Anda di halaman 1dari 54

‫ﺑﺴﻢ اﷲ اﻟﺮﺣﻤﻦ اﻟﺮﺣﯿﻢ‬

‫ﺑﺴﻢ اﷲ اﻟﺮﺣﻤﻦ اﻟﺮﺣﻢ‬

ً‫ﻀ‬
‫ﻼ ﱢﻣ َﻦ‬ َ ‫ﻌﺎ ُﺳ ﱠﺠﺪاً َﯾ ْﺒَﺘ ُﻐ‬
ْ ‫ﻮن َﻓ‬ ً ‫ِﯾﻦ َﻣ َﻌ ُﻪ أَ ِﺷﺪﱠاء َﻋﻠَﻰ اﻟْ ُﻜﱠﻔﺎر ُر َﺣ َﻤﺎء َﺑ ْﯿَﻨ ُﻬ ْﻢ َﺗ َﺮا ُﻫ ْﻢ ُر ﱠﻛ‬
َ ‫اﷲ َواﻟﱠﺬ‬ ِ‫ﻮل ﱠ‬ُ ‫ﱡﻣ َﺤ ﱠﻤٌﺪ ﱠر ُﺳ‬
ِ
‫ﯿﻞ‬
ِ ‫ﻧﺠ‬ ْ َُ َُ َ ‫اﻟﺴ ُﺠﻮ ِد َذﻟ‬
ِ ‫ِﻚ َﻣﺜﻠ ُﻬ ْﻢ ﻓِﻲ اﻟﺘﱠ ْﻮ َرا ِة َو َﻣﺜﻠ ُﻬ ْﻢ ﻓِﻲ‬
ِ ‫اﻹ‬ ‫ِﻬﻢ ﱢﻣ ْﻦ أََﺛ ِﺮ ﱡ‬ ً ْ ‫اﷲ َور‬
ِ ‫ﺿ َﻮاﻧﺎ ِﺳﯿ َﻤﺎ ُﻫ ْﻢ ﻓِﻲ ُو ُﺟﻮﻫ‬ ِ ِ
‫ﱠ‬
ُ‫ﺎر َو َﻋ َﺪ ﱠ‬
‫اﷲ‬ َ ‫ِﯿﻆ ِﺑ ِﻬُﻢ اﻟْ ُﻜﱠﻔ‬
َ ‫اع ﻟَِﯿﻐ‬ ‫ِﻪ ُﯾ ْﻌ ِﺠ ُﺐ ﱡ‬
َ ‫اﻟﺰ ﱠر‬ ِ ‫ﺎﺳَﺘ َﻮى َﻋﻠَﻰ ُﺳﻮﻗ‬ ْ ‫ﺎﺳَﺘ ْﻐﻠَ َﻆ َﻓ‬ َ ‫َﻛ َﺰ ْر ٍع أَ ْﺧ َﺮ َج َﺷ ْﻄَﺄهُ َﻓ‬
ْ ‫ﺂز َرهُ َﻓ‬
ً ‫ِﺮ ًة َوأَ ْﺟﺮاً َﻋ ِﻈ‬
‫ﯿﻤﺎ‬ َ ‫ﺎت ِﻣ ْﻨ ُﻬﻢ ﱠﻣ ْﻐﻔ‬
ِ ‫ِﺤ‬َ ‫اﻟﺼﺎﻟ‬‫ِﯾﻦ آ َﻣُﻨﻮا َو َﻋﻤِﻠُﻮا ﱠ‬ َ ‫اﻟﱠﺬ‬

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama


dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih
sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari
karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada
muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam
Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang
mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat
lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu
menyenangkan hati penanam- penanamnya karena Allah hendak
menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang
mu'min). Allah menjanjikan kepada orang- orang yang beriman dan
mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala
yang besar." (QS. AL-FATH ayat 29)

Ada dua puluh sembilan huruf Hijaiyah. Awalnya adalah alif, kemudian
ba, kemudian ta, dan akhirnya adalah ya. Huruf kedua, Ba, merangkum
semua pengetahuan tentang wujud semesta. Ba adalah Bahr,
Samudera. Setiap wujud sejatinya meng-ada di dalam “samudera”
abadi ini. Renungkanlah perlahan sekali…
Ba-Bahr Al Qudrah-Samudera Kehendak
Tubuh kita dan segala benda-benda, air yang kita teguk dan udara yang
kita hirup, segala yang kita lihat sentuh dan rasakan, padat cair dan gas,
semuanya terbangun dari atom-atom. Kita semua sudah tahu itu. Meski
atom bukanlah elemen terkecil dari benda-benda, sebagaimana telah
ditunjukkan oleh para ahli fisika kuantum, mari kita batasi perjalanan
kita hanya sampai di atom ini. Inti atom (nucleus) merupakan pusat
atom. Seberapa besar inti atom ini? Jika kita perbesar ukuran sebiji
atom menjadi sebesar bola berdiameter 200 meter, maka besarnya inti
atom adalah sebesar sebutir debu di pusatnya.
Hebatnya, sebutir debu ini membawa 99,95% massa atom seluruhnya
yang dipadatkan oleh strong nuclear force ke dalam partikel proton.
Sementara elektron-elektron sangatlah ringan dan bergerak
mengelilingi proton pada jarak yang jauh sekali. Seberapa jauh? Jika kita
perbesar ukuran elektron menjadi sebesar biji kelereng, maka jarak
antara elektron ini ke inti atom adalah sejauh satu kilometer! Ada apa
di antara elektron dengan proton? Tidak ada apa-apa. Hanya ruang
kosong semata sepanjang jarak satu kilometer itu!
Sebutir garam terdiri dari banyak sekali atom. Jika kita bisa menghitung
satu milyar atom dalam sedetik, maka kita membutuhkan lebih dari
lima ratus tahun untuk menghitung jumlah seluruh atom di dalam
sebutir garam saja! Atom-atom itu secara rapi membangun wujud
sebutir garam. Dan di dalamnya terbentang ruang kosong di antara
atom-atomnya. Sebagaimana samudera. Sebutir garam mewujud di
dalamnya. Ia “berenang” dan meng-ada di dalamnya. Juga kita dan
semua benda-benda.
Wujud kita sejatinya selalu berada di dalam samudera ruang
kosong….di dalam samudera atomis gaya-gaya….di dalam samudera
kehendakNya (Bahr al-Qudrah)…
Dari Husein bin Ali bin Abi Thalib as. :
Seorang Yahudi mendatangi Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as bersama Nabi.
Yahudi itu berkata kepada Nabi Muhammad SAW : "apa faedah dari
huruf hijaiyah ?"
Rasulullah SAW lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib as, “Jawablah”
Lalu Rasulullah SAW mendoakan Ali, “ya Allah, sukseskan Ali dan
bungkam orang Yahudi itu”.
Lalu Ali berkata : “Tidak ada satu huruf-pun kecuali semua bersumber
pada nama-nama Allah swt”.
Kemudian Ali berkata :
“Adapun Alif artinya tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup dan
Kokoh,
Adapun Ba artinya tetap ada setelah musnah seluruh makhluk-Nya.
Adapun Ta, artinya yang maha menerima taubat, menerima taubat dari
semua hamba-Nya,
adapun Tsa artinya adalah yang mengokohkan semua makhluk “Dialah
yang mengokohkan orang-orang beriman dengan perkataan yang
kokoh dalam kehidupan dunia”
Adapun Jim maksudnya adalah keluhuran sebutan dan pujian-Nya serta
suci seluruh nama-nama-Nya.
Adapun Ha adalah Al Haq, Maha hidup dan penyayang.
Kha maksudnya adalah maha mengetahui akan seluruh perbuatan
hamba-hamba-Nya.
Dal artinya pemberi balasan pada hari kiamat,
Dzal artinya pemilik segala keagungan dan kemuliaan.
Ra artinya lemah lembut terhadap hamba-hamba-Nya.
Zay artinya hiasan penghambaan.
Sin artinya Maha mendengar dan melihat.
Syin artinya yang disyukuri oleh hamba-Nya.
Shad maksudnya adalah Maha benar dalam setiap janji-Nya.
Dhad artinya adalah yang memberikan madharat dan manfaat.
Tha artinya Yang suci dan mensucikan,
Dzha artinya Yang maha nampak dan menampakan seluruh
tanda-tanda.
Ayn artinya Maha mengetahui hamba-hamba-Nya.
Ghayn artinya tempat mengharap para pengharap dari semua
ciptaan-Nya.
Fa artinya yang menumbuhkan biji-bijian dan tumbuhan.
Qaf artinya adalah Maha kuasa atas segala makhluk-Nya
Kaf artinya yang Maha mencukupkan yang tidak ada satupun yang
setara dengan-Nya, Dia tidak beranak dan tidak diperanakan.
Adapun Lam maksudnya adalah maha lembut terhadap hamba-nya.
Mim artinya pemilik semua kerajaan.
Nun maksudnya adalah cahaya bagi langit yang bersumber pada cahaya
arasynya.
Adapun waw artinya adalah, satu, esa, tempat bergantung semua
makhluk dan tidak beranak serta diperanakan.
Ha artinya Memberi petunjuk bagi makhluk-Nya.
Lam alif artinya tidak ada tuhan selain Allah, satu-satunya serta tidak
ada sekutu bagi-Nya.
Adapun ya artinya tangan Allah yang terbuka bagi seluruh
makhluk-Nya”.
Rasulullah lalu berkata “Inilah perkataan dari orang yang telah diridhai
Allah dari semua makhluk-Nya”.
Mendengar penjelasan itu maka yahudi itu masuk Islam.
Dari Ibrahim bin Khuttab, dari Ahmad bin Khalid, dari Salamah bin Al
Fadl, dari Abdullah bin Najiyah, dari Ahmad bin Badil Al Ayyamy, dari
Amr bin Hamid hakim kota ad Dainur, dari Farat bin as Saib dari
Maimun bin Mahran, dari Ibnu Abbas dan sanadnya Rosulullah SAW, ia
berkata: “Segala sesuatu ada penjelasan (tafsir)nya yang diketahui oleh
orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak
mengetahuinya”.
Kandungan empat unsur alam semesta dalam huruf hijaiyah, yaitu:

Unsur api : alif, haa’, tha’, shad, mim, fa’, syin.


