Anda di halaman 1dari 24

PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO

PROSES PEMBUATAN Kertas


dari daun nanas

OLEH KELOMPOK II :

DUTA PRIMA PUTRA (061540421938)

DWI AYU PRATIWI (061540421939)

ISMA ULY MARANGGI (061540421944)

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI (DIV)
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2017

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala
limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah “Proses
Pembuatan Kertas dari Daun Nanas” dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Tidak lupa,
penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini, terutama dosen pengajar mata kuliah Pengembangan Industri Agro,
Ibu Erwana Dewi M.Eng. dalam membimbing penulis untuk membuat makalah yang lebih
baik lagi.
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengenalkan proses
pembuatan kertas dari daun nanas termasuk proses-proses yang ada didalam pembuatan kertas
tersebut dalam skala industri yang sesuai dengan SNI-nya, yang ada kaitannya dengan teknik
kimia dalam bidang ilmu kimia. Dengan adanya makalah ini diharapkan baik penulis
maupun pembaca dapat memiliki pengetahuan yang lebih luas mengenai proses pembuatan
kertas.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis
harapkan dari para pembaca.

Palembang, 1 Desember 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN DEPAN………………………………………………………………………...i
KATA PENGANTAR………………………………………………………………….....…ii
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………...iii
BAB I. PENDAHULUAN………...………………………………………………………....4
1.1 Pendahuluan…………………………………………………………………......…….....4
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………….........….....5
1.3 Tujuan Makalah……………………………………………………………….................5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA….………………………………………………………...6
2.1 Deskripsi Daun Nanas…………………………………...............……………………....6
2.2 Pengertian Pulp dan Kertas...............................................................................................7
2.3 Komposisi Kimia Serat Dauan Nanas ……….......………………………………..….....8
2.4 Sifat Fisik Kertas ……………………………………………………..................…......10
BAB III. PENGUJIAN DAN ANALISA…………………….………….…………….…..25
BAB IV. PENUTUP
a. Kesimpulan………………………………………………………………….…....…25
b. Saran...........................................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………..……..….26

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Serat sebagai bahan baku penting dalam pembuatan kertas, bahan utama dalam
pembuatan pulp kertas adalah selulosa dalam bentuk serat, sedangkan serat selulosa dapat
diperoleh dari tumbuhan kayu dan non kayu yan semuanya dapat dipergunakan untuk
pembuatan pulp kertas. Serat ini berasal dari bagian tumbuhan seperti batang, tangkai
buah dan kulit. Bahan baku yang mendominasi adalah bahan kayu karena persediaannya
yang sangat banyak dihutan. Namun akhir-akhir ini karena adanya penebangan kayu yang
tidak terkendali berakibat fatal yang terjadinya kerusakan lingkungan.

Kertas adalah salah satu kebutuhan pokok sebagai alat tulis, seni dan keperluan
rumah tangga. Sehingga kita perlu mencari bahan alternatif lain yang seratnya dapat
diolah menjadi kertas yang salah satu sumbernya adalah bahan non kayu, yaitu daun nanas
yang selama ini belum banyak dimanfaatkan. Daun nanas merupakan salah satu alternatif
tanaman penghasil serat yang selama ini hanya dimanfaatkan buahnya saja sebagai
sumber bahan pangan, sedangkan daun nanas sendiri tidak dimanfaatkan sehingga
menjadi limbah yang sebenarnya berpotensi.

Di Indonesia tanaman nanas sudah banyak dibudidayakan, terutama di pulau


Jawa dan Sumatera. Tanaman nanas akan dibongkar setelah dua atau tiga kali panen untuk
diganti dengan tanaman baru, oleh karena itu limbah daun nanas terus berkesinambungan
sehingga cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan untuk pembuat kertas yang
dapat memberikan nilai tambah.

Pulp merupakan hasil pemisahan serat dari tanaman melalui berbagai proses
pengolahan. Proses pembuatan pulp dibedakan atas proses mekanis, semi kimia
(kombinasi kimia dan mekanis) dan kimia. Umumnya proses kimia banyak dilakukan
untuk pembuatan pulp secara kimia adalah melarutkan lignin yang mengikat serat satu
dengan lainnya.

