Anda di halaman 1dari 5

A.

Penyebab Kehamilan yang Tidak Diinginkan


1. Pada remaja, disebabkan karena remaja kurang informasi (masih banyak mitos
seksual yang beredar di kalangan remaja, informasi yang disebarkan media
cenderung permisif, kurang proporsional dalam menjelaskan seksualitas).
2. Tidak diberikannya hak informasi dan pendidikan kesehatan seksual dan
reproduksi kepada remaja sehingga mereka tidak memiliki keterampilan dalam
pengambilan keputusan yang tepat dan aman dari risiko seksual dan reproduksi.
3. Kehamilan yang diakibatkan oleh pemerkosaan.
4. Kehamilan karena incest
Sedangkan kehamilan yang tidak direncanakan ada beberapa faktor, diantaranya:
1. Psikis perempuan yang belum siap untuk mengalami kehamilan
2. Kegagalan alat kontrasepsi
3. Penundaan dan peningkatan usia perkawinan, serta semakin dininya usia
menstrulasi pertama (menarche).
4. Ketidaktahuan atau minimnya pengetahuan tentang perilaku seksual yang dapat
menyebabkan kehamilan.
5. Persoalan ekonomi (biaya untuk melahirkan dan membesarkan anak).
6. Alasan karir atau masih sekolah (karena kehamilan dan konsekuensi lainnya yang
dianggap dapat menghambat karir atau kegiatan belajar).
7. Kehamilan datang pada saat yang belum diharapkan.
8. Bayi yang dalam kandungan ternyata menderita cacat majemuk yang berat.
9. Kegagalan KB.
10. Kehamilan yang diakibatkan hubungan seksual di luar penikahan

B. Kejadian & Definisi Aborsi


Aborsi adalah pengeluaran secara paksa hasil pembuahan, padahal janin masih dapat
bertahan hidup hingga dilahirkan. Aborsi masih dapat diterima saat kehamilan menginjak
20 minggu atau bobot janin 500g. (Varney’s, 2004).
Aborsi (abortion: Inggris, abortus: latin) berarti keguguran kandungan. Dalam kamus
bahasa Indonesia, aborsi adalah pengguguran kandungan. Dalam bahasa Arab, aborsi
disebut isqat al-haml atau ijhad, yaitu pengguguran janin dan Rahim.
Secara definitif aborsi adalah berhentinya (mati) dan dikeluarkannya kehamilan sebelum
20 minggu (dihitung dari hari terakhir haid) atau berat janin kurang dari 500gr, panjang
kurang dari 25 cm. Definisi medis mengartikan bahwa aborsi adalah berakhirnya suatu
kehamilan sebelum viability, sebelum janin mampu hidup sendiri di luar kandungan, yang
diperkirakan usia kehamilannya di bawah usia 20 minggu (WHO). Definisi ini jelas
mengandung makna bahwa perbuatan aborsi dilakukan terhadap janin yang tidak dapat
hidup di luar kandungan.
Kehamilan yang tidak direncanakan terjadi di saat yang dinilai kurang tepat. Secara
terminologi istilah tersebut, kehamilan yang tidak direncanakan ini tidak berarti bahwa
pasangan suami istri tidak menginginkan kehamilannya. Kehamilan yang tidak
direncanakan lebih mengarah pada keadaan belum menginginkan karena alasan tertentu,
antara lain menjarangkan jarak usia anak yang satu dengan yang lain. Tidak selalu
kehamilan itu tidak diinginkan oleh kedua belah pihak, bisa jadi hanya satu pihak.
Ketidakinginan dan anggapan tidak berada dalam waktu yang tepat, lebih dirasakan oleh
pihak pasangan laki-laki.
Sebagai konsekuensi dari kondisi kehamilan yang tidak direncanakan, ada dua pilihan.
Pertama, tetap melanjutkan kehamilannya. Kedua, tidak melanjutkan kehamilannya atau
melakukan upaya menggugurkan kandungannya. Kehamilan tidak dikehendaki ini bisa
berakibat pada usaha-usaha menghentikan proses kehamilan (dengan sengaja).
Kehamilan tidak dikehendaki ini dibedakan menjadi mistimed pregnancy (kehamilan tidak
berada dalam waktu yang tepat) dan unwanted pregnancy (kehamilan yang tidak
diinginkan). Kehamilan tidak pada waktu yang tepat ini dikenal sebagai kehamilan yang
tidak direncanakan (unplanned pregnancy). Yang membedakan kedua kehamilan itu
adalah alasannya. Kehamilan jenis pertama adalah bukan persoalan tidak menghendaki
kehamilan, tetapi waktunya yang tepat. Ada kebutuhan ruang dan waktu yang diperlukan
untuk si ibu hamil dan melahirkan. Sementara itu, kehamilan tidak diinginkan sebenarnya
lebih pada persoalan keberadaan kehamilan itu. Bila tidak ada hambatan sosial-kultural
dan (agama), maka bisa saja seorang ibu akan memilih menghentikan kehamilan.
Bagaimana terjadinya Aborsi?
Pada kehamilan muda (dibawah 1 bulan)