Unsur udara : ba’, wawu, ya’, nun, shat, ta’, dha’.
Unsur air : jim, za’, kaf, sin, qaf, tsa’, zha’.
Unsur tanah : ha’, lam, ‘ain, ra’, kha’, ghain.
30 kunci huruf hijaiyah yang berada di tubuh manusia yaitu:
1. alif = hidung
2. ba" = mata
3. ta" = tempat mata(lubang tempat mata)
4. tsa" = bahu kanan
5. jim = bahu kiri
6. ha = tangan kanan
7. kha = tangan kiri
8. dal = telapak tangan kanan dan kiri
9. dzal = kepala dan rambut
10. ro" = rusuk kanan
11. zai = rusuk kiri
12. sin = dada kanan
13. syin = dada kiri
14. shod = pantat kanan
15. dhod = pantat kiri
16. tho" = hati
17. zho" = gigi
18. ain = paha kanan
19. ghoin = paha kiri
20. fa" = betis kanan
21. kof = betis kiri
22. kaf = kulit
23. lam = daging
24. mim = otak
25. nun = nur/cahaya
26. wau = telapak kaki kanan dan kiri
27. HA" = sungsum tulam
28. lam alif = manusia utuh
29. hamzah = memenuhi segala
30. ya" = mulut/manusia
Affirmasi:

Ya ALLAH saya minta kunci dengan ...................


contoh:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan ALIF
contoh:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan Hamzah
30 kunci dipakai untuk membersihkan bagian bagian tubuh dari hal -hal
yang negatif.sehingga tubuh dapat berfungsi normal.dan tentunya
meningkatkan tingkat kita dalam hal dunia dan spiritual..
Nb.
Artikel ini sekedar sebagai referensi bahan kajian untuk seluruh praktisi
QUANTUM TRANCEFORMASI NAQS DNA. Dan sebenarnya masih
banyak lagi kajian mengenai ilmu huruf ini, yaitu diantaranya mengenai
ilmu khodam huruf dan lain sebagainya Yang mana kajian itu tidak saya
tampilkan di sini karena sudah terlalu jauh dari prinsip dasar NAQS
DNA.
Huruf hijaiyah itu adalah Intisari Asma-asma Allah Ta’ala. Hanya Allah
swt, saja yang Maha Mengetahui rahasianya. Bila ada seorang Ulama
Sufi dibukakan rahasia huruf, itu pun masih sebagian kecil sekali,
dibanding samudera rahasia huruf itu sendiri.
Allah swt, tidak memerintahkan kita agar menyelidiki rahasia-rahasia
ghaib yang tersembunyi dibalik huruf-huruf hijaiyah. Kecuali jika Allah
swt, menghendaki hambaNya untuk mengetahuinya, Allah swt
membukakan hijab huruf itu. Dan itu pun hanya kurang dari setetes
samuderaNya hakikat huruf yang tiada hingga. Oleh karena itu,
janganlah kita membatasi diri terhadap rahasia & karunia ilmu dari
Allah swt.
INILAH BEBERAPA PRINSIP DASAR METHODE NAQS DNA :

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari


Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada)
dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang
beriman.” (Yunus: 57)
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an sesuatu yang menjadi penyembuh
dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra`: 82)
“Katakanlah: ‘(Al-Qur`an) itu adalah petunjuk dan penyembuh bagi
orang-orang yang beriman’.” (Fushshilat: 44)
“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur`an ini kepada sebuah
gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan
takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat
untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21)
Dari Syifa` bintu Abdullah radhiallahu ‘anha:
ُ ‫ﺻﻠﱠﻰ‬
‫اﷲ‬ َ ‫ﷲ‬ ِ ‫اﺳَﺘ ْﺄ َذ َن َر ُﺳ ْﻮ َل ا‬
ْ ‫ َﻻ أَ ْرﻗِﻲ َﺣﺘﱠﻰ‬:‫ َﻗﺎﻟَ ْﺖ‬،‫ﻼُم‬
َ ‫ َﻓﻠَ ﱠﻤﺎ َﺟﺎ َء اْ ِﻹ ْﺳ‬،‫أَﻧﱠ َﻬﺎ َﻛﺎَﻧ ْﺖ ُﺗ ْﺮﻗِﻲ ﻓِﻲ اﻟْ َﺠﺎ ِﻫﻠِﯿﱠ ِﺔ‬
‫ارﻗِﻲ َﻣﺎ ﻟَ ْﻢ َﯾ ُﻜ ْﻦ ِﻓ ْﯿ َﻬﺎ ِﺷ ْﺮ ٌك‬ْ :‫اﷲ َﻋﻠَ ْﯿ ِﻪ َو َﺳﻠﱠَﻢ‬
ُ ‫ﺻﻠﱠﻰ‬
َ ‫ﷲ‬ َ ‫ َﻓَﻘ‬.‫ﺎﺳَﺘ ْﺄ َذ ْﻧُﺘ ُﻪ‬
ِ ‫ﺎل َﻋ ْﻨ َﻬﺎ َر ُﺳ ْﻮ ُل ا‬ ْ ‫ َﻓَﺄَﺗ ْﯿُﺘ ُﻪ َﻓ‬.‫َﻋﻠَ ْﯿ ِﻪ َو َﺳﻠﱠَﻢ‬
“Dahulu dia meruqyah di masa jahiliyyah. Setelah kedatangan Islam,
maka dia berkata: ‘Aku tidak meruqyah hingga aku meminta izin kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu dia pun pergi menemui
dan meminta izin kepada beliau. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda kepadanya: ‘Silahkan engkau meruqyah selama tidak
mengandung perbuatan syirik’.” (HR. Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan yang
lainnya. Al-Huwaini berkata: “Sanadnya muqarib.” Ibid, hal. 220).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapat
satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali
lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif
satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf." (HR. At-Tirmidziy
5/175, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/9 serta Shahiihul Jaami'
Ash-Shaghiir 5/340)
QS. Sad

ُ ‫ِيۚ اِﻧﱠ َﻚ اَ ْﻧ َﺖ اﻟْ َﻮ ﱠﻫ‬


‫ﺎب‬ ْ ‫ِﻲ ُﻣﻠْ ًﻜﺎ ﱠﻻ َﯾﻦَْۢﺑﻐ‬
ْ ‫ِﻲ ِ َﻻ َﺣ ٍﺪ ﱢﻣﻦْۢ َﺑ ْﻌﺪ‬ ْ ‫َﺐ ﻟ‬
ْ ‫ِﻲ َوﻫ‬
ْ ‫ِﺮ ﻟ‬
ْ ‫اﻏﻔ‬ َ ‫َﻗ‬
ْ ‫ﺎل َر ﱢب‬
qoola robbighfir lii wa hab lii mulkal laa yambaghii li'ahadim mim ba'dii,
innaka antalwahhaap
"Dia berkata, "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah
kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku.
Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi"

‫ﺎب‬
َ ‫ﺻ‬َ َ‫اﻟﺮ ْﯾ َﺢ َﺗ ْﺠ ِﺮ ْي ِﺑَﺎ ْﻣ ِﺮه ُر َﺧﺂ ًء َﺣ ْﯿ ُﺚ ا‬
‫َﻓ َﺴ ﱠﺨ ْﺮَﻧﺎ ﻟَ ُﻪ ﱢ‬
faskhkhornaa lahur-riiha tajrii bi'amrihii rukhooo'an haisu ashoo
"Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan
baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya,"

ٍ ‫ٰﻃ ْﯿ َﻦ ُﻛ ﱠﻞ َﺑﻨﱠﺂ ٍء ﱠو َﻏ ﱠﻮ‬


‫اص‬ ‫َو ﱠ‬
ِ ‫اﻟﺸﻲ‬
wasy-syayaathiina kulla bannaaa'iw wa ghowwaash
"dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli
bangunan dan penyelam,"

‫ﺻَﻔﺎ ِد‬ َ ْ ‫ِﻲ‬


ْ ‫اﻻ‬ ْ ‫ٰﺧ ِﺮ ْﯾ َﻦ ُﻣَﻘ ﱠﺮِﻧ ْﯿ َﻦ ﻓ‬
َ ‫ﱠوا‬
wa aakhoriina muqorroniina fil-ashfaad
"dan (setan) yang lain yang terikat dalam belenggu."

