Anda di halaman 1dari 5

A.

KALAJENGKING
1. Struktur kimia racun kalajengking

Sengatan kalajengking yang besar seperti Buthus dan Centruides berbahaya.


Racun kalajengking berupa toksalbumin yang mengandung neurotoksin dan
hemotoksin. Pada tempat sengatan terasa sangat nyeri dan pedih yang menjalar
kebagian sekitarnya. Dapat timbul keracunan sistemik yang berakhir dengan
kematian karena syok dan paralisis pernafasan. Hemotoksin dapat menimbulkan
perdarahan dan nekrosis. Neurotoksin terdiri dari protein kecil dan juga natrium dan
kalium, yang berguna untuk mengganggu transmisi saraf sang korban. Kalajengking
menggunakan bisanya untuk membunuh atau melumpuhkan mangsa mereka agar
mudah dimakan.

Paraquat structure and redox cycling mechanism. (A) The paraquat dication
(PQ2+) undergoes univalent reduction to generate the paraquat radical (PQ·+), which
then reacts rapidly with O2 to produce superoxide (O·2−). (B) Structure of the
neurotoxin 1-methyl-4-phenylpyridinium (MPP+).

2. AngkaKejadian

Di Amerika Serikat diketahui hanya jenis yang dianggap berbahaya bagi


manusia, yaitu Centruroidesexilicauda dan sekitar 25 jenis lain diketahui
menghasilkan racun berpotensi merugikan manusia, tersebar diseluruh dunia.
Adapun kalajengking berbahaya di Afrika Utara dan Timur Tengah adalah genus
Androctonus, Buthus, Hottentotta, Leiurus), Amerika Selatan (Tityus), India
(Mesobuthus), and Mexico (Centruroides). Dibeberapa daerah ini, sengatan
kalajengking dapat menyebabkan kematian, tetapi data realistis tidak tersedia.
Beberapa studi menduga angka kematian pada kasus-kasus di rumah sakit sekitar 4%
pada anak-anak yang lebih rentan dari pada yang lebih tua. Bila terjadi kematian
akibat sengatan ini umumnya disebabkan oleh kegagalan jantung dan pernafasan
beberapa jam setelah kematian. Selama tahun 1980 di Meksiko terjadi kematian rata-
rata 800 orang per tahun. Namun demikian, dalam 20 tahun terakhir di Amerika
Serikat tidak ada laporan kematian akibat sengatan kalajengking, demikian pula di
Indonesia tidak pernah terdengar.

3. Mekanisme Aksi Zat Toksik

Meskipun terdiri dari sejumlah besar spesies, hanya beberapa kalajengking


dianggap sebagai benar-benar berbahaya dan di antara enam keluarga, Bothriuridae,
Scorpionidae, Buthidae, Vejovidae, Chlaerilidae dan Chactidae, hanya kalajengking
Buthidae menghasilkan sekresi neurotoksik. Komposisi kimia dari bisa kalajengking ini
tidak serumit yang dari bisa ular. Mereka telah ditemukan mengandung
mucopolysaccharides, sejumlah kecil hyaluronidase dan fosfolipase, rendah molekul-
berat molekul, seperti serotonin atau histamin, inhibitiors protease dan releasers
histamin, dan neurotoksin. Itu efek neurotoksik disebabkan oleh racun kalajengking
hampir sepenuhnya menirukan oleh racun konstitutif murni berarti bahwa dari sudut
pandang neurotoksin farmakologis merupakan komponen utama dari venoms
kalajengking.

4. Tanda dan Gejala Keracunan


- Timbul rasa nyeri
- TerjadiPembengkakan
- Parasthesia ringan
- Daerah yang disengat menjadi sensitif terhadap sentuhan
- Takikardia biasanya terlihat dalam waktu 45 menit serta hipertensi
- Pernapasan dan jantung tingkat meningkat
- Fasikulasi, kelemahan umum, ataksia atau kelemahan motorik
- Opistotonus
- Gangguan pernapasan
- Air liur berlebih
- Memungkinkan terjadinya kejang
- Asimtomatik
- Tampak tegang dan cemas
- Kesulitan fokus dan menelan
- Ataksia dan inkoordinasi otot

5. Efek Toksik Jangka Panjang


Efek racun kalajengking lebih jelas pada sistem jantung. Racun kalajengking
menyebabkan peningkatan LDH dan meningkatnya enzim CK-MB. Perubahan EKG di
gelombang T (biphastic) dan perubahan segmen-ST dan listrik menunjukkan
kerusakan miokardium, ancillary, arrythmyas, dan cacat konduksi. Racun kalajengking
termasuk saluran Pottasium memblokir peptida. Racun kalajengking penyebab
kematian (Leiurus quinquestriatus) meliputi chlorotoxin, menghalangi konduktansi
kecil pada saluran klorida.

6. Sasaran Terapi
o Jika korban mengalami edema paru berikan aminofilin dan digoxin
o Antidot penting dalam menetralisir racun
o Korban yang mengalami kerusakan parah, kejang dan gelisah berikan infus
mediazolam
o Korban yang mengalami hipertensi diberikan ancyolytics
7. Antidot yang digunakan
 Polyvalent Scorpion Antivenom - Equine (Registered by the Ministry of
Health (MOH) in Saudi Arabia under registration no. 98/308/1)
 This is a refined and highly purified preparation containing the F (ab) 2
fraction of the immunoglobulin raised against scorpion venoms. The
antivenom is prepared by hyper immunizing healthy Arabian horses using
gradually increasing doses of local scorpion venoms and immunomodulators.
 The polyvalent scorpion antivenoms are highly specific in neutralizing the
venoms of the yellow scorpions (leiurusquinquestriatus), black scorpion
(androctonuscrassicauda) and variety of other local scorpions. The
antivenom has also a wide spectrum of activity and can neutralize the
venoms of many of the Middle East and North African scorpions including
buthusarenicola, butusmimax, buthusoccitanus,
leiurusquinquestriatushebreus and A. amoreuxi.
8. Strategi dan sistem tata laksana
1. Korban ditenangkan
2. Kompres dengan es untuk menghilangkan rasa sakit
3. Berikan antihistamin seperti diphenydramine dan analgesik
4. Berikan antidot
Casarett and Doull’s. 2008. Toxicology The Basic Science of Poisons Seventh Edition. U.S.A
: The McGraw-Hill Companies, Inc.

Jean-Philippe Chippaux. 2012. Emerging options for the management of scorpion stings.
UMR 216 (Institute of Research for Development and University Paris Descartes,
Sorbonne Paris Cité), Cotonou, Bénin, France