Anda di halaman 1dari 9

HUBUNGAN GENRE PADA TEKS ULASAN BUKU

Teks ulasan dibuka dengan orientasi (orientation) yang mendeskripsikan buku yang
diulas. Tafsiran isi (Interpretative recount) yang memaparkan isi buku. Kemudian evaluasi
(evaluation) yang menggambarkan penilaian. Dibagian akhir, teks ditutup dengan rangkuman
evaluasi (evaluative summation) yang merupakan penegasan ulang terhadap hasil evaluasi.
Genre adalah jenis teks. Genre didefinisikan luas dengan mengadopsi pendapat Martin,
sebagai “proses social” yang berorientasi kepada tujuan yang dicapai secara bertahap. Genre
merupakan proses social karena melalui genre atau teks anggota masyarakat berkomunikasi.
Genre berorientasi kepada tujuan karena orang menggunakan jenis teks tertentu untuk
melakukan sesuatu.

Genre dikatakan bertahap karena untuk mencapai tujuan nya, teks disusun dalam
struktur yang mengandung tahapan-tahapan. Tahapan-tahapan itu tidak lain adalah tahapan-
tahapan pada struktur teks. Melalui tahapan-tahapan itulah tujuan sosial atau fungsi sosial
teks dapat dicapai. Ulasan buku merupakan perwujudan dari proses social yang terjadi di
lingkungan budaya, dan teks akademik disusun dengan struktur teks khusus melalui tahapan-
tahapan tertentu untuk merealisasikan tujuan sosial-akademik teks tersebut.

Genre dibagi menjadi 2 yaitu : genre makro dan genre mikro. Genre makro adalah
genre yang secara global menjadi nama jenis teks yang dimaksud,yang di dalamnya masih
terdapa sejumlah subgenre yang disebut genre mikro. Beberapa contoh genre makro antara
lain iklan, berita, editorial, artikel jurnal, brosur, ulasan buku (review),dan buku. Genre mikro
adalah deskripsi, prosedur, narasi, eksplanasi, eksposisi, dan diskusi.

ASPEK PENULISAN TEKS ULASAN BUKU

ASPEK KRITERIA SKOR

Lengkap (judul, data publikasi, 25-30


foto cover, garis besar isi buku,
ISI
kelebihan dan kekurangan,
(15-30) rekomendasi) dan
dideskripsikan secara jelas.
Kurang lengkap (ada beberapa 21 - 24
bagian yang tidak ditulis) dan
dideskripsikan secara kurang
jelas

Tidak lengkap (banyak bagian 15-20


yang tidak ditulis) dan
dideskripsikan
secara tidak jelas

Struktur atau sistematika urutan 16-20


dan penempatan bagian-
STRUKTUR
bagiannya benar, tidak ada yang
(10-20) letaknya terbalik

Struktur atau sistematika urutan 13-15


dan penempatan bagian-
bagiannya ada yang tidak
tepat, ada yang letaknya
terbalik

Struktur atau sistematika urutan 10-12


dan penempatan bagian-
bagiannya salah
total, banyak bagian yang
letaknya terbalik

BAHASA Menggunakan bahasa baku, 25-30


kalimat efektif dan
(15-30)
komunikatif, diksi variatif,
tepat, dan menarik, tidak ada
kalimat yang ambigu,

Bahasa kurang baku, ada 21 - 24


kalimat yang tidak efektif dan
komunikatif, diksi kurang
variatif, tepat , dan
menarik, ada kalimat yang
ambigu,

Bahasa tidak baku, banyak 15-20


kalimat yang tidak efektif dan
tidak komunikatif, tidak
berdiksi, banyak kalimat yang
ambigu,

FORMAT Tidak ada kesalahan ejaan sama 17-20


DAN sekali, tidak ada salah ketik
pemilihan jenis dan ukuran
MEKANIK
huruf sesuai, margin sangat
(10-20) pas, format pengetikan benar
dan konsisten

Ada beberapa kesalahan 13-16


ejaan, ada beberapa salah ketik
, penentuan jenis, ukuran huruf,
dan margin pas, format
pengetikan tidak jelas

Mengabaikan ejaan, banyak 10 -12


sekali salah ketik, penentuan
jenis, ukuran huruf, dan margin
semaunya sendiri, asal ketik
tanpa menggunakan format

JUMLAH 100

MENGANALISIS FORMULASI BAHASA EVALUASI


Pada saat Anda menelusuri setiap tahapan dalam teks ulasan buku, Anda sudah
menaruh perhatian pada formulasi bahasa. Kali ini, Anda hanya akan menganalisis formulasi
bahasa pada Tahapan Evaluasi. Kenyataannya adalah bahwa unsur penilaian atau evaluasi
dalam ulasan buku terletak pada Tahapan Evaluasi. Namun demikian, hal ini tidak berarti
bahwa penilaian harus selalu berada di tahapan tersebut. Penilaian dapat muncul di tahapan-
tahapan mana pun, kecuali Tahapan Identitas. Mengingat betapa pentingnya penilaian pada
teks ulasan buku, Anda perlu mempertanyakan formulasi bahasa yang digunakan dalam
penilaian.

