Anda di halaman 1dari 22

ANTIPLATELET

RAHAYU OKTALIANI
G1A114068

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


KONTRA INDIKASI FIBRINOLITIK

Kontra Indikasi Absolut

1. Perdarahan Intrakranial
2. Lesi vaskular cerebral (atau malformasi arteriovena)
3. Tumor otak malignan (primer atau metastase)
4. Stroke ischemic dalam waktu 3 bulan terakhir kecuali stroke ischemic dalam waktu 3 jam
terakhir
5. Suspek diseksi aorta
6. Perdarahan aktif
7. Trauma kepala tertutup atau trauma facial dalam 3 bulan terakhir

Kontra Indikasi Relatif

1. Riwayat hipertensi berat, tidak terkontrol


2. Hipertensi berat saat di IGD (tensi sistolik >180 mmHg, tensi diastolic >110 mmHg)
3. Riwayat stroke ischemic >3bulan, demensia
4. Traumatic atau prolonged CPR ( >10 menit) atau bedah mayor(<3minggu)
5. Perdarahan internal (dalam 2-4 minggu)
6. Pernah mendapat streptokinase sebelumnya ( >5hari) atau alergi streptokinase
7. Kehamilan
8. Ulkus peptikum aktif
9. Penggunaan anti koagulan dengan ±NR >2-3

Terapi fibrinolitik lebih dianjurkan bila :

1. Presentasi ≤ 3 jam

2. Tindakan invasif tidak mungkin dilakukan atau akan terlambat, yaitu bila

3. Waktu antara pasien tiba sampai dengan inflasi balon > 90 menit atau

4. Waktu antara pasien tiba hingga inflasi balon dikurangi waktu antara pasien tiba hingga terapi
fibrinolitik mencapai > 1 jam
5. Tidak ada kontraindikasi terapi fibrinolitik

6. Kontraindikasi absolut

7. Riwayat perdararahan intrakranial kapanpun

8. Lesi struktural serebrovaskular (contoh : AVM)

9. Tumor intrakranial (primer maupun metastasis)

10. Stroke iskemik dalam 3 bulan terakhir

11. Dicurigai adanya suatu diseksi aorta

12. Adanya trauma/ pembedahan / trauma kepala dalam waktu 3 bulan terakhir

13. Adanya perdarahan aktif (tidak termasuk menstruasi)


Kontraindikasi relatif

14. Riwayat hipertensi kronik dan berat yang tidak terkontrol

15. Hipertensi berat yang tidak terkontrol saat timbul gejala (tekanan darah sistolik > 180 mmHg
atau tekanan darah diastolik > 110 mmHg)

16. Riwayat stroke iskemik > 3 bulan, demensia, atau kelainan intrakranial selain yang disebutkan
pada kontraindikasi absolut

17. Resusitasi jantung paru traumatik atau lama > 10 menit atau operasi besar < 3 minggu

18. Perdarahan internal dalam 2-4 minggu terakhir

19. Terapi antikoagulan oral

20. Kehamilan

21. Bekas tusukan yang tak bisa dikompresi (Non- compressible punctures)

22. Ulkus peptikum aktif

23. Khusus untuk streptokinase/ anistreplase : riwayat pemaparan sebelumnya (> 5 hari ) atau
riwayat alergi terhadap zat-zat tersebut.

FARMAKOLOGI ANTIPLATELET
ASPIRIN

1. Mekanisme Kerja
® Mengasetilasi enzim siklooksigenase dan menghambat pembentukan enzim cyclic
endoperoxides.
® Menghambat sintesa tromboksan A-2 (TXA-2) di dalarn trombosit, sehingga akhirnya
menghambat agregasi trombosit.
® Menginaktivasi enzim-enzim pada trombosit tersebut secara permanen. Penghambatan
inilah yang mempakan cara kerja aspirin dalam pencegahan stroke dan TIA (Transient
Ischemic Attack).
® Pada endotel pembuluh darah, menghambat pembentukan prostasiklin. Hal ini
membantu mengurangi agregasi trombosit pada pembuluh darah yang rusak

2. FARMAKOKINETIKA

Mula kerja : 20 menit -2 jam.


Kadar puncak dalam plasma: kadar salisilat dalam plasma tidak berbanding lurus dengan
besamya dosis.
Waktu paruh : asam asetil salisilat 15-20 rnenit ; asarn salisilat 2-20 jam tergantung besar
dosis yang diberikan.
Bioavailabilitas : tergantung pada dosis, bentuk, waktu pengosongan lambung, pH
lambung, obat antasida dan ukuran partikelnya.
Metabolisme : sebagian dihidrolisa rnenjadi asarn salisilat selarna absorbsi dan
didistribusikan ke seluruh jaringan dan cairan tubuh dengan kadar tertinggi pada plasma,
hati, korteks ginjal , jantung dan paru-paru.
Ekskresi : dieliminasi oleh ginjal dalam bentuk asam salisilat dan oksidasi serta
konyugasi metabolitnya.

