Anda di halaman 1dari 23

PARASIT DAN PENYAKIT IKAN

Chironomus tentans, Simulium sp. dan Culex sp.

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Parasit dan
Penyakit Ikan Semester Genap

Disusun oleh :

Rahmad Afdillah 230110160154


Thessa Yusela 230110160183
Regina Ramda Dwi Handayani 230110160171
Naufal Sofyan Ibrahim Nst 230110160177
Ruth Giovani M 230110160170
Dhandy Alfhian P 230110160213

Kelas :
Kelompok 2 / Perikanan C

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2018
i

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT, atas berkat dan rahmatnya kami
dapat menyelesaikan salah satu tugas makalah tepat pada waktunya. Tidak lupa shalawat
serta salam selalu tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW kepada keluarganya,
para sahabat,hingga kepada umatnya akhir jaman.
Makalah ini membahas mengenai beberapa jenis parasit yang dapat menyerang tubuh
manusia maupun ikan. Kami mengucapkan terimakasih kepada, kelompok 2 yang telah
membantu dalam menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya serta kepada pihak yang telah
mendukung.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. maka dari itu, kami
mengharapkan saran yang membangun untuk makalah yang lebih baik.

Jatinangor, 10 Maret 2018

Kelompok 2

i
ii

DAFTAR ISI

BAB Halaman
KATA PENGANTAR .......................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................... ii

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................... 1
1.3 Tujuan ......................................................................................... 2

II PEMBAHASAN
2.1 Culex sp. ..................................................................................... 3
2.1.1 Morfologi .................................................................................... 3
2.1.2 Klasifikasi .................................................................................. 5
2.1.3 Siklus Hidup ............................................................................... 6
2.1.4 Pengendalian ............................................................................... 6
2.2 Simulium sp................................................................................. 7
2.2.1 Klasifikasi ................................................................................... 8
2.2.2 Morfologi .................................................................................... 9
2.2.3 Siklus Hidup ............................................................................... 9
2.2.4 Gejala klinis ................................................................................ 9
2.2.5 Penanggulangan .......................................................................... 9
2.3 Chironomus sp ............................................................................ 9
2.3.1 Habitat ........................................................................................ 9 2.3.2
Morfologi ................................................................................................ 9
2.3.3 Klasifikasi ................................................................................... 9
2.3.4 Siklus Hidup ............................................................................... 9
2.3.5 Cacing Darah sebagai Pakan Alami ........................................... 9
2.3.6 Cacing Darah sebagai Indikator Perairan tercemar .................... 9

III PENUTUP
3.1 Simpulan ..................................................................................... 16
3.2 Saran ........................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 17

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Setiap makhluk hidup didunia ini pasti dapat mempunyai penyakit baik manusia maupun
hewan. Penyakit didefinisikan sebagai suatu keadaan fisik, morfologi dan atau fungsi yang
mengalami perubahan dari kondisi normal karena beberapa penyebab dan terbagi atas 2
kelompok yaitu penyebab dari dalam (internal) dan luar (eksternal) . Penyakit internal
meliputi genetic, sekresi internal, imunodefesiensi, saraf dan metabolic. Sedangkan penyakit
eksternal meliputi. penyakit pathogen (parasit, jamur, bakteri , virus) dan non pathogen
(lingkungan dan nutrisi).

Penyakit parasitic merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering menyerang ikan
terutama pada usaha pembenihan. Serangan parasit bisa mengakibatkan terganggunnya
pertumbuhan, kematian bahkan penurunan produksi ikan. Berbagai organisme
yang bersifat parasit mulai dari protozoa, crusstacea dan annelida. Di perairan
bebas, terdapat berbagai macam parasit dengan variasi yang luas tetapi jumlahnya sedikit.
Sedangkan dalam kegiatan budidaya, parasit terdapat .dengan variasi yang sedikit tetapi
jumlahnya banyak. Umumnya setiap parasit mempunyai siklus hidup yang rumit, yang
kemungkinan merupakan hal penting dalam pengobatan ikan yang terserang parasit.

Penyakit ikan biasanya timbul berkaitan dengan lemahnya kondisi ikan yang diakibatkan
oleh beberapa faktor yaitu antara lain penanganan ikan, faktor pakan yang diberikan, dan
keadaan lingkungan yang kurang mendukung. Pada padat penebaran ikan yang tinggi jika
faktor lingkungan kurang menguntungkan misalnya kandungan zat asam dalam air rendah,
pakan yang diberikan kurang tepat baik jumlah maupun mutunya, penanganan ikan kurang
sempurna, maka ikan akan menderita stress. Dalam keadaan demikian ikan akan mudah
terserang oleh penyakit.

Banyak jenis parasit yang sering menyerang ikan, baik jenis ekstoparasit maupun
jenis endoparasit. Setiap jenis parasit menempati bagian tertentu pada tubuh ikan. Hal inilah
yang melatar belakangi praktikum parasit dan penyakit ikan di lakukan. Sehingga dengan
praktikum tersebut diharapkan mahasiswa akan lebih paham dengan ilmu yang
dipelajarinya.Salah satunya adalah insecta, dimana kami akan membahas tentang insecta
yang banyak menjadi parasit terutama di sector perikanan.

