Anda di halaman 1dari 9

Sistem Polder

Sistem polder adalah suatu cara penanganan banjir dengan kelengkapan


bangunan sarana fisik, yang meliputi saluran drainase, kolam retensi, pompa air, yang
dikendalikan sebagai satu kesatuan pengelolaan. Dengan sistem polder, maka lokasi rawan
banjir akan dibatasi dengan jelas, sehingga elevasi muka air, debit dan volume air yang
harus dikeluarkan dari sistem dapat dikendalikan. Oleh karena itu, sistem polder disebut
juga sebagai sistem drainase yang terkendali.
Fungsi
Fungsi utama polder adalah sebagai pengendali muka air di dalam sistem polder
tersebut. Untuk kepentingan permukiman, muka air di dalam Sistem dikendalikan
supaya tidak terjadi banjir/genangan. Air di dalam sistem dikendalikan sedemikian rupa
sehingga jika terdapat kelebihan air yang dapat menyebabkan banjir, maka kelebihan air
itu dipompa keluar sistem polder.

 Kriteria Desain
- Lokasi
Sistem ini dipakai untuk daerah-daerah rendah dan daerah yang berupa
cekungan, ketika air tidak dapat mengalir secara gravitasi. Agar daerah ini tidak
tergenang, maka dibuat saluran yang mengelilingi cekungan. Air yang tertangkap dalam
daerah cekungan itu sendiri ditampung di dalam suatu waduk, dan selanjutnya dipompa
ke kolam tampungan. Lokasi harus memiliki lahan yang cukup karena secara parsial
berada di luar alur sungai
Kelengkapan Sarana Fisik antara lain : Saluran air/ Kanal/ Tampungan
memanjang/Waduk, Tanggul dan Pompa a. Saluran air / Kanal / Tampungan
Memanjang dan Waduk Saluran air / Tampungan Memanjang dan Waduk dibangun
sebagai sarana untuk mengatur penyaluran air ketika elevasi air di titik pembuangan
lebih tinggi dari elevasi saluran di dalam kawasan.
Elemen-elemen Sistem Polder

Sistem polder terdiri dari jaringan drainase, tanggul, kolam retensi dan badan
pompa. Keempat elemen sistem polder harus direncanakan secara integral, sehingga dapat
bekerja secara optimal.

- Jaringan Drainase

Drainase adalah istilah yang digunakan untuk sistem penanganan kelebihan air.
Khusus istilah drainase perkotaan, kelebihan air yang dimaksud adalah air yang berasal
dari air hujan. Kelebihan air hujan pada suatu daerah, dapat menimbulkan masalah yaitu
banjir atau genangan air, sehingga diperlukan adanya saluran drainase yang berfungsi
menampung air hujan dan kemudian mengalirkan air hujan tersebut menuju kolam
penampungan. Dari kolam penampungan tersebut, untuk mengendalikan elevasi muka air,
kelebihan air tersebut harus dibuang melalui pemompaan.
Pada suatu sistem drainase perkotaan terdapat jaringan saluran drainase yang
merupakan sarana drainase lateral berupa pipa, saluran tertutup dan saluran terbuka.
Berdasarkan cara kerjanya saluran drainase terbagi dalam beberapa jenis, yaitu saluran
pemotong, saluran pengumpul dan asaluran pembawa.
a. Saluran Pemotong (interceptor) adalah saluran yang berfungsi sebagai pencegah
terjadinya pembebanan aliran dari suatu daerah terhadap daerah lain di bawahnya.
Saluran ini biasanya dibangun dan diletakkan pada bagian yang relatif sejajar dengan
bangunan kontur.
b. Saluran Pengumpul (collector) adalah saluran yang berfungsi sebagai pengumpul debit
yang diperoleh dari saluran drainase yang lebih kecil dan akhirnya akan dibuang ke
saluran pembawa. Letak saluran pembawa ini di bagian terendah lembah ini suatu
daerah sehingga secara efektif dapat berfungsi sebagai pengumpul dari anak cabang
saluran yang ada.

