Anda di halaman 1dari 22

KEMOTERAPI (SITOSTATIK)

OLEH :
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kanker merupakan penyakit yang ditandai dengan terjadinya pembentukan jaringan baru
yang abnormal dan bersifat ganas serta tidak terkendali (Zwavelling, A 1985) Kanker dapat
disebabkan oleh faktor endogen maupun eksogen. Faktor endogen dapat berupa faktor genetik,
penyakit, dan hormon. Sedangkan faktor eksogen dapat berasal dari makanan, virus, senyawa-
senyawa karsinogenik seperti polusi udara, zat warna, logam-logam karsinogen, dan banyak
penyebab lainnya seperti siklofosfamida (Mosmann, T 1993; Hanahan, D 2000).

Bila pada suatu tempat di badan kita terdapat pertumbuhan sel-sel yang berlebihan, maka
akan terjadi suatu benjolan atau Tumor. Tumor ini dapat bersifat jinak maupun ganas. Tumor
yang ganas inilah yang disebut dengan Kanker. Tumor Ganas mempunyai sifat yang khas, yaitu
dapat menyebar luas ke bagian lain di seluruh tubuh untuk berkembang menjadi Tumor yang
baru. Penyebaran ini disebut Metastase. Kanker mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.
Ada yang tumbuh secara cepat, ada yang tumbuh tidak terlalu cepat.
Terdapat kurang lebih 130 jenis penyakit Kanker, yang mempengaruhi kondisi tubuh kita
dengan berbagai macam cara dan membutuhkan penanganan yang berbeda-beda. Tetapi semua
jenis Kanker itu memiliki kesamaan: terdiri atas sel-sel yang membelah dengan cepat dan
tumbuh tak terkontrol. Fungsi utama obat-obat Kemoterapi (Ing. Chemotherapy) adalah
mengenali dan menghancurkan sel-sel seperti ini.
Kemoterapi telah digunakan sejak tahun 1950-an. Biasa diberikan sebelum atau sesudah
pembedahan. Tujuannya adalah membasmi seluruh sel-sel Kanker sampai ke akar-akarnya,
sampai ke lokasi yang tidak terjangkau pisau bedah. Paling tidak untuk mengontrol sel-sel
Kanker agar tidak menyebar lebih luas. Pengobatan Kanker tergantung pada jenis atau tipe
Kanker yang diderita dan dari mana asal Kanker tersebut. Umur, kondisi kesehatan umum pasien
serta system pengobatan juga mempengaruhi proses pengobatan kanker.
Pada kasus Kanker Pengobatan utama adalah melalui Pembedahan atau Operasi, Kemoterapi
atau dengan cara pemberian Obat-obatan dan Radioterapi atau Penggunaan Sinar Radiasi. Pada
kenyataannya Secara umum biasanya digunakan lebih dari satu macam cara pengobatan di atas,
misalnya Pembedahan yang diikuti oleh Kemoterapi atau Radioterapi, bahkan kadang
pengobatan digunakan dengan 3 kombinasi (Pembedahan, Kemotarapi dan Radioterapi). Pada
dasarnya Tujuan utama dari Pembedahan adalah mengangkat Kanker secara keseluruhan karena
Kanker hanya dapat sembuh apabila belum menjalar ketempat lain. Sedangkan Kemoterapi dan
Radiasi tidak bukan dan tidak lain bertujuan untuk membunuh sel-sel Kanker atau menghentikan
pertumbuhan sel-sel Kanker yang masih tertinggal

1.2 Rumusan Masalah

1. Jelaskan defenisi dari kemoterapi?


2. Apakah Tujuan dan manfaat dari pemberian kemoterapi?
3. Apa saja jenis obat anti kanker dan kemoterapi kanker ?
4. Bagaimana mekanisme kerja obat anti kanker dan kemoterapi kanker ?
5. Bagaimana indikasi dari obat anti kanker dan kemoterpai kanker ?

6. Bagaimanakah bentuk sediaan dan dosis dari obat kemoterapi?


7. Apakah efek samping yang dapat timbul dari pengobatan kemoterapi dan cara
mengatasinya?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui defenisi dari kemoterapi.


2. Untuk mengetahui Tujuan dan manfaat dari pemberian kemoterapi.
3. Untuk mengetahui jenis obat anti kanker dan kemoterapi kanker.
4. Untuk mengetahui mekanisme kerja obat anti kanker dan kemoterapi kanker
5. Untuk mengetahui indikasi dari obat anti kanker dan kemoterapi
6. Untuk mengetahui bentuk sediaan dan dosis dari obat kemoterapi
7. Untuk mengetahui efek samping yang dapat timbul dari pengobatan kemoterapi dan cara
mengatasinya.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Defenisi Kemoterapi


Kemoterapi adalah proses pengobatan dengan menggunakan obat-obatan yang bertujuan
untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel-sel Kanker. Kemoterapi adalah upaya
untuk membunuh sel-sel kanker dengan mengganggu fungsi reproduksi sel. Kemoterapi
merupakan cara pengobatan kanker dengan jalan memberikan zat/obat yang mempunyai khasiat
membunuh sel kanker.
Kemoterapi bermanfaat untuk menurunkan ukuran kanker sebelum operasi, merusak
semua sel-sel kanker yang tertinggal setelah operasi, dan mengobati beberapa macam kanker
darah. Kemoterapi Merupakan bentuk pengobatan kanker dengan menggunakan obat sitostatika
yaitu suatu zat-zat yang dapat menghambat proliferasi sel-sel kanker.