3. FARMAKODINAMIK
Adanya makanan dalam lambung memperlambat absorbsinya ; pemberian bersama
antasida dapat mengurangi iritasi lambung tetapi meningkatkan kelarutan dan absorbsinya.
Sekitar 70-90 % asam salisilat bentuk aktif terikat pada protein plasma.

4. EFEK TERAPEUTIK

Menurunkan resiko TIA atau stroke berulang pada penderita yang pernah menderita iskemi
otak yang diakibatkan embolus. Menurunkan resiko menderita stroke pada penderita resiko
tinggi seperti pada penderita tibrilasi atrium non valvular yang tidak bisa diberikan anti
koagulan.

5. KONTRAINDIKASI
Hipersensitif terhadap salisilat, asma bronkial, hay fever, polip hidung, anemi berat,
riwayat gangguan pembekuan darah.

6. INTERAKSI OBAT

Obat anti koagulan, heparin, insulin, natrium bikarbonat, alkohol clan, angiotensin
converting enzymes.

7. EFEK SAMPING
Nyeri epigastrium, mual, muntah , perdarahan lambung.

8. EFEK TOKSIK
Tidak dianjurkan dipakai untuk pengobatan stroke pada anak di bawah usia 12 tahun karena
resiko terjadinya sindrom Reye. Pada orang tua harus hati- hati karena lebih sering
menimbulkan efek samping kardiovaskular. Obat ini tidak dianjurkan pada trimester
terakhir kehamilan karena dapat menyebabkan gangguan pada janin atau menimbulkan
komplikasi pada saat partus. Tidak dianjurkan pula pada wanita menyusui karena disekresi
melalui air susu.

9. DOSIS
FDA merekomendasikan dosis: oral 1300 mg/hari dibagi 2 atau 4 kali pemberian. Sebagai
anti trombosit dosis 325 mg/hari cukup efektif dan efek sampingnya lebih sedikit.

CLOPIDOGREL

1. Mekanisme Kerja

Metabolit aktif clopidogrel mencegah pengikatan adenosin difosfat (ADP) ke reseptor


platelet nya, merusak aktivasi ADP-dimediasi dari glikoprotein cacat dalam mobilisasi dari situs
penyimpanan butiran platelet pada membran luar. dia obat khusus dan ireversibel menghambat
P2Y12 subtipe cross-linking oleh fibrin protein. Tidak ada campur tangan langsung terjadi dengan
reseptor GPIIb / IIIa. Sebagai glikoprotein GPIIb / IIIa kompleks reseptor utama untuk fibrinogen,
dan menghambat agregasi platelet. Dengan menghalangi amplifikasi aktivasi platelet oleh dirilis
ADP, agregasi platelet yang diinduksi oleh agonis lain.
Prodrug; platelet-agregasi aktivitas penghambatan tergantung pada transformasi hati ke
metabolit aktif, Metabolisme dipengaruhi oleh CYP2C19 polymorphism. Pasien dengan satu atau
lebih varian alel CYP2C19 (misalnya, CYP2C19 * 2, CYP2C19 * 3) dijelaskan metabolisme
miskin atau menengah; konsentrasi yang lebih rendah dari metabolit aktif, efek antiplatelet
berkurang, dan insiden yang lebih tinggi kejadian kardiovaskular utama yang merugikan diamati
pada pasien tersebut menerima clopidogrel. Sekitar 2-14% dari penduduk diperkirakan
metabolisme miskin CYP2C19; Namun, ada banyak variasi di antara populations ras yang berbeda
/ etnis (Lihat Reduced Khasiat Terkait dengan Gangguan Fungsi CYP2C19 bawah Perhatian.)
Metabolit aktif mengikat secara selektif dan secara nonkompetitif ke permukaan trombosit rendah
afinitas platelet P2Y12 ADP-reseptor mengikat site. Menghambat ADP mengikat reseptor dan
aktivasi reseptor berikutnya dari glikoprotein trombosit (GP IIb / IIIa) kompleks yang diperlukan
untuk mengikat fibrinogen-platelet,
Reseptor ADP ireversibel diubah, sehingga trombosit terkena clopidogrel tetap
terpengaruh untuk sisa jangka hidup mereka (sekitar 7-10 hari) .
Juga menghambat pelepasan ADP-dimediasi platelet granul padat (misalnya, ADP, kalsium,
serotonin) dan alpha granul (misalnya, fibrinogen, thrombospondin) isi yang meningkatkan
aggregatsi platelet

2. Dosis
Dokter umumnya meresepkan pasien dengan dosis 75 mg per hari. Namun dosis bisa
saja disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien
3. Peringatan

 Bagi wanita hamil, menyusui atau yang mencoba memiliki anak disarankan untuk
tidak mengonsumsi clopidogrel.

 Harap berhati-hati bagi penderita gangguan organ hati, gangguan ginjal, ulkus
peptikum dan gangguan pendarahan.

 Tidak boleh diberikan kepada orang yang berusia di bawah 16 tahun, kecuali atas
anjuran dokter.

 Jika terluka, pendarahan akan berhenti lebih lama dari biasanya. Jika pendarahan
yang terjadi sulit berhenti, segera temui dokter.

 Jika akan menjalani operasi atau perawatan gigi, pastikan dokter Anda tahu bahwa
Anda mengonsumsi clopidogrel.

 Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

4. Kontraindikasi
Pendarahan patologik,pendarahan intrakranial, tukak lambung.

5. EFEK SAMPING
Reaksi alergi, sinkop.palpitasi,astenia,iskemik nekrosis,gagal jantung,kram kaki,
konstipasi, vertigo,muntah.

Abciximab
1. Mekanisme Kerja
Obat ini bekerja dengan cara mencegah terjadinya penggumpalan sel darah (yang disebut
platelet) dalam darah, dan digunakan untuk pengobatan infaksi myocardial dan
pencegahan agregasi platelet.
2. Indikasi
Untuk pengobatan infarksi myocardinal, membantu percutaneous coronory
intervention (PCI), dan angina yang tak stabil.

3. Dosis:
 50mcg/kg dengan bolus IV (selama 1 menit).
 Diikuti dengan 0.125 mcg/kg/menit sebagai kelanjutan infus IV.
 Dosis maksimum: 10 mcg/menit
Untuk kestabilan UA (unstable angina):
 Mulai dosis bolus, kemudian diikuti dengan infus IV hingga 24 jam sebelum kemungkinan

pencegahan, kemudian hentikan 12 jam setelah pencegahan. Untuk pencegahan


komplikasi ishemic cardiac yang berhubungan dengan PCI:
 Mulai dosis bolus 10-60 menit sebelum pencegahan diikuti oleh infus untuk 12 jam.

4. Efek Samping
EFek Hematologis (perdarahan, thrombocytopenia); Efek GI (N/V); Efek CS
(hipotensi, bradycardia); Efek lainnya (sakit yang ekstrim, peripheral edema, dan reaksi
hipersensitivitas; Efek CNS (sakit kepala, kebingungan, pening, gangguan
penglihatan, dysophonia, demam).

5. Instruksi Khusus:
 Berkontra-indikasi dengan pasien yang mengalami perdarahan, yang dalam waktu kurang
dari 6 minggu baru mengalami perdarahan GI atau GU klinis yang signifikan, riwayat
CVA dalam 2 tahun terakhir, atau CVA dengan kekurangan neurologis,
pendarahan diathesis, thrombocytopenia, anticoagulant dalam 7 hari terakhir kecuali
memiliki PT (Prothrombin Time) lebih kecil sama dengan 1.2, dalam waktu kurang ari
6 minggu baru melakukan operasi atau mengalami trauma, intrakranial neoplasma,
malformasi arteriovenous, aneurysm, hipertensi akut, memiliki riwayat vasculitis,
menggunakan dextran IV sebelum PTCA (percutaneous transluminal coronary
angioplasty) atau rutin menggunakan dextran IV, perusakan ginjal atau hati.
 Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan berat badan kurang dari 75 kg, yang berusia
di atas 65 tahun, memiliki riwayat gangguan Gi dan penerimaan thrombolytics.
 Awasi jumlah platelet sebelum terapi, 2-4 jam setelah bolus dan ketika mencapai 24 jam.

CILOSTAZOL
1. Mekanisme Kerja
Cilostazol bekerja dengan cara mencegah pembekuan darah dan melebarkan
pembuluh darah pada area kaki yang mengalami nyeri sehingga pembuluh darah
tersebut menjadi relaks dan sirkulasi aliran darah meningkat
2. Dosis Cilostazol
Dosis cilostazol yang umum adalah 100 mg sebanyak dua kali dalam sehari. Obat
ini harus dikonsumsi setengah jam sebelum makan atau dua jam setelah makan
3. Efek Samping dan Bahaya Cilostazol
Penggunaan cilostazol berpotensi menyebabkan efek samping. Beberapa efek
samping yang umum terjadi setelah mengonsumsi obat ini adalah:

 Diare.  Mual.

 Sakit kepala.  Sakit perut.

 Pusing.  Nafsu makan menurun.

 Gangguan pencernaan.  Badan terasa lelah.


 Perut kembung.

