Anda di halaman 1dari 60

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kecelakaan kerja masih menjadi permasalahan di Indonesia. Angka
kecelakaan kerja di Indonesia yang tercatat berdasarkan Laporan Kemenakertrans
yang dikutip oleh Rosidi, dkk. (2011) menyebutkan pada tahun 2009 terdapat
96.314 kasus dan tahun 2010 65000 kasus. Dikutip dari laporan Kemenakertrans
(2012) tahun 2011 terdapat 99.491 kasus kecelakaan kerja.
Secara global, ILO memperkirakan sekitar 337 juta kecelakaan kerja terjadi
tiap tahunnya yang mengakibatkan sekitar 2,3 juta pekerja kehilangan nyawa.
Sementara itu data PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) memperlihatkan
bahwa sekitar 0,7 persen pekerja Indonesia mengalami kecelakaan kerja yang
mengakibatkan kerugian nasional mencapai Rp 50 triliun (Dani, 2014).
Terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja tentu saja menjadikan
masalah yang besar bagi kelangsungan sebuah perusahaan. Kerugian yang diderita
tidak hanya berupa kerugian materi, namun lebih dari itu adalah timbulnya korban
jiwa. Kehilangan sumber daya manusia merupakan kerugian yang sangat besar
karena manusia adalah satu-satunya sumber daya yang tidak dapat digantikan oleh
teknologi apapun. Kerugian yang berlangsung dari timbulnya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja adalah biaya pengobatan dan kompensansi. Biaya tidak
langsung adalah kerusakan alat-alat produksi, penataan manajemen keselamatan
dan kesehatan kerja yang baik, penghentian alat produksi, dan hilangnya waktu
kerja (Hidayanti, 2013).
Dalam Undang-Undang RI No. 13 tahun 2003 dinyatakan dalam
mempekerjakan tenaga kerja wajib memberikan perlindungan yang mencakup
kesejahteraan, keselamatan, dan kesehatan baik mental maupun fisik tenaga kerja.
Berbagai upaya dilakukan perusahaan sebagai tempat kerja untuk melindungi
pekerjanya dari bahaya kecelakaan kerja. Perilaku tidak aman merupakan salah satu
faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja, hal ini menjadi penting untuk
menghindari terjadinya kematian maupun kerugian yang ditimbulkan.
Teori Bird menyatakan bahwa near miss yang terus berulang dan kebanyakan
disebabkan karena unsafe act atau unsafe behavior dapat meningkatkan risiko
kecelakaan kerja yang lebih serius. Hal ini didukung oleh National Safety Council
(NSC) (2011) melakukan riset yang menghasilkan fakta penyebab kecelakaan kerja

1
88% adalah adanya unsafe behavior, 10% karena unsafe condition dan 2% tidak
diketahui penyebabnya. DuPont (2005) juga menemukan kecelakaan kerja yang
selama ini terjadi diakibatkan unsafe act sebesar 96% dan unsafe condition sebesar
4%. Unsafe behavior merupakan perilaku kelalaian oleh manusia yang sering kali
mengakibatkan terjadinya kecelakaan di tempat kerja (Imadul, 2013).
Mencegah kecelakaan kerja dapat dilakukan dengan fokus mengurangi unsafe
behavior. Identifikasi unsafe act atau unsafe behavior dapat dilakukan dengan
berbagai cara. Salah satunya dengan melakukan pendekatan perilaku yaitu Behavior
Based Safety (BBS). Menurut Imadul (2013), Behavior Based Safety (BBS) adalah
sebuah proses yang menciptakan kemitraan keamanan antara manajemen dan
tenaga kerja dengan fokus yang berkelanjutan terhadap perhatian dan tindakan
setiap orang, dan orang lain, serta perilaku selamat.
Perkembangan rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan rujukan di
Indonesia akhir-akhir ini sangat pesat, baik dari jumlah maupun pemanfaatan
teknologi kedokteran. Rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tetap
harus mengedepankan peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat dengan
tanpa mengabaikan upaya kesehatan dan keselamatan kerja (K3) bagi seluruh
pekerja rumah sakit.
Potensi bahaya dirumah sakit selain penyakit-penyakit infeksi juga terdapat
potensi bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi rumah sakit
yaitu kecelakaan (peledakan, kebakaran, kecelakaan yang berhubungan dengan
instalasi listrik dan sumber – sumber cidera lainnya), radiasi, bahan – bahan kimia
yang berbahaya, gas-gas anastesi, gangguan psikologi dan ergonomi. Semua
potensi bahaya tersebut diatas, jelas mengancam jiwa dan kehidupan bagi para
karyawan di RS, para pasien maupun para pengunjung yang ada dilingkungan
rumah sakit.
Kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit perlu mendapat perhatian
serius dalam upaya melindungi kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan
oleh proses pelayanan kesehatan, maupun keberadaan sarana, prasarana, obat-
obatan dan logistik lainnya yang ada di lingkungan rumah sakit sehingga tidak
menimbulkan kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan kedaruratan termasuk
kebakaran dan bencana yang berdampak pada pekerja rumah sakit, pasien,
pengunjung dan masyarakat di sekitarnya.

2
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Menganalisis penerapan keselamatan dan kesehatan kerja dirumah sakit dalam
menjalankan peran sebagai mahasiswa Universitas Hasanuddin, Fakultas
Kesehatan Masyarakat Jurusan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam
praktik residensi
2. Tujuan Khusus
1. Menganalisis perilaku individu pada pegawai di Rumah Sakit
2. Mengetahui pengendalian dan pencegahan kebakaran di Rumah Sakit
3. Melakukan identifikasi potensi bahaya dan resiko dirumah sakit
4. Membuat stategi pengendalian hazard dan resiko kerja
5. Merumuskan skala perioritas pengendalian hazard dan risk berdasarkan
efektifitas dan efesiensi

C. Manfaat Penulisan
Kegiatan Residensi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak
yang terkait didalamnya.
1. Bagi Rumah Sakit
a. Pengembangan kemitraan antara FKM Unhas dengan RSUD Tenriawaru
Kelas B Watampone, dalam penelitian dan pengembangan dalam bidang
K3;
b. Memberikan gambaran tentang perilaku unsafe action pada pegawai di
RSUD Tenriawaru Kelas B Watampone.
c. Memberikan masukan kepada rumah sakit bagaimana melalukan
manajemen resiko meliputi : mengidentifikasi, menganalisa, evaluasi dan
pengendalian terhadap potensi bahaya untuk memimalkan resiko
keselamatan dan kesehatan kerja, sehingga tidak menimbulkan efek buruk
terhadap keselamatan dan kesehatan kerja sumber daya rumah sakit
2. Bagi Program Studi S2 K3
a. Terbinanya suatu jejaring kerjasama antara institusi tempat Residensi
dalam upaya meningkatkan keterkaitan dan kesepadanan (link and match)
antara substansi akademik dengan kompetensi yang dibutuhkan di tempat
kerja.
b. Meningkatkan keilmuan dalam bidang K3

3
3. Bagi Mahasiswa
a. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang lebih
aplikatif dalam bidang K3.
b. Mahasiswa mendapatkan pengalaman bekerja dalam tim untuk
memecahkan suatu permasalahan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

4
A. Perilaku
Kebiasaan, nilai-nilai, dan penggunaan sumber-sumber di dalam suatu
masyarakat atau kelompok akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life) yang
pada umumnya disebut kebudayaan. Dalam buku Notoatmodjo (2007) mengatakan,
perilaku adalah salah satu aspek dari kebudayaan, dan selanjutnya kebudayaan
mempunyai pengaruh yang dalam terhadap perilaku ini. Perilaku manusia adalah
suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (driving forces)
dan kekuatan-kekuatan penahan (restining forces). Selanjutnya perilaku itu dapat
berubah apabila terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan tersebut di dalam
diri seseorang sehingga ada kemungkinan terjadinya perubahan perilaku pada diri
seseorang yakni kekuatan-kekuatan pendorong meningkat, kekuatan-kekuatan
penahan menurun, atau kekuatan pendorong menurun dan kekuatan penahan
meningkat (Lewin, 1970).

Gambar

Teori Determinan Perilaku Manusia Menurut Green (1980)

Pengetahuan
Persepsi
Pengalaman
Sikap
Keyakinan
Keinginan
Fasilitas Perilaku
Kehendak
Sosio-Budaya
Sumber: Notoatmodjo (2007) Motivasi
Niat
Green (1980) dalam buku Notoatmodjo (2007) mencoba menganalisis
perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat
dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yakni faktor perilaku (behaviour causes) dan
faktor di luar perilaku (non behaviour causes). Disimpulkan dalam gambar di atas
bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh
pengetahuan, persepsi, sikap, keinginan, kehendak, motivasi, niat, dan
menghasilkan perilaku dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Selain itu
ketersediaan fasilitas, sikap, dan perilaku petugas kesehatan terhadap kesehatan
juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.

5
1. Pengertian Perilaku
Morgan (1986) dalam buku Widayatun (1999) mendefinisikan perilaku
sebagai suatu yang dilakukan oleh manusia atau binatang dalam bentuk yang
dapat diamati dengan beberapa cara. Perilaku berbeda dengan pikiran atau
perasaan karena perilaku dapat diamati dan dipelajari. Tak seorangpun dapat
melihat atau mendengar pikiran, tetapi seseorang dapat melihat atau mendengar
perilaku. Seseorang dapat melihat dan mengukur apa yang orang lain katakan,
yaitu perilaku bicara dan kita dapat menilai perilaku seseorang apakah perilaku
itu positif atauperilaku itu negatif. Dari perilaku seseorang bisa mengambil
kesimpulan tentang pikiran dan sikap terhadap suatu objek.
2. Konsep Perilaku
Skinner (1938) merumuskan bahwa perilaku merupakan respons/reaksi
seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar) (Notoatmodjo, 2005).
Menurut Munandar (2001) dalam The Psychology of Safety Handbook, perilaku
mengacu pada tindakan seseorang yang dapat diamati oleh orang lain. Malott
dalam buku Notoatmodjo (2007) mengemukakan bahwa perilaku merupakan
sesuatu yang dilakukan atau dikatakan oleh seseorang, sebagai sebuah aktivitas
baik aksi maupun reaksi (Mc Sween, 2003).

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku K3


Dalam bukunya, Pasiak (1999) menulis bahwa terdapat 6 unsur pokok sebuah
perilaku K3 di tempat kerja yang dirumuskan oleh WHO. Pemikiran dan
perasaan (thoughts and feeling), yakni dalam bentuk pengetahuan, persepsi,
sikap, pendidikan, tempat kerja, dan jenis pekerjaan.
1. Pengetahuan
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang
lain. Seorang pekerja memperoleh pengetahuan bahwa api itu panas setelah
memperoleh pengalaman, tangan atau kakinya terkena api. Seorang dokter
akan merawat pasiennya setelah melihat pasien lain dengan jenis kesakitan
yang sama hingga cacat, karenapasien yang lain tersebut tidak dirawat
secara intensif oleh dokter. (Notoatmodjo, 2007).
Saputra (1997) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ada hubungan
antara pengetahuan dengan perilaku K3 dengan p value 0,460. Artinya ada

6
perbedaan yang bermakna antara tingkat pengetahuan seseorang dengan
perilaku K3 yang dilakukannya.
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
dari mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007).
2. Persepsi
Persepsi merupakan perasaan setuju atau tidak setuju berdasarkan dari
dorongan diri sendiri atau berdasarkan dari dorongan keikutsertaan orang
lain. Persepsi ini lebih melekat kepada orang-orang yang mempunyai sifat
perasa (Notoatmodjo, 2007).
Persepsi merupakan suatu proses dimana seseorang memilih,
mengorganisasikan dan memberi arti pada rangsangan baik bersifat internal
maupun eksternal (Ross 1980) dalam buku Munandar (2001).
Krech (1962) dalam buku Notoatmodjo (2007) mengatakan persepsi
dipengaruhi oleh:
a. Frame of reference, yaitu kerangka pengetahuan yang dimiliki dan
diperoleh dari pendidikan, bacaan, penelitian, atau cara lain.
b. Field of expreance, yaitu pengalaman yang telah dialami sendiri dan
tidak terlepas dari keadaan lingkungan.