Pada kehamilan muda, dimana usia janin masih sangat kecil, aborsi dilakukan dengan cara
menggunakan alat penghisap (suction). Sang anak yang masih sangat lembut langsung
terhisap dan hancur berantakan. Saat dikeluarkan, dapat dilihat cairan merah berupa
gumpalan-gumpalan darah dari janin yang baru dibunuh tersebut.

Pada tahap ini, dimana janin baru berusia sekitar beberapa minggu, bagian-bagian
tubuhnya mulai terbentuk. Aborsi dilakukan dengan cara menusuk anak tersebut kemudian
bagian-bagian tubuhnya dipotong-potong dengan menggunakan semacam tang khusus
untuk aborsi (cunam abortus). Anak dalam kandungan itu diraih dengan menggunakan tang
tersebut, dengan cara menusuk bagian manapun yang bisa tercapai. Bisa lambung,
pinggang, bahu atau leher. Kemudian setelah ditusuk, dihancurkan bagian-bagian
tubuhnya. Tulang-tulangnya di remukkan dan seluruh bagian tubuhnya disobek-sobek
menjadi bagian kecil-kecil agar mudah dikeluarkan dari kandungan.

Dalam klinik aborsi, bisa dilihat potongan-potongan bayi yang dihancurkan ini.. Ada
potongan tangan, potongan kaki, potongan kepala dan bagian-bagian tubuh lain yang
mungil. Anak tak berdosa yang masih sedemikian kecil telah dibunuh dengan cara yang
paling mengerikan.

Aborsi pada kehamilan lanjutan (3 sampai 6 bulan)

Pada tahap ini, bayi sudah semakin besar dan bagian-bagian tubuhnya sudah terlihat jelas.
Jantungnya sudah berdetak, tangannya sudah bisa menggenggam. Tubuhnya sudah bisa
merasakan sakit, karena jaringan syarafnya sudah terbentuk dengan baik.

Aborsi dilakukan dengan terlebih dahulu membunuh bayi ini sebelum dikeluarkan. Pertama,
diberikan suntikan maut (saline) yang langsung dimasukkan kedalam ketuban bayi. Cairan
ini akan membakar kulit bayi tersebut secara perlahan-lahan, menyesakkan pernafasannya
dan akhirnya setelah menderita selama berjam-jam sampai satu hari bayi itu akhirnya
meninggal. Selama proses ini dilakukan, bayi akan berontak, mencoba berteriak dan
jantungnya berdetak keras. Aborsi bukan saja merupakan pembunuhan, tetapi
pembunuhan secara amat keji. Setiap wanita harus sadar mengenai hal ini.

Aborsi pada kehamilan besar (6 sampai 9 bulan)

Pada tahap ini, bayi sudah sangat jelas terbentuk. Wajahnya sudah kelihatan, termasuk
mata, hidung, bibir dan telinganya yang mungil. Jari-jarinya juga sudah menjadi lebih jelas
dan otaknya sudah berfungsi baik. Untuk kasus seperti ini, proses aborsi dilakukan dengan
cara mengeluarkan bayi tersebut hidup-hidup, kemudian dibunuh. Cara membunuhnya
mudah saja, biasanya langsung dilemparkan ke tempat sampah, ditenggelamkan kedalam
air atau dipukul kepalanya hingga pecah. Sehingga tangisannya berhenti dan pekerjaan
aborsi itu selesai. Selesai dengan tuntas hanya saja darah bayi itu yang akan mengingatkan
orang-orang yang terlibat didalam aborsi ini bahwa pembunuhan keji telah terjadi.

Semua proses ini seringkali tidak disadari oleh para wanita calon ibu yang melakukan
aborsi. Mereka merasa bahwa aborsi itu cepat dan tidak sakit, mereka tidak sadar karena
dibawah pengaruh obat bius. Mereka bisa segera pulang tidak lama setelah aborsi
dilakukan.

Benar, bagi sang wanita, proses aborsi cepat dan tidak sakit. Tapi bagi bayi, itu adalah
proses yang sangat mengerikan, menyakitkan, dan benar-benar tidak manusiawi. Kematian
bayi yang tidak berdosa itu tidak disaksikan oleh sang calon ibu.