1
2

Insecta disebut juga serangga atau heksapoda. Heksapoda berasal dari kata heksa
yang artinya enam (6) dan kata podos yang berarti kaki. Insecta mempunyai ciri khas yaitu
berkaki 6 (tiga pasang). Diperkirakan oleh para ahli zoologi, insecta mempunyai jumlah lebih
dari 70.000 jenis. Hewan ini dapat hidup di dalam tanah, di darat, di udara, di air tawar atau
sebagai parasit pada tubuh makhluk hidup lain. Akan tetapi, hewan ini jarang yang hidup di
laut.
Dalam makalah ini akan menjelaskan tentang ciri morfologi, klasifikasi siklus hidup,
gejala terserang penyakit dan penanggulangan dari ketiga hewan ini, yakni: chironomus,
simulium dan culex.

1.2.Rumusan Masalah
 Bagaimana ciri morfologi, klasifikasi siklus hidup, gejala terserang penyakit dan
penanggulangan dari hewan chironomus ?
 Bagaimana ciri morfologi, klasifikasi siklus hidup, gejala terserang penyakit dan
penanggulangan dari hewan simulium ?
 Bagaimana ciri morfologi, klasifikasi siklus hidup, gejala terserang penyakit dan
penanggulangan dari hewan culex ?

1.3.Tujuan
 Mengetahui ciri morfologi, klasifikasi siklus hidup, gejala terserang penyakit dan
penanggulangan dari hewan chironomus.
 Mengetahui ciri morfologi, klasifikasi siklus hidup, gejala terserang penyakit dan
penanggulangan dari hewan simulium.
 Mengetahui ciri morfologi, klasifikasi siklus hidup, gejala terserang penyakit dan
penanggulangan dari hewan culex.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Culex sp.


Culex Quinquefasciatus adalah nyamuk yang dapat menularkan penyakit kaki gajah
(filariasis ). Hal ini terjadi saat nyamuk Culex menghisap darah pengidap filariasis sehingga
larva cacing filariasis masuk dan berkembang biak ditubuhnya lalu nyamuk Culex
menularkan larva tersebut kepada manusia dengan cara menggigitnya. Kasus penyakit kaki
gajah banyak ditemukan dibeberapa daerah di Indonesia seperi Malang Selatan dan Kediri.

Gambar 1. Culex Sp.

Nyamuk Culex memiliki kebiasaan yang berbeda dengan Aedes Aegepty, bila Aedes aegepty
suka hidup pada air bersih maka Culex menyukai air yang kotor seperi genangan air, limbah
pembuangan mandi, got ( selokan ) dan sungai yang penuh sampah. Culex, nyamuk yang
memiliki ciri fisik coklat keabu-abuan ini mampu berkembang biak disegala musim. Hanya
saja jumlahnya menurun saat musim hijan karena jentik-jentiknya terbawa arus. Culex
melakukan kegiatannya dimalam hari.

2.1.1 Morfologi
Culex sp adalah genus dari nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit yang
penting seperti West Nile Virus, Filariasis, Japanese enchepalitis, St Louis encephalitis.[8]
Nyamuk dewasa dapat berukuran 4 – 10 mm (0,16 – 0,4 inci). Dan dalam morfologinya
nyamuk memiliki tiga bagian tubuh umum: kepala, dada, dan perut. Berikut ini merupakan
gambar morfologi Culex sp.

3
4

Gambar 2. Morfologi Culex sp

Nyamuk Culex yang banyak di temukan di Indonesia yaitu jenis Culex


quinquefasciatus.
Ciri-ciri Secara Umum :

 Telur : lonjong seperti peluru


 Larva : sifon panjang dan bulunya lebih dari satu pasang
 Fase dewasa : abdomen bagian ujung tumpul, warna cokelat muda tanpa tanda
khas
 Sayap : sisik sempit panjang dengan ujung runcing
 Peran medis : sebagai vektor filariasis dan penyakit Japanese B. encephalitis
 Perilaku : mengisap darah pada malam hari
 Habitat : air jernih dan air keruh

Bagian toraks nyamuk terdiri atas 3 bagian yaitu protoraks, mesotoraks dan
metatoraks. Bagian metatoraks mengecil dan terdapat sepasang sayap yang mengalami
modifikasi menjadi halter. Abdomen terdiri atas 8 segmen tanpa bintik putih di tiap segmen.
Ciri lain dari nyamuk Culex adalah posisi yang sejajar dengan bidang permukaan yang
dihinggapi saat istirahat atau saat menusuk dengan kaki belakang yang sedikit terangkat
(Setiawati 2000).
5

Genus Culex dikenali dengan struktur sketelumnya yang trilobus, ujung abdomen yang
tumpul dan badannya yang penuh dengan sisik-sisik. Selain itu, struktur yang membedakan
genus ini dengan genus yang lain adalah struktur yang disebut pulvilus yang berdekatan
dengan kuku diujung kaki nyamuk (Setiawati 2000).
Nyamuk Culex quinquefasciatus berwarna coklat, berukuran sedang, dengan bintik-
bintik putih di bagian dorsal abdomen. Sedangkan kaki dan proboscis berwarna hitam polos
tanpa bintik-bintik putih. Spesies ini sulit dibedakan dengan nyamuk genus Culex lainnya

2.1.2 Klasifikasi

Klasifikasi nyamuk Culex menurut Romoser & Stoffolano (1998), adalah sebagai
berikut :
Phylum : Arthropoda
Classis : Insecta
Subclassis : Pterygota
Ordo : Diptera
Subordo : Nematocera
Familia : Culicidae
Subfamilia : Culicianae
Genus : Culex
Spesies : Culex quinquefasciatus Say.