EPTIFIBATIDE
Indikasi Pasien dengan sindrom koroner akut, termasuk yang menjalani intervensi
koroner perkutan. Pasien yang menjalani intervensi koroner perkutan,
termasuk stentingintrakoroner.
Dosis : Sindrom koroner akut Dws dengan kretinin serum <2 mg/dL 180
mcg/kg BB secara bolus IV, diikuti dengan infus 2.0 mcg/kg BB/mnt, s/d 72 jam.
Pasien dengan BB >121 kg 22.6 mg secara bolus IV, dilanjutkan oleh infus dengan
kecepatan maks 15 mg/jam. Dws dengan kreatinin serum 2-4 mg/dL 180 mcg/kg
BB secara bolus IV, segera diikuti dengan infus 1 mcg/kg BB/mnt. Pasien dengan
kreatinin serum 2-4 mg/dL & BB >121 kg Maks 22.6 mg secara bolus IV,
dilanjutkan oleh infus dengan kecepatan maks 7.5 mg/jam. Intervensi Koroner
Perkutan Dws dengan kreatinin serum <2 mg/dL Awal 180 mcg/kg BB secara
bolus IV segera sblm dilakukan intervensi koroner perkutan, diikuti dengan infus 2
mcg/kg BB/mnt dan bolus IV ke-2 sebesar 180 mcg/kg BB 10 mnt sesudah
pemberian bolus pertama. Lama pemberian infus, min 12 jam. Pasien dengan BB
>121 kg Maks 22.6 mg secara bolus IV, dilanjutkan oleh pemberian infus dengan
kec maks 15 mg/jam. Dws dengan kreatinin serum 2-4 mg/dL Awal 180 mcg/kg
BB segera sblm dilakukan intervensi koroner perkutan, dilanjutkan dengan 1
mcg/kg BB/mnt secara infus & pemberian bolus IV ke-2 sebesar 180 mcg/kg BB
10 mnt sesudah bolus pertama. Dws dengan kreatinin serum 2-4 mg/dL & BB
>121 kg Maks 22.6 mg/bolus, dilanjutkan oleh infus dengan kec maks 7.5 mg/jam.
Pd pasien yang akan menjalani bedah pintas koroner, pemberian infus eptifibatide
hrs dihentikan sblm pembedahan dilakukan.
Kontraindikasi : Riwayat stroke 30 hari terakhir atau ada riwayat stroke hemoragik.
Menjalani bedah mayor dalam 6 minggu terakhir. Riwayat diatesis hemoragik atau
ada perdarahanabnormal aktif dalam 30 hari
belakangan. Trombositopenia (<100000 sel/mm3). Waktu protrombin >1.2 kali
waktu kontrol atau INR (International Normalized Ratio) ≥2. Hipertensi berat
(TD sistolik >200 mmHg atau TD diastolik >110 mmHg yang tidak cukup
dikendalikan dengan terapi antihipertensi). Gangguan hati yang signifikan secara
klinis. Pemberian bersama dengan penghambat glikoprotein
IIb/IIIa parenteral lain. Ketergantungan pada dialisis ginjal.
Klik untuk melihat informasi rinci produk Integrilin
Efek samping : Perdarahan, perdarahan intrakranial & stroke, trombositopenia,
reaksi alergi.
TIROFIBAN
1. Indikasi:
Digunakan untuk mencegah gumpalan darah atau serangan jantung.
2. Efek Samping
Efek Hematologis (perdarahan, thrombocytopenia); Efek GI (mabuk);
Dermatologis (ruam); Efek lainnya (sakit kepala, kepeningan, demam dan
kedinginan, bradycardia, sakit panggul).
3. Instruksi Khusus
 Berkontra-indikasi pada pasien dengan perdarahan aktif, riwayat
pendarahan intrakranial, intrakranial neoplasma, malformasi arteriovenous
atau aneurysm, pembedahan utama atau trauma dalam bulan terakhir,
riwayat pembedahan aortik, hipertensi akut yang tak terkontrol, radang
kantung jantung akut, pendarahan retinophaty, anemia, kerusakan serius
pada hati.
 Gunakan dengan hati-hati pada pasien yang baru mengalami perdarahan
(kurang dari 1 tahun), dikenal sebagai coagulopathy, gangguan platelet atau
riwayat thrombocytopenia, jumlah platelet yang rendah, riwayat penyakit
cerebrovascular (kurang dari 1 tahun), baru menjalani prosedur epidural,
CHF akut, syok kardiogenik.
 Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan kerusakan ginjal akut
(pemeriksaan Cr kurang dari 30mL/menit).
 Awasi jumlah platelet, hemoglobin, hematokrit sebelum pengobatan, dalam
6 jam diikuti pemberian bolus atau dosis dan lakukan tiap hari hingga
selesai.

PLASMA FRACTION

Fraksi plasma adalah derivat plasma yang diperoleh dengan cara kimia/fraksinasi dengan
menggunakan sejumlah besar plasma yang diproduksi di pabrik Produk darah adalah istilah
umum yang mencakup kedua istilah komoponen darah dan derivaat plasma
Macam-macam komponen darah selular
 darah utuh
 sel darah merah pekat
 trombosit konsentrat
 granulosit feresis
Non selular

 plasma segar beku


 plasma donor tunggal
 kriopresipitat faktor anti hemofilia
Macam-macam derifat plasam

 albumin
 imunoglobulin
 faktor VIII dan faktor IX pekat
 Rh imunoglobulin
 plasma ekspander sintetik

Vasopresin

Vasopressin adalah hormon yang dibuat tubuh manusia yang disebut “hormon anti
diuretik” yang normalnya dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis. Vasopressin bekerja di ginjal dan
pembuluh darah. Vasopressin mencegah hilangnya cairan dari tubuh dengan menurunkan
keluaran urin dan membantu ginjal menyerap air ke dalam tubuh. Vasopressin juga
meningkatkan tekanan darah dengan menyempitkan pembuluh darah. Vasopressin digunakan
untuk mengobati diabetes insipidus, yang disebabkan karena kurangnya hormon hipofisis alami
ini dalam tubuh. Vasopressin juga digunakan untuk mengobati atau mencegah kondisi perut
tertentu setelah operasi atau saat x-ray perut.
Bagaimana cara penggunaan vasopressin?

