Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH PJBL

“PERITONITIS”

Disusun oleh :

Yurike Olivia Sella (155070200111019)


Melati Cahyani Indri (155070200111021)
Sony Apriliawan (155070200111023)
Lailatul Mukaroma (155070200111025)
Nafis Nurfaizi A. (155070207111001)
Merita Sari (155070207111005)
Zachya Islamia (155070207111007)

KELOMPOK 3
REGULER 1
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2018
1. DEFINISI
Peritonitis adalah peradangan peritoneum yang merupakan
komplikasi berbahaya
akibat penybaran infeksi dari organorgan abdomen (apendiksitis, pankreatitis,
dan lain-lain) ruptur saluran cerna dan luka tembus abdomen.(Padila, 2012)
Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum (lapisan membran
serosa rongga abdomen) dan organ didalamnya. (Muttaqin&Sari,2011)

Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum, suatu lapisan


endothelial tipis yang kaya akan vaskularisasi dan aliran limpa
(Jitwiyono&Kristiyanasari, 2012).

2. EPIDEMIOLOGI
Angka kejadian penyakit peritonitis di Amerika pada tahun 2011
diperkirakan 750 ribu pertahun dan akan meningkat bila pasien jatuh dalam
keadaan syok . Dalam setiap jamnya didapatkan 25 pasien mengalami syok
dan satu dari tiga pasien syok berakhir dengan kematian.Angka insiden ini
meningkat 91,3% dalam sepuluh tahun terakhir dan merupakan penyebab
terbanyak kematian di ICU diluar penyebab penyakit peritonitis. Angka
insidensi syok masih tetap meningkat selama beberapa dekade, rata-rata
angka mortalitas yang disebabkannya juga cenderung konstan atau hanya
sedikit mengalami penurunan.
Kejadian peritonitis tersebut dapat memberikan dampak yang sangat
kompleks bagi tubuh.Adanya penyakit peritonitis menjadikan kasus ini
menjadi prognosis yang buruk.Hasil survey pada tahun 2008 Angka kejadian
peritonitis di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi. Di
Indonesia, jumlah pasien yang menderita penyakit peritonitis berjumlah
sekitar 7% dari jumlah penduduk di Indonesia atau sekitar 179.000 orang
(Depkes, RI 2008)

Prevalensi peritonitis pada laki-laki (68,4%) lebih tinggi dibandingkan


perempuan (31,6%). Kelompok usia terbanyak adalah 10-19 tahun (24,5%).
Peritonitis sekunder umum akibat perforasi apendiks merupakan jenis
peritonitis yang terbanyak (53,1%). Sebagian besar pasien peritonitis
mendapatkan tatalaksana bedah berupa laparatomi eksplorasi dan
apendektomi (64,3%). Lama rawatan terbanyak pada 4-7 hari (45,9%).
Frekuensi pasien peritonitis menurut kondisi keluar sebagian besar dalam
keadaan hidup (85,7%).

3. ETIOLOGI
Etiologi peritonitis tergantung pada jenis, serta lokasi, sebagai berikut :
a. Peritonitis primer
Disebabkan oleh invasi hematogen dari organ peritoneal yang
langsung dari rongga peritoneum.Penyebab paling sering dari peritonitis
primer adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit
hepar kronis. Kira-kira 10-30% pasien dengan sirosis hepatis dengan
ascites akan berkembang menjadi peritonitis bakterial.
b. Peritonitis sekunder
Penyebab peritonitis sekunder paling sering adalah perforasi
appendicitis, perforasi gaster dan penyakit ulkus duodenale, perforasi
kolon (paling sering kolon sigmoid) akibat divertikulitis, volvulus, kanker
serta strangulasi usus halus. Penyebab iatrogenik umumnya berasal dari
trauma saluran cerna bagian atas, termasuk pankreas, saluran empedu,
dan kolon. Kadang bisa juga berasal dari trauma endoskopi. Jahitan
operasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya
peritonitis.
c. Peritonitis tersier
Peritonitis yang mendapat terapi tidak adekuat, superinfeksi kuman,
dan akibat tindakan operasi sebelumnya. Sedangkan infeksi
intraabdomen biasanya dibagi menjadi generalized (peritonitis) dan
localized (abses intra abdomen).

Penyebab peritonitis menurut Hughes, 2012 adalah :


a.Infeksi bakteri
1)Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal.
2 )Appendisitis yang meradang dan perforasi .
3)Tukak peptik (lambung/dudenum).
4)Tukak thypoid.
5)Tukan disentri amuba/ colitis
6)Tukak pada tumor
7)Salpingitis
8)Divertikulitis (radang usus)

Kuman yang paling sering ialah bakteri coli, streptokokus U dan


Bhemolitik, stapilokokus aurens, enterokokus dan yang paling
berbahayaadalah clostrdiumwechii.

b.Secara langsung dari luar


1)Operasi yang tidak steril
2)Tercontaminasi talcum venetum, lycopodium, sulfonamide, terjadiPeritonitis
yangdisertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagairesponterhadap
benda asing,disebut juga Peritonitis granulomatosa sertamerupakan
Peritonitis local.
3)Trauma pada kecelakaan seperti ruptur limpa, ruptur hati
4)Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis.Terbentuk pula
peritonitis granulomatos.
c.Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti
radang saluran pernapasan bagi atas, otitis media, mastoiditis,
glomerulonepritis. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus

4. FAKTOR RESIKO
Faktor faktor berikut dapat meningkatkan resiko kejadian peritonitis
a. Penyakit hati dengan ascites
b. Kerusakan ginjal
c. Compromised immune system
d. Pelvic inflamatory disease
e. Appendisitis
f. Ulkus gaster
g. Infeksi kandung empedu
h. Colitis kandung empedu
i. Trauma
j. CAD (Continous Ambulatory Peritoneal Dyalisis)
k. Pankreatitis
5. PATOFISIOLOGI (Terlampir)

6. MANIFESTASI KLINIS
Menurut jitwiyono & Kristiyanasari (2012), tanda dan gejala dari
peritonitis yaitu syok (neurologis dan hipovolemik) terjadi pada penderita
peritonitis umum, demam, distensi abdomen, nyeri tekan abdomen, bising usus
tidak terdengar, nausea dan vomiting.

Menuerut (Kowalak & Hughes, 2010) Manifestasi klinis yang seringmuncul


pada pasien peritonitis adalah:

a) Distensi abdomen
b) Rigiditas abdomen
c) Nyeri tekan pada abdomen
d) Bising usus menurun bahkan hilang
e) Demam
f) Mual bahkan muntah
g) Takikardia
h) Takipnea

7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis,


hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolik. Pada peritonitis
tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3
gram/100 ml) dan banyak limfosit; basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur.
Lekositosis( lebihdari 11.000 sel/L ) dengan pergeseran kekiri pada hitungj
enis. Pada pasien dengan sepsis berat, pasien imunokompromais dapat
terjadi lekopenia. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi
memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar
diagnose sebelum hasil pembiakan didapat. Pemeriksaan serum elektrolit
dapat digunakan untuk mengoreksi adanya gangguan Na, Cl, potassium.
Pemeriksaan parasintesis berupa pengambilan cairan intraabdomen untuk
mengevaluasi total protein, albumin, WBC. Parasintesis dapat dilakukan jika
pasien mengalami asites, GI bleeding, leukositosis.
1. Pemeriksaan X-Ray
Pemeriksaan meliputi :
 Sinar x dada dapat menunjukan udara dan kadar cairan serta
lengkung usus yang berdistensi
 Pemindaian CT abdomen dapat menunjukan pembentukan abses
 Aspirasi peritoneal dan pemeriksaan kultur serta sensitivitas cairan
teraspirasi dapat menunjukan infeksi dan mengidentifikasi organisme
penyebab.

Jadi gambaran radiologis pada peritonitis yaitu adanya kekaburan


pada cavum abdomen, penebalan dinding usus akibat edema,
eksudasi cairan, preperitonial fat dan psoas line menghilang, dan
adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal (Wim de jong,
Sjamsuhidayat, 2011)

2. USG abdomen untuk melihat adanya cairan dan pemandu untuk


aspirasi, drainase.
3. MRI untuk mengevaluasi absesi Intraabdomen.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik pada peritonitis dilakukan dengan cara yang sama seperti
pemeriksaan fisik lainnya yaitu dengan:
1. inspeksi
- pasien tampak dalam mimik menderita
- tulang pipi tampak menonjol dengan pipi yang cekung, mata cekung
- lidah sering tampak kotor tertutup kerak putih, kadang putihkecoklatan
- pernafasan kostal, cepat dan dangkal. Pernafasan abdominal tidaktampak
karena dengan pernafasan abdominal akan terasa nyeri akibatperangsangan
peritoneum.
- Distensi perut
2. palpasi
nyeri tekan, nyeri lepas dan defense muskuler positif
3. auskultasi
suara bising usus berkurang sampai hilang
4. perkusi
* nyeri ketok positif
* hipertimpani akibat dari perut yang kembung
* redup hepar hilang, akibat perforasi usus yang berisi udara sehinggaudara
akan mengisi rongga peritoneal, pada perkusi hepar terjadiperubahan suara
redup menjadi timpani
Pada rectal touche akan terasa nyeri di semua arah, dengan tonus
muskulus sfingter ani menurun dan ampula recti berisi udara.

8. PENATALAKSANAAN
1. Konservatif
Prinsip umum pengobatan adalah mengistirahatkan saluran cerna dengan :
- Memuasakan pasien
- Dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau
intestinal
- Pengganti cairan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena
- Pemberian antibiotik yang sesuai
- Pembuangan focus septik (apendiks) atau penyebab radang lainnya

Pengobatan yang pertama diberikan ialah tindakan yang suportif dengan


segera yaitu infusdarah plasma atau whole blood dan albumin, larutan, ringer,
dekstrosa 5%, atau NaCl fisiologi.Kortikosteroid dianjurkan oleh beberapa ahli
untuk mengatasi renyatan dan perlu diberikan dengan dosis tinggi.Misalnya
metal prednison 30 mg/kg BB/hari.Akan tetapi ada yang mendapatkan hasil
yang memuaskan dengan kortikosteroid, tetapi dapat mengaburkan
paremeter untuk memantau hasil pengobatan. Naloxonosutu antagonis
reseptor opium dapat mengatasi renyatan pada binatang percobaan akan
tetapi pada manusia hasilnya mengecewakan. Bila ada hipoksia diberikan
oksigen.Parameter yang penting untuk membimbing pemberian cairan ialah
tanda-tanda vital, diuresis, dan CVP. Juga perlu diperiksa apakah ada tanda-
tanda DIC.Pada pasien dengan peritonitis umum biasanya terjadi ileus
paralitik, maka perlu di pasang pipa nasogastrik (nasogastric tube) untuk di
kompresi. Analgetik dan obat sedaktif jangan sering di berikan kecuali bila
diagnosis sudah ditegakkan.
a. Pemberian oksigen
Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan
oksigenasi secara adekuat, tetapi kadang-kadang intubasi jalan napas dan
bantuan ventilasi di perlukan.
b. Resusitasi cairan
Biasanya dengan kristaloid, volumenya berdasarkan derajat syok dan
dehidrasi.Penggantian elektrolit (biasanya potassium) biasanya
dibutuhkan.Pasien harus dikateterisasi untuk memonitor output urine tiap
jam. Monitoring tekanan vena sentral dan penggunaan inotropik sebaiknya
digunakan pada pasien dengan sepsis atau pasien dengan komorbid.
Hipovolemi terjadi karena sejumlah besar cairan dan elektrolit bergerak
dari lumen usus kedalam rongga peritoneal dan menurunkan cairan
kedalam ruang vaskuler.
c. Analgetik
Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri.Antiemetik dapat diberikan
sebagai terapi untuk mual dan muntah. Intubasi usus dan pengisapan
membantu dalam menghilangkan distensi abdomen dalam meningkatkan
fungsi usus.Cairan dalam rongga abdomen dapat menyebabkan tekanan
yang membatasi ekspensi paru dan menyebabkan distress pernapasan.
d. Antibiotik
Terapi antibiotik massif biasanya dimulai di awal pengobatan
peritonitis.Dosis besar dari antibiotik spectrum luas di berikan secara
intravena sampai organism penyebab infeksi diidentifikasi dan terapi
antibiotic khusus yang tepat dapat dimulai. Tindakan bedah mencakup
mengangkat materi terinfeksi dan memperbaiki penyebab. Tindakan
pembedahan diarahkan pada eksisi (apendiks) reaksi dengan atau tanpa
anastomosis (usus), memperbaiki (perforasi) dandrainase (abses).Pada
sepsis yang luas,perlu di buat di versifekal. Harus spectrum luas, yang
mengenai baik aerob dan anaerob, diberikan intravena.
Cefalosporingenerasi III dan metronidazole adalah strategi primer. Bagi
pasien yang mendapatkan peritonitis di RS (misalnya oleh karena
kebocoran anastomose) atau yang sedang mendapatkan perawatan
intensif, dianjurkan terapi lini kedua diberikan meropenem atau kombinasi
dari piperacillin dan tazobactam. Terapi antifungal juga harus dipikirkan
untuk melindungi dari kemungkinan terpapar spesies Candida.
Ada yang menganjurkan pemberian antibiotic intraperitoneal setelah
rongga peritoneum bersih, misalnya 100cc- 200cc kanamisin 0,5% dengan
hasil yang baik. Akan tetapi banyak ahli yang memandang antibiotic
intraperitoneal tidak diperlukan karena kemungkinan rangsangan toksis
dan antibiotik parenteral sudah mencapai kadar yang memuakan
dimperitoneum.
Pengobatan pilihan terhadap infeksi aktif adalah sebagai berikut :
- Cefotaximi.v minimal 2 gram tiap 12 jam selama 5 harii.v
- Kombinasi 1 gram amoxillin dan 0,2 gram asam klavulanati.v
- Ofloxacin oral 400 mg setiap 12 jam. Pemberian ofloxacin peroral
ini menguntungkan bagi pasien PSB tanpa komplikasi yang tidak
perlu dirawat
2. Definitif
a. Laparatomi
Biasanya dilakukan insisi upper atau lower midline tergantung dari lokasi
yang ditentukan, tujuannya untuk :
- Menghilangkan kausa peritonitis
- Mengkontrol origin sepsis dengan membuang organ yang
mengalami inflamasi atau ischemic (atau penutupan viscus yang
mengalami perforasi)
- Peritoneal lavage, Mengkontrol sumber primer dari sepsis adalah
sangat penting. Relaparotomi mempunyai peran yang penting pada
penanganan pasien dengan peritonitis sekunder, dimana setelah
laparotomi primer ber-efek memburuk atau timbul sepsis.Re-
operasi dapat dilakukan sesuai kebutuhan. Relaparotomi yang
terencana biasanya dibuat dengan membuka dinding abdomen
dengan pisau bedah sintetik untuk mencegah eviserasi
b. Laparaskopi
Teori bahwa resiko keganasan pada hiperkapnea dan syok septic dalam
absorbsi karbon dioksida dan endotoksin melalui peritoneum yang
mengalami inflamasi, belum dapat dibuktikan. Tetapi, laparoskopi efektif
pada penanganan appendicitis akut dan perforasi ulkus duodenum.
Laparoskopi dapat digunakan pada kasus perforasi kolon, tetapi angka
konversi kelaparotomi lebih besar. Syok dan ileus adalah kontraindikasi
pada laparoskopi.
c. Drain
Efektif digunakan pada tempat yang terlokalisir, tetapi cepat melekat pada
dinding sehingga seringkali gagal untuk menjangkau rongga peritoneum.
Ada banyak kejadian yang memungkinkan penggunaan drain sebagai
profilaksis setelah laparotomi.
DAFTAR PUSTAKA

1. Wim de jong, Sjamsuhidayat R. 2011.BukuajarIlmuBedahEdisi 3. Jakarta: EGC.


2. Depkes RI. ProfilKesehatan Indonesia. Jakarta: Depkes RI. 2008
3. Sugeng, JitwiyonodanWeni, Kristiyanasari.2012. AsuhanKeperawatan Post
Operasi. Yogyakarta: Nuha Medika.
4. Kowalak, J. P., & Hughes, A. S. (2010). Buku Saku Tanda dan Gejala:
PemeriksaanFisik dan Anamnesis, Penyebab, Tip Klinis, Ed. 2. Jakarta: EGC.
5. Muttaqin, Arif & Sari, Kurmala. 2011. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi
Asuhan Keperawatan Medikal bedah. Jakarta : Salemba medika.
6. Jurnal Penelitian Aiwi Japanesa et al tentang Pola Kasus dan Pentalaksanaan
Peritonitis Akut di Bangsal Bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang
7. Muttaqin, Arif dan Sari, Kurmala. 2011. Gangguang Gastrointestinal : Aplikasi
Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Salambe Medika.