7
Gambar Proses Terjadinya Persepsi

Proses Persepsi, Perilaku


Pengorganisasian Tanggapan
& Penerjemahan
Observasi Evaluasi &
Stimulus
Stimulus Penafsiran

Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Pembentukan
Persepsi Sikap

Sumber: Gibson (1985)


3. Sikap
Notoatmodjo (2007) mengartikan sikap adalah reaksi atau respon yang
masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulan atau objek. Mar’at
(1982) dalam buku Notoatmodjo (2007) mengartikan sikap adalah
merupakan produk dari proses sosialisasi dimana seseorang bereaksi sesuai
dengan rangsangan yang diterimanya. Manifestasi sikap tidak dapat
langsung dilihat, akan tetapi harus ditafsirkan terlebih dahulu sebagai
tingkah laku yang masih tertutup. Secara operasional pengertian sikap
menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap kategori stimulus
tertentu dan dalam penggunaan praktis sikap sering kali dihadapkan dengan
rangsangan sosial dan reaksi yang bersifat emosional. Mar’at (1982)
melanjutkan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kecenderungan
seseorang untuk bertindak secara tertentu, bersifat relatif menetap dan tidak
berubah yang menggambarkan rasa suka atau tidak suka terhadap suatu
objek, diperoleh dari hasil belajar atau pengalaman sendiri maupun orang
lain (Notoatmodjo, 2007).

8
Gambar Komponen Sikap

Tanggapan Emosional; Pernyataan


 Desain
Pekerjaan Afeksi Tentang Suka/Tidak Suka

 Gaya Manager
Tanggapan Persepsi; Pernyataan
 Kebijakan
Kognisi Tentang Keyakinan
 Teknologi
 Upah Tanggapan Tindakan; Pernyataan
 Tunjangan Perilaku Tentang Perilaku
Sumber: Gibson (1985)
4. Pendidikan
Tingkat pendidikan menggambarkan seseorang telah menjalani
kegiatan belajar secara formal disuatu instansi pendidikan dengan
memperoleh tanda tamat pada setiapjenjangnya. Semakin tinggi jenjang
pendidikan yang dijalani seseorang diharapkan semakin banyak
pengetahuan berarti mengenai berbagai macam faham ilmu
(Widayatun,1999).
Ada pengaruh antara pendidikan yang telah dialami seseorang terhadap
perilaku K3. Hal ini diungkapkan oleh Siagian (1998) tentang penelitian
yang pernah dilakukannya. Karena didapat p value sebesar 0,500 yang
artinya ada perbedaansignifikan antara tingkat pendidikan dengan perilaku
K3 yang dilakukan.
5. Jenis Pekerjaan
Kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan barang atau
jasa dimanapun merupakan sebuah pekerjaan. Pekerjaan dapat dilakukan
dengan memanfaatkan tenaga fisik maupun kemampuan memutar otak demi
memenuhi target menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat (Azwar,
2007).
6. Tempat Kerja
Perusahaan apapun bentuknya merupakan sumber mata pencaharian
seseorang. Perusahaan atau instansi biasanya memiliki orang-orang yang
berfungsi sebagai penggerak proses suatu produksi. Dapat dikatakan juga

9
bahwa tempat kerja merupakan bagian kecil dalam sebuah institusi barang
atau jasa yang menjadi lokasi seorang pekerja melakukan pekerjaan (Azwar,
2007).

C. Penyebab Kecelakaan
H.W. Heinrich dalam teori domino menggolongkan faktor penyebab
kecelakaan menjadi dua, yaitu kondisi tidak aman dan tindakan tidak aman.
1. Kondisi Tidak Aman
Kondisi tidak aman (unsafe condition) adalah kondisi di lingkungan kerja baik
alat, material, atau lingkungan yang tidak aman dan membahayakan. Kondisi
tidak aman dapat disebabkan oleh berbagai hal berikut:

a. Peralatan yang sudah tidak layak pakai;


b. Ada api di tempat kerja;
c. Pengamanan gedung yang kurang standar;
d. Terpapar bising;
e. Terpapar radiasi;
f. Pencahayaan dan ventilasi yang kurang atau berlebihan;
g. Kondisi suhu yang membahayakan;
h. Sifat pekerjaan yang mengandung potensi bahaya.
2. Tindakan Tidak Aman
Tindakan tidak aman (unsafe action) adalah tindakan yang dapat
membahayakan pekerja itu sendiri maupun orang lain yang dapat menyebabkan
terjadinya kecelakaan. Tindakan tidak aman dapat disebabkan oleh berbagai hal
berikut:
a. Ketidakseimbangan fisik tenaga kerja, seperti:
1) Posisi tubuh yang menyebabkan mudah lelah
2) Cacat fisik
3) Cacat sementara
4) Kepekaan panca indera terhadap sesuatu.
b. Kurang pendidikan
1) Kurang pengalaman
2) Salah pengertian terhadap suatu perintah
3) Kurang terampil

10
c. Salah mengartikan SOP (Standard Operational Procedure) sehingga
mengakibatkan kesalahan pemakaian alat kerja.
d. Menjalankan pekerjaan tanpa mempunyai kewenangan;
e. Menjalankan pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahliannya;
f. Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) tidak benar;
g. Mengangkut beban yang berlebihan;
h. Bekerja berlebihan atau melebihi jam kerja.

D. Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran


Kebakaran merupakan salah satu bencana yang mungkin terjadi di rumah
sakit, dimana akibat yang di timbulkan akan berdampak buruk sangat luas dan
menyeluruh bagi pelayanan, operasional, sarana dan prasarana pendukung lainnya.
pencegahan kebakaran adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya
kebakaran di rumah sakit sedangkan pengendalian kebakaran adalah upaya yang
dilakukan untuk memadamkan api pada saat terjadi kebakaran dan setelahnya.
Jenis kegiatan
1. Identifikasi area berisiko bahaya kebakaran dan ledakan
a. Mengetahui potensi bahaya kebakaran yang ada ditempat kerja, dengan
membuat daftar potensi-potensi bahaya kebakaran yang ada disemua area
rumah sakit.
b. Mengetahui lokasi dan area potensi kebakaran secara spesifik, dengan
membuat denah potensi beriko tinggi terutama terkait bahaya kebakaran
c. Inventarisasi dan pengecakan sarana proteksi kebakaran pasif dan aktif
1) Proteksi kebakaran secara aktif aktif, contonya APAR , hidrant,
detektor asap, sprinkler dan lainnya.
2) Proteksi kebakaran secara pasif, contohnya jalur evakuasi, pintu
darurat, tangga darurat, tempat titik kumpul aman, dll
2. Pemetaan area beresiko tinggi kebakaran dan ledakan
a. Peta area risiko tinggi kebakaran dan ledakan
b. Peta keberadaan alat proteksi kebakaran aktif (APAR), Hidrant
c. Peta jalur evakuasi dan titik kumpul aman
d. Denah lokasi setiap gedung

3. Pengurangan risiko bahaya kebakaran dan ledakan

11
a. Sistem peringatan dini
b. Tanda-tanda dan rambu evakuasi
c. Akses keluar, akses evakuasi dan area tempat titik kumpul aman.
d. Penyediakan alat evakuasi untuk gedung bertingkat
e. Penempatan bahan mudah terbakar aman dari api dan panas
f. Pengaturan konstruksi gedung sesuai dengan prinsip keselamatan dan
kesehatan kerja sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
g. Penyimpanan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang mudah terbakar
dan gas medis
h. Pelarangan bagi SDM rumah sakit, pasien pendamping pasien dan
pengunjung yang dapat menimbulkan kebakaran (peralatan masak-masak)
i. Larangan merokok
j. Inspeksi fasilitas/area beriko kebakaran secara berkala
k. Menyusun kebijakan, pedoman dan SPO terkait keselamatan kebakaran
4. Pengendalian Kebakaran
a. Alat pemadam api ringan
b. Deteksi asap dan api
c. Sistem alarm kebakaran
d. Penyemprot air otomatis (Spinkler)
e. Pintu darurat
f. Jalur evakuasi
g. Tangga darurat
h. Pengendalian asap
i. Tempat titik kumpul aman
j. Penyemprot air manual
k. Pembentukan tim penaggulangan kebakaran
l. Pelatihan dan isolasi
5. Simulasi Kebakaran
Pelaksanaan simulasi kebakaran dilaksanakan minimal dilakukan 1 tahun
sekali untuk setiap gedung.

E. Manajemen Resiko
12
Manajemen resiko merupakan unsur pokok dan merupakan bagian integral
dari sistem manajemen K3. Sistem manajemen K3 dimulai dengan menetapkan
komitmen dan kebijakan K3 oleh manajemen puncak yang merupakan dan arah
penerapan K3 dalam tempat kerja.
Manajemen resiko dalam sistem K3 dimulai dengan perencanaan yang baik,
yang meliputi, Identiikasi Bahaya, Penilaian dan Pengendalian Resiko (HIRARC –
Hazards Identification, Risk Assesment, dan Risk Control)
Manajemen risiko keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit adalah proses
yang bertahap dan berkesinambungan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja secara komperhensif di lingkungan rumah sakit. Manajemen
resiko merupakan aktivitas klinik dan administratif yang dilakukan oleh rumah sakit
untuk melakukan identifikasi, evaluasi dan pengurangan resiko keselamatan dan
kesehatan kerja.
Dalam melakukan manajemen resiko K3 rumah Sakit perlu dipahami hal-hal
sebagai berikut :
1. Bahaya Potensial/Hazard yaitu suatu keadaan/kondisi yang dapat
mengakibatkan (berpotensi) menimbulkan kerugian, (cedera, injury, penyakit)
bagi pekerja, menyangkut lingkungan kerja, pekerjaan (mesin, metoda,
meterial), pengorganisasian pekerjaan, budaya kerja dan pekerjaan lain
2. Resiko yaitu kemungkinan/peluang suatu hazard menjadi suatu kenyataan,
yang tergantung pada:
a. Pajanan, frekwensi, konsekwensi
b. Dose response
3. Konsekuensi adalah akibat dari suatu kejadian yang dinyatakan secara
kuantitatif atau kualitatif, berapa kerugian, sakit, cedera keadaan merugikan
atau menguntungkan. bisa juga berupa rentangan akibat-akibat yang mungkin
terjadi dan berhubungan dengan suatu kejadian

