerintahan berdasarkan sistem konstitusi (hukum dasar) bukan
absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas). Di dalam negara hukum, hukum sebagai dasar
diwujudkan dalam peraturan perundang- undangan yang berpuncak pada konstitusi atau hukum
dasar negara. Apabila negara berdasar atas hukum, pemerintahan negara itu juga harus berdasar
atas suatu konstitusi atau Undang -undang dasar sebagai landasan penyelenggaraan
pemerintahan.

Bab 7

Wawasan Nusantara Sebagai Geopolitik Indonesia

Indonesia memiliki wawasan nasional yaitu wawasan nusantara. Dimana wawasan nusantara
itu merupakan cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri bangsa Indonesia serta nusantara
sebagai lingkungan tempat tinggalnya. Menjadi bangsa yang wawasan nusantara yakni yang
memiliki persatuan bangsa dan kesatuan wilayah karna bangsa Indonesia memiliki budaya yang
beragam. Sebagai bangsa yang berwajah dan terpecah-pecah serta memiliki wilayah yang
terpisah-pisah, jelas merupakan kerugian besar bagi bangsa Indonesia. Untuk bisa keluar dari
keadaan bangsa terjatuh dan terpecah, kita membutuhkan semangat kebangsaan. Semangat
kebangsaan melahirkan visi sebagai bangsa yang bersatu. Salah satu kepentingan nasional
Indonesia adalah bagaimana menjadikan bangsa dan wilayah ini senantiasa satu dan utuh.
Kepentingan nasional itu merupakan turunan lanjut dari cita- cita nasional, tujuan nasional,
maupun visi nasional. Yang menjadi tujuan wawasan nusantara terdiri atas dua :

 Tujuan ke dalam, yaitu menjamin perwujudan persatuan kesatuan segenap aspek


kehidupan nasional, yaitu politik, ekonomi, Sosial budaya dan pertahanan keamanan.

 Tujuan keluar, yaitu terjaminnya kepentingan nasional dalam dunia yang serba berubah,
dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial serta mengembangkan suatu kerjasama dan saling
menghormati.

Dan yang menjadi manfaat wawasan nusantara adalah, diterima dan diakuinya konsepsi
nusantara di forum internasional, pertambahan luas wilayah teritorial Indonesia, pertambahan
luas wilayah sebagai ruang hidup memberikan potensi sumber daya yang besar bagi peningkatan
kesejahteraan rakyat, penerapan wawasan nusantara menghasilkan cara pandang tentang
keutuhan wilayah nusantara yang perlu dipertahankan oleh bangsa Indonesia dan yang terakhir
wawasan nusantara menjadi salah satu sarana integrasi nasional. Wawasan nusantara dalam
fungsinya sebagai wawasan dalam mencapai tujuan pembangunan nasional, harus mampu
menumbuhkan dan meningkatkan momentum kekuatan- kekuatan sentripetal untuk dapat terus
mempertahankan dan memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.

Bab 8

Ketahanan Nasional Sebagai Geostrategi Indonesia

Geostrategi adalah suatu cara atau pendekatan dalam memanfaatkan kondisi lingkungan
untuk mewujudkan cita - cita proklamasi dan tujuan nasuonal. Ketahanan nasional adalah
konsepsi politik kenegaraan Republik Indonesia. Konsepsi ketahanan nasional menggambarkan
adanya keterpaduan dan saling ketergantungan antaraunsur ketahanan nasional. Kuat atau
lemahnya ketahanan nasional Indonesia diukur dari tiap aspek dalam ketahanan nasional
tersebut. Ketahanan nasional itu merupakan konsepsi yang amat normatif. Ketahanan nasional
pada hakikatnya adalah kondisi yang dinamis dari integrasi tiap gatra yang ada. Dimana ada
gatra penduduk, gatra wilayah, gatra sumber daya alam, gatra bidang Ideologi, gatra di bidang
politik, gatra di bidang ekonomi, gatra di bidang sosial, gatra di bidang pertahanan keamanan.

