Anda di halaman 1dari 25

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 DEINISI

Abortus adalah berakhirnya kehamilan dengan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup diluar kandungan dengan usia gestasi kurang dari 20 minggu dan berat badan janin
kurang dari 500 gram (Murray, 2002)Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan oleh akibat-
akibat tertentu pada atau sebelum kehamilan oleh akibat-akibat tertentu pada atau sebelum
kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar
kandungan (Praworihardjo, 2006)Abortus adalah ancaman atau hasil pengeluaran konsepsi
pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sebelum
janin mampu hidup di luar kandungan (Nugroho, 2010)Abortus adalah ancaman atau
pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan, sedangkan abortus
inkomplit adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang
tertinggal (Manuaba, 2008)Berdasarkan pengertian dari beberapa ahli diatas dapat disimpulkan
bahwa abortus adalah berakhirnya kehamilan yang ditandai dengan keluarnya hasil konsepsi
pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu

2.2 ETIOLOGI

Etiologi yang menyebabkan terjadinya abortus adalah sebagai berikut:

a. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi: kelainan kromosom terutama trisomi autosom dan
monosomi X, lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna, pengaruh teratogen akibat
radiasi, virus, obat-obatan, tembakau, dan alcohol

b.Infeksi akut, pneumonia, pielitis, demam tifoid, toksoplasmosis dan HIV

c. Abnormalitas traktus genitalis, serviks inkompeten, dilatasi serviks berlebihan, robekan serviks
dan retroversion uterus

d.Kelainan plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun.

(Mitayani, 2009)
C. MANIFESTASI KLINIS

Diduga abortus apabila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang perdarahan per
vaginam setelah mengalami haid yang terlambat juga sering terdapat rasa mulas dan keluhan nyeri
pada perut bagian bawah. (Mitayani, 2009)

Secara umum terdiri dari:

a.Terlambat haid atau amenhore kurang dari 20 minggu.

b.Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah
normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau
meningkat.

c.Perdarahan per vaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi.

d.Rasa mulas atau kram perut di daerah simfisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi
uterus.

Sedangkan secara khusus, tanda dan gejala abortus Inkomplit adalah:

a.Perdarahan yang banyak atau sedikit serta memanjang, sampai terjadi keadaan anemis

b.Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat.

c.Terjadi infeksi ditandai dengan suhu tinggi.

d.Dapat terjadi degenerasi ganas (kario karsinoma).

e.Serviks masih membuka

f. Kadang-kadang teraba jaringan di dalamnya


Menurut Mansjoer, 2001

a.Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu

b.Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun, tekanan darah
normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat

c.Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi

d.Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang akibat kontraksi uterus.

D. PEMERIKSAAN GINEKOLOGI

a.Inspeksi vulva : Perdarahan per vaginam, ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium atau
tidak bau busuk dari vulva.

b. Inspekulo : Perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup, ada atau tidak
jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.

c.Vaginal toucher : Porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam
kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio
digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, kavum douglasi tidak menonjol dan tidak nyeri.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a.Tes kehamilan : pemeriksaan HCG, positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah
abortus.

b.Pemeriksaan doppler atau USG : untuk menentukan apakah janin masih hidup.

c.Histerosalfingografi, untuk mengetahui ada tidaknya mioma uterus submukosa dan anomali
kongenital.

d.BMR dan kadar urium darah diukur untuk mengetahui apakah ada atau tidak gangguan glandula
thyroidea.
e. Pemeriksaan kadar hemoglobin cenderung menurun akibat perdarahan.

F.PATOFISIOLOGI

Pada awal abortus terjadi dalam desidua basalis, diikuti nekrosis jaringan yang menyebabkan hasil
konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Sehingga menyebabkan uterus
berkonsentrasi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Apabila pada kehamilan kurang dari 8
minggu, nilai khorialis belum menembus desidua serta mendalam sehingga hasil konsempsi dapat
dikeluarkan seluruhnya. Apabila kehamilan 8 sampai 4 minggu villi khorialis sudah menembus
terlalu dalam sehingga plasenta tidak dapat dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak
pendarahdan daripada plasenta. Perdarahan tidak banyak jika plasenta tidak lengkap. Peristiwa ini
menyerupai persalinan dalam bentuk miniature.

Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk, adakalanya kantung
amnion kosong atau tampak didalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas (missed aborted).
Apabila mudigah yang mati tidak dikelurakan dalam waktu singkat, maka ia dapat diliputi oleh
lapisan bekuan darah. Ini uterus dinamakan mola krenta. Bentuk ini menjadi mola karnosa apabila
pigmen darah telah diserap dalam sisinya terjadi organisasi, sehingga semuanya tampak seperti
daging. Bentuk lain adalah mola tuberose dalam hal ini amnion tampak berbenjol-benjol karena
terjadi hematoma antara amnion dan khorion.

Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses modifikasi janin
mengering dan karena cairan amnion menjadi kurang oleh sebab diserap. Ia menjadi agak gepeng
(fetus kompresus). Dalam tingkat lebih lanjut ia menjadi tipis seperti kertas pigmenperkamen.

Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak lekas dikeluarkan ialah terjadinya maserasi,
kulterklapas, tengkorak menjadi lembek, perut membesar karena terasa cairan dan seluruh janin
berwarna kemerah-merahan. (Sarwono, 2006)

G. KLASIFIKASI

1. Abortus Imminens (abortus mengancam/threatened abortion)


Proses awal dari suatu keguguran ditandai dengan perdarahan pervaginam, sementara
ostium uteri eksternum masih tertutup dan hasil konsepsi/ janin masih baik didalam uterus
Pengeluaran hasil konsepsi berupa darah yang disertai mules atau tanpa mules.
Pada abortus imminiens, kehamilan masih dapat di pertahankan.
Jika janin masih hidup, umumnya dapat bertahan sampai kehamilan atern dan lahir normal.
Jika terjadi kematian janin, dalam waktu singkat dapat terjadi abortus spontan.
Penentuan kehidupan janin dilakukan ideal dengan ultrasonografi, dilihat gerakan denyut
jantung janin dengan gerakan janin
Jika sara terbatas, pada usia diatas 12-16 minggu denyut jantung janin dicoba didengarkan
dengan alat Doppler atau laennec. Keadaan janin sebaiknya segera ditentukan, karena
mempengaruhi rencana penatalaksanaan/ tindakan.

Tanda dan Gejala Abortus Imminiens, meliputi:


 Perdarahan sedikit/bercak
 Kadang disertai rasa mules/kontraksi.
 Periksa dalam belum ada pembukaan.
 Palpasi: tinggi fundus uteri sesui usia kehamilan.
 Hasil test kehamilan (+)/positif.

2. Abortus Insipiens (disebut juga sebagai abortus sedang berlangsung/ inevitable abortion)
Proses abortus yang sedang berlangsung dan tindak dapat lagi dicegah, ditandai dengan
terbukanya ostium uteri eksternum, selain perdarahan (Achadiat, 2004)
Abortus yang sedang berlasung dan tidak dapat dipertahankan lagi kehamilannya, yang
dapat berkembang menjadi abortun inkomplit/ komplit.
Perdarahan ringan hingga sedang pada kehamilan muda dimana hasil konsepsi masih
berada dalam kavum uteri. Kondisi ini menujukan proses abortus sedang berlangsung dan
akan berlanjut menjadi abortus inkomplit/komplit. (Saefuidin AB, 2006)
Perdarahan pervaginam, dimana dapat timbul rasa nyeri di daerah perut bawah dan
panggul, serviks mulai mebuka dan hasil konsepsinya menjulur kenanalis serviks.
(Moegni, 1987)

Tanda dan gejala:


 Perdarahan banyak disertai bekuan
 Mulas hebat (kontraksi makin lama makin dan makin sering)
 Ostium uteri sternum mulai terbuka (serviks terbuka)
 Pada palpasi: tinggi fundus uteri sesuai usia kehamilan

3. Abortus Inkomplit
Pengeluaran sebagian janin pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa
tertinggal dalam uterus (Prawirohardjo, 2002)
Perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian dari hasil konsepsi telah keluar kavum
uteri melai kanalis servikalis (Saefudin AB, dkk, 2006)
Proses abortus dimana sebagian hasil konsepsi telah keluarmelai jalan lahir (Achadiat,
2004)
Tanda dan gejala:
 Perdarahan bisa sedikit atau banyak dan bisa terdapat bekuan darah
 Rasa mulas (kontraksi) tambah hebat
 Ostium uteri sternum atau serviks terbuka
 Pada pemeriksaan vaginal, jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang kadang
sudah menonjol dari eksternum atau sebagian jaringan
 Perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa janin dikeluarkan dapat menyebabkan syok