13
Konteks Manajemen Resiko

Proses Manajemen Resiko

1. Persiapan/Penentuan Konteks
Persiapan dilakukan dengan penetapan konteks parameter (baik parameter
internal maupun eksternal) yang akan diambil dalam kegiatan manajemen
resiko. penetapan konteks proses manajemen resiko K3 RS Meliputi :
a. Penentuan tanggung jawab dan pelaksanaan kegiatan manajemen risiko
yang terdiri dari karyawan, kontraktor dan pihak ketiga
b. Penentuan ruang lingkup manjemen risiko keselamatan dan kesehatan
kerja.
c. Penentuan semua aktivitas (baik normal, abnormal maupun emergency),
proses fungsi, proyek, produk, pelayanan dan aset di tempat kerja.
d. Penentuan metode dan waktu pelaksanaan evaluasi manajamen risiko
keselamatan dan kesehatan kerja.
2. Identifikasi Bahaya atau Bahaya Potensial
Langkah pertama dari manajemen resiko untuk menghilangkan atau
mengendalikan hazard adalah dengan mengidentifikasi atau mengenali
kehadiran hazard ditempat kerja. Identifikasi hazard merupakan suatu
proses yang dapat dilakukan untuk mengenali seluruh situasi atau kejadian
yang berpotensi sebagai penyebab terjadinya kecelakaan dan penyakit
akibat kerja yang mungkin timbul di tempat kerja. Hazard mempunyai
potensi untuk mengakibatkan kerusakan dan kerugian kepada :
14
- Manusia baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung terhadap
pekerjaan
- Properti termasuk peralatan dan mesin-mesin
- Lingkungan baik lingkungan didalam perusahaan maupun diluar
perusahaan
- Kualitas produk barang dan jasa
- Nama baik instansi/perusahaan (Companys Public Image)
Dirumah sakit tahap ini dilakukan identifikasi potensi bahaya kesehatan
yang terpajan baik pada pekerja (karyawan), pasien, pengantar dan
pengunjung yang dapat meliputi :
1) Fisik, Contohnya kebisingan, suhu, getaran, lantai licin
2) Kimia, Contohnya formaldehid, alkohol, Ethiline okside, bahan
pembersih lantai, desinfectan, clorine
3) Biologi, contohnya bakteri, virus, mikroorganisme, tikus, kecoa,
kucing dan sebagainya
4) Ergonomi, contohnya posisi statis, manual handling, mengangkat
beban
5) Psikososial, contohnya beban kerja, hubungan atasan dan bawahan,
hubungan antar pekerja yang tidak harmonis
6) Mekanikal, contohnya terjepit mesin, tergulung terpotong, tersayat,
tertusuk
7) Elektrikal, contohnya tersengat listrik, listrik statis hubungan arus
pendek kebakaran akibat listrik
8) Limbah, contohnya limbah padat medis dan non medis, limbah gas dan
limbah cair.
Proses Identifikasi Bahaya
Untuk memudahkan proses identifikasi bahaya dapat dilakukan dengan :
1. Buat daftar semua obyek (mesin, peralatan kerja, bahan, proses kerja,
sistem kerja, kondisi kerja, dan lain-lain) yang ada di tempat kerja
2. Periksa semua obyek yang ada di tempat kerja dan sekitarnya
3. Lakukan wawancara dengan tenaga kerja yang bekerja di tempat kerja
yang berhubungan dengan obyek-obyek tersebut
4. Reviuw kecelakaan, catatan P3K dan informasi lainnya
5. Catat seluruh hazard yang telah diidentifikasi

15
Dirumah Sakit Sumber bahaya yang ada di harus diidentifikasi dan menilai
untuk menentukan tingkat resiko yang merupakan tolok ukur kemungkinan
terjadinya penyakit akibat kerja dan kecelakaan akbiat kerja. Beberapa
contoh bahaya potensial berdasarkan lokasi dan pekerjaan di rumah sakit
antara lain :
No Bahaya Potensial Lokasi Pekerja Yang
Paling Beresiko
1 Fisik IPS-RS, laundry, dapur, Karyawan yang
Bising CSSD, gedung, genset- bekerja didaerah
boiler, IPAL tersebut
Ruang mesin dan Perawat, clening
peralatan yang servis dan lain
menghasilkan getaran
(ruang gigi dan lain-lain)
Debu Genset, Bengkel kerja, Petugas sanitasi,
Lab gigi, gudang, Rekam teknisi gigi, petugas
Medis, Incinerator, Boiler IPS-RS dan rekam
medis
Panas CSSD, Dapur, Laundry, Pekerja dapur,
Incinerator, Boiler pekerja laundry,
petugas sanitasi dan
IPS-RS
Radiasi X-Ray, Ahli radiologi,
radioterapist dan
radiografer
2 Kimia
Desinfectan Semua area Petugas kebersihan,
perawat
Formaldehyde Laboratorium, Kamar Petugas kamar
Mayat, Gudang farmasi mayat, petugas lab
dan farmasi

16
Solvents Laboratorium, Bengkel Teknisi, petugas
Kerja, semua area di rs lab, petugas
pembersih
3 Biologi
AIDS, Hepatitis B IGD, kamar Operasi, Dokter, perawat
dan A non B (Virus) Ruang Pemeriksaan gigi, gigi, perawat,
lab, Lab laundry petugas
laboratorium,
Petugas sanitasi dan
laundry
Tuberculosis Bangsal, Lab, Ruang Perawat, petugas
isolasi laboratorium
4 Ergonomi
Pekerjaan yang Area pasien dan tempat Petugas yang
dlakukan secara penyimpanan barang menangani pasien
manual (gudang) pasien dan barang

Pekerjaaan yang Semua Dokter gigi,


berulang petugas pembersih,
sopir, operator
komputer, juru tulis
5 Psiko sosial
Sering kontak Semua area Semua karyawan
dengan pasien, kerja
bergilir, kerja
berlebih, ancaman
secara fisk
6 Mekanikal
Terjepit mesin, Semua area yang terdapat Semua karyawan
tergulung, terpotong, peralatan mekanikal
tersayat, tertusuk
7 Elektrikal
Semua karyawan

17
Tersetrum, terbakar, Semua area yang terdapat
Ledakan arus atau instalasi listrik
8 Limbah
Tertumpah, tertelan, Semua area yang Semua karyawan
terciprat, terhirup, menggunakan
tertusuk menghasilkan limbah cair
dan limbah gas, limbah

3. Analisis Risiko
Risiko adalah probabiliti/kemungkinan bahaya potensial menjadi
nyata, yang ditentukan oleh frekwensi dan durasi pajanan, aktivitas kerja,
serta upaya yang telah dilakukan untuk pencegahan dan pengendalian
tingkat pajanan. termasuk yang perlu diperhatikan juga adalah prilaku
pekerja. higiene perorangan, serta kebiasaan selama bekerja yang dapat
meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Analisi risiko bertujuan untuk
mengevaluasi besaran (magnitude) risiko kesehatan pekerja. dalam hal ini
adalah panduan keparahan kesehatan yang mungkin timbul termasuk data
toksisitas bila ada efek toksik, dengan kemungkinan gangguan kesehatan
atau efek toksik dapat terjadi sebagai konsekwensi pajanan bahaya
potensial. Karateristik risiko mengintegrasi semua gangguan/toksisitas
spesifik) dengan perkiraan atau pengukuran intensitas/konsentrasi pajanan
bahaya dan status kesehatan pekerja, termasuk pengalaman kejadian
kecelakaan atau penyakit akibat kerja yang pernah terjadi. Analisis awal
ditujukan untuk memberikan gambaran seluruh risiko yang ada. kemudian
disusun urutan resiko-resiko yang cukup signifikan dapat menimbulkan
kerugian.

18
Tabel 1. Tingkat Peluang (likelihood)
Tingkat Kriteria Penjelasan
1 Rare Hanya dapat terjadi pada kondisi tertentu
2 Unlikely Kemungkinan terjadi jarang
3 Possible Dapat terjadi sekali-kali
4 Likely Kemungkinan terjadi sering
5 Almost Certain Dapat terjadi setiap saat
Sumber: AS/NZS 4360
Tabel 2. Tingkat Keparahan (Saverity)
Tingkat Kriteria Penjelasan
1 Insigni ficant a. Non-cidera
b. Kerugian finansial dan material sangat kecil
2 Minor a. Cedera ringan
b. Kerugian finansial dan material sedang
3 Moderate a. Cedera sedang perlu penanganan medis
b. Kerugian finansial dan material cukup besar
4 Major a. Cedera berat lebih dari satu orang
b. Kerugian material besar, gangguan produksi
5 Catastrophic a. Fatal lebih dari satu orang
b. Kerugian sangat besar dan terhentinya seluruh
kegiatan
Sumber: AS/NZS 4360
Tabel 3. Risk Matrik Peringkat Risiko

Saverity
Likelihood
1 2 3 4 5
(5)H (10)H (15)E (20)E (25)E
5
(4)M (8)H (12)H (16)E (20)E
4
(3)L (6)M (9)H (12)E (15)E
3
(2)L (4)L (6)M (8)H (10)E
2
(1)L (2L (3)M (4)H (5)H
1
Sumber: AS/NZS 4360

19
Keterangan :
E : Risiko Sangat Tinggi (Extreme Risk)
H : Risiko tinggi (High Risk)
M : Risiko Sedang (Moderate Risk)
L : Risiko Rendah (Low Risk)

4. Evaluasi risiko
Evaluasi risiko adalah membandingkan tingkat resiko yang telah dihitung
pada tahapan analisis risiko dengan kriteria standar yang digunakan. pada
tahapan ini, tingkat risiko yang telah diukur pada tahapan sebelumnya
dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan, selain itu, metode
pengendalian yang telah diterapkan dalam menghilangkan/meminimalkan
risiko dinilai kembali, apakah telah bekerja secaa efektif seperti yang
diharapkan. Dalam tahapan ini juga diperlukan untuk membuat keputusan
apakah perlu untuk menerapkan metode pengendalian tambahan untuk
mencapai standard atau tingkat risiko yang dapat diterima. Sebuah program
evaluasi risiko sebaiknya mencakup beberapa elemen sebagai berikut :
a. Inspeksi periodik serta monitoring aspek keselamatan dan higiene
industri
b. wawancara nonformal dengan pekerja
c. Pemeriksaan kesehatan
d. Pengukuran pada area lingkungan kerja
e. pengukuran sampel personal
Hasil evaluasi risiko diantaranya adalah :
a. Gambaran tentang seberapa penting risiko yang ada
b. gambaran tentang prioritas risiko yang perlu di tanggulangi
c. Gambaran tentang kerugian yang mungkin terjadi baik dalam parameter
biaya atau parameter lainnya
5. Pengendalian Resiko
Pengendalian resiko merupakan langkah penting dan menentukan dalam
keseluruhan manajemen resiko. resiko yang telah diketahui besarnya dan
potensi akibatnya, harus dikelola dengan tepat, efektif dan sesuai dengan
kemampuan dan kondisi perusahaan. Pengendalian risiko dapat dilakukan
dengan berbagai pilihan, misalnya dengan dihindarkan, dialihkan dengan

20
pihak lain atau dikelola dengan baik. Salah satu bahan pertimbangan adalah
hasil pertimbangan adalah hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko.
karena itu, pengendalian dapat berfokus kepada bahaya potensial yang
dnilai memiliki risiko tinggi sehingga lebih efektif dan efisien.
Menurut OHSAS 80001 memberikan pedoman pengendalian resiko yang
lebih spesifik untuk bahaya K3 (Hirarchi Of Control) dengan pendekatan
sebagai berikut :
a. Eliminasi (Elimination)
Eliminasi adalah cara pengendalian risiko yang paling baik,
karena resiko terjadinya kecelakaan dan sakit akibat potensi bahaya
ditiadakan. Risiko dapat dihindarkan dengan menghilangkan
sumbernya, jika sumber bahaya dihilangkan maka risiko yang akan
timbuk dapat dihindarkan. beberapa contoh teknik eliminasi antara lain:
1) Mesin yang bising dimatikan atau dihentikan sehingga tempat kerja
bebas dari kebisingan.
2) Lobang bekas galian ditengah jalan ditutup dan di timbun
3) Penggunaan bahan kimia berbahaya di tiadakan.
4) Proses berbahaya di dalam perusahaan di hentikan. perusahaan
tidak memproduksi bahan berbahaya sendiri tetapi memesan dari
pemasok, dengan demikian, perusahaan bebas dari kegiatan yang
berbahaya.
b. Subtitusi (Substitusi)
Pengendalian dengan teknik subtitusi dimaksudkan dengan
menggantikan bahan-bahan dan peralatan atau cara kerja yang lebih
berbahaya dengan bahan-bahan, peralatan atau cara kerja yang kurang
berbahaya atau lebih aman sehingga kemungkinan kecelakaan dapat di
tekan. Sebagai contoh penggunaan bahan pelarut yang bersifat beracun
digantikan dengan bahan bahan yang lain yang lebih aman dan tidak
berbahaya.
c. Rekayasa Tehnik (Engineering Control)
Pengendalian atau rekayasa teknik termasuk merubah struktur
obyek kerja untuk mencegah seseorang terpapar kepada potensi bahaya,
seperti pemberian pengaman mesin, penutup ban berjalan, pembuatan
struktur mesin dengan cor beton, memberian alat-alat bantu mekanik,