2.1.3 Siklus Hidup

Seluruh siklus hidup Culex quinquefasciatus mulai dari telur hingga dewasa
membutuhkan waktu sekitar 14 hari. Untuk bertelur, nyamuk betina akan mencari tempat
yang sesuai seperti genangan air yang lembab.

Gambar 3. Siklus hidup culex

1. Telur
Sekor nyamuk betina mampu meletakan 100-400 butir telur. Setiap spesies nyamuk
mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda. Nyamuk Culex sp meletakan telurnya
6

diatas permukaan air secara bergelombolan dan bersatu membentuk rakit sehingga
mampu untuk mengapung.
2. Larva
Setelah kontak dengan air, telur akan menetas dalam waktu 2-3 hari. Pertumbuhan
dan perkembangan larva dipengaruhi oleh faktor temperature, tempat perindukan dan
ada tidaknya hewan predator. Pada kondisi optimum waktu yang dibutuhkan mulai
dari penetasan sampai dewasa kurang lebih 5 hari. Nyamuk Culex mempunyai 4
tingkatan atau instar sesuai dengan pertumbuhan larva tersebut, yaitu :
a. Larva instar I, berukuran paling kecil yaitu 1 – 2 mm atau 1 – 2 hari setelah
menetas. Duri-duri (spinae) pada dada belum jelas dan corong pernafasan pada siphon
belum jelas.
b. Larva instar II, berukuran 2,5 – 3,5 mm atau 2 – 3 hari setelah telur menetas. Duri-
duri belum jelas, corong kepala mulai menghitam.
c. Larva instar III, berukuran 4 – 5 mm atau 3 – 4 hari setelah telur menetas. Duri-duri
dada mulai jelas dan corong pernafasan berwarna coklat kehitaman.
d. Larva IV, berukuran paling besar yaitu 5 – 6 mm atau 4 – 6 hari setelah telur
menetas, dengan warna kepala.

3. Pupa

Pupa merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di dalam air, pada
stadium ini tidak memerlukan makanan dan terjadi pembentukan sayap hingga dapat
terbang, stadium kepompong memakan waktu lebih kurang satu sampai dua hari.
Pada fase ini nyamuk membutuhkan 2-5 hari untuk menjadi nyamuk, dan selama fase
ini pupa tidak akan makan apapun dan akan keluar dari larva menjadi nyamuk yang
dapat terbang dan keluar dari air.

4. Dewasa

Setelah muncul dari pupa nyamuk jantan dan betina akan kawin dan nyamuk betina
yang sudah dibuahi akan menghisap darah waktu 24-36 jam. Darah merupakan sumber
protein yang esensial untuk mematangkan telur. Perkembangan telur hingga dewasa
memerlukan waktu sekitar 10 sampai 12 hari
7

2.1.4 Habitat

Nyamuk dewasa merupakan ukuran paling tepat untuk memprediksi potensi


penularan arbovirus. Larva dapat di temukan dalam air yang mengandung tinggi
pencemaran organik dan dekat dengan tempat tinggal manusia. Betina siap memasuki
rumah-rumah di malam hari dan menggigit manusia dalam preferensi untuk mamalia
lain.

2.1.5 Peranan Culex sp.

Nyamuk Culex merupakan golongan serangga penular (vektor). Nyamuk dari genus
Culex dapat menyebarkan penyakit Japanese Encephalitis (radang otak), West Nile Virus,
Filariasis, Japanese enchepalitis, St Louis encephalitis. dan Filariasis. Japanese Encephalitis
(JE) adalah suatu penyakit yang menyerang susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh virus.
Ada beberapa macam encephalitis diantaranya Japanese Encephalitis dan St Louis
Encephalitis (Anonim, 2010).

2.1.6 Pengendalian

Secara garis besar ada 4 cara pengendalian vector, yaitu dengan cara 1) kimiawi, 2)
biologis, 3) radiasi, dan 4) mekanik/pengelolaan lingkungan (Dinata, 2006). Pengendalian
secara kimiawi biasanya digunakan insektisida dari golongan orghanochlorine,
organophosphor, carbamate dan pyrethoid. Bahanbahan tersebut dapat diaplikasikan dalam
bentuk penyemprotan terhadap rumahrumah penduduk (Dinata, 2006).
Pengendalian lingkungan digunakan beberapa cara antara lain dengan mencegah
nyamuk kontak dengan manusia yaitu dengan memasang kawat kasa pada lubang ventilasi,
jendela dan pintu. Cara yang lain yaitu dengan gerakan 3M “Plus” yaitu: 1) menguras tempat-
tempat penampungan air, 2) menutup rapat tempat penampungan air, 3) menimbun barang-
barang bekas atau sampah yang dapat menampung air hujan dalam tanah. “Plus” menabur
bubuk pembasmi jentik.
8

