Anda di halaman 1dari 24

CONTOH SOAL CPM DAN PERT

Berikut ini Tabel yang berisi data-data tentang estimasi waktu dan biaya di bawah kondisi
normal dan dipercepat:

Sedangkan gambar networknya sebagai berikut:

Dengan demikian jalur kritisnya adalah: A - C - E

Andaikan manajemen menghendaki bahwa proyek diselesaikan dalam waktu 12


minggu, maka kegiatan yang diprioritaskan untuk dipercepat adalah kegiatan-kegiatan yang
berada pada jalur kritis, dan prioritas didasarkan pada yang memiliki biaya pencepatan per
unit yang paling kecil, sehingga urutan prioritasnya adalah sebagai berikut: E, C dan
kemudian A.

Penyelesaian proyek dari 16 minggu menjadi 12 minggu, atau dipercepat 4 minggu.

1. Kegiatan E dapat dipercepat 3 minggu dengan biaya pencepatan per minggu sebesar
Rp.0,3 juta

2. kegiatan C dapat dipercepat 1 minggu dengan biaya pencepatan per minggu sebesar
Rp.1 juta.
Total biaya bila proyek diselesaikan dalam waktu 12 minggu menjadi

(3 x Rp.0,3 juta) + (1 x Rp.1 juta) + Rp.35 juta = Rp.36,9 juta

Diagram networknya setelah dipercepat sebagai berikut:

Dari diagram network setelah dipercepat terlihat bahwa jalur kritisnya telah berubah, yakni
menjadi A - C - E dan B - D. Jadi ada dua jalur kritis.

Contoh Penjadwalan Proyek Metode PERT (Project Evaluation And Review Technique)

Sebagai contoh, berikut ini ditunjukkan tabel yang berisi Kegiatan proyek untuk
Network PERT dan hasil perhitungan Mean dan Standard Deviasi.

Pembahasan
Langkah pertama,
menentukan a, m, b, dan mean dan standar deviasi waktu dari setiap kegiatan. Semuanya
telah tersaji dalam tabel.

Langkah kedua
membuat network dan menentukan jalur kritisnya

Jadi dari network tersebut dapat disimpulkan bahwa jalur kritisnya adalah A - C- F - G.
dengan waktu rata-rata penyelesaian proyek adalah 25 minggu.

Langkah selanjutnya menghitung variasi waktu penyelesaian proyek, yakni:

Sementara, standar deviasi waktu penyelesaian proyek adalah

Langkah terakhir adalah menentukan berapa probabilitas apabila proyek direncanakan selesai
dalam waktu misalnya 27 minggu, bagaimana pula probabilitasnya bila diselesikan dalam
waktu 25 minggu. Terlebih dulu dihitung nilai Z

Z untuk T=27 minggu

Selanjutnya melihat nilai probabilitas untuk Z = 1,41 pada tabel di tabel Distribusi Z
Z=1,41 pada tabel distribusi normal menunjukkan angka probabilitas 0,92. Berarti
probabilitas proyek dapat diselesaikan selama 27 minggu adalah 92%. (Hendra Poerwanto G)
Contoh Soal Penjadwalan
Penjadwalan merupakan kumpulan kebijaksanaan dan mekanisme di ssistem operasi yang
berkaitan dengan urutan kerja yang dilakkan sistem komputer. Penjadwalan bertugas
memutuskan :
– Proses yang harus berjalan
– Kapan dan selama berapa lama proses itu berjalan.

Sasaran Utama Penjadwalan Proses


Optimasi kerja menurut kriteria tertentu
Kriteria untuk mengukur dan optimasi kinerja penjadwalan : [Tan-92] [MIL-92]
– Adil (fariness)
– Efesiensi
– Waktu tanggap (response time)
– Turn Arround Time
– Throughtput

Adil (Fairness)
Adil adalah proses-proses diperlukan sama yaitu mendapatkan jatah waktu pemroses yang
sama dan tak ada proses yang tidak kebagian layanan pemroses sehingga mengalami
startvision. Sasaran pendjadwalan seharusnya menjamin tiap proses mendapat pelayanan dari
pemroses yang adil.

Efesiensi
Efesiensi atau utilisasi pemroses dihitung dengan perbandingan (rasio) waktu sibuk
pemroses. Sasaran penjadwalan adalah menjaga agar pemroses tetap dalam keadaan sibuk
sehingga efesiensi mencapai maksimum. Sibuk adalah pemroses tidak menganggur, termasuk
waktu yang dihabiskan untuk mengeksekusi program pemakai dan sistem operasi.

