Anda di halaman 1dari 7

1.

1 Tobbaco Cessation
Tobacco cessation adalah proses berhenti merokok termasuk juga berhenti
mengunyah tembakau, dll. Rokok memiliki kekuatan adiksi yang terbilang besar.
Orang yang terlanjur memiliki kebiasaan merokok, sulit untuk menghentikannya.
Karena itu, apabila suatu saat seorang perokok menghentikan kebiasaannya, pasti ia
akan terasa tersiksa baik fisik maupun mentalnya.
Perubahan perilaku dan farmakoterapi untuk ketergantungan rokok dapat
berkontribusi besar untuk meningkatkan kesehatan dengan melakukan penghentian
penggunaan rokok. Bahkan ada beberapa orang yang pada akhirnya dapat berhenti
merokok tanpa terapi, dan manfaat bisa didapatkan lebih banyak jika penghentian
penggunaan rokok dilakukan lebih awal, karena risiko penyakit ini sangat
berhubungan dengan durasi penggunaan rokok.
Perawatan (tobacco-control) idealnya harus dilakukan secara komprehensif
yang meliputi peningkatan pajak rokok, pembatasan merokok di tempat umum,
pendidikan mengenai bahaya tembakau dan manfaat dari penghentian, serta
pembatasan pemasaran rokok; ini sangat penting untuk upaya penghentian,
pemanfaatan perawatan dan pemeliharaan berhenti merokok. Upaya-upaya yang
dapay dilakukan untuk berhenti merokok antara lain:
1. Behavioural Interventions
Berbagai terapi perilaku telah terbukti berkhasiat untuk banyak perokok.
Terapi Perilaku berkisar dalam kompleksitas dari nasihat sederhana yang ditawarkan
oleh dokter atau health-care provider lainnya untuk terapi yang lebih ekstensif yang
ditawarkan oleh konselor atau klinik khusus smoking cessation. Dengan
meningkatnya kompleksitas terapi, biaya yang dikeluarkan perokok juga meningkat.
a. Saran Dokter
Saran sederhana dari seorang dokter telah terbukti untuk meningkatkan
tingkat penghentian merokok secara signifikan (sebesar 30%) dibandingkan dengan
yang tidak diberi saran (Fiore et al., 2000). Dokter berada dalam posisi yang unik
karena kemampuan mereka untuk menasihati pasien yang ingin berhenti, dan juga
perokok yang tidak berniat untuk berhenti (Jackson et al., 2001). Untuk perokok yang
tidak berniat berhenti merokok, dokter harus menginformasikan dan menyadarkan
pasien tentang penggunaan rokok, bagaimana menghentikannya, dan juga memberi
tahu mengenai afek-afek yang ditimbulkannya. Untuk perokok yang ragu tentang
kemampuan mereka untuk berhenti, dokter dapat menggunakan strategi motivasi,
seperti berdiskusi mengenai hambatan dalam berhenti merokok dan solusinya.
Manfaat intervensi tersebut dapat ditingkatkan dengan titik kritis, seperti
membantu pasien untuk memilih hari tertentu untuk berhenti merokok. Untuk
perokok yang siap untuk berhenti, dokter dapat menawarkan dukungan yang kuat,
membantu menetapkan tanggal berhenti, meresepkan farmakoterapi untuk
ketergantungan nikotin, seperti terapi penggantian dan / atau bupropion (dengan
petunjuk penggunaan), dan menyarankan strategi perilaku untuk mencegah
kekambuhan.
b. Terapi Perilaku dan Psikologis
Dukungan perilaku, dengan beberapa sesi konseling individu atau kelompok
dapat membantu berhenti merokok. Baik terapi individu dan kelompok telah terbukti
meningkatkan tingkat penhentian konsumsi rokok. Tampaknya tidak ada perbedaan
antara terapi individu dan kelompok dalam hal tingkat berhenti; Oleh karena itu,
terapi baik mungkin bermanfaat (Lancaster et al., 2000).
Tiga jenis terapi konseling dan perilaku antara lain: 1) memberikan perokok
dengan pemecahan masalah pelatihan / keterampilan (misal menghindari situasi di
mana orang lain merokok, mengidentifikasi pemicu merokok); 2) memberikan
dukungan sosial sebagai bagian dari pengobatan; dan 3) membantu perokok untuk
mendapatkan dukungan sosial di luar pengobatan
Dalam melakukan konseling berhenti merokok bagi klien yang siap untuk
berhenti merokok, dilakukan intervensi singkat dengan menggunakan pendekatan 5A
yaitu :
1. Ask = identifikasi tentang status dan situasi merokok klien.
2. Assess = nilai kesiapan klien untuk berhenti merokok.
3. Advise = beri anjuran/nasihat dengan pesan yang jelas dan tegas sesuai
situasi klien.
4. Assist = bantu klien untuk berhenti merokok dengan identifikasi kesiapan
berhenti merokok:
 Tidak siap berhenti : berikan motivasi singkat dengan pendekatan 5R.
 Siap berhenti : desain program berhenti merokok.
 Sedang dalam proses berhenti : mencegah relaps.
5. Arrange = menyusun strategi tindak lanjut yaitu jadwal konseling
berikutnya (follow up).