2.2 Simulium sp.


Simulium adalah sejenis lalat kecil penghisap darah seperti nyamuk atau agas yang
termasuk ke dalam Ordo Diptera, Subordo Nematocera, Famili Simuliidae. Dalam bahasa
Indonesia dikenal dengan istilah lalat punuk karena mempunyai daerah toraks yang menonjol.
Umumnya lalat ini berwarna hitam sehingga dikenal dengan istilah blackfly . Istilah ini
sebenarnya tidak cocok lagi karena ada jenis yang berwarna kuning keemasan seperti
Simulium ochraceum di Amerika latin. Di Kanada lalat ini dikenal dengan istilah no see um
karena kecil dan tidak tampak jelas dilihat dengan mata saat mereka berkerumun. Dimanapun
berada lalat ini merupakan pengganggu karena gigitannya dan dapat menyebarkan penyakit,
dan biasanya setiap wilayah lalat ini mempunyai nama khusus dalam bahasa lokal.
Di Indonesia saat ini telah dilaporkan hanya ada satu genus yaitu Simulium dengan sekitar
100 spesies tersebar di seluruh tanah air. Di pulau Jawa sendiri monograf terkhir
menunjukkan bahwa ada 22 spesies, antara lain Simulium sigiti, S. javaense, S. parahiyangum
dan S. upikae (Takaoka & Davies 1996).

2.2.1 Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Simuliidae
Subfamili : Simuliinae
Genus : Simulium
Spesies : Simulium sp.

Gambar 1. Simulium sp.


9

2.2.2 Morfologi
Berikut merupakan morfologi Simulium sp.:
 Berukuran kecil 2-3mm, punggung bongkok, kaki pendek, memiliki mata
majemuk untuk betina tipe dichoptic sedangkan yang jantan tipe holoptic
 Memiliki antena pendek dan polos
 Sayap lebar tanpa sisik atau rambut.
 Proboscis pendek mempunyai alat seperti pisau yang berfungsi untuk
memotong.
 Badan terdapat garis-garis yang berwarna emas atau perak.
Selain hal diatas Simulium sp. memiliki beberapa bagian pada tubuhnya yaitu:
1. Kepala
Lalat ini mempunyai hampir seratus mata (ommatidia). Sebagai mata majemuk,
mata-mata ini terletak pada bagian atas kepalanya. Simulium betina setiap
ommatidia berukuran kecil (10-15 mikron) dan mata majemuk ini terpisah dengan
baik di atas antena (dikhoptik). Pada lalat jantan, mata majemuk lebih besar dan
bersentuhan satu sama lain (holoptik), dan ommatidia bagian bawah menyerupai
betina tetapi yang bagian atas sangat besar-besar (25-40 mikron). Antenanya
kokoh seperti tanduk, beruas-ruas, umumnya 11 ruas, baik pada jantan maupun
betina. Palpinya terdiri atas 5 ruas agak lebih panjang dari pada probosisnya yang
pendek. Ruas ketiga palpi memiliki alat sensoris yang besar. Maksila dan
mandibula pada yang jantan dan beberapa jenis betina yang tidak menghisap
darah tidak bergerigi.
2. Toraks
Sayapnya pendek (1,5-6 mm), lebar, tidak berwarna dan transparan, dengan
lobus anal yang besar. Venasi sangat khas dengan vena radial yang berkembang
baik sepanjang sisi anterior sayap dan vena-vena median dan kubital lemah di
posterior. Karena penampilan sayap yang lemah ini lalat Simulium mampu terbang
di udara tenang berkilo-kilometer. Sektor radial bisa tidak bercabang atau
mempunyai dua cabang. Di antara vena median (M2) dan kubital (Cu1) terdapat
cabang lipatan submedian. Pada Simulium dan Austrosimulium sektor radial pada
sayap tidak bercabang; kosta mempunya rambut seta sepeti duri dan rambut-
rambut halus, dan tungkai belakang mempunyai lobus bulat (kalsipala) pada ujung
bagian dalam ruas tarsus pertama, dan sebuah celah dorsal (pedisulkus) dekat
10

dasar ruas tarsus kedua. Pada lalat dewasa, identifikasi spesies seringkali sulit
karena membutuhkan karakter mikroskopis seperti struktur terminalia jantan dan
betina.
3. Abdomen
Perutnya terdiri atas 8 ruas, tiga ruas terakhir terdapat alat kelamin (genitalia)
dan tidak terlihat. Ujung abdomen jantan lebih kompak dan relatif tidak tampak.
Betina mempunyai satu spermateka yang bentuknya subsperikal (agak membulat).

2.2.3 Siklus Hidup


Periode siklus hidup bervariasi pada setiap spesies dan kondisi lingkungan. Pada
spesies yang hidup di daerah beriklim sedang dalam setahun bisa terjadi hanya satu generasi,
sementara di daerah tropis sepanjang tahun bisa terjadi beberapa generasi. Stadium larva S.
damnosum dapat diselesaikan dalam waktu enam hari, dan siklus hidup dari telur hingga
dewasa dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 2 minggu.
1. Telur
Telur umumnya diletakkan dalam kelompok-kelompok berjumlah 200-300
butir, dengan kisara 30-800 butir, pada benda-benda di dalam atau dekat aliran air
atau langsung ke dalam air atau pada permukaan air. Telur dijatuhkan langsung ke
dalam air dan tenggelam ke dasar atau diletakkan pada benda-benda yang muncul
dekat dengan garis air, tempat mereka langsung basah oleh air atau daerah cipratan
air. Kumpulan telur bisa dibuat oleh beberapa betina yang bertelur di sekitar tempat
yang berdekatan dan terdapat bukti bahwa betina bunting tertarik meletakkannya pada
tumpukan telur dari spesies yang sama. Hal ini mungkin ditimbulkan oleh kehadiran
feromon. Lalat betina dari beberapa spesies berkerumun pada ketinggian 15 cm dari
permukaan air untk meletakkan telurnya pada benda-benda yang terendam air.
Telur berukuran panjang 100 - 400 µm dan bentuknya segitiga ovoid.
Permukaannya halus dan tertutup oleh lapisan gelatin. Telur diletakkan dalam
gelendong seperti rangkaian manik-manik, atau dalam kelompok tidak teratur. Telur
yang baru diletakkan berwarna krem keputihan, berubah menjadi coklat gelap atau
hitam dalam waktu 24 jam. Telur lalat ini sangat sesitif terhadap kekeringan.
2. Larva
Telur menetas menjadi larva yang mempunyai kepala keras dan jelas,
sepasang mata sederhana, bentuk tubuh yang silinder dengan toraks dan bagian
posterior abdomen lebih lebar dari pada ruas abdomen anterior. Kepala memiliki
11

