Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anak memiliki nilai yang sangat berharga baik bagi keluarga maupun bangsa. Setiap

orangtua menginginkan anaknya sehat sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan

optimal dan dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan tangguh (Widyastuti &

Widyani, 2008, dalam Daniati, 2010). Salah satu hal atau peristiwa yang akan membuat

orangtua cemas dengan pertumbuhan ataupun perkembangan anaknya adalah ketika anaknya

sakit. Hal ini dikarenakan pada saat anak sakit biasanya diikuti dengan perubahan sifat atau

sikap misalnya anak akan lebih rewel, mudah marah, sering menangis dan gelisah (Widjaja,

2001).

Kesehatan anak menjadi perhatian khusus para ibu, terlebih saat pergantian musim,

biasanya mewabah saat musim peralihan baik musim kemarau ke penghujan maupun

sebaliknya. Indonesia sebagai wilayah tropis menjadi tempat cocok bagi kuman untuk

berkembang biak yang biasanya flu, malaria, demam berdarah, dan diare. Terjadinya

perubahan cuaca membuat kondisi anak dari sehat menjadi sakit yang mengakibatkan tubuh

bereaksi untuk meningkatkan suhu yang disebut demam. Demam adalah peningkatan suhu

badan yang abnormal atau lebih tinggi dari biasanya dan merupakan gejala suatu penyakit

tertentu (Maryunani, 2010).

Demam berdarah dengue (DBD) menjadi masalah kesehatan global pada decade terakhir

dengan meningkatnya insiden DBD didunia. WHO melaporkan lebih dari 2,5 miliar orang

dari 2/5 populasi dunia saat ini beresiko terinfeksi virus dengue. Jumlah Negara yang

melaporkan kasus DBD dari tahun ke tahun terus meningkat. Tercatat tahun 2007 ada 68

negara yang melaporkan kasus ini. Jumlah tersebut meningkat dari tahun 1999 dimana hanya
2

29 negara saja yang melaporkan. Saat ini lebih dari 100 negara di afrika, Amerika,

Mediterania Timur, Asia Tenggara dan Pasifik Barat merupakan wilayah dengan dampak

DBD serius. Perluasan wilayahyang melaporkan kasu DBD juga terjadi di Indonesia. Jumlah

kabupaten / kota yang menjadi endemis dari tahun ke tahun meningkat. Tahun 2006 hanya

200 kabupaten / kota saja, sedangkan tahun 2007 menjadi 350 kabupaten / kota dan pada

tahun 2010 mencapai 464 kabupaten / kota.

Virus DHF dibawa oleh nyamuk Aedes Aegepty yang masuk ke dalam tubuh manusia

dengan masa inkubasi DHF antara 3-15 hari, gejala klinis rata- rata muncul pada hari kelima

sampai hari kedelapan mulai dari demam akut yang tetap tinggi (2-7 hari) disertai dengan

gejala yang tida spesifik seperti anoreksia dan malaise. Adanya perdaraha saat uji torniquet

positif dan ruple leed positif, perdarahan pada gusi, ptechiase, epistaksi, hematesis atau

melena. Terdapat 4 tahapan derajat keparahan dalam DHF, yaitu derajat I dmulai dengan

demam yang disertai dengan gejala tidak khas dan uji toorniquet positif. Derajat II yaitu

derajat I yang disertai dengan perdarahan spontan dikulit atau perdarahn lain. Derajat III,

yaitu adanya kegagalan sirkulasi seperti nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan

lembab, dan gelisah. Derajat IV, yaitu adanya renjatan yang berat, seperti denyut nadi dan

tekanan darah tidak dapat diukur yang disertai Dengue Shock Sindrom (Titik Lestari, 2016).

Penatalaksanaan dan penanganan untuk pasien DHF yaitu, pemberian makanan lunak

dan diberi minum 1,-2 liter dalam 24 jam, untuk hipereksia dapat diberikan kompres hangat,

berikan antibiotic bila terdapat kemungkinan terjadi infeksi (Nabiel Ridha, 2014). Sedangkan

pada pasien dengan tanda renjatan dilakukan dengan pemasangan infus RL/Asering dan

dipertahanakan selama 12-48 jam setelah renjatan teratasi, dan mengobservasi keadaan

umum (tanda- tanda vital). Pada fase demam pasien dianjurkan untuk tirah baring, minum

obat antipiretika (penurunan demam) atau kompres hangat apabila demam tinggi (Chen,

2009). Pemeriksaan suhu tubuh yang lebih tinggi dari rentang normal yaitu 36o-37oC. Pada
3

saat pengukuran suhu rektal >38oC atau suhu oral >37,8oC atau suhu aksila >37,2oC. Pada

suhu bayi yang berumur kurang dari 3 bulan, dikatakan demam apabila suhu rektal >38oC

sedangkan pada bayi lebih dari 3 bulan apabila suhu aksila dan oral lebih dari 38,2oC

(Susanti, 2013).

Salah satu penanganan yang dapat dilakukan dalam penuruna suhu tubuh adalah

dengan cara kompres hangat (Kozier, 2009). Kompres hangat merupakan penangan

nonfarmakologis (terapi fisik) yang dapat dilakukan dengan menggunakan kain atau handuk

yang telah dicelupkan pada air hangat dan di tempelkan pada daerah tertentu seperti

dahi/kepala, ketiak, lipatan paha sehingga memberikan rasa nyaman dan menurunkan suhu

tubuh. Tindakan kompres hangat merupakan tindakan yang cukup efektif dalam menurunkan

demam, namun pelaksanaan kompres hangat saat ini lebih sering dilakukan oleh orang tua

klien, perawat hanya memfasilitasi kom yang berisi air hangat dan waslap, serta memberikan

edukasi mengenai kompres hangat. Oleh karena itu, penggunaan antipiretik tidak diberikan

secara otomatis pada setiap keadaan (Mohamad, 2013).