Proses pembuatan kertas dapat dilakukan dengan mengubah bahan baku serat
menjadi pulp, dan kertas. Urutan proses pembuatannya adalah : Persiapan bahan baku,
pembuatan pulp (secara kimia, semikimia, dan mekanik), pemutihan (bleaching),
pengambilan kembali bahan kimia, pengeringan pulp dan pembuatan kertas.

4
1.2 Rumusan Masalah
1. Menjelaskan tanaman nanas
2. Menjelaskan komposisi kimia nanas
3. Menjelaskan proses pembuatan kertas dari nanas
4. Menjelaskan pengujian kertas dari nanas
5. Menjelaskan kelebihan dan kelemahan kertas dari nanas
6. Menjelaskan rancangan alat yang digunakan dalam proses pembuatan kertas
dari nanas

1.3 Tujuan Makalah


1. Mampu menjelaskan kandungan dalam nanas
2. Mengetahui proses dalam pembuatan kertas dari nanas
3. Mengetahui kelebihan dan kelemahan kertas dari nanas
4. Mampu merancang alat yang digunakan dalam proses pembuatan kertas dari
nanas

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Serat Daun Nanas


Serat daun nanas (pineapple–leaf fibres) adalah salah satu jenis serat yang berasal
dari tumbuhan (vegetable fibre) yang diperoleh dari daun -daun tanaman nanas. Tanaman
nanas yang juga mempunyai nama lain, yaitu Ananas Cosmosus, (termasuk dalam family
Bromeliaceae), pada umumnya termasuk jenis tanaman semusim. Menurut sejarah,
tanaman ini berasal dari Brazilia dan dibawa ke Indonesia oleh para pelaut Spanyol dan
Portugis sekitar tahun 1599.
Di Indonesia tanaman tersebut sudah banyak dibudidayakan, terutama di pulau
Jawa dan Sumatera yang antara lain terdapat di daerah Subang, Majalengka, Purwakarta,
Purbalingga, Bengkulu, Lampung dan Palembang, yang merupakan salah satu sumber
daya alam yang cukup berpotensi [Anonim, 2006]. Tanaman nanas akan dibongkar setelah
dua atau tiga kali panen untuk diganti tanaman baru, oleh karena itu limbah daun nanas
terus berkesinambungan sehingga cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai produk
kertas yang dapat memberikan nilai tambah.
Bentuk daun nanas menyerupai pedang yang meruncing diujungnya dengan warna
hijau kehitaman dan pada tepi daun terdapat duri yang tajam. Tergantung dari species atau
varietas tanaman, panjang daun nanas berkisar antara 55 sampai 75 cm dengan lebar 3,1
sampai 5,3 cm dan tebal daun antara 0,18 sampai 0,27 cm. Di samping species atau
varietas nanas, jarak tanam dan intensitas sinar matahari akan mempengaruhi terhadap
pertumbuhan panjang daun dan sifat atau karakteristik dari serat yang dihasilkan.
Intensitas sinar matahari yang tidak terlalu banyak (sebagian terlindung) pada umumnya
akan menghasilkan serat yang kuat, halus, dan mirip sutera (strong, fine and silky fibre)
[Kirby, 1963, Doraiswarmy et al., 1993]. Terdapat lebih dari 50 varietas tanaman nanas
didunia, beberapa varietas tanaman nanas yang telah dibudidayakan di Indonesia antara
lain Cayenne, Spanish/Spanyol, Abacaxi dan Queen.
Daun nanas mempunyai lapisan luar yang terdiri dari lapisan atas dan bawah.
Diantara lapisan tersebut terdapat banyak ikatan atau helai -helai serat (bundles of fibre)
yang terikat satu dengan yang lain oleh sejenis zat perekat (gummy substances) yang
terdapat dalam daun. Karena daun nanas tidak mempunyai tulang daun, adanya serat-serat
dalam daun nanas tersebut akan memperkuat daun nanas saat pertumbuhannya. Dari berat