Waktu Tanggap (Response Time)


Waktu tanggap berbeda untuk :
– Sistem interaktif
– Sistem waktu nyata

Waktu tanggap pada sistem interaktif (Interaktif)


Waktu tanggap dalam sistem interaktif didefinisikan sebagai waktu yang dihabiskan dari saat
karakter terakhir dari perintah dimasukkan atau transaksi sampai hasil pertama muncul
dilayar (terminal). Waktu tanggap ini disebut terminal response time.

Waktu tanggap pada sistem waktu nyata(Real Time)


Pada sistem waktu nyata, waktu tanggap didefinisikan sebagai waktu dari saat kejadian
(internal atau
eksernal) sampai instruksi pertama rutin layanan yang dimaksud dieksekusi, disebut event
response
time. Sasaran pendjadwalan adalah meminimalkan waktu tanggap.

Turn Arround Time


Turn arround time adalah waktu yang dihabiskan dari saat program atau job mulai masuk ke
system sampai proses diselesaikan sistem. Waktu yang dimaksud adalah waktu yang
dihabiskan dalam sistem, diekspresikan sebagai jumlah waktu eksekusi (waktu pelayanan
job) dan waktu menunggu, yaitu;
Turn Arround Time = waktu eksekusi + waktu tunggu
Sasaran penjadwalan adalah meminimalkan turn arround time.

Throughtput
Throughtput adalah jumlah kerja yang dapat diselesaikan dalam satu unit waktu. Cara untuk
mengekspresikan throughput adalah dengan jumlah job pemakai yang dapat dieksekusi dalam
satu unit/interval waktu. Sasaran penjadwalan adalah memaksimalkan jumlah job yang
diproses per satu interval waktu. Lebih tinggi angka throughput, lebih banyak kerja yang
dilakukan sistem. Kriteria-kriteria tersebut saling bergabung dan dapat pula saling
bertentangan sehingga tidak dimungkinkan optimasi semua kriteria secara simultan. Contoh :
Untuk memberi waktu tanggap kecil memerlukan penjadwalan yang sering beralih diantara
prosesproses itu. Cara ini meningkatkan overhead sistem dan mereduksi throughput.
Kebijaksanaan perancangan penjadwalan melibatkan kompromi diantara kebutuhan-
kebutuhan yang saling bertentangan. Kompromi ini bergantung sifat dan penggunaan sistem
komputer.

5.2 Tipe-Tipe Penjadwalan


Terdapat tiga tipe penjadwalan berada secara bersama-sama pada sistem operasi yang
kompleks, yaitu :
1. Penjadwal jangka pendek (short-tem scheduller)
2. Penjadwal jangka menengah (medium-term scheduller)
3. Penjadwal jangka panjang (long-term scheduller)

Penjadwal Jangka Pendek


Penjadwal ini bertugas menjadwalkan alokasi pemroses diantara proses-proses ready di
memori utama. Sasaran utama penjadwal ini memaksimalkan kinerja untuk memenuhi satu
kumpulan kriteria yang diharapakan. Penjadwal ini dijalankan setiap terjadi pengalihan
proses untuk memilih proses berikutnya yang harus dijalankan.

Penjadwal Jangka Menengah


Setelah eksekusi selama suatu waktu, proses mungkin ditunda karena membuat permintaan
layanan masukan/keluaran atau memanggil suatu system call. Proses-proses tertunda tidak
dapat membuat suatu kemajuan selesai sampai kondisi-kondisi yang menyebabkan tertunda
dihilangkan.

Agar ruang memori dapat bermanfaat, maka proses dipindah dari memori utama ke memori
sekunder agar tersedia ruang untuk proses-proseslain. Kapasitas memori utama terbatas untuk
sejumlah proses aktif. Aktivitas pemindahan proses yang tertunda dari memori utama ke
memori sekunder disebutswapping.

Penjadwal jangka menengah adalah menangani proses-proses swapping. Proses-proses


mempunyai kepentingan kecil saat itu sebagai proses yang tertunda. Tetapi, begitu kondisi
yang membuatnya terunda hilang dan proses dimasukkan kembali ke memori utama dan
ready. Penjadwal jangka menengah mengendalikan transisi dari suspended-ready (dari
keadaan suspend ke ready) proses-proses swapping.

Penjadwal Jangka Panjang


Penjadwal jangka panjang bekerja terhadap antrian batch dan memilih batch berikutnya yang
harus dieksekusi. Batch biasanya adalah proses-proses dengan penggunaan sumber daya yang
intensif (yaitu waktu proses, memori, perangkat I/O), program-program ini berprioritas
rendah, digunakan sebagai pengisi (agar pemroses sibuk) selama periode aktivitas job-job
interaktif rendah. Sasaran utama penjadwal jangka pangjang adalah memberi keseimbangan
job-job campuran. Dikaitkan dengan state-state proses.

