Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara membuat, meracik,
formulasi obat, identifikasi, kombinasi, analisis dan standarisasi atau
pembakuan obat serta pengobatan, termasuk pula sifat-sifat obat dan
distribusinya serta penggunaan yang aman. (Syamsuni, 2006) Dalam farmasi
terdapat beragam ilmu seperti contohnya yaitu ilmu farmakologi.
Farmakologi (pharmacology) berasal dari bahasaYunani, yaitu
pharmacon adalah obat dan logos adalah ilmu. Farmakologi mempelajari asal-
usul atau sumber obat, sifat fisika-kimia, cara pembuatan, efek biokimiawi
dan fisiologi yang ditimbulkan, perjalanan obat dalam tubuh, dan lain-lain.
Definisi farmakologi yang lain adalah zatkimia yang dapat mempengaruhi
jaringan biologi. Dari sekian banyak definisi farmakologi, topik utamanya
adalah sama yaitu tentang bahan-bahan obat. Farmakologi Mempunyai
cabang-cabang ilmu yang mempelajari obat secara lebih spesifik. Cabang-
cabang farmakologi seperti Farmakodinamik, Farmakokinetik ,Farmakoterapi,
Farmakognosi, Khemoterapi, Toksikologi, (Siswandono dan Soekardjo, 1995)
Farmakokinetik, adalah ilmu yang mempelajari cara pemberian obat,
biotranformasi atau perubahan yang dialami obat di dalam tubuh dan cara obat
di keluarkan dari tubuh (ekskresi).(Katzug, B.G., 1989)
Rute pemberian obat (Routes Of Administration) merupakan salah
satu factor yang mempengaruhi efek obat, karena karakterstik lingkungan
fisiologis anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak tubuh dan
tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda;
enzim-enzim dan getah- getah fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut
yang berbeda. Hal-hal ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat
mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda, tergantung dari
rute pemberian obat. (Katzug, B.G., 1989)
Cara pemberian obat dapat melalui oral (Mulut), sublingual (Bawah
Lidah), Rektal (Dubur), dan parenteral tertentu, seperti melalui intradermal,

1
2

intramuscular, subkutan, dan intraperitoneal. (Siswandono dan Soekardjo,


1995)
Pada praktikum kali ini kami melakukan percobaan mengenai rute
pemberian obat dengan cara pemberian melalui subkutan. Adapun pemberian
melalui subkutan yaitu pemberian obat melalui suntikan ke area bawah kulit
yaitu pada jaringan konektif ataulemak di bawah dermis (Aziz,2006).
I.2 Maksud dan Tujuan
1.2.1 Maksud percobaan
Mengetahui dan memahami cara pemberian obat secara subkutan
kepada hewan uji (Mencit).
1.2.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Untuk mengetahui cara rute pemberian obat secara subkutan
2. Mengetahui dan menghitung dengan tepat waktu setelah pemberian obat
(Onset) serta durasinya.
I.3 PrinsipPercobaan
Adapun Prinsip percobaan yakni mencit terlebih dahulu diberikan
perlakuan yang membuat hewan coba merasa nyaman, hal ini dimaksudkan
agar lebih mudah ketika diberikan perlakuan (memegang), setelahnya
disuntikan larutan Na cmc yang sudah dilarutkan furosemid tepat di daerah
bawah kulit tengkuk atau abdomen dari hewan coba mencit, setelahnya dapat
diamati dan dihitung waktu setelah pemberian obat (onset) serta durasinya.
Omset dihitung sejak hewan coba mencit mengeluarkan urin pertama kalinya
dan untuk kedua kalinya digunakan untuk menghitung durasi.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.1 Definisi hewan coba
Dalam arti luas farmakologi adalah mengenai pengaruh senyawa
terhadap sel hidup, lewat proses kimia khusnya lewat reseptor. Dalam ilmu
kedokteran senyawa tersebut ialah obat. Secara sederhana obat adalah
bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk pengobatan, peredaan,
pencegahan atau diagnosa suatu penyakit, kelainan fisik atau gejala-
gejalanya pada manusia atau hewan baik dalam pemulihan, perbaikan atau
pengubahan fungsi organik pada manusia atau hewan (Sugandhi, 2010).
Pada dasarnya hewan percobaan dapat merupakan suatu kunci
dalam mengembangkan suatu penelitian dan telah memberi banyak jasa
bagi ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan tenteng berbagai macam
penyakit. Hewan sebagai model atau sarana percobaan haruslah memenuhi
persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain persyaratan genetis/ keturunan
dan lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya, di samping faktor
ekonomis, mudah tidaknya diperoleh, serta mampu memberikan reaksi
biologis yang mirip kejadiannya pada manusia (Sulaksono M.E, 1987).
Hewan percobaan atau hewan laboratorium adalah hewan yang
sengaja dipelihara dan diternakkan untuk dipakai sebagai hewan model,
dan juga untuk mempelajari dan mengembangkan berbagai macam bidang
ilmu dalam skala penelitian atau pengamatan laboratorik. Animal model
atau hewan model adalah objek hewan sebagai imitasi (peniruan) manusia
(atau spesies lain), yang digunakan untuk menyelidiki fenomena biologis
atau patobiologis (Hau & Hoosier Jr, 2003).
II.1.2 Karakteristik hewan coba
Ditinjau dari segi sistem pengelolaannya atau cara pemeliharaannya,
di mana faktor keturunan dan lingkungan berhubungan dengan sifat
biologis yang terlihat/karakteristik hewan percobaan, maka ada 4 golongan
hewan, yaitu :

3
4

1. Hewan liar
2. Hewan yang konvensional, yaitu hewan yang dipelihara secara terbuka
3. Hewan yang bebas kuman spesifik patogen, yaitu hewan yang
dipelihara dengan sistim barrier (tertutup).
4. Hewan yang bebas sama sekali dari benih kuman, yaitu hewan yang
dipelihara dengan sistem isolator.
II.1.3 Faktor yang mempengaruhi hewan coba
Penanganan hewan percobaan hendaklah dilakukan dengan penuh
rasa kasih sayang dan berprikemanusiaan. Di dalam menilai efek
farmakologis suatu senyawa bioaktif dengan hewan percobaan dapat
dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain (Malole, 1989) :
1. Faktor internal pada hewan percobaan sendiri: umur, jenis kelamin,
bobot badan, keadaan kesehatan, nutrisi, dan sifat genetik.
2. Faktor–faktor lain yaitu faktor lingkungan, keadaan kandang, suasana
kandang, populasi dalam kandang, keadaan ruang tempat
pemeliharaan, pengalaman hewan percobaan sebelumnya, suplai
oksigen dalam ruang pemeliharaan, dan cara pemeliharaan.
3. Keadaan faktor–faktor ini dapat merubah atau mempengaruhi respon
hewan percobaan terhadap senyawa bioaktif yang diujikan.
Penanganan yang tidak wajar terhadap hewan percobaan dapat
mempengaruhi hasil percobaan, memberikan penyimpangan hasil. Di
samping itu cara pemberian senyawa bioaktif terhadap hewan
percobaan tentu mempengaruhi respon hewan terhadap senyawa
bioaktif yang bersangkutan terutama segi kemunculan efeknya. Cara
pemberian yang digunakan tentu tergantung pula kepada bahan atau
bentuk sediaan yang akan digunakan serta hewan percobaan yang akan
digunakan. Sebelum senyawa bioaktif dapat mencapai tempat
kerjanya, senyawa bioaktif harus melalui proses absorpsi terlebih
dahulu.
5

II.1.4 Rute pemberian obat pada hewan coba


Rute pemberian obat (Routes of Administration) merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi efek obat, karena karakteristik lingkungan
fisiologis anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak obat dan
tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda;
enzim-enzim dan getah-getah fisiologis yang terdapat di lingkungan
tersebut berbeda. Hal-hal ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat
mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda, tergantung
dari rute pemberian obat (Katzug B.G, 1989).
1. Macam-macam rute pemberian obat
Rute pemberian obat, dapat diberikan secara peroral, subkutan,
intramuscular, intravena dan intraperitonial (Katzug B.G, 1989).
a. Rute peroral dapat diberikan dengan mencampurkan obat bersama
makanan, bisa pula dengan jarum khusus ukuran 20 dan panjang
kira-kira 5cm untuk memasukkan senyawa langsung ke dalam
lambung melalui esophagus, jarum ini ujungnya bulat dan
berlubang ke samping.
b. Rute subkutan paling mudah dilakukan pada mencit. Obat obat
dapat diberikan kepada mencit dengan jarum yang panjangnya 0,5-
1,0 cm dengan ukuran 22-24 (22-24 gauge). Obat bisa disuntikkan
dibawah kulit di daerah punggung atau didaerah perut.
Kekurangan dari rute ini adalah obat harus dapat larut dalam cairan
hingga dapat disuntikkan.
c. Rute pemberian obat secara intramuscular lebih sulit karena otot
mencit sangat kecil, obat bisa disuntikkan ke otot paha bagian
belakang dengan jarum panjang 0,5-2,0 cm dengan ukuran 24
gauge, suntikkan tidak boleh terlalu dalam agar tidak terkena
pembuluh darah.
d. Rute pemberian obat secara intravena haruslah dalam keadaan
mencit tidak dapat bergerak ini dapat dilakukan dengan mencit
dimasukkan ke dalam tabung plastic cukup besar agar mencit tidak
6

dapat berputar ke belakang dan supaya ekornya keluar dari tabung,


jarum yang digunakan berukuran 28 gauge dengan panjang 0,5cm
dan disuntikkan pada vena lateralis ekor, cara ini tidak dapat
dilakukan karena ada kulit mencit yang berpigmen jadi venanya
kecil dan sukar dilihat walaupun mencit berwarna putih.
e. Cara intraperitoneal hampir sama dengan IM, suntikkan dilakukan
di daerah abdomen diantara cartilage xiphoidea dan symphysis
pubis.
2. Masalah yang perlu di pertimbangkan dalam pemberian obat
Memilih rute penggunaan obat tergantung dari tujuan terapi,
sifat obatnya serta kondisi pasien. Oleh sebab itu perlu
mempertimbangkan masalah-masalah seperti berikut:
a. Tujuan terapi menghendaki efek lokal atau efek sistemik
b. Apakah kerja awal obat yang dikehendaki itu cepat atau masa
kerjanya lama
c. Stabilitas obat di dalam lambung atau usus
d. Keamanan relatif dalam penggunaan melalui bermacam-macam rute
e. Rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien dan dokter
f. Harga obat yang relatif ekonomis dalam penyediaan obat melalui
bermacam-macam rute.
g. Kemampuan pasien menelan obat melalui oral
Bentuk sediaan yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan
dan besarnya obat yang diabsorpsi, dengan demikian akan
mempengaruhi pula kegunaan dan efek terapi obat. Bentuk sediaan
obat dapat memberi efek obat secara lokal atau sistemik. Efek sistemik
diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah,
sedang efek lokal adalah efek obat yang bekerja setempat misalnya
salep (Anief, 1990).
II.1.5 Penggunaan hewan coba
Adapun tujuan penggunaan hewan percobaan sejalan dengan arah
bidang ilmu ialah sebagai berikut (Malole.1989) :
7

1. Bidang Toksikologi
Pengujian toksikologi dengan menggunakan hewan percobaan
yang dilakukan di lingkungan industri bertujuan agar bahan kimia
yang dibubuhkan pada bahan makanan tepat dalam arti aman buat
konsumen, efektif daya kerjanya dan masih mendatangkan keuntungan
bagi perusahaan. Status kesehatan berdasarkan pemeriksaan yaitu :
a. Ektoparasit dan endoparasit
b. Patologi
c. Profil hematologi dan kimia darah
d. Penyakit menular
2. Bidang Patologi
Para ahli patologi memakai hewan percobaan terutama untuk
meneliti atau mengamati adanya perubahan-perubahan patologik
jaringan tubuh yang disebabkan oleh :
a. Terjadinya kontak antar spesies (infeksi mikroorganisme atau invasi
parasit pada hewan atau menusia).
b. Stress karena faktor lingkungan (suhu, kelembaban, sanitasi,
ventilasi, kepadatan dan lain-lain).
c. Keracunan makanan
d. Defisiensi makanan (defisiensi vit. A, defisiensi vit. E)
Hewan percobaan juga dimanfaatkan oleh ahli patolgi untuk
penelitian tentang tumor dan kanker bahkan hewan percobaan juga
dimanfaatkan sebagai lahan untuk menanam dan menghasilkan sel–sel
tumor ini dapat dimanfaatkan oleh ahli mikrobiologi untuk membuat
biakan jaringan guna membiakkan virus, selain itu dapat juga
digunakan untuk mendeterminasi penyakit berdasarkan perubahan-
perubahan jaringan dan organ tubuh yang terjadi setelah hewan
percobaan tersebut mendapat perlakuan (keracunan karena mengisap
chloroform, keracunan aflatoksin melalui ransum).
8

3. Bidang Parasitologi
Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian
parasitologi dikehendaki berkualitas baik, sebelum melangkah untuk
melakukan penelitian dalam bidang parasitologi, kita perlu mengetahui
interaksi antar parasit sendiri.misalnya pada hewan mencit yang diberi
antibiotik untuk mengusir mikroflora dalam usus dan kemudian diganti
oleh mikroorganisme tertentu.
4. Bidang Imunologi
Respon imun pada hewan percobaan sangat dipengaruhi oleh
berbagai faktor, yaitu termasuk perihal infeksi oleh bakteri, virus
maupun parasit, stress, faktor diet / ransum dan peradangan non
spesifik.
II.2 Uraian hewan coba
Mencit ( Mus musculus ) merupakan hewan laboratorium yang
paling luas dan paling banyak digunakan untuk praktikum. Mencit
merupakan anggota dari Muridae ( tikus-tikusan) yang berukuran kecil.
Mencit mudah dijumpai di rumah-rumah dan dikenal sebagai hewan
pengganggu karena kebiasaannya menggigiti mebel dan barang-barang
kecil lainnya, serta bersarang di sudut-sudut lemari. Hewan ini diduga
sebagai mamalia terbanyak kedua di dunia, setelah manusia. Mencit sangat
mudah menyesuaikan diri dengan perubahan yang dibuat oleh manusia,
bahkan jumlahnya yang hidup liar di hutan barangkali lebih sedikit
daripada yang tinggal di perkotaan. Mencit percobaan (laboratorium)
dikembangkan dari mencit, melalui proses seleksi. Sekarang mencit juga
dikembangkan sebagai hewan peliharaan (Amori, 1996).
II.2.1 Karakteristik mencit
Mencit merupakan hewan yang jinak, lemah, mudah ditangani,
takut cahaya dan aktif pada malam hari. Pada umumnya mencit sangat
senang berada pada belakang perabotan jika dipelahara atau berkeliaran di
rumah. Mencit yang dipelihara sendiri makannya lebih sedikit dan
bobotnya lebih ringan dibanding yang dipelihara bersama-sama dalam satu
9

kandang, kadang-kadang mempunyai sifat kanibal. Terlebih jika makanan


yang dibutuhkannya telah habis sehingga mereka merasa sangat kelaparan.
a. Mencit (Mus musculus ).
Lama Hidup : 1- 2 tahun, bisa sampai 3 tahun
Lama Bunting : 19 - 21 hari
Umur Disapih : 21 hari
Umur Dewasa : 35 hari
Siklus Kelamin : poliestrus
Siklus Estrus : 4-5 hari
Lama Estrus : 12-24 jam
Berat Dewasa : 20-40 g jantan;18-35 g betina
Berat Lahir : 0,5-1,0 gram
Jumlah anak : rata-rata 6, bisa 15
Suhu ( rektal ) : 35-39˚C( rata-rata 37,4˚C )
Perkawinan Kelompok : 4 betina dengan 1 jantan
Aktivitas : Nokturnal (malam)
b. Sifat-sifat mencit
1. pembauannya sangat peka yang memiliki fungsi untuk mendeteksi
akan, deteksi predator dan deteksi signal (feromon).
2. penglihatan jelek karena sel konus sedikit sehingga tidak dapat
melihat warna.
3. Sistem sosial: berkelompok
4. Tingkah laku:
jantan dewasa + jantan dewasa akan berkelahi, Betina dewasa
+ jantan dewasa damai, Betina dewasa + betina dewasa damai
c. Klasifikasi mencit
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Class : Mamalia
Sub Class : Rodentia
10

Family : Muridae
Genus : Mus
Spesies : Mus Musculus
d. Morfologi mencit
Tikus putih mempunyai panjang panjang keseluruuhan sekitar
15-20 cm.. Bulu mereka berwarna putih, dan mereka umumnya
memiliki bellys Buffy. Mereka memiliki ekor panjang yang memiliki
sedikit bulu dan memiliki deretan lingkaran sisik (annulations). Tikus
putih cenderung memiliki panjang bulu ekor dan lebih gelap ketika
hidup dengan manusia (dipelihara). Sementara berat badan mereka
berkisar 16-20 gr. Banyak bentuk-bentuk domestik tikus telah
dikembangkan yang yang menghasilkan variasi dalam warna putih
menjadi hitam dan yang lainnya.
e. Tabel volume maksimum larutan obat yang diberikan pada hewan
coba

Cara pemberian dan volume maksimum (ml)


Binatang i.v i.m i.p s.c p.o

Mencit 20-30 0,5 0,05 1,0 0,5-1,0 1,0


g
Tikus 100 g 1,0 0,1 2,0-5,0 2,0-5,0 5,0

Hamster 50 g - 0,1 1,0-5,0 2,5 2,5

Marmot 250 g - 0,25 2,0-5,0 5,0 10,0

Merpati 300 g 2,0 0,5 2,0 2,0 10,0

Kelinci 2, kg 5,0-10,0 0,5 10,0-20,0 5,0- 20,0


10,0
Kucing 3 kg 5,0-10,0 1,0 10,0-20,0 5,0- 50,0
10,0
Anjing 5 kg 10,0- 5,0 20,0-50,0 5,0- 100,0
20,0 10,0
11

BAB III

METODE PRAKTIKUM

III.1 Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum Farmakologi Dasar tentang rute pemberian obat ini
dilaksanakan pada hari Selasa, 18 April 2017 pada pukul 14.30 WITA.
Bertempat di Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Fakultas
Olahraga dan Kesehatan, Universitas Negeri Gorontalo.
III.2 Alat dan Bahan
III.2.1 Alat
1. Spuit injeksi dan jarumnya
2. Timbangan analitik digital
3. Labu takar 5, 25, dan 50 mL
4. Gelas beker
5. Erlenmeyer
6. Batang pengaduk
7. Pipet volume
III.2.2 Bahan
1. Furosemid
2. Etanol
3. Kapas
4. Na-Cmc
III.3 Cara Kerja
III.3.1 Pembuatan larutan Na Cmc - Furosemid
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dibersihkan alat menggunakan etanol
3. Ditimbang 1 gram Na-cmc
4. Dilarutkan dalam 100ml air
5. Diaduk
6. Dimasukan furosemid kedalam larutan Na-Cmc
7. Diaduk hingga homogen

11
12

III.3.2 Pemberian furosemid secara subkutan


1. Disediakan dispo
2. Dielus mencit hingga nyaman
3. Dijepit tengkuk mencit dengan jempol dan ibu jari
4. Dibersihkan area kulit yang akan disuntik menggunakan alkohol 70%
5. Dimasukan cairan obat sebanyak 1 ml ke dalam dispo
6. Disuntikan secara horizontal darii arah depan menembus kulit
7. Dinyalakan stopwatch untuk menghitung waktu onset dan durasinya
8. Dicatat hasil
13

BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Pengamatan

Hewan Onset Durasi


Mencit 10:48:49 21: 04:57
IV.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini kami mempelajari mengenai rute
pemberian obat dengan menggunakan hewan coba yaitu mencit.
Digunakannya mencit dikarenakan mencit hewan yang paling umum
digunakan pada penelitian laboratorium sebagai hewan percobaan, yaitu
sekitar 40-80%. Mencit memiliki banyak keunggulan sebagai hewan
percobaan, yaitu siklus hidup yang relatif pendek, jumlah anak per kelahiran
banyak, variasi sifat-sifatnya tinggi dan mudah dalam penanganannya
(Moriwaki, 1994).
Rute pemberian obat (Routes Of Administration) merupakan salah
satu factor yang mempengaruhi efek obat, karena karakterstik lingkungan
fisiologis anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak tubuh dan
tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda;
enzim-enzim dan getah- getah fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut
yang berbeda. Hal-hal ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat
mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda, tergantung dari
rute pemberian obat. (Katzug, B.G., 1989)
Rute pemberian obat (Routes Of Administration) merupakan salah
satu factor yang mempengaruhi efek obat, karena karakterstik lingkungan
fisiologis anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak tubuh dan
tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda;
enzim-enzim dan getah- getah fisiologis yang terdapat di lingkungan
tersebut yang berbeda. Hal-hal ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang
dapat mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda,
tergantung dari rute pemberian obat. (Katzung, B.G., 1989)

13
14

Pemberian obat pada hewan uji pada percobaan ini dilakukan


melalui cara subkutan. Digunakan jarum injeksi yang berujung tumpul agar
tidak membahayakan bagi hewan uji (Siswandono, 1995)
Pada rute pemberian obat secara subkutan umumnya absorpsi
terjadi secara lambat dan konstant sehingga efeknya bertahan lama. Oleh
karena itu waktu yang dihasilkan ketika menimbulkan efek relatif lebih lama
dibandingkan dengan rute lainnya, karena obat diabsorsi secara lambat dan
konstan sehingga efeknya dapat bertahan lama sampai 23 menit sampai efek
obatnya habis (Tanu, 2008)
Pemberian obat secara Subkutan yaitu dengan melakukan
penyuntikan di bawah kulit pada daerah tengkuk,dengan terlebih dahulu
tengkuk dicubit dengan jempol dan telunjuk. kemudian bersihkan area kulit
yang akan disuntik dengan alcohol 70%. Masukkan cairan obat sebanyak 1
ml dengan menggunakan alat suntik secara horizontal dari arah depan
menembus kulit. Penyuntikan ini dilakukan dengan cepat untuk menghindari
pendarahan yang terjadi dengan kepala mencit (Adnan, 2013).
Obat yang digunakan yaitu, furosemid. Obat ini digunakan sebagai
perangsang diuresis (urine) untuk mengetahui efek dari pada obat ini bagi
fungsi ginjal. Dimana obat furosemide termasuk golongan “Loop Diuretic”.
Dan mekanisme kerja untuk obat furosemide adalah “Loop diuretic”
menghambat kotranspor Na+ /K+ /Cl dari membran lumen pada pars
asendens ansa Henle. Karena itu, reabsorbsi Na+, K+, Cl menurun. “Loop
diuretic” merupakan obat diuretik yang paling efektif, karena pars asendens
bertanggung jawab untuk reabsorbsi 25-30% NaCl yang disaring dan bagian distalnya tidak
mampu untuk mengkompensasi kenaikan muatan Na+ Efek per oral cepat (1/2-1
jam),bertahan selama 4-6 jam (Sukandar, 2008)
Furosemid bekerja pada epitel tebal ansa henle bagian asenden. Furosemid
menyebabkan peningkatan ekskresi K+ dan kadar asam uratplasma. Ekskresi Ca++ dan
Mg++ juga ditingkatkan sebanding denganpeninggian ekskresi Na+ . Diuretik
kuat meningkatkan ekskresi asam yang dapat dititrasi dari ammonia (Mycek, 2001)
15

Berdasarkan hasil pengamatan pada kelompok kami (pemberian obat


secara subkutan), ketika disuntikan furosemid mencit masih belum
menimbulkan efek. Setelah dimenit ke 10 mencit mengeluarkan urin. setelah
menit ke-15 tampaknya mencit mulai tenang. Kemudian pada menit ke-21
mencit mengeluarkan urine kembali dikarenakan efek dari obat furosemid
masih ada. Setelah menit-menit berikutnya, mencit mulai kembali aktif
dikarenakan efek dari obat furosemid telah habis.
16

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
1. Pemberian obat secara Subkutan yaitu dengan melakukan penyuntikan
di bawah kulit pada daerah tengkuk,dengan terlebih dahulu tengkuk
dijepit dengan jempol dan telunjuk. kemudian bersihkan area kulit
yang akan disuntik dengan alcohol 70%. Masukkan cairan obat
sebanyak 1 ml dengan menggunakan alat suntik secara horizontal dari
arah depan menembus kulit. Penyuntikan ini dilakukan dengan cepat
untuk menghindari pendarahan yang terjadi dengan kepala mencit
2. Onset dari mencit yaitu 10:48:49 sedangkan durasinya yakni 21:04:57
V.1 Saran
IV.2.1 Asisten
Cara pengarahan dalam praktikum sudah bagus dan efektif
sehingga sebaiknya dipertahankan.
IV.2.2 Praktikan
Diharapkan kepada praktikan dalam melakukan praktikum lebih
berhati-hati dalam menggunakan alat-alat dan hewan yang digunakan
dalam laboratorium
IV.2.2 Laboratorium
Diharapkan dalam pelaksanaan praktikum, kita dapat membangun
suasana dalam laboratorium yang tenang sehingga meminimalisir
kegaduhan dalam ruangan praktikum.

16
17

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, dkk. 2013. Penuntun Praktikum Pengembangan Hewan. Makassar:


Jurusan Biologi FMIPA UNM
Aziz., H.A. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep (Jilid
1). Jakarta: Salemba Medika
Green, E. (1968). Biology of The Laboratory Mouse. New York: Hill Book.
Katzung, B.G., 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi IV.Jakarta : Buku
Kedokteran EGC
Malole. 1989. Penggunaan Hewan – Hewan Percobaan Laboratorium. Bogor :
IPB. DitJen Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi.
Mycek, M.J.Harvey, R.A.Champe, P.C 2001. Mekanisme Transpor Tubulus
Ginjal Dalam Buku Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi II. Jakarta:
Widya Medika.
Moriwaki, K. 1994. Genetic in Wild Mice.Its Application to Biomedical Research.
Tokyo: Karger.
Siswando. 1995. Kimia Medisinil. Surabaya: Airlangga Press
Syamsuni. 2006. Ilmu Resep. Yogyakarta: Buku Kedokteran EGC
Sukandar dkk. 2008. ISO Farmakoterapi . Jakarta: PT .ISFI
Tanu, Ian. 2007. Farmakologi dan Terapi, Edisi Kelima. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI