Anda di halaman 1dari 19

KONSEP MEDIS

A. Definisi BBLR
Berat Badan Lahir Rendah adalah bayi baru lahir dengan berat badan pada saat kelahiran
kurang dari 2500 gr atau lebih rendah (WHO,1961). BBLR merupakan bayi (neonatus) yang
lahir dengan memiliki berat badan kurang dari 2500 gram atau sampai dengan 2499 gram
(Hidayat,2005).
BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram tanpa
memperhatikan usia gestasi (Wong,2009).
Jadi dapat disimpulkan bahwa BBLR adalah bayi baru lahir dengan berat badan kurang
dari 2500 gram tanpa melihat apakah prematur atau dismatur yang dapat menyebabkan
terjadinya gangguan pertumbuhan dan pematangan (maturitas) organ serta menimbulkan
kematian.

B. Klasifikasi BBLR

Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya bayi berat lahir rendah dibedakan
dalam beberapa macam (Abdul Bari saifuddin,2001) :
1. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), berat lahir 1500 gram-2500 gram.
2. Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR),berat lahir kurang dari 1500 gram.
3. Bayi Berat Lahir Ekstrem Rendah (BBLER) berat lahir kurang dari 1000 gram.

Sedangkan menurut WHO membagi Umur kehamilan dalam tiga kelompok :


1. Preterm : kurang dari 37 minggu
2. Aterm : mulai dari 37 minggu sampai kurang dari 42 minggu
3. Posterm : 42 minggu lengkap atau lebih.

Ada dua macam BBLR yaitu :


1. Prematuritas murni atau bayi yang kurang bulan (KB/SMK) : Bayi yang dilahirkan
dengan umur kurang dari 37 minggu dengan berat badan sesuai.
2. Dismaturitas : Bayi .lahir dengan berat badan kurang dari seharusnya untuk masa gestasi
itu.
C. Etiologi
Menurut Huda dan Hardhi dalam NANDA NIC-NOC (2013). Penyebab kelahiran bayi
berat badan lahir rendah,yaitu :
1. Prematur Murni
Prematur Murni adalah neonatus dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu
dan mempunyai berat badan yang sesuai dengan masa kehamilan atau disebut juga
neonatus preterm atau BBLR.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya persalinan prematur atau BBLR adalah :
a. Faktor ibu :
 Riwayat kelahiran prematur sebelumnya.
 Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun.
 Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat.
 Penyakit ibu : HT, jantung, gangguan pembuluh darah (perokok).
 Primigravidarum.
b. Faktor kehamilan
c. Faktor janin
Seperti cacat bawaan,infeksi dalam rahim dan kehamilan ganda, anomaly congenital.
d. Faktor kebiasaan : pekerjaan yang melelahkan.
Karakteristik yang dapat ditemukan pada Prematur Murni adalah :
 LK <33 cm, LD < 30 cm.
 Gerakan otot masih hipotonis.
 Umur kehamilan <37 minggu.
 Kepala lebih besar dari badan dan memiliki rambut tipis dan halus.
 Pernapasan belum normal dan sering terserang apnea.
 Kulit tipis, lanugo banyak terutama pada bagian dahi dan pelipis lengan.
 Genetelia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia
mayora, pada laki-laki testis belum turun.
 Reflek menelan dan reflek batuk masih lemah.
2. Dismatur
Dismatur (IUGR) adalah bayi baru lahir dengan berat badan kurang dari berat
badan seharusnya untuk masa kehamilan dikarenakan mengalami gangguan pertumbuhan
dalam kandungan. Menurut Renfield (1975) IUGR dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Proportionate IUGR
Janin yang menderita distress yang lama dimana gangguan pertumbuhan terjadi
berminggu-minggu.
b. Disporpotionate IUGR
Terjadi karena distress subakut gangguan terjadi beberapa minggu sampai beberapa
hari sampai janin lahir.
Faktor-faktor yang mempengaruhi BBLR pada dismatur adalah :
 Faktor ibu (HT,GGK,perokok,DM,toksemia, dan hipoksia ibu)
 Faktor utery dan plasenta (uterus bicornis,infark plasenta,insersi tali pusat).
 Faktor janin (kelainan kromosom,gamelli,cacat bawaan, infeksi dalam
kandungan)
 Penyebab lain : keadaan sosial ekonomi yang rendah.