Penelitian Sodikin dan Yulistiani (2010) melakukan penelitian efektifitas penurunan

suhu tubuh menggunakan kompres hangat dan kompres plester di daerah dahi pada anak

demam dengan hasil penelitian menyebutkan rerata penurunan suhu tubuh setelah pemberian

kompres hangat 0,7o C dan pemberian kompres plester reratanya 0,30o C Hal ini dapat

disimpulkan pemberian kompres hangat lebih efektif untuk penurunan suhu tubuh pada anak

demam dibanding kompres plester.

Hasil penelitian dari Susanti (2013) yang melakukan penelitian tentang efektifitas

kompres dingin dan hangat dengan menggunakan metode quasi eksperimen two group. Untuk

kompres dingin tidak efektif untuk mengatasi demam karena memicu terjadinya

vasokonstriksi dan shivering, sedangkan pemakaian kompres hangat efektif untuk mengatasi

demam memicu vasodilatasi yang dapat meningkatkan pengeluaran panas tubuh.


4

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk untuk mengetahui

bagaimana gambaran asuhan keperawatan pemberian kompres hangat untuk menurunkan

suhu tubuh pada anak dengan DHF.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang yang telah diuraikan di atas maka masalah pokok

yang hendak di rumuskan adalah : bagaimana gambaran asuhan keperawatan pemberian

kompres hangat untuk menurunkan suhu tubuh pada anak DHF di Ruang anak

1.3 Tujuan Studi Kasus

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran asuhan keperawatan dalam pemberian kompres hangat

untuk menurunkan suhu tubuh pada pasien anak yang mengalami DHF.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Menggambarkan pengkajian dalam pemberian kompres hangat untuk menurunkan suhu

tubuh pada anak dengan DHF.

b. Menggambarkan diagnosa keperawatan dalam pemberian kompres hangat untuk

menurunkan suhu tubuh pada anak dengan DHF .

c. Menggambarkan rencana keperawatan dalam pemberian kompres hangat untuk

menurunkan suhu tubuh pada anak dengan DHF.

d. Menggambarkan implemetasi dalam pemberian kompres hangat untuk menurunkan suhu

tubuh pada anak dengan DHF.

e. Menggambarkan evaluasi dalam pemberian kompres hangat untuk menurunkan

suhu tubuh pada anak dengan DHF.


5

1.4 Manfaat Studi Kasus

Studi kasus ini, diharapkan memberikan manfaat bagi :

a. Masyarakat

Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam pemberian kompres hangat untuk

menurunkan suhu tubuh pada pasien anak dengan DHF.

b. Bagi Pengembangan Ilmu dan Teknologi Keperawatan

Hasil penelitian studi kasus ini diharapkan dapat menambah keluasan ilmu dan teknologi

terapan di bidang perawatan dalam pemberian kompres hangat untuk menurunkan suhu

tubuh pada pasien anak dengan DHF.

c. Penulis

Manfaat peneliti studi kasus ini bagi penulis adalah memperoleh pengalaman dalam

mengimplementasikan pemberian kompres hangat pada pasien anak dengan DHF.


6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep dasar

1. Suhu

a. Pengertian

Suhu yang dimaksud adalah “panas” atau “dingin” suatu substansi. Suhu

tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang diproduksi oleh proses tubuh dan

jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar (Perry & Potter, 2005).

b. Pengatur suhu tubuh

Tingkah laku adalah fungsi seluruh sistem saraf, bukan bagian tertentu apapun.

Fungsi sistem saraf ini terutama dilakukan oleh struktur subkortikal yang terletak

di daerah basal otak. Seluruh kelompok struktur ini disebut sistem limbik (Guyton,

1996).

Bagian-bagian sistem limbik, terutama hipotalamus dan struktur-strukturnya

yang saling berhubungan. Bagian-bagian tersebut mengatur banyak fungsi internal

tubuh yaitu salah satunya adalah pengatur suhu tubuh (Guyton, 1996).

Gambar 1.
Hipotalamus pada manusia

Sumber: www.googleimages.co.id
7

Limbik mengatur banyak fungsi utama tubuh terutama fungsi vegetatif, yang

merupakan fungsi involunter yang penting bagi kehidupan. Beberapa fungsi ini

meliputi (1) regulasi kecepatan denyut jantung dan tekanan arteri, (2) regulasi suhu

tubuh, (3) regulasi osmolaritas cairan tubuh, (4) regulasi masukan makanan, (5)

regulasi sekresi hormon pituitaria (Guyton, 1996).

Hipotalamus yang terletak antara hemisfer serebral, mengontrol suhu tubuh

sebagaimana kerja termostat dalam rumah. Suhu yang nyaman adalah pada set

point dimana sistem panas beroperasi. Hipotalamus merasakan perubahan ringan

pada suhu tubuh. Hipotalamus anterior mengontrol pengeluaran panas, dan

hipotalamus posterior mengontrol produksi panas (Potter & Perry, 2005).

Bila sel saraf di hipotalamus anterior menjadi panas melebihi set point, impuls

dikirim untuk menurunkan suhu tubuh. Mekanisme pengeluaran panas termasuk

berkeringat, vasodilatasi (pelebaran) pembuluh darah, dan hambatan produksi

panas. Darah di distribusi kembali ke pembuluh darah permukaan untuk

meningkatkan pengeluaran panas. Jika hipotalamus posterior merasakan suhu

tubuh lebih rendah dari set point, mekanisme konversi panas bekerja.

Vasokonstriksi pembuluh darah mengurangi aliran darah ke kulit dan ekstremitas

(Potter & Perry, 2005).

Kompensasi produksi panas distimulasi melalui kontraksi otot volunter dan

getaran (menggigil) pada otot. Bila vasokonstriksi tidak efektif dalam pencegahan

tambahan pengeluran panas, tubuh mulai menggigil (Potter & Perry, 2005).