Bagi klien tidak siap berhenti merokok bisa diberikan motivasi


singkat dengan pendekatan 5R yaitu :
1. Relevance = kaitkan merokok dengan dampak negatif terhadap kesehatan,
manfaat, ekonomi, dan kehidupan orang di sekitar klien.
2. Risk = minta klien untuk menjabarkan sendiri bahaya yang muncul dari
merokok, baik risiko akut, jangka panjang dan terhadap lingkungan di
sekitar klien.
3. Reward = klien diajak mengidentifikasi manfaat yang dapat diperoleh
dari berhenti merokok.
4. Roadblocks = tanyakan dan jelaskan kepada klien mengenai
kemungkinan hambatan yang dapat muncul dari upaya berhenti merokok.
5. Repetition = dukungan secara terus-menerus (berulang) saat klien kontrol
untuk memberikan motivasi dan memberitahu hal-hal yang harus
dilakukan agar berhasil.

c. Kampanye melalui media massa


Kampanye media massa dapat menambah pengetahuan tentang efek dari
merokok dan manfaat dalam berhenti merokok. Selain itu, media massa juga dapat
mengubah dan memperkuat sikap berhenti merokok, memberikan isyarat dengan
tindakan sederhana dan mempengaruhi perilaku merokok.
d. Telephone Quitlines/Internet-based services
Quitline merupakan layanan yang murah dan mudah diakses. Quitline
merupakan layanan bagi perokok untuk mendapat bimbingan dan sokongan moral
melalui telefon secara berkala semasa berhenti merokok. Selain itu, sekarang juga ada
banyak situs "berhenti merokok" yang tersedia di internet untuk menawarkan bantuan
dan dukungan bagi para perokok. Layanan internet memberikan informasi kesehatan
dan berpotensi tinggi menjangkau perokok dalam jumlah besar.
e. Quit and win competitions
Partisipan berhenti merokok selama periode yang telah ditentukan (biasanya 4
minggu), jika berhasil, maka partisipan berhak mendapatkan hadiah. Syarat untuk
menjadi partisipan dalam kompetisi ini yaitu orang yang merokok tiap hari selama
minimal 1 tahun dan berumur di atas 18 tahun. Hasil survei memperlihatkan 10-30%
partisipan berheti merokok sepenuhnya setelah mengikuti kompetisi ini.
f. Kawasan bebas rokok
Pembuatan tempat bebas asap rokok, terutama lokasi kerja bebas asap rokok
merupakan strategi yang sangat baik untuk mempromosikan berhenti merokok. Hasil
survei memperlihatkan terjadinya penurunan konsumsi harian rokok karena adanya
kawasan bebas rokok di lingkungan kerja.

2. Pharmacological Interventions
Banyak orang yang berhasil berhenti merokok dengan cara mereka sendiri dan
dengan bimbingan perilaku. Akan tetapi, sebagian besar perokok mengalami
ketergantungan nikotin sehingga behavioural interventions belum cukup kuat untuk
mengatasinya sehingga diperlukan pharmacological interventions.
a. Nicotine Replacement Theraphy (NRT)
Untuk mengatasi gejala putus obat nikotin adalah dengan memberikan nikotin
itu sendiri dengan dosis yang kecil secara terus menerus. Sediaan NRT pertama yang
disetujui oleh FDA adalah nicotine gumpadatahun 1984, diikuti oleh transdermal
nicotine patch (tapelntkottn), nicotine nasal spray dannicotine inhaler. semua bentuk
NRT dapat meningkatkan keberhasilan berhenti rokok hingga 50-70%. Keempat
bentuk sediaan ini tidak beredar di Indonesia, sedangkan di luar negeri tersedia
sebagai produk over the counter (OTC) atau dijual bebas.
Tujuan NRT adalah memberikan kadar nikotin hampir konstan untuk
menurunkan gejala withdrawal pada smoking cessation. NRT melepaskan nikotin ke
dalam darah secara perlahan, tidak memberikan kadar nikotin yang mendadak tinggi
seperti nikotin dalam rokok, seingga potensi adiksinya minimal.
Efek samping tersering dari NRT terjadi karena pengherrtian terapi. Iritasi
terjadi di tempat penggunaan, di kulit atau dalam mulut.t6 NRI dapat digunakan pada
pasien dengan penyakit kardiovaskular stabil, tetapi kontraindikasi untuk infark
miokard, unstable angina, dan stroke
1. Nikotin Transdermal