D. Patofisiologi
Menurunnya simpanan zat gizi. Hampir semua lemak, glikogen, dan mineral, seperti zat
besi, kalsium, fosfor dan seng dideposit selama 8 minggu terakhir kehamilan. Dengan
demikian bayi preterm mempunyai peningkatan potensi terhadap hipoglikemia, rikets dan
anemia. Meningkatnya kkal untuk bertumbuh. BBLR memerlukan sekitar 120 kkal/ kg/hari,
dibandingkan neonatus aterm sekitar 108 kkal/kg/hari
Belum matangnya fungsi mekanis dari saluran pencernaan. Koordinasi antara isap dan
menelan, dengan penutupan epiglotis untuk mencegah aspirasi pneumonia, belum
berkembang dengan baik sampai kehamilan 32-42 minggu. Penundaan pengosongan
lambung dan buruknya motilitas usus sering terjadi pada bayi preterm.
Kurangnya kemampuan untuk mencerna makanan. Bayi preterm mempunyai lebih sedikit
simpanan garam empedu, yang diperlukan untuk mencerna dan mengabsorbsi lemak ,
dibandingkan bayi aterm. Produksi amilase pankreas dan lipase, yaitu enzim yang terlibat
dalam pencernaan lemak dan karbohidrat juga menurun. Kadar laktase juga rendah sampai
sekitar kehamilan 34 minggu. Paru-paru yang belum matang dengan peningkatan kerja
bernafas dan kebutuhan kalori yang meningkat. Masalah pernafasan juga akan mengganggu
makanan secara oral.
Potensial untuk kehilangan panas akibat luasnya permukaan tubuh dibandingkan dengan
berat badan, dan sedikitnya lemak pada jaringan bawah kulit memberikan insulasi.
Kehilangan panas ini meningkatkan keperluan kalori. (Moore, 1997)

E. Manifestasi Klinis
Menurut Huda dan Hardhi (2013), tanda dan gejala dari berat bayi lahir rendah adalah :
1. Sebelum lahir
 Pembesaran uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan.
 Pergerakan janin lebih lambat.
 Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai yang seharusnya.
2. Setelah bayi lahir
 Bayi yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu.
 Bayi premature kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya.
 Bayi dengan retadasi pertumbuhan intra uterin.
 Bayi small for date sama dengan bayi retadasi pertumbuhan intra uterine.

Selain itu, gambaran klinis BBLR secara umum adalah :


a. Berat badan kurang dari 2500 gram.
b. Panjang kurang dari 45 cm.
c. LD < 30 cm.
d. LK < 33 cm.
e. Umur kehamilan < 37 minggu
f. Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang.
g. Otot hipotonik lemah.
h. Pernapasan tidak teratur dapat terjadi apnea.
i. Ekstremitas : paha abduks, sendi lutut atau kaki fleksi-lurus.
F. Komplikasi BBLR
Ada beberapa hal yang dapat terjadi apabila BBLR tidak ditangani secepatnya menurut
Mitiyanti, 2009 yaitu :
1. Sindrom aspirasi mekonium (menyebabkan kesulitan bernapas bagi bayi).
2. Hipoglikemia simtomatik.
3. Penyakit membrane hialin disebabkan karena surfaktan paru belum sempurna,sehingga
alveoli kolaps. Sesudah bayi mengadakan aspirasi, tidak tertinggal udara residu dalam
alveoli, sehingga selalu dibutuhkan tenaga negative yang tinggi untuk yang berikutnya.
4. Asfiksia neonatorum.
5. Hiperbilirubinemia.

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan glukosa darah terhadap hipoglikemia.
2. Pemantauan gas darah sesuai kebutuhan.
3. Titer torch sesuai indikasi.
4. Pemeriksaan kromosom sesuai indikasi.
5. Pemantauan elektrolit.
6. Pemeriksaan sinar X sesuai kebutuhan (mis : fhoto thoraks)