Panas di produksi di dalam tubuh melalui metabolisme yang merupakan

reaksi kimia pada semua sel tubuh. Termoregulasi membutuhkan fungsi normal

dari proses produksi panas. Produksi panas terjadi selama masa istirahat, gerakan
8

otot polos, getaran otot dan termogenesis tanpa menggigil. Proses produksi panas

dalam tubuh adalah sebagai berikut:

1) Metabolisme basal menghasilkan panas yang diproduksi tubuh saat istirahat.

Jumlah rata-rata laju metabolik basal (BMR) bergantung pada luas permukaan

tubuh.

2) Gerakan volunter seperti aktivitas otot selama latihan, membutuhkan tambahan

energi. Laju metabolik dapat meningkat di atas 2000 kali normal. Produksi

panas dapat meningkat 50 kali normal.

3) Menggigil merupakan respon tubuh involunter terhadap suhu yang berbeda

dalam tubuh. Gerakan otot skelet selama menggigil membutuhkan energi yang

signifikan. Menggigil dapat meningkatkan produksi panas 4-5 kali lebih besar

dari normal. Panas diproduksi untuk mempertahankan suhu tubuh.

Pengeluaran dan produksi panas terjadi secara simultan. Struktur kulit dan

paparan terhadap lingkungan secara konstan, pengeluaran panas secara normal

melalui radiasi, konduksi, konveksi, evaporasi dan diaforesis. Pengeluaran panas

adalah sebagai berikut:

1) Radiasi adalah perpindahan panas dari permukaan suatu objek ke permukaan

objek lain tanpa keduanya bersentuhan (Thibodeau & Patton, 1993 dalam

Potter & Perry, 2005). Aliran darah dari organ internal inti membawa panas ke

kulit dan ke pembuluh darah permukaan. Jumlah panas yang dibawa ke

permukaan tergantung dari tingkat vasodilatasi dan vasokonstriksi yang diatur

oleh hipotalamus. Panas menyebar dari kulit setiap objek yang lebih dingin

sekelilingnya.

2) Konduksi adalah perpindahan panas dari satu objek ke objek lain dengan

kontak langsung. Ketika kulit hangat menyentuh objek yang lebih dingin, panas
9

hilang. Ketika suhu dua objek sama, kehilangan panas konduktif terhenti.

Konduksi normalnya menyebabkan sedikit kehilangan panas.

3) Konveksi adalah perpindahan panas karena gerakan udara. Arus udara

membawa udara hangat. Pada saat kecepatan arus udara meningkat, kehilangan

panas konvektif meningkat. Kipas angin listrik meningkatkan kehilangan panas

melalui konveksi.

4) Evaporasi adalah perpindahan energi panas ketika cairan berubah menjadi gas.

Selama evaporasi, kira-kira 0,6 kalori panas hilang untuk setiap gram air yang

menguap (Guyton, 1991 dalam Potter & Perry, 2005). Tubuh secara kontinu

kehilangan panas secara evaporasi. Dengan mengatur prespirasi atau

berkeringat, tubuh meningkatkan kehilangan panas evaporatif tambahan.

Ketika suhu tubuh meningkat, hipotalamus anterior memberi sinyal kelenjar

keringat untuk melepaskan keringat. Evaporasi berlebihan dapat menyebabkan

kulit gatal dan bersisik, serta hidung dan faring kering.

5) Diaforesis adalah prespirasi visual dahi dan toraks atas. Kelenjar keringat

berada di bawah dermis kulit. Bila suhu tubuh meningkat, kelenjar keringat

mengeluarkan keringat, yang menguap dari kulit untuk meningkatkan

kehilangan panas. Suhu tubuh rendah menghambat sekresi kelenjar keringat.

Diaforesis kurang efisien bila gerakan udara minimal atau bila kelemahan

udara tinggi.

Skema 1.
Regulasi suhu tubuh

Produksi panas: Pengeluaran panas:


1. Metabolisme basal 1. Radiasi
2. Aktivitas otot 2. Konduksi
3. Menggigil 3. Konveksi
10

Sumber : www.nursingbegin.com

c. Pengukuran suhu tubuh

Pengukuran suhu tubuh ditujukan untuk memperoleh suhu inti jaringan tubuh

rata-rata yang representatif. Suhu normal rata-rata bervariasi tergantung lokasi

pengukuran. Tempat yang menunjukkan suhu inti merupakan indikator suhu tubuh

yang lebih dapat diandalkan daripada tempat yang menunjukkan suhu permukaan.

Suhu tubuh anak normalnya dapat diperiksa pada beberapa bagian tubuh,

antara lain: oral, aksila, rektal, membran timpani dan arteri temporalis. Pengukuran

suhu tubuh lewat rektal hanya dilakukan jika suhu definitif anak diperlukan dan

yang berusia 1 bulan ke atas. Beberapa tempat pengukuran suhu tubuh berdasarkan

usia anak, adalah: usia 0-2 tahun pada aksila dan rektal, usia 2-5 tahun di aksila,

timpani, oral, dan rektal, usia di atas 5 tahun pada oral, aksila dan timpani. Suhu

aksila lebih rendah 0,5°C dari pada suhu rektal atau oral. Suhu rektal diatas 38°C

dianggap mengalami demam.

Tabel 1.
Tempat pengukuran suhu tubuh

Tempat pengukuran Suhu inti dan permukaan


INTI PERMUKAAN
11

Rektum Kulit
Membran timpanik Aksila
Esofagus Oral
Arteri pulmoner
Kandung kemih

Sumber: Potter & Perry (2005)

Tabel 2.
Suhu tubuh normal pada anak

Tempat pengukuran Suhu


Rektal 36,8°C-37,5°C
Oral 36,7°C-37,2°C
Aksila 36,2°C-37,3°C
Timpani 35,8°C-38°C
Sumber: www.nursingbegin.com

d. Alat pengukur suhu tubuh

Ada berbagai cara untuk mendeteksi demam yang mungkin terjadi pada anak

balita dari menyentuh tubuh hingga mempergunakan alat ukur suhu badan yang

disebut termometer (Widjaja, 2007).