sepasang kipas sefalik (labral), struktur homolog sikat palatal lateral nyamuk. Larva
tidak menciptakan aliran tetapi menyaring air yang melewati tubuhnya. Larva
memiliki satu proleg anterior (tangan palsu) yang dikelilingi kait-kait sirklet, dan
ujung abdomen dikelilingi sirklet posterior. Anus terbuka dan terdapat di dorsal sirklet
posterior, dari situ muncul organ rektal, yang mungkin fungsinya sama dengan anal
papila pada larva nyamuk yaitu menyangkut penarikan klorida dari air.
Larvanya memintal benang sutra pada substrat, yang diteruskan menjadi
benang sutra, sebagai alat yang digunakan ketika mempertahankan diri dari aliran air
deras atau saat ada gangguan. Ketika sudah stabil dengan tempat yang dipilihnya, ia
akan mencapkan sirklet posteriornya. Larva umumnya bertahan di dekat permukaan
air, dan biasanya ditemukan pada kedalaman kurang dari 300 mm kecuali pada
spesies besar yang bisa ditemukan pada kedalaman beberapa meter dalam air jeram
(turbulent water). Larva dapat berpindah tempat dengan menghanyutkan tubuhnya ke
dalam aliran air dengan bantuan benang sutra, atau dengan melangkahkan tubuhnya
dari permukaan substrat dengan sirklet posterior dan kait anterior proleg untuk
mempertahankan cairan sutra. Beberapa spesies menyebar lebih jauh dari tempat
meletakkan telurnya.
Larva Simuliidae banyak terdapat di aliran air deras, tempat larva dapat
menyaring sebanyak mungkin volume air dalam waktu tertentu. Konsentrasi larva
dalam jumlah besar sering ditemukan pada aliran keluar danau, tempat air yang kaya
akan fitoplankton sebagai makan larva mengalir. Gerakan air yang melewati
permukaan tubuh larva menyediakan sumber oksigen terlarut dalam jumlah yang
cukup untuk pernafasan larva. Panjang larva Simuliidae mencapai 4-12 mm, dan
mudah terlihat pada benda yang terendam. Pada beberapa spesies larva menempel
pada tubuh kepiting di sungai dan nimfa lalat sehari (mayfly). Larva instar terakhir
(mature) dapat dikenali dengan adanya bercak insang gelap ("gill spot") pada kedua
sisi toraks, dan dapat bergerak ke tempat lain sebelum proses pupasi.
12

3. Pupa
Umumnya pupa Simuliidae disebut kokon. Bentuk kokon bervariasi ada yang
sandal (slipper-shaped) dan sepatu (shoe-shaped). Kokon ujungnya yang tertutup
mengarah ke hulu (upstream) dan yang terbuka mengarah ke hilir (down stream). Hal
ini mencegah kokon terkoyak oleh aliran air. Pembentukan kokon memerlukan waktu
sekitar satu jam dan kemudian kulit larva dilepas.
Pada pupa, kepala dan torak punya bergabung menjadi sefalotoraks, dan
terdapat ruas-ruas abdomen. Ujungnya memiliki spina dan kait-kait yang mengikat
benang-benang kokon dan menenpelkan pupa pada substrat. Sefalotoraks memiliki
sepasang insang pupa (pupal gills) yang jumlahnya, panjangnya, dan percabangannya
berbeda-beda pada setiap spesies. Pupal gill ini serupa dengan corong pernafasan pada
Culicidae dan Ceratopogonidae, tetapi tidak mempunyai spirakel terbuka. Pupa ini
tidak makan, dan berubah warna menjadi gelap saat lalat dewasa sedang berkembang.
Ketika lalat dewasa muncul, kulit pupa membelah, lalat dewasa muncul ke permukaan
dalam gelembung udara, dan segera terbang, atau yang baru saja muncul tersebut
bertengger pada benda dekat permukaan air.
4. Dewasa
Lalat dewasa biasanya muncul pada siang hari tergantung cahaya dan suhu.
Simulium damnosum 60-90% muncul menjadi lalat dewasa di siang tengah hari dan
tidak ada yang muncul pada malam hari.
13