5.3 Strategi Pendjadwalan


Terdapat dua strategi penjadwalan, yaitu:
1. Penjadwalan nonpreemptive (run – to – completion)
2. Penjadwalan preemptive

Penjadwalan Nonpreemptive
Begitu proses diberi jatah waktu pemroses maka pemroses tidak dapat diambil alih oleh
proses lain sampai proses itu selesai.

Penjadwalan Preemptive
Saat proses diberi jatah waktu pemroses maka pemroses dapat diambil alih proses lain
sehingga proses disela sebelum selesai dan harus dilanjutkan menunggu jatah waktu
pemroses tiba kembali pada proses itu.

Penjadwalan preemptive berguna pada sistem dimana proses-proses yang mendapat perhatian
tanggapan pemroses secara cepat. Misalnya :
– Pada sistem waktu nyata, kehilangan interupsi (yaitu interupsi tidak segera dilayani) dapat
berakibat fatal.
– Pada sistem interaktif/time-sharing, penjadwalan preemptive penting agar dapat menjamin
waktu tanggap yang memadai.

Penjadwalan preemptive bagus, tapi tidak tanpa ongkos. Perlaihan proses (yaitu proses
beralih ke proses lain) memerlukan overhead (karena banyak tabel yang dikelola). Agar
preemptive efektif, banyak proses harus berada di memori utama sehingga proses-proses
tersebut dapat segera running begitu diperlukan. Menyimpan banyak proses tak running
benar-benar di memori merupakan suatu overhead tersendiri.

5.4 Algoritma Penjadwalan


Terdapat banyak algoritma penjadwalan ,baik nonpreemptive maupun preemptive.
Algoritma-algoritma yang menerapkan strategi nonpreemptive diantaranya:
– FIFO (Frist In First Out)
– SJF (Shortest Job First)
– HRN (Highest Ratio Net)
– MFQ (Multiple Feedback Queues).
Algoritma-algoritma yang menerapkan strategi preemptive diantaranya:
– RR (Round Robin)
– SRF (Shortest remaining First)
– PS (Priority Schedulling)
– GS (Guaranteed Schedulle)

Penjadwalan Round Robin (RR)


Penjadwalan ini merupakan:
– Penjadwalan preemptive, buka dipreempt oleh proses lain tapi terutama oleh penjadwal
berdasarkan lama waktu berjalannya proses, disebut preempt-by-time.
– Penjadwalan tanpa protes.

Semua Proses dianggap penting dan diberi sejumlah waktu pemroses yang disebut kwata
(quantum) atau time slice dimana proses itu berjalan.

Ketentuan
Ketentuan algoritma round robin adalah sebagai berikut:
1.Jika kwanta habis dan proses belum selesai maka proses menjadi runable dan pemroses
dialihkan ke poses lain.
2.Jika kwanta belum habis dan proses menunggu suatu kejadian (selesainya operasi I/O),
maka proses menjadi blocked dan pemroses dialihkan ke proses lain.
3.Jika kwanta belum habis tapi proses telah selesai maka proses diakhiri dan pemroses
dialihkan ke proses lain.

Algoritma penjadwalan ini dapat diimplementasi sebagai berikut:


– Mengelola senarai proses ready (runnable) seusai urutan kedatangan.
– Ambil proses yang berada diujung depan antrian menjadi running.
– Bila kwanta belum habis dan proses selesai maka ambil proses diujung depan antrian proses
ready.
– Jika kwanta habis dan proses belum selesai maka tempatkan proses running ke ekor antrian
proses ready dan ambil proses diujung depan antrian proses ready.

Masalah penjadwalan ini adalah menentukan besar kwanta, yaitu:


– Kwanta terlalu besar menyebabkan waktu tanggap besar dan turn arround time rendah.
– Kwanta terlalu kecil mengakibatkan peralihan proses terlalu banyak sehingga menurunkan
efesiensi pemroses.

Harus ditetapkan kwanta waktu yang optimal berdasar kebutuhan sistem terutama dari hasil
percobaan atau data historis. Besar kwanta waktu beragam bergantung beban sistem.

Berdasarkan kriteria penilaian penjadwalan:


– Fairness
Penjadwalan RR adil bila dipandang dari persamaan pelayanan oleh pemroses.
– Efesiensi
Penjadwalan RR cenderung efesien pada sistem interaktif.
– Waktu tanggap
Penjadwalan RR memuaskan untuk sistem interaktif, tidak memakai untuk sistem waktu
nyata.
– Turn Arround Time
Penjadwalan RR cukup bagus.
– Throughput
Penjadwalan RR cukup bagus.

Penggunaan:
– Cocok untuk sistem interaktif-time sharing dimana kebanyakan waktu dipergunakan
menunggu kejadian eksternal. Contoh ; text-editor, kebanyakan waktu program adalah
menunggu keyboard, hingga dijalankan proses-proses lain.
– Tidak cocok untuk sistem real-time.