Menurut Potter dan Perry (2005), ada tiga jenis termometer yang digunakan

untuk menentukan suhu tubuh adalah:

1) Termometer Raksa

Termometer raksa adalah termometer yang paling dikenal, telah digunakan

sejak abad ke-15. Termometer tersebut terbuat dari tabung kaca yang pada

salah satu ujungnya ditutup dan ujung lainnya dengan pentolan berisi air raksa.

Paparan pentolan (bulb) terhadap panas menyebabkan air raksa memuai dan

naik pada tabung yang tertutup. Air raksa tidak akan berfluktuasi atau turun

kecuali termometer dihentakkan dengan kuat.

Gambar 2.
Termometer raksa
12

Sumber : www. themoderatevoice.com

2) Termometer elektronik atau digital

Termometer elektronik terdiri atas unit tampilan tenaga baterai yang diisi

ulang. Apabila untuk mengukur suhu maka akan ada tanda bunyi terdengar saat

puncak bacaan suhu telah tercapai. Keuntungan dari penggunaan termometer

ini adalah dapat digunakan dengan cepat, hasil terlihat dalam beberapa detik

dan mudah dibaca serta cocok untuk anak-anak.

Gambar 3.
Termometer digital

Sumber : www.hisupplier.com

3) Termometer sekali pakai (dispossible thermometer)

Termometer sekali pakai dan penggunaan tunggal ini berbentuk strip kecil

yang terbuat dari plastik dengan sensor suhu pada salah satu ujungnya.

Digunakan untuk suhu oral dan aksila, terutama pada anak-anak. Bentuk lain

dari termometer sekali pakai ini adalah koyo (patch). Digunakan pada dahi atau

abdomen, koyo akan berubah warna pada suhu yang berbeda. Waktu yang

dibutuhkan untuk menunjukkan suhu hanya 60 detik (Erickson et al, 1996,


13

dalam Potter & Perry, 2005). Termometer diambil dan dibaca setelah sekitar 10

detik supaya stabil.

Gambar 4.
Dispossible thermometer

Sumber : www.mountainside-medical.com

Secara umum prosedur vital pada pengukuran suhu tubuh anak balita dengan

menggunakan termometer adalah menentukan di bagian tubuh manakah tempat

yang cocok untuk meletakkan termometer.

Widjaja (2007), mengklasifikasikan tempat pengukuran menjadi tiga, yaitu:

1) Aksila thermometer

Prosedur pengukuran suhu badan dengan cara meletakkan termometer

di aksila balita adalah sebagai berikut:

a) Bukalah pakaian atas anak, lalu pangku dalam posisi searah dengan

posisi orang yang memangkunya.

b) Angkat salah satu lengannya, dan kempitkan termometer pada aksila

balita.

c) Rapatkan lengan balita agar termometer dapat terkempit erat selama

kurang lebih 3 menit.

d) Setelah 3 menit (untuk termometer digital akan berbunyi apabila

selesai) lihat angka pengukuran suhu tubuh.


14

e) Balita mengalami demam apabila termometer menunjukkan angka

38°C atau lebih.

Gambar 5.
Termometer Aksila

Sumber : 0.tqn.com.

2) Oral thermometer

Salah satu hal yang penting dan harus diperhatikan adalah menjaga

agar balita tetap tenang. Pengukuran suhu badan dengan menggunakan

termometer oral adalah meletakkan termometer di bawah lidah dalam

mulut balita.

Gambar 6.
Termometer Oral

Sumber : www.bayibalita.com

3) Rectal thermometer

Prosedur pengukuran dengan menggunakan rectal thermometer adalah

sebagai berikut:

a) Berikan lubrikasi terlebuh dahulu disekitar leher termometer agar

temometer menjadi licin dan mudah masuk ke dalam dubur balita tanpa

rasa sakit.
15

b) Miringkan tubuh balita, dan tekuk lututnya sedikit agar anak tidak

tegang dan merasa lebih rileks.

c) Biarkan termometer di dalam dubur selama 3 menit (sampai termometer

berbunyi) dan cabut kembali.

d) Lihat angka yang di tunjuk oleh termometer. Jika lebih dari 37°C,

artinya balita mengalami demam.

Gambar 7.
Rectal thermometer

Sumber : www.googleimages.co.id

4) Termometer membran timpani (Potter & Perry, 2005)

Prosedur yang dilakukan untuk mengukur suhu tubuh anak dengan

meletakkan termometer pada membran timpani adalah sebagai berikut:

a) Tarik ujung atas telinga ke bawah dan ke belakang

b) Masukkan ujung termometer ke dalam kanal auditorius.

c) Dalam 2 sampai 5 detik dari mulai dimasukkan, hasilnya terlihat pada

layar.

Gambar 8.
Termometer membran timpani

Sumber : www.googleimages.co.id
16

Angka yang di tunjuk oleh termometer pada pengukuran dengan cara

memasukkan termometer ke dalam dubur akan lebih tinggi 1°C dibandingkan

dengan cara meletakkan termometer di ketiak, dan lebih tinggi 0,5°C dibandingkan

dengan cara meletakkan termometer di bawah lidah dalam mulut. Jadi, bila dengan

cara meletakkan termometer di ketiak pengukuran sebesar 38°C, berturut-turut

pengukuran dengan cara meletakkan termometer di bawah lidah dan memasukkan

termometer ke dalam dubur, maka suhu pengukurannya adalah 38,5°C dan 39°C.

e. Faktor yang mempengaruhi suhu tubuh

Potter dan Perry (2005), menyatakan bahwa banyak faktor yang

mempengaruhi suhu tubuh. Perubahan pada suhu tubuh dalam rentang normal

terjadi ketika hubungan antara produksi panas dan kehilangan panas diganggu oleh

variabel fisiologis dan perilaku. Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu tubuh

adalah:

1) Usia

Pada saat lahir, bayi meninggalkan lingkungan yang hangat, yang relatif

konstan, masuk dalam lingkungan yang suhunya berfluktuasi dengan cepat.

