Anda di halaman 1dari 17

TRANSFOR MATERI DAN ENERGI PADA ORGANISME

I. TUJUAN PERCOBAAN

Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui proses difusi dan osmosis pada
organisme hidup serta memahami penyebabnya; untuk mengetahui proses terjadinya
plasmolisis dan deplasmolisis pada sel-sel tumbuhan serta memahami penyebabnya;
untuk mengetahui dan memahami mekanisme terjadinya krenasi dan hemolisis sel
darah manusia serta penyebabnya.

II. DASAR TEORI

Metabolisme pada organisme multiseluler meliputi banyak hal, diantaranya


transpor materi dan energi. Sistem transportasi sangat penting bagi tumbuhan dan
hewan yang berkaitan dengan massa organisme tersebut. Pada tanaman dan hewan
yang masih sederhana atau belum memiliki struktur organisme yang rumit, transpor
materi (nutrien dan zat hara) dan hasil metabolisme cukup dari sel ke sel. Transportasi
tersebut dapat berlangsung secara aktif maupun pasif. Transport pasif berlangsung
antara lain secara osmosis (Karmana,1984).
Transformasi membran sel penting artinya bagi pengaturan keluar masuknya
zat. Dengan pengaturan itu sel akan memperoleh Pb yang sesuai, konsentrasi zat
terkendali, sel dapat memperoleh masukkan zat-zat dan ion-ion yang diperlukan
(Purba, M. 1999).
Sel memperoleh bahan dan energi dari lingkungan dan mengubahnya di dalam
sel melalui proses kimia yang merupakan metabolisme dari sel-sel tersebut.
Metabolisme pada organisme multiseluler meliputi transpor materi dan energi. Sistem
transportasi sangat penting bagi tumbuhan dan hewan yang berkaitan dengan massa
organisme tersebut. Transportasi tersebut dapat berlangsung secara aktif maupun
pasif (Salisbury & Ross, 1995).
Tumbuhan mengambil bahan makanan berupa air dan garam mineral yang
terlarut di dalamnya serta O2 dan CO2 dari lingkungannya. Pengambilan dan
pengangkutan bahan makanan terjadi melalui proses difusi, osmosis, dan transpor
aktf. Zat-zat yang berupa air dan baha kimia masuk melalui akar, sedangkan gas O 2
dan CO2 masuk melalui daun. Zat yang diperlukan dan sisa-sasa metabolisme perlu
ditransportasikan. Sistem transportasi sangat pentig bagi tumbuhan dan hewan yang
berkaitan dengan massa organisme tersebut. Transportasi yang terjadi dalam tubuh
hewan maupun tumbuhan berlangsung secara aktif maupun pasif (D. Dwidjoseputro,
1986).
Pada makhluk bersel banyak, transportasi jarak jauh di dalam tubuhnya dan
transportasi jarak dekat melalui selaput plasmanya merupakan masalah yang
kompleks. Selaput membran merupakan hal yang penting dalam transportasi
keleluasaan. Berikut manfaat dari keluasan tersebut :
- Menjaga kestabilan pH yang cocok.
- Menjaga konsentrasi zat dalam sel untuk kegiatan enzim.
- Memperoleh pasokan zat makanan bahan energi dan bahan mentah lain.
- Membuang sisa metabolisme yang bersifat racun.
Gerakan zat malaui membran terbagi dua macam yaitu gerakan aktif (transport aktif,
endositosis dan eksositosis) dan gerakan pasif (difusi dan osmosis) (Salisbury, 1995).
Pada tumbuhan protoplasma sel mempunyai plasma dan pada hewan berupa
selaput sel yang mampu mengatur sel secara selektif aliran cairan dari lingkungan
suatu sel ke dalam sel atau sebaliknya. Terdapat dua proses fisiokimia yang penting,
yaitu difusi dan osmosis, dengan adanya proses osmosis suatu selaput dinyatakan
permeable, semipermiable, atau impermiable. Sistem transportasi pada tumbuhan
melibatkan proses difusi, osmosis, dan transpor aktif (Saktiyono, 2000).
Penyerapan air dan zat-zat terlarut di dalamnya dapat terjadi melalui proses
fisiokimia. Ada dua proses fisiokimia yang penting, yaitu difusi dan osmosis. Dengan
adanya proses osmosis, suatu selaput dinyatakan permeabel, semi permeabel, dan
impermeabel. Apabila semua jenis molekul dalam cairan yang ada disekelilingnya
dapat merembes melewati selaput atau plasma tersebut maka selaput dinyatakan
permeabel. Suatu selaput dinyatakan semipermeabel jika hanya beberapa jenis
molekul dalam cairan yang ada disekelilingnya yang dapat melewatinya. Dan suatu
selaput dinyatakan impermeabel jika selaput tersebut sama sekali tidak dapat dilewati
oleh molekul dalam cairan yang ada disekelilingnya (Lovelless, A. R, 1999).
Pengangkutan melalui membran sel terbagi menjadi 2 macam, yaitu
pengangkutan secara pasif adalah jika searah dengan gradien konsentrasi, misalnya
difusi dan osmosis. Yang kedua adalah pengangkutan secara aktif yaitu jika
berlawanan dengan gradien konsentrasi, molekul bergerak dari konsentrasi rendah ke
konsentrasi tinggi, diperlukan energi berupa ATP, pompa ion Na, K dan protein
carrier ( Syamsuri, 2000 ).
Difusi adalah penyebaran molekul-molekul zat secara lebar, baik zat padat, zat
cair maupun gas, ke segala arah yang digerakkan oleh energi kinetikyang
menyebabkan molekul zat selalu dalam keadaan bergerak. Molekul-molekul zat itu
saling tarik-menarik atauu saling tolak-menolak. Difusi berlangsung dari larutan yang
berkadar tinggi ke larutan yang berkadar rendah, sehingga kadar larutan tersebut
merata. Kecepatan difusi tergantung pada tekanan,konsentrasi zat terlarut dan suhu
(Kimball, 1992).
Osmosis adalah proses berpindahnya molekul-molekul air dari larutan yang
mengandung molekul air tinggi menuju ke larutan yang molekul airnya rendah
melalui selaput semipermeabel. Dengan kata lain osmosis adalah peristiwa
berpindahnya molekul-molekulair dari larutan yang berkonsentrasi rendah (hipotonis)
menuju larutan yangberkonsentrasi tinggi (hipertonis) (Amin, 1994).
Bila tumbuhan berada pada lingkungan yang kadar airnya rendah, maka
tumbuhan akan sulit menyerap air. Pada kasus tertentu, air di dalam sel juga akan
keluar. Bila terjadi terus-menerus, maka selaput plasma akan lepas dari dinding sel.
Peristiwa ini disebut plasmolisis. Bila plasmolisis berkepanjangan, maka sel tersebut
akan mati. Keadaan ini dapat kembali ke keadaan semula apabila sel tersebut
diletakkan di lingkungan dengan kadar air yang lebih tinggi (hipotonis). Peristiwa
kembalinya protoplasma ini disebut dengan deplasmolisis (Anonymous, 1997).
Imbibisi adalah peristiwa penyerapanair oleh permukaan zat yang bersfat
hidrofil, sehingga zat-zt seperti protein, pati, agar-agar, gelatin dapat mengembang
setalah menyyerap air tersebut (Sasmita dan Siregar, 1996).
Proses osmosis ini terbagi menjadi dua sistem yaitu sistem osmosis terbuka dan
sistem osmosis tertutup (sistem osmosis yang tidak memiliki tabung tempat
menampung air pendatang). Perbedaan antara osmosis terbuka dengan sistem osmosis
tertutup ini adalah pada sistem osmosis terbuka, tekanan digunakan dalam
pembentukan tekanan hidrostatik larutan, sedangkan pada sistem tertutup tekanan
digunakan untuk pengembangan tekanan dinding ke dalam. Sistem ini sangat sejajar
dengan yang ada pada sel tumbuhan hidup (Kimball, 1992).
Pengangkutan molekul-molekul zat di dalam sel melalui membran plasma dapat
berlangsung secara difusi dan osmosis. Difusi adalah pergerakan molekul-molekul
dari daerah yang berkonsentrsi lebih tinggi ke daerah yang konsentrasinya lebih
rendah. Jika larutan mempunyai konsentrasi lebih tinggi daripada protoplasma berarti
mengandung sedikit air disebut larutan hipertonik. Larutan yang konsentrasinya lebih
dari protoplasma berarti mengandung air lebih banyak dan mengakibatkan masuknya
aiir ke dalam sel sehingga sel mengembang. Larutan itu disebut larutan hipotonik
(Junqueira, 1995).
Imbibisi dapat terjadi pada setiap benda yang permukaannya dapat mengikat air.
Banyak sedikitnya air yang dapat diimbibisi oleh suatu zat bergantung pada nilai
potensial air di sekitarnya. Imbibisi merupakan peristiwa difusi atau osmosis, karena
jika zat yang dimasuki air tersebut mempunyai nilai osmosis tinggi, maka air akan
berdifusi kesana dan jika zat tersebut mempunyai dinding permeabel terhadap air
( Noorhidayati, 2000 ).
Dilihat dari kemampuannya mengembang, benda-benda yang dapat
melakukan imbibisi dibedakan menjadi dua, sebagai berikut:
1. Mengembang terbatas, artinya setelah mencapai volume tertentu, benda
tersebut tidak akan mengembang lagi dan bagian-bagian penyusun benda itu
tetap mempunyai ikatan satu dengan yang lain. Hal ini terjadi pada dinding sel
yang bersentuhan dengan air.
2. Mengembang tak terbatas, artinya agian yang menyusun benda terlepas atau
larut sehingga merupakan suatu koloid atau sol.
Proses plasmolisis dapat dilihat dari sel spirogyra yang diletakkan dalam larutan
yang hipertonik, air yang berada dalam vakuola merembes keluar sel. Hal itu
mengakibatkan protoplasma mengkerut dan terlepas dari dinding sel. terlepasnya
protoplasma dari dinding sel disebut plasmolisis. Jika sel tersebut diletakkan dalam
larutan yang hipotonik, maka lingkungan sel tersebut akan kembali seperti semula.
Peristiwa ini dikenal dengan nama deplasmolisis (Noorhidayati, 2000).

III. METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah gelas kimia (50 ml),
pipet tetes, penunjuk waktu (stopwatch / arloji), cawan petri, jarum, pengaduk,
mikroskop, kaca benda dan penutup serta pisau silet.
Bahan-bahan yang digunakan adalah air; larutan metilen blue, eosin;
kristal CuSO4; mentimun; kentang; kertas label; daun Rhoe discolor; larutan
sukrosa 0,20 M; kertas saring/pengisap; darah sapi; larutan NaCl 0,3 N ;HCl 0,1
N; alkohol 70% dan kapas.

3.2 Prosedur Kerja


3.2.1 Proses Difusi dan Osmosis
a. Proses Difusi
Prosedur kerja untuk proses difusi adalah larutan metilan blue
diteteskan pada gelas kimia yang telah diisi air dan kristal CuSO 4
dimasukkan pada gelas kimia lainnya. Segala perubahan yang terjadi
diamati dan saat penetesan dianggap sebagai waktu t 0 dan saat tercapainya
keadaan homogen sebagai t1. Langkah 1-2 diulangi, setelah penetesan
metilen blue kemudian kristal CuSO4 dimasukkan dan segera diaduk.
Hasil pengamatan dibandingkan.
b. Proses Osmosis
Prosedur kerja untuk proses difusi adalah menyiapkan larutan garam
dapur dengan memasukan 3 sendok makan garam dapur dalam 100 ml air.
Memasukan ke dalam cawan A dan memberi label (larutan garam) . Ke
dalam cawan B memasukan air, dan memberi label (air). Membuat irisan
mentimun dan umbi kentang setebal 3-4 mm. Memasukan 2 irisan
mentimun dan dua irisan kentang ke dalam masing-masing cawan (A dan
B), membiarkannya selama 15 menit, mengangkatnya dengan jarum dan
mengamati perubahan yang terjadi. Mengembalikannya lagi ke dalam
cawan setelah diamati. Meneruskan perlakuan sampai 30 menit.
Membandingkan hasil pengamatan tentang kekerasannya yang
menunjukaan turgor, dengan memijit kedua bahan tersebut.

3.2.2 Proses Plasmolisis dan Deplasmolisis


Prosedur kerja untuk proses plasmolisis dan deplasmolisis adalah
permukaan bagian bawah ( bagian yang berwarna ungu-merah ) daun Rhoe
discolor disayat. Sayatan tersebut diletakkan pada kaca benda yang telah
ditetesi aquades dan ditutup dengan kaca penutup secara hati-hati. Sayatan
tersebut diamati di bawah mikroskop. Apabila sel-sel daun Rhoe discolor sudah
nampak jelas, larutan sukrosa diteteskan pada salah satu tepi kaca penutup. Pada
tepi yang lain ditempelkan kertas saring/ pengisap, sehingga aquades akan
tertarik dan medium sayatan digantikan oleh larutan sukrosa. Sayatan tersebut
diamati dengan mikroskop selama 5 menit, semua perubahan yang terjadi
dicatat, terutama terjadinya plasmolisis.Langkah 3 diulangi dengan mengganti
medium larutan sukrosa dengan aquades. Proses terjadinya deplasmolisis
diamati dan dicatat perubahannya.
3.2.3 Proses Krenasi dan Hemolisis Sel Darah
Prosedur kerja untuk proses krenasi dan hemolisis adalah mengambil
darah dari jari manis dengan lanset atau jarum Franke. Meneteskannya pada 2
buah kaca benda masing-masing satu tetes. Menambahkan 2 tetes larutan NaCl
0,3 N pada kaca benda pertama, untuk mengamati proses krenasi.
Menambahkan 2 tetes larutan HCl 0,1 N pada kaca benda kedua, untuk
mengamati proses terjadinya hemolisis.mMenutup masing-masing kaca benda
dengan kaca penutup, kemudian mengamatinya di bawah mikroskop.
Menggambarkan sel darah merah hasil pengamatan dan memberi keterangan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


4.1.1 Proses Difusi dan Osmosis
Tabel 1. Proses Difusi
Bahan Perlakuan Waktu
Kristal CuSO4 + air Tidak di aduk 10 menit 26 detik
Diaduk 47 detik
Metilen blue + air Tidak di aduk 25 menit
Di aduk 18 detik

Tabel 2. Proses Osmosis


Bahan 15 menit 30 menit
Kentang + air Keras Tetap keras
Kentang + larutan garam Lemah Semakin lemah
Mentimun+ air Keras Tetap Keras
Mentimun+larutan garam Lemah Semakin lemah

4.1.2 Proses Plasmolisis dan Deplasmolisis


a. Daun Rhoe discolor setelah ditetesi aquades

Keterangan :
1. Dinding sel
2. Stomata
3. Protoplasma
4. Perbesaran 40 x10

Gambar 1. Daun Rhoe


discolor + akuades ( dengan perbesaran 40x 10)
Menurut Literatur
Keterangan :
1. Dinding sel
2. Protoplasma
3. Inti sel
Sumber : ( Id.wikipedia.org )

b. Duan Rhoe discolor setelah ditetesi larutan sukrosa 0,2 M


Keterangan :
1. Dinding sel
2. Protoplasma
3. Nukleus
4. Stomata
5. Perbesaran 40 x 10

Gambar 2. Daun Rhoe discolor + Sukrosa ( dengan perbesaran 40x )

Menurut Literatur
Keterangan :
1. Dinding sel
2. Protoplasma
3. Inti sel

Sumber : ( Id.wikipedia.org)

4.1.3 Proses Krenasi dan Hemolisis Sel Darah


a. Proses Krenasi
Keterangan :
1. Sel darah mengerut
2. Membran sel
3. Ruang antar sel
4. Perbesaran 400 x