21
pemberian absorber suara pada dinding ruang mesin yang
menghasilkan kebisingan tinggi, dll.
d. Pengendalian Administratif (Administration Control)
Pengendalian administrasi dilakukan dengan menyediakan suatu
sistem kerja yang dapat mengurangi kemungkinan seseorang terpapar
potensi bahaya. metode pengendalian ini sangat tergantung dari
perilaku pekerjanya dan memerlukan pengawasan yang teratur untuk
dipatuhinya. metode ini meliputi : rektrutmen tenaga kerja baru sesuai
jenis pekerjaan yang ditangani, pengaturan waktu kerja dan waktu
istirahat, rotasi kerja untuk mengurangi kebosanan kejenuhan,
penerapan prosedur kerja, pengaturan kembali jadwal kerja, training
keahlian dan training K3
e. Alat Pelindung Diri (Personal Protective Equipment)
Alat pelindung diri (APD) secara umum merupakan sarana
pengendalian yang digunakan untuk jangka pendek dan bersifat
sementara manakala pengendalian yang lebih permanent belum dapat
diimplementasikan. Penggunaan APD bukan untuk mencegah
kecelakaan tetapi untuk mengurangi dampak atau konsekwensi dari
suatu kejadian, dengan memakai topi keselamatan, bukan berarti
pekerja tidak terkena kejatuhan benda, namun dampak dari kejatuhan
tersebut dapat dikurangi. APD merupakan pilihan terakhir dari suatu
sistem pengendalian risiko di tempat kerja. hal ini disebabkan karena
penggunaan APD mempunyai beberapa kelemahan antara lain:
1) APD tidak menghilangkan risiko bahaya yang ada, tetapi hanya
membatasi antara terpaparnya tubuh dengan potensi bahaya yang
diterima, bila menggunaaan APD gagal, maka secara otomatis
bahaya yang ada akan mengenai tubuh pekerja.
2) Penggunaan APD dirasakan tidak nyaman, karena
kekurangleluasaan gerak pada waktu kerja dan dirasakan adanya
beban tambahan karena harus dipakai selama bekerja.
Rumah Sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan kepada
masyarakat tentu memiliki potensi resiko bahaya sendiri, beberapa
contoh pengendalian risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja di rumah
sakit :

22
a. Containment, yaitu mencegah pajanan dengan :
1) Desain tempat kerja
2) Peralatan safety (Biosafety cabinet, peralatan centrifugal)
3) Cara Kerja
4) Dekontaminasi
5) Penanganan limbah dan Spill management
b. Investigasi kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja
1) Upaya penyelidikan dan pelaporan KAK dan PAK di tempat kerja
2) Analisis penyebab kerugian KAK PAK dan tindakan pencegahan
serta pengendalian KAK, PAK
c. Fire Prevention Program
1) Resiko keselamatan yang paling besar dan banyak ditemui pada
hampir seluruh jenis kegiatan kerja, adanya bahaya dan resiko
kebakaran
2) Dikembangkan berdasarkan karateristik potensi bahaya dan risiko
kebakaran yang ada disetiap jenis kegiatan kerja
d. Emergency Response Preparedness
1) Antisipasi keadaan darurat, dengan mencegah meluasnya dampak
dan kerugian
2) Keadaan darurat : kebakaran, ledakan, tumpahan, gempa, dll
3) harus didukung oleh : kesiapan sumber daya manusia, saran dan
peralatan, prosedur dan sosialisasi
6. Komunikasi dan Konsultasi
Komunikasi dan konsultasi merupakan pertimbangan penting pada
setiap langkah atau tahapan dalam proses manajemen resiko. sangat penting
untuk mengembangkan rencana komunikasi, baik kepada kontributor
internal maupun eksternal sejak tahapan awal proses pengelolaan risiko.
Persepsi risiko dapat bervariasi karena adanya perbedaan dalam asumsi dan
konsep, isu-isu terkait pelaksanaan K3 di rumah sakit. Komunikasi internal
dan eksternal yang efektif penting untuk meyakinkan pihak pengelolaan
sebagi dasar pengambilan keputusan.

7. Pemantauan dan Telaah Ulang


23
Pemantauan selama pengendalian risiko berlangsung perlu dilakukan
untuk mengetahui perubahan perubahan yang bisa terjadi. perubahan
perubahan tersebut kemudian perlu di telaah ulang untuk selanjutnya
dilakukan perbaikan-perbaikan. Pada perinsipnya pemantauan dan telaah
ulang perlu untuk dilakukan untuk menjamin terlaksananya seluruh proses
manajemen risiko dengan optimal.

F. Job Safety Analysis (JSA)


Salah satu tehnik analisa bahaya yang sangat populer dan banyak digunakan
dilingkungan kerja adalah Job Safety Analysis (JSA). Tehnik ini bermanfaat untuk
mengidentifikasi dan menganalisa bahaya dalam suatu pekerjaan (Job). Hal ini
sejalan dengan pendekatan sebab kecelakaan yang bermula dari adanya kondisi atau
tindakan tidak aman saat melakukan suatu aktivitas. Karena itu dengan melakukan
identifikasi bahaya pada setiap jenis pekerjaan dapat dilakukan langkah pencegahan
yang tepat dan efektif.
Langkah – langkah melakukan JSA
Kajian JSA terdiri atas lima langkah sebagai berikut :
1. Pilih pekerjaan yang akan dianalisa
2. Pecah pekerjaan menjadi langkah-langkah aktivitas
3. Identifikasi potensi bahaya pada setiap langkah
4. Tentukan langkah pengamanan untuk mengendalikan bahaya
5. Komunikasikan kepada semua pihak berkepentingan
Penjelasan langkah-langkah diatas sebagai berikut :
1. Langkah 1 : Tentukan pekerjaan misalnya menganti ban serep
2. Langkah 2 : Pecah pekerjaan atas langkah-langkah misalnya :
a. Parkir mobil di tempat yang aman
b. Pasang dongkrak
c. Turunkan ban serep
d. Buka baut dan lepaskan ban yang bocor
e. Pasang ban serep dan kencangkan baut
f. Lepaskan dongkrak
g. simpan ban ditempat ban serep
3. Langkah 3 : Analisa bahaya disetiap langkah
a. Parkir mobil : bahaya terserempet kendaran lain

24
b. Pasang dongkrak : kemungkinan terjepit, tertimpa mobil karena dongkrak
lepas, cedera pinggang
4. Langkah 4. Identifikasi sistem pengamanan
Apa saja pengamanan yang tersedia atau perlu dilakukan untuk setiap
langkah pekerjaan misalnya :
a. Memasang segitiga pengaman
b. Memasang rem tangan
c. Memasang ganjal pada roda untuk mencegah kendaraan tidak
menggelinding
5. Langkah 5 : Komunikasi dan Implementasi
Hasil JSA merupakan masukan untuk meningkatkan standar prosedur
pekerjaan. Lakukan langkah perbaikan pada peralatan, cara kerja atau prosedur
untuk menjalankan pekerjaan. Sosialisasikan prosedur tersebut agar diketahui
oleh semua pihak yang terlibat dalam kegiatan

25
BAB III
METODE KEGIATAN RESIDENSI

A. Lokasi Residensi
Residensi ini dilaksanakan di RSUD Tenriawaru Kelas B Kabupaten Bone
B. Kegiatan Residensi
Pelaksanaan residensi berlangsung pada tanggal 04 Desember 2017 – 23
Desember 2017
Adapun rincian pelaksanaan kegiatan residensi yang dilakukan di RSUD
Tenriawaru Kelas B Kab. Bone, Adalah:
1. Orientasi tempat residensi dengan melakukan orientasi sebagai tahap awal
kegiatan residensi di RSUD Tenriawaru Kelas B Kab. Bone.
2. Mempelajari struktur organisasi K3 di RSUD Tenriawaru Kelas B Kab. Bone.
3. Berpartisipasi dalam kegiatan dan program yang dilakukan pada tempat
residensi
4. Mempelajari dan mengidentifikasi masalah yang terkait dengan K3 di RSUD
Tenriawaru Kelas B Kab. Bone.
5. Melakukan wawancara mendalam dengan pihak-pihak terkait dengan masalah
yang diangkat untuk mendapatkan informasi tentang permasalahan K3 di
tempat kerja.
6. Melakukan pengumpulan data di RSUD Tenriawaru Kelas B Kab. Bone.
7. Pengolahan data yang didapatkan dari kegiatan residensi
8. Penyusunan laporan residensi

C. Metode Pelakasanaan Kegiatan


Kegiatan residensi dilakukan dengan mengumpulkan seluruh data yang
dibutuhkan untuk memberikan gambaran secara jelas untuk mengungkapkan suatu
masalah yang ada di lapangan sehingga dapat diidentifikasi dan dicari
penyelesaiannya. Ruang lingkupnya meliputi penilaian risiko kesehatan dan
keselamatan kerja dengan menggunakan IPBR (Identifikasi Bahaya, Penilaian dan
Pengendalian Risiko).
IPBR adalah bentuk metode penilaian dan pengendalian risiko yang dimiliki
oleh RSUD Tenriawaru Kelas B Kab. Bone yang bertujuan untuk memastikan

26
semua risiko yang mungkin terjadi dapat teridentifikasi, dapat dikelola,
dikendalikan secara tepat dan termitigasi.

D. Teknik Pengumpulan Data


Adapun Teknik Pengumpulan Data yang dilakukan di RSUD Tenriawaru
Kelas B Kab. Bone, Adalah :
1. Observasi Lapangan
Objek yang diobservasi adalah implementasi K3 di seluruh area produksi
pembuatan Plate di RSUD Tenriawaru Kelas B Kab. Bone.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan bagian K3 dari RSUD Tenriawaru Kelas B Kab.
Bone dan pegawai mengenai masalah K3 (Kesehatan dan Keselamatan
Kerja), dan operasional kerja. Proses dilakukan melalui walktrough survey.
3. Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan dengan cara mempelajari dokumen dan catatan-
cacatan perusahaan yang berhubungan dengan masalah kesehatan dan
keselamatan kerja pada bagian K3, prosedur kerja operasional yang
berhubungan dengan bahaya di RSUD Tenriawaru Kelas B Kab. Bone.

E. Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang digunakan peneliti
untuk membantu peneliti memperoleh data yang dibutuhkan (Arikunto,2010).
Instrumen pengumpulan data ini meliputi :
 Teknik dokumentasi
Teknik dokumentasi dimaksudkan untuk memperoleh data-data sekunder
yang ada di lokasi penelitian yang terkait yaitu dengan melihat catatan atau
data-data yang terkait dalam penelitian. Pada umumnya data yang tercantum
dalam berbagai jenis dokumen itu merupakan satu-satunya alat untuk
mempelajari permasalahan tertentu antara lain tidak dapat diobservasi lagi
dan tidak dapat diingat lagi.