Al-Fatihah

Keagungan Surat Al-Fatihah​


Setiap muslim atau muslimah hampir dipastikan kenal bahkan hafal
Surat Al-Fatihah. Anak-anak terdidik dari keluarga muslim dari kecil –
ketika belajar bicara – biasanya sudah dilatih menghafal Al-Fatihah.
Alhasil inilah surat yang paling sering dibaca dan dihafalkan seluruh
manusia di muka Bumi sejak turunnya hingga saat ini, bahkan sampai
Hari Kiamat nanti.
Al-Fatihah artinya “pembuka” berasal dari kata fatiha-yaftahu yang
artinya “membuka sesuatu untuk mencapai kejayaan atau
kemenangan”. Sesuai namanya, surat ini merupakan pembukaan dari
Kitabullah Alquran yang terdiri dari 30 Juz dan 114 Surat itu. Al-fatihah
hanya terdiri dari 7 (tujuh) ayat yang kandungannya merupakan intisari
seluruh Alquran. Karena itu dinamakan juga Ummul Quran (induk
Alquran) atau Ummul Kitab (induk Al-Kitab). Surat Al-Fatihah
(Pembukaan) yang diturunkan di Mekah adalah surat yang
pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surat-surat yang
ada dalam Alquran dan termasuk golongan surat Makkiyyah.
Keistimewaan Tujuh Ayat yang Dibaca Berulang-ulang
Meskipun hampir semua muslim sering membaca dan hafal Surat
Al-Fatihah namun sayangnya ternyata masih banyak Ummat Islam yang
tidak paham arti dan kandungan Surat Al-Fatihah yang pendek
(riangkas) namun agung dan mulia ini. Padahal dengan memahami
kandungannya berbarti juga memahami garis besar ajaran Alquran.
Sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak paham arti Surat Al-Fatihah
karena terjemahan Alquran mudah Kita dapati, demikian juga
buku-buku yang membahas surat ini banyak Kita jumpai. Inilah
terjemahan Surat Al-Fatihah:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Hanya
Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami
meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan
(jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
(Al-Fatihah: 1-7)
Karena Surat Al-fatihah merupakan induk dari semua isi Alquran, setiap
muslim diwajibkan membacanya pada tiap-tiap roka’at shalat.
Karenanya dinamakan pula As Sab’ul matsaany (tujuh yang
berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam
setiap shalat Kita, baik yang fardhu lima waktu maupun yang sunnah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan tentang hal ini,
Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang
dibaca berulang-ulang dan Alquran yang agung. (Al-hijr: 87)
Tentang hubungan Surat Al-Fatihah dengan shalat, Nabi Muhammad
Shallallahu Alaihi Wa Sallam Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca pembuka Al-Kitab (Surat
Al-Fatihah) (HR. Bukhari dan Muslim).
Selanjutnya di dalam Sahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa
mengerjakan shalat yang tidak membaca Ummul Qur’an di dalamnya
maka shalatnya pincang -tiga kali- yaitu tidak sempurna.” Maka
ditanyakan kepada Abu Hurairah, “Kalau kami sedang berada di
belakang imam, bagaimana?” Beliau menjawab, “Bacalah untuk diri
kalian sendiri, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah ta’ala berfirman : ‘Aku membagi shalat (Al-Fatihah) antara Aku
dengan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan hamba-Ku akan
mendapatkan apa yang dia minta.’ Kalau hamba itu membaca,
‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’, maka Allah ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku
telah memuji-Ku’. Kalau dia membaca, ‘Ar Rahmanirrahim’ maka Allah
ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku’. Kalau ia membaca,
‘Maliki yaumid din’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku mengagungkan
Aku’. Kemudian Allah mengatakan, ‘Hamba-Ku telah pasrah kepada-Ku’.
Kalau ia membaca, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ maka Allah
menjawab, ‘Inilah bagian untuk-Ku dan bagian untuk hamba-Ku. Dan
hamba-Ku pasti akan mendapatkan permintaannya.’. dan kalau dia
membaca, ‘Ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladziina an’amta
‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin” maka Allah
berfirman, ‘Inilah hak hamba-Ku dan dia akan mendapatkan apa yang
dimintanya.’.”
Surat Al-Fatihah juga dinamakan dengan “Asy Syifa” yang artinya
Penyembuh. Seorang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam
pernah mengobati orang yang sakit tersengat racun dengan Surat ini.
Alhamdulillah dengan idzin Allah sembuh. Diriwayatkan dai Abu Said
Al-Hudri r.a.: Sesungguhnya beberapa orang dari sahabat Nabi datang
pada suatu desa orang Arab dan penduduk desa tersebut tidak
menyambutnya, semua mereka sama, ketika itu kepala desa mereka
tersengat binatang beracun, mereka bertanya: “Apakah kalian bisa
mengobati?” Sahabat menjawab: “Karena kalian tidak menjamu kami,
kami bisa mengobati kalian asal ada upahnya”. Maka mereka
menjanjikan imbalan kambing. Kemudian sahabat tersebut
membacakan Ummul Qur’an (Al-Fatihah), dan ia mengumpulkan
ludahnya dan meludahi (luka yang tersengat). Maka pimpinan desa itu
sembuh dan memberikan kambing. Para sahabat itu mengatakan:
“Kami tidak mengambilnya sebelum bertanya pada Nabi Shollallahu
Alaihi Wa Sallam”. Maka kami bertanya pada Nabi dan beliau tertawa.
Dan Nabi bersabda: “Kok engkau tahu surah Al-Fatihah bisa untuk
penyembuhan, ambilah imbalannya dan berilah aku bagian”.
Ringkasan Kandungan Surat Al-Fatihah
Ayat pertama disebut dengan basmallah, yaitu
Bismillahirrahmaanirrahiim (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang). Maksudnya: saya memulai membaca
al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah yang bersifat Maha
Pemurah dan Maha Penyayang. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya
dimulai dengan menyebut nama Allah, seperti makan, minum,
menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha
Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak
membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar
Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi
pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada
makhluk-Nya, sedang ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian
bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu
melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
Alhamdu lillahi robbil ‘aalamin (segala puji bagi Allah Rabb sekalian
alam). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang
dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berarti:
menyanjung-Nya karena perbuatanNya yang baik. Lain halnya dengan
syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat
yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah
karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan
Memelihara. Lafal rabb tidak dapat dipakai selain untuk Allah, kecuali
kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). ‘Alamiin
(semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai
jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam
tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah pencipta
semua alam-alam itu.
“Hai umat manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan
kalian serta orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dia lah
yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit menjadi
atap, dan Dia lah yang menurunkan air hujan dari langit kemudian
berkat air itu Allah menumbuhkan berbagai buah-buahan sebagai
rezeki untuk kalian, maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu
bagi Allah padahal kalian mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 21-22)
‘Ar-Rahman Ar-Rahim’ (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)
merupakan dua buah nama Allah yang menunjukkan salah satu sifat
Allah yaitu rahmah (kasih sayang). Ar Rahman termasuk kategori nama
Allah yang hanya boleh dipakai untuk menyebut Allah. Sedangkan nama
Ar Rahim telah disebutkan di dalam al-Qur’an pemakaiannya boleh
untuk menyebut selain-Nya sesuai keterangan Alquran tentang sifat
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan
kalian, terasa berat olehnya apa yang menyulitkan kalian, dan dia
sangat bersemangat untuk memberikan kebaikan bagi kalian, dan dia
sangat lembut dan menyayangi orang-orang yang beriman.” (QS. At
Taubah: 128)

Ibnu Katsir mengungkapkan tatkala menjelaskan tafsir basmalah di awal


surat Al-Fatihah, “Kesimpulan yang dapat dipetik adalah sebagian nama
Allah ta’ala ada yang bisa dipakai untuk menamai selain-Nya, dan ada
yang hanya boleh dipakai untuk menamai diri-Nya -seperti nama Allah,
Ar Rahman, Al Khaliq, Ar Raziq dan sebagainya- .”
‘Maliki yaumid din’ (Raja yang Menguasai Hari Pembalasan)
menunjukkan kewajiban beriman pada tauhid mulkiyah. Allah
subhanahu wa ta’ala adalah rabb segala sesuatu dan Penguasa atau
Rajanya. Seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa pun yang berada di
antara keduanya adalah milik-Nya. Dia lah Raja yang menguasai dunia
dan akhirat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Milik Allah kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di
dalamnya, dan Dia Maha menguasai segala sesuatu.” (Al Ma’idah: 120).
“Maha Suci Allah yang di tangan-Nya kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas
segala sesuatu.” (Al Mulk: 1).
“Katakanlah; Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas
segala sesuatu, Dia yang melindungi dan tiada yang dapat terlindungi
dari siksa-Nya, jika kalian benar-benar mengetahui? Maka mereka akan
menjawab, ‘Allah’. Katakanlah; Lantas dari sisi manakah kalian tertipu.”
(QS. Al Mu’minun: 88-89)
Beriman kepada Tauhidullah (keesaan Allah) terdapat dalam empat
ayat Al-Fatihah, dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan
ucapan syukur atas suatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah
Pencipta dan sumber segala nikmat yang terdapat dalam alam ini.
Diantara nikmat itu ialah : nikmat menciptakan, nikmat mendidik dan
menumbuhkan, sebab kata Rabb dalam kalimat Rabbul-‘aalamiin tidak
hanya berarti Pencipta Alam semesta, tetapi juga mengandung arti
tarbiyah yaitu mendidik, mengatur, menata dan menumbuhkan. Hal ini
menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seseorang dalam
dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena
Dia-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan
penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan
oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai
macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia
kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi
masyarakat.
Al-fatihah mengokohkan kepercayaan pada hari Akhirat, hari
pembalasan di saat manusia mempertanggung-jawabkan semua
perbuatannya. Yang dimaksud dengan Raja Yang Menguasai Hari
Pembalasan ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu
tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap nikmat dan takut
kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi
pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap
perbuatan yang buruk.
Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang
pokok, maka didalam surat Al-Fatihah tidak cukup dinyatakan dengan
isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu : Iyyaaka
na’budu wa iyyaka nasta’iin (hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan
hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan). Inilah tawhidul
Ibadat yaitu penghambaan, pengabdian, dan ketundukan yang
semata-mata ditujukan kepada Allah. Na’budu diambil dari kata
abida-ya’budu ibadah yaitu kepatuhan dan ketundukkan yang
ditimbulkan olehketundukan hati dan perasaan terhadap kebesaran
Allah, sebagai Ilah yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah
mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya. Nasta’iin (minta
pertolongan), terambil dari kata isti’aanah: mengharapkan bantuan
untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup
dikerjakan dengan tenaga sendiri.
Surat yang agung ini juga mendidik Kita untuk berdoa kepada Allah.
Berdoa wajib dimulai dengan menyanjung Allah dengan segala sifat
kemuliaannya, mengagungkan Nama-nama-Nya kemudian menyatakan
kesiapan untuk bertawhid dalam ibadah dan mengakui Allah sebagai
tempat meminta. Sebaik-baik doa adalah memohon petunjuk
bimbingan Allah kepada jalan yang lurus yaitu Jalan kebahagiaan dan
bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh
kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud “Hidayah” disini ialah hidayah
yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan
akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak,
hukum-hukum dan pelajaran lain dari ilmu Allah yang terdapat di dalam
Alquran. Allah berfirman,
Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang
lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min
yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang
besar. (Al Israa: 17)
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Alquran) dengan
perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab
(Alquran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami
menjadikan Alquran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa
yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya
engkau (Muhammad) benar- benar memberi petunjuk kepada jalan
yang lurus. (As-syuraa:52)
Kalimat, “Ihdinash shirathal musataqiim” (Tunjukilah Kami ke jalan yang
lurus) menjadi permintaan utama setiap muslim kepada Rabbnya.
Permintaan yang tidak egois karena bukan untuk diri sendiri tetapi
untuk jamatul muslimiin yaitu Ummat Islam secara keseluruhan.
Memohon yang terbaik dalam kehidupan adalah memohon ni’mat
hidayah yang nilainya jauh melebihi kebutuhan dan keinginan lainnya di
muka Bumi.. Tidak ada yang lebih nutama dari petunjuk hidup,
sebagaimana yang dinyatakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam
kepada sahabat Ali bin Abi Tholib, “Dan seandainya Allah memberi
hidayah kepada seseorang dengan sebab engkau, maka itu lebih baik
bagimmu daripada Dunia dan segala isinya” (HR. Muslim)
Alquran menjelaskan yang dimaksud Shirotol Mustaqim dengan ayat
berikutnya yaitu “Shirathalladzinaa an’aamta alayhim” (yaitu jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka). Yang
dimaksud dengan orang yang diberi nikmat dalam ayat ini, ialah para
Nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman),
syuhadaa’ (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang
saleh) sebagaimana disebutkan di dalam Alquran
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan
bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,
yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan
orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (An
Nisaa:69)
Kemudian ditegaskan pula bahwa jalan tersebut “groiril maghduubi
alayhim waladh-dhooliiin”. (Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan
orang-orang yang sesat). Maksudnya ialah bukan golongan mereka
yang tidak memperoleh cahaya petunjuk dan berjalan dalam
kebodohan terhadap kebenaran Allah, Rasul, dan ajaran Islam. Siapa
saja mereka yang sesat dan rang-orang yang dimurkai Allah disebutkan
oleh Alquran secdara jelas. Di dalam tafsir Ibnu Abbas disebutkan
bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Al
yahuudu maghduubun ‘alayhim wan nashoro dhooluun” (Orang-orang
yahudi dimurkai Allah kelakuannya sedangkan orang-orang Nasrani
tersesat)
Yahudi dengan perilakunya adalah contoh mereka yang dilaknati dan
dimurkai Allah sepanjang sejarah manusia.. disebabkan kejahatan
mereka terhadap dakwah sejak zaman Nabi Musa Alaihis Salaam hingga
zaman Kita sekarang ini… Sedangkan kaum Nasrani sering
membuat-buat kedustaan terhadap Allah, akibatnya keimanan mereka
kepada Allah kacau balau dan campur aduk dengan kebatilan… Alquran
berulangkali menceritakan kisah para Nabi dan kisah orang-orang
dahulu lainnya yang menentang Allah. Mereka ada yang sesat dan ada
pula yang dimurkai Allah… Kisah-kisah itu dimaksudkan sebagai
pelajaran yang penting bagi Kaum Muslimin dan menjadi pedoman
mereka sepanjang hayat.
Karena menjadi induk Alquran maka kandungan Surat Al-Fatihah sangat
luas bagaikan samudra yang tidak bertepi. Apa yang Kita ringkas ini
hanyalah setetes saja dari keluasan ilmu Allah di dalam Surat yang
agung ini. Wallahu a’lam (usb/dakwatuna)Al-Fatihah
d\J}\ jyjty OLJ^I h\jJt
Tafsir Al Qur f an
Hidayatul Insan