H. Penatalaksanaan BBLR
1. Penanganan bayi.
Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi, maka semakin besar perawatan
yang diperlukan karena kemungkinan terjadi serangan sianosis lebih besar. Semua
perawatan bayi harus dilakukan didalam inkubator.
2. Pelestarian suhu tubuh.
Untuk mencegah hipotermi diperlukan lingkungan yang cukup hangat dan
istirahat konsumsi O2 yang cukup. Bila dirawat dalam inkubator maka suhunya untuk
bayi dengan BB 2 kg adalah 350C dan untuk bayi dengan BB 2-2,5 kg adalah 34 0C .
Bila tidak ada inkubator hanya dipakai popok untuk memudahkan pengawasan mengenai
keadaan umum, warna kulit, pernafasan, kejang dan sebagainya sehingga penyakit dapat
dikenali sedini mungkin.
3. Inkubator
Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui jendela atau lengan baju. Sebelum
memasukan bayi kedalam inkubator. Inkubator terlebih dahulu dihangatkan sampai
sekitar 29,4 0C untuk bayi dengan BB 1,7 kg dan 32,2 0C untuk bayi yang lebih kecil.
4. Pemberian oksigen
Konsentrasi O2 diberikan sekitar 30-35% dengan menggunakan head box.
5. Pencegahan infeksi
Prosedur pencegahan infeksi adalah sebagai berikut :
 Mencuci tangan sampai ke siku dengan sabun dan air mengalir selama 2 menit.
 Mencuci tangan dengan zat antiseptic sebelum dan sesudah memegang bayi.
6. Pemberian makanan.
Pemberian makanan sedini mungkin sangat dianjurkan untuk membantu
terjadinya hipoglikemi dan hiperbilirubin. ASI merupakan pilihan utama, dianjurkan
untuk minum pertama sebanyak 1 ml larutan glukosa 5% yang steril untuk bayi dengan
berat badan kurang dari 1000 gram.
KONSEP DASAR
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
I. Data subyektif
Data subyektif adalah persepsi dan sensasi klien tentang masalah kesehatan. Data
subyektif meliputi :
 Biodata atau identitas pasien meliputi nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, dll
 Orang tua meliputi nama ayah dan ibu, umur, agama, suku atau kebangsaan,
pendidikan, pekerjaan dan alamat.
 Riwayat kesehatan, meliputi :
a. Riwayat antenatal :
Yang perlu dikaji dari riwayat antenatal pada BBLR, yaitu :
 Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, HT,gizi buruk,merokok,
ktergantungan obat-obatan,DM, penyakit kardiovaskuler dan paru.
 Kehamilan dengan resiko persalinan preterm misalnya kelahiran
multiple,kelainan congenital, riwayat persalinan preterm.
 Pemeriksaan kehamilan yang tidak kontinguitas atau periksa tetapi tidak
teratur dan periksa kehamilan tidak pada petugas kesehatan.
 Hari pertama haid terakhir tidak sesuai dengan usia kehamilan (kehamilan
postdate atau preterm).
 Riwayat natal komplikasi persalinan juga mempunyai kaitan yang sangat
erat dengat permasalahan pada bayi baru lahir. Yang perlu dikaji :
 Kala I : Perdarahan antepartum baik solusio plasenta maupun
plasenta previa.
 Kala II : Persalinan dengan tindakan pembedahan (bedah caesar),
karena pemakaian obat penenang yang dapat menekan system pusat
pernafasan.
b. Riwayat postnatal
Yang perlu dikaji, antara lain :
 Apgar score bayi baru lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua A/S (0-3)
asfiksia berat, A/S (4-6) asfiksia sedang, A/S (7-10) asfiksia ringan.
 Berat badan lahir : preterm atau BBLR < 2500 gram, untuk aterm 2500
gram, Lingkar Kepala kurang atau lebih dari normal (34-36 cm)
 Adanya kelainan congenital : Anencephal, hydrocephalus anetrecial
aesofagal
 Pola eliminasi
Yang perlu dikaji pada neonatus adalah BAB : frekuensi,jumlah,konsisten.
BAK : frekuensi dan jumlah.
 Pola nutrisi
Yang perlu dikaji pada bayi dengan BBLR gangguan absorbsi gastrointestinal,
muntah, aspirasi, kelemahan menghisap sehingga perlu diberikan cairan parenteral
atau personde sesuai dengan kondisi bayi untuk mencukupi kebutuhan elektrolit,
cairan, kalori dan juga untuk mengoreksi dehidrasi, asidosis metabolik, hipoglikemi
disamping untuk pemberian obat intravena.
 Latar belakang sosial budaya
Kebudayaan yang berpengaruh terhadap BBLR kebiasaan ibu merokok,
ketergantungan obat-obatan tertentu terutama jenis psikotropikal
 Hubungan psikologis
Sebaiknya segera setelah bayi baru lahir dilakukan rawat gabung dengan ibu jika
kondisi bayi memungkinkan agar mendapatkan kasih sayang dan perhatian serta
dapat mempercepat hubungan psikologis antara ibu dan bayi.

II. Data obyektif


Data obyektif adalah data yang diperoleh melalui suatu pengukuran dan pemeriksaan
dengan menggunakan standar yang di akui atau berlaku.
 Keadaan umum
Pada neonatus dengan BBLR, keadaannya lemah dan hanya merintih. Keadaan
akan membaik bila menunjukkan gerakan yang aktif dan menangis keras.
Kesadaran neonatus dapat dilihat dari responnya terhadap rangsangan. Adanya BB
yang stabil, panjang badan sesuai dengan usianya, tidak ada pembesaran lingkar
kepala dapat menunjukkan kondisi neonatus yang baik.
 Tanda-Tanda Vital
Neonatus post asfiksia berat kondisinya akan baik apabila penanganan asfiksia
benar, tepat dan cepat. Untuk bayi preterm berisiko terjadinya hipotermi bila suhu
tubuh < 36 0C dan berisiko terjadi hipertermi bila suhu tubuh > 37 0C. Sedangkan
suhu normal pada tubuh bayi antara (36,5 0C - 37,5 0C), nadi normal antara (120-
140 x/m), untuk respirasi normal pada bayi (40-60 x/m), sering pada bayi post
asfiksia berat pernafasan belum teratur.
 Pemeriksaan fisik
a. Kulit
Warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstremitas berwarna biru, pada bayi
preterm terdapat lanugo dan verniks.
b. Kepala
Kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom, ubun-ubun
besar cekung atau cembung kemungkinan adanya peningkatan tekanan
intrakranial.
c. Mata
Warna conjungtiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding conjungtiva,
warna sklera tidak kuning, pupil menunjukan refleksi terhadap cahaya.
d. Hidung
Terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lender
e. Mulut
Bibir berwarna pucat ataupun merah, ada lendir atau tidak.
f. Telinga
Perhatikan kebersihannya dan adanya kelainan.
g. Leher
Perhatikan kebersihannya karena leher neonatus pendek.
h. Thoraks
Bentuk simetris, terdapat tarikan intercostal, perhatikan suara wheezing dan
ronchi, frekuensi bunyi jantung lebih dari 100 x/i.
i. Abdomen
Bentuk silindris,hepar bayi terletak 1-2 cm dibawah arcus costae pada garis
papilla mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti adanya asites atau tumor,
perut cekung adanya hernia diafragma, bising usus timbul 1-2 jam setelah masa
kelahiran bayi, sering terdapat retensi karena GI Tract belum sempurna.
j. Umbilikus
Tali pusat layu, perhatikan ada perdarahan atau tidak, adanya tanda-tanda
infeksi pada tali pusat.
k. Genetalia
Pada neonatus aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak muara uretra
pada neonatus laki-laki, neonatus perempuan lihat labia mayor dan labia minor,
adanya sekresi mucus keputihan, kadang perdarahan.
l. Anus
Perhatikan adanya darah dalam tinja, frekuensi buang air besar serta warna dari
feses.
m. Ekstremitas
Warna biru, gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah tulang atau
adanya kelumpuhan syaraf atau keadaan jari-jari tangan serta jumlahnya.
n. Refleks
Pada neonatus preterm post asfiksia berat, refleks moro dan sucking lemah.
Refleks moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan susunan syaraf
pusat atau adanya patah tulang.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang bisa ditegakkan pada bayi dengan BBLR, yaitu :
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas pusat pernapasan, keterbatasan
perkembangan otot, penurunan otot atau kelemahan, dan ketidakseimbangan metabolik
2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan
simpanan nutrisi, imaturitas produksi enzim, otot abdominal lemah, dan refleks lemah.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan imunologis yang tidak efektif
4. Resiko termoregulasi inefektif berhubungan dengan SSP imatur (pusat regulasi residu,
penurunan massa tubuh terhadap area permukaan, penurunan lemak subkutan,
ketidakmampuan merasakan dingin dan berkeringat, cadangan metabolik buruk)
5. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan usia dan berat ekstrem,
kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis), kurang lapisan lemak, ginjal imatur/ kegagalan
mengonsentrasikan urine.

C. Intervensi Keperawatan
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas pusat pernapasan,
keterbatasan perkembangan otot, penurunan otot atau kelemahan, dan
ketidakseimbangan metabolic
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan, pola napas kembali efektif.
Kriteria hasil:
 Neonatus akan mempertahankan pola pernapasan periodik
 Membran mukosa merah muda.
Intervensi :
a. Kaji frekuensi dan pola pernapasan, perhatikan adanya apnea dan perubahan
frekuensi jantung.
Rasional : Membantu dalam membedakan periode perputaran pernapasan normal
dari serangan apnetik sejati, terutama sering terjadi pad gestasi minggu ke-30
b. Isap jalan napas sesuai kebutuhan
Rasional : Menghilangkan mukus yang menyumbat jalan napas
c. Posisikan bayi pada abdomen atau posisi telentang dengan gulungan popok dibawah
bahu untuk menghasilkan hiperekstensi
Rasional : Memudahkan pernapasan dan menurunkan episode apnea, khususnya bila
ditemukan adanya hipoksia, asidosis metabolik atau hiperkapnea
d. Tinjau ulang riwayat ibu terhadap obat-obatan yang akan memperberat depresi
pernapasan pada bayi
Rasional : Magnesium sulfat dan narkotik menekan pusat pernapasan
e. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi
Rasional : Hipoksia, asidosis netabolik, hiperkapnea, hipoglikemia, hipokalsemia dan
sepsis memperberat serangan apnetik
f. Berikan oksigen sesuai indikasi
Rasional : Perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida dapat meningkatkan fungsi
pernapasan

2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan


penurunan simpanan nutrisi, imaturitas produksi enzim, otot abdominal lemah,
dan refleks lemah.
Tujuan :
Nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan.
Kriteria hasil :
 Bayi mendapat kalori dan nutrient esensial yang adekuat.
 Mempertahankan pertumbuhan dan peningkatan berat badan dalam kurva normal
dengan penambahan berat badan tetap, sedikitnya 20-30 gram/hari.
 Refleks menghisap dan menelan baik
Intervensi :
a. Kaji maturitas refleks berkenaan dengan pemberian makan (misalnya : mengisap,
menelan, dan batuk)
Rasional : Menentukan metode pemberian makan yang tepat untuk bayi
b. Auskultasi adanya bising usus, kaji status fisik dan status pernapasan
Rasional : Pemberian makan pertama bayi stabil memiliki peristaltik dapat dimulai
6-12 jam setelah kelahiran. Bila distres pernapasan ada cairan parenteral di
indikasikan dan cairan peroral harus ditunda
c. Kaji berat badan dengan menimbang berat badan setiap hari
Rasional : Mengidentifikasi adanya resiko derajat dan resiko terhadap pola
pertumbuhan.
d. Pantau masukan dan pengeluaran.
Rasional : Memberikan informasi tentang masukan aktual dalam hubungannya
dengan perkiraan kebutuhan untuk digunakan dalam penyesuaian diet.
e. Kaji tingkat hidrasi, perhatikan fontanel, turgor kulit, berat jenis urine, kondisi
membran mukosa, fruktuasi berat badan.
Rasional : Peningkatan kebutuhan metabolik dari bayi SGA dapat meningkatkan
kebutuhan cairan.
f. Kaji tanda-tanda hipoglikemia; takipnea dan pernapasan tidak teratur, apnea, letargi,
fruktuasi suhu, dan diaphoresis
Rasional : Karena glukosa adalah sumber utama dari bahan bakar untuk otak,
kekurangan dapat menyebabkan kerusakan SSP permanen

3. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan imunologis yang tidak efektif