Nikotin transdermal adalah unit dengan beberapa lapisan yang dapat


menghantar-kan nikotin setelah pemakaian pada kulit. Nikotin transdermal
tersedia dalam berbagai kekuatan, tergantung dari lama pemakaian dan
kekuatan dosis. Efek samping yang sering timbul yaitu iritasi di bagian
kulit tempat ditempelkannya nikotin transdermal.
2. Permen Karet Nikotin

Penggunaan permen karet nikotin berbeda dengan permen karet biasa,


sebab permen karet nikotin sulit dikunyah.
3. Tablet Hisap Nikotin

Nikotin tablet hisap diabsorpsi secara perlahan (dalam waktu 30 menit)


melalui mukosa bukal.
4. Tablet Sublingual Nikotin

Cara penggunaan sedia-an ini adalah dengan menempatkannya di bawah


lidah dan membiarkannya hingga terlarut.
5. Inhaler Nikotin
6. Semprot Hidung Nikotin
b. Vareniklin
Vareniklin adalah suatu agonis parsial pada reseptor nikotik α4β2. Reseptor
α4β2 ini ditemukan pada neuron dopaminergik dan pada sel yang mengandung
GABA (gamino butyric acid).. Menurut review Cochrane, vareniklin meningkatkan
smoking cessation hingga tiga kali lipat jika dibandingkan dengan tanpa obat. Selain
itu, lebih banyak partisipan yang berhasil berhenti rokok pada kelompok vareniklin
dibanding dengan kelompok bupropion.
Efek samping vareniklin yang paling sering muncul dalam uji klinik adalah
gejala gastrointestinal (mual, konstipasi, dispepsia, muntah). Efek samping lainnya
adalah sakit kepala, insomnia, mimpi buruk. penyesuaian dosis dan meminum
obatnya setelah makan dengan segelas air dapal menurunkan kejadian efek samping
tersebut. Hingga saat ini belum ditemukan kontraindikasi khusus terhadap varenklin.
c. Bupropion
Review Cochrane menyatakan bahwa khasiat bupropion dalam terapi smoking
cessation sama kuat dengan NRT. Efek samping buprolrion tersering adalah
insomnia, mulut kerine, dan mual, dan juga dapat menyebabkan kejang; sehingga
tidak boleh digunakan pada pasien dengan riwayat epilepsi, sedangkan kontraindikasi
relatif terdapat pada pasien dengan kondisi yang dapat meningkatkan risiko kejang,
seperti penggunaan antidepresan/antipsikotik lain, diabetes melitus, peminum alkohol
serta pengguna produk anorektik. Untuk indikasi smoking cessation, obat ini tersedia
dalam bentuk lepas lambat untuk mengurangi risiko kejang.
d. Klonidin
Klonidin dikenal sebagai antihipertensi, namun dapat juga menurunkan gejala
putus obat pada pasien yang berhenti merokok atau berhenti minum alkohol. Sangat
sedikit uji klinik yang dilakukan untuk membuktikan khasiat klonidin pada smoking
cessation, kalaupun ada, kualitas uji kliniknya kurang baik, sehingga tidak dapat
disimpulkan bahwa klonidin berkhasiat. Efek samping utama klonidin adalah mulut
kering dan sedasi. Klonidin mungkin bukan pilihan farmakoterapi terbaik bagi pasien
yang hendak berhenti rokok, namun dapat berguna bagi pasien yang memiliki
kontraindikasi dengan farmakoterapi lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.who.int/tobacco/publications/smoking_cessation/recommendat
ions/en
2. Fiore et al. (2008). Treating Tobacco Use and Dependence:2008 Update.
Clinical Practice Guideline.Rockville,MD:USDHHS,PHS,May 2008
[https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK63952/]