F. Teknik Penyajian dan Analisis Data


Peserta residensi dalam menyusun laporan ini menggunakan analisis deskriptif, data
tersebut diperoleh dan dianalisis dengan dasar teori yang ada, sehingga memberikan
27
suatu gambaran yang cukup jelas. Selanjutnya diteliti kemudian diambil suatu
kesimpulan dari hasil analisis tersebut, dan atas kesimpulan tersebut dianjurkan
saran untuk perbaikan yang diharapkan menjadi bahan dan pertimbangan bagi
perusahaan.

28
BAB IV
HASIL KEGIATAN RESIDENSI
A. Sejarah Singkat
RSUD Tenriawaru merupakan rumah sakit milik pemerintah Kabupaten Bone
yang terletak di Jalan DR. Wahidin Sudirohusodo Watampone, Kelurahan
Macanang, Kecamatan Tanete Riattang Barat. Rumah sakit ini dibangun pada tahun
1985 atas bantuan Bank Dunia dan mulai dioperasionalkan pada tanggal 1 Juli 1987.
RSUD Tenriawaru diresmikan oleh Menteri Kesehatan RI pada tanggal 18 Oktober
1988 sebagai rumah sakit kelas C. RSUD Tenriawaru didirikan di atas tanah seluas
40.000 m2.
Jangkauan pelayanan RSUD Tenriawaru tidak hanya meliputi wilayah
Kabupaten Bone saja, tetapi hingga wilayah kabupaten sekitarnya seperti
Kabupaten Sinjai, Kabupaten Wajo dan Kabupaten Soppeng.
Sebagai institusi yang memberikan pelayanan dibidang kesehatan, RSUD
Tenriawaru senantiasa berusaha meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Pada
tanggal 6 Februari 2008, RSUD Tenriawaru telah mendapatkan pengakuan dari
KARS (Komite Akreditasi Rumah Sakit) sebagai rumah sakit yang terakreditasi
penuh tingkat dasar untuk 5 (lima) jenis pelayanan. Jenis pelayanan tersebut
meliputi pelayanan administrasi dan manajemen, pelayanan medis, pelayanan
gawat darurat, pelayanan keperawatan dan pelayanan rekam medis.
Upaya peningkatan kualitas pelayanan ini terus dilakukan secara berkelanjutan
yang ditandai dengan terakreditasinya RSUD Tenriawaru untuk dua belas jenis
pelayanan pada tanggal 31 Desember 2010. Dua belas pelayanan yang dimaksud
meliputi pelayanan administrasi dan manajemen, pelayanan rekam medis,
pelayanan farmasi, pelayanan medis, pelayanan gawat darurat, pelayanan kamar
operasi, pelayanan radiologi, pelayanan laboratorium, pelayanan keperawatan,
pelayanan perinatal resikotinggi, pengendalian infeksi di RS, keselamatan kerja,
kebakaran dan kewaspadaan bencana.
Pada Bulan Desember 2016, RSUD Tenriawaru telah terakreditasi versi 2012
dengan status paripurna. Akreditasi versi 2012 terdiri dari 15 Pokja, meliputi :

29
I. Area Medis, terdiri dari :
(1) Akses Pelayanan dan Kontinuitas (APK)
(2) Pokja Assessment Pasien (AP)
(3) Pelayanan Anastesi dan Bedah (PAB)
(4) Pelayanan Pasien (PP)
(5) Pokja Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI)
II. Area Manajemen, terdiri dari :
(1) Pokja Manajemen Penggunaan Obat (MPO)
(2) Pokja Tata Kelola, Kepemimpinan dan Pengarahan (TKP)
(3) Pokja Kualifikasi Pendidikan Staf (KPS)
(4) Pokja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)
(5) Pokja Manajemen Fasilitas Kesehatan (MFK)
III. Area Keperawatan, terdiri dari :
(1) Pokja Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK)
(2) Pokja Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
(3) Pokja Hak Pasien dan Keluarga (HPK)
(4) Pokja Sasaran Keselamatan pasien (SKP)
(5) Pokja Millenium Development Goals (MDGs)
Pada tahun 2009, status RSUD Tenriawaru meningkat menjadi Rumah Sakit
Kelas B Non Pendidikan. Peningkatan status ini sesuai dengan Keputusan Menteri
Kesehatan RI Nomor 1000/MENKES/SK/XI/2009 tanggal 10 November 2009
tentang Peningkatan Kelas RSUD Tenriawaru Kabupaten Bone dari Kelas C
menjadi Kelas B Non Pendidikan.RSUD Tenriawaru resmi berstatus Badan
Layanan Umum Daerah (BLUD) pada tanggal 23 Nopember 2010 sesuai dengan
Surat Keputusan Bupati Bone Nomor 33 Tahun 2010.
Sejak berdiri, RSUD Tenriawaru Kelas B telah mengalami beberapa kali
pergantian pemimpin, yaitu :
a. dr. Hj. Suriah Tjegge, MHA (1987 – 1995)
b. dr. Hj. Nurmelia Arzad (1995 – 2000)
c. dr. H. A. Pallawarukka, M.Kes (2000 – 2004)
d. dr. Hj. A. Khasma, M.Kes (2004 – Juli 2008)
e. dr. Hj. Arfiah Arabe , MARS (Juli 2008 – Juli 2013)
f. dr. Hj. A. Nurminah A. Yusuf, MARS (Juli 2013 – Sekarang)

30
B. Visi dan Misi
1. Visi
Visi RSUD Tenriawaru adalah menjadi rumah sakit pendidikan yang
berkualitas dan mandiri untuk mewujudkan pelayanan kesehatan paripurna
menuju masyarakat Bone yang sehat.
2. Misi
Untuk melaksanakan visi tersebut di atas, RSUD Tenriawaru mempunyai misi:
a. Meningkatkan kualitas dan ketersediaan sarana dan prasarana
b. Meningkatkan kualitas dan ketersediaan tenaga medis profesional
c. Meningkatkan kualitas manajemen pelayanan melalui peningkatan
pengaturan dan penegakannya
d. Meningkatkan profesionalisme manajemen keuangan dan operasional yang
efektif dan efisien.
e. Meningkatkan fungsi rumah sakit dalam pelayanan preventif, promotif,
kuratif dan rehabilitatif.

C. Struktur Organisasi
Berdasarkan Peraturan Bupati Bone Nomor 01 Tahun 2010 tentang
Organisasi Perangkat Daerah Rumah Sakit Umum Daerah, Struktur Organisasi
RSUD Kabupaten Bone diatur dan ditetapkan sebagai berikut :
1. Direktur, bertanggung jawabKepadaBupati Bone melalui Sekretaris Daerah.
2. Wakil Direktur, berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktur
a. Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Pengembangan Sumber Daya
Manusia (SDM), membawahi :
1) Bidang Pelayanan Medis, yang terdiri dari :
- Seksi Peningkatan Pelayanan Medis
- Seksi Penunjang dan Pelaporan Medis.
2) Bidang Pelayanan Keperawatan yang terdiri dari :
- Seksi Asuhan dan Etika Keperawatan
- Seksi Penunjang Keperawatan.

31
3) Bidang Pengembangan RumahSakit dan Sumber Daya Manusia
(SDM), yang terdiri dari :
- Seksi Pengembangan SDM
- Seksi Pengembangan Akreditasi.
b. Wakil Direktur Administrasi, Keuangan dan Bina Program, membawahi :
1) Bagian Administrasi, Hukum dan Humas, terdiri dari :
- Sub Bagian Tata Usaha
- Sub Bagian Administrasi kepegawaian
- Sub Bagian Humas, Pemasaran dan Hukum.
2) Bagian Keuangan dan Perlengkapan, terdiri dari :
- Sub Bagian Perbendaharaan dan Remunerasi
- Sub Bagian Akuntansi, Verifikasi dan Pelaporan
- Sub Bagian Perlengkapan dan Perbekalan Kesehatan.
3) Bagian Bina Program, terdiri dari :
- Sub Bagian Perencanaan
- Sub Bagian Pengembangan Sarana dan Prasarana
- Sub Bagian Monitoring dan Evaluasi Program.
c. Unit-unit Non Struktural
1) Komite, berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur.
2) Instalasi, berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur
sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masingpenyelenggaraan
kegiatan, meliputi :
4) Instalasi Rawat Jalan
5) Instalasi Rawat Inap
6) Instalasi Gawat Darurat (IGD), terdiri dari IGD Umum dan IGD
obgyn
7) Instalasi Bedah Sentral (IBS)
8) Instalasi Rawat Intensif, terdiri dari Neonatal Intensive Care Unit
(NICU) dan Intensive Care Unit (ICU)
9) Instalasi Hemodialisa
10) Instalasi Laboratorium
11) Instalasi Radiologi
12) Instalasi Rehabilitasi Medik
13) Instalasi Rekam Medik

32
14) Instalasi Farmasi
15) Instalasi Gizi
16) Instalasi Laundry,
17) Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPSRS).
3) Satuan Pemeriksa Internal (SPI), berada di bawah dan bertanggung
jawab kepada Direktur.
4) Kelompok Jabatan Fungsional
- Terdiri dari sejumlah tenaga fungsional yang terbagi atas berbagai
kelompok jabatan fungsional sesuai dengan bidang keahliannya,
dalam unit kegiatan sesuai dengan kompetensinya, berada di bawah
dan bertanggung jawab kepada Direktur.
- Unit-unit Pelayanan dan Panitia-panitia tersebut dibentuk dengan
SK Direktur, berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
Direktur, dengan struktur organisasi menyesuaikan/menyelaraskan
dengan organisasi fungsi Rumah Sakit serta peraturan perundang-
undangan yang berlaku, terdiri dari :
 Unit Peningkatan dan Pengendalian Mutu (UPM)
 Unit Layanan Pengadaan Barang dan Jasa
 Panitia Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS)
 Panitia Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
 Panitia Keselamatan Kerja, Kebakaran dan Kewaspadaan
Bencana (K3)

Gambar Struktur Organisasi RSUD Tenriawaru Kelas B Kab. Bone

33
DIREKTUR
dr. Hj. NURMINAH. A. YUSUF, MARS
KELOMPOK
JABATAN FUNGSIONAL

Plh. WADIR WADIR


ADMINISTRASI, KEUANGAN & BINA PROGRAM PELAYANAN MEDIK & PENGEMBANGAN SDM
MUH. ROSTANG, SKM. M.Kes dr H, MUH SYAHRIR, M.Kes

KEPALA BAGIAN KEPALA BAGIAN Plh. KEPALA BAGIAN KEPALA BIDANG KEPALA BIDANG KEPALA BIDANG
PELAYANAN MEDIS
ADMINISTRASI, HUKUM & HUMAS KEUANGAN & PERLENGKAPAN BINA PROGRAM PELAYANAN KEPERAWATAN PENGEMBANGAN RS DAN SDM
ALIMUNG, SKM, M. Kes MUH. ROSTANG, SKM. M.Kes NURLINA, S.ST, M.Kes drg. Hj. SARDIAWANTY, MARS Hj. RAHMAWATI, SKM
Hj.KARTINI HARUNA,S.Kep,M.Kes

KEPALA SUB. BAGIAN KEPALA SUB. BAGIAN KEPALA SUB. BAGIAN KEPALA SEKSI KEPALA SEKSI KEPALA SEKSI
ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN PERBENDAHARAAN DAN REMUNERASI PERENCANAAN PENINGKATAN PELAYANAN MEDIS ASUHAN DAN ETIKA KEPERAWATAN PENGEMBANGAN SDM
Hj. ASNI SAID, SE HERMAWATI, SE.M,Si ............ dr. H. ANWAR. L Ns.Hj.ROSMAWATI,S.Kep.M.Kes Hj. SUHAENAH, S.ST