Jilid 1
(Dari surah Al Fatihah s.d surah Al An'aam)

Disusun oleh:

Abu Yahya Marwan bin Musa


(semoga Allah mengampuninya, mengampuni kedua orang tuanya dan
kaum

muslimin semua, Allahumma amin)

Abu Yahya Marwan bin Musa

1
www. tafsir, web.id

Tafsir Hidayatul Insan Jilid 1


Tafsir Isti'adzah

Sebelum membaca Al Qur'an, kita diperintahkan membaca isti'adzah,


yaitu ucapan:

*-Z>rJ\ jUaljJl ^j» Aillj 3>jPl

Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

(d&^-^.pl j'U^a.H 1^ aJoL Juxl.li o\7jd\ olj» lili

"Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta


perlindungan kepada Allah dari
setan yang terkutuk " (An Nahl: 98)

Maksudnya apabila kamu hendak membaca Al Qur'an. Hal ini seperti


pada ayat "Idzaa qumtum
ilash shalaah...dst. (Al Maa'idah: 6), maksudnya apabila kamu hendak
mendirikan shalat. Adapun
dalil dalam hadits yang menunjukkan demikian salah satunya adalah
hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dari Abu Sa'id Al Khudriy ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam apabila
bangun malam, memulai shalatnya dan bertakbir, lalu mengucapkan:

ii^Ip iJl Lij i}!*- *lL»

"Mahasuci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Mahasuci


nama-Mu, Mahatinggi
keagungan-Mu, dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali
Engkau. "

Selanjutnya Beliau mengucapkan, "Laailaahaillallah." Sebanyak tiga kali.


Lalu mengucapkan:

o o ' ' & ° fij * "* fl c

"Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha


Mengetahui dari setan yang
terkutuk; dari cekiknya, kesombongan, dan syairnya." (Diriwayatkan
pula oleh pemilik kitab sunan
yang empat. Tirmidzi berkata, "Ia merupakan hadits paling masyhur
dalam bab ini.")
Al Hamz dalam hadits tersebut adalah mautah, yakni cekiknya, nafkh
adalah kesombongannya,
sedangkan nafts adalah syairnya.

Jumhur ulama berpendapat bahwa isti'adzah hukumnya sunat; tidak


wajib. Ar Raaziy menukilkan
dari 'Athaa' bin Abi Rabaah bahwa isti'adzah wajib dibaca dalam shalat
dan di luar shalat setiap
hendak membaca Al Qur'an. Ar Raaziy berhujjah untuk 'Atha' dengan
zhahir ayat, "Fasta'idz, "
dimana ia merupakan perintah yang zhahirnya adalah wajib, dan lagi
karena Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam selalu merutinkannya, ia juga dapat menolak kejahatan
setan, sedangkan suatu kewajiban
jika tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu yang
menyempurnakan itu menjadi wajib. Di
samping itu, membaca isti'adzah itu lebih hati-hati.
Ucapan, "A 'uudzu billahi minasy syaithaanir rajiim," dianggap cukup
dalam beristi'adzah.
Abu Yahya Marwan bin Musa

2
www. tafsir, web.id
Tafsir Hidayatul Insan Jilid 1
Di antara rahasia isti'adzah adalah membersihkan mulut yang
sebelumnya dipenuhi laghw (ucapan
sia-sia) dan rafts (ucapan kotor), membuat mulut menjadi baik untuk
membaca firman Allah.
Isti'adzah juga merupakan permintaan pertolongan kepada Allah
Subhaanahu wa Ta'aala, mengakui
kekuasaan-Nya dan menyadari keadaan dirinya yang lemah untuk
melawan musuh yang nyata yaitu
setan, dimana untuk menghadapinya hanya dengan pertolongan Allah
Subhaanahu wa Ta'aala saja.
Makna "A'udzu billahi minasy syaithaanir rajiim" adalah aku berlindung
kepada Allah dari setan
yang terkutuk agar dia (setan) tidak membahayakanku baik pada
agamaku, duniaku atau
menghalangiku dari mengerjakan perkara yang diperintahkan
kepadaku, demikian pula agar dia
tidak mendorongku untuk mengerjakan perkara yang dilarang.
Setan dalam bahasa Arab berasal dari kata "syathana" yang artinya
jauh, sehingga setan itu artinya
jauh dengan tabiatnya dari tabiat wajar manusia dan jauh dengan
kefasikannya dari setiap kebaikan.
Ada pula yang berpendapat, bahwa ia berasal dari kata syaatha
(terbakar), karena ia dicipta dari api.
Ada yang berpendapat, bahwa keduanya benar, namun pendapat
pertama
Sibawaih berkata, "Orang-orang Arab mengatakanulaan" apabila orang
tersebut
melakukan perbuatan setan. Kalau setan berasal dari kata syaatha,
tentu mereka mengatakan
"Tasyayyatha."
Dengan demikian setan menurut pendapat yang shahih berasal dari
kata syathana yang berarti jauh.
Oleh karena itulah, mereka menyebut setiap yang durhaka dari
kalangan jin, manusia maupun
hewan dengan sebutan "setan."
Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
J^aJl iJ*J>-j (j^«-> (JJ * $¥* >» > (j-jJ O^'j U^V *1? 'j*" 'j-^ Isi J^S Ld*>-
liiJ'JSj
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh, yaitu
setan-setan (dari jenis) manusia
dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian
yang lain perkataan-perkataan
yang indah-indah untuk menipu (manusia). " (Al An'aam: 112)
Adapun hewan bisa disebut setan adalah seperti pada sabda Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam,
"Akan memuluskan shalat, yaitu wanita, keledai dan anjing hitam."
Maka Abu Dzar berkata,
"Wahai Rasulullah. Mengapa anjing hitam tidak (anjing) merah atau
kuning?" Beliau menjawab,
"Anjing hitam adalah setan." (HR. Muslim)
Adapun "Rajiim" artinya marjuum, yaitu yang dirajam dan diusir dari
kebaikan. Keadaannya yang
dirajam adalah seperti diterangkan dalam surat Ash Shaaffaat ayat 8:
"Setan-setan itu tidak dapat mendengarkan (pembicaraan) para
malaikat dan mereka dilempari
dari segala penjuru. "
Ada pula yang berpendapat, bahwa rajini artinya raajim (yang
melempar), karena ia melemparkan
was-was dan tipuan kepada manusia, namun pendapat pertama lebih
masyhur dan lebih shahih.
Abu Yahya Marwan bin Musa