6
daun nanas hijau yang masih segar akan dihasilkan kurang lebih sebanyak 2,5 sampai
3,5% serat serat daun nanas.
Pengambilan serat daun nanas pada umumnya dilakukan pada usia tanaman
berkisar antara 1 sampai 1,5 tahun. Serat yang berasal dari daun nanas yang masih muda
pada umumnya tidak panjang dan kurang kuat. Sedang serat yang dihasilkan dari tanaman
nanas yang terlalu tua, terutama tanaman yang pertumbuhannya di alam terbuka dengan
intensitas matahari cukup tinggi tanpa pelindung, akan menghasilkan serat yang pendek
kasar dan getas atau rapuh (short, coarse and brittle fibre). Oleh sebab, itu untuk
mendapatkan serat yang kuat, halus dan lembut perlu dilakukan pemilihan pada daun-
daun nanas yang cukup dewasa yang pertumbuhannya sebagian terlindung dari sinar
matahari.

2.2 Pengertian Pulp dan Kertas


2.2.1 Pulp
Pulp adalah hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non
kayu) melalui berbagai proses pembuatannya (mekanis, semikimia, kimia).
Pada proses mekanis tidak digunakan bahan-bahan kimia. Bahan baku digiling
dengan mesin sehingga selulosa terpisah dari zat-zat lain.
Pada proses semi-kimia dilakukan seperti proses mekanis, tetapi dibantu dengan bahan
kimia untuk lebih melunakkan, sehingga serat-serat selulosa
mudah terpisah dan tidak rusak.
Pada proses kimia bahan baku dimasak dengan bahan kimia tertentu untuk
mengllilangkan zat lain yang tidak perlu dari serat-serat selulosa.
Dengan proses ini, dapat diperoleh selulosa yang murni dan tidak
rusak.
Pulp terdiri dari serat - serat (selulosa dan hemiselulosa) sebagai bahan baku kertas.
Jenis-jenis selulosa :
1. α-selulosa →untuk pembuatan kertas
2. β-selulosa disebut dengan hemi selulosa
3. γ-selulosa →menjadi pengotor
Sifat Selulosa
Sifat penting pada selulosa yang penting untuk pembuatan kertas :
1. gugus aktif alkohol (dapat mengalami oksidasi)
2. derajat polimerisasi (serat menjadi panjang)

7
Makin panjang serat, kertas makin kuat dan tahan terhadap degradasi (panas, kimia dan
biologi).
2.2.2 Kertas
Kertas adalah barang yang berwujud lembaran-lembaran tipis. Yang
dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp yang telah mengalami
pengerjaan pengeringan, ditambah beberapa bahan tambahan yang saling menempel
dan saling menjalin, serat yang digunakan biasanya berupa serat alam yang
mengandung selulosa dan hemiselulosa.
Secara umum kertas dibedakan menjadi dua golongan, yaitu kertas budaya dan
kertas industri. Yang termasuk kertas budaya adalah kertas-kertas cetak dan kertas
tulis, diantaranya adalah kertas kitab, buku, Koran dan kertas amplop. Sedangkan yang
termasuk kertas industri adalah kertas kantong kertas minyak, pembungkus buah-
buahan, kertas bangunan, kertas isolasi elektris, karton dan pembungkus sayur-
sayuran.

2.3 Komposisi Kimia Serat Daun Nanas


2.3.1 Komposisi Kimia Daun Nanas
Komposisi kandungan zat-zat tersebut pada umumnya sangat bervariasi tergantung
pada jenis atau varietas tanaman nanas yang berbeda. Zat-zat tersebut perlu
dihilangkan atau dikurangi pada proses selanjutnya (degumming) agar proses
bleaching ataupun dyeing lebih mudah dikerjakan.
Tabel 2.1 memperlihatkan sifat fisik beberapa jenis varietas lain tanaman nanas yang
sudah banyak dikembangkan [Doraiswarmy et al., 1993].