2.2 Tujuan Dan Manfaat Dari Pemberian Kemoterapi


Tujuan pemberian kemoterapi
1. Pengobatan.
2. Mengurangi massa tumor selain pembedahan atau radiasi.
3. Meningkatkan kelangsungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup.
4. Mengurangi komplikasi akibat metastase.
Manfaat Kemoterapi
Manfaat Kemoterapi antara lain adalah sebagai berikut:
1. Pengobatan
Beberapa jenis kanker dapat disembuhkan secara tuntas dengan satu jenis Kemoterapi atau
beberapa jenis Kemoterapi.

2. Kontrol
Kemoterapi ada yang bertujuan untuk menghambat perkembangan Kanker agar tidak bertambah
besar atau menyebar ke jaringan lain.
3. Mengurangi Gejala
Bila kemoterapi tidak dapat menghilangkan Kanker, maka Kemoterapi yang diberikan bertujuan
untuk mengurangi gejala yang timbul pada penderita, seperti meringankan rasa sakit dan
memberi perasaan lebih baik serta memperkecil ukuran Kanker pada daerah yang diserang.

2.3 Jenis Obat Anti Kanker Dan Kemoterapi Kanker


2.3.1 Golongan Alkilator
Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan alkilator yaitu :
1. Siklofosfamid
 Sediaan : Siklofosfamid tersedia dalam bentuk kristal 100, 200, 500 mg dan 1,2 gram untuk
suntikan, dan tablet 25 dan 50 gram untuk pemberian per oral.
 Indikasi : Leukemia limfositik Kronik, Penyakit Hodgkin, Limfoma non Hodgkin, Mieloma
multiple, Neuro Blastoma, Tumor Payudara, ovarium, paru, Cerviks, Testis, Jaringan Lunak atau
tumor Wilm.
 Mekanisme kerja : Siklofosfamid merupakan pro drug yang dalam tubuh mengalami konversi
oleh enzim sitokrom P-450 menjadi 4-hidroksisiklofosfamid dan aldofosfamid yang merupakan
obat aktif. Aldofosfamid selanjutnya mengalami perubahan non enzimatik menjadi fosforamid
dan akrolein. Efek siklofosfamid dipengaruhi oleh penghambat atau perangsang enzim
metabolismenya. Sebaliknya, siklofosfamid sendiri merupakan perangsang enzim mikrosom,
sehingga dapat mempengaruhi aktivitas obat lain.

2. Klorambusil
 Sediaan : Klorambusil tersedia sebagai tablet 2 mg. Untuk leukemia limfositik kronik, limfoma
hodgkin dan non-hodgkin diberikan 1-3 mg/m2/hari sebgai dosis tunggal (pada penyakit hodgkin
mungkin diperlukan dosis 0,2 mg/kg berat badan, sedangkan pada limfoma lain cukup 0,1 mg/kg
berat badan).
 Indikasi : Leukimia limfositik Kronik, Penyakit Hodgkin, dan limfoma non Hodgkin,
Makroglonbulinemia primer.
 Mekanisme kerja : Klorambusil (Leukeran) merupakan mustar nitrogen yang kerjanya paling
lambat dan paling tidak toksik. Obat ini berguna untuk pengobatan paliatif leukemia limfositik
kronik dn penyakin hodgkin (stadium III dan IV), limfoma non-hodgkin, mieloma multipel
makroglobulinemia primer (Waldenstrom), dan dalam kombinasi dengan metotreksat atau
daktinomisin pada karsinoma testis dan ovarium.
3. Prokarbazin
 Sediaan : Prokarbazin kapsul berisi 50 mg zat aktif. Dosis oral pada orang dewasa : 100 mg/m2
sehari sebagai dosis tunggal atau terbagi selama minggu pertama, diikuti pemberian 150-200
mg/m2 sehari selama 3 minggu berikutnya, kemudian dikurangi menjadi 100 mg/m2 sehari
sampai hitung leukosit dibawah 4000/m2 atau respons maksimal dicapai. Dosis harus dikurangi
pada pasien dengan gangguan hati, ginjal dan sumsum tulang.
 Indikasi : Limfoma Hodgkin.
 Mekanisme kerja : berdasarkan alkilasis asam nukleat, Prokarbazin bersifat non spesifik
terhadap siklus sel. Indikasi primernya ialah untuk pengobatan penyakit hodgkin stadium IIIB
dan IV, terutama dalam kombinasi dengan mekloretamin, vinkristin dan prednison (regimen
MOPP).
4. Karboplatin
 Sediaan : Serbuk injeksi 50 mg, 150 mg, 450 mg.
 Indikasi : Kanker ovarium lanjut.
 Mekanisme kerja : Obat ini membunuh sel pada semua tingkat siklus, menghambat biosintesis
DNA dan mengikat DNA melalui ikatan silang antar untai. Titik ikat utama adalah N7 guanin,
namun juga terjadi interaksi kovalen dengan adenin dan sitosin.