4. Abortus Komplit
Prosesus abortus dimana keseluruhan hasil konsepsi telah keluar melalui jalan lahir
(Achadiat, 2004)
Perdarahan pada kehamilan muda dimana seluruh hasil kontrasepsi telah dikeluarkan dari
kavum uteri (Saefudin AB, dkk, 2006)

Tanda dan gejala:


 Perdarahan banyak
 Mulas sedikit atau tidak (kontraksi uterus)
 Osteo uteri telah menutup
 Uterus sudah mengecil ada keluar jaringan, sehingga tidak ada sisa dalam uterus
 Diagnosis komplit ditegakan bila jaringan yang keluar juga diperiksa kelengkapannya

5. Missed Abortions
Kehamilan yang tidak normal, janin mati pada usia kurang dari 20 hari yang tidak dapat
dihindari (James L. Lindsey, MD, 2007)
Berakhirnya suatu kehamilan sebelum 20 minggu, namun keseluruhan hasil konsepsi
tersebut bertahan dalam uterus selama 6 minngu atatu lebih (Achadiat, 2004)
Adannya retensi yang lama terhadap janin yang telah mati dalam paruh pertama
kehamilan, atau retensi hasil konsepsi dalam uterus selama 8 minggu atatu lebih,
kejadiannya sekitar 2% dari kehamilan (Pilliter, 2002)
Perdarahan pada kehamilan muda disertai dengan retensi hasil konsepsi yang telah mati
hingga 8 minggu atau lebih (Saifudin, AB dkk, 2006)

Tanda dan gejala


 Gejalanya seperti abortus imminiens yang kemudian menghilang secara spontan disertai
kehamilan menghilang
 Denyut jantung janin tidak terdengar
 Mulas sedikit
 Ada keluaran dari vagina
 Uterus tidak membesar tetapi mengecil
 Mammae agak mengendor/payudara mengecil
 Amenorhoe berlangsung terus
 Tes kehamilan negative
 Dengan USG dapat diketahui apakah janin sudah mati dan besarnya sesuai dengan usia
kehamilan
 Biasanya terjadi pembekuan darah

6. Abortus Infeksius dan Abortus Septik


Abortus infeksius adalah suatu abortus yang telah disertai komplikasi berupa infeksi, baik
yang diperoleh dari luar rumah sakit maupun yang terjadi setelah tindakan di rumah sakit.
Abortus septic adalah suatu komplikasi lebih jauh daripada abortus infeksius, dimana
pasien telah masuk dalam keadaan sepsis akibat infeksi tersebut. Angka kematian akibat
abortus septic ini cukup tinggi (sekitar 60%). (Achadiat, 2004)
Abortus infeksius adalah adanya abortus yang merupakan komplikasi dan disertai infeksi
genitalia, sering dikaitkan dengan tindakan abortus tidak aman sehingga dapat
menyebabkan perdarahan hebat.
Abortus septic adalah abortus infeksius berat yang disertai pengeluaran kuman/toksin,
septic syok bacterial dan gagal ginjal akut.
Abortus infeksius adalah abortus yang disertai dengan infeksi genital.
Abortus septic adalah keadaan yang lebih parah dari abortus infeksius karena disertai
dengan penyebaran kuman atau toksinnya kedalam peredaran darah dan peritoneum,
sehingga dijumpai adanya tanda peritornitis umum atau sepsis dan disertai dengan syok.

Tanda dan gejala:


 Kanalis servikalis terbuka
 Ada perdarahan
 Demam
 Takikardia
 Perdarahan berbau
 Uterus membesar dan lembek
 Nyeri tekan
 Leukositosis

7. Abortus Habitualis/Recurent Abortion


Abortus yang terjadi tiga kali berturut-turut atau lebih oleh sebab apapun. (Achadiat, 2004)
Abortus spontan yang terjadi tiga kali atau lebih secara berturut, penyebab tersering karena
factor hormonal. Istilah abortus habitualis masih digunakan untuk menjelaskan pola
abortus yang terjadi.
H. KOMPLIKASI

Komplikasi yang serius kebanyakan terjadi pada pasien abortus yang tidak aman (unsafe abortion)
walaupun kadang-kadang dijumpai juga pada abortus spontan.Komplikasi dapat berupa
perdarahan, kegagalan ginjal, infeksi, syok akibat perdarahan dan infeksi sepsis.

1. Perdarahan

Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu
pemberian tranfusi darah.Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak
diberikan pada waktunya.

