Anda di halaman 1dari 8

Nama : Krismonik Dwi Maulida

NIM : 160342606270
Hari, Tanggal : Senin dan Rabu, 11 Maret 2018 dan 13 Maret 20118
Topik : pengelompokan paku, kunci determinasi paku dan pembelajaran lanjut paku (daur hidup)

JURNAL BELAJAR KEANEKARGAMAN TUMBUHAN KE 10

No. Konsep yang dipelajari pertanyaan Solusi Refleksi diri


1. Pengelompokan paku untuk mendapatkan 1. Apakah dalam setiap Solusi yang dapat saya  Kesulitan yang
kunci determinasi yaitu : pembuatan kunci lakukan agar memahami dihadapi adalah saat
a. Pengelompokan pertama yaitu determinasi harus materi tentang melakukan
dikelompokan berdasarkan perawakan terlebih dahulu pengelompokan paku pengelompokan
herba dan perakaran serabut dihasilkan melakukan dengan banyak untuk kunci
pengelompokan paku Adiantum, pengelompokan? membaca literature determinasi karena
Platycerium, Asplenium, Pteris, 2. Berasal dari sel apa seperti ebook dan jurnal harus menyesuaikan
Equisetum, Drymoglosum, Selaginella, pertumbuhan nasional maupun lilihan kata, dasar
Psilotum dan Lycopodium. indisum bagaimana internasional dan pengelompokan dan
b. Dibagi menjadi dua pengelompokan proses pembentukan bertanya pada dosen penempatan
yaitu pengelompokan pertama indisium sehingga apakah yang kita pahami kelompok yang
berdasarkan kuncup daun muda dapat berfungsi sesuai dengan materi. sesuai dan harus
menggulung (Asplenium dan Pteris sebagai pelindung Melakukan pengamatan semakin
merupakan tipe daun dimorfisme). sporangium dan langsung agar mengerucut
c. Pengelompokan pertama dikelompokan apakah perbedaan mengetahui perbedaan (spesifik).
spesifik berdasarkan habitat hidup yaitu mendasar dari mendasar pada setiap  Dengan adanya
(1) epifit dan memiliki indisium sejati insisium palsu dan paku dan jurnal belajar dapat
(Asplenium) dan (2) hidup di tanah, indisium sejati! membandingkan dengan menjadikan
tebing terjal, sifat indisium palsu (Pteris). 3. Apa yang literature. Pembuatan ringkasan
d. Pengelompokan kedua dikelompokkan membedakan kunci determinasi akan pembelajaran materi
berdasarkan (1) percabangan batang tumbuhan paku lebih mudah dengan yang sudah
monopodial yaitu pada (Equisetum dan dengan tumbuhan melakukan dijelaskan sehingga
Drymoglosum) kemudian dibagi lagi berpembuluh pengelompokan lebih dapat memahami
berdasarkan sporofil membentuk lainnya? dahulu agar kunci konsep dengan baik.
strobilus (Equisetum) dan sporofil tidak determinasi terlalu
membentuk strobilus dan merupakan tipe panjang atau berbelit-
daun dimorfisme (Drymoglosum). (2) belit.
percabangan batang dikotom yaitu pada
(Adiantum, Platycerium, Asplenium,
Selaginella, Psilotum dan Lycopodium)
kemudian dibagi berdasarkan tipe spora,
heterspora pada Sellaginela dan
homospora pada Adiantum, Platycerium,
Psilotum dan Lycopodium. Dibagi
berdasarkan sporangium membentuk
sorus (Platycerium dan Adiatum) dan
sporangium tidak membentuk sorus
(Psilotum dan Lycopodium).
Pengelompokan berdasarkan sporangium
membentuk sorus dibagi menjadi bentuk
spora oval (Platycerium) dan bentuk
spora segitiga (Adiatum).
Pengelompokan pada sporangium tidak
membentuk sorus dibagi berdasarkan
tipe daun yaitu tipe daun bersisik
(Psilotum) dan tipe daun mikrofil
(Lycopodium).