Tabel 2.1. Physical Characteristics Serat Daun Nanas

Physical Characteristics

Varietas Nanas Length Width Thickness

(cm) (cm) (cm)

Assam local 75 4.7 0.21

Cayenalisa 55 4.0 0.21

8
Kallara Local 56 3.3 0.22

Kew 73 5.2 0.25

Mauritius 55 5.3 0.18

Pulimath Local 68 3.4 0.27

Smooth Cayenne 58 4.7 0.21

Valera Moranda 65 3.9 0.23

Tabel 2.2 Komposisi Kimia Serat Nanas Kering


Komposisi kimia Serat Nanas (%)

Alpha Selulosa 69,5 – 71,5

Pentosan 17,0 – 17,8

Lignin 4,4 – 4,7

Abu 0,71 – 0.87

Silika 4,5 – 5,3

(Sumber : Anonim, 2006)


Tabel 2.3 Komposisi Kimia Serat Nanas

Serat Nanas Serat Kapas Serat Rami


Komposisi Kimia
(%) (%) (%)

Alpha Selulosa 69,5 – 71,5 94 72 – 92

Pentosan 17,0 – 17,8 - -

9
Lignin 4,4 – 4,7 - 0-1

Pektin 1,0 – 1,2 0,9 3 – 27

Lemak dan Wax 3,0 – 3,3 0,6 0,2

Abu 0,71 – 0,87 1,2 2,87


Zat-zat lain (protein,
4,5 – 5,3 1,3 6,2
asam organik, dll.)

2.4 Sifat Fisis Kertas


2.4.1 Gramatur
Gramatur adalah massa lembaran kertas atau karton dalam gram dibagi dengan
satuan luasnya dalam meter persegi, diukur dalam kondisi standard an dengan metoda
SNI 14-0435-1998. Pengukuran dilakukan di Balai Besar Pulp dan Kertas.
2.4.2 Tebal Kertas
Tebal kertas adalah jarak tegak lurus antara kedua permukaan kertas atau karton, di
ukur pada kondisi standard dengan metoda SNI 14-0439-1989. Pengukuran
dilakukan di Balai Besar Pulp dan Kertas.
2.4.3 Rapat Massa Kertas
Rapat massa adalah perbandingan antara massa kertas dengan volume kertas dan
secara matematis dapat dituliskan :

Rapat massa = …………….(1)


2.4.4 Ketahanan Tarik Kertas
Ketahanan tarik kertas adalah daya tahan lembaran kertas atau suhu karton terhadap
gaya tarik yang bekerja pada kedua ujung kertas atau karton tersebut diukur pada
kondisi standar dengan metoda SNI 14-4737-1998. Pengukuran dilakukan di Balai
Besar Pulp dan Kertas menggunakan alat Tearing Strength Test.
2.4.5 Ketahanan Sobek Kertas
Ketahanan sobek adalah gaya dalam gram (gf) yang diperlukan untuk menyobekkan
kertas atau karton pada keadaan standar dengan metoda SNI 0436: 2009. Pengukuran
dilakukan di Balai Besar Pulp dan Kertas menggunakan alat Tensile Strength Test.
2.4.6 Indeks Tarik Kertas
Indeks tarik kertas adalah ketahanan tarik dibagi dengan gramatur kertas tersebut,
secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut.

10
Indeks tarik= ………….(2)
2.4.7
2.4.8 Indeks Sobek Kertas
Indeks sobek kertas adalah ketahanan sobek kertas dalam mili newton dibagi dengan
gramatur, secara matematis dapat dituliskan

Indeks sobek = ……….(3)

11
BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1 Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan adalah :
a. Daun nanas 24 kg
b. Air bersih 72 L
c. CH3COOH (Konsentrasi 96%) 168 L

Alat yang digunakan adalah :


a. oven,
b. rotary digester,
c. disintegrator,
d. hidrolic screener,
e. centrifuge,
f. niagara heater hollander,
g. canadian standar freeness,
h. stock chest,
i. alat pres lembaran pulp,
j. ember,
k. saringan kawat,
l. alat pembentuk lembaran pulp,
m. tearing tester,
n. folding tester, dan
o. brightness tester.

3.2 Cara Kerja


Proses pembuatan kertas dapat dilakukan dengan mengubah bahan baku serat
menjadi pulp, dan kertas. Pulping adalah suatu proses dimana kayu/bahan baku
berserat lainnya diperkecil ukurannya sehingga menjadi suatu massa serat (Smook,
1994). Tujuan utama pembuatan pulp adalah untuk melepaskan serat-serat yang dapat
dikerjakan secara kimia, mekanik atau semikimia yaitu kombinasi dua tipe perlakuan.
Metode pembuatan pulp dengan proses kimia dapat dibedakan menjadi dua yaitu

12
metoda proses basa (proses soda dan proses sulfat) dan proses asam (proses sulfit)
(Fengel dan Wegener, 1995).
Pulp kimia yang diperoleh dengan proses kimia, sehingga sebagian besar
komponen kimia nonserat dihilangkan dan serat-serat terpisah tanpa suatu pengerjaan
mekanis. Pembagian pulp kimia berdasarkan bahan kimia yang digunakan dalam
proses pemasakan terdiri atas pulp soda, dan sulfit. (Joedodibroto,1983).
Proses pulping yang optimal untuk serat tanaman non kayu adalah proses alkali
menggunakan NaOH. Namun, untuk mengurangi dampak negatif dari limbah NaOH
yang terbuang diperlukan bahan pelarut yang lebih ramah lingkungan (Malo, 2004).
Selain NaOH, bahan alkali yang dapat digunakan adalah dengan proses soda (CaO)
dimana bahan ini digunakan saat pemasakan bahan-bahan yang berserat pendek dan
dapat meningkatkan titik didih air yang digunakan pada proses hidrolisis (Pratiwi,
2000).

Urutan proses pembuatannya secara Asetosolv adalah :


1. Persiapan bahan baku, pembuatan pulp (secara kimia, semikimia, dan mekanik),
Proses pembuatan pulp dimulai dengan mencuci Daun nanas dan dijemur sampai
kering, kemudian dihilangkan empulurnya dengan menumbuk Daun nanas sampai
tinggal serat-seratnya (depithing), ditampi kemudian diambil 1000 g per satu kali
masak.

13
Gambar 1. Serat Daun Nanas

Gambar 2. Penggilingan Serat Daun Nanas

Gambar 3. Pengeringan Serat Daun Nanas


2. Pemasakan Pulp (Pulping)
Pemasakan dilakukan dengan pelarut asam asetat dan air (proses acetosolv).
Sebanyak 1000 g Daun nanas dimasukkan ke dalam rotary digester (alat pemasak,
gambar 5 ). Pemasakan menggunakan perbedaan konsentrasi asetat yang berbeda
(100%,80%, dan 60%) dan nisbah larutan pemasak dengan bobot serpih bagase
8:1 dan 12:1. Suhu pemasakan maksimum 160 C dengan tekanan yang terjadi pada

14
suhu tersebut, waktu tuju ke suhu maksimum 69-90 menit, waktu pada suhu
maksimum 90 menit. Proses ini bertujuan untuk memisahkan selulosa dari lignin
(delignifikasi) melalui proses hidrolisis.

Gambar 4. Rotary digister

3. Pencucian Pulp
Pulp hasil pemasakan selanjutnya dicuci dengan menggunakan air. Proses ini
bertujuan membebaskan pulp dari larutan pemasak. Pencucian dilakukan hingga
pulp tidak mengandung lagi asam asetat yang ditandai dengan hasil cucian bening.
4. Disentegrasi

Gambar 5. Disintegrator
Disintegrasi adalah proses yang bertujuan untuk memisahkan serat. Proses ini
dilakukan dengan disintegrator yang memiliki prinsip kerja seperti blender. Pulp
yang telah jenuh dimasukkan ke dalam disintegrator dengan menggunakan air
sebagai media pemisahan serat. Disintegrasi dilakukan hingga pulp terurai
menjadi serat-serat mandiri. Proses ini dilakukan selama 3-5 menit.
5. Penyaringan Pulp
Pulp disaring dengan menggunakan hidrolic screener. Hidrolic screener bekerja
menyaring pulp yang telah menjadi serat-serat yang mandiri pada kisaran 80 mesh.

15
Setelah pulp tersaring, dikeringkan dengan memasukkan pulp tersaring ke dalam
centrifuge. Pulp hasil sentrifugasi ditimbang untuk ditentukan rendemennya.
6. Penggilingan Pulp
Pulp digiling dengan menggunakan niagara beater hollander. Untuk membuat
lembaran pulp dengan gramatur kurang lebih 60 g/m2 atau untuk setiap lembaran
dengan diameter 21,5 cm dibutuhkan pulp sebanyak 2,1783 g pulp kering oven.
Pulp sebanyak 234 g kering oven, ditambah air hingga mencapai 15,4 L kemudian
dimasukkan ke dalam niagara beater hollander. Mesin dijalankan selama 15-20
menit. Uji derajat freeness pada waktu 0 menit dilakukan dengan mesin dalam
keadaan beroperasi. Memberi beban 5500 g dan uji kembali derjat freeness pada
waktu yang dikehendaki (sesuai penelitian). Pengujian derajat freeness dilakukan
secara duplo hingga pulp mencapai 200-300 derjat freeness. Setelah waktu giling
dicapai, angkat beban dan ambil sampel untuk pengujian derajat freeness dan
untuk pembuatan lembaran.

Pengujian derajat freeness dilakukan dengan mengambil 200 mL suspensi pulp


(setara dengan 3 g pulp kering oven) masukkan ke dalam gelas ukur dan
tambahkan air sampai 1000 mL. Memasukkan ke dalam alat uji canadian standar
freeness dan uji derjat freness-nya. Uji dilakukan secara duplo dengan
menggunakan alat uji derajat freeness..

Gambar 6. Canadian Standar Freeness

16
7. Pembuatan Lembaran Pulp
Lembaran pulp dibentuk pada derajat kehalusan 200-300 derajat freeness.
Suspensi pulp sebanyak 1430 ML dimasukkan ke dalam stock chest (pengaduk),
ditambahkan air sampai 10 L untuk10 lembaran pulp. Bentuk lembaran dengan
setiap pengambilan suspensi dari stock chest. Bentuk lembaran sampai suspensi
dalam stock chest habis, yaitu 10 lembar pulp.
8. Pembuatan kertas.
Proses membuat lembaran kertas dimulai saat pulp mulai masuk ke mesin kertas
atau paper machine sampai dengan lembaran kertas tergulung rapi dalam
gelondongan atau roll.

100 gr daun nanas


Dirajang
Air 500
ml
DiBlender
Air

Dicuci

100 gr daun nanas yang


Air 500 ml,CaO sudah dihaluskan

Dimasukan ke dalam plastik Dimasukan ke dalam


autodiave

Pemasakan

Suhu (80 100 120) Waktu (80, 90, 120


menit)

Pendinginan 25 C
Pulp+Pengoto
Air + 2 r
Pencucian dan penyaringan
L
Limbah Cairan

Pulp

Pencetakan pada screen 15


X 20 cm

Pengeringan 60 C selama 4
jam

Pelepasan dari screen

Kertas 17
BAB IV
PENGUJIAN DAN ANALISA
2.6.1 Gramatur
Dari Grafik 1, gramatur paling besar adalah pada campuran 0% pulp daun nanas
dan 100% pulp eceng gondok adalah 78,22 gr.m -2 dan kertas yang memiliki gramatur
terendah terdapat pada campuran 40% pulp daun nanas dan 60% pulp eceng gondok
besarnya adalah 69,39 gr.m-2.

Grafik 1. Hubungan antara Gramatur dengan komposisi daun nanas (%)


Gramatur tertinggi terdapat pada komposisi 100% pulp eceng gondok, hal ini
disebabkan karena eceng gondok merupakan tumbuhan berserat pendek, dan serat pendek
memberikan rendamen yang lebih rendah daripada serat panjang yang dimiliki daun
nanas. Semakin rendah rendamen maka akan semakin tinggi gramatur yang dimiliki
kertas.
2.6.2 Tebal Kertas

Grafik 2. Hubungan antara tebal kertas dengan komposisi daun nanas (%).