Tujuan :
Pasien tidak memperlihatkan adanya tanda infeksi.
Kriteri hasil :
 Suhu tubuh dalam batas normal
 Tidak ada tanda-tanda infeksi.
 Leukosit 5.000-10.000
Intervensi :
a. Kaji adanya tanda – tanda infeksi
Rasional : Untuk mengetahui lebih dini adanya tanda-tanda terjadinya infeksi
b. Lakukan isolasi bayi lain yang menderita infeksi sesuai kebijakan insitusi
Rasional : Tindakan yang dilakukan untuk meminimalkan terjadinya infeksi yang
lebih luas
c. Sebelum dan setelah menangani bayi, lakukan pencucian tangan
Rasional : Untuk mencegah terjadinya infeksi
d. Yakinkan semua peralatan yang kontak dengan bayi bersih dan steril
Rasional : Untuk mencegah terjadinya infeksi
e. Cegah personal yang mengalami infeksi menular untuk tidak kontak langsung dengan
bayi.
Rasional : Untuk mencegah terjadinya infeksi yang berlanjut pada bayi

4. Resiko termoregulasi inefektif berhubungan dengan SSP imatur (pusat regulasi


residu, penurunan massa tubuh terhadap area permukaan, penurunan lemak
subkutan, ketidakmampuan merasakan dingin dan berkeringat, cadangan
metabolik buruk)
Tujuan :
Termoregulasi menjadi efektif sesuai dengan perkembangan.
Kriteria hasil :
 Mempertahankan suhu kulit atau aksila (36 – 37,5 0 C).
Intervensi :
a. Kaji suhu dengan memeriksa suhu rektal pada awalnya, selanjutnya periksa suhu
aksila atau gunakan alat termostat dengan dasar terbuka dan penyebar hangat.
Rasional : Hipotermia membuat bayi cenderung merasa stres karena dingin,
penggunaan simpanan lemak tidak dapat diperbarui bila ada dan penurunan
sensivitas untuk meningkatkan kadar CO2 atau penurunan kadar O2.
b. Tempatkan bayi pada inkubator atau dalam keadaan hangat
Rasional : Mempertahankan lingkungan termonetral, membantu mencegah stres
karena dingin
c. Pantau sistem pengatur suhu , penyebar hangat (pertahankan batas atas pada 98,6°F,
bergantung pada ukuran dan usia bayi)
Rasional : Hipertermi dengan peningkatan laju metabolisme kebutuhan oksigen dan
glukosa serta kehilangan air dapat terjadi bila suhu lingkungan terlalu tinggi.
d. Kaji keluaran dan berat jenis urine
Rasional : Penurunan keluaran dan peningkatan berat jenis urine dihubungkan
dengan penurunan perfusi ginjal selama periode stres karena rasa dingin
e. Pantau penambahan berat badan berturut-turut. Bila penambahan berat badan tidak
adekuat, tingkatkan suhu lingkungan sesuai indikasi.
Rasional : Ketidakadekuatan penambahan berat badan meskipun masukan kalori
adekuat dapat menandakan bahwa kalori digunakan untuk mempertahankan suhu
lingkungan tubuh, sehingga memerlukan peningkatan suhu lingkungan.
f. Perhatikan perkembangan takikardia, warna kemerahan, diaforesis, letargi, apnea atau
aktifitas kejang.
Rasional : Tanda-tanda hipertermi ini dapat berlanjut pada kerusakan otak bila tidak
teratasi.
g. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi (GDA, glukosa serum, elektrolit dan
kadar bilirubin)
Rasional : Stres dingin meningkatkan kebutuhan terhadap glukosa dan oksigen serta
dapat mengakibatkan masalah asam basa bila bayi mengalami metabolisme anaerobik
bila kadar oksigen yang cukup tidak tersedia.

5. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan usia dan berat ekstrem,
kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis), kurang lapisan lemak, ginjal imatur/
kegagalan mengonsentrasikan urine.
Tujuan :
Cairan terpenuhi.
Kriteria hasil :
 Bebas dari tanda-tanda dehidrasi
 Menunjukan penambahan berat badan 20-30 gram/hari.
Intervensi :
a. Bandingkan masukan dan pengeluaran urine setiap shift dan keseimbangan kumulatif
setiap periodik 24 jam
Rasional : Pengeluaran harus 1-3 ml/kg/jam, sementara kebutuhan terapi cairan kira-
kira 80-100 ml/kg/hari pada hari pertama, meningkat sampai 120-140 ml/kg/hari pada
hari ketiga postpartum.
b. Pantau berat jenis urine setiap selesai berkemih atau setiap 2-4 jam dengan
menginspirasi urine dari popok bayi bila bayi tidak tahan dengan kantong penampung
urine.
Rasional : Meskipun imaturitas ginjal dan ketidaknyamanan untuk
mengonsentrasikan urine biasanya mengakibatkan berat jenis yang rendah pada bayi
preterm ( rentang normal 1,006-1,013).
c. Evaluasi turgor kulit, membran mukosa, dan keadaan fontanel anterior.
Rasional : Kehilangan atau perpindahan cairan yang minimal dapat dengan cepat
menimbulkan dehidrasi, terlihat oleh turgor kulit yang buruk, membran mukosa
kering, dan fontanel cekung. Kehilangan 25% volume darah mengakibatakan syok
dengan TAR < 25 mmHg menandakan hipotensi.