2.2.4 Gejala Klinis


Gigitan Simulium mula – mula tidak terasa sakit, kemudian terasa nyeri, membengkak
dan gatal yang berlangsung selama beberapa hari. Pada tempat gigitan Simulium sp. akan
terjadi radang setempat berupa benjolan (nodula). Nodula ini berkembang sangat lambat dan
dalam waktu 3-4 tahun hanya mencapai ukuran 2-3cm.
Benjolan ini jumlahnya bisa hanya beberapa saja, tetapi bisa juga sangat banyak.
Terkadang benjolan tersebut meradang yang diikuti terjadinya abses. Kelainan patologis yang
cukup berat bila infeksinya mengenai mata, yang dapat menimbulkan kebutaan. Gejala awal
pada mata berupa konjungtibitis, mata berair dan potophobia yang diikuti keratitis, iritis, dan
pecahnya bola mata yang menimbulkan kebutaan.
Penyakit yang dapat ditularkan oleh Simuliidae antara lain adalah Onkosersiasis atau
River blindness disease oleh Onchocerca volvulus pada manusia di Afrika, Amerika latin dan
Amerika tengah, Onkosersiasis pada sapi oleh O. bovis, O. gutturosa, O. linealis,
Onkosersiasis pada rusa oleh O. tarsicola, Mansonellosis oleh Mansonella ozzardi pada
manusia di Amerika latin, Leukositozoonosis oleh Leucocytozoon simondi pada itik, L smithi
pada kalkun, Trypanosomiasis pada unggas oleh Trypanosoma confusum. Selain dapat
menularkan penyakit adalah peranan sebagai penghisap darah yang sangat mengganggu
hewan dan manusia.

2.2.5 Penanggulangan
Beberapa cara yang digunakan untuk mencegah dan mengobati penyakit yang
diakibatkan oleh Simulium sp. adalah sebagai berikut:
 Menggunakan obat lalat yang telah terbukti ampuh dan aman bagi lingkungan
serta bagi ikan
 Mengurangi atau menghilangkan tempat perndukan lalat dengan cara rajin
membersihkan kolam seperti mengganti air kolam, menyifon kolam, dll.

2.3 Chironomus Sp
Chironomus Sp atau cacing darah telah dikenal secara umum bagi para feeder atau
pembudidaya ikan dan para pencinta ikan di dunia sebagai pakan alami. Cacing darah atau
bahasa kerennya bloodworm sering disalah artikan sebagai cacing sutera. Ini dikarenakan
cacing darah dan cacing sutera sama-sama berwarna merah. Tapi siapa sangka, cacing darah
di sini walau berwarna merah namun makhluk ini merupakan larva dari serangga dari ordo
14

Diptera (nyamuk) jenis Chironomus, yang merupakan jenis nyamuk yang hanya menghisap
nektar bunga atau tanaman dan tidak menggigit.

Gambar 4. Chironomus Sp
Larva chironomus sp atau lebih dikenal sebagai cacing darah atau bloodworm merupakan
larva dari serangga yang termasuk ke dalam family nyamuk. Chironomus mengalami
metamorphosis sempurna, memiliki empat stadia hidup, yaitu telur , larva, kepompong dan
dewasa. Chironomidae biasanya menjadi kelompok makroinvertebrata paling melimpah, baik
dalam jumlah spesies maupun jumlah individu yang dapat ditemukan pada hampir seluruh
habitat air tawar (Eppler 2001).

2.3.1 Habitat
Chironomidae adalah salah satu anggota ordo Diptera yang ditemukan hampir di
semua ekosistem perairan baik perairan mengalir maupun tergenang. Organisme ini juga
dapat ditemukan di ekosistem laut (Epler 2001). Chironomidae bahkan dapat tumbuh dan
berkembang pada perairan yang telah ter- kontaminasi misalnya kolam stabilisasi limbah
(Halpern et al. 2002). Sebagai serangga air, diptera kebanyakan ditemukan pada berbagai
tipe perairan. Larva chironomus mudah ditemukan di daerah litoral maupun profundal
perairan tergenang. Tidak seperti kebanyakan nyamuk, larva (jentik) nyamuk
chironomus hidup di dasar substrat dan membentuk tabung pada subtract sebagai tempat
tinggalnya. Larva chironomus juga bersifat dentritus atau sebagai pengurai bahan organic
yang membusuk pada dasar perairan.
15

2.3.2 Morfologi
Larva Chironomus berwarna merah, tubuh bersegmen-semen 10-12 segmen. Bagian
posterior bercabang 3. Pada bagian anteriornya (kepala) terdapat mulut tipenya tipe
penghisap karena biasa menghisap darah oleh karena itu sering dijuluki cacing darah.
Larva Chironomus ini memiliki bentuk kelenjar ludah yang besar sehingga mudah untuk
mengamati bentuk kromosom yang terdapat kelenjar ludah tersebut. Larva Chironomidae
merupakan bagian dari ordo Diptera, yaitu insekta atau serangga yang memiliki sayap
satu pasang (Meier et al. 2000) dan 78% spesies ordo Diptera merupakan larva
Chironomidae (Canedo-Arguelles & Rieradevall 2011). Insekta ini tidak merugikan
karena tidak menggigit seperti halnya nyamuk (Bay 2003) namun beberapa penelitian
menunjukkan bahwa massa telur larva Chironomidae menjadi pembawa bakteri
penyebab kolera (Vibrio cholerae) (Halpern et al. 2006).