18
Dari Grafik 2 di atas tebal kertas yang paling tebal adalah pada campuran 100%
pulp daun nanas dan 0% pulp eceng gondok yang besarnya adalah 0,3319 mm dan
kertas yang paling tipis pada campuran 20% pulp daun nanas dan 80% pulp eceng
gondok adalah 0,2421 mm. Kertas yang paling tebal terdapat pada komposisi 100%
pulp daun nanas, hal ini disebabkan karena daun nanas memiliki serat panjang dimana
hemiselulosa pada serat panjang tidak mudah larut ketika proses pemasakan di
bandingkan hemiselulosa pada serat pendek yang dimiliki eceng gondok. Serat pendek
mengandung lebih banyak lignin dari pada serat panjang, dan ketika proses pemasakan
serat pendek akan menghasilkan sedikit serat dibandingkan dengan serat panjang.
Karena pada proses pemasakan lignin akan terlarut.
2.6.3 Rapat Massa Kertas
Dari Grafik 3 di atas rapat massa paling besar adalah pada campuran 20% pulp
daun nanas dan 80% pulp eceng gondok besarnya adalah 329,97 kg.m-3 dan rapat
massa yang paling kecil terdapat pada campuran 100% pulp daun nanas dan 0% pulp
eceng gondok besarnya adalah 194,81 kg.m-3 Komposisi terbaik terdapat pada 20%
pulp eceng gondok dan 0% pulp daun nanas. Grafik rapat massa di dapat dari
perhitungan pada persamaan 1.

Grafik 3. Hubungan antara rapat massa kertas dengan komposisi daun nanas (%)
Pada komposisi 20% daun nanas dan 80% eceng gondok memiliki nilai rapat
massa yang besar, hal ini karena sifat dari serat pendek dari yang dapat mengisi
keksongan yang dibentuk oleh serat panjang dari daun nanas. Sehingga pada komposisi
tersebut, serat lebih terdistribusi merata dibandingkan komposisi lainnya.

2.6.4 Ketahanan Tarik Kertas


Dari Gambar 4.4 di atas ketahan tarik yang paling besar adalah pada campuran
100% pulp daun nanas dan 0% pulp eceng gondok besarnya adalah 1,09 x 103 N.m-2
dan ketahanan tarik yang terkecil terdapat pada campuran 0% pulp daun nanas dan
100% pulp eceng gondok besarnya adalah 0,56 x 103 N.m-2.

19
Grafik 4. Hubungan antara ketahanan tarik dengan komposisi daun nanas (%)
Pada komposisi 100% daun nanas memiliki nilai ketahanan tarik yang besar, hal
ini disebabkan daun nanas memiliki serat panjang, dan pulp dari serat panjang akan
menghasilkan pulp yang lebih kuat dari pada serat pendek yang dimiliki eceng
gondok, karena serat panjang itu lebih panjang dan lebih kuat. Sehingga dari Grafik
diatas dapat kita ketahui bahwa semakin besar komposisi daun nanas maka akan
semakin besar nilai ketahanan tariknya. Ketahanan tarik berbanding lurus terhadap
kepadatan, artinya semakin tinggi kepadatannya maka akan diikuti kekuatan tarik
yang tinggi. Faktor yang mempengaruhi kekuatan tarik adalah ukuran serat.
2.6.5 Ketahanan Sobek Kertas
Dari Grafik 5 di atas ketahanan sobek yang paling besar adalah pada campuran
0% pulp daun nanas dan 100% pulp eceng gondok yang besarnya adalah 120,1727 x
10-3 Nm2.gr-1 dan ketahanan sobek yang kecil terdapat pada campuran 100% pulp daun
nanas dan 0% pulp eceng gondok adalah 56,4273 x 10-3 Nm2.gr-1.

Grafik 5. Hubungan antara ketahanan sobek kertas dengan Komposisi daun nanas
(%)

Dari Grafik 5 dan Grafik 2 dapat kita lihat ketahanan sobek berbanding terbalik
dengan kepadatan, artinya semakin rendah kepadatannya maka akan diikuti oleh
kekuatan sobek dan porositas yang tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan
sobek adalah ikatan antara serat dan tingkat atau lamanya penggilingan panjang serat,

20
semakin panjang seratnya maka semakin rendah kekuatan sobeknya, karena serat yang
panjang memiliki fleksibelitas yang rendah.

2.6.6 Indeks Tarik Kertas


Grafik 6 di dapat dari persamaan 2. Dari Grafik 6 di atas indeks tarik yang
paling besar adalah pada campuran 100% pulp daun nanas dan 0% pulp eceng gondok
yang besarnya adalah 16,85 Nm.gr-1 dan pada campuran 0% pulp daun nanas dan
100% pulp eceng gondok adalah 7,15 Nm.gr-1.

Grafik 6. Hubungan antara Indeks tarik kertas dengan komposisi daun nanas (%)

Pada komposisi 100% daun nanas memiliki nilai Indeks tarik yang besar, hal
ini disebabkan daun nanas memiliki serat panjang, dan pulp dari serat panjang akan
menghasilkan pulp yang lebih kuat dari pada serat pendek yang dimiliki eceng
gondok, karena serat panjang itu lebih panjang dan lebuh kuat. Sehingga dari Grafik
6 dapat kita simpulkan semakin banyak komposisi daun nanas maka akan semakin
besar indeks tariknya.

2.6.7 Indeks Sobek Kertas


Grafik 7 di dapat dari persamaan 3. Dari Grafik 7 di atas indeks sobek yang paling
besar adalah pada campuran 0% pulp daun nanas dan 100% pulp eceng gondok yang
besarnya adalah 1,53 x 10-3 Nm2.gr-1 dan pada campuran 100% pulp daun nanas dan
0% pulp eceng gondok adalah 0,87 x 10-3 Nm2.gr-1.

21
Grafik 7. Hubungan antara Indeks Sobek kertas dengan Komposisi daun nanas (%)

Dari Grafik 7 dapat kita lihat juga kita lihat bahwa indeks sobek juga berbanding
terbalik dengan ketebalan atau kepadatan kertas. Semakin tebal kertas maka indeks
sobeknya juga akan semakin kecil.

22
BAB V
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran
Demikian makalah yang dapat penulis buat, semoga dapat bermanfaat bagi
pembaca. Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan penulis memohon kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan di masa depan.

23
Daftar Pustaka
Anonim. 2006. Pengkajian Teknologi Proses Serat Non Kapas Untuk Tekstil.
(http://www.bppt.go.id) dimuat 5 Desember 2012

Aminudin, M.A. 2008. Karakterisasi Komposit Enceng Gondok Dengan Variasi Panjang Serat
(50 mm, 100 mm, 150 mm) dengan Matriks Polyester [skripsi]. Surakarta: Jurusan
Teknik Mesin Fakultas Mesin Universitas MuhammadiyahSurakarta.

Asbani, Nur. 2008. Prospek Serat Daun Nanas Sebagai Bahan Baku Tekstil. Balai Penelitian
Tanaman Tembakau dan Serat : Malang

Gunawan, P. Sahwalita.2007. Pengelolahan Eceng Gondok sebagai Bahan Baku Kertas


Seni. Balai Litbang Kehutanan Sumatera. Medan

Hidayat, Pratikno. 2008. Teknologi Pemanfaatan Serat Daun Nanas Sebagai Alternatif Bahan
Baku Tekstil. Jurusan Teknik Kimia, Universitas Islam Indonesia: Yogyakarta. Vol. 4

Jayanudin. 2009. Pemutihan Daun Nanas Menggunakan Hidrogen Peroksida. Jurusan Teknik
Kimia, Universitas Sultan Agung Tirtayasa : Cilegon. Vol. 3
Lumbanbatu, Kasdim. 2008. Pembuatan dan Karakteristik Kertas Eceng Gondok [skripsi].
Universitas Sumatera Utara : Medan.

Muladi, S. 2001. Kajian Eceng Gondok sebagai Bahan Baku Industri dan Penyelamat
Lingkungan Hidup di Perairan. Prosiding Seminar Nasional IV Masyarakat. Peneliti
Kayu Indonesia (MAPEKI). Samarinda.

Ayunda,Vivien.,Syahrul Humaidi,dan Diana A Barus. 2012. Pembuatan Dan Karakterisasi


Kertas Dari Daun Nanas Dan Eceng Gondok. MEDAN:Universitas Sumatera Utara,

Zulfikar M. T., Sri Kumalaningsih, dan Susinggih Wijana. 2010.Teknologi Produksi Pulp
Dari Serat Daun Nenas (Kajian Variasi Pelarut Cao, Suhu Dan Waktu Pemasakan).
Malang: Universitas Muhammadiyah Malang

24