Gambar 3. Darah yang ditetesi

dengan larutan NaCl 0,3 N

Menurut Literatur

Ketrerangan :
1. Membrane sel
2. Ruang antar sel
3. Mengkerut

Sumber : (id.wikipedia.Org.com)
b. Proses Hemolisis

Keterangan :
1. Membran sel
2. Hemoglobin
3. Sel darah mengembang

Gambar 4. Darah yang


ditetesi dengan larutan HCl 0,1 N

Menurut Literatur

Keterangan ;
1. Membrane sel
2. Hemoglobin
3. Mengembang

Sumber : (id.wikipedia.Org.com)
4.2 Pembahasan
a. Proses Difusi dan Osmosis
Di dalam sel, terjadi atau tidaknya proses difusi tergantung pada selaput
plasma yang bersifat semipermeabel. Bila selaput meluluskan untuk
melewatinya, berarti difusi dapat berlangsung. Sebaliknya bila selaput plasma
tidak meluluskan zat untuk melewatinya, maka difusi tidak akan berlangsung.
Kecepatan difusi zat yang terlarut sangat bervariasi. Ada zat yabg
prosesnya cepat dan ada pula yang proses difusinya lambat. Faktor- faktor yang
mempengaruhi kecepatan difusi melalui membran sel tidak hanya tergantung
pada gradien konsentrasi, tetapi juga pada besar, muatan, dan daya larut dalam
lipid dari partikel-partikel tersebut.
Difusi merupakan suatu proses perpindahan molekul air. Pada proses
difusi, yang diaamati hanya perbedaan waktu antara larutan yang ditetesi
dengan metilen blue dan larutan yang dimasukkan kristal CuSO 4. Metilen blue
yang diteteskan ke dalam air menyebar ke seluruh bagian air. Molekul metilen
blue menyebar ke air yang konsentrasinya lebih tinggi. Dari percobaan
didapatkan waktu yang diperlukan oleh metilen blue untuk dapat larut dalam
aquades tanpa pengadukan adalah 25 menit, sedangkan pada kristal CuSO 4 yang
ditambahkan pada aquades untuk menjadi homogen diperlukan waktu sebesar
10 menit 26 detik. Ini menunjukkan bahwa metilen blue memiliki tingkat difusi
yang rendah sedangkan kristal CuSO4 memiliki tingkat difusi yang lebih tinggi
karena strukturnya yang berupa padatan kristal. Ketika air ditetesi metilen blue
dan disertai pengadukan waktu yang diperlukan untuk mendapatkan larutan
yang homogen adalah 47 detik, sedangkan air yang ditambahkan kristal CuSO 4
memerlukan waktu yang lebih lama yaitu sebesar 18 detik. Ini menunjukkan
bahwa pengadukan mempercepat proses difusi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan suatu difusi pada suatu
organisme antara lain, sebagai berikut:
1) Pengaruh permeabilitas membran
Semakin tebal ketebalan membran, maka semakin rendah kecepatan
difusinya. Semakin besar kelarutan zat dalam lipid membran sel, maka semakin
besar jumlah zat yang melarut dalam membran. Kecepatan difusi secara
langsung berhubungan dengan jumlah saluran per satuan luas. Semakin tinggi
suhu, semakin besar pula gerakan termal molekul dan ion dalam larutan,
sehingga difusi meningkat secara langsung sebanding dengan suhu.
2) Pengaruh perbedaan konsentrasi terhadap difusi melalui membran
Kecepatan difusi zat ke dalam sebanding dengan konsentrasi molekul pada
bagian luar karena konsentrasi ini menentukan banyaknya molekul yang
menumpuk di bagian luar saluran setiap detik dan kecepatan difusi zat ke luar
sebanding dengan konsentrasi molekul pada bagian dalam.
3) Pengaruh potensial listrik
4) Pengaruh perbedaan tekanan
Bila tekanan pada salah satu sisi membran lebih besar daripada sisi
lainnya, berarti bahwa jumlah semua gaya molekul yang menumbuk saluran
pada sisi membran tersebut lebih besar daripada sisi lainnya. Hal ini
mengakibatkan peningkatan energi yang tersedia akan menyebabkan pergerakan
netto molekul dari sisi bertekanan tinggi ke arah sisi bertekanan rendah.
Agar peristiwa difusi menjadi lebih optimal maka diberi perlakuan baik
fisik atau kimia. Perlakuan fisik yang dilakukan pada percobaan ini adalah
diaduk. Metilen blue yang diteteskan ke air kemudian diaduk, lebih cepat
berdifusi dibanding dengan tanpa pengadukan. Perlakuan ini berfungsi
membantu gerak partikel ke semua arah/bagian media air.
Osmosis adalah proses perpindahan molekul air dari konsentrasi rendah ke
konsentrasi tinggi. Pada percobaan kentang dan mentimun yang direndam
dalam larutan garam selama 30 menit, tercatat bahwa setiap 10-15 menit
kentang dan mentimun mengalami perubahan fisik yaitu semakin lemah. Hal ini
menunjukkan bahwa cairan pada kedua bahan tersebut keluar dari sel dan
memasuki larutan garam sebagai lingkungan barunya. Larutan garam dianggap
sebagai larutan yang hipertonik, berkonsentrasi tinggi. Sedangkan pada air,
kedua bahan tadi mengalami perubahan yaitu menjadi lebih keras karena air di
luar memasuki kentang dan mentimun. Air di dalam sel merupakan larutan
hipertonik.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya osmosis:
1) Perbedaan kepekatan sitoplasma suatu sel dengan lingkungannya.
Jika suatu sel lebih pekat dari lingkungannya maka air dari luar akan
masuk ke dalam sel dan di dalam sel terkandung banyak air dan tekanan dalam
sel naik, yang dikenal dengan istilah turgor. Jika lingkungannya lebih pekat,
