Anda di halaman 1dari 2

F-Berbincang Densus

JPRM PHOTO
SANTAI: Wartawan JPRM Imam S. Arizal (kiri) berdiskusi dengan Korwil Densus 26 Madura Nur
Faizin (dua dari kiri) didampingi pasukannya di kantor JPRM Biro Pamekasan kemarin.

Satu Jam Berbincang Bersama Korwil Densus 26 Madura


Cegah Radikalisme melalui Dakwah Berkearifan Lokal

Terorisme atau radikalisme agama menjadi ancaman serius bagi bangsa Indonesia. Tindakan destruktif
itu bisa muncul di mana saja. Itulah yang kini menjadi perhatian khusus Korwil Densus 26 Madura.

IMAM S. ARIZAL, Pamekasan

ISLAM merupakan rahmat bagi alam semesta dan seisinya. Kehadiran agama yang dibawa Nabi
Muhammad ini semestinya menjadi berkah, bukan petaka. Tetapi tak jarang kelompok kecil yang
berhaluan radikal merusak citra Islam di seluruh dunia.
Islam terkadang dihadirkan dengan wajah bengis, teror. Demikian kalimat pembuka yang
disampaikan Koordinator Wilayah (Korwil) Densus 26 Madura Nur Faizin saat berdiskusi di kantor
Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Biro Pamekasan kemarin (6/1).
Jend, sapaan akrab Nur Faizin, datang bersama rombongan. Salah satu tujuannya, menyuarakan
gerakan deradikalisasi secara lunak. Sebuah upaya yang dilakukan melalui cara-cara kebudayaan dan
dakwah dengan mengedepankan hikmah teladan.
Sebelum berdiskusi panjang lebar, Jend terlebih dahulu memperkenalkan organisasi yang
dipimpinnya. Dijelaskan, Densus 26 merupakan organisasi yang dibentuk oleh aktivis-aktivis Nahdlatul
Ulama (NU) di Jogjakarta pada 2011. Untuk Korwil Madura, terbentuk awal 2017.
Pengunaan kata densus terinspirasi dari lembaga yang dibentuk Mabes Polri, yakni Densus 88
Antiteror. Angka 26 di belakang densus dinisbatkan pada sejarah berdirinya NU 1926. Angka 26 yang
membedakan cara kerja dengan Densus 88. Jika Densus 88 dilengkapi dengan senjata, Densus 26
berbekal dakwah berkearifan budaya.
”Terorisme dan radikalisme agama berawal dari pemahaman yang keliru terhadap intisari ajaran
agama, termasuk Islam,” jelas Jend. ”Oleh karena itu, perlu semacam pelurusan pemahaman
keagamaan. Kami, Densus 26, mengajak mencegah terorisme dengan cara-cara ilmiah, berdiskusi,
dakwah bil hikmah,” tambahnya.
Mengapa terorisme dan radikalisme agama yang menjadi konsentrasi Densus 26? Menurut alumnus
UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini, karena terorisme menjadi ancaman nyata bangsa Indonesia. Benih-
benih terorisme muncul di kalangan masyarakat Indonesia.
Hasil survei The Pew Research Center 2015 menyebutkan, 4 persen atau sekitar 10 juta warga
Indonesia setuju dengan gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Fakta tersebut, menurut Jend,
sangat memprihatinkan. Sebab, selama ini ISIS dikenal bukan sebagai kelompok Islam yang ramah,
melainkan lebih sebagai kelompok terorisme global.
Pada 2011, Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) yang dipimpin guru besar sosiologi
Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Bambang Pranowo
menampilkan fakta yang tak kalah mengejutkan. Dalam survei tersebut disebutkan, dari 100 sekolah
menengah di Jakarta, menunjukkan hampir 50 persen pelajar mendukung cara-cara keras dalam
menghadapi moralitas dan konflik keagamaan.
”Fakta ini ancaman nyata bagi keberlangsungan negara ini. Jika benih-benih terorisme dan
radikalisme itu dibiarkan, ke depan akan menjadi bom waktu,” urai pria kelahiran Sumenep tersebut.
Hasil survei bukan satu-satunya tolok ukur untuk menentukan radikal atau tidaknya seseorang.
Tetapi melihat perkembangan situasi berbangsa dan beragama belakangan ini, radikalisme agama tidak
bisa dipandang sebelah mata. Para ulama, kiai, guru ngaji, dan generasi muda harus terlibat mencegah
semakin berkecambahnya benih-benih radikalisme.
Belakangan muncul kelompok-kelompok yang mulai meragukan bahkan menentang keberadaan
Pancasila sebagai dasar negara. Mereka berasusmsi bahwa Pancasila tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Sebab, Pancasila tidak tercantum dalam Alquran.
Model-model dakwah yang tekstual dan kaku inilah yang coba dilawan oleh Densus 26. Bagi
Densus 26, tidak tercantum dalam Alquran bukan berarti bertentangan dengan Islam. Jika Pancasila
dipahami secara mendalam, menurut pria berkacamata itu, seluruhnya sesuai dengan intisari ajaran
yang dibawa oleh Nabi Muhammad.
”Memahami Islam itu harus kontekstual. Berdakwah juga harus berkearifan lokal. Seperti dakwah-
dakwah yang dilakukan Wali Sanga terdahulu yang mencerminkan Islam ramah, bukan Islam marah,”
paparnya.
Selain berdiskusi secara ilmiah, Densus 26 juga menguatkan amaliah-amaliah dan nilai-nilai ahlus
sunnah wal jamaah (aswaja). Aswaja merupakan landasan berpikir dan berpijak masyarakat muslim
Madura yang rata-rata merupakan warga NU.
”Mari jaga persatuan, pupuk toleransi, dan cegah radikalisme agama. Jangan biarkan benih-benih
terorisme tumbuh di masyarakat Indonesia,” tukasnya. (*/hud)

Cegah
Jangan Biarkan Benih Terorisme Tumbuh di Indonesia