Mekanisme kontrol suhu masih imatur. Suhu tubuh bayi dapat berespon secara

drastis terhadap perubahan suhu lingkungan.

Regulasi suhu tidak stabil sampai anak-anak mencapai pubertas. Rentang

suhu normal turun secara berangsur sampai seseorang mendekati masa lansia.

Lansia mempunyai rentang suhu tubuh yang lebih sempit daripada dewasa

awal.

2) Olahraga
17

Aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan pemecahan

karbohidrat dan lemak. Hal ini menyebabkan peningkatan metabolisme dan

produksi panas. Segala jenis olahraga dapat meningkatkan produksi panas

akibatnya akan meningkatkan suhu tubuh.

3) Kadar Hormon

Secara umum, wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang lebih besar

dibandingkan pria. Variasi hormonal selama siklus menstruasi menyebabkan

fluktuasi suhu tubuh. Kadar progesteron meningkat dan menurun secara

bertahap selama siklus menstruasi. Bila kadar progesteron rendah, suhu tubuh

beberapa derajat di bawah kadar batas. Suhu tubuh rendah berlangsung sampai

terjadi ovulasi. Perubahan suhu juga terjadi pada wanita selama menopause.

Wanita yang menopause dapat mengalami periode panas tubuh dan berkeringat

banyak. Hal tersebut karena kontrol vasomotor yang tidak stabil dalam

melakukan vasodilatasi dan vasokonstriksi (Bobak, 1993, dalam Potter &

Perry, 2005).

4) Irama sirkadian

Suhu tubuh berubah secara normal 0,5°C sampai 1°C selama periode 24

jam. Bagaimanpun, suhu merupakan irama paling stabil pada manusia.

5) Stres

Stres fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal

dan persarafan. Perubahan fisiologi tersebut meningkatkan panas.

6) Lingkungan
18

Lingkungan mempengaruhi suhu tubuh. Bayi dan lansia paling sering

dipengaruhi oleh suhu lingkungan karena mekanisme suhu mereka kurang

efisien.

2. Demam

a. Pengertian

Menurut Datta (2009), demam atau pireksia adalah kenaikan suhu tubuh di atas

normal ( >37°C atau 98,4°F). Pireksia diklasifikasikan sebagai berikut:

1) Low pyrexia 37°C – 38,4°C (99°F - 101°F)

2) Moderate pyrexia 38,4°C – 39,5°C (101°F – 103°F)

3) High pyrexia 39,5°C – 40,6°C (103°F – 105°F)

4) Hyper pyrexia > 40,6 °C

Wong, dkk. (2008), mengatakan bahwa ada beberapa istilah lain yang perlu

dipahami tentang demam, yaitu:

1) Set point

Perkiraan suhu tubuh yang diatur oleh mekanisme seperti termostat di

hipotalamus.

2) Demam

Peningkatan set point sehingga pengaturan suhu tubuh lebih tinggi, dapat

didefinisikan secara mutlak sebagai suhu di atas 38°C (100°F).

3) Hipertermia

Situasi ketika suhu tubuh melebihi set point, yang biasanya terjadi akibat

kondisi tubuh atau kondisi eksternal yang menciptakan lebih banyak panas dari

yang dapat dihilangkan tubuh.

Demam yang berarti suhu tubuh diatas normal biasa dapat disebabkan oleh

kelainan dalam otak sendiri atau oleh zat toksik yang mempengaruhi pusat
19

pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor otak, atau dehidrasi (Guyton,

1996). Demam adalah suhu rektal yang lebih dari 38°C (100,4°F) (Schwartz, 2004).

b. Klasifikasi demam

Kozier, Berman dan Snyder (2004), menyebutkan bahwa ada empat tipe umum

demam.

1) Intermittent fever

Suhu tubuh bergantian berubah secara berkala antara periode demam dan

normal.

2) Remittent fever

Terjadi fluktuasi suhu tubuh selama 24 jam yang lebih di atas normal.

3) Relapsing fever

Demam yang terjadi singkat hanya beberapa hari yang biasanya diselingi 1

atau 2 hari dengan suhu yang normal.

4) Constant fever

Suhu tubuh selalu tetap di atas normal.

Widjaja (2007), mengatakan bahwa secara garis besar ada dua klasifikasi demam

yang sering kali diderita oleh anak balita (dan manusia pada umumnya), yaitu

demam non infeksi dan demam infeksi.

1) Demam non infeksi

Demam non infeksi adalah demam yang bukan disebabkan oleh masuknya

bibit penyakit ke dalam tubuh. Demam non infeksi jarang terjadi dan diderita

oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Demam ini timbul karena adanya

kelainan pada tubuh yang dibawa sejak lahir, dan tidak ditangani dengan baik.

Contoh demam non infeksi antara lain demam yang disebabkan oleh adanya

kelainan degeneratif atau kelainan bawaan pada jantung, demam karena stres,
20

atau demam yang disebabkan oleh adanya penyakit-penyakit berat, misalnya

leukimia atau kanker darah.

2) Demam infeksi

Demam infeksi adalah demam yang disebabkan oleh masuknya patogen,

misalnya kuman, bakteri, virus, atau binatang kecil lainnya ke dalam tubuh.

Demam infeksi paling sering terjadi dan diderita oleh manusia dalam kehidupan

sehari-hari. Bakteri, kuman, atau virus dapat masuk kedalam tubuh manusia

melalui berbagai cara, misalnya melalui makanan, udara, atau persentuhan

tubuh. Imunisasi juga termasuk pada kategori ini sebab imunisasi adalah

tindakan yang secara sengaja memasukkan kuman, bakteri, atau virus yang

sudah dilemahkan ke dalam tubuh balita dengan tujuan membuat anak balita

menjadi kebal terhadap penyakit tertentu.

Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan infeksi dan akhirnya

mengakibatkan demam pada anak balita antara lain adalah, tetanus, mumps atau

parotitis epidemik, morbili atau measles atau rubella, demam berdarah, TBC dan

batuk rejan.

c. Penatalaksanaan demam

1) Tindakan farmakologis

Tindakan menurunkan suhu mencakup intervensi farmakologik. Intervensi

paling efektif adalah penggunaan antipiretik untuk menurunkan set point (Wong,

dkk, 2009).

Obat yang umum digunakan untuk menurunkan demam dengan berbagai

penyebab (infeksi, inflamasi dan neoplasama) adalah obat antipiretik. Antipiretik

ini bekerja dengan mempengaruhi termoregulator pada sistem saraf pusat (SSP)
21

dan dengan menghambat kerja prostaglandin secara perifer (Deglin & Vallerand,

2004).

Obat antipiretik antara lain asetaminofen, aspirin, kolin dan magnesium

salisilat, kolin salisilat, ibuprofen, salsalat dan obat-obat anti inflamasi nonsteroid

(NSAID). Asetaminofen merupakan obat pilihan, aspirin dan salisilat lain tidak

boleh diberikan pada anak-anak dan remaja. Ibuprofen, penggunaannya disetujui

untuk menurunkan demam pada anak-anak yang berusia minimal 6 bulan. Hindari

pemakaian aspirin atau ibuprofen pada pasien-pasien dengan gangguan perdarahan

(Deglin & Vallerand, 2004).

Beberapa ibuprofen yang tidak disetujui penggunaannya untuk anak-anak

adalah nuprin, motrin IB, medipren. Penggunaannya dapat dilakukan bila

didiskusikan terlbih dahulu dengan pemberi layanan utama (Katzung, 2002).

Pemberian antipiretik yang berlebihan perlu diperhatikan, karena dapat

menyebabkan keracunan (Totapally, 2005, dalam Setiawati, 2009).

Tabel 3.
Daftar obat analgetik-antipiretik serta dosis

Nama obat Dosis Anak


Acetamihophen 10 mg/kg/x
(Paracetamol)
22

Acetosal 65 mg/kg/hari
Ascal (obat cair) 12,5 mg/kg/x atau 75
mg/kg/hari
Metampiron (mg/hr)
3 bln-1 thn (150-200)
1-6 thn (150-400)
6-12 thn (600-1200)
Piromidon 4-5 mg/kg/hari
Aspirin 50-75 mg/kg/hari
Ibuprofen 5 mg/kg (<39,1°C)
10 mg/kg (>39,1°C)
Sumber : www.scribd.com

2) Tindakan non farmakologis

Tindakan non farmakologis adalah tindakan tambahan yang diberikan setelah

pemberian antipiretik terhadap penurunan panas. Tindakan non farmakologis

tersebut seperti menyuruh anak untuk banyak minum air putih, istirahat, kompres

hangat serta tepid water sponge (Budi, 2006). Kania (2007) mengatakan bahwa

penatalaksanaan lainnya anak dengan demam adalah dengan menempatkan anak

dalam ruangan bersuhu normal dan mengusahakan agar pakaian anak tidak tebal.

3. Kompres hangat

Kompres adalah metode pemeliharaan suhu tubuh dengan menggunakan cairan atau

alat yang dapat menimbulkan hangat atau dingin pada bagian yang memerlukan

(Asmadi, 2008, dalam Putra, 2010). Kompres hangat merupakan salah satu bentuk

termoterapi yang mudah dan tidak mahal. Kompres hangat juga memiliki efek lokal

dan sistemik pada tubuh. Penggunaan kompres hangat dapat dilakukan dengan

menggunakan handuk, kantung, botol atau aquatermia pad. Suhu air yang biasa

digunakan dalam penggunaan kompres hangat berkisar 37°C-40°C (Kozier, Berman &

Snyder, 2002).

Penelitian yang berhubungan dengan kompres hangat adalah penelitian yang

dilakukan oleh Damayati (2008) tentang “Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang

demam dengan perilaku kompres di ruang rawat inap RSUD Dr, Moewardi
23

Surakarta” menilai karakteristik ibu dalam menentukan benar atau salah tindakan

yang dilakukan terhadap anak yang demam. Pengetahuan ibu tentang demam akan

mendorong ibu untuk memberikan kompres hangat. Tujuan penelitian ini adalah untuk

mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang demam dengan perilaku

kompres ibu. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif korelatif yang

menggunakan pendekatan survei yang bermaksud memberikan gambaran atau

deskriptif tentang suatu keadaan secara objektif. Penelitian ini dilaksanakan di RSUD

Dr. Moewardi Surakarta dengan mengambil sampel sebanyak 34 orang ibu yang

anaknya mengalami demam. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan aksidental

sampling. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan lembar

observasi. Analisa data menggunakan Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa : (1) Tingkat pengetahuan ibu tentang demam di RSUD Dr. Moewardi

Surakarta sebagian besar dalam kategori sedang. (2) Perilaku kompres ibu di RSUD

Dr. Moewardi Surakarta sebagian besar dalam kategori baik. (3) Berdasarkan hasil uji

hipotesis, maka ditarik kesimpulan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat

pengetahuan ibu tentang demam dengan perilaku kompres di RSUD Dr. Moewardi

Surakarta.

Kompres hangat adalah suatu prosedur menggunakan kain atau handuk yang telah

di celupkan pada air hangat, yang ditempelkan pada bagian tubuh tertentu.

Tujuan pemberian kompres hangat ini adalah meningkatkan kenyamanan dan dapat

menurunkan suhu tubuh (Johnson, Temple & Carr, 2005).

Pemberian kompres hangat pada daerah tubuh akan memberikan sinyal ke

hipotalamus melalui sumsum tulang belakang. Ketika reseptor yang peka terhadap

panas di hipotalamus dirangsang, sistem effektor mengeluarkan sinyal yang memulai

berkeringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh
24

pusat vasomotor pada medulla oblongata dari tangkai otak, dibawah pengaruh

hipotalamik bagian anterior sehingga terjadi vasodilatasi. Terjadinya vasodilatasi ini

menyebabkan pembuangan/kehilangan energi/panas melalui kulit (berkeringat),

diharapkan akan terjadi penurunan suhu tubuh sehingga mencapai keadaan normal

kembali.