3
www. tafsir, web.id

Tafsir Hidayatul Insan Jilid 1

Juz 1
Surat Al Fatihah (pembuka) 1

Surah ke-I. Terdiri dari 7 ayat. Makkiyyah


1-7: Surah ini mencakup semua makna/kandungan dalam Al Qur'an dan
mengandung
maksud-maksud Al Qur'an yang asasi (dasar) secara garis besar. Oleh
karena itulah
dinamakan Ummul Kitab yang artinya induk Al Qur'an
1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang 2 .
1 Surat Al Faatihah (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri
dari 7 ayat ini adalah surat yang
pertama diturunkan secara lengkap di antara surat-surat yang ada
dalam Al Quran, ia termasuk golongan
surat Makkiyyah. Surat ini disebut Al Faatihah (Pembukaan), karena
dengan surat inilah dibuka dan
dimulainya Al Quran. Allah subhaanahu wa Ta'ala memulai kitab-Nya
dengan surat ini, karena surat ini
menghimpun tujuan dan maksud Al Qur'an. Oleh karena itu, surat ini
dinamakan Ummul Quran (induk Al
Quran) atau Ummul Kitaab (induk Al Kitab) karena dia merupakan induk
dari semua isi Al Quran. Oleh
karena itu, diwajibkan membacanya pada setiap shalat. Al Hasan Al
Basri berkata, "Sesungguhnya Allah
menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam kitab-kitab terdahulu di dalam Al
Qur'an, kemudian Dia menyimpan
ilmu-ilmu yang ada dalam Al Qur'an di dalam surat Al Mufashshal
(surat-surat yang agak pendek), dan Dia
menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam surat Al Mufashshal di dalam
surat Al Fatihah. Oleh karena itu,
barang siapa yang mengetahui tafsirnya, maka ia seperti mengetahui
tafsir semua kitab-kitab yang
diturunkan. " (Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syu'abul Iman).
Mencakupnya isi surat Al Fatihah terhadap
semua ilmu yang ada di dalam Al Qur'an ditunjukkan oleh Az
Zamakhsyari, yaitu karena di dalam Al
Fatihah terdapat pujian bagi Allah yang sesuai, terdapat peribadatan
kepada-Nya, terdapat perintah dan
larangan serta terdapat janji dan ancaman, sedangkan ayat-ayat Al
Qur'an tidak lepas dari semua ini. Dengan
demikian, semua isi Al Qur'an merupakan penjelasan lebih rinci
terhadap masalah yang yang disebutkan
secara garis besar dalam surat Al Fatihah.
Surat ini dinamakan pula As Sab'ul matsaany (tujuh yang
berulang-ulang) karena ayatnya ada tujuh dan
dibaca berulang-ulang dalam shalat. Tentang keutamaan surat ini,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
{ ijdUJl <_Jj <& -uJ-I j J'j^ 1 ^ \jy jtf'-H ^J^ ^ "Maukah aku beritahukan
kepadamu surat yang terbaik dalam Al Qur'an? Yaitu Al Hamdulillahi
rabbil 'aalamin." (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani dalam
Shahihul Jami' no. 2592) 2 Maksudnya adalah "Saya memulai membaca
surat Al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah sambil memohon
pertolongan kepada-Nya agar dapat membaca firman-Nya, memahami
maknanya dan dapat mengambilnya sebagai petunjuk." Setiap
pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah,
seperti makan, minum, menyembelih hewan, menaiki kendaraan,
membaca Al Qur'an di awal surat, masuk dan keluar masjid, mengunci
pintu, masuk dan keluar rumah, menulis surat, hendak berwudhu' dan
sebagainya. Allah ialah nama Zat Yang Mahasuci, yang satu-satunya
berhak disembah dengan sebenarnya disertai rasa cinta, takut dan
berharap kepada-Nya, Zat yang tidak membutuhkan makhluk-Nya,
tetapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah):
salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah memiliki
rahmat (kasih-sayang) yang luas mengena kepada semua makhluk-Nya,
sedangkan Ar Rahiim artinya Allah Maha Penyayang kepada
orang-orang mukmin. Kepada orang-orang mukmin itu diberikan-Nya
rahmat yang mutlak, selain mereka hanya memperperoleh sebagian
daripadanya. Ar Rahmaan dan Ar Rahiim merupakan nama Allah yang
menetapkan adanya sifat rahmah (sayang) bagi Allah Ta'ala sesuai
dengan kebesaran-Nya. Abu Yahya Marwan bin Musa 4 www. tafsir,
web.id Tafsir Hidayatul Insan Jilid 1 jS * ■* * y 2. Segala puji 3 bagi
Allah, Tuhan semesta alam 4 . 3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang/
4. Yang menguasai 6 hari Pembalasan 7 . Alhamdu artinya segala puji.
Memuji dilakukan karena perbuatannya yang baik. Maka memuji Allah
berati menyanjung-Nya karena perbuatan-Nya yang baik seperti
melimpahkan karunia dan berbuat adil, karena sifat-sifat-Nya yang
sempurna dan karena nikmat-nikmat-Nya yang begitu banyak yang
dilimpahkan-Nya kepada kita baik nikmat yang berkaitan dengan agama
maupun dunia. Syaikh Ibnu 'Utsaimin berkata, "Al Hamdu adalah
menyifati yang dipuji dengan kesempurnaan disertai rasa cinta dan
pengagungan; baik kesempurnaan dzaat, sifat maupun perbuatan-Nya."
Dengan demikian dalam memuji Allah Ta'ala harus disertai rasa cinta
dan pengagungan serta ketundukan, karena jika tidak seperti ini bukan
merupakan pujian yang sempurna. Kita menghadapkan segala puji bagi
Allah ialah karena dari Allah sumber segala kebaikan yang kita peroleh.
Di dalam ayat ini mengandung perintah kepada semua hamba agar
memuji Allah Ta'ala. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah Ta'ala
berhak mendapatkan pujian sempurna dari segala sisi, oleh karena itu
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mendapatkan hal yang
menyenangkan mengucapkan "Al Hamdulillahilladziy bini'matihi
tatimmush shaalihaat" (segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya
amal shalih menjadi sempurna), dan ketika Beliau memperoleh selain
itu, Beliau tetap mengucapkan "Al Hamdulillah 'alaa kulli haal" (segala
puji bagi Allah dalam semua keadaan) sebagaimana diriwayatkan oleh
Ibnu Majah (3803). Rabb (tuhan) berarti Tuhan yang ditaati yang
Memiliki, Mendidik, Mengurus dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat
dipakai selain untuk Allah, kecuali kalau ada sambungannya, seperti
rabbul bait (tuan rumah). Alamiin (semesta alam) adalah semua yang
diciptakan Allah yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti:
alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda
mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu, Dia-lah yang
menciptakan semua makhluk, yang mengurus urusan mereka,
mengurus semua makhluk-Nya dengan nikmat-nikmat-Nya dan
mengurus para wali-Nya dengan iman dan amal yang shalih. Dengan
demikian, pemeliharaan Allah Ta'ala kepada alam semesta itu ada yang
umum dan ada yang khusus. Yang umum adalah diciptakan-Nya
mereka, diberi-Nya rezeki, diberi-Nya mereka petunjuk kepada hal-hal
yang bermaslahat bagi mereka agar mereka dapat hidup di muka bumi,
sedangkan yang khusus adalah dengan dididik-Nya para wali-Nya
dengan iman dan amal shalih atau diberi-Nya taufiq kepada setiap
kebaikan dan dihindarkan dari semua keburukan. Mungkin inilah
rahasia mengapa do'a yang diucapkan para nabi kebanyakan
menggunakan lafaz Rabb (seperti Rabbi atau Rabbanaa). Ayat ini
menunjukkan bahwa hanya Allah-lah Rabbul 'aalamin; yang
menciptakan, mengatur, memberi rezeki, menguasai dan memiliki alam
semesta; tidak ada Rabb selain-Nya. Tentang makna Ar Rahmaan dan Ar
Rahiim sudah diterangkan sebelumnya. Disebutkannya ayat ini setelah
"Al Hamdu lillahi Rabbil 'aalamiin" untuk memberitahukan bahwa Allah
Subhaanahu wa Ta'aala mengurus alam semesta ini tidak dengan
menyiksa dan memaksa, bahkan atas dasar kasih-sayang-Nya. 6 Maalik
(yang menguasai) dengan memanjangkan mim, berarti: pemilik, dapat
pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.
Dihubungkannya kepemilikan hari pembalasan kepada-Nya meskipun
milik-Nya dunia dan akhirat, karena pada hari itu kelihatan dengan jelas
kekuasaan dan kepemilikan-Nya. Pada hari itu antara raja-raja di dunia
dengan rakyat sama tidak ada perbedaan, mereka tunduk kepada
keagungan-Nya, menunggu pembalasan-Nya, mengharapkan
pahala-Nya dan takut terhadap siksa-Nya. Abu Yahya Marwan bin Musa
Tafsir Hidayatul Insan Jilid 1 5. Hanya Engkaulah yang Kami sembah 8 ,
dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan 9 . C-
^■apJbJLoJl Js>jvaJl bjUhl

6. Tunjukkanlah kami 10 jalan yang lurus,

7 Yaumiddin (hari Pembalasan): hari yang di waktu itu masing-masing


manusia menerima pembalasan
amalannya baik atau buruk. Yaumiddin disebut juga yaumul qiyaamah,
yaumul hisaab, yaumul jazaa' dan
sebagainya. Dibacanya ayat ini oleh seorang muslim dalam setiap shalat
untuk mengingatkannya kepada hari
akhir; hari di mana amalan diberikan balasan. Demikian juga
mendorong seorang muslim untuk beramal
shalih dan menghindari kemaksiatan.

8 Na'budu diambil dari kata 'ibaadah yang artinya kepatuhan dan


ketundukkan yang ditimbulkan oleh
perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah,
karena keyakinan bahwa Allah
mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya disertai rasa cinta dan
berharap kepada-Nya. Ditambahkan
rasa cinta, karena landasan yang harus ada pada seseorang ketika
beribadah itu ada tiga: rasa cinta kepada
Allah Ta'ala, rasa takut dan tunduk kepada Allah Ta'ala dan rasa
berharap. Oleh karena itu, kecintaan saja
yang tidak disertai dengan rasa takut dan kepatuhan, seperti cinta
terhadap makanan dan harta, tidaklah
termasuk ibadah. Demikian pula rasa takut saja tanpa disertai dengan
cinta, seperti takut kepada binatang
buas, maka itu tidak termasuk ibadah. Tetapi jika suatu perbuatan di
dalamnya menyatu rasa takut dan cinta
maka itulah ibadah. Dan tidaklah ibadah itu ditujukan kecuali kepada
Allah Ta'ala semata.
Dalam ayat ini terdapat dalil tidak bolehnya mengarahkan satu pun
ibadah (seperti berdo'a, ruku', sujud,
thawaf, istighatsah/meminta pertolongan), berkurban dan
bertawakkal) kepada selain Allah Ta'ala.
9 Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah:
mengharapkan bantuan untuk dapat
menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan
tenaga sendiri. Dalam ayat ini terdapat
obat terhadap penyakit ketergantungan kepada selain Allah Ta'ala,
demikian juga obat terhadap penyakit
riya', 'ujub (bangga diri) dan sombong. Disebutkannya isti'anah kepada
Allah Ta'ala setelah ibadah
memberikan pengertian bahwa seseorang tidak dapat menjalankan
ibadah secara sempurna kecuali dengan
pertolongan Allah Ta'ala dan menyerahkan diri kepada-Nya. Ayat ini
menunjukkan lemahnya manusia
mengurus dirinya sendiri sehingga diperintahkannya untuk meminta
pertolongan kepada-Nya Berdasarkan
ayat ini juga bahwa beribadah dan meminta pertolongan kepada-Nya
merupakan sarana memperoleh
kebahagiaan yang kekal dan terhindar dari keburukan. Perbuatan
dikatakan ibadah jika diambil dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan diniatkan ikhlas karena Allah
Ta'ala.
Perlu diketahui bahwa isti'anah (meminta pertolongan) terbagi dua:
- Isti'anah tafwidh, meminta pertolongan dengan menampakkan
kehinaan, pasrah dan sikap harap, ini
hanya boleh kepada Allah saja, syirk hukumnya bila mengarahkan
kepada selain Allah.
- Isti'anah musyarakah, meminta pertolongan dalam arti meminta
keikut-sertaan orang lain untuk turut
membantu, maka tidak mengapa kepada makhluk, namun dengan
syarat dalam hal yang mereka mampu
membantunya.
10 Ihdina (tunjukkanlah kami), dari kata hidayaat yang artinya memberi
petunjuk ke suatu jalan yang lurus
(irsyad). Yang dimaksud di ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja
(yakni tidak hanya hidayah irsyad),
tetapi juga meminta diberi taufik (dibantu menempuh jalan yang lurus).
Oleh karenanya kata ihdinaa
langsung dilanjutkan dengan shiraathal mustaqiim, tidak dipisah
dengan kata "ilaa" (ke) yang berarti
"tunjukkanlah kami ke " karena ia meminta dua hidayah (irsyad dan
taufiq). Oleh karena itu, arti ayat ini
adalah "Tunjukkanlah kami jalan yang lurus dan bantulah kami
menempuh jalan itu serta teguhkanlah kami
di atasnya sampai kami berjumpa dengan-Mu" . Jalan yang lurus itu
adalah Islam; sebagai jalan yang dapat
mengarah kepada keridhaan Allah dan surga-Nya, jalan yang telah
diterangkan oleh Rasul -Nya Muhammad
shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga seseorang tidak dapat bahagia
kecuali dengan istiqamah di atasnya.
Dengan demikian, di ayat ini kita juga meminta kepada Allah Ta'ala agar
dapat istiqamah di atas jalan yang
lurus itu sampai akhir hayat mengingat hati yang lemah mudah berbalik
dan karena hidup di dunia penuh
Abu Yahya Marwan bin Musa

