Anda di halaman 1dari 4

Menurut R.M.

Margono Djojohadikoesoemo dalam bukunya yang berjudul Sepuluh


Tahun Kopeasi: Penerangan tentang Koperasi oleh Pemerintah Tahun 1930-1940, menyatakan
bahwa koperasi adalah perkumpulan manusia seorang-seorang yang dengan sukanya sendiri
hendak bekerja sama untuk memajukan ekonominya.

Berdasarkan definisi di atas, unsur-unsur dari koperasi antara lain adalah sebagai berikut:

1. Koperasi merupakan perkumpulan orang


Perkumpulan orang dapat dikategorikan menjadi kelompok sosial. Kelompok sosial
merupakan kumpulan manusia yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan
saling berinteraksi.

2. Keanggotaan koperasi bersifat sukarela


Sifat sukarela artinya menjadi anggota koperasi tidak boleh dipaksakan oleh siapapun dan
seorang anggota dapat mengundurkan diri dari koperasinya sesuai syarat yang ditentukan
dalam Anggaran Dasar Koperasi

3. Anggota koperasi bekerja sama untuk memajukan ekonominya

Sebagai sebuah kelompok (perkumpulan orang-orang), terdapat budaya yang


mendasari tingkah laku individu di dalamnya. Melalui riset tentang budaya yang dilakukan
oleh Hofstede, ia mengemukakan bahwa terdapat 4 dimensi dalam budaya yaitu jarak
kekuasaan (power distance), penghindaran dalam ketidakpastian (uncertainty avoidance),
individualisme dan kolektivisme (individualism versus collectivism), maskulinitas dan
feminitas (masculinity versus feminity) serta orientasi waktu (time orientation).

Kolektivisme, seperti yang terdapat dalam empat dimensi budaya menurut Hofstede
(1991) menunjukkan keadaan masyarakat dimana setiap anggotanya terintegrasikan dalam
ikatan kelompok yang kuat dan terpadu sepanjang rentang hidup mereka untuk saling
melindungi satu sama lain. Hasil observasi Schuetzendorf (dalam Ruky, 2002) pada tahun
1989 mengenai kolektivisme di Indonesia menunjukkan kecenderungan anggota kelompok
untuk saling mendukung (diistilahkan dengan ‘Gotong Royong’) dimana anggota kelompok
menerima perlindungan dari anggota lainnya untuk menciptakan keharmonisan.
Berdasarkan definisi koperasi di atas dan dikaitkan dengan salah satu teori Budaya,
menunjukkan bahwa Koperasi merupakan organisasi yang dilandaskan dengan konsep
kolektivisme yang mengutamakan kerjasama dalam suasana kekeluargaan yang bebas dari
penindasan dan paksaan.
Menurut Soeriaatmaja, koperasi adalah suatu perkumpulan dari orang-orang yang atas
dasar persamaan derajat sebagai manusia dengan tidak memandang haluan agama dan politik dan
secara suka rela masuk untuk sekedar memenuhi kebutuhan bersama yang bersifat kebendaan atas
tanggungan bersama.

Berdasarkan definisi di atas, unsur-unsur dari koperasi antara lain adalah sebagai berikut:

1. Koperasi merupakan perkumpulan orang


Perkumpulan orang dapat dikategorikan menjadi kelompok sosial. Kelompok sosial
merupakan kumpulan manusia yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan
dan saling berinteraksi.

2. Keanggotaan koperasi netral terhadap agama dan politik, dan bersifat sukarela.
Keanggotaan koperasi tidak memandang latar belakang agama maupun politis dari
masing-masing anggotanya. Sementara itu sifat sukarela artinya menjadi anggota
koperasi tidak boleh dipaksakan oleh siapapun dan seorang anggota dapat
mengundurkan diri dari koperasinya sesuai syarat yang ditentukan dalam Anggaran
Dasar Koperasi

3. Koperasi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bersama anggotanya yang bersifat


kebendaan atas tanggungan bersama.

Sebagai sebuah kelompok (perkumpulan orang-orang), terdapat budaya yang


mendasari tingkah laku individu di dalamnya. Melalui riset tentang budaya yang dilakukan
oleh Hofstede, ia mengemukakan bahwa terdapat 4 dimensi dalam budaya yaitu jarak
kekuasaan (power distance), penghindaran dalam ketidakpastian (uncertainty avoidance),
individualisme dan kolektivisme (individualism versus collectivism), maskulinitas dan
feminitas (masculinity versus feminity) serta orientasi waktu (time orientation).

Kolektivisme, seperti yang terdapat dalam empat dimensi budaya menurut


Hofstede (1991) menunjukkan keadaan masyarakat dimana setiap anggotanya
terintegrasikan dalam ikatan kelompok yang kuat dan terpadu sepanjang rentang hidup
mereka untuk saling melindungi satu sama lain. Hasil observasi Schuetzendorf (dalam
Ruky, 2002) pada tahun 1989 mengenai kolektivisme di Indonesia menunjukkan
kecenderungan anggota kelompok untuk saling mendukung (diistilahkan dengan ‘Gotong
Royong’) dimana anggota kelompok menerima perlindungan dari anggota lainnya untuk
menciptakan keharmonisan.

Berdasarkan definisi koperasi di atas dan dikaitkan dengan salah satu teori Budaya,
menunjukkan bahwa Koperasi merupakan organisasi yang dilandaskan dengan konsep
kolektivisme yang mengutamakan kerjasama dalam suasana kekeluargaan yang bebas dari
penindasan dan paksaan. Dengan semangat kolektivisme yang terdapat dalam Koperasi tersebut
pula, memupuk toleransi dan rasa tanggung jawab bersama tanpa melihat latar belakang agama,
maupun politis dari masing-masing anggotanya.