Anda di halaman 1dari 9

EKSTIRPASI

Definisi
Ekstirpasi adalah tindakan pengangkatan seluruh massa tumor beserta kapsulnya.

Indikasi
Kista Aterom. Kista aterom adalah kista retensi dari kelenjar sebasea akibat
penutupan saluran pori rambut yang terdiri dari kapsul jaringan ikat padat dengan isi
mengandung banyak lemak seperti bubur.

Pada pemeriksaan tampak sebagai tonjolan bulat, superfisial-subkutan, lunak-kenyal.


Isi aterom kadang-kadang dapat dipijat keluar. Predileksi di bagian tubuh yang
berambut (kepala, wajah, belakang telinga, leher, punggung, dan daerah genital).

Kista ini mempunyai diagnosis banding kista epitel, fibroma, lipoma.

Tindakan
o Ekstirpasi total dengan eksisi pada daerah bekas muara kelenjar, dengan indikasi
kosmetik, rasa nyeri, mengganggu
o Insisi dan drainase bila ada infeksi atau abses

Alat dan Bahan


o Lidokain 2%
o Spuit
o Pisau insisi (skapel)
o Pinset
o Gunting jaringan
o Klem jaringan
o Needle holder
o Jarum dan benang

Teknik
1. Bersihkan daerah operasi (daerah kulit di atas kista)
2. Lakukan anestesi lokal (blok/infiltrasi) pada daerah operasi
3. Eksisi kulit di atas kista berbentuk bulat telur (elips) runcing dengan arah sesuai
garis lipatan kulit. Panjang dibuat lebih dari ukuran benjolan yang teraba dan lebar
kulit yang dieksisi ¼ garis tengah kista tersebut.
4. Gunakan gunting tumpul untuk melepaskan jaringan subkutan yang meliputi kista,
pisahkan seluruh dinding kista dari kulit.
5. Usahakan kista tidak pecah agar dapat diangkat kista secara in-toto. Bila kista
telah pecah keluarkan isi kista dan dinding kista. Jepit dinding kista dengan klem
dan gunting untuk memisahkannya dengan jaringan kulit.
6. Jahit rongga bekas kista dengan jahitan subkutaneus
7. Jahit dan tutup luka operasi

Komplikasi
Kista residif
EKSISI

Definisi
Eksisi adalah suatu tindakan pengangkatan massa tumor dan jaringan sehat di
sekitarnya.

Indikasi
1. Kista Dermoid
Kista dermoid adalah kista kongenital yang berasal dari kelainan pertumbuhan kulit
pada masa embrio.

Pada pemeriksaan tampak berupa benjolan bulat pada lapisan subkutan dengan
ukuran bervariasi hingga 10 cm seperti kista epidermoid dan terdiri dari kelenjar
sebasea, folikel rambut yang rudimenter, elemen kelenjar keringat yang dekat pada
garis epitelial. Letaknya terutama di sisi lateral alis mata, sepanjang akar hidung,
leher, sublingual, daerah sternal, perineal, skrotum, dan sakral. Biasanya lepas, tak
melekat pada kulit di atasnya tetapi sering melekat pada periosteum sehingga tidak
lepas dari dasarnya. Dapat terjadi degenerasi ganas, tetapi lebih sering terjadi infeksi,
terutama pada kista di daerah sakrum.

Bila terjadi perforasi spontan, sering timbul fistula yang sulit sembuh. Sebagai diag-
nosis banding adalah sinus-pilinoidalis, suatu fistel di daerah sakrum karena
masuknya rambut ke dalam kulit.

Pada kista yang terletak di atas alis mata, eksisinya harus hati-hati, karena dapat
mencederai cabang saraf fasialis.

2. Kista Epidermoid
Kista epidermoid adalah kista yang berasal dari sel epidermis yang masuk dan
tumbuh kejaringan subkutis akibat trauma tajam..

Pada pemeriksaan tampak benjolan subkutis bulat, maksimal sebesar kelereng, kenyal
dan permukaan rata, yang biasanya ditemukan di telapak kaki/tangan, dan jari-jari sisi
volarnya. Benjolan ini berisi massa seperti bubur yang merupakan produk keratin.
Kadang-kadang kulit di atasnya terdapat jaringan parut yang merupakan tanda bahwa
pernah ada trauma. Kulit di atasnya biasanya tipis karena tekanan yang terus
menerus di atas hiperkeratosis yang menstimulasi penyebab utamanya. Bila pada
perabaan terasa nyeri di daerah tersebut, maka hal ini merupakan petunjuk adanya
kista ini.

Tonjolan ini berdinding putih, tebal dan jarang menjadi besar, tetapi cukup
mengganggu karena letaknya

Tindakan yang dilakukan adalah eksisi total untuk menentukan diagnosis pasti
(pemeriksaan PA) dalam menghilangkan keluhan serta indikasi kosmetis. Bila
melekat pada periosteum, maka pexlu dilakukan kuretase tulang. Eksisi kista yang
terletak di daerah sakral atau kista yang terinfeksi di unit rawat jalan tidak dianjurkan.
Alat dan Bahan
o Lidokain 2%
o Spuit
o Pisau insisi (skapel)
o Pinset
o Gunting jaringan
o Klem jaringan
o Needle holder
o Jarum dan benang

Teknik
1. Bersihkan daerah operasi (daerah kulit di atas kista dan sekitarnya).
2. Lakukan anestesi lokal (blok/infiltrasi) pada daerah operasi.
3. Eksisi kista di antara jaringan yang normal, eksisi berbentuk elips dengan sumbu
panjang sesuai dengan arah ketegangan kulit. Bagian kulit yang telah terpotong
kemudian dipreparasi (dibebaskan dari dasar, jaringan subkutis) dengan memakai
skapel.
4. Dilakukan kuretase tulang, jika kista melekat pada periosteum.
5. Hentikan perdarahan yang terjadi dengan kompresi dan dilakukan jahitan kulit.
Jahitan dilakukan dengan jahitan klasik sederhana yaitu simpul satu per satu dengan
jahitan ulang alik.
6. Setelah eksisi yang luas, kadang-kadang perlu dilakukan pembebasan kulit tepi
luka dari dasarnya (undermining) untuk mendapatkan jahitan tanpa ketegangan kulit.
7. Tutup luka operasi.
INSISI

Insisi harus cukup panjang agar operasi dapat leluasa dikerjakan tanpa retraksi yang
berlebihan. Retraksi yang berlebihan akan meningkatkan rasa nyeri pasca bedah.
Usahakan agar insisi dibuat hanya dengan satu sayatan, karena sayatan tambahan
akan meninggalkan bekas yang lebih buruk.

Arah
Arah insisi harus direncanakan dengan teliti agar jaringan parut yang terbentuk tidak
terlalu menyolok. Insisi sejajar garis Langer akan menyembuh dengan parut yang
halus, karena kolagen kulit terarah dengan baik. Arah kolagen kulit diidentifikasi
dengan relaxed skin tension lines (RSTL). RSTL diketahui dengan mencubit kulit dan
melihat arah kerutan serta penonjolan yang terbentuk. Cubitan tegak lurus terhadap
RSTL akan lebih mudah dikerjakan dan menghasilkan kerutan dan tonjolan yang
lebih besar. Namun kadang-kadang keleluasaan operasi mengalahkan pertimbangan
kosmetis.

Di lengan dan tungkai, insisi tidak boleh memotong lipat sendi secara tegak lurus. Ini
dapat dihindari dengan:
1. Sayatan memotong lipat sendi ke arah miring. Contohnya insisi Brunner di
permukaan ventral jari
2. Memasukkan lipat sendi sebagai bagian dari insisi. Di proksimal dan distal lipat
sendi, insisi dapat dibuat longitudinal. Cara ini dikerjakan di fosa poplitea.
3. Jauhi lipat sendi. Contohnya insisi midlateral pada jari.

Di daerah wajah, kerutan-kerutan, lipatan kulit, serta garis-garis kontour bisa


digunakan untuk menyembunyikan parut bekas luka.

Kadang-kadang insisi perlu dimodifikasi untuk menghindari trauma terhadap


struktur neovaskular di bawahnya.

Sebisa mungkin hindari membuat insisi di daerah: bahu dan prasternal (sering
menjadi keloid), di atas tulang yang terletak subkutis (penyembuhannya lambat), atau
di dekat atau menyilang jaringan parut (vaskularisasinya mungkin tidak begitu baik).

Teknik
o Kulit disayat dengan satu gerakan menggunakan mata skalpel yang tajam. Lebih
mudah bila kulit ditegangkan dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri, sementara
skalpel disayatkan dari kiri ke kanan.
o Jika membuat insisi yang panjang dan lurus, gagang skalpel bermata no. 10
dipegang seperti menggenggam pisau dengan jari telunjuk diletakkan di sisi atas
gagang agar pengendalian gerakan lebih mantap. Untuk insisi yang lebih kecil dan
rumit (misalnya di daerah tangan), gagang skalpel bermata no. 15 dipegang seperti
memegang pena sehingga perubahan arah insisi dapat dikerjakan dengan lebih halus.
o Tekanan sayatan di atur sedemikian rupa agar sayatan tepat membelah epidermis
dan dermis. Luka akan merekah dan lemak subkutis dapat terlihat. Jika ragu-ragu,
lebih baik menyayat dengan tekanan ringan, meregangkan kulit agar luka terbuka,
kemudian memperdalam sayatan.
o Insisi harus tegak lurus kulit sehingga penutupannya lebih baik.
o Diseksi lebih dalam dilakukan dengan melakukan diseksi tajam ataupun tumpul
menggunakan skalpel, gunting, atau klem arteri. Bila terdapat vena dan saraf
permukaan yang melintas di lapangan operasi, insisi dapat dilakukan sejajar terhadap
arah saraf atau pembuluh darah, sejauh tidak mengurangi ruang gerak dan pandangan
di daerah operasi. Jika tidak mungkin, lebih baik potong saja daripada terkena cedera,
teregang atau terputus secara tidak sengaja. Hal ini harus dipertimbangkan masak-
masak.
HEMMOROID

Definisi
Hemoroid adalah pelebaran varises satu segmen atau lebih vena-vena hemoroidales
(Bacon). Patologi keadaan ini dapat bermacam-macam, yaitu trombosis, ruptur,
radang, ulserasi, dan nekrosis.

Pendarahan Daerah Anorektal


Drainase daerah anorektal adalah melalui vena-vena hemoroidales superior dan
inferior. Vena hemoroidales superior mengembalikan darah ke v. mesenterika inferior
dan berjalan submukosa dimulai dari daerah anorektal dan berada dalam bagian yang
disebut kolumna lorgagni, berjalan memanjang secara radier sambil mengadakan
anastomosis. Bila ini menjadi varises disebut hemoroid interna. Lokasi primer
hemoroid interna (pasien berada dalam posisi litotomi) terdapat pada tiga tempat yaitu
anterior kanan, posterior kanan, dan lateral kiri. Hemoroid yang lebih kecil terjadi di
antara tempat-tempat tersebut.

Vv. hemoroidales inferior memulai venuler dan pleksus-pleksus kecil di daerah anus
dan distal dari garis anorektal. Pleksus ini terbagi menjadi dua:
o menjadi vv. hemoroidales media yang menyalurkan darah surut ke v. pudenda
intema,
o menjadi vv. hemoroidales inferior, berjalan di luar lapisan muskularis dan masuk ke
v. hipogastrika.
Pleksus inilah yang menjadi varises dan disebut hemoroid eksterna.

Etiologi
Yang menjadi faktor predisposisi adalah herediter, anatomi, makanan, pekerjaan,
psikis, dan senilitas. Sedangkan sebagai faktor presipitasi adalah faktor mekanis
(kelainan sirkulasi parsial dan peningkatan tekanan intrabdominal), fisiologis dan
radang.

Umumnya faktor etiologi tersebut tidak berdiri sendiri tetapi saling berkaitan.

Klasifikasi
Dibedakan atas hemoroid interna, hemoroid eksterna, dan gabungan keduanya.
Hemoroid interna dibagi lagi menjadi 4 tingkat:
o Tingkat I: varises satu atau lebih v. hemoroidales interna dengan gejala perdarahan
berwarna merah segar pada saat buang air besar.
o Tingkat II: varises dari satu atau lebih v. hemoroidales interna yang keluar dari
dubur pada saat defekasi tetapi masih bisa masuk kembali dengan sendirinya.
o Tingkat III: seperti tingkat II tetapi tidak dapat masuk spontan, harus didorong
kembali.
o Tingkat IV: telah terjadi inkarserasi.

Manifestasi Klinis
Tanda utama biasanya adalah perdarahan. Darah yang keluar berwarna merah segar,
tidak bercampur dengan feses, dan jumlahnya bervariasi. Bila hemoroid bertambah
besar maka dapat terjadi prolaps. Pada awalnya biasanya dapat tereduksi spontan.
Pada tahap lanjut, pasien harus memasukkan sendiri setelah defekasi. Dan akhirnya
sampai pada suatu keadaan di mana tidak dapat dimasukkan. Kotoran di pakaian
dalam menjadi tanda hemoroid yang mengalami prolaps permanen. Kulit di daerah
perianal akan mengalami iritasi. Nyeri akan terjadi bila timbul trombosis luas dengan
edema dan peradangan.

Anamnesis harus dikaitkan dengan faktor obstipasi, defekasi yang keras, yang
membutuhkan tekanan intraabdominal tinggi (mengejan), juga sering pasien harus
duduk berjam-jam di WC, dan dapat disertai rasa nyeri yang merupakan gejala
radang.

Hemoroid eksterna dapat dilihat dengan inspeksi, apalagi bila telah terjadi trombosis.
Bila hemoroid interna mengalami prolaps, maka tonjolan yang ditutupi epitel
penghasil musin akan dapat dilihat pada satu atau beberapa kuadran.

Selanjutnya secara sistematik dilakukan pemeriksaan dalam rektal secara digital dan
dengan anoskopi. Pada pemeriksaan rektal secara digital mungkin tidak ditemukan
apa-apa bila masih dalam stadium awal. Pemeriksaan anoskopi dilakukan untuk
melihat hemoroid interna yang tidak mengalami penonjolan.

Pada pemeriksaan kita tidak boleh mengabaikan pemeriksaan umum karena keadaan
ini dapat disebabkan oleh penyakit lain seperti sindrom hipertensi portal.

Diagnosis Banding
Perdarahan rektal juga terjadi pada karsinoma kolon dan rektum, kelainan
divertikuler, polipus adenomatosa, kolitis ulserativa, dan kelainan lain pada kolon dan
rektum. Pemeriksaan sigmoidoskopi sebaiknya dilakukan. Barium enema dan
kolonoskopi juga dilakukan secara selektif, tergantung dari keluhan dan gejala yang
ada.

Kondiloma perianal dan tumor anorektal mempunyai bentuk yang khas sehingga
tidak sulit untuk membedakannya dengan hemoroid.

Penatalaksanaan
Kebanyakan pasien dengan hemoroid (tingkat I dan II) dapat diobati dengan tindakan
lokal dan anjuran diet. Hilangkan faktor penyebab, misalnya obstipasi, dengan diet
rendah sisa, banyak makan makanan berserat seperti buah dan sayur, banyak minum,
dan mengurangi daging. Pasien dilarang makan makanan yang merangsang.

Bila ada infeksi berikan antibiotik per oral. Bila terdapat nyeri yang terus menerus
dapat diberikan supositoria atau salep rektal untuk anestesi dan pelembab kulit. Untuk
melancarkan defekasi saja dapat diberikan cairan parafm atau larutan magnesium
sulfat 10%.

Bila dengan pengobatan di atas tidak ada perbaikan, diberikan terapi sklerosing
dengan menyuntikkan zat sklerosing (sodium moruat 5% atau fenol). Satu hingga 2 cc
zat sklerosing disuntikkan submukosa ke dalam jaringan longgar di atas hemoroid
interna, pada kuadran yang terkena dengan harapan timbul inflamasi, fibrosis, dan
terjadi jaringan parut lalu bemoroid mengecil. Injeksi dilakukan dengan jarum
hemoroid panjang melalui anoskop, dan injeksi harus dilakukan di atas mucocutaneus
junction. Hanya akan terjadi sedikit nyeri bila injeksi dilakukan pada tempat yang
tepat. Komplikasi yang terjadi jarang, biasanya berupa pengelupasan mukosa, infeksi,
proktitis akut, dan reaksi hipersensitif terhadap zat yang disuntikkan.

Kontraindikasi pengobatan ini adalah hemoroid eksterna, radang, dan adanya fibrosis
bebat di sekitar hemoroid interna.

Untuk hemoroid yang melebar atau menonjol, ligasi adalah terapi terbaik (rubber
band ligation). Komplikasi tersering dari terapi ini adalah nyeri sehingga ligasi harus
dilepas. Untuk menghindari hal tersebut, alat ligasi harus dipasang setinggi mungkin
dan diletakkan di atas mucocutaneous junction.

Hemoroid dapat dibuat nekrosis dengan cara membekukannya dengan CO2 atau N2O.
Teknik ini tidak begitu banyak dipakai karena sulit mengontrol mukosa yang
terkelupas dan timbulnya bau yang tidak enak dari anus.

Tindakan bedah diperlukan bagi pasien dengan keluhan kronis dan hemoroid derajat
tiga atau empat. Prinsip utama hemoroidektomi adalah eksisi hanya pada jaringan
yang menonjol dan eksisi konservatif kulit serta anoderm normal.

Selain itu ada beberapa teknik bedah lain.

Dilatasi anal harus dilakukan dengan anestesi untuk merusak lapisan submukosa pada
kanal anus. Pengguna teknik ini percaya bahwa lapisan submukosa ini menimbulkan
obstruksi partial yang berperan penting dalam pembentukan hemoroid.

Fotokoagulasi inframerah, diatermi bipolar, dan generator galvanis adalah cara


penatalaksanaan yang lebih baru. Cara tersebut relatif lebih tidak sakit, tetapi
semuanya menimbulkan jaringan parut yang menyebabkan fibrosis. Efektivitasnya
dalam jangka panjang belum diketahui.

Teknik operasi Whitehead dilakukan dengan mengupas seluruh hemoroidales interna,


membebaskan mukosa dari submukosa, dan melakukan reseksi. Lalu usahakan
kontinuitas mukosa kembali.

Sedang pada teknik operasi Langenbeck, vena-vena hemoroidales interna dijepit


radier dengan klem. Lakukan jahitan jelujur di bawah klem dengan chromic cat gut
no. 2/0, eksisi jaringan di atas klem. Sesudah itu klem dilepas dan jepitan jelujur di
bawah klem diikat. Di FKUI/RSCM lazim dipakai teknik Langenbeck karena mudah,
serta tidak mengandung risiko timbulnya parut sirkuler yang bisa menyebabkan
stenosis dan perdarahan minimal. Pascabedah pasien mendapat diet rendah sisa
selama 3 hari.

Komplikasi
Komplikasi penyakit ini adalah perdarahan hebat, abses, fistula para anal, dan
inkarserasi. Untuk hemoroid eksterna, pengobatannya selalu operatif. Tergantung
keadaan, dapat dilakukan eksisi atau insisi trombus serta pengeluaran trombus.

Komplikasi jangka panjang adalah striktur ani karena eksisi yang berlebihan.
Prognosis
Dengan terapi yang tepat keluhan pasien dengan hemoroid dapat dihilangkan.
Pendekatan konservatif harus dilakukan pada hampir setiap kasus. Hasil dari
hemoroidektomi cukup memuaskan. Untuk terapi lanjutan, mengedan harus dikurangi
untuk mencegah kekambuhan.

Complications of hemorrhoids are rare but include:


 Anemia. Chronic blood loss from hemorrhoids may cause anemia, in which
you don't have enough healthy red blood cells to carry oxygen to your cells,
resulting in fatigue and weakness.
 Strangulated hemorrhoid. If blood supply to an internal hemorrhoid is cut
off, the hemorrhoid may be "strangulated," which can cause extreme pain and
lead to tissue death (gangrene).

1) Infection - Harmful microorganisms from feces can enter into the blood stream and
be carried all through the entire body and result in septicaemia, or blood poisoning.
2) Thrombosis - Blood clots form within the hemorrhoids and are carried to other
areas of the body. Blood clots carried to the legs and other extremities can cause
pain and lack of circulation. Blood clots carried to the brain can cause a stroke as
well as death.

STRIKTURE SFINGTER ANI

&

INCONTINENTIA SAAT BAB