KEPALA SUB. BAGIAN KEPALA SUB. BAGIAN Plh. KEPALA SUB. BAGIAN Plh. KEPALA SEKSI KEPALA SEKSI KEPALA SEKSI
TATA USAHA AKUNTANSI, VERIFIKASI & PELAPORAN PENGEMBANGAN SAR & PRAS PENUNJANG DAN PELAPORAN MEDIS PENUNJANG KEPERAWATAN PENGEMBANGAN AKREDITASI
RAMLAH,S. Sos, M.Si A. MARDIANI, S.Sos SAHRUL, SKM, M.Kes NURHIDAYAT B .SKM,MKM HARLINA, S.Kep, M.Kes NURLINA, S.ST, M.Kes

KEPALA SUB. BAGIAN KEPALA SUB. BAGIAN KEPALA SUB. BAGIAN


HUKUM DAN HUMAS PERLENGKAPAN & PERBEKALAN KES MONITORING DAN EVALUASI
RAMLI, SH MUH. YANI, SKM EMY YUNIASTUTI,SKM, M. Kes

INSTALASI

(Sumber : Profil RSUD Tenriawaru Kab. Bone 2017)


D. Komposisi Karyawan
Perkembangan ketenagaan Berdasarkan Jenjang Pendidikan RSUD Tenriawaru
Kab. Bone Tahun 2014-2016
2014 2015 2016
N Kualifikasi PNS No Jm PNS No Jml PNS No Jml
o FT P n l FT PT n F PT n
T PN PN T PN
S S S
TENAGA KESEHATAN
A. Tenaga Medis
1 Dokter Umum 17 - - 17 10 - - 10 12 - 2 14
2 Dokter PPDS 2 - - 2 3 - - 3 - - - -
3 Dokter 2 - - 2 3 - - 3 3 - - 3
Spesialis
Bedah
4 Dokter 3 - - 3 3 - - 3 3 - - 3
Spesialis
Penyakit
Dalam
5 Dokter 2 - - 2 2 - - 2 2 - - 2
Spesialis
Kesehatan
Anak
6 Dokter 1 - - 1 1 - 1 2 2 - 2 4
Spesialis
Obstetri dan
Gynecologie

34
7 Dokter 2 - - 2 2 - - 2 2 - - 2
Spesialis
Radiologi
8 Dokter 1 - - 1 1 - - 1 1 - - 1
Spesialis
Anasthesi
9 Dokter 1 - - 1 2 - - 2 2 - - 2
Spesialis
Patologi
Klinik
1 Dokter 1 - - 1 1 - - 1 - - 1 1
0 Spesialis Mata
1 Dokter 1 - - 1 1 - - 1 1 - - 1
1 Spesialis THT
1 Dokter - 1 - 1 - 1 - 1 1 - - 1
2 Spesialis Kulit
dan Kelamin
1 Dokter 2 - - 2 2 - - 2 2 - - 2
3 Spesialis
Saraf
1 Dokter 1 - - 1 - 1 - 1 1 - - 1
4 Spesialis
Orthopedi
1 Dokter 2 - - 2 1 - - 1 1 - - 1
5 Spesialis Jiwa
1 Dokter Gigi 2 - - 2 2 - - 2 2 - - 2
6
1 Dokter/ 1 - - 1 1 - - 1 1 - - 1
7 Dokter
Gigi/MHA/M
ARS
1 Dokter/Dokter 4 - - 4 4 - - 4 4 - - 4
7 Gigi S2/S3
Kes.
Masyarakat
B. Tenaga
Keperawatan
1 S1 33 - 22 55 51 - 3 54 80 - 29 109
Keperawatan
2 D4 Kebidanan 1 - 1 1 - - 1 3 - 6 9
3 D3 88 - 200 288 76 - 197 273 48 - 165 213
Keperawatan
4 D3 Kebidanan 17 - 75 92 16 - 66 82 14 - 51 65
5 D3 2 - - 2 - - - - 2 - - 2
Keperawatan
Anasthesi
6 D3 Kesehatan 5 - - 5 6 - - 6 6 - - 6
Gigi
7 Perawat 2 - 1 3 - - 1 1 - - 1 1
Kesehatan
(SPK/SPR)

35
8 Tenaga - - - - - - - - - - - -
Keperawatan
Lainnya

C. Tenaga
Kefarmasian
1 Apoteker 10 - 4 14 11 - 4 15 11 - 4 15
2 S1 Farmasi 3 - 5 8 2 - 5 7 2 - 6 8
3 Akademi 1 - - 1 1 - - 1 1 - - 1
Farmasi
4 Asisten 2 - - 2 2 - - 2 2 - - 2
Apoteker
D Tenaga
. Kesehatan
Masyarakat
1 S2 Kesehatan 8 - - 8 7 - - 7 8 - - 8
Masyarakat
2 S1 Kesehatan 15 - 15 30 15 - 13 28 15 - 13 28
Masyarakat
3 D3 Sanitarian 1 - - 1 - - 1 1 - - 3 3
4 D1 Sanitarian - - 2 2 - - - - - - - -
5 Tenaga - - - - - - - - - - - -
Kesehatan
Masy.
Lainnya

E. Tenaga Gizi
1 S1 Gizi 2 - - 2 1 - - 1 2 - 3 5
-2 D4 Gizi 1 - - 1 4 - - 4 1 - - 1
3 D3 Gizi 9 - - 9 7 - - 7 7 - - 7

F. Tenaga
Keterapian
Fisik
1 D3 Fisioterapi 3 - 2 5 3 - 2 5 5 - 2 7

Tenaga
Keteknisian
Medis
1 D3 Teknik 1 - - 1 1 - - 1 1 - - 1
Gigi
2 D3 Teknik 7 - - 7 6 - - 6 6 - 2 8
Radiologi dan
Radioterapi
3 D3 Perekam 1 - - 1 1 - 2 3 1 - - -
Medis
4 D3 Teknik - - - 1 2 - - 2 2 - - 2
Elektromedik
5 D3 Analis 8 - 3 11 7 - 4 11 7 - 7 14
Kes.

36
A Pasca
Sarjana
1 S2 1 - - 1 1 - - 1 1 - - 1
Administrasi
2 S2 Ekonomi/ 1 - - 1 1 - - 1 - - - -
Akuntansi
3 S2 Hukum - - 1 1 - - 1 1 - - 2 2
4 S2 - - - - - - - - - - - -
Administrasi
Kes.
Masyarakat

B Sarjana
1 Sarjana - - 1 1 - - 1 1 - - 1 1
Psikologi
2 Sarjana 3 - 9 12 3 - 10 13 2 - 11 13
Ekonomi/
Akuntansi
3 Sarjana 5 - 2 7 3 - 2 5 3 - 8 11
Administrasi
4 Sarjana - - 6 6 1 - 6 7 1 - 3 4
Hukum
5 Sarjana - - 4 4 - - 2 2 - - 4 4
Komputer
6 Sarjana - - 1 1 - - 2 2 - - 5 5
Lainnya

C Sarjana
Muda/ D3/
Akademi
1 Sarjana Muda - - - - - - - - 1 - 5 6
Ekonomi/
Akuntansi
2 Sarjana Muda - - - - - - - - - - - -
Komputer
3 Sarjana Muda/ - - - - 1 - 8 9 - - 10 10
D3 lainnya

D Sekolah
Menengah
Tingkat Atas
(SMA)
1 SMA/ SMU 16 - 90 106 19 - 110 129 16 - 120 136
2 SMEA/ SMK - - 15 15 - - 11 11 - - - -
3 SMKK - - - - - - - - - - - -
4 SMTA - - 15 15 - - 12 12 - - 14 14
Lainnya

E SMTP dan
SD Kebawah
1 SMTP/ SMP - - 23 23 - - 26 26 - - 30 30
2 SD Ke bawah - - 43 43 - - 39 39 - - 25 25

37
TOTAL 291 1 539 832 288 2 529 819 28 - 535 822
7
Sumber : Subag. Kepegawaian

E. Struktur Organisasi Kesehatan dan Kesehatan Kerja (K3)


Tim Kesehatan dan Keselamatan Kerja berada dibawah Direktur Utama
yang terdiri dari Ketua Tim, Sekretaris dan 8 (Delapan) Koordinator yaitu :
1. Bidang Keselamatan
2. Bidang Keamanan
3. Bidang Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
4. Bidang Bencana
5. Bidang Kebakaran
6. Bidang Peralatan Medik
7. Bidang Utilitas
8. Bidang Kesehatan Kerja
Seluruh anggota Tim K3 mewakili semua unit kerja yang ada di RSUD
Tenriawaru Kabupaten Bone.

DIREKTUR

KETUA K3

SEKERTARIS

KOORDINATOR KOORDINATOR KOORDINATOR KOORDINATOR


KOORDINATOR KOORDINATOR KOORDINATOR KOORDINATOR
BID. BID. PERALATAN BID. SISTEM BID. KESEHATAN
BID. KEAMANAN BID. B3 BID. BENCANA BID. KEBAKARAN
KESELAMATAN MEDIK UTILITY KERJA

ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA

Sumber: Pedoman Pengorganisasian Tim Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

F. Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran


Pelaksanaan kegiatan pencegahan dan pengendalian kebakaran di rumah sakit
merupakan salah satu syarat dalam penilaian akreditasi rumah sakit. Pelaksanakan

38
kegiatan pencegahan dan pengendalian kebakaran di Rumah Sakit Khusus dr.
RSUD Tenriawaru Kelas B Kab. Bone meliputi :
1. Pembentukan struktur organisasi tim penanggulangan bencana kebakaran dan
disertai pengaturan petugas yang betanggung jawab untuk setiap tim yang
terdiri dari :
a. Tim pemadam kebakaran (Mengunakan helm warna merah)
b. Tim evakuasi pasien (Mengunakan helm warna biru)
c. Tim evakuasi alat medis (Mengunakan helm warna kuning)
d. Tim evakuasi dokumen (Mengunakan helm warna putih)
2. Tersedia alat pemadam api ringan (APAR) disetiap ruangan baik ruangan
kantor maupun ruang pelayanan kesehatan disertai lembar kontrol setiap
harinya dilengkapi dengan cara penggunaan APAR
3. Memiliki sistem alarm kebakaran.
4. Terdapat petunjuk untuk arah jalur evakuasi pada keadaan bencana dan
kebakaran
5. Terdapat denah lokasi titik kumpul aman pada keadaan evakuasi di tiga titik
lokasi yaitu didepan ruangan radiologi, disamping ruang , dibelakang ruang
perawatan
6. Terdapat tangga darurat untuk gedung bertingkat di instalasi gawat darurat
7. Telah dilakukan pelatihan penggunaan alat pemadam api ringan (APAR) dan
Simulasi keadaan bencana dan kebakaran.
8. Larangan merokok diseluruh area rumah sakit baik melalui poster dan media
informasi secara lisan dengan pengeras suara (Microfon) setiap saat.