2.3.2 Golongan Antimetabolit


Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan antimetabolit yaitu :
1. 5-fluorourasil (5-FU)
 Sediaan : Obat ini tersedia sebagai larutan 50 mg/mL dalam ampul 10 mL untuk IV.
 Indikasi : Kanker payudara, kolon, esofagus, leher dan kepala, Leukimia limfositik dan
mielositik akut, Limfoma non-Hodgkin.
 Target enzim untuk 5-FU ini adalah timidilat sintetase. Perbedaan respon ini berkaitan erat
dengan adanya polimorfisme gen yang bertanggungjawab terhadap ekspresi enzim timidilat
sintetase (TS). Enzim ini sangat penting dalam sintesis DNA yaitu merubah deoksiuridilat
menjadi deoksitimidilat. Diketahui bahwa sekuen promoter dari gen timidilat sintetase bervariasi
pada setiap individu. Ekspresi yang rendah dari mRNA TS berhubungan dengan meningkatnya
kemungkinan sembuh dari penderita kanker yang diobati dengan 5-FU.
2. Gemsitabin
 Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk larutan infus 1-1,2 g/m2.
 Indikasi : Kanker paru, pankreas dan ovarium.
 Mekanisme kerja : Sebelum menjadi bahan aktif, gemsitabin mengalami fosforilasi oleh enzim
deoksisitidin kinase dan kemudian oleh nukleosida kinase menjadi nukleotida di- dan trifosfat
yang dapat menghambat sintesis DNA. Gemsitabin difosfat dapat menghambat ribonukleotida
reduktase sehingga menurunkan kadar deoksiribonukleotida trifosfat yang penting untuk sintesis
DNA.
3. 6-Merkaptopurin
 Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 50 mg.
 Indikasi : Leukimia limfositik akut dan kronik, leukemia mieloblastik akut dan kronik,
kariokarsinoma.
 Mekanisme kerja : Merkaptopurin dimetabolisme oleh hipoxantin-guanin fosforibosil
transferase (HGPRT) menjadi bentuk nukleotida (asam-6-tioinosinat) yang menghambat enzim
interkonversi nukleotida purin. Sejumlah asam tioguanilat dan 6-metilmerkaptopurin ribotida
(MMPR) juga dibentuk dari 6-merkaptopurin. Metabolit ini juga membantu kerja merkaptopurin.
Metabolisme asam nukleat purin menghambat proliferasi sel limfoid pada stimulasi antigenik.
4. Methotrexat
 Sediaan : Tablet 2,5 mg, vial 5 mg/2ml, vial 50 mg/2ml, ampul 5 mg/ml, vial 50 mg/5ml.
 Indikasi : Leukimia limfositik akut, kariokarsinoma, kanker payudara, leher dan kepala, paru,
buli-buli, Sarkoma osteogenik.
 Mekanisme kerja : Metotreksat adalah antimetabolit folat yang menginhibisi sintesis DNA.
Metotreksat berikatan dengan dihidrofolat reduktase, menghambat pembentukan reduksi folat
dan timidilat sintetase, menghasilkan inhibisi purin dan sintesis asam timidilat. Metotreksat
bersifat spesifik untuk fase S pada siklus sel. Mekanisme kerja metotreksat dalam artritis tidak
diketahui, tapi mungkin mempengaruhi fungsi imun. Dalam psoriasis, metotreksat diduga
mempunyai kerja mempercepat proliferasi sel epitel kulit.
5. Sitarabin
 Sediaan : Vial 100 mg/ml, dan Vial 1 g/10 ml.
 Indikasi : Termasuk zat paling aktif untuk leukemia, juga untuk limphoma, leukemia meningeal,
dan limphoma meningeal. Sedikit digunakan untuk tumor solid.
 Mekanisme kerja : Inhibisi DNA sintesis. Sitosin memasuki sel melalui proses carrier dan harus
mengalami perubahan menjadi senyawa aktifnya : arasitidin trifosfat. Sitosin adalah analog purin
dan bergabung ke dalam DNA, sehingga cara kerja utamanya adalah inhibisi DNA polimerase
yang mengakibatkan penurunan sintesis dan perbaikan DNA. Tingkat toksisitasnya mempunyai
korelasi linear dengan masuknya sitosin ke dalam DNA, bergabungnya DNA dengan sitosin
berpengaruh terhadap aktivitas obat dan toksisitasnya.

2.3.3 Golongan Produk Alamiah


Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan Produk Alamiah yaitu :
1. Vinkristin (VCR)
 Sediaan : Tersedia dalam bentuk vial berisi larutan 1, 2, dan 5 mL yang mengandung 1 mg/mL
zat aktif untuk penggunaan IV.
 Indikasi : Leukimia limfositik akut, neuroblastoma, tumor Wilms, Rabdomiosarkoma, limfoma
Hodgkin dan non-Hodgkin.
 Mekanisme kerja : Berikatan dengan tubulin dan inhibisi formasi mikrotubula, menahan sel pada
fase metafase dengan mengganggu spindel mitotik, spesifik untuk fase M dan S. Vinblastin juga
mempengaruhi asam nukleat dan sintesis protein dengan memblok asam glutamat dan
penggunaannya.
2. Vinblastin (VLB)
 Sediaan : Tersedia dalam bentuk vial 10 mg/10 ml.
 Indikasi : Penyakit Hodgkin, limfosarkoma, kariokarsinoma dan tumor payudara.
 Mekanisme kerja : Vinblastin berikatan pada tubulin dan menghambat formasi mikrotubula,
kemudian menahan sel pada fase metafase dengan cara mengganggu spindel mitotik, spesifik
untuk fase M dan S. Vinblastin juga mempengaruhi asam nukleat dan sintesis protein dengan
memblok asam glutamat dan penggunaannya.
3. Paklitaksel
 Sediaan : Anzatax (vial), Ebetaxel (vial), Paxus kalbe farma (vial)
 Indikasi : Kanker ovarium, payudara, paru, buli-buli, leher dan kepala.