Kunci determinasi dapat dibuat dengan atau


tanpa mengacu pada hasil pengelompokan
yaitu,
1. Perawakan Herba (2)
2. a. Percabangan dikotom (3)
b. Percabangan Monopodial (4)
3. a. Tipe spora homospora (5)

b. Tipe spora heterospora (Selaginella)

4. a. Kuncup daun menggulung (Pteris)


b. Kuncup daun tidak menggulung (7)

5. a. Tipe daun sisik (Psilotum)

b. Tipe daun dimorfisme (Drymoglossum)

6. a. Tipe daun makrofil (Platycerium)

b. Tipe daun mikrofil (8)

7. a. Membentuk strobilus (Equisetum)

b. Membentuk sorus (Asplenium)

8. a. Tanpa indusium (Lycopodium)

b. Memiliki indusium (palsu) (Adiantum)

pembelajaran kelompok pada bab daur hidup


paku :

daur hidup pada selaginella:

sporofit selaginnella (2n) berkembang dan


membelah menjadi megasporofil (2n) dan
mikrosporofil (2n). megasporofil berkembang
menjadi megasporagium, sel induk megaspore
mengalami meiosis membentuk megaspore,
gametofit betina (n) menjadi arkegonium (n),
sel telur. Begitu juga pada mikrosporofil
berkembang menjadi mikrosporangium, sel
induk mikrospora kemudian mengalami
meiosis menjadi mikrospora, gametofit jantan
(n), anteridium berkembang menjadi sel sperma
dan mengalami fertilisasi ketika bertemu
dengan sel telur mengalami perkembangan
generasi sporofit. Hasil fertilisasi membentuk
oospore (2n) menjadi embrio (2n) dan menjadi
sporofit muda berkembang menjadi sporofit
selaginella dewasa.

Daur hidup pada Equisetum:

Sporofit Equisetum dewasa (2n) menghasilkan


strobilus (2n) membentuk sporangiofor (2n),
sporangium dan menjadi sel induk spora (2n)
kemudian mengalami meiosis membentuk
spora (n), protalus yang nantinya akan spesifik
membentuk anteridium (sel sperma) dan
arkegonium (sel telur) dan mengalami
fertilisasi membentuk oospore, embrio dan
menjadi sporofit muda dan berkembang
menjadi sporofit Equisetum dewasa.

Daur hidup Psilotum:

Sel sporogenous terdiri atas sel induk spora dan


menghasilkan spora, (generasi gametofit 2n)
spora berkembang menjadi gametofit yang
spesifik yaitu anteridum menjadi anterozoid
dan arkegonium menjadi sel telur kemudian
mengalami fertilisasi membentuk zigot,
menjadi sel sporofit muda dan berkembang
terus, berkembang menjadi synagium
(kumpulan 3 sporagium yang menghasilkan
spora) disebut generasi sporofit (2n).
perkembangan arkegonium pada Psilotum
berasal dari arkegonium initial yang
mmembelah menjadi sel sentral dan sel cover
primary, sel cover primary akan berkembang
menjadi sel leher initial, sedangkan sel sentral
akan membelah menjadi sel kanal primary dan
sel ventral primary, kedua sel tersebut (sel
kanal dan sel ventral) akan melebur menjadi
satu yaitu sel primary ventral. Primary ventral
kanal akan terus tertanam di basal membentu
sel telur sedangkan sel apikal membentuk sel
kanal leher dan sel ventral kanal yang
kemudian akan melebur ketika sel telur matang
untuk membentuk jalan atau lubang agar sel
sperma dapat masuk.

Daur hidup Pteridium:

Paku Pteridium memiliki daun fertile


mengandung sporangium yang megandung sel
induk spora yang akan berkembang menjadi
spora tetrad, spora akan mengalami
perkecambahan dan perkembangan menjadi
protalus dan berkembang menjadi antheridium
yang menghasilkan antherozoid dan
arkegonium yang berkembang menjadi sel
telur. Sel telur dan antherozoid mengalami
fertilisasi menjadi zigot, embrio dan menjadi
sporofit muda dengan protalus, berkembang
menjadi sporofit dewasa dan terdapat daun
fertile yang mengadung spora.