6
www. tafsir, web.id

Tafsir Hidayatul Insan Jilid 1

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada


mereka; bukan (jalan)
mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. 11
dengan liku-liku, penuh dengan gelombang cobaan dan fitnah yang
begitu dahsyat yang dapat
menghanyutkan seorang mukmin. Sungguh berbahagialah orang yang
tetap mendirikan shalat karena do'a
yang dipanjatkannya ini, berbeda dengan orang yang meninggalkan
shalat; yang tidak lagi memanjatkan do'a
ini sehingga mudah sekali ia terbawa oleh arus fitnah itu yang membuat
dirinya binasa -wal 'iyaadz billah-.
11 Orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah adalah para nabi, para
shiddiqin, para syuhada dan orang-
orang shalih berdasarkan surat An Nisaa': 69, jalan merekalah yang kita
minta. Merekalah ahlul hidayah wal
istiqamah (orang-orang yang memperoleh hidayah dan dapat
beristiqamah), ciri jalan mereka adalah setelah
mengetahui yang hak (benar), mereka mengamalkannya (belajar dan
beramal).
Adapun orang-orang yang dimurkai (baik oleh Allah maupun oleh kaum
mukminin) adalah orang-orang
yahudi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Ciri jalan mereka
adalah setelah mengetahui yang
hak, mereka tidak mau mengamalkan sehingga mereka dimurkai
(belajar dan tidak beramal).
Sedangkan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani dan
orang-orang yang mengikuti jalan
mereka. Ciri jalan mereka adalah tidak mengenal yang hak sehingga
mereka tersesat (beramal tanpa belajar).
Di dalam ayat ini terdapat obat penyakit juhud (membangkang), jahl
(kebodohan) dan dhalaal (tersesat).
Dianjurkan setelah membaca ayat ini di dalam shalat mengucapkan
"aamiiiiiin" yang artinya "Ya Allah,
kabulkanlah", ia tidaklah termasuk ayat dari surat Al Fatihah
berdasarkan kesepakatan para ulama, oleh
karena itu mereka tidak menuliskannya di dalam mushaf-mushaf.
Kandungan surat Al Fatihah
Surat Al Fatihah meskipun singkat, namun mengandung banyak
pengetahuan. Di dalamnya terdapat tiga
tauhid yang diperintahkan; tauhid rububiyyah (dari ayat "rabbil
'aalmiin"), tauhid uluhiyyah (dari ayat
"iyyaaka na'budu") dan tauhid asmaa' wash shifat dengan menetapkan
semua sifat sempurna bagi Allah yang
telah ditetapkan oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa
sallam. Hal ini sebagaimana ditunjukkan
oleh ayat "Al Hamdulillah", karena nama-nama dan sifat-sifat Allah
semuanya terpuji dan merupakan pujian
bagi Allah Ta'ala.
Demikian juga menetapkan kenabian dan kerasulan Muhammad
shallallahu 'alaihi wa sallam yang diambil
dari ayat "Ihdinash shiraathal mustaqiim", karena jalan yang lurus
tersebut adalah jalan yang diterangkan
oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Surat ini juga
menetapkan adanya jazaa' (pembalasan
amal) dan bahwa hal itu dilakukan dengan adil berdasarkan ayat
"Maaliki yaumiddiin". Surat ini juga
menguatkan Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah tentang masalah qadar,
yakni bahwa semua terjadi dengan
qadar Allah dan qadhaa'-Nya, dan bahwa seorang hamba melakukan
perbuatannya secara hakikat; tidak
dipaksa dalam berbuat. Hal ini dapat diketahui dari ayat "Iyyaaka
na'budu wa iyyaaka nasta'iin". Surat ini
juga menerangkan pokok kebaikan, yaitu ikhlas, sebagaimana diambil
dari ayat " Iyyaaka na'budu wa
iyyaaka nasta'iin".
Karena surat ini begitu agung dan mulia, Allah mewajibkan
hamba-hamba-Nya membacanya di setiap rak'at
dalam shalat mereka baik shalat fardhu maupun sunat. Di surat
tersebut Allah mengajarkan kepada hamba-
hamba-Nya bagaimana mereka memuji dan menyanjung-Nya, lalu
mereka meminta kepada Tuhan mereka
segala yang mereka butuhkan. Di surat ini pun terdapat bukti butuhnya
mereka kepada Tuhan mereka, baik
butuhnya hati mereka dipenuhi rasa cinta dan pengenalan kepada-Nya
dan butuhnya mereka agar dibantu
dalam menyelesaikan urusan mereka serta diberi taufiq agar dapat
mengabdi kepada-Nya.
Contoh ayat-ayat yang menerangkan lebih lanjut surat Al Fatihah
Sebagaimana diterangkan bahwa semua isi Al Qur'an merupakan
penjelasan lebih rinci terhadap masalah
yang yang disebutkan secara garis besar dalam surat Al Fatihah. Berikut
ini contohnya:
Firman Allah, "Al hamdulillahi. " diterangkan oleh surat Al Baqarah: 186
dan 286.
Abu Yahya Marwan bin Musa
7
www. tafsir, web.id

Tafsir Hidayatul Insan Jilid 1


Surat Al Baqarah (Sapi Betina) 12
Surah ke-2. Terdiri dari 286 ayat. Madaniyyah
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang.
H>-jfi<^ifi &\j^>
Ayat 1-5: Golongan mukmin, membicarakan tentang sifat orang-orang
yang bertakwa,
hakikat iman dan bagaimana Al Qur'an menjadi petunjuk bagi mereka
Firman Allah, "Rabbil 'aalamiin" diterangkan oleh surat Al Baqarah:
21-22 dan 29.
Firman Allah, "Ar Rahmaanir rahiim" diterangkan oleh surat Al Baqarah:
37 dan 126
Firman Allah, "Maaliki yaumiddin." diterangkan oleh surat Al Baqarah:
284.
Firman Allah, "Iyyaaka na'budu." diterangkan oleh surat Al Baqarah
secara lebih rinci, di mana di sana
diterangkan masalah bersuci, shalat lima waktu, shalat jama'ah, shalat
khauf, shalat Ied, zakat, puasa, I'tikaf,
sedekah, umrah dan haji, mu'amalah secara Islam, warisan, wasiat,
berbagai masalah pernikahan, penyusuan
anak, nafkah, tentang hukum qishas, diyat, memerangi pemberontak
dan orang yang murtad, tentang bjihad,
tentang makanan, sembelihan, sumpah, nadzar, peradilan (qadhaa'),
persaksian, memerdekakan budak dsb.
semua ini merupakan bab-bab syari'at yang diterangkan dalam surat Al
Baqarah.
Firman Allah, "Wa iyyaka nasta'iin" mewakili ilmu tentang akhlak.
Firman Allah, "Ihdinash shiraathal mustaqiim" diterangkan dalam
surat-surat setelannya yang menyebutkan
jalannya para nabi dan jalan orang-orang yang menyelisihinya. wal
hamdulillahi rabbil 'aalamiin.
12 Surat Al Baqarah yang 286 ayat ini turun di Madinah, sebagian besar
diturunkan pada permulaan tahun
Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Haji wadaa' (haji Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa
sallam yang terakhir). Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk
golongan Madaniyyah, sebagai surat
yang terpanjang di antara surat-surat Al Quran yang di dalamnya
terdapat pula ayat yang terpancang (ayat
282). Surat ini dinamai Al Baqarah karena di dalamnya disebutkan kisah
penyembelihan sapi betina yang
diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sampai dengan 74), di
sana dijelaskan watak orang-orang
Yahudi pada umumnya.