 Mekanisme kerja : Obat ini berfungsi sebagai racun spindel dengan cara berikatan dengan
mikrotubulus yang menyebabkan polimerisasi tubulin. Efek ini menyebabkan terhentinya proses
mitosis dan pembelahan sel kanker.
4. Etoposid
 Sediaan : Tersedia dalam bentuk kapsul dan larutan injeksi.
 Indikasi : Kanker testis, paru, payudara, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, leukimia
mielositik akut, sarkoma kaposi.
 Mekanisme kerja : Etoposid bekerja untuk menunda transit sel melalui fase S dan menahan sel
pada fase S lambat atau fase G2 awal. Obat mungkin menginhibisi transport mitokrondia pada
level NADH dehidrogenase atau menginhibisi uptake nukleosida ke sel Hella. Etoposid
merupakan inhibitor topoisomerase II dan menyebabkan rusaknya strand DNA.
5. Irinotekan, Topotekan
 Indikasi : Karsinoma ovarium, karsinoma paru sel kecil, karsinoma kolon.
 Mekanisme kerja : Irinotekan merupakan bahan alami yang berasal dari tanaman Camptotheca
acuminata yang bekerja menghambat topoisomerase I, enzim yang bertanggung jawab dalam
proses pemotongan dan penyambungan kembali rantai tunggal DNA. Hambatan enzim ini
menyebabkan kerusakan DNA.
6. Daktinomisin ( AktinimisinD)
 Sediaan : Tersedia dalam bentuk Injeksi, bubuk untuk rekonstitusi : 0,5 mg (mengandung
manitol 20 mg).
 Indikasi : Kariokarsinoma, tumor Wilms, testis, rabdomiosarkoma, sarkoma Kaposi.
 Mekanisme kerja : Terikat pada posisi guanin pada DNA, mengalami interkalasi antara pasang
basa guanin dan sitosin sehingga menginhibisi sintesis DNA dan RNA serta protein.
7. Antrasiklin : Daunorubisin, Doksorubisin, Mitramisin
 Sediaan : Daunorubisin tersedia dalam bentuk 20 mg daunorubisin hidroklorida dengan mannitol
100 mg. 2 mg/mL (50 mg) daunorubisin dengan 10 : 5 : 1 rasio molar distearofosfatidilkolin :
kolesterol : daunorubisin. Doksorubisin tersedia dalam bentuk vial 10 mg dan 50 mg.
 Indikasi : Leukimia limfositik dan mielositik akut sarkoma jaringan lunak, sarkoma ostiogenik,
limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, leukemia akut, karsinoma payudara, genitourinaria, tiroid,
paru, lambung, neuroblastoma dan sarkoma lain pada anak-anak.
 Mekanisme kerja : Interkalasi dengan DNA, mempengaruhi transkripsi dan replikasi secara
langsung. Selain itu, obat ini juga mampu membentuk kompleks tripartit dengan topoisomerase
II dan DNA. (Topoisomerase II adalah enzim dependen ATP yang terikat pada DNA dan
memisahkan untai DNA dimulai dari 3′ fosfat, menyebabkan DNA terpisah dan kemudian
menggabungkannya lagi, fungsi penting dalam replikasi DNA dan repair). Formasi kompleks
tripartit dengan antrasiklin dan etoposid menghambat pengikatan kembali untai DNA rusak,
mengakibatkan apoptosis. Efek ini memungkinkan sel rusak karena obat ini, sementara adanya
overekspresi repair DNA terkait transkripsi menunjukkan resistensi. Antrasiklin juga membentuk
radikal bebas dalam larutan pada jaringan normal dan maligna. Intermediat semikuinon yang
dihasilkan dapat bereaksi dengan oksigen membentuk radikal anion superoksida yang
membentuk radikal hidroksil dan hidrogen peroksida yang menyerang dan mengoksidasi basa
DNA (~kardiotoksisitas). Produksi ini dipicu interaksi antrasiklin dengan besi. Antrasiklin berik
atan dengan membran sel mempengaruhi fluiditasdan transpor ion.
Inhibisi sintesis DNA dan RNA dengan interkalasi antara basa DNA oleh inhibisi
topoisomerase II dan obstruksi sterik. Doksurubisin menginterkalasi pada titik lokal ″uncoiling″
dari ikatan heliks ganda. Meskipun mekanisme aksi yang pasti belum diketahui, mekanismenya
diduga melalui ikatan langsung DNA (interkalasi) dan inhibisi pembentukan DNA
(topoisomerase II) yang selanjutnya memblokade sintesis DNA dan RNA dan fragmentasi DNA.
Doksorubisin merupakan logam khelat yang kuat, komplek logam doksorubisin dapat mengikat
DNA dan sel membran dan menghasilkan radikal bebas yang akan merusak DNA dan membran
sel dengan cepat.
8. Bleomisin
 Sediaan : Bleomisin sulfat terdapat dalam vial berisi 15 unit untuk pemberian IV, IM, atau
kadang-kadang SK atau intraarterial.
 Indikasi : Kanker paru, lambung dan anus karsinoma testis dan serviks, limfoma Hodgkin dan
non-Hodgkin.
 Mekanisme kerja : Menghambat sintesis DNA, ikatan-ikatan DNA untuk selanjutnya terjadi
pemutusan untai tunggal dan ganda.
9. L-asparaginase
 Sediaan : Obat ini tersedian dalam bentuk serbuk untuk Injeksi.
 Indikasi : Leukemia limfositik akut.
 Mekanisme kerja : Asparaginase menghambat sintesis protein melalui hidrolisis asparaginase
menjadi asam aspartat dan amonia. Sel leukimia, terutama limfoblast, memerlukan asparaginase
eksogen, sel normal dapat memproduksi asparaginase. Asparaginase adalah daur spesifik untuk
fase G1.