2.3.3 Klasifikasi
Dari kajian ilmiah, yang berhak menyandang nama cacing darah adalah si
Schystosoma Japonicum. Ia masuk ke dalam kelompok cacing pipih dan tergolong
sebagai cacing parasit yang menumpang hidup pada inangnya. Cacing ini banyak
dijumpai di wilayah Sulawesi dan mampu hidup dalam pembuluh vena babi, anjing,
binatang pengerat, kucing, sapi bahkan manusia. Sebagian besar larva membangun silken
tubes, sejenis tabung sebagai tempat tinggal di dalam maupun di atas substrat. Beberapa
bersifat grazer dan beberapa yang lain bersifat predator. Beberapa taksa larva subfamili
ini memiliki hemoglobin yang memberi warna merah pada tubuhnya. Hal ini
memungkinkan larva chironomida subfamili ini untuk bertahan hidup pada kondisi
oksigen yang rendah (Eppler 2001). Berikut ini merupakan klasifikasinya (Epppler,
2001) :
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Sub ordo : Nemathocera
Famili : Chironomidae
Genus : Chironomus
Spesies : Chironomus sp
16

2.3.4 Siklus Hidup


Larva chironomida termasuk Chironomus sp. memiliki empat fase metamorphosis,
yaitu dewasa dalam bentuk serangga atau insekta, telur, larva, dan pupa. Siklus hidup
dari telur hingga dewasa berkisar dalam rentang waktu satu minggu hingga lebih dari
satu tahun bergantung pada spesiesnya (Bay 2003).
Setelah proses pemijahan, induk betina akan meletakkan massa telurnya di permukaan
air yang akan tenggelam ke dasar perairan dan kemudian menetas menjadi larva. Siklus
hidup dari telur hingga mencapai dewasa biasanya memakan waktu kurang dari satu
minggu atau bahkan lebih dari setahun tergantung jenis spesies dan musim.
Induk chirunomus meletakkan telurnya di tempat yang mengeluarkan aroma khas dari
poses pembusukan bahan organik. Telur Chirunomus selalu ditemukan pada pagi hari,
sehingga dimungkinkan induk meletakkan telurnya pada malam hari. Induk tertarik
untuk meletakkan telurnya dalam media karena aroma khas yang dikeluarkan media
akibat proses busukan bahan organik, seperti aroma yang dikeluarkan oleh kotoran ayam
(Sastrawibawa, 1979). Beberapa spesies chironomida, massa telurnya tetap mengapung
di permukaan air dalam bentuk massa gelatin. Masing-masing massa telur berjumlah
kurang dari 100 hingga 2000 telur bergantung pada spesies (Bay 2003). Telur-telur ini
biasanya memerlukan waktu tetas sekitar 24 sampai 36 jam (Bay 2003) bahkan bisa
mencapai 3 hari (Zilli et al. 2008).
Setelah telur menetas akan keluar larva yang berbentuk memanjang seperti belatung.
Berukuran 1 – 100 mm. kepala tersusun atas sklerotin, thorax tidak memiliki pasang
kaki, tidak memiliki bakal sayap, abdomen 8 – 10 ruas.
Larva chirunomus mempunyai habitat akuatik dan bersifat saprofog atau dentrivor,
ada beberapa jenis yang hidup dan membuat suatu tempat berbentuk tabung yang biasa
ditemukan di dasar kolam atau bak air. Imago sebagian besar bersifat nocturnal, banyak
ditemukan di sekitar cahaya. Larva akan hidup hingga 1 – 2 minggu yang kemudian akan
berubah menjadi pupa. Sebelum masa inilah larva chironomus atau dikenal juga sebagai
cacing darah biasa dipanen sebagai pakan alami ikan. Setelah beberapa hari menjadi
pupa, chironomus akan keluar dari pupanya menjadi chironomus dewasa yang berupa
nyamuk pemakan nectar. Chironomus dewasa sendiri hanya bertahan hidup sekitar 2 – 3
hari.
17

2.3.5 Cacing darah sebagai pakan alami


Dewasa ini cacing darah telah banyak dikenal sebagai pakan alami, hal ini didukung
juga oleh penelitian-penelitian terhadap kadungan nilai gizi yang terdapat pada cacing
darah itu sendiri. Larva, pupa, maupun chironomida dewasa membentuk bagian yang
terintegrasi pada jaring-jaring makanan. Organisme ini berperan sebagai makanan bagi
invertebrata yang lebih besar, ikan, amfibi maupun burung (Eppler 2001). Larva
Chironomidae berperan sangat penting dalam rantai makanan di lingkungan perairan
(Zilli et al. 2008). Organisme ini bermanfaat sebagai pakan alami juvenil dan inver-
tebrata lain serta berperan penting dalam proses penguraian bahan organik (Pinder 1986;
Bay 2003).
Hasil analisa menunjukkan bahwa cacing darah mengandung 9,3% bahan kering yang
terdiri dari 62,5% protein, 10,4% lemak dan 11,6% abu dengan 15,4% bahan ekstrak
tanpa nitrogen (BETN). Kandungan protein larva chironomus yang sangat tinggi
mencapai 60% yang dapat dicerna langsung oleh ikan, serta lemak 10% inilah yang
mendukung kecepatan pertumbuhan ikan. Selain itu juga larva chironomus mengandung
pigmen karoten berupa astaxanthin yang mencerahkan warna pada ikan.