2. Perforasi

Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi.Jika
terjadi peristiwa ini penderita perlu diamati dengan teliti jika ada tanda bahaya, perlu segera
dilakukan laparatomi, dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau
perlu histerektomi.Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh seorang awam menimbulkan
persoalan gawat karena diperlukan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi pada kandungan
kemih atau usus.Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadi perforasi, laparatomi harus segera
dilakukan untuk menentukan luasnya cedera, untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan
seperelunya guna mengatasi komplikasi.

3. Infeksi

Infeksi dalam uterus dan adneksa dapat terjadi dalam setiap abortus tetapi biasanya didapatkan
pada abortus inkomplet yang berkaitan erat dengan suatu abortus yang tidak aman (unsafe
abortus).

4. Syok

Syok pada abortus bias terjadi karena peradangan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok
endoseptik).

PEMERIKSAAN FISIK

a. Pemeriksaan fisik secara umum


b. Pemeriksaan ginekologi

c. Pemeriksaan laboratorium:

1. Kariotik darah tepi kedua orangtua

2. Histerosangografi diikuti dengan histeroskopi atau laparoskopi bila ada indikasi

3. Biopsy endometrium pada fase luteal

4. Pemeriksaan hormone TSH dan antibody anti tiroid

5. Antibody antifosofolipid (cardiolipin, fosfatidilserin)

6. Lupus antikoagulan (apartial thromboplastin time atau russel viper venom)

7. Pemeriksaan darah lengkap termasuk trombosit, Kultur jaringan serviks (myocoplasma,


ureaplasma, chlamydia) bila diperlukan.

2. Penatalaksanaan Medis

Setelah didapatkan anamnesis yang maksimal, bila sudah terjadi konsepsi baru pada ibu dengan
riwayat abortus berulang-ulang maka support psikologis untuk pertumbuhan embrio internal
uterine yang baik perlu diberikan pada ibu hamil.Kenali kemungkinan terjadinya anti fosfolipid
syndrome atau mencegah terjadinya infeksi intra uterine.

Pemeriksaan kadar HCG secara periodic pada awal kehamilan untuk membantu pemantauan
kelangsungan kehamilan sampai pemberian USG dapat dikerjakan. Gold standard untuk
monitoring kehamilan dini adalah pemeriksaan USG, dikerjakan setiap 2 minggu sampai
kehamilan ini tidak mengalami abortus.Pada keadaan embrio tidak terdapat gerakan jantung janin
maka perlu segera dilakukan evakuasi serta pemberian kariotip jaringan hasil konsepsi tersebut.

Pemeriksaan serum á-fetopotein perlu dilakukan pada usia kehamilan 16-18 minggu. Pemeriksaan
kariotip dari buah kehamilan dapat dilakukan dengan melakukan amniosintesis air ketuban untuk
menilai bagus atau tidaknya kehamilan.

Bila perlu terjadi kehamilan, pada pengobatan dilakukan sesuai dengan hasil penilaian yang
sesuai.Pengobatan disini termasuk memperbaiki kualitas sel telur atau spermatozoa, kelainan
anatomi, kelainan endokrin, infeksi dan berbagai variasi hasil pemeriksaan reaksi
imunologi.Pengobatan pada penderita yang mengidap pecandu obat-obatan perlu dilakukan juga.
Konsultasi psikologi juga akan sangat membantu.

Bila kehamilan kemudian berakhir dengan kegagalan lagi maka pengobatan secara intensif harus
dikerjakan secara bertahap baik pengobatan kromosom, anomaly anatomi, kelainan endokrin,
infeksi, factor imunologi, antifosfolipid sindrom, terapi immunoglobulin atau imunomodulator
perlu diberikan secara berurutan.Hasil ini merupakan suatu pekerjaan yang berat dan memerlukan
pengamatan yang memadai untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
BAB III

ASKEP TEORI

3.1 Pengkajian
IDENTITAS KLIEN

Nama : ………………… No. Reg : ……

Umur : …..Tahun Tgl. MRS : ………(Jam…..)

Jenis Kelamin : L/P Diagnosis medis : …………

Suku/Bangsa : ………………………… Tgl Pengkajian:……(Jam…)

Agama : …………………………….

Pekerjaan : …………………………….

Pendidikan : …………………………….

Alamat : …………………………….

3.2 RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)


1. Keluhan utama :
Singkat dan jelas, 2 atau 3 kata yang merupakan keluhan yang membuat pasien meminta
bantuan kesehatan.

Jika pengkajian dilakukan setelah beberapa hari pasien MRS maka keluhan utama diisi
dengan keluhan yang dirasakan saat pengkajian. Misalnya: keluhan utama pada pasien
dengan gangguan sistem pernafasan: sesak nafas, batuk.

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Provokatif Qualitas Regio Skala Time ( analisis gejala keluhan utama yang meliputi
awitan, waktu, durasi, karakteristik, tingkat keparahan, lokasi, faktor pencetus, gejala yang
berhubungan dengan keluhan utama, dan faktor yang menurunkan keparahan).
Merupakan penjelasan dari permulaan klien merasakan keluhan sampai di bawa ke
pelayanan kesehatan. Jika pengkajian dilakukan beberapa hari setelah pasien rawat inap,
maka riwayat penyakit sekarang ditulis dari permulaan pasien merasakan keluhan sampai
kita melakukan pengkajian.

Upaya yang telah dilakukan :

Upaya pasien yang dilakukan untuk mengatasi masalah sebelum dilakukan pengkajian.

Terapi/operasi yang pernah dilakukan :

Pengobatan/ operasi yang pernah di dapatkan berhubungan dengan kasus sekarang sebelum
Rawat inap di pelayanan kesehatan.

3. Riwayat Kesehatan Terdahulu


Penyakit berat yang pernah diderita : akut, kronis atau operasi ( semua riwayat penyakit
yang pernah di derita).

Obat-obat yang biasa dikonsumsi : obat dengan resep atau dengan bebas atau herbal (
sebutkan jenis dan kegunaannya)

Kebiasaan berobat : pelayanan kesehatan dan non tenaga kesehatan.

Alergi ( makanan, minuman, obat, udara, debu, hewan) sebutkan :

Kebiasaan merokok, minuman ( penambah energy, suplemen makanan/minuman,alkohol),


makanan siap saji.

4. Riwayat Kesehatan Keluarga


Penyakit yang dialami satu anggota keluarga, bila merupakan penyakit keturunan,
mengkaji 3 generasi ke atas. Mencangkup setiap kelainan genetic keluarga ( HT, DM )/
penyakit dengan kecenderungan keluarga ( cancer), penyakit menular ( TBC,Hepatitis,
HIV/AIDS ), gangguan psikiatrik ( skizofrenia ) dan penyalah gunaan obat.

Genogram :

Genogram dituliskan dalam 3 generasi keatas.

Ket : ………………………….

5. Riwayat Kesehatan Lingkungan


Khusus untuk penyakit infeksi/ penyakit yang disebabkan oleh kondisi lingkungan.
Identifikasi lingkungan rumah/ keluarga, pekerjaan atau hobi klien ( yang berhubungan
dengan penyakit klien ), fokuskan pada adanya paparan yang menyebabkan penyakit
tersebut (debu, asbestosis, silica atau zat racun lainnya) tanyakan keadaan lingkungan
klien, lingkungan yang penuh (crowded) resiko peningkatan infeksi pada saluran
pernafasan seperti TBC, Virus dll.

3.3 PEMERIKSAAN FISIK


Tanda-tanda Vital, TB dan BB :

S : ……°C (SUHU. axial, rectal, oral) N : …. x/menit ( NADI. teratur, tidak teratur, kuat,
lemah) TD : …../…..mmHg (lengan kiri, lengan kanan, berbaring, duduk) RR : ….x/menit
(regular/ irregular)

TB : … cm BB : …. Kg ( cara menghitung berat badan ideal : TB -100 ( ± 10% dari hasil ).

3.4 PEMERIKSAAN PER SISTEM

a. Sistem integumen
Kulit : warna sawo matang, turgor kulit elastis, tidak terdapat
lesi, bersih
Rambut : bersih tidak ada ketombe, rambut lurus panjang
Kuku : warna putih bersih, tidak ada oyanosis

b. Kepala dan leher


Kepala : kepala simetris, tidak ada benjolan, jika merasa nyeri dahi
mengerut
Mata : bentuk mata spefis, konjutifa tidak anemik, sklera tidak
ikterus
Hidung : tidak terdapat pernafasan cuping hidung, bersih, tidak ada
gangguan penciuman
Telinga : simetris, tidak terdapat serumen, tidak ada gangguan
pendengaran
Mulut : tidak terdapat stomatitis, mukosa bibir lembab tidak ada
karies gigi
Leher : tidak terdapat pembesaran kelenjar tyroid dan pembesaran
vena jugularis

c. Sistem pernafasan termasuk pemeriksaan dada dan punggung


Inspeksi : bentuk dada simetris, frekuensi nafas reguler RR 20x/menit, buah dada simetris,
terdapat pigmentasi putting susu dan areola, cholostrum belum keluar
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan
Perkusi : terdengar bunyi resonan
Auskultasi : tidak ada suara wheezing dan tidak ada suara rochi
d. Sistem jantung dan peredaran darah (kardiovaskuler)
Inspeksi : tidak ada pembesaran vena jugularis
Palpasi : denyut nadi teraba jelas dengan 96x/menit
Auskultasi : bunyi jantung normal

e. Sistem pencernaan
Inspeksi : perut membesar ke depan, tampak linea alba
Palpasi : terdapat nyeri tekan pada perut bagian bawah
Perkusi : -
Auskultasi : belum terdengar DJJ, bising usus 15x/menit
f. Sistem reproduksi
Pasien sudah kawin, 3 tahun yang lalu, belum mempunyai anak, ini
kehamilan pertama.

g. Sistem pergerakan tubuh


Pasien duduk, bangun dan melakukan aktivitas dibantu oleh
keluarga dan perawat, pasien sering memegang perutnya terpasang
infus pada tangan kanannya.

h. Sistem persyarafan
Kesadaran compos mentis GCS : 4 5 6
i. Sistem perkemihan
Px tidak mempunyai penyakit saluran kemih, tidak terpasang
kateter, BAK lancar 5x/hari warna kuning bau khas amoniak.

j. pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan lab.
Tanggal 11-10-2006 12-10-2006 Normal
Na = 130 130 135-145 mmol/l
K = 3,1 2,9 3,5-5 mmol/l
Cl = 108 108 95-108 mmol
Lekosit 6700 4.000-10.000/mm
Hg 4,6 11,5-16
Trombosit 300.000 150-400 ribu
BAB IV

ASKEP KASUS

CONTOH KASUS

Pada tanggal 29 mei 2017, Ny S berumur 28 tahun masuk rumah sakit RSUD Jombang
pasien mengatakan nyeri pada perut bagian bawah, gejala yang di rasakan awalnya perut terasa
nyeri,meringis wajahnya, mules dan keluar flek dan perut kenceng- kenceng setiap hari dan juga
klien mengatakan sering mengganti pembalut kurang lebih 5 kali sehari karena flek keluar dan
merasa tidak nyaman, skala nyeri 6. TD = 120/80 mmHg R = 20x/menit N = 84x/menit S = 36,5
0
C. Klien mengatakan kehamilannya 12 bulan, tinggi badan 150 cm, berat badan 50 kg.

4.1 IDENTITAS KLIEN


Nama : Ny S No. Reg : 100023

Umur : 28 Tahun Tgl. MRS : 29 mei 2017 (08.00)

Jenis Kelamin : P Diagnosis medis

Suku/Bangsa : jombang

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Pendidikan : SMU

Alamat : Jl. patimura No. 40 A jombang

4.3 RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)


1.Keluhan utama : nyeri pada perut bagian bawah

2. Riwayat Penyakit Sekarang

gejala yang di rasakan awalnya perut terasa nyeri, mules dan keluar flek dan perut kenceng-
kenceng setiap hari

3. Riwayat Kesehatan Terdahulu


Pasien mengatakan tidak pernah menderita penyakit yang berbahaya
4.Riwayat Kesehatan Keluarga
Dalam keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit seperti ini dan menular

5.Riwayat Kesehatan Lingkungan


Klien mengatakan bahwa lingkungan sekitar rumahnya cukup bersih. Pasien rajin
membersihkan tempat tidur dan alat makan serta selalu memberikan pakaian yang bersih.

I. PEMERIKSAAN FISIK
1) Sistem Pernapasan
Anamnesa: Pasien tidak mengeluh

Hidung

Inspeksi : pernafasan cuping hidung( -)secret(-)

Palpasi : Tidak ada nyeri tekan

Mulut

Inspeksi : mukosa bibir kering

Sinus paranasalis

Inspeksi : tidak ada tanda-tanda adanya infeksi

Palpasi : tidak ada nyeri tekan

Leher

Inspeksi : simetris kanan kiri, terdapat otot bantu pernafasan(-)

Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran kelenjar Limfe

Area dada

Inspeksi : dada simetris, pola nafas efektif, pergerakan cepat dan dalam

Palpasi : nyeritekan (-)

Auskultasi : terdengar suara wheezing

2) Kardiovaskuler dan limfe


Anamnesa : Anamnesa : normal saat beraktivitas

Wajah

Inspeksi : pucat, konjungtiva merah muda

Leher
Inspeksi : tidak ada bendungan vena jugularis
Palpasi : irama denyutan arteri carotis communis normal
Dada
Inspeksi : dada terlihat simetris, pergerakan cepat
Palpasi : taktil fremitus kanan dan kiri simetris, retraksi dinding dada (+)
Perkusi : tidak ada tanda - tanda bunyi redup.
Auskultasi : bunyi jantung S1-S2 Tunggal

3) Sistem Persyarafan
Anamnesa: Tidak ada pusing

1. GCS 15 : E4 V5 M6
2. Pemeriksaan nervus
 Nervus I olfaktorius (pembau)
Klien bisa membedakan aroma saat diberi kopi.
 Nervus II opticus (penglihatan)
Bisa melihat benda yang jaraknya 35 cm dengan jelas.
 Nervus III oculomotorius
Tidak oedem pada kelopak mata
 Nervus IV toklearis
Ukuran pupil normal, tidak ada perdarahan pupil
 Nervus V trigeminus (sensasi kulit wajah)
Klien bisa membuka mulut, menggerakkan rahang ke kiri dan ke kanan
 Nervus VI abdusen
Bola mata simetris
 Nervus VII facialis
Klien dapat membedakan rasa asin dan manis, bentuk wajah simetris
 Nervus VIII auditorius/akustikus
Fungsi pendengaran baik
 Nervus IX glosoparingeal
Reflek menelan klien baik dan dapat membedakan rasa pahit
 Nervus X vagus
Uvula klien oedem terlihat ketika klien membuka mulut
 Nervus XI aksesorius
Klien tidak merasa kesulitan untuk mengangkat bahu dengan melawan tahanan
 Nervus XII hypoglosal/hipoglosum
Bentuk lidah simetris, klien mampu menjulurkan lidah dan menggerakkannya ke
segala arah.
4) Perkemihan dan eliminasi uri
Amamnesa :Tidak ada keluhan
Perempuan
Genetalia eksterna
Inspeksi : tidak ada oedem, tidak ada tanda - tanda infeksi.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan maupun benjolan
Kandung kemih
Inspeksi : tidak ada benjolan, dan pembesaran
Palpasi : kandung kemih penuh
Ginjal :
Inspeksi : tidak ada pembesaran daerah pinggang
Palpasi : tidak ada nyeri tekan.
Perkusi : tidak ada nyeri ketok.
5) Sistem pencernaan – eliminasi alvi
Anamnesa: Nafsu makan berkurang

Mulut

Inspeksi : mukosa bibir kering, gigi tidak ada plak dan karies. Tidak ada lesi.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada rongga mulut,

Lidah

Inspeksi : bentuk simetris, tidak ada tremor dan lesi.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan dan odem.

Abdomen

Inspeksi : tidak ada pembesaran abdomen, tidak ada luka bekas operasi.

Palpasi : tidak ada skibala.

Perkusi : tidak ada acietes.

Auskultasi: bising usus normal.

6) Sistem muskuloskeletel dan integumen.


Anamnesa :
Kulit : lembab dan dingin

5 5
Kekuatan otot
5 5
7) Sistem endokrin dan eksokrin
Anamnesa: Tidak ada keluhan pada pola eliminasi

Kepala

Inspeksi : Tidak terlihat moon face, tidak alophesia (botak), rambut tidak rontok

Leher

Inspeksi : tidak ada pembesaran kalenjar tiroid

Palpasi : tidak ada pembesaran kalenjar tiroid, dan tidak ada nyeri tekan.

Ekstremitas bawah

Palpasi: Akral dingin, tidak ada edema, tidak ada nyeri tekan,

8) Sistem reproduksi
Anamnesa : pasien mengatakan keluar flek sampai ganti pembalut 5 kali sehari
Perempuan
Payudara
Inspeksi : payudara lebih besar, areola mamae hiperpigmentasi,
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan

Axila

Inspeksi : Tidak ada benjolan, tidak ada massa, tidak ada lockea, vulva bersih
Palpasi : Tidak ada benjolan, tidak ada massa
Genetalia
Inspeksi : tidak ada edema, tidak ada varises
Palpasi : tidak ada nyeri tekan

9) Persepsi sensori
Anamnesa : tidak ada nyeri pada mata, tidak ada masalah pada penglihatan

Mata
Inspeksi : bentuk simetris, kornea normal, warana iris hitam, lensa normal jernih, sclera
putih,
Palpasi : tidak ada nyeri dan tidak ada pembengkakan kelopak mata
Penciuman-(hidung)
Palpasi : tidak ada pembengkakan dan tidak ada nyeri saat palpasi fosa kanina

Perkusi : tidak ada reaksi hebat pada sinus frontalis

Telinga

Tidak ada gangguan

4.3 Diagnosa Keperawatan

Diagnose yang diambil : nyeri akut berhubungan dengan kontraksi pada otot rahim

00132
Nyeri akut
NS.
__________________________________________________
DIAGNOSIS :
Domain : 12 Kenyamanan
(NANDA-I)
Kelas : 1 Kenyamanan fisik

Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan yang


muncul akibat kerusakan jaringan actual atau potensial atau yang
digambarkan sebagai kerusakan (International association for the
DEFINITION: study of pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas
ringan hinggga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau di
prediksi dan berlangsung < 6 bulan

 Bukti nyeri dengan menggunakan standart daftar periksa nyeri


untuk pasien yang tidak dapat mengungkapkannya
 Diaphoresis
DEFINING  Ekspresi wajah nyeri
CHARACTERI  Keluhan tentang intesitas menggunakan standart skala nyeri
STICS  Perubahan aktivitas
 Perubahan parameter fisiologis
 Sikap melindungi area nyeri
 Sikap tubuh melindungi

- Agens cedera biologis ( mis., infeksi, iskia, neoplasma)


RELATED
- Agens cedera fisik ( mis., abses, amputasi, luka bakar, trauma)
FACTORS:
- Agens cedera kimiawi ( mis., mustard, kapsaisin)
Subjective data entry Objective data entry

- pasien mengatakan nyeri pada - TD : 120/80 mmHg


perut bagian bawah - RR : 20x/menit
- perut terasa ,mules dan keluar - Nadi : 84x/menit
flek dan perut kenceng- kenceng - Suhu : 34,5o C
setiap hari - TB : 150 cm
- klien mengatakan sering - BB : 50 kg

SESSMENT
mengganti pembalut kurang - Skala nyeri : 6
AS

lebih 5 kali sehari karena flek - Wajah meringis


keluar dan merasa tidak nyaman

Ns. Diagnosis (Specify):


DIAGNOSI

Client Nyeri akut b.d kontraksi pada otot rahim


Diagnostic
S

Statement: Related to:


Agens cedera fisik
4.4 INTERVENSI

NOC NIC

OUTCOME INDIKATOR INTERVENSI AKTIVITAS

Kontrol nyeri Setelah Managemen nyeri 1. Lakukan pengkajian


dilakukan di area lokasi nyeri
Definisi: Definisi :
tindakan tindakan 1x24 2. Posisikan untuk
Pengurangan atau
pribadi untuk
jam meringankan nyeri
mengkontrol reduksi nyeri sampai
nyeri diharapkan 3. Mengatur suhu tubuh
pada tingkat
pasien dapat pasien
kenyamanan yang
4. Pemberian analgesik
dapat diterima oleh
1) Mengenali untuk mengurangi
pasien
kapan nyeri nyeri
terjadi (4)
2) Menggunaka
n obat
analgesik [3]
3) Melaporkan
perubahan
terhadap
gejala nyerii
pada
professional
kesehatan[4]
4.5 IMPLEMENTASI

Hari
NO DIAGNOSA TINDAKAN
Tgl/ Jam
Nyeri akut b.d 29 mei 2017 1. Melakukan pengkajian di area
kontraksi otot rahim (08.00)
lokasi nyeri
2. Memposisikan pasien untuk
meringankan nyeri
3. Mengatur suhu tubuh pasien
4. Membemberian analgesik
untuk mengurangi nyeri

4.6 EVALUASI

NO Diagnosa Tanggal / Catatan perkembangan paraf


jam
1 Nyeri akut b.d 29 mei 2017 S : Pasien masih mengeluhkan nyeri
kontraksi pada namun sudah lebih baik
otot rahim (08.00)
O : wajah sudah tidak meringis dan
suhu sudah normal

A :masalah masih belum teratasi

P : menambahkan intervensi baru


dan melanjutkan intervensi
sebelumnya