Menilai atau mengevaluasi adalah menyatakan pandangan, sikap, dan posisi terhadap
sesuatu yang dinilai. Pandangan, sikap, dan posisi penilai sulit didefinisikan secara terpisah-
pisah, tetapi pada konteks penilaian, sebagaimana dapat disimak pada buku The Language of
Evaluation (Martin & White, 2005), ketiga hal itu meliputi gradasi antara positif dan negatif,
baik dan buruk, objektif dan subjektif, setuju dan tidak setuju, memihak dan tidak memihak,
menghargai dan tidak menghargai, serta kadar emosi yang terungkap di dalam teks ulasan.
Pandangan, sikap, dan posisi penilai yang menunjukkan gradasi itu terlihat terutama pada
penggunaan leksis nomina, verba, adjektiva , dan adverbia (khususnya adverbia cara). Atau,
pada tataran kalimat, hal itu terlihat pada polaritas: kalimat positif atau kalimat negatif.

MANFAAT TEKS ULASAN BUKU

Manfaat dari teks ulasan buku antara lain :

1. Membantu pembaca mengetahui gambaran dan kritikan terhadap suatu karya

2. Mengetahui kelebihan/ keunggulan dan kelemahan/ kekurangan karya yang diresensi.

3. Mengetahui latar belakang dan alasan suatu karya diterbitkan.

4. Memberikan informasi yang komprehensif tentang suatu karya.

5. Melatih seseorang untuk berfikir kritis dari suatu karya.

Selain itu ada pula manfaat lain dari teks ulasan buku, antara lain :

1. Bahan Pertimbangan

Memberikan gambaran kepada pembaca mengenai suatu karya dan mempengaruhi mereka
atas karya tersebut.
2. Sarana Promosi Buku

Buku yang diulas biasanya adalah buku baru yang belum pernah diulas. Sehingga dengan
melakukan hal ini bisa menjadi salah satu bentuk promosi buku sehingga terkenal dan banyak
terjual.

3. Pengembangan Kreativitas

Seperti yang kita ketahui bahwa semakin sering menulis semakin baik tingkat keahlian kita,
sehingga dengan rajin meresensi secara tidak langsung bisa mengembangkan kreativitas
menulis.

4. Nilai Ekonomis

Dan hal yang mungkin tidak kamu bayangkan adalah dengan mengulas buku kita bisa
mendapatkan imbalan berupa uang atau lainnya.

Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia di Abad 7

Ejaan bahasa Indonesia sudah digunakan semenjak kerajaan Sriwijaya berdiri. Hal ini
dapat dibuktikan dengan ditemukannya prasasti yang bertulisan bahasa Melayu kuno dengan
menggunakan huruf Pallawa yang sudah dipengaruhi bahasa Sansekerta.

Bahasa Indonesia yang awalnya berakar dari bahasa Melayu sudah memiliki aksara
sejak beratus tahun yang lalu, yaitu aksara Arab Melayu. Di Nusantara ini, bukan saja aksara
Arab Melayu yang kita kenal. Kita juga mengenal aksara Jawa, aksara Sunda, aksara Bugis,
aksara Bali, aksara Lampung, aksara Kerinci, aksara Rejang, dan aksara Batak. Aksara itu
masing-masing memiliki nama, seperti aksara Kaganga dan aksara Rencong (incung).