Ketahanan nasional dan pembelaan negara mempunyai hubungan. Karena pembelaan


negara merupakan usaha dari warga negara untuk mewujudkan ketahanan nasional. Ketahanan
nasional Indonesia bukanlah merupakan suatu penjumlahan ketahanan segenap gatranya,
melainkan suatu resultante keterkaitan yang integratif dari kondisi dinamik kehidupan bangsa di
seluruh aspek kehidupannya.

BAB III
PEMBAHASAN CRITICAL BOOK
A. Latar Belakang Masalah Yang Akan Dikaji

Pengarang buku/penulis buku adalah Winarno, S.Pd.,M.Si. Yang menjadi target penulis
adalah mahasiswa perguruan tinggi, dan isi tersebut sudah cukup sesuai karena dalam buku ini
audience diharapkan menjadi warga negara yang demokratis dengan fokus utamanya pada materi
demokrasi, hak asasi manusia, dan konsep hubungan antara warga negara dengan negara.

B. Permasalahan Yang Akan Dikaji

Isi buku cukup menarik dan isi buku juga sangat relevan dengan kebutuhan audience. Serta
pembahasan nya disajikan secara detail, singkat, dan menyeluruh. Isi buku langsung
menyampaikan inti dari pembahasan kepada setiap audience, sehingga audience lebih mudah dan
cepat memahami setiap pembahasan yang disampaikan.

C. Kajian Teori Yang Digunakan /Konsep Yang Digunakan

Teori yang digunakan dalam bahasan buku sangat relevan dengan topik yang di bahas.
Karena setiap pembahasan mengawali dengan teori -teori untuk lebih mudah lagi audience
memahami pembahasan selanjutnya.

D. Metode Yang Digunakan

Metode yang digunakan sudah sesuai dan metodenya adalah metode berpikir secra kritis
dogmatis dan bersifat dialogis .

E. Analisis Critical Book Report

Gagasan yang diajukan sudah cukup logis Hubungan antar gagasan disajikan secara naratif.
Tidak terlalu banyak contoh yang di cantumkan dalam pembahasan, tetapi beberapa contoh
tersebut sudah cukup logis, factual, dan cukup kuat mendukung pikiran utama setiap audience.
Contoh dalam buku berdasarkan data sekunder.

Dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan yang di tulis oleh Drs. Payerli Pasaribu, M,Si.
Penerbit : UNIMED PRESS, Gedung Lembaga Penelitian Lantai 1, Jl. Willem Iskandar Psr
V,Medan. Tahun Terbit : 2016 (cetakan ketiga) . Jumlah halaman : 194 dengan ISBN : 978-602-
7398-04-5. Terdapat kesamaan dan perbedaan gagasan dalam kedua buku tersebut. Yang menjadi
kesamaan gagasan kedua buku ini adalah sama - sama menyampaikan gagasan yang
bertemakan :

 Pancasila Sebagai Dasar Negara Dan Ideologi Nasional

A. Pembahsasan dalam tema ini lebih dalam dan mudah dimengerti dan kata kata yang di
pakai lebih mudah dipahami, dibanding buku Winarno.

 Identitas Nasional

 Negara dan Konstitusi

 Rule Of Law Dan Hak Asasi Manusia

 Demokrasi Indonesia

 Geopolitik Indonesia

Dalam buku winarno , pembahasan geopolotik dan geostrategi di jadikan satu pembahasan,
dalam buku Payerli dibedakan. Dengan begitu audience lebih mudah memahami dan
mendalami setiap materi yang ada dalam pembahasan tersebut.

 Geostrategi Indonesia

Dan yang menjadi perbedaan gagasan buku ini adalah : Dalam buku Winarno tidak memuat
gagasan yang bertemakan Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Mata Kuliah Umum di
Perguruan tinggi. Tema ini di sampaikan buku Winarno di dalam Prakata.