2.3.4 Golongan Hormon dan Antagonis


Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan Hormon dan Antagonis yaitu :
1. Prednison
 Sediaan : Obat tersedia dalam bentuk tablet 5 mg dan kaptab 5 mg.
 Indikasi : Leukemia limfositik akut dan kronik, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, tumor
payudara.
 Mekanisme kerja : Sebagai glukokortikoid, bersifat menekan sistem imun, anti radang.
2. Medroksiprogesteron asetat
 Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 5 mg, 10 mg, 100 mg.
 Indikasi : Tumor endometrium.
 Mekanisme kerja : Mencegah sekresi gonadotropin pituitari yang akan menghambat maturasi
follicular yang menyebabkan penebalan endometrial.
3. Etinil estradiol
 Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 0,02 mg, 0,03 mg, 0,05 mg dan 0,5 mg.
 Indikasi : Gejala vasomotor sedang atau parah yang dihubungkan dengan menopause (Tidak ada
bukti bahwa estrogen efektif mengatasi gejala kecemasan atau depresi yang mungkin terjadi
selama atau sebelum menopause, oleh sebab itu tidak boleh diberikan untuk indikasi tersebut).
Hipogonadism pada wanita. Terapi paliatif karsinoma prostat yang tak dapat dioperasi, pada
tahap lanjut terapi paliatif kanker payudara yang tak dapat dioperasi, hanya dilakukan dengan
pertimbangan khusus : misalnya pada wanita yang sudah lebih 5 tahun postmenopause dengan
penyakit yang makin parah dan resisten terhadap radiasi.
4. Tamoksifen
 Sediaan : Tamoksifen tersedia dalam bentuk tablet 10 mg dan 20 mg.
 Indikasi : Tumor payudara.
 Mekanisme kerja : Berikatan secara kompetitif dengan reseptor estrogen pada tumor atau target
lain, membentuk kompleks nuklear yang menurunkan sintesis DNA dan menghambat efek
estrogen, agen nonstreroidal dengan sifat antiestrogenik yang berkompetisi dengan estrogen
untuk berikatan di bagian aktif pada payudara dan jaringan lain, sel terakumulasi pada fase Go
dan G1. Sehingga tamoksifen lebih sifat sitostatik daripada sitosidal.
5. Testosteron propionate
 Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk kapsul, injeksi, topikal, mucoadhesive, pellet, dan
transdermal.
 Indikasi : Tumor payudara.
 Mekanisme kerja : Androgen endogen bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan
perkembangan organ seks pria dan mempertahankan karakteristik seks sekunder pada pria yang
mengalami defisiensi androgen.
2.3.5 Terapi Kombinasi
Dasar pemberian dua atau lebih anti kanker ialah untuk mendapatkan sinergisme tanpa
menambah toksisitas. Selain meningkatkan indeks terapi, kemoterapi kombinasi mungkin juga
dapat mencegah atau menunda terjadinya resistensi terhadap obat-obat . Untuk mencapai hasil
yang baik terapi kombinasi harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Masing-masing obat harus memiliki mekanisme kerja yang berbeda.
b. Efek toksik masing-masing obat harus berbeda sehingga dapat diberikan dengan dosis
maksimum yang masih dapat diterima pasien.
c. Masing-masing obat harus diberikan pada masa siklus sel dimana obatnya paling efektif.
Obat–obat kombinasi :
a. Nama generic : Metotreksat.
b. Nama kimia : 4-amino-4-deoxy-10-methylpteoryl-L-glutamic acid.
c. Struktur kimia : C20H22N8O5.
d. Sifat fisikokimia : Serbuk kristal berwarna kuning atau oranye, higroskopis, praktis tidak larut
dalam air, alkohol, terurai dalam larutan asam mineral, basa hidroksida dan karbonat.
e. Indikasi : Leukemia limfositik akut, koriokarsinoma, kanker payudara, leher dan
kepala, paru, buli-buli, sarkoma osteogenik.
f. Efek samping dan Kontraindikasi :Toksisitas obat ini juga terutama mengenai saluran cerna,
sumsum tulang dan mukosa mulut. Obat ini dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan
sumsum tulang, hati dan terutama gangguan ginjal karena metotreksat hanya dieliminasi melalui
ginjal.
g. Sediaan dan Posologi :Metotreksat tersedia dalam bentuk tablet 2,5 mg dan bubuk untuk
suntikan dalam vial 25, 50, 100, dan 250 mg. Untuk kariokarsinoma diberikan dosis tunggal 15
mg/m2 oral atau IM selama 5 hari karena dalam dosis terbagi metotreksat lebih toksik.
Pengobatan biasanya diulang setelah 1-2 minggu. Pengobatan diteruskan sebanyak 2 regimen
pengobatan setelah titer gonadotropin korionik kurang dari 50 IU/24 jam.
h. Stabilitas dan Penyimpanan : Tablet dan vial disimpan pada suhu kamar (15-25oC), hindari
cahaya matahari langsung.
i. Interaksi dengan obat lain : Kombinasi metotreksat dengan klorambusil dan daktinomisin
efektif terhadap karsinoma testis, limfoma limfositik stadium III dan IV terutama pada anak, dan
memberikan remisi temporer pada mikrosis fungoides. Dalam kombinasi dengan berbagai
antikanker, metotreksat digunakan pada karsinoma mama, paru dan ovarium, limfoma Burkitt
dan limfoma non-Hodgkin.
j. Farmakodinamik : Onset kerja: Antirematik 3-6 minggu, tambahan perbaikan bisa dilanjutkan
lebih lama dari 12 minggu. Metotreksat berikatan dengan dihidrofolat reduktase, menghambat
pembentukan reduksi folat dan timidilat sintetase, menghasilkan inhibisi purin dan sintesis asam
timidilat. Metotreksat bersifat spesifik untuk fase S pada siklus sel. Mekanisme kerja metotreksat
dalam artritis tidak diketahui, tapi mungkin mempengaruhi fungsi imun. Dalam psoriasis,
metotreksat diduga mempunyai kerja mempercepat proliferasi sel epitel kulit.