Vasopressin disuntikkan ke otot atau di bawah kulit. Petugas layanan kesehatan akan
menyuntikkannya pada Anda. Vasopressin biasanya diberikan sesuai kebutuhan setiap 3-4 jam.
Interval waktu antar dosis tergantung respon tubuh Anda terhadap obat. Untuk mengobati
diabetes insipidus, vasopressin terkadang diberikan ke hidung menggunakan semprot hidung
atau penetes obat, atau dengan memasukkan kapas yang telah dibasahi dengan vasopressin.

Saat digunakan untuk x-ray perut, injeksi vasopressin biasanya diberikan 2 jam sebelum
dan 30 menit sebelum x-ray. Dokter juga menganjurkan Anda menerima enema sebelum Anda
menerima dosis pertama vasopressin.Vasopressin dapat menyebabkan efek samping sementara
seperti mual, nyeri perut, atau kulit “memucat” (seperti bintik pucat saat Anda menekan kulit).
Minum 1 atau 2 gelas air setiap Anda menerima suntikan dapat membantu meringankan efek
samping ini. Saat menggunakan vasopressin, Anda mungkin sering membutuhkan tes darah.
Fungsi jantung dapat juga diperiksa menggunakan elektrokardiografi atau EKG.

Dosis

Dosis Dewasa untuk Diabetes Insipidus:

5 unit hingga 10 unit intramuskular atau subkutan 2-4 kali sehari.

Continuous IV infusion: 0.0005 unit/kg/jam; ulangi dosis sesuai kebutuhan setiap 30 menit
hingga maksimal 0.01 unit/kg/jam.

Vasopressin dapat juga diberikan dalam hidung dengan tampon kapas, dengan semprot hidung,
atau dengan penetes. Saat vasopressin diberikan intranasal dengan semprot atau tampon, dosis
harus dititrasi untuk setiap pasien.

Dosis Dewasa untuk Nyeri Buang Gas Postoperatif:

5 unit intramuskular sekali.


Dosis ini dapat digandakan dan diulang dengan interval 3-4 jam sesuai kebutuhan untuk
mencegah atau meredakan distensi perut usai operasi.

Rekomendasi ini juga digunakan untuk distensi akibat pneumonia atau toksemia akut lain.

Dosis Dewasa untuk Distensi Perut sebelum X-ray perut:

10 unit intramuskular sekali 2 jam sebelum X-ray dan sekali lagi 30 menit sebelum X-ray.

Dosis Dewasa untuk Perdarahan Gastrointestinal:

0.2-0.4 unit/menit dengan continuous intravenous infusion. Lalu titrasi dosis sesuai kebutuhan
(dosis maksimal: 0.8 unit/menit); jika perdarahan berlanjut, lanjutkan dengan dosis yang sama
selama 12 jam, lalu turunkan dosis selama 24-48 jam.

Dosis Anak untuk Diabetes Insipidus:

2.5 unit hingga 10 unit intramuskular sekali.

Dosis ini dapat diulang 2-3 kali sehari sesuai kebutuhan.

Alternatively, infus vasopressin 0.0005 unit/kg/jam dapat diberikan dan dititrasi untuk
mengurangi keluaran urin dan mempertahankan urin yang lebih pekat.

Dosis Anak untuk Varises Esofagus dengan perdarahan:

Continuous IV infusion:

Awal: 0.002-0.005 unit/kg/menit; titrasi dosis sesuai kebutuhan; dosis maksimal: 0.01
unit/kg/menit.

Alternatif: Awal: 0.1 unit/menit; dinaikan 0.05 unit/menit hingga maksimal:

Kurang dari 5 tahun: 0.2 unit/menit

5-12 tahun: 0.3 unit/menit


Lebih dari 12 tahun: 0.4 unit/menit

Jika perdarahan berhenti dalam 12 jam, turunkan dosis selama 24-48 jam.

Dosis Anak untuk Asystole:

Data yang tersedia terbatas: 0.4 unit/kg IV setelah metode resusitasi tradisional dan minimal 2
dosis epinefrin telah diberika.; Catatan: karena bukti belum cukup, tidak tersedia rekomendasi
resmi maupun larangan resmi atas penggunaan vasopressin saat henti jantung anak.

Dosis Anak untuk Fibrilasi Ventrikel:

Data yang tersedia terbatas: 0.4 unit/kg IV setelah metode resusitasi tradisional dan minimal 2
dosis epinefrin telah diberikan; Catatan: karena bukti belum cukup, tidak tersedia rekomendasi
resmi maupun larangan resmi penggunaan vasopressin saat henti jantung anak.

Dalam dosis apakah vasopressin tersedia?

Vasopressin tersedia dalam dosis-dosis sebagai berikut.

Injeksi 20 units/mL

Efek Samping

Beberapa orang menerima vasopressin mengalami reaksi obat segera. Beri tahukan dokter Anda
segera jika Anda merasa lemas, mual, melayang, berkeringat, atau denyut jantung cepat, sesak,
atau napas dangkal setelah menerima vasopressin. Cari bantuan medis segera jika Anda
mengalami tanda-tanda reaksi alergi berikut ini: gatal-gatal, kesulitan bernapas, pembengkakan
wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan.

Beri tahukan dokter Anda jika Anda mengalami efek samping serius berikut:

 Denyut jantung lambat atau tidak terasa


 Gangguan napas atau terengah-engah
 Nyeri dada atau terasa berat, nyeri menyebar ke lengan atau bahu, mual, berkeringat, tidak enak
badan
 Kesemutan atau baal pada tangan atau kaki
 Kulit berubah warna
 Bengkak, berat badan cepat bertambah
 Terasa seperti melayang, pingsan
 Mual atau nyeri perut hebat

Desmopresin asetat

Desmopressin adalah obat yang digunakan untuk mengontrol jumlah urin yang diproduksi
ginjal Anda. Jumlah urin biasanya dikendalikan oleh suatu zat tertentu dalam tubuh yang disebut
vasopressin. Pada penderita “water diabetes” (diabetes insipidus), cedera kepala atau operasi otak,
tubuhnya tidak mampu memproduksi vasopressin yang cukup. Desmopressin merupakan obat
buatan manusia dan digunakan untuk mengganti vasopressin yang rendah. Obat ini berfungsi
mengontrol rasa haus dan buang air kecil, sehingga mencegah dehidrasi. Desmopressin juga
digunakan untuk mengontrol urin yang dikeluarkan anak-anak pada malam hari saat tidur (ompol).
Obat ini dapat mengurangi ompol malam hari pada anak-anak.

Bagaimana cara penggunaan desmopressin?

Untuk pengobatan diabetes insipidus, minum obat ini, biasanya 2 sampai 3 kali sehari atau
seperti yang diarahkan oleh dokter Anda. Untuk mengobati mengompol, minum obat ini
biasanya dikonsumsi sekali sehari pada waktu tidur. Anak-anak harus membatasi minum setelah
makan malam, terutama 1 jam sebelum mengonsumsi desmopressin sampai keesokan harinya,
atau setidaknya 8 jam setelah obat dikonsumsi. Jika anak Anda bangun pada malam hari, batasi
jumlah air yang ia minum.

Semua pasien yang menggunakan Desmopresin, terutama anak-anak dan orang lanjut usia,
harus membatasi cairan yang diminum. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk informasi. Jika
Anda minum lebih banyak cairan daripada yang diarahkan, segera beritahu dokter Anda. (Baca
informasi efek samping dan pencegahan). Dosis diatur berdasarkan kondisi kesehatan dan respon
Anda terhadap pengobatan. Jangan menggunakan desmopressin berlebihan atau mengonsumsi
lebih sering daripada yang disarankan.

Konsumsi obat ini secara teratur dan kalau bisa pada waktu yang sama setiap agar
mendapatkan manfaat yang maksimal. Beri tahu dokter jika kondisi Anda tidak membaik atau
jika obat ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Bagaimana cara penyimpanan desmopressin?

Obat ini paling baik disimpan pada suhu ruangan, jauhkan dari cahaya langsung dan tempat
yang lembap. Jangan disimpan di kamar mandi. Jangan dibekukan. Merek lain dari obat ini
mungkin memiliki aturan penyimpanan yang berbeda. Perhatikan instruksi penyimpanan pada
kemasan produk atau tanyakan pada apoteker Anda. Jauhkan semua obat-obatan dari jangkauan
anak-anak dan hewan peliharaan.

Jangan menyiram obat-obatan ke dalam toilet atau ke saluran pembuangan kecuali bila
diinstruksikan. Buang produk ini bila masa berlakunya telah habis atau bila sudah tidak diperlukan
lagi. Konsultasikan kepada apoteker atau perusahaan pembuangan limbah lokal mengenai
bagaimana cara aman membuang produk Anda.

Dosis

Dosis Dewasa biasa untuk Diabetes Insipidus

Dosis awal: 0,05 mg secara oral dua kali sehari atau 1 sampai 2 mcg IV dua kali sehari atau 1
sampai 2 mcg subkutan dua kali sehari atau 5 sampai 40 semprotan mcg intranasal dua kali sehari
atau 0,1-0,4 mL melalui tabung rhinal intranasal dua kali sehari. Dosis maksimal tergantung pada
respon pasien (tidur yang cukup, tidak banyak buang air kecil). Jarak antara dosis pagi dan sore
hari harus diatur dengan baik untuk mengontrol buang air kecil.

Dosis Dewasa untuk mengobati Hemofilia A

IV: 0,3 mcg / kg sekali perlahan-lahan selama 15-30 menit. Untuk pra operasi dosis IV dapat
diinfuskan 30 menit sebelum jadwal. Tekanan darah dan denyut jantung sebaiknya di monitor
selama obat diinfuskan. Pemberian dosis ulang harus ditentukan berdasarkan hasil laboratorium
dan kondisi kesehatan pasien.

Intranasal: 1 semprot (1,5 mg / mL) pada lubang hidung. Pemeriksaan koagulasi obat dianjurkan
sebelum melakukan operasi apapun. Obat ini sebaiknya dikonsumsi 2 jam sebelum operasi
dilakukan.

Dosis Dewasa untuk mengobati penyakit von Willebrand

IV: 0,3 mcg / kg sekali perlahan-lahan selama 15-30 menit. Untuk pra operasi dosis IV dapat
diinfuskan 30 menit sebelum jadwal. Tekanan darah dan denyut jantung sebaiknya di monitor
selama obat diinfuskan. Pemberian dosis ulang harus ditentukan berdasarkan hasil laboratorium
dan kondisi kesehatan pasien.

Intranasal: 1 semprot (1,5 mg / mL) pada lubang hidung. Pemeriksaan koagulasi obat dianjurkan
sebelum melakukan operasi apapun. Obat ini sebaiknya dikonsumsi 2 jam sebelum operasi
dilakukan.

Semprotan di hidung sebaiknya jangan digunakan untuk mengobati pasien dengan penyakit von
Willebrand tipe IIB karena agregasi platelet dapat terjadi.

Dosis Dewasa biasa untuk Primary Nocturnal Enuresis

Oral: 0,2-0,6 mg sekali sebelum tidur.

Bagaimana dosis desmopressin untuk anak-anak?

Dosis Anak-anak untuk mengobati Diabetes insipidus

Bayi usia 3 bulan ke anak usia 12 tahun: intranasal: 5 mcg / hari sekali sehari atau dibagi dalam 2
dosis. Kisaran dosis 5 sampai 30 mcg / hari. Jarak antara penggunaan obat pagi dan sore hari harus
diatur dengan baik untuk mengontrol urin yang dikeluarkan.

Oral: 0,05 mg dua kali sehari. Kisaran dosis 0,1-0,8 mg setiap hari.
IV dan subkutan: Belum ada dosis pasti yang tersedia. Dosis untuk dewasa tidak boleh diberikan
pada usia ini; efek samping seperti kejang hiponatremia mungkin terjadi. Dosis harus dikurangi.
Dosis awal yang dianjurkan adalah sekitar 0,1 sampai 1 mcg dalam 1 atau 2 dosis terbagi. Mulailah
pada dosis awal dan ditingkatkan seperlunya. Pantau dan batasi jumlah natrium serum dan urin
yang dikeluarkan.

Anak-anak usia 12 tahun lebih: Intranasal: 5 sampai 40 mcg/hari dibagi dalam 1-3 dosis. Jarak
antara penggunaan obat pagi dan sore hari harus diatur dengan baik untuk mengontrol urin yang
dikeluarkan.

Oral: 0,05 mg dua kali sehari. Kisaran dosis 0,1-1,2 mg dibagi menjadi 2 atau 3 dosis.

IV: 1 sampai 2 mcg dua kali sehari

subkutan: 1 sampai 2 mcg dua kali sehari

Saat obat ini dikonsumsi oleh anak-anak, asupan cairan yang masuk harus dikontrol untuk
mencegah kemungkinan terjadinya hiponatremia dan keracunan cairan. Obat akan bekerja optimal
tergantung pada respon pasien (istirahat yang cukup dan tidak mengonsumsi ciran seraca
berlebehin).

Dosis Anak-anak biasa untuk Hemofilia A

Bayi usia 3 bulan dan anak-anak:

IV: 0,3 mcg / kg sekali perlahan-lahan selama 15-30 menit. Untuk pra operasi dosis IV dapat
diinfuskan 30 menit sebelum jadwal. Tekanan darah dan denyut jantung sebaiknya di monitor
selama obat diinfuskan. Pemberian dosis ulang mungkin dibutuhkan.

Anak-anak lebih dari 12 tahun:

IV: 0,3 mcg / kg sekali perlahan-lahan selama 15-30 menit.

Intranasal:
50 kg atau kurang: 150 mcg

lebih dari 50 kg: 150 mcg disemprotkan pada lubang hidung.

Pemeriksaan koagulasi obat dianjurkan sebelum melakukan operasi apapun. Obat ini sebaiknya
dikonsumsi 2 jam sebelum operasi dilakukan.