maka air dalam sel akan terdesak keluar mengakibatkan sel mengalami
dehidrasi dan akhirnya terjadi pengkerutan sel.
2) Konsentrasi larutan
Osmosis terjadi jika terdapat perbedaan konsentrasi dalam sel dengan
lingkungannya. Semakin tinggi konsentrasi larutan di lingkungan, semakin
besar kesempatan untuk terjadinya osmosis.
Peristiwa osmosis terlihat pada mengembangnya mentimun dan kentang
yang direndam pada larutan garam. Mentimun yang direndam di dalam larutan
garam, lapisan luarnya agak lebih lemah jika ditekan.
b. Proses Plasmolisis dan Deplasmolisis
Peristiwa plasmolisis adalah peristiwa dimana terlepasnya protoplasma
dari dinding sel karena sel berada dalam larutan hipertonik. Sedangkan
deplasmolisis merupakan peristiwa dimana sel kembali ke keadaan semula saat
lingkungan sel diganti dengan larutan hipotonik. Semula keadaan sel Rhoe
discolor dengan protoplasma sel yang berwarna ungu mengisi penuh ruang
selnya. Selain itu juga terlihat stomata yang besar dan berwarna hijau tersebar
banyak disekitar sel yang berbentuk heksagonal. Setelah ditetesi dengan sukrosa
dengan mengganti mediun air melalui penyaringan dengan kertas isap,
protoplasma sel Rhoe discolor menjadi berkurang sedikit demi sedikit dan
warnanya memudar menjadi bening yang berarti telah terlepas dari dinding sel.
Ini disebabkan telah terjadi proses plasmolisis akibat konsentrasi cairan di luar
sel lebih tinggi dari pada di dalam sel, sehingga cairan protoplasma sel sedikit
demi sedikit keluar. Kemudian larutan sukrosa yang telah ditetesi pada daun
Rhoe discolor tadi diisap dengan kertas isap dan kembali ditetesi aquades.
Ternyata protoplasma yang tadinya keluar kembali masuk ke dalam sel. Ini
disebabkan lingkungan sel diganti dengan larutan yang hipotonik atau lebih
encer daripada cairan sel sehingga terjadi deplasmolisis.
Penyebab langsung plasmolisis adalah adanya larutan luar yang lebih
pekat dari cairan vakuola. Larutan ini disebut sebagai larutan hipertonik
terhadap cairan vakuola. Jika sel yang telah berplasmolisis ditetesi kembali
dengan akuades, gradasi akan berbalik dan air akan berdifusi kedalam
protoplasma dan akan kembali ke bentuk asalnya yang dikenal dengan peristiwa
deplasmolisis.
c. Proses Krenasi dan Hemolisis Sel darah
Keadaan darah manusia pada proses krenasi berbeda dengan keadaan
pada proses hemolisis, pada proses krenassi ssetelah ditetesi dengan 2 tetes
larutan NaCL darah menjadi lebih caair dengan warna lebih muda, selain itu
terdapat becak-bercak putih yang lebih meluas dari lainnya.
Pada proses hemolisis ssetelah ditetesi dengan 2 tetes larutan NaCL
0,3 N warna darah menjadi agak gelap yaitu agak kuning kehitaman, tetapi
persamaan dari kedua proses tersebut yaitu dalam hal waktu proses tersebut
terjadi (berlangsung cepat).
Dalam setiap 1 mm darah terdapat sekitar 5 juta eritrosit, eritrosit dibatasi
oleh membran plasma yang bersifat semipermiabel dan berfungsi untuk
mencegah agar koloid yang dikandungnya tetap berada didalam sel. NaCl
merupakan larutan garam yang bersifat basa kuat, apabila eritrosit dimasukkan
dalam larutan hipertonis atau lebih besar dari larutan NaCl maka air dalam
eritrosit akan mengalir keluar yang menyebabkan pengerutan. Pengerutan
eritrosit inilah yang disebut krenasi.
Fungsi larutan sukrosa pada plasmolisis dan deplasmolisis adalah untuk
membut larutan agar menjadi larutan yang hipertonik.
Perbedaan yang nampak antara sel darah setelah diberi larutan NaCl dan
yang diberi larutan HCl yaitu darah yang ditetesi larutan NaCl 0,3 N yang
hipertonik dari darah yang hipertonik akan menyebabkan sel darah merah ini
mengkerut, sedangkan darah yang ditetesi larutan HCl 0,1 N terlihat
membengkak karena konsentrasi larutan HCl lebih rendah (hipotonik) dari
darah yang hipertonik menyebabkan sel darah membengkak dan pecah yang
mengakibatkan keluarnya hemoglobin yang berwarna merah dari membrane sel.
Osmosis adalah perpindahan molekol air dari larutan yang berkonsentrasi
air tinggi (hipertonik) ke larutan yang berkosentrasi rendah (hipotonik) melalui
selaput smipermiable atau selektif permiable. Dengan kata lain osmosis adalah
peristiwa berpindahnya molekul-molekulair dari larutan yang berkonsentrasi
rendah (hipotonis) menuju larutan yangberkonsentrasi tinggi (hipertonis).
Molekul air sebagai pelarut sedikit, sedangkan molekul zat terlarut besar.
Dengan demikian osmosis jika ditinjau dari larutan hipertonis, pada hakekatnya
juga meninjau molekul-molekul air yang ada di dalam larutan tersebut. Difusi
adalah suatu peristiwa fisika yang sangat berguna bagi kehidupan tumbuhan.
Difusi terjadi karena adanya peredaan konsentrasi, yang menmbulkan tekanan
difusi, maka dengan demikian difusi dapat dideinisikan sebagai bergeraknya
molekul zat cair dari larutan yang berkonsentrasi tinggi(hipertonik) menuju
larutan yag berkonsentrasi rendah (hipotonik).

V. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum kali ini adalah difusi dapat
terjadi karena adanya gerakan acak yang menjadi ciri khas semua molekul yang
tidak terikat dalam suatu zat padat. Plasmolisis terjadi karena pencampuran
dalam larutan yang hipertonik dan deplasmolisis terjadi karena pencampuran
dalam larutan yang hipotonik. Semakin lama mentimun dan kentang direndam
ke dalam larutan garam, maka keadaanya akan semaikin lunak, sedangkan
semakin lama mentimun dan kentang direndam ke air, maka keadaanya akan
semaikn keras. Proses ini dinamakan osmosis. Osmosis merupakan pergerakan
molekul-molekul dari daerah yang hipotonik menuju hipertonik. Proses
pembengkakan sel darah hingga pecah dan mengeluarkan hemoglobin berwarna
merah dinamakan proses hemolisis. Transportasi air dan unsur hara menuju ke
berbagai bagian tumbuhan memerlukan sistem transpotrasi. Selaput semi
permeable hanya dapat dilalui oleh air dan zat-zat tertentu saja. Larutan
dikatakan hipertonis apabila konsentrasinya lebih tinggi dari pada konsentrasi
larutan yang lain. Tekanan turgor menyebabkan terjadinya gerakan pada
tumbuhan. Plasmolisis terjadi karena pencampuran dalam larutan yang
hipertonik, sedangkan deplasmolisis terjadi karena pencampuran dalam larutan
yang hipotonik.

DAFTAR PUSTAKA
Amin. 1994. Fisiologi Hewan daan Tumbuhan. Karunika, Jakarta.

Anoymous. 1997. Pengantar Fisiologi Tumbuhan II. Gramedia, Jakarta.

Dwidjoseputro, D. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia, Jakarta.

Junqueira, I.C. J. Carniero & A.M. Contopoulos, 1995 . Histologi Dasar Jilid 3.
Buku kedokteran EGC, Jakarta.

Karmana, O. 1984. Penuntun Pelajaran Biologi. Ganesha Exact, Bandung.

Kimball, J. W. 1992. Biologi Jilid I. Erlangga, Jakarta.

Lovelles, A. R. 1999. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. PT.


Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Norhidayati. 2000. Penuntun Praktikum Biologi Umum 1. UNLAM, Banjarbaru.

Purba, M. 1999. Kimia. Erlangga, Jakarta.

Salisbury, F. B dan Ross, C. W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. ITB, Bandung.

Saktiyono. 2000. Histologi Umum. Bumi Aksara, Jakarta.

Samita, dkk. 1996. Biologi 3. P.T. Pabelan, Surakarta.

Syamsuri. 2000. Biologi. Erlangga, Jakarta.