2.3.6 Cacing darah sebagai indikator perairan tercemar


Selain kandungan gizinya yang tinggi, cacing darah juga digunakan sebagai indikator
pencemaran air. Mengapa demikian?. Larva Chironomidae sangat cepat merespons
perubahan kondisi perairan (Heinrich et al. 2006). Oleh karena itu, larva insekta ini
sering dimanfaatkan sebagai bioindikator pencemaran lingkungan. Batas toleransi
dan sensitivitas masing-masing spesies Chironomid berbeda sehingga dapat menjadi
indikator yang sempurna bagi pencemaran organik, kontaminasi logam berat maupun
degradasi habitat (Carew et al. 2003; Odume & Muller 2011).
Cacing darah rentan terhadap kualitas perairan, dimana cacing darah ini mempunyai
sensitivitas yang tinggi terhadap kualitas air. Cacing darah hidup pada lingkungan yang
memiliki suhu sekitar 24 – 29 oC, kandungan DO 4 – 8 mg/l dan kandungan pH yan
berkisar antara 6 – 8. Selain parameter tersebut, terdapat juga parameter lain seperti
kedalaman dan bahan organik. Jika keadaan perairan tidak mendukung parameter
tersebut, cacing darah tidak dapat berkembang dengan optimal atau bahkan tidak
ditemukan di perairan tersebut.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Culex sp, Chironomus sp, dan Simulium sp merupakan beberapa hewan yang dapat
menimbulkan penyakit pada manusia dan hewan lain, termasuk ikan. Culex sp adalah genus
dari nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit yang penting seperti West Nile Virus,
Filariasis, Japanese enchepalitis, St Louis encephalitis. Cacing Darah yang merupakan larva
dari nyamuk Chironomus sp. . Pada bagian anteriornya (kepala) terdapat mulut tipenya tipe
penghisap karena biasa menghisap darah oleh karena itu sering dijuluki cacing darah.
Simulium sp adalah sejenis lalat kecil (3mm-8mm), penghisap darah seperti nyamuk atau
agas yang termasuk ke dalam Ordo Diptera, Subordo Nematocera, Famili Simuliidae. Selain
dapat menularkan penyakit adalah peranan sebagai penghisap darah yang sangat mengganggu
hewan dan manusia. Pada dasarnya ketiga hewan ini memiliki habitat di kondisi perairan
yang buruk. Secara garis besar ada 4 cara pengendalian faktor, yaitu dengan cara 1) kimiawi,
2) biologis, 3) radiasi, dan 4) mekanik/pengelolaan lingkungan. Selain dapat menularkan
penyakit adalah peranan sebagai penghisap darah yang sangat mengganggu hewan dan
manusia. Cara penularan penyakit ketiga hewan yaitu dengan cara menghisap darah.

3.2 Saran
Dari ketiga jenis insekta ini memiliki cara penanggulangan yang terbilang hampir sama.
Pengendalian lingkungan yang baik merupakan faktor utama agar hewan tersebut tidak dapat
berkembangbiak. Oleh karena itu sebagai mahasiswa perikanan kita harus mampu mengatasi
penyakit yang di disebabkan oleh hewan tersebut yang pada dasarnya berawal dari perairan
yang tidak bersih dan terawat. Lingkungan perairan yang seperti itu dapat berdampak buruk
bagi kegiatan budidaya ikan juga dapat menurunkan mutu.

18
DAFTAR PUSTAKA

Bay EC. 2003. Chironomida Midges. Washington State University (US).

Boyd, C. E. 1982. Water quality management for pond fish culture. Development in
Aquaculture and Fisheries Science. Departement of Fisheries and Allied Aquaculture,
Agriculture Experiment Station, Auburn University, Alabama, U. S. A. P : 3 1 8.

Canedo-Arguelles M, Rieradevall M. 2011. Early succession of the macroinvertebrate


community in a shallow lake: response to changes in the habitat condition.
Limnologica Ecology and Management of Inland Waters. 41(4): 363 370.

Carew ME, Pettigrove V, Hoffmann AA. 2003. Identifying Chironomidas (Diptera:


Chironomidae) for Biological Monitoring with PCR-RFLP. Bulletin of Entomological
Research. Australia.

Epler JH. 2001. Identification manual for the larval Chironomidae (Diptera) of north and
south Carolina. North Carolina Department of environment and natural resources.
Division of Water Quality. Crawfordville (US).

Halpern M, Raats D, Lavion R, Mittler S. 2006. Dependent population dynamics between


chironomids (nonbiting midges) and Vibrio cholerae. FEMS Microbiol Ecology. 55(1):
98-104

Heinrich ML, Barnekov L, Rosenberg S. 2006. A comparison of chironomid biostratigraphy


from Lake Vuolep Njakajaure with vegetation, lake-level, and climate changes in
Abisko National Park, Sweden. Journal of Paleolimnology. 36(2): 119-131

Odume ON, Muller WJ. 2011. Diversity and structure of Chironomidae communities in
relation to water quality differences in the Swartkops River. Elsevier. Aquaculture. 36:
929 938.

Pinder LCV. 1986. Biology of freshwater Chironomidae. Annual Review of Entomology. 31:
1-23.

Sastrawibawa, S. 1979. Kemungkinan kultur Chironomidae untuk makanan ikan hias.


Laporan Penelitian. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Fakultas Pertanian,
Universitas Padjajaran. Bandung.

Zilli FL. Montalto L, Paggi A, Merchese C. 2008. Biometry and life cycle of chironomus
calligraphus Goeldi 1905 (Diptera, Chironomidae) in laboratory conditions.
Association Interciencia. 33(10): 770.

19
20