d. Pantau tekanan darah, nadi, dan tekanan arterial rata-rata


Rasional : Memantau keadaan umum
e. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai dengan indikasi Ht
Rasional : Dehidrasi dapat meningkatkan kadar Ht diatas normal 45-53% kalium
serum
f. Berikan infus parenteral dalam jumlah lebih besar dari 180 ml/kg, khususnya pada
PDA, displasia bronkopulmonal (BPD), atau entero coltis
Rasional : Penggantian cairan darah menambah volume darah, membantu
mengenbalikan vasokonstriksi akibat dengan hipoksia, asidosis
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, E.Marilynn. 2012. Rencana Asuhan Keperawatan - Edisi 3. Jakarta : EGC.

Mansjoer, Arif. dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 1. Jakarta : EGC.

Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. Jakarta : EGC.

Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2013. Aplikasi NANDA NIC NOC. Yogyakarta :
Media Action Publishing.
Intervensi :
a. Observasi TTV tiap 3 jam
Rasional : Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien
b. Observasi adanya tanda-tanda dehidrasi atau overhidrasi.
Rasional : Mengetahui adanya tanda-tanda dehidrasi
c. Kaji turgor kulit bayi
Rasional : Mengetahui tanda dehidrasi
d. Pertahankan pemberian cairan IVFD
Rasional : Mempertahankan kebutuhan cairan tubuh
e. Beri minum sesuai jadwal
Rasional : Mencegah terjadinya kekurangan cairan
f. Pantau frekuensi BAB/BAK
Rasional : Mengetahui output tubuh

1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. intake yang tidak adekuat
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi
terpenuhi
Kriteria Hasil :
 Tidak terjadi penurunan BB> 15 %.
 Reflex hisap baik
 Muntah (-)
 Bayi dapat minum dengan baik

Intervensi :
a. Observasi TTV tiap 3 jam
Rasional : Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien
b. Observasi intake dan output.
Rasional : Mengetahui pemasukan dan pengeluaran
c. Observasi reflek menghisap dan menelan bayi.
Rasional : Mengetahui reflex hisap dan menelan bayi baik atau tidak
d. Observasi retensi cairan lambung
Rasional : Mengetahui cairan lambung
e. Pasang OGT bila diperlukan
Rasional : Membantu bayi dalam memenuhi kebutuhan nutrisi
f. Berikan minum (nutrisi) sesuai kebutuhan bayi dan sesuai jadwal
Rasional : Memberikan cairan dan nutrisi tambahan melalui oral
g. Timbang BB tiap hari.
Rasional : Mendeteksi adanya penurunan dan peningkatan berat badan
h. Kolaborasi dalam pemberian obat penetral asam lambung
Rasional : Penetral asam lambung mengurangi produksi asam lambung sehingga
dapat mengurangi rasa nyeri uluhati akibat ulkus atau tukak lambung, dan masalah
asam lambung

2. Resiko infeksi pada tali pusat b.d invasi kuman patogen kedalam tubuh
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan infeksi tali pusat
tidak terjadi.
Kriteria Hasil :
 Suhu 36-37 C
 Tali pusat kering dan tidak berbau.
 Tidak ada tanda-tanda infeksi pada tali pusat.

Intervensi :
a. Observasi adanya tanda-tanda infeksi pada tali pusat
Rasional : Untuk menilai keadaan tali pusat bayi, terjadi infeksi atau tidak
b. Observasi suhu bayi
Rasional : Peningkatan suhu tubuh menandakan adanya infeksi.
c. Observasi adanya perdarahan pada tali pusat.
Rasional : Perawatan tali pusat dengan teknik aseptik merupakan tindakan yang di
lakukan untuk mencegah masuknya kuman ke dalam tubuh