Penjadwalana FIFO
Penjadwalan ini merupakan:
– Penjadwalana non-preemptive
– Penjadwalan tidak berprioritas
Ketentuan:
Penjadwalan FIFO adalah penjadwalan paling sederhana, yaitu:
– Proses-proses diberi jatah waktu pemroses berdasarkan waktu kedatangan.
– Begitu proses mendapat jatah waktu pemroses, proses dijalankan sampai selesai.

Penjadwalan ini dikatakan adil dalam arti resmi (dalam semantik/arti antrian, yaitu proses
yang datangduluan, dilayani duluan juga), tapi dinyatakan tak adil karena job-job yang perlu
waktu lama membuat job-job pendek menunggu. Job-job tak penting dapat membuat job-job
penting menunggu.

FIFO jarang digunakan secara mandiri tapi dikombinasikan dengan skema lain, misalnya :
–keputusan berdasarkan prioritas proses. Untuk proses-proses berprioritas sama diputuskan
berdasarkan FIFO.

Berdasarkan kriteria penilaian penjadwalan :


– Fairness
Penjadwalan FIFO adil bila dipandang dari semantik antrian.
– Efesiensi
Penjadwalan FIFO sangat efesien
– Waktu tanggap
Penjadwalan FIFO sangat jelek, tidak cocok untuk sistem interaktif apalagi waktu nyata.
– Turn arround time
Penjadwalan FIFO jelek
– Throughput
Penjadwalan FIFO jelek.

Penggunaan:
– Cocok untuk sistem batch yang sangat jarang interaksi dengan pemakai. Contoh aplikasi
analisis numerik, pembuatan tabel.
– Penjadwalan ini sama sekali tak berguna untuk sistem interaktif karena tidak memberi
waktu tanggap yang bagus.
– Tidak dapat digunakan untuk sistem waktu nyata.

Penjadwalan Berprioritas (PS)


Ide penjadwalan adalah tiap proses diberikan prioritas dan proses berprioritas tinggi running
(mendapat jatah waktu proses).
Prioritas dapat diberikan secara :
– Prioritas statis
– Prioritas dinamis

Prioritas Statis
Prioritas statis berarti rioritas tak berubah
Keunggulan
– mudah diimplementasikan
– mempunyai overhead relatif kecil
Kelemahan
– Penjadwalan tak tanggap perbuhana lingkungan yang mungkin menghendaki penyesuaian
prioritas.

Prioritas Dinamis
Prioritas dinamis merupakan mekanisme menanggapi perubahan lingkungan sistem
beroperasi. Prioritas awal diberikan ke proses mungkin hanya berumur pendek setelah
disesuaikan ke nilai yanglebih tepat sesuai lingkungan.

Kelemahan
Implementasi mekanisme prioritas dinamis lebih kompeks dan mempunyai overhead lebih
besar. Overhead ini diimbangi dengan peningkatan daya tanggap sistem.

Contoh penjadwalan berprioritas


Proses-proses yang sangat banyak operasi I/O menghabiskan kebanyakan waktu menunggu
selesainya operasi I/O. Proses-proses ini diberi prioritas sangat tinggi sehingga begitu proses
memerlukan pemroses segera diberikan, proses akan segera memulai permintaan I/O
berikutnya hingga mengakibatkan proses blocked menunggu selesainya operasi I/O. Dengan
demikian pe mroses dapat dipergunakan proses-proses lain. Proses-proses I/O bound berjalan
paralel bersama proses-proses lain yang benar-benar memerlukan pemroses, sementara
proses-proses I/O bound itu menunggu selesainya operasi DMA.

Proses-proses yang sangat banyak operasi I/O kalau harus menuggu lama untuk memakai
pemroses (karena prioritas rendah) hanya akan membebani meori karena harus disimpan
tanpa perlu prosesproses itu dimemori karena tidak selesai-selesai menunggu operai I/O dan
menunggu jatah pemroses.

Algoritma Prioritas Dinamis


Algoritma dituntun oleh keputusan untuk memenuhi kebijaksanaan tertentu yang menjadi
tujuan.
Algoritma sederhana yang memberi layanan bagus adalah men-set prioritas dengan nilai 1/f
dimana f adalah ratio kwanta terakhir yang digunakan proses.
– Proses yang menggunakan 2 msec kwanta 100 ms maka prioritasnya 50.
– Proses yang berjalan selama 50 ms sebelum blocked berprioritas 2.
– Proses yang menggunakan seluruh kwanta berprioritas 1.
Keunggulan Algoritma Penjadwalan Berprioritas
Biasanya memenuhi kebijaksanaan yang ingin mencapai maksimasi suatu kriteria diterapkan.