G. Job Safety Analysis (JSA)


Job Safety Analysis (JSA) adalah kegiatan pemeriksaan sistematis pekerjaan,
yang bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya, menilai tingkat risiko, dan
mengevaluasi langkah-langkah yang telah dilakukan untuk mengendalikan risiko.
1. Instalasi Laundry
a. Jenis pelayanan pada Instalasi Laundry
1) Pengambilan linen kotor
2) Pencucian linen kotor
3) Penyetrikaan dan pelipatan linen bersih
4) Pendistribusian linen bersih di rumah sakit

39
b. Alur Proses Pengelolaan linen unit Laundry RSUD Tenrawaru Kelas B Kab.
Bone

Gambar.1. Alur Proses Pengelolan Linen


Sumber : Data Sekunder bagian Laundry 2017
Contoh : Job Safety Analysis (JSA)
Tabel 5. JSA Bagian Laundry RSUD Tenriawaru Kelas B Kab. Bone
Proses Pegelolaan linen
No Jenis Kegiatan Bahaya Risiko Risk Matrix Pengendalian
L S RR
1. Pengambilan - Resiko kontak - Tertular 5 3 15 - Mempunyai SOP
Linen kotor dengan darah penyakit pengambilan linen
dari ruang atau cairan seperti kotor
perawatan dan tubuh pasien dari Hepatitis, - Menggunakan box
OK linen kotor HIV/AIDS tertutup untuk
pengambilan linen
kotor yang tidak
tercemar dan box
yang tercemar
cairan tubuh pasien
untuk mencegah
paparan

40
- Menggunakan
pakaian khusus/
Pakain kerja
- Penggunakan APD
seperti : Celemek
masker, tutup
kepala, sarung
tangan RT, sepatu
boot
2. Pemilahan - Resiko kontak - Tertular 5 3 15 - Mempunyai SOP
linen infeksius dengan darah penyakit Pemilahan linen
dan non atau cairan seperti infeksius dan non
infeksius tubuh pasien dari Hepatitis, infeksius
linen kotor HIV/AIDS - Menggunakan
pakaian khusus/
pakaian kerja
- Penggunakan APD
seperti : Celemek
masker, tutup
kepala, sarung
tangan, sepatu boot

3. Proses - Resiko kontak - Tertular 5 3 15 - Mempunyai SOP


pencucian dengan darah penyakit proses pencucian
Linen atau cairan seperti linen
Infeksius tubuh pasien dari Hepatitis, - Menggunakan
mengunakan linen infeksius HIV/AIDS APD seperti Gaun
bahan kimia kerja, celemek,
seperti : - Resiko terpapar - Iritasi pada 3 2 6 sarung tangan RT,
- Desinfektan dengan bahan kulit, dan masker, sepatu
(larutan kimia dalam anggota boot
Natrium proses pencucian tubuh yang
hipoklorit) lain

41
- Penghilang linen - Penggunaan APD
darah , (dekontaminasi) untuk pelindung
lemak/noda - Tangan 1 2 2 telinga
- Pelembut - Bahaya mekanik tergores atau - Bekerja hati-hati
pakaian tangan terjepit terluka dan konsentrasi
(Softener) mesin cuci

4. Pengeringan - Resiko terpapar - Iritasi pada 3 2 6 - Menggunakan


Linen dengan bahan kulit, dan APD seperti Gaun
kimia sisa proses anggota kerja, celemek,
pencucian linen tubuh yang sarung tangan RT,
lain masker, sepatu
boot
- Bahaya mekanik - Tangan 1 2 2 - Pembuatan
tangan terjepit tergores atau cerobong untuk
mesin cuci teluka menyalurkan panas
keluar ruangan
- - Bekerja hati-hati
dan Konsentrasi
5 Penyetrikaan - Bahaya Mekanik - Cedera pada 1 2 2 - Pasang pengaman
linen tangan terjepit Tangan : pada mesin
mesin tergores atau penyetrikaan linen
penyetrikaan teluka - Gunakan APD
linen - Bekerja hati-hati
dan konsentrasi
- Bahaya Fisik - Cedera pada 1 2 2
Risiko terpapar kulit :
panas dari mesin melepuh atau
penyetrikaan terluka
linen

Keterangan : L = Likelihood/Kemungkinan

42
S = Saverity/Keparahan
RR = Risk Ranting/Tingkat Resiko
2. Instalasi CSSD
a. Jenis Pelayanan pada CSSD diantaranya
1) Penerimaan alat bersih
2) Penerimaan alat Kotor
3) Dekontaminasi (Perendaman dan pencucian
4) Pengeringan
5) Setting dan Sortir (Layak dan tidak disterilkan)
6) Packing dan Labeling
7) Pemilahan barang untuk steril (Suhu Tinggi dan rendah)
8) Sterilisasi
9) Produksi kasa dan linen steril
10) Penyimpanan barang steril
11) Distribusi barang steril ke unit pengguna
b. Alur Proses pengelolaan unit CSSD RSUD Tenriawaru Kelas B Kab. Bone
Gambar.2. Alur Operasional Sterilisasi CSSD

Sumber : Data Sekunder bagian CSSD 2017

43
Tabel.6. Contoh JSA Bagian CSSD RSUD Tenriawaru Kab. Bone
Proses Sterilisasi CSSD
No. Jenis Kegiatan Bahaya Risiko Risk Matrix Pengendalian
L S RR
1. Penerimaan alat - Resiko kontak - Tertular 5 3 15 - Mempunyai SOP
medis (instrument) dengan darah penyakit penerimaan alat
kotor dari ruang atau cairan seperti medis kotor
perawatan, ICU, tubuh pasien Hepatitis, - Penerimaan alat
ICCU dan OK, dari alat medis HIV/AIDS, medis kotor di
kotor bekas dll lakukan ruang
pakai pencucian
- Menggunakan
bak instrumen
tertutup dan trolly
untuk
penerimaan alat
medis kotor yang
tercemar darah,
cairan tubuh
pasien dari alat
medis kotor bekas
pakai
- Menggunakan
pakaian khusus/
Pakain kerja
- Penggunakan
APD seperti :
Celemek masker,
tutup kepala,
sarung tangan
RT, sepatu boot

44
2. Proses - Resiko kontak - Tertular 5 3 15 - Mempunyai SOP
Decontaminasi alat dengan darah penyakit pencucian dan
medis kotor dengan atau cairan seperti sterilisasi alat
mengunakan larutan tubuh pasien Hepatitis, - Menggunakan
desinfectan : dari alat medis HIV/AIDS pakaian khusus/
- Alkazymen kotor Pakaian kerja
- Alkacide bekas pakai - Penggunakan
APD seperti :
- Resiko kontak - Iritasi pada 3 2 6 Masker masker,
dengan bahan kulit, dan tutup kepala,
kimia anggota Kacamata, sarung
desinfectan tubuh yang tangan, Apron,
pada proses lain sepatu boot
decontaminasi - Bekerja hati-hati
dan konsentrasi
- Bahaya - Luka gores 5 3 15
mekanis atau luka
Resiko tersayat
tertusuk/
teriris
instrumen saat
pencucian dan
penyikatan

3. Proses sterilisasi - Resiko - Cidera 4 4 16 - Mempunyai SOP


dengan suhu rendah Tersengat kulit otot, menghidupkan
menggunakan listrik cacat, dan alat sterilisasi
Hidrogen Perixide bahkan - Menggunakan
Low Temperatur kematian APD sarung
Plasma Steriliser tangan panas
Caps-86 - Risiko paparan - Cedera 2 2 4 - Pemeriksaan alat
- Memasukan/colok panas dari pada pada secara berkala
an kabel Power mesin sterilisasi tangan - Konsentrasi

45
supply 220V/380V atau
kesumber listrik anggota
- Proses tubuh yang
menghidupkan lain.
power supply
untuk
memanaskan
chamber pada alat
sterilisasi
4. Proses sterilisasi Bahaya Fisik
dengan suhu tinggi - Terkena panas - Cedera 2 2 4 - Mempunyai SOP
dengan dari mesin pada pada proses sterilisasi
menggunakan autoclave tangan dengan suhu
Autoclave Steam atau tinggi
Selection anggota - Pembuatan
tubuh yang cerobong untuk
lain. menyalurkan uap
panas keluar dari
- Terpapar uap - Cedera 2 2 4 ruangan sterilisasi
panas pada pada - Menggunakan
petugas saat wajah, APD seperti Gaun
membuka pintu kulit kerja, tutup
autoclave kepala, masker,
Kacamata, Sarung
tangan anti panas,
Sepatu tertutup
- Bekerja hati-hati
dan Konsentrasi

Keterangan : L = Likelihood/Kemungkinan
S = Saverity/Keparahan
RR = Risk Ranting/Tingkat Resiko

46
3. Instalasi Radiologi
a. Alur Alur Proses pengelolaan unit Radiologi RSUD Tenriawaru Kelas B

Kab. Bone

Menerima Pembacaan dan


Pengolahan Hasil
Pengantar Radiologi Interpretasi Hasil

Memindahkan
Penyimpanan hasil
Menerima Pasien Pasien ke
secara teratur
Pendorong

Melakukan
Memindahkan
tindakan
Pasien dari Pengedaran hasil
Pemeriksaan (Foto
Pendorong
Radiologi, USG)

Melakukan
Input Data
persiapan pasien

Gambar Alur Proses Pengelolaan Unit Radiologi

Tabel.7. Contoh Job Safety Analisis (JSA) Bagian Radiologi


Proses Pemeriksaan Radiologi
No. Jenis Kegiatan Bahaya Risiko Risk Matrix Pengendalian
L S RR
1. - Menginput data Faktor Fisik - Memakai
pasien ke - Paparan cahaya - Radiasi 5 3 15 kacamata untuk
dalam lampu yang compute mengurangi
komputer terlalu - Debu pada radiasi computer
terang/gelap dan buku-buku - Istirahat untuk
lama sehingga laporan pasien menghindari
dapat membuat kecapean, stress,
mata lelah dan dan salah
gangguan menulis status
penglihatan. pasien
- Terdapat bising - Jangan
yang berasal dari membungkuk
perangkat pada saat
radiologi, suara menulis
keluarga yang

47
banyak, dapat - Jarak mata
mengakibatkan dengan
gangguan komputer harus
pendengaran. kurang lebih 30
- Mengetik cm
yang terlalu 5 3 15 - Membersihkan
Faktor Ergonomi
lama dapat debu-debu pada
- Posisi kerja yang
membuat buku-buku
duduk pada
Carpal Tunnel laporan
ketinggian yang
Syndro - Menyesuaikan
tidak sesuai
- Masalah letak meja
sehingga dapat
ergonomic  dengan tinggi
menyebabkan
cara duduk siku saat berdiri.
kelelahan pada
yang terlalu
otot leher, bahu,
membungkuk
punggung dan
kaki.
- Letak meja yang
rendah tidak
sesuai dengan
tinggi siku saat
- Stress
berdiri, sehingga
dapat
mengakibatkan
kelelahan pada
5 3 15
bahu dan tangan.

Faktor Psikososial
- Interaksi dengan
pasien yang
terkadang tidak
baik karena
beberapa pasien
beserta keluarga
yang tidak sabar
untuk mengantri
dapat

48
mengakibatkan
stress
2. - Mendorong Faktor Fisik Cara mendorong - Mendorong
pasien ke - Bahaya lantai pasien yang salah 5 3 15 dengan posisi
ruangan yang licin dapat tubuh yang
Radiologi dengan menyebabkan benar
menggunakan Faktor Ergonomi Musculoskeletal - Tidak
brangkar Alat - Mendorong di disorder 5 3 15 mendorong
ruangan yang pasien jika
sempit dapat tidak sesuai
menyebabkan dengan
musculoskeletal kemampuan
disorder. Keselamatan
- Cara mendorong dan kesehatan
pasien yang salah kerja di
dapat laboratorium
menyebabkan
Musculoskeletal
disorder

3 Memindahkan Faktor Fisik - Cara - Memindahkan


Pasien dari - Paparan cahaya memindahkan 5 3 15 pasien dengan
brangkar ke tempat lampu yang pasien yang posisi tubuh
tidur terlalu terang dan salah dapat yang benar
lama sehingga menyebabkan - Melakukan
dapat membuat Musculoskele cuci tangan
mata lelah dan tal disorder rutin
gangguan - Menyentuh - Menggunakan
penglihatan. sumber sarung tangan
- Terdapat bising infeksi dari - Membuang
yang berasal dari tubuh pasien sarung
mesin radiologi, atau bahan- tanganpada
suara keluarga bahan yang tempat
pasien yang dikenakan sampah medis
banyak dapat pasien
mengakibatkan

49
gangguan - Occupational - Melakukan
pendengaran. infeksi cuci tangan
- Paparan suhu rutin
yang ekstrim dan
lama dapat
menyebabkan
gangguan kulit
dan
ketidaknyamana
n ketika bekerja

Faktor Biologi
- Bahaya infeksi
oppotunistik
apabila petugas
menyentuh 3 15
pasien
Faktor Ergonomi
- Cara 5
memindahkan
pasien yang
salah dapat
menyebabkan
Musculoskeletal 3 15
disorder.

