Anda di halaman 1dari 8

VI.

Pembahasan

Minyak atsiri atau disebut juga volatil oil atau essential oil adalah istilah

yang digunakan untuk minyak mudah menguap dan diperoleh dalam tanaman

(daun, bunga, buah, kulit batang dan akar) dengan cara destilasi. Minyak atsiri

bukanlah senyawa murni, akan tetapi merupakan campuran senyawa organik yang

seringkali tersusun lebih dari 25 senyawa atau komponen yang berlainan.

Sebagian komponen minyak atsiri adalah senyawa yang mengandung karbon dan

hidrogen, atau karbon, hidrogen, dan oksigen yang tidak bersifat aromatik.

Senyawa-senyawa ini secara umum disebut terpenoid (Guenther, 2006).

Minyak atsiri pada tanaman berfungsi untuk membantu proses

penyerbukan dengan menarik beberapa jenis serangga atau hewan, mencegah

kerusakan tanaman oleh serangga atau hewan, sebagai cadangan makanan dalam

tanaman (Ketaren, 1985).

Menurut Gunawan dan Mulyani (2004), minyak Atsiri umumnya diisolasi

dengan empat metode yang lazim digunakan sebagai berikut :

1. Metode Destilasi

Di antara metode-metode isolasi yang paling lazim dilakukan adalah

metode destilasi. Beberapa metode destilasi yang popular dilakukan di berbagai

perusahaan industri penyulingan minyak atsiri, antara lain sebagai berikut :

a. Metode destilasi kering. Metode ini paling sesuai untuk bahan

tanaman yang kering dan untuk minyakminyak yang tahan pemanasan (tidak

mengalami perubahan bau dan warna saat dipanaskan), misalnya oleoresin.


b. Destilasi air. Metode ini dapat digunakan untuk bahan kering

maupun bahan segar dan terutama digunakan untuk minyak-minyak yang

kebanyakan dapat rusak akibat panas kering. Dalam metode ini meliputi:

 Destilasi air : bahan tanaman langsung direbus dalam air. Bahan

(simplisia) bercampur sempurna dengan air mendidih, senyawa kandungan

menguap tetap kontinu ikut terdestilasi

 Destilasi uap : bahan tanaman ditaruh di dalam bejana tanpa air

dan disemburkan uap air dari luar bejana. Bahan (simplisia) benar–benar tidak

tercelup ke air yang mendidih, namun di lewati uap air sehingga senyawa

kandungan menguap ikut terdestilasi

 Destilasi uap air : bahan tanaman ditaruh di bejana bagian atas,

sementara uap air dihasilkan oleh air mendidih dari bawah dandang.

2. Metode Penyarian

3. Metode Pengepresan atau Pemerasan

4. Metode Enfleurage

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami isolasi

minyak atsiri pada Kaempferiae Galangae Rhizoma (rimpang kencur), mengetahui

dan mampu melakukan isolasi dengan metode destilasi air (destilasi stahl). Prinsip

destilasi stahl adalah pemisahan dengan cara panas berdasarkan perbedaan titik

didih dan berat jenis senyawa. Senyawa yang memiliki titik didih lebih rendah

akan menguap terlebih dahulu. Kemudian uap air melewati kondensor akan

mengalami pendinginan menghasilkan tetesan yang masuk ke dalam buret. Uap


yang terdiri dari air serta minyak akan dikondensasi untuk diubah kembali

menjadi zat cair dalam suatu wadah. Kondensor ini berfungsi untuk mendinginkan

dan mengembunkan uap yang keluar dari tungku destilasi.. Di dalam buret,

senyawa yang memiliki BJ lebih rendah akan berada di bagian atas (minyak

atsiri), sementara senyawa dengan BJ lebih tinggi akan berada di bagian bawah.

Tahap pertama, simplisia Kaempferiae Galangae Rhizoma (rimpang

kencur) ditumbuk terlebih dahulu untuk mememarkan dan sedikit menghaluskan

untuk memperkecil ukurannya sehingga luas permukaan kontak dengan penyari

akan lebih banyak dan penyari dapat masuk ke dalam sel dan mengambil senyawa

aktif atau minyak atsiri dengan lebih optimum. Namun proses penggerusan hanya

dilakukan singkat dan tidak sampai terbentuk serbuk halus untuk mencegah

kerusakan sel dari rimpang kencur dan mencegah terbentuknya serbuk yang

terlalu halus yang justru akan mempersulit proses penyarian karena banyak sel

yang telah pecah dan rusak. Kemudian, simplisia kencur yang sudah dihaluskan

dimasukkan kedalam labu alas bulat dan dimasukkan air dan ditambah batu didih

agar pemanasan merata.

Setelah itu labu alas bulat dirangkaikan pada alat destilasi stahl dengan

dioleskan sedikit vaselin pada mulut luar labu agar rangkaian alat tidak lepas dan

tidak terjadi kebocoran selama destilasi berlangsung, kemudian selang masuk dan

keluar dipasang sesuai tempatnya yaitu selang masuk pada bagian bawah dan

selang keluar pada bagian atas. Selanjutnya selang masuk dihubungkan dengan

pompa air dan air kemudian dialirkan hingga air memenuhi seluruh kondensor.