Al-‘Adad, al-Ma’dud

‫ اﻫﻠﻚ‬18 ‫ﻟﺠﻮ زع ﻫﻠﻼ ءاﻫﺐ ءاﺑﻼ‬. ‫ﻟﺠﻮ زع ﻫﻠﻼ ءاﻧﺲ ﻧﯿﺴﻼو‬. ‫ﻟﺠﻮ زع ﻫﻠﻼ دﺟﻢ ﻣﯿﻤﻼو‬
‫ﻫﻠﻼو‬: ‫« ءاﻣﺲ�ﻻ ىﻮح ﯾﺬﻻ ﻣﻈﻊ�ﻻ ﻣﺲ�ﻻ وه‬

bā’ adalah [singkatan dari] bahā’ullāh ‘azza wa jalla (keindahan Allah


Azza wa Jalla), sīn adalah [singkatan dari] sanā’ullāh ‘azza wa jalla
(keagungan Allah Azza wa Jalla), mīm adalah [singkatan dari] majdullāh
‘azza wa jalla (kemuliaan Allah Azza wa Jalla), dan Allāh adalah al-ism
al-a‘zhām (nama yang paling agung) yang terkandung dalam semua
nama-Nya

Ta’wi>l Terhadap Ayat Al-Qur’an Menurut Al-Tustari> 227


‫ﯘﯗ ﯖ ﯕ ﯔﯓ ﮱ ﮰ ﮯ ﮮ ﮭﮬ ﮫ ﮪ ﮩ ﯦ ﯥ ﯤ ﯣ ﯢ ﯡ ﯠ ﯟ ﯞ ﯝ ﯜ ﯛ ﯚ ﯙ ﯸ ﯷﯶ ﯵ ﯴ ﯳ ﯲ‬
‫ﯱﯰ ﯯ ﯮ ﯭﯬ ﯫ ﯪ ﯩ ﯨ ﯧ ﰁ ﰀ ﯿ ﯾ ﯽ یﯻ ﯺ ﯹ‬
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan
cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di
dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu
seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan
dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang
tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah
barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun
tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah
membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah
membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.”19

35 sebagaimana termuat dalam Tafsir al-Tustarī


‫ىﻼﻋﺖ ﻫﻠﻮق‬: ‫راون�ﻻب ﺿﺮ�ﻻو ﺗﺎواﻣﺴﻼ ﻧﯿﺰم ﯾﻨﻌﻲ ﺿﺮ�ﻻو ﺗﺎواﻣﺴﻼ رون ﻫﻠﻼ‬، ‫ﻟﺜﻢ‬
‫ﻣﻠﺴﻮ ﻫﯿﻠﻊ ﻫﻠﻼ ىﻠﺺ دﻣﺤﻢ رون ﻟﺜﻢ ﯾﻨﻌﻲ ﺣﺎﺑﺼﻢ اﻫﯿﻒ ةاﻛﺸﻤﻚ ﻫﺮون ﻣﻬﯿﻠﻊ ﻫﻠﻼ‬. ‫ﻧﺴﺤﻼ ﻻق‬
‫ﯾﺮﺻﺒﻼ ﺣﺎﺑﺼﻤﻼ‬: ‫دﯾﺤﻮﺗﻼ ءاﯾﻀﻮ ﻧﻤﺆﻣﻼ ﺑﻠﻖ ﻛﻠﺬب ىﻨﻊ‬، ‫ﺗﺎوﻟﺺ ءاﯾﺒﻦ�ﻻ ﺑﻮﻟﻖ ن�ل‬
‫راون�ﻻ ﻫﺬه ﻟﺜﻤﺐ ﻓﺼﻮت ﻧﺎ ﻧﻢ روﻧﺎ دادزا اﻣﻠﻜﻒ‬، ‫ﻻﻗﻮ‬: ‫ﺣﺎﺑﺼﻢ ﻧﺎرﻗﻼ رون ﻟﺜﻢ روﻧﻼ‬،
‫ﻻﺻﺖ�ﻻ رون ﻫﺮوﻧﻮ ﺻﺎﻟﺦ�ﻻ ﻫﻨﻬﺪو ﺿﺌﺎرﻓﻼ ﻫﺘﻠﯿﺘﻔﻮ ةﻓﺮﻋﻤﻼ ﻫﺠﺎرس‬.
19 Terjemahan ini, penulis kutip dari Al-Qur’an dan Terjemahnya
terbitan Departemen Agama RI yang sudah berbentuk software dalam
Al-Qur’an Digital. Disana terdapat catatan kaki yang menjelaskan arti
“misykat” (lubang yang tidak tembus) ialah “suatu lobang di dinding
rumah yang tidak tembus sampai ke sebelahnya, biasanya digunakan
untuk tempat lampu, atau barang-barang lain”, dan kata “la>
syarqiyyah wa la> gharbiyyah” (tidak di sebelah timur (sesuatu) dan
tidak pula di sebelah barat) dengan arti “pohon zaitun itu tumbuh di
puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit
maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur
dan buahnya menghasilkan minyak yang baik
20 ‫ءاﻓﺺ ﺻﺎﻟﺦ�ﻻ‬، ‫ءاﯾﺾ ﺣﺎﺑﺼﻤﻼ دادزا‬، ‫ﺣﺎﺑﺼﻤﻼ دادزا ةﻗﯿﻘﺢ ﺿﺌﺎرﻓﻼ دادزا اﻣﻠﻜﻮ‬
‫ارون‬.
Perumpamaan cahaya al-Qur’an, kata al-Tustari>, adalah sebuah lampu
(Mis}bāh), lampu yang menerangi pengetahuan, yang sumbunya adalah
kewajiban agama, yang minyaknya adalah keikhlasan dan yang
cahayanya adalah cahaya pencapaian (spiritual). Setiap kali keikhlasan
itu bertambah dalam kemurnian, maka bertambahlah sinar cerah
lampu itu, dan setiap kali kewajiban agama bertambah, maka pada
hakikatnya lampu itu bertambah cahayanya. Tustari> menakwilkan kata
“nūr” itu sebagai “Nu>r Muhammad saw”, yakni Allah swt menghiasi
langit dan bumi dengan cahaya (nur), dan cahaya itu bagaikan cahaya
(nur) Nabi Muhammad saw. Ayat cahaya tersebut yang dikaitkan
dengan Nabi Muhammad SAW.,pertama kali dikenalkan oleh ahli teolog
Muqatil pada abad ke enam masehi. Ayat diatas oleh Muqatil
dihubungkan dengan Nabi Muhammad saw. Kata Mis}bāh (lampu) itu
dianggap sebagai lambang yang tepat bagi Muhammad. Melalui
Muhammad, cahaya Ilahi dapat menyinari dunia. Melalui Muhammad
juga umat manusia dituntun menuju sumber cahaya itu. Kata “tidak
dari timur dan dari barat” mengacu kepada tugas kerasulan Nabi
Muhammad SAW.,yang memberikan kasih sayang untuk segenap alam
(rahmatan lil-‘ālamīn). Sahl al-Tustari> mengambil ide Muqattil itu yang
mengatakan adanya ”lajur cahaya”, yaitu sejenis timbunan yang terdiri
dari segenap jiwa-jiwa yang suci. Berdasarkan teori Muqattil di atas,
esensi Muhammad menurut Tustari>, disebut ‘amūd alnūr’ (tiang
cahaya), yakni jasad halus dari keyakinan yang diemanasi dari Tuhan
sendiri yang membungkuk kepada-Nya selama satu juta tahun sebelum
diciptakan-Nya makhluk-makhluk. 20Ibid., 138; Al-Tustari>, Tafsi>r
al-Tustari>, Muhaqqiq:Thaha Abdurrazzaq Sa’ad dan Sa’ad Hasan
Muhammad ‘Ali, 206; Al- Tustari>,Tafsi>r al-Tustari>, Muhaqiq:
Muhammad Basil ‘Ayun al-Suud, 111

Ta’wi>l Terhadap Ayat Al-Qur’an Menurut Al-Tustari> 229 Selanjutnya


Tustari> mengatakan: “Allah dalam keesaanNya yang mutlak dan
realitas transenden-Nya ditegaskan sebagai misteri yang tak tertembus
dari cahaya illahi yang bagaimana pun juga, mengungkapkan dirinya
sendiri dalam praktek perwujudan prakeabadian dari “persamaan
cahaya-Nya”(matsalu nūrihī), yaitu persamaan cahaya Muhammad
(Nur Muhammad) dalam prakeabadian dilukiskan seba gai suatu masa
bercahaya dari pemuliaan primordial di haribaan Allah yang mengambil
bentuk suatu tiang tembus cahaya, tiang cahaya Illahi dan membentuk
Muhammad sebagai ciptaan utama Allah.” Dalam menjelaskan
terminologi ayat cahaya tersebut, Tustari> mengatakan bahwa ketika
Allah berkehendak menciptakan Muhammad, Dia memunculkan
sebuah cahaya dari cahayaNya. Ketika ia mencapai selubung keagungan
hijābul-’aẓāmah, Ia membungkuk dan bersujud di hadapan Allah. Allah
menciptakan dari sujudnya itu sebuah tiang yang besar bagaikan kaca
kristal dari cahaya yang dari luar maupun dalam yang dapat tembus
pandang” Tustari> mengaitkan cahaya Muham mad yang ia ta’wi>l kan
dari kata “nur” dalam Surat An-Nur ayat 35 dengan Surat An-’Najm ayat
13 yang berbunyi : “Walaqad ra’āhu nazlatan ukhrā” artinya: “Dan
sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang
asli) pada waktu yang lain” . Kata ”pada waktu yang lain” ditafsirkan
Tustari> dengan ketika tiang cahaya Muhammad berdiri di hadapan
Allah. Di dalam Hikayat Nur Muhammad diceritakan tentang Nur
Muhammad disuruh bersujud selama lima puluh tahun di hadapan
Allah. Dije laskan bahwa sebelum dimulai penciptaan selama sejuta
tahun Nur Muhammad itu berdiri di hadapan-Nya untuk memujiNya
dengan keteguhan iman dan (kepadanya) diungkapkan misteri oleh
“misteri” itu sendiri di pohon Sidratil-Muntahā (QS, 53:14) yaitu tempat
berakhirnya pengetahuan setiap orang .21 Pada awal penciptaan
manusia, Allah menciptakan Adam dari cahaya Muhammad. Cahaya
para nabi, cahaya kerajaan langit, cahaya malakut adalah dari
cahayanya. Begitu juga cahaya dunia dan dunia yang akan datang
berasal dari cahayanya
Akhirnya, ketika kemunculan para nabi dalam alam raya spiritual di
dalam prakeabadian telah sempurna, Muhammad dibentuk tubuhnya
dalam bentuk temporal dan terestrial, dari lempung Adam, yang telah
diambil dari tiang Nur Muhammad dalam prakeabadian. Dengan
demikian, penciptaan cahaya prakeabadian telah disempurnakan.
Manusia pertama dicetak dari cahaya Muhammad yang telah terkristal
dan mengambil sosok pribadi Adam. Ide tentang Nur Muhammad
tersebut selanjutnya ditangkap dan dikembangkan oleh Al Hallaj, dan
konsep al Hallaj tentang Nur Muhammad selanjutnya diteruskan oleh
Ibnu Araby dengan konsep wahdatul wujūd-nya dan dilanjutkan oleh
Abdul Karim Al Jilli dalam Insānul kāmil
D.2. Q.S. al-Baqarah ayat 22 Pemahaman makna batiniah oleh Sahl
al-Tustari> terdapat dalam firman Allah Swt pada surat al-Baqarah ayat
22 tentang penafsiran atau pen ta’wi>l an kata : ‫“ ﯠ ﯟ ﯞ ﯝ ﯜ ﯛ‬Maka itu
janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu
mengetahui.” Sahl Al-Tustari> menta’wi>l kan kata andād
(sekutu-sekutu) dengan ad}dād (lawan-lawan). Lawan terbesar adalah
al-nafsu alammārah bi al-sū’ (nafsu yang selalu menyuruh pada
kejahatan) yang selalu berambisi untuk mendapatkan kesenangannya
tanpa petunjuk Allah Swt.22 Dalam hal ini, pendapat al-Tustari> ini
menunjukkan bahwa nafsu ammârah termasuk sekutu, sehingga kalau
diperinci ta’wi>l terhadap ayat tersebut adalah, “Maka janganlah
menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu, berhala, setan, nafsu, … (dan
seterusnya).” Dari aspek lahiriah kata dalam ayat ini, mungkin
merupakan satu kesulitan, karena konteks ayat itu dan indikasi-indikasi
yang melingkupinya menunjukkan bahwa yang dimaksud sekutu-sekutu
(andād) itu adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah, baik
berupa berhala maupun sesuatu yang lain selain berhala. Sementara
itu, nafsu tidak disembah oleh mereka dan tidak dikenal bahwa