Skema 2.
Mekanisme kompres hangat dalam menurunkan suhu tubuh

Anak Demam

Kompres hangat

Hipotalamus

Sistem efektor

Sinyal menurunkan set


point

Vasodilatasi,
berkeringat

Penurunan suhu tubuh


pada anak

Sumber: www.nursingbegin.com

Prosedur kompres hangat (Nursingmedia, 2009) adalah sebagai berikut:

1) Alat-alat

a) Larutan kompres berupa air hangat 37°C-40°C dalam wadahnya (dalam

kom)

b) Handuk/kain/wash lap untuk kompres

c) Handuk kering
25

d) Termometer

2) Cara pemberian kompres hangat

a) Beri tahu klien, dan siapkan alat.

b) Cuci tangan

c) Ukur suhu tubuh klien dan catat antipiretik yang telah diberikan

d) Basahi kain/wash lap/handuk kecil pengompres dengan air, peras kain

sehingga tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering.

e) Letakkan kain pada daerah yang akan dikompres (dahi, aksila, perut)

f) Apabila kain kering, maka kompres kembali dengan air hangat dan ulangi

terus tindakan ini selama 15 menit.

g) Evaluasi hasil dengan mengukur suhu tubuh klien setelah 15 menit

Setelah selesai, keringkan daerah kompres atau bagian tubuh yang basah

dengan menggunakan handuk kering dan rapikan alat.

h) Cuci tangan

4. Tepid Water sponge

Tepid water sponge sering direkomendasikan untuk mempercepat penurunan suhu

tubuh (Corrad, 2002; Carton, et al., 2001, dalam Setiawati, 2009). Tujuan dari

penggunaan tepid water sponge ini untuk menurunkan suhu tubuh secara terkontrol

(Johnson, Temple, & Carr, 2005). Prosedur ini tidak boleh dilakukan pada bayi di

bawah usia 1 tahun dan tanpa pengawasan medis karena tindakan ini dapat

menyebabkan anak menjadi syok (Hastings, 2005).

Pemberian tepid water sponge pada daerah tubuh akan mengakibatkan anak

berkeringat. Tepid water sponge bertujuan untuk mendorong darah ke permukaan tubuh

sehingga darah dapat mengalir dengan lancar. Ketika suhu tubuh meningkat dan

dilakukan tepid water sponge, hipotalamus anterior memberi sinyal pada kelenjar
26

keringat untuk melepaskan keringat. Tindakan ini diharapkan akan terjadi penurunan

suhu tubuh sehingga mencapai keadaan normal kembali (Filipinomedia, 2010).

Skema 3.
Mekanisme tepid water sponge dalam menurunkan suhu tubuh

Anak Demam

Tepid water sponge

Hipotalamus anterior

Sinyal menurunkan set


point

Vasodilatasi,
berkeringat

Penurunan suhu tubuh


pada anak
Sumber: potter dan perry (2005)

Beberapa penelitian yang berhubungan dengan tepid water sponge adalah penelitian

lain dilakukan oleh Setiawati (2009) tentang “Pengaruh tepid sponge terhadap

penurunan suhu tubuh dan kenyamanan pada anak usia prasekolah dan sekolah yang

mengalami demam di ruang perawatan anak Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung”.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian

antipiretik disertai tepid sponge terhadap penurunan suhu tubuh dan kenyamanan anak

di ruang perawatan anak RS Muhammadiyah Bandung. Desain yang digunakan adalah

quasi experimental pre-post test non equivalen control group dengan jumlah sampel

yaitu 50 responden. Pengukuran dilakukan dengan melihat penurunan suhu tubuh dan

tingkat kenyamanan sebelum intervensi dan 60 menit setelah intervensi. Kesimpulan

didapatkan tidak ada perbedaan yang bermakna dalam penurunan suhu tubuh antara
27

kelompok intervensi dengan kelompok kontrol (p = 0,21); serta tidak ada perbedaan

yang bermakna dalam tingkat rasa nyaman antara kelompok intervensi dengan

kelompok kontrol (p = 0,21) setelah 60 menit intervensi. Akan tetapi, ada

kecenderungan bahwa pemberian antipiretik yang disertai tepid sponge mengalami

penurunan suhu yang lebih besar dan peningkatan rasa nyaman yang lebih tinggi jika

dibandingkan dengan pemberian antipiretik saja. Implikasi keperawatan yang dapat

direkomendasikan adalah pemberian antipiretik disertai tepid sponge dapat dijadikan

intervensi untuk menurunkan demam dan meningkatkan rasa nyaman pada anak

terutama pada anak usia sekolah.

Penelitian terkait lainnya yang dilakukan oleh oleh Sharber (1997) “The efficacy of

tepid sponge bathing to reduce fever in young children”. Penelitian ini membandingkan

penurunan suhu badan pada saat demam yaitu dengan acetaminophen sendiri dan

asetaminophen ditambah tepid sponge bathing selama 15 menit. Dua puluh anak-anak,

usia 5-68 bulan yang mengalami demam >38,9°C secara acak diberikan acetaminophen

saja atau asetaminophen ditambah tepid sponge bathing selama 15 menit. Semua

subyek menerima dosis 15-mg/kg asetaminophen. suhu timpani dimonitor setiap 30

menit selama 2 jam. Subjek dipantau untuk tanda-tanda ketidaknyamanan (menangis,

menggigil, merinding). Responden dengan tindakan tepid sponge bathing lebih cepat

merasa kedinginan selama 1 jam pertama, tetapi tidak ada perbedaan temperatur yang

signifikan antara 2 kelompok tersebut selama 2 jam (p = 0,871). Responden dalam

kelompok tepid sponge bathing ketidaknyamanannya lebih tinggi (p = 0,009).

Penelitian terkait lainnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Thomas,

Vijaykumar, Naik, Moses, dan Antonisamy (2009) “Comparative effectiveness of tepid

sponging and antipyretic drug versus only antipyretic drug in the management of fever

among children: a randomized controlled trial”. Penelitian ini dilakukan untuk


28

membandingkan efektivitas spon hangat dan obat antipiretik (paracetamol) dengan obat

antipiretik terhadap penurunan suhu tubuh anak-anak yang demam. Desain penelitian

yang digunakan adalah randomized controlled trial dengan responden 150 anak-anak

usia 6 bulan sampai 12 tahun, dengan suhu demam di aksila ≥ 38.3ºC. Anak-anak

secara acak diberikan nomor untuk menerima tindakan tepid sponging dan obat

antipiretik atau hanya dengan obat antipiretik. Kelompok yang pertama diberikan

sirup/tablet parasetamol dengan dosis 10 mg/kg dan tepid sponging selama 15 menit.

Prosedur Tepid sponging adalah sebagai berikut: 5 handuk atau wash lap, baskom, 2

handuk mandi, termometer, termometer mandi dan air keran (kamar temperatur -

0,5°C). Setelah mencuci tangan dan memeriksa suhu anak, letakkan handuk panjang di

tubuh anak. Usapkan wash lap atau spons ke seluruh tubuh anak. Kemudian temperatur

diperiksa pada 30, 45, 60, 90 dan 120 menit. Anak-anak yang hanya menerima obat

antipiretik yaitu parasetamol (10 mg / kg) diukur suhunya. Tingkat ketidaknyamanan

anak-anak juga dinilai pada titik waktu yang sama dalam hal kriteria 3 kegelisahan,

menangis, dan mudah tersinggung. Penurunan suhu tubuh antara kelompok perlakuan

dianalisis dengan menggunakan analisis metode kovarians disesuaikan dengan suhu

awal. Tingkat ketidaknyamanan juga dikenakan uji statistik signifikansi. Perangkat

lunak STATA digunakan untuk analisis statistik data. Hasil penelitian ini adalah

penurunan suhu tubuh pada kelompok tepid sponging dan obat antipiretik secara

signifikan lebih cepat daripada hanya kelompok obat antipiretik, namun pada 2 jam

terakhir kedua kelompok telah mencapai tingkat suhu yang sama. Anak-anak yang

diberikan tepid sponging dan obat antipiretik memiliki tingkat ketidaknyamanan secara

signifikan lebih tinggi daripada hanya kelompok antipiretik, tapi ketidaknyamanan itu

sebagian besar ringan.


29

Tahap-tahap pelaksanaan tepid water sponge (Rosdahl & Kowalski, 2008, dalam

Setiawati, 2009):

a. Tahap persiapan

1) Jelaskan prosedur dan demonstrasikan kepada keluarga cara tepid water sponge.

2) Persiapan alat meliputi ember atau baskom untuk tempat air hangat (37°C-40°C),

lap mandi/wash lap, handuk mandi, selimut mandi, perlak, termometer digital.

b. Pelaksanaan

1) Beri kesempatan klien untuk buang air sebelum dilakukan tepid water sponge.

2) Ukur suhu tubuh klien dan catat. Catat jenis dan waktu pemberian antipiretik

pada klien.

3) Buka seluruh pakaian klien dan alas klien dengan perlak.

4) Tutup tubuh klien dengan handuk mandi. Kemudian basahkan wash lap atau lap

mandi, usapkan mulai dari kepala, dan dengan tekanan lembut yang lama, lap

seluruh tubuh, lakukan sampai ke arah ekstremitas bawah secara bertahap. Lap

tubuh klien selama 15 menit. Pertahankan suhu air (37°C-40°C).

5) Apabila wash lap mulai mengering maka rendam kembali dengan air hangat lalu

ulangi tindakan seperti diatas.

6) Hentikan prosedur jika klien kedinginan atau menggigil atau segera setelah suhu

tubuh klien mendekati normal. Selimuti klien dengan selimut mandi dan

keringkan. Pakaikan klien baju yang tipis dan mudah menyerap keringat.

7) Catat suhu tubuh klien sebelum dan sesudah tindakan.

B. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara

konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan

dilakukan (Notoatmodjo, 2005). Berikut ini adalah kerangka konsep yang dilakukan:
30

Skema 4.
Kerangka konsep penelitian

Input Proses Output

Kelompok kompres hangat

Suhu tubuh sebelum Pemberian kompres Suhu tubuh setelah


dilakukan tindakan hangat dalam 15 dilakukan tindakan
menit

Faktor-faktor yang
mempengaruhi suhu tubuh:
- Olahraga
- Kadar hormon
- Irama sirkadian
- Stres
- Lingkungan

Kelompok tepid water sponge


Suhu tubuh sebelum Pemberian tepid Suhu tubuh setelah
dilakukan tindakan water sponge dalam dilakukan tindakan
15 menit
31

: Diteliti
\
: Tidak diteliti

C. Hipotesis

Hipotesis adalah sebuah pernyataan tentang hubungan yang diharapkan antara dua

variabel atau lebih yang dapat diuji secara empiris. Hipotesis adalah suatu kesimpulan

sementara atau jawaban sementara dari suatu penelitian. Biasanya hipotesis terdiri dari

pernyataan terhadap ada atau tidaknya hubungan antara dua variabel, yaitu variabel bebas

(independent variable) dan variabel terikat (dependent variable) (Notoatmodjo, 2005).

Hipotesa dari penelitain ini adalah:

1. Hipotesa Nol (Ho)

Tidak ada perbedaan efektifitas pemberian kompres hangat dan tepid water

sponge terhadap penurunan suhu tubuh balita yang mengalami demam.

2. Hipotesa Alternatif (Ha)

Ada perbedaan efektifitas pemberian kompres hangat dan tepid water sponge

terhadap penurunan suhu tubuh balita yang mengalami demam.