BAB IV
PENUTUP DAN KESIMPULAN

B. Kesimpulan

Dalam buku Winarno dan Payerli tidak terdapat kesimpulan

C. Saran

Penulis tidak memberi saran untuk studi lanjutan

D. Daftar Pustaka

Dalam buku Winarno dan buku Payerli Pasaribu terdapat banyak daftar pustaka

Buku Winarno :

Achmad Fauzi. 2003. Pancasila, Tinjauan Konteks Sejarah, Filsafat Ideologi Nasional dan
Ketatanegaran Republik Indonesia. Malang: PT Danar Jaya Brawijaya University Press.
Adnan Buyung Nasution. 1995. Aspirasi Pemerintah Konstitusional di Indonesia. Jakarta :
Grafitti.
Afan Gaffar. 1999. Politik Indonesia ; Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Asykuri Ibn Chamim, dkk. 2003. Civic Education, Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta :
Ditlitbang Muhammadiyah dan LPP UMY.
Andeng Muchtar Ghazali. 2004. Civics Education, Pendidikan Kewarganegaraan perspektif
Islam. Bandung: Benang Press.
Azyumardi Azra. Rejuvenasi Pancasila dan Kepemimpinan Nasional, dalam Kompas 17 Juni
2004.
Badri Yatim. 1999. Soekarno, Islam, dan Nasionalisme. Jakarta : Logos Wacana Ilmu.
Cholisin. 2000. IKN-PKN. Modul Universitas Terbuka. Jakarta.
David Beetham & Kevin Boyle. 2000. Demokrasi Dalam 80 Tanya Jawab. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius.
Deden Faturahman & Wawan Sobari. 2002. Pengantar Ilmu Politik. Malang : UMM Press.
Deliar Noer. 1999. Pemikiran Politik di negara Barat. Jakarta : Mizan.
Depdiknas. 2002. Kapita Selekta Pendidikan Kewarganegaraan. Bagian I. Jakarta : Proyek
Peningkatan Tenaga Akademik, Dirjen Dikti, Depdiknas _____.2002. Kapita Selekta Pendidikan
Kewarganegaraan. Bagian II. Jakarta : Proyek Peningkatan Tenaga Akademik, Dirjen Dikti,
Depdiknas.
Eman Hermawan dan Umarudin Masdar. 2000. Demokrasi untuk Pemula. Yogyakarta : KLIK.
Buku Payerli Pasaribu
Amal Ichlasul & Armawi Armadi, 1996. Kerbukaan Informasi Dan Ketahanan Nasional. Gajah
Mada University Press. Yogyakarta.
Adisubrata Surya Winarna, 1999. Otonomi Daerah Di Era Reformasi. UPP AMP YKPN.
Yogyakarta.
Abdulgani Ruslan, 1998. Pancasila dan Reformasi. Makalah Seminar Nasional KAGAMA, 8
Juli 1998, di Yogyakarta.
Budiardjo Miriam, 1999. Dasar - Dasar Ilmu Politik. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Boedi Dewantoro (penyunting) & Sri Sultan Hamengkuwono X (Prolog), 2001. Strategi
Pemberdayaan Daerah Dalam Konteks Otonomi. Philosophy Press. Yogyakarta.
Basrie Chaidir, 1994. Pemantapan Pembangunan Melalui Pendekatan Ketahanan Nasional.
Program Magister Pengkajian Ketahanan Nasional UI. Jakarata.
Bahar Saafroedin, 2000. Etnisitas, Negara, Dan Peranan Elite Dalam Dinamika Integrasi
Nasional. Center for the study of Nation. Jakarta.
Besar Abdul Kadir, 1993. Redefenisi Pengertian Ketahanan Nasional, Suatu usulan Konstruktif.
Dalam Basrie Khaidir, 1994. Pemantapan Pembangunan Melalui Ketahanan Nasional. Program
Magister Pengkajian Ketahanan Nasional UI. Jakarta.
Gaffar Afan. 2000. Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
E. Daftar lampiran
Buku Winarno :
Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1946 dan Undang - Undang Dasar

Anda mungkin juga menyukai