c. Saluran Pembawa (conveyor). adalah saluran yang berfungsi sebagai pembawa air
buangan dari suatu daerah ke lokasi pembuangan tanpa membahayakan daerah yang
dilalui. Sebagai contoh adalah saluran banjir kanal atau sudetan-sudetan atau saluran by
pass yang bekerja khusus hanya mengalirkan air secara cepat sampai ke lokasi
pembuangan.
Untuk menjamin berfungsinya saluran drainase secara baik, diperlukan bangunan-
bangunan pelengkap di tempat-tempat tertentu. Jenis bangunan pelengkap itu adalah :
a. Bangunan Silang; misalnya gorong-gorong atau siphon
b. Bangunan Pintu Air ; misalnya pintu geser atau pintu otomatis
c. Bangunan peresap (infiltrasi ) misalnya sumur resapan
Semua bangunan yang disebutkan di atas tidak selalu harus ada pada setiap
jaringan drainase. Keberadaannya tergantung pada kebutuhan setempat yang biasanya
dipengaruhi oleh fungsi saluran, tuntutan akan kesempurnaan jaringannya, dan kondisi
lingkungan. Gambar ilustrasi mengenai jaringan drainase dalam sistem polder dapat dilihat
pada Gambar 2.2.

(Basic concepts of polders, Prof.dr.E.Schultz)

Gambar.Skema jaringan drainase pada sistem polder


- Tanggul

Tanggul merupakan suatu batas yang mengelilingi suatu badan air atau
daerah/wilayah tertentu dengan elevasi yang lebih tinggi daripada elevasi di sekitar
kawasan tersebut, yang bertujuan untuk melindungi kawasan tersebut dari limpasan air
yang berasal dari luar kawasan. Dalam bidang perairan, laut dan badan air merupakan
daerah yang memerlukan tanggul sebagai pelindung di sekitarnya. Jenis – jenis tanggul,
antara lain : tanggul alamiah, tanggul timbunan, tanggul beton dan tanggul infrastruktur.
Tanggul alamiah yaitu tanggul yang sudah terbentuk secara alamiah dari
bentukan tanah dengan sendirinya. Contohnya bantaran sungai di pinggiran sungai
secara memanjang. Tanggul timbunan adalah tanggul yang sengaja dibuat dengan
menimbun tanah atau material lainnya, di pinggiran wilayah. Contohnya tanggul timbunan
batuan di sepanjang pinggiran laut. Tanggul beton merupakan tanggul yang sengaja
dibangun dari campuran perkerasan beton agar berdiri dengan kokoh dan kuat. Contohnya
tanggul bendung, dinding penahan tanah ( DPT ).
Tanggul infrastruktur merupakan sebuah struktur yang didesain dan dibangun
secara kuat dalam periode waktu yang lama dengan perbaikan dan pemeliharaan secara
terus menerus, sehingga seringkali dapat difungsikan sebagai sebuah tanggul, misal jalan
raya.

- Kolam Retensi

Kolam retensi merupakan suatu cekungan atau kolam yang dapat menampung
atau meresapkan air didalamnya, tergantung dari jenis bahan pelapis dinding dan dasar
kolam. Kolam retensi dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu kolam alami dan kolam non
alami.
Kolam alami yaitu kolam retensi yang berupa cekungan atau lahan resapan yang
sudah terdapat secara alami dan dapat dimanfaatkan baik pada kondisi aslinya atau
dilakukan penyesuaian. Pada umumnya perencanaan kolam jenis ini memadukan fungsi
sebagai kolam penyimpanan air dan penggunaan oleh masyarakat dan kondisi
lingkungan sekitarnya. Kolam jenis alami ini selain berfungsi sebagai tempat
penyimpanan, juga dapat meresapkan pada lahan atau kolam yang pervious, misalnya
lapangan sepak bola ( yang tertutup oleh rumput ), danau alami, seperti yang terdapat
di taman rekreasi dan kolam rawa
Kolam non alami yaitu kolam retensi yang dibuat sengaja didesain dengan
bentuk dan kapasitas tertentu pada lokasi yang telah direncanakan sebelumnya dengan
lapisan bahan material yang kaku, seperti beton. Pada kolam jenis ini air yang masuk ke
dalam inlet harus dapat menampung air sesuai dengan kapasitas yang telah direncanakan
sehingga dapat mengurangi debit banjir puncak (peak flow) pada saat over flow,
sehingga kolam berfungsi sebagai tempat mengurangi debit banjir dikarenakan adanya
penambahan waktu kosentrasi air untuk mengalir dipermukaan. Kapasitas kolam retensi
yang dapat menampung volume air pada saat debit banjir puncak, dihitung dengan
persamaan umum seperti di bawah ini :

t
V = ∫ (Q in – Q out) dt

Dengan : V = volume kolam

t = waktu awal air masuk ke dalam inlet


t0 = waktu air keluar dari outflow
Qin = debit inflow
Qout = debit outflow
- Stasiun Pompa