Dosis Anak-anak biasa untuk Penyakit von Willebrand

Bayi usia 3 bulan dan anak-anak:

IV: 0,3 mcg / kg sekali perlahan-lahan selama 15-30 menit. Untuk pra operasi dosis IV dapat
diinfuskan 30 menit sebelum jadwal. Tekanan darah dan denyut jantung sebaiknya di monitor
selama obat diinfuskan. Pemberian dosis ulang mungkin dibutuhkan.

Anak-anak lebih dari 12 tahun:

IV: 0,3 mcg / kg sekali perlahan-lahan selama 15-30 menit.

Intranasal:

50 kg atau kurang: 150 mcg

lebih dari 50 kg: 150 mcg disemprotkan pada lubang hidung.

Pemeriksaan koagulasi obat dianjurkan sebelum melakukan operasi apapun. Obat ini sebaiknya
dikonsumsi 2 jam sebelum operasi dilakukan. Pemberian dosis ulang harus ditentukan berdasarkan
hasil laboratorium dan kondisi kesehatan pasien.

Semprotan di hidung sebaiknya jangan digunakan untuk mengobati pasien dengan penyakit von
Willebrand tipe IIB karena agregasi platelet dapat terjadi.

Dosis Anak-anak biasa untuk Primary Nocturnal Enuresis

6 tahun atau lebih: 0,2-0,6 mg oral sekali sehari sebelum tidur.


Dalam dosis apakah desmopressin tersedia?

Desmopressin tersedia dalam dosis berikut:

Solusi, suntikan, seperti asetat

 DDAVP: 4 mcg / mL (1 mL, 10 mL)


 Obat Generik: 4 mcg / mL (1 mL, 10 mL)

Larutan, hidung, seperti asetat

 DDAVP: 0.01% (5 mL)

 DDAVP Rhinal Tabung: 0,01% (2,5 mL)


 Stimate: 1,5 mg / mL (2,5 mL)
 Generik: 0.01% (2,5 mL, 5 mL)

Tablet, Oral, sebagai asetat

 DDAVP: 0,1 mg, 0,2 mg


 Generik: 0,1 mg, 0,2 mg

Efek Samping
Efek samping apa yang dapat dialami karena desmopressin?

Efek samping yang umum terjadi seperti sakit kepala, mual, sakit perut, atau pipi memerah
(flushing). DDAVP jarang dapat menyebabkan rendahnya tingkat natrium dalam darah, yang bisa
serius dan mungkin mengancam nyawa. Carilah bantuan medis segera jika Anda memiliki gejala
rendah natrium darah seperti hilangnya nafsu makan, mual, muntah, sakit kepala parah, kelemahan
otot/kejang/kram, berat badan naik, kelelahan yang tidak biasa, mengantuk berat, perubahan
mental atau mood (kebingungan, berhalusinasi, cepat marah), kehilangan kesadaran, kejang, atau
pernapasan pendek.

Cari bantuan medis segera jika Anda mengalami tanda-tanda reaksi alergi berikut ini: gatal-gatal,
kesulitan bernapas, pembengkakan wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan.
Hentikan penggunaan obat dan hubungi dokter jika Anda mengalami salah satu efek samping
berikut, seperti:

 mual, muntah, lemah, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, merasa gelisah atau pemarah,
kebingungan, berhalusinasi, nyeri dan lemah otot, serta kejang
 merasa seperti Anda akan pingsan
 pembengkakan, berat badan naik
 tekanan darah yang tinggi (sakit kepala parah, penglihatan kabur, telinga berdengung, merasa
cemas, kebingungan, nyeri dada, sesak napas, detak jantung tidak stabil, dan kejang).

Berikut efek samping yang normal terjadi:

 sakit kepala
 mual, nyeri perut ringan
 diare atau
 wajah berubah hangat, memerah, atau geli

Tidak semua orang mengalami efek samping berikut ini. Mungkin ada beberapa efek samping
yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran mengenai efek samping tertentu,
konsultasikanlah pada dokter atau apoteker Anda.

Peningkatan Faktor VIII da VWF

VwF adalah protein dengan berat molekul besar yang dibentuk di sel endotel dan megakariosit.
Fungsinya sebagai protein pembawa F VIII dan melindunginya dari degradasi proteolisis. Di
samping itu faktor von Willebrand juga berperan pada proses adhesi trombosit. Faktor VIII
berfungsi pada jalur intrinsik system koagulasi yaitu sebagai kofaktor untuk F IXa dalam proses
aktivasi F X (lihar skema koagulasi). Pada orang normal aktivitas faktor VIII berkisar antara 50 –
150%. Pada hemofilia A, aktivitas F VIII rendah. Faktor VIII termasuk protein fase akut yaitu
protein yang kadarnya meningkat jika terdapat kerusakkan jaringan, peradangan, dan infeksi.
Kadar F VIII yang tinggi merupakan faktor resiko trombosis.