Seorang wanita yang kelak menjadi ibu yang seharusnya memeluk dan menggendong
bayinya, telah menjadi algojo bagi anaknya sendiri.

C. Dampak Aborsi Tidak Aman dan Ilegal

1. Perdarahan yang hebat


Aborsi ilegal yang dilakukan oleh orang yang tidak berkompeten bisa saja merobek
leher rahim sehingga menimbulkan pendarahan hebat, yang mengancam nyawa
calon ibu. Untuk menghentikan pendarahan tersebut, terkadang dibutuhkan
pembedahan.

2. Masih ada janin yang tersisa


Karena tidak dilakukan oleh tenaga ahli dan alat yang memadai, biasanya aborsi
ilegal masih akan menyimpan sisa janin di dalam rahim. Hal ini beresiko
menimbulkan pendarahan, infeksi atau kista.

3. Infeksi
Alat medis yang tidak steril atau masih ada sisa janin dalam rahim beresiko besar
menimbulkan infeksi.

4. Infeksi Rahim bisa terjadi setiap 1 dari 10 aborsi yang dilakukan. Infeksi ini dapat
diobati dengan antibiotic.

5. Leher Rahim yang rusak


Leher rahim yang terpotong adalah salah satu penyebab dari terjadinya kerusakan
leher rahim.

6. Organ lain yang rusak


Alat yang tidak memadai beresiko besar menyebabkan organ lain yang terdekat
dengan rahim juga akan mengalami kerusakan seperti kandung kemih atau usus.

7. Keracunan darah
Aborsi yang tidak steril bisa menyebabkan infeksi di seluruh tubuh yang beresiko
mengakibatkan kematian.

8. Gangguan mental
Setelah melakukan aborsi, biasanya pelakunya akan mengalami kecemasan yang
bisa berkembang menjadi depresi atau bahkan percobaan bunuh diri.

9. Gangguan jika kembali hamil


Ada berbagai dampak buruk yang bisa didapatkan wanita yang berkali-kali
melakukan aborsi, seperti jika kembali hamil maka bayinya akan lahir prematur.
Selain itu berbagai masalah lain juga akan terjadi pada bayi tersebut seperti
gangguan pada otak, mata, usus dan pernapasannya.

10. Kehilangan nyawa


Kasus ini memang jarang terjadi, namun pendarahan hebat, kerusakan organ,
infeksi hebat serta anestesi yang tidak sesuai bisa menyebabkan sang ibu harus
kehilangan nyawa.

11. Kehamilan yang tersisa di dalam rahim, biasanya terjadi karena aborsi bukan
ditangani oleh tenaga medis yang bersertifikat, misalnya pada aborsi yang
dilakukan secara ilegal oleh dukun atau orang yang mengaku sebagai tenaga
medis, atau bisa juga karena aborsi dilakukan dengan menggunakan obat. Hal ini
bisa terjadi setiap 1 dari 20 kejadian aborsi. Perawatan lebih lanjut perlu dilakukan
untuk menangani hal ini.

12. Pengumpulan bekuan darah sehingga uterus memerlukan kuretase ulang.

13. Robekan mulut Rahim

14. Perforasi (luka tembus) pada dinding peranakan

15. Missedarbotion, kegagalan dalam pengakhiran kehamilan, sehingga membutuhkan


tindakan ulang.

16. Abortus incompletes, pengakhiran kehamilan tidak lengkap akibat adanya jaringan
yang tertinggal, sebagian atau seluruh produk pembuahan masih tertahan dalam
rahim yang menyebabkan infeksi dan berujung pada kematian

17. Pendarahan banyak karena uterus gagal melakukan kontraksi.

18. Efek samping jangka panjang berupa sumbatan atas kerusakan di tuba falopi yang
menyebabkan kemandulan.

Dari berbagai risiko di atas, bisa dilihat bahwa aborsi yang dilakukan secara ilegal maupun
legal (dengan menggunakan obat atau operasi), keduanya sama-sama dapat
menimbulkan risiko kesehatan bagi ibu.
Varney’s. (2004). Ilmu kebidanan. Bandung: Intermedia Publisher
TIM Universitas Padjajaran. (-). Obstetri patologi. Bandung: FK UNPAD
Pranata S dan Sadewo S. (2012). “Kejadian Keguguran, Kehamilan tidak Direncanakan
dan Pengguguran di Indonesia”. https://media.neliti.com/media/publications/21342-ID-
kejadian-keguguran-kehamilan-tidak-direncanakan-dan-pengguguran-di-indonesia.pdf.
Diakses pada 27 September 2017
PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia). (-). Kehamilan Tidak Diinginkan
(KTD). [online]. Diakses dari http://pkbi-diy.info/?page_id=3534. Diakses pada 27
Sepetember 2017