Di dalam stasiun pompa terdapat pompa yang digunakan untuk mengeluarkan air
yang sudah terkumpul dalam kolam retensi atau junction jaringan drainase ke luar cakupan
area. Prinsip dasar kerja pompa adalah menghisap air dengan menggunakan sumber
tenaga, baik itu listrik atau diesel/solar. Air dapat dibuang langsung ke laut atau
sungai/banjir kanal yang bagian hilirnya akan bermuara di laut. Biasanya pompa
digunakan pada suatu daerah dengan dataran rendah atau keadaan topografi atau kontur
yang cukup datar, sehingga saluran-saluran yang ada tidak mampu mengalir secara
gravitasi. Jumlah dan kapasitas pompa yang disediakan di dalam stasiun pompa harus
disesuaikan dengan volume layanan air yang harus dikeluarkan. Pompa yang
menggunakan tenaga listrik, disebut dengan pompa jenis sentrifugal, sedangkan pompa
yang menggunakan tenaga diesel dengan bahan bakar solar adalah pompa submersible.
Desain Hidrolis
a) Debit banjir rencana, untuk stabilitas bangunan didasarkan pada banjir
periode ulang 10 tahun ( Q10).
b) Kriteria Hidrolika
Kriteria perencanaan hidrolika ditentukan sebagai berikut:
a. Kecepatan air rata-rata dalam saluran dihitung dengan rumus
Manningstrickler atau chezy.
b. Profl saluran drainase dapat berbentuk: trapesium, segiempat, segitiga,
lingkaran, setengah lingkaran atau gabungan diantara bentuk tersebut.
c. Saluran drainase khususnya saluran drainase primer dan sekunder yang
terpengaruh pengempangan/aliran balik (back water effect) dihitung
pasang surutnya dengan Standard Step atau Direct Step Method.
d. Saluran harus direncanakan dengan konsep saluran stabil (stable channel)
yaitu tidak terjadi erosi dan tidak terdapat endapan sedimen; dengan:
• Kecepatan air maksimum (v) ditentukan untuk saluran tanah v = 0,7 m
dt, pasangan batu kali v = 2 m/dt dan pasangan beton v = 3 m/dt.
• Kecepatan air minimum untuk saluran drainase ditentukan antara 0,3
s/d 0,4 m/dt, kecuali untuk kolam tampungan memanjang.
• Dalam hal saluran berfungsi sebagai long storage/channel storage
kecepatan lebih kecil dari 0,3 m/det dengan konsekuensi terjadi endapan
di saluran tersebut.
e. Perencanaan dimensi saluran baru, sebaiknya menggunakan profl
ekonomis yang sesuai dengan perencanaan dan kondisi setempat.
f. Perencanaan elevasi muka air saluran harus memperhatikan elevasi
muka air muara saluran atau badan air penerima (dalam kondisi yang
maksimum).
g. Disediakan tinggi jagaan yang memadai.
h. Kriteria Desain Bangunan
- Kriteria Konstruksi
Kriteria perencanaan konstruksi ditentukan sebagai berikut:
a. Pembebanan yang digunakan dalam perencanaan infrastruktur drainase
harus sesuai standar teknik yang berlaku.
b. Kombinasi pembebanan dan pendimensian atas konstruksi ditentukan
oleh perencana sesuai fungsi, cara dan tempat penggunaannya berdasarkan SNI.
c. Stabilitas konstruksi bangunan penahan tanah dikontrol keamanannya
terhadap kekuatan penahan tanah (amblas), geser dan guling; sedang
stabilitas timbunan tanah dikontrol dengan lingkaran longsor (sliding
circle). Faktor-faktor keamanan (SF) minimum ditentukan sebagai berikut:
• σ yang terjadi < σ yang diijinkan
• SF geser (kondisi biasa) ≥ 1,5
• SF geser (kondisi gempa) ≥ 1,2
• SF guling ≥ 1,5
d. Bahan konstruksi yang digunakan harus sesuai dengan standar teknik
yang berlaku dengan mengutamakan material lokal.
e. Tidak terletak pada daerah sesar gempa (fault)
- Desain Struktur
a. Bangunan aman terhadap bahaya guling, geser, piping dan amblas,
sampai pada kondisi banjir
b. Bangunan didesain kuat menahan benturan batu-batu besar yang
mungkin terbawa aliran pada saat banjir
c. Material bahan bangunan direncana agar mudah didapat di lapangan
atau sekitar lokasi bangunan tersebut.