Perkembangan Ejaan Bahasa Indonesia


A. Ejaan Van Ophuysen
Ejaan Van Ophuysen ditetapkan pada tahun 1901 dan diterbitkan dalam sebuah buku
Kitab Logat Melajoe. Sejak ditetapkannya itu, Ejaan Van Ophuysen pun dinyatakan berlaku.
Sesuai dengan namanya ejaan itu disusun oleh Ch.A.Van Ophuysen, yang dibantu oleh
Engku Nawawi gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Sebelum Ejaan
Van Ophuysen disusun para penulis pada umumnya mempunyai aturan sendiri-sendiri dalam
menuliskan konsonan, vokal, kata, kalimat, dan tanda baca. Oleh karena itu, sistem ejaan
yang digunakan pada waktu itu sangat beragam. Terbitnya Ejaan Van Ophuysen sedikit
banyak mengurangi kekacauan ejaan yang terjadi pada masa itu.
Beberapa hal yang cukup menonjol dalam Ejaan Van Ophuysen antara lain sebagai berikut :
a. Huruf y ditulis dengan j
b. Huruf u ditulis dengan oe
c. Huruf k pada akhir kata atau suku kata ditulis dengan tanda koma diatas
d. Huruf j ditulis dengan dj
e. Huruf c ditulis dengan tj
f. Gabungan konsonan kh ditulis dengan ch.

B. Ejaan Republik( Ejaan soewandi )


Ejaan Republik ialah ejaan baru yang disusun oleh Mr. Soewandi. Penyusunan ejaan
baru dimaksudkan untuk menyempurnakan ejaan yang berlaku sebelumnya yaitu Ejaan Van
Ophuysen juga untuk menyederhanakan sistem ejaan bahasa Indonesia. Pada tanggal 19
Maret 1947, setelah selesai disusun ejaan baru itu diresmikan dan ditetapkan berdasarkan
surat keputusan menteri pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor
264/Bhg.A, tanggal 19 Maret 1947. ejaan baru itu diresmikan dengan nama Ejaan Republik.
Ejaan Repubik lazim disebut Ejaan Soewandi karena nama itu disesuaikan dengan
nama orang yang memprakarsainya. Seperti kita ketahui, Soewandi merupakan nama Menteri
Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan ketika ejaan itu disusun oleh karena itu, kiranya
wajar jika ejaan yang disusunnya juga dikenal sebagai Ejaan Soewandi.
Beberapa perbedaan yang tampak mencolok dalam kedua ejaan iu dapat diperhatikan
dalam uraian di bawah ini :
1. Gabungan huruf oe dalam Ejaan Van Ophuysen diganti dengan u dalam Ejaan
Republik
2. Bunyi hamzah (‘) dalam Ejaan Van Ophuysen diganti dengan k dalam Ejaan Republik
3. Kata ulang boleh ditandai dengan angka dua dalam Ejaan Republik
4. Huruf e taling dan pepet dalam Ejaan Republik tidak dibedakan
5. Tanda trema (“) dalam Ejaan Van Ophuysen dihilangkan dalam Ejaan Republik.

Meskipun dimaksudkan untuk menyempurnakan ejaan yang berlaku seelumnya,


Ejaan Republik ternyata masih memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan itu antara lain
karena huruf-huruf seperti F,V,X,Y,Z,SJ(Sy) dan Ch(Kh) yang lazim digunakan untuk
menulis kata-kata asing tidak dibicarakan dalam ejaan baru itu. Padahal, huruf-huruf tersebut
pada masa itu masih merupakan permasalahan dalam bahasa Indonesia.
C. Ejaan Pembaharuan
Ejaan pembaharuan merupakan suatu yang direncanakan untuk memperbaharui Ejaan
Republik.Di bentuk pada tanggal 19 juli 1956.Konsep Ejaan pembaharuan dikenal dengan
ejaan Prijono-Katoppo,sebuah nama yang di ambil dari dua nama tokoh yang pernah
mengetuai panitia ejaan itu. Awalnya profesor Prijono yang mengetuai panitia itu, lalu
menyerahkan kepemimpinannya kepada E.Katoppo karena masa itu Profesor Prijono di
angkat menjadi Menteri Pendidikan,Pengajaran dan Kebudayaan sehingga tidak sempat lagi
melanjutkan tugasnya sebagai ketua panitia ejaan kemudian dilanjutkan oleh E. Katoppo.
Konsep Ejaan Pembaharuan yang menarik ialah di sederhanakannya huruf-huruf yang
berupa gabungan konsonan dengan huruf huruf tunggal.Atau bersifat fonemis artinya setiap
fonem dalam ejaan itu di usahakan hanya di lambangkan dengan satu huruf.