mereka menjadikannya tuhan-tuhan selain Allah. Namun, tafsir ini


mungkin ada benarnya. Berikut ini adalah penjelasannya. Sahl
Al-Tustari>, ketika berbicara tentang ayat itu, menyebutkan bahwa hal
itu adalah tafsir ayat. Tetapi ia menyebutkan makna lain yang berarti
sekutu dalam sudut pandang yang sesuai dengan syariat. Itu karena
hakikat sekutu (nadd) adalah bahwa lawan sekutu adalah menurut
lawannya. Nafsu ammārah termasuk dalam kategori ini, karena ia
memerintahkan pemiliknya untuk memenuhi kesenangannya seraya
lalai dalam memenuhi hak-hak Penciptanya. Inilah makna “sekutu”
terhadap sekutunya, karena berhala diartikan oleh mereka dalam
pengertian ini. Berdasarkan hal ini, tidak ada cela dalam ucapan
al-Tustari> tentang ayat tersebut. Adapun ayat yang mendukung
argumen ini adalah firman Allah Swt., “Mereka menjadikan orang-orang
alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (Q.S. al-Taubah
[9]: 31). Jelas, mereka tidak menyembah rahib/pendeta selain Allah
secara fisik. Namun, mereka menuruti segala perintahnya dan menjauhi
segala larangannya. Apa yang dia haramkan bagi mereka, mereka juga
mengharamkannya, dan apa yang dia halalkan, mereka juga
menghalalkannya, padahal mereka berkeyakinan bahwa yang berhak
untuk menetapkan halal dan haram hanyalah Allah. Oleh karena itu,
Allah Swt. berfirman, “mereka menjadikan orang-orang alim dan
rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah”. Inilah keadaan orang
yang mengikuti hawa nafsunya. Dalam penafsiran ini, al-Syathibi dalam
al-Muwafaqāt-nya juga dapat menerimanya23, karena sudah sesuai
dengan syarat-syarat penafsiran sufistik yang bisa diterima yaitu asal
kemunculannya adalah dari Al-Qur’an dan diikuti oleh maujud-maujud
yang lain. Sebab, pemahaman yang benar pada umumnya adalah jika
cahaya pandangan batin membakar tabir segala entitas tanpa henti.
Bukan sebaliknya, yang asal kemunculannya dari segala maujud, baik
parsial maupun universal, dan diikuti pemahaman terhadap AlQur’an.
Dan juga, memenuhi dua syarat: (1) memenuhi tuntutan kaidah-kaidah
bahasa Arab sehingga berlaku menurut maksudmaksud yang
dikehendaki dalam bahasa Arab, (2) didukung dengan
suatu teks atau makna lahiriah di tempat lain yang menguatkan
kebenarannya

D.3. Q.S. al-A’raf ayat 148


pada surat al-A’raf ayat 148.
‫“ﯔﯓﮱﮰﮯﮮﮭﮬﮫ‬
Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung T}ur membuat dari
perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak sapi yang bertubuh dan
bersuara.” Dalam penafsirannya, al-Tustari> menta’wi>l kan “anak sapi”
adalah apa saja yang memalingkan manusia dari Allah swt, mungkin
sanak saudara ataupun anak, yang manusia tidak bisa lepas darinya
kecuali setelah hilangnya keuntungan-keuntungan yang merupakan
sebab terikatnya manusia kepada “anak sapi” tersebut. Sebagaimana
umat nabi Musa tidak bisa melepaskan diri dari penyembahan terhadap
anak sapi kecuali dengan membunuh diri mereka sendiri

S
i
fat sejarah, menurut orang,

I
b
arat pentas bermain wayang

C
h
eritera lampau dihurai dalang

P
a
bila tammat segera diulang

A
l
-‘Adad, al-Ma’dud

HIKAYAT
Aku Qur'an tujuh Masani,
Aku Roh pusat Rohani,
Hatiku kutitip kepada insani,
Kepadanya kuberikan lidahku ini.

Engkau tak dapat melihat tubuhku,


Hanya merasa kan sebagai ni'mait ku,
Jika kau selami lautan zatku,
Keajaiban tampak serta berlaku.

Rahasia \terbuka sesudah terlindung,


Arwah ma'ani menjadi mendung,
Siapa yang paham arti terkandung,
Ta' takut pedang datang menyandung

Laksana Hallaj Syamsul hakikat,


Mahabbah mendalam serta melekat,
Lahirlah "Ana al-haq" secara singkat,
Tidak berubah zat dan sifat

Zatku Satu Sipatku


banyak, sujud kepadaku,
jika engkau menghendaki asma,
ketahuilah bahwa nama itu
menunjukkan yang diberi asma,

yaitu zat yang dinamakan kul padamu,


sujud dengan apa yang dapat memadai, buang apa yang tidak perlu"
(Kitabul isra', HaydrabadDeccan, 1948, hal. 8-9). Kemudian menyusul
serangkaia

rafiquh a'la

syair, pemahaman wihdatul wujud. menceritra kan isra',


bahwa salik itu tidak dapat melihat zat cuma sifatnya, ia tidur,
datang kepadanya rasul taufiq yang akan menunjukkan dia thariq,
ada buraq ikhlas, dibuka dadanya dengan pisau sakinah,
dikeluarkan isinya dan diletakkan kedalam ember ridha,
dibersihkan dari pada syaithan, düsi dengan tauhid, {man tafrid,
kemudian dijahit kembali dengan kesehatan uns yang suci,
dibungkus dengan kain mahabbah, diangkat keatas pelana
buraqqurbah, lalu diisra'kan ke-qudsul janan,
diikat buraq didepan pintu, sembahyang dekat mihrab, memilih
minuman susu dari pada khamar, lalu mi'rajlah kelautan mutiara, lautan
nafsul mutma'innah yang luas dengan sampai arifin,
yang layarnya ditiupi angin ziK.r, digerakkan oleh gelombang ahwal,
sampai yang bertiang alif,
bertatahkan alat bismitahi majha dan wahyu pertama iqra',
sampai kelautan mujahadah dengan pertolongan arwah inayah,
terdampar kepantai musyahadah, dan dari sini berpisahlah dengan air
dan bertemulah dengan langit. Kemudian ia lalu menceriterakan pula
pengalamannya,
pertama dalam langit wizarah dengan Adam dan segala hikmahnya,
dalam langit kitabah dengan Isa dan segala akhlaknya, naik kelangit
syahadah, dimana ia bertemu dengan Jusuf dan segala riwayat
kesukarannya,
lalu kelangit imarah, bertemu dengan Idris, kelangit syarthah, bertemu
dengan Musa yang makin mendekat kepada hakikat tauhid,
kelangit bhayah bertemu dengan Ibrahim, dan maqam wilayah yang
dicari dari sini melayang ke sidratul muntaha, bertemu dengan
nurwllah, dimana diberikan jawamïulkalam
bermacam2 dalam keadaan yang tidak dapat dilukiskan, dari sini
sampai ke-hadratul kursi dan mauqiful qudsi dengan segala keanehan
dan rahasia, dari situ terbanglah ke dan sampailah dimedan rasul2 yang
di-cita2kan.
Maka disini dilakukan munajat, yang satu persatu oleh Ibn Arabi
diperincikan dalam kupasan tasawwuf, dan pada akhirnya sampailah
kepada mengupas yang dinamakan Isyarat Adamiyah,
isyarat Musawiyah, isyarat Ibrahimiyah, isyarat Yusufiyah, dan akhirnya
sampailah salik yg mencari itu kepada isyarat Muhammadiyah, yang
tidak berbicara karena hawa nafsu, yang bertanya,
siapa engkau dan menjawab siap aku sehingga akhirnya berhasillah
kerajaan dengan tahmid, agar sah tauhid

Siapa berupa rumah yang Haq,


Yang Haq itu adalah rumdhnya,
Inti wujud adalah Haq,
Adalah inti segala alamnya
Jika kami lahir ternyata,
Dalam sesuatu yang buka kita,
Tak kan ada segala semesta,
Jika kami tidak mencipta.

Engkau yang benar '


aïnul wujud,
Tak ada yang lain dapat disebut, Karena itu aku ma'bud,
Aku Tuhan ghaib terlïput.

Hambaku jangan engkau katakan,


Bahwa engkau aku seakan,
Aku kenal/ dalam gerakan,
Engkau fana berantdkan.

Tiap saat,
setiap masa,
Kejadian baru senanttasa,
Bersifat fana hancur binasa,
Aku yang kekal maha Kuasa
Dalam wujud tak ada selainnya,
Fikirkanlah sebagai memïkirkannya,
Pasti engkau memahaminya,
Dia itu tak lain dari dianya.

Orang yang mengatakan demikian itu,


Silang sengketa dengan sekutu,
Dalam hatinya pasti tentu,
Terdapat contoh satu persatu.

jikalau dia tidak terdapat,


Maka tidak melihat tepat,
Jikalau dia tidak terdapat,
Dzikir tak ada bibirpun rapat.

Berikan olehmu pertimbangan,


Engkau adam tak ada imbangan,
Yang ada wujud, bukan bayangan,
Dialah yang ada seluruh kayangan.
Demi Allah 'jika tiada,
wujud yang Haq tidak berada, •
Firmannya llenyap di mayapada,
Wujud alam juga tak ada

Anda mungkin juga menyukai