k. Farmakokinetik : Absorpsi
Distribusi : Penetrasi lambat sampai cairan fase 3 (misal pleural efusi, ascites), eksis lambat
dari kompartemen ini (lebih lambat dari plasma), melewati plasenta jumlah sedikit masuk
kelenjar susu. Konsentrasi berangsur-angsur dikeluarkan di ginjal dan hati. Ikatan protein : 50 %.
Metabolisme : eliminasi dosis rendah 3-10 jam, IM 30-60 menit.
Ekskresi : Melalui urine sekitar 44%-100%. Melalui feses dalam jumlah kecil.

2.3.6 Macam – Macam Obat Kemoterapi


Obat kemoterapi ada beberapa macam, diantaranya adalah :
1. Obat golongan Alkylating agent, platinum Compouns, dan Antibiotik Anthrasiklin obst golongan
ini bekerja dengan antara lain mengikat DNA di inti sel, sehingga sel-sel tersebut tidak bisa
melakukan replikasi.
2. Obat golongan Antimetabolit, bekerja langsung pada molekul basa inti sel, yang berakibat
menghambat sintesis DNA.
3. Obat golongan Topoisomerase-inhibitor, Vinca Alkaloid, dan Taxanes bekerja pada gangguan
pembentukan tubulin, sehingga terjadi hambatan mitosis sel.
4. Obat golongan Enzim seperti, L-Asparaginase bekerja dengan menghambat sintesis protein,
sehingga timbul hambatan dalam sintesis DNA dan RNA dari sel-sel kanker tersebut.
2.6 Mekanisme Kerja Obat Anti Kanker Dan Kemoterapi Kanker
Sebagian besar obat kemoterapi (sitostatika) yang digunakan saat ini bekerja terutama
terhadap sel-sel kanker yang sedang berproliferasi, semakin aktif sel-sel kanker tersebut
berproliferasi maka semakin peka terhadap sitostatika hal ini disebut Kemoresponsif, sebaliknya
semakin lambat prolifersainya maka kepekaannya semakin rendah , hal ini disebut
Kemoresisten.
Pada inti sel, pada waktu sel membelah (mitosis). Makin cepat sel bermitosis, makin
sensitive terhadap kemoterapi. CELL CYCLE PHASE SPECIFIC, yaitu obat yang bekerja pada
sel yang berkembang aktif, jadi harus diberikan secara kontinyu. CELL CYCLE PHASE NON
SPECIFIC, yaitu obat yang bekerja pada sel yang berkembang maupun yang istirahat, jadi dapat
diberikan secara single bolus.

2.5 Indikasi Dan Kontraindikasi Obat Anti Kanker Dan Kemoterapi


2.5.1 Indikasi
Persyaratan Pasien yang Layak diberi Kemoterapi :
Pasien dengan keganasan memiliki kondisi dan kelemahan, yang apabila diberikan
kemoterapi dapat terjadi untolerable side effect. Sebelum memberikan kemoterapi perlu
pertimbangan sbb :
1. Menggunakan kriteria Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG) yaitu status penampilan
<= 2
2. Jumlah lekosit >=3000/ml
3. Jumlah trombosit>=120.0000/ul
4. Cadangan sumsum tulang masih adekuat misal Hb > 10
5. Creatinin Clearence diatas 60 ml/menit (dalam 24 jam) ( Tes Faal Ginjal )
6. Bilirubin <2 mg/dl. , SGOT dan SGPT dalam batas normal ( Tes Faal Hepar ).
7. Elektrolit dalam batas normal.
8. Mengingat toksisitas obat-obat sitostatika sebaiknya tidak diberikan pada usia diatas 70 tahun.
Status Penampilan Penderita Ca ( Performance Status ) Status penampilan ini mengambil
indikator kemampuan pasien, dimana penyait kanker semakin berat pasti akan mempengaruhi
penampilan pasien. Hal ini juga menjadi faktor prognostik dan faktor yang menentukan pilihan
terapi yang tepat pada pasien dengan sesuai status penampilannya.
2.5.2 Kontra Indikasi Kemoterapi
Kontra indkasi absolut:
 pada stadium terminal
 Kehamilan trimester pertama
 Kondisi septikemia dan koma.
Kontra indikasi relatif :
 Bayi <>8g/dl, leukosit > 3000/mm