Tampak seperti contoh di bawah ini :

1. Gabungan konsonan dj di ubah menjadi j


2. Gabungan konsonan tj di ubah menjadi ts
3. Gabungan konsonan ng di ubah menjadi ŋ
4. Gabungan konsonan nj di ubah menjadi ñ
5. Gabungan konsonan sj di ubah menjadi š
D. Ejaan Melindo

Melindo ialah akronim dari Melayu-Indonesia. Merupakan ejaan yang di susun atas
kerja sama antara pihak Indonesia Slamet Muljana dan pihak Persekutuan Tanah Melayu
(malaysia) di pimpin oleh Syed Nasir bin Ismail. Yang tergabung dalam Panitia Kerja Sama
Bahasa Melayu-Bahasa Indonesia. Tahun 1959 berhasil merumuskan ejaan yaitu ejaan
Melindo.
Awalnya Ejaan Melindo di maksudkan untuk menyeragamkan ejaan yang di gunakan di
kedua negara tersebut.Namun karena pada masa itu terjadi ketegangan politik antara
Indonesia dan malaysia, Ejaan itupun akhirnya gagal diresmikan. Sebagai akibatnya
pemberlakuaan ejaan itu tidak pernah diumumkan.

Dalam ejaan melindo tidak jauh beda dengan ejaan pembaharuan,karena ejaan itu
sama-sama berusaha menyederhanakan ejaan dengan menggunakan sistem fonemis.
Hal yang berbeda ialah dalam ejaan Melindo gabungan konsonan tj, seperti pada kata tjinta
Di ganti dengan c menjadi cinta.Juga gabungan konsonan nj,seperti pada kata njonja di ganti
dengan huruf nc yang sama sekali masih baru.

E. Ejaan Baru (Ejaan LBK)

Merupakan lanjutan dari rintisan panitia ejaan melindo.Pelaksananya pun terdiri dari
panitia Ejaan LBK (Lembaga bahasa dan Kasusaatraan,sekarang bernama Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa) juga dari panitia Ejaan bahasa Melayu yang berhasil
merumuskan ejaan yang disebut Ejaan Baru.Namun lebih di kenal dangan ejaan LBK.
Konsep Ejaan ini di susun berdasarkan beberapa pertimbangan antara lain:

a. Pertimbangan Teknis yaitu pertimbangan yang menghendaki agar setiap fonem di


lambangkan dengan satu huruf.
b. Pertimbangan Praktis yaitu pertimbangan yang menghendaki agar perlambangan
secara teknis itu di sesuaikan dengan keperluan praktis seperti ke adaan percetakan
dan mesin tulis.
c. Pertimbangan Ilmiah yaitu Pertimbangan yang menghendaki agar perlambangan itu
mencerminkan studi yang mendalam mengenai kenyataan bahasa dan masyarakat
pemakainya.
F. Ejaan Bahasa Yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan Yang disempurnakan (EYD) diresmikan oleh Presiden Republik indonesia


Soeharto pada tanggal 16 Agustus 1972. Merupakan lanjutan dari ejaan baru atau ejaan LBK.

Pedoman ejaan bahasa Indonesia di sebut pedoman umum,karena dasarnya hanya


mengatur hal-hal yang bersifat umum.Namun ada hal-hal lain yang bersifat khusus,yang
belum di atur dalam pedoman itu,yang di sesuaikan dengan bertitik tolak pada pedoman
umum itu.
Ejaan Yang Disempurnakan merupakan hasil penyempurnaan dari beberapa ejaan yang di
susun sebelumnya,terutama ejaan republik yang di padukan pula dengan konsep konsep ejaan
pembaharuan,ejaan melindo dan ejaan baru.

Hal-hal yang terdapat dalam EYD:

1. Perubahan huruf
2. Huruf f, v dan z yang merupakan unsur serapan dari bahasa asing diresmikan
pemakaiannya.
3. Huruf q dan x yang lazim di gunakan dalam bidang ilmu pengetahuan tetap di
gunakan, misalnya pada kata furqan dan xenon.
4. Penulisan di- sebagai awalan di bedakan dengan di yang merupakan kata depan.
Sebagai awalan, di- di tulis serangkai dengan unsur yang menyertainya, sedangkan di
sebagai kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
5. Kata Ulang ditulis penuh dengan mengulang unsur-unsurnya.angka dua tidak
digunakan sebagai penanda perulangan.

Hal-hal yang di atur dalam EYD:

a. Pemakaian huruf, termasuk huruf kapital dan huruf miring.


b. Penulisan kata
c. Penulisan tanda baca
d. Penulisan singkatan dan akronim
e. Prnulisan angka dan lambang bilangan
f. Penulisan unsur serapan.

Salinan Permendikbud RI Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan


Bahasa Indonesia

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. PP tersebut ditetapkan
di Jakarta pada tanggal 26 November 2015 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia ( .Anies Baswedan ) dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 30
November 2015 oleh Direktur Jenderal Peraturan Perundang-Undangan Kementerian Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Widodo Ekatjahjana).

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)Edisi IV (keempat) Badan


Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud

Adapun Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun
2015 Tentan