Kombinasi
Algoritma penjadwalan berprioritas dapat dikombinasikan yaitu mengelompokan proses-
proses menjadi kelas-kelas prioritas. Penjadwalan berprioritas diterapkan antar kelas-kelas
proses itu. Penjadwalan round-robin atau FIFO diterapkan pada proses-proses di satu kelas.

Penjadwalan dengan Banyak Antrian (MFQ)


Penjadwalan ini merupakan:
– Penjadwalan preemptive (by-time)
– Penjadwalan berprioritas dinamis.
Penjadwalan ini untuk mencegah banyaknya swapping dengan proses-proses yang sangat
banyakmenggunakan pemroses (karena menyeelesaikan tugasnya memakan waktu lama)
diberi jatah waktu (jumlah kwanta) lebih banyak dalam satu waktu.
Penjadwalan ini menghendaki kelas-kelas prioritas bagi proses-proses yang ada. Kelas
tertinggi berjalan selama satu kwanta, kelas berikutnya berjalan selama dua kwanta, kelas
berikutnya berjalan empat kwanta, dan seterusnya. Ketentuan yang berlaku adalah sebagai
berikut:
– Jalankan proses pada kelas tertinggi
– Jika proses menggunakan seluruh kwanta yang dialokasikan maka diturunkan
kelas prioritasnya.
– Proses yang masuk untuk pertama kali ke sistem langsung diberi kelas tertinggi.
Mekasnime ini dapat mencegah proses yang perlu berjalan lama swapping berkali-kali dan
mencegah proses-proses interaktif yang singkat harus menunggu lama.

Penggunaan
Sistem dengan banyak proses lambat, memerlukan waktu dan juga terdapat banyak proses
singkat.

Penjadwalan Terpendek, Duluan (SJF)


Penjadwalan ini merupakan :
– Penjadwalan non-preemptive
– Penjadwalan tak berprioritas
Penjadwalan ini mengasumsikan waktu jalan proses(sampai selesai) diketahui sebelumnya.
Mekanisme penjadwalan adalah menjadwalkan proses dengan waktu jalan terpendek lebih
dulu sampai selesai.
Penjadwalan mempunyai efesien tinggi dan turn arround time rendah.

Contoh :
Terdapat empat proses A,B,C,D dengan jalam selama 8,7,6,5 kwanta.
Gambar 5.2a menunjukkan cara I, dengan proses-proses dijadwalkan berurutan sebagai
A,B,C,D. Gambar 5.2b menunjukkan bila proses-proses dijadwalkan secara SJF yaitu
berurutan B,C,D,A

Kedua cara menghasilkan turn arround time ditunjukan gambar 5.2c. Cara I trun arround time
rata-rata adalah 17,5 kwanta sedang cara II adalah 15 kwanta.
Walaupun mempunyai turn arround yang bagus, SJF mempunyai yaitu:
– Tidak dapat mengetahui ukuran job saat job masuk
– Proses yang tidak datang bersamaan, sehingga penetapannya harus dinamis.

Untuk mengetahui ukuran job agar dapat ditetapkan yang terpendek biasanya dilakukan
pendekatan. Pendekatan yang biasa dilakukan adalah membuat estimasi berdasar kelakuan
sebelumnya.

Penggunaan
Jarang digunakan, merupakan kajian teoritis untuk pembandingan turn arround time.
Contoh Penentuan Lot Size dalam Material Requirement
Planning (MRP)
Sebuah perusahaan manufaktur hendak menetukan besarnya lot. Berikut ini informasi yang
didapat:
Cost per komponen atau harga per komponen : 10$
Order atau set-up cost per order (SC) atau biaya pesan per pemesanan : 47$
Carrying Cost/week atau Holding Cost (HC) atau biaya simpan per minggu 10%
Kebutuhan bersih minggu ke-1 sebanyak 50 unit, minggu ke-2 sebanyak 60 unit, minggu ke-
3 sebanyak 70 unit, minggu ke-4 turun menjadi 60 unit, mingu ke-5 sebanyak 95 unit,
minggu ke-6 sebanak 75 unit, minggu ke-7, 60 unit dan minggu ke-8 sebanyak 55 unit.