2.6 Bentuk Sediaan Dan Dosis Dari Obat Kemoterapi


 Bentuk Sediaan
Kemoterapi dapat diberikan dengan cara Infus, Suntikan langsung (pada otot, bawah kulit,
rongga tubuh) dan cara Diminum (tablet/kapsul).
 Dalam bentuk tablet atau kapsul yang harus diminum beberapa kali sehari. Keuntungan
kemoterapi oral semacam ini adalah: bisa dilakukan di rumah.
 Dalam bentuk suntikan atau injeksi. Bisa dilakukan di ruang praktek dokter, rumah sakit, klinik,
bahkan di rumah.
 Dalam bentuk infus. Dilakukan di rumah sakit, klinik, atau di rumah (oleh paramedis yang
terlatih).
 Dosis
Dihitung berdasar Luas Permukaan Tubuh (LPB). Sedangkan LPB dihitung dengan table
berdasarkan tinggi badan dan berat badan. Apabila tubuh pasien makin kurus selama pemberian
kemoterapi seri I dan II maka untuk pemberian seri selanjutnya harus diukur lagi LPB-nya, mis:
BB = 56 kg, TB = 150 cm, LPT = 1,5m2. Dosis obat X : 50 mg/m2, berarti penderita harus
mendapat obat 50 x 1,5 mg = 75 mg.

2.7 Efek Samping Kemoterapi


Intensitas efek samping tergantung dari karakteristik obat, dosis pada setiap pemberian,
maupun dosis kumulatif, selain itu efek samping yang timbul pada setiap penderita berbeda
walaupun dengan dosis dan obat yang sama, faktor nutrisi dan psikologis juga mempunyai
pengaruh bermakna.
Efek samping yang selalu hampir dijumpai adalah gejala gastrointestinal, supresi sumsum
tulang, kerontokan rambut. Gejala gastrointestinal yang paling utama adalah mual, muntah,
diare, konstipasi, faringitis, esophagitis dan mukositis, mual dan muntah biasanya timbul selang
beberapa lama setelah pemberian sitostatika dan berlangsung tidak melebihi 24 jam.
Gejala supresi sumsum tulang terutama terjadinya penurunan jumlah sel darah putih
(leukopenia), sel trombosit (trombositopenia), dan sel darah merah (anemia), supresi sumsum
tulang belakang akibat pemberian sitistatika dapat terjadi segera atau kemudian, pada supresi
sumsum tulang yang terjadi segera, penurunan kadar leukosit mencapai nilai terendah pada hari
ke-8 sampai hari ke-14, setelah itu diperlukan waktu sekitar 2 hari untuk menaikan kadar
laukositnya kembali. Pada supresi sumsum tulang yang terjadi kemudian penurunan kadar
leukosit terjadi dua kali yaitu pertama-tama pada minggu kedua dan pada sekitar minggu ke
empat dan kelima. Kadar leukosit kemudian naik lagi dan akan mencapai nilai mendekati normal
pada minggu keenam. Leukopenia dapat menurunkan daya tubuh, trombositopenia dapat
mengakibatkan perdarahan yang terus-menerus/ berlabihan bila terjadi erosi pada traktus
gastrointestinal.
Kerontokan rambut dapat bervariasi dari kerontokan ringan dampai pada kebotakan. efek
samping yang jarang terjadi tetapi tidak kalah penting adalah kerusakan otot jantung, sterilitas,
fibrosis paru, kerusakan ginjal, kerusakan hati, sklerosis kulit, reaksi anafilaksis, gangguan
syaraf, gangguan hormonal, dan perubahan genetik yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker
baru.
Kardiomiopati akibat doksorubin dan daunorubisin umumnya sulit diatasi, sebagian besar
penderita meninggal karena “pump failure”, fibrosis paru umumnya iireversibel, kelainan hati
terjadi biasanya menyulitkan pemberian sitistatika selanjutnya karena banyak diantaranya yang
dimetabolisir dalam hati, efek samping pada kulit, saraf, uterus dan saluran kencing relatif kecil
dan lebih mudah diatasi.
Tergantung jenisnya, Kemoterapi ada yang diberikan setiap hari, seminggu sekali, tiga
minggu sekali, bahkan sebulan sekali. Berapa seri penderita harus menjalani Kemoterapi, juga
tergantung pada jenis kanker penderita. Yang paling ditakuti dari kemoterapi adalah efek
sampingnya. Ada orang yang sama sekali tidak merasakan adanya efek samping Kemoterapi.
Ada yang mengalami efek samping ringan. Tetapi ada juga yang sangat menderita karenanya.
Ada-tidak atau berat-ringannya efek samping kemoterapi tergantung pada banyak hal, antara lain
jenis obat kemoterapi, kondisi tubuh Anda, kondisi psikis Anda, dan sebagainya. Efek samping
Kemoterapi timbul karena obat-obat kemoterapi sangat kuat, dan tidak hanya membunuh sel-sel
kanker, tetapi juga menyerang sel-sel sehat, terutama sel-sel yang membelah dengan cepat.
Karena itu efek samping kemoterapi muncul pada bagian-bagian tubuh yang sel-selnya
membelah dengan cepat. Efek samping dapat muncul ketika sedang dilakukan pengobatan atau
beberapa waktu setelah pengobatan.

 Efek samping yang bisa timbul adalah antara lain:


1. Lemas
Efek samping yang umum timbul. Timbulnya dapat mendadak atau perlahan. Tidak langsung
menghilang dengan istirahat, kadang berlangsung terus hingga akhir pengobatan.
2. Mual dan Muntah
Ada beberapa obat Kemoterapi yang lebih membuat mual dan muntah. Selain itu ada beberapa
orang yang sangat rentan terhadap mual dan muntah. Hal ini dapat dicegah dengan obat anti
mual yang diberikan sebelum,selama, atau sesudah pengobatan Kemoterapi. Mual muntah dapat
berlangsung singkat ataupun lama.
3. Gangguan Pencernaan
Beberapa jenis obat Kemoterapi berefek diare. Bahkan ada yang menjadi diare disertai dehidrasi
berat yang harus dirawat. Sembelit kadang bisa terjadi. Bila diare: kurangi makanan berserat,
sereal, buah dan sayur. Minum banyak untuk mengganti cairan yang hilang. Bila susah BAB:
perbanyak makanan berserat, olahraga ringan bila memungkinkan.
4. Rambut Rontok
Kerontokan rambut bersifat sementara, biasanya terjadi dua atau tiga minggu setelah kemoterapi
dimulai. Dapat juga menyebabkan rambut patah di dekat kulit kepala. Dapat terjadi setelah
beberapa minggu terapi. Rambut dapat tumbuh lagi setelah kemoterapi selesai.
5. Otot dan Saraf
Beberapa obat kemoterapi menyebabkan kesemutan dan mati rasa pada jari tangan atau kaki
serta kelemahan pada otot kaki. Sebagian bisa terjadi sakit pada otot.
6. Perdarahan
Keping darah (trombosit) berperan pada proses pembekuan darah. Penurunan jumlah trombosit
mengakibatkan perdarahan sulit berhenti, lebam, bercak merah di kulit.
7. Anemia
Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah yang ditandai oleh penurunan Hb
(hemoglobin). Karena Hb letaknya di dalam sel darah merah. Akibat anemia adalah seorang
menjadi merasa lemah, mudah lelah dan tampak pucat.
8. Kulit dapat menjadi kering dan berubah warna
Lebih sensitive terhadap matahari. Kuku tumbuh lebih lambat dan terdapat garis putih melintang.
Setiap obat memiliki efek samping yang berbeda. Reaksi tiap orang pada tiap siklus
juga berbeda. Tetapi Anda tidak perlu takut. Bersamaan dengan kemoterapi, biasanya dokter
memberikan juga obat-obat untuk menekan efek sampingnya seminimal mungkin. semua efek
samping itu bersifat sementara. Begitu kemoterapi dihentikan, kondisi pasien akan pulih seperti
semula.

2.8 Cara mengatasi efek samping Kemoterapi


 Pemberian anti mual dan muntah
 Saat merasa mual duduk ditempat yang segar
 Makan makanan tinggi kadar protein dan karbohidrat (sereal, bakso, puding, susu, roti
panggang, sup, yoghurt, keju, susu kental, kurma, kacang, dll)
 Lakukan perawatan mulut dengan menggosok gigi sebelum tidur dan setelah makan. Bila tidak
dapat menggosok gigi karena gusi berdarah, gunakan pembersih mulut
 Berikan pelembab bibir sesuai kebutuhan
 Hindari rokok, makanan pedas dan air es.
Dalam beberapa penelitian kemoterapi mampu menekan jumlah kematian penderita
kanker tahap dini, namun bagi penderita kanker tahap akhir / metastase, tindakan kemoterapi
hanya mampu menunda kematian atau memperpanjang usia hidup pasien untuk sementara
waktu. Bagaimanapun manusia hanya bisa berharap sedangkan kejadian akhir hanyalah Tuhan
yang menentukan.
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Kemoterapi adalah proses pengobatan dengan menggunakan obat-obatan yang bertujuan
untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel-sel Kanker. Kemoterapi bermanfaat
untuk menurunkan ukuran kanker sebelum operasi, merusak semua sel-sel kanker yang tertinggal
setelah operasi, dan mengobati beberapa macam kanker darah. Kemoterapi Merupakan bentuk
pengobatan kanker dengan menggunakan obat sitostatika yaitu suatu zat-zat yang dapat
menghambat proliferasi sel-sel kanker.
Efek samping yang selalu hampir dijumpai adalah gejala gastrointestinal, supresi
sumsum tulang, kerontokan rambut. Gejala gastrointestinal yang paling utama adalah mual,
muntah, diare, konstipasi, faringitis, esophagitis dan mukositis, mual dan muntah biasanya
timbul selang beberapa lama setelah pemberian sitostatika dan berlangsung tidak melebihi 24
jam
DAFTAR PUSTAKA

Bakti Husada, 2009, Pedoman Pencampuran Obat Suntik dan Penanganan


Sediaan Sitostatika, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Sarce, 2009, Proteksi Diri Perawat dalam Pemberian Sitostatika di Rumah Sakit
Umum DaerahPropinsi Sulawesi Tenggara, Artikel Riset Keperawatan,
Universitas Diponegoro, Semarang.
MIMS Indonesia, Volume 7 tahun 2006. Hal. 272, 273, 277.
Drug Information Handbook, 14th ed. Lexi-comp. Hal. 1028.
Martindale, 34th ed. 2005. Hal. 568-4.
Farmakologi Dan Terapi. Edisi 5 tahun 2007. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal
732-756