Pada pipa stahl diisi dengan air dengan tujuan mencegah kekeringan pada sampel
dan mencegah agar minyak yang menguap tidak keluar. Setelah itu, dilakukan

proses pendidihan. Proses pendidihan tersebut menggunakan batu didih yang telah

dimasukkan ke dalam labu sebelumnya. Batu didih tersebut berfungsi untuk

meratakan panas, sehingga panas menjadi homogen pada seluruh bagian larutan,

mempercepat proses pendidihan sampel, dan untuk mencegah timbulnya

letupan/ledakan (bumping) ketika pemanasan. Prinsipnya, minyak atsiri yang

dikandung sampel akan menguap (karena memiliki titik didih yang rendah, dan

lebih rendah dari titik didih air), kemudian melalui kondensor dan akan melewati

tabung vertikal berskala yang telah ditambahkan xylene sebelumnya, dimana

fungsi dari xylene ini adalah untuk mengikat dan menaikkan daya kohesi minyak

atsiri, sehingga tidak menempel pada dinding tabung dan tidak larut dalam air

yang digunakan. Selain itu, xylene ditambahkan pada bagian tabung vertikal

berskala dan bukan ditambahkan atau dicampurkan langsung dengan air dan

sampel dalam labu yang akan dididihkan karena xylene ini dapat mengikat

minyak atsiri dan titik didihnya lebih tinggi dari air yaitu sekitar 140oC, sehingga

jika ditambahkan langsung dengan sampel dan air, sewaktu pendidihan yang akan

mendidih terlebih dahulu adalah air.

Setelah proses pendidihan dihentikan didapatkan volume minyak atsiri

rimpang kencur pada buret 0,8 mL. Setelah dihitung menggunakan rumus persen

kadar minyak atsiri, didapatkan kadar minyak atsiri dari rimpang kencur adalah

sebesar 0,8011%. Hasil persen kadar minyak atsiri ini didapatkan dari volume

minyak atsiri yang diperoleh dimana volume minyak atsiri sebanyak 0,8 mL yang

dibagi bobot dimplisia sebesar 99,8554 g kemudian dikali dengan seratus persen.
Parameter untuk simplisia yang baik sebagai berikut :

 Kadar Air : ≤ 10

 Kadar Minyak Atsiri : ≥ 0,19

 Kadar Abu Total : ≤ 10,00

 Kadar Abu Tidak Larut Asam : ≤ 2,60

 Kadar Sari Larut Air : ≥ 18,00

 Kadar Sari Larut Etanol : ≥ 6,30

(Ditjen POM, 1977)

Berdasarkan literatur kadar minyak atsiri yang yang terkandung pada

simplisa yaitu ≥ 0,19. Dari data yang didapatkan rimpang kencur memiliki kadar

minyak atsiri 0,8011 % sehingga rimpang kencur memenuhi standar kadar minyak

atsiri.

Kencur banyak digunakan dalam berbagai ramuan obat tradisional,

seperti obat batuk, disentri, masuk angin, sakit perut, penambah nafsu

makan, dan lain-lain. Kandungan kimia dari rimpang kencur adalah pati,

mineral, flavonoid, akaloida, dan minyak atsiri. Minyak atsiri di dalam

rimpang kencur banyak digunakan dalam industri kosmetika dan dimanfaatkan

sebagai anti jamur ataupun anti bakteri (Ketaren, 1985).

Pada umumnya faktor-faktor perbedaan komposisi minyak atsiri

disebabkan perbedaan jenis tanaman penghasil, kondisi iklim, tanah tempat

tumbuh, umur panenan, metode ekstraksi yang digunakan dan cara penyimpanan

minyak. Kemudian dalam satu spesies yang sama, namun lokasi tumbuh berbeda,
komposisi kimia yang dihasilkan cukup variatif. Hal ini disebabkan adanya

hubungan kimiawi antara komponen kimia minyak atsiri dengan proses

metabolisme sekunder yang terjadi dalam tanaman. Proses ini dipengaruhi oleh

ekosistem dan tantangan alam seperti iklim, cuaca, dan kondisi tanah.

Keuntungan metode destilasi air (alat stahl) adalah minyak atsiri yang

diperoleh dapat langsung diukur pada buret, optimal untuk isolasi bahan alam

yang mengandung minyak atsiri, cocok untuk bahan yang tahan pemanasan secara

langsung, dan pelarut tidak mengalami kekeringan, suhu dapat diatur. Lalu untuk

kekurangannya antara lain, yaitu tidak cocok untuk bahan yang tidak tahan

pemanasan, proses ekstraksi lama, dan perlu penambahan pelarut secara kontinue

agar tidak terjadi kekeringan pada sampel. Pelarut yang digunakan adalah air. Air

merupakan pelarut polar yang aman dan mudah di dapat, dapat menarik hampir

seluruh metabolit yang terdapat pada tanaman termasuk minyak atsiri selain itu air

mempunyai titik didih yang lebih tinggi dari pada minyak atsiri. Walaupun air dan

minyak atsiri memiliki kepolaran yang berbeda tetapi air tetap bisa menarik

minyak atsiri keluar dari sel tumbuhan, selain itu dengan pemanasan kepolaran air

akan menurun karena merenggangnya ikatan hidrogen antar molekul air sehingga

momen dipolnya menurun dan kepolarannya menurun. Air dan uap air akan

menembus dinding sel dengan adanya panas, minyak atsiri akan terbawa oleh uap

air.(Gunawan dan Mulyani, 2004)


Kesimpulan

Kadar minyak simplisia rimpang kencur dengan metode destilasi air (alat

stahl) adalah 0,8011 %, ini menunjukkan bahwa simplisia rimpang kencur

memenuhi kriteria kadar minyak atsiri karena memenuhi batas standar minyak

atsiri suatu simplisia yaitu sebesar ≥ 0,19.


Daftar Pustaka

Ditjen POM. 1977. Materia Medika Indonesia I. Jakarta : Departemen


Kesehatan RI
Guenther, E. 2006. Minyak Atsiri Jilid I. Diterjemahkan oleh S. Ketaren.
Jakarta:UI Press
Gunawan, D dan Mulyani S. 2004. Ilmu Obat Alam. Penebar Swadaya :
Jakarta
Ketaren, S., 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Jakarta: Balai
Pustaka