5
4 Persiapan Pasien Faktor Fisik - Menyentuh - Melakukan
- Paparan cahaya sumber 5 3 15 cuci tangan
lampu yang infeksi dari rutin
terlalu terang dan tubuh pasien - Menggunakan
lama sehingga atau bahan- sarung tangan
dapat membuat bahan yang dan masker
mata lelah dan dikenakan - Melakukan
gangguan pasien desinfeksi
penglihatan.

50
- Terdapat bising - Occupational - Membuang
yang berasal dari infeksi sarung tangan
mesin radiologi, pada tempat
suara keluarga sampah medis
pasien yang - Melakukan
banyak dapat cuci tangan
mengakibatkan rutin
gangguan
pendengaran.
- Paparan suhu
yang ekstrim dan
lama dapat
menyebabkan
gangguan kulit
dan
ketidaknyamana
n ketika bekerja

Faktor Ergonomi
- Posisi kerja yang 5 3 15
berdiri dan terus-
menerus serta
tidak adanya
kursi sebagai alat
bantu dapat
menyebabkan
kelelahan pada
otot leher, bahu,
punggung dan
kaki.
- Letak tempat
tidur pasien yang
rendah tidak
sesuai dengan
tinggi siku saat
berdiri, sehingga

51
dapat
mengakibatkan
kelelahan pada
bahu dan tangan.

Faktor Psikososial
- Interaksi dengan 5 3 15
sesama rekan
kerja yang
terkadang tidak
baik jika terdapat
kesahalan dalam
melakukan
tindakan

5 Melakukan Faktor Fisik


tindakan - Paparan cahaya
pemeriksaan lampu yang - Kelelahan - Memakai alat
radiologi ke atas terlalu terang dan pada otot pelindung diri
pasien lama sehingga leher, bahu, seperti,
dapat membuat punggung dan muffler, jas
mata lelah dan kaki. radiologi
gangguan - Istirahat yang
penglihatan. cukup dan
- Terdapat bising meletakkan
yang berasal dari remote control
mesin radiologi pada tinggi
dapat yang sesuai
mengakibatkan dengan
gangguan petugas
pendengaran.
- Skil yang tidak
memeadai dan
cara kerja yang
tidak benar dapat
menyebabkan

52
bahaya radiasi
pada perugas
radiologi.
- Penggunaan
APD yang tidak
benar atau tidak
mengenakan
APD sama sekali
dapat
menyebabkan
bahay radiasi
- Paparan suhu
yang ekstrim dan
lama dapat
menyebabkan
gangguan kulit
dan
ketidaknyamana
n ketika bekerja

Faktor Ergonomi
- Posisi kerja yang
berdiri dan terus-
menerus serta
tidak adanya
kursi sebagai alat
bantu dapat
menyebabkan
kelelahan pada
otot leher, bahu,
punggung dan
kaki.
- Letak alat
pemgatur mesin
(remote control)
yang tidak sesuai

53
dengan tinggi
petugas sehingga
membutuhkan
petugas utuk
bekerja pada
posisi yag kurang
nyaman dapat
menyebabkan
kelelahan otot

Faktor Psikososial
- Tanggungjawab
terhadap
keselamatan
pasien dan
terhadap petugas
atasan dalam
melakukan tugas
dengan cepat dan
benar dapat
mengakibatkan
stress
6 Memindahkan Faktor Fisik - Cara 5 3 15 - Memindahkan
Pasien dari tempat - Paparan cahaya memindahkan pasien dengan
tidur ke brangkar lampu yang pasien yang posisi tubuh
terlalu terang dan salah dapat yang benar
lama sehingga menyebabkan - Melakukan
dapat membuat Musculoskele cuci tangan
mata lelah dan tal disorder rutin
gangguan - Menyentuh - Menggunakan
penglihatan. sumber sarung tangan
- Terdapat bising infeksi dari - Membuang
yang berasal dari tubuh pasien sarung tangan
mesin radiolo, atau bahan- pada tempat
suara keluarga bahan yang sampah medis
pasien yang

54
banyak dapat dikenakan - Melakukan
mengakibatkan pasien cuci tangan
gangguan - Occupational rutin
pendengaran. infeksi
- Paparan suhu
yang ekstrim dan
lama dapat
menyebabkan
gangguan kulit
dan
ketidaknyamana
n ketika bekerja

Faktor Biologi
- Bahaya infeksi
oppotunistik
apabila petugas
menyentuh
pasien

Faktor Ergonomi
- Cara
memindahkan
pasien yang salah
dapat
menyebabkan
Musculoskeletal
disorder.
7 Pengolahan Hasil Faktor Fisik - Iritasi kulit 5 3 15 - Menggunakan
- Paparan cahaya bila kontak sarung tangan
lampu yang dengan bahan selama proses
terlalu gelap dan kimia obat pemeriksaan,
lama sehingga pakaian
dapat membuat pelindung diri
mata lelah dan - Tidak
menyentuh

55
gangguan mulut, mata,
penglihatan. lubang hidung
- Terdapat bising selama proses
yang berasal dari pemeriksaan
mesin radiologi, - Melakukan cuci
suara keluarga tangan rutin
pasien yang sehabis bekerja
banyak dapat
mengakibatkan
gangguan
pendengaran.
- Paparan suhu
yang ekstrim dan
lama dapat
menyebabkan
gangguan kulit
dan
ketidaknyamana
n ketika bekerja
- Ventilasi yang
kurang bagus
dapat
menyebabkan
ketifaknyamanan
saat bekerja.
- Penggunaan
bahan kimia yang
berbahaya dapat
menyebabkan
iritasi mata dan
kulit.

Keterangan : L = Likelihood/Kemungkinan
S = Saverity/Keparahan
RR = Risk Ranting/Tingkat Resiko

56
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Perilaku K3 di tempat kerja yang dirumuskan oleh WHO. Pemikiran dan
perasaan (thoughts and feeling), yakni dalam bentuk pengetahuan, persepsi,
sikap, pendidikan, tempat kerja, dan jenis pekerjaan.
2. Pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran di RSUD Tenriawaru
Kelas B Kab. Bone sudah berjalan dengan baik, di mana telah terbentuk
struktur organisasi tim penangulangan bahaya kebakaran, tersedia alat
pemadam api ringan (APAR) disetiap ruangan rumah sakit, sistem alarm
kebakaran, penunjuk arah evakuasi denah titik kumpul yang aman pada
keadaaan bencana dan kebakaran, pelatihan penggunaan APAR bagi semua

57
pegawai Rumah sakit, pada keadaaan bencana dan kebakaran serta simulasi
keadaan bencana dan kebakaran.
3. Job Safety Analisis (JSA) merupakan salah satu tehnik analisa bahaya yang
dapat diterapkan dilingkungan kerja, dimana tehnik ini bertujuan untuk
mengidentifikasi potensi bahaya, resiko yang dapat timbul dari bahaya yang
ada dari langkah-langkah setiap pekerjaan serta tehnik pengendalian (Hirarchi
Of Control)

B. Saran
1. Diharapkan agar pengurus organisasi/unit K3 mengevaluasi masalah yang
berhubungan dengan kesehatan, keselamatan dan lingkungan kerja di RS Ibnu
Sina Makassar agar setiap petugas dapat bekerja optimal. Dan sebaiknya setiap
tenaga kerja diberikan selebaran tentang kesehatan kerja dan penyakit akibat
kerja.
2. Secara umum, dalam hal lingkungan kerja, diharapkan agar:
a. Segala yang berhubungan dengan faktor fisik seperti pencahayaan dan
suhu ruangan sebaiknya dihindari atau dikurangi. Dan pihak rumah sakit
lebih memperhatikan fasilitas ruang ICU guna mendukung terciptanya
pelayanan yang baik.
b. Dari faktor ergonomi, tempat kerja petugas sebaiknya disesuaikan dengan
postur tubuh petugas. Setiap petugas juga sebaiknya mengikuti pelatihan
tentang ergonomik.
c. Faktor Psikososial, agar para dokter dan petugas ruangan radiologi
menjaga silaturahmi dengan atasan, pasien, dan sesama rekan kerja, agar
terjalin rasa persaudaraan yang kuat.
3. Perlu dilakukan kontrol dan pengecekan secara rutin terhadap alat pemadam
api ringan (APAR,), sistem alarm kebakaran apakah tetap dapat berfungsi atau
tidak ketika terjadi keadaan darurat atau bencana.
4. Perlunya penambahan rambu-rambu arah evakuasi, tanda-tanda (safety sign)
atau prosedur evakuasi saat darurat, prosedur evakuasi bila berada digedung
bertingkat prosedur bila terjadi gempa, cara penggunaan APAR dan lain
sebagainya sehingga seluruh karyawan, pasien maupun pengunjung rumah
sakit dapat dengan mudah melihat rambu-rambu atau petunjuk yang ada ketika
terjadi kadaan darurat atau bencana

58
5. Perlunya penyusunan Job Safety Analisis (JSA) yang definitif disetiap bagian
dirumah sakit agar dapat diindentifikasi potensi dan resiko bahaya yang
mungkin timbul dari setiap langkah-langkah pekerjaan yang dilakukan serta
bagaimana tehnik pengendalian terhadap bahaya tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Dani, Cecep.(2014). Keselamatan dan Kesehatan Kerja.Yogyakarta;Pustaka Baru.

Departemen Kesehatan RI (2009).Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah


Sakit.

Hidayanti Erika, dkk (2013). Bahaya dan Resiko Kerja di Laundry. Kesehatan
Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah.Jakarta. diakses Tanggal 12 Desember 2017
https://www.academia.edu/4655268/Bahaya_dan_Resiko_Kerja_di_Laundry.

59
Imadul Anisa dkk,(2013). Analisis Resiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada
Instalasi Laundry RSUD kota Semarang 2013. Skripsi. Fakultas Kesehatan
Masyrakat Dian Nuswantoro. Semarang.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 432/MENKES/SK/IV/2007


tentang “Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di
Rumah Sakit.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor :


1087/MENKES/SK/VIII/2010 “Standar Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Di
Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Bina
Kesehatan Kerja Tahun 2010.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1014/MENKES/SK/XI/2008 Tentang Standar Pelayanan Radiologi Diagnostik
Di Sarana Pelayanan Kesehatan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Permenkes RI, No. 66 Tahun 2016. Tentang Standar Keselamatam dan Kesehatan Kerja
di Rumah Sakit (Jakarta; DepKes RI.2016).

Profil RSUD Tenriawaru kelas B Kab. Bone 2017

Ramli,Soehatman.2011. Pedoman Praktis Manajemen Resiko Dalam Perspektif


K3;OHS Risk Management.Jakarta:Dian Rakyat.

Tarwaka.(2016). Dasar-Dasar Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Serta Pencegahan


Kecelakaan Ditempat Kerja. Surakarta:Harapan Press.

Tarwaka.(2017). Keselamatan dan Kesehatan Kerja;Manajemen dan Implementasi K3


di Tempat Kerja. Surakarta:Harapan Press.

60

Anda mungkin juga menyukai