Tentukan metode lot sizing bila alternatif teknik lot sizing yang akan digunakan adalah 1) Lot
For Lot (L4L), 2) Economic Order Quantity, 3) Least Total Cost (LTC) dan 4) Least Unit
Cost (LUC)

Pembahasan
Untuk menentukan metode lot sizing mana yang sebaiknya digunakan, dilakukan analisis
dampak biaya persediaan dari setiap alternatif teknik lot sizing. Berikut analisis untuk tiap-
tiap teknik lot sizing:

1) Lot for Lot (L4L)

Yakni suatu teknik penentuan lot size yang jumlahnya sama dengan jumlah
pesanan/kebutuhan. Dengan demikian L4L menyusun pesanan yang direncanakan tepat
sesuai dengan kebutuhan bersih, memproduksi secara tepat apa yang dibutuhkan setiap
minggu, sehingga meminimumkan biaya simpan dan tidak memperhitungkan biaya set up
dan keterbatasan kapasitas.
Bila contoh soal di atas diselesaikan dengan menggunakan metode L4L, maka Perhitungan
dan skedul MRP dengan metode L4L adalah sbb:

Minggu Net.R Prod. Quant. End. Inv. HC SC TIC

1 50 50 0 0 47 47

2 60 60 0 0 47 94

3 70 70 0 0 47 141

4 60 60 0 0 47 188

5 95 95 0 0 47 235
6 75 75 0 0 47 282

7 60 60 0 0 47 329

8 55 55 0 0 47 376

Keterangan
HC = biaya simpan. Dihitung dengan cara End Inventory x biaya simpan perminggu
Misalnya pada minggu pertama End Inventory = 0 dan biaya simpan per minggu = 10% x 10
= 1, maka HC = 0 x 1 = 0

SC = biaya pesan setiap kali pesan. Dihitung dengan cara: product quantity x biaya pesan
setiap kali pemesanan
Misalnya pada minggu pertama, Net Requirement = 50 dan product quantity = 50 jadi
pemesanan hanya dilakukan 1x, sedang biaya pesan setiap kali pemesanan sebesar 47, maka
SC = 1 x 47 = 47.

Hasil perhitungan sebagaimana terlihat pada tabel di atas menunjukkan bahwa bila digunakan
metode L4L, TIC untuk 8 minggu adalah 376

2) Economic Order Quantity

Yakni penentuan jumlah lot size dengan menggunakan konsep EOQ yang secara eksplisit
menyeimbangkan biaya simpan dan pesan tahunan.Dalam model EOQ permintaan
diasumsikan konstan, atau dengan kata lain diperlukan safety stock untuk mengantisipasi
variabilitas permintaan. EOQ menggunakan estimasi total permintaan tahunan, stup cost atau
order cost, dan holding cost tahunan. EOQ tidak didisain untuk sistim dengan periode waktu
yang diskrit seperti halnya MRP. MRP mengasumsikan bahwa kebutuhan telah dipenuhi pada
awal periode. Holding cost hanya diperhitungkan pada persediaan akhir, tidak dihitung
berdasarkan rata-rata persediaan sebagaimana EOQ. Sementara EOQ berasumsi bahwa
penggunaan persediaan didasarkan pada basis kontinyu selama periode. Berdasarkan hal-hal
tersebut maka pemecahan contoh sola di atas bila digunakan metode EOQ akan sebagai
berikut:

Permintaan tahunan berdasarkan kebutuhan 8 minggu = D= (525/8) x 52 = 3.412, 5 unit


Holding cost tahunan = H = 0,5% x 10 x 52 = 2,6
Set up cost = S = 47 (tetap)
dengan menggunakan rumus EOQ diperoleh EOQ sebesar 351, sehingga pemesanan pertama
kali sebanyak 351 unit
selengkapnya skedul pemesanan MRP dengan loot sizing EOQ adalah sebagai berikut:
Minggu Net. Prod. Quant. Ending. Invent. HC SC TIC
Req

1 50 351 301 15,05 47 62,05

2 60 0 241 12,05 0 74,1

3 70 0 171 8,55 0 82,65

4 60 0 111 5,55 0 88,2

5 95 0 16 0,8 0 89

6 75 351 292 14,6 47 150,6

7 60 0 232 11,6 0 162,2

8 55 0 177 8,85 0 171,05

Keterangan:
cara menghitung HC dan SC sama dengan cara menghitung HC dan SC pada teknik L4L

Dari perhitungan yang ditunjukkan pada tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bila
digunakan metoda EOQ, maka TIC akan sebesar 171,05

3) Least Total Cost (LTC)

Metode ini merupakan metode penentuan lot size yang dinamis yang menghitung jumlah
komponen yang dipesan dengan membandingkan antara biaya simpan dan biaya pesan untuk
berbagai lot size dan memilih lot yang memiliki biaya simpan dan biaya pesan yang hampir
sama. Bila lot sizing Jumlah Pembelian dihitung dengan metoda LTC, maka perhitungan
dilakukan
dengan melakukan simulasi yakni alternatif pertama setiap minggu memesan sejumlah
kebutuhan sehingga minggu 1 memesan 50 dan seterusnya, alternatif kedua kebutuhan
minggu 1 dan 2 dipesan sekaligus yakni 110 ( 50+60) ,alternatif ketiga kebutuhan minggu
pertama sampai minggu 3 dipesan sekaligus yakni 180 (50+60+70)
dst... seperti dalam tabel berikut

Mingg Jumlah yang dipesan CC OC TIC Keterangan


u

1 50 0 47 47

1-2 110 3 47 50

1-3 180 10 47 57

1-4 240 19 47 66

1-5 335 38 47 85 *LTC

1-6 410 56,75 47 103,75

1-7 470 74,75 47 121,75

1-8 525 94 47 141

6 75 0 47 47

6-7 135 3 47 50

6-8 190 8,5 47 55,5 * LTC

Dengan demikian pemesanan pertama sebanyak 335 unit untuk memenuhi kebutuhan selama
5 minggu yakni minggu 1 hingga 5. dan kemudian dilakukan reorder sebanyak 190 unit untuk
memenuhi kebutuhan selama tiga minggu yakni minggu ke enam hingga minggu ke delapan.
Selanjutnya, skedul MRP-nya adalah sebagai berikut:

Mingg Net Req Prod. Quant. Ending HC SC TIC


u Invent.

1 50 335 285 14,25 47 61,25


2 60 0 225 11,25 0 72,5

3 70 0 155 7,75 0 80,25

4 60 0 95 4,75 0 85

5 95 0 0 0 0 85

6 75 190 115 5,75 47 137,75

7 60 0 55 2,75 0 140,5

8 55 0 0 0 0 140,05

Berdasarkan perhitungan di atas, dapat disimpulkan bahwa bila digunakan metoda LTC maka
TIC untuk 8 minggu sebesar 140,05

4) Least Unit Cost (LUC)

Metode ini juga merupakan metode dinamis yang pemilihan lot didasarkan pada kriteria total
biaya (biaya simpan+biaya pesan) per unit yang terkecil. Dengan menggunakan contoh soal
yang sama dengan sebelumnya, maka perhitungan LUC adalah sebagai berikut:

Mingg Quant. ordered CC O TC UC Keterangan


u C

1 50 0 47 47 0,94

1-2 110 3 47 50 0,4545

1-3 180 10 47 57 0,3167

1-4 240 19 47 66 0,2750

1-5 335 38 47 85 0,2537


1-6 410 56,75 47 103,75 0,2530 *LUC

1-7 470 74,75 47 121,75 0,2590

1-8 525 94 47 141 0,2686

7 60 0 47 47 0,7833

7-8 115 2,75 47 49,75 0,4326 *LUC

Berdasarkan model LUC pembelian pertama kali dilakukan sebanyak 410 untuk memenuhi
kebutuhan minggu pertama hingga minggu keenam. Kemudian pembelian kedua sebanyak
115 untuk memenuhi kebutuhan minggu ke tujuh dan ke delapan. Skedul MRP menjadi
sebagai berikut:

Mingg Net Req Prod. Quant. Ending Invent. HC SC TIC


u

1 50 410 360 18 47 65

2 60 0 300 15 0 80

3 70 0 230 11,5 0 91,5

4 60 0 170 8,5 0 100

5 95 0 75 3,75 0 103,75

6 75 0 0 0 0 103,75

7 60 115 55 2,75 47 153,5

8 55 0 0 0 0 153,5
Dari skedul MRP di atas dapat dilihat bahwa bila pengadaan inventori dilakukan dengan
menggunakan model LUC maka total cost untuk delapan minggu sebesar 153,5.

Berdasarkan analisis biaya TIC, maka untuk situasi dan kondisi seperti yang ada dalam kasus,
penentuan inventori disarankan menggunakan model LUC karena menghasilkan TIC yang
terendah .

Contoh Perhitungan Material Requirement Planning (MRP)

Berdasarkan data skedul produksi master diperlukan 1250 Sebuah produk akhir “Z”
yang harus diselesaikan dalam waktu 15 minggu. Lead time untuk produk akhir 1 minggu.
Untuk membuat 1 unit Z diperlukan 1 unit A. Sementara untuk membuat 1 unit A diperlukan
komponen B sebanyak 1 unit. 1 unit B dibuat dengan menggunakan komponen C sebanyak 1
unit. Berikut ini data tentang inventori di tangan (inventory on hand) dan lead time.

Komponen Inventory on hand Lead times

A 450 4

B 250 1

C 500 2

Diminta

1. Membandingkan kebutuhan bersih atau Net Component Requirement (NCR) yang


dihitung dengan menggunakan cara lama (tradisional) dan dengan menggunakan
pendekatan MRP!

2. Membuat bagan product structure tree!

3. Menentukan kapan dilakukan pemesanan untuk tiap-tiap komponen agar produk akhir
dapat diselesaikan tepat pada waktunya!

4. Membuat skedul MRP dimana lot sizing dengan menggunakan teknik L4L atau
jumlah pemesanan sesuai dengan kebutuhan bersih!

Pembahasan
 Membandingkan kebutuhan bersih atau Net Component Requirement (NCR) yang
dihitung dengan menggunakan cara lama (tradisional) dan dengan menggunakan
pendekatan MRP

NCR yang dihitung dengan cara lama:


NCR sama dengan jumlah komponen yang diperlukan untuk memenuhi permintaan produk
akhir dikurangi persediaan komponen, sehingga:

Kompone Jumlah komponen Jumlah NCR


n untuk membuat 1250 persediaan
produk akhir

A 1250 450 800

B 1250 250 1000

C 1250 500 750

NCR dihitung dengan pendekatan MRP


NCR sama dengan kebutuhan kotor komponen dikurang skedul penerimaan (scheduled
receipts) dikurangi persediaan komponen, sehingga:

Kompone Gross Scheduled Number of NCR


n component receipts components in
requirement inventory

A 1250 0 450 800

B 800 0 250 550

C 550 0 500 50

 Membuat bagan product structure tree

Berdasarkan informasi tentang pembuatan produk akhir berikut jenis dan jumlah komponen-
komponen yang diperlukan untk membuat produk akhir, maka dapat disusun pohon struktur
produk sebagai berikut:
 Menentukan kapan dilakukan pemesanan untuk tiap-tiap komponen agar produk akhir
dapat diselesaikan tepat pada waktunya

Produk akhir harus sudah tiba dalam minggu 15 , sementara lead timenya 1 minggu, maka
produk akhir harus sudah seleai paling lambat akhir minggu ke-14 (=15-1). Total lead time
semua komponen penyusun produk akhir adalah 7 minggu, sehingga skedul untuk periode ke
depan produk akhir harus sudah dikirim pada minggu ke-21(=14+7). Oleh karena pada
minggu ke-21 harus sudah tiba ke konsumen , sementara lead time produk akhir 1 minggu
maka produk tersebut harus sudah selesai paling lambat akhir minggu ke 20 (=21-1). Dengan
demikian saat pemesanan masing-masing komponen dapat ditentukan sebagai berikut:

Komponen A selesai dikirim minggu ke 20

Lead time A 4 (-)

Saat pemesanan A minggu ke 16

Komponen B selesai dikirm minggu ke 16

Lead time B 1(-)

Saat pemesanan B minggu ke 15

Komponen C selesai dikirim minggu ke 15

Lead time C 2(-)

Saat pemesanan C minggu ke 13

 Membuat skedul MRP

Setelah menghitung NCR, membuat pohon struktur produk dan menentukan saat produk
akhir harus selesai serta saat pemesanan komponen harus dilakukan maka dapat dibuat skedul
MRP dengan mengikuti format sbb:
Komp Ketr. Minggu

13 14 15 16 17 18 19 20 21

Z Gross 1250
requirement
Lt=1

Scheduled 0
receipts

On-hand 0
inventory

NCR 1250

Planned 1250*
order
release

A Gross 1250
requirement
Lt=4

Scheduled 0
receipts

On-hand 450
inventory

NCR 800

Planned 800*
order
release
B Gross 800
requirement
Lt=1

Scheduled 0
receipts

On-hand 250
inventory

NCR 550

Planned 550*
order
release

C Gross 550
requirement
Lt =2

Scheduled 0
receipts

On-hand 500
inventory

NCR 50

Planned 50*
order
release
Contoh Kasus Inventory
Suatu perusahaan memiliki kebutuhan material sebesar 100.000 unit per tahun. Biaya pesan
$35/order. Biaya simpan sebesar 20% dari harga beli material. Pihak supplier menawarkan
suatu penawaran khusus untuk pengadaan material tersebut dalam bentuk harga potongan.
Adapun syaratnya adalah sbb:
Kuantitas pembelian Harga
4000 – 7999 unit $1.80
Lebih dari 8000 unit $1.70
Pertanyaan:
Di unit berapakah sebaiknya perusahaan melakukan pembelian.

 Kuantitas pembelian paling sedikit 8000 unit

Harga beli (C) = $1.70


H = $1.70 x 0.2 = $0.34
EOQ = 2 x 35 x 100000 = 4537.43 unit (tidak feasible)
0.34
TC = 100000 x $1.70 + 0.34 x (8000/2) + 35 x (100000/8000)
= $ 171,795.5

 Kuantitas pembelian 4000 – 7999 unit

harga beli = $180


H = $1.80 x 0.2 = $0.36
EOQ = 2 x 35 x 100000 = 4409.59 = 4409.59 unit
0.36
TC = 100000 x $1.80 + 0.36 x (4409.59/2) + 35 x (100000/4409.59)
= $181,587.5
Jadi yang dipilih adalah kuantitas pembelian